Anda di halaman 1dari 10

URINALISIS

Agustinus Hadi Prasetyo (G84120080)


Galuh Anjar Sari (G84110024)

DEPARTEMEN BIOKIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2015

PENDAHULUAN
Kehidupan seluruh mahkluk hidup bergantung pada sebuah sel. Semua sel
tersebut terendam alam sebuah cairan yang membentuk lautan. Cairan tersebut
dinamakan cairan tubuh. Melalui cairan tubuh transport makanan ,oksigen dan zat
penting lainnya dapat tersalurkan ke dalam sel target. Cairan tersebut dinamakan
cairan ekstraselular. Cairan ini selalu bergerak di dalam tubuh melalui sirkulasi
darah dengan bercampur pada cairan di dalam jaringan dan menembus dinding
kapiler darah secara difusi (Poedjiadi 2009).
Pada hewan dengan sistem pembuluh darah tertutup, cairan ekstraselular
terbagi menjadi dua : Cairan interstisial dan plasma darah. Cairan interstisial
adalah cairan ekstraselular yang berada di dalam kelenjar tubuh tertentu, misalnya
cairan rongga mata dan cairan sereborspinal atau sering disebut cairan transelular
(Poedjiadi 2009).
Perbedaan diantara kedua jenis cairan ini adalah komponen yang terdapat
dalam cairan ini. Cairan ekstraselular kaya akan ion Natrium, Klorida, dan
bikarbonat, ditambah berbagai zat yang penting bagi sel seperti glukosa, asam
lemak, oksigen dan asam amino. Cairan ini juga mengandung karbon dioksida
yang dialirkan ke dalam sel. Cairan intraselular kaya akan ion Magnesium, ion
Kalium dan ion Fosfat (Nelson 2008).
Proses pembentukan urin terjadi di ginjal, plasma darah membawa sejumlah
senyawa yang akan digunakan ginjal untuk diserap kembali atau dibuang
sepenuhnya dalam bentuk urin. Secara umum ada 3 tahap pembentukan urin yaitu
filtrasi, reabsorpsi, serta sekresi, Filtrasi darah dilakukan sel glomerulus yang
memiliki membran dasar yang mampu membiarkan air secara bebas namun tidak
bisa membebaskan molekul yang besar melalui 3 lapisan. Lapisan tersebut antara
lain sebagai lapisan endothelium dari sitoplasma, lapisan membran dasar, dan
lapisan akhir proses. Laju filtrasi yang dilakukan oleh glomerulus ini dinyatakan
dalam satuan GFR (glomerulas filtration rate). Filtrat hasil dari proses ini murni
tanpa adanya protein (Lawrence et al 1996).
Proses kedua adalah proses reabsorpsi yang dilakukan oleh dua saluran yang
terhubung oleh lengkung Henle yaitu tubulus Proximal dan Duktus. Reabsorpsi
yang dilakukan oleh tubulus Proximal adalah penyerapan 80 % dari air dan garam
filtrat glomerulus selain itu glukosa akan terabsorpsi sepenuhnya. Molekul yang
berukuran agak besar akan diserap kembali melalui jaringan yang lain. Namun
asam asam organik dan basa ,sebagai ion hidorogen dan ammonia akan
tersekresikan oleh sel sel tubular. Proses yang terjadi melalui dua cara yaitu
reabsorpsi secara aktif oleh energi hasil metabolisme, dan reabsorbsi secara pasif
melalui difusi untuk senyawa air serta urea dan ion klorida. Lengkung Henle
memiliki dua sisi yaitu sisi turun dan sisi naik. Pada sisi turun lengkung terjadi
peningkatan kondisi hipertonik pada lingkungan sekitar di dalam medula sehingga
reabsorpsi yang terjadi adalah secara pasif sehingga membiarkan air untuk
terabsorbsi kembali dan terjadi peningkatan konsentrasi urin yang tinggi. Pada sisi
lengkung yang naik terjadi terjadi reabosorbsi natrium serta klorida namun tidak
membiarkan air masuk kembali kedalam sel tubuh. Hal ini menyebabkan

konsentrasi cairan dalam ruang tubular bersifat hipotonis karena natrium , serta
klorida masuk kedalam jaringan interstisial sehingga sel sel dalam jaringan
tersebut bersifat hipertonis (Lawrence et al 1996).
Tubulus yang kedua adalah tubulus distal , dimana penyerapan terahkhir
terjadi secara hormonal yang dirangsang oleh ADH (Anti Diuretik Hormone).
ADH merangsang penyerapan kembali atau sekresi ion seperti Kalium.
Keberadaan hormon ini ada di dalam air namun ditemukan dalam jumlah yang
kecil. Aldosteron juga merangsangn penyerapan kembali natrium dan sekresi
kalium ke dalam tubulus distal. Hidrogen, amonia , asam urat akan disekresikan
sedangkan bikarbonat akan diabsorbsi kembali (Lawrence et al 1996).
Jenis jenis urin yang diperiksa adalah syarat urin yang layak untuk
dianalisis. Syarat urin yang dianalisis adalah urin baru dan urin yang diambil saat
bangun pagi. Alasan dari penggunaan urin baru adalah urin baru masih belum
terjadi perubahan seperti keasaman, keton dan lainnya. Alasan penggunaan urin
seusai bangun pagi adalah urin pagi masih memiliki BD yang rendah. Selain itu
terdapat urin postprandial yaitu urin 3 jam setelah makan siang, urin 24 jam dan
urin 2 dan 3 gelas (Lawrence et al 1996).
Secara umum, pemeriksaan urin (urinalisis) dilakukan untuk mengetahui
kelainan pada ginjal, kelainan yang terjadi di luar ginjal, diagnostik infeksi
saluran kemih, pemeriksaan batu ginjal, pemeriksaan ginjal, skrining kesehatan,
evaluasi berbagai penyakit ginjal, memantau perkembangan penyakit ginjal
(Rosita 2009).. Selain itu, tes urin sering digunakan untuk diagnosis diabetes dan
mendeteksi adanya metabolit obat seperti zat narkoba dan mendeteksi adanya
kehamilan. (Satria & Wildan 2013). Urin normal umumnya berwarna kuning jenih
karena mengandung pigmen urokrom serta sejumlah kecil urobilin dan uroeritrin
(Rosita 2009).
Tujuan praktikum adalah mengenal berbagai macam pengujian terhadap
urin dan hubungannya dengan diagnosis suatu penyakit atau kondisi fungsi organ
tertentu , memahami prinsip biokimia dalam uji tersebut serta terampil melakukan
berbagai macam pengujian tersebut.

METODE
Waktu dan Tempat Penelitian
Praktikum dilakukan pada hari Selasa, 24 Februari 2015 pukul 08.0011.00
WIB di Laboratorium Pendidikan Departemen Biokimia IPB.
Bahan dan Alat
Alat-alat yang digunakan yaitu urinometer, kertas saring, gelas ukur,
indikator pH universal, pipet mohr 5 mL, tabung reaksi, penangas air sedangkan
bahan-bahan yang digunakan adalah urin, kristal amonium sulfat, pereaksi bang,
zn-asetat beralkohol, Natrium nitropirusida 5%, pereaksi Benedict, asam asetat
6%.

Prosedur Penelitian
Pemeriksaan Visual dan Fisik
Bau dan warna dari sampel urin diuji. Kemudian berat jenis sampel urin
diukur dengan menggunakan urinometer. Kadar padatan urin dihitung dan pH
sampel urin diukur dengan menggunakan indikator pH Universal.
Proteinuria
Uji Koagulasi. Sampel urin disaring kemudian dipipet sebanyak 5 mL.
Sampel urin dipanaskan hingga mendidih. Kemudian sampel urin ditambahkan 13 tetes asam asetat 6%. Bila cairan menjadi jernih kembali , maka kekeruhan
dsebabkan fosfat , bila seluruhnya menjadi keruh maka kekeruhan tadi disebabkan
protein.
Uji Bang. Sebanyak 5 mL urin ditambahkan pereaksi Bang , lalu dicampur
baik baik dan dipanaskan. Hasil uji ini dibandingkan dengan uji koagulasi.
Uji Asam Sulfosalisilat. Sebanyak 3 mL urin, dituang kedalam tabung
reaksi kemudian dimiringkan. Secara perlahan tabung reaksi ditambahkan 3 mL
pereaksi 25% asam sulfosalisilat.
Glikosuria
Sebanyak 5 mL pereaksi Beneduct dipipet kedalamm tabung reaksi yang
berisi 8 tetes urin yang telah disaring. Larutan tersebut dipanaskan kemudian
didinginkan lalu diamati perubahan yang terjadi.
(Jika urin mengandung protein , maka urin diendapkan dengan perekasi bang
terlebih dahulu. Jika urin bersifat basa, maka urin harus dinetralkan dengan asam
asetat 6%).
Ketonuria
Sebanyak 5 mL urin , kristal amonium sulfat ditambahkan sampai menjadi
jenuh. Kemudian campuran ditambahkan dengan 23 tetes larutan natrium
nitoprusida 5% ,dan 1-2 tetes amonia pekat.
Bilirubin
Sebanyak 1 mL pereaksi Diazo dipipet kedalam tabung reaksi berisi 1 mL
urin beralkohol , lalu larutan dibubuhi setetes amonia pekat.
Urobilinogen dan Urobilin
Sebanyak 5 mL urin ditambahkan 5 mL suspensi Zn-asetat jenuh
beralkohol.

HASIL DAN PEMBAHASAN


Urin umumnya steril sebelum mencapai uretra dimana sel epitel di dalam
uretra dikolonisasi oleh bakteri fakultatif anaerob gram negatif berbentuk batang
dan kokus (Madigan and Brock 2009). Penelitian terkini menyatakan bahwa urin

bahkan tidak steril dari ginjal (Evann et al. 2013). Melalui percobaan ini praktikan
bisa melihat kelainan pada urin melalui metode yang dilakukan. Hasil percobaan
mengenai uji kualitatif dan kuantitatif urin disediakan pada Tabel 1 .
Tabel 1 Uji kualitatif dan kuantitatif urin
Parameter
Urin Kualitatif
Kuning pekat

Hasil
Urin 1
Kuning

Kuning

Warna

Bau
Volume (mL)
Buih
Berat jenis (g/mL)

Terukur
Terkoreksi

Suhu
Kadar padatan (g/mL)
pH

Aromatik lemah
130.00
Sedikit buih
1.000
1.002
25.5
5.2
8
+

Aromatik kuat
140.00
Sedikit buih
1.009
1.011
27.0
28.6
6

Aromatik kuat
140.00
Sedikit buih
1.011
1.013
27.0
33.8
6
-

Uji koagulasi

+
-

Uji Bang

Uji asam sulfosalisilat

Uji Benedict

Uji Rothera

Urin 2

Uji bilirubin

Uji urobilin/urobilinogen

Urobilinogen

+
Urobilinogen
Urobilin

Urobilin
Keterangan:
tidak terdapat protein/tidak terdapat gula pereduksi/tidak terdapat pigmen
+
terdapat protein/terdapat gula pereduksi/terdapat pigmen/terdapat keton
Contoh perhitungan (Urin 1):
BJ urin
BJ terukur
= 1.009 g/mL
Suhu urin
= 27C
Suhu alat
= 20C
x 10-3

Faktor terkoreksi =
=
BJ terkoreksi

Kadar padatan
Kadar padatan

x 10-3

= 0.002
= BJ terukur + faktor terkoreksi
= 1.009 g/mL + 0.002
= 1.011 g/mL

= dua angka terakhir BJ terkoreksi x koefisien Long


= 11 x 2.6
= 28.6 g/L

Proteinuria dibagi kedalam dua tipe. Kasus Glomerular proteinuria ,


molekul protein berukuran besar dalam jumlah banyak terkandung dalam filtrat

glomerulus dan sangat banyak ditemukan dalam urin. Proteinuria dalam tingkat
yang berat mengekskresikan protein dalam jumlah yang lebih besar dari 2g per
hari. Kasus Tubular proteinuria , protein ditemukan dalam urin karena proses
reabsorbsi yang tidak sempurna. Kasus ini sering terjadi pada penderita yang
mengatur kenaikan postur tubuhnya seperti ibu hamil. Kadar protein yang
diekskresikan adalah 1-3 gram per hari (Lawrence et al 1996). Uji asam
sulfosalisilat dapat dilakukan untuk menguji adanya protein dalam urin. Uji ini
memiliki sensitifitas yang cukup tinggi dalam mendeteksi protein dalam urin,
harganya lebih murah, dan dapat dilakukan dengan cepat. Prinsip uji asam
sulfosalisilat yaitu penentuan adanya protein secara kualitatif dan cepat. Reaksi
yang terjadi pada uji ini yakni protein akan terkoagulasi dengan adanya asam kuat
dan pemanasan. Protein yang terdapat dalam urin ditandai dengan adanya lapisan
presipitasi berwarna putih (keruh) pada kedua cairan (Bintang 2010). Faktor
terpenting dalam uji Bang adalah waktu pemanasan (Bintang 2010).
Hasil percobaan menunjukkan bahwa tidak terdapat protein dalam filtrat
urin probandus. Hal ini ditunjukkan dengan tidak keruhnya filtrat urin yang
menandakan tidak adanya protein, serupa dengan uji koagulasi. Ketiga uji ini
tidak mendeteksi adanya protein dalam filtrat utin probandus yang ditandai
dengan tidak keruhnya cairan setelah ditambahkan pereaksi dan dipanaskan.
Kecuali urin analisis kualitatif, urin yang lain negatif memiliki kandungan protein.
Selain metode tersebut, metode lain yang terkait untuk uji proteinuria adalah
Turbidimetrik, Coomasie Briliant Blue , Pyrogallol red, Biuret dengan modifikasi
serta indikator pH (Lawrence et al 1996).
Jika glukosa darah meningkat hingga mlampaui kadar yang relatif tinggi ,
ginjal juga mulai melaksanakan efek regulatorik. Glukosa akan terus meerus
difiltrasi di glomerulus dan direabsorbsi secara sempurna di tubulus melalui
transpor aktif. Kapasitas sistem dalam menyerap gluksa dalam tubulus sekita 350
mg/menit, jika seseorang mengalami hiperglikemia maka filtrat glomerulus
memiliki glukosa yang banyak dan harus direabsorpsi sehingga terjadi glukosuria.
Kadar gula darah vena pada penyakit ini adalah 9.5-10,0 mmol/L (Murray 2012).
Pengujian kandungan karbohidrat pada urin dapat menggunakan uji
Benedict. Prinsip uji Benedict, yaitu larutan alkali dari tembaga direduksi oleh
gula yang mengandung gugus aldehid atau keton bebas, dengan membentuk kupro
oksida berwarna. Larutan Benedict mengandung kupri sulfat, natrium karbonat,
dan natrium sitrat. Uji Benedict dilakukan pada suasana basa yang menyebabkan
terjadinya trasformasi isomerik. Reduksi dalam suasana basa ion Cu 2+ daru CuSO4
oleh gula pereduksi akan berlangsung dengan cepat dan membentuk Cu2O yang
akan menghasilkan endapan merah bata (Bintang 2010). Hasil pengujian sampel
urin probandus menunjukkan hasil negatif yang ditandai tidak adanya perubahan
warna. Artinya kedua sampel tersebut tidak mengandung glukosa. Sedangkan
pada urin analisi kualitatif, sampel urin menunjukkan hasil positif yang ditandai
dengan perubahan warna sampel yang kehijauan. Artinya sampel urin tersebut
memiliki glukosa.
Uji Rothera merupakan uji spesifik untuk menunjukkan adanya senyawa
aseton dalam urin. Prinsip uji tersebut didasarkan pada reaksi antara aseton yang
terdapat pada urin dengan natrium nitroprusida. Keberadaan aseton ditandai
dengan terbentuknya warna permanganat. Asam diasetat menunjukkan warna
jingga merah. Uji ini dapat positif dengan kadar aseton 1:20.000 (Bintang 2010).

Hasil pengujian probandus (urin 1 dan 2) dan sampel urin analisis kualitatif
menunjukkan hasil positif yang ditandai dengan adanya perubahan warna pada
sampel.
Reaksi diazo umum dilakukan untuk mengekstrak bilirubin takterkonjugasi dari serum. Pereaksi diazo yang ditambahkan berfungsi untuk
memecah bilirubin terkonjugasi membentuk dipirrolic azopigmen. Reaksi ini
sering disebut reaksi langsung Hymans-Van de Berg. Senyawa tambahan seperti
urea (amonia), alkohol, dimetil sulfoksida perlu ditambahkan untuk sampel yang
mengandung bilirubin tak-terkonjugasi (reaksi tidak langsung). Senyawa
tambahan ini akan mengganggu ikatan hidrogen sampel dan menyebabkan gugus
sentral -CH2- dapat berikatan dengan pereaksi diazo membentuk warna keunguan
dengan panjang gelombang 540 nm (Fevery 2008). Hasil pengamatan pada urin
probandus didapatkan bahwa hanya urin 1 terdeteksi mengandung bilirubin
dengan terbentuknya warna merah kecokelatan setelah pencampuran. Kadar
bilirubin dalam urin normal adalah sebesar 0.2-0.7 mg/dL sehingga pada urin
yang sehat bilirubin tidak akan terdeteksi (Murray 2012).
Urobilinogen merupakan produk tak berwarna yang merupakan hasil
reduksi oleh flora feses yang merupakan senyawa tetrapitol. Sebagian kecil
senyawa ini akan dibawa ke hati untuk direabsorpsi dan diekskresi ulang dalam
siklus unribilinogen hepatik. Pada keadaan abnormal siklus ini terganggu jika
seseorang mengalami penyakit hati atau produk pigmen berlebihan. Urobilin
adalah pigmen kuning sebagai produk akhir dari metabolisme hemoglobin dan
dieksreksikan melalui urin dan feses mamalia. Urobilin dihasilkan dari pemecahan
bilirubin, katabolisme heme. Urobilin menjadi indikator penyakit seperti kelainan
fungsi hati. Deteksi urobilin dalam larutan dapat dilihat dari terbentuknya gugus
fosfor dari penggabungan urobilin dan ion zink. Prinsip uji urobilin dengan
metode Schlessinger yaitu terbentuknya kompleks senyawa pengkelat
urobilinogen-zink yang berwarna hijau fluoresensi ketika disinari oleh sinar biru
(UV) (Bixler et al. 2014). Hasil pengamatan didapatkan bahwa urin probandus 1
dan 2 serta urin analisis kualitatif terdeteksi mengandung urobilin, terlihat dari
tidak terbentuknya warna hijau fluoresensi.
Kelebihan metode urinalisis adalah untuk mengetahui penyakit yang
sedang diderita seseorang uji yang dilakukan sudah bersifat kualitatif sehingga
melalui uji tersebut seseorang dapat mendiagnosis gangguan metabolisme pada
penderita. Namun kelemahannya adalah uji tidak bersifat kuantitatif sehingga
kurang akurat jika ingin dianalisis lebih lanjut.

SIMPULAN DAN SARAN


Simpulan
Praktikum yang dilakukan terhadap urin merupakan analisis secara fisik dan
kimia. Analisis fisik meliputi pengamatan warna, bau, pH, buih, bobot jenis, serta
kadar padatan. Hasil pengamatan didapatkan bahwa urin probandus 1 memiliki
warna kuning jernih, berbau amoniak aromatik, memiliki pH basa, dan melalui
bobot jenis yang diketahui kadar padatan dapat diukur. Analisis kimia yaitu uji

proteinuria meliputi uji koagulasi, uji Bang, dan uji asam sulfosalisilat, glukosuria
yaitu uji Benedict, ketonuria yaitu uji Rothera, bilirubin dengan metode HymanBergh, serta urobilin dengan metode Schlessinger.
Saran
Kebersihan diri sebaiknya dijaga dengan baik dengan melakukan
perlindungan diri seperti memakai sarung tangan dan masker. Bila perlu, setiap
praktikan diberikan hak untuk melakukan keseluruhan percobaan secara invidu.

DAFTAR PUSTAKA
Bintang M. 2010. Biokimia Teknik Penelitian. Jakarta (ID): Erlangga Medical
Series
Bixler JN, Cone MT, Hokr BH, Mason JD, Figueroa E, Fry ES, Yakovlev VV,
Scully MO. 2014. Ultrasensitive detection of waste products in water using
fluorescence emission cavity-enhanced spectroscopy. PNAS 111(20): 72087211.
Evann EH, McKinley K, Pearce MM, Rosenfeld AB, Zilliox MJ, Mueller ER,
Brubaker L, Gai X, Wolfe AJ, Paul C. 2013. Urine is not sterile: use of
enhanced urine culture techniques to detect resident bacterial flora in the
adult female bladder. Journal of Clinical Microbiology 52(3):871876.
Fevery J. 2008. Bilirubin in clinical practice: a review. Liver International: 592605.
Lawrence Kaplan. 1996. Clinical Chemitstry Third Edititon. St Louis (US) :
Mosby.
Madigan MT, Brock TD. 2009. Brock Biology of Microorganisms l. New York
(US): Pearson/Benjamin Cummings.
Murray RK, Granner DK, Mayes PA, Rodwell VW. 2012. Biokimia Harper edisi
ke 27. Jakarta (ID): EGC.
Nelson, Cox . 2008. Lehninger Principles of Biochemistry 5th Edition. New York
(US) : W.H Freeman and Company
Poedjiaji A. 2009. Dasar-dasar Biokimia. Jakarta (ID): UIP.
Rosita L. 2009. Pengaruh penundaan waktu terhadap hasil urinalisis. Jurnal
Kedokteran dan Kesehatan Indonesia. 1(2): 62-69.