Anda di halaman 1dari 11

BAB I

PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Padang penggembalaan merupakan tempat menggembalakan ternak untuk
memenuhi kebutuhan pakan dimana pada lokasi ini telah ditanami rumput unggul
dan atau legum dengan jenis rumput atau legum yang tahan terhadap injakan ternak.
Peningkatan pertumbuhan tanaman sejalan dengan peningkatan intensitas cahaya.
Jumlah energi matahari yang diterima seawal mungkin pada saat munculnya sampai
periode pemasakan adalah penting untuk akumulasi berat kering selama periode
tersebut, kompetisi zat zat makanan. Kompetisi terjadi antara Companion Crop
dengan tanaman utama, kekompakan tanah. Pastura yang digembala dengan stocking
rate yang tinggi (8 sampai 10 ekor/ha) akan menyebabkan tanah menjadi kompak,
padat dan berakibat mengurangi aerasi akar dan daya tembus air. Pastura yang terlalu
tinggi menyebabkan sulit untuk mengumpulkan biji atau buah yang dipetik yang
berjatuhan ke tanah (Basuki, 2009).
Untuk memenuhi kebutuhan ternak maka dibutuhkan hijauan yang
mempunyai kualitas tinggi, kuantitas yang cukup serta ketersediaan dapat
berkelanjutan. Penyediaan pada padang pengembalaan dapat berupa rumput dan
legume dengan komposisi rumput 60% dan legume 40%. Hijauan makanan ternak
memegang peranan penting bagi ternak Ruminansia, besarnya sumbangan hijauan
bagi ternak Ruminasia 74-94% atau bisa mencapai 100% (Nugraha, 2012).
Untuk menjaga agar ketersediaan akan hijauan pakan ternak jangan sampai
kekurangan maka salah satu alternatif yang dapat dilakukan adalah dengan
memanfaatkan hijauan yang tumbuh secara alami sebagai padang pengembalaan dan
1

integrasi ternak terhadap tanaman makanan ternak kedalam pola perkebunan dan
pertanian setempat, selain itu perlu adanya pembuatan kebun rumput atau padang
penggembalaan yang dapat menyediakan berbagai jenis hijauan unggul serta
disesuaikan dengan kapasitas tampung terhadap jumlah ternak. Pada Praktikum
Pembangunan Padang Penggembalaan, rumput yang digunakan dalam budidaya ialah
rumput gajah (Pennisetum purpureum).

I.2 Tujuan dan Kegunaan


Adapun

tujuan

dilakukannya

Praktikum

Pembangunan

Padang

Penggembalaan yaitu untuk mengetahui lokasi yang memiliki kualitas tanah yang
baik serta cara membangun padang penggembalaan khususnya budi daya rumput
gajah.
Adapun

kegunaan

dilakukannya

Praktikum

Pembangunan

Padang

Penggembalaan yaitu agar mahasiswa mampu mengetahui lokasi yang memiliki


kualitas tanah yang baik serta cara membangun padang penggembalaan khususnya
budi daya rumput gajah.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II.1 Gambaran Umum Pembangunan Padang Penggembalaan
Padang penggembalaan merupakan tempat menggembalakan ternak untuk
memenuhi kebutuhan pakan dimana pada lokasi ini telah ditanami rumput unggul dan
atau legum dengan jenis rumput/ legum yang tahan terhadap injakan ternak. Faktor
-faktor yang memepengaruhi padang pengembalaan antara lain (Basuki, 2009):
1. Air.
Air yang terbatas mempengaruhi fotosintesis dan perluasan daun pada
tanaman karena tekanan air mempengaruhi pembukaan pada stomata perluasan sel.
Air berfungsi untuk fotosintesis, penguapan, pelarut zat hara dari atas ke daun. Jika
ketersediaan air terpenuhi maka seluruh proses metabolism tubuh tanamana
berlangsung, berakibat produksi tanaman tinggi.
2. Intensitas Sinar Matahari
Peningkatan pertumbuhan tanaman sejalan dengan peningkatan intensitas
cahaya. Jumlah energi matahari yang diterima seawall mungkin pada saat munculnya
sampai periode pemasakan adalah penting untuk akumulasi berat kering selama
periode tersebut.
3. Kompetisi Zat zat Makanan
Kompetisi terjadi antara Companion Crop dengan tanaman utama.
4. Kekompakan Tanah
Pastura yang digembala dengan stocking rate yang tinggi (8 sampai 10
ekor/ha) akan menyebabkan tanah menjadi kompak, padat dan berakibat mengurangi
aerasi akar dan daya tembus air.
4

5. Pengambilan Zat zat Makanan


Makin sering pastura dipotong makin sedikit daun yang gugur yang
menambah humus dan pada waktu yang sama, makin banyak zat-zat makanan yang
hilang.
6. Berkurangnya Produksi
Pastura yang terlalu tinggi menyebabkan sulit untuk mengumpulkan biji atau
buah yang dipetik yang berjatuhan ke tanah. Padang penggembalaan merupakan suatu
daerah padangan dimana tumbuh tanaman makanan ternak yang tersedia bagi ternak
yang merenggutnya menurut kebutuhannya dalam waktu singkat. Produktivitas
hijauan pakan pada suatu padang penggembalaan dipengaruhi oleh faktor
ketersediaan lahan yang memadai, dimana lahan tersebut harus mampu menyediakan
hijauan pakan yang cukup bagi kebutuhan ternak. Selain itu faktor kesuburan tanah,
ketersediaan air, iklim dan topografi juga turut berpengaruh.
Padang penggembalaan dapat diklasifikasikan menjadi empat golongan
utama, yaitu padang penggembalaan alam, padang penggembalaan permanen yang
sudah diperbaiki, padang penggembalaan buatan (Temporer), dan padang
penggembalaan

dengan

Irigasi.

Padang

penggembalaan

dapat

terdiri

atas

rumputrumputan, kacang-kacangan atau campuran keduanya (Basuki, 2009).


Padang penggembalaan yang bersifat terbuka untuk semua penggembalaan
berupaya untuk memelihara dan membawa ternaknya sebanyak mungkin ke padang
penggembalaan, hingga menghasilkan persoalan yaitu jumlah ternak lebih besar dari
daya tampung padang penggembalaan yang berdampak pasokan dimana produktivitas
rumput padang penggembalaan menjadi berkurang dan rusak (Tjitradjaja, 2008).

Menurut Iskandar (2011) hal-hal yang berkaitan dengan penggembalaan


disebut pastoral. Ekosistem ini terdiri atas peternak (pastoralist) dan hewan ternak.
Adapun padang penggembalaan disebut ekosistem pastoral. Lebih lanjut dijelaskan
bahwa masyarakat peternak (pastoralist society) merupakan bagian integral yang
sangat penting dalam ekosistem pastoral ini. Berbagai aktifitas peternak itu
mempengaruhi dan dipengaruhi oleh lingkungan sekitarnya.
Hadi, dkk (2002) menyebutkan sistem padang penggembalaan merupakan
kombinasi antara pelepasan ternak di padang penggembalaan bebas dengan
pemberian pakan. Di Indonesia sistem penggembalaan bebas hanya ditemukan di
wilayah timur Indonesia dimana terdapat areal padang rumput alami yang luas. Di
beberapa tempat ternak dilepas untuk merumput di tepi jalan, halaman rumah atau
tanah kosong di sekitar desa. Hal ini dimungkinkan terutama bila aman dari pencurian
atau kecelakaan terhadap ternak. Sistem ini menggunakan sedikit tenaga kerja.
Peternak menggunakan sistem penggembalaan ini sepanjang tahun. Selama musim
hujan dimana sebagian areal penggembalaan dimanfaatkan untuk ditanami tanaman
budidaya semusim, kawanan ternak digiring ke wilayah dekat hutan.
Selain itu beberapa ternak dimanfaatkan untuk menggarap tanah pertanian.
Bila tidak terdapat kawasan hutan, peternak membuatkan kandang pagar dimana
ternak dapat merumput dan memakan pakan yang disediakan. Pentingnya
pembangunan padang penggembalan ialah agar kebutuhan nutrisi ternak tercukupi
dengan penanaman beberapa rumput unggul atau tanaman kacang-kacangan
(Leguminose) (Pertiwi, 2007).

II.2 Macam-macam Pembangunan Padang Penggembalaan


Berdasarkan vegetasinya padang penggembalaan digolongkan dalam beberapa
macam, diantaranya (Maslikah, 2013):
a. Padang Penggembalaan Alami
Padang penggembalaan yang terdiri dari tanaman yang berupa rumpur
Parennial, produktivitas rendah, floranya relatif belum tersentuh oleh manusia.
Padang penggembalaan alam tidak ada pohon, belum terjadi campur tangan manusia,
manusia hanya mengawasi ternak yang digembalakan, sedikit masih terdapat gulma,
dan daya tamping rendah.
b. Padang Penggembalaan Buatan
Padang yang vegetasinya telah dipilih atau ditentukan varietas tanaman yang
unggul. Padang penggembalaan adalah tanaman makanan ternak dalam pandangan
telah ditanam, disebar, dan dikembangkan oleh manusia. Pandangan dapat menjadi
pandangan permanen atau diseling dengan tanaman pertanian.
c. Padang Penggembalaan Yang Telah Diperbaiki
Spesies-spesies hijauan makanan ternak dalam pandangan belum ditanam oleh
manusia, tetapi manusia telah mengubah komposisi botaninya sehingga didapat
spesies yang produktif dan menguntungkan dengan jalan mengatur pemotongan
(defoliasi).
d. Padang Penggembalaan Dengan Irigasi
Padang penggembalaan ini biasanya terdapat di daerah sepanjang aliran
sungai atau dekat dengan sumber air. Penggembalaan ternak dijalankan setelah
padang penggembalaan menerima pengairan selama 2 hingga 4 hari.

II.3 Gambaran Umum Rumput Gajah


Rumput gajah disebut juga Elephant grass, Napier grass, Uganda grass,
Pastoelefante, dan dalam bahasa latinnya Pennisetum purpureum, termasuk ordo
anthophyta, sub-ordo angiospermae, family graminae, genus pennisetum, dan spesie
spurpureum. Rumput gajah termasuk keluarga rumput-rumputan (Graminae) yang
telah dikenal manfaatnya sebagai pakan ternak ruminasia yang ilmiah (Manglayang,
2005).
Rumput gajah (Pennisetum purpureum), sebagai bahan pakan ternak yang
Merupakan hijauan unggul, dari aspek tingkat pertumbuhan, produktivitas dan nilai
gizinya. Produksi rumput gajah dapa tmencapai 20 30 ton/ha/tahun. Pengembangan
tanaman rumput gajah sebagai bahan makanan ternak yang berkualitas serta
berkesinambungan masih merupakan kendala yang dialami oleh petani, karena
pengelolaan yang belum dipahami. Untuk itu diperlukan suatu pengembangan
teknologi yang tepat dengan system pengelolaan (Adrianto, 2010).
Menurut Jayadi (1991) rumput gajah (Pennisetum purpureum Schaum)
berasal dari Nigeria dan tersebar luas diseluruh Afrika Tropika, dan merupakan
tanaman tahunan. Tumbuh tegak membentuk rumpun yang terdiri dari 20-50 batang,
diameter batang berkisar 2-3 cm dan memiliki rhizom-rhizom pendek. Dapat tumbuh
setinggi 1,8- 4,5 m dan panjang daun mencapai 16-90 cm sertalebar 8-35 mm. Bunga
berbentuk tandan dengan warna keemasan . Aromandhana (2006) menyatakan bahwa
rumput gajah sangat responsef terhadap pemupukan, tahan kering dan produksinya
tinggi. Di daerah lembab dengan irigasi, produksinya lebih dari 290 ton rumput
segar/ha/th. Rumput gajah merupakan tumbuhan yang memerlukan hari dengan siang
hari yang pendek, dengan foto periode kritis antara 13-12 jam. Namun, kelangsungan
8

hidup serbuk sari sangat kurang dan barangkali inilah penyebab utama dari penentuan
biji yang lazimnya buruk, disamping itu, kecambahnya lemah dan lambat. Oleh
karena itu rumput ini ditanam secara vegetatif. Jika ditanam pada kondisi baik, bibit
vegetatif tumbuh dengan cepat dan dapat mencapai ketinggian beberapa meter dalam
waktu 2 bulan.
Menurut Lubis (1992) rata-rata kandungan gizi Rumput Gajah (Pennisetum
Purpureum) yaitu protein kasar berkisar 9,66%, BETN berkisar 41,34%, serat kasar
30,86%, lemak 2,24%, abu 15,96%, dan TDN 51%. Kandungan nutrient setiap ton
bahan kering adalah natrium berkisar 10 hingga 30 kg, fosfor berkisar 2 hingga 3 kg,
kalium berkisar 30 hingga 50 kg, kalsium berkisar 3 hingga 6 kg, magnesium dan
sulfur berkisar 2 hingga 3 kg. nilai gizi rumput gajah sebagai hijauan pakan ternak
ditentukan oleh zat-zat makanan yang terdapat di dalamnya dan kecernaannya. Selain
itu, dipengaruhi oleh fase pertumbuhan pada saat pemotongan atau penggembalaan.
II.4 Perkembangbiakan Rumput Gajah
Dalam perkembangannya rumput gajah memiliki akar yang tumbuh pada
buku-buku dari batang yang merayap didalam tanah, keberadaan akar pada tanah
akan mempercepat penutupan tanah, rumput gajah mempunyai akar serabut yang
mana dapat mengikat partikel dan membentuk jalinan serta mengangkat zat hara yang
telah tercuci oleh air hujan ke lapisan permukaan. Sifat ini sangat mengguntungkan
karena dapat menyuburkan tanah. Terbukti di Urganda setelah penanaman rumput
gajah selama tiga tahun, kemudian ditanami tanaman pertanian, menunjukan
peningkatan hasil yang nyata (Rahayu 2001).
Rumput gajah mudah ditanam dengan cara stek atau sobekan rumpun, batang
yang digunakan untuk stek sebaiknya sudah cukup tua yaitu berumur 6-8 bulan,
9

panjang setiap stek 25- 35 cm dan minimal terdiri dari 2 buku. Stek ditanam dengan
cara menancapkan kedalam tanah dengan bagian yang masuk kedalam tanah satu
buah buku sedangkan buku yang satunya lagi diatas permukaan tanah. Jarak tanam
berkisar antara 60-90 x 60-100 cm (Suyirman, 2003).
Perkembangbiakan vegetatif dilakukan baik dengan cara membagi rumpun,
akar dan bonggol maupun dengan stek batang (minimal 3 ruas, 2 ruas terbenam di
tanah). Hal ini dapat dilakukan dengan tangan atau dengan peralatan seperti yang
dilakukan pada penanaman tebu (Manglayang, 2005).
Salah satu aspek perkembangbiakan tanaman rumput gajah adalah pengaturan
interval pemotongan. Interval pemotongan berhubungan dengan produksi yang
dihasilkan dan nilai gizi tanaman dan kesanggupan untuk bertumbuh kembali.
Pemotongan yang terlalu berat dengan tidak memperhatikan kondisi tanaman akan
menghambat pertumbuhan tunas yang baru sehingga produksi yang dihasilkan dan
perkembangan anakan menjadi berkurang. Sebaliknya pemotongan yang terlalu
ringan menyebabkan pertumbuhan tanaman di dominasi oleh pucuk dan daun saja,
sedangkan pertumbuhan anakan berkurang (Ella, 2002).

10

BAB III
METODE PRAKTIKUM
III.1 Waktu dan Tempat
Praktikum Tata Laksana Padang Penggemalaan Peternakan Rakyat mengenai
Pengaruh Jumlah Ruas Terhadap Pertumbuhan Tunas di laksanakan pada hari Jumat 6
Maret 2015 pukul 14.00 WITA sampai selesai. Bertempat di Padang Pastura, Fakultas
Peternakan, Universitas Hasanuddin, Makassar.
III.2 Materi Praktikum
Alat yang digunakan pada praktikum Pembangunan Padang Penggembalaan
mengenai Pengaruh Jumlah Ruas Terhadap Pertumbuhan Tunas yaitu pisau tajam,
parang, meteran, cangkul, dan linggis.
Bahan yang digunakan pada praktikum Pembangunan Padang Penggembalaan
mengenai Pengaruh Jumlah Ruas Terhadap Pertumbuhan Tunas yaitu tanah, air,
polybag, stek pangkal batas 3 ruas rumput gajah.
III.3 Prosedur Kerja

11