Anda di halaman 1dari 16

TUGAS BAHAN KONSTRUKSI KIMIA

Nama : Indra Bagaskoro Putro


NIM : 03031381320016
Kelas : B

JURUSAN TEKNIK KIMIA


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS SRIWIJAYA

BAB I
1. Kreteria pemilihan bahan konstruksi kimia
A . B I AYA
Aspek biaya menjadi salah satu yang dipertimbangkan dalam memilih bahan
konstruksi.Karena seorang sarjana teknik kimia tidak lepas dengan yang namanya
perhitungan ekonomI. Sehingga didapat bahan konstruksi yang bagus dan murah. Yang
termasuk hal biaya dalam pemilihan bahan konstruksi adalah
a. B i a y a b a n y a k n y a b a h a n m e n t a h y a n g d i g u n a k a n u n t u k
m e n g h a s i l k a n p r o d u k a t a u b i a y a kuantitas
b. Biaya produksi, termasuk diantaranya biaya kemampuan di las, dibentuk dan diproses
secara mesin maupun tradisional.
c. u m u r p e l a y a n a n y a n g d i h a r a p k a n
Karena tujuannya memperbaiki atau mengubah sifat dan karakteristik tertentu dari beton
atau mortar yang akan dihasilkan, maka kecenderungan perubahan komposisi
dalam berat dan volume tidak terasa secara langsung dibandingkan dengan
komposisi alat konstruksi tanpa bahan tambahan peralatan dengan biaya pabrikasi
rendah, dan dimana kegagalan prematur tidak akan menyebabkan serius bahaya.
Misalnya, baja karbon dapat ditentukan untuk limbah cair baris di tempat stainless steel,
menerima kebutuhan kemungkinan untuk penggantian pipa Tebal dinding akan dipantau in
situ sering untuk menentukan kapan pengganti dibutuhkan.
B. Ketersediaan Bahan
Adapun yang dimaksud ketersediaan bahan disini adalah tersedianya
peralatan untuk pabrikasi, dan tersedianya bahan baku dilingkungan sekitar yang cukup
dekat, sehingga tidak perlu mendatangkan bahan dari tempat lain.
C. Sifat- Sifat Umum Bahan
1. Sifat Mekanik Bahan
2. Sifat thermal bahan
3. Sifat elektrik bahan

1. Sifat- sifat umum bahan

A, Sifat mekanik bahan


Sifat mekanik adalah salah satu sifat yang terpenting, karena sifat mekanik
menyatakan kemampuan suatu bahan (seperti komponen yang terbuat dari bahan tersebut)
untuk menerima beban / gaya / energi tanpa menimbulkan kerusakan pada bahan / komponen
tersebut. Seringkali bila suatu bahan mempunya sifat mekanik yang baik tetapi kurang baik
pada sifat yang lain, maka diambil langkah untuk mengatasi kekurangan tersebut dengan
berbagai cara yang diperlukan. Misalkan saja baja yang sering digunakan sebagai bahan dasar
pemilihan bahan. Baja mempunyai sifat mekanik yang cukup baik, dimana baja memenuhi
syarat untuk suatu pemakaian tetapi mempunyai sifat tahan terhadap korosi yang kurang baik.
Untuk mengatasi hal itu seringkali dilakukan sifat yang kurang tahan terhadap korosi tersebut
diperbaiki dengan cara pengecatan atau galvanising, dan cara lainnya. Jadi tidak harus
mencari bahan lain seperti selain kuat juga harus tahan korosi, tetapi cukup mencari bahan
yang syarat pada sifat mekaniknya sudah terpenuhi namun sifat kimianya kurang terpenuhi.
Berikut adalah beberapa sifat mekanik yang penting untuk diketahui :

Kekuatan (strength), menyatakan kemampuan bahan untuk menerima tegangan tanpa

menyebabkan bahan menjadi patah. Kekuatan ini ada beberapa macam, tergantung pada jenis
beban yang bekerja atau mengenainya. Contoh kekuatan tarik, kekuatan geser, kekuatan
tekan, kekuatan torsi, dan kekuatan lengkung.

Kekerasan (hardness), dapat didefenisikan sebagai kemampuan suatu bahan untuk tahan
terhadap penggoresan, pengikisan (abrasi), identasi atau penetrasi. Sifat ini berkaitan dengan

sifat tahan aus (wear resistance). Kekerasan juga mempunya korelasi dengan kekuatan.
Kekenyalan (elasticity), menyatakan kemampuan bahan untuk menerima tegangan tanpa
mengakibatkan terjadinya perubahan bentuk yang permanen setelah tegangan dihilangkan.
Bila suatu benda mengalami tegangan maka akan terjadi perubahan bentuk. Apabila tegangan
yang bekerja besarnya tidak melewati batas tertentu maka perubahan bentuk yang terjadi
hanya bersifat sementara, perubahan bentuk tersebut akan hilang bersama dengan hilangnya
tegangan yang diberikan. Akan tetapi apabila tegangan yang bekerja telah melewati batas
kemampuannya, maka sebagian dari perubahan bentuk tersebut akan tetap ada walaupun
tegangan yang diberikan telah dihilangkan. Kekenyalan juga menyatakan seberapa banyak
perubahan bentuk elastis yang dapat terjadi sebelum perubahan bentuk yang permanen mulai
terjadi, atau dapat dikatakan dengan kata lain adalah kekenyalan menyatakan kemampuan
bahan untuk kembali ke bentuk dan ukuran semula setelah menerima bebang yang
menimbulkan deformasi.

Kekakuan (stiffness), menyatakan kemampuan bahan untuk menerima tegangan/beban tanpa


mengakibatkan terjadinya perubahan bentuk (deformasi) atau defleksi. Dalam beberapa hal

kekakuan ini lebih penting daripada kekuatan.


Plastisitas (plasticity) menyatakan kemampuan bahan untuk mengalami sejumlah deformasi
plastik (permanen) tanpa mengakibatkan terjadinya kerusakan. Sifat ini sangat diperlukan
bagi bahan yang akan diproses dengan berbagai macam pembentukan seperti forging, rolling,
extruding dan lain sebagainya. Sifat ini juga sering disebut sebagai keuletan (ductility).
Bahan yang mampu mengalami deformasi plastik cukup besar dikatakan sebagai bahan yang
memiliki keuletan tinggi, bahan yang ulet (ductile). Sebaliknya bahan yang tidak
menunjukkan terjadinya deformasi plastik dikatakan sebagai bahan yang mempunyai

keuletan rendah atau getas (brittle).


Ketangguhan (toughness), menyatakan kemampuan bahan untuk menyerap sejumlah energi
tanpa mengakibatkan terjadinya kerusakan. Juga dapat dikatakan sebagai ukuran banyaknya
energi yang diperlukan untuk mematahkan suatu benda kerja, pada suatu kondisi tertentu.

Sifat ini dipengaruhi oleh banyak faktor, sehingga sifat ini sulit diukur.
Kelelahan (fatigue), merupakan kecendrungan dari logam untuk patah bila menerima
tegangan berulang ulang (cyclic stress) yang besarnya masih jauh dibawah batas kekuatan
elastiknya. Sebagian besar dari kerusakan yang terjadi pada komponen mesin disebabkan
oleh kelelahan ini. Karenanya kelelahan merupakan sifat yang sangat penting, tetapi sifat ini
juga sulit diukur karena sangat banyak faktor yang mempengaruhinya.

Creep, atau bahasa lainnya merambat atau merangkak, merupakan kecenderungan

suatu logam untuk mengalami deformasi plastik yang besarnya berubah sesuai dengan fungsi
waktu, pada saat bahan atau komponen tersebut tadi menerima beban yang besarnya relatif
tetap.
Beberapa sifat mekanik diatas juga dapat dibedakan menurut cara pembebanannya, yaitu :

Sifat mekanik statis, yaitu sifat mekanik bahan terhadap beban statis yang besarnya tetap atau
bebannya mengalami perubahan yang lambat.

Sifat mekanik dinamis, yaitu sifat mekanik bahan terhadap beban dinamis yang besar

berubah ubah, atau dapat juga dikatakan mengejut.


B. Sifat Thermal Bahan
Sifat termal bahan adalah perubahan sifat yang berkaitan dengan suhu. Sifat termal ini
dipengaruhi oleh beberapa faKtor, yaitu :

1. Kandungan uap air


Apabila suatu benda berpori diisi air, maka akan berpengaruh terhadap konduktifitas termal.
Konduktifitas termal yang rendah pada bahan insulasi adalah selaras dengan kandungan
udara dalam bahan tersebut
2. Suhu
Pengaruh suhu terhadap konduktifitas termal suatu bahan adalah kecil, namun secara umum
dapat dikatakan bahwa konduktifitas termal akan meningkat apabila suhu meningkat.
3. Kepadatan dan porositas
Konduktifitas termal berbeda pengaruh terhadap kepadatan, apabila pori-pori bahan semakin
banyak maka konduktifitas termal rendah. Perbedaan konduktifitas termal bahan dengan
kepadatan yang sama akan tergantung pada perbedaan struktur yang meliputi ukuran,
distribusi, hubungan pori / lubang.
Sifat termal bahan dikaitkan dengan perpindahan kalor. Perpindahan kalor ada 2 jenis, yaitu
1. Keadaan tetap (steady heat flow)
2. Keadaan berubah (transien heat flow)
C. Sifat Elektrik Bahan
Berdasarkan sifat listriknya, material/bahan dikelompokkan menjadi 3 sebagai berikut :
1. Konduktif , jika resistansinya < 105 ohm
Disini elektron mudah bergerak atau mengalir, jadi netralisasi dapat dilakukan dengan mudah
dengan cara grounding. Contoh : logam dan tubuh manusia
2. Insulatif , jika resistansinya > 1011 ohm
Elektron bisa dikatakan tak dapat bergerak, jadi netralisasi hanya mungkin dilakukan dengan
ionisasi.
Contoh : plastik dan karet
3. Statik disipatif , resistansi di antara 105 sampai 1011 ohm
Disini, elektron dapat bergerak tetapi lambat, jadi perlu diketahui parameter decay time.
Untuk mengetahui berapa cepat grounding dapat menetralisasi muatan. Pengukuran
tribocharging juga perlu dilakukan untuk mengetahui apakah bahan tersebut anti-statik atau
tidak. Umumnya bahan yang masuk kategori statik disipatif adalah bahan buatan, artinya
memang khusus dibuat untuk mempunyai resistansi tertentu

Untuk mengukur nilai resistansi bahan, kita gunakan Mega Ohmmeter (atau Surface
Resistance Meter) ini semacam multimeter biasa tetapi dengan jangkauan pengukuran
sampai 100 G Ohm atau lebih. Untuk hasil yang lebih akurat, kita perlu menggunakan
Charged Plate Monitor.
Jadi, jika adanya muatan listrik statik menimbulkan masalah, maka salah satu solusinya
adalah dengan menetralkan mutan listrik bersangkutan. Cara efektif untuk menetralkan
muatan listrik dilakukan berdasarkan sifat listrik material/bahan. Pada dasarnya netralisasi
muatan dapat dilakukan dua cara, yaitu grounding dan ionisasi dengan ionizer.
3. A. Material teknik
Bahan material dapat dibagi dalam tiga golongan besar :
a. logam
b. polimer atau plastik
c. keramik.
B. sifat-sifat bahan
Logam
Logam memiliki ciri-ciri umum sebagai berikut :

Daya hantar panas tinggi

Daya hantar listrik tinggi

Kedap cahaya
Sifat kedap cahaya dari logam disebabkan oleh ketanggapan elektron yang
terdislokasi terhadap getaran elektromagnet pada frekuensi yang tinggi

Dapat dipoles sampai mengkilap

Dapat diubah bentuknya sesuai fungsi dan kegunaan


Logam memiliki sifat mudah dibentuk karena didalam logam terdapat elektron yang
terdislokasi sehingga dapat dengan mudah memindahkan muatan listrik dan energi
termal.

Modulus logam sangat besar dan tinggi


Logam memiliki sifat modulus yang tinggi, menyebabkan logam memiliki ketahanan
yang tinggi pula sehingga sukar untuk dibengkokkan.
Dari beberapa ciri umum yang dimiliki logam diatas sekiranya kita sudah dapat
mereka-reka untuk keperluan dibagian mana kita pergunakan logam.

Polimer atau Plastik


. Sedikit memberikan penjelasan polimer itu berasal dari kata Poly yang berarti banyak
dengan mer yang saya secara sederhana menafsirkan sebagai singkatan dari monomer yang
berarti 1 mer. Maka dapat kita simpulkan bahwa polimer merupakan kumpulan dari
monomer-monomer yang menjadi satu sehingga memiliki sifatnya sendiri. Polimer yang
sering kita jumpai adalah plastik itu lah mengapa polimer diidentikkan dengan polimer,
padahal sesungguhnya masih banyak contoh polimer yang terdapat dikeseharian kita.
Polimer atau plastik memiliki keunggulan sebagai berikut :

Berat jenis kecil

Isolator terhadap panas dan listrik

Mudah diberi warna

Tahan terhadap larutan kimia

Tidak banyak memantulkan cahaya dan cendrung tembus cahaya

Reaksi suatu polimer disebut dengan reaksi polimerisasi. Reaksi polimerisasi ini dapat
berlangsung secara adisi atau pun kondensasi. Sebagai contoh dari polimer selain plastik
yang sudah lazim digunakan adalah Poliester resin yang dapat digunakan sebagai bahan
pembuat kotak pelindung mesin. Polivinil klorida (PVC) dapat digunakan sebagai bahan
pembuat pipa-pipa yang tahan terhadap bahan kimia.
Keramik
Keramik adalah campuran yang terdiri dari unsur logam dan unsur yang bukan logam,
memiliki sifat umum sebagai berikut :

Keras dan rapuh

Tahan terhadap lingkungan suhu tinggi dan lingkungan yang lebih berat
persyaratannya.

Tahan terhadap perubahan kimia.

Mempunyai titik cair yang tinggi dibandingkan dengan logam atau organik.

C. Beberapa material penting lainnya


BAJA
Dibuat dari bijih besi yang direduksi dengan kokas, udara panas, reduksi berjalan
dalam fasa cair, yang dilakukan dalam tanur tinggi, mengandung C, P, S, Mn, Si yang punya
pengaruh pada sifat mekanis baja.
Pembagian baja atas dasar kadar C sbb :
- baja tuang : 0,15 % - 0,35 %
- baja konstruksi : 0,0 % - 0,30 %
- baja mesin : 0,30 % - 0,60 %
Pembagian besi tuang secara sederhana sbb :
- besi tuang : 2,4 % - 4 % kadar C
- besi tuang abu-abu, mengandung grafit pengisi celah atom
- besi tuang putih (sementit)
Pembagian baja paduan (alloy) atau stainlessteel :
- baja paduan rendah
- baja paduan tinggi yang mengandung Cr tinggi,

bila dioksidasi menjadi Cr2O3 yang menutupi permukaan & menghalangi oksidasi
selanjutnya.

BAB II
1. Cacat Volume
Cacat ini mempengaruhi logam secara makroskopik, cacat volume ini umumnya
terjadi akibat proses-proses yang terjadi selama manufacturing. Pada cacat jenis ini
kerugiannya jauh lebih banyak dari pada keuntungannya. Orang tentu saja ingin produk
mereka bebas dri cacat volume namun, dalam produksi masal ini sulit sekali terpenuhi karena
proses ideal akan menaikkan ongkos produksi.
Beberapa jenis cacat volume ini adalah sebagai berikut :
a. Renik (voids)
Cacat ini berupa rongga-rongga kecil dalam material yang mungkin
disebabkan oleh sejumlah mekanisme, seperti jebakan udara, pelepasan gas
selamapenuangan logam kedalam cetakan atau adanya butir-butir embun yang
menguap begitu bersentuhan dengan logam cair yang panas. Renik juga dapat
ditimbulkan akibat pengerutan selama pembekuan.
b. Retak (crack)
Retak beawal dari sejak percetakan, biasanya akibat tidak meratanya laju
pendinginan dan timbulnya tegangan-tegagan didalmcetakan. Retak juga dapat terjadi
akibat penempaan serta tidak jarang dijumpai pada dan didekat las-lasan.
c. Inklusi
Inklusi adalah terjebaknya partikel-patrikel material asing dalam padatan yang
tentu saja bukan bagian dari struktur kisi Kristal logam itu sendiri. Unsur-unsur yang
terlibat dalam inklusi mungkin membeku lebih cepat sehingga terperangkap srbagai
pertikel-patrikel, individu didalam logam ketika yang belakang ini akhirnya
membeku. Pada kasus lain, unsu-unsur lain itu mungkin membeku belakangan
sesudah logamtuan rumah membeku, dan dalam hal ini inklusi terperangkap dalam
bata-batas butir.

2. a) Skrep Proses

Dibagi menjadi
Memo Depan: Ini adalah apa yang tersisa setelah produk logam primer dijual dan dihasilkan
di pabrik peleburan atau pemurnian.
Memo baru atau prompt: Jenis memo dengan mudah dapat diproses ulang untuk digunakan
dalam manufaktur logam utama, pada dasarnya sisa-sisa proses manufaktur umum.

b) Skrep Bekas
Memo lama: Ini adalah jenis daur ulang yang kita paling akrab dengan kita. Memo Lama
dipulihkan dari barang-barang konsumsi yang tidak lagi digunakan. Hal ini berpotensi dapat
mencakup dibuang, digunakan, atau usang produk. Juga dapat mencakup produk logam
dianggap usang oleh kemajuan teknologi atau overruns produksi.
3. Jenis-jenis Ikatan Sekunder
Ikatan ini terbentuk karena adanya pengaruh dipol-dipol atom atau molekul. Atom
yang salah satu ujungnya bermuatan negatif dan ujung yang lain brmuatan positif maka akan
menghasilkan suatu dipol. Terdapat dua macam dipol pad interaksi antar dipol induksi dan
molekul polar. Ikatan sekunder cenderung lebih lemah disbanding ikatan primer.
a. Induksi Dipol (Ikatan Dwikutub induksi)
Induksi dipol terjadi karena adanya gerakan elektron disalah satu ujung atom kearah luar
sehingga mengakibatkan bentuk atom tak lagi seperti semula. Dalam waktu puluhan detik
kejadian ini dapat menimbulkan dipol (dwikutub) listrik yang kecil. Sehingga terbentuklah
dua pusat muatan, yaitu pusat muatan positif dan pusat muatan negatif. Apabila hal ini terus
terjadi maka akan mengakibatkan molekul atau atom disekitarnya akan terpengaruh, dan
menimbulkan dwipol pada atom atau molekul tersebut, yang disebabkan karena medan listrik
yang lemah tadi.

Ikatan dipol (dwikutub)


Peranan Gaya Dipol-dipol
Sangat penting untuk disadari bahwa gaya tarik dipol-dipol merupakan efek tambahan
dari efek utama dipol imbas. Ha ini seperti ditunjukkan oleh perbandingan sifat-sifat fisik
senyawa-senyawa HCl, HBr, dan HI. Perbedaan skala elektronegativitas antara kedua atom
dalam masing-masing senyawa tersebut secara berurutan semakin rendah dengan naiknya
nomor atom, yaitu 1,0 untuk HCl, 0,8 untuk HBr, dan 0,5 untuk HI. Hal ini berarti bahwa

gaya tarik dipol-dipol antara molekul-molekul tetangga dalam masing-masing senyawa


tersebut juga akan semakin rendah. Namun demikian, kecenderungan data titik didih maupun
titik leleh ketiga senyawa tersebut justru berlawanan yaitu semakin tinggi. Kenyataan ini
menyarankan bahwa gaya tarik dipol-dipol bukanlah merupakan faktor utama penentu
besarnya titik leleh maupun titik didih suatu senyawa, melainkan gaya tarik dipol imbas lebih
dominan.
b. Molekul Polar
Molekul polar merupakan molekul yang muatan positif dan muatan negatif pada
strukturnya terdapat pada tempat yang berbeda, sehingga molekul tersebut memiliki dua buah
kutub dengan muatan yang berbeda, yang dikenal dengan dipol. Oleh karena itu molekul
tersebut berprilaku seperti magnet yang memiliki kutub utara dan kutub selatan. Ikatan pada
dipol dapat digambarkan dengan anak panah dimana ujung anak panah menyatakan kutub
negatif dan pangkalnya menyatakan kutub positif.
Ukuran kekuatan dipol dalam suatu molekul disebut dengan moment dipol. moment
dipol
merupakan
jumlah vektor dipol-dipol individual dalam suatu molekul. Kekuatan moment dipol
bergantung
pada
besarnya muatan listrik, jarak diantara muatan-muatan tersebut dan bagaimana muatanmuatan itu tersusun.
Molekul polar terbentuk ketika suatu atom dengan nilai elektronegatif yang besar
berikatan dengan atom yang memiliki elektronegatif yang kecil. Dalam hal ini atom yang
elektronegatif menarik pasangan-pasangan elektron ikatan kearahnya dan menjauhi atom
yang lain. Dengan kata lain pasangan-pasangan electron ikatan pada molekul polar tertarik
lebih kuat pada salah satu atom, sehingga elektron-elektron ikatanya cenderung lebih dekat
keatom tersebut. Contoh molekul polar antara lain CH 4, HCl, CHCl2,
dan NH3.
Semakin besar perbedaan elektronegativitas antara atom-atom dalam suatu molekul
maka semakin polar molekul tersebut. Akan tetapi, geometri suatu molekul dapat
mempengaruhi kepolarannya.Sebagai contoh CCl4 merupakan molekul non polar padahal
perbedaan elektronegativitas antara atom C dengan Atom Cl cukup tinggi. Hal ini
dikarenakan geometri molekul ini adalah simetris, sehingga dipol-dipol dalam ikatanikatanya saling meniadakan satu sama lain dan moment dipolnya sama dengan nol.
c. Jembatan Hidrogen
Ikatan hidrogen adalah sebuah interaksi tarik-menarik antara atom yang bersifat
elektronegatif dengan atom hidrogen yang terikat pada atom lain yang juga bersifat
elektronegatif. Jadi, ikatan hidrogen tidak hanya terjadi pada satu molekul, melainkan bisa
antara molekul satu dengan molekul yang lainnya. Ikatan hidrogen selalu melibatkan atom
hidrogen. Inilah gambar ilustrasi ikatan hidrogen:

Sifat Kekuatan Ikatan Hidrogen


Ikatan hidrogen bersifat lebih kuat dibandingkan gaya van der Waals, tetapi lebih lemah
dibandingkan ikatan kovalen maupun ikatan ion.
Pembentukan Ikatan Hidrogen
Ikatan hidrogen sangat dominan dalam kimia air, larutan air, pelarut hidroksilik,
spesies yang mengandung gugus -OH umumnya, dan penting juga dalam sistem biologi
misalnya sebagai penghubung rantai polipetida dalam rantai protein dan pasangan basa dari
asam
nukleat
Apabila atom hidrogen terikat pada atom lain, terutama F, O, N, atau Cl, sedemikian
sehingga ikatan X-H bersifat sangat polar dengan daerah positif pada atom H, maka atom H
ini dapat berinteraksi dengan spesies negatif lain atau spesies kaya elektron membentuk
ikatan hidrogen (X- - H+Y ; HY = ikatan hidrogen). Walaupun detilnya sangat
bervariasi, tetapi umumnya dipercaya bahwa sifat khas gaya elektrostatik yang besar antara
atom H dan Y.
Konsekuensinya, jarak ikatan X-H dengan ikatan hidrogen akan menjadi lebih
panjang, sekalipun tetap sebagai ikatan kovalen tunggal, daripada panjang ikatan normal X-H
tanpa ikatan hidrogen. Demikian juga jarak HY umumnya lebih panjang daripada jarak
ikatan normal H-Y. Dalam hal ikatan hidrogen sangat kuat, jarak XY menjadi sangat
pendek dan panjang ikatan antara X-H dan HY keduanya menjadi pendek dan hampir
sama.
Bukti Adanya Ikatan Hidrogen
Bukti adanya peran ikatan hidrogen yang mana cukup signifikan adalah perbandingan
sifat fisik titik didih abnormal dari senyawa-senyawa NH3, HF, dan H2O. Kekuatan ikatan
hidrogen dalam molekul-molekul secara berurutan adalah H2O > HF > NH3. Penyimpangan
titik didih NH3, HF, dan H2O dalam hubungannya dengan titik didih senyawa-senyawa
kovalen hidrida dari unsur-unsur dalam golongan yang sama menunjukkan peran ikatan
hidrogen yang sangat jelas seperti gambar berikut ini:

Titik didih normal senyawa biner hidrogen golongan p


Dari studi kristalografik dapat diketahui bahwa dalam es setiap atom oksigen
dikelilingi oleh empat atom-atom oksigen yang lain secara tetrahedral dan keempat atomatom hidrogen terletak antara atom-atom oksigen sekalipun tidak tepat di tengahnya. Jadi,
setiap atom O mengikat dua atom H dengan jarak yang sama ~1,01 dan dua atom H yang
lain dengan jarak yang lebih panjang, ~1,75 , sebagai ikatan hidrogen. Jadi, jarak O-O
~2,76 . Struktur es ini terbuka dan distribusi ikatan hidrogen terbentuk secara acak. Jika es
meleleh, maka sebagian ikatan hidrogen terputus sehingga struktur es tidak lagi dapat
dipertahankan dan berakibat naiknya densitas air.

Ikatan Hidrogen pada Spektroskopi


Bukti adanya ikatan hidrogen yang lebih signifikan adalah melalui studi kristalografik
- sinar X, difraksi neutron, demikian juga spekrum infra merah dan Nuclear Magnetic
Resonance (NMR) baik untuk padatan cairan, maupun larutan. Di dalam spektrum
inframerah, untuk senyawa X-H yang mengandung ikatan hidrogen, maka energi vibrasi
- stretching X-H akan menjadi melemah hingga akan muncul pada spektrum dengan
frekuensi yang lebih rendah dan melebar - tumpul.
4. Bilangan Koordinasi
Bilangan koordinasi, efek sterik, isomer cis, isomer geometris,isomer optik, isomer
trans, kompleks
berbilangan
koordinasi
dua, kompleks
berbilangan
koordinasi
empat, kompleks berbilangan koordinasi enam,kompleks berbilangan koordinasi
lima, kompleks berbilangan koordinasi tiga, prisma trigonal, pseudorotasi Berry, senyawa
koordinasi (Ditulis oleh Taro Saito pada 23-11-2009)
Senyawa molekular yang mengandung logam transisi blok d dan ligan disebut
senyawa koordinasi. Bilangan koordinasi ditentukan oleh ukuran atom logam pusat, jumlah

elektron d, efek sterik ligan. Dikenal kompleks dengan bilangan koordinasi antara 2 dan 9.
Khususnya kompleks bilangan koordinasi 4 sampai 6 adalah yang paling stabil secara
elektronik dan secara geometri dan kompleks dengan bilangan koordinasi 4-6 yang paling
banyak dijumpai (Gambar 6.1). Kompleks dengan berbagai bilangan koordinasi
dideskripsikan di bawah ini.

Kompleks berbilangan koordinasi dua


Banyak ion yang kaya elektron d10, misalnya: Cu+, Ag+, dan Au+, membentuk
kompleks linear seperti [Cl-Ag-Cl]- atau [H3N-Au-NH3]-. Kompleks dengan valensi nol
[Pd(PCy3)2] dengan ligan yang sangat meruah trisikloheksilfosfin juga dikenal.
Umumnya, kompleks berkoordinasi 2 dikenal untuk logam transisi akhir.

Kompleks berbilangan koordinasi tiga


Walaupun [Fe{N(SiMe3)3}3] adalah salah satu contoh, komplek dengan bilangan
koordinasi 3 jarang diamati.

Kompleks berbilangan koordinasi empat

Bila empat ligan berkoordinasi pada logam, koordinasi tetrahedral (T d) adalah


geometri yang paling longgar, walaupun sejumlah kompleks bujur sangkar (D 4h) juga
dikenal. [CoBr4]2-, Ni(CO)4, [Cu(py)4]+, [AuCl4]- adalah contoh-contoh kompleks tetrahedral.
Ada beberapa kompleks bujur sangkar dengan ligan identik, seperti [Ni(CN) 4]2-, atau
[PdCl4]2-. Dalam kasus kompleks ligan campuran, sejumlah kompleks bujur sangkar ion d8,
Rh+, Ir+, Pd2+, Pt2+, dan Au3+, telah dilaporkan. Contohnya termasuk [RhCl(PMe3)3], [IrCl(CO)
(PMe3)2], [NiCl2(PEt3)2], dan [PtCl2(NH3)2] (Et =C2H5).
Isomer geometrik cis dan trans mungkin diamati pada senyawa kompleks dengan dua
jenis ligan, dan pertama kali dicatat oleh A. Werner ketika mensintesis senyawa berkoordinat
4 [PtCl2(NH3)2]. Karena kompleks tetrahedral tidak akan menghasilkan isometri geometri,
Werner menyimpulkan bahwa senyawa kompleksnya adalah bujur sangkar. Baru-baru ini cis-

[PtCl2(NH3)2] (cisplatin) telah digunakan untuk terapi tumor dan dan patut dicatat bahwa
yang aktif hanyalah isomer cis.

Kompleks berbilangan koordinasi lima

Contoh kompleks berbilangan koordinasi lima adalah trigonal bipiramidal (D3h)


Fe(CO)5 atau piramida bujur sangkar (C4v) VO(OH2)4. Dulunya, kompleks berbilangan
koordinasi lima jarang namun jumlahnya kini meningkat. Perbedaan energi antara dua modus
koordinasi (nbipiramida dan piramida bujursangakar, pentj) ini tidak terlalu besar dan
transformasi struktural mudah terjadi. Misalnya, struktur molekular dan spektrum
Fe(CO)5 konsisiten dengan struktur bipiramid trigonal, tetapi spektrum NMR 13C
menunjukkan satu sinyal pada suhu rendah, yang mengindikasikan bahwa ligan karbonil di
aksial dan ekuatorial mengalami pertukaran dalam skala waktu NMR (10 -1~10-9 s).
Transformasi struktural berlangsung melalui struktur piramid bujur sangkar dan
mekanismenya dikenal dengan pseudorotasi Berry.

Kompleks berbilangan koordinasi enam

Bila enam ligan berkoordinasi dengan atom pusat, koordinasi oktahedral (Oh) yang
paling stabil dan mayoritas kompleks memiliki struktur oktahedral. Khususnya, ada sejumlah
kompleks Cr3+ dan Co3+yang inert pada reaksi pertukaran ligan, dinyatakan dengan
[Cr(NH3)6]3+ atau [Co(NH3)6]3+. Keduanya khususnya penting dalam sejarah perkembangan
kimia koordinasi. [Mo(CO)6], [RhCl6]3-, dsb. juga merupakan kompleks oktahedral. Dalam
kasus ligan campuran, isomer geometri cis- dan trans-[MA4B2] dan mer- dan fac-[MA3B3],
dan untuk ligan khelat -[M(A-A)3] dan -[M(A-A)3] isomer optik, mungkin terjadi. Struktur
oktahedral menunjukkan distorsi tetragonal (D4h), rombik (D2h), trigonal (D3h) yang
disebabkan efek elektronik atau sterik. Distorsi tetragonal [Cr(NH 3)6]3+ oleh faktor elektronik
adalah contoh khas efek Jahn-Teller (lihat bab 6.2(a)).

Atom dengan koordinasi enam dapat berkoordinasi prisma trigonal. Walaupun


koordinasi ini diamati di [Zr(CH3)6]2- atau [Re{S2C2(CF3)2}3], kompleks logam jarang
berkoordinasi prisma trigonal karena koordinasi oktahedral secara sterik lebih natural.
Walaupun demikian telah lama dikenal bahwa belerang di sekitar logam adalah prisma
trigonal dalam padatan MoS2 dan WS2.
Kompleks
berbilangan
koordinasi
lebih
tinggi
dari
enam
Ion logam transisi deret kedua dan ketiga kadang dapat mengikat tujuh atau lebih ligan dan
misalnya [Mo(CN)8]3- atau [ReH9]2-. Dalam kasus-kasus ini, ligan yang lebih kecil lebih
disukai untuk menurunkan efek sterik.