Anda di halaman 1dari 9

TUGAS MATA KULIAH

Utilisasi dan Pelayanan Alat Medis


Gunting Metzenbaum

Osmalina Nur Rahma


NPM 1306501892

TEKNOLOGI BIOMEDIS
FAKULTAS PASCASARJANA UNIVERSITAS INDONESIA
2015

1.1. Pendahuluan
Gunting bedah merupakan alat bedah yang lebih dipilih dibanding scalpel atau pisau
dalam memotong jaringan yang tipis, karena gunting dapat memotong obyek dengan presisi
tinggi. Sebagai contoh dalam memotong selembar kertas menggunakan pisau yang tajam
dibanding dengan menggunakan gunting. Saat memotong dengan menggunakan pisau tajam,
kertas harus dipegang dengan kuat serta lebih sulit untuk membuat potongan yang presisi.
Apabila menggunakan gunting, kertas lebih mudah dipotong karena pisau dari gunting
otomatis memegang kertas sehingga mampu menghasilkan potongan yang presisi (Mahvash,
et al., 2008).
Jenis gunting bedah terdiri dari bermacam-macan bentuk dan ukuran disesuaikan
dengan fungsinya. Berdasarkan bentuk pisaunya, gunting bedah dibedakan menjadi straight
scissors dan curved scissors. Straight scissors digunakan ketika potongan lurus dibutuhkan
seperti pada jahitan, saraf dan pembuluh darah serta untuk memperlebar area dan sebagai
probe. Ujung pisau gunting bedah berbentuk runcing-runcing, runcing-tumpul dan tumpultumpul (Kapczynski, 1997). Salah satu contoh gunting bedah adalah gunting Metzenbaum,
yang didesain oleh ahli bedah Amerika bernama Dr. Myron Firth Metzenbaum (Angiolino, et
al., 2011).
Perbedaan bentuk, ukuran serta material gunting bedah tentunya mempengaruhi fungsi
serta besarnya gaya yang dibutuhkan saat menggunakan gunting. Makalah ini akan
membahas lebih lanjut mengenai gunting Metzenbaum dari sisi biomekanika dan material.
1.2. Isi
1.1.1. Desain Gunting Metzenbaum
Gunting Metzenbaum yang didesain oleh Dr. Myron Firth Metzenbaum memiliki
fungsi yang spesifik yaitu untuk memotong jaringan halus. Gunting Metzenbaum tersedia

dalam bentuk straight dan curved, namun bentuk curved lebih banyak dipilih dan disukai
karena menyediakan pandangan yang lebih jelas saat memotong. (Angiolino, et al., 2011)

Gambar 1 Komponen gunting bedah


Sumber : (ASTM, 2002)
Secara umum, gunting Metzenbaum tediri dari : pisau (blades), ujung pisau, setangah
bagian atas dan setengah bagian bawah gunting, joint, gagang (shanks) dan lubang jari (finger
rings) (ASTM, 2002). Joint atau sambungan gunting Metzenbaum berbentuk screw sehingga
membuat sudut gunting dapat terbuka lebih lebar dan lebih fleskibel. Ujung pisau gunting
Metzenbaum berbentuk runcing-tumpul, sehingga tidak melukai organ atau jaringan di
bawahnya saat memotong (Angiolino, et al., 2011).

1.1.2. Biomekanika Gunting Metzenbaum


Dalam posisi setimbang (free body diagram) seperti Gambar 2, gaya yang ada di
dalamnya terhadap sumbu x, y dan z serta titik oz dan titik oy adalah sebagai berikut :
(Greenish, Hayward, Chial, Okamura, & Steven, 2002)

Gambar 2 Gunting pada posisi seimbang dan diasumsikan simetris (Greenish, Hayward,
Chial, Okamura, & Steven, 2002)
(1)
(2)
(3)
(4)
(5)
adalah besarnya gaya yang dibutuhkan ahli bedah untuk menutup gunting saat
memotong, sedangkan

merupakan besarnya gaya yang dibutuhkan ahli bedah untuk

mendorong gunting ke depan. Berdasarkan persamaan kesetimbangan tersebut dan dengan


asumsi bahwa sudut gunting kurang dari 30 serta mengabaikan gaya

pada joint, maka

persamaannya dapat disederhanakan menjadi:


(6)

Gambar 3 Posisi set up untuk kalibrasi gunting


Sumber: (Greenish, Hayward, Chial, Okamura, & Steven, 2002)
Persamaan (6) digunakan untuk mengubah besaran strain gauge menjadi gaya potong
pada Gambar 3. Konversi tersebut menghasilkan persamaan (7), dimana k adalah
konstanta karakteristik alat yang bergantung pada bahan atau material pembentuk.
(7)
Persamaan (7) menunjukkan bahwa semakin pendek panjang pisau (
semakin besar gaya yang dibutuhkan untuk menutup gunting (

) maka akan

. Hal ini dibuktikan dalam

penelitian Greenish,et al. (2002) yang memotong jaringan hati dengan menggunakan 3
macam gunting bedah sebagai perbandingan, yaitu: gunting Mayo, gunting Metzenbaum dan
gunting iris (Gambar 4).

Gambar 4 Gunting Mayo, gunting Metzenbaum dan gunting Iris


Sumber: (Greenish, Hayward, Chial, Okamura, & Steven, 2002)

Penelitian Greenish,et al. (2002) menunjukkan bahwa gunting Iris membutuhkan gaya
yang lebih besar dibanding menggunakan gunting Mayo dan Metzenbaum karena panjang
pisau gunting Iris setengah dari panjang pisau gunting Mayo dan Metzenbaum sehingga
membutuhkan gaya 2 atau 3 kali lebih besar. Selain itu terdapat faktor k yang mempengaruhi.
Ujung pisau gunting Metzembaum memiliki dua bentuk, yaitu ujung bulat (bagian
bawah) dan ujung runcing (bagian atas). Ujung yang bulat menghindari melukai atau
menembus jaringan lain saat melakukan diseksi, sedangkan ujung runcing mempermudah
gunting saat menembus jaringan. Sebagaimana rumus gaya (F = P/A), semakin kecil luas
permukaan maka semakin besar tekanan yang dihasilkan dengan gaya yang tetap.
1.1.3. Material Gunting Metzenbaum
Gunting terbuat dari bahan martensit (metal magnetis) karena metal berisfat kuat dan
awet/tahan lama. Menurut standar ASTM (American Standart Test Material) gunting bedah
termasuk tipe 420 dan gunting Metzenbaum termasuk tipe 420A (ASTM, 2002). Bahan yang
paling banyak terkandung dalam gunting Metzenbaum atau hampir semua alat bedah adalah
chromium. Chromium membentuk lapisan tipis di permukaan yang disebut passive layer
untuk mencegah korosi, hal inilah yang menyebabkannya menjadi stainless steel.

Gambar 5 Jenis-jenis metal yang terkandung di dalam stainless steel gunting


Sumber: (ASTM, 2002)
Tipe 420A (gunting Metzenbaum) cenderung memiliki kandungan karbon yang lebih
sedikit dibanding tipe 420 lain sehingga memiliki berat yang lebih ringan. Hal ini disebabkan

karena fungsi gunting Metzenbaum sebagai gunting jaringan yang sering digunakan saat
operasi, maka dibutuhkan berat yang ringan agar ahli bedah tidak cepat lelah saat memotong
jaringan dalam waktu yang lama.
Selain bahan chromium, carbon, mangan, phosfor, sulfur dan silikon, gunting bedah
biasanya ditambah dengan tungsten carbide (TC) di ujung pisaunya. Tungsten carbide (TC)
adalah campuran dari tungsten dan carbon yang memiliki kekuatan melebihi steel/baja
sehingga dapat mempertajam dan memperkuat gunting saat memotong jaringan. TC yang
disolder di ujung pisau gunting dapat diganti saat telah tumpul, sedangkan TC yang dilas di
ujung pisau gunting tidak dapat dilepas atau diganti.

Gambar 6 Gunting dengan tngsten carbide


Sebelum digunakan, gunting atau seluruh alat bedah harus lolos uji berdasarkan standar
ASTM, diantaranya adalah: uji hardness, uji resistansi terhadap korosi, uji resistansi terhadap
air yang dipanasi pada suhu tertentu, uji memotong bahan, dan uji visual. Standar kekerasan
atau hardness untuk gunting bedah adalah sekitar 50-58 dengan satuan HRC (Rockwell

Hardness) dan sekitar 40-48 HRC bila tanpa tambahan tungsten carbide. Uji memotong
bahan untuk gunting Metzenbaum adalah bahan coarse flannel cotton dengan tebal
0,025/0.035 in. Uji visual meliputi bagian finger rings, joint dan cutting edge untuk
memastikan bagian tersebut berfungsi dengan baik, tanpa cacat serta permukaannya rata dan
terlapisi dengan baik. (ASTM, 2002)
Jenis lapisan/polish yang biasa digunakan untuk gunting bedah adalah Satin or Patina
Finish dan Dull or Matte finish. Satin or Patina Finish, mengurangi pantulan cahaya atau
silau yang dapat mengganggu penglihatan, namun lebih mudah terkena noda. Dull or Matte
finish, dicapai dengan teknik sandblasting menggunakan manik-manik kaca atau silikon.
(Kapczynski, 1997)
1.3. Kesimpulan
Desain dan pembuatan suatu alat bedah, misalnya gunting Metzenbaum membutuhkan
perhitungkan dalam aspek biomekanik, biomaterial dan fisika yang disesuaikan dengan
fungsinya. Perhitungan ketiga aspek tersebut berbeda-beda tiap jenis alat, bergantung pada
bentuk, ukuran dan kebutuhan saat operasi. Sebelum suatu gunting atau alat bedah
digunakan, perlu melewati tahap uji sesuai standar ASTM untuk memastikan penggunaannya
aman bagi ahli bedah dan juga pasien sehingga dapat menjalankan fungsinya dengan optimal.
1.4. Referensi
Angiolino, E., Demydov, V., Igama, J., Ostrow, E., Schmitz, P., & Sullivan, K. (2011).
gSource: Orthopedic resource for surgical instruments. Diambil kembali dari
gSource: http://www.apiarymedical.com/pdf/gSource-reSource06.pdf
ASTM. (2002). Standard Specification for Stainless Steels for Surgical Instruments
Designation: F 899 - 02. Diambil kembali dari American Standart Testing Material
International: www.astm.org

ASTM. (2002). Standard Specification for Surgical Scissors-Insertes and Non-Inserted


Blades Designation: F 1078 87. Diambil kembali dari American Standart Testing
MaterialInternational: www.astm.org
ASTM. (2002). Standard Specification for Surgical Scissors-Insertes and Non-Inserted
Blades Designation: F 1079 87. Diambil kembali dari American Standart Testing
Material International: www.astm.org
Greenish, S., Hayward, V., Chial, V., Okamura, A., & Steven, T. (2002). Measurement,
Analysis, and Display of Haptic Signals During Surgical Cutting. Presence:
Teleoperators and Virtual Environments, 626-651.
Kapczynski, H. (1997). SURGICAL INSTRUMENTS 101: An Introduction to KMedic
Certified Instruments. Diambil kembali dari KMedic: www.kmedic.com
Mahvash, M., Voo, L., Kim, D., Jeung, K., Wainer, J., & Okamura, A. M. (2008). Modeling
the Forces of Cutting with Scissors. IEEE Transactions on Biomedical Engineering,
55, 848-856.