Anda di halaman 1dari 16

Kata Pengantar

Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT, karena berkat rahmat dan hidayah-Nya
penulis telah mampu menyelesaikan makalah berjudul Pajak dan Retribusi Daerah.
Makalah ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Perpajakan 1.
Penulis menyadari bahwa didalam pembuatan makalah ini berkat bantuan dan tuntunan
Tuhan Yang Maha Esa dan

tidak lepas dari bantuan berbagai pihak untuk itu dalam

kesempatan ini penulis menghaturkan rasa hormat dan terima kasih yang sebesar-besarnya
kepada semua pihak yang membantu dalam pembuatan makalah ini.
Tim penulis menyadari bahwa dalam proses penulisan makalah ini masih dari jauh dari
kesempurnaan baik materi maupun cara penulisannya. Namun demikian, tim penulis telah
berupaya dengan segala kemampuan dan pengetahuan yang dimiliki sehingga dapat selesai
dengan baik dan oleh karenanya, tim penulis dengan rendah hati dan dengan tangan terbuka
menerima masukan,saran dan usul guna penyempurnaan makalah ini. Dan semoga dengan
selesainya makalah ini dapat bermanfaat bagi seluruh pembaca dan teman-teman

Bandung, 8 April 2014

DAFTAR ISI

BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pajak dan retribusi daerah sebagai sumber penerimaan daerah telah dipungut di
Indonesia sejak awal kemerdekaan Indonesia. Sumber penerimaan

ini terus

dipertahankan sampai dengan era otonomi daerah dewasa ini. Penetapan pajak dan
retribusi daerah sebagai sumber penerimaan daerah ditetapkan dengan dasar hukum
yang kuat, yaitu dengan undang-undang, khususnya undang-undang tentang
pemerintahan daerah maupun tentang perimbangan keuangan antara pusat dan daerah.
Penetapan pajak dan retribusi daerah sebagai sumber penerimaan daerah sesuai
dengan Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan daerah dan
Undang-undang Nomor 33 tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara
Pemerintah Pusat dan daerah menetapkan bahwa penerimaan daerah dalam
pelaksanaan desentralisasi terdiri atas pendapatan daerah dan pembiayaan.
Dalam makalah ini kita akan mempelajari Pajak dan Retribusi Daerah, mengenai jenis
pajak dan retribusi daerah, dan tarif pajak.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah diatas, penulis merumuskan rumusan masalah
sebagai berikut.
1. Apa yang termasuk dari pajak negara?
2. Apa dasar hukum pajak daerah?
3. Apa pengertian pajak daerah?
4. Apa saja jenis-jenis pajak dan objek pajak?
5. Bagaimana tarif untuk setiap jenis pajak?
6. Bagaimana tata cara pemungutan pajak?
7. Kapan kadaluwarsa penagihan pajak?
8. Apa itu retribusi daerah?
9. Apa saja yang menjadi objek retribusi daerah?
10. Apa yang menjadi subjek retribusi daerah?
11. Apa prinsip dan sasaran penetapan tarif retribusi?
12. Bagaimana tata cara pemungutan retribusi?
13. Bagaimana pemanfaatan retribusi?
14. Kapan kadaluwarsa penagihan retribusi?
C. Tujuan Penulisan
Sejalan dengan rumusan masalah diatas, makalah ini disusun dengan tujuan untuk
mengetahui dan mendeskripsikan:
1. Pajak Negara
2. Dasar Hukum Pajak Daerah
3. Pengertian Pajak Daerah
4. Jenis-jenis Pajak dan Objek Pajak

5. Tarif Pajak
6. Tata Cara Pemungutan Pajak
7. Kadaluwarsa Penagihan Pajak
8. Retribusi Daerah
9. Objek Retribusi Daerah
10. Subjek Retribusi Daerah
11. Prinsip dan Sasaran Penetapan Tarif Retribusi
12. Tata Cara Pemungutan Retribusi
13. Pemanfaatan Retribusi
14. Kadaluwarsa Penagihan Retribusi
D. Manfaat Penulisan
Manfaat penulisan makalah ini adalah untuk memperluas wawasan kami dan pembaca
tentang masalah Perpajakan. Selain itu supaya ada kesadaran pada diri kami dan
pembaca untuk tertib membayar pajak.

BAB 2
PEMBAHASAN
A. PAJAK NEGARA
Pajak negara yang sampai saat ini masih berlaku adalah :
a. Pajak Penghasilan ( PPh )
Dasar hukum pengenaan pajak penghasilan adalah Undang undang No. 36
tahun 2008.
b. Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah ( PPN &
PPn BM )
Dasar hukumnya UU No.42 Tahun 2009
c. Bea Materai
Dasar hukumnya adalah Undang undang No.13 tahun 1985
d. Pajak Bumi dan Bangunan ( PBB )
Dasar hukum nya adalah Undang undang No 12 tahun 1994.
e. Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan bengunan ( BPHTB )
Dasar hukum nya adalah Undang undang No. 20 tahun 2000.
B. PAJAK DAERAH DAN RETRIBUSI DAERAH
1. Dasar Hukum
Dasar hukum pemungutan pajak daerah dan retribusi daerah adalah Undang
undangNo.28 tahun 2009 tentang pajak daerah dan retribusi daerah.
2. Pajak Daerah

Beberapa pengertian atau istilah yang terkait dengan pajak daerah antara lain :
a. Daerah Otonom, selanjutnya disebut daerah, adalah kesatuan masyarakat
hukum yang mempunyai batas batas wilayah yang berwenang megatur
dan mengurus urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat
menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat dalam sistem
Negara Kesatuan Republik Indonesia.
b. Pajak Daerah, yang selanjutnya disebut pajak, adalah kontribusi wajib
kepada daerah yang tertuang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat
memaksa berdasarkan Undang undang, dengan tidak mendapatkan
imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan daerah bagi
sebesar besarnya kemakmuran rakyat.
c. Badan, adalah sekumpulan orang dan/atau modal yang merupakan
kesatuan baik yang melakukan usaha maupun yang tidak melakukan usaha
yang meliputi perseroan terbatas, perseroan komanditer, perseroan lainnya,
BUMN, BUMD, dengan nama dan dalam bentuk apapun, firma, kongsi,
koperasi, dana pensiun, yayasan dsb.
d. Subjek Pajak, adalah orang prbadi atau badan yang dapat dikenakan pajak.
e. Wajib Pajak, adalah orang pribadi atau badan, meliputi pembayar pajak,
pemotong pajak, dan pemungut pajak, yang mempunyai hak dan
kewajiban perpajakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang
undangan perpajakan daerah.
3. Jenis Pajak dan Objek Pajak
Pajak daerah dibagi menjadi 2 bagian, yaitu :
a. Pajak Provinsi, terdiri dari :
Pajak Kendaraan Bermotor
Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor
Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor
Pajak Air Permukaan dan
Pajak Rokok.
b. Pajak Kabupaten/Kota, terdiri dari :
Pajak Hotel
Pajak Restoran
Pajak Hiburan
Pajak Reklame
Pajak Penerangan Jalan
Pajak Mineral Bukan Logam Dan Batuan
Pajak Parkir
Pajak Air Tanah
Pajak Sarang Burung Walet
Pajak Bumi Dan Bangunan Perdesaan Dan Perkotaan
Bea Perolehan Hak Atas Tanah Dan Bangunan

Khusus untuk daerah yang setingkat dengan daerah Provinsi, tetapi tidak
terbagi dalam daerah Kabupaten/Kota otonom, seperti Daerah Khusus Ibukota
Jakarta, jenis pajak yang dapat dipungut6 merupakan gabungan dari pajak
untuk daerah Provinsi dan pajak untuk daerah Kabupaten/Kota.
4. Tarif Pajak
Tarif untuk setiap jenis pajak adalah :
1. Tarif Pajak Kendaraan Bermotor pribadi ditetapkan sebagai berikut :
a. Untuk kepemilikan kendaraan bermotor pertama paling rendah sebesar
1 % dan paling besar 2 %.
b. Untuk kepemilikan kendaraan bermotor kedua dan seterusnya tarif
dapat ditetapkan secara progresif paling rendah sebesar 2 % dan paling
2.

tinggi sebesar 10 %.
Tarif Pajak Kendaraan Bermotor angkutan umum, ambulans, pemadam
kebakaran,

sosial

keagamaan,

lembaga

sosial

dan

keagamaan,

Pemerintah/TNI/POLRI, Pemerintah Daerah, dan kendaraan lain yang


ditetapkan dengan Peraturan daerah, ditetapkan paling rendah sebesar 0,5
3.

% dan paling tinggi sebesar 1 %.


Tarif Pajak Kendaraan Bermotor alat alat berat dan alat alat besar

4.

ditetapkan paling rendah sebesar 0,1% dan paling tinggi sebesar 0,2%.
Tarif Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor ditetapkan paling tinggi

5.

masing masing sebagai berikut :


a. Penyerahan pertama sebesar 20 % dan
b. Penyerahan kedua dan seterusnya sebesar 1 %.
Khusus untuk Kendaraan Bermotor alat alat berat dan alat alat besar
yang tidak menggunakan jalan umum tarif pajak ditetapkan paling tinggi

6.

masing masing sebagai berikut :


a. Penyerahan pertama sebesar 0,75 %
b. Penyerahan kedua dan seterusnya sebesar 0,075 %.
Tarif Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor ditetapkan paling tinggi
sebesar 10%. Khusus tarif Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor, untuk
bahan bakar kendaraan umum dapat ditetapkan paling sedikit 50% lebih
rendah dari tarif Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor untuk kendaraan

7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.

pribadi.
Tarif Pajak Air Permukaan ditetapkan paling tinggi sebesar 10%.
Tarif Pajak Rokok ditetapkan sebesar 10% dari cukai rokok.
Tarif Pajak Hotel ditetapkan paling tinggi 10%.
Tarif Pajak Restoran ditetapkan paling tinggi sebesar 10%.
Tarif Pajak Hiburan ditetapkan paling tinggi sebesare 35%.
Tarif Pajak Reklame ditetapkan paling tinggi 25%.
Tarif Pajak Penerangan Jalan ditetapkan paling tinggi 10%.

14. Tarif Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan ditetapkan paling tinggi
15.
16.
17.
18.

sebesar 25%.
Tarif Pajak Parkir ditetapkan paling tinggi sebesar 30%.
Tarif Pajak Air Tanah ditetapkan paling tinggi sebesar 20%.
Tarif Pajak Sarang Burung Walet ditetapkan paling tinggi sebesar 10%.
Tarif Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan ditetapkan

paling tinggi sebesar 0,3 %


19. Tarif Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan ditetapkan paling tinggi
sebesar 5%.
5. Tata Cara Pemungutan Pajak
Pemungutan pajak dilarang diborongkan. Setiap Wajib Pajak wajib membayar
pajak yang terutang berdasarkan surat ketetapan pajak atau dibayar sendiri oleh
Wajib Pajak berdasarkan peraturan perundang-undangan perpajakan. Wajib Pajak
yang memenuhi kewajiban perpajakan berdasarkan penetapan Kepala Daerah
dibayar dengan menggunakan Surat Ketetapan Pajak Daerah (SKPD) atau
dokumen lain yang dipersamakan berupa karcis dan nota perhitungan.
Wajib Pajak yang memenuhi kewajiban perpajakan sendiri dibayar dengan
menggunakan Surat Pemberitahuan Pajak Daerah (SPTPD), Surat Ketetapan
Pajak Daerah Kurang Bayar (SKPDKB), dan/atau Surat Ketetapan Pajak Daerah
Kurang Bayar Tambahan (SKPDKBT).
6. Kadaluwarsa Penagihan Pajak
Hak untuk melakukan penagihan pajak menjadi kadaluwarsa setelah melampaui
waktu 5 tahun terhitung sejak saat terutangnya pajak, kecuali apabila Wajib Pajak
melakukan tindak pidana dibidang perpajakan daerah.
7. Retribusi Daerah
Menurut Pasal 1 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 Tentang Pajak
Daerah dan Retribusi Daerah, pengertian retribusi daerah, yang selanjutnya
disebut retribusi adalah pungutan daerah sebagai pembayaran atas jasa atau
pemberian izin tertentu yang khusus disediakan dan/atau diberikan oleh
pemerintah daerah untuk kepentingan orang pribadi atau badan.
Wajib retribusi adalah orang pribadi atau badan yang menurut peraturan
perundang-undangan retribusi diwajibkan untuk melakukan pembayaran retribusi,
termasuk pemungut atau pemotong retribusi tertentu. Besarnya retribusi yang
terutang oleh orang pribadi atau badan yang menggunakan jasa atau perizinan
tertentu dihitung dengan cara mengalikan tarif retribusi dengan penggunaan jasa
(Pasal 1 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009).
8. Objek Retribusi Daerah
Menurut Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009, objek retribusi ada tiga yaitu :
a. Jasa Umum

Dalam Pasal 109 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009, objek Retribusi Jasa
Umum adalah pelayanan yang disediakan atau diberikan pemerintah daerah
untuk tujuan kepentingan dan kemanfaatan umum serta dapat dinikmati oleh
orang pribadi atau badan. Jenis retribusi ini dapat tidak dipungut apabila
potensi penerimaannya kecil/dan atau atas kebijakan nasional/daerah untuk
memberikan pelayanan secara cuma-cuma (Pasal 110 Undang-Undang Nomor
28 Tahun 2009).
Menurut Ahmad Yani (2004 : 63), prinsip dan sasaran dalam penetapan tarif
retribusi jasa umum didasarkan pada kebijaksanaan daerah dengan
memperhatikan biaya penyediaan jasa yang bersangkutan, kemampuan
masyarakat, dan aspek keadilan.
Terdapat penambahan 4 (empat)

jenis retribusi daerah, yaitu Retribusi

Tera/Tera Ulang, Retribusi Pengendalian Menara Telekomunikasi, Retribusi


Pelayanan Pendidikan,dan Retribusi Izin Usaha Perikanan.
Menurut Pasal 110 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 Tentang Pajak
Daerah dan Retribusi Daerah, jenis Retribusi Jasa Umum adalah :
a. Retribusi Pelayanan Kesehatan
Objek Retribusi Pelayanan kesehatan adalah pelayanan kesehatan di
puskesmas, puskesmas keliling, puskesmas pembantu, balai pengobatan,
dan rumah sakit umum daerah dan tempat pelayanan kesehatan lainnya
yang sejenis yang dimiliki dan/atau dikelola oleh Pemerintah Daerah,
kecuali pelayanan pendaftaran (Pasal 111 Undang-Undang Nomor 28
Tahun 2009).
b. Retribusi Pelayanan Persampahan/Kebersihan
Objek Retribusi Pelayanan persampahan/kebersihan meliputi :
Pengambilan/pengumpulan sampah dari sumbernya ke lokasi
pembuangan sementara
Pengangkutan sampah dari sumbernya dan/atau lokasi pembuangan
sementara ke lokasi pembuangan/pembuangan akhir sampah
Penyediaan lokasi pembuangan/pemusnahan akhir sampah (Pasal
112 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009).
c. Retribusi Penggantian Biaya Cetak Kartu Tanda Penduduk dan Akta
Catatan Sipil
Objek Retribusi Penggantian Biaya Cetak Kartu Tanda Penduduk Dan
Akta Catatan Sipil meliputi KTP, kartu keterangan bertempat tinggal, kartu
identitas kerja, kartu penduduk sementara, kartu identitas penduduk
musiman, kartu keluarga, akta catatan sipil yang meliputi akta perkawinan,

akta perceraian, akta pengesahan dan akta pengakuan anak, akta ganti nama
bagi warga negara asing dan akta kematian (Pasal 113 Undang-Undang
Nomor 28 Tahun 2009).
d. Retribusi Pelayanan Pemakaman dan Pengabuan Mayat
Objek Retribusi Pelayanan pemakaman dan pengabuan mayat meliputi
pelayanan penguburan/pemakaman termasuk penggalian dan pengurugan,
pembakaran/pengabuan mayat, dan sewa tempat pemakaman atau
pembakaran/pengabuan mayat yang dimiliki atau dikelola pemerintah
daerah (Pasal 114 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009).
e. Retribusi Pelayanan Parkir di Tepi Jalan Umum
Objek Retribusi Pelayanan parkir di tepi jalan umum adalah
penyediaan pelayanan parkir di tepi jalan umum yang ditentukan oleh
pemerintah daerah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan
f.

(Pasal 115 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009).


Retribusi Pelayanan Pasar
Objek Retribusi Pelayanan Pasar adalah penyediaan fasilitas pasar
tradisional/sederhana berupa pelataran, los, kios yang dikelola pemerintah
daerah, dan khusus disediakan untuk pedagang (Pasal 116 Undang-Undang

Nomor 28 Tahun 2009).


g. Retribusi Pengujian Kendaraan Bermotor
Objek Retribusi Pelayanan Pengujian Kendaraan Bermotor adalah
pelayanan pengujian kendaraan bermotor termasuk kendaraan bermotor di
air sesuai dengan peraturan perundang-undangan, yang diselenggarakan
oleh pemerintah daerah (Pasal 117 Undang-Undang Nomor 28 Tahun
2009).
h. Retribusi Pemeriksaan Alat Pemadam Kebakaran
Objek Retribusi Pelayanan Pemeriksaan Alat Pemadam Kebakaran
adalah pelayanan pemeriksaan dan/atau pengujian alat pemadam
kebakaran, dan alat penyelamatan jiwa oleh Pemerintah Daerah terhadap
alat-alat pemadam kebakaran, alat penanggulangan kebakaran, dan alat
penyelamatan jiwa yang dimiliki dan/atau dipergunakan oleh masyarakat
(Pasal 118 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009).
i. Retribusi Penggantian Biaya Cetak Peta
Retribusi Penggantian Biaya Cetak Peta adalah penyediaan peta yang
dibuat oleh Pemerintah Daerah (Pasal 119 Undang-Undang Nomor 28
Tahun 2009).
j. Retribusi Penyediaan dan/atau Penyedotan Kakus

Objek Retribusi Pelayanan Penyedotan Kakus adalah pelayanan


penyediaan tan kakusyang dilakukan oleh Pemerintah Daerah (Pasal 120
Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009).
k. Retribusi Pengolahan Limbah Cair
Retribusi Pengolahan Limbah Cair adalah pelayanan pengolahan
limbah cair rumah tangga, perkantoran, dan industri yang disediakan,
dimiliki, dan/atau dikelola secara khusus oleh Pemerintah Daerah dalam
bentuk instalasi pengolahan limbah cair (Pasal 121 Undang-Undang Nomor
28 Tahun 2009).
l. Retribusi Pelayanan Tera/Tera Ulang
Objek Retribusi Pelayanan Retribusi Tera/Tera Ulang adalah pelayanan
pengujian alat-alat ukur, takar, timbang, dan perlengkapannya dan
pengujian barang dalam keadaan terbungkus yang diwajibkan sesuai
dengan ketentuan peraturan perundangundangan (Pasal 122 UndangUndang Nomor 28 Tahun 2009).
m. Retribusi Pelayanan Pendidikan
Objek Retribusi Pelayanan

Pendidikan

adalah

pelayanan

penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan teknis oleh Pemerintah Daerah


(Pasal 123 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009).
n. Retribusi Pengendalian Menara Telekomunikasi
Objek Retribusi Pengendalian Menara Telekomunikasi

adalah

pemanfaatan ruang untuk menara telekomunikasi dengan memperhatikan


aspek tata ruang, keamanan, dan kepentingan umum (Pasal 124 UndangUndang Nomor 28 Tahun 2009).
b. Jasa Usaha
Dalam Pasal 126 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009, objek Retribusi Jasa
Usaha adalah pelayanan yang disediakan oleh pemerintah daerah dengan
menganut prinsip komersial yang meliputi :
1. pelayanan dengan menggunakan/memanfaatkan kekayaan daerah yang
2.

belum dimanfaatkan secara optimal;dan/atau


pelayanan oleh pemerintah daerah sepanjang belum disediakan secara

memadai oleh pihak swasta.


Prinsip dan sasaran dalam penetapan besarnya tarif retribusi jasa usaha
didasarkan pada tujuan untuk memperoleh keuntungan yang layak
sebagaimana keuntungan yang pantas diterima oleh pengusaha swasta sejenis
yang beroperasi secara efisien dan berorientasi pada harga pasar (Ahmad Yani,
2004 : 64).

Menurut Pasal 127 Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2008 Jenis Retribusi


Jasa Usaha terdiri dari :
a. Retribusi Pemakaian Kekayaan Daerah
Objek Retribusi Pemakaian Kekayaan Daerah adalah pemakaian
kekayaan Daerah. Dikecualikan dari pengertian pemakaian kekayaan
Daerah adalah penggunaan tanah yang tidak mengubah fungsi dari tanah
tersebut (Pasal 128 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009).
b. Retribusi Pasar Grosir dan/atau Pertokoan
Objek Retribusi Pasar Grosir dan/atau Pertokoan penyediaan fasilitas
pasar grosir berbagai jenis barang, dan fasilitas pasar/pertokoan yang
dikontrakkan, yang disediakan/diselenggarakan oleh Pemerintah Daerah
(Pasal 129 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009).
c.

Retribusi Tempat Pelelangan


Objek Retribusi Tempat Pelelangan adalah penyediaan tempat
pelelangan yang secara khusus disediakan oleh Pemerintah Daerah untuk
melakukan pelelangan ikan, ternak, hasil bumi, dan hasil hutan termasuk
jasa pelelangan serta fasilitas lainnya yang disediakan di tempat

pelelangan (Pasal 130 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009).


d. Retribusi Terminal
Objek Retribusi Terminal adalah pelayanan penyediaan tempat parkir
untuk kendaraan penumpang dan bis umum, tempat kegiatan usaha, dan
fasilitas lainnya di lingkungan terminal, yang disediakan, dimiliki,
dan/atau dikelola oleh Pemerintah Daerah (Pasal 131 Undang-Undang
e.

Nomor 28 Tahun 2009).


Retribusi Tempat Khusus Parkir
Objek Retribusi Tempat Khusus Parkir adalah pelayanan tempat
khusus parkir yang disediakan, dimiliki, dan/atau dikelola oleh Pemerintah

Daerah (Pasal 132 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009).


f. Retribusi Tempat Penginapan/Pesanggrahan/Villa
Objek Retribusi Tempat Penginapan/Pesanggrahan/Villa
pelayanan

tempat

penginapan/pesanggrahan/villa

yang

adalah

disediakan,

dimiliki, dan/atau dikelola oleh Pemerintah Daerah (Pasal 133 UndangUndang Nomor 28 Tahun 2009).
g. Retribusi Rumah Potong Hewan
Objek Retribusi Rumah Potong Hewan adalah pelayanan penyediaan
fasilitas

rumah

pemotongan

hewan

ternak

termasuk

pelayanan

pemeriksaan kesehatan hewan sebelum dan sesudah dipotong, yang

disediakan, dimiliki, dan/atau dikelola oleh Pemerintah Daerah (Pasal 134


Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009).
h. Retribusi Pelayanan Kepelabuhanan
Objek Retribusi Pelayanan Kepelabuhan adalah pelayanan jasa
kepelabuhanan, termasuk fasilitas lainnya di lingkungan pelabuhan yang
disediakan, dimiliki, dan/atau dikelola oleh Pemerintah Daerah (Pasal 135
Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009).
i. Retribusi Tempat Rekreasi dan Olahraga
Objek Retribusi Rekreasi dan Olahraga adalah pelayanan tempat
rekreasi, pariwisata, dan olahraga yang disediakan, dimiliki, dan/atau
dikelola oleh Pemerintah Daerah (Pasal 136 Undang-Undang Nomor 28
Tahun 2009).
j. Retribusi Penyeberangan di Air
Objek Retribusi Penyeberangan

di

Air

adalah

pelayanan

penyeberangan orang atau barang dengan menggunakan kendaraan di air


yang dimiliki dan/atau dikelola oleh Pemerintah Daerah (Pasal 137
k.

Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009).


Retribusi Penjualan Produksi Usaha Daerah
Objek Retribusi Penjualan Produksi Usaha Daerah adalah adalah
penjualan hasil produksi usaha Pemerintah Daerah (Pasal 138 UndangUndang Nomor 28 Tahun 2009).

c.

Perizinan Tertentu
Menurut Pasal 140 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 Tentang Pajak
Daerah Dan Retribusi Daerah, objek Retribusi Perizinan Tertentu adalah
pelayanan perizinan tertentu oleh Pemerintah Daerah kepada orang pribadi
atau badan yang dimaksudkan untuk pengaturan dan pengawasan atas kegiatan
pemanfaatan ruang, penggunaan sumber daya alam, barang, prasarana, sarana,
atau fasilitas tertentu guna melindungi kepentingan umum dan menjaga
kelestarian lingkungan.
Prinsip dan sasaran dalam penetapan tarif retribusi perizinan tertentu
didasarkan pada tujuan untuk menutup sebagian atau seluruhnya biaya
penyelenggaraan pemberian izin yang bersangkutan. Biaya penyelenggaraan
izin ini meliputi penerbitan dokumen izin, pengawasan di lapangan,
penegakan hukum, penatausahaan, dan biaya dampak negatif dari pemberian
izin tersebut (Ahmad Yani, 2004 : 64).
Menurut Pasal 141 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 Tentang Pajak dan
Daerah Jenis Retribusi Perizinan Tertentu adalah :

a. Retribusi Izin Mendirikan Bangunan


Objek Retribusi Izin Mendirikan Bangunan adalah pemberian izin
untuk mendirikan suatu bangunan. Pemberian izin meliputi kegiatan
peninjauan desain dan pemantauan pelaksanaan pembangunannya agar
tetap sesuai dengan rencana teknis bangunan dan rencana tata ruang,
dengan tetap memperhatikan koefisien dasar bangunan (KDB), koefisien
luas bangunan (KLB), koefisien ketinggian bangunan (KKB), dan
pengawasan penggunaan bangunan yang meliputi pemeriksaan dalam
rangka memenuhi syarat keselamatan bagi yang menempati bangunan
tersebut (Pasal 142 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009).
b. Retribusi Izin Tempat Penjualan Minuman Beralkohol
Objek Retribusi Izin Tempat Penjualan Minuman Beralkohol adalah
pemberian izin untuk melakukan penjualan minuman beralkohol di suatu
tempat tertentu (Pasal 143 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009).
c. Retribusi Izin Gangguan
Objek Retribusi Izin Gangguan adalah pemberian izin tempat
usaha/kegiatan kepada orang pribadi atau Badan yang dapat menimbulkan
ancaman bahaya, kerugian dan/atau gangguan, termasuk pengawasan dan
pengendalian kegiatan usaha secara terus-menerus untuk mencegah
terjadinya gangguan ketertiban, keselamatan, atau kesehatan umum,
memelihara ketertiban lingkungan, dan memenuhi norma keselamatan dan
kesehatan kerja (Pasal 144 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009).
d. Retribusi Izin Trayek
Objek Retribusi Izin Trayek adalah pemberian izin kepada orang
pribadi atau badan untuk menyediakan pelayanan angkutan penumpang
umum pada suatu atau beberapa trayek tertentu (Pasal 145 UndangUndang Nomor 28 Tahun 2009).
e. Retribusi Izin Usaha Perikanan
Objek Retribusi Izin Usaha Perikanan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 141 huruf e adalah pemberian izin kepada orang pribadi atau Badan
untuk melakukan kegiatan usaha penangkapan dan pembudidayaan ikan
(Pasal 146 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009).
9. Subjek Retribusi Daerah
1. Retribusi Jasa Umum adalah orang pribadi atau badan yang menggunakan/
menikmati pelayanan jasa umum yang bersangkutan.
2. Retribusi Jasa Daerah adalah orang pribadi atau badan yang menggunakan/
menikmati pelayanan jasa usaha yang bersangkutan.

3. Retribusi Perizinan Tertentu adalah orang pribadi atau badan yang


memperoleh izin tertentu dari Pemerintah Daerah.
10. Prinsip dan Sasaran Penetapan Tarif Retribusi
1. Untuk Retribusi Jasa Umum, ditetapkan berdasarkan kebijaksanaan Daerah
dengan mempertimbangkan biaya penyediaan jasa yang bersangkutan,
kemampuan masyarakat, dan aspek keadilan;
2. Untuk Retribusi Jasa Usaha, berdasarkan pada tujuan untuk memperoleh
keuntungan yang layak;
3. Untuk Retribusi Perizinan Tertentu, didasarkan pada tujuan untuk menutup
sebagian atau sama dengan biaya penyelenggaraan pemberian izin yang
bersangkutan.
11. Tata Cara Pemungutan Retribusi
Retribusi dipungut dengan menggunakan Surat Ketetapan Retribusi Daerah
(SKRD) atau dokumen lain yang dipersamakan berupa karcis, kupon, dan kartu
langganan. Dalam hal Wajib Retribusi tertentu tidak membayar tepat pada
waktunya atau kurang membayar, dikenakan sanksi administratif berupa bunga
sebesar 2% setiap bulan dari Retribusi yang terutang yang tidak atau kurang bayar
dan ditagih dengan menggunakan Surat Tagihan Retribusi Daerah (STRD).
Penagihan Retribusi terutang sebagimana didahului dengan Surat Teguran. Tata
cara pelaksanaan pemungutan retribusi ditetapkan dengan Peraturan Kepala
Daerah.
12. Pemanfaatan Retribusi
Pemanfaatan dari penerimaan masing-masing jenis Retribusi diutamakan untuk
mendanai kegiatan yang berkaitan langsung dengan penyelenggaraan pelayanan
yang bersangkutan. Ketentuan mengenai alokasi pemanfaatan penerimaan
Retribusi ditetapkan dengan Peraturan Daerah.
13. Kadaluwarsa Penagihan Retribusi
Hak untuk melakukan penagihan Retribusi menjadi Kadaluwarsa setelah
melampaui waktu 3 tahun terhitung sejak saat terutangnya Retribusi, kecuali jika
Wajib Retribusi melakukan tindak pidana dibidang Retribusi.

BAB 3
PENUTUP

A. Simpulan
Pajak daerah dan retribusi daerah merupakan salah satu cara meningkatkan APBD tapi
pajak dan retribusi daerah itu harus dilaksanakan dengan benar dan adil oleh
pemerintah maupun pembayar pajak, di kenakannya sanksi terhadap orang yang
menunggak ataun menyalahkan aturan adalah hal yang benar, seperti yang terdapat
pada Undang-Undang Nomor 34 tahun 2000 tentang pajak daerah dan retribusi daerah.
seperti juga dijelaskan di atas bahwa terdapat kategori-kategori atau kriteria-kriteria
pajak. Berapa tarif pajak yang di tetapkan yang harus sesuai tidak menjadi beban bagi
pembayar pajak, di jelaskan juga jenis-jenis pajak apa saja yang di ambil seperti pajak
perhotelan, pajak hiburan, pajak restoran, pajak reklame, pajak penerangan jalan, pajak
pengambilan bahan galian golongan C dan pajak parkir. Di harapkan dengan adanya
pembayaran pajak dan retribusi daerah yang tidak membebani masyarakat pembayar
pajak dapat berperan mengatur perekonomian masyarakat agar dapat bertumbuh
kembang yang pada gilirannya dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat di
daerah.
B. Saran
Setelah mempelajari materi ini hendaklah kita sadar akan kewajiban kita untuk
membayar pajak, agar pembangunan dapat terus berjalan.

DAFTAR PUSTAKA
Mardiasmo. 2011. Perpajakan Edisi Revisi 2011. Yogyakarta: Andi.
Moviz, Ardi.(2012, 12,Agustus). Retribusi Daerah. [Online]. Tersedia; http:
http://hitamandbiru.blogspot.com/2012/08/makalah-retribusi-daerah.html . [8 April
2014].