Anda di halaman 1dari 2

Narasi Kerangka Berpikir

IUD (Intra Uterine Devices) adalah bahan inert sintatik (dengan atau unsur
tambahan untuk sinergi efiditas) dengan berbagai bentuk yang dipasangkan ke
dalam rahim untuk menghasilkan kontrasepsi.
Indikasi Pemakaian IUD antara lain Ingin menjarangkan kehamilan
(spacing)

akseptor

sudah

mempunyai

anak

dan

ingin

menjarangkan

kehamilannya, sudah cukup jumlah anaknya dan takut atau menolak cara
kotrasepsi mantap (sterilisasi) dan tidak cocok memakai kontrasepsi hormonal
(mengidap penyakit jantung, hipertensi, penyakit hati) kemudian kontrasepsi
hormonal dapat mempengaruhi penyait yang diderita.
Kontra indikasi mutlak untuk pemakaian IUD yaitu kehamilan, perdarahan
saluran genital yang tidak terdiagnosis, bila penyebab didiagnosis dan diobati
AKDR dapat dipasang, kehamilan ektopik sebelumnya dan infeksi panggul atau
vagina bila telah diobati AKDR dapat dipasang
Cara penapisan awal dilakukan pada pemeriksaan melalui vagina, maksud
dari pemeriksaan vagina (dengan 2 jari) adalah untuk mengetahui empat hal
berikut yaitu infeksi (apabila ada rasa sakit atau keluar cairan), kehamilan (apabila
rahim lunak dan membesar), tumor (apabila teraba benjolan yang tidak wajar) dan
letak kedudukan rahim. Kemudian pemeriksaan bimanual dengan menggunakan
spekulum bertujuan untuk mencari adanya kanker serviks atau vagina dan mencari
adanya infeksi serviks atau vagina.

Cara kerja IUD dari alat kontrasepsi IUD adalah sebagai berikut yaitu
menghambat kemampuan sperma masuk ke tuba falopi, mempengaruhi fertilisasi
sebelum ovum mencapai kavum uteri.
Efek samping yang akan timbul pada pemakaian KB IUD yaitu rasa nyeri
saat pemasangan dan setelah pemasangan, menorargi dan spotting dengan insersi
IUD

menyebabkan

tingginya

konsentrasi

plaminogen

aktifator

dalam

endomentrium dan enzim-enzim ini menyebabkan bertambahnya aktifitas


fribrinolitik serta menghalangi pembekuan darah akibatnya timbul perdarahan
yang lebih banyak. Infeksi mekanisme timbulnya infeksi yaitu masuknya kumankuman yang biasanya hidup didalam traktus genitalis bagian bawah di dalam
uterus pada insersi, dengan adanya IUD maka dimungkinkan bertambahnya
volume dan lama perdarahan haid. Darah merupakan media subur untuk
berkembangnya bakteri, dan naiknya kuman-kuman melalui benang ekor IUD ke
dalam kavum uteri pencegahan timbulnya infeksi dapat dilakukan dengan
skrening calon akseptor dengan baik dan pemberian antibiotik profilaksis pada
saat infeksi antisepsis
Komplikasi yang dapat menyertai pemakaian IUD adalah Pelvik
Inflamatori Disease (PID) merupakan kelanjutan dari infeksi yang tidak ditangani
dengan baik. Tanda dan gejala adalah dismenorhoe, nyeri uterus atau serviks saat
dilakukan pemeriksaan dalam, nyeri tekan pada

perut bagian bawah

biasa

terjadi pembengkakan daerah tuba fallopi atau ovarium dan suhu badan mencapai
38C atau lebih.