Anda di halaman 1dari 129

Materi Pelatihan

PENATAUSAHAAN PERBENDAHARAAN DAERAH

KURSUS KEUANGAN DAERAH KHUSUS Edisi Tahun 2013

DAERAH KURSUS KEUANGAN DAERAH KHUSUS Edisi Tahun 2013 Kementerian Keuangan Republik Indonesia Direktorat Jenderal

Kementerian Keuangan Republik Indonesia Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan

MATERI PELATIHAN PENATAUSAHAAN PERBENDAHARAAN DAERAH

“Kursus Keuangan Daerah Khusus”

Pengarah

Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan – Kementerian Keuangan Sekretaris Dirjen Perimbangan Keuangan – Kementrian Keuangan Direktur Pembiayaan dan Kapasitas Daerah – DJPK Direktur Pajak Daerah dan Retribusi Daerah – DJPK Direktur Dana Perimbangan – DJPK Direktur Evaluasi Pendanaan dan Informasi Keuangan Daerah – DJPK

Editor

Suhanda

Budi Mulyana

Kontributor

Doddy Hardiana Zarwih Sabar Icuk Rangga Bawono Mirna Amirya Andi Kusumawati Jelly Koagouw Suhairi

(DPJK) (Universitas Indonesia) (Universitas Gadjah Mada) (Universitas Brawijaya) (Universitas Hasanuddin) (Universitas Sam Ratulangi) (Tim QA)

Kementerian Keuangan Republik Indonesia Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan

Didukung oleh:

Deutsche Gesellschaft fuer Internationale Zusammenarbeit (GIZ) GmbH Decentralisation as Contribution to Good Governance (DeCGG) Program Fiscal Decentralisation Component

Jakarta 2013

Kata Sambutan

Kapasitas sumber daya manusia yang handal di seluruh pemerintah daerah merupakan salah satu kunci sukses pengelolaan keuangan daerah yang effisien, transparan, dan akuntabel. Dalam rangka meningkatkan kompetensi dan pemahaman para aparat pengelolaan keuangan Daerah dari seluruh Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD), Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan (DJPK) - Kementerian Keuangan sejak tahun 1981/1982 telah menyelenggarakan Kursus Keuangan Daerah (KKD). Sementara itu, kegiatan Kursus Keuangan Daerah Khusus Penatausahaan/Akuntansi Keuangan Daereah (KKDK) diselenggarakan sejak tahun 2007. Dalam pelaksanaannya, KKD dan KKDK dikerjasamakan dengan 7 perguruan tinggi negeri (yang selanjutnya dikenal dengan sebutan center of knowledge/center), yaitu: Universitas Indonesia (UI), Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Andalas (Unan), Univeristas Hasanuddin (Unhas), Universitas Brawijaya (UB), Universitas Sam Ratulangi (Unsrat), dan Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN).

Pelaksanaan KKD-KKDK terus mengalami penyempurnaan dan updating terutama terkait dengan kurikulum, satuan acara pembelajaran (SAP), dan modul. Untuk pertama kali, pada tahun 2012, modul- modul kegiatan KKD-KKDK diseragamkan agar setiap lulusan mempunyai pemahaman yang sama atas materi yang diajarkan. Perbaikan kualitas pelaksanaan KKD-KKDK terus dilanjutkan dan pada tahun 2013, DJPK mendapat dukungan dari GIZ untuk melakukan standarisasi Modul KKD-KKDK sehingga modul- modul tersebut diharapkan dapat memenuhi standar modul internasional. Standarisasi modul ini menghasilkan dua produk utama, yaitu: (i) Materi Pelatihan (handbook) ; dan (ii) Panduan Bagi Pelatih (trainer guideline) untuk 6 (enam) jenis pelatihan, yaitu Perencanaan Penganggaran, Pendapatan Daerah, Belanja Daerah, Barang Milik Daerah, Penatausahaan Perbendaharaan Daerah dan Akuntansi Keuangan Pemerintah Daerah.

Kami mengucapkan terima kasih kepada GIZ yang telah mendukung pelaksanaan standarisasi materi pelatihan dan panduan bagi pelatih ini sehingga memudahkan bagi para pelatih untuk melaksanakan pelatihan sehingga output dari hasil pelatihan ini memiliki standar yang berkualitas tinggi. Kami menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada para penyusun modul, pimpinan dan pengurus center penyelenggara kegiatan KKD-KKDK serta seluruh pihak yang terlibat dalam proses penyusunan standarisasi materi pelatihan KKD-KKDK ini.

Diharapkan dengan kehadiran modul yang telah distandarisasi ini akan menjadikan kualitas dari pelaksanaan pelatihan KKD-KKDK terjaga dengan baik dan juga memudahkan para pelatih dan penyelenggara dalam melaksanakan pelatihan KKD-KKDK. Dengan demikian, diharapkan pelaksanaan pelatihan KKD-KKDK dapat berkontribusi pada perbaikan pengelolaan keuangan daerah.

Jakarta, Maret 2014 Direktur Pembiayaan dan Kapasitas Daerah

Maret 2014 Direktur Pembiayaan dan Kapasitas Daerah Adriansyah iv MATERI PELATIHAN PENATAUSAHAAN

Adriansyah

Daftar Isi

Kata Sambutan

iv

PENDAHULUAN

viii

Topik1 KELEMBAGAAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH

1

1.1

Pemegang Kekuasaan Keuangan Daerah

3

1.2

Koordinator Pengelolaan Keuangan Daerah

4

1.3

Pejabat Pengelola Keuangan Daerah

4

1.4.

Pejabat Pengguna Anggaran/Barang

6

1.5.

Pejabat Penatausahaan Keuangan SKPD

8

1.6.

Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan

8

1.7.

Bendahara Penerimaan dan Bendahara Pengeluaran

8

1.8.

Bendahara & Sistim Perbendaharaan Negara

10

1.9

Soal Diskusi

12

Topik 2 SISTEM PENGENDALIAN INTERN PEMERINTAH

13

2.1

Urgensi SPIP

15

2.2

Pengertian dan Tujuan SPIP

15

2.3

Unsur-Unsur SPIP

16

2.4.

Soal Diskusi

19

TOPIK 3 SISTEM DAN PROSEDUR PENERIMAAN KAS SKPD

20

3.1

Tugas dan Wewenang Bendahara Penerimaan SKPD

22

3.2

Prosedur Penerimaan dan Penyetoran Pendapatan SKPD

23

3.3

Prosedur (Tata Cara) Pembukuan Bendahara Penerimaan SKPD

27

3.4

Prosedur (Tata Cara) Pertanggungjawaban Bendahara Penerimaan SKPD

32

3.5.

Soal Latihan

35

TOPIK 4 SISTEM DAN PROSEDUR PENERIMAAN KAS PPKD

36

4.1

Tugas dan Wewenang Bendahara Penerimaan PPKD

38

4.2

Prosedur Penerimaan Pendapatan dan Pembiayaan di PPKD

39

4.3

Prosedur Pembukuan Penerimaan Pendapatan dan Pembiayaan di Bendahara Penerimaan PPKD

39

4.4

Prosedur Pertanggungjawaban Bendahara Penerimaan PPKD.

41

4.5.

Soal Latihan

42

TOPIK 5 SISTEM DAN PROSEDUR PENGELUARAN KAS SKPD

43

5.1

Tugas dan Wewenang Bendahara Pengeluaran SKPD

45

5.2

Prosedur Pembayaran Belanja SKPD

47

5.2.1.

Uang Persediaan (UP)

47

5.2.3.

Tambah Uang (TU)

52

5.2.4.

Pembayaran Langsung (LS)

55

5.3 Prosedur Pembukuan Belanja

63

5.4 Prosedur Pertanggungjawaban Belanja

75

5.5 Soal Latihan

83

TOPIK 6 SISTEM DAN PROSEDUR PENGELUARAN KAS PPKD

85

6.1

Tugas dan Wewenang Bendahara Pengeluaran PPKD

87

6.4

Prosedur Pertanggungjawaban Bendahara Pengeluaran PPKD

90

6.5

Latihan Soal

91

LAPORAN PERTANGGUNGJAWABAN BUD

92

7.1

Jenis-Jenis Laporan Pertanggungjawaban BUD

94

7.2

Prosedur Penyusunan Laporan Pertanggungjawaban BUD

98

7.3.

Soal Latihan

98

TOPIK 8 PENYELESAIAN GANTI KERUGIAN NEGARA TERHADAP BENDAHARA

99

8.1.

Informasi Kerugian Negara/Daerah

101

8.2

Tim Penyelesaian Kerugian Negara

102

8.3

Surat Keterangan Tanggung Jawab Mutlak (SKTJM)

105

8.4

Jangka Waktu Penggantian Kerugian Negara

108

8.5

Pembebanan Kerugian Negara Sementara

108

8.6

Penetapan Batas Waktu

110

8.6.1

Pengajuan Keberatan atas SK PBW

112

8.7.

Pembebanan Kerugian Negara

112

8.7.1.

Pelaksanaan Keputusan Pembebanan

114

8.8.

Kadaluwarsa

114

8.10.

Keputusan Pengadilan

117

8.11.

L atihan Soal

117

DAFTAR SINGKATAN Istilah Penjelasan (Singkatan) APBD Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah DPA Dokumen Pelaksanaan
DAFTAR SINGKATAN
Istilah
Penjelasan
(Singkatan)
APBD
Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah
DPA
Dokumen Pelaksanaan Anggaran
SPD
Surat Penyediaan Dana
RKA
Rendacan Kerja Anggaran
SKPD
Satuan Kerja Perangkat Daerah
SKPKD
Satuan Kerja Pengelolaan Keuangan Daerah
BUD
Bendahara Umum Daerah
PPKD
Pejabat Penatausahaan Keuangan Daerah
PA/PB
Pengguna Anggaran/ Pengguna Barang
KPA/KPB
Kuasa Pengguna Anggaran/ Kuasa Pengguna Barang
PPK
Pejabat Penatausahaan Keuangan
PPTK
Pejabat Pengelola Teknis Kegiatan
SPP
Surat Permintaan Pembayaran
SPM
Surat Perintah Pembayaran
SP2D
Surat Perintah Pencairan Dana
SPJ/LPJ
Surat/Laporan Pertanggungjawaban
SKP
Surat Ketetapan Pajak
SKR
Surat Ketetapan Retribusi
STS
Surat Tanda Setoran
UP
Uang Persediaan
GU
Ganti Uang Persediaan
TU
Tambah Uang Persediaan
LS
Langsung (Pembayaran Langsung)
BKU
Buku Kas Umum
LPKH
Laporan Posisi Khas Harian
PPN
Pajak Pertambahan Nilai
PPh
Pajak Penghasilan
SPIP
Sistem Pengendalian Intern Pemerintahan
LRA
Laporan Realisasi Anggaran
LO
Laporan Operasional

PENDAHULUAN

A. Abstraksi

Secara umum, modul Sistem dan Prosedur Penatausahaan Perbendaharaan Daerah ini membahas mengenai sistem dan prosedur yang terkait dengan pelaksanaan tugas dan kewenangan bendahara pemerintah daerah dalam rangka penatausahaan dan pertanggungjawaban pelaksanaan APBD. Bendahara daerah yang dimaksud adalah mulai dari bendahara SKPD, bendahara PPKD hingga BUD. Namun demikian, proporsi materi di dalam modul ini lebih menekankan pada sisdur penatausahaan dan pertanggungjawaban bendahara SKPD, karena sebagian besar peserta pelatihanumumnya berasal dari SKPD.

Modul ini disusun untuk menyediakan materi pokok pada Pelatihan Penatausahaan Perbendaharaan Daerah yang diselenggarakan oleh Center-Center penyelenggara KKD/KKDK kerja sama dengan Dirjen Perimbangan Keuangan-Kementerian Keuangan. Modul ini dikembangkan per topik dengan maksud agar pembahasan menjadi lebih fokus. Pada setiap topik akan diawali dengan uraian deskripsitopik, sub topik, kata kunci, dan referensi; selanjutnya diuraikan pembahasan teori dan diakhir setiap topik akan dilengkapi dengan latihan soal. Modul ini terdiri dari 8 (delapan) topik dengan sistematika penyajian seperti dijelaskan dibagian berikutnya.

B. Tujuan Pelatihan

Setelah mempelajari modul ini, peserta diharapkan mampu memahami teori (aturan) maupun praktek sisdur penatausahaan perbendaharaan daerah, dengan penekanan pada penatausahaan pelaksanaan anggaran SKPD, sesuai dengan peraturan yang berlaku terutama Permendagri No. 55 Tahun 2008

tentang Tata Cara Penatausahaan dan Penyusunan Laporan Pertanggungjawaban Bendahara serta Penyampaiannya; dan Permendagri lainnya yang terkait antara lain Permendagri No. 13 Tahun 2013 Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah beserta perubahannya sebagaimana dimuat di dalam Permendagri No. 59 Tahun 2007 jo. Permendagri No. 21 Tahun 2011.

C. Peserta Pelatihan

Modul ini digunakan untuk Kursus Keuangan Daerah Khusus (KKDK) Penatausahaan Perbendaharaan Daerah. Pelatihan ini terutama diperuntukan bagi:

• Bendahara Penerimaan SKPD / Bendahara Penerimaan Pembantu

• Bendahara Pengeluaran SKPD / Bendahara Pengeluaran Pembantu

• Bendahara Penerimaan PPKD

• Bendahara Pengeluaran PPKD

• Staf pada PPK-SKPD

• Pembantu Bendahara

KELEMBAGAAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH

D. Materi Pelatihan

Modul ini terdiri dari 8 (delapan) topik dengan sistematika sbb.:

Topik 1

Kelembagaan Pengelolaan Keuangan Daerah

Topik ini menjelaskan tentang pihak-pihak yang terlibat di dalam pengelolaan keuangan daerah beserta tugas dan kewenangannya.

pengelolaan keuangan daerah beserta tugas dan kewenangannya. Topik ini menjelaskan tentang urgensi Sistem Pengendalian

Topik ini menjelaskan tentang urgensi Sistem Pengendalian Intern Pemerintahan (SPIP), pengertian dan tujuan SPIP, dan unsur-unsur SPIP.

(SPIP), pengertian dan tujuan SPIP, dan unsur-unsur SPIP. Topik ini menjelaskan tentang prosedur penerimaan,

Topik ini menjelaskan tentang prosedur penerimaan, penatausahaan dan pertanggungjawaban bendahara penerimaan SKPD.

dan pertanggungjawaban bendahara penerimaan SKPD. Topik ini menjelaskan tentang prosedur penerimaan,

Topik ini menjelaskan tentang prosedur penerimaan, penatausahaan dan pertanggungjawaban bendahara penerimaan PPKD.

dan pertanggungjawaban bendahara penerimaan PPKD. Topik ini menjelaskan tentang prosedur pembayaran,

Topik ini menjelaskan tentang prosedur pembayaran, penatausahaan dan pertanggungjawaban bendahara pengeluaran SKPD.

dan pertanggungjawaban bendahara pengeluaran SKPD. Topik ini menjelaskan tentang prosedur pembayaran,

Topik ini menjelaskan tentang prosedur pembayaran, penatausahaan dan pertanggungjawaban bendahara pengeluaran PPKD.

dan pertanggungjawaban bendahara pengeluaran PPKD. Topik ini menjelaskan tentang prosedur penyusunan laporan

Topik ini menjelaskan tentang prosedur penyusunan laporan pertanggung jawaban bendahara umum daerah.

laporan pertanggung jawaban bendahara umum daerah. Topik ini menjelaskan tentang penyelesaian ganti kerugian

Topik ini menjelaskan tentang penyelesaian ganti kerugian negara terhadap bendahara

E. Metode Pelatihan

Secara umum pendekatan pembelajaran yang digunakan adalah pendekatan andragogik, yaitu sebuah pendekatan belajar untuk orang dewasa yang lebih melibatkan partisipasi peserta pelatihan. Untuk itu, struktur materi ajar dan metode pembelajaran diarahkan dengan pola sebagai berikut:

KELEMBAGAAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH

Pengantar

Praktek/Aktivitas

Integrasi teori

 

dan praktek

30%

60%

10%

Integrasi teori   dan praktek 30% 60% 10% Ceramah/ presentasi Simulasi, bermain peran, latihan
Integrasi teori   dan praktek 30% 60% 10% Ceramah/ presentasi Simulasi, bermain peran, latihan
Integrasi teori   dan praktek 30% 60% 10% Ceramah/ presentasi Simulasi, bermain peran, latihan
Integrasi teori   dan praktek 30% 60% 10% Ceramah/ presentasi Simulasi, bermain peran, latihan
Integrasi teori   dan praktek 30% 60% 10% Ceramah/ presentasi Simulasi, bermain peran, latihan
Integrasi teori   dan praktek 30% 60% 10% Ceramah/ presentasi Simulasi, bermain peran, latihan
Integrasi teori   dan praktek 30% 60% 10% Ceramah/ presentasi Simulasi, bermain peran, latihan

Ceramah/

presentasi

Simulasi, bermain peran, latihan soal/kasus, dsb.

Diskusi, pembahasan soal/kasus dikaitkan dengan regulasi yang berlaku dan/atau best practice.

*Metode bersifat fleksibel dalam arti dapat dipilih mana yang cocok dengan topik pembahasan.

Di samping itu, pengajar juga dituntut untuk dapat menyajikan contoh-contoh praktek, current issue ataupun kasus riil di lapangan, sehingga penyampaian materi menjadi lebih user friendly dan membumi.

F. Perlengkapan dan Fasilitas Pelatihan

Perlengkapan dan fasilitas pelatihan yang harus tersedia untuk menunjang efektivitas proses pelatihan antara lain sbb.:

• Modul/materi, tas dan ATK (untuk peserta).

• Komputer/laptop

• Infokus

• Whiteboard/flipchart, spidol, penghapus

Sound system

• Ruangan kelas ber-AC

G. Evaluasi Pelatihan

Sebelum pelatihan dimulai dapat dilakukan pre-test untuk mendapatkan gambaran awal tentang variasi tingkat kompetensi peserta. Selama proses pelatihan berjalan, setiap pengajar akan mengisi formulir evaluasi peserta dengan memberikan poin kepada peserta yang aktif di dalam kelas setiap harinya. Setelah seluruh materi tersampaikan, pada hari terakhir akan dilakukan ujian (post-test) untuk mengetahui kemajuan hasil pelatihan.

H. Sertifikat Pelatihan

Peserta yang telah mengikuti pelatihan dan ujian akhir serta syarat-syaratlainnya yang berlaku berhak mendapatkan sertifikat pelatihan.

Topik1 KELEMBAGAAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH
Topik1 KELEMBAGAAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH
Topik1 KELEMBAGAAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH
Topik1 KELEMBAGAAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH
Topik1 KELEMBAGAAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH
Topik1 KELEMBAGAAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH
Topik1 KELEMBAGAAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH
Topik1 KELEMBAGAAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH
Topik1 KELEMBAGAAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH
Topik1 KELEMBAGAAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH
Topik1 KELEMBAGAAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH
Topik1 KELEMBAGAAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH
Topik1 KELEMBAGAAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH
Topik1 KELEMBAGAAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH
Topik1 KELEMBAGAAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH

Topik1

KELEMBAGAAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH

Topik1 KELEMBAGAAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH
Topik1 KELEMBAGAAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH
Topik1 KELEMBAGAAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH
Topik1 KELEMBAGAAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH
Topik1 KELEMBAGAAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH
Topik1 KELEMBAGAAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH
Topik1 KELEMBAGAAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH
Topik1 KELEMBAGAAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH

Kelembagaan Pengelolaan Keuangan Daerah

Deskripsi:

Topik ini menjelaskan tentang pihak-pihak yang terlibat di dalam pengelolaan keuangan daerah beserta tugas dan kewenangannya

Sub Topik

Kata Kunci

Pemegang Kekuasaan

Keuangan Daerah

Kepala Daerah, Pendelegasian Kewenangan, Penetapan kebijakan Pengelolaan Keuangan Daerah (PKD)Sub Topik Kata Kunci Pemegang Kekuasaan Keuangan Daerah Koordinator Pengelolaan Keuangan Daerah Sekretaris Daerah,

Koordinator Pengelolaan Keuangan Daerah

Sekretaris Daerah, Kordinator penyusunan kebijakan dan pelaksanaan PKDDaerah (PKD) Koordinator Pengelolaan Keuangan Daerah Pejabat Pengelolaan Keuangan Daerah (PPKD) Pejabat Pengguna

Pejabat Pengelolaan Keuangan Daerah (PPKD)

Pejabat Pengguna Anggaran/Barang (PA/PB)

Pejabat Pengguna Anggaran/Barang (PA/PB)

Pejabat Pengguna

Anggaran/Barang

(PA/PB)

Pejabat Pengguna

Anggaran/Barang

(PA/PB)

BUD, Penyusunan kebijakan dan pelaksanaan PKDPejabat Pengguna Anggaran/Barang ( P A / P B ) Kepala SKPD, pengelolaan anggaran SKPD Veri

Kepala SKPD, pengelolaan anggaran SKPDA / P B ) BUD, Penyusunan kebijakan dan pelaksanaan PKD Veri kasi SPP, veri kasi

Veri kasi SPP, veri kasi SPJ bendahara, akuntansi dan pelaporan keuangan.Veri kasi SPP, veri

Pelaksanaan dan pelaporan kegiatan SKPDkasi SPJ bendahara, akuntansi dan pelaporan keuangan. Penatausahaan dan pertanggungjawaban pelaksanaan APBD

Penatausahaan dan pertanggungjawaban pelaksanaan APBDpelaporan keuangan. Pelaksanaan dan pelaporan kegiatan SKPD Referensi: 1. UU No. 17 Tahun 2003 tentang Keuangan

Referensi:

1. UU No. 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara

2. UU No. 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara

3. PP No. 58 Tahun 2005 tentang Keuangan Daerah

4. Permendagri No. 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah jo. Permendagri No. 59 Tahun 2007 jo. Permendagri No. 21 Tahun 2011.

Kelembagaan Pengelolaan Keuangan Daerah

1.1 Pemegang Kekuasaan Keuangan Daerah

Di dalam Pasal 6, UU No. 17 Tahun 2003 dinyatakan bahwa Presiden selaku Kepala Pemerintahan memegang kekuasaan pengelolaan keuangan negara sebagai bagian dari kekuasaan pemerintahan. Kekuasaan sebagaimana dimaksud selanjutnya:

a. dikuasakan kepada Menteri Keuangan, selaku pengelola fiskal dan Wakil Pemerintah dalam kepemilikan kekayaan negara yang dipisahkan;

b. dikuasakan kepada menteri/pimpinan lembaga selaku Pengguna Anggaran/Pengguna Barang kementerian negara/lembaga yang dipimpinnya;

c. diserahkan kepada gubernur/bupati/walikota selaku kepala pemerintahan daerah untuk mengelola keuangan daerah dan mewakili pemerintah daerah dalam kepemilikan kekayaan daerah yang dipisahkan.

Berdasarkan ketentuan tersebut di atas, pemegang kekuasaan pengelolaan keuangan daerah adalah kepala daerah yang karena jabatannya mempunyai kewenangan menyelenggarakan keseluruhan pengelolaan keuangan daerah.

Kepala Daerah adalah gubernur bagi daerah provinsi atau bupati bagi daerah kabupaten atau walikota bagi daerah kota. Kepala daerah selaku pemegang kekuasaan pengelolaan keuangan daerah, selanjutnya melimpahkan sebagian atau seluruh kekuasaannya kepada:

1)

Sekretaris daerah selaku koordinator pengelola keuangan daerah;

2)

Kepala satuan kerja pengelola keuangan daerah (SKPKD) selaku pejabat pengelola

3)

keuangan daerah (PPKD); dan Kepala satuan kerja perangkat daerah (SKPD) selaku pejabat pengguna anggaran/ pengguna barang

Pada Gambar 1.1 diilustrasikan pelimpahan kekuasaan pengelolaan keuangan daerah (PKD) dari kepala daerah kepada sekretaris daerah, PPKD, dan kepala SKPD.

Gambar 1.1 Pelimpahan Kekuasaan Kewenangan PKD

Kepala Daerah

Gambar 1.1 Pelimpahan Kekuasaan Kewenangan PKD Kepala Daerah Pemegang Kekuasaan PKD Sekretaris Daerah Koordinator PKD

Pemegang Kekuasaan PKD

Kewenangan PKD Kepala Daerah Pemegang Kekuasaan PKD Sekretaris Daerah Koordinator PKD Kepala SKPD Pengguna

Sekretaris Daerah

Koordinator PKD

Pemegang Kekuasaan PKD Sekretaris Daerah Koordinator PKD Kepala SKPD Pengguna Anggaran PPKD BUD Pelimpahan tersebut
Kepala SKPD Pengguna Anggaran
Kepala SKPD
Pengguna Anggaran
PPKD BUD
PPKD
BUD

Pelimpahan tersebut ditetapkan dengan keputusan kepala daerah berdasarkan prinsip pemisahan kewenangan antara yang memerintahkan, menguji, dan yang menerima atau mengeluarkan uang.

Kelembagaan Pengelolaan Keuangan Daerah

Sebagai pemegang kekuasaan pengelolaan keuangan daerah, gubernur/bupati/walikota mempunyai kewenangan:

1).

menetapkan kebijakan tentang pelaksanaan APBD.

2).

menetapkan kebijakan tentang pengelolaan barang daerah.

3).

menetapkan kuasa pengguna anggaran/barang.

4).

menetapkan bendahara penerimaan dan/atau bendahara pengeluaran.

5).

menetapkan pejabat yang bertugas melakukan pemungutan penerimaan daerah.

6).

menetapkan pejabat yang bertugas melakukan pengelolaan utang dan piutang daerah.

7).

menetapkan pejabat yang bertugas melakukan pengelolaan barang milik daerah.

8).

menetapkan pejabat yang bertugas melakukan pengujian atas tagihan dan memerintahkan pembayaran.

1.2 Koordinator Pengelolaan Keuangan Daerah

Koordinator pengelolaan keuangan daerah adalah sekretaris daerah yang mempunyai tugas koordinasi di bidang:

1).

Penyusunan dan pelaksanaan kebijakan pengelolaan APBD;

2).

Penyusunan dan pelaksanaan kebijakan pengelolaan barang daerah;

3).

Penyusunan rancangan APBD dan rancangan perubahan APBD;

4).

Penyusunan Raperda APBD, Perubahan APBD, dan pertanggungjawaban pelaksanaan APBD;

5).

Tugas-tugas pejabat perencana daerah, PPKD, dan pejabat pengawas keuangan daerah; dan

6).

Penyusunan laporan keuangan daerah dalam rangka pertanggungjawaban pelaksanaan APBD.

Selain tugas-tugas di atas, koordinator pengelolaan keuangan daerah juga mempunyai tugas:

1).

Memimpin tim anggaran pemerintah daerah;

2).

Menyiapkan pedoman pelaksanaan APBD;

3).

Menyiapkan pedoman pengelolaan barang daerah;

4).

Memberikan persetujuan pengesahan dokumen pelaksanaan anggaran – SKPD (DPA- SKPD);

5).

Melaksanakan tugas-tugas koordinasi pengelolaan keuangan daerah lainnya berdasarkan kuasa yang dilimpahkan oleh kepala daerah.

Koordinator pengelolaan keuangan daerah mempertanggungjawabkan seluruh pelaksanaan tugasnya kepada kepala daerah.

1.3 Pejabat Pengelola Keuangan Daerah

Pejabat Pengelola Keuangan Daerah (selanjutnya disingkat PPKD) adalah kepala satuan kerja pengelola keuangan daerah (selanjutnya disingkat SKPKD), yang mempunyai tugas melaksanakan pengelolaan APBD dan bertindak sebagai bendahara umum daerah (BUD).

Kelembagaan Pengelolaan Keuangan Daerah

PPKD bertanggung jawab atas pelaksanaan tugasnya kepada kepala daerah melalui sekretaris daerah. Dalam rangka pengelolaan keuangan daerah, PPKD mempunyai tugas sebagai berikut:

1)

menyusun dan melaksanakan kebijakan pengelolaan keuangan daerah;

2)

menyusun rancangan APBD dan rancangan Perubahan APBD;

3)

melaksanakan pemungutan pendapatan daerah yang telah ditetapkan dengan Peraturan

4)

Daerah; melaksanakan fungsi bendahara umum daerah;

5)

menyusun laporan keuangan yang merupakan pertanggungjawaban pelaksanaan APBD,

6)

Melaksanakan tugas lainnya berdasarkan kuasa yang dilimpahkan oleh kepala daerah

Sebagai pengelola APBD, PPKD dapat melimpahkan kepada pejabat lainnya dilingkungan SKPKD untuk melaksanakan tugas-tugas sebagai berikut:

1)

Menyusun rancangan APBD dan rancangan Perubahan APBD

2)

Melakukan pengendalian pelaksanaan APBD

3)

Melaksanakan pemungutan pajak daerah

4)

Menyiapkan pelaksanaan pinjaman dan pemberian jaminan atas nama pemerintah daerah

5)

Melaksanakan sistem akuntansi dan pelaporan keuangan daerah

6)

Menyajikan informasi keuangan daerah

7)

Melaksanakan kebijakan dan pedoman pengelolaan serta penghapusan barang milik daerah.

PPKD juga bertindak sebagai bendahara umum daerah (BUD). Menurut PP Nomor 58 Tahun 2005, dalam kapasitasnya sebagai BUD, PPKD berwenang:

1)

Menyusun kebijakan dan pedoman pelaksanaan APBD;

2)

Mengesahkan DPA-SKPD;

3)

Melakukan pengendalian pelaksanaan APBD;

4)

Memberikan petunjuk teknis pelaksanaan sistem penerimaan dan pengeluaran kas daerah;

5)

Melaksanakan pemungutan pajak daerah;

6)

Memantau pelaksanaan penerimaan dan pengeluaran APBD oleh bank dan/atau lembaga

7)

keuangan lainnya yang telah ditunjuk; Mengusahakan dan mengatur dana yang diperlukan dalam pelaksanaan APBD;

8)

Menyimpan uang daerah;

9)

Menetapkan Surat Penyediaan Dana (SPD);

10)

Melaksanakan penempatan uang daerah dan mengelola/menatausahakan investasi;

11)

Melakukan pembayaran berdasarkan permintaan pejabat pengguna anggaran atas beban

12)

rekening kas umum daerah; Menyiapkan pelaksanaan pinjaman dan pemberian jaminan atas nama pemerintah daerah;

13)

Melaksanakan pemberian pinjaman atas nama pemerintah daerah;

14)

Melakukan pengelolaan utang dan piutang daerah;

15)

Melakukan penagihan piutang daerah;

16)

Melaksanakan sistem akuntansi dan pelaporan keuangan daerah;

17)

Menyajikan informasi keuangan daerah;

18)

Melaksanakan kebijakan dan pedoman pengelolaan serta penghapusan barang milik daerah.

Kelembagaan Pengelolaan Keuangan Daerah

Bendahara Umum Daerah wajib menyampaikan laporan atas pengelolaan uang yang terdapat dalam kewenangannya kepada Kepala Daerah setiap hari kerja. Laporan tersebut berupa Laporan Posisi Kas Harian dan Rekonsiliasi Bank

PPKD selaku BUD menunjuk pejabat di lingkungan SKPKD selaku kuasa BUD, yang melaksanakan sebagian tugas BUD. Penunjukan kuasa BUD tersebut ditetapkan dengan keputusan kepala daerah. Kuasa BUD adalah pejabat yang diberi kuasa untuk melaksanakan sebagian tugas BUD. Kuasa BUD mempertanggungjawabkan seluruh pelaksanaan tugasnya kepada PPKD. Kuasa BUD untuk mempunyai tugas:

1).

menyiapkan anggaran kas;

2).

menyiapkan SPD;

3).

menerbitkan Surat Perintah Pencairan Dana (SP2D);

4).

menyimpan seluruh bukti asli kepemilikan kekayaan daerah.

Selain melaksanakan hal yang sudah menjadi tugasnya, Kuasa BUD juga melaksanakan kewewenangan berikut ini:

1).

Memantau pelaksanaan penerimaan dan pengeluaran APBD oleh bank dan/atau lembaga

2).

keuangan lainnya yang telah ditunjuk. Mengusahakan dan mengatur dana yang diperlukan dalam pelaksanaan APBD.

3).

Menyimpan uang daerah.

4).

Melaksanakan penempatan uang daerah dan mengelola/menatausahakan investasi.

5).

Melakukan pembayaran berdasarkan permintaan pejabat pengguna anggaran atas beban

6).

rekening kas umum daerah. Melaksanakan pemberian pinjaman atas nama pemerintah daerah.

7).

Melakukan pengelolaan utang dan piutang daerah;

8).

Melakukan penagihan piutang daerah

1.4. Pejabat Pengguna Anggaran/Barang

Satuan Kerja Perangkat Daerah yang selanjutnya disingkat SKPD adalah perangkat daerah pada pemerintah daerah selaku pengguna anggaran/barang. SKPD dikepalai oleh kepala SKPD yang merupakan Pengguna Anggaran/ Pengguna Barang bagi SKPD yang dipimpinnya. Dalam kapasitasnya sebagai Pengguna Anggaran (PA), kepala SKPD merupakan pejabat pemegang kewenangan penggunaan anggaran untuk melaksanakan tugas pokok dan fungsi SKPD yang dipimpinnya, sedang dalam kapasitasnya sebagai Pengguna Barang, kepala SKPD merupakan pejabat pemegang kewenangan penggunaan barang milik daerah.

Selaku pejabat pengguna anggaran/barang daerah, kepala SKPD mempunyai tugas sebagai berikut:

1).

Menyusun anggaran SKPD (RKA-SKPD) yang dipimpinnya;

2).

Menyusun Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA);

3).

Melaksanakan anggaran SKPD yang dipimpinnya;

4).

Melaksanakan pemungutan penerimaan bukan pajak;

Kelembagaan Pengelolaan Keuangan Daerah

5).

Mengelola utang piutang daerah yang menjadi tanggung jawab SKPD yang dipimpinnya;

6).

Mengelola barang milik/kekayaan daerah yang menjadi tanggung jawab SKPD yang

7).

dipimpinnya; Menyusun dan menyampaikan laporan keuangan SKPD yang dipimpinnya;

8).

Melaksanakan tugas-tugas pengguna anggaran/pengguna barang lainnya berdasarkan

9).

kuasa yang dilimpahkan oleh kepala daerah; dan Bertanggung jawab atas pelaksanaan tugasnya kepada kepala daerah melalui sekretaris daerah.

Dalam melaksanakan tugasnya selaku pejabat Pengguna Anggaran/Pengguna Barang, Kepala SKPD berwenang:

1).

Melakukan tindakan yang mengakibatkan pengeluaran atas beban anggaran belanja;

2).

Melakukan pengujian atas tagihan dan memerintahkan pembayaran;

3).

Menggunakan barang milik daerah;

4).

Mengawasai pelaksanaan anggaran;

5).

Mengadakan ikatan/perjanjian kerjasama dengan pihak lain dalam batas anggaran yang

6).

telah ditetapkan; Menandatangani Surat Perintan Membayar (SPM).

Dalam melaksanakan tugas-tugas, pejabat pengguna anggaran/pengguna barang (kepala SKPD) dapat melimpahkan sebagian kewenangannya kepada kepala unit kerja pada SKPD selaku kuasa pengguna anggaran/kuasa pengguna barang.

Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) adalah pejabat yang diberi kuasa untuk melaksanakan sebagian kewenangan pengguna anggaran dalam melaksanakan sebagian tugas dan fungsi SKPD. Pelimpahan sebagian kewenangan pengguna anggaran tersebut ditetapkan oleh kepala daerah atas usul kepala SKPD, dan didasarkan pada: pertimbangan tingkatan daerah, besaran SKPD, besaran jumlah uang yang dikelola, beban kerja, lokasi, kompetensi, rentang kendali, dan/atau pertimbangan objektif lainnya. Pelimpahan sebagian kewenangan tersebut meliputi:

1).

melakukan tindakan yang mengakibatkan pengeluaran atas beban anggaran belanja;

2).

melaksanakan anggaran unit kerja yang dipimpinnya;

3).

melakukan pengujian atas tagihan dan memerintahkan pembayaran;

4).

mengadakan ikatan/perjanjian kerjasama dengan pihak lain dalam batas anggaran yang

5).

telah ditetapkan; menandatangani Surat Perintah Membayar Langsung (SPM-LS) dan Surat Perintah

6).

Membayar Tambah Uang Persediaan (SPM-TU); mengawasi pelaksanaan anggaran unit kerja yang dipimpinnya; dan

7).

melaksanakan tugas-tugas kuasa pengguna anggaran lainnya berdasarkan kuasa yang dilimpahkan oleh pejabat pengguna anggaran.

Kuasa pengguna anggaran/kuasa pengguna barang mempertanggungjawabkan pelaksanaan tugasnya kepada pengguna anggaran/pengguna barang.

Kelembagaan Pengelolaan Keuangan Daerah

1.5. Pejabat Penatausahaan Keuangan SKPD

Untuk melaksanakan anggaran yang dimuat dalam dokumen pelaksanaan anggaran (DPA) SKPD, kepala SKPD menetapkan pejabat yang melaksanakan fungsi tata usaha keuangan pada SKPD sebagai pejabat penatausahaan keuangan SKPD (PPK-SKPD). PPK-SKPD tidak boleh merangkap sebagai pejabat yang bertugas melakukan pemungutan penerimaan negara/daerah, bendahara, dan/atau PPTK. PPK-SKPD bertugas untuk:

1).

meneliti kelengkapan surat permintaan pembayaran (SPP) yang disampaikan oleh

2).

bendahara pengeluaran; melakukan verifikasi SPP;

3).

menyiapkan Surat Perintah Membayar (SPM);

4).

melakukan verifikasi harian atas penerimaan;

5).

melaksanakan akuntansi SKPD; dan

6).

menyiapkan laporan keuangan SKPD.

1.6. Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan

Pejabat pengguna anggaran/pengguna barang dan kuasa pengguna anggaran/kuasa pengguna barang dalam melaksanakan program dan kegiatan menunjuk pejabat pada unit kerja SKPD selaku Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK). Penunjukan tersebutpejabat didasarkan pada pertimbangan kompetensi jabatan, anggaran kegiatan, beban kerja, lokasi, dan/atau rentang kendali dan pertimbangan objektif lainnya. PPTK yang ditunjuk oleh pejabat pengguna anggaran/pengguna barang bertanggung jawab atas pelaksanaan tugasnya kepada pengguna anggaran/pengguna barang, sedang PPTK yang ditunjuk oleh kuasa pengguna anggaran/kuasa pengguna barang bertanggung jawab atas pelaksanaan tugasnya kepada kuasa pengguna anggaran/kuasa pengguna barang.

PPTK mempunyai tugas berikut:

1).

Mengendalikan pelaksanaan kegiatan;

2).

Melaporkan perkembangan pelaksanaan kegiatan;

3).

Menyiapkan dokumen anggaran atas beban pengeluaran pelaksanaan kegiatan.

Dokumen anggaran tersebut mencakup dokumen administrasi kegiatan maupun dokumen administrasi yang terkait dengan persyaratan pembayaran yang ditetapkan sesuai dengan ketentuan perundang- undangan.

1.7. Bendahara Penerimaan dan Bendahara Pengeluaran

Bendahara Penerimaan dan Bendahara Pengeluaran ditetapkan oleh Kepala daerah atas usul PPKD untuk

Kelembagaan Pengelolaan Keuangan Daerah

melaksanakan tugas kebendaharaan dalam rangka pelaksanaan anggaran pada SKPD maupun PPKD. Sebutan bendahara penerimaan umumnya diartikan sebagai bendahara penerimaan di SKPD, sedang bendahara penerimaan di PPKD biasanya disebut Bendahara Penerimaan PPKD. Demikian juga, sebutan bendahara pengeluaran umumnya diartikan sebagai bendahara pengeluaran di SKPD, sedang bendahara pengeluaran di PPKD biasanya disebut Bendahara Pengeluaran PPKD.

Dalam hal pengguna anggaran melimpahkan sebagian kewenangannya kepada kuasa pengguna anggaran, ditunjuk bendahara pengeluaran maupun bendahara penerimaan pembantu SKPD untuk melaksanakan sebagian tugas dan wewenang bendahara pengeluaran atau penerimaan SKPD.

Jabatan bendahara penerimaan/pengeluaran tidak boleh dirangkap oleh pejabat yang terlibat di dalam pengelolaan keuangan daerah, misalnya PPK SKPD, PPTK, Kuasa Pengguna Anggaran atau Kuasa Bendahara Umum Daerah. Selain itu, bendahara penerimaan dan bendahara pengeluaran baik secara langsung maupun tidak langsung dilarang melakukan kegiatan perdagangan, pekerjaan pemborongan dan penjualan jasa atau bertindak sebagai penjamin atas kegiatan/pekerjaan/penjualan, serta membuka rekening/giro pos atau menyimpan uang pada suatu bank atau lembaga keuangan Iainnya atas nama pribadi.

atas

pelaksanaan tugasnya kepada PPKD selaku BUD. Sedangkan secara administratif, keduanya bertanggung jawab atas pelaksanaan tugasnya kepada PA (kepala SKPD) atau KPA.

Bendahara

penerimaan

dan

bendahara

pengeluaran

secara

fungsional

bertanggung

jawab

Gambar 1.2 Ilustrasi Hubungan Kerja Pengelola Keuangan dalam Struktur SKPD Berbentuk Dinas

KEPALA DINAS

Keuangan dalam Struktur SKPD Berbentuk Dinas KEPALA DINAS Pengguna Anggaran SEKRETARIS Kuasa Pengguna Anggaran

Pengguna Anggaran

Struktur SKPD Berbentuk Dinas KEPALA DINAS Pengguna Anggaran SEKRETARIS Kuasa Pengguna Anggaran KASUBBAG LAINNYA
SEKRETARIS Kuasa Pengguna Anggaran KASUBBAG LAINNYA KASUBBAG KEUANGAN DAN PERLENGKAPAN Pejabat Pelaksana Teknis
SEKRETARIS
Kuasa Pengguna
Anggaran
KASUBBAG
LAINNYA
KASUBBAG KEUANGAN
DAN PERLENGKAPAN
Pejabat Pelaksana
Teknis Kegiatan (PPTK)
Pejabat Penatausahaan
Keuangan SKPD
KABID
Kuasa Pengguna Anggaran
KEPALA SEKSI
Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan
KEPALA UPTD
Staf PPK SKPD
Kuasa Pengguna Anggaran
KEPALA UPTD Staf PPK SKPD Kuasa Pengguna Anggaran BENDAHARA Pembantu Bendahara Bendahara Pembantu 9 MATERI
BENDAHARA
BENDAHARA
Pembantu Bendahara Bendahara Pembantu
Pembantu Bendahara
Bendahara Pembantu

Kelembagaan Pengelolaan Keuangan Daerah

1.8. Bendahara & Sistim Perbendaharaan Negara

Perbendaharaan Negera sebagaiman yang dimaksud UU Perbendaharaan Negara adalah pengelolaan dan pertanggungjawaban keuangan negara, termasuk investasi dan kekayaan yang dipisahkan, yang ditetapkan dalam APBN dan APBD yang ruang lingkupnya meliputi :

a. pelaksanaan pendapatan dan belanja negara;

b. pelaksanaan pendapatan dan belanja daerah;

c. pelaksanaan penerimaan dan pengeluaran negara;

d. pelaksanaan penerimaan dan pengeluaran daerah;

e. pengelolaan kas;

f. pengelolaan piutang dan utang negara/daerah;

g. pengelolaan investasi dan barang milik negara/daerah;

h. penyelenggaraan akuntansi dan sistem informasi manajemen keuangan negara/daerah;

i. penyusunan laporan pertanggungjawaban pelaksanaan APBN/APBD;

j. penyelesaian kerugian negara/daerah;

k. pengelolaan Badan Layanan Umum

l. perumusan standar, kebijakan, serta sistem dan prosedur yang berkaitan dengan pengelolaan keuangan negara dalam rangka pelaksanaan APBN/APBD

Pihak-pihak yang terkait proses sistim perbendaharan negara/daerah disebut dengan pejabat perbendaharaan. Pejabat Perbendaharaan daerah sebagaimana yang diatur pada Bab II UU perbendaharaan negara terdiri atas 3 bagian yaitu Pengguna Anggaran, Bendahara Umum Negara/ Daerah dan Bendahara Penerimaan / Pengeluaran.

1. Kepala satuan kerja perangkat daerah adalah Pengguna Anggaran/Pengguna Barang bagi satuan kerja perangkat daerah yang dipimpinnya yang bertanggungjawab dalam pelaksanaan anggaran di SKPD yang dipimpinanya

2. Kepala Satuan Kerja Pengelola Keuangan Daerah selaku Bendahara Umum Daerah.

3. Bendahara terdiri dari:

• Bendahara penerimaan untuk melaksanakan tugas kebendaharaan dalam rangka pelaksanaan anggaran pendapatan di SKPD

• Bendahara pengeluaran untuk melaksanakan tugas kebendaharaan dalam rangka pelaksanaan anggaran belanja di SKPD

Berdasarkan urain diatas dapat digambarkan secara ringkas hubungan antara pejabat perbendaharan daerah dalam kerangka pelaksanaan sistim perbendaharan sebagai berikut:

Kelembagaan Pengelolaan Keuangan Daerah

Gambar 1.3 Pola Hubungan Pejabat Perbendaharaan Daerah

Kepala Daerah
Kepala Daerah
Kepala SKPD (Pengguna Anggaran) Kuasa Pengguna Anggaran
Kepala SKPD
(Pengguna Anggaran)
Kuasa Pengguna
Anggaran
Kepala SKPKD (BUD) Kuasa BUD
Kepala SKPKD
(BUD)
Kuasa BUD
Bendahara
Bendahara

: Menggambarkan hubungan pendelegasian fungsi perbendaharaan

: Menggambarkan hubungan pendelegasian pelaksanaan program/kegiatan

Kepala Daerah selaku pemegang kekuasaan pengelolaan keuangan daerah melimpahkan kewenangan kepada SKPD untuk suatu bidang pemerintahan tertentu atas kewenangan tersebut dialokasi dana untuk pelaksanaan kewengan tersebut yang disebut juga dengan istilah Chief Operational Officer (COO). Sedangkan pada aspek pengelolaan keuangan dilimpahkan kepada Kepala SKPKD yang juga disebut dengan Chief Financial Officer (CFO) yang berwenang dan bertanggung jawab atas pengelolaan aset dan kewajiban daerah.

Konsekuensi pembagian tugas antara PPKD dan para Kep`ala SKPD selaku pengguna anggaran tercermin dalam pelaksanaan anggaran.Untuk meningkatkan akuntabilitas dan menjamin terselenggaranya saling-uji (check and balance) dalam proses pelaksanaan anggaran perlu dilakukan pemisahan secara tegas antara pemegang kewenangan administratif dengan pemegang kewenangan kebendaharaan. Penyelenggaraan kewenangan administratif diserahkan kepada SKPD, sementara penyelenggaraan kewenangan kebendaharaan diserahkan kepada PPKD/BUD. Kewenangan administratif tersebut meliputi melakukan perikatan atau tindakan-tindakan lainnya yang mengakibatkan terjadinya penerimaan atau pengeluaran daerah, melakukan pengujian dan pembebanan tagihan yang diajukan kepada pengguna anggaran/kepala SKPD sehubungan dengan realisasi perikatan tersebut serta memerintahkan pembayaran atau menagih penerimaan yang timbul sebagai akibat pelaksanaan anggaran. Dalam kerangka pelaksanaan program kegiatan di SKPD pengguna anggaran dibantu oleh Bendahara dalam melaksanakan fungsi perbendaharaan di SKPD .

Kelembagaan Pengelolaan Keuangan Daerah

1.9 Soal Diskusi

1. Di dalam struktur kekuasaan pengelolaan keuangan daerah, kepala daerah selaku pemegang kekuasaan umum di bidang pengelolaan keuangan daerah mendelegasikan sebagian atau seluruh kekuasaanya tsb kepada tiga pihak utama, sebutkan para pihak tersebut !

2. Dalam hal SKPKD belum dibentuk tersendiri atau dengan kata lain masih berada di lingkungan Sekretariat Daerah, apakah jabatan PPKD dapat dirangkap oleh Sekretaris Daerah selaku koordinator pengelolaan keuangan daerah? jelaskan !

3. Apakah pejabat yang bertindak sebagai PPKD akan secara otomatis bertindak sebagai BUD ? jelaskan !

4. Apabila pengguna anggaran menunjuk Kuasa Pengguna Anggaran (KPA), jelaskan kewenangan KPA tersebut ?

5. Apakah KPA dapat menandatangani semua jenis SPM (Surat Perintah Membayar)? jelaskan !

6. Siapakah yang berwenang menerbitkan SP2D (Surat Perintah Pencairan Dana) ?

7. Sebutkan tugas-tugas dari Pejabat Penatausahaan Keuangan SKPD ?

8. Sebutkan tugas-tugas dari Pejabat Pengelola Teknis Kegiatan ?

9. Siapakah yang berwenang menetapkan bendahara SKPD ?

10. Kepada siapa bendahara SKPD harus bertanggung jawab (secara administratif dan fungsional)?

Topik 2 SISTEM PENGENDALIAN INTERN PEMERINTAH
Topik 2 SISTEM PENGENDALIAN INTERN PEMERINTAH
Topik 2 SISTEM PENGENDALIAN INTERN PEMERINTAH
Topik 2 SISTEM PENGENDALIAN INTERN PEMERINTAH
Topik 2 SISTEM PENGENDALIAN INTERN PEMERINTAH
Topik 2 SISTEM PENGENDALIAN INTERN PEMERINTAH
Topik 2 SISTEM PENGENDALIAN INTERN PEMERINTAH
Topik 2 SISTEM PENGENDALIAN INTERN PEMERINTAH
Topik 2 SISTEM PENGENDALIAN INTERN PEMERINTAH
Topik 2 SISTEM PENGENDALIAN INTERN PEMERINTAH
Topik 2 SISTEM PENGENDALIAN INTERN PEMERINTAH
Topik 2 SISTEM PENGENDALIAN INTERN PEMERINTAH
Topik 2 SISTEM PENGENDALIAN INTERN PEMERINTAH
Topik 2 SISTEM PENGENDALIAN INTERN PEMERINTAH
Topik 2 SISTEM PENGENDALIAN INTERN PEMERINTAH

Topik 2

SISTEM PENGENDALIAN INTERN PEMERINTAH

Topik 2 SISTEM PENGENDALIAN INTERN PEMERINTAH
Topik 2 SISTEM PENGENDALIAN INTERN PEMERINTAH
Topik 2 SISTEM PENGENDALIAN INTERN PEMERINTAH
Topik 2 SISTEM PENGENDALIAN INTERN PEMERINTAH
Topik 2 SISTEM PENGENDALIAN INTERN PEMERINTAH
Topik 2 SISTEM PENGENDALIAN INTERN PEMERINTAH
Topik 2 SISTEM PENGENDALIAN INTERN PEMERINTAH
Topik 2 SISTEM PENGENDALIAN INTERN PEMERINTAH

Sistem Pengendalian Intern Pemerintah

Deskripsi: Topik ini menjelaskan tentang urgensi Sistem Pengendalian Intern Pemerintahan (SPIP), pengertian dan tujuan
Deskripsi:
Topik ini menjelaskan tentang urgensi Sistem Pengendalian Intern Pemerintahan (SPIP),
pengertian dan tujuan SPIP, dan unsur-unsur (SPIP).
Sub Topik
Kata Kunci
Urgensi Sistem Pengendalian
Intern Pemerintahan (SPIP)
Transparansi, Akuntabilitas
Pengertian dan Tujuan SPIP
E siensi, Efekti tas, Kepatuhan, Keandalan laporan, Keamanan
Aset.
Unsur-Unsur (SPIP)
Lingkungan Pengendalian, Penilaian Risiko, Kegiatan
Pengendalian, Informasi dan Komunikasi, Pemantauan.

Referensi:

1. UU No. 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara

2. UU No. 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara

3. PP No. 60 Tahun 2008 tentang Sistem Pengendalian Intern Pemerin- tah

Sistem Pengendalian Intern Pemerintah

Kasus terjadinya kecurangan pada Enron Corp merupakan hasil dari lemahnya Sistem Pengendalian Intern. Akhirnya kasus itu menyeret salah satu Kantor Akuntan Publik tersebesar di dunia itu tutup. Sistem pengendalian intern merupakan kunci bagaimana organisasi menjaga dirinya dari hal-hal yang tidak diinginkan termasuk oleh stafnya sendiri. Demikian pula di pemerintahan. Sistem pengendalian diri sangat penting karena tujuan negara ini dicapai dengan penyelenggaraan pemerintahan yang baik. Oleh karena itu perlu sebuah peraturan yang terdiri dari susunan pengendalian intern yang komprehensif dan memadai. Maka setelah terkatung-katung, akhirnya muncullah sistem pengendalian intern.

Pada pelaksanaannya, PP 60 tahun 2008 tentang Sistem pengendalian Intern Pemerintah (SPIP) ini bukan tanpa hambatan dan bukan tanpa kekurangan

Oleh : Siko Wiyanto 10 May 2013

http://ekonomi.kompasiana.com/moneter/2013/05/10/kritik-atas-sistem-pengendalian-internal-

pemerintah-558763.html

2.1 Urgensi SPIP

Undang-Undang di bidang keuangan negara membawa implikasi perlunya sistem pengelolaan keuangan negara yang lebih akuntabel dan transparan. Hal ini baru dapat dicapai jika seluruh tingkat pimpinan menyelenggarakan kegiatan pengendalian atas keseluruhan kegiatan di instansi masing- masing. Dengan demikian maka penyelenggaraan kegiatan pada suatu instansi pemerintah, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, hingga pertanggungjawaban, harus dilaksanakan secara tertib, terkendali, efisien dan efektif.

Untuk itu, dibutuhkan suatu sistem yang dapat memberikan keyakinan memadai bahwa penyelenggaraan kegiatan pada suatu instansi pemerintah dapat mencapai tujuannya secara efisien dan efektif. Hal tersebut telah diamanatkan di dalam Pasal 2, Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2008 tentang Sistem Pengendalian Internal Pemerintah (SPIP), yang menyatakan bahwa untuk mencapai pengelolaan keuangan negara yang efektif, efisien, transparan dan akuntabel, menteri/pimpinan lembaga, gubernur dan bupati/walikota wajib melakukan pengendalian atas penyelenggaraan kegiatan pemerintahan.

2.2 Pengertian dan Tujuan SPIP

SPIP adalah proses yang integral pada tindakan dan kegiatan yang dilakukan secara terus menerus oleh pimpinan dan seluruh pegawai untuk memberikan keyakinan memadai atas tercapainya tujuan organisasi

Sistem Pengendalian Intern Pemerintah

melalui kegiatan yang efektif dan efisien, keandalan pelaporan keuangan, pengamanan aset negara, dan ketaatan terhadap peraturan perundang-undangan yang diselenggarakan secara menyeluruh di lingkungan pemerintah pusat dan pemerintah daerah.

Penyelenggaran SPIP ini bertujuan untuk memberikan keyakinan yang memadai bagi tercapainya efektivitas dan efisiensi pencapaian tujuan penyelenggaraan pemerintahan negara, keandalan pelaporan keuangan, pengamanan aset negara, dan ketaatan terhadap peraturan perundang-undangan.

2.3 Unsur-Unsur SPIP

Pada Topik 1 telah diuraikan pemisahantugas dan kewenangan diantara para pelaku pengelola keuangan daerah. Hal tersebut sesungguhnya telah mencerminkan penerapan SPIP. Akan tetapi, pemisahan tugas dan wewenang saja masih belum cukup memadai untuk menjamin tercapainya tujuan dari SPIP. Pada gambar 2.1 diilustrasikan kaitan antara unsur-unsur SPIP dengan tujuan SPIP yang hendak dicapai.

Penerapan SPIP harus mengandung unsur-unsur sebagai berikut:

a) Lingkungan Pengendalian

b) Penilaian Risiko

c) Kegiatan Pengendalian

d) Informasi dan Komunikasi

e) Pemantauan Pengendalian Internal

Gambar 2.1 Tujuan dan Unsur-Unsur SPIP

a r e t p i O o n s g n i r o
a
r
e
t
p
i
O
o
n
s
g
n
i
r
o
t
i
n
o
M
U
n
i
t
B
A
1
i
s
k
A
R
s
s
e
s
y
m
t
t
e
i
n
i
t
v
n
i
F
A
i
t
n
c
c
a
U
t
n
A
i
c
t
v
i
n
a
i
l
t
e
R
y
m
I
e
n
n
f
p
1
o
o
o
e
r
r
r
i
m
c
t
v
n
i
a
n
n
t
a
E
i
i
g
o
l
l
n
p
o
r
&
t
m
n
C
o
o
o
C
C
m
m
u
n
i
c
a
t
i
o
n

Berikut akan diuraikan penjelasan dari setiap unsur SPIP sebagaimana disebutkan di atas.

Sistem Pengendalian Intern Pemerintah

2.3.1 Lingkungan Pengendalian

Lingkungan pengendalian adalah kondisi dalam Instansi Pemerintah yang memengaruhi efektivitas pengendalian internal. Pimpinan Instansi Pemerintah dan seluruh pegawai harus menciptakan dan memelihara lingkungan dalam keseluruhan organisasi yang menimbulkan perilaku positif dan mendukung terhadap pengendalian internal dan manajemen yang sehat. Lingkungan pengendalian dapat diciptakan melalui:

• Penegakan integritas dan nilai etika, yang bisa dilakukan antara lain dengan menyusun dan menerapkan aturan perilaku, memberikan keteladanan, menegakkan disiplin atas penyimpangan atau pelanggaran yang terjadi.

• Komitmen terhadap kompetensi, yang antara lain dapat dilakukan dengan cara mengidentifikasi dan menetapkan kegiatan yang dibutuhkan untuk menyelesaikan tugas dan fungsi masing-masing pihak, menyusun standar kompetensi, menyelenggarakan pelatihan dan bimbinganserta memilih pimpinan instansi Instansi Pemerintah yang memiliki kemampuan manajerial dan pengalaman teknis yang luas dalam pengelolaan Instansi Pemerintah.

• kepemimpinan yang kondusif, yang ditunjukkan dengan mempertimbangkan risiko dalam pengambilan keputusan, menerapkan manajemen berbasis kinerja, mendukung penerapan SPIP, melindungi aset dan informasi dari akses dan penggunaan yang tidak sah, melakukan interaksi secara intensif dengan pejabat pada tingkatan yang lebih rendah, serta merespon secara positif terhadap pelaporan yang berkaitan dengan keuangan, penganggaran, program, dan kegiatan.

• pembentukan struktur organisasi yang sesuai dengan kebutuhan, yang dilakukan dengan menyesuaikan dengan ukuran dan sifat kegiatan Instansi Pemerintah, memberikan kejelasan wewenang dan tanggung jawab, memberikan kejelasan hubungan dan jenjang pelaporan internal dalam Instansi Pemerintah, melaksanakan evaluasi dan penyesuaian periodik terhadap struktur organisasi sehubungan dengan perubahan lingkungan strategis, serta menetapkan jumlah pegawai yang sesuai.

• Pendelegasian wewenang dan tanggung jawab yang tepat, yang dilaksanakan dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut: wewenang diberikan kepada pegawai yang tepat sesuai dengan tingkat tanggung jawabnya, pegawai yang diberi wewenang, pegawai tersebut juga memahami wewenang dan tanggungjawabnya terkait dengan pihak lain dan terkait pula dengan SPIP.

• Penyusunan dan penerapan kebijakan yang sehat tentang pembinaan sumber daya manusia. Kebijakan dan prosedur terkait SDM ini diterapkan mulai dari proses rekrutmen termasuk penelusuran latar belakang calon pegawai dalam proses tersebut, supervisi periodik yang memadai, hingga proses pemberhentian pegawai.

• Perwujudan peran aparat pengawasan internal pemerintah yang efektif, sehingga dapat memberikan keyakinan yang memadai atas ketaatan, kehematan, efisiensi, dan efektivitas pencapaian tujuan penyelenggaraan tugas dan fungsi Instansi Pemerintah, memberikan peringatan dini dan meningkatkan efektivitas manajemen risiko dalam penyelenggaraan tugas dan fungsi Instansi Pemerintah,serta memelihara dan meningkatkan kualitas tata kelola penyelenggaraan tugas dan fungsi Instansi Pemerintah

• Hubungan kerja yang baik dengan Instansi Pemerintah terkait.

Sistem Pengendalian Intern Pemerintah

2.3.2 Penilaian Risiko

Penilaian risiko adalah kegiatan penilaian atas kemungkinan kejadian yang mengancam pencapaian tujuan dan sasaran Instansi Pemerintah.Pengendalian internal harus memberikan penilaian atas risiko yang dihadapi unit organisasi baik dari luar maupun dari dalam. Penilaian risiko terdiri atas identifikasi risiko dan analisis risiko.

Identifikasi risiko dilaksanakan dengan menggunakan metoda yang sesuai untuk tujuan Instansi Pemerintah dan tujuan pada tingkatan kegiatan secara komprehensif.menggunakan mekanisme yang memadai untuk mengenali risiko dari faktor eksternal dan faktor internal, serta menilai faktor lain yang dapat meningkatkan risiko.

Risiko yang berasal dari faktor eksternal misalnya peraturan perundang-undangan baru, perkembangan teknologi, bencana alam dan gangguan keamanan. Sedangkan risiko yang berasal dari faktor internal misalnya keterbatasan dana operasional, sumber daya manusia yang tidak kompeten, peralatan yang tidak memadai, kebijakan dan prosedur yang tidak jelas dan suasana kerja yang tidak kondusif.

Analisis risiko dilaksanakan untuk menentukan dampak dari risiko yang telah diidentifikasi terhadap pencapaian tujuan Instansi Pemerintah. Untuk menganalisis risiko, pimpinan instansi pemerintah akan menentukan tingkat risiko yang dapat diterima terlebih dahulu.

2.3.3 Kegiatan Pengendalian

Kegiatan pengendalian adalah tindakan yang diperlukan untuk mengatasi risiko serta penetapan dan pelaksanaan kebijakan dan prosedur untuk memastikan bahwa tindakan mengatasi risiko telah dilaksanakan secara efektif. Kegiatan pengendalian membantu memastikan bahwa arahan pimpinan Instansi Pemerintah dilaksanakan.Kegiatan pengendalian harus efisien dan efektif dalam pencapaian tujuan organisasi.

Kegiatan pengendalian terdiri atas:

• Telaah atas kinerja Instansi Pemerintah yang bersangkutan;

• Pembinaan sumber daya manusia;

• Pengendalian atas pengelolaan sistem informasi;

• Pengendalian fisik atas aset;

• Penetapan dan telaah atas indikator dan ukuran kinerja;

• Pemisahan fungsi;

• Otorisasi atas transaksi dan kejadian yang penting;

• Pencatatan yang akurat dan tepat waktu atas transaksi dan kejadian;

• Pembatasan akses atas sumber daya dan pencatatannya;

• Akuntabilitas terhadap sumber daya dan pencatatannya;

• Dokumentasi yang baik atas SPI serta transaksi dan kejadian penting.

Kegiatan pengendalian juga dilakukan terhadap pengelolaan sistem informasi. Kegiatan pengendalian atas sistem informasi meliputi 2 hal yaitu pengendalian umum dan pengendalian aplikasi.Pengendalian

Sistem Pengendalian Intern Pemerintah

umum terdiri atas pengamanan sistem informasi, pengendalian atas akses, pengendalian atas pengembangan dan perubahan perangkat lunak aplikasi, pengendalian atas perangkat lunak sistem, pemisahan tugas serta kontinuitas pelayanan. Untuk Pengendalian aplikasi terdiri atas pengendalian otorisasi, kelengkapan, akurasi dan keandalan pemrosesan dan filedata.

2.3.4 Informasi dan Komunikasi

Informasi adalah data yang telah diolah yang dapat digunakan untuk pengambilan keputusan dalam rangka penyelenggaraan tugas dan fungsi Instansi Pemerintah. Sedangkan komunikasi adalah proses penyampaian pesan atau informasi dengan menggunakan simbol atau lambang tertentu baik secara langsung maupun tidak langsung untuk mendapatkan umpan balik. Informasi harus dicatat dan dilaporkan kepada pimpinan instansi Pemerintah dan pihak lain yang ditentukan. Informasi disajikan dalam suatu bentuk dan sarana tertentu serta tepat waktu sehingga memungkinkan pimpinan Instansi Pemerintah melaksanakan pengendalian dan tanggung jawabnya.

2.3.5 Pemantauan Pengendalian Internal

Pemantauan pengendalian internal adalah proses penilaian atas mutu kinerja Sistem Pengendalian Internal dan proses yang memberikan keyakinan bahwa temuan audit dan evaluasi lainnya segera ditindaklanjuti. Pemantauan harus dapat menilai kualitas kinerja dari waktu ke waktu dan memastikan

bahwa rekomendasi hasil audit dan telaah lainnya dapat segera ditindaklanjuti.

2.4. Soal Diskusi

1. Apakah urgensi diperlukannya sistem pengendalian intern bagi pemerintah?

2. Sebutkan pengertian dan tujuan dari SPIP !

3. Jelaskan secara singkat unsur-unsur SPIP !

4. Berikan beberapa contoh temuan pemeriksa/auditor yang terkait dengan kelemahan SPIP !

5. Berikan beberapa contoh penerapan SPIP di dalam penatausahaan pelaksanaan APBD di SKPD !

TOPIK 3 SISTEM DAN PROSEDUR PENERIMAAN KAS SKPD
TOPIK 3 SISTEM DAN PROSEDUR PENERIMAAN KAS SKPD
TOPIK 3 SISTEM DAN PROSEDUR PENERIMAAN KAS SKPD
TOPIK 3 SISTEM DAN PROSEDUR PENERIMAAN KAS SKPD
TOPIK 3 SISTEM DAN PROSEDUR PENERIMAAN KAS SKPD
TOPIK 3 SISTEM DAN PROSEDUR PENERIMAAN KAS SKPD
TOPIK 3 SISTEM DAN PROSEDUR PENERIMAAN KAS SKPD
TOPIK 3 SISTEM DAN PROSEDUR PENERIMAAN KAS SKPD
TOPIK 3 SISTEM DAN PROSEDUR PENERIMAAN KAS SKPD
TOPIK 3 SISTEM DAN PROSEDUR PENERIMAAN KAS SKPD
TOPIK 3 SISTEM DAN PROSEDUR PENERIMAAN KAS SKPD
TOPIK 3 SISTEM DAN PROSEDUR PENERIMAAN KAS SKPD
TOPIK 3 SISTEM DAN PROSEDUR PENERIMAAN KAS SKPD
TOPIK 3 SISTEM DAN PROSEDUR PENERIMAAN KAS SKPD
TOPIK 3 SISTEM DAN PROSEDUR PENERIMAAN KAS SKPD

TOPIK 3

SISTEM DAN PROSEDUR PENERIMAAN KAS SKPD

TOPIK 3 SISTEM DAN PROSEDUR PENERIMAAN KAS SKPD
TOPIK 3 SISTEM DAN PROSEDUR PENERIMAAN KAS SKPD
TOPIK 3 SISTEM DAN PROSEDUR PENERIMAAN KAS SKPD
TOPIK 3 SISTEM DAN PROSEDUR PENERIMAAN KAS SKPD
TOPIK 3 SISTEM DAN PROSEDUR PENERIMAAN KAS SKPD
TOPIK 3 SISTEM DAN PROSEDUR PENERIMAAN KAS SKPD
TOPIK 3 SISTEM DAN PROSEDUR PENERIMAAN KAS SKPD
TOPIK 3 SISTEM DAN PROSEDUR PENERIMAAN KAS SKPD

Sistem Dan Prosedur Penerimaan Kas SKPD

Deskripsi: Topik ini menjelaskan tentang prosedur penerimaan, penatausahaan dan pertanggungjawaban bendahara penerimaan
Deskripsi:
Topik ini menjelaskan tentang prosedur penerimaan, penatausahaan dan
pertanggungjawaban bendahara penerimaan SKPD.
Sub Topik
Kata Kunci
Tugas dan Kewenangan
Bendahara Penerimaan SKPD
Kepala Daerah, Pendelegasian Kewenangan, Penetapan
kebijakan Pengelolaan Keuangan Daerah (PKD)
Prosedur Penerimaan dan
Penyetoran Pendapatan SKPD
Sekretaris Daerah, Kordinator penyusunan kebijakan dan
pelaksanaan PKD
Tata Cara Pembukuan
Bendahara Penerimaan SKPD
BUD, Penyusunan kebijakan dan pelaksanaan PKD
Tata Cara Penyusunan Laporan
Pertanggungjawaban
Bendahara Penerimaan SKPD
Kepala SKPD, pengelolaan anggaran SKPD

Referensi:

1. UU No. 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara

2. UU No. 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara

3. PP No. 58 Tahun 2005 tentang Keuangan Daerah

4. Permendagri No. 55 Tahun 2008 tentang Tata Cara Penatausahaan danPenyusunan Laporan Pertanggungjawaban Bendahara serta Penyampaiannya

5. Permendagri No. 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah jo. Permendagri No. 59 Tahun 2007 jo. Permendagri No. 21 Tahun 2011.

Sistem Dan Prosedur Penerimaan Kas SKPD

BA’A, Timex – Aparat Polres Rote Ndao berhasil mengusut skandal dugaan penyimpangan pendapatan RSUD Ba’a tahun 2009 dengan total biaya yang tidak disetor ke kas daerah mencapai Rp 165 juta.

Skandal penyimpangan kerugian negara dan kerugian daerah ini sementara disidik penyidik Polres Rote Ndao dan telah menetapkan bendahara RSUD Ba’a, Ruth Pello sebagai tersangka dalam kasus tersebut.

Demikian dijelaskan Kasatreskrim Polres Rote Ndao, Iptu David Candra Babega ketika ditemui Timor Express, di ruang kerjanya, Rabu (28/4). David menjelaskan, pihaknya telah mengumpulkan sejumlah bukti-bukti tentang kerugian yang dialami negara dan daerah. Guna memperlancar penyidikan kasus dugaan penyimpangan dana pendapatan RSUD Ba’a, pihaknya telah melakukan kroscek ke BPK dan dilanjutkan ke Polda NTT.

“Tinggal satu saksi atas nama Deli Pasande yang waktu itu masih berstatus Direktur RSUD Ba’a. Dia saat ini menjabat sebagai Kadis Kesehatan Kabupaten Sikka akan kami panggil untuk diperiksa terkait kasus ini. Pemeriksaan ahli dari BPKP Provinsi NTT saat ini kami sudah kirim satu penyidik ke Kupang untuk memeriksa ahli tersebut. Kalau pemeriksaan saksinya sudah selesai baru kami lanjutkan dengan pemeriksaan tersangka,” kata David.

David mengatakan, motif penyimpangan dalam pengelolaan pendapatan RSUD Ba’a adalah, bendahara yang memegang dana pendapatan RSUD Ba’a tidak menyetorkan dana tersebut ke kas daerah Kabupaten Rote Ndao. Sehingga, dipertanyakan kemana aliran uang sebesar Rp 165 juta yang tidak disetor ke kas daerah. Apakah dimanfaatkan untuk kepentingan pribadi tersangka Ruth Pello atau dipakai bersama-sama dengan orang lain.

http://bencana-ntt.blogspot.com/2010/05/diduga-bendahara-tilep-rp-165-juta.html

Senin, 24 Mei 2010

3.1 Tugas dan Wewenang Bendahara Penerimaan SKPD

Tugas dan kewenangan bendahara penerimaan SKPD berdasarkan pasal 2 Permendagri No. 55 tahun 2008 adalah sbb.:

1)

Bendahara penerimaan SKPD bertugas untuk menerima, menyimpan, menyetorkan,

2)

menatausahakan, dan mempertanggungjawabkan penerimaan pendapatan dalam rangka pelaksanaan APBD pada SKPD. Untuk melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud bendahara penerimaan SKPD berwenang:

Sistem Dan Prosedur Penerimaan Kas SKPD

a. menerima penerimaan yang bersumber dari pendapatan asli daerah;

b. menyimpan seluruh penerimaan;

c. menyetorkan penerimaan yang diterima yang diterima dari pihak ketiga ke rekening kas umum daerah paling lambat 1 hari kerja;

d. mendapatkan bukti transaksi atas pendapatan yang diterima melalui Bank.

3)

Dalam hal obyek pendapatan daerah tersebar secara geografis sehingga wajib pajak dan/ atau wajib retribusi mengalami kesulitan dalam membayar kewajibannya, dapat ditunjuk satu atau lebih bendahara penerimaan pembantu SKPD untuk melaksanakan tugas dan wewenang bendahara penerimaan SKPD.

Gambar 3.1 Tugas Bendahara Penerimaan SKPD

Menerima

Menatausahakan dan Mempertanggungjawabkan Menyimpan BENDAHARA PENERIMAAN
Menatausahakan dan
Mempertanggungjawabkan
Menyimpan
BENDAHARA
PENERIMAAN

Menyetor

3.2 Prosedur Penerimaan dan Penyetoran Pendapatan SKPD

Prosedur pelaksanaan penerimaan pendapatan di SKPD merupakan serangkaian langkah-langkah tindakan atau kegiatan yang dimulai dari diterimanya Surat Ketetapan Pajak (SKP) daerah dan/atau Surat Ketetapan Retribusi (SKR) sampai dengan penyetorannya ke kas umum daerah oleh bendahara penerimaan. Langkah-langkah tersebut dapat dapat dijelaskan sebagai berikut.

1. Pejabat Pengelola Keuangan Daerah (PPKD)/ Pengguna Anggaran (PA menyerahkan Surat Ketetapan Pajak Daerah (SKP) dan/atau Surat Ketetapan Retribusi (SKR) kepada bendahara penerimaan dan wajib pajak/retribusi.

2. Wajib pajak/retribusi membayarkan sejumlah uang yang tertera dalam SKP/SKR kepada Bendahara Penerimaan. Di dalam prakteknya, wajib pajak/retribusi dimungkinkan untuk menyetor ke rekening bendahara penerimaan SKPD bahkan dapat juga langsung menyetorkan ke rekening kas daerah, tergantung dari aturan pembayaran yang berlaku di

Sistem Dan Prosedur Penerimaan Kas SKPD

pemda yang bersangkutan.

3. Bendahara penerimaan memverifikasi kesesuaian jumlah uang yang diterimanya dengan dokumen SKP/SKR.

4. Setelah diverifikasi, bendahara penerimaan memberikan surat tanda Bukti Pembayaran/ Bukti Lain yang Sah kepada wajib pajak/retribusi.

5. Bendahara penerimaan menyiapkan bukti setor berupa STS dan menyetorkan uang yang diterimanya beserta STS ke Bank yang ditunjuk untuk penyetoran pendapatan ke rekening kas daerah.

6. Bank membuat nota kredit dan mengotorisasi STS, kemudian bank menyerahkan kembali STS yang sudah diotorisasi kepada bendahara penerimaan. Sedangkan nota kredit diserahkan Bank kepada BUD.

Prosedur penerimaan dan penyetoran pendapatan sebagaimana diuraikan di atas berlaku juga bagi bendahara penerimaan pembantu SKPD.

Gambar 3.2 Bagan Alir Prosedur Penerimaan dan Penyetoran Pendapatan SKPD

Pengguna Anggaran menyerahkan SKP Daerah/SKR kepada Bendahara Penerimaan dan Wajib Pajak/Retribusi.

Wajib Pajak/Retribusi membayarkan sejumlah uang yang tertera dalam SKP Daerah/SKR kepada Bendahara Penerimaan.

Bendahara Penerimaan memverifikasi kesesuaian jumlah uang yang diterimanya dengan dokumen SKP Daerah/SKR yang diterimanya dari Pengguna Anggaran.

Setelah diverifikasi, Bendahara Penerimaan akan menerbitkan STS dan Surat Tanda Bukti Pembayaran/Bukti Lain yang sah.

Setelah diverifikasi, Bendahara Penerimaan akan menerbitkan STS dan Surat Tanda Bukti Pembayaran/Bukti Lain yang sah.

Bendahara menyerahkan Tanda Bukti Pembayaran/Bukti Lain yang Sah kepada Wajib Pajak/Retribusi dan menyerahkan uang yang diterimanya tadi beserta STS kepada Bank.

Lain yang Sah kepada Wajib Pajak/Retribusi dan menyerahkan uang yang diterimanya tadi beserta STS kepada Bank.

Bank membuat Nota Kredit dan mengotorisasi STS. Bank kemudian menyerahkan kembali STS kepada Bendahara Penerimaan. Nota Kredit disampaikan kepada BUD.

mengotorisasi STS. Bank kemudian menyerahkan kembali STS kepada Bendahara Penerimaan. Nota Kredit disampaikan kepada BUD.
Bendahara Penerimaan. Nota Kredit disampaikan kepada BUD. WP/Retribusi SKP Daerah / SKR SKP Daerah / SKR

WP/Retribusi

Penerimaan. Nota Kredit disampaikan kepada BUD. WP/Retribusi SKP Daerah / SKR SKP Daerah / SKR SKP
SKP Daerah / SKR SKP Daerah / SKR SKP Daerah / SKR UANG UANG Veri
SKP Daerah /
SKR
SKP Daerah /
SKR
SKP Daerah /
SKR
UANG
UANG
Veri kasi

Surat Tanda Bukti Pembayaran/Bukti Lain yang sah

Veri kasi Surat Tanda Bukti Pembayaran/Bukti Lain yang sah Surat Tanda Bukti Pembayaran/Bukti Lain yang sah

Surat Tanda Bukti Pembayaran/Bukti Lain yang sah

STS UANG STS UANG
STS
UANG
STS
UANG
STS Nota Kredit STS PPKD/Pengguna Anggaran Bank
STS
Nota Kredit
STS
PPKD/Pengguna Anggaran
Bank

Bendahara Penerimaan

Sistem Dan Prosedur Penerimaan Kas SKPD

Dokumen SKP, SKR dan STS dapat digambarkan seperti berikut ini:

Gambar 3.3 Contoh Dokumen SKP

PEMERINTAH PROVINSI/KABUPATEN/KOTA SURAT KETETAPAN PAJAK DAERAH (SKP-DAERAH) NO. URUT: …………
PEMERINTAH
PROVINSI/KABUPATEN/KOTA
SURAT KETETAPAN PAJAK DAERAH
(SKP-DAERAH)
NO. URUT:
…………
………………………….
: ………………………………
: ………………………………
NAMA
ALAMAT
NOMOR POKOK WAJIB PAJAK DAERAH
TANGGAL JATUH TEMPO
MASA
TAHUN
: ………………………………………
: ………………………………………
: ………………………………………
: ………………………………………
NO.
KODE REKENING
URAIAN PAJAK DAERAH
JUMLAH (Rp.)
1
2
3
4
5
Jumlah Ketetapan Pokok Pajak
Jumlah Sanksi:
a. Bunga
b. Kenaikan
Jumlah Keseluruhan
Dengan huruf :
……………………………………………………………………………………………………………………
PERHATIAN:
1 Harap penyetoran dilakukan pada Bank/Bendahara Penerimaan ……………………….
2 Apabila SKPD ini tidak atau kurang dibayar lewat waktu paling lama 30 hari setelah SKPD diterima
(tanggal jatuh tempo) dikenakan sanksi administrasi berupa bunga sebesar 2% perbulan.
No. Urut: ………………………………
Tanda Tangan
Nama
Alamat
NPWPD
: ……………………………………….
: ……………………………………….
: ……………………………………….

Sistem Dan Prosedur Penerimaan Kas SKPD

Gambar 3.4 Contoh Dokumen SKR

PEMERINTAH NO. URUT: PROVINSI/KABUPATEN/KOTA SURAT KETETAPAN RETRIBUSI (SKR) …………
PEMERINTAH
NO. URUT:
PROVINSI/KABUPATEN/KOTA
SURAT KETETAPAN RETRIBUSI (SKR)
…………
………………………….
MASA
TAHUN
NAMA
ALAMAT
NOMOR POKOK WAJIB PAJAK DAERAH (NPWR)
TANGGAL JATUH TEMPO
: ………………………………
: ………………………………
: ………………………………………
: ………………………………………
: ………………………………………
: ………………………………………
NO.
KODE REKENING
URAIAN RETRIBUSI
JUMLAH (Rp.)
1
2
3
4
5
Jumlah Ketetapan Pokok Pajak
Jumlah Sanksi:
a. Bunga
b. Kenaikan
Jumlah Keseluruhan
Dengan huruf :
……………………………………………………………………………………………………………………
PERHATIAN:
1 Harap penyetoran dilakukan pada Bank/Bendahara Penerimaan ……………………….
2 Apabila SKPD ini tidak atau kurang dibayar lewat waktu paling lama 30 hari setelah SKPD diterima
(tanggal jatuh tempo) dikenakan sanksi administrasi berupa bunga sebesar 2% perbulan.
No. Urut: ………………………………
Tanda Tangan
Nama
Alamat
NPWPD
: ……………………………………….
: ……………………………………….
: ……………………………………….

Sistem Dan Prosedur Penerimaan Kas SKPD

Gambar 3.5 Contoh Dokumen STS

Gambar 3.3 Contoh Dokumen STS

PEMERINTAH PROVINSI/KABUPATEN/KOTA ………………… TANDA SETORAN (STS) SURAT STS No.
PEMERINTAH PROVINSI/KABUPATEN/KOTA …………………
TANDA SETORAN (STS)
SURAT
STS No. ………………………………….
Bank
: ……………………………
No. Rekening
: ……………………………
Harap diterima uang sebesar
(dengan huruf)
……………………………………………………………………………….
( …………………………………………………………………………… )
Dengan rincian penerimaan sebagai berikut:
NO.
KODE REKENING
URAIAN RINCIAN OBYEK
JUMLAH (Rp.)
1
2
3
4
5
Uang tersebut diterima pada tanggal ………………………………………………………………………
Pengguna Anggaran/Kuasa Anggaran
Bendahara Penerimaan
( nama lengkap )
NIP.
( nama lengkap )
NIP.
Catatan: STS dilampiri slip setoran bank

3.3 Prosedur (Tata Cara) Pembukuan Bendahara Penerimaan SKPD

dan

penyetorannya ke bank dalam Buku Penerimaan dan Penyetoran Bendahara Penerimaan. Pembukuan tersebut dilakukan berdasarkan bukti transaksi yang dilakukan, antara lain berupa dokumen-dokumen berikut ini:

Bendahara

penerimaan

harus

membukukan/mencatat

setiap

transaksi

penerimaan

pendapatan

a. Surat Tanda Bukti Pembayaran

b. Nota Kredit

c. Bukti Penerimaan Yang Sah, dan

d. Surat Tanda Setoran (STS)

Sistem Dan Prosedur Penerimaan Kas SKPD

Selain membukukan transaksi penerimaan dan penyetoran pendapatan dalam Buku Penerimaan dan Penyetoran Bendahara Penerimaan, STS kemudian didokumentasikan kedalam Register STS.

Gambar 3.6 Contoh Format Buku Penerimaan dan Penyetoran

PEMERINTAH PROVINSI/KABUPATEN/KOTA BUKU PENERIMAAN DAN PENYETORAN BENDAHARA PENERIMAAN

SKPD

Periode

:

:

No.

 

Penerimaan

 

Ket.

 

Tgl.

No. Bukti

Cara

Kode

Uraian

Jumlah

Tgl.

No.

Jumlah

 

Pembayaran

Rekening

STS

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

11

Jumlah Penerimaan Jumlah yang disetorkan Saldo Kas di Bendahara Penerimaan

:

:

:

Terdiri atas:

a. Tunai sebesar

b. Bank sebesar

c. Lainnya

Mengetahui/Menyetujui:

, tanggal

Pengguna Anggaran

Bendahara Penerimaan

(Tanda Tangan)

(Tanda Tangan)

(Nama Jelas)

(Nama Jelas)

NIP.

NIP.

Cara Pengisian:

1. Judul diisi dengan nama PROVINSI/KABUPATEN/KOTA, nama SKPD yang bersangkutan dan Periode

2. Kolom 1 diisi dengan nomor urut

3. Kolom 2 diisi dengan tanggal penerimaan

4. Kolom 3 diisi dengan nomor bukti penerimaan

5. Kolom 4 diisi dengan cara pembayaran: melalui kas bendahara penerimaan, bank, atau melalui kas umum daerah

6. Kolom 5 diisi dengan detail kode rekening pendapatan asli daerah

7. Kolom 6 diisi dengan uraian pendapatan sesuai dengan kode rekening

8. Kolom 7 diisi dengan jumlah pendapatan asli daerah

9. Kolom 8 diisi dengan tanggal penyetoran

10. Kolom 9 diisi dengan Nomor STS

Sistem Dan Prosedur Penerimaan Kas SKPD

11. Kolom 10 diisi dengan jumlah uang yang disetor

12. Kolom 11 diisi dengan Keterangan jika diperlukan

13. Jumlah penerimaan diisi dengan total jumlah pendapatan selama 1 bulan*

14. Jumlah disetorkan adalah jumlah total penyetoran pendapatan selama 1 bulan*

15. Saldo Kas di Bendahara Penerimaan diisi dengan sisa kas yang masih di pegang oleh bendahara penerimaan baik dalam bentuk kas tunai, simpanan di bank, ataupunlainnya*

16. Kolom tanda tangan ditandatangani oleh Bendahara Penerimaan dan Pengguna Anggaran disertai nama jelas*

*Diisi hanya pada saat penutupan di akhir bulan untuk keperluan penyusunan Laporan Pertanggungjawaban Bendahara Penerimaan.

Gambar 3.7 Contoh Format Register STS

PEMERINTAH PROVINSI/KABUPATEN/KOTA REGISTER STS SKPD TAHUN ANGGARAN

Bendahara Penerimaan

:

No.

No. STS

Tanggal

Kode Rekening

Uraian

Jumlah

Penyetor

Ket.

1

2

3

4

5

6

7

8

Mengetahui/Menyetujui:

Pengguna Anggaran

(Tanda Tangan)

, tanggal

Bendahara Penerimaan

(Tanda Tangan)

(Nama Jelas)

(Nama Jelas)

NIP.

NIP.

Cara Pengisian:

1. Judul diisi dengan nama PROVINSI/KABUPATEN/KOTA, nama SKPD yang bersangkutan, tahun anggaran dan Nama Bendahara Penerimaan

2. Kolom 1 diisi dengan nomor urut

3. Kolom 2 diisi dengan nomor STS

4. Kolom 3 diisi dengan tanggal STS

5. Kolom 4 diisi Kode Rekening pendapatan yang disetorkan ke rekening Kas Umum Daerah. Dalam satu STS bisa terdiri dari beberapa pendapatan.

6. Kolom 5 diisi dengan uraian pendapatan

7. Kolom 6 diisi dengan jumlah pendapatan yang disetorkan

8. Kolom 7 diisi dengan nama penyetor

9. Kolom 8 diisi dengan Keterangan jika diperlukan

10. Kolom tanda tangan ditandatangani oleh Bendahara Penerimaan dan Pengguna Anggaran disertai nama jelas*

Sistem Dan Prosedur Penerimaan Kas SKPD

* Diisi hanya pada saat penutupan di akhir bulan untuk keperluan penyusunan Laporan Pertanggungjawaban Bendahara Penerimaan.

Ada beberapa cara yang bisa dilakukan oleh wajib pajak/retribusi dalam membayar kewajibannya kepada daerah, yaitu dengan cara:

1. membayar tunai langsung ke bendahara penerimaan

2. membayar melalui rekening bendahara penerimaan

3. menyetor langsung ke kas daerah

Prosedur pembukuan untuk ketiga cara pembayaran tersebut pada dasarnya sama, yang membedakan adalah bukti penerimaan dan penyetorannya,dan waktu pencatatan penerimaan dan penyetoran pendapatan ke kas daerah. Berikut akan diikhtisarkan tata cara pembukuan untuk ketiga cara pembayaran tersebut.

(1) Pembayaran tunai langsung ke bendahara penerimaan SKPD

No.

Transaksi

BUKU YANG DIGUNAKAN

BUKTI TRANSAKI

 

BUKU PENERIMAAN

REGISTER STS

DAN PENYETORAN

1

Penerimaan pembayaran pendapatan dari wajib pajak/retribusi

dicatat di sisi penerimaan

-

Tanda Bukti

Pembayaran

2

Penyetoran pendapatan oleh bendahara penerimaan ke rekening kas daerah

dicatat di sisi penyetoran

dicatat di register STS

STS

Pencatatan Penerimaan Tunai

Buku Penerimaan Proses Penerimaan Surat Tanda Bukti Pembayaran/Bukti Lain Yang Sah Melakukan Pengisian buku
Buku Penerimaan
Proses Penerimaan
Surat Tanda Bukti
Pembayaran/Bukti
Lain Yang Sah
Melakukan Pengisian buku
penerimaan dan penyetoran
bendahara penerimaan
dan Penyetoran
Tunai
Bendahara
Penerimaan
Bendahara penerimaan
menyiapkan Surat Tanda
Bukti Pembaaayaran/Bukti
Lain Yang Sah.
Berdasarkan Dokumen Bukti
Pembayaran/ Bukti Lain Yang Sah
Tersebut, Bendahara Penerimaan
melakukan Pengisian Buku
Penerimaan dan Penyetoran
Bendahara Penerimaan pada bagian
penerimaan. Kolom yang diisi ialah
no. bukti, tanggal transaksi, cara
pembayaran, kode rekening, uraian
dan jumlah
Hasil dari penatausahaan
ini adalah buku
penerimaan dan
penyetoran Bendahara
Penerimaan yang sudah
terupdate

Sistem Dan Prosedur Penerimaan Kas SKPD

Gambar 3.8 Penyetoran ke Rekening Kas Daerah oleh Bendahara Penerimaan

Bendahara penerimaan menyiapkan bukti surat tanda setoran ke rekening kas umum daerah.

Berdasarkan STS tersebut, Bendahara Penerimaan mengisi Buku Penerimaan dan Penyetoran Bendahara Penerimaan pada bagian Penyetoran Kolom Tanggal, No. STS dan Jumlah Penyetoran

Proses Penyeotran penerimaan tunai ke kas umum daerah Surat Tanda Setoran Register STS Melakukan Pengisian
Proses Penyeotran
penerimaan tunai
ke kas umum
daerah
Surat Tanda
Setoran
Register STS
Melakukan Pengisian
Buku Penerimaan dan
Penyetoran
Melakukan
Pengisian
register STS
Hasil dari penatausahaan ini adalah
Buku Penerimaan dan Penyetoran
Bendahara Penerimaan dan register
STS yang sudah ter update.

(2) Pembayaran ke rekening bank bendahara penerimaan SKPD

No.

Transaksi

BUKU YANG DIGUNAKAN

BUKTI TRANSAKI

 

BUKU PENERIMAAN

REGISTER STS

DAN PENYETORAN

1

Penerimaan pembayaran pendapatan dari wajib pajak/retribusi

dicatat di sisi penerimaan

-

Slip setoran/nota

kredit bank

2

Penyetoran/pemindahbukuan pendapatan oleh bendahara penerimaan ke rekening kas daerah

dicatat di sisi penyetoran

dicatat di register STS

STS

(3) Pembayaran langsung ke rekening kas daerah (rekening BUD)

No.

Transaksi

BUKU YANG DIGUNAKAN

BUKTI TRANSAKI

 

BUKU PENERIMAAN

REGISTER STS

DAN PENYETORAN

1

Penerimaan pembayaran pendapatan dari wajib pajak/retribusi sekaligus penyetoran ke kasda.

dicatat di sisi penerimaan dan penyetoran sekaligus

dicatat di Register STS

Slip setoran/nota

kredit bank

2

Penyetoran pendapatan oleh bendahara penerimaan ke rekening kas daerah

dicatat di sisi penyetoran

dicatat di register STS

STS

Sistem Dan Prosedur Penerimaan Kas SKPD

3.4 Prosedur (Tata Cara) Pertanggungjawaban Bendahara Penerimaan SKPD

Selain melakukan pembukuan, Bendahara Penerimaan juga wajib melakukan pertanggungjawaban terhadap seluruh penerimaan yang menjadi tanggung jawabnya. Pertanggungjawaban Bendahara Penerimaan dilakukan paling lambat pada tanggal 10 bulan berikutnya. Terdapat dua jenis pertanggungjawaban yang harus dibuat yaitu pertanggungjawaban administratif dan pertanggungjawaban fungsional.

Pada dasarnya format dan isi pertanggungjawaban administratif dan pertanggungjawaban fungsional adalah sama, perbedaannya hanya kepada siapa pertanggungjawaban tersebut disampaikan. Pertanggungjawaban administratif disampaikan kepada PA/KPA melalui PPK-SKPD.Sedangkan pertanggungjawaban fungsional disampaikan kepada PPKD selaku BUD.Pertanggungjawaban bendahara penerimaan merupakan hasil penggabungan dengan pertanggungjawaban bendahara penerimaan pembantu. Oleh karena itulah, Bendahara Pembantu wajib menyerahkan pertanggung- jawabannya berupa Buku Penerimaan dan Penyetoran yang telah dilakukan penutupan pada akhir bulan, paling lambat tanggal 5 bulan berikutnya, dengan dilampiri:

• Register STS

• Bukti penerimaan yang sah dan lengkap.

Pertanggungjawaban bendahara penerimaan berupa laporan pertanggung-jawaban (LPJ) memuat informasi tentang rekapitulasi penerimaan, penyetoran dan saldo kas yang ada di bendahara. Format kedua LPJ baik Administratif maupun fungsional adalah sama. Namun, untuk LPJ Administratif, harus dilampiri denganBuku Penerimaan/Penyetoran yang telah ditutup pada akhir bulan, Register STS, bukti penerimaan yang sah dan lengkap, serta pertanggungjawaban bendahara penerimaan pembantu. Sedangkan untuk LPJ Fungsional, hanya diharuskan untuk melampirkanBuku Penerimaan dan Penyetoran yang telah ditutup pada akhir bulan, Register STS, pertanggungjawaban bendahara penerimaan pembantu.

Sama halnya dengan bendahara penerimaan, bendahara penerimaan pembantu juga mempunyai kewajiban menyelenggarakan penatausahaan atas semua penerimaan dan penyetoran penerimaan yang menjadi tanggungjawabnya.Oleh karena itu, bendahara penerimaan pembantu juga mempunyai kewajiban untuk menyampaikan laporan pertanggungjawaban peneriman kepada bendahara penerimaan.Laporan pertanggungjawaban tersebut harus diserahkan paling lambat tanggal 5 bulan berikutnya.Laporan pertanggungjawaban bendahara pembantu ini nantinya akan digabung oleh bendahara penerimaan dalam membuat laporan pertanggungjawaban bendahara penerimaan.

Pertanggungjawaban diberikan berupa Buku Penerimaan dan Penyetoran yang telah dilakukan penutupan pada akhir bulan, dilampiri dengan:

• Register STS

• Bukti penerimaan yang sah dan lengkap

Sistem Dan Prosedur Penerimaan Kas SKPD

Gambar 3.9 Contoh Format LPJ Administratif Bendahara Penerimaan SKPD

Gambar 3.9 Contoh Format LPJ Administratif Bendahara Penerimaan SKPD

LAPORAN PERTANGGUNG-JAWABAN ADMINISTRATIF BENDAHARA PENERIMAAN

SKPD

: ……………………….

PERIODE

: ……………………….

A.

Penerimaan

Rp. ……………………

1. Tunai melalui bendahara penerimaan

Rp. ……………………

2. Tunai melalui bendahara penerimaan pembantu

Rp. ……………………

3. Transfer ke rekening bendahara penerimaan

Rp. ……………………

4. Transfer ke rekening kas umum daerah

Rp. ……………………

B.

Jumlah penerimaan yang harus disetorkan (A1+A2+A3)

Rp. ……………………

C.

Jumlah penyetoran

Rp. ……………………

D1.

Saldo Kas di Bendahara Bulan Lalu

1. Bendahara Penerimaan

Rp. ……………………

2. Bendahara Penerimaan Pembantu …

Rp. ……………………

D2.

Saldo Kas di Bendaraha Ini (D1+B-C)

Rp. ……………………

1. Bendahara Penerimaan

Rp. ……………………

2. Bendahara Penerimaan Pembantu …

Rp. ……………………

Menyetujui

Tanggal

Pengguna Anggaran

Bendahara Penerimaan

Nama

Nama

NIP

NIP

Sistem Dan Prosedur Penerimaan Kas SKPD

Gambar 3.10 Contoh Format LPJ Fungsional Bendahara Penerimaan SKPD

Gambar 3.10 Contoh Format LPJ Fungsional Bendahara Penerimaan SKPD

LAPORAN PERTANGGUNG-JAWABAN FUNGSIONAL BENDAHARA PENERIMAAN

SKPD

: ……………………….

PERIODE

: ……………………….

A.

Penerimaan

Rp. ……………………

1. Tunai melalui bendahara penerimaan

Rp. ……………………

2. Tunai melalui bendahara penerimaan pembantu

Rp. ……………………

3. Transfer ke rekening bendahara penerimaan

Rp. ……………………

4. Transfer ke rekening kas umum daerah

Rp. ……………………

B.

Jumlah penerimaan yang harus disetorkan (A1+A2+A3)

Rp. ……………………

C.

Jumlah penyetoran

Rp. ……………………

D1.

Saldo Kas di Bendahara Bulan Lalu

1. Bendahara Penerimaan

Rp. ……………………

2. Bendahara Penerimaan Pembantu …

Rp. ……………………

D2.

Saldo Kas di Bendaraha Ini (D1+B-C)

Rp. ……………………

1. Bendahara Penerimaan

Rp. ……………………

2. Bendahara Penerimaan Pembantu …

Rp. ……………………

Menyetujui

Tanggal

Pengguna Anggaran

Bendahara Penerimaan

Nama

Nama

NIP

NIP

Sistem Dan Prosedur Penerimaan Kas SKPD

3.5. Soal Latihan

1. Sebutkan tugas dan kewenangan bendahara penerimaan SKPD ?

2. Jelaskan secara singkat prosedur penerimaan dan penyetoran pendapatan SKPD !

3. Buku apa saja yang digunakan oleh bendahara penerimaan SKPD ?

4. Sebutkan jenis-jenis bukti transaksi untuk mencatat penerimaan dan penyetoran pendapatan SKPD ?

5. Jelaskan pembukuan yang harus dibuat untuk bukti berupa TBP (tanda bukti pembayaran) ?

6. Jelaskan pembukuan yang harus dibuat untuk bukti berupa STS (surat tanda setoran) ?

7. Jelaskan pembukuan yang harus dibuat untuk transaksi penerimaan pendapatan SKPD yang disetor langsung oleh pembayar ke rekening kas daerah ?

8. Sebutkan jenis laporan pertanggungjawaban (LPJ) yang harus dibuat oleh bendahara penerimaan SKPD, lampiran apa saja yang harus disertakan, dan dilaporkan kepada siapa ?

9. Kapankah paling lambat bendahara penerimaan pembantu harus menyampaikan LPJ- nya dan disampaikan melalui siapa ?

10. Kapankah paling lambat bendahara penerimaan SKPD harus menyampaikan LPJ-nya dan disampaikan melalui siapa ?

TOPIK 4 SISTEM DAN PROSEDUR PENERIMAAN KAS PPKD
TOPIK 4 SISTEM DAN PROSEDUR PENERIMAAN KAS PPKD
TOPIK 4 SISTEM DAN PROSEDUR PENERIMAAN KAS PPKD
TOPIK 4 SISTEM DAN PROSEDUR PENERIMAAN KAS PPKD
TOPIK 4 SISTEM DAN PROSEDUR PENERIMAAN KAS PPKD
TOPIK 4 SISTEM DAN PROSEDUR PENERIMAAN KAS PPKD
TOPIK 4 SISTEM DAN PROSEDUR PENERIMAAN KAS PPKD
TOPIK 4 SISTEM DAN PROSEDUR PENERIMAAN KAS PPKD
TOPIK 4 SISTEM DAN PROSEDUR PENERIMAAN KAS PPKD
TOPIK 4 SISTEM DAN PROSEDUR PENERIMAAN KAS PPKD
TOPIK 4 SISTEM DAN PROSEDUR PENERIMAAN KAS PPKD
TOPIK 4 SISTEM DAN PROSEDUR PENERIMAAN KAS PPKD
TOPIK 4 SISTEM DAN PROSEDUR PENERIMAAN KAS PPKD
TOPIK 4 SISTEM DAN PROSEDUR PENERIMAAN KAS PPKD
TOPIK 4 SISTEM DAN PROSEDUR PENERIMAAN KAS PPKD

TOPIK 4

SISTEM DAN PROSEDUR PENERIMAAN KAS PPKD

TOPIK 4 SISTEM DAN PROSEDUR PENERIMAAN KAS PPKD
TOPIK 4 SISTEM DAN PROSEDUR PENERIMAAN KAS PPKD
TOPIK 4 SISTEM DAN PROSEDUR PENERIMAAN KAS PPKD
TOPIK 4 SISTEM DAN PROSEDUR PENERIMAAN KAS PPKD
TOPIK 4 SISTEM DAN PROSEDUR PENERIMAAN KAS PPKD
TOPIK 4 SISTEM DAN PROSEDUR PENERIMAAN KAS PPKD
TOPIK 4 SISTEM DAN PROSEDUR PENERIMAAN KAS PPKD
TOPIK 4 SISTEM DAN PROSEDUR PENERIMAAN KAS PPKD

Sistem Dan Prosedur Penerimaan Kas PPKD

Deskripsi: Topik ini menjelaskan tentang prosedur penerimaan, penatausahaan dan pertanggungjawaban bendahara penerimaan
Deskripsi:
Topik ini menjelaskan tentang prosedur penerimaan, penatausahaan dan
pertanggungjawaban bendahara penerimaan PPKD.
Sub Topik
Kata Kunci
Tugas dan Kewenangan
Bendahara Penerimaan PPKD
Kepala Daerah, Pendelegasian Kewenangan, Penetapan
kebijakan Pengelolaan Keuangan Daerah (PKD)
Prosedur Penerimaan
Bendahara Penerimaan PPKD
Sekretaris Daerah, Kordinator penyusunan kebijakan dan
pelaksanaan PKD
Prosedur Pembukuan
(Penatausahaan) Bendahara
Penerimaan PPKD
BUD, Penyusunan kebijakan dan pelaksanaan PKD
Prosedur
Pertanggungjawaban
Bendahara Penerimaan PPKD
Kepala SKPD, pengelolaan anggaran SKPD
Referensi:
1.
UU No. 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara
2
UU No. 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara
3.
PP No. 58 Tahun 2005 tentang Keuangan Daerah
4.
Permendagri No. 55 Tahun 2008 tentang Tata Cara Penatausahaan
dan Penyusunan Laporan Pertanggungjawaban Bendahara serta
Penyampaiannya
5.
Permendagri No. 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan
Keuangan Daerah jo. Permendagri No. 59 Tahun 2007 jo. Permendagri
No. 21 Tahun 2011.

Sistem Dan Prosedur Penerimaan Kas PPKD

Skandal Penyimpangan Kasda Senilai 14,5 Milyar Digunakan 9 Pejabat

Kasus dugaan skandal penyimpangan dana kas daerah (Kasda) untuk kepentingan sejumlah pejabat teras Kabupaten Sragen kembali terbongkar. Menyusul penyimpangan Kasda di BPR Karangmalang sebesar Rp 8 miliar, kini Fraksi Karya Nasional (FKN) kembali menemukan indikasi pengerukan dana Kasda di BPR Joko Tingkir Sragen dengan nominal lebih fantastis yakni mencapai Rp 14,5 miliar.

Terbongkarnya skandal pengerukan Kasda itu terungkap dari dua buku laporan hasil audit Bank Indonesia (BI) pertengahan tahun 2010 yang diterima Ketua FKN Bambang Widjo Purwanto. Dalam buku tersebut, tercantum ada sembilan nama pejabat teras Sragen yang meminjam kredit di BPR Joko Tingkir dengan nilai total mendekati Rp 15 miliar.

Sembilan nama itu di antaranya mantan Sekda Kushardjono, Kepala DP2D Adi Dwi Jantoro, dua direktur BPR Joko Tingkir sendiri Pono dan Surono Hadi, Sukini, Ninik Hartati, Perusda Bengkel, Perusda Percetakan, dan beberapa nama lagi. Dari angka kredit hampir Rp 15 miliar itu, Rp 14 miliar dibagi dua pejabat yakni Kushardjono dan Adi Dwi Jantoro masing-masing Rp 7,2 miliar dan Rp 7,2 miliar sedang Rp 1 miliar sisanya dibagi tujuh pejabat lain.

http://sragenholic.blogspot.com/2011/03/skandal-penyimpangan-kasda-senilai-145.html

2011

15 Maret

4.1 Tugas dan Wewenang Bendahara Penerimaan PPKD

Tugas dan kewenangan bendahara dan penerimaan PPKD berdasarkan Pasal 3 Permendagri No. 55 Tahun 2008 adalah sbb.:

1. Bendahara penerimaan PPKD bertugas untuk menatausahakan dan mempertanggung- jawabkan seluruh penerimaan pendapatan PPKD dalam rangka pelaksanaan APBD.

2. Untuk melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bendahara penerimaan PPKD berwenang untuk mendapatkan bukti transaksi atas pendapatan yang diterima melalui Bank.

3. Atas pertimbangan efisiensi dan efektifitas, tugas dan wewenang bendahara penerimaan PPKD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dapat dirangkap oleh Bendahara Umum Daerah.

Sistem Dan Prosedur Penerimaan Kas PPKD

4.2 Prosedur Penerimaan Pendapatan dan Pembiayaan di PPKD

Sistem dan prosedur penerimaan pendapatan dan pembiayaan di PPKD adalah serangkaian prosedur manual maupun yang terkomputerisasi mulai dari penerimaan, penatausahaan dan pertanggungjawaban penerimaan pendapatan dalam rangka pelaksanaan APBD pada bendahara penerimaan PPKD.

Penerimaan yang dikelola PPKD dapat berupa pajak daerah, pendapatan dana perimbangan, pendapatan lain-lain yang sah, dan pembiayaan penerimaan. Penerimaan-penerimaan tersebut diterima secara langsung di Kas Umum Daerah.Berdasarkan penerimaan tersebut, Bank membuat Nota Kredit yang memuat informasi tentang penerimaan tersebut, baik berupa informasi pengiriman, jumlah rupiah maupun kode rekening yang terkait. Bendahara penerimaan wajib mendapatkan nota kredit tersebut melalui mekanisme yang telah ditetapkan.

4.3 Prosedur Pembukuan Penerimaan Pendapatan dan Pembiayaan di Bendahara Penerimaan PPKD

Bendahara penerimaan PPKD menggunakan Buku Penerimaan PPKD untuk membukukan pendapatan yang diterimanya. Dokumen-dokumen yang digunakan sebagai dasar pencatatan ke dalam buku tersebut antara lain berupa:

a. Nota Kredit

b. Bukti Penerimaan Lainnya Yang Sah

Pembukuan penerimaan pendapatan dan pembiayaan di Bendahara Penerimaan PPKD dimulai dari saat bendahara penerimaan PPKD menerima informasi dari BUD/Kuasa BUD mengenai adanya penerimaan di rekening kas umum daerah. Langkah-langkah pencatatannya adalah sebagai berikut:

a. Berdasarkan Nota kredit atau Bukti Penerimaan Lain yang sah, bendahara penerimaan PPKD mencatat bukti penerimaan tersebut ke dalam Buku Penerimaan PPKD, pada bagian kolom tanggal dan kolom nomor bukti.

b. Kemudian bendahara penerimaan PPKD mengidentifikasi dan mencatat jenis dan kode rekening pendapatan.

c. Setelah itu, bendahara penerimaan PPKD mencatat nilai transaksi pada kolom jumlah.

Prosedur pembukuan penerimaan pendapatan dan pembiayaan di Bendahara Penerimaan PPKD dapat digambarkan dalam bagan alir berikut.

Sistem Dan Prosedur Penerimaan Kas PPKD

Gambar 4.1 Bagan Alir Prosedur Pembukuan Penerimaan PPKD

Pembukuan Penerimaan PPKD

Bendahara Penerimaan PPKD

Proses Penerimaan di kas umum daerah yang telah diatur dalam PerKDH mengenai system dan prosedur pengelolaan

Proses Penerimaan di kas umum daerah yang telah diatur dalam PerKDH mengenai system dan prosedur pengelolaan
Proses Penerimaan di kas umum daerah yang telah diatur dalam PerKDH mengenai system dan prosedur pengelolaan
Proses Penerimaan di kas umum daerah yang telah diatur dalam PerKDH mengenai system dan prosedur pengelolaan
Nota Kredit/ Bukti Lain yang sah
Nota
Kredit/
Bukti Lain
yang sah

Melakukan

Pengisian Buku

Penerimaan PPKD

Lain yang sah Melakukan Pengisian Buku Penerimaan PPKD Bendahara penerimaan PPKD menerima Nota Kredit/bukti lain

Bendahara penerimaan PPKD menerima Nota Kredit/bukti lain yang sah dari penyetoran melalui rekening kas

Berdasarkan Nota Kredit/bukti lain yang sah Bendahara Penerimaan PPKD mencatat penerimaan di Rekening kas umum daerah itu pada Buku

Berikut adalah contoh format Buku Penerimaan PPKD.

Gambar 4.2 Contoh Format Buku Penerimaan PPKD

PEMERINTAH PROVINSI/KABUPATEN/KOTA

BUKU PENERIMAAN PPKD

BENDAHARA PENERIMAAN PPKD

Buku Penerimaan PPKD Hasil akhir dari proses ini adalah Buku Pendapatan PPKD .
Buku
Penerimaan
PPKD
Hasil akhir dari proses
ini adalah Buku
Pendapatan PPKD .

Nomor

Tanggal

Kode

Bukti

Kode

Uraian

Jumlah

Keterangan

Kredit

Lain

Rekening

1

2

3

4

5

6

7

8

 

Jumlah bulan ini

   

Jumlah s/d bulan lalu

 

Jumlah Akhir

 

Menyetujui:

PPKD

( Tanda Tangan) (Nama lengkap) NIP.

………Tanggal…… Bendahara Penerimaan PPKD

( Tanda Tangan) (Nama lengkap) NIP.

Sistem Dan Prosedur Penerimaan Kas PPKD

Cara Pengisian:

1. Judul diisi dengan nama PROVINSI/KABUPATEN/KOTA,

2. Kolom 1 diisi dengan nomor urut

3. Kolom 2 diisi dengan tanggal penerimaan

4. Kolom 3 diisi dengan nomor nota kredit penerimaan

5. Kolom 4 diisi dengan nomor bukti lain apa bila tidak menggunakan nota kredit

6. Kolom 5 diisi dengan kode rekening pendapatan

7. Kolom 6 diisi dengan uraian pendapatan

8. Kolom 7 diisi dengan jumlah pendapatan

9. Kolom 8 diisi dengan keterangan jika diperlukan

10. Jumlah bulan ini adalah total penerimaan selama satu bulan*

11. Jumlah sampai dengan bulan lalu adalah saldo pendapatan sampai dengan bulan lalu*

12. Jumlah akhir adalah jumlah antara jumlah bulan ini ditambah jumlah sampai dengan bulan lalu*

13. Kolom tanda tangan ditandatangani oleh Bendahara Penerimaan PPKD dan PPKD disertai nama jelas*

* Diisi hanya pada saat penutupan di akhir bulan untuk keperluan penyusunan Laporan Pertanggungjawaban Bendahara Penerimaan PPKD.

4.4 Prosedur Pertanggungjawaban Bendahara Penerimaan PPKD.

Bendahara penerimaan PPKD mempertanggungjawabkan pengelolaan uang yang menjadi tanggungjawabnya kepada PPKD setiap bulan, paling lambat tanggal 10 bulan berikutnya. Pertanggungjawaban tersebut berupa Buku Penerimaan PPKD yang telah dilakukan penutupan pada akhir bulan, dilampiri dengan bukti-bukti pendukung yang sah dan lengkap.

Langkah-langkah penyusunan dan penyampaian pertanggungjawaban bendahara penerimaan PPKD adalah sebagai berikut:

1)

Bendahara penerimaan PPKD melakukan penutupan Buku Penerimaan PPKDdan

2)

melakukan rekapitulasi perhitungan. Bendahara penerimaan PPKD menyiapkan bukti-bukti penerimaan yang sah dan lengkap.

3)

Bendahara penerimaan PPKD menyampaikan Buku Penerimaan PPKDyang telah dilakukan penutupan dilampiri dengan bukti penerimaan yang sah dan lengkap kepada PPKD, paling lambat tanggal 10 bulan berikutnya.

Berikut adalah bagan alir yang menggambarkan proses penyusunan dan penyampaian pertanggungjawaban bendahara penerimaan PPKD.

Sistem Dan Prosedur Penerimaan Kas PPKD

Gambar 4.3 Bagan Alir Penyusunan dan Penyampaian Pertanggungjawaban Bendahara Penerimaan PPKD

Buku Pendapatan Pertanggungjawaban PPKD Pertanggungjawaban Bendahara Penerimaan Bukti Bendahara PPKD Penerimaan
Buku Pendapatan
Pertanggungjawaban
PPKD
Pertanggungjawaban
Bendahara Penerimaan
Bukti
Bendahara
PPKD
Penerimaan
yang sah
4
PPKD melakukan
1
menandatangani
pertanggung-
Berdasarkan Buku
Pendapatan PPKD dan
Proses verifikasi
jawaban bendahara
Pertanggung-
Pertanggung-
penerimaan
Bukti penerimaan yang
sah Bendahara
Penerimaan PPKD
menyusun
Pertanggung-
jawaban
jawaban
sebagai bentuk
jawaban
Bendahara
Bendahara
persetujuan
bendahara
Penerimaan
Penerimaan
penerimaan PPKD
PPKD
Pertang-gungjawaban- PPKD
nya
2
Bendahara Penerimaan
PPKD menyerahkan
Pertanggungjawaban
bendahara penerimaan
PPKD kepada fungsi
verifikasi PPKD
3
Dilakukan proses
verifikasi, evaluasi dan
analisis untuk
mendapatkan informasi
pendapatan PPKD yang
sinkron dan kredibel
Bendahara Penerimaan PPKD
Fungsi Verifikasi
PPKD

4.5. Soal Latihan

1. Jelaskan tugas dan kewenangan bendahara penerimaan PPKD !

2. Jelaskan sisdur penerimaan PPKD !

3. Buku apa saja yang digunakan di dalam penatausahaan penerimaan PPKD ?

4. Sebutkan bukti transaksi penerimaan PPKD ?

5. Jelaskan prosedur pertangggungjawaban bendahara penerimaan PPKD !

TOPIK 5 SISTEM DAN PROSEDUR PENGELUARAN KAS SKPD
TOPIK 5 SISTEM DAN PROSEDUR PENGELUARAN KAS SKPD
TOPIK 5 SISTEM DAN PROSEDUR PENGELUARAN KAS SKPD
TOPIK 5 SISTEM DAN PROSEDUR PENGELUARAN KAS SKPD
TOPIK 5 SISTEM DAN PROSEDUR PENGELUARAN KAS SKPD
TOPIK 5 SISTEM DAN PROSEDUR PENGELUARAN KAS SKPD
TOPIK 5 SISTEM DAN PROSEDUR PENGELUARAN KAS SKPD
TOPIK 5 SISTEM DAN PROSEDUR PENGELUARAN KAS SKPD
TOPIK 5 SISTEM DAN PROSEDUR PENGELUARAN KAS SKPD
TOPIK 5 SISTEM DAN PROSEDUR PENGELUARAN KAS SKPD
TOPIK 5 SISTEM DAN PROSEDUR PENGELUARAN KAS SKPD
TOPIK 5 SISTEM DAN PROSEDUR PENGELUARAN KAS SKPD
TOPIK 5 SISTEM DAN PROSEDUR PENGELUARAN KAS SKPD
TOPIK 5 SISTEM DAN PROSEDUR PENGELUARAN KAS SKPD
TOPIK 5 SISTEM DAN PROSEDUR PENGELUARAN KAS SKPD

TOPIK 5

SISTEM DAN PROSEDUR PENGELUARAN KAS SKPD

TOPIK 5 SISTEM DAN PROSEDUR PENGELUARAN KAS SKPD
TOPIK 5 SISTEM DAN PROSEDUR PENGELUARAN KAS SKPD
TOPIK 5 SISTEM DAN PROSEDUR PENGELUARAN KAS SKPD
TOPIK 5 SISTEM DAN PROSEDUR PENGELUARAN KAS SKPD
TOPIK 5 SISTEM DAN PROSEDUR PENGELUARAN KAS SKPD
TOPIK 5 SISTEM DAN PROSEDUR PENGELUARAN KAS SKPD
TOPIK 5 SISTEM DAN PROSEDUR PENGELUARAN KAS SKPD
TOPIK 5 SISTEM DAN PROSEDUR PENGELUARAN KAS SKPD

Sistem Dan Prosedur Pengeluaran Kas SKPD

Deskripsi: Topik ini menjelaskan tentang prosedur pembayaran, penatausahaan dan pertanggungjawaban bendahara pengeluaran
Deskripsi:
Topik ini menjelaskan tentang prosedur pembayaran, penatausahaan dan
pertanggungjawaban bendahara pengeluaran SKPD.
Sub Topik
Kata Kunci
Tugas dan kewenangan
bendahara pengeluaran SKPD
Penatausahaan, pertanggungjawaban, belanja SKPD
Prosedur pembayaran
belanja SKPD
UP (Uang Persediaan), GU (Ganti Uang Persediaan), TU
(Tambah Uang Persediaan), LS (Pembayaran Langsung)
Prosedur pembukuan
bendahara pengeluaran SKPD
BKU (Buku Kas Umum), Buku Pembantu, Register
SPP/SPM/SP2D
Prosedur pertanggungjawaban
bendahara pengeluaran SKPD
LPJ UP, LPJ TU, SPJ Administratif/Fungsional

Referensi:

1. UU No. 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara

2. UU No. 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara

3. PP No. 58 Tahun 2005 tentang Keuangan Daerah

4. Permendagri No. 55 Tahun 2008 tentang Tata Cara Penatausahaan dan Penyusunan Laporan Pertanggungjawaban Bendahara serta Penyampaiannya

5. Permendagri No. 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah jo. Permendagri No. 59 Tahun 2007 jo. Permendagri No. 21 Tahun2011.

Sistem Dan Prosedur Pengeluaran Kas SKPD

Bendahara Syamsul Ditahan

Dugaan Korupsi APBD Langkat Rp102,7 Miliar

MEDAN-Kasus dugaan korupsi APBD Langkat tahun anggaran 2000-2007 senilai Rp102,7 miliar terus bergulir. Setelah Pengadilan Tindak Pidanan Korupsi (Tipikor) menyidangkan Syamsul Arifin sebagai tersangka Senin (14/3) lalu, Kamis (17/3) kemarin Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara (Kejatisu) menahan Buyung Ritonga.

Mantan Bendahara/Kepala Pemegang Kas Pemkab Langkat semasa kepemimpinan Syamsul Arifin itu dijebloskan Rumah Tahanan Tanjunggusta Medan sebagai tahanan jaksa sekitar pukul 16.00 WIB, setelah menjalani pemeriksaan di bagian pidana khusus. Mengenakan kemeja putih motif kotak-kotak, ia hanya tertenduk lesu ketika diboyong petugas menuju mobil tahanan. Buyung diam seribu bahasa,

Buyung sebagai bendahara Pemkab Langkat dinilai mengetahui ke mana aliran dana digunakan. “Hasil penyidikan diduga pengeluaran dana APBD itu tidak melalui mekanisme dan penggunaannya tak sesuai peraturan yang ada,” terangnya

http://sumutpos.co/2011/03/2055/bendahara-syamsul-ditahan

Jumat, 18 Maret 2011 Metropolis

5.1 Tugas dan Wewenang Bendahara Pengeluaran SKPD

Berdasarkan Pasal 4, Permendagri No. 55 Tahun 2008, tugas dan kewenangan bendahahara pengeluaran SKPD adalah sebagai berikut:

Bendahara pengeluaran SKPD bertugas untuk menerima, menyimpan, membayarkan, menatausahakan dan mempertanggungjawabkan pengeluaran uang dalam rangka pelaksanaan APBD pada SKPD.

Sistem Dan Prosedur Pengeluaran Kas SKPD

Gambar 5.1 Tugas Bendahara Pengeluaran SKPD

Menerima

Menatausahakan dan Mempertanggungjawabkan Menyimpan BENDAHARA PENGELUARAN
Menatausahakan dan
Mempertanggungjawabkan
Menyimpan
BENDAHARA
PENGELUARAN

Membayarkan

Dalam melaksanakan tugas, bendahara pengeluaran SKPD berwenang:

a. Mengajukan permintaan pembayaran menggunakan SPP UP/GU/TU dan SPP-LS;

b. Menerima dan menyimpan uang persediaan;

c. Melaksanakan pembayaran dari uang persediaan yang dikelolanya;

d. Menolak perintah bayar dari Pengguna Anggaran (PA)/Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) yang tidak sesuai dengan ketentuan peraturan;

e. Meneliti kelengkapan dokumen pendukung SPP-LS yang diberikan oleh PPTK;

f. Mengembalikan dokumen pendukung SPP-LS yang diberikan oleh PPTK, apabila dokumen tersebut tidak memenuhi syarat dan/atau tidak lengkap.

Jika pengguna anggaran melimpahkan sebagian kewenangannya kepada kuasa pengguna anggaran, maka pengguna anggaran dapat menunjuk bendahara pengeluaran pembantu SKPD untuk melaksanakan sebagian tugas dan wewenang bendahara pengeluaran SKPD. Bendahara pengeluaran pembantu SKPD mempunyai wewenang untuk:

a. Mengajukan permintaan pembayaran menggunakan SPP-TU dan SPP-LS;

b. Menerima dan menyimpan uang persediaan yang berasal dari Tambahan Uang dan/atau pelimpahan UP dari bendahara pengeluaran;

c. Melaksanakan pembayaran dari uang persediaan yang dikelolanya;

d. Menolak perintah bayar dari KPA yang tidak sesuai dengan ketentuan peraturan;

e. Meneliti kelengkapan dokumen pendukung SPP-LS yang diberikan oleh PPTK;

f. Mengembalikan dokumen pendukung SPP-LS yang diberikan oleh PPTK, apabila dokumen tersebut tidak memenuhi syarat dan/atau tidak lengkap;

Sistem Dan Prosedur Pengeluaran Kas SKPD

5.2 Prosedur Pembayaran Belanja SKPD

Untuk melaksanakan pembayaran belanja, bendahara pengeluaran akan mengajukan Surat Permintaan Pembayaran (SPP) kepada PA/KPA melalui Pejabat Penatausahaan Keuangan (PPK) SKPD. Dokumen SPP yang disusun dan diajukan oleh bendahara pengeluaran dapat berupa SPP Uang Persediaan (UP), SPP Ganti Uang persediaan (GU), SPP Tambahan Uang (TU) dan SPP Langsung (LS).

Selanjutnya PPK-SKPD akan menguji dan/atau memverifikasi SPP yang diajukan oleh bendahara pengeluaran, antara lain menyangkut syarat kelengkapan dokumen SPP dan lampirannya, kebenaran dalam tulisan, ketersediaan pagu anggaran. Setelah semua persyaratan pengajuan SPP terpenuhi, PPK- SKPD selanjutnya menyiapkan draft Surat Pertintah Membayar (SPM) kemudian diparaf dan diajukan kepada PA/KPA sesuai kewenangannya. PA dapat menandatangani/menerbitkan semua jenis SPM, sementara KPA hanya dapat menerbitkan SPM TU dan SPM-LS Barang dan Jasa untuk anggaran belanja yang berada di bawah pengelolaanya.

Selanjutnya, SPM yang telah ditandatangani oleh PA/KPA disampaikan ke Kuasa BUD. Jika SPM yang diajukan tersebut telah memenuhi persyaratan yang ditentukan, Kuasa BUD selanjutnya akan menerbitkan SP2D. Jenis SPM dan SP2D yang diterbitkan oleh pihak-pihak yang berwenang tentunya mengikuti dengan jenis SPP yang diajukan oleh bendahara pengeluaran. Misalnya, jika bendahara pengeluaran mengajukan SPP-UP, maka PA/KPA akan menerbitkan SPM-UP, demikian juga kuasa BUD akan menerbitkan SP2D-UP, dan demikian seterusnya.

SP2D merupakan bukti terjadinya transaksi penerimaan kas (uang muka kerja) dari BUD dan/atau pembayaran belanja (tergantung jenia SP2D-nya), sedangkan SPP dan SPM hanya merupakan bukti pendukung. SP2D dan dokumentasi transaksi lainnya (kwitansi, faktur pajak, surat setoran pajak/SSP, dsb) merupakan dokumen transaksi yang menjadi dasar pembukuan transaksi oleh bendahara pengeluaran maupun pencatatan akuntansi oleh PPK-SKPD.

Pada topik ini, pembahasan hanya akan difokuskan pada prosedur pembayaran, penatausahaan dan pertanggungjawaban oleh bendahara pengeluaran SKPD.

Berikut ini akan dijelaskan prosedur pembayaran yang dapat dilakukan oleh bendahara pengeluaran SKPD.

5.2.1. Uang Persediaan (UP)

SPP UP diajukan sekali dalam setahun yakni pada awal tahun anggaran setelah dikeluarkannya SK Kepala Daerah tentang besaran UP.SPP-UP dipergunakan untuk mengisi uang persediaan tiap-tiap SKPD. Uang persediaan ini belum membebani kode rekening tertentu. Pengajuan SPP-UP harus dilampiri dengan dokumen-dokumen antara lain, salinan SPD, Draf Surat Pernyataan PA, lampiran lain yang diperlukan.

Uang persediaan yang telah diterima bendahara pengeluaran dapat dialokasikan/dilimpahkan kepada bendahara pengeluaran pembantu setelah mendapat persetujuan dari PA/KPA. Hal ini dimaksudkan

Sistem Dan Prosedur Pengeluaran Kas SKPD

untuk kelancaran pembayaran belanja atas kegiatan yang dikelola oleh unit kerja/KPA tertentu.

Berikut ini disajikan contoh format SPP-UP, setiap jenis SPP terdiri dari 3 halaman (halaman pengantar, ringkasan dan rincian).

Gambar 5.2 Contoh Format SPP-UP

PEMERINTAH PROVINSI/KABUPATEN/KOTA …………………………… SURAT PERMINTAAN PEMBAYARAN UANG PERSEDIAAN (SPP-UP) Nomor : ………………………. Tahun …………

SURAT PENGANTAR

Kepada Yth. Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran SKPD ………………………. Di Tempat

Dengan memperhatikan Peraturan Gurbenur/Bupati/Walikota Nomor ………… Tahun …………… tentang Penjabaran APBD, bersama ini kami mengajukan Surat Permintaan Pembayaran Uang Persediaan sebagai berikut:

a. Urusan Pemerintahan

b. SKPD

c. Tahun Anggaran

d. Dasar Pengeluaran SPD Nomor …

e. Jumlah Sisa Dana SPD

: …………………………………………………………… : …………………………………………………………… : …………………………………………………………… : …………………………………………………………… : Rp ………………………………………………………

( terbilang: ………………………………………………………………………………………………………………)

f. Nama Bendahara Pengeluaran

g. Jumlah Pembayaran yang Diminta

: …………………………………………………………… : Rp ………………………………………………………

( terbilang: ………………………………………………………………………………………………………………)

h. Nama dan Nomor Rekening Bank

: ……………………………………………………………

………………., ………………………………… Bendahara Pengeluaran

(Nama Lengkap)

NIP.

Sistem Dan Prosedur Pengeluaran Kas SKPD

PEMERINTAH PROVINSI/KABUPATEN/KOTA …………………………… SURAT PERMINTAAN PEMBAYARAN UANG PERSEDIAAN (SPP-UP) Nomor : ………………………. Tahun …………

RINGKASAN

…… tentang Penetapan Jumlah Uang Persediaan untuk SKPD ……………………………… sejumlah Rp. ……………………………… Terbilang: ………………………… …………………………………………

Berdasarkan Keputusan Gurbenur/Bupati/Walikota Nomor ………………………

…………………

Tanggal

………

………………., ………………………………… Bendahara Pengeluaran

(Nama Lengkap)

NIP.

PEMERINTAH PROVINSI/KABUPATEN/KOTA …………………………… SURAT PERMINTAAN PEMBAYARAN UANG PERSEDIAAN (SPP-UP) Nomor : ………………………. Tahun …………

RINCIAN RENCANA PENGGUNAAN

No.

Kode Rekening (Jenis)

Uraian

Jumlah

TOTAL

Terbilang: ………………………………………………………………………………………………….

………………., ………………………………… Bendahara Pengeluaran

(Nama Lengkap)

NIP.

Sistem Dan Prosedur Pengeluaran Kas SKPD

5.2.2. Ganti Uang Persediaan (GU)

SPP-GU diajukan untuk mengganti uang persediaan yang telah terpakai. SPP-GU diajukan sebesar uang persediaan yang telah digunakan dan SPJ nya telah disahkan pada kurun waktu tertentu, untuk membiayai satu atau beberapa kegiatan di SKPD.Pengajuan SPP-GU harus didukung oleh pertanggungjawaban (SPJ) atas penggunaan uang persediaan yang diajukan penggantiannya disertai bukti-bukti yang sah dan lengkap. SPP-GU harus dilampiri dengan:

• Salinan SPD

• Draf Surat Pernyataan Pengguna Anggaran

• Laporan Pertanggungjawaban Uang Persediaan

• Bukti-bukti belanja yang lengkap dan sah

• Lampiran lain yang diperlukan

Berikut disajikan contoh format SPP-GU.

Gambar 5.3 Contoh Format SPP-GU