Anda di halaman 1dari 8

POLITEKNOSAINS EDISI KHUSUS DIES NATALIS

Juli 2012

RISER (PENAMBAH) DALAM PENGECORAN BESI COR


KELABU DENGAN METODE PENGECORAN LOST FOAM
Sutiyoko1, Suyitno2
1
2

Jurusan Teknik Pengecoran Logam, Politeknik Manufaktur Ceper, Klaten


Jurusan Teknik Mesin dan Industri, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta

ABSTRACT
The riser is needed in casting to supply liquid metal because of shrinkage
in solidification. The objective of this research is to investigate the
shrinkage of gray cast iron in lost foam casting. The variabels in this
research were pouring temperature and pattern thickness. The pouring
temperature variation and the pattern thickness were 1300-1400 oC and 26.5 mm respectively. There is not a reduction size in the casting product
than the pattern. This phenomenon is founded in all the pouring
temperature and the pattern thickness. In the lost foam casting of gray cast
iron, the riser is not necessary. Effect of the unbounded sand and the
graphite expansion causes the shrinkage in solidification of gray cast iron
can be ignored.
Keywords: shrinkage, pouring temperature, riser, lost foam casting,
solidification
PENDAHULUAN
Pengecoran lost foam adalah
metode
pengecoran
yang
menggunakan bahan polystyrene
foam sebagai
bahan
untuk
membuat pola dan ditanam dalam
pasir silika menjadi cetakan.
Polystyrene foam akan mencair
dan menguap ketika cairan
dituangkan ke dalam cetakan
sehingga tempat itu akan diisi oleh
cairan logam (Askeland, 2001).
Metode pengecoran lost foam

dipatenkan oleh Shroyer pada


tahun 1958 (Kumar dkk, 2008).
Pengecoran
lost
foam
memiliki banyak keuntungan.
Pengecoran lost foam dapat
memproduksi
benda
yang
kompleks/ bentuknya rumit, tidak
ada pembagian cetakan, tidak
memakai inti, mengurangi tenaga
kerja
dalam
pengecorannya
(Monroe, 1992) sehingga cepat
untuk
membuat
benda-benda
prototip. Pengecoran lost foam
dapat memproduksi benda-benda

Riser (Penambah) Dalam Pengecoran

24

POLITEKNOSAINS EDISI KHUSUS DIES NATALIS

ringan (Kim dan Lee, 2005) dan


penambah pada dasarnya tidak
diperlukan
untuk
mengontrol
penyusutan
saat
pembekuan
(Askeland, 2001). Cetakan dari
pola berbahan polystyrene foam
mudah dibuat dan murah (Barone,
2005). Pasir yang digunakan dapat
dengan mudah digunakan lagi
karena
tidak
menggunakan
pengikat (Behm dkk, 2003).
Penggunaan
cetakan
foam
meningkatkan keakuratan dimensi
dan memberikan peningkatan
kualitas
coran
dibandingkan
dengan cetakan konvensional
(Monroe,
1992).
Sudut-sudut
kemiringan draf dapat dikurangi
atau dieliminasi (Barone, 2005).
Proses
pembersihan
dan
pemesinan dapat dikurangi secara
dramatis (Kumar dkk, 2007).
Pencemaran lingkungan karena
emisi bahan-bahan pengikat dan
pembuangan pasir dapat dikurangi
karena tidak menggunakan bahan
pengikat dan pasir dapat langsung
digunakan kembali (Kumar dkk,
2007).
Pengecoran lost foam juga
memiliki beberapa kekurangan.
Pasir yang tidak diikat akan
memicu terjadinya cacat pada
benda cor karena pasir yang jatuh
ke logam cair (Kumar dkk, 2007).
Usaha untuk mengikat cetakan lost
foam adalah dengan membuat

Juli 2012

cetakan tersebut vakum dimana


cetakan dilapisi dengan lapisan
polietilen.
Proses
ini
menghasilkan emisi ke gas hasil
pembakaran polystyrene foam
yang
dapat
membahayakan
lingkungan dan kesehatan pekerja
(Behm dkk, 2003). Porositas dalam
pengecoran aluminium dengan
pola polystyrene foam lebih tinggi
dibandingkan dengan cetakan CO2.
Hal ini menunjukkan bahwa sulit
untuk mendapatkan kekuatan
mekanik yang lebih baik pada
pengecoran
aluminium
tanpa
perlakuan tertentu (Kim dan Lee,
2007).
Kualitas hasil pengecoran lost
foam dipengaruhi oleh banyak
parameter.
Parameter-parameter
tersebut diantaranya temperatur
penuangan, ukuran pasir silika,
massa jenis polystyrene foam, lama
penggetaran cetakan, ukuran benda
dan komposisi material yang
dituang. Superheat (suhu diatas
temperatur cair) yang lebih tinggi
akan
menurunkan
tegangan
permukaan cairan logam (Kumar
dkk, 2007). Temperatur tuang
memiliki faktor dominan dalam
menentukan nilai tegangan tarik
dan elongasi benda cor (Kumar
dkk, 2008). Gas yang terbentuk
meningkat 230% pada temperatur
750 1300 oC (Yao dkk, 1997).
Laju aliran logam paduan dengan

Riser (Penambah) Dalam Pengecoran

25

POLITEKNOSAINS EDISI KHUSUS DIES NATALIS

temperatur tinggi akan menurun


dengan meningkatnya temperatur
dikarenakan volume gas yang
terbentuk
meningkat
secara
(Khodai dan Parvin, 2008). Laju
aliran logam meningkat sebanding
dengan peningkatan temperatur
hingga 1150 oC (Shivkumar dkk,
1995). Ketebalan pola bertambah
besar akan meningkatkan panjang
mampu alir logam (Shin dan Lee,
2004).
Rumusan masalah dalam
penelitian ini adalah bagaimana
pengaruh ketebalan benda dan
temperatur penuangan terhadap
ukuran benda cor dibanding
ukuran polanya. Tujuan penelitian
ini adalah untuk mengetahui
perbandingan ukuran benda cor
dengan ukuran pola. Manfaat
penelitian
ini
agar
dapat
menentukan
penggunaan
penambah dalam pengecoran besi
cor kelabu dengan metode
pengecoran lost foam.
METODOLOGI PENELITIAN
Bahan baku utama yang
dipakai adalah sekrap besi cor.
Jenis besi cor yang menjadi target
dalam penelitian ini adalah besi
cor Ferro Carbon (FC) 20-30.
Kandungan Karbon dan Silikon
pada FC 20-30 adalah 2,9-3,4% C
dan 1,6-2,5 % Si sehingga rata-rata
kandungan Karbon adalah 3,15%

Juli 2012

dan Silikon 2,05%. Ferrosilikon


digunakan untuk menambahkan
unsur silikon agar terbentuk grafit
pada pembuatan besi cor kelabu.
Ferrosilikon
yang
digunakan
adalah FeSi75 dengan kandungan
silikon 75% dan Karbon 0,15%.
Polystyrene foam yang digunakan
adalah
polystyrene
dengan
3
kerapatan berkisar 9 kg/m karena
banyak dijual di toko-toko. Hal ini
dengan pertimbangan jika hasil
penelitian ini diaplikasikan pada
industri kecil maka akan mudah
memperoleh bahan yang sesuai
dengan penelitian. Pasir silika
yang digunakan memiliki ukuran
AFS grain fineness number 51.
Peralatan yang digunakan
dalam penelitian ini adalah tanur
induksi kapasitas 40 kg, ladel
kapasitas 15 kg, kotak kayu wadah
cetakan, pemotong polystyrene
elektrik, jangka sorong, timbangan
digital ketelitian 1 miligram,
pyrometer, spectrometer emisi dan
CE meter Heraeus elektro-nite ML
QC/EL. Pola yang digunakan
ditunjukkan pada Gambar 1 di
bawah ini.

Riser (Penambah) Dalam Pengecoran

26

POLITEKNOSAINS EDISI KHUSUS DIES NATALIS

Juli 2012

Perbandingan luas penampang


benda cor dengan luas penampang
pola
dalam
penelitian
ini
diistilahkan
dengan
akurasi
ukuran. Secara umum di dalam
pengecoran akurasi ukuran benda
cor bernilai negatif, yakni terjadi
penyusutan dari ukuran polanya.

Gambar 1. Pola benda cor (ukuran


dalam mm)
Pengukuran ukuran benda cor
dan ukuran pola diambil dengan
mengukur luas penampang pola
dan benda cor pada jarak 20 mm
dari pangkal saluran turun. Pada
setiap temperatur penuangan dan
ketebalan benda cor diukur luasnya
dan dibandingkan dengan luas
pola.
Hasil
perbandingan
dinyatakan dalam prosentase. Luas
penampang benda cor yang
mengalami pembesaran dibanding
luas penampang pola maka nilai
prosentasenya
adalah
positif.
Sebaliknya, luas penampang benda
cor yang lebih kecil dari luas
penampang pola maka nilai
prosentasenya adalah negatif.

HASIL DAN PEMBAHASAN


Hasil pengukuran CE meter
menunjukkan nilai Karbon sebesar
3,27 % dan Silikon sebesar 2,12
%. Nilai pengukuran ini sudah
sesuai dengan target komposisi
yang direncanakan yakni Karbon
3,0-3,5 % dan Silikon 1,8 2,4 %
karena jika diambil nilai tengahnya
maka komposisi Karbon 3,25 %
dan Silikon 2,1 %. Komposisi ini
adalah kelompok besi cor kelabu
kelas 30 dan banyak diproduksi
oleh industri pengecoran logam di
dunia (ASM Handbook Commitee
Vol.15, 1998).
Tabel 1. Komposisi besi cor kelabu
hasil pengecoran
Unsur
Prosentase

Fe

Si

Mn

93.1

3.35

2.29

0.449

0.189

0.048

Komposisi besi cor kelabu


setelah dituang diukur dengan
pengujian alat uji spektrometer
ditunjukkan pada Tabel 1.
Pengukuran komposisi besi cor

Riser (Penambah) Dalam Pengecoran

27

POLITEKNOSAINS EDISI KHUSUS DIES NATALIS

kelabu padat dilakukan pada


sebuah specimen chill test dengan
cetakan logam agar terjadi
pendinginan cepat.
Perbandingan ukuran benda
cor dengan pola (akurasi ukuran)
pada
setiap
ketebalan
dan
temperatur penuangan ditunjukkan
pada Gambar 2.

Gambar 2. Hubungan temperatur


tuang terhadap akurasi ukuran
pada tiap ketebalan pola
Akurasi ukuran pada semua
temperatur tuang memberikan
hasil positif. Hal ini menunjukkan
bahwa pada pengecoran besi cor
kelabu dengan menggunakan pola
polystyrene foam memberikan
hasil ukuran benda cor lebih besar
dibandingkan
dengan
ukuran
polanya. Secara detail hasil
perbandingan ukuran benda cor
dengan ukuran pola tampak pada
Tabel 2.

Suhu
o
(C)
1300
1325
1350
1375
1400

2
mm
(%)
0,74
0,72
1,23
1,85
0,74

Juli 2012

3,5
mm
(%)
0,98
0,2
1,7
1,79
1,85

5
mm
(%)
0,25
2,54
1,24
0,01
1,23

6,5
mm
(%)
1,02
1,32
1,47
1,40
0,72

Nilai akurasi ukuran pada setiap


ketebalan pola juga memberikan
harga positif. Hal ini berarti
ketebalan benda berapapun akan
memberikan pengaruh ukuran
benda cor lebih besar dari ukuran
pola.
Logam cair yang mengalami
pembekuan
akan
mengalami
penurunan volume akibat adanya
penyusutan karena pembekuan.
Pembahasan tentang pembekuan
dan
perkembangan
kristal
didahului dengan perbandingan
antara susunan kristal pada saat
padat dan apa yang terjadi pada
keadaan cair. Proses pembekuan
mengalami perubahan viskositas
yang sangat drastis antara keadaan
cair dan padat (Glicksman, 2011).
Walaupun logam cair tidak terlihat
mata adanya kekosongan tempat,
tetapi disana terdapat sangat
banyak volume-volume kosong
yang
memungkinkan
terjadi
pergerakan atom dan molekul yang
lebih kuat (Glicksman, 2000).

Riser (Penambah) Dalam Pengecoran

28

POLITEKNOSAINS EDISI KHUSUS DIES NATALIS

Model struktur cairan logam telah


diajukan oleh Frenkel, seorang ahli
fisika Rusia, pada pertengahan
tahun
1930-an.
Frenkel
memformulasikan bahwa terjadi
perubahan volume 1-10 % ketika
logam mengalami pencairan yang
dihitung berdasarkan luas gap yang
terbentuk antar atom (Frenkel,
1955).
Banyak
faktor
yang
mempengaruhi pembesaran ukuran
benda
hasil
cor
dengan
menggunakan pola polystyrene
foam. Pengecoran besi cor kelabu
menghasilkan
struktur
grafit.
Grafit adalah karbon (C) yang
terpisah dari sementit (Fe3C) pada
saat proses pembekuan. Grafit
yang
terbentuk
pada
hasil
pengecoran
memiliki
sifat
ekspansif (Sparkman, 2006). Sifat
ekspansif akan menyebabkan
ukuran benda cor mengalami
pembesaran jika lebih besar
daripada penyusutan cairan ketika
membeku. Sifat ekspansif grafit
akan mendesak pasir cetak di
dinding cavity (ruang kosong
berbentuk pola benda cor) ke arah
luar cavity.
Faktor lain yang menyebabkan
penambahan
ukuran
adalah
desakan cairan logam terhadap
dinding cavity. Panas yang timbul
dari cairan logam dan cairan logam
itu sendiri akan mendorong pasir

Juli 2012

cetak di dinding cavity. Pasir cetak


yang dipadatkan dengan getaran
dan tidak memakai bahan pengikat
akan lebih mudah terdesak keluar
cavity. Gabungan desakan terhadap
dinding cavity akibat ekspansi
grafit dan cairan yang masuk ke
cavity lebih besar daripada
penyusutan besi cor kelabu saat
membeku. Hal ini menyebabkan
ukuran hasil benda cor lebih besar
dibandingkan
dengan
ukuran
polanya.
Pengaruh perbedaan temperatur
penuangan terhadap besarnya
penambahan ukuran benda cor
pada penelitian ini tidak dapat
diambil suatu hubungan tertentu
secara
jelas.
Pada
semua
temperatur penuangan, benda cor
mengalami pembesaran ukuran
dibanding ukuran polanya. Secara
teori semakin tinggi temperatur
penuangan akan semakin lama
waktu pembekuan cairan. Waktu
pembekuan yang lebih lama
memberikan kesempatan terbentuk
grafit lebih banyak sehingga
desakan ke dinding cavity lebih
kuat. Desakan yang lebih kuat
mengakibatkan
penambahan
ukuran lebih besar (Sparkman,
2006). Perbedaan ketebalan benda
cor juga belum dapat diambil suatu
kecenderungan yang jelas terhadap
besarnya pembesaran ukuran.
Namun, semua ketebalan benda

Riser (Penambah) Dalam Pengecoran

29

POLITEKNOSAINS EDISI KHUSUS DIES NATALIS

memberikan nilai akurasi positif.


Hal ini berarti terjadi pembesaran
ukuran walaupun bendanya tipis.
Fenomena
ini
mungkin
dikarenakan ukuran benda terlalu
kecil dan tipis sehingga pengaruh
grafit karena perbedaan temperatur
penuangan dan ketebalan benda
tidak terdeteksi.
KESIMPULAN
Pengecoran lost foam memiliki
karakteristik yang berbeda dengan
metode pengecoran lain. Metode
ini tidak menggunakan pengikat
pasir
dalam
pembuatan
cetakannya.
Pengikatan
pasir
dilakukan dengan penggetaran
pasir dalam cetakan. Beberapa
variasi temperatur penuangan dan
ketebalan benda dilakukan untuk
mempelajari kebutuhan penambah
pada metode ini. Perbandingan
ukuran pola dan benda cor pada
kedua variasi ini menunjukkan
bahwa ukuran benda cor selalu
lebih besar dari ukuran pola.
Berdasarkan fakta ini, kesimpulan
yang
dapat
diambil
yakni
pengecoran lost foam tidak
membutuhkan penambah dalam
mensuplai
cairan
akibat
penyusutan.
Daftar Pustaka
Askeland, D.R., Encylopedia of
Materials:
Science
and

Juli 2012

Technology, 2001, Elsevier


Science Ltd.
ASM Handbook Commitee, ASM
Metals Handbook . Casting,
Vol.15, 9th edition, 1998, ASM
International.
Barone, M. R., Caulk, D. A., A
foam ablation model for lost
foam casting of aluminum,
International Journal of Heat
and Mass Transfer, 2005, Vol.
48, pp. 41324149.
Behm, S.U., Gunter, K.L. and
Sutherland,
J.W.,
An
Investigation into The Effect of
Process Parameter Setting on
Air Emission Characteristics in
The Lost Foam Casting Process
,2003,
American
Foundry
Society.
Frenkel, J., Kinetic Theory of
Liquids , Dover Publications,
Inc., New York, NY, 1955, p.
176
Glicksman, M. E., Diffusion in
Solids: Field Theory, SolidState
Principles
and
Applications,
Wiley
Interscience Publishers, 2000,
New York.
Glicksman, M. E., Principles o f
Solidification An Introduction to
Modern Casting and Crystal
Growth Concepts, Springer
New
York
Dordrecht
Heidelberg London, 2011,

Riser (Penambah) Dalam Pengecoran

30

POLITEKNOSAINS EDISI KHUSUS DIES NATALIS

Springer
Science+Business
Media.
Khodai, M. and Parvin, N.,
Pressure Measurement and
Some Observation in Lost Foam
Casting, Journal of Material
Processing and Technology,
2008, Vol. 206, pp.1-8.
Kim, K., and Lee, K., Eect of
Pro cess Parameters on Porosity
in Aluminum Lost Foam
Process,
Journal
Material
Science Technology, 2005,Vol.
21 No.5, pp. 681-685.
Kumar, S., Kumar, P. and Shan,
H.S., Optimation of Tensile
Properties
of
Evaporative
Casting
Process
through
Taguchis Method, Journal of
Materials
Processing
Technology, 2008, Vol. 204,
pp. 59-69.
Kumar, S., Kumar, P. and Shan,
K.S., Effect of Evaporative
Pattern
Casting
Process
Parameters on The Surface
Roughness of Al-7%Si Alloy
Casting, Journal of Materials
Processing Technology, 2007,
Vol. 182, pp. 615-623.
Monroe,
R.M.,
Expandable
Patterns Casting, American
Foundrymans Society Inc.,
1992, p.84.
Shin, S.R. and Lee, Z.H., Hidrogen
Gas Pic-Up of Alloy Melt
During Lost Foam Casting,

Juli 2012

Journal of Material Science,


2004, Vol.39, pp. 1536-1569
Shivkumar, S., Yao, X., and
Makhlouf, M., Polymer Melt
Interactions During Formation
in The Lost Foam Process,
Scripta
Metallurgica
et
Materialia, 1995, Vol. 33, pp.
39-46.
Sparkman,
D.,
Offsetting
Shrinkage in Ductile Iron What
Thermal Analysis Shows,2006,
11th.
Yao, X., Shivkumar, S., Molding
filling characteristics in lost
foam casting process, Materials
science
and
Technology,
1997,Vol. 31, pp. 841-846.

Riser (Penambah) Dalam Pengecoran

31