Anda di halaman 1dari 3

KLINDAMISIN

Klindamisin merupakan derivat dari asam amino trans-L-4-n-propylhygrinic


acid, yang mirip dengan linkomisin. Perbedaannya hanya pada 1 gugus hidroksil pada
linkomisin yang diganti dengan atom Cl, struktur formula klindamisin terlihat pada
gamabr xxx (Brunton, 2006)

Gambar xxx. Klindamisin


Mekanisme Kerja
Mekanisme kerja klindamisin sama dengan eritromisin yaitu mengikat secara
ireversibel pada tempat sub unit 50S ribosom bakteri sehingga menghambat langkah
translokasi sintesis protein. Meskipun klindamisin, eritromisin, dan kloramfenikol
tidak terkait secara struktural, mereka bertindak di daerah yang berdekatan, yang
mengikat ribosom oleh salah satu antibiotik ini dimungkinkan menghambat interaksi
yang lain. Tidak ada indikasi klinis untuk penggunaan bersama antibiotik-antibiotik
ini. Resistensi makrolida karena metilasi ribosom oleh enzim erm-encoded juga dapat
menghasilkan resistensi terhadap klindamisin. Namun, karena klindamisin tidak
menginduksi methylase, terjadi resistansi silang hanya jika enzim diproduksi secara
konstitutif. Klindamisin bukan substrat untuk pompa efluks makrolida sehingga jenis
yang resisten terhadap makrolida oleh mekanisme ini rentan terhadap klindamisin.
Metabolisme yang berubah-ubah kadang dapat menyebabkan resistensi klindamisin
(Brunton, 2006).

Penggunaan klindamisin
Klindamisin memiliki aktivitas yang signifikan melawan bermacam bakteri Gram positif dan
Gram negatif anaerob serta mikroorganisme fakultatif ataupun aerob yaitu Bacteriodes,
Prevotella,

Porphyromonas,

Veilonella,

Peptostreptococcus,

Microaerophilic,

Streptococci, Actinomyces, Eubacteria, Clostridium (except Clostridium difficile), dan


Propionibacteria.

Bakteri

Gram

positif

yang

rentan

terhadap

klindamisin

termasuk Streptococcus pneumoniae,VGS, Corynebacterium, Streptococci grup A, B,


C, dan G, dan Streptococcus bovis yang memiliki variabel kerentanan terhadap Staphylococci.
juga rentan terhadap klindamisin yaitu Leptototrichia buccalis, Bacillus cereus dan subtilis,
Capnocytophaga canimorsus, dan beberapa -lactamase yang memproduksi Staphylococci
(Yagiela, 2004).
Indikasi
Indikasi klindamisin terdapat pada pengobatan dari infeksi serius yang disebabkan
olehbakteri anaerob, juga terhadap infeksi oleh Streptococci, Pneumococci, dan
Staphylococci. Klindamisin biasa diberikan pada pasien yang tidak dapat mengonsumsi penicillin
atau alergi terhadap penicillin. Karena resiko terhadap colitis, maka sebelum memilih klindamisin ini
perlu dipertimbangkan asal penyakit dan alternatif obat lain yang sesuai (Yagiela, 2004).
Klindamisin bisa juga digunakan pada dental infections dan periodontitis (FDA offlabeluse). Untuk mengurangi pengembangan bakteri yang tahan terhadap obat dan memelihara
keefektifan dari klindamisin dan antibakterial lainnya, klindamisin harus digunakan hanyauntuk
mengobati atau mencegah infeksi yang disebabkan oleh bakteri. Jika pemeliharaan daninformasi
tentang kerentahan ada, harus dipertimbangkan pemilihan atau pemodifikasian terapi antibiotik.
Keterbatasan data tersebut, dapat menyebabkan lokal epidemiologi dan pola kerentanan akan
menyumbang pilihan empiris dari terapi (Yagiela, 2004).
Interaksi Obat
Klindamisin bereaksi secara sinergis dengan nondepolarizng obat penghambat
neuromuscular dalam menghambat neurotransmitter pada otot skeletal. Absorpsi klindamisin secara
oral dilambangkan dengan obat antidiarrheal kaolin-pectin (Yagiela, 2004).

Kontraindikasi
Klindamisin tidak diberikan pada pasien Crohns disease, pseudomembranous enterocolitis,
atau ulcerative colitis (Weinberg, 2008).
Efek Samping
Terdapat sedikit efek samping yang merugikan berhubungan dengan klindamisin termasuk
rasa mual dan muntah, nyeri pada abdomen, esophagitis, glossitis, stomatitis, alergi, peningkatan
reversible pada tingkat transaminase serum, reversible myelosuppresion, rasa metal, maculopapular
rash (3%-10%), dan diarrhea (2%-20%, rata-rata 8%). Dosis intravena yang tinggipada klindamisin
dapat menghasilkan pemblokiran neuromuscular yang mirip denganaminoglycosides, tetracyclin,
dan polymixin (Yagiela, 2004).
Perhatian utama pada klindamisin terletak pada isinya yang memiliki kecenderungan untuk
mempengaruhi antibitic-induced diarrhea dan colitis, khususnya pada Pseudomembranous
colitis, berdasarkan laporan dari insiden setinggi 10%. Sekarang ini sudah jelas bahwa terdapat
asosiasi klindamisin dengan penyakit colonic ini pada pasien yang tidak dirawat di rumah sakit
sangat sedikit dibandingkan laporan yang sebelumnya (Yagiela, 2004).

Sumber :
Brunton, Lazo, Parker. Goodman&Gilmans The Pharmacological Basis of
Therapeutics. 11th edition. McGraw-Hill. 2006: 1188.
Trummel CL. Adrenal corticosteroids.In : Yagiela JA, Dowd FJ, Neidle EA.
Pharmacology and therapeutics for dentistry. 5th ed. New Delhi: Mosby
Elsevier,2004: 565-72.
Weinberg, M.A., C. Westphal, and J.B. Fine. 2008. Oral Pharmacology for Dental
Hygienist. New Jersey: Pearson Education Inc