Anda di halaman 1dari 30

DAFTAR ISI

Kata Pengantar
Daftar Isi
Bab I Pendahuluan
A. Latar Belakang ............................................................................................................1
B. Rumusan Masalah .......................................................................................................1
C. Tujuan Pembahasan ....................................................................................................2
Bab II Pembahasan
A.
B.
C.
D.
E.
F.
G.
H.
I.
J.
K.
L.

Definisi pernikahan .....................................................................................................3


Hikmah/manfaat pernikahan .......................................................................................4
Tujuan Pernikah dalam islam .....................................................................................5
Rukun dan Syarat Pernikahan ....................................................................................7
Hukum nikah ..............................................................................................................8
Tipe-Tipe pernikahan .................................................................................................9
Tipe Laki-Laki dan Wanita yang tidak baik dinikahi ...............................................10
Bimbingan memilih jodoh menurut islam ................................................................12
Peminangan sebelum pelaksaan pernikahan .............................................................14
Talak .........................................................................................................................20
Iddah ........................................................................................................................24
Pernikahan Berbeda Agama .....................................................................................26

Bab III Penutup


A. Kesimpulan ...............................................................................................................28
B. Saran .........................................................................................................................28
Daftar Pustaka

BAB I
PENDAHULUAN
A.

Latar Belakang
Pernikahan adalah suatu perbuatan hukum. Suatu perbuatan hukum yang sah
menimbulkan akibatberupa hak-hak dan kewajiban bagi kedua belah pihak
(suami dan istri) dalam menciptakan keluarga yang bahagia.
Tujuan pernikahan adalah untuk mewujudkan kehidupan rumah tangga
yang sakinah, mawadah dan warohmah. [1] Dan tujuan perkawinan adalah
membentuk keluarga yang bahagia dan kekal. Pernikahan untuk itu suami istri
perlu

saling

membantu

dan

melengkapi

agar

masing-masing

dapat

mengembangkan kepribadiannya membantu dan mencapai kesejahteraan spiritual


dan material. [2]
Dalam ajaran Islam, syarat sahnya pernikahan sangat penting untuk
menentukan sejak kapan suatu hubungan kelamin ini dihalalkan antara seorang
laki-laki dan perempuan di Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama
Islam. Ketentuan agama ini sekurang-kurangnya mempengaruhi sikap moral
dan kadar hukum masyarakat. Begitu pula halnya dalam bidang perkawinan, yang
berlaku bagi seluruh rakyat Indonesia yakni Undang-undang perkawinan ini
dimulai di dalam tambahan lembaran negara Republik.
B.

Rumusan Masalah
Dari latar belakang diatas timbul permasalahan yang perlu di dibahas sedikit
tentang:
M.
N.
O.
P.
Q.
R.
S.
T.
U.

Definisi pernikahan
Hikmah/manfaat pernikahan
Tujuan Pernikah dalam islam
Rukun dan Syarat Pernikahan
Hukum nikah
Tipe-Tipe pernikahan
Tipe Laki-Laki dan Wanita yang tidak baik dinikahi
Bagaimana bimbingan memilih jodoh menurut islam
Peminangan sebelum pelaksaan pernikahan

V. Talak
W. Iddah
X. Pernikahan Berbeda Agama
C. Tujuan Pembahasan
1. Apa Definisi pernikahan ?
2. Bagaimana Hikmah/manfaat pernikahan ?
3. Apa Tujuan Pernikahan dalam islam ?
4. Bagaimana Rukun dan Syarat Pernikahan ?
5. Bagaiman Hukum nikah ?
6. Bagaimana Tipe-Tipe pernikahan ?
7. Bagaimana Tipe Laki-Laki dan Wanita yang tidak baik dinikahi ?
8. Bagaimana bimbingan memilih jodoh menurut islam ?
9. Bagaimana Peminangan sebelum pelaksaan pernikahan ?
10. Apa itu Talak ?
11. Apa itu Iddah ?
12. Bagaimana itu Pernikahan Berbeda Agama ?

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Pernikahan
Pernikahan atau nikah menurut bahasa ialah berkumpul dan bercampur.
Menurut istilah syarak pula ialah ijab dan qabul (aqad) yang menghalalkan
persetubuhan antara lelaki dan perempuan yang diucapkan oleh kata-kata yang
menunjukkan nikah, menurut peraturan yang ditentukan oleh Islam. Perkataan zawaj
digunakan di dalam al-Quran bermaksud pasangan dalam penggunaannya perkataan
ini bermaksud pernikahan Allah s.w.t. menjadikan manusia itu berpasang-pasangan,
menghalalkan pernikahan dan mengharamkan zina.
Adapun nikah menurut syariat nikah juga berarti akad. Sedangkan pengertian
hubungan badan itu hanya metafora saja.
Islam adalah agama yang syumul (universal). Agama yang mencakup semua
sisi kehidupan. Tidak ada suatu masalah pun, dalam kehidupan ini, yang tidak
dijelaskan. Dan tidak ada satu pun masalah yang tidak disentuh nilai Islam, walau
masalah tersebut nampak kecil dan sepele. Itulah Islam, agama yang memberi
rahmat bagi sekalian alam. Dalam masalah perkawinan, Islam telah berbicara
banyak. Dari mulai bagaimana mencari kriteria calon calon pendamping hidup,
hingga bagaimana memperlakukannya kala resmi menjadi sang penyejuk hati. Islam
menuntunnya. Begitu pula Islam mengajarkan bagaimana mewujudkan sebuah pesta
pernikahan yang meriah, namun tetap mendapatkan berkah dan tidak melanggar
tuntunan sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, begitu pula dengan
pernikahan yang sederhana namun tetap penuh dengan pesona. Melalui makalah
yang singkat ini insyaallah kami akan membahas perkawinan menurut hukum islam.
Pernikahan adalah sunnah karuniah yang apabila dilaksanakan akan mendapat
pahala tetapi apabila tidak dilakukan tidak mendapatkan dosa tetapi dimakruhkan
karna tidak mengikuti sunnah rosul.[3]
Arti dari pernikahan disini adalah bersatunya dua insane dengan jenis berbeda
yaitu laki-laki dan perempuan yang menjalin suatu ikatan dengan perjanjian atau
akad.

Suatu pernikahan mempunyai tujuan yaitu ingin membangun keluarga yang


sakinah mawaddah warohmah serta ingin mendapatkan keturunan yang solihah.
Keturunan inilah yang selalu didambakan oleh setiap orang yang sudah menikah
karena keturunan merupakan generasi bagi orang tuanya. [4]

Tujuan pernikahan menurut Islam adalah menuruti perintah Allah untuk


memperoleh keturunan yang sah dalam masyarakat, dengan mendirikan rumah
tangga yang damai dan teratur. [5]

B.

Hikmah Pernikahan
Allah SWT berfirman :
Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu
isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram
kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya
pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang
berfikir.(Ar-ruum,21) [11]
Pernikahan menjadikan proses keberlangsungan hidup manusia didunia ini
berlanjut, dari generasi ke generasi. Selain juga menjadi penyalur nafsu birahi,
melalui

hubungan

suami

istri

serta

menghindari

godaan

syetan

yang

menjerumuskan. Pernikahan juga berfungsi untuk mengatur hubungan laki-laki dan


perempuan berdasarkan pada asas saling menolong dalam wilayah kasih sayang dan
penghormatan muslimah berkewajiban untuk mengerjakan tugas didalam rumah
tangganya seperti mengatur rumah, mendidik anak, dan menciptakan suasana yang
menyenangkan. Supaya suami dapat mengerjakan kewajibannya dengan baik untuk
kepentingan dunia dan akhirat. [3]
Adapun hikmah yang lain dalam pernikahannya itu yaitu :
1. Mampu menjaga kelangsungan hidup manusia dengan jalan berkembang biak
dan berketurunan.
2. Mampu menjaga suami istri terjerumus dalam perbuatan nista dan mampu
mengekang syahwat seta menahan pandangan dari sesuatu yang diharamkan.
3. Mampu menenangkan dan menentramkan jiwa denagn cara duduk-duduk dan
bencrengkramah dengan pacarannya.
4. Mampu membuat wanita melaksanakan tugasnya sesuai dengan tabiat
kewanitaan yang diciptakan. [4]
C.

Tujuan Pernikahan dalam Islam


1. Untuk Memenuhi Tuntutan Naluri Manusia Yang Asasi
pernikahan adalah fitrah manusia, maka jalan yang sah untuk memenuhi
kebutuhan ini yaitu dengan aqad nikah (melalui jenjang perkawinan), bukan
dengan cara yang amat kotor menjijikan seperti cara-cara orang sekarang ini

dengan berpacaran, kumpul kebo, melacur, berzina, lesbi, homo, dan lain
sebagainya yang telah menyimpang dan diharamkan oleh Islam.
2. Untuk Membentengi Ahlak Yang Luhur
Sasaran utama dari disyariatkannya perkawinan dalam Islam di antaranya
ialah untuk membentengi martabat manusia dari perbuatan kotor dan keji, yang
telah menurunkan dan meninabobokan martabat manusia yang luhur. Islam
memandang perkawinan dan pembentukan keluarga sebagai sarana efefktif untuk
memelihara pemuda dan pemudi dari kerusakan, dan melindungi masyarakat dari
kekacauan. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda :
Artinya

Wahai

para

pemuda

Barangsiapa

diantara

kalian

berkemampuan untuk nikah, maka nikahlah, karena nikah itu lebih menundukan
pandangan, dan lebih membentengi farji (kemaluan). Dan barangsiapa yang tidak
mampu, maka hendaklah ia puasa (shaum), karena shaum itu dapat membentengi
dirinya.
3. Untuk Menegakkan Rumah Tangga Yang Islami
Dalam Al-Quran disebutkan bahwa Islam membenarkan adanya Thalaq
(perceraian), jika suami istri sudah tidak sanggup lagi menegakkan batas-batas
Allah, sebagaimana firman Allah dalam ayat berikut :
Artinya : Thalaq (yang dapat dirujuki) dua kali, setelah itu boleh rujuk
lagi dengan cara maruf atau menceraikan dengan cara yang baik. Tidak halal
bagi kamu mengambil kembali dari sesuatu yang telah kamu berikan kepada
mereka, kecuali kalau keduanya khawatir tidak akan dapat menjalankan hukumhukum Allah, maka tidak ada dosa atas keduanya tentang bayaran yang diberikan
oleh istri untuk menebus dirinya. Itulah hukum-hukum Allah, maka janganlah
kamu melanggarnya. Barangsiapa yang melanggar hukum-hukum Allah mereka
itulah orang-orang yang dhalim.

Yakni keduanya sudah tidak sanggup melaksanakan syariat Allah. Dan


dibenarkan rujuk (kembali nikah lagi) bila keduanya sanggup menegakkan batasbatas Allah. Sebagaimana yang disebutkan dalam surat Al-Baqarah lanjutan ayat
di atas :

Artinya : Kemudian jika si suami menthalaqnya (sesudah thalaq yang


kedua), maka perempuan itu tidak halal lagi baginya hingga dikawin dengan
suami yang lain. Kemudian jika suami yang lain itu menceraikannya, maka tidak
ada dosa bagi keduanya (bekas suami yang pertama dan istri) untuk kawin
kembali, jika keduanya berpendapat akan dapat menjalankan hukum-hukum
Allah. Itulah hukum-hukum Allah, diterangkannya kepada kaum yang (mau)
mengetahui .[11]
Jadi tujuan yang luhur dari pernikahan adalah agar suami istri
melaksanakan syariat Islam dalam rumah tangganya. Hukum ditegakkannya
rumah tangga berdasarkan syariat Islam adalah wajib.
4.

Untuk Meningkatkan Ibadah Kepada Allah


Menurut konsep Islam, hidup sepenuhnya untuk beribadah kepada Allah
dan berbuat baik kepada sesama manusia. Dari sudut pandang ini, rumah tangga
adalah salah satu lahan subur bagi peribadatan dan amal shalih di samping ibadat
dan amal-amal shalih yang lain, sampai-sampai menyetubuhi istri-pun termasuk
ibadah (sedekah).
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda :
Artinya : Jika kalian bersetubuh dengan istri-istri kalian termasuk
sedekah !. Mendengar sabda Rasulullah para shahabat keheranan dan bertanya :
Wahai Rasulullah, seorang suami yang memuaskan nafsu birahinya terhadap
istrinya akan mendapat pahala ? Nabi shallallahu alaihi wa sallam menjawab :
Bagaimana menurut kalian jika mereka (para suami) bersetubuh dengan selain
istrinya, bukankah mereka berdosa .? Jawab para shahabat :Ya, benar. Beliau
bersabda lagi : Begitu pula kalau mereka bersetubuh dengan istrinya (di tempat
yang halal), mereka akan memperoleh pahala ! .

5. Untuk Mencari Keturunan Yang Shalih


Tujuan

pernikahan

di

antaranya

ialah

mengembangkan bani Adam, Allah berfirman :

untuk

melestarikan

dan

Artinya : Allah telah menjadikan dari diri-diri kamu itu pasangan suami
istri dan menjadikan bagimu dari istri-istri kamu itu, anak-anak dan cucu-cucu,
dan memberimu rezeki yang baik-baik. Maka mengapakah mereka beriman
kepada yang bathil dan mengingkari nikmat Allah ?.
Dan yang terpenting lagi dalam pernikahan bukan hanya sekedar
memperoleh anak, tetapi berusaha mencari dan membentuk generasi yang
berkualitas, yaitu mencari anak yang shalih dan bertaqwa kepada Allah.Tentunya
keturunan yang shalih tidak akan diperoleh melainkan dengan pendidikan Islam
yang benar.[6]
D. Rukun dan Syarat Pernikahan
Bagi umat islam, pernikahan itu sah apabila dilakukan menurut hukum
pernikahan islam. Suatu akad pernikahan dipandang sah apabila telah memenuhi
segala rukun dan syarat-syaratnya, sehingga keadaan akad pernikahan tersebut diakui
oleh syarak.
Adapun Rukun pernikaha ada 5, yaitu :
1. Calon Suami
Syarat calon suami : bukan mahram dari calon istri, tidak terpaksa, jelas
orangnya, tidak sedang menjalankan ihram haji.
2. Calon Istri
Syarat calon Istri : tidak ada halangan syari yaitu tidak bersuami, bukan mahram,
tidak sedang dalam iddah, tidak merasa ditekan, jelas orngnya, tidak sedang
berihram haji.
3. Wali
Syarat wali : laki-laki, baligh, berakal sehat, tidak terpaksa, adil, tidak sedang
berihram haji.
4. Dua orang saksi
Syarat dua orang saksi : laki-laki, baligh, berakal sehat, adil, dapat mendengar
dan melihat, bebas, tidak sedang menjalankan ihram haji, memahami bahasa
yang digunakan untuk ijab kabul.
5. Ijab kabul
Syarat ijab kabul : ada pernyataan mengawinkan dari wali, adanya pernyataan
penerimaan dai calon mempelai pria, memakai kata-kata nikah atau tazwij, atau
ijab kabul bersambung antara ijab dan kabul jelas maksudnya, orang yang terkait
ijab kabul tidak sedang dalam ihram haji, majelis ijab kabul harus dihadiri
minimal 4 orang.

D.

Hukum Nikah
Dan jika kamu takut tidak akan dapat Berlaku adil terhadap (hak-hak)
perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), Maka kawinilah wanitawanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau empat. kemudian jika kamu takut
tidak akan dapat Berlaku adil. Maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak
yang kamu miliki. yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat
aniaya.(An-Nisaa, 3)[11]
Dari keterangan diatas disimpulkan bahwa hukum nikah ada 5 :
1. Wajib kepada orang yang mempunyai nafsu yang kuat sehingga bias
menjerumuskannya ke lembah maksiat (zina dan sebagainya) sedangkan ia
seorang yang mampu.disini mampu bermaksud ia mampu membayar mahar (mas
berkahminan/dower) dan mampu nafkah kepada calon istrinya.
2. Sunat kepada orang yang mampu tetapi dapat mengawal nafsunya.
3. Harus kepada orang yang tidak ada padanya larangan untuk berkahwin dan ini
merupakan hukum asal perkawinan
4. Makruh kepada orang yang tidak berkemampuan dari segi nafkah batin dan lahir
tetapi sekadar tidak memberi kemudaratan kepada isteri.
5. Haram kepada orang yang tidak berkempuan untuk memberi nafkah batin dan
lahir dan ia sendiri tidak berkuasa (lemah), tidak punya keinginan menikah serta
akan menganiaya isteri jika dia menikah. [30]

E. Tipe-tipe pernikahan
1. Conflict Habituated
Tipe ini boleh dibilang sebgai partner in crime. Tipe ini adalah tipe pasangan
yang jatuh dalam kebiasaan mengomel dan bertengkar tiada henti. Kebiasaan ini
menjadi semacam jalan hidup bagi mereka. Tak heran kalau secara konstan
mereka selalu menemukan ketidaksepakatan. Dengan kata lain, stimulasi
perbedaan individu dan konflik justru mendukung kebersamaan pasangan
tersebut.
2. Devitalized

Tipe hubungan devitalize merupakan karakteristik pasangan yang sekali


waktu dapat mengembangkan rasa cinta, menikmati seks, dan satu sama lain
saling menghargai. Namun mereka cenderung merasakana kehampaan hidup
pernikahan kendati tetap berada bersama-sama. Karena kebersamaan mereka
lebih karena dorongan demi anak atau citra mereka dalam komunitas masyarakat.
Menariknya, pasangan tipe ini tak merasa dirinya maupun perkawinannya tidak
bahagia. Mereka berpikir bahwa kondisi saat ini merupakan hal biasa setelah
berlalunya tahun-tahun penuh gairah. Ironisnya, tipe pernikahan inilah yang
paling banyak ditemukan dalam masyarakat manapun.
3. Passive congenial
Pada dasarnya, pasangan tipe ini memiliki kesamaan dengan pasangan tipe
devitalized. Hanya saja kehampaan yang dirasakan telah berlangsung sejak awal
pernikahan. Boleh jadi karena pernikahan seperti ini biasanya berangkat dari
berbagai pertimbangan ekonomi atau status sosial dan bukannya relasi
emosional. Seperti halnya pasangan tipe devitalized yang minim keterlibatan
emosi, pasangan ini juga tidak terlalu berkonflik, namun kurang puas menjalani
pernikahannya. Dalam keseharian pasangan-pasangan tipe ini lebih sering saling
menghindar bukannya saling peduli.
4. Utilitarian
Berbeda dengan tipe-tipe lain, tipe ini lebih menekankan peran ketimbang
hubungan. Misalkan peran sebagai ibu, ayah atau peran-peran lain. Terdapat
perbedaan sangat kontras bila dibandingkan dengan tipe vital dan total yang
bersifat intrinsik, yaitu mengutamakan relasi pernikahanitu sendiri.

5.

vital
Cirinya, pasangan suami istri terikat satu sama lain, terutama oleh relasi
pribadi antara yang satu dengan yang lain. Di dalam relasi tersebut satu samalain
saling peduli untuk memuaskan kebutuhan psikologis pihak lain. Mereka berdua
pun saling berbagi dalam melakukan berbagai aktivitas kendati masing-masing
individu memiliki identitas kepribadian yang kuat, yang mengesankan,

komunikasi mereka mengandung kejujuran dan keterbukaan.


6. Total
Tipe ini memiliki banyak kesamaan dengan tipe vital, bedanya pasangan ini
sedemikian saling menyatu sehingga menjadi sedaging. Mereka selalu dalam
cara total yang meminimalkan adanya pengalaman pribadi dan konflik. Akan
etapi tidak seperti pasangan tipe devitalized, kesepakatan di antara mereka

biasanya dibangun demi hubungan itu sendiri.sayangnya, tipe pernikahan seperti


ini sangat jarang.
F. Tipe laki-laki dan Wanita yang tidak baik dinikahi
Setiap laki-laki maupun wanita pasti memiliki impian untuk menikah. Namun
bukan berarti obsesi kita untuk membina rumah tangga itu membuat kita menjadi
asal-asalan dalam memilih pasangan hidup. Sebelum memutuskan untuk berumah
tangga, ada baiknya kita mengenal lebih dalam pasangan yang sedang dekat dengan
kita saat ini. Karena ada beberapa tipe laki-laki dan wanita yang sebaiknya kita
hindari untuk dinikahi :
1. Pelit
Banyak laki-laki maupun anita yang tidak keberatan jika harus membayarkan
kekasihnya ketika kencan. Namun, wanita juga harus mempertimbangkan pria
yang sama sekali tidak mau mengeluarkan uang sedikitpun dan begitu pula
sebaliknya. Kita harus memikirkan kehidupan selanjutnyajika menjalani
pernikahan bersama si pria atau si wanita pelit nantinya. Apa jadinya jika memiliki
suami atau istri yang tidak mau mengeluarkan uang sama sekali atau sangat
perhitungan dalam mengelola keuangan ? karena dalam setiap hubungan, kita
harus berbagi, dalam berbagai hal termasuk keuangan.

2. Mengontrol
Sikap pria maupun wanita yang suka mengontrol bisa menjadi bencana
dalam hubungan pernikahan nanti. Jika suami atau istri terlalu jauh mengendalikan
hidup dalam berumah tangga, maka kita tidak akan tahan dengan suasana yang
demikian. Kebebasan untuk berekspresi dan berteman juga terganggu. Lebih baik
kita mengambil kembali kehidupan kita daripada hidup bersama orang yang suka
mengatur.
3. suka berbohong
kita bisa menilai pasangan berbohong dari kata-katanya yang tidak pernah
konsisten atau dia sering menyembunyikan ponselnya. Apalagi jika dia sudah
sering menyembunyikan pnselnya. Apalagi jika dia sudah sering ketahuan
berbohong. Pria atau wanita yang sering berbohong akan sulit dipercaya dalam
segala hal, kita pun akan selalu merasa was-was menjalani hubungan dengan tipe
pria atau wanita pembohong.
4. Finansial yang buruk

Banyak pasangan yang meremehkan masalah finansial ketika pacaran,


namun ketika hubungan rumah tangga dibina masalah keuangan menjadi faktor
penting. Jika suami atau istri tidak memiliki pekerjaan yang tetap atau sering
menghambur-hamburkan uang, maka kita patut curiga. Finansial pria atau wanita
yang buruk menunjukkan dia belum dewasa dan tidak bisa bertanggung jawab.
5. Pemarah
Menurut Larence Kane, penulis The Little Black Book of Violence, pria atau
wanita yang tidak bisa menahan amarahnya merupakan tanda yang tidak baik pada
hubungan. Meskipun dia belum pernah marah pada kita, tapi jika pria atau wanita
terlihat sangat mudah marah dengan orang-orang disekitarnya, sampai melakukan
kekerasan fisik, kita perlu berhati-hati. Besar kemungkinan dia akan berlaku sama
pada kita nantinya pada saat berumah tangga.
6. Sering mengkritik
Sesekali mengkritik hal yang ajar. Namun jika suami atau istri terlalu sering
berkomentar negatif untuk segala aspek hidup kita, maka dapat berdampak buruk
pada kondisi psikologi kita dan bisa membuat kita menjadi tidak nyaman dengan
diri sendiri.

7. Terobsesi dengan Ibunya


Pria maupun wanita sangat mencintai ibunya. Mendengarkan setiap nasihat
ibunya, berkonsultasi kepadda ibunya tentang segala hal dihidupnya dan seolah
tidak bisa hidup tanpa ibunya.
E.

Bimbingan Memilih Jodoh Menurut Islam


Setiap orang yang berumah tangga tentu mengharapkan keluarganya akan
menjdi keluarga yang sakinah mawadah warakhmah. Kehidupan rumah tangganya
dapat menjadi surga didunia dapat menjadi diri dan keluarganya. Apalagi pada saat
ini banyak sekali kasus peceraian keluarga dijumpai ditengah-tengah masyakat yang
semakin berkembang ini. Alasan dalam peceraian itu bermacam-macam, dari alas an
pendapatan istri lebih besar dari pada suami, selingkuh dengan adanya orang ke tiga,
kekerasan dalam rumah tanggah, dan lain-lain.
Maka dari itu dalam membangun mahligai surga rumah tangga persiapan awal
harus dilakukan pada saat memilih jodoh. Islam menganjurkan kepada umatnya
ketika mencari jodoh itu harus berhati-hati baik laki-laki maupun perempuan, hal ini
dikarenakan masa depan kehidupan rumah tangga itu berhubungan sangat erat

dengan cara memilih suami maupun istri. Untuk itu kita sebagai umat muslim harus
memperhatikan kriteria dalam memilih pasangan hidup yang baik.[13]
Dasar firman Allah SWT yang berbunyi :
Dan kawinkanlah orang-orang yang sedirian diantara kamu, dan orangorang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hambahamba sahayamu yang perempuan. jika mereka miskin Allah akan memampukan
mereka dengan kurnia-Nya. dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha
mengetahui.(An-Nisa, 31)
Dan dari sabda Rasullah yang artinya :
Dari Abu Hurairah RA, dari Nabi Muhammad SAW beliau bersabdah :
sesunguhnya seorang wanita itu dinikahi atas empat perkara, yaitu : harta, nasab,
kecantikan, dan agamanya, maka perolehlah yang mempunyai agama maka akan
berdeburlah tanganmu. [11]
Dalam memilih istri hendaknya menjaga sifat-sifat wajib. Syeh jalaluddin Alqosimi Addimasyai dalam kitab Al-mauidotul Mukminin menyebutkan ada kriteria
bagi laki-laki dalam memilih jodoh :
1. Baik agamanya : hendaknya ketika memilih istri itu harus memperhatikan
agama dari sisi istri tersebut.
2. Luhur budi pekertinya : seorang istri yang luhur budi pekertinya selalu sabar dan
tabah menghadapi ujian apapun yang akan dihadapi dalam perjalanan hidupnya.
3. Cantik wajahnya : setiap orang laki-laki cenderung menyukai kecantikan begitu
pula sebaliknya. Kecantikan wajah yang disertai kesolehahhan prilaku membuat
pasangan tentram dan cenderung melipahkan kasih sayangnya kepadanya, untuk
sebelum menikah kita disunahkan untuk melihat pasangan kita masing-masing.
4. Ringan maharnya : Rasullullah bersabda : salah satu tanda keberkahan
perempuan adalah cepat kawinnya, cepat melahirkannya, dan murah maharnya.
5. Subur : artinya cepat memperoleh keturunan dan wanita itu tidak berpenyakitan.
6. Masih perawan : jodoh yang terbaik bagi seorang laki-laki perjaka adalah
seorang gadis. Rasullullah pernah mengikatkan Jabbir RA yang akan menikahi
seorang janda : alangkah baiknya kalau istrimu itu seorang gadis, engkau
dapat bermain-main dengannya dan ia dapat bermain-main denganmu.
7. Keturunan keluarga baik-baik : dengan sebuah hadist Rasullallah besabda :
jauhilah dan hindarkan olehmu rumput mudah tumbuh ditahi kerbau.
Maksudnya : seorang yang cantik dari keturunan orang-orang jahat.
8. Bukan termasuk muhrim : kedekatan hubungan darah membuat sebuah
pernikahan menjadi hambar, disamping itu menurut ahli kesehatan hubungan
darah yang sangat dekat dapat menimbulkan problem genetika bagi
keturunannya. [21]

Dalam memilih calon suami bagi anak perempuan hendaknya memilih orang
yang memiliki akhlak, kehormatan dan nama baik. Dengan demikian jika ia
menggauli istrinya maka istrinya maka ia menggaulinya dengan baik, jika
menceraikan maka ia menceraikan dengan baik.
Rasullah bersabda :barang siapa mengawinkan anak perempuannya denga
orang yang fasik maka sungguh dia telah memutuskan hubungan persaudaraan.
Seorang laki-laki berkata kepada hasan bin ali, sesungguhnya saya memiliki
seorang anak perempuan maka siapakah menurutmu orang cocok agar saya dapat
menikahkan untuknya ? hasan menjawab :nikahkanlah dia dengan seorang yang
beriman kepada Allah SWT, jika ia mencintainya maka dia akan memuliahkannya
dan jika dia membencinya maka dia tidak mendoliminya.
F. Peminangan (Khitbah) Sebelum Pelaksanaan Pernikahan
1. Definisi Peminangan
Beberapa ahli Fiqih berbeda pendapat dalam pendefinisian peminangan.
Beberapa diantaranya adalah sebagai berikut:
Wahbah Zuhaili mengatakan bahwa pinangan (khitbah) adalah pernyataan
seorang lelaki kepada seorang perempuan bahwasanya ia ingin menikahinya,
baik langsung kepada perempuan tersebut maupun kepada walinya. Penyampaian
maksud ini boleh secara langsung ataupun dengan perwakilan wali.
Adapun Sayyid Sabiq, dengan ringkas mendefinisikan pinangan (khitbah)
sebagai permintaan untuk mengadakan pernikahan oleh dua orang dengan
perantaraan yang jelas. Pinangan ini merupakan syariat Allah SWT yang harus
dilakukan sebelum mengadakan pernikahan agar kedua calon pengantin saling
mengetahui.
Amir Syarifuddin mendefinisikan pinangan sebagai penyampaian kehendak
untuk melangsungkan ikatan perkawinan. Peminangan disyariatkan dalam suatu
perkawinan yang waktu pelaksanaannya diadakan sebelum berlangsungnya akad
nikah.
Al-hamdani berpendapat bahwa pinangan artinya permintaan seseorang
laki-laki kepada anak perempuan orang lain atau seseorang perempuan yang ada
di bawah perwalian seseorang untuk dikawini, sebagai pendahuluan nikah.
Dari beberapa pendapat diatas, dapat disimpulkan bahwa pinangan (khitbah)
adalah proses permintaan atau pernyataan untuk mengadakan pernikahan yang

dilakukan oleh dua orang, lelaki dan perempuan, baik secara langsung ataupun
dengan perwalian. Pinangan (khitbah) ini dilakukan sebelum acara pernikahan
dilangsungkan.
2. Dasar dan Hukum Pinangan
Dari Mughirah R.A., sesungguhnya ia pernah meminang seseorang
perempuan, lalu Nabi SAW. Bersabda kepadanya, Lihatlah perempuan itu
dahulu karena sesungguhnya melihat itu lebih cepat membawa kekekalan
kecintaan antara keduanya. (H.R. Nasai dan Tirmizi).
Dari Abu Hurairah R.A., dia berkata, Aku duduk di dekat Nabi SAW. lalu
datang seorang laki-laki kepada beliau dan bercerita bahwa ia akan menikahi
seseorang perempuan dari kaum Anshar.
Rasulullah lalu bersabda,Sudahkah engkau lihat wajahnya? laki-laki itu
menjawab, belum. Rasulullah bersabda lagi, pergi dan lihatlah karena
sesungguhnya pada wajah kaum Anshar itu mungkin ada sesuatu yang menjadi
cacat. (H.R. Muslim dan Nasai).
Memang terdapat dalam al-quran dan dalam banyak hadis Nabi yang
membicarakan hal peminangan. Namun tidak ditemukan secara jelas dan terarah
adanya perintah atau larangan melakukan peminangan, sebagaiman perintah
untuk mengadakan perkawinan dengan kalimat yang jelas, baik dalam al-quran
maupun dalam hadis Nabi. Oleh karena itu, dalam menetapkan hukumnya tidak
terdapat pendapat ulama yang mewajibkannya, dalam arti hukumannya mubah.
Akan tetapi, Ibnu Rusyd dengan menukil pendapat imam Daud Al-Zhahiriy,
mengatakan bahwa hukum pinangan adalah wajib. Ulama ini mendasarkan
pendapatnya pada hadis-hadis nabi yang menggambarkan bahwa pinangan
(khitbah) ini merupakan perbuatan dan tradisi yang dilakukan nabi dalam
peminangan itu. [7]
3. Hikmah Peminangan
Ada beberapa hikmah dari prosesi peminangan, diantaranya :
Wadah perkenalan antara dua belah pihak yang akan melaksanakan
pernikahan. Dalam hal ini, mereka akan saling mengetahui tata etika calon
pasangannya masing-masing, kecendrungan bertindak maupun berbuat ataupun
lingkungan sekitar yang mempengaruhinya. Walaupun demikian, semua hal itu
harus dilakukan dalam koridor syariah. Hal demikian diperbuat agar kedua belah
pihak dapat saling menerima dengan ketentraman, ketenangan, dan keserasian
serta cinta sehingga timbul sikap saling menjaga, merawat dan melindungi.
Sebagai penguat ikatan perkawinan ynag diadakan sesudah itu, karena
dengan peminangan itu kedua belah pihak dapat saling mengenal. Bahwa Nabi

SAW berkata kepada seseorang yang telah meminang perempuan: melihatlah


kepadanya karena yang demikian akan lebih menguatkan ikatan perkawinan. [7]
4. Macam-Macam Peminangan
Ada beberapa macam peminangan, diantaranya sebagai berikut:
a. Secara langsung yaitu menggunakan ucapan yang jelas dan terus terang
sehingga tidak mungkin dipahami dari ucapan itu kecuali untuk peminangan,
seperti ucapan,saya berkeinginan untuk menikahimu.
b. Secara tidak langsung yaitu dengan ucapan yang tidak jelas dan tidak terus
terang atau dengan istilah kinayah. Dengan pengertian lain ucapan itu dapat
dipahami dengan maksud lain, seperti pengucapan,tidak ada orang yang
tidak sepertimu.
Perempuan yang belum kawin atau sudah kawin dan telah habis pula masa
iddahnya boleh dipinang dengan ucapan langsung aau terus terang dan boleh
pula dengan ucapan sindiran atau tidak langsung.
Akan tetapi bagi wanita yang masih punya suami, meskipun dengan janji
akan dinikahinya pada waktu dia telah boleh dikawini, tidak boleh
meminangnya dengan menggunakan bahasa terus terang tadi.[7]
5. Hal-Hal yang Berkaitan dengan Peminangan.
a. Norma Kedua Calon Pengantin Setelah Peminangan.
Peminangan (khitbah) adalah proses yang mendahului pernikahan
akan tetapi bukan termasuk dari pernikahan itu sendiri. Pernikahan tidak
akan sempurna tanpa proses ini, karena peminangan (khitbah) ini akan
membuat kedua calon pengantin akan menjadi tenang akibat telah saling
mengetahui.
Oleh karena itu, walaupun telah terlaksana proses peminangan,
norma-norma pergaulan antara calon suami dan calon istri masih tetap
sebagaimana biasa. Tidak boleh memperlihatkan hal-hal yang dilarang
untuk diperlihatkan.
b. Peminangan Terhadap Seseorang yang Telah Dipinang.
Seluruh ulama bersepakat bahwa peminangan seseorang terhadap
seseorang yang telah dipinang adalah haram. Ijma para ulama mengatakan
bahwa peminangan kedua, yang datang setelah pinangan yang pertama,
tidak diperbolehkan. Hal tersebut terjadi apabila:
1). Perempuan itu senang kepada laki-laki yang meminang dan menyetujui
pinangan itu secara jelas (Sharahah) atau memberikan izin kepada
walinya untuk menerima pinangan itu.
2). Pinangan kedua datang tidak dengan izin pinangan pertama.
3). Peminang pertama belum membatalkan pinangan.

Hal ini sesuai dengan hadis nabi yang berbunyi, Janganlah kalian
membeli sesuatu pembelian saudara kalian, dan janganlah kalian meminang
pinangan saudara kalian, kecuali dengan izinnya.Seluruh imam bersepakat
bahwa hadis diatas berlaku bagi pinangan yang telah sempurna. Hal
tersebut terjadi agar tidak ada yang merasa sakit hati satu sama lain.
Adapun mengenai pinangan yang belum sempurna, dengan
pengertian masih menunggu jawaban, beberapa ulama berbeda pendapat.
Hanafiah mengatakan, pinangan terhadap seseorang yang sedang bingung
dalam menentukan keputusan adalah makruh.
Hal ini bertentangan dengan pendapat sebagian ulama yang
mengatakan bahwa sesungguhnya perbuatan itu tidak haram. Pendapat ini
berdasarkan peristiwa Fatimah binti Qois yang dilamar oleh tiga orang
sekaligus, yaitu Muawiyah, Abu Jahim bin Huzafah dan Usamah bin Zaid.
Hal itu terjadi setelah selesainya masa iddah Fatimah yang telah ditalak
oleh Abu Umar bin Hafsin.
Walaupun demikian, pendapat Hanafi lebih kuat landasannya karena
sesuai dengan tata perilaku islam yang mengajarkan solidaritas.
Peminangan yang dilakukan terhadap seseorang yang sedang bingung
dalam mempertimbangkan keputusan lebih berdampak pada pemutusan
silaturrahim terhadap peminang pertama dan akan mengganggu psikologis
yang dipinang.
c. Orang-Orang yang Boleh Dipinang.
Pada dasarnya, seluruh orang yang boleh dinikahi merekalah yang
boleh dipinang. Sebaliknya, mereka yang tidak boleh untuk dinikahi, tidak
boleh pula untuk dipinang. Dalam hal ini, ada syarat agar pinangan
diperbolehkan : Bukan Orang-Orang yang Dilarang Menikahinya. Bukan
Orang-Orang yang Telah Dipinang Orang Lain. Tidak Dalam Masa Iddah
[7].
d. Batas-Batas yang Boleh Dilihat Ketika Khitbah
Dalam hal ini, para ulama terbagi menjadi empat bagian:
1). Hanya muka dan telapak tangan. Banyak ulama fiqih yang berpendapat
demikian. Pendapat ini berdasarkan bahwa muka adalah pancaran
kecantikan atau ketampanan seseorang dan telapak tangan ada
kesuburan badannya.
2). Muka, telapak tangan dan kaki. Pendapat ini diutarakan oleh Abu
Hanifah.

3). Wajah,leher, tangan, kaki, kepala dan betis. Pendapat ini dikedepankan
para pengikut Hambali.
4). Bagian-bagian yang berdaging. Pendapat ini menurut al-Auzai.
5). Keseluruh badan. Pendapat ini dikemukakan oleh Daud Zhahiri.
Pendapat ini berdasarkan ketidakadaan hadis nabi yang menjelaskan
batas-batas melihat ketika meminang. [8]
e. Waktu dan Syarat Melihat Pinangan
Imam Syafii berpendapat bahwa seorang calon pengantin, terutama
laki-laki, dianjurkan untuk melihat calon istrinya sebelum pernikahan
berlangsung. Dengan syarat bahwa perempuan itu tidak mengetahuinya.
Hal itu agar kehormatan perempuan tersebut terjaga. Baik dengan izin atau
tidak.
Imam Maliki dan Imam Hambali mengatakan bahwa melihat
pinangan adalah disaat kebutuhan mendesak. Itu disebabkan agar tidak
menimbulkan fitnah dan menimbulkan syahwat.
Wahbah Zuhaili mengatakan, pada dasarnya melihat pinangan itu
diperbolehkan asalkan tidak dengan syahwat. [9]
Indonesia sebagai negara hukum telah mengatur tentang Perkawinan yang
tertuang dalam Undang-Undang Perkawinan dan telah dilengkapi dengan Peraturan
Pemerintah Nomor 9 tahun 1975 yaitu tentang pelaksanaan Undang-Undang No. 1
tahun 1974 tentang Perkawinan, dan Intruksi Presiden Nomor 1

Tahun 1991

tentang Kompilasi Hukum Islam (KHI) dan peraturan-peraturan lainnya mengenai


perkawinan.
Berdasarkan ketentuan pasal 1 Undang-Undang Perkawinan, Pengertian
perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita
sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang
bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. [22]

Mengenai sahnya perkawinan dan pencatatan perkawinan terdapat pada


Pasal 2 ayat (1) Undang-Undang Perkawinan, yang berbunyi: Perkawinan adalah
sah,

apabila

dilakukan

menurut

hukum

masing-masing

agamanya

dan

kepercayaannya itu. Menurut Pasal 2 ayat (1) ini, kita tahu bahwa sebuah

perkawinan adalah sah, apabila dilakukan menurut hukum masing-masing


agamanya dan kepercayaannya itu.
Hal ini berarti, bahwa jika suatu perkawinan telah memenuhi syarat dan
rukun nikah atau ijab kabul telah dilaksanakan (bagi umat Islam) atau
pendeta/pastor telah melaksanakan pemberkatan atau ritual lainnya, maka
perkawinan tersebut adalah sah terutama di mata agama dan kepercayaan
masyarakat.
Tetapi sahnya perkawinan ini di mata agama dan kepercayaan masyarakat
perlu mendapat pengakuan dari negara, yang dalam hal ini ketentuannya terdapat
pada Pasal 2 ayat (2) Undang-Undang Perkawinan, tentang pencatatan perkawinan
ialah tiap-tiap perkawinan dicatat menurut peraturan perundang-undangan yang
berlaku. Pencatatan perkawinan bertujuan agar keabsahan perkawinan mempunyai
kekekuatan hukum, jadi tidak menentukan sah/tidaknya suatu perkawinan.
Bagi yang beragama Islam, namun tak dapat membuktikan terjadinya
perkawinan dengan akte nikah, dapat mengajukan permohonan itsbat nikah
(penetapan/pengesahan nikah) kepada Pengadilan Agama sebagaimana diatur
dalam Pasal 7 Kompilasi hukum Islam (KHI).
Namun Itsbat Nikah ini hanya dimungkinkan bila berkenaan dengan:
1.
2.
3.
4.

dalam rangka penyelesaian perceraian;


hilangnya akta nikah;
adanya keraguan tentang sah atau tidaknya salah satu syarat perkawinan;
perkawinan terjadi sebelum berlakunya UU No. 1 tahun 1974 tentang

perkawinan;
5. perkawinan yang dilakukan oleh mereka yang tidak mempunyai halangan
perkawinan menurut UU No. 1/1974. Artinya, bila ada salah satu dari kelima
alasan di atas yang dapat dipergunakan, dapat mengajukan permohonan Istbat
Nikah ke Pengadilan Agama. Sebaliknya, akan sulit bila tidak memenuhi salah
satu alasan yang ditetapkan. Sedangkan pengajuan itsbat nikah dengan alasan
lain (bukan dalam rangka perceraian) hanya dimungkinkan, jika sebelumnya
sudah memiliki Akta Nikah dari pejabat berwenang.
Sebagaimana telah disebutkan dalam Pasal 2 ayat (2) Undang-Undang
Perkawinan,

yaitu

: tiap-tiap

perkawinan

dicatat

menurut

peraturan

perundang-undangan yang berlaku. Begitu juga pada Pasal 4 dan 5 dalam undangundang yang sama berbunyi ".

Dalam hal seorang suami akan beristri lebih dari seorang (poligami), maka la
waib rnengajukan permohonan ke Pengadilan di daerah tempat tinggalnya, dengan
ketentuan jika istri tidak dapat menjalankan kewajibannya sebagal istri, istri
mendapat cacat badan atau penyakit yang sulit untuk disembuhkan dan istri tidak
dapat melahirkan keturunan, disamping itu harus ada persetujuan dari istri
pertama, adanya kepastian suami mampu memberi nafkah isteri dan anakanaknya dan ada jaminan bahwa suami akan berlaku adil terhadap istri dan anakanak mereka. [27]
G. TALAK
1. Pengertian Talak
Talak secara bahasa berarti melepaskan ikatan. Kata ini adalah derivat dari
kata
ithlaq, yang berarti melepas atau meninggalkan. Secara syari, talak
berarti melepaskan ikatan perkawinan. Dalil Dibolehkannya Talak :
Allah Taala berfirman,

Talak (yang dapat dirujuki) dua kali. Setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara
yang ma'ruf atau menceraikan dengan cara yang baik. (QS. Al Baqarah: 229)

Hai Nabi, apabila kamu menceraikan isteri-isterimu Maka hendaklah kamu
ceraikan mereka pada waktu mereka dapat (menghadapi) iddahnya (yang wajar)
(QS. Ath Tholaq: 1)
Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu anhuma, bahwasanya beliau pernah
mentalak istrinya dan istrinya dalam keadaan haidh, itu dilakukan di masa
Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Lalu Umar bin Al Khottob radhiyallahu
anhu menanyakan masalah ini kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.
Beliau shallallahu alaihi wa sallam lantas bersabda,



Hendaklah ia meruju' istrinya kembali, lalu menahannya hingga istrinya suci
kemudian haidh hingga ia suci kembali. Bila ia (Ibnu Umar) mau
menceraikannya, maka ia boleh mentalaknya dalam keadaan suci sebelum ia
menggaulinya. Itulah al 'iddah sebagaimana yang telah diperintahkan Allah 'azza
wajalla.

Ibnu Qudamah Al Maqdisi menyatakan bahwa para ulama sepakat (berijma)


akan dibolehkannya talak. Ibroh juga menganggap dibolehkannya talak. Karena
dalam rumah tangga mungkin saja pernikahan berubah menjadi hal yang hanya
membawa mafsadat. Yang terjadi ketika itu hanyalah pertengkaran dan perdebatan
saja yang tak kunjung henti. Karena masalah inilah, syariat Islam membolehkan
syariat nikah tersebut diputus dengan talak demi menghilangkan mafsadat.
Kritik Hadits
Adapun hadits yang berbunyi,


Perkara yang paling dibenci Allah Taala adalah talak.Dalam sanad hadits ini
ada dua illah (cacat): (1) dhoifnya Muhammad bin Utsman bin Abi Syaibah, (2)
terjadi perselisihan di dalamnya.
Diriwayatkan oleh Abu Daud dari Ahmad bin Yunus Abu Daud
menyebutnya tanpa menyebutkan Ibnu Umar radhiyallahu anhuma. Sanad hadits
dari Al Hakim dinilaidhoif. Kesimpulannya, hadits ini adalah hadits yang dhoif.
Di antara yang mendhoifkannya adalah Al Baihaqi, Syaikh Al Albani, dan Syaikh
Musthofa Al Adawi. [29]
Hukum Talak
Ibnu Hajar Al Asqolani mengatakan, Talak boleh jadi ada yang haram, ada
yang makruh, ada yang wajib, ada yang sunnah dan ada yang boleh.
Rincian hukum talak di atas adalah sebagai berikut :
Pertama,talak yang haram yaitu talak bidi (bidah) dan memiliki beberapa
bentuk.
Kedua, talak yang makruh yaitu talak yang tanpa sebab apa-apa, padahal masih
bisa jika pernikahan yang ada diteruskan.
Ketiga, talak yang wajib yaitu talak yang di antara bentuknya adalah adanya
perpecahan (yang tidak mungkin lagi untuk bersatu atau meneruskan
pernikahan).
Keempat, talak yang sunnah yaitu talak yang disebabkan karena si istri tidak
memiliki sifat afifah (menjaga kehormatan diri) dan istri tidak lagi
memperhatikan perkara-perkara yang wajib dalam agama (seperti tidak
memperhatikan shalat lima waktu), saat itu ia pun sulit diperingatkan.

Kelima, talak yang hukumnya boleh yaitu talak ketika butuh di saat istri berakhlaq
dan bertingkah laku jelek dan mendapat efek negatif jika terus dengannya tanpa
bisa meraih tujuan dari menikah.
1. Talak Sunni dan Talak Bidi
Talak dipandang dari aspek sesuai dan tidak sesuai dengan ketentuan syara
terbagi pada dua bagian;
a. Talak sunni dan
b. Talak bidi.
Ulama fikih beraneka ragam dalam menstandari batasan-batasan talak
sunni dan bidi.
a. Kalangan Hanafiyah membagi talak kedalam tiga bagian, yaitu:
1). Talak ahsan adalah talak yang suami menjatuhkan talak pada istrinya
dengan talak satu, pada masa suci dan tidak disetubuhi pada waktu
sucinya serta ia membiarkan (tidak mentalak lagi) pada istrinya sampai
iddahnya berakhir dengan tiga kali haid.
2). Talak hasan adalah talak yang dilakukan suami pada istrinya dengan
talak tiga, dalam waktu tiga kali suci dan disetiap masa suci dilakukan
talak satu.
3). Sedangkan Talak bidi adalah talak yang dijatuhkan suami pada istrinya
dengan talak tiga, atau talak dua dengan memakai satu kalimat, atau ia
mentalak tiga dalam satu masa suci.
b. Sedangkan kalangan Malikiyah dalam mengkatagorikan talak sunni atau
bidi dengan memberi syarat-syarat tertentu. Ada empat syarat talak dapat
dikategorikan talak sunni:
1). Perempuan pada waktu ditalak suci dari haid dan nifas.
2). Suami tidak menjimanya pada waktu,
3). Suami mentalak satu,
4). Suami tidak mentalak istrinya yang kedua kali sampai masa
iddahnya berakhir.
Dan menurut mereka, talak bidi adalah talak yang tidak
memenuhi satu syarat atau seluruhnya. Misalnya : seorang suami
mentalak istrinya lebih dari satu, atau ia mentalak istrinya pada masa haid
atau nifas, atau pada masa suci tetapi dicampurinya dalam masa suci itu.
Lebih lanjut mereka menegaskan bahwa suami yang mentalak bidi pada
isrinya ia dipaksa untuk rujuk kembai sampai masa iddah yang terakhir.
Namun jika ia tidak mau untuk merujuknya, Hakim boleh
mengancam untuk menahannya, dan manakala ia tetap enggan untuk
merujuknya ia boleh dipukul, dan bila ia tetap bersikeras dalam
keengganannya, seorang Hakim berhak memaksa untuk merujuknya.

c. Sementara kalangan Syafiiyah membagi talak pada tiga bagian dengan


istilah yang sedikit berbeda dengan kalangan Hanafiyah. Tiga bagian itu
adalah :
1). Talak sunni adalah talak yang dijatuhkan pada istri dengan talak satu
pada masa suci dan tidak dicampuri pada masa sucinya serta tidak
dicampuri pula pada masa haid sebelumya, dan bila suami ingin
mentalak istrinya dengan talak tiga ia menjatuhkan talak satu disetiap
masa suci.
2). Berkenaan dengan talak bidi terbagi menjadi dua macam :
a). Talak yang dijatuhkan pada masa haid yang dicampuri pada masa
haidnya, sebab syara memerintahkan untuk mentalak istri pada
masa suci, dan juga membuat mudharat pad istri dengan lamanya
menjalani masa iddah.
b).Talak yang dijatuhkan pada istri dalam masa suci tetapi telah
dicampuri pada masa suci itu.
3). Macam talak yang terakhir, yaitu talak qhiru bidi wa la-sunni hanya
terjadi bagi istri yang masih kacil, perempuan monopause, istri yang
berkhulu, istri yang hamil dan kehamilannya dipastikan hasil
hubungan dengan suaminya, dan istri yang belum pernah didukhul.
d. Sementara kalangan Hanabilah memberi pengertian :
1). Talak sunni adalah talak yang suami menjatuhkan talak satu pada
istrinya yang tidak disetubuhi pada masa sucinya itu kemudian ia tidak
mentalaknya lagi sampai masa iddahnya berakhir.
2). Sedangkan talak bidi adalah talak yang suami menjatuhkan talak pada
istrinya dalam masa haid atau nifas, atau masa suci tetapi ia telah
mendukhulnya. [28]
H. Iddah
1. Pengertian Iddah
Menurut bahasa, kata iddah berasal dari kata adad (bilangan dan ihshaak
(perhitungan), seorang wanita yang menghitung dan menjumlah hari dan masa
haidh atau masa suci.
Menurut istilah, kata iddah ialah sebutan/nama bagi suatu masa di mana
seorang wanita menanti/menangguhkan perkawinan setelah ia ditinggalkan mati
oleh suaminya atau setelah diceraikan baik dengan menunggu kelahiran bayinya,
atau berakhirnya beberapa quru, atau berakhirnya beberapa bulan yang sudah
ditentukan.
2. Macam-Macam Masa Iddah

Barangsiapa yang ditinggal mati suaminya, maka, iddahnya empat bulan


sepuluh hari, baik sang isteri sudah dicampuri ataupun belum. Hal ini mengacu
pada firman Allah SWT, Orang-orang yang meninggal dunia di antaramu
dengan meninggalkan isteri-isteri (hendaklah para isteri itu) menangguhkan
dirinya (beriddah) empat bulan sepuluh hari. (Al-Baqarah :234).
Terkecuali isteri yang sudah dicampuri dan sedang hamil, maka masa
iddahnya sampai melahirkan,Dan wanita-wanita yang hamil, waktu iddah
mereka itu adalah sampai mereka melahirkan kandungannya. (At-Thalaq : 4).
Dari al-Miswar bin Makhramah bahwa, Subaiah al-Aslamiyah r.a. pernah
melahirkan dan bernifas setelah beberapa malam kematian suaminya. Lalu ia,
mendatangi Nabi saw lantar meminta idzin kepada Beliau untuk kawin (lagi).
Kemudian Beliau mengizinkannya, lalu ia segera menikah (lagi). (Muttafaqun
alaih: Fathul Bari IX:470 no:5320 dan Muslim II:1122 no:1485).
Wanita yang ditalak sebelum sempat dicampuri, maka tidak ada masa iddah
baginya, berdasarkan pada firmannya Allah SWT berfirman, Hai orang-orang
yang beriman, apabila kamu menikahi perempuan-perempuan yang beriman,
kemudian kamu ceraikan mereka sebelum kamu mencampurinya, maka sekalikali

tidak

wajib

atas

mereka

iddah

bagimu

yang

kamu

minta,

menyempurnakannya. (Al-Ahzaab:49).
Sedang wanita yang ditalak yang sebelumnya sempat dikumpuli dan dalam
keadaan hamil maka, masa iddahnya ialah ia melahirkan anak yang
diakndungnya. Allah SWT berfirman, Dan wanita-wanita hamil, waktu iddah
mereka itu adalah sampai mereka melahirkan kandungannya. (At-Thalaq:4).
Dari az-Zubair bin al-Awwam r.a. bahwa ia mempunyai isteri bernama
Ummu Kultsum bin Uqbah radhiyallahu anha. Kemudian Ummu Kultsum yang
sedang hamil berkata kepadanya, Tenanglah jiwaku (dengan dijatuhi talak
satu). Maka az-Zubir pun menjatuhkan padanya talak satu. Lalu dia keluar pergi
mengerjakan shalat, sekembalinya (dari shalat) ternyata isterinya sudah
melahirkan. Kemudian az-Zubir berkata: Gerangan apakah yang menyebabkan
ia menipuku, semoga Allah menipunya (juga). Kemudian dia datang kepada
Nabi saw lalu beliau bersabda kepadanya, Kitabullah sudah menetapkan
waktunya; lamarlah (lagi) di kepada dirinya. (Shahih: Shahih Ibnu Majah
no:1546 dan Ibnu Majah I:653 no:2026).
Jika wanita yang dijatuhi talak termasuk perempuan yang masih berhaidh
secara normal, maka masa iddahnya tiga kali haidh berdasarkan Firman

Allah SWT, Wanita-wanita yang ditalak hendaklah menahan diri (menunggu


tiga kali quru).. (Al-Baqarah :228).
Kata quru berarti haidh. Hal ini mengacu pada hadits Aisyah r.a. bahwa
Ummu Habibah r.a. sering mengeluarkan darah istihadhah(darah yang keluar dari
wanita karena sakit atau lainnya), lalu dia bertanya kepada Nabi saw. (mengenai
hal tersebut). Maka Beliau menyuruh meninggalkan shalat pada hari-hari
haidhnya. (Shahih Lighairih: Shahih Abu Daud no:252 dan Aunul Mabud I:463
no:278).
Jika wanita yang dijatuhi talak itu masih kecil, belum mengeluarkan darah
hadih atau sudah lanjut usia yang sudah manopause (berhenti masa haidh), maka
iddahnya adalah tiga bulan lamanya. Allah swt berfirman, Dan perempuanperempuan yang tidak haidh lagi (manopause) diantara isteri-isteri kaian jika
ragu-ragu (tentang masa iddahnya), maka masa iddah mereka adalah tiga
bulan. Begitu pula perempuan-perempuan yang belum haidh. (At-Thalaq:4)
[26]

I. Pernikahan Beda Agama


1. Pengertian Pernikahan Beda Agama
Karena Masalah ini adalah masalah hukum, untuk mengetahui pengertian
tentang perkawinan beda agama, perlu kiranya kita mengetahui istilah istilah
dalam konteks hukum yang berlaku di negara kita.
Sebelum diundangkannya undang-undang perkawinan Nomor 1 Tahun
1974, di Indonesia pernah berlaku peraturan hukum antar golongan tenatng
pernikahan campuran, yaitu Regeling op de Gemengde Huwelijken (GHR) atau
peraturan tentang perkawinan campuran sebagaimana dimuat dalam staatblad
1898 Nomor 158.
Pasal 1 dari peraturan tentang perkawinan campur (GHR) itu dinyatakan
bahwa yang dinamakan perkawinan campur ialah perkawinan antara orangorang di Indonesia yang tunduk kepada hukum yang berlainan.
Pemahaman tentang pasal demi pasal dari UU No.1/1974, khususnya yang
berkaitan dengan perkawinan beda agama, dikalangan para ahli dan praktisi
hukum, dapat dijumpai 3 pendapat. Petama,berpendapat baha perkawinan
antara agama merupakan pelanggaran terhadap UU No. 1/1974 pasal 2 ayat

(1) : perkawinan adalah sah apabila dilakukan menurut hukum masingmasing agamanya dan kepercayaan itu.
Kedua berpendapat bahwa perkawinan antaragama adalah sah dan dapat
dilangsungkan karena telah tercakup dalam perkawinan campuran, sebagaimana
termaktub dalam pasal 57 undang-undang ini dan pelaksanaannya dilakukan
menurut tata cara yang diatur oleh pasal 6 GHR dengan merujuk pasal 66 UU
No. 1/1974. Sedangkan yang Ketiga berpendapat bahwa perkawinan antar
agama sama sekali tidak diatur dalam UU No. 1/1974, oleh karenanya sesuai
dengan pasal 66 UU No. 1/1974, maka peraturan-peraturan lama dapat
diberlakukan. [17].
2. Pernikahan Berbeda agama dam perspektif Hukum Islam
Adalah suatu realita bahwa bangsa Indonesia terdiri dari berbagai macam
suku, golongan, ras dan agama serta kaya akan budaya. Heteroginitas
masyarakat Indonesia itu sangat memungkinkan terjadinya perkawinan
antarsuku, antargolongan bahkan antaragama.
Pembahasan tentang perkawinan, khususnya mengenai pernikahan antara
muslim dengan non muslim dalam perspektif hukum Islam, tentunya berangkat
dari penelusuran terhadap sumber pokok ajaran Islam (Al-Quran dan hadist)
serta mencermati perkembangan hukum islam tentang hal tersebut.
Dalam hal larangan pernikahan antara orang muslim dengan musyrik para
ulama sepakat tentang keharamannya, hal ini memang secara tegas dinyatakan
dalam Al-Quran. Namun dalam hal pernikahan antara seorang pria muslim
dengan wanita ahli kitab, dengan pernikahan seorang wanita muslimah dengan
pria ahli kitab. [5]
3. Pernikahan Beda Agama dalam Kompilasi Hukum Islam di Indonesia
Posisi pemerintah untuk menghilangkan perbedaan dan menjaga
kemaslahatanini adalah merupakan hak yang melekat padanya sehingga
mempunyai kewenangan karena berdasarkan kaidah fiqhi yang menyatakan :
Tindakan imam terhadap rakyat ini harus berkaitan dengan kemaslahatan.
Adapun larangan perkawinan beda agama ini adalah semata-mata untuk
menjaga keutuhan kebahagiaan rumah tangga dan aqidah keberagamannya hal
ini sebagaimana qaidah fiqhi yang menyebutkan :
Sesuatu yang diharamkan karena saddu dzariah dapat dibolehkan karena ada
maslahat yang lebih kuat.
Dengan beberapa uraian qaidah fiqhi di atas maka Presiden selaku kepala
negara adalah dibenarkan jika menetapkan sesuatu yang tadinya menjadi polemik

di masyarakat dengan mengambil salah satu pendapat karena adanya alasan


saddu dhariah dan kemaslahatan umat.
Kompilasi tersebut akan lebih kuat lagi jika ditingkatkan menjadi sebuah
undang-undang sehingga semua pihak akan terkait dengan hukum positif
tersebut.

BAB III
PENUTUP
A.

Kesimpulan
Arti dari pernikahan disini adalah bersatunya dua insane dengan jenis
berbeda yaitu

laki-laki dan perempuan yang menjalin suatu ikatan dengan

perjanjian atau akad.


Hikmah dalam pernikahannya itu yaitu :
1. Mampu menjaga kelangsungan hidup manusia dengan jalan berkembang
biak dan berketurunan.
2. Mampu menjaga suami istri terjerumus dalam perbuatan nista dan
mampu mengekang syahwat seta menahan pandangan dari sesuatu yang
diharamkan.
3. Mampu menenangkan dan menentramkan jiwa denagn cara dudukduduk dan bencrengkramah dengan pacarannya.
4. Mampu membuat wanita melaksanakan tugasnya sesuai dengan tabiat
kewanitaan yang diciptakan.
Tujuan pernikahan :

B.

1. Untuk Memenuhi Tuntutan Naluri Manusia Yang Asasi


2. Untuk Membentengi Ahlak Yang Luhur
3. Untuk Menegakkan Rumah Tangga Yang Islami
4. Untuk Meningkatkan Ibadah Kepada Allah
5. Untuk Mencari Keturunan Yang Shalih
Saran
Dari beberapa Uraian diatas jelas banyaklah kesalahan serta kekeliruan,
baik disengaja maupun tidak, dari itu kami harapkan kritik dan sarannya
untuk memperbaiki segala keterbatasan yang kami punya, sebab manusia
adalah tempatnya salah dan lupa.

DAFTAR P USTAKA

Rafi Baihaqi, Ahmad, Membangun Surga Rumah Tangga, (surabayah:gita mediah


press, 2006) [1]
At-tihami, Muhammad, Merawat Cintah Kasih Menurut Syriat Islam, (surabaya :
Ampel Mulia, 2004) [2]
Muhammad uwaidah, Syaikh Kamil, Fiqih Wanita, (Jakarta:pustaka al-kautsar,
1998) [3]
Riyadi Agus, Bimbingan Konseling Pernikahan, Semarang, 2013.[4]
Barkatullah Abdul Halim, Prasetyo Teguh,Hukum Islam Menjawab tentang
Zaman yang terus Berkembang,Yogyakarta,2005 [5]
Mughniyah, Muhammad Jawad. 2006. Fiqih Lima Madzhab. Jakarta: Lentera [6]
RifaI, H. Moh. Fiqih Islam Lengkap. Semarang: PT Karya Toha Putra [7]
Departemen Agama RI. 2005. Al-Quran dan terjemahnya. Toha Putra [8]
Rasjid, H. Sulaiman. 2008. Fiqih Islam. Bandung: Sinar Baru Algesindo [9]
Drs. H. Muh. Rifai. Fiqih Islam Lengkap. (Semarang: PT Karya Toha Putra) [10]
Al-Quran dan Terjemahnya (Departemen Agama Islam) [11]
H. Sulaiman Rasjid. Fiqih Islam. (Bandung: Sinar Baru Algesindo) 381-383 [12]
I Doi Abdur Rahman.Perkawinan dalam Syariat Islam, Semarang: Rineka
cipta,2003. [13]
Adz Dzammari Asy Syaikh Abu Munir 'Abdullah bin Muhammad 'Utsman.
Nimatuz Za Zawaj wa Shalahuz Zaujain, Yogyakarta :At Tuqa 2009. [14]
Handrianto Budi.Perkawinan Beda Agama dalam Syariat Islam, Bandung, 2007.
[15]
Oasis Abduh Al-Barraq pustaka.Panduan Lengkap Pernikahan Islami,Surabaya
2007. [16]
Arifin Busthanul. Pelembagaan hukum Islam di Indonesia: akar sejarah,
hambatan, dan prospeknya, Bandung 2003. [17]
Adz-dzikra Muhammad. Menikah Dalam 27 Hari, Semarang 2004. [18]
Adian Husaini. Hegemoni Kristen-Barat dalam studi Islam di perguruan tinggi,
Semarang.2006 [19]
Ahmad Rofiq, Hukum Islam di Indonesia,Bandung 2001 [20]
S. M. Nasaruddin Latif, Ilmu perkawinan problematika, seputar keluarga
dan rumah tangga,Bandung 2003 [21]
Hasbullah Bakry, Pengaturan Undang-undang

Perkawinan

Umat

Islam,Surabaya 2001 [22]


Sulaiman Rasjid, Fiqh Islam,Yogyakarta 2003.[23]
Amir syarifuddin, Hukum Perkawinan Islam di Indonesia,Semarang 2005.[24]
Mubarok Jaih .Hukum Islam di Indonesia, Bandung 2004.[25]
Slamet Abidin dan Aminuddin, Fiqih Munakahat 1, cet.1,Bandung: Pustaka
Setia,1999 [26]

Abdul Gani Abullah, Himpunan Perundang-undangan dan Peraturan Peradilan Agama,


Jakarta : PT. Intermasa, 1991[27]
Hakim Rahmat,Hukum Pernikahan Islam,Bandung : Pustaka Setia, 2000. [28]
Hosen Ibrahim.Fiqih Perbandingan dalam masalah Pernikahan,Jakarta : Pustaka
Firdaus,2003. [29]
Summa Amin.Hukum Keluarga Islam di Dunia Islam, Jakarta : PT.Raja Grafindo
Persada,2005. [30]