P. 1
Jurnal Ekonomi Pembangunan Vol. 9, No. 2,

Jurnal Ekonomi Pembangunan Vol. 9, No. 2,

|Views: 8,022|Likes:
Dipublikasikan oleh azi Radianto
tugas buat UAS
tugas buat UAS

More info:

Published by: azi Radianto on Jan 26, 2010
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/06/2013

pdf

text

original

Sections

Jurnal Ekonomi Pembangunan Vol. 9, No. 2, Desember 2008, hal.

121 - 136
TERAKREDITASI. SK Dikti No.55a / DIKTI / Kep / 2006

ISSN 1411- 6081

Volume 9, No. 2, Desember 2008

DAFTAR ISI
Dampak Ketidakstabilan Nilai Tukar Rupiah terhadap Permintaan Uang M2 di Indonesia Etty Puji Lestari ………….……….……..…………………………………….……. 121 - 136 Analisis Peranan Sektor Industri terhadap Perekonomian Jawa Tengah Tahun 2000 dan Tahun 2004 (Analisis Input Output) Didit Purnomo dan Devi Istiqomah ………………………………………….……. 137 - 155 Analisis Perubahan Kurs Rupiah terhadap Dollar Amerika Triyono ………………….………..…………………………………………….…… 156 - 167 Produktivitas Lahan dan Biaya Usahatani Tanaman Pangan di Kabupaten Gunung Kidul Suwarto ………………….……..………..……..…………………………………… 168 - 183 Analisis Kompetensi Produk Unggulan Daerah pada Batik Tulis dan Cap Solo di Dati II Kota Surakarta Daryono Soebagiyo dan M. Wahyudi ………………..………………………..….. 184 - 197 Analisis Dampak Otonomi Daerah terhadap Strategi Pengembangan Perguruan Tinggi Swasta (PTS) di Kabupaten Sleman Rudy Badrudin ………………………………………..………………………….… 198 - 215 Peran Aktif Wanita dalam Peningkatan Pendapatan Rumah tangga Miskin: Studi Kasus pada Wanita Pemecah Batu di Pucanganak Kecamatan Tugu Trenggalek Sugeng Haryanto …………………….…………..………….……………………… 216 - 227 The Competitiveness of Soybean Production in Blitar-East Java, Indonesia Moh. Azis Arisudi dan Salfarina Abdul Gapor ………...………..………………... 228 - 247

Jurnal Ekonomi Pembangunan Vol. 9, No. 2, Desember 2008, hal. 121 - 136

DAMPAK KETIDAKSTABILAN NILAI TUKAR RUPIAH TERHADAP PERMINTAAN UANG M2 DI INDONESIA
Etty Puji Lestari Fakultas Ekonomi Universitas Terbuka, Jakarta E mail: ettypl@mail.ut.ac.id

ABSTRACT This article attempts to estimate demand for M2 money in Indonesia using time series non-stationary technique in 1997.1 - 2006.4. There are four methods are used in research, first, VAR estimation used to forecast model which have interaction of data time series. Second, function impulse response to see response from every variable to structural innovation of the other variables at the same time. Third, variance decomposition to know dissociating variation change of shock from each variable to other variables in model. Fourth method, ADL ECM to see long-range adjustment in variable, before and after addition of variable. The result, there are non-stationary condition in the time series data in the research. Result of VAR estimation show that there is no causality relation two ways among fifth of variable. From impulse, response known that response of M2 variable to other variable very fluctuative but finally the condition will return to stabilize. Keywords: instability of exchange rate, M2 money, vector autoregression PENDAHULUAN Perekonomian Indonesia masih menunjukkan kinerja yang cukup baik sampai awal tahun 1997 yang ditandai oleh menguatnya beberapa indikator makro ekonomi. Pada tahun 1996, tingkat pertumbuhan ekonomi masih mencapai 7,8 persen per tahun dan investasi langsung luar negeri mencapai $6,5 juta pada tahun fiskal 1996/1997. Sementara itu cadangan devisa resmi pemerintah mencapai $20 juta pada bulan Maret 1997, serta tingkat depresiasi rupiah terhadap dolar Amerika masih terpelihara pada kisaran 3-5 persen (Bank Indonesia, 1997). Krisis ekonomi dan keuangan yang awalnya melanda Thailand berdampak pada perekonomian negara-negara ASEAN, termasuk Indonesia. Perekonomian Indonesia mulai mengalami perubahan yang signifikan setelah pada pertengahan tahun 1997 muncul masalah yang menghantam perdagangan valuta asing di kawasan Asia, yang diawali dengan guncangan pasar valuta asing di Thailand dan kemudian menjalar ke pasar valuta asing negara-negara lain termasuk Indonesia. Pada akhir periode tahun 1997, depresiasi riil nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mencapai angka 68,7 persen. Pada saat keseimbangan eksternal tergangggu, terjadi pula ketidakseimbangan internal. Kenaikan harga barang-barang secara otomatis akan memperbesar angka inflasi. Pada akhir tahun 1997 angka inflasi mencapai 11,1 persen per tahun dan terus meningkat hingga

122

Jurnal Ekonomi Pembangunan, Vol. 9, No. 2, Desember 2008
Pertumbuhan Ekonomi
100

80

60

Persen

40

20

0 1992 -20

1994

1996

1998

2000

2002

2004

2006

2008

Tahun inflasi pertumbuhan PDB riil

Gambar 1. Laju Inflasi dan Pertumbuhan PDB Riil

mencapai 168,32 persen per tahun pada tahun berikutnya (Bank Indonesia, 1999). Pada kasus Indonesia, krisis nilai tukar mata uang Rupiah terhadap dolar, terus menular ke sektor-sektor lainnya hingga menimbulkan krisis ekonomi. Pada akhir tahun 1997, pertumbuhan ekonomi tahunan (PDB riil) tercatat sebesar 4,7 persen sedang pada akhir tahun 1998 turun sebesar -13,2 persen (Gambar 1). Sebelum terjadinya krisis ekonomi, antara tahun 1990 sampai 1996, pertumbuhan ekonomi Indonesia rata-rata mencapai 8 persen. Setelah terjadinya krisis ekonomi tahun 1997 maka pertumbuhan ekonomi Indonesia antara tahun 2000 sampai 2006 menurun dengan rata-rata 4,86 persen. Perekonomian Indonesia mulai dikatakan membaik pada tahun 2000 yang dibuktikan dengan adanya penurunan inflasi dari 77,63 persen pada tahun 1998 menjadi 2,01 pada tahun 2000, namun kembali meningkat pada tahun 2002 sebanyak 12,55 persen. Membaiknya kinerja ini juga diikuti oleh meningkatnya pendapatan perkapita masya-

rakat (percapita gross national product) yaitu dari 4.49 juta rupiah pada tahun 1998 dan 5,78 juta rupiah (2000) menjadi 6,86 juta rupiah pada tahun 2001 (BPS, 2003). Pemulihan kondisi tersebut ditunjang oleh membaiknya infrastuktur yang ada serta kebijakan-kebijakan yang diterapkan oleh pemerintah baik fiskal maupun moneter. Kondisi non stasioner tersebut menunjukkan bahwa secara teoritis terdapat masalah yang berkaitan dengan stabilitas. Stabilitas merupakan syarat utama dari stasioneritas data, terutama data time series. Kondisi non stasioner terjadi jika nilai rata-rata (mean), variance dan covariance tidak konsisten sepanjang waktu. Stabilisasi pada data time series berhubungan erat dengan stabilitas ekonomi makro. Jika ada permasalahan yang berhubungan dengan variabel non stasioner maka hasil estimasi akan mengalami regresi lancung (spurious regression atau spurious correlation problem). Sejauh ini perdebatan akademik menyangkut kelancungan pertama kali dikemukakan oleh Granger dan Newbold pada tahun 1974 dan tahun 1977 serta dikaji

Etty Puji Lestari - Dampak Ketidakstabilan Nilai Tukar Rupiah lebih lanjut oleh Phillips pada tahun 1986. Dampak yang ditimbulkan oleh regresi lancung antara lain: koefisien penaksir tidak efisien, peramalan berdasarkan regresi tersebut akan meleset dan uji baku umum menjadi tidak sahih (Insukindro, 1991). Untuk mencapai stabilisasi ekonomi maka diperlukan target-antara di antaranya jumlah uang beredar. Di sisi lain pengendalian jumlah uang beredar (JUB) sulit diukur. Pengendalian JUB berkaitan erat dengan perilaku permintaan uang masyarakat terutama untuk jangka panjang. Salah satu variabel penentu yang cukup berarti dalam dalam teori ekonomi adalah kurs atau nilai tukar yang sifatnya fluktuatif. Variabel ini menjadi lebih dominan pada masa krisis. Perekonomian suatu negara dikatakan bebas dari krisis apabila mampu mencapai nilai kurs yang stabil. Berangkat dari kondisi yang sangat fluktuatif tersebut, maka artikel ini ingin menganalisis permintaan uang di Indonesia dengan teknik time series non stasioner pada saat terjadi ketidakstabilan nilai tukar pada tahun 1997.1–2006.4; menganalisis perilaku variabel penentu permintaan uang yang memiliki karakteristik yang sangat fluktuatif di Indonesia terutama setelah Bank Indonesia mengenakan sistem kurs mengambang bebas; dan mengukur besarnya kecepatan penyesuaian (speed of adjustment) jangka panjang permintaan uang.

123

terhadap luar negeri bebas dilakukan oleh masyarakat Indonesia. Masyarakat telah dibebaskan untuk memegang valuta asing dengan sistem kurs mengambang terkendali (managed floating exchange rate) sejak awal tahun 1980-an dan sekarang sistem kurs mengambang penuh (free floating exchange rate). Kebijakan ini memungkinkan masyarakat di dalam negeri untuk merelokasikan kekayaannya dengan memasukkan mata uang asing sebagai salah satu bentuk kekayaan yang dipegang sehingga memungkinkan maksimisasi return dari asset yang mereka pegang. Perdebatan pemilihan variabel kunci dalam menjelaskan perilaku permintaan uang tidak terlalu banyak variasinya. Penelitian yang dilakukan oleh Hendry dan Erricson (1991) dan Mizao (1997) menggunakan 4 variabel yaitu M, π , Y dan R yang masingmasing menunjukkan M1 riil, tingkat laju inflasi, output riil, dan tingkat bunga berjangka. Selanjutnya melihat kondisi keterbukaan yang dialami Indonesia sejak awal tahun 1980-an maka berbeda dengan penelitian Morimune dan Zhao (1997), model dapat diperluas untuk memasukkan variabel nilai tukar dan permintaan uangnya dipilih M2 karena memiliki skala yang lebih luas dibandingkan M1. Model penelitian ini dapat dituliskan sebagai berikut:

M d = f (Yt , ER t , rt , Inf t )
dimana

METODE PENELITIAN Model Estimasi Permintaan Uang Penggunaan model perekonomian terbuka dapat diterima untuk kasus permintaan uang di Indonesia, mengingat bahwa transaksi

Md adalah permintaan uang M2 Yt adalah output atau pendapatan nasional riil ERt adalah nilai tukar rupiah terhadap dolar rt adalah tingkat suku bunga pasar dan Inft adalah tingkat inflasi.

124

Jurnal Ekonomi Pembangunan, Vol. 9, No. 2, Desember 2008 neritas karena pada prinsipnya uji tersebut dimaksudkan untuk mengamati apakah koefisien tertentu dari model otoregressif yang ditaksir memiliki nilai satu atau tidak. Namun demikian model otoregresif memiliki distribusi yang tidak baku seperti uji t dan uji f yang tidak cukup layak digunakan untuk menguji hipotesa. Uji tersebut dikembangkan dengan penaksiran otoregresif sebagai berikut:

Penelitian ini menggunakan data sekunder yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik, Statistik dan Keuangan Indonesia, Bank Indonesia, International Financial Statistic (IFS), World Bank dan beberapa sumber literatur lainnya. Rentang waktu yang digunakan dalam penelitian adalah mulai tahun 1997.1 sampai 2006.4. Penelitian ini menggunakan 4 (empat) metode estimasi, yaitu pertama, Vector Autoregression/VAR untuk melihat estimasi hubungan dalam jangka panjang. Metode VAR diyakini mampu melakukan peramalan yang lebih baik dibandingkan model persamaan struktural. Metode kedua adalah melakukan pengujian terhadap impulse response function untuk melihat respon dari setiap variabel terhadap struktural inovasi variabel lainnya dalam model pada periode waktu bersamaan. Metode ketiga adalah menguji variance decomposition yang berguna untuk memisahkan variasi perubahan shock dari setiap variabel terhadap variabel lain dalam model. Metode terakhir yang dipakai adalah melakukan estimasi model ADL ECM. Metode estimasi ini merupakan turunan dari model VAR atau metode estimasi VAR yang memasukkan variabel tambahan (ECT) ke dalam analisis. Tujuannya adalah untuk melihat penyesuaian jangka panjang dalam variabel yang diamati sebelum dan sesudah penambahan variabel. Uji Akar Unit Autoregressive Tujuan uji akar unit adalah untuk mengetahui ada tidaknya akar unit (komponen random walk). Uji akar unit yang digunakan dalam penelitian ini adalah dua uji yang dikembangkan oleh Dickey dan Fuller (1981). Uji akar unit dapat dipandang sebagai uji stasio-

X t = α + θX t −1 + u t

…….(1)

dimana parameter θ untuk data time series diasumsikan positip. Xt menjadi non stasioner jika parameter θ sama dengan atau lebih dari satu. Time series persamaan 1 stasioner jika θ < 1. Proses pengujiannya dilakukan dengan mengaplikasikan OLS ke dalam per-

ˆ samaan 1 sehingga kita mendapatkan θ nilai estimasi dari θ . Selanjutnya dilakukan uji t (t-test) pada hipotesis nol Ho: θ =1 melawan

ˆ Ha: θ <1. Jika θ merupakan standar error ˆ estimasi dari θ maka uji statistik (t-statistik/ TS) dirumuskan sebagai berikut:
TS = ˆ θ −1 sθ ˆ
…….(2)

penolakan Ho berimplikasi pada data yang stasioner. Kajian yang dilakukan oleh D.A Dickey dan W.F Fuller (1981) dilakukan dengan menulis persamaan 1 menjadi:

ΔX t = α + θ * X t −1 + u t ,

θ* = θ − 1

…….(3)

Etty Puji Lestari - Dampak Ketidakstabilan Nilai Tukar Rupiah dengan pengujian Ho: θ =1 melawan Ha: θ < 1 dalam persamaan 1 sama dengan pengujian Ho: θ *=0 melawan Ha: θ *<0 pada persamaan 3. Pengujian yang terakhir terakhir sering disebut uji akar unit (unit root test). Dickey-Fuller telah mengembangkan sebuah simulasi dengan menabulasi distribusi t-rasio sampel besar dengan menguji hipotesa nol (Ho) yaitu θ *=0. Mereka menemukan adanya bias ke bawah (downward biased) distribusi t rasio pada nol seperti jika estimator

125

bentuk hubungan jangka panjang. Metode lainnya adalah Vector Autoregression (VAR) yang diperkenalkan oleh Sims (1980). Metode ini didasarkan atas reaksi terhadap pendekatan ekonometri tradisional untuk menangani model simultan (multi-equation simultaneous models). Kunci penting dari metode ini adalah pembagian variabelvariabel menjadi variabel endogen ke dalam model dan variabel yang diperlakukan sebagai variabel eksogen (Litterman, 1985). VAR sering digunakan untuk meramalkan model yang memiliki data time series yang saling berhubungan (interrelated time series) dan digunakan untuk menganalisis dampak dari variabel pengganggu (random disturbances) yang dinamis. Kriteria pengujian secara statistik dilakukan dengan uji parsial (uji-t) dan uji goodness of fit; t tabel(2 tail, α = 0.05,∞) = 1.960. Uji goodness of fit dilakukan dengan melihat koefisien determinasinya (R2). Uji ini bertujuan untuk mengukur seberapa besar variasi dari variabelvariabel independen dapat menjelaskan variabel dependen. Model VAR yang digunakan dalam penelitian ini sebagai berikut:

ˆ OLS θ * yang tidak bias tetapi pada nilai yang kurang dari nol (lihat Thomas, 1997:406 dan 412, Greene, 2000: 750).

Pada situasi seperti ini dihasilkan t-rasio dengan simbol t1*.t1* yang disebut sebagai statistic DF (Dickey Fuller statistic). Beberapa nilai kritis Dickey Fuller untuk t1* ditunjukkan pada Tabel 1. Penelitian ini menggunakan uji akar-akar unit yang dikembangkan oleh Dickey & Fuller (1981, hal 1057-1072). Tima series yang memiliki akar unit biasa disebut sebagai random walk time series (Gujarati, 728). Uji ini dilakukan dengan dua cara, yaitu dengan memasukkan konstanta tetapi tidak memasukkan trend dan dengan memasukkan konstanta dan trend. Estimasi Jangka Panjang dengan Var Analisis kointegrasi sering digunakan sebagai salah satu metode dalam menentukan

Yt = ΓYt −1 + ε t

…….(4)

dimana vektor Yt = Yt , Z t . Lakukan turunan pertama (first difference) menjadi:

Tabel 1. Nilai Kritis untuk t1*
Nilai kritis dari t1* Tingkat sig 0,01 Tingkat sig 0,05 Tingkat sig. 0,10 Jumlah sample n 25 -3.75 -3.00 -2.63 50 -3.58 -2.93 -2.60 100 -3.51 -2.89 -2.58 500 -3.44 -2.87 -2.57 ∞ -3.43 -2.86 -2.57 Nilai t biasa (n=∞) -2.33 -1.65 -1.28

126

Jurnal Ekonomi Pembangunan, Vol. 9, No. 2, Desember 2008 Impulse Response Function dari Model Var Impulse Response Function menggambarkan respon dari setiap variabel terhadap struktural inovasi variabel lainnya dalam model pada periode waktu bersamaan. Estimasi impulse response dapat dilihat pada saat ini dan akan datang. Selanjutnya model VAR dapat ditulis sebagai suatu vektor rata-rata bergerak atau VMA (vector moving average). Jika dituliskan dalam bentuk matriks aljabar dari bentuk standar VAR maka akan didapat persamaan berikut:

y t − y t −1 = (Γ − 1)y t −1 + ε t t dan

Δyt = Πy t −1 + ε t

…….(5)

Jika semua variabel terintegrasi I(1), maka semua variabel M pada sisi kiri adalah I(0). Matrik Π menghasilkan kombinasi linier dari variabel dalam Yt. namun tidak semua kombinasi linier terkointegrasi meskipun model representasi VAR dipastikan ada. Jika model ini diasumsikan sebagai unrestricted VAR maka hasil matriks koefisien harus diperingkat. Implikasinya, jika variabel benar-benar terkointegrasi maka koefisien matriksnya tidak akan kehilangan kesesuaiannya (goodnes of fit) (Greene, 2000:794). Menurut Morimune dan Zhao (1997), jika Xt menjadi kolom vektor dari sejumlah p komponen dengan I(1), maka sistem yang dapat ditulis dalam jumlah order VAR yang terbatas (restricted VAR) seperti berikut:

⎡ y t ⎤ ⎡ y ⎤ ∞ ⎡ a11 ⎢ z ⎥ = ⎢ z ⎥ + ∑ ⎢a ⎣ t ⎦ ⎣ ⎦ i =0 ⎣ 22

a12 ⎤ ⎡ e1t −i ⎤ a 22 ⎥ ⎢e2t −i ⎥ ⎦⎣ ⎦

….(7)

ΔX t = μ + Π x t −1 + ... + Tk Δx t −k + ε t ….(6)
dimana t = 1,2,3…t dan ε t independen, E( ε t ) = 0 dan covariance ( ε t ) = ∑ . Model koreksi kesalahan (ECM) terjadi ketika matrik Π dibatasi. Hanya variabel Π xt yang menunjukkan masih ada hubungan jangka panjang dimana masing-masing variabel tidak berubah nilainya. Dalam jangka pendek variabel Π xt tidak cocok dengan keseimbangan masa lalu dan sisi kiri adalah penyesuaian dari ketidakcocokannya (Gujarati, 1995).

dimana {yt} dan {zt} mempunyai hubungan dengan {e1t} dan {e2t} secara berurutan. Dengan menggunakan {εyt} dan {εzt}, selanjutnya dengan menggunakan operasi matriks aljabar maka vector error dapat ditentukan menjadi:
⎡ e1t ⎤ ⎡ 1 ⎢e ⎥ = [1 /(1 − b12 b21 )]⎢− b ⎣ 21 ⎣ 2t ⎦ − b12 ⎤ ⎡ε yt ⎤ 1 ⎥ ⎢ε zt ⎥ ⎦⎣ ⎦

...(8)

Moving average representation dalam persamaan (4) dan (5) dapat ditulis dengan kaitan {εyt} dan {εzt} secara berulang menjadi:

⎡ y t ⎤ ⎡ y ⎤ ∞ ⎡ Φ 11 (i ) Φ 12 (i ) ⎤ ⎡ε yt −i ⎤ ⎢ z ⎥ = ⎢ z ⎥ + ∑ ⎢Φ (i ) Φ (i ) ⎥ ⎢ε ⎥ 22 ⎦ ⎣ zt −1 ⎦ ⎣ t ⎦ ⎣ ⎦ i = 0 ⎣ 21
…….(9) Empat satuan koefisien Φ11(i), Φ12(i), Φ21(i), dan Φ22(i) inilah yang disebut dengan impulse response function (IRF).

Etty Puji Lestari - Dampak Ketidakstabilan Nilai Tukar Rupiah dimana: = efek dari struktural shock pada y dan z Фij( 0 ) = impact multipliers Σ Фij( i ) = cumulative multipliers Σ Фij( i ) = pada saat n → ∞ = long run multipliers Variance Decomposition dari M2 Variance decomposition memisahkan variasi perubahan shock dari setiap variabel terhadap variabel lain dalam model. Setiap variabel perubahan dalam model diasumsikan tidak berkorelasi. Variance decomposition menggambarkan besarnya sumbangan pengaruh dari suatu variabel perubahan terhadap variabel lain dalam model. Bentuk VMA dari variabel x pada satu periode di depan dituliskan sebagai berikut: Фij( i )

127

Yt+n – et yt+n = φ11 (0)ε yt+n + φ11 (1)ε yt+n-1 + ... + φ11 (n-1)ε yt+1 φ12 (0)ε zt+n + φ12 (1)ε zt+n-1 + ... + φ12 (n-1)ε zt+1 …….(13)

Variance dari forecast error Yt+n periode n ke depan adalah σy (n)2, dimana: σy(n)2 = σ2y [φ11(0)2 + φ11(1)2 + ... + φ11(n-1)2] + σ2z [φ12(0)2 + φ12(1)2 + ... + φ12(n-1)2] …….(14)

forecast error variance decomposition adalah proporsi dari σy(n)2 terhadap shock y dan shock z. Sehingga forecast error variance decomposition pada shock y adalah: σ2y [φ11(0)2 + φ11(1)2 + ... + φ11(n-1)2] / σy(n)2 …….(15)

X t +1 = X + ∑ ϕi ε t +1−i
i =1

…….(10) Sedangkan forecast error variance decomposition pada shock z adalah: σ2z [φ11(0)2 + φ11(1)2 + ... + φ11(n-1)2] / σy(n)2 …….(16) Estimasi Model ADL ECM

Forecast error pada satu periode ke depan adalah:

E t X t +1 = X + ∑ ϕi ε t +1−i
i =1

…….(11)

Peramalan satu periode kedepan dilambangkan dengan φ0 ε t+1 . Forecast error pada periode n ke depan adalah:

X t + n − E t X t +1 = X + ∑ ϕi ε t +1−i …….(12)
i =1

Penelitian ini menggunakan model ADL ECM (Autoregressive Distributed Lag Error Correction Models) untuk mengestimasi fungsi permintaan uang seperti yang dipakai oleh Hendry et al, yaitu:

Yt = α 0 + α1Yt −1 + β 0 X t + β1X t −1 + ξ t ..(17)
persamaan ini kemudian ditransformasikan kedalam bentuk ECM menjadi

Forecast error pada n periode ke depan untuk variabel y adalah:

128

Jurnal Ekonomi Pembangunan, Vol. 9, No. 2, Desember 2008 dapat berkorelasi dengan error term dari regresi. Model ADL secara konsisten dapat diestimasi dengan teknik variabel tambahan.

ΔYt = α 0 + α *1 (Yt −1 − βX t −1 ) +
β 0 ΔX t + ξ t
……(18)

Bentuk ECM ini berbeda dengan bentuk VAR turunan atau VAR yang memasukkan Xt atau ∆Xt yang disetarakan dengan variabel dependen. Secara umum model ADL dituliskan sebagai berikut:

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Berdasar hasil estimasi, diketahui bahwa nilai t-statistik atau nilai hitung ADF untuk variabel M2, pendapatan nasional, dan suku bunga sudah stasioner pada derajat kepercayaan satu persen, sedangkan variabel inflasi stasioner pada derajat kepercayaan lima persen. Dalam uji ini hanya variabel kurs yang tidak lolos uji akar unit sehingga harus diteruskan dengan uji derajat integrasi satu. Hal ini menunjukkan ada masalah dengan akar unit yang menggambarkan situasi non stasioner. Untuk selanjutnya perlu dilakukan uji derajat integrasi untuk mengetahui pada derajat ke berapa data-data tersebut stasioner. Hasil selengkapnya uji akar unit dapat dilihat pada Tabel 2.

Yt = α 0 + ∑ αi Yt −1 + ∑∑ βjiXjt−i + ξt t
i=1 i=1 i=0

m

p

n

..….(19) dimana p merupakan indeks variabel penjelas yang masing-masing memiliki distribusi kelambanan. Model ADL dapat ditransformasikan dalam bentuk ECM namun disetarakan dengan termin tambahan (extra term) ΔX jt , j = 1,..p yang sangat berguna dalam studi empiris. Tetapi termin tambahan ΔX jt membuat estimasi menjadi bermasalah ketika

Tabel 2. Uji Akar Unit dan Uji Derajat Integrasi I
VARIABEL M2 UJI AKAR UNIT 2.707622 (lolos) 3.572500 (lolos) 0.673967 (tidak lolos) -2.073001 (lolos) -3.154925 (lolos) 1.708373 (lolos) DERAJAT INTEGRASI 1 NILAI KRITIS ADF Derajat kepercayaan (%) 1 5 10 1 5 10 1 5 10 1 5 10 1 5 10 t statistik -2.627238 -1.949856 -1.611469 -2.628961 -1.950117 -1.611339 -2.627238 -1.949856 -1.611469 -2.625606 -1.949609 -1.611593 -2.641672 -1.952066 -1.610400

Y

ER

INF

R

Sumber: data di olah

Etty Puji Lestari - Dampak Ketidakstabilan Nilai Tukar Rupiah Dari hasil perhitungan secara keseluruhan disimpulkan bahwa pengujian ini tidak perlu diteruskan ke uji kointegrasi. Namun demikian menurut Wickens & Brusch (1988), ECM standar dari model yang dikembangkan oleh Domowitz dan El Badawi (1987) sudah sahih dan dapat digunakan untuk melakukan inferensi. Penentuan Lag Optimal Model Var Untuk dapat melakukan estimasi model VAR maka perlu ditentukan seberapa banyak variabel lag length dibutuhkan dalam model. Di dalam model autoregresi dimana peran waktu sangat berpengaruh maka peranan lag didalam model menjadi sangat penting. Penentuan lag length juga bertujuan untuk mendapatkan model yang tepat untuk diestimasi, dimana model tersebut ditentukan oleh banyaknya jumlah lag yang digunakan. Beberapa rumus yang biasa dipakai untuk menentukan lag optimal disajikan dalam Tabel 3. Tabel 3. Penentuan Lag Optimal
Kriteria Final Prediction Error (FPE) Akaike Information Criterion (AIC) Schwarz Information Criterion (SIC) Hannan-Quinn Information Criterion (HQ) Rumus

129

⎡ RSS ⎤ ⎢ T ⎥X ⎣ ⎦ ⎡ RSS ⎤ ⎢ T ⎥X ⎣ ⎦ ⎡ RSS ⎤ ⎢ T ⎥X ⎣ ⎦

T +k T −k

e (2k / T )

T kj / T

⎡ RSS ⎤ 2k / T ⎢ T ⎥ X (ln T ) ⎣ ⎦

Hasil dari uji kelambanan optimal VAR nampak dalam Tabel 4. Tanda (*) bintang menunjukkan rekomendasi kelambanan (lag) dari masing-masing kriteria statistik yang dipakai. Dari hasil perhitungan diperoleh hasil bahwa empat dari lima kriteria pengujian kelambanan optimal di atas (LR, FPE, AIC, dan HQ) menunjukkan lag optimal sebesar tiga kuartal dan hanya satu dari kriteria yaitu SC yang menyarankan dua kuartal. Dengan hasil ini maka kelambanan

Tabel 4. Hasil Uji Kelambanan Optimal Var
VAR Lag Order Selection Criteria Endogenous variables: M2 INF R XR Y Exogenous variables: C Date: 11/23/07 Time: 10:12 Sample: 1997:1 2006:4 Included observations: 33 Lag LogL LR 0 256.0274 NA 1 403.8607 241.9091 2 468.0934 85.64361 3 510.4817 43.67280* * indicates lag order selected by the criterion
LR: sequential modified LR test statistic (each test at 5% level) FPE: Final prediction error AIC: Akaike information criterion SC: Schwarz information criterion HQ: Hannan-Quinn information criterion

FPE 1.70E-13 1.01E-16 1.05E-17 5.01E-18*

AIC -15.21378 -22.65823 -25.03597 -26.08980*

SC -14.98704 -21.29776 -22.54179* -22.46191

130

Jurnal Ekonomi Pembangunan, Vol. 9, No. 2, Desember 2008 variabel memiliki nilai koefisien determinasi di atas 84 persen, artinya sebanyak lebih dari 84 persen variasi variabel independen mampu menjelaskan variabel dependennya. Pengujian parsial dengan uji-t diketahui memiliki 3 (tiga) hubungan antarvariabel yang lolos uji-t, yaitu M2(-1)→M2, Inf Y(1), Inf Y(-2), Inf Y(-3), R R(-3), R Y(-3), XR R(-3), Y Y(-2), Y Y(-3), Y R(-1), Y (R-3), Y Y(-3). Dari hasil

(lag) optimal yang disarankan dipakai dalam model VAR adalah sebesar 3 kuartal. Hasil Estimasi Var Setelah dilakukan uji akar unit, uji derajat integrasi dan uji kelambanan optimal, berikutnya dilakukan estimasi dengan metode VAR untuk melihat estimasi jangka panjangnya. Hasil estimasi model VAR selengkapnya disajikan pada Tabel 5. Keseluruhan

Tabel 5. Hasil Perhitungan VAR
Vector Autoregression Estimates Date: 11/23/07 Time: 10:18 Sample(adjusted): 1998:4 2006:4 Included observations: 33 after adjusting endpoints Standard errors in ( ) & t-statistics in [ ]
M2 M2(-1) 0.783374 (0.37096) [ 2.11176] 0.101779 (0.45664) [ 0.22288] -0.105720 (0.32894) [-0.32140] 0.016692 (0.05924) [ 0.28175] -0.011220 (0.06488) [-0.17294] 0.026202 (0.04825) [ 0.54307] -0.035488 (0.27803) [-0.12764] -0.078593 (0.38304) [-0.20518] INF 1.844524 (1.29575) [ 1.42351] -2.377601 (1.59505) [-1.49061] -1.172032 (1.14898) [-1.02006] 0.597428 (0.20694) [ 2.88695] -0.438280 (0.22663) [-1.93391] 0.155418 (0.16853) [ 0.92221] 0.583482 (0.97115) [ 0.60081] -1.580649 (1.33797) [-1.18138] R 0.251858 (0.27842) [ 0.90460] -0.153366 (0.34273) [-0.44748] -0.384822 (0.24688) [-1.55873] 0.044956 (0.04447) [ 1.01104] 0.007151 (0.04870) [ 0.14686] -0.050401 (0.03621) [-1.39185] -0.047829 (0.20867) [-0.22920] 0.389580 (0.28749) [ 1.35511] XR -0.468354 (0.69119) [-0.67761] 1.043349 (0.85084) [ 1.22626] -0.423674 (0.61289) [-0.69127] -0.057750 (0.11039) [-0.52316] 0.005899 (0.12089) [ 0.04880] -0.001466 (0.08990) [-0.01630] -0.044903 (0.51804) [-0.08668] 0.849796 (0.71371) [ 1.19068] Y 0.044517 (0.37265) [ 0.11946] 0.678514 (0.45873) [ 1.47913] 0.555252 (0.33044) [ 1.68035] 0.016844 (0.05951) [ 0.28302] -0.028079 (0.06518) [-0.43082] -0.039886 (0.04847) [-0.82294] 1.039238 (0.27930) [ 3.72091] -0.308423 (0.38479) [-0.80153]

M2(-2)

M2(-3)

INF(-1)

INF(-2)

INF(-3)

R(-1)

R(-2)

Etty Puji Lestari - Dampak Ketidakstabilan Nilai Tukar Rupiah
R(-3) -0.001224 (0.29013) [-0.00422] -0.176861 (0.18946) [-0.93351] 0.054334 (0.20502) [ 0.26503] 0.017595 (0.13497) [ 0.13037] 0.237431 (0.23503) [ 1.01022] -0.103522 (0.30269) [-0.34200] -0.001688 (0.15802) [-0.01068] 1.796884 (1.74706) [ 1.02852] 0.990984 0.983029 0.003030 0.013350 124.5714 106.5544 -5.488144 -4.762565 14.94122 0.102480 1.600961 (1.01341) [ 1.57978] -0.173906 (0.66178) [-0.26279] 0.982400 (0.71612) [ 1.37184] -0.197403 (0.47143) [-0.41873] 2.356010 (0.82096) [ 2.86984] -2.557144 (1.05730) [-2.41856] 1.416462 (0.55198) [ 2.56615] 5.118083 (6.10247) [ 0.83869] 0.930770 0.869685 0.036968 0.046633 15.23727 65.27937 -2.986628 -2.261049 0.102758 0.129179 6.94E-19 455.7600 -22.77333 -19.14543 0.575622 (0.21775) [ 2.64349] 0.139247 (0.14220) [ 0.97926] 0.074591 (0.15387) [ 0.48476] 0.137369 (0.10130) [ 1.35609] -0.063190 (0.17640) [-0.35822] 0.018346 (0.22718) [ 0.08075] 0.243388 (0.11860) [ 2.05211] -0.023133 (1.31124) [-0.01764] 0.979846 0.962063 0.001707 0.010020 55.09962 116.0241 -6.062068 -5.336488 0.185773 0.051444 -1.621212 (0.54057) [-2.99905] 0.569632 (0.35301) [ 1.61365] -0.322684 (0.38199) [-0.84473] 0.047209 (0.25147) [ 0.18773] -0.535039 (0.43792) [-1.22178] 1.142768 (0.56399) [ 2.02622] -0.900841 (0.29444) [-3.05952] 4.989832 (3.25520) [ 1.53288] 0.846529 0.711114 0.010519 0.024875 6.251360 86.01784 -4.243506 -3.517926 3.953862 0.046281 -0.945592 (0.29145) [-3.24446] 0.119205 (0.19032) [ 0.62633] -0.381226 (0.20595) [-1.85106] 0.026610 (0.13558) [ 0.19627] 0.409370 (0.23610) [ 1.73388] 0.390319 (0.30407) [ 1.28364] -0.699599 (0.15875) [-4.40706] -4.886436 (1.75502) [-2.78425] 0.996698 0.993785 0.003058 0.013411 342.1365 106.4043 -5.479048 -4.753469 14.67097 0.170120

131

XR(-1)

XR(-2)

XR(-3)

Y(-1)

Y(-2)

Y(-3)

C R-squared Adj. R-squared Sum sq. resids S.E. equation F-statistic Log likelihood Akaike AIC Schwarz SC Mean dependent S.D. dependent

Determinant Residual Covariance Log Likelihood (d.f. adjusted) Akaike Information Criteria Schwarz Criteria

Sumber : Data diolah Keterangan: - Angka dalam kurung menunjukkan nilai t-stat. - Tanda * menunjukan signifikan pada derajat 5%.

tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa tidak ditemukan hubungan kausalitas dua arah di antara kelima variabel tersebut.

132

Jurnal Ekonomi Pembangunan, Vol. 9, No. 2, Desember 2008 Jika dilihat pada respon permintaan uang M2 terhadap suku bunga maka ketika ada kenaikkan suku bunga maka dampaknya cukup fluktuatif (naik turun) dan mulai stabil pada kuartal ke 11 walaupun tidak mencapai titik keseimbangan. Sementara itu respon M2 terhadap variabel kurs adalah ketika ada shock kenaikan nilai tukar maka dampaknya akan mengalami penurunan permintaan uang M2 yang besarannya cukup fluktuatif dan mulai stabil setelah kuartal ke-8. Dari gambar 2 tersebut juga dapat dilihat bahwa respon variabel permintaan uang M2 terhadap pendapatan nasional adalah apabila ada kenaikan shock dari variabel pendapatan nasional maka akan berdampak terhadap peningkatan permintaan uang M2 yang besarannya cukup fluktuatif. Pergerakan ini mulai stabil pada kuartal ke 8.

Pengujian Impulse Response dari Var Impulse Response Function menggambarkan respon dari setiap variabel terhadap struktural inovasi variabel lainnya dalam model pada periode waktu bersamaan. Estimasi impulse response dapat dilihat pada masa sekarang dan diwaktu yang akan datang. Berdasarkan gambar 2 dapat dilihat bahwa respon variabel M2 terhadap inflasi adalah ketika ada shock dari kenaikkan inflasi maka dampaknya terhadap permintaan uang M2 mula-mula mengalami penurunan pada kuartal ke-2 kemudian naik dan mencapai titik tertingginya pada kuartal ke-4 setelah itu turun dan stabil setelah kuartal ke 10. Walaupun kenaikannya semakin lama semakin besar sampai dengan periode kuartal ke-10 namun kenaikan tersebut tidak mencapai titik keseimbangan.

Response to Cholesk y One S.D. Innovations ± 2 S.E.
Response of M 2 to INF
.008 .008

Response of M2 to R

.004

.004

.000

.000

-.004

-.004

-.008 2 4 6 8 10 12 14 16 18 20

-.008 2 4 6 8 10 12 14 16 18 20

Response of M2 to XR
.008 .008

Response of M2 to Y

.004

.004

.000

.000

-.004

-.004

-.008 2 4 6 8 10 12 14 16 18 20

-.008 2 4 6 8 10 12 14 16 18 20

Gambar 2. Impulse Response dari VAR

Etty Puji Lestari - Dampak Ketidakstabilan Nilai Tukar Rupiah Variance Decomposition dari M2 Dari hasil analisis diketahui bahwa kontribusi shock variabel inflasi terhadap permintaan uang M2 mula-mula hanya sebesar 5,12 persen pada kuartal ke-2 setelah itu mengalami kenaikan dan mencapai titik tertingginya pada kuartal ke-5 sebesar 52,26 persen setelah itu kontribusinya mengalami keadaan yang fluktuatif dan setelah kuartal ke-12 kondisinya cenderung menurun. Kontribusi shock variabel tingkat bunga terhadap permintaan uang M2 sebesar 43,73 persen, setelah itu kontribusinya selalu mengalami penurunan, sampai dengan periode kuartal ke-20 kontribusinya menjadi sebesar 15,8 persen. Kontribusi shock variabel nilai tukar terhadap permintaan uang M2 sebesar 0,55 persen, setelah itu kontribusinya selalu mengalami kenaikan. Sampai dengan periode

133

kuartal ke-10 kontribusinya sebesar 1,13 persen namun terus mengalami penurunan. Kontribusi shock variabel pendapatan nasional terhadap permintaan uang M2 sebesar 2,05 persen pada kuartal kedua, setelah itu kontribusinya selalu mengalami kenaikan, sampai dengan periode kuartal ke-20 kontribusinya menjadi sebesar 5,42 persen. Estimasi Model ADL ECM Nilai ECT yang diperoleh dari hasil estimasi dengan metode kemungkinan terbesar (maximum likelihood methods) periode 1997.1.2006.4 seperti terlihat dalam persamaan 20. ECTt-1 = M2t-1 – 0.992216 Yt-1 – 0.102853 XRt-1 …….(20)

Setelah didapatkan nilai ECT-nya selan-

Tabel 6. Variance Decomposition dari M2
Period 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 S.E. 0.013350 0.015438 0.018161 0.019645 0.021823 0.024060 0.025671 0.027307 0.028899 0.030400 0.032042 0.033581 0.035130 0.036721 0.038253 0.039796 0.041324 0.042813 0.044307 0.045776 M2 INF R XR 0.000000 0.557130 0.444897 0.508195 0.616973 0.612195 0.849843 1.004539 1.068344 1.139797 1.128380 1.119366 1.111660 1.082086 1.065414 1.048806 1.032688 1.026657 1.019942 1.016614 Y 0.000000 2.052477 4.108023 4.664150 5.088714 4.995224 4.845173 4.995226 5.017104 5.115263 5.215709 5.248945 5.312411 5.352081 5.364405 5.390225 5.395835 5.404008 5.415724 5.420625

100.0000 0.000000 0.000000 97.31852 0.051243 0.020625 94.96562 0.044148 0.437314 93.94593 0.500858 0.380871 93.44062 0.522639 0.331059 93.67414 0.430552 0.287892 93.65795 0.393043 0.253987 93.39646 0.365960 0.237812 93.30018 0.398452 0.215920 93.11123 0.436917 0.196797 93.02633 0.434180 0.195401 93.00438 0.441786 0.185527 92.95221 0.441626 0.182093 92.95073 0.433587 0.181513 92.96421 0.430030 0.175938 92.96678 0.420388 0.173802 92.98871 0.412407 0.170359 92.99650 0.407306 0.165528 93.00097 0.401069 0.162298 93.00743 0.397324 0.158005 Cholesky Ordering: M2 INF R XR Y

134

Jurnal Ekonomi Pembangunan, Vol. 9, No. 2, Desember 2008 DM2 = 0.067259 DY + 0.004331 DINF + (0.624268) (1.004939) 0.145596DIR (0.145767) R2 = 0.530; DW = 1.61 ……(22)

jutnya dilakukan estimasi ADL ECM dengan simulasi pertama yaitu memasukkan ECT tetapi tanpa variabel kurs, sehingga didapatkan hasil seperti pada persamaan 21. DM2 = - 0.002147 ECTt-1 + 0.068736 DY + (-0.042568) (0.599131) 0.004333 DINF - 0.145937DR (0.143676) (0.990927) …..(21) R2 = 0.530476; DW = 1.615692; JB(2) = 2.0294 Angka koreksi kesalahan (error correction term) atau ECTt-1 memiliki koefisien yang negatif yang menunjukkan adanya penyesuaian menuju keseimbangan jangka panjang (long run equilibrium) dengan nilai t-statistik yang tidak signifikan. Koefisien ECT lebih kecil dari keseluruhan koefisien masing-masing variabel. Hal ini menunjukkan kecepatan penyesuaian menuju keseimbangan jangka panjang lebih rendah dari kecepatan penyesuaian pendapatan nasional (DY), inflasi (DINF) dan suku bunga (DR). Tanda pada regressor sesuai dengan hipotesis dimana pendapatan nasional (LYR) memiliki tanda positif. Tingkat inflasi alamiah (rate of inflation naturally) memiliki koefisien positif yang dampaknya akan menambah tingkat keseimbangan permintaan uang M2 di Indonesia ketika terjadi tingkat inflasi yang meningkat. Simulasi yang kedua adalah dengan menghilangkan ECT dan variabel kurs, didapatkan hasil estimasi seperti disajikan pada persamaan 22.

Dari hasil estimasi di atas, dapat disimpulkan bahwa ketidakseimbangan jangka pendek (short run disequilibrium) tidak berpengaruh pada angka koefisien yang diestimasi ketika kecepatan penyesuaian menuju keseimbangan jangka panjang kecil (bisa dilihat angka koefisien ECT pada simulasi 1 di atas yang sebesar -0.002). Hal ini bisa ditunjukkan koefisien pendapatan nasional berubah dari 0.068 menjadi 0.067, koefisien inflasi tidak berubah (0.00433) dan variabel suku bunga berubah dari 0.145 menjadi 0.146. Simulasi yang ketiga adalah dengan memasukkan ECT dan variabel kelambanan kurs, didapatkan hasil estimasi sebagai berikut: DM2 = - 0.008258 ECT + 0.079827 DY +
(-0.202947) (0.862622)

0.218982 DXR + 0.012486 DINF
(4.331162) (0.511945)

-0.015018DR
(0.122563)

…….(23)

R2 =0.035;

DW = 1.23

Dari hasil estimasi tersebut, ditemukan bahwa nilai koefisien yang diestimasi tidak berubah banyak dari hasil estimasi mulamula. Nilai kelambanan dari variabel kurs DXR signifikan. Hal ini menunjukkan

Etty Puji Lestari - Dampak Ketidakstabilan Nilai Tukar Rupiah masyarakat akan melakukan keseimbangan portofolionya dalam mengalokasikan asetasetnya utamanya dalam bentuk aset-aset luar negeri (terutama dollar). Dari hasil estimasi di atas diakui bahwa kemampuan nilai tukar atau kurs dalam menjelaskan variasi ketidakseimbangan jangka pendek permintaan uang tidaklah terlalu efektif karena model ECM nya sendiri tidak memberikan hasil yang signifikan. Kesimpulan ini sama dengan yang dikemukakan oleh Baba, et.al (1992) dan Morimune dan Zhao (1997). Hubungan antara nilai tukar dan jumlah uang beredar tergantung pada harapan (expectation) pemegang uang sehingga sulit untuk mempertahankan hubungan yang stabil antara nilai tukar dan permintaan uang M2. Dalam kondisi semacam ini, masyarakat Indonesia pada periode penelitian cenderung berpendapat bahwa memegang uang bukan hanya untuk tujuan transaksi, tetapi lebih kepada tujuan untuk berjaga-jaga, bahkan tidak tertutup kemungkinan untuk motif spekulasi. Selama masa krisis ini, mata uang asing khususnya dolar menjadi salah satu alat bagi para pelaku ekonomi untuk menimbun kekayaan bahkan mampu meningkatkan nilai atau harga assetnya (kekayaan) terutama bagi para spekulan.

135

2. Kecepatan penyesuaian menuju keseimbangan di antara variabel-variabel permintaan uang riil, pendapatan nasional, kurs, inflasi dan suku bunga membutuhkan waktu tiga kuartal dan tidak ditemukan hubungan kausalitas dua arah di antara kelima variabel yang dipakai dalam penelitian. Sementara itu dari impulse response diketahui bahwa respon variabel M2 terhadap empat variabel lainnya sangat fluktuatif terutama ketika variabel lain mengalami shock, namun kondisi ini pada akhirnya akan kembali stabil. 3. Hubungan antara nilai tukar dan jumlah uang beredar di Indonesia selama periode pengamatan tergantung pada harapan (expectation) pemegang uang sehingga sulit untuk mempertahankan hubungan yang stabil antara nilai tukar dan permintaan uang M2. Masyarakat Indonesia cenderung berpendapat bahwa memegang uang bukan hanya untuk tujuan transaksi, tetapi lebih kepada tujuan untuk berjaga-jaga, bahkan tidak tertutup kemungkinan untuk motif spekulasi. Dua kebijakan yang direkomendasikan antara lain pertama, otoritas moneter diharapkan mampu mengontrol keberadaan faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan uang termasuk kurs, inflasi, suku bunga dan pendapatan nasional. Hal ini dilakukan agar pertumbuhan permintaan uang dapat dilakukan dengan stabil. Saran kedua, strategi dengan target nilai kurs layak dipertimbangkan terutama pada kondisi ketidakstabilan permintaan uang yang diakibatkan oleh adanya kurs yang sangat fluktuatif. Target nilai kurs merupakan target yang sederhana. Untuk itu keberadaan Bank Sentral dibutuhkan untuk mempertahankan nilai tukar

KESIMPULAN Dari hasil analisis dapat ditarik tiga kesimpulan sebagai berikut: 1. Terdapat kondisi non stasionaritas terhadap data time series (runtun waktu) dalam periode penelitian sehingga menyebabkan stabilitas ekonomi makro sulit dicapai.

136

Jurnal Ekonomi Pembangunan, Vol. 9, No. 2, Desember 2008 Greene, W.H. 2000. Econometric Analysis. Fourth Edition. Prentice Hall Gujarati, D., 2003. Basic Econometric. Fifth Edition. New Jersey: McGraw-Hill, Inc. Handoyo, R.D. (2002). Permintaan Uang M1 Asean-4, Singapura, Thailand, Malaysia dan Indonesia, 1980.1–1999.4, Estimasi Data Non Stasioner. Tesis. Universitas Gadjah Mada, tidak dipublikasikan. Hendry, D., dan Ericson N. 1991. Econometric Analysis U.K. Money Demand in Monetary Trends in the United States and the United Kingdom. The American Economic Review. 81. 1-80. Insukindro. 1991. Regresi Linier Lancung dalam Analisis Ekonomi: Suatu tinjauan dengan Studi Kasus Indonesia. Jurnal Ekonomi dan Bisnis Indonesia. 18-23. Insukindro. 1998. Sindrum R2 dalam Analisis Regresi Linier Runtun Waktu. Jurnal Ekonomi dan Bisnis Indonesia. 7, 1-17 Morimune, K dan Zhao,G.Q. 1997. Non Stationary Estimation of the Japanese Money Demand Function. Journal of Economic Research. 2.1-28 Wickens, M.R., dan Brusch T.S.1988. The Dynamics Specification, The Long-run and Estimation of Transformed Regression Models. Economic Journal. 98. (Suplemen). 189-205.

yang tetap agar mata uang dari negara yang banyak melakukan perdagangan (baskets of trading partner currencies) terjaga tingkat kestabilannya.

DAFTAR PUSTAKA Baba, Y., D.F. Hendry, dan R.M. Starr, 1992, The Demand for M1 in the USA, 19601988. Review Economic Studies. 59. 2561. Badan Pusat Statistik. 2003. Indikator Ekonomi. www.bps.go.id Bank Indonesia. 1997. Laporan Tahunan Bank Indonesia. www.bi.go.id Bank Indonesia. 1999. Laporan Tahunan Bank Indonesia. www.bi.go.id Dickey, D.P., dan W.A., Fuller. 1981. Likelihood Ratio Statistics for Autoregressive Time Series with a Unit Root. Econometrica (Journal). 49. 1057 – 1072. Domowitz, I, dan Elbadawi. 1987. An Error Correction Approach to Money Demand: The Case of Sudan. Journal of Development Economics. 25.257-275. Dutton, D.S dan Gramm, W.P. 1973. Transaction Cost, The Wage Rate dan The Demand for Money. American Economic Review. No. 63, 652-665

Jurnal Ekonomi Pembangunan Vol. 9, No. 2, Desember 2008, hal. 137 - 155

ANALISIS PERANAN SEKTOR INDUSTRI TERHADAP PEREKONOMIAN JAWA TENGAH TAHUN 2000 DAN TAHUN 2004 (ANALISIS INPUT OUTPUT)
Didit Purnomo 1 Devi Istiqomah 1
1

Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah Surakarta E-mail: didiet_p@yahoo.com

ABSTRACT This research aim to analyse role of industrial sector to other economy sectors in Central Java and the role in Central Java economy. Research method, which applied that, is Input Output Analysis Model (Analysis I-O), accompanied by analysis of role of production sector and output creator of Central Java economy, backward and forward linkage index analysis, and key sector analysis. Data which used that is I-O table of Central Java year 2000 and year 2004 with classification 19 sector is obtained from Central Java BPS. Research result indicate that industrial sector role is seen enough dominant in Central Java economy in the year 2000 and 2004. From the result, author suggests government so that more give priority to industrial sectors that become key sector in Central Java in the year 2000 and 2004. Keywords: backward and forward linkage, key sector PENDAHULUAN Sejak terjadinya krisis ekonomi yang mulai dirasakan sejak bulan Juni 1997, membuat pembangunan ekonomi di Indonesia mengalami stagnasi, bahkan di beberapa bidang mengalami kemunduran. Dalam menghadapi era globalisasi dan perdagangan bebas, Indonesia dituntut untuk siap bersaing dengan negara-negara lain. Agar bisa bersaing dengan negara lain, sebelumnya Indonesia harus memantapkan terlebih dahulu perekonomian yang goncang akibat krisis multidimensi yang berkepanjangan. Fundamental perekonomian yang kuat akan meningkatkan kesiapan pemerintah dalam menghadapi era globalisasi. Pembangunan ekonomi secara nasional tidak bisa terlepas dari pembangunan ekonomi secara regional. Pada hakekatnya pembangunan regional merupakan pelaksanaan dari pembangunan nasional pada wilayah tertentu yang disesuaikan dengan kemampuan fisik, sosial ekonomi regional tersebut, serta harus tunduk pada peraturan tertentu. Demi keberhasilan pembangunan ekonomi regional itulah, maka pemerintah memberlakukan otonomi daerah. Otonomi daerah merupakan kewenangan daerah otonomi untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat. Ini karena daerah akan diberi peran yang lebih besar melalui penyerahan

138

Jurnal Ekonomi Pembangunan, Vol. 9, No. 2, Desember 2008 tumbuhan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga konstan 2000, semakin membaik dari tahun sebelumnya, yaitu 5,35 persen (2004 = 5,13%). Hal cukup beralasan mengingat kondisi perekonomian

semua urusan pemerintahan serta sumbersumber keuangannya, kecuali kewenangan dalam politik politik luar negeri, pertahanan keamanan, peradilan, moneter dan fiskal, agama dan perencanaan sosial. Ketidakmampuan keuangan pusat akibat krisis ekonomi, mengakibatkan daerah diberikan wewenang untuk mencari sumber-sumber pendapatan dan mengurus kebutuhan sendiri agar beban pusat menjadi berkurang. Menurut Kamaluddin (1987:46), maksud dan tujuan yang hakiki dari otonomi daerah dan desentralisasi daerah adalah: 1. Mengurangi beban pemerintah pusat dan campurtangannya tentang masalah-masalah tingkat lokal atau daerah di samping itu memberi peluang untuk koordinasi pelaksanaan pada tingkat lokal tersebut. 2. Meningkatkan pengertian serta dukungan pusat dalam kebutuhan usaha pembangunan daerah. 3. Penyusunan program-program pembangunan untuk perbaikan dan penyempurnaan sosial ekonomi pada tingkat lokal akan menjadi realistis. 4. Melatih dan mengajar masyarakat untuk bisa mengatur dan mengatur rumah tangganya. 5. Terciptanya pembinaan dan pengembangan daerah dalam rangka kesatuan nasional. Di era otonomi daerah ini setiap wilayah atau daerah dituntut untuk bisa mencari, mengelola dan mengidentifikasi kemampuan daerah bersangkutan. Untuk itu perlu adanya perencanaan pembangunan yang tepat dengan memperhatikan potensi ekonomi yang dimilikinya. Pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah tahun 2005 yang ditunjukkan oleh laju per-

relatif terus membaik selama tahun 2001 sampai tahun 2005.
Sedangkan, saat ini perekonomian Provinsi Jawa Tengah terus mengalami pertumbuhan, yaitu pada tahun 2003 (4,98 persen), tahun 2004 (5,13 persen) dan tahun 2005 (5,43 persen). Pertumbuhan ekonomi Provinsi Jawa Tengah mengandalkan berbagai sektor antara lain Pertanian (5,33 persen), Pertambangan (2,73 persen), Industri (6,41 persen), Listrik, Gas, dan Air Bersih (8,65 persen), Gedung (7,84 persen), Perdagangan, Hotel, dan Restoran (2,63 persen), Transportasi dan Komunikasi (4,67 persen), Keuangan (2,67 persen), dan Jasa (5,58 persen). Sebagai cara untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang signifikan, menciptakan lapangan kerja, mengurangi kemiskinan, dan meningkatkan kesejahteraan penduduk, Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Tengah mentargetkan komposisi investasi dari Pemerintah Daerah sebesar 25 persen dan investasi swasta sebesar 75 persen (BPS Jawa Tengah, 2006). Untuk mencapai tujuan dan sasaran pembangunan dan daerah, khususnya pembangunan ekonomi di Jawa Tengah dan untuk dapat memanfaatkan sumberdaya ekonomi daerah secara optimal, maka pembangunan daerah dapat disusun menurut tujuan antar sektor. Perencanaan sektoral dimaksudkan untuk pengembangan sektor-sektor tertentu disesuaikan dengan keadaan dan potensi masing-masing sektor dan juga tujuan pembangunan yang ingin dicapai.

Didit dan Devi – Analisis Peranan Sektor Industri Dengan menggunakan Tabel InputOutput (I-O) Jawa Tengah tahun 2000 dan 2004 akan dijabarkan sektor-sektor yang menjadi sektor industri di Jawa Tengah. Selanjutnya diharapkan dapat dipakai sebagai informasi yang komprehensif agar tepat guna dan tepat sasaran bagi perekonomian Jawa Tengah. Pembangunan ekonomi daerah adalah suatu proses dimana pemerintah daerah mengelola sumberdaya-sumberdaya yang ada membentuk suatu pola kemitraan antara pemerintah daerah dengan sektor swasta untuk menciptakan suatu lapangan kerja baru dan merangsang perkembangan kegiatan ekonomi (pertumbuhan ekonomi) dalam wilayah tersebut (Arsyad, 1999) Untuk mempercepat pengembangan perekonomian daerah, maka perlu memperbesar penanaman investasi pada lapangan usaha yang memiliki keterkaitan yang besar terhadap lapangan usaha lainnya. Dengan demikian akan dapat mendorong lapangan usaha lainnya yang mendukung lapangan usaha yang dijadikan kunci atau leading tersebut, sehingga akan bisa meningkatkan produksi regional secara keseluruhan melalui dampak multipliernya. (Ropingi dan Dany Artanto, 2002). Industrialisasi merupakan suatu proses interaksi antara pengembangan teknologi, inovasi spesialisasi, dalam produksi dan perdagangan antarnegara yang pada akhirnya sejalan dengan peningkatan pendapatan perkapita mendorong perubahan struktur ekonomi. Industrialisasi sering juga diartikan sebagai suatu proses modernisasi ekonomi yang mencakup semua sektor ekonomi yang mencakup semua ekonomi yang ada yang terkait langsung maupun tidak langsung dengan industri manufaktur. Walaupun

139

sangat penting bagi kelangsungan pertumbuhan ekonomi, industrialisasi itu sendiri bukan tujuan akhir, melainkan hanya merupakan salah satu strategi yang harus ditempuh untuk mendukung proses pembangunan ekonomi guna mancapai tingkat pendapatan perkapita yang tinggi (Tambunan, 2001) Industri mempunyai peranan sebagai sektor pemimpin maksudnya dengan adanya pembangunan industri maka akan memacu dan mengangkat pembangunan sektor-sektor lainnya seperti sektor pertanian dan jasa. Sebagai misal pertumbuhan sektor industri yang pesat akan merangsang pertumbuhan sektor pertanian untuk menyediakan bahanbahan baku bagi suatu industri. Dengan adanya industri tersebut memungkinkan juga berkembangnya sektor jasa. Menurut Hirschman, pertumbuhan yang cepat dari satu atau beberapa industri mendorong perluasan industri-industri lainnya yang terkait dengan sektor industri yang tumbuh lebih dulu. Dalam sektor produksi mekanisme pendorong pembangunan (inducement mechanisme) yang tercipta sebagai akibat dari adanya hubungan antara berbagai industri dalam menyediakan barang-barang yang digunakan sebagai bahan mentah bagi industri lainnya, dibedakan menjadi dua macam yaitu pengaruh keterkaitan ke belakang (backward linkage effect) dan pengaruh keterkaitan ke depan (forward linkage effect). Pengaruh keterkaitan ke belakang maksudnya tingkat rangsangan yang diciptakan oleh pembangunan suatu industri terhadap perkembangan industri lainnya. Sedangkan pengaruh keterkaitan ke depan adalah tingkat rangsangan yang dihasilkan oleh industri yang pertama bagi input mereka (Arsyad, 1999).

140

Jurnal Ekonomi Pembangunan, Vol. 9, No. 2, Desember 2008 METODE PENELITIAN a. Analisis Keterkaitan ke Depan. b. Analisis Keterkaitan ke Belakang. c. Analisis Sektor Kunci Menggunakan Forward dan Backward Process. Konsep Dasar Input Output Jhingan (1996:751) menyebutkan bahwa analisis input output juga merupakan variasi terbaik keseimbangan umum yang mempunyai tiga unsur utama. Pertama, melalui analisis input output memusatkan perhatiannya pada perekonomian dalam keadaan seimbang. Kedua, tidak memusatkan perhatian pada analisis permintaan tetapi masalah teknis produksi. Ketiga, analisis ini didasarkan pada penelitian empiris. Ada beberapa manfaat yang dapat diperoleh dari penggunaan model input output. Pertama, melalui model ini dapat diperkirakan dampak permintaan akhir terhadap output, nilai tambah, impor, penerimaan pajak dan kesempatan kerja yang ditawarkan diberbagai sektor produksi yang ada. Kedua, sektor-sektor yang pengaruhnya paling dominan terhadap pertumbuhan ekonomi dan sektor-sektor yang paling peka terhadap perekonomian dapat diketahui melalui analisis input output. Ketiga, model input output juga dapat digunakan untuk melihat komposisi penyediaan dan penggunaan barang dan jasa, terutama dalam analisis terhadap kebutuhan impor dan kemungkinan subtitusinya. Keempat, dengan menggunakan model ini dapat dilihat konsistensi dan kelemahan berbagai data statistik yang pada gilirannya dapat dijadikan sebagai landasan perbaikan, penyempurnaan dan pengembangan lebih lanjut. Kelima, penyusunan proyeksi variabel-variabel ekonomi makro dapat dilakukan dengan memanfaatkan model input output. Keenam, model ini berguna dalam mengana-

Data dan Sumber Data Data yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yaitu Tabel Input Output perekonomian Jawa Tengah tahun 2000 dan Tahun 2004. Tabel input output disajikan dalam bentuk matriks yang diklasifikasikan menjadi 19 sektor perekonomian. Data tabel input output perekonomian Jawa Tengah tahun 2000 dan tahun 2004 diperoleh dari Badan Pusat Statistik Jawa Tengah dan dari instansi terkait lainnya. Metode dan Alat Analisis Data Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah Model Input-Output. Model input-output pertama kali dikembangkan oleh Wassily Leontief pada tahun 1930an. Idenya sangat sederhana namun mampu menjadi salah satu alat analisis yang ampuh dalam melihat hubungan antarsektor dalam perekonomian (Nazara, 1997:48). Komponen yang paling penting dalam analisis input output adalah inverse matriks tabel input output, yang sering disebut sebagai inverse Leontif (Miller, 1999:15). Matriks ini mengandung informasi penting tentang bagaimana kenaikan produksi dari suatu sektor (industri) akan menyebabkan berkembangnya sektor-sektor lainnya. Matriks kebalikan Leontif merangkum seluruh dampak dari perubahan produksi suatu sektor terhadap total produksi sektorsektor lainya ke dalam koefisien-koefisien yang disebut sebagai multiplier (αij). Multiplier ini adalah angka-angka yang terlihat di dalam matriks (1-A)-1. Adapun analisis yang akan dihitung dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

Didit dan Devi – Analisis Peranan Sektor Industri lisis perubahan harga yang dapat ditinjau dari pengaruh secara langsung dan tidak langsung dalam perubahan harga input terhadap harga output (Tabel Input Output Indonesia, 2000:5). Suatu tabel input output menyajikan informasi tentang transaksi barang dan jasa yang terjadi pada semua sektor yang ada dalam perekonomian, dengan bentuk penyajian berupa matriks. Dalam suatu Tabel Input Ouput yang bersifat terbuka dan statis, transaksi yang digunakan dalam penyusunan tabel input output harus memenuhi tiga asumsi dasar, yaitu (Tabel Input Output Indonesia, 2000:3): 1. Keseragaman (homogeneity), yaitu asumsi bahwa setiap sektor ekonomi hanya memproduksi satu jenis barang dan jasa dengan susunan input tunggal (seragam) dan tidak ada subtitusi otomatis terhadap input dari sektor yang berbeda. 2. Kesebandingan (proportionality), yaitu asumsi bahwa hubungan antara input dan ouput pada setiap sektor produksi merupakan fungsi linier, artinya kenaikan dan penurunan output suatu sektor akan sebanding dengan kenaikan dan penurunan input dari sektor yang bersangkutan. 3. Penjumlahan (additivity), yaitu asumsi

141 bahwa total efek dari kegiatan produksi di berbagai sektor merupakan penjumlahan dari efek pada masing- masing kegiatan.

Berdasarkan asumsi tersebut, maka tabel input output sebagai model kuantitatif memiliki keterbatasan, yaitu bahwa koefisien input atau koefisien teknis diasumsikan tetap (konstan) sepanjang periode analisis atau proyeksi. Maka produsen tidak dapat menyesuaikan perubahan-perubahan inputnya atau mengubah proses produksi. Karena koefisien teknis dianggap konstan, maka teknologi yang digunakan oleh sektor-sektor ekonomi dalam proses produksi pun dianggap konstan. Akibatnya perubahan kuantitas dan harga input akan selalu sebanding dengan perubahan kuantitas dan harga output. Walaupun mengandung keterbatasan, model input ouput tetap merupakan alat analisis ekonomi yang lengkap dan komprehensip (Tabel I-O Indonesia, 2000:3). Pada Tabel 1 disajikan contoh Tabel I-O untuk sistem perekonomian yang terdiri dari tiga sektor produksi yaitu sektor 1, 2, dan 3. Dari gambaran tersebut tampak bahwa penyusunan angka-angka dalam bentuk matriks memperlihatkan suatu jalinan yang saling kait dari berbagai kegiatan antarsektor. Sebagai ilustrasi dapat diamati proses

Tabel 1. Bagan Tabel Input Output Sistem Perekonomian dengan Tiga Sektor Produksi
Alokasi Output Input Antara Input Antara Sektor Produksi 1 2 3 Permintaan Antara Sektor Produksi 1 X11 X21 X31 V1 X1 2 X12 X22 X32 V2 X2 3 X13 X23 X33 V3 X3 Permintaan Akhir F1 F2 F3 Jumlah Output X1 X2 X3

Input Primer Jumlah Input

142

Jurnal Ekonomi Pembangunan, Vol. 9, No. 2, Desember 2008 An1X1 + an2X2 + ... + anj Xj ... + ann Xn + Fn + En = Xn + Mn ……….(2) Persamaan (2) disederhanakan ke dalam persamaan matriks menjadi sebagai berikut: Ax + F + E =X + M dimana ……….(3)

pengalokasian output pada Tabel 1 Output sektor 1 pada tabel tersebut adalah sebesar X1 dan didistribusikan sepanjang baris sebesar X11, X12, dan X13 masing-masing untuk memenuhi permintaan antara sektor 1, 2, dan 3, sedangkan sisanya sebesar F1 digunakan untuk memenuhi permintaan akhir. Begitu juga dengan output sektor 2 dan 3 masing-masing sebesar X2 dan X3, dapat dilihat dengan cara yang sama dalam proses pengalokasian output sektor 1 (Tabel I-O DKI Jakarta, 2000:65). Cara Perhitungan X11 + Xi2 + ... + X1j ... + X1n + F1 + E1 = X1 + M1 X21 + X22 + ... + X2j ... + X2n + F2 + E2 = X2 + M2 Xi1 + Xi2 + ... + Xij ... + Xin + Fi + Ei = Xi + M3 .... .... .... Xn1 + Xn2 + .... + XnJ + ... + Xnn + Fn + En = Xn + Mn ……….(1) Di sini Xij adalah jumlah output sektor i yang diminta sektor j sebagai input bagi produksi output sektor j (permintaan antara), Fi adalah permintaan akhir domestik terhadap output sektor i, Ei adalah ekspor atau permintaan akhir luar negeri atau daerah, Xi adalah total sektor i dan Mi adalah jumlah sektor i. Dengan mensubstitusikan Xij maka persamaan (1) di atas akan menjadi: a11X1 + a12X2 + ... + a1j Xj ... + a1n Xn + F1 + E1 = X1 + M1 a21X1 + a22X2 + ... + a2j Xj ... + a2n Xn + F2 + E2 = X2 + M2 ai1X1 + ai2 X2 + ... + aij Xj ... + ain Xn + Fi + Ei = Xi + Mi .... .... ....

A disebut matriks koefisien teknologi, matrik yang menunjukkan technological input structure antarsektor perekonomian aij dibaca sebagai jumlah output sektor i yang dibutuhkan sektor j untuk memproduksi satu unit output sektor j (Xij/Xj). Persamaan (3) di atas adalah persamaan identitas untuk analisis input output dengan perlakuan impor secara kompetitif. Impor setiap sektor ekonomi dianggap proporsional terhadap tingkat konsumsi domestik terhadap output sektor tersebut. Misalnya ditentukan proporsi ini sebagai koefisien import, maka koefisien suatu sektor ekonomi dapat dihitung sebagai berikut:
μ= impor permintaan antara + permintaan akhir
M
ij

atau
μ=

∑X

+F

sehingga μ i =

(∑ X

ij

+F

)

Didit dan Devi – Analisis Peranan Sektor Industri Dengan demikian persamaan AX + F + E = X + M dapat diubah menjadi: X = AX + F + E – µAX – µF ..........(4)

143

Selanjutnya suku yang mengandung X dipindahkan ke sebelah kiri tanda persamaan, menjadi: X – AX + µAX = F – µF + E [I– (I – µ) A]X = (I – µ) F + E ..........(5) ….......(6)

(I – A)-1 adalah invers matriks leontief, (I – A)-1 F adalah output yang disebabkan oleh domestik (Final Demand) dan (I – A)-1 E adalah output yang disebabkan oleh ekspor (Foreign Final Demand). Domestik Final Demand biasanya terdiri dari elemen konsumsi rumah tangga, pengeluaran pemerintah, dan investasi. Matriks Inverse Leontief sering dilambangkan sebagai B, dengan elemen matriknya bij dibaca sebagai besarnya output sektor i yang disebabkan oleh permintaan di sektor j sebesar satu unit. Analisis Data dengan Matriks Inverse Leontief 1. Analisis Indeks Total Keterkaitan Indeks total keterkaitan digunakan sebagai dasar perumusan strategi pembangunan ekonomi dengan melihat keterkaitan antar sektor dalam suatu sistem perekonomian. Menurut Rasmussen indeks total keterkaitan meliputi indeks total keterkaitan ke belakang dan indeks total keterkaitan ke depan. Indeks total keterkaitan ke belakang suatu industri atau suatu sektor menunjukkan hubungan keterkaitan tentang pengaruh yang ditimbulkan oleh satu unit permintaan akhir pada sektor tersebut terhadap total pembelian input semua sektor di dalam suatu perekonomian. Indeks total keterkaitan ke depan menunjukkan hubungan keterkaitan tentang pengaruh yang ditimbulkan oleh satu unit permintaan akhir suatu sektor terhadap total penjualan output semua sektor di dalam suatu perekonomian. 2. Indeks Total Keterkaitan ke Belakang Konsep ini diartikan sebagai kemampuan suatu sektor untuk meningkatkan pertumbuhan industri hulunya. Indeks total keterkaitan

Maka X dalam persamaan (4) di atas berubah menjadi: X = [I – (I – µ)A]-1[(I– µ)F + E] ...........(7)

X = [I – (I – µ)A]-1 adalah invers yang digunakan dalam analisis seperti diketahui dari persamaan (7) persamaan ini terbentuk dari dua bagian: X = [I – (I – µ)A]-1 (I– µ)F, tanpa dengan ekspor ..........(8) X = [I – (I – µ)A]-1 E, hanya ekspor …... (9) X = AX + F + E .........(10)

Selanjutnya suku yang mengandung matriks X dipindahkan ke sebelah kiri tanda persamaan: X – AX = F + E (I – A)X = F + E ..........(11) ..........(12)

Maka X dalam persamaan (4) berubah menjadi: X = (I – A)-1 (F + E) ..........(13)

144

Jurnal Ekonomi Pembangunan, Vol. 9, No. 2, Desember 2008
n FL i =

ke belakang disebut juga sebagai indeks daya penyebaran (power of dispersion) yang digunakan untuk mengukur kaitan ke belakang. Rumus untuk mencari nilai indeks total keterkaitan ke belakang yaitu:
n BL j =

∑∑ α
i =1 j=1

i =1 n n

∑Xa

n

v

j

ij

∑∑ α
i =1 j=1

i =1 n n

n

dimana:
b ij
ij

FLi = indeks total keterkaitan ke depan sektor i αij = unsur matriks kebalikan Leontief

dimana: BLj = indeks total keterkaitan ke belakang sektor j αij = unsur matriks kebalikan Leontief

Besaran BLj dapat mempunyai nilai sama dengan 1, lebih besar 1 atau lebih kecil 1. Bila BLj = 1 hal tersebut berarti bahwa daya penyebaran sektor j sama dengan rata-rata penyebaran seluruh sektor ekonomi. Bila BLj > 1 hal tersebut berarti daya penyebaran sektor j berada di atas rata-rata daya penyebaran seluruh sektor ekonomi. Sebaliknya, bila BLj < 1 hal tersebut berarti bahwa daya penyebaran sektor j lebih rendah dari ratarata daya penyebaran seluruh sektor ekonomi. 3. Indeks Total Keterkaitan ke Depan Konsep ini diartikan sebagai kemampuan suatu sektor untuk mendorong pertumbuhan produksi sektor-sektor lain yang memakai input dari sektor ini. Total keterkaitan ke depan disebut juga sebagai indeks derajat kepekaan (degree of sensitivity) yang digunakan untuk mengukur kaitan ke depan. Rumus untuk mencari nilai indeks total keterkaitan ke depan yaitu:

Nilai FLi dapat bernilai sama dengan 1, lebih besar 1 atau lebih kecil 1. Bila FLi = 1 hal tersebut berarti bahwa derajat kepekaan sektor I sama dengan rata-rata derajat kepekaan seluruh sektor ekonomi. Bila Fli > 1 hal tersebut berarti derajat kepekaan sektor i lebih tinggi dari derajat kepekaan seluruh sektor ekonomi. Sebaliknya, bila FLi < 1 hal tersebut berarti bahwa derajat kepekaan sektor i dibawah rata-rata derajat kepekaan seluruh sektor ekonomi. 4. Analisis Sektor Kunci Menggunakan Forward dan Backward Process Dari analisis I-O dapat dilihat sektor-sektor kunci yang memiliki backward linkages (keterkaitan ke belakang) atau disebut juga derajat kepekaan yang tinggi dan forward linkages (keterkaitan ke depan) atau daya sebar yang tinggi. Sektor yang mempunyai daya penyebaran tinggi menunjukan sektor tersebut mempunyai daya dorong yang cukup kuat dibandingkan sektor lainnya. Sedangkan sektor yang mempunyai derajat kepekaan yang tinggi menunjukkan bahwa sektor tersebut mempunyai ketergantungan yang tinggi terhadap sektor lain. Sektor kunci didefinisikan sebagai sektor yang memegang peranan penting dalam menggerakkan roda perekonomian dan ditentukan berdasarkan

Didit dan Devi – Analisis Peranan Sektor Industri indeks total keterkaitan ke belakang dan ke depan. Sektor kunci adalah sektor yang memiliki indeks total keterkaitan ke belakang dan ke depan lebih besar dari satu.

145

Tabel 2 menyajikan tujuh sektor yang memiliki nilai indeks total keterkaitan ke depan terbesar berdasarkan tabel input output Jawa Tengah Tahun 2000. Dari hasil olahan data tabel input output Jawa Tengah tahun 2000, sektor industri lainnya memiliki nilai indeks paling besar yaitu dengan nilai 3,14516. Nilai tersebut menunjukkan bahwa bila terjadi kenaikan permintaan akhir atas sektor-sektor lain sebesar satu unit maka sektor industri lainnya akan mengalami peningkatan output sebesar 3,14516 unit. sektor industri makanan, minuman dan tembakau sebesar 1,24356, sektor industri pengilangan minyak 1,00214. Sedangkan sektor lainnya hanya pelengkap yaitu sektor pertambangan dan penggalian yang memiliki nilai indeks total keterkaitan ke depan atau indeks daya kepekaan sebesar 1,40276, sektor perdagangan dengan nilai 1,26291, sektor lembaga keuangan, real estate dan jasa perdagangan sebesar 1,06582 dan sektor pengangkutan dan komunikasi sebesar 1,00164. Output yang dihasilkan oleh sektor tersebut merupakan komoditi intermedier, dalam artian merupakan bahan baku bagi industri-industri dan sektor-sektor perekonomian lainnya.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Hasil Analisis Indeks Keterkaitan Ke Depan Indeks total keterkaitan ke depan yang memiliki nilai lebih besar dari satu menunjukkan bahwa sektor tersebut mempunyai kemampuan yang kuat untuk mendorong pertumbuhan output industri hilirnya atau dengan kata lain kemampuan sektor tersebut untuk mendorong pertumbuhan produksi sektor-sektor lain yang memakai input dari sektor ini. Output yang dihasilkan oleh sektor tersebut merupakan komoditi intermedier, dalam artian merupakan bahan baku bagi industri-industri dan sektor-sektor perekonomian lainnya. Nilai tersebut juga menunjukkan besarnya peranan sektor industri tersebut dalam mendorong pertumbuhan perekonomian di Jawa Tengah. Dari hasil olah data tabel Input Output Jawa Tengah Tahun 2000 maka dapat diperoleh indeks derajat kepekaan atau indeks keterkaitan ke depan. Dalam

Tabel 2. Tujuh Sektor dengan Indeks Total Keterkaitan Ke Depan Terbesar Menurut Tabel Input Output Tahun 2000
No 1 2 3 4 5 6 7 Kode I-O 9 7 13 8 16 10 15 Sektor Industri lainnya Pertambangan dan penggalian Perdagangan Industri Makanan, Minuman, dan Tembakau Lembaga Keuangan, Real Estate, dan Jasa Perusahaan Industri Pengilangan Minyak Pengangkutan dan Komunikasi Indeks DK 3,14516 1,42076 1,26291 1,24356 1,06582 1,00214 1,00164

Sumber: Tabel Input Output Jawa Tengah Tahun 2000, diolah.

146

Jurnal Ekonomi Pembangunan, Vol. 9, No. 2, Desember 2008 Tabel 3. Empat Sektor dengan Indeks Total Keterkaitan Ke Depan Terbesar Menurut Tabel Input Output Tahun 2004
No 1 2 3 4 Kode I-O 7 9 8 13 Sektor Pertambangan dan Penggalian Industri lainnya Industri Makanan, Minuman, dan Tembakau Perdagangan Indeks DK 4,07757 1,98493 1,17136 1,39055

Sumber: Tabel Input Output Jawa Tengah Tahun 2004, diolah

Sedangkan dari hasil olahan data tabel input output Jawa Tengah tahun 2004, juga dapat diperoleh indeks derajat kepekaan atau indeks keterkaitan ke depan yang disajikan dalam Tabel 3. Dari hasil olah data tabel input output Jawa Tengah tahun 2004, sektor industri lainnya yang memiliki nilai indeks total keterkaitan ke depan atau indeks daya kepekaan sebesar 1,98493, selanjutnya sektor industri makanan, minuman dan tembakau dengan nilai 1,17136 maka sektor industri pada tahun 2004 mengalami penurunan. Sedangkan sektor lainnya yang sebagai pelengkap yaitu sektor pertambangan dan penggalian memiliki nilai indeks paling besar yaitu dengan nilai 4,07757. Nilai tersebut menunjukkan bahwa bila terjadi kenaikan permintaan akhir atas sektor-sektor lain sebesar satu unit maka sektor pertambangan dan penggalian akan mengalami peningkatan output sebesar 4,07757 unit dan sektor perdagangan sebesar 1,39055. Dimana semua sektorsektor tersebut yang memiliki nilai indeks total keterkaitan ke depan lebih besar dari satu merupakan sektor-sektor yang mampu meningkatkan pertumbuhan produksi sektorsektor lain yang menggunakan input dari sektor ini. Dari hasil olahan tabel input-output Jawa Tengah tahun 2000 dan 2004, terlihat sektor

industri yang mempunyai indeks total keterkaitan ke depan pada tahun 2004 menurun dari tahun 2000. Di tahun 2000 terdapat tujuh sektor yang mempunyai indeks keterkaitan ke depan atau derajat kepekaan, antara lain sektor Industri lainnya, sektor pertambangan dan penggalian, sektor perdagangan, sektor industri makanan, minuman dan tembakau, sektor, lembaga keuangan, real estate dan jasa perusahaan, sektor industri pengilangan minyak dan sektor pengangkutan dan komunikasi. Sedangkan pada tahun 2004, hanya terdapat empat sektor yang mempunyai derajat kepekaan lebih dari satu yaitu sektor pertambangan dan penggalian, sektor industri lainnya, industri makanan minuman dan tembakau dan sektor perdagangan. Selanjutnya sektor industri lainnya pada tahun 2000 mempunyai nilai 3,14516 dan menurun secara tajam pada tahun 2004 manjadi 1,98493. Sektor industri Makanan, Minuman dan Tembakau pada tahun 2000 sebesar 1,24356 dan pada tahun 2004 meningkat menjadi 1,17136. Industri Pengilangan Minyak pada tahun 2004 tidak mempunyai indeks derajat kepekaan yang tinggi. Pada Tabel 4 disajikan hasil indeks keterkaitan ke depan pada tahun 2000 dan 2004 sebagai perbandingan.

Didit dan Devi – Analisis Peranan Sektor Industri Hasil Analisis Indeks Keterkaitan ke Belakang Indeks total keterkaitan ke belakang yang memiliki nilai lebih besar dari satu tersebut menunjukkan bahwa sektor-sektor industri mempunyai kemampuan yang kuat untuk menarik pertumbuhan output sektor hulunya. Nilai indeks lebih besar dari satu menunjukkan daya penyebaran di sektor industri berada di atas rata-rata daya penyebaran seluruh sektor perekonomian di Jawa Tengah. Dari hasil olah data tabel Input Output Jawa Tengah Tahun 2000 maka dapat

147

diperoleh indeks daya penyebaran atau indeks keterkaitan ke belakang seperti yang disajikan dalam Tabel 5. Sektor industri lainnya merupakan sektor yang memiliki nilai indeks keterkaitan ke belakang yang paling tinggi yaitu sebesar 1,65850, artinya apabila terjadi kenaikan permintaan akhir terhadap sektor industri lainnya sebesar satu unit maka untuk sektorsektor ekonomi lainnya yang ada di Jawa Tengah akan mengalami pertumbuhan output sebesar 1,65850 unit. Begitu juga dengan sektor-sektor industri lain yang memiliki

Tabel 4. Indeks Total Keterkaitan Ke Depan Terbesar Menurut Tabel Input Output Tahun 2000 dan 2004
2000 No 1 2 3 4 5 6 7 Kode I-O 9 7 13 8 16 10 15 Sektor Industri lainnya Pertambangan dan Penggalian Perdagangan Industri Makanan, Minuman, dan Tembakau Lembaga Keuangan, Real Estate, dan Jasa Perusahaan Industri Pengilangan Minyak Pengangkutan dan Komunikasi Indeks DK 3,14516 1,42076 1,26291 1,24356 1,06582 1,00214 1,00164 No 1 2 3 4 Kode I-O 7 9 8 13 2004 Sektor Pertambangan dan Penggalian Industri Lainnya Industri Makanan, Minuman, dan Tembakau Perdagangan Indeks DK 4,07757 1,98493

Sumber: Tabel Input Output Jawa Tengah Tahun 2000 dan 2004, diolah.

Tabel 5. Delapan Sektor dengan Indeks Total Keterkaitan Ke Belakang Terbesar Menurut Tabel Input Output Tahun 2000
No 1 2 3 4 5 6 7 8 Kode I-O 9 12 11 8 14 10 18 15 Sektor Industri Lainnya Bangunan Listrik, Gas, dan Air Minum Industri Makanan, Minuman, dan Tembakau Restoran dan Hotel Industri Pengilangan Minyak Jasa-jasa Pengangkutan dan Komunikasi Indeks DP 1,65850 1,30056 1,26897 1,22679 1,20395 1,16144 1,03612 1,01495

148

Jurnal Ekonomi Pembangunan, Vol. 9, No. 2, Desember 2008 nan, minuman dan tembakau akan mengalami peningkatan output sebesar 1,24356 unit. Selanjutnya industri lainnya yang memiliki nilai indeks daya penyebaran sebesar 1,65850 dan nilai indeks daya kepekaannya sebesar 3,14516. Nilai kedua indeks pada sektor industri lainnya ini menunjukkan bahwa apabila terjadi kenaikan permintaan akhir terhadap sektor industri lainnya sebesar satu unit maka sektor-sektor ekonomi lainnya yang ada di Jawa Tengah akan mengalami peningkatan output sebesar 1,65850 unit. Sebaliknya, apabila terjadi kenaikan permintaan akhir atas sektor-sektor ekonomi lainnya sebesar satu unit maka sektor listrik dan gas akan mengalami peningkatan output sebesar 3,14516 unit. Selanjutnya, industri pengilangan minyak yang memiliki nilai indeks daya penyebaran sebesar 1,11644 dan nilai indeks daya kepekaannya sebesar 1,00214. Nilai kedua indeks pada sektor industri pengilangan minyak ini menunjukkan bahwa apabila terjadi kenaikan permintaan akhir terhadap sektor industri pengilangan minyak sebesar satu unit maka sektor-sektor ekonomi lainnya yang ada di Jawa Tengah akan mengalami peningkatan output sebesar 1,11644 unit. Sebaliknya, apabila terjadi kenaikan permintaan akhir atas sektor-sektor ekonomi lainnya sebesar satu unit maka sektor industri pengilangan minyak akan mengalami peningkatan output sebesar 1,00214 unit.

nilai indeks keterkaitan ke belakang yang lebih besar dari satu antara lain sektor sektor industri makanan, minuman dan tembakau sebesar 1,22629, sektor industri pengilangan minyak sebesar 1,16144. Sektor industri yang mempunyai daya penyebaran tinggi menunjukan sektor tersebut mempunyai daya dorong yang cukup kuat dibandingkan sektor lainya. Berdasarkan Tabel 6 maka peranan sektor industri terhadap sektor perekonomian terlihat dominan pada perekonomian Jawa Tengah. Semua kelompok sektor industri Pada tahun 2000 yaitu sektor industri makanan, minuman dan tembakau, sektor industri lainnya, sektor industri pengilangan minyak kesemuanya menjadi sektor unggulan. Sektor-sektor industri inilah yang memegang peranan penting dalam menggerakkan roda perekonomian Jawa Tengah pada tahun 2000. Sektor industri makanan, minuman dan tembakau memiliki nilai indeks daya penyebaran sebesar 1,22629 dan nilai indeks daya kepekaan sebesar 1,24356. Besaran tersebut menunjukkan apabila terjadi kenaikan permintaan akhir terhadap sektor industri makanan. minuman dan tembakau sebesar satu unit maka sektor-sektor ekonomi lainnya yang ada di Jawa Tengah akan mengalami peningkatan output sebesar 1,22629 unit. Sebaliknya, apabila terjadi kenaikan permintaan akhir atas sektor-sektor ekonomi lainnya sebesar satu unit maka sektor industri maka-

Tabel 6. Sektor Industri Perekonomian Jawa Tengah Menurut Tabel Input Output Jawa Tengah Tahun 2000
No 1 2 3 Kode I-O 8 9 10 Sektor Industri Makanan, Minuman, dan Tembakau Industri lainnya Industri Pengilangan Minyak Indeks DK 1,24356 3,14516 1,00214 Indeks DP 1,22629 1,65850 1,16144

Sumber: Tabel Input Output Jawa Tengah Tahun 2000, diolah.

Didit dan Devi – Analisis Peranan Sektor Industri Berdasarkan Tabel 7 hanya terdapat dua sektor perekonomian yang menjadi sektor industri perekonomian Jawa Tengah pada tahun 2004 yaitu sektor indutri makanan, minuman dan tembakau, dan sektor industri lainnya. Sektor-sektor inilah yang memegang peranan penting dalam menggerakkan roda perekonomian Jawa Tengah pada tahun 2004. Sektor industri makanan, minuman dan tembakau memiliki nilai indeks daya penyebaran sebesar 1,20178 dan nilai indeks daya kepekaan sebesar 1,17136. Besaran tersebut menunjukkan apabila terjadi kenaikan permintaan akhir terhadap sektor industri makanan, minuman dan tembakau sebesar satu unit maka sektor-sektor ekonomi lainnya yang ada di Jawa Tengah akan mengalami peningkatan output sebesar 1,20178 unit. Sebaliknya, apabila terjadi kenaikan permintaan akhir atas sektor-sektor ekonomi lainnya sebesar satu unit maka sektor indutri makanan, minuman dan tembakau akan mengalami peningkatan output sebesar 1,17136 unit. Selanjutnya industri lainnya yang memiliki nilai indeks daya penyebaran sebesar 1,42724 dan nilai indeks daya kepekaannya sebesar 1,98493. Nilai kedua indeks pada sektor industri lainnya ini menunjukkan bahwa apabila terjadi kenaikan permintaan akhir terhadap sektor industri lainnya sebesar satu unit maka sektor-sektor ekonomi lainnya yang ada di Jawa Tengah akan mengalami peningkatan output sebesar 1,98493 unit. Sebaliknya,

149

apabila terjadi kenaikan permintaan akhir atas sektor-sektor ekonomi lainnya sebesar satu unit maka sektor listrik dan gas akan mengalami peningkatan output sebesar 1,42724 unit. Sedangkan sektor industri pengilangan minyak pada tahun 2004 tidak menjadi sektor kunci. Dalam pembangunan di Jawa Tengah untuk memacu pertumbuhan ekonomi di Jawa Tengah, maka sektor-sektor tersebut layak untuk diprioritaskan. Hal ini dikarenakan sektor-sektor tersebut memiliki daya dorong yang kuat terhadap penciptaan sektor-sektor ekonomi lainnya dan juga memiliki sensitivitas yang tinggi terhadap perubahan permintaan akhir dari sektorsektor ekonomi lainnya. Pada tahun 2000 terdapat empat sektor yang menjadi sektor industri perkonomian Jawa Tengah antara lain sektor industri makanan, minuman dan tembakau, sektor industri lainnya, sektor industri pengilangan minyak, dan sektor pengangkutan dan komunikasi. Sedangkan pada tahun 2004 hanya menjadi dua sektor yaitu sektor industri makanan, minuman dan tembakau dan sektor industri lainnya. Dalam Tabel 8 disajikan perbandingan sektor industri Jawa Tengah pada tahun 2000 dan 2004. Interpretasi ekonomi dimaksudkan untuk menginterpretasikan hasil analisis berdasarkan ilmu-ilmu ekomomi terhadap keseluruhan hasil analisis. Dari analisis mengenai sektor industri perekonomian Jawa Tengah

Tabel 7. Sektor Industri Perekonomian Jawa Tengah
No 1 2 Kode I-O 8 9 Sektor Industri Makanan, Minuman, dan Tembakau Industri Lainnya Indeks DK 1,17136 1,98493 Indeks DP 1,20178 1,42724

Menurut Tabel Input Output Jawa Tengah Tahun 2004

150

Jurnal Ekonomi Pembangunan, Vol. 9, No. 2, Desember 2008

Tabel 8. Sektor Industri yang Menjadi Sektor Kunci Perekonomian Jawa Tengah Menurut Tabel Input Output Jawa Tengah Tahun 2000 dan 2004
2004 Kode I-O
8

2000 Indeks DK
1,17136

Sektor
Industri Makanan, Minuman, dan Tembakau Industri Lainnya

Indeks DP
1,20178

Kode I-O
8

Sektor
Industri Makanan, Minuman, dan Tembakau Industri Lainnya Industri Pengilangan Minyak

Indeks DK
1,24356

Indeks DP
1,22629

9

1,98493

1,42724

9 10

3,14516 1,00214

1,65850 1,16144

Sumber: Tabel Input Output Jawa Tengah Tahun 2000 dan 2004, diolah

tahun 2000 dan 2004 maka dapat dilakukan interpretasi ekonomi berdasarkan hasil analisis nilai tambah bruto, analisis indeks keterkaitan ke belakang, analisis indeks keterkaitan ke depan dan analisis sektor kunci. Komponen upah dan gaji sebagai pembentuk nilai tambah bruto pada tahun 2000 yang diciptakan oleh kegiatan ekonomi di Jawa Tengah mencapai Rp. 33.893.355,43 juta atau sebesar 28,78 persen dari total Rp.117.750.498,96 juta di tahun 2000 dan meningkat sebesar Rp. 58.450.517,29 juta dan memberikan kontribusi 30,21 persen pada tahun 2004 dengan nilai total Rp.193.435.263,05 juta. Namun ternyata komponen upah dan gaji ternyata relatif lebih rendah bila dibandingkan dengan surplus usaha, surplus usaha yang diterima oleh pengusaha satu setengah kali lebih besar dibandingkan komponen upah dan gaji. Komponen surplus usaha memberikan kontribusi sebesar 57,86 persen atau senilai Rp. 68.133.212,52 juta pada tahun 2000, dan meskipun pada tahun 2004 menurun menjadi 51,92 persen dengan nilai Rp.100.442.999,19 juta. Padahal upah dan gaji merupakan satu-

satunya komponen nilai tambah yang bisa langsung diterima oleh pekerja. Surplus usaha sendiri belum tentu dapat langsung dinikmati oleh masyarakat, karena surplus usaha tersebut sebagian ada yang tersimpan atau ditanam di perusahaan dalam bentuk laba yang ditahan. Dalam surplus usaha termasuk juga bagian pendapatan dari tenaga kerja yang tidak dibayar. Nilai indeks keterkaitan ke depan atau indeks daya kepekaan pada tahun 2000 terdapat tujuh sektor yang mempunyai indeks keterkaitan ke depan atau derajat kepekaan, antara lain sektor Industri lainnya, sektor pertambangan dan penggalian, sektor perdagangan, sektor industri makanan, minuman dan tembakau, sektor, lembaga keuangan, real estate dan jasa perusahaan, sektor industri pengilangan minyak dan sektor pengangkutan dan komunikasi. Sedangkan pada tahun 2004, hanya terdapat empat sektor yang mempunyai derajat kepekaan lebih dari satu yaitu sektor pertambangan dan penggalian, sektor industri lainnya, industri makanan minuman dan tembakau dan sektor perdagangan. Sektor

Didit dan Devi – Analisis Peranan Sektor Industri Industri lainnya memberikan kontribusinya yang paling tinggi dibandingkan dengan sektor lainnya pada tahun 2000 sebesar 3,14516. Nilai ini berarti menunjukkan pengaruh sektor industri lainnya apabila terjadi kenaikan permintaan akhir atas sektorsektor lain sebesar satu juta maka sektor industri lainnya akan mengalami peningkatan output sebesar 3,14516. Sedangkan pada tahun 2004 sektor yang memiliki indeks keterkaitan ke depan atau daya kepekaan tinggi adalah sektor yang pertambangan dan penggalian sebesar 4,07757. Nilai ini berarti menunjukkan pengaruh sektor pertambangan dan penggalian apabila terjadi kenaikan permintaan akhir atas sektor-sektor lain sebesar satu juta maka sektor pertambangan dan penggalian akan mengalami peningkatan output sebesar 4,07757. Output yang dihasilkan merupakan komoditi intermedier, dalam artian merupakan bahan baku bagi industri-industri dan sektor-sektor perekonomian lainnya. Nilai indeks keterkaitan ke belakang atau daya penyebaran pada tahun 2000 terdapat delapan sektor antara lain industri lainnya, bangunan listrik, gas dan air minum, industri makanan, minuman dan tembakau, restoran dan hotel, industri pengilangan minyak, jasa-jasa, pengangkutan dan komunikasi. Sektor yang mempunyai nilai indek penyebaran paling tinggi pada tahun 2000 adalah sektor Industri lainnya yang memberikan kontribusi sebesar 1,65850 yang artinya apabila terjadi kenaikan permintaan akhir terhadap sektor industri lainnya sebesar satu unit maka untuk sektor-sektor ekonomi lainnya yang ada di Jawa Tengah akan mengalami pertumbuhan output sebesar 1,65850 unit. Sedangkan pada tahun 2004, sektor industri pengilangan minyak merupakan

151

sektor yang memiliki nilai indeks keterkaitan ke belakang yang paling tinggi yaitu sebesar 2,30278, artinya apabila terjadi kenaikan permintaan akhir terhadap sektor industri pengilangan minyak sebesar satu unit maka untuk sektor-sektor ekonomi lainnya yang ada di Jawa Tengah akan mengalami pertumbuhan output sebesar 2,30278 unit. Sektor yang mempunyai daya penyebaran tinggi menunjukan sektor tersebut mempunyai daya dorong yang cukup kuat dibandingkan sektor lainnya. Peranan sektor industri dalam dalam tabel input output Jawa Tengah pada tahun 2000 dan 2004 mempunyai peranan yang cukup signifikan dalam proses produksi. Terlihat dari beberapa sektor industri menjadi sektor kunci perekonomian Jawa Tengah. Pada tahun 2000 sektor industri makanan, minuman, dan tembakau menyumbang sebesar Rp. 27.744.377,35 juta dengan indeks keterkaitan ke depan sebesar 1,24356 dan ke belakang sebesar 1,22629 atau sebesar 13,4 persen dari jumlah output. Selanjutnya industri lainnya menyumbang Rp. 27.901.202,3 juta dengan indeks keterkaitan ke depan sebesar 3,14516 dan ke belakang sebesar 1,65850 atau sebesar 13,48 persen dari jumlah output. Sedangkan sektor industri penanggulangan minyak menyumbang Rp. 11.101.830,81 juta dengan indeks keterkaitan ke depan sebesar 1,00214 dan ke belakang sebesar 1,16144 atau sebesar 5,36 persen dari jumlah output. Dalam hasil analisis pada tahun 2004 sektor industri makanan, minuman dan tembakau menyumbang sebesar Rp. 47.409.368,92 juta dengan indeks keterkaitan ke depan sebesar 1.17136 dan ke belakang sebesar 1.20178 atau sebesar 22,9 persen dari jumlah output. Selanjutnya industri lainnya menyumbang Rp.

152

Jurnal Ekonomi Pembangunan, Vol. 9, No. 2, Desember 2008 sebanyak 17,13 persen PDRB digunakan untuk investasi melalui pembentukan modal tetap bruto namun pada tahun 2004 persentasenya turun menjadi hanya sebesar 16,81 persen. Sementara itu ekspor netto Jawa Tengah mengalami sedikit peningkatan. Pada tahun 2000 komponen ekspor netto PDRB menunjukkan peranan sebesar 8,50 persen namun pada tahun 2004 peranannya meningkat cukup signifikan, yakni menjadi 10,63 persen. 3. Nilai indeks keterkaitan ke depan atau indeks daya kepekaan pada tahun 2000 terdapat tujuh sektor yang mempunyai indeks keterkaitan ke depan atau derajat kepekaan, antara lain sektor Industri lainnya, sektor pertambangan dan penggalian, sektor perdagangan, sektor industri makanan, minuman dan tembakau, sektor, lembaga keuangan, real estate dan jasa perusahaan, sektor industri pengilangan minyak dan sektor pengangkutan dan komunikasi. Sedangkan pada tahun 2004, hanya terdapat empat sektor yang mempunyai derajat kepekaan lebih dari satu yaitu sektor pertambangan dan penggalian, sektor industri lainnya, industri makanan minuman dan tembakau dan sektor perdagangan. Sektor Industri lainnya memberikan kontribusinya yang paling tinggi dibandingkan dengan sektor lainnya pada tahun 2000 sebesar 3,14516. Nilai ini berarti menunjukkan pegaruh sektor industri lainnya apabila terjadi kenaikan permintaan akhir atas sektor-sektor lain sebesar satu juta maka sektor industri lainnya akan mengalami peningkatan output sebesar Rp. 3,14516 juta. Sedangkan pada tahun 2004 sektor yang memiliki indeks keterkaitan ke

49.280.413,96 juta dengan indeks keterkaitan ke depan sebesar 1.98493 dan ke belakang sebesar 1.42724 atau sebesar 23,8 persen dari jumlah output. Pada 2004 industri pengilangan minyak tidak termasuk menjadi sektor kunci karena mengalami penurunan dari tahun 2000.

KESIMPULAN Berdasarkan hasil analisis input output dengan menggunakan Tabel Input Output Jawa Tengah tahun 2000 dan tahun 2004 tentang peranan sektor industri terhadap perekonomian Jawa Tengah tahun 2000 dan tahun 2004 maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: 1. Komponen pembentuk nilai tambah bruto dengan peranan terbesar adalah surplus usaha. Pada tahun 2000 peranan komponen ini dalam pembentukan nilai tambah di Jawa Tengah adalah sebesar 57,86 persen dengan nilai sebesar Rp.68.133.212,52 juta dan pada tahun 2004 menurun menjadi 51,92 persen dengan nilai sebesar Rp.100.442.999,19 juta. 2. Jumlah permintaan akhir yang tercipta masing-masing pada tahun 2000 dan 2004 adalah sebesar Rp. 272.703.047 juta dan Rp.170.021.068 juta. Komponen konsumsi rumah tangga menjadi pengguna PDRB terbesar selama kurun waktu tersebut. Bila pada tahun 2000 sebanyak 55,38 persen PDRB Jawa Tengah digunakan untuk memenuhi konsumsi rumah tangga maka pada tahun 2004 meningkat menjadi sekitar 65,25 persen. Sebaliknya, terjadi penurunan persentase penggunaan PDRB untuk pembentukan modal tetap bruto. Pada tahun 2000

Didit dan Devi – Analisis Peranan Sektor Industri depan atau daya kepekaan tinggi adalah sektor yang pertambangan dan penggalian sebesar 4,07757. Nilai ini berarti menunjukkan pengaruh sektor pertambangan dan penggalian apabila terjadi kenaikan permintaan akhir atas sektorsektor lain sebesar satu juta maka sektor pertambangan dan penggalian akan mengalami peningkatan output sebesar Rp. 4,07757 juta. 4. Nilai indeks keterkaitan ke belakang atau daya penyebaran pada tahun 2000 terdapat delapan sektor antara lain industri lainnya, bangunan listrik, gas dan air minum, industri makanan, minuman dan tembakau, restoran dan hotel, industri pengilangan minyak, jasa-jasa, pengangkutan dan komunikasi. Sektor yang mempunyai nilai indeks penyebaran paling tinggi pada tahun 2000 adalah sektor industri lainnya yang memberikan kontribusi sebesar 1,65850 yang artinya apabila terjadi kenaikan permintaan akhir terhadap sektor industri lainnya sebesar satu unit maka untuk sektor-sektor ekonomi lainnya yang ada di Jawa Tengah akan mengalami pertumbuhan output sebesar 1,65850 unit. Sedangkan pada tahun 2004, sektor industri pengilangan minyak merupakan sektor yang memiliki nilai indeks keterkaitan ke belakang yang paling tinggi yaitu sebesar 2,30278, artinya apabila terjadi kenaikan permintaan akhir terhadap sektor industri pengilangan minyak sebesar satu unit maka untuk sektor-sektor ekonomi lainnya yang ada di Jawa Tengah akan mengalami pertumbuhan output sebesar 2,30278 unit. 5. Sektor kunci perekonomian Jawa Tengah pada tahun 2000 yaitu sektor indutri

153 makanan, minuman dan tembakau, sektor industri lainnya, sektor industri pengilangan minyak dan sektor pengangkutan dan komunikasi. Sektor-sektor inilah yang memegang peranan penting dalam menggerakkan roda perekonomian Jawa Tengah pada tahun 2000. Sedangkan tahun 2004 hanya terdapat dua sektor perekonomian yang menjadi sektor kunci perekonomian Jawa Tengah yaitu sektor industri makanan, minuman dan tembakau, dan sektor industri lainnya. Ini memperlihatkan bahwa terjadi penurunan dalam perekonomian Jawa Tengah pada tahun 2004 bila dibandingkan dengan tahun 2000.

6. Peranan sektor industri dalam dalam tabel input output Jawa Tengah pada tahun 2000 dan 2004 mempunyai peranan yang cukup signifikan dalam proses produksi. Terlihat dari beberapa sektor industri menjadi sektor kunci perekonomian Jawa Tengah. Pada tahun 2000 sektor industri makanan, minuman dan tembakau menyumbang sebesar Rp.27.744.377,35 juta dengan indeks keterkaitan ke depan sebesar 1,24356 dan ke belakang sebesar 1,22629 atau sebesar 13,4 persen dari jumlah output. Selanjutnya industri lainnya menyumbang Rp.27.901.202,3 juta dengan indeks keterkaitan ke depan sebesar 3,14516 dan ke belakang sebesar 1,65850 atau sebesar 13,48 persen dari jumlah output. Sedangkan sektor industri pengilangan minyak menyumbang Rp. 11.101.830,81 juta dengan indeks keterkaitan ke depan sebesar 1,00214 dan ke belakang sebesar 1,16144 atau sebesar 5,36 persen dari jumlah output. Dalam hasil analisis pada tahun 2004 sektor industri makanan,

154

Jurnal Ekonomi Pembangunan, Vol. 9, No. 2, Desember 2008 minuman dan tembakau menyumbang sebesar Rp.47.409.368,92 juta dengan indeks keterkaitan ke depan sebesar 1.17136 dan ke belakang sebesar 1.20178 atau sebesar 22,9 persen dari jumlah output. Selanjutnya industri lainnya menyumbang Rp.49.280.413,96 juta dengan indeks keterkaitan ke depan sebesar 1.98493 dan ke belakang sebesar 1.42724 atau sebesar 23,8 persen dari jumlah output. Pada 2004 industri pengilangan minyak tidak termasuk menjadi sektor kunci karena mengalami penurunan dari tahun 2000. 3. Sektor-sektor lain yang pada tahun 2000 dan 2004 memiliki indeks keterkaitan ke depan atau daya kepekaan yang tinggi seperti sektor industri lainnya, sektor pertambangan dan penggalian, sektor perdagangan, sektor, lembaga keuangan, real estate dan jasa perusahaan di usahakan juga agar menjadi sektor kunci pada tahun-tahun selanjutnya, dengan memberikan regulasi khusus dari pemerintah Jawa Tengah. 4. Untuk penelitian selanjutnya sebaiknya menambahkan beberapa analisis lagi sehingga benar-benar dapat menganalisis sebuah peranan sektor ekonomi terhadap perekonomian Jawa Tengah.

Dari kesimpulan di atas, dapat dikemukakan beberapa saran yang diharapkan dapat bermanfaat bagi pengambilan kebijakan pemerintah dan bagi penelitian selanjutnya. 1. Sektor industri makanan, minuman dan tembakau, dan sektor industri lainnya perlu mendapat perhatian dari pemerintah Jawa Tengah karena sektor industri makanan, minuman dan tembakau, sektor industri lainnya sangat berperan dalam memacu pertumbuhan ekonomi di Jawa Tengah pada tahun 2000 dan 2004. Sektor industri makanan, minuman dan tembakau, dan sektor industri lainnya memiliki daya dorong yang kuat terhadap penciptaan sektor-sektor ekonomi lainnya dan juga memiliki sensitivitas yang tinggi terhadap perubahan permintaan akhir dari sektor-sektor ekonomi lainnya. 2. Pemerintah provinsi Jawa Tengah juga harus memberikan perhatian lebih terhadap sektor industri pengilangan minyak yang pada tahun 2000 menjadi sektor kunci namun pada tahun 2004 sektor tersebut tidak lagi menjadi sektor kunci.

DAFTAR PUSTAKA Badan Pusat Statistik. 2002. Analisis Lanjutan Tabel Input-Output DKI Jakarta 2000: Tinjauan Perekonomian. BPS: DKI Jakarta. Badan Pusat Statistik. 2000. Kerangka Teori dan Analisis Tabel Input Output. BPS: DKI Jakarta. Badan Pusat Statistik. 2000. Tabel Input Output Indonesia Tahun 2000. BPS: DKI Jakarta. Badan Pusat Statistik. 2003. Tabel Input Output Indonesia Updating 2003. BPS: DKI Jakarta. Badan Pusat Statistik. 2000. Tabel Input Output Jawa Tengah Tahun 2000. BPS: Jawa Tengah. Badan Pusat Statistik. 2004. Tabel Input Output Jawa Tengah Tahun 2004. Badan Pusat Statistik: Jawa Tengah.

Didit dan Devi – Analisis Peranan Sektor Industri Badan Pusat Statistik. 2003. Statistik Sosial dan Kependudukan Jawa Tengah. Hasil Susenas 2003. Semarang: BPS Jawa Tengah. Arsyad, Lincoln. 1999. Ekonomi Pembayaran. Yogyakarta: Bagian Penerbitan STIE YKPN. Jhingan, M.L. 1998. Beberapa Masalah Perencanaan Pembangunan Daerah. Jakarta: Rajawali Press. Miller, Ronald E, dan Peter H. Blair. 1999. Input Output Analysis: Foundation and Extensions, New Jersey: Prentice Hall.

155

Nazara, Suahasil. 1997. Analisis Input Output. Jakarta: Lembaga Penerbitan FE UI. Kamaluddin, R. 1987. Beberapa Aspek Pembangunan Nasional dan Pembangunan Daerah. Jakarta: LPFE-UI. Tambunan, Tulus, 2001. Industri di Negara Berkembang Kami Indonesia. Jakarta: Ghalia.

Jurnal Ekonomi Pembangunan Vol. 9, No. 2, Desember 2008, hal. 156 - 167

ANALISIS PERUBAHAN KURS RUPIAH TERHADAP DOLLAR AMERIKA
Triyono Fakultas Ekonomi Universitas Muhammmadiyah Surakarta E mail: triums@yahoo.com.sg

ABSTRACT This research analyse influence of money supply, inflation, SBI rate of interest, and import to Indonesia Rupiah exchange rate to US Dollar. In analysis, used multiple regression analysis instrument with model Error Correction Model (ECM). With this method obtained equation of regression in long-run and short-run equilibrium. In the long run equilibrium model, covered series of adjustment process that bringing every shock to equilibrium. In other word, in the long run very possibly performed full adjustment to every changes in arising out. Estimation result from regression ECM and long-run analysis indicate that inflation variable, SBI rate of interest, and import have significant influence with positive direction to exchange rate. While variable JUB have influence with negative direction to exchange rate. Keywords: exchange rate, ECM, monetary tight policy PENDAHULUAN Perbedaan nilai tukar mata uang suatu negara (kurs) pada prinsipnya ditentukan oleh besarnya permintaan dan penawaran mata uang tersebut (Levi, 1996:129). Kurs merupakan salah satu harga yang lebih penting dalam perekonomian terbuka, karena ditentukan oleh adanya kseimbangan antara permintaan dan penawaran yang terjadi di pasar, mengingat pengaruhnya yang besar bagi neraca transaksi berjalan maupun bagi variabelvariabel makro ekonomi lainnya. Kurs dapat dijadikan alat untuk mengukur kondisi perekonomian suatu negara. Pertumbuhan nilai mata uang yang stabil menunjukkan bahwa negara tersebut memiliki kondisi ekonomi yang relatif baik atau stabil (Salvator, 1997:10). Ketidakstabilan nilai tukar ini mempengaruhi arus modal atau investasi dan pedagangan Internasional. Indonesia sebagai negara yang banyak mengimpor bahan baku industri mengalami dampak dan ketidakstabilan kurs ini, yang dapat dilihat dari rnelonjaknya biaya produksi sehingga menyebabkan harga barangbarang milik Indonesia mengalami peningkatan. Dengan melemahnya rupiah menyebabkan perekonomian Indonesia menjadi goyah dan dilanda krisis ekonomi dan kepercayaan terhadap mata uang dalam negeri. Sistem devisa bebas dan ditambah dengan penerapan sistem floating exchange rate di Indonesia sejak tahun 1997, menyebabkan pergerakan nilai tukar di pasar menjadi sangat rentan oleh pengaruh faktorfaktor ekonomi maupun non ekonomi. Sebagai contoh pertumbuhan nilai mata uang rupiah terhadap dolar AS pada era sebelum

Triyono - Analisis Perubahan Kurs Rupiah krisis melanda Indonesia dan kawasan Asia lainya masih relatif stabil. Jika dibandingkan dengan masa sebelum krisis, semenjak krisis ini terjadi lonjakan kurs dolar AS berada diantara Rp6.700 - Rp9.530 sedangkan periode 1981- 1996 di bawah Rp2.500 (Bank Indonesia, 2000). Melalui mekanisme transmisi, inflasi serta suku bunga domestik bisa turun ke tingkat yang rendah. Sebaliknya, dengan menguatnya dolar AS belakangan, nilai Rupiah merosot dan berpotensi mendongkrak inflasi. Pergerakan nilai tukar yang fluktuatif ini mempengaruhi perilaku masyarakat dalam memegang uang, selain faktor-faktor yang lain seperti tingkat suku bunga dan inflasi. Kondisi ini didukung oleb laju inflasi yang meningkat tajam dan menurunnya kepercayaan masyarakat terhadap perbankan nasional. Tingkat suku bunga yang tinggi, akan menyerap jumlah uang yang beredar di masyarakat. Sebaliknya jika tingkat suku bunga terlalu rendah maka jumlah uang yang beredar di masyarakat akan bertambah karena orang lebih suka memutarkan uang pada sektor-sektor produktif dari pada menabung. Dalam hal ini tingkat suku bunga merupakan instrumen konvensional untuk mengendalikan inflasi (Khalawaty, 200:144). Dari latar belakang yang telah diuraikan di atas, penelitian ini menganalisis mengenai bagaimana pengaruh jumlah uang beredar (JUB), inflasi, suku bunga (SBI), dan impor, pada kurs rupiah terhadap dollar AS. Landasan teori dalam penelitian ini sebagai berikut: 1. Pengertian Kurs Kurs (Exchange Rate) adalah pertukaran antara dua mata uang yang berbeda, yaitu

157 merupakan perbandingan nilai atau harga antara kedua mata uang tersebut. Perbandingan nilai inilah sering disebut dengan kurs (exchange rate). Nilai tukar biasanya berubah-ubah, perubahan kurs dapat berupa depresiasi dan apresiasi. Depresiasi mata uang rupiah terhadap dolar AS artinya suatu penurunan harga dollarAS terhadap rupiah. Depresiasi mata uang negara membuat harga barang-barang domestik menjadi lebih murah bagi fihak luar negeri. Sedang apresiasi rupiah terhadap dollar AS adalah kenaikan rupiah terhadap dollar AS. Apresiasi mata uang suatu negara membuat harga barangbarang domestik menjadi lebih mahal bagi fihak luar negeri (Sukirno, 1981:297). Kurs rupiah terhadap dollar AS memainkan peranan sentrel dalam perdagangan internasional, karena kurs rupiah terhadap dollar AS memungkinkan kita untuk membandingkan harga semua barang dan jasa yang dihasilkan berbagai negara. Kurs valuta asing dapat diklasifikasikan kedalam kurs jual dan kurs beli. Selisih dari penjualan dan pembelian merupakan pendapatan bagi pedagang valuta asing. Sedang bila ditinjau dari waktu yang dibutuhkan dalam menyerahkan valuta asing setelah transaksi kurs dapat diklasifikasikan dalam kurs spot dan kurs berjalan (forward exchange). Semua transaksi valuta asing yang berlangsung seketika atau langsung di mana kedua belah pihak sepakat untuk saling membayar secepatnya saat itu atau paling lambat dua hari setelah transaksi, disebut kurs spot (spot exchange rate). Sedangkan kesepakatannya disebut transaksi spot. Beberapa kesepakatan sering seringkali secara khusus menetapkan tanggal lebih dari dua hari, misalnya 30 hari, 90 hari,atau 180 hari atau bahkan beberapa tahun. Kurs yang

158

Jurnal Ekonomi Pembangunan, Vol. 9, No. 2, Desember 2008 Sistem sekeranjang mata uang, keuntungannya adalah sistem ini menawarkan stabilisasi mata uang suatu negara karena pergerakan mata uangnya disebar dalam sekeranjang mata uang. Mata uang yang di masukan dalam keranjang biasanya ditentukan oleh besarnya peranannya dalam membiayai perdagangan negara tertentu. Sistem kurs tetap, dimana negara menetapkan dan mengumumkan suatu kurs tertentu atas mata uangnya dan menjaga kurs dengan cara membeli atau menjual valas dalam jumlah yang tidak terbatas dalam kurs tersebut. Bagi negara yang sangat rentan terhadap gangguan eksternal, misalnya memiliki ketergantungan tinggi terhadap sektor luar negeri maupun gangguan internal, seperti sering mengalami gangguan alam, menetapkan kurs tetap merupakan suatu kebijakan yang beresiko tinggi. 3. Hubungan antara Kurs dengan Jumlah Uang Beredar Bahwa peredaran reserve valuta asing (neraca pembayaran) timbul sebagai akibat kelebihan permintaan atau penawaran uang. Apabila terdapat kelebihan jumlah uang beredar maka neraca pembayaran akan defisit dan sebaliknya apabila terdapat kelebihan permintaan uang, neraca pembayaran akan surplus kelebihan jumlah uang beredar akan mengakibatkan masyarakat membelanjakan kelebihan ini, misalnya untuk impor atau membeli surat-surat berharga luar negeri sehingga terjadi aliran modal keluar, yang berarti permintaan akan valas naik sedangkan permintaan mata uang sendiri turun (Nopirin, 1997: 222). Jika pemerintah menambah uang beredar akan menurunkan tingkat bunga dan merangsang investasi keluar negeri sehingga terjadi aliran modal keluar pada giliran kurs

menjadi dasar bagi transaksi semacam ini di sebut kurs berjangka (forward exchange rate). 2. Sistem Kurs dan Dasar Pertimbangan Penetapannya Pada dasarnya terdapat lima jenis system kurs utama yang berlaku (Kuncoro,1996:27) yaitu: sistem kurs mengambang (floating exchang rate), kurs tertambat (pegged exchange rate), kurs tertambat merangkak (crawling pegs), sekeranjang mata uang (basket of currencies), kurs tetap (fixed exchange rate). Pada jenis sistem kurs mengambang, kurs ditentukan oleh mekanisme pasar dengan atau tanpa adanya campur tangan pemerintah dalam upaya stabilisasi melalui kebijakan moneter apabila ada terdapat campur tangan pemerintah maka system ini termasuk mengambang terkendali (managed floating exchange rate). Pada sistem kurs tertambat, suatu negara menambatkan nilai mata uangnya dengan sesuatu atau sekelompok mata uang negara lainnya yang merupakan negara mitra dagang utama dari negara yang bersangkutan, ini berarti mata uang negara tersebut bergerak mengikuti mata uang dari negara yang menjadi tambatannya. Sistem kurs tertambat merangkak, di mana negara melakukan sedikit perubahan terhadap mata uangnya secara periodik dengan tujuan untuk bergerak ke arah suatu nilai tertentu dalam rentang waktu tertentu. Keuntungan utama dari sistem ini adalah negara dapat mengukur penyelesaian kursnya dalam periode yang lebih lama jika di banding dengan system kurs terambat.

Triyono - Analisis Perubahan Kurs Rupiah valuta asing naik (apresiasi). Dengan menaiknya penawaran uang atau atau jumlah uang beredar akan menaikkan harga barang yang diukur dengan (term of money) sekaligus akan menaikkan harga valuta asing yang diukur dengan mata uang domestik (Herlambang, dkk, 2001) a. Hubungan Inflasi dengan Kurs Nilai tukar dibedakan menjadi dua yaitu nilai tukar nominal dan nilai tukar riil. Nilai tukar nominal menunjukkan harga relatif mata uang dan dua negara, sedangkan nilai tukar riil menunjukkan tingkat ukuran (rate) suatu barang dapat diperdagangkan antar negara. Jika nilai tukar riil tinggi berarti harga produk luar negeri relatif murah dan harga produk domestik relatif mahal. Persentase perubahan nilai tukar nominal sama dengan persentase perubahan nilai tukar riil ditambah perbedaan inflasi antara inflasi luar negeri dengan inflasi domestik (persentase perubahan harga inflasi). Jika suatu negara luar negeri lebih tinggi inflasinya dibandingkan domestik (Indonesia) maka Rupiah akan ditukarkan dengan lebih banyak valas. Jika inflasi meningkat untuk membeli valuta asing yang sama jumlahnya harus ditukar dengan Rupiah yang makin banyak atau depresiasi Rupiah (Herlambang, dkk, 2001 : 282) b. Hubungan Suku Bunga dengan Kurs Kebijakan yang dapat digunakan untuk mencapai sasaran stabilitas harga atau pertumbuhan ekonomi adalah kebijakankebijakan moneter dengan menggunakan instrumen moneter (suku bunga atau agregat moneter). Salah satu jalur yang digunakan adalah jalur nilai tukar,

159 berpendapat bahwa pengetatan moneter yang mendorong peningkatan suku bunga akan mengakibatkan apresiasi nilai tukar karena adanya pemasukan modal dan luar negeri (Arifin, 1998: 4). c. Hubungan Nilai Impor dengan Kurs Di dalam pasar bebas perubahan kurs tergantung pada beberapa faktor yang mempengaruhi permintaan dan penawaran valuta asing. Bahwa valuta asing diperlukan guna melakukan transaksi pembayaran keluar negeri (impor). Makin tinggi tingkat pertumbuhan pendapatan (relatif terhadap negara lain) makin besar kemampuan untuk impor makin besar pula permintaan akan valuta asing. Kurs valuta asing cenderung meningkat dan harga mata uang sendiri turun. Demikian juga inflasi akan menyebabkan impor naik dan ekspor turun kemudian akan menyebabkan valuta asing naik. (Nopirin, 1997: 148) Berdasarkan perumusan masalah yang ada, maka dapat diambil suatu hipotesis yang merupakan jawaban yang bersifat sementara dan masih harus diuji kebenarannya sebagai berikut; 1. Jumlah uang beredar berpengaruh positif terhadap kurs Rupiah terhadap dollar AS. 2. Tingkat Suku Bunga SBI berpengaruh negatif terhadap kurs Rupiah terhadap dollar AS. 3. Besarnya inflasi berpengaruh positif terhadap kurs Rupiah terhadap dollar AS. 4. Besarnya nilai impor berpengaruh negatif terhadap kurs Rupiah terhadap dollar AS.

160

Jurnal Ekonomi Pembangunan, Vol. 9, No. 2, Desember 2008 METODE PENELITIAN 5. Nilai Impor (M) Nilai impor adalah jumlah masukan hasil perdagangan dari luar ke dalam negeri selama rentang waktu tertentu. Diukur dalam satuan juta $US dan telah diubah menjadi satuan rupiah. Metode Analisis Data Alat analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah regresi berganda. Model yang digunakan adalah Error Correction Model (ECM) yang formulasi jangka panjang sebagai berikut: Log kurst = β0 + β1 LogJUBt + β2 JNFt + β3 SBIt + β4 LogMt + Ut dimana: β1, β2 , β3, β4 = koefisien jangka panjang Sementara hubungan jangka pendek dinyatakan dengan persamaan sebagai berikut:

Jenis dan Sumber Data Jenis data yang digunakan adalah data sekunder yang terdiri dan satu variabel terikat yaitu kurs dan empat variabel bebas yaltu jumlah uang yang beredar, inflasi, tingkat suku bunga SBI, dan nilai impor. Data sekunder ini bersumber pada Bank Indonesia (BI) dan beberapa pustaka lainnya. Definisi Operasional Variabel 1. Kurs Kurs atau nilai tukar mata uang (exchange rate) merupakan harga suatu mata uang terhadap mata uang lain. Dalam penelitian digunakan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS. Diukur dalam satuan rupiah (Rp/$ ). 2. Tingkat Inflasi (INF) Inflasi adalah kenaikan harga-harga barang kebutuhan umum yang terjadi secara terus-menerus. Inflasi diukur dalam satuan persen (%) 3. Jumlah uang yang beredar (JUB) Jumlah uang yang beredar adalah uang dalam arti sempit yang terjadi dari uang kartal dan uang giral yang dipegang oleh masyarakat. Data jumlah uang yang beredar yang digunakan diukur dalam satuan rupiah. 4. Tingkat Suku Bunga SBI (SBI) Tingkat suku bunga SBI adalah rata-rata persentase suku bunga SBI yang ditetapkan oleh Bank Indonesia. Data suku bunga yang digunakan diukur dalam satuan persen.

α1 DLogJUBt + α2 DJNFt + α3 SDBIt+ α4 Dlog
D Log kurs = Mt – α (LogKurst-1 - β0 β1LogJUBt-1 + β2INFt-t + β3SB1t-1 + β4LogMt-1 ) + Ut dimana:

α1, α2, α3, α4 = parameter jangka panjang αs = parameter penyesuaian
Parameterisasi persamaan jangka pendek dapat menghasilkan bentuk persamaan:

Triyono - Analisis Perubahan Kurs Rupiah y0+ y1DLogJUBt + y2DINFt + y3DSBIt + y4D D Log Kurst = LogMt, + y5LogJUBt-1 + y6JNFt-1+ y7SBIt-1 +y8LogMt-1 + y9ECT + Ut ECT = LogJUBt-1 + 1NFt-1 + SBIt-1 + LogMt-1 - LogKurst-1 Keterangan: D Log kurs = D log JUB = D INF = D SBI = D Log M = Log JUBt-1 = INF t-1 SBI Log M t-1 ECT Ut D t = = = = = = = Kurs rupiah terhadap dolar AS Jumlah Uang Beredar Inflasi Tingkat Suku Bunga SRI Nilai Impor Kelambanan Jumlah Uang Beredar (JUB) Kelambanan Inflasi Kelambanan Tingkat Suku Bunga (SBI) Kelambanan Nilai Impor Error Correction Term residual perubahan periode waktu b. Uji Kointegrasi (Cointegration Test)

161 jat integrasi (Integration Test) sampai memperoleh data yang stasioner.

Uji kointegrasi adalah uji ada tidaknya hubungan jangka panjang antara variabel bebas dan terikat, uji ini merupakan kelanjutan dari uji akar-akar unit (Unit Root Test) dan uji derajat integrasi (Integration Test). 2. Uji Asumsi Klasik a. Heteroskedastisitas Heteroskedastisitas terjadi apabila variasi Ut tidak konstan atau sering berubahubah seiring dengan berubahnya nilai variabel independen (Gujarati, 2002:61). Untuk melacak keberadaan heteroskedastisitas dalam penelitian ini digunakan uji White. b. Autokorelasi Autokorelasi dapat diidentifikasi sebagai korelasi antara anggota serangkaian observasi. Dalam penelitian ini menggunakan uji Breusch Godfrey. c. Uji Normalitas Asumsi normalitas gangguan Ut adalah penting sekali mengingat uji validitas pengaruh variabel independen baik secara serempak (uji F) maupun sendirisendiri (uji t) dan estimasi nilai variabel dependen mensyaratkan hal ini. Apabila asumsi ini tidak terpenuhi, maka kedua uji ini dan estimasi nilai variabel dependen adalah tidak valid untuk sampel kecil atau tertentu (Gujarati, 2002:143). Uji normalitas Ut yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji Jarque Bera.

Uji dalam Penelitian 1. Uji Stasioneritas Uji ini terdiri dari: a. Uji Akar-Akar Unit (Unit Root Test) Uji akar-akar unit ini dimaksudkan untuk menentukan stasioner tidaknya sebuah variabel. Data dikatakan stasioner bila data tersebut mendekati rata-ratanya dan tidak terpengaruh waktu. Apabila data yang diamati dalam uji akar-akar unit (Unit Root Test) ternyata belum stasioner maka harus dilanjutkan dengan uji dera-

162

Jurnal Ekonomi Pembangunan, Vol. 9, No. 2, Desember 2008 besarnya pengaruh masing-masing variabel independen terhadap variabel dependen secara dua sisi (two tail).

d. Uji Spesifikasi Model (Uji RamseyReset) Uji spesifikasi model pada dasarnya digunakan untuk asumsi (CLRM) tentang linearitas model, sehingga sering disebut uji linearitas model. Pada penelitian ini digunakan uji Ramsey-Reset yang terkenal dengan sebutan uji kesalahan spesifikasi umum. 3. Uji Statistik a. Uji F (F Test) Uji F dilakukan untuk mengetahui apakah model yang digunakan eksis atau tidak. b. R2 (Koefisien Determinasi Majemuk) Koefisien determinasi merupakan proporsi atau prosedur total varian dependen yang dijelaskan oleh variabel independen. Nilai R2 terletak antara 0 dan 1. c. Uji Validitas Pengaruh Untuk menggunakan fungsi validitas pengaruh dari variabel independen terhadap variabel dependen digunakan uji t. Uji t statistik ini bertujuan untuk mengetahui

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Pengujian dengan Error Correction Model (ECM) Model ECM (Error Correction Model) merupakan model ekonometrik yang digunakan untuk mencari persamaan regresi keseimbangan jangka panjang dan jangka pendek. Dalam penelitian ini hasil estimasi regresi seperti nampak pada Tabel 1. Dari hasil Error Correction Model (ECM) nampak bahwa nilai ECT sebesar 0,483191 pada derajat α = 5%. Hal ini berarti nilai ECT tersebut sudah memenuhi kriteria yaitu 0<ECT<1. Dengan kata lain model ECM dalam penelitian ini dapat dipakai untuk menganalisis pengaruh variabel bebas yaitu inflasi, JUB, SBI, dan impor (M) terhadap variabel tidak bebas yaitu kurs. Dari hasil analisis regresi ECM bila ditulis dalam bentuk persamaan linier sebagai berikut:

Tabel 1. Hasil Analisis Model ECM
Variabel C D(INF) D(LNM) D(SBI) D(LNJUB) INF(-1) LNM(-1) SBI(-1) LNJUB(-1) ECT Koefisien 3.546013 -0.000168 0.041126 0.011526 0.749601 -0.482204 -0.371070 -0.483551 -0.545433 0.483191 Std. error 1.795917 0.002526 0.031006 0.017263 0.274389 0.156806 0.134930 0.155602 0.197522 0.156966 T. Ststistik 1.974485 -0.066645 1.326398 0.667668 2.731896 -3.075165 -2.750087 -3.107607 -2.761380 3.078313 Prob 0.0595 0.9474 0.1967 0.5105 0.0114 0.0050 0.0109 0.0047 0.0106 0.0050

Sumber: Data sekunder diolah

Triyono - Analisis Perubahan Kurs Rupiah D(LKURS)= 3,54601288 – 0,0001683258664* D(INF) + 0,04112572539*D(LN M) + 0,01152604922*D(SBI) = 0,7496011781*D(LN JUB) – 0,4822037777*INF(-1) – 0,371069781*LN M(-1) – 0,4835505342*SBI(-1) – 0,5454332375*LN JUB(-1)+ 0,4831908372*ECT Keterangan: * = signifikan pada α = 0,05
2 χ tabel

163 = 27,587 >
2 χ hitung = 13,798244 berar-

ti tidak ada masalah heteroskedastisitas. 2. Autokorelasi Dalam penelitian ini digunakan uji Breusch Godfrey dengan kesimpulan:
2 2 χ hitung = 6,718503 < χ tabel =7,81473 berarti

dalam model tidak terdapat masalah autokorelasi. 3. Normalitas μt Uji normalitas μt dalam pembahasan ini menggunakan Uji Jarque-Bera dengan kesimpulan: nilai statistik Jarque-Bera = 0,289995 lebih kecil dari berarti distribusi μt normal Spesifikasi Model Dalam penelitian ini digunakan uji RamseyReset. Karena Fhitung = 2,18131 < Ftabel = 3,40 berarti model linier.

Model tersebut merupakan model jangka pendek. Model jangka panjang harus melihat keseimbangan dimana di dalamnya tercakup serangkaian proses penyesuaian yang membawa setiap shock kepada equilibrium. Dengan kata lain dalam jangka panjang memungkinkan mengadakan penyesuaian penuh untuk setiap perubahan yang timbul. (Lihat Tabel 2) Uji Asumsi Klasik 1. Heteroskedastisitas Untuk mendeteksi masalah heteroskedastisitas dilakukan dengan menggunakan Uji White dengan kesimpulan, karena nilai

χ 02, 05;3 =

5,99146

Tabel 2. Koefisien Regresi Jangka Panjang
Variabel C INF(-1) JUB(-1) SBI(-1) M(-1) Perhitungan 3,546013/0,490864 -0,482204 + 0,490564/0,490864 -0,545433 + 0.490864/0,490864 -0,483551 + 0,490564/0,490864 -0,371070 + 0,490564/0,490864 = 7,22402 = 0,01764 = -0,11117 = 0,01490 = 0,24405

Sumber: Data sekunder diolah

164 Uji Statistik 1. Uji t

Jurnal Ekonomi Pembangunan, Vol. 9, No. 2, Desember 2008 Tabel 4. Koefisien Regresi dalam Jangka Pendek dan Jangka Panjang
Variabel Koefisien Regresi Jangka Panjang C D(INF) D(LNM) D(SBI) D(LNJUB) INF(-1) LNM(-1) SBI(-1) LNJUB(-1) ECT 3.546013 -0.000168 0.041126 0.011526 0.749601 -0.482204 -0.371070 -0.483551 -0.545433 0.483191 Jangka Pendek 7,22402 0,01764 0,24405 0,01490 -0,11117 -

Tabel 3. Hasil Uji t
Nama Variabel
Inflasi JUB SBI Import Inflasi-1 JUB-1 SBI-1 Impor-1 ECT

t hitung
-0,066645 2,731896 0,66768 1,326398 -3,075165 -2,761380 -3,107607 -2,750087 3,078313

t tabel
2,056 2,056 2,056 2,056 -2,056 -2,056 -2,056 -2,056 2,056

Kesimpulan
Tidak berpengaruh Berpengaruh Tidak berpengaruh Tidak berpengaruh Berpengaruh Berpengaruh Berpengaruh Berpengaruh Berpengaruh

Sumber: Data sekunder yang diolah

2. Uji F Dengan kesimpulan: Karena Fhitung= 2,678083 > Ftabel = 2,27 berarti model yang dipakai adalah eksis. 3. Koefisien Determinasi (R2) Nilai R2 = 0,490864 berarti besarnya pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen sebesar 49,0864 persen, sedang sisanya sebesar 50,9136 persen menggambarkan pengaruh dari variabel-variabel di luar model. Interpretasi Ekonomi Analisis regresi baik model jangka pendek maupun jangka panjang disajikan dalam Tabel 4 yang selanjutnya dilakukan interpretasi ekonomi. Interprestasi terhadap masing-masing nilai koefisien regresi variabel bebas adalah:

1. Inflasi Dari hasil analisis jangka pendek variabel inflasi tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kurs. Sedangkan dari hasil perhitungan jangka panjang variabel inflasi mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kurs, sebesar 0.01764 dengan arah positif yang berarti naiknya variabel inflasi mengakibatkan naiknya variabel kurs sebesar 0,01764 atau 1,764 persen. 2. JUB Hasil analisis jangka pendek variabel JUB mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kurs sebesar 0,749601 dengan arah positif yang berarti naiknya variabel JUB akan mengakibatkan naiknya variabel kurs sebesar 0,74601 atau 74,601 persen. Sedangkan perhitungan jangka panjang variabel JUB berpengaruh signifikan terhadap kurs sebesar -0,11117 dengan arah negatif artinya turun-

Triyono - Analisis Perubahan Kurs Rupiah nya variabel JUB akan mengakibatkan naiknya variabel kurs sebesar 11,117 persen. 3. SBI Hasil analisis jangka pendek variabel SBI tidak berpengaruh secara signifikan terhadap kurs. Sedangkan dan perhitungan jangka panjang variabel SBI berpengaruh secara signifikan terhadap kurs sebesar 0,01490 dengan arah positif artinya naiknya variabel SBI akan mengakibatkan naiknya variabel kurs sebesar 1,49 persen 4. Impor (M) Hasil analisis jangka pendek variabel impor tidak berpengaruh secara signifikan terhadap kurs. Sedangkan dari perhitungan jangka panjang variabel impor berpengaruh secara signifikan terhadap kurs sebesar 0,24405 dengan arah positif yang berarti naiknya variabel impor (M) akan mengakibatkan naiknya kurs sebesar 0,24405 atau 24,405 persen. 5. ECT Signifikansi pada tingkat α = 0,05 dengan nilai koefisien sebesar 0,483191. Hal ini menunjukkan proporsi ketidakseimbangan dalam variabel kurs sebelum disesuaikan pada periode sekarang adalah 0,519125. nilai koefisien tersebut dapat menjelaskan fenomena jangka panjang. KESIMPULAN Berdasarkan hasil regresi model ECM (Error Correction Model) mengenai pengaruh inflasi, JUB, SBI, dan impor (M) terhadap kurs, maka dapat disimpulkan adalah sebagai berikut:

165 1. Berdasarkan hasil uji stasioneritas menunjukkan bahwa variabel impor sudah stasioner pada derajat α = 5%. Sedangkan variabel kurs, inflasi, JUB dan SBI tidak stasioner pada derajat α = 5%. 2. Berdasarkan uji kointegrasi menunjukkan bahwa inflasi, impor, SBI dan JUB tidak berkointegrasi terhadap kurs pada derajat kepercayaan α = 5%. 3. Berdasarkan uji derajat integrasi menunjukkan bahwa variabel kurs, inflasi, JUB, SBI dan impor stasioner pada derajat α = 5%. 4. Berdasarkan hasil estimasi regresi ECM dan analisis jangka panjang variabel inflasi, SBI dan impor mempunyai pengaruh yang signifikan pada α = 0,05 dengan arah positif terhadap kurs. Sementara variabel JUB mempunyai pengaruh dengan arah negatif terhadap kurs pada α = 0,05. 5. Berdasarkan hasil pengujian asumsi klasik, tidak ditemukan masalah heteroskedastisitas dan autokorelasi dalam model. Model yang digunakan dalam uji normalitas tidak terdapat penyimpangan, sehingga dapat dikatakan bahwa distribusi Ut normal. Dalam uji linieritas menunjukkan spesifikasi model benar. 6. Hasil analisis dengan uji t diketahui bahwa regresi jangka pendek variabel inflasi, SBI dan impor tidak signifikan terhadap kurs pada α = 5%, sementara variabel JUB berpengaruh secara signifikan terhadap kurs pada α = 5%. Dalam regresi jangka panjang variabel inflasi, JUB, SBI, dan impor berpengaruh secara signifikan terhadap kurs pada α = 5%.

166

Jurnal Ekonomi Pembangunan, Vol. 9, No. 2, Desember 2008 tian ini dapat dijadikan sebagai penunjang untuk penelitian selanjutnya. DAFTAR PUSTAKA Adias, Levi lqbal. 2003. Analisis Fluktuasi Kurs Rupiah terhadap Dollar AS. Skripsi. Tidak Diterbitkan. Surakarta: Universitas Sebelas Maret Bank Indonesia. Beberapa tahun edisi, Statistik Ekonomi-Keuangan Indonesia. Jakarta: BI Bank Indonesia. Beberapa tahun edisi. Laporan Tahunan. Jakarta: BI Arifin, Samsjul. 1998. Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Vol.1 No.3, Desember hal 1-16 Boediono. 2000. Ekonomi Mikro. Yogyakarta: BPFE UGM. Gujarati, Damodar. 2002. Ekonometrika Dasar. Jakarta: Erlangga Herlambang, Sugiarto dan Baskara Said Kelana. 2001. Ekonorni Makro: Teori Analisis dan Kebijakan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama I Swatini, Fidya. 2003. Analisis Nilai Tukar Rupiah terhadap Dollar AS dan Faktorfàktor yang Mempengaruhinya. Skripsi. Tidak Diterbitkan. Surakarta: Universitas Muhammadiyah Surakarta Kuncoro, Mudrajad. 1996. Manajemen Keuangan internasional. Edisi pertama. Yogyakarta: BPFE UGM Levi, Maurice D. 1996. Keuangan Internasional. Yogyakarta: Andi Offset Levi, Maurice D. 2001. Keuangan Internasional. Yogyakarta: Andi Offset Nastain. 2003. Analisis Pengaruh Pendapatan Nasional, Laju Inflasi, Tingkat

7. Koefisien determinasi (R2) menunjukkan bahwa variabel inflasi, JUB, SBI dan impor memberikan kontribusinya sebesar 49,0864 persen terhadap kurs, sedangkan sisanya 50,9136 persen dipengaruhi oleh variabel bebas lain di luar model yang digunakan. 8. Variabel ECT (Error Correction Term) signifikan pada tingkat α = 5% dengan nilai koefisien regresi sebesar 0,483191. Berdasarkan hasil-hasil kesimpulan di atas, penulis memberikan beberapa saran sebagai berikut: 1. Kebijakan untuk menjaga inflasi yang rendah dalam jangka panjang melalui pengetatan moneter (monetary tight policy) untuk mengurangi jumlah uang beredar dan ini akan menimbulkan tingkat inflasi yang menurun. Kebijakan menurunkan tingkat inflasi dapat dilakukan dengan melihat penyebab terjadinya inflasi tersebut apakah demand pull inflation atau cost push inflation. Pengetatan moneter ini juga akan meningkatkan suku bunga yang berakibatkan menguatnya kurs rupiah karena adanya peningkatan pemasukan aliran modal luar negeri. 2. Pemerintah agar melakukan usaha-usaha agar nilai tukar tetap terkendali. Upaya ini harus didukung dengan memperkuat cadangan devisa terletak dahulu melalui peningkatan ekspor dan meminimalkan impor. 3. Dalam penelitian seperti ini yang mungkin dilakukan untuk selanjutnya yaitu menambah variabel ekonomi lainnya dengan beberapa metode yang berbeda sehingga kita dapat membandingkan hasilnya. Selanjutnya diharapkan peneli-

Triyono - Analisis Perubahan Kurs Rupiah Suku Bunga dan Jumlah Uang Beredar terhadap Nilai Tukar Rupiah terhadap Dollar AS Periode 1985-2001. Skripsi. Tidak Diterbitkan.Surakarta: Universitas Muhammadiyah Surakarta Nopirin. 1997. Ekonomi Moneter. Buku I. Yogyakarta: BPFE UGM Purnomo, Didit dan Wahyudi. 2003. Hubungan Kausalitas Defisit Neraca Transaksi Berjalan dengan Kurs di Indonesia. Jurnal Ekonomi Pembangunan. Vol. 4. No. 1, Juni. hal 18-29 Surakarta: BPPE FE UMS Setyowati, Eni, dan Soepatini. 2004. Analisis Faktor-faktor yang Mempengaruhi Nilai Tukar Rupiah terhadap Dollar AS dengan Pendekatan Neraca Pembayaran (Pendekatan Engle Granger Error Correction Model). Jurnal Ekonomi Pembangunan Vol. 5. No.2, Desember hal 147-159, Surakarta: BPPE FE UMS.

167 Sukirno, Sadono. 2000. Makro Ekonorni Modern Perkembangan Pemikiran dari Klasik Hingga Keynesian Baru. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada. Susilo, Y. Sri; Sigit Triandaru dan A. Totok Budi Santoso. 2000. Bank dan Lembaga Keuangan Lain. Jakarta: Salemba Empat. Utomo, Yuni Prihadi. 2005. Penurunan Model Estimasi Jangka Pendek ECM. Surakarta (makalah tidak diterbitkan).

Jurnal Ekonomi Pembangunan Vol. 9, No. 2, Desember 2008, hal. 168 - 183

PRODUKTIVITAS LAHAN DAN BIAYA USAHATANI TANAMAN PANGAN DI KABUPATEN GUNUNG KIDUL
Suwarto Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta E mail: suwar_uns@yahoo.co.id

ABSTRACT This research aims to investigate land productivity and cost of production of food crops farm in Gunung Kidul. The result of this research found that using labor, fertilizer, and manure increases the land productivity. Similar to, farmers education increases the land productivity. Based on dummy variables, the household labor increases the land productivity. The self-owned land productivity is higher than the rented one belonging to HB, land productivity of forestation department loan is lower than the rented one belonging to HB. Prices of labor, phosphate fertilizer, and organic manure increases the production cost of food crops farm. Based on dummy variables, the production cost of food crops farm LKP rented land is higher than one from other land institution. On the contrary, the cost of production of food crops farmland forestation department loan is lower than one from other land institution. Keywords: land productivity, food crops, production cost PENDAHULUAN Berusahatani adalah suatu kegiatan untuk memperoleh produksi dan pendapatan di bidang pertanian. Pendapatan berupa selisih nilai produksi atas biaya-biaya yang secara eksplisist dikeluarkan petani dalam usahatani. Dalam hal ini salah satu cara yang dapat dilakukan petani dalam efisiensi usahatani yaitu dengan meminimumkan biaya untuk suatu tingkat produksi tertentu (Nicholson, 1998) Lahan sebagai faktor produksi penting yang ketersediaannya terbatas dan terdistribusi tidak merata menimbulkan kerjasama antara pemilik lahan luas dengan petani berlahan sempit atau petani tidak berlahan dalam suatu kelembagaan lahan (Fujimoto, 1996; Sangwan, 2000; Sharma, 2000; Hartono et al., 2001). Kelembagaan lahan yaitu aturan-aturan kerjasama yang disepakati dan dipatuhi oleh suatu masyarakat. Kebutuhan tenaga kerja pada usahatani fluktuatif selaras musim dan pertumbuhan tanaman. Para petani terbiasa hidup dengan saling membantu, kerjasama tenaga kerja tersebut melembaga menjadi kelembagaan tenaga kerja. Kelembagaan tenaga kerja di dalamnya terkandung kaidah-kaidah baik formal atau informal yang mengatur penggunaan tenaga kerja dalam suatu masyarakat. Kelembagaan lahan dan tenaga kerja dapat berpengaruh terhadap produktivitas lahan dan biaya usahatani. Debertin (1986) menjelaskan bahwa jika biaya sewa lahan harus dibayar di muka, maka akan mengurangi kemampuan penyewa membeli input

Suwarto - Produktivitas Lahan dan Biaya Usahatani produksi. Pengaruh modernisasi terhadap kelembagaan tenaga kerja, diungkapkan oleh Iwamoto et al. (Hartono, 2003) bahwa modernisasi berdampak melemahkan kelembagaan tenaga kerja non upahan yang berlandaskan sistem kegotong-royongan dan kebersamaan, seperti sambatan dan bawon. Kelembagaan tenaga kerja non upahan yang sebelum ini menolong petani kecil karena murah kini banyak digantikan dengan pengupahan yang komersial. Diduga produktivitas lahan dan biaya usahatani tanaman pangan tumpang sari para petani dipengaruhi oleh penggunaan input dan kelembagaan. Selaras dengan permasalahan yang dikemukakan diatas, penelitian ini bertujuan mengetahui produktivitas lahan dan biaya usahatani tanaman pangan tumpang sari di Kabupaten Gunung Kidul. Landasan teori dalam penelitian ini sebagai berikut: 1. Produktivitas Usahatani Produktivitas adalah rasio dari total output dengan input yang dipergunakan dalam produksi (Heady, 2002). Selanjutnya Heady (2002) menjelaskan bahwa berkenaan dengan lahan, produktivitas lahan berkesesuaian dengan kapasitas lahan untuk menyerap input produksi dan menghasilkan output dalam produksi pertanian. Konsep dasar yang dipergunakan untuk menganalisis produktivitas adalah fungsi produksi. Dewasa ini telah banyak fungsi produksi yang dikembangkan dan dipergunakan. Soekartawi (1994) menjelaskan bahwa fungsi-fungsi yang sering dipergunakan yaitu fungsi linier, fungsi kuadratik, fungsi produksi Cobb-Douglas, fungsi produksi

169

Constant Elasticity of Substitution (CES), fungsi transcendental, dan fungsi translog. Dari fungsi produksi yang telah dikembangkan banyak ahli di antaranya Sri Widodo (1986) dan Soekartawi (1994) menjelaskan bahwa fungsi produksi Cobb Douglas merupakan fungsi produksi yang banyak dipergunakan. Pada awalnya diperkenalkan tahun 1928 fungsi tersebut menurut Debertin (1986) hanya meliputi dua input variabel. Y = AX1αX21-α Keterangan: Y = produksi, X1 = tenaga kerja, X2 = modal. Dalam perkembangannya, fungsi produksi Cobb-Douglas dapat meliputi atas dua atau lebih variabel bebas, disebut dengan fungsi produksi tipe Cobb-Douglas yang dapat dirumuskan sebagai berikut: Y = aX1b1 X2b2, ...Xibi, ... Xnbn Keterangan: Y = variabel dependen (output), X = variabel independen (input), a dan b = koefisien yang diduga. Untuk memudahkan proses perhitungan, persamaan dua (2) diubah ke dalam bentuk linier yaitu dengan melogaritmakan persamaan tersebut dalam bentuk double natural logaritma (ln) menjadi sebagai berikut: Ln Y = ln a + b1 ln X1 + b2 ln X2 + ... + bn ln Xn …….(3) …….(2) …….(1)

170

Jurnal Ekonomi Pembangunan, Vol. 9, No. 2, Desember 2008 2. Biaya Produksi Salah satu cara yang dapat dilakukan petani dalam efisiensi usahatani yaitu dengan meminimumkan biaya untuk suatu tingkat produksi tertentu. Diasumsikan bahwa dalam produksi dipergunakan faktor produksi modal (K), dan tenaga kerja (L), maka minimasi biaya dapat dirumuskan sebagai: Minimasi C = wL + rK Subject to, F(K,L) = Y0 …….(5) …….(6)

Secara umum fungsi produksi CobbDouglas memiliki kelebihan yaitu: (1) penyelesaiannya relatif mudah, karena dengan mudah dapat ditransfer ke bentuk linier, (2) hasil pendugaan garis melalui fungsi CobbDouglas akan menghasilkan koefisien regresi yang berguna sebagai penunjuk besarnya elastisitas, (3) penjumlahan dari elastisitas tersebut menunjukkan besarnya return to scale. Selanjutnya, merujuk pada Jatileksono (1993), untuk menganalisis hasil penelitian, output tanaman pangan (Y) yang heterogen seperti padi, jagung, kedele, dan kacang tanah, maka Y diukur dalam nilai produksi. Nilai produksi adalah perkalian output (Y) dengan harga output (Py). Perbedaan nilai output per petani dalam hal ini menggambarkan perbedaan kualitas output pada setiap petani. Untuk mengetahui faktor-faktor yang berpengaruh terhadap produktivitas lahan tanaman pangan, dilakukan dengan analisis fungsi produksi. Produksi tanaman pangan sebagai output (Y) dipengaruhi oleh input faktor produksi yaitu: lahan (A), tenaga kerja (L), modal lancar (C), lingkungan fisik usahatani (E), teknologi (T), dan karakteristik petani (S). Dalam jangka pendek teknologi dianggap sama, dengan demikian fungsi produksi dapat dirumuskan sebagai: Y= F(A, L, C, E, S) ……. (4)

Dalam hal ini w = tingkat upah tenaga kerja, r = bunga modal, Y0 = tingkat produksi yang diinginkan. Menggunakan fungsi produksi tipe Cobb-Douglas, fungsi produksi dapat dirumuskan: F(K, L) = AKαLβ …….(7)

Merujuk kepada Pindyck dan Rubinfeld (2001), upaya minimasi biaya untuk memproduksi sebesar Y0, dengan modal (K), dan tenaga kerja (L) dapat dinotasikan dengan Lagrangian sebagai berikut: Ф = wL + rK – λ(AKαLβ - Y0) .......(8)

Fungsi ini dianggap memenuhi asumsi baku untuk fungsi produksi, dan dalam satu kali proses produksi tanaman pangan, diasumsikan bahwa A, E, T, dan S adalah variabel-variabel eksogen.

Derivasi terhadap L, K dan λ, dan menyamakan turunannya dengan nol, maka diperoleh: ∂Ф/∂L = w – λ(AKαLβ-1) = 0 ∂Ф/∂K = r – λ(AKα-1L β) = 0 ∂Ф/∂λ = AKαLβ – Y0 = 0 .......(9) .......(10) .......(11)

Suwarto - Produktivitas Lahan dan Biaya Usahatani Dari persamaan 9 diperoleh: λ = w/AKαLβ-1 .......(12)

171

Jika persamaan 12 disubstitusikan ke persamaan 10 maka diperoleh: rβAKαLβ-1 = wαAKα-1L atau L = βrK/αw .......(13) .......(14)

Besarnya biaya total untuk output Y selanjutnya dapat diperoleh dengan mensubstitusikan persamaan 17 untuk K dan 18 untuk L pada persamaan 5, yaitu C = wL + rK. Dengan operasi aljabar secara sederhana diperoleh: C = w β/(α+ β) r α /(α+ β) [(α/β) β / (α+ β) + (α/β) -α /(α+ β) ](Y/A)1/(α+ β) …….(19)

Selanjutnya menggunakan persamaan 14 untuk mengeliminasi L dari persamaan 11 diperoleh: AKα ββ r β Kβ /α β w β = Y0 .......(15)

Selanjutnya jika α + β = 1, kondisi constant returns to scale, maka persamaan 19 dapat disederhanakan sebagai berikut: C = w βr α [(α/β) β +( α/β) -α ](1/A)Y …….(20) Fungsi biaya tersebut menunjukkan bahwa total biaya akan meningkat jika total produksi ditingkatkan hingga suatu tingkat tertentu, atau akan berubah jika tingkat upah dan bunga modal berubah. Sejalan dengan teori tersebut, Silberberg (1978) merumuskan fungsi biaya sebagai berikut: C = f(Y, pi, ..., pn) Keterangan: C = biaya produksi, Y = tingkat produksi, pi, ..., pn = harga input X1, ..., Xn. Dalam bentuk fungsi produksi CobbDouglas, maka fungsi biaya tersebut dapat diformulasikan sebagai berikut: C = A Y β П (pi) αi .......(22) …….(21)

Persamaan 15 dapat disederhanakan menjadi: Kα+ β = (αw/ βr) β Y0/A .......(16)

atau K = [(αw/ βr) β/(α+ β) ](Y0/A)1/(α+ β) .... (17) Persamaan 17 berarti modal minimal yang dapat dipergunakan untuk memproduksi sejumlah Y0. Selanjutnya minimasi biaya tenaga kerja dapat diperoleh dengan mensubstitusikan persamaan 17 ke dalam persamaan 14 yaitu sebagai berikut: L = [(βr/αw) α / (α+ β) ](Y0/A)1/(α+ β) .......(18)

Dalam hal ini jika tingkat upah (w) secara relatif meningkat terhadap bunga modal (r) maka petani akan memilih lebih padat modal, dengan mengurangi penggunaan tenaga kerja, dan sebaliknya. Jika teknologi budidaya meningkat, bertambah baik, maka penggunaan biaya modal dan tenaga kerja per satu satuan output menurun.

Dalam bentuk logaritma natural, persamaan 22 dapat disajikan sebagai berikut:

172
m

Jurnal Ekonomi Pembangunan, Vol. 9, No. 2, Desember 2008

Ln C = Ln A + β Ln Y +

∑ α lnp
i =1

i

….(23)

Keterangan: C = A = Y = α i, βi biaya produksi, intersep, produksi, = koefisien regresi.

(upah dibayar setelah panen, yaitu pada waktu bodo atau Idul Fitri, rasul yaitu acara selamatan bersih desa, dan pada waktu 17an), arisan atau RTan, sambatan, dan yang hanya menggunakan tenaga sendiri. Di samping itu, menurut pekerjaan luar usahatani, petani dapat dibedakan atas pedagang dan penyedia jasa, tukang dan pengrajin, buruh tani, dan tani saja yaitu tidak memiliki pekerjaan luar usahatani. Metode Analisis data Untuk menguji pengaruh kelembagaan lahan, kelembagaan tenaga kerja, dan faktor-faktor lainnya terhadap produktivitas lahan tanaman pangan disusun model 1 regresi berganda sebagai berikut: ln Q/A = ln α + β1 lnX1 + β2 ln X2 +β3 ln X3 + β4 ln X4 + β5 lnX5 + β6 ln X6 + β7 ln X7 + δ1 D1 + δ2 D2 + δ3 D3 + δ4 D4 + δ5 D5 +δ6 D6 + δ7 D7 + δ8 D8 + δ9 D9 + δ10 D10 + μ Keterangan: Q/A = produktivitas lahan (ribu rupiah/ha), α = intersep, βi = koefisien regresi (i=1 s/d 7), δi = koefisien variabel dummy (i=1 s/d 10), X1 = luas lahan tanaman pangan (ha), X2 = tenaga kerja (HOK/ha), X3 = pupuk nitrogen(kg/ha), X4 = pupuk phosfat (kg/ha), X5 = pupuk organik (kg/ha), X6 = pendidikan Kepala Keluarga (tahun), X7 = umur Kepala Keluarga (tahun), Dummy kelembagaan lahan, D1 = 1 jika pemilik penggarap, ….(1)

METODE PENELITIAN Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian dilakukan pada dua dusun di Kabupaten Gunung Kidul wilayah tenggara, yaitu di Dusun Widoro Wuni, Desa Balong, Kecamatan Girisubo dan di Dusun Candisari, Desa Hargosari, Kecamatan Tanjungsari. Semua petani di kedua dusun yaitu 88 KK di Dusun Widoro Wuni dan 137 KK di Dusun Candisari dijadikan responden. Dusun Widoro Wuni relatif jauh dari pembinaan dan relatif jauh dari pasar, kurang lebih 37 km tenggara dari ibukota kabupaten. Dusun Candisari kurang lebih 12 km, sebelah tenggara dari ibu kota kabupaten relatif dekat dengan pusat pembinan, mudah mengakses pasar. Pengumpulan data primer penelitian ini dilakukan dari bulan Agustus 2005 hingga Desember 2005. Responden menurut kelembagaan lahan meliputi petani pemilik penggarap, penyewa lahan lungguh-kas desa-pengarem-arem-dan milik perseorangan (LKP), penyewa lahan Hamengku Buwono (HB), dan peminjam lahan kehutanan (berusahatani di antara tanaman jati muda milik kehutanan). Menurut kelembagaan tenaga kerja pada usahatani, petani dapat dikelompokkan atas petani pengguna tenaga kerja upahan, royongan

Suwarto - Produktivitas Lahan dan Biaya Usahatani D1 D2 D2 D3 D3 = = = = = 0 jika lainnya, 1 jika sewa lahan LKP, 0 jika lainnya, 1 jika pinjam lahan Kehutanan, 0 jika lainnya, Keterangan:

173

Dummy kelembagaan tenaga kerja, D4 = 1 jika tenaga upahan, D4 = 0 jika lainnya, D5 = 1 jika tenaga kerja royongan, D5 = 0 jika lainnya, D6 = 1 jika arisan atau RTan, D6 = 0 jika lainnya, D7 = 1 jika tenaga kerja sambatan, D7 = 0 jika lainnya, Dummy pekerjaan luar usahatani, D8 = 1 jika pedagang dan jasa, D8 = 0 jika lainnya, D9 = 1 jika tukang dan perajin, D9 = 0 jika lainnya, Dummy lingkungan usahatani, D10 = 1 jika tempat tinggal dekat dengan kota, D10 = 0 jika lainnya, μ = error term Untuk menguji pengaruh kelembagaan lahan, kelembagaan tenaga kerja, dan faktorfaktor lainnya terhadap biaya produksi usahatani disusun model 2 regresi berganda sebagai berikut: ln CTP = ln α + β1 lnX1 + β2 ln X2 + β3 ln X3 + β4 ln X4 + β5 lnX5 + β6 ln X6 + β7 ln X7 + β8 lnX8 + β9 ln X9 + δ1 D1 + δ2 D2 + δ3 D3 + δ4 D4 + δ5 D5 + δ6 D6 + δ7 D7 + δ8 D8 + δ9 D9 + δ10 D10 + μ .......(2)

CTP = biaya produksi usahatani tanaman pangan (ribu rupiah/ha), α = intersep, βi = koefisien regresi (i=1 s/d 9), δi = koefisien variabel dummy (i = 1 s/d 10), X1 = upah tenaga kerja (ribu rupiah/HOK), X2 = harga pupuk nitrogen (ribu rupiah/kg) X3 = harga pupuk phosfat(ribu rupiah/ kg), X4 = harga pupuk organik(ribu rupiah/ kg), X5 = jumlah tenaga kerja keluarga (orang), X6 = luas lahan tanaman pangan (ha), X7 = produktivitas lahan (ribu rupiah/ha/ tahun), X8 = pendidikan Kepala Keluarga (tahun), X9 = umur Kepala Keluarga (tahun), Dummy kelembagaan lahan, D1 = 1 jika pemilik penggarap, D1 = 0 jika lainnya, D2 = 1 jika sewa lahan LKP, D2 = 0 jika lainnya, D3 = 1 jika pinjam lahan Kehutanan, D3 = 0 jika lainnya, Dummy kelembagaan tenaga kerja pada usahatani, D4 = 1 jika tenaga kerja upahan, D4 = 0 jika lainnya, D5 = 1 jika tenaga kerja royongan, D5 = 0 jika lainnya, D6 = 1 jika arisan atau RTan, D6 = 0 jika lainnya, D7 = 1 jika tenaga kerja sambatan, D7 = 0 jika lainnya,

Dummy pekerjaan luar usahatani, D8 = 1 jika pedagang dan jasa, D8 = 0 jika lainnya, D9 = 1 jika tukang dan perajin, D9 = 0 jika lainnya,

174

Jurnal Ekonomi Pembangunan, Vol. 9, No. 2, Desember 2008 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Produktivitas Lahan Tanaman Pangan Sebagaimana data pada Tabel 1, produktivitas lahan tanaman pangan para petani yang dekat kota, sesuai kelembagaan lahan ratarata Rp3.742.000,- per ha per tahun oleh para petani penyewa LKP relatif lebih besar dari produktivitas lahan tanaman pangan bagi para petani dalam kelembagaan lahan lainnya. Demikian pula produktivitas lahan tanaman pangan petani penyewa LKP yang jauh dari kota Rp4.523.000,- per ha per tahun relatif lebih besar dari produktivitas lahan tanaman pangan bagi para petani dalam kelembagaan lahan lainnya. Produktivitas lahan tanaman pangan para petani yang dekat kota, sesuai kelembagaan

Dummy lingkungan usahatani, D10 = 1 jika tempat tinggal dekat dengan
pasar atau kota,

D10 = 0 jika lainnya, μ = error term
Pengujian Model Regresi Pengujian model regresi berganda atas data cross section yang dipergunakan untuk mengetahui apakah tidak terdapat pelanggaran terhadap asumsi klasik yaitu adanya multikolinearitas dan heteroskedastisitas. Jika terdapat pelanggaran terhadap kaidah tersebut maka harus dilakukan pengobatan. Selanjutnya pengujian kesesuaian model dilakukan meliputi adjusted R2, uji F dan uji t (Greene, 2003 dan Gujarati, 2003).

Tabel 1. Rata-rata Produktivitas Lahan Berdasarkan Kelembagaan Lahan dan Tenaga Kerja di Kabupaten Gunung Kidul Tahun 2005 dalam Ribuan Rupiah per ha
Kelembagaan Lahan Kel. Naker. Milik Sewa LKP Sewa LHB Pnj. Lhut Rata-rata 3.688 3.343 3.352 3.336 4.071 3.525 3.239 2.648 3.384 2.714 3.669 3.330 3.449 Relatif dekat dengan kota atau pasar, mudah mengakses perkerjaan luar usahatani (1) Upahan 3.760 3.540 0 2.390 Royongan 3.510 3.654 3.090 1.652 Arisan/RTan 3.497 2.738 2.630 1.648 Sambatan 3.336 0 0 0 Sendiri 4.277 4.346 2.902 2.284 Rata-rata (1) 3.189 3.742 2.332 1.742 Relatif jauh dari kota atau pasar, sulit mengakses perkerjaan luar usahatani (2) Upahan 3.257 0 2.994 0 Royongan 2.621 0 2.731 0 Arisan/RTan 3.466 0 3.076 0 Sambatan 2.714 0 0 0 Sendiri 3.768 4.523 3.335 0 Rata-rata (2) 3.357 4.523 3.158 0 3.251 3.829 2.927 1.742 Rata2 (1&2)
Sumber: Analisis Data Primer Keterangan: LKP= lahan lungguh, Kas Desa, pengarem-arem, dan milik perseorangan, LHB = lahan milik Hamengku Buwono, Pnj. Lhut = pinjam lahan milik Kehutanan

Suwarto - Produktivitas Lahan dan Biaya Usahatani tenaga kerja rata-rata Rp4.071.000,- per ha per tahun oleh para petani yang mengerjakan sendiri usahataninya, relatif lebih besar dari produktivitas lahan tanaman pangan bagi para petani dalam kelembagaan tenaga kerja lainnya. Demikian pula produktivitas lahan tanaman pangan petani yang mengerjakan sendiri usahataninya, yang jauh dari kota, rata-rata Rp3.669.000,- per ha per tahun relatif lebih besar dari produktivitas lahan tanaman pangan bagi para petani dalam kelembagaan tenaga kerja lainnya. Model yang disusun untuk menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi produktivitas lahan (model 1) mendapatkan F-tabel nyata pada taraf kesalahan 5 persen, dan tidak terdapat multicollinearity. Nilai korelasi antarvariabel bebas terbesar 0,504 yaitu antara pendidikan dan umur kepala keluarga. Adjusted R2 sebesar 0,45 yang berarti bahwa 45 persen variasi produktivitas lahan dapat dijelaskan oleh variabel-variabel bebas pada model yang disusun. Namun model mengindikasikan adanya heteroscedasticity, hal tersebut ditunjukkan oleh hasil test heteroscedasticity pada model varlin, stdlin, dan mult nyata. Untuk mengatasi pelanggaran terhadap kaidah heteroscedasticity tersebut dilakukan dengan menggunakan regresi model heteroscedasticity. Nilai Likelihood Ratio (LR) nyata pada taraf kesalahan 5persen, dan ketiga model heteroscedasticity (varlin, stdlin, dan mult) dapat memperbaiki model OLS. Model heteroscedasticity dengan mult mendapatkan 13 koefisien regresi nyata dipergunakan untuk menjelaskan model regresi. Elastisitas produktivitas lahan atas luas lahan tanaman pangan -0,146 berarti peningkatan luas penguasaan lahan tanaman pangan akan menurunkan produktivitas lahan. Hal

175

tersebut menunjukkan pentingnya intensifikasi pemeliharaan tanaman pada lahan yang sercara umum tidak subur dan relatif terpencar tersebut. Elastisitas produktivitas lahan atas penggunaan tenaga kerja 0,077, berarti peningkatan penggunaan tenaga kerja dapat meningkatkan produktivitas lahan. Dewasa ini para petani rata-rata mengalokasikan 486 HOK/ha/tahun, dengan 300 HOK/ha/tahun tenaga kerja keluarga untuk usahataninya. Penggunaan tenaga kerja yang tinggi dimaksudkan petani sebagai upaya intensifikasi. Sejalan dengan penggunaan tenaga kerja, penggunaan pupuk nitrogen, pupuk phosfat dan pupuk organik juga meningkatkan produktivitas lahan. Secara berturut-turut elastisitas produktivitas lahan atas ketiga variabel tersebut yaitu 0,041; 0,011; dan 0,093, dan dosis pupuk yang digunakan para petani rata-rata berturut-turut 170kg/ha, 8kg/ha, dan 2.802 kg/ha. Dalam hal ini peningkatan penggunaan pupuk organik, yang umumnya adalah milik petani sendiri penting untuk meningkatkan produktivitas lahan bagi daerah yang berlahan kering dan kurang subur tersebut Dari karakteristik petani yang diteliti, pada tingkat kesalahan 5 persen pendidikan petani berpengaruh nyata, meningkatkan produktivitas lahan. Hasil penelitian ini sejalan dengan pendapat Mugniesyah dan Mizuno (2003) bahwa tingkat pendidikan penting dalam pengelolaan input produksi. Namun hasil penelitian ini menunjukkan bahwa umur petani tidak berpengaruh nyata terhadap produktivitas lahan. Rata-rata para petani berumur 51 tahun, para petani telah disosialisaikan pada usahatani sejak kecil, sehingga dengan kelembagaan lahan, tenaga kerja, dan teknologi budidaya yang dipergunakan para petani dewasa ini, bertambahnya

176

Jurnal Ekonomi Pembangunan, Vol. 9, No. 2, Desember 2008 pinjaman lahan Kehutanan (berusahatani di antara pohon jati muda), hal tersebut dapat disebabkan perbedaan kesesuaian persyaratan tumbuh. Persaingan antara tanaman pangan dengan tanaman jati akan semakin besar dengan semakin rapat dan bertambahnya umur tanaman jati dan akan menurunkan produktivitas tanaman pangan. Produktivitas lahan penyewa lahan LKP pada tingkat kesalahan 5 persen tidak berbeda dengan produktivitas lahan para petani lainnya. Hasil analisis tersebut menyiratkan bahwa perbedaan produktivitas lahan secara relatif (Tabel 2) antara petani penyewa LKP dengan produkti-

umur petani tidak meningkatkan produktivitas lahan. Menurut kelembagaan lahan diketahui bahwa produktivitas lahan pemilik-penggarap pada tingkat kesalahan 5 persen lebih tinggi dari produktivitas lahan pada kelembagaan lahan lainnya. Hal tersebut dapat mengindikasikan bahwa teknis budidaya para petani pemilik penggarap lebih baik. Sebaliknya produktivitas lahan petani peminjam lahan Kehutanan lebih rendah dari produktivitas lahan petani pada kelembagaan lahan lainnya. Lebih rendahnya produktivitas lahan

Tabel 2. Hasil Analisis Faktor-faktor yang Mempengaruhi Produktivitas Lahan Tanaman Pangan (Ln Ribu Rp/ha) di Kabupaten Gunung Kidul Tahun 2005
Model Variabel Ln lahan tan. pangan (ha) Ln tenaga kerja (HOK/ha) Ln pupuk nitrogen (kg/ha) Ln pupuk phosfat (kg/ha) Ln pupuk organik (kg/ha) Ln pendidikan KK (tahun) Ln umur KK (tahun) Dummy Kel.lahan - Pemilik penggarap - Sewa LKP - Pinjam lahan Kehutanan Dummy kel. Tenaga kerja - Upahan - Royongan - Arisan atau RTan - Sambatan Dummy pekerjaan luar UT - Pedagang dan jasa - Tukang & pengrajin Dummy lingkungan UT - Relatif dekat kota Konstanta Adjusted R2
Sumber: Analisis Data Primer Keterangan: LKP = lahan lungguh, Kas Desa, pengarem-arem, dan milik perseorangan, RT= rumah tangga, UT= usahatani, *)= nyata pada α 5%.

OLS Koef. Reg. -0,136* 0,109* 0,026 0,007 0,113* 0,014 0,002 0,119* 0,174 -0,393* -0,071 -0,150* -0,100* -0,155* 0,020 -0,018 0,092* 6,244* 0,448 F-hitung t-hit. -4,473 2,695 1,694 1,820 2,279 1,581 0,036 2,879 0,935 -4,152 -1,409 -3,189 -2,300 -2,252 0,531 -0,563 2,754 13,23 11,709*

Heteros. (mult) Koef. Reg. -0,146* 0,077* 0,041* 0,011* 0,093* 0,017* 0,057 0,106* 0,057 -0,353* -0,128* -0,152* -0,153* -0,170* 0,063 -0,033 0,086* 6,316* 0,448 LR=84,44* t-hit. -5,733 2,365 2,352 4,309 2,286 2,115 1,054 3,194 1,142 -5,844 -3,009 -4,082 -4,019 -2,473 1,888 1,172 2,811 16,17

Suwarto - Produktivitas Lahan dan Biaya Usahatani vitas lahan para petani lainnya ternyata tidak nyata. Hal tersebut dapat disebabkan oleh variasi produktivitas lahan LKP yang besar. Menurut kelembagaan tenaga kerja, diketahui bahwa produktivitas lahan yang menggunakan tenaga kerja upahan, royongan, arisan atau RTan, dan sambatan sesuai data pada Tabel 1 lebih rendah dari produktivitas lahan pada kelembagaan tenaga kerja lainnya. Hal tersebut menunjukkan bahwa penggunaan tenaga kerja keluarga lebih baik dari penggunaan tenaga kerja luar keluarga. Di samping itu, para petani yang tidak menggunakan tenaga kerja luar keluarga rata-rata berlahan sempit, para petani tersebut dapat memelihara tanaman secara lebih intensif. Dilihat dari pekerjaan luar usahatani, petani sebagai pedagang dan penyedia jasa, tukang dan perajin mendapatkan produktivitas lahan tidak berbeda dengan produktivitas lahan petani lainnya. Hal tersebut menyiratkan bahwa kesempatan bekerja pada luar usahatani yang sekarang ini belum menghambat aktivitas para petani berusahatani, karena rata-rata luas penguasaan lahan pangan hanya 0,42 ha. Menurut dummy lokasi, diketahui para petani yang dekat dengan kota (mudah mengakses pasar atau pekerjaan luar usahatani) mendapatkan produktivitas lahan lebih besar dari produktivitas lahan para petani yang jauh dari kota atau pasar. Rata-rata produktivitas lahan para petani dekat kota Rp3.525.000,- per ha per tahun dan produktivitas lahan para petani yang jauh dari kota atau pasar sebesar Rp3.330.000,- per ha per tahun. Hal tersebut di antaranya dapat berkenaan dengan kelembagaan lahan dan penggunaan input produksi. Para petani dekat kota 117 KK atau 85 persen dari seluruh petani tersebut adalah petani pemilik pengga-

177

rap yang dalam hal ini lebih banyak dari para petani pemilik penggarap yang jauh dari kota yaitu 78 persen. Para petani relatif lebih dekat dengan kota (pusat pembinaan), menggunakan biaya produksi yang lebih besar yaitu Rp1.036.000,- per ha per tahun lebih tinggi dari penggunaan biaya produksi para petani yang jauh dari kota yaitu Rp950.000,per ha per tahun. Biaya tersebut di antaranya untuk pembelian pupuk nitrogen dan pupuk phosfat. Rata-rata biaya pembelian pupuk tersebut per ha per tahun sebesar Rp210.362,- untuk para petani dekat kota dan Rp178.293,- untuk para petani yang jauh dari kota. Biaya Produksi Usahatani Tanaman Pangan Biaya produksi usahatani sebagai faktor penting yang berpengaruh terhadap pendapatan usahatani. Biaya produksi usahatani tanaman pangan para petani sesuai kelembagaan lahan rata-rata Rp1.611.000,- dan Rp1.422.000,- per ha per tahun oleh para petani penyewa lahan LKP secara berturutturut yang dekat dan yang jauh dari kota. Secara relatif biaya produksi usahatani tanaman pangan per ha per tahun tersebut lebih besar dari biaya tersebut bagi para petani dalam kelembagaan lahan lainnya pada masing-masing wilayah tempat tinggal petani. Biaya produksi usahatani lahan tanaman pangan para petani yang dekat kota, sesuai kelembagaan tenaga kerja rata-rata Rp1.272.000,- per ha per tahun oleh para petani yang menggunakan tenaga kerja upahan dalam usahataninya, relatif lebih besar dari biaya produksi usahatani tanaman pangan bagi para petani dalam kelembagaan

178

Jurnal Ekonomi Pembangunan, Vol. 9, No. 2, Desember 2008 0,534 yaitu antara tingkat upah tenaga kerja luar keluarga dengan luas lahan tanaman pangan. Variabel-variabel bebas pada model yang disusun mampu menjelaskan 48persen dari variasi total biaya produksi tanaman pangan sebagaimana nilai adjusted R2. Namun model mengindikasikan adanya heteroscedasticity, hal tersebut ditunjukkan oleh hasil test heteroscedasticity nyata. Untuk mengatasi pelanggaran terhadap kaidah homoscedaticity tersebut dilakukan perbaikan dengan menggunakan regresi model heteroscedasticity. Nilai Likelihood Ratio (LR) nyata pada taraf kesalahan 5persen, dan model heteroscedasticity dengan varlin, stdlin, mult, dan depvar dapat memperbaiki model OLS. Model heteroscedasticity (varlin) mendapatkan 8 koefisien regresi nyata (lebih banyak) pada taraf

tenaga kerja lainnya. Biaya produksi usahatani lahan tanaman pangan petani yang menggunakan tenaga kerja royongan, yang jauh dari kota, rata-rata Rp905.000,- per ha per tahun relatif lebih besar dari biaya produksi usahatani tanaman pangan bagi para petani dalam kelembagaan tenaga kerja lainnya. Pengaruh kelembagaan lahan, tenaga kerja dan faktor-faktor lainnya terhadap biaya produksi tanaman pangan disajikan data hasil analisis fungsi biaya pada Tabel 3. Model yang disusun untuk menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi variasi biaya produksi tanaman pangan (model 2) mendapatkan F-Tabel nyata pada taraf kesalahan 5 persen, dan tidak terdapat multicollinearity. Nilai korelasi antarvariabel bebas terbesar

Tabel 3. Rata-rata Biaya Produksi Usahatani Tanaman Pangan per ha Berdasarkan Kelembagaan Lahan dan Tenaga Kerja di Kabupaten Gunung Kidul Tahun 2005 dalam Ribuan Rupiah
Kelembagaan Lahan Kel. Naker. Milik Sewa LKP Sewa LHB Pnj. LHut Rata-rata Relatif dekat dengan kota atau pasar, mudah mengakses perkerjaan luar usahatani (1) Upahan 1.215 1.868 0 1.334 1.272 Royongan 1.051 1.425 866 566 1.041 Arisan/RTan 995 1.419 814 537 977 Sambatan 749 0 0 0 749 Sendiri 786 1.628 718 418 877 Rata-rata (1) 1.018 1.611 794 684 1.029 Relatif jauh dari kota atau pasar, sulit mengakses perkerjaan luar usahatani (2) 895 0 575 0 873 Upahan Royongan 900 0 920 0 905 Arisan/RTan 801 0 881 0 818 Sambatan 701 0 0 0 701 Sendiri 832 1.422 708 0 814 Rata-rata (2) 836 1.422 774 0 830 950 1.590 780 684 951 Rata2 (1&2)
Sumber: Analisis Data Primer Keterangan: LKP= lahan lungguh, Kas Desa, pengarem-arem, dan milik perseorangan, LHB = lahan milik Hamengku Buwono, Pnj. Lhut = pinjam lahan milik Kehutanan

Suwarto - Produktivitas Lahan dan Biaya Usahatani

179

Tabel 4. Hasil Analisis Fungsi Biaya Produksi Usahatani Tanaman Pangan (Ln Ribu Rp/ha) di Kabupaten Gunung Kidul Tahun 2005
Model Variabel Ln upah naker. (ribuRp/HOK) Ln harga pupuk N (ribuRp/kg) Ln harga pupuk P (ribuRp/kg) Ln harga pupuk org (ribuRp/kg) Ln jum. kel. kerja (orang) Ln luas lahan pangan (m2) Ln produktvitas lhn (ribuRp/ha) Ln pendidikan KK(tahun) Ln Umur KK (tahun) Dummy Kel.lahan - Pemilik penggarap - Sewa LKP - Pinjam lahan Kehutanan Dummy kel. Tenaga kerja - Upahan - Royongan - Arisan atau RTan - Sambatan Dummy pekerjaan luar UT - Pedagang dan jasa - Tukang & pengrajin Dummy lingkungan UT - Relatif dekat ko ta Konstanta adjusted R2
Sumber: Analisis Data Primer Keterangan: LKP = lahan lungguh, Kas Desa, pengarem-arem, dan milik perseorangan, RT= rumah tangga, UT= usahatani, *)= nyata pada α= 5%.

OLS Koef. Reg. 0,038 0,114 0,018* 0,400* -0,012 -0,028 0,305* 0,021 0,112 0,011 0,528* -0,150 0,171* 0,102 0,017 0,002 0,050 0,025 0,008 5,168* 0,484 F-hitung t-hit. 1,793 0,501 2,943 5,347 -0,253 -0,706 3,676 1,959 1,471 0,204 5,425 -1,207 2,209 1,353 0,242 0,020 1,091 0,612 0,195 5,549 12,06*

Heteros. (Varlin) Koef. Reg. 0,040* 0,010 0,021* 0,460* -0,021 -0,046 0,309* 0,015 0,127* 0,018 0,513* -0,244* 0,153* 0,093 -0,006 -0,017 0,048 0,009 0,006 5,435* 0,484 LR=101* t-hit. 2,095 0,061 4,161 10,37 -0,508 -1,359 4,674 1,770 2,112 0,461 6,827 -2,345 2,215 1,439 -0,100 -0,200 1,237 0,277 0,190 7,323

kesalahan 5 persen, selanjutnya dipergunakan untuk menjelaskan model regresi. Elastisitas biaya produksi usahatani tanaman pangan per ha atas tingkat upah tenaga kerja positif nyata yaitu 0,040. Berarti jika tingkat upah tenaga kerja per ha naik 10 persen maka biaya produksi usahatani per ha akan naik 0,4 persen. Pada umumnya para petani menggunakan tenaga kerja luar keluarga di samping memperhatikan tingkat upah, juga waktu pembayarannya. Seperti

para petani yang menggunakan tenaga kerja royongan, di samping tingkat upah sama dengan upah tunai, juga membayar upahnya setelah panen, namun penggunaannya harus melalui kelompok kerja. Elastisitas biaya produksi usahatani tanaman pangan per ha atas harga pupuk phosfat positif yaitu 0,021. Berarti jika harga pupuk phosfat naik 10 persen maka biaya usahatani per ha akan naik 0,21 persen. Harga pupuk phosfat Rp1.600 per kg, harga pupuk tersebut

180

Jurnal Ekonomi Pembangunan, Vol. 9, No. 2, Desember 2008 sebagai faktor produksi yang tidak dibayar, pada sisi lain dalam kelembagaan tenaga kerja (arisan atau RTan) terdapat pertukaran faktor produksi tersebut. Para petani yang berlahan sempitpun menggunakan tenaga kerja luar keluarga. Demikian pula, elastisitas biaya produksi terhadap luas lahan tanaman pangan negatif, namun tidak nyata. Rata-rata luas penguasaan lahan tanaman pangan para petani rata-rata 0,42 ha, dalam hal ini jika luas lahan tanaman pangan ditingkatkan diduga intensitas pemeliharaan tanaman oleh para petani belum menurun. Elastisitas biaya produksi tanaman pangan per ha terhadap produktivitas lahan positif yaitu 0,309. Berarti jika produktivitas lahan menghendaki meningkat 10persen maka pembudidayaan tanaman harus lebih intensif, dengan biaya produksi per ha meningkat 3,09 persen. Dalam hal ini para petani sebenarnya telah berupaya membudidayakan tanaman dengan baik, walaupun diutarakan banyak petani mengenai ketidakberdayaan petani dalam menanggulangi serangan hama dan penyakit, keterbatasan modal, dan pengaruh faktor alam seperti curah hujan. Elastisitas biaya produksi usahatani tanaman pangan terhadap tingkat pendidikan positif tetapi tidak nyata pada tingkat kesalahan 5 persen, dan nyata pada tingkat kesalahan 5 persen pada model perbaikan heteroscedasticity (depvar). Dalam hal ini terdapat indikasi bahwa meningkatnya pendidikan petani meningkatkan biaya produksi usahatani tanaman pangan, seperti meningkatnya penggunaan tenaga kerja luar keluarga. Di samping itu, dewasa ini sebagian petani yang berpendidikan SLTA banyak yang berusaha mendapatkan pekerjaan non usahatani. Demikian pula elastisitas biaya

dinilai mahal. Tidak banyak petani yang menggunakan pupuk phosfat, dalam hal ini dosis pupuk phosfat para petani rata-rata baru 8 kg/ha/ tahun. Berbeda dengan dosis pemupukan nitrogen (urea) yang rata-rata 170 kg/ha/ tahun. Penggunaan pupuk yang tidak berimbang tersebut perlu diteliti, jangan sampai karena pengaruh penggunaan pupuk phosfat yang tidak segera tampak sebagaimana pengaruh pupuk urea sehingga pupuk phosfat banyak ditinggalkan oleh petani. Harga pupuk nitrogen, urea Rp1.100 per kg belum berpengaruh nyata terhadap biaya produksi usahatani tanaman pangan. Hal tersebut dapat berkenaan dengan sifat-sifat pupuk nitrogen dan kebutuhan unsur hara tersebut pada tanaman pangan. Pupuk nitrogen bersifat mobile, mudah tercuci oleh air hujan atau menguap karena panas matahari, sehingga diperlukan cara pemupukan yang benar supaya terserap dengan baik oleh tanaman. Pada sisi lainnya pupuk nitrogen sangat diperlukan tanaman, karena ketersediaannya terbatas dan esensial bagi pertumbuhan tanaman. Elastisitas biaya produksi usahatani tanaman pangan per ha atas harga pupuk organik positif yaitu 0,460. Berarti jika harga pupuk organik naik 10persen maka biaya usahatani per ha akan naik 4,60 persen. Hal tersebut menunjukkan walaupun harga pupuk organik murah, kurang lebih Rp70,-/kg, namun karena dipergunakan secara luas oleh para petani maka kenaikan harga pupuk tersebut meningkatkan biaya produksi secara nyata. Elastisitas biaya produksi terhadap jumlah tenaga kerja keluarga negatif, namun tidak nyata. Hal tersebut diduga berkaitan dengan kelembagaan tenaga kerja pada usahatani. Pada satu sisi tenaga kerja keluarga

Suwarto - Produktivitas Lahan dan Biaya Usahatani produksi terhadap tingkat umur petani positif dan nyata. Hasil penelitian mengindikasikan peningkatan umur petani meningkatkan penggunaan tenaga kerja luar keluarga. Dalam hal ini dapat dipahami bahwa banyak pekerjaan usahatani yang memerlukan bantuan petani lainnya, seperti dalam persiapan tanam, mengangkut input produksi seperti pupuk kandang, dan hasil panen. Berdasarkan kelembagaan lahan, biaya produksi usahatani tanaman pangan per ha petani penyewa LKP lebih besar dari biaya tersebut pada para petani lainnya. Hal tersebut karena biaya sewa lahan LKP cukup besar, dalam hal ini lebih besar dari biaya sewa lahan HB (Tabel 5). Biaya produksi usahatani tanaman pangan per ha petani peminjam lahan Kehutanan lebih rendah dari biaya tersebut pada petani dalam kelembagaan lahan lainnya. Dalam hal ini karena petani peminjam lahan Kehutanan tidak membayar sewa, dan pada sisi lain produktivitas lahan pinjaman kehutanan lebih rendah dari produktivitas lahan para petani lainnya (Tabel 2). Antara biaya produksi usahatani tanaman pangan per ha petani pemilik penggarap dengan biaya produksi usahatani tersebut pada petani

181

lainnya tidak berbeda. Hal tersebut karena para petani pemilik penggarap tidak mengeluarkan biaya sewa lahan sebagaimana para petani penyewa LKP, dan penyewa lahan HB. Pada sisi lain, petani pemilik penggarap memperoleh produktivitas lahan lebih besar dari produktivitas lahan para petani lainnya yang dapat berpengaruh pada biaya produksi (Tabel 2). Biaya produksi usahatani tanaman pangan per ha sesuai kelembagaan tenaga kerja pada usahatani diketahui bahwa biaya tersebut bagi petani yang menggunakan tenaga kerja upahan sesuai data pada Tabel 3 bagi para petani yang relatif dekat kota, lebih besar dari biaya produksi usahatani tanaman pangan per ha para petani dalam kelembagaan tenaga kerja lainnya. Dalam hal ini para petani yang menggunakan tenaga kerja upahan secara relatif juga lebih banyak menggunakan biaya tenaga kerja borongan dari penggunaan biaya tenaga tersebut pada petani lainnya. Biaya produksi usahatani per ha petani yang menggunakan tenaga kerja royongan, arisan atau RTan, dan sambatan, masingmasing tidak berbeda dengan biaya tersebut pada petani lainnya. Hal tersebut sebagai

Tabel 5. Rata-rata Luas Lahan dan Nilai Sewa Lahan per Tahun Para Petani di Kabupaten Gunung Kidul Tahun 2005
Kelembagaan Lahan Lokasi (ha) Dekat kota Jauh kota Jumlah 3,08 1,64 4,72 Lahan LKP Sewa ribuRp 2.240 950 3.190 ribuRp/ha 727 579 676 (ha) 2,200 8,040 10,240 Lahan HB Sewa ribuRp 292 954 1.246 ribuRp/ha) 133 119 122

Sumber: Analisis Data Primer Keterangan: LKP= lahan lungguh, Kas Desa, pengarem-arem dan milik perseorangan, HB = Hamengku Buwono

182

Jurnal Ekonomi Pembangunan, Vol. 9, No. 2, Desember 2008 dari produktivitas lahan para petani yang jauh dari pasar atau kota. 2. Tingkat upah tenaga kerja, harga pupuk P, dan harga pupuk organik meningkatkan biaya produksi tanaman pangan. Demikian pula umur petani berpengaruh terhadap biaya produksi tanaman pangan. Biaya produksi tanaman pangan petani penyewa LKP lebih besar dari biaya tersebut bagi para petani petani lainnya. Sebaliknya biaya produksi tanaman pangan petani peminjam lahan Kehutanan lebih kecil dari biaya tersebut bagi para petani lainnya. Biaya produksi tanaman pangan petani yang menggunakan tenaga kerja upahan lebih besar dari biaya tersebut bagi para petani lainnya. Biaya produksi tanaman pangan petani yang menggunakan tenaga kerja royongan, arisan atau RTan, dan sambatan tidak berbeda dengan biaya tersebut bagi para petani lainnya. Demikian pula biaya produksi tanaman pangan petani sebagai pedagang dan penyedia jasa, tukang dan perajin tidak berbeda dengan biaya tersebut bagi para petani sebagai buruh tani dan yang tidak bekerja pada luar usahatani. Implikasi kebijakan dari penelitian ini sebagai berikut: a. Petani peminjam lahan Kehutanan menguasai lahan sempit, dengan tingkat produktivitas rendah, maka diperlukan upaya pemberian konsesi luas penguasaan lahan yang lebih memadai serta pemberdayaan usahatani. b. Penggunaan tenaga kerja luar keluarga menurunkan produktivitas lahan, oleh karena itu diperlukan pemberdayaan terhadap kelembagaan tenaga kerja pada

akumulasi dari semua biaya yang dikeluarkan para petani yang secara keseluruhan tidak berbeda. Dilihat dari pekerjaan luar usahatani, total biaya produksi usahatani per ha antara para petani sebagai pedagang dan penyedia jasa, tukang dan perajin dengan biaya tersebut pada para petani lainnya tidak berbeda. Demikian pula antara biaya produksi usahatani tanaman pangan per ha para petani yang dekat dengan kota atau pasar tidak berbeda dengan biaya usahatani tersebut bagi para petani yang jauh dari kota atau pasar Hal tersebut dapat mencerminkan akumulasi dari keseluruhan biaya produksi usahatani tanaman pangan per ha para petani tersebut secara keseluruhan tidak berbeda.

KESIMPULAN 1. Penggunaan tenaga kerja, pupuk nitrogen, pupuk phosfat, dan pupuk organik meningkatkan produktivitas lahan. Tingkat pendidikan berpengaruh nyata terhadap produktivitas lahan, namun umur petani tidak berpengaruh nyata terhadap produktivitas lahan. Produktivitas lahan para petani pemilik penggarap lebih tinggi dari produktivitas lahan petani lainnya. Sebaliknya, produktivitas lahan para petani peminjam lahan Kehutanan lebih rendah dari produktivitas lahan petani lainnya. Produktivitas lahan para petani penyewa LKP tidak berbeda dengan produktivitas lahan petani lainnya. Produktivitas lahan para petani yang mengerjakan sendiri usahataninya lebih tinggi dari produktivitas lahan petani yang menggunakan tenaga kerja luar keluarga. Produktivitas lahan para petani yang dekat pasar atau kota lebih tinggi

Suwarto - Produktivitas Lahan dan Biaya Usahatani usahatani, utamanya terhadap tenaga kerja wanita yang selama ini dominan dalam perannya sebagai tenaga kerja dalam kelompok kerja.

183 di Lampung. Jurnal Ekonomi Indonesia, Jakarta. 2 (1): 51-73.

DAFTAR PUSTAKA Fujimoto. 1996. Rice Land Ownership and Tenancy System in Southeast Asia: Facts and Issues Based on Ten Village Studies. The Developing Economics. Institute of Developing Economics, Tokyo, Japan. 34 (3): 281-315. Greene, W.H., 2003. Econometric Analysis. Fifth Ed. Upper Saddle River, New Jersey: Prentice Hall. Gudjarati, D.N., 2003. Basic Econometrics, Forth Ed. Boston: McGraw Hill. Hartono, S., N. Iwamoto, and S. Fukui, 2001. Characteristics of Farm Household Economy and Its Flexibility, a Case Study in Central Java Villages. Proceedings of the 1st Seminar, Toward Harmonization between Development and Environmental Conservation in Biological Production, February 21-23, 2001, Yayoi Auditorium Graduate School of Agricultural and Life Sciences, the University of Tokyo, Japan: 23-30. Hartono, S., 2003. Pengembangan Bisnis Petani Kecil. Sri Widodo (Ed). Peranan Agribisnis Usaha Kecil dan Menengah untuk Memperkokoh Ekonomi Nasional. Yogyakarta: Liberty: 11-26. Heady, O.E., and J.H. Dillon, 2002. Agricultural Production. Ames, Iowa: Iowa State University Press. Jatileksono, T., 1993. Ketimpangan Pendapatan di Pedesaan: Kasus Daerah Padi

Mugniesyah, S.S.M. and K. Mizuno, 2003. Gender, Poverty and Peasant Household Survival Strategies a Case Study in Dry Land Village in West Java. Proceedings of the 1st Seminar, Toward Harmonization between Development and Environmental Conservation in Biological Production, February 21-23, 2001, Yayoi Auditorium Graduate School of Agricultural and Life Sciences, Tokyo: The University of Tokyo: 63-78. Nicholson, W., 1998. Microeconomic Theory, Basic Principles and Extensions, Seventh Edition. Fort worth Philadelphia: The Dryden Press, Harcourt Brace Collage Publishers. Pindyck, R.S and D.L. Rubinfeld. 2001. Microeconomics. Fifth Edition. London, New York: Prentice Hall International, Inc. Sangwan, S.S., 2000. Emerging Credit Demand of Tenants in Haryana. Indian Journal of Agricultural Economics. Mumbai: Indian Society of Agricultural Economics. 55 (3): 317-330. Sharma, H.R., 2000. Tenancy Relation in Rural India: A Temporal and CrossSectional Analysis. Indian Journal of Agricultural Economics. Mumbai: Indian Society of Agricultural Economics. 55 (3): 295-307 Sri Widodo. 1986. An Econometric Study of Rice Production Efficiency among Rice Farmers in Irrigated Lowland Villages in Java, Indonesia. Disertasi S3. Tokyo University of Agriculture.

Jurnal Ekonomi Pembangunan Vol. 9, No. 2, Desember 2008, hal. 184 - 197

ANALISIS KOMPETENSI PRODUK UNGGULAN DAERAH PADA BATIK TULIS DAN CAP SOLO DI DATI II KOTA SURAKARTA
Daryono Soebagiyo 1 M. Wahyudi 1 1 Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah Surakarta E mail: dsoebagyo@yahoo.com

ABSTRACT This research concerning local prominent product competency of ‘batik tulis’ and ‘batik cap’ in Surakarta. Two kinds of these batik are production of small and middle scale industry (IKM Batik) where IKM Batik has became one of economy prime activator in Surakarta. In this research, writers apply research methods as follows: Bayes approach technique for getting priority prominent product rank, Analytical Hierarchy Process (AHP) by using Expert Choice Software, with aim to know prominent competency of IKM in Surakarta, and Value Chain Economic Analysis started with chain mapping to priority prominent product which appertained as main rank. Research result indicates that competency approach in local industrial development relevant enough for increasing local competitiveness and finally increasing national competitiveness. It can be happened considering that competency approach try to exploit local excess and excellence uniquely. Keywords: bayers method, analytical hierarchy process, chain mapping PENDAHULUAN Kebijakan pembangunan industri jangka menengah saat ini (2004-2009) diarahkan pada pengembangan dan penumbuhan kluster-kluster industri, yang sementara ini berjumlah sepuluh kelompok industri, yaitu: (i) industri makanan dan minuman, (ii) industri pengolahan hasil laut, (iii) industri tekstil dan produk tekstil, (iv) industri alas kaki, (v) industri kelapa sawit, (vi) industri barang kayu (termasuk rotan), (vii) industri karet dan barang karet, (viii) industri pulp dan kertas, (ix) industri mesin listrik dan peralatannya, (x) serta industri petrokimia. Dalam kebijakan pembangunan industri, pengembangan sepuluh kluster industri inti dilakukan secara komprehensif dan integratif, yang didukung secara simultan dengan pengembangan industri terkait (related industries) dan industri penunjang (supporting industries). Dalam pelaksanaannya, pembangunan industri dimaksud seharusnya juga dilakukan dengan sinergi dan terintegrasi dengan pembangunan sektor lain seperti pertanian dan jasa. Dukungan kelembagaan juga harus bersinergi dengan dengan koordinasi kelembagaan terkait lainnya. Dengan mempertimbangkan kondisi pembangunan industri, baik di tingkat nasional maupun daerah, dan dalam rangka peningkatan daya saing, maka pembangunan industri dilaksanakan dengan melakukan

Daryono dan Wahyudi - Analisis Kompetensi Unggulan Daerah sinergi antara perencanaan di tingkat nasional atau pusat dan perencanaan di tingkat daerah. Hal ini dilakukan dengan dua pendekatan sekaligus, yaitu pendekatan top down dan pendekatan bottom up. Pendekatan top down pembangunan industri direncanakan dengan memperhatikan prioritas yang ditentukan secara nasional dan diikuti oleh partisipasi daerah. Hal ini biasa dikenal dengan pembangunan berdasarkan disain (by design) nasional. Pendekatan bottom up dilakukan dengan penetapan kompetensi inti yang merupakan keunggulan daerah. Penggunaan kompetensi inti sebagai unggulan daerah ini dimaksudkan agar daerah memiliki daya saing dan meningkatkan daya saingnya. Praktek perencanaan dengan dua pendekatan ini tercermin dari pelaksanaan rencana pembangunan industri. Berdasarkan disain nasional, kebijakan industri secara nasional dilakukan dengan menentukan industri prioritas, yaitu dikenalkannya 32 industri prioritas dengan pendekatan kluster. Kemudian, secara bottom up, pemerintah telah secara aktif melakukan sosialisasi dan mengajak daerah berpartisipasi dalam pembangunan kompetensi pada setiap daerah prioritas. Penggunaan kompetensi dalam pembangunan industri daerah cukup relevan untuk tujuan peningkatan daya saing daerah dan akhirnya juga peningkatan daya saing nasional. Hal ini dapat terjadi mengingat bahwa pendekatan kompetensi berusaha mengeksploitasi kelebihan dan keunggulan daerah secara unik. Kompetensi di sini didefinisikan sebagai kumpulan keterampilan dan teknologi yang memungkinkan suatu organisasi dapat menyediakan manfaat tersendiri secara unik kepada pelanggannya. Hal ini diterjemahkan dalam pembangunan industri daerah dengan mencoba melakukan eksploi-

185

tasi sumberdaya dan kemampuan organisasi secara unik. Keunikan ini merupakan nilai tersendiri yang tidak dimiliki daerah lain, dan oleh karena itu akan menjadi keuntungan bagi daerah yang memilikinya. Penerapan kompetensi secara nasional dapat diterjemahkan dengan memperkenalkan satu produk unik pada setiap daerah yang berbeda. Hal ini dilakukan agar seluruh sumberdaya dan kemampuan yang dimiliki daerah tersebut terfokus pada upaya untuk menciptakan kompetensi yang bersifat unik. Sesuai dengan sumber dan perkembangan konsep kompetensi, maka dalam usaha membangun kompetensi (baik berupa produk, layanan atau komoditi) seharusnya memperhatikan kriteria-kriteria yang relevan dengan kebutuhan peningkatan daya saing, yaitu keunikan (dan sulit ditiru), kemampuan memberi manfaat lebih, atau kemampuan memberi keuntungan dengan korbanan yang lebih efisien. Pada konteks daerah, pemilihan kompetensi seharusnya mempertimbangkan kondisi daerah dengan tetap memperhatikan kriteria persaingan seperti: adanya nilai tambah yang tinggi, adanya sifat yang unik, adanya keterkaitan dan peluang untuk bersaing di pasar luar daerah (bahkan internasional). Dengan kata lain, pemilihan dan penentuan kompetensi seharusnya memberi dampak yang besar dalam memberi stimulus perekonomian daerah. Yang lebih penting lagi hal tersebut harus dilakukan dengan memperhatikan kemampuan sumberdaya daerah. Surakarta merupakan kota yang memiliki banyak IKM, di mana IKM di Surakarta adalah sebagai penggerak utama ekonomi masyarakat. Data IKM Surakarta pada tahun 2007 mencapai 80 persen jumlah usaha dengan kontribusi penyerapan tenaga kerja

186

Jurnal Ekonomi Pembangunan, Vol. 9, No. 2, Desember 2008 investasi sebesar Rp.57.895.790.000 dan sektor informal meliputi 4.070 unit usaha digerakkan oleh 12.055 tenaga kerja dengan investasi sebesar Rp.15.071.040.000 (Tabel 1) Perkembangan sektor industri di kota

mencapai lebih dari 95 persen. Untuk usaha menengah di Surakarta terdapat kurang lebih 85 unit usaha menyerap 10.608 orang dengan nilai investasi sebesar Rp.45.870.748.000. Usaha kecil sebanyak 1.061 unit menyerap tenaga kerja 24.954 orang dengan nilai

Tabel 1. Data Industri Kota Surakarta Tahun 2006
No.
1. 2 3. 4.

Uraian
Industri Kecil Industri menengah Industri besar Non Formal Jumlah

Tenaga Kerja
24.954 7.560 10.608 12.055 55.177

Nilai Investasi
57.895.790 45.870.748 297.795.960 15.071.040 416.633.538

Nilai Produksi
4.239.889.800 1.127.798.350 1.017.089.000 1.592.397.420 7.977.174.570

Jumlah Unit Usaha
1061 85 41 4.070 5.257

Sumber: Rencana Pengembangan Industri di Surakarta, Disperindag. 2007.

Tabel 2. Produk IKM Kota Surakarta
No Nama Produk/Industri Nilai Produksi/ tahun (000)
270.225 48.008.448.000 480.334.240 120.000 1.000 4.400 997.800 30.000 33.000 188.000 1.000 1.095.000 12.720 180.544.134,5 2.789.000 342.000 2.750.000 6.300 9.152.955 6.394.012,5 7.500 245.000 96.000 25.271.415.000 72.750 22.000

Investasi

Unit Usaha
2 7 13 1 1 1 5 1 1 3 1 3 2 37 5 3 1 1 23 7 1 1 1 10 4 1

Jumlah Tenaga Kerja
68 108 91 10 5 4 20 2 1 11 41 12 8 142 105 25 5 4 194 1.088 3 6 5 2.523 34 7

Kapasitas Produksi/ tahun
3.603 480.084.480 12.008.356 24.000 200 220 16.630 60.000 3.000 37.600 2 73.000 636 361.088.269 5.578 456 50.000 180 9.152.955 852.535 100 700.000 96.000 336.952.200 4.850 400

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26

Alat Musik Batik dan Produk Batik Bengkel Elastik Fiber Glass Foto Stodio Handicraft Kapur Semut Kaset Kemasan Kimia Kosmetik Logam Makanan Mebel Mesin Industri Obat-obatan Pengolahan Hasil Bumi Percetakan Plastik Pupuk Rokok Kretek Shuttle Cock Tekstil dan Produk Tekstil Timbangan Transportasi

138.380.000 672.333.340 772.350.000 104.000.000 30.000.000 40.000.000 389.837.000 16.000.000 21.500.000 32.040.000 24.500.000 152.232.500 53.415.000 3.386.740.000 2.048.751.000 175.600.000 50.000.000 40.000.000 3.220.009.500 8.802.650.000 60.000.000 40.650.000 38.800.000 663.385.000 251.560.000 40.000.000

Daryono dan Wahyudi - Analisis Kompetensi Unggulan Daerah Surakarta, di masa datang dititikberatkan pada industri kecil dan kerajinan rakyat. Data Desperindag yang dikumpulkan saat prasurvei yang dilakukan oleh peneliti (2007) menunjukkan bahwa jumlah industri kecil di kota Solo mencapai 3.821 industri, sedang industri besar dan menengah ada 56 industri dengan tenaga kerja yang terserap berjumlah 38.765 orang. Dari beberapa jenis industri yang ada di kota Surakarta (Solo) terdapat produk unggulan yaitu; usaha batik dan konveksi Beberapa produk komoditi Industri Kecil Menengah (IKM) tersebut terlihat dalam Tabel 2. Dengan melihat persoalan tersebut maka, penelitian ini akan mencoba menganalisis Kompetensi Unggulan Daerah pada Produk Batik Tulis dan Batik Cap Solo di Dati II Kota Surakarta. METODE PENELITIAN Dalam penelitian ini diketengahkan bahwa kompetensi IKM daerah Kota Surakarta adalah keunggulan yang dimiliki daerah yang unik meliputi aspek Keterampilan Manusia, Sumber Daya Alam, Lingkungan, Budaya, dan Prospek Pasar, baik untuk produk primer maupun produk olahan. Adapun ciri-ciri kompetensi inti daerah terdiri dari 3 yaitu: 1. Memiliki akses potensial ke berbagai pasar – kompetensi daerah harus dapat mengembangkan produk atau jasa baru 2. Kompetensi daerah harus menciptakan kontribusi nyata untuk mendapatkan manfaat produk akhir. 3. Kompetensi daerah seharusnya memiliki sesuatu yang sulit ditiru oleh kompetitor lain/daerah lain, dengan kata lain bersifat unik.

187

Metode dan alat analisis yang dipergunakan dalam pengkajian kompetensi unggulan IKM Kota Surakarta dilakukan dengan menggunakan teknik pendekatan: a. Metode Bayes, guna memperoleh peringkat produk unggulan prioritas. b. Analytical Hierarchy Process (AHP) dengan mengaplikasikan Software Expert Choice, yang bertujuan untuk mengetahui Kompetensi Unggulan IKM Daerah Kota Surakarta c. Analisis Ekonomi Rantai Nilai, yang dimulai dengan melakukan pemetaan rantai (chain map) atas produk unggulan priotitas yang tergolong sebagai peringkat utama, dengan menggambarkan secara garis besar tahapan mulai dari input hingga pemasaran produk sampai ke tangan konsumen. Kemudian masingmasing mata rantai nilai diidentifikasi apa yang menjadi kekuatan atau kompetensinya. Untuk selanjutnya dikuantifikasi dan dinilai Analisis Ekonomi Rantai Nilainya. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Profil Industri Kecil dan Menengah Usaha kecil dan menengah idealnya memang membutuhkan peran dan campur tangan dari pemerintah dalam peningkatan kemampuan bersaing. Sungguhpun demikian, yang perlu diperhatikan adalah bahwa kemampuan di sini bukan dalam arti kemampuan untuk bersaing dengan usaha/industri besar, tetapi lebih pada kemampuan untuk memprediksi lingkungan usaha dan kemampuan untuk mengantisipasi kondisi lingkungan tersebut. Terdapat karakteristik khusus dari suatu

188

Jurnal Ekonomi Pembangunan, Vol. 9, No. 2, Desember 2008 mengembangkan pengusaha yang sudah ada supaya menjadi tangguh, atau (ii) mengembangkan wirausaha baru yang tangguh. Strategi (program) pengembangan untuk kedua kondisi tersebut haruslah berbeda (spesifik). Bahkan strategi pengembangan untuk pengusaha yang sudah ada pun tidak dapat dilakukan dengan “penyeragaman”. Apa yang disebutkan oleh Haeruman di atas adalah kondisi yang digeneralisasi. Tiap jenis usaha, bahkan tiap pengusaha pada jenis yang sama akan mempunyai permasalahan yang berbeda. Diperlukan suatu studi yang matang dan mendalam (diagnosis) untuk mengetahui apa sebenarnya permasalahan yang dihadapi oleh industri kecil menengah yang akan dibina. Tanpa studi dan perencanaan yang matang, maka usaha program pengembangan (meski dengan niat yang baik) akan menemui banyak kendala, misalnya: (a) salah sasaran, (b) sia-sia (mubazir), dan (c) banyak manipulasi dalam implementasinya. Kasus munculnya koperasi dan industri kecil menengah “dadakan” ketika diluncurkan kebijakan kredit tanpa bunga (kredit dengan bunga yang rendah), dapat dijadikan salah satu contoh kegagalan usaha pengembangan insustri kecil menengah yang dilakukan pemerintah. Keunggulan Berbasis Kompetensi Perkembangan terbaru tentang paradigma perusahaan atau organisasi yang berbasis sumberdaya adalah adanya fokus pada suatu basis, sesuai yang melampaui asset-asset tangible dan intangible, tentang keunggulan berbasis sumberdaya, yaitu kompetensi. Dalam kerangka ini, perusahaan fokus pada kompetensi inti. Suatu kompetensi inti dapat didefinisikan sebagai seperangkat ketrampil-

produk yang cocok untuk industri kecil dan ada kelompok produk yang cocok untuk industri besar. Industri kecil tidak akan mampu bertahan pada kelompok produk yang cocok untuk industri besar. Dan sebaliknya, industri besar tidak akan tertarik untuk masuk dan bersaing dalam kelompok produk yang cocok untuk industri kecil, karena dengan pertimbangan efisiensi skala usaha. (Stanley dan Morse, 1965). Peran kebijakan pemerintah bukan saja pada pemberian modal, tetapi lebih pada membina kemampuan industri kecil dan membuat suatu kondisi yang mendorong kemampuan industri kecil dalam mengakses modal atau dengan kata lain, pemerintah harus membina kemampuan industri kecil dalam menghitung modal optimum yang diperlukan, kemampuan menyusun suatu proposal pendanaan ke lembaga-lembaga pemberi modal, serta mengeluarkan kebijakan atau peraturan yang lebih memihak industri kecil dalam pemberian kredit. Menurut Haeruman (2000), bahwa tantangan bagi dunia usaha, terutama pengembangan IKM, mencakup aspek yang luas, antara lain;(1) Peningkatan kualitas SDM dalam hal kemampuan manajemen, organisasi dan teknologi, (2) Kompetensi kewirausahaan, (3) Akses yang lebih luas terhadap permodalan, (4) Informasi pasar yang transparan, (5) Faktor input produksi lainnya, dan (6) Iklim usaha yang sehat yang mendukung inovasi, kewirausahaan dan praktek bisnis serta persaingan yang sehat. Namun permasalahan yang dihadapi oleh pemerintah dalam upaya pengembangan wirausaha industri kecil menengah yang tangguh adalah pemilihan dan penetapan strategi (program) untuk dua kondisi yang berbeda. Kondisi yang dimaksud adalah: (i)

Daryono dan Wahyudi - Analisis Kompetensi Unggulan Daerah an dan teknologi yang terintegrasi. Suatu kompetensi perusahaan bukan suatu hal yang sama dengan ketrampilan individu personelnya, tetapi merupakan integrasi dari keterampilan-keterampilan yang ada. Hal ini juga tidak sama dengan sumberdaya, sebab kompetensi lebih merupakan suatu asset. Perusahaan, jaringan distribusi, brand kesemuanya merupakan asset (dan sumberdaya), Sungguhpun demikian, suatu kemampuan khusus untuk mengelola perusahaan, jaringan distribusi, atau brand adalah merupakan kompetensi. Suatu kompetensi dapat dikatakan disini apabila memenuhi syarat syarat tertentu. Yang utama, syarat untuk kompetensi adalah keterbukaan terhadap pasar baru, kemungkinan-kemungkinan baru, sifat yang adaptif. Manager suatu perusahaan yang memiliki suatu kompetensi harus berpikir tentang bagaimana seperangkat ketrampilan yang terintegrasi diterapkan pada domain-domain produk baru. Oleh karena itu pandangan yang berbasis kompetensi berangkat dari fokus pada strategi level bisnis dan mulai menghadapi strategi level korporasi, dan menentukan jenis usaha (bisnis) yang tepat. Gambaran Industri Kecil dan Menengah Kota Solo

189

Kota Solo adalah kota yang memiliki banyak industri kecil menengah, sebagai penggerak utama ekonomi masyarakat, yang memberi Kontribusi besar bagi pendapatan daerah dan memegang peranan penting bagi pertumbuhan perekonomian daerah. (Tabel 3) Usaha/Industri Kecil dan Menengah di kota Solo yang banyak jumlahnya dan macam produknya. Yang tercatat di data laporan Disperindag Kota Solo terdapat 26 macam produk. Prioritas. Tetapi dari 26 macam produk prioritas tersebut terdapat 7 produk yang potensial dapat dikembangkan di Kota Solo. Industri kecil menengah yang paling menonjol yang diutamakan bagi Kota Surakarta apabila ditilik dari besarnya nilai produksi dan besarnya nilai investasi tentunya adalah Batik dan Produk Batik, Tekstil dan Produk Tekstil serta Makanan yang menghasilkan berbagai aneka makanan dan makanan ringan. Ketiga produk ini merupakan trade mark bagi Kota Surakarta atau Solo, dari sisi Produksi yang dihasilkan daerah (Tabel 4) Suatu studi penelitian yang pernah dilakukan oleh penulis yang sama untuk menen-

Tabel 3. Produk Industri Kecil Menengah di Kota Solo
No 1 2 3 4 5 6 7 Nama Produk/Industri Batik dan Produk Batik Logam/Besi Makanan Mebel Percetakan Plastik Tekstil dan Produk Tekstil Nilai Produksi/ tahun 48.008.448.000.000 12.720.000 180.544.134.500 2.789.000.000 9.152.955.000 6.394.012.500 25.271.415.000.000 Investasi 672.333.340 53.415.000 3.386.740.000 2.048.751.000 3.220.009.500 8.802.650.000 663.385.000 Unit Usaha 7 2 37 5 23 7 10 Jumlah Tenaga Kerja 108 8 142 105 194 1.088 2.523

Sumber: Disperindag Kota Solo 2006

190

Jurnal Ekonomi Pembangunan, Vol. 9, No. 2, Desember 2008 uji kuesioner dan diskusi dengan narasumber kompeten yang memiliki kewenangan serta konsern terhadap produk kompetensi daerah. Selanjutnya dilakukan kriteria pembobotan, di mana memunculkan suatu produk kompetensi unggulan dengan komponennya seperti; keterampilan staf, manajemen brand, daya inovasi, kesetiaan kerja, jaminan kualitas, desain, tenaga kerja banyak, sumber daya lingkungan yang tidak merusak, manajemen harga, daya adopsi, manajemen jaringan dan lain sebagainya. Peta Rantai Nilai Produk Unggulan Prioritas Produk kompetensi unggulan prioritas ditemukan dari kompetensi-kompetensi produk unggulan yang telah diidentifikasi. di mana kriteria pemilihannya adalah dengan mempertimbangkan: • • • • Keunikan Daya saing Keterbukaan terhadap pasar baru Manfaat yang lebih baik bagi pelanggan Berdasarkan kategori kompenen-kom-

tukan Kriteria dan kompetensi Kota Solo dengan melihat produk-produk potensial yang dapat dikembangkan bagi daerah kota Solo dari 26 macam produk unggulan daerah. Dari kontribusi data yang di cover dari Disperindag Kota Solo menunjukkan bahwa, muncul paparan kriteria Kesepakatan 7 produk prioritas unggulan bagi kota Solo, yaitu; Batik dan produk Batik, Tekstil dan Produk tekstil, Makanan, Percetakan, Plastik, Mebel dan logam/besi (2007). Suatu alasan mengapa prioritas produk unggulan yang terpilih adalah produk-produk tersebut adalah; (1) dapat menyerap tenaga kerja yang banyak (2) nilai produksinya tinggi (3) image tentang produk tersebut adalah menjadi trade-mark bagi kota Solo. Dari 7 prioritas produk unggulan daerah kota Solo selanjutnya dimunculkan produk unggulan utama yang menjadi pertimbangan penentuan kriteria untuk memunculkan produk inti unggulan Kota Solo yaitu: Batik dan Produk Batik. Langkah selanjutnya adalah melakukan

Tabel 4. Matriks Keputusan Ranking Produk Unggulan
Kriteria No Alternatif Produk/ Industri Bobot Kriteria Batik dan Produk Batik Logam/Besi Makanan Mebel Percetakan Plastik Tekstil dan Produk Tekstil Nilai Produksi 0,3 5 1 4 1 3 2 5 Investasi/ Unit 0,2 3 1 2 5 4 5 1 Jml Tenaga Kerja 0,2 2 1 3 1 4 5 5 Preferensi Nara Sumber 0,3 4,728708045 2,956154917 4,472135955 3,590938482 3,109843949 1,414213562 3,827710282 Nilai Alternatif 1 3,918612414 1,586846475 3,541640786 2,577281545 3,432953185 3,024264069 3,848313085 Peringkat

1 2 3 4 5 6 7

1 7 3 6 4 5 2

Sumber: hasil penghitungan dengan analisis Bayes dari data primer dan sekunder

Daryono dan Wahyudi - Analisis Kompetensi Unggulan Daerah ponen tersebut akhirnya penentuan kriteria, memunculkan Batik dan produk batik sebagai produk kompetensi unggulan Kota Solo. Melalui penghitungan Analytic Hierarchy Process ditemukan bahwa pada batik dan produk batik memiliki in-konsistensi nilai bervariasi antara 0,1 hingga sampai 0,09. Artinya dari kajian analisis ditemukan semua kriteria dan kompetensi batik dan produk batik memiliki manfaat kepentingan yang ideal sesuai dengan harapan dari produk kompetensi unggulan prioritas kota Surakarta. Dari kajian analisis ditemukan semua kriteria dan kompetensi unggulan batik dan produk batik memiliki manfaat kepentingan yang ideal sesuai dengan harapan dari produk unggulan prioritas kota Surakarta. Tabel 5 menunjukkan kriteria kompetensi unggulan prioritas batik dan produk batik yang memiliki kriteria-kriteria paling menonjol adalah dari sisi keunikan memiliki skor 0,356 serta sisi daya saing dengan skor 0,226. Sedangkan kriteria unik dimungkinkan dapat muncul karena produk ini memiliki suatu nilai lebih dan tidak mudah ditiru, sedang daya saing disini produk tersebut apabila diperbandingkan dengan produk sejenis memiliki kelebihan layak jual laku keras di pasaran. Kriteria produk unggulan batik dan produk batik memiliki in-konsistensi relatif baik sebesar 0,09 masih kurang dari 0,1 sedang skor pembobotan dari masing-masing kriteria yang ada berkisar antara 0,102 sampai 0,356.

191

Tabel 5. Kriteria Prioritas Kompetensi Unggulan Batik dan Produk Batik
No 1. 2. 3. 4. 5. Goal/Kriteria Unik Daya Saing Kekuatan Manfaat Keterbukaan Skor Bobot 0,356 0,226 0,169 0,147 0,102

Keterangan: Inconsistency ratio 0,09

Tabel 6. Produk Unggulan Batik dan Produk Batik dengan Kriteria Unik
No 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Goal/Kompetensi Karakteristik Desain Manajemen jaringan Distribusi Manajemen Brand Keterampilan Staf Disiplin Pekerja Daya Inovasi Skor Bobot 0,215 0,211 0,199 0,142 0,119 0,059 0,055

Keterangan: Inconsistency ratio 0,02

Unggulan batik dan produk batik dengan kriteria unik ini memiliki kompetensi utama yang cukup baik dan kuat pada karakteristik dengan bobot 0,215 dan desain dengan bobot 0,211 yang memiliki in-konsistensi 0,02
Tabel 7. Produk Unggulan Batik dan Produk Batik dengan Kriteria Daya Saing
No 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Goal/Kompetensi Daya Inovasi Desain Keterampilan Staff Jaminan Kualitas Manajemen Brand Tenaga kerja banyak Kesetiaan pekerja Skor Bobot 0,348 0,173 0,126 0,124 0,091 0,074 0,064

Keterangan: Inconsistency ratio 0,09

Unggulan batik dan produk batik dengan kriteria daya saing memiliki kriteria dominan di kompetensi utama pada daya inovasi dengan bobot sebesar 0,348 dan desain

192

Jurnal Ekonomi Pembangunan, Vol. 9, No. 2, Desember 2008 Dianalisis unggulan batik dan produk batik dengan kriteria kekuatan ternyata memiliki kompetensi kuat/utama pada sisi karakteristik di mana memiliki bobot sebesar 0,292 dan desain dengan bobot sebesar 0,181. Karakteristik batik Solo motifnya sangat tradisional, batik Solo dari warna, motif punya karateristik dan kualitas lebih bagus dari daerah lain di Indonesia. Demikian pula dalam rasa desain, batik dan produk batik Solo sama dengan daerah lain, hanya saja batik Solo memiliki motif unggulan corak klasik yang memiliki cita rasa makna tersendiri.
Tabel 10. Produk Unggulan Batik dan Produk Batik dengan Kriteria Kekuatan
No 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Goal/Kompetensi Karakteristik Desain Manajemen jaringan Distribusi Manajemen Brand Keterampilan Staf Disiplin Pekerja Daya Inovasi Skor Bobot 0,292 0,181 0,145 0,125 0,107 0,103 0,046

dengan bobot sebesar 0,173 dengan rasio inkonsistensi 0,09.
Tabel 8. Produk Unggulan Batik dan Produk Batik dengan Kriteria Keterbukaan
No 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Goal/Kompetensi Daya Inovasi Manajemen harga Daya Adopsi Disiplin Pekerja Keterampilan Staf Desain SDA melimpah Skor Bobot 0,260 0,251 0,162 0,107 0,099 0,068 0,053

Keterangan: Inconsistency ratio 0,05

Demikian juga di unggulan batik dan produk batik dengan kriteria keterbukaan pasar, memiliki kompetensi intu utama dalam daya inovasi dengan bobot 0,260 dan kompetensi manajemen harga dengan skor bobot 0,251 dengan rasio in-konsistensi 0,05. Hasil analisis Analytic Hierarchy Process selanjutnya mencoba memaparkan kompetensi unggulan untuk batik dan produk batik, dengan kriteria manfaat akan memliki kompetensi utama/kuat di manajemen harga dengan bobot sebesar 0,355 dan daya adopsi dengan bobot sebesar 0,257. dengan rasio inkonsistensi 0,04.
Tabel 9. Produk Unggulan Batik dan Produk Batik dengan Kriteria Manfaat
No 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Goal/Kompetensi Manajemen harga Daya Adopsi Tenaga kerja banyak Daya Inovasi Desain Manajemen Brand Manajemen Jaringan Distribusi Skor Bobot 0,355 0,257 0,125 0,108 0,064 0,047 0,045

Keterangan: Inconsistency ratio 0,1

Batik dan produk batik Solo sebenarnya sama dengan daerah lain, sungguhpun demikian batik dan produk batik Solo memiliki motif kompetensi unggulan produk dengan corak klasik, terasa sangat kental makna filosofis. Dari hasil penelitian lapangan yang dilakukan penelitian ini menunjukkan bahwa batik dan produk batik Solo diutamakan pada: 1. Karakter, desain serta daya inovasi di mana hal ini merupakan unsur dominan bagi andalan batik dan produk batik tulis dan cap Solo,

Keterangan: Inconsistency ratio 0,04

Daryono dan Wahyudi - Analisis Kompetensi Unggulan Daerah 2. Sumber daya manusia dengan kriteria banyak; seperti disiplin kerja serta keterampilan staf yang baik, 3. Daya saing akan dapat memiliki kompetensi unggulan yang ditunjang dengan manajemen harga relatif kompetitif serta manajemen jaringan distribusi yang baik Analisis Supply Chain Management pada Batik dan Produk Batik Menurut Schroeder (2000), supply chain management adalah strategi untuk merencanakan, mengelola dan mengawasi aliran barang-jasa dan informasi dari pemasok, perusahaan, distribusi sampai dengan konsumen akhir dengan kualitas yang terjaga sepanjang waktu. Secara sederhana sebuah Supply Chain Management dapat diringkas seperti nampak dalam Gambar 1. Aktivitas pendukung Aktivitas pendukung dalam sebuah rantai nilai terdiri dari empat aktivitas, yaitu antara lain kesetiaan kerja, manajemen brand, tenaga kerja yang banyak serta SDA yang tidak merusak. Bagi Batik dan Produk Batik Solo yang menjadi prioritas utama dalam rantai nilai aktivitas pendukung adalah sebagai berikut: 1. Kesetiaan Kerja secara teoritis adalah lamanya SDM bekerja di mana dalam usaha pembatikan dan produk batik pekerja memiliki suatu ciri unsur kese-

193

tiaan/ketaatan kepada juragan/pengusaha dapat diatur dari turnovernya. Hubungan spesifik antara majikan dan pekerja ini memberikan dampak positif terwujudnya daya saing yang kuat bagi batik dan produk batik di daerah kota Surakarta. loyalitas pekerja batik sangat tinggi, karena mereka bekerjanya mengandalkan perasaan dalam hal mendesain sampai mengerjakan proses produksi hanya memang karena tingkat pendidikan yang tidak begitu tinggi, agak susah dalam mengatur disiplin kerja mereka, ini menyangkut tingkat pendidikan yang relatif kurang. Proses pembatikan apalagi batik tradisional sampai modern, SDMnya menggunakan banyak perasaan, sungguhpun tingkat pendidikan relatif kurang tinggi, demikian itu tentunya perusahaan yang unggul akan dapat mengatur loyalitas dalam bentuk pengaturan waktu, misalnya dengan cara model pekerja borongan. Kalau menggunakan sistem part time nampaknya sulit untuk dikerjakan. Karena proses pembatikan ini akan berbeda dengan di tekstil. 2. Manajemen Brand, adalah penggunaan merek dan pengelolaannya adalah merupakan suatu wujud pencitraan bagi produk batik, yang dapat memberikan sentuhan nilai tambah batik dan produk batik Solo. Ternyata batik Solo memiliki karakter sendiri di mata konsumennya. Batik Solo secara tidak langsung sudah memiliki keungulan karena Solo merupa-

Pemasok

Perusahaan

Distributor

Konsumen akhir

Gambar 1. Supply Chain Management

194

Jurnal Ekonomi Pembangunan, Vol. 9, No. 2, Desember 2008 kan salah satu daerah penghasil produk batik besar di Indonesia. Image nama lama sampai sekarang masih dominan mempengaruhi pencitraannya bagi konsumen. Banyak orang-orang dari luar daerah Surakarta memiliki cita rasa bahwa batik itu ya,… adanya di Solo. Branding batik Solo dapat dikatakan memiliki sisi unggul. ka peluang tenaga kerja di sektor/industri yang lain. 4. SDA di sini adalah merupakan sumber daya alam yang ramah lingkungan, sifatnya tidak merusak. Batik dan Produk batik memerlukan komponen hasil olahan dari SDA seperti gondorukem serta bahan pewarna alam. Gondorukem diambil getahnya tetapi pohonnya tetap dilestarikan, sedang bahan pewarna alam diambil dari sulur-sulurnya atau daundaunnya eksistensi pohonnya tetap dilestarikan. Peta Rantai Nilai (Chain Map) Produk Unggulan Prioritas peringkat pertama yang terindikasi di wilayah Kota Surakarta, yaitu Batik dan Produk Batik, Dengan spesifikasi batik tulis dan batik cap, dalam bentuk bagan skematis sederhana dapat dideskripsikan seperti dalam Gambar 2. Aliran barang dan jasa serta informasi dalam IKM komponen batik dan produk

3. Tenaga kerja yang banyak adalah merupakan jumlah tenaga kerja dalam industri batik dan produk batik.. Berdasarkan hasil FGD kompetensi tenaga kerja dalam kaitannya dengan produk batik IKM di Kota Surakarta relatif cukup besar mengingat tenaga kerja di lingkup pembatikan ini memiliki keterkaitan dengan penyerapan tenaga kerja di sektor lain di mana ada tenaga kerja yang berlainan sifatnya. Batik dapat menyerap TK di bahan material dan. proses prapembatikan ternyata sudah dapat membu-

Gambar 2. Simulasi Analisis Ekonomi Peta Rantai Nilai dan Nilai Tambah (Added Value) Kompetensi: Batik Tulis dan Batik Cap

Daryono dan Wahyudi - Analisis Kompetensi Unggulan Daerah batik di Kota Surakarta belum sempurna. Hal ini dikarenakan dari komponen Supply Chain Management IKM pembatikan di Surakarta terkonsentrasi sebagian besar di wilayah Kecamatan Laweyan dan Kecamatan Pasar Kliwon, utamanya di Kampung Laweyan dan Kampung Kauman Pasar Kliwon, serta sebagian di daerah Kampung Sewu. Para pelaku IKM batik dan produk batik ini hanya menguasai aliran barang dan jasa serta informasi di tingkat perusahaan/pabrik/ bengkel kerja, sementara untuk pasokan bahan baku seperti; malam/lilin, obat batik (terbuat dari bahan baku alamnya Gondorukem dan pewarna alam yang didapat dari pohonan yang diambil sulur atau daunnya) dan juga distribusi, menunjukkan kondisi ketergantungan mereka pada pihak lain sangat besar, sungguhpun persediaan bahan cukup memadai. Idealnya dalam sebuah industri pembatikan yang berdaya saing tinggi maka setiap komponen dalam Supply Chain Management bisa dikontrol atau diantisipasi terutama dari aliran informasi. Semakin lemah kontrol perusahaan, pabrik atau bengkel kerja pembatikan seperti di kota Solo terhadap informasi dalam mata rantai Supply Chain Management, maka industri kecil menengah pembatikan di daerah Solo akan semakin rentan dengan ketidakpastian. KESIMPULAN 1. Batik dan produk batik yang memiliki peringkat pertama dalam produk unggulan industri kecil menengah di kota Surakarta atau Solo yang memiliki keunikan dalam motif, sungguhpun motif yang ada sangat banyak, tetapi memiliki kompetensi unggulan dominan dalam

195

karakteristik, desain dan daya inovasi, serta makna filosofis atas motifnya. 2. Batik dan produk batik kota Solo dalam proses pengerjaannya memerlukan kemampuan teknik membatik yang baik. Itulah sebabnya mengapa batik dan produk batik tulis dan cap Solo dikatakan memiliki keunikan, karena mampu bersaing dengan kompetitor di daerah/ wilayah Indonesia lainnya, buktinya batik Solo masih eksis sampai saat ini. 3. Batik dan produk batik kota Solo memiliki pangsa pasar Asia, Amerika, Afrika serta Eropa. Untuk pangsa pasar Amerika, Afrika dan Eropa, Batik yang diinginkan batik bermotif sederhana, yang penting motif gambar pada kain tersebut dilakukan dengan proses batik. 4. Seiring dengan diadakannya mem-patent kan motif batik Solo, gelar acara Solo Batik Carnival, Srawung Batik, serta event-event yang berkaitan dengan promosi batik Solo, seyogyanyalah ada kajian lanjut dalam upaya pemberian ruang pas serta kebijakan yang perlu dari pemerintah daerah kota Surakarta dan instansi terkait lainnya, agar supaya batik dan produk batik tulis serta batik cap Solo benar-benar menjadi produk kompetensi unggulan nyata, bukannya produk semu yang dipaksakan. Saran-saran yang diajukan dari penelitian ini sebagai berikut Pertama, perlu dilakukan survey lapangan untuk memperoleh data yang sebenarnya mengenai persoalan kompetensi unggulan. Tidak hanya didasarkan pada data yang sudah ada di instansi tertentu. Data instansi hanya sebagai alat pengontrol saja. Kedua, Seharusnya jangan hanya menentukan pro-

196

Jurnal Ekonomi Pembangunan, Vol. 9, No. 2, Desember 2008 Disperindag. tt. Laporan Data Industri Daerah, Surakarta: Disperindag Kota Surakarta. Garcia dan Soelistianingsih, 1998, Pengaruh Variabel Modal Manusia, Fertilitas Total, Selain Pangsa Sektor Minyak dan Gas dalam PDRB untuk Mengukur Ketersediaan Sumber Daya Alam terhadap Pertumbuhan Ekonomi Daerah, Penelitian, Jakarta Haeruman, 2000, Tantangan Bagi Dunia Usaha Pengembangan Industri Kecil Indonesia Human Development Report, 2002, Regional Economics Development Islam, Iyanatul, 2005, Ketidakmerataan Antardaerah di Indonesia, School of International Business and Asian Studies, Griffith University, Australia. Kurniawan Bangun Nur Cahyo, 2006, Multicriteria Decision Making Methot for the Determination of Collection Priority of land and Property Tax (PBB) by Letter Force, Geodesi FTSL, ITB. Porter, M. E. 1985. Competitive Advantage Creating and Sustaining Superior Performance. New York: The Free Press. Porter, M. E. 1990. The Competitive Advantage of Nations. New York: Free Press. Saaty, Thomas. L, 1989, Decision Making, Reading and Number Crunching, Decision Sciences 20 (2). Saaty, Thomas. L, 1993, Pengambilan Keputusan bagi para Pemimpin, Proses Hirarki Analitik untuk Pengambilan Keputusan dalam Situasi yang Kompleks, Manajemen No.14, Jakarta: PT. Pustaka Binaman Pressindo.

duk kompetensi unggulan IKM dari jenis barangnya saja tetapi, memasukkan juga produk jasa, karena di kota (kebanyakan kota besar) untuk produk unggulan IKM dari barang biasanya kurang bisa diandalkan. Sehingga perlu produk unggulan bersifat jasa, hal itu karena kebanyakan produk yang dihasilkan adalah jasa. Ketiga, membangun produk kompetensi unggulan bagi daerah diperlukan komitmen, kebijakan pemerintah dan asosiasi pengusaha/industri/bengkel kerja IKM. DAFTAR PUSTAKA Akita, Takahiro dan Armida S. Alisjahbana, 2001, The Economic Crisis and Regional Inequality in Indonesia, Makalah seminar, Jakarta. Amurwaraharja, Indra Permana, 2003, Analisis Teknologi Pengolahan Sampah dengan Proses Hirarki Analitik dan Metoda Valuasi Kontingensi, Bogor: Program Pascasarjana IPB. Azis, Iwan Jaya, 1997, Analytic Hierarchy Process,in the Benefit Cost Framework: A Post Evaluation of the Trans Sentra Highway Project, European Journal of Operation Research, 48 (1990): 38-48 North Holland. Badan Pusat Statistik. tt. Surakarta dalam Angka, Surakarta: BPS Kanwil Surakarta. Blodger’s Communications, tt. Analytic Hierarchy Process (AHP), Tutorial, RFID. Disperindag. 2007. Rencana Pengembangan Industri di Surakarta. Surakarta: Bagian Penerbitan Disperindag.

Daryono dan Wahyudi - Analisis Kompetensi Unggulan Daerah Schroeder, 2000, Supply Chain Management, New York: PrenticeHall. Subekti, Nanang, 2005, Pertumbuhan Ekonomi Regional, Makalah Seminar, Jakarta. Soebagiyo, Daryono, 2002, Perspektif Kota Surakarta dalam Wacana menjadikan Sebagai Ibukota Propinsi, Makalah Seminar Dialog Ekonomi Regional, IMM, Surakarta. Soebagiyo, Daryono, 2001, Model Perencanaan Ekonomi Melalui Metode Pengambilan Keputusan dengan AHP (Analytic Hierarchy Process), Jurnal Ekonomi Pembangunan Vol 2. No.1 Juni 2001 Surakarta: BPPE FE UMS Subagiyo, Daryono. 2007. Pengembangan UKM Yang Berdasarkan Kompetensi di

197

Kota Surakarta. Hasil Riset Diseminasi Pengkajian Kompetensi Inti Daerah. Surakarta. Teknomo Kardi, Hendro Siswanto, Sebastianus Ari Yudhanto, 1999, Penggunaan Metode Analytic Hierarchy Process dalam Menganalisa Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pemilihan Modal ke Kampus, Dimensi Teknik Sipil, Vol.1, No,1, Maret 1999, Universitas Kristen Petra, Surabaya. World Bank, 2005, Indonesia Policy Briefs, Mendukung Usaha Kecil dan Menengah, Washington DC: The World Bank.

Jurnal Ekonomi Pembangunan Vol. 9, No. 2, Desember 2008, hal. 198 - 215

ANALISIS DAMPAK OTONOMI DAERAH TERHADAP STRATEGI PENGEMBANGAN PERGURUAN TINGGI SWASTA (PTS) DI KABUPATEN SLEMAN
Rudy Badrudin Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi YKPN Yogyakarta E mail: rudy@stieykpn.ac.id

ABSTRACT This research analyze the effect of regional autonomy to the interest of college’s student candidate to continue studying in Sleman Regency which research’s samples for major program’s chosen was Accounting, Management, and Economics in UII, UAJY, UPNVY, and STIE YKPN. The result of research with Boston Consulting Group (BCG) Matrix shows that each major program in four universities and college was in different quadrant. Therefore, each university and college has to choose different development strategic specifically even for each major programs in each university and college, so that the major programs in four universities and college in Sleman Regency could grow and rise. Keywords: development strategy, BCG matrix PENDAHULUAN Prospek pendidikan tinggi di Kabupaten Sleman didasarkan perkembangan pendidikan tinggi di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta yang terjadi sesudah tahun 2001 karena pada kurun waktu tersebut telah terjadi beberapa peristiwa nasional maupun regional yang berdampak terhadap perkembangan dunia pendidikan. Beberapa peristiwa tersebut di antaranya, krisis ekonomi tahun 1998, diberlakukannya Undang-Undang tentang Otonomi Daerah pada tahun 2001, diberlakukannya Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional pada tahun 2003, dan isu-isu negatif misalnya tentang narkoba dan mahasiswa/pelajar dan sex bebas di kalangan mahasiswa di Yogyakarta dan Sleman. Di antara beberapa peristiwa tersebut, diduga pemberlakuan Undang-Undang Otonomi Daerah per 1 Januari 2001 menjadi faktorfaktor penyebab turunnya minat orang tua untuk menyekolahkan anak-anaknya kuliah di Yogyakarta dan Sleman. Krisis ekonomi yang terjadi pada tahun 1998 telah berdampak pada peningkatan jumlah pengangguran sehingga menjadi faktor negatif bagi orang tua dalam kemampuannya membiayai biaya pendidikan tinggi bagi anak-anaknya. Oleh karena itu, orang tua akan berpikir realistis dalam arti akan lebih memprioritaskan sumber keuangannya untuk membiayai kehidupan sehari-hari. Di samping itu, krisis ekonomi tersebut juga menurunkan kemampuan daya serap perusahaan dalam merekrut karyawan sehingga orang tua juga akan berpikir realistis untuk menyekolahkan anak-anaknya kuliah kalau setelah lulus dari perguruan tinggi hanya

Rudy Badrudin – Analisis Dampak Otonomi Daerah menjadi penganggur. Diberlakukannya Undang-Undang tentang Otonomi Daerah pada tahun 2001 yang lalu mengakibatkan beberapa daerah berlomba-lomba untuk mendirikan perguruan tinggi. Di samping itu, undangundang tersebut juga memunculkan pandangan sempit tentang fanatisme daerah yaitu pemerintah daerah hanya menerima calon pegawainya yang lulus dari perguruan tinggi di wilayah tersebut. Kedua hal ini tentunya akan berdampak negatif bagi perguruan tinggi di Kabupaten Sleman dalam penerimaan mahasiswa baru. Keterbatasan pemerintah pusat dalam membiayai Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sektor pendidikan khususnya pendidikan tinggi mengakibatkan beberapa perguruan tinggi negeri di antaranya Universitas Gadjah Mada (UGM) berubah statusnya menjadi badan hukum milik negara (BHMN). Status UGM menjadi BHMN yang dimulai pada tahun 2003 mengakibatkan UGM memiliki otoritas yang lebih besar dalam format penerimaan mahasiswa baru, penyusunan dan penetapkan kurikulum, serta menjadi lebih mandiri dalam menetapkan kebijakan pembiayaan pendidikan. Berdasarkan otoritas yang dimiliki UGM diharapkan UGM lebih mampu dalam memperoleh input calon mahasiswa baru (kualitas dan kuantitas) dan lebih fleksibel dalam menggali berbagai potensi sumber dana untuk pembiayaan operasional dan pengembangan UGM. Pembiayaan APBN sektor pendidikan khususnya pendidikan tinggi membutuhkan anggaran pendidikan yang cukup besar. Berdasarkan perhitungan Dirjen Dikti, ratarata biaya pendidikan seorang mahasiswa S-1 mencapai Rp9.000.000 per tahun. Rata-rata biaya pendidikan per tahun yang cukup besar tersebut tidak mungkin ditanggung oleh

199

pemerintah sendiri, artinya bagi perguruan tinggi negeri seperti UGM yang memiliki 2.300 dosen yang terdiri dari 28 persen doktor, 52 persen master, dan 20 persen sarjana dari 18 fakultas dengan 71 program studi perlu mengundang partisipasi orang tua mahasiswa dan masyarakat dalam membiayai biaya pendidikan tersebut. Otoritas UGM yang semakin besar dalam menyusun dan menetapkan kurikulum, serta menjadi lebih mandiri dalam menetapkan kebijakan pembiayaan pendidikan mengakibatkan biaya pendidikan di UGM menjadi terkesan mahal. Sebagai gambaran, seorang mahasiswa S-1 UGM non-eksakta mengeluarkan biaya pendidikan sekitar Rp8.500.000 per tahun sedangkan seorang mahasiswa S-1 UGM eksakta mengeluarkan biaya pendidikan sekitar Rp9.900.000 per tahun. Untuk mahasiswa S-1 UGM Fakultas Kedokteran mengeluarkan biaya pendidikan Rp12.100.000 per tahun. Biaya pendidikan itu di luar SPMA (dibayar sekali selama menjadi mahasiswa) yang bervariatif per program studi per fakultas. Misalnya, SPMA Fakultas Biologi bervariasi antara Rp1.000.000 (alternatif 1), Rp2.000.000 (alternatif 2), Rp4.000.000 (alternatif 3), dan Rp6.000.000 (alternatif 4). Fakultas Ekonomi dan Kedokteran merupakan dua fakultas yang mematok SPMA paling mahal, dari termurah Rp10.000.000 sampai dengan termahal Rp50.000.000. Sebagai pembanding, seorang mahasiswa baru PTS ternama di Kabupaten Sleman pada tahun 2003, membayar biaya pendidikan SPP Tetap Rp1.000.000 per semester, SPP Variabel Rp40.000 per sks, dan Sumbangan Pengembangan Akademik (SPA) minimum Rp8.000.000.

200

Jurnal Ekonomi Pembangunan, Vol. 9, No. 2, Desember 2008 rima 25 persen dari rencana 6.000 mahasiswa baru (1.500 mahasiswa baru). Seleksi penerimaan mahasiswa baru melalui UM UGM diselenggarakan sebelum waktu pengumuman kelulusan SMU (diselenggarakan di 17 kota di Indonesia pada tanggal 22 dan 23 April 2003). Pengumuman hasil seleksi ujian masuk melalui jalur UM UGM akan dilakukan pada akhir Mei 2003. Bagi calon mahasiswa baru yang tidak diterima melalui jalur UM UGM masih diberi kesempatan untuk mengikuti seleksi melalui jalur SPMB yang akan diselenggarakan pada bulan Juni 2003. Pengumuman hasil seleksi ujian masuk melalui jalur SPMB (UGM) dilakukan pada akhir bulan Juli atau awal bulan Agustus. Seluruh mahasiswa baru yang diterima di UGM melalui seleksi UM UGM dan SPMB harus membayar Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP) sebesar Rp500.000 per semester dan Biaya Operasional Pendidikan (BOP) sebesar Rp500.00 untuk mahasiswa fakultas noneksakta dan sebesar Rp750.000 untuk mahasiswa fakultas eksakta. Di samping membayar SPP dan BOP, mahasiswa baru juga harus membayar Sumbangan Pengembangan Mutu Akademik (SPMA) minimum sebesar Rp5.000.000 (bagi yang mampu) dan bebas terbatas (bagi yang memenuhi persyaratan akademis tetapi tidak mampu secara ekonomi). Khusus bagi calon mahasiswa baru yang diterima melalui jalur Program Swadaya, biaya pendidikan yang harus dibayarkan meliputi SPP sebesar Rp1.500.000 per semester, BOP sebesar 50.000 per sks, dan SPMA yang bervariatif terganting jenis program studi dan fakultas yang dipilih (minimum Rp5.000.000). Model pembiayaan

Otoritas yang dimiliki UGM dalam penerimaan mahasiswa baru mulai diterapkan pada tahun 2003, yaitu dengan mengadakan perubahan format ujian masuk. Format ujian masuk tahun sebelumnya adalah calon mahasiswa baru yang melalui jalur tes harus mengikuti ujian seleksi penerimaan mahasiswa baru (SPMB) yang diselenggarakan bersama dengan perguruan tinggi negeri lain secara nasional, sedangkan calon mahasiswa baru yang melalui jalur penjaringan bibit berprestasi dan penjaringan dengan sistem kemitraan (Sistem Penjaringan atau SP) harus mengikuti seleksi yang diselenggarakan tersendiri oleh fakultas di lingkungan UGM. Semua seleksi tersebut (SPMB dan SP) diselenggarakan setelah waktu pengumuman kelulusan SMU, sedangkan pengumuman hasil seleksi SPMB dan SP perguruan tinggi negeri (UGM) dilaksanakan pada akhir bulan Juli atau awal bulan Agustus. Seluruh mahasiswa baru yang diterima di UGM, baik melalui jalur SPMB maupun SP harus membayar Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP) sebesar Rp500.000 per semester dan Biaya Operasional Pendidikan (BOP) sebesar Rp500.00 untuk mahasiswa fakultas non-eksakta dan sebesar Rp750.000 untuk mahasiswa fakultas eksakta. Format ujian masuk mulai tahun 2003 adalah calon mahasiswa baru yang melalui jalur tes harus mengikuti ujian masuk UGM yang pelaksanaannya dilakukan oleh UGM sendiri (disebut Ujian Masuk UGM atau UM UGM) dan bersama dengan perguruan tinggi negeri lain secara nasional (disebut SPMB). Seleksi melalui jalur UM UGM menerima 75 persen dari rencana 6.000 mahasiswa baru (4.000 mahasiswa baru melalui jalur UM UGM dan 500 mahasiswa melalui jalur SP), sedangkan seleksi melalui jalur SPMB mene-

Rudy Badrudin – Analisis Dampak Otonomi Daerah pendidikan di UGM untuk mahasiswa baru tahun 2003 ditunjukkan pada Tabel 1. Secara keseluruhan, ada 5 perguruan tinggi negeri yang berdomisili di Kabupaten Sleman, yaitu Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, Akademi Angkatan Udara

201

(AAU) Adisucipto, dan Sekolah Tinggi Pertanahan Negara (STPN). Data jumlah mahasiswa baru yang mendaftar, diterima, dan jumlah keseluruhan di 5 perguruan tinggi negeri tersebut pada tahun 2002 ditunjukkan pada Tabel 2. Prediksi pendidikan tinggi perguruan tinggi swasta untuk jumlah mahasiswa

Tabel 1. Biaya Pendidikan untuk Mahasiswa Baru UGM Tahun 2003
Nomor
1 2 3

Keterangan
SPP BOP SPMA

Program Reguler
Rp500.000/semester Rp500.000/semester (non-eksakta) Rp750.000/semester (eksakta) 1. Rp1.000.000 s.d. Rp4.000.000 (Bebas terbatas bagi calon mahasiswa yang memenuhi persyaratan akademis, tetapi tidak mampu secara ekonomi). 2. Minimum Rp5.000.000 (bagi yang mampu)

Program Swadaya
Rp1.500.000/semester Rp50.000/sks (khusus bagi program studi Teknik Pertanian Rp100.000/sks)
SPMA minimum (Rp000.000) 5 5 8 6 5 10

No. 1 2 3 4 5 6

Program Studi Ilmu Filsafat Ilmu Hukum Ilmu Komputer Kimia Psikologi Program Lain

Fakultas Filsafat Hukum MIPA MIPA Psikologi Studinya

4

Pola Seleksi

1. Penjaringan Bibit Berprestasi 2. Penjaringan Sistem Kemitraan 3. Seleksi Tulis (UM UGM dan SPMB)

Seleksi Tulis yang waktunya tergantung fakultas penyelenggara program swadaya.

Sumber: http://web.ugm.ac.id/um-ugm/um-ugm-php.

Tabel 2. Jumlah Mahasiswa Baru yang Mendaftar, Diterima, dan Jumlah Mahasiswa Total di Perguruan Tinggi Negeri, Tahun 2002
Nomor 1 2 3 4 5 PTS Pendaftar UGM UNY UIN SUKA AAU ADISUCIPTO STPN Jumlah 193.496 2.930 1.763 926 199.115 2002 Diterima 8.098 4.697 2.190 162 301 15.448 Jumlah Total 50.172 10.453 10.650 452 717 72.444

Sumber: Sleman dalam Angka Tahun 2002, BPS Kabupaten Sleman

202

Jurnal Ekonomi Pembangunan, Vol. 9, No. 2, Desember 2008 nyak 94,9 persen responden mengatakan bahwa biaya pendidikan di perguruan tinggi di kota Yogyakarta dan Sleman mahal. Mahalnya biaya pendidikan di perguruan tinggi di Yogyakarta dan Sleman akan berdampak terhadap turunnya daya saing kota Yogyakarta dan Sleman dalam kompetisi penerimaan mahasiswa baru. Mahalnya biaya pendidikan di Yogyakarta dan Sleman dibuktikan pula dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Bank Indonesia (BI) Yogyakarta, yaitu selama tahun 2000-2002 biaya hidup mahasiswa di Yogyakarta rata-rata naik 8,78 persen per tahun dan di tahun 2003 diperkirakan naik 9,12 persen sehingga biaya hidup mahasiswa tahun 2002 yang sebanyak Rp8,83 juta per tahun menjadi Rp9,63 juta per tahun pada tahun 2003 atau sebanyak Rp802.549 per bulan. Komponen terbesar yang mengakibatkan kenaikan biaya hidup mahasiswa pada tahun 2003 adalah kenaikan biaya pendidikan sebanyak 11,11 persen dan kenaikan biaya kos sebanyak 8,11 persen (Kompas, 12 April 2004, hal. A). Turunnya jumlah penerimaan mahasiswa baru yang berdampak terhadap jumlah mahasiswa total pada akhirnya akan berdampak terhadap roda perekonomian Propinsi DIY. Hal ini dibuktikan dengan hasil survei BI pada triwulan II tahun 2003 yang menunjukkan bahwa banyaknya uang yang dibelanjakan oleh mahasiswa dalam 1 tahun mencapai Rp2,94 triliun atau 17,7 persen dari perputaran uang di Yogyakarta dan Sleman. Promosi negatif (depromotion) bagi penerimaan mahasiswa baru di Yogyakarta dan Sleman, selain faktor biaya pendidikan juga isu Yogyakarta dan Sleman sebagai kota narkoba nomor 3 di Indonesia. Menurut Dinas Sosial Propinsi DIY, di DIY ada lebih

pendaftar, mahasiswa baru yang diterima, dan mahasiswa total mempunyai kecenderungan menurun pada tahun 2005-2009. Beberapa faktor sebagai penyebab turunnya mahasiswa pendaftar, mahasiswa baru yang diterima, dan mahasiswa total adalah mahalnya biaya pendidikan dan isu narkoba yang terjadi di Yogyakarta dan Sleman. Mahalnya biaya pendidikan di perguruan tinggi negeri maupun swasta dirasakan di berbagai kota di Indonesia, termasuk Yogyakarta dan Sleman. Beberapa tahun yang lalu, Yogyakarta dan Sleman dikenal sebagai Kota Pendidikan dengan biaya hidup yang relatif murah dibandingkan dengan kota-kota lainnya. Tetapi sebutan itu tidak berlaku lagi sekarang. Hal ini dibuktikan dengan hasil survei terhadap 875 orang yang dilakukan oleh Litbang Kompas pada tahun 2003 diperoleh hasil sebagai berikut (Tabel 3) Tabel 3. Survei Biaya Pendidikan di Perguruan Tinggi di Berbagai Kota, Tahun 2003
Kota Responden Jakarta Yogyakarta (Sleman) Surabaya Medan Padang Banjarmasin Pontianak Manado Makassar Jayapura Murah (%) 6,9 0,0 6,9 11,4 38,5 15,0 13,6 12,5 7,0 30,4 Sedang (%) 22,1 5,1 24,4 24,3 23,1 45,0 45,5 8,3 20,9 8,7 Mahal (%) 71,0 94,9 68,8 64,3 38,5 40,0 40,9 79,2 72,1 60,9

Sumber: Kompas, 22 Juni 2003, hal. 32.

Berdasarkan Tabel 3, nampak tidak ada responden yang mengatakan bahwa biaya pendidikan di perguruan tinggi di kota Yogyakarta dan Sleman murah dan nampak seba-

Rudy Badrudin – Analisis Dampak Otonomi Daerah Tabel 4. Jumlah Mahasiswa Pendaftar, Diterima, dan Total di Perguruan Tinggi Swasta Propinsi DIY, Tahun 2001-2003
Nomor Jenis PTS 2001 2002 2003

203

Pendaf- Diterima Jumlah Pendaf- Diterima Jumlah Pendaf- Diterima Jumlah tar Total tar Total tar Total 1 2 3 4 5 Universitas 98,179 Institut 3,146 Sekolah Tinggi 17,297 Politeknik 1,813 8,163 Akademi Total 28,598 27,408 107,469 87,948 2,153 7,530 2,880 11,866 38,092 16,263 1,274 405 3,913 5,238 14,404 9,010 47,939 167,900 120,014 22,844 91,846 88,272 1,879 4,790 2,671 8,712 24,242 16,606 2,598 3,457 4,426 4,844 12,799 8,626 40,877 137,134 20,601 34,274 118,039 2,000 8,715 11,151 39,272 2,383 6,607 5,164 16,146 54,972 188,779

Sumber: Kopertis V Propinsi DIY. Data diolah

kurang 24.000 orang pengguna narkoba dan 50 persennya adalah pelajar dan mahasiswa. Jumlah yang cukup banyak tersebut akan semakin meningkat di tahun-tahun mendatang apabila tidak ada upaya pencegahan untuk itu. Perda DIY Nomor 3 tahun 2000 tentang Penanggulangan dan Pemberantasan Penyalahgunaan Narkotika dan Zat Aditif hanya menjadi “macan ompong” yang kurang mempunyai kekuatan dalam pencegahan penyalahgunaan narkoba. Hal ini dapat kita lihat dalam praktiknya apakah perguruan tinggi sudah melakukan seleksi terhadap mahasiswa baru berkaitan dengan tes narkoba (Kedaulatan Rakyat, 27-29 April 2004, hal. 20). Apabila data jumlah mahasiswa pendaftar, mahasiswa baru yang diterima, dan mahasiswa total PTS di Kopertis Wilayah V Propinsi DI Yogyakarta selama tahun 20012003 dikelompokkan berdasarkan jenis pendidikan tinggi menurut universitas, institut, sekolah tinggi, politeknik, dan akademi maka akan nampak data PTS pada Tabel 4.

Berdasarkan Tabel 4, nampak jumlah pendaftar selama tahun 2001-2002 semakin menurun. Penurunan jumlah pendaftar bagi perguruan tinggi swasta akan berdampak pada pola seleksi penerimaan mahasiswa baru yang semakin tidak berkualitas apabila perguruan tinggi swasta mempertahankan jumlah mahasiswa yang diterima. Artinya rasio jumlah mahasiswa pendaftar dan yang diterima akan semakin meningkat angka persentasenya. Hal ini ditunjukkan pada Tabel 5. Berdasarkan Tabel 5, nampak total rasio mahasiswa pendaftar dan diterima selama tahun 2001-2003 persentasenya semakin meningkat, yaitu dari 37,28 persen pada tahun 2001 menjadi 45,58 persen pada tahun 2003. Pola peningkatan rasio ini berlaku juga untuk seluruh jenis pendidikan tinggi, kecuali jenis politeknik yang rasionya semakin menurun, yaitu dari 70,27 persen pada tahun 2001, 66,39 persen pada tahun 2002, dan 53,80 persen pada tahun 2003. Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan tinggi jenis politeknik merupakan jenis pendidikan tinggi

204

Jurnal Ekonomi Pembangunan, Vol. 9, No. 2, Desember 2008 Tabel 5. Rasio Jumlah Mahasiswa Pendaftar dan Diterima di Kopertis V, Tahun 2001-2003

Nomor

Jenis PTS Universitas Institut SekolahTinggi Politeknik Akademi TOTAL

2001

2002

2003 Rasio 38.83% 74.88% 67.15% 53.8% 59.87%

Pendaftar Diterima Rasio Pendaftar Diterima Rasio Pendaftar Diterima 98,179 3,146 17,297 1,813 8,163 128,598 27,408 2,153 11,866 1,274 5,238 27.92% 68.44% 68.60% 70.27% 64.17% 87,948 2,880 16,263 3,913 9,010 120,014 22,844 1,879 8,712 2,598 4,844 25.97% 65.24% 53.57% 66.39% 53.76% 88,272 2,671 16,606 4,426 8,626 120,601 34,274 2,000 11,151 2,383 5,164

1 2 3 4 5

47,939 37.28%

40,877 34.06%

54,972 45.58%

Sumber: Kopertis V Propinsi DIY. Data diolah berdasarkan Tabel 4.

yang paling diminati para lulusan SMA karena kurikulumnya lebih aplikatif daripada jenis pendidikan tinggi lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak otonomi daerah terhadap strategi pengembangan perguruan tinggi swasta (PTS) di Kabupaten Sleman. Penelitian dilakukan dengan menggunakan sampel empat PTS besar berdasarkan jumlah mahasiswa dan berlokasi yang saling berdekatan di Kecamatan Depok. Penelitian dilakukan berdasarkan perkembangan data jumlah mahasiswa baru setelah pemberlakuan otonomi daerah per 1 Januari 2001, yaitu mulai tahun 2002 sampai dengan 2007. METODE PENELITIAN Perguruan Tinggi Swasta (PTS) menghadapi perubahan eksternal yang sangat cepat. Perubahan eksternal tersebut mengakibatkan persaingan antarperguruan tinggi negeri dan swasta menjadi sangat ketat. PTS yang dapat memilih strategi yang tepat akan mampu memenangkan persaingan tersebut. Untuk mengantisipasi perubahan yang sangat cepat tersebut, PTS harus mampu menerapkan

model manajemen dengan paradigma baru karena dengan paradigma baru, manajemen PTS dapat melakukan perbaikan dan peningkatan kualitas yang ditujukan untuk memenuhi customer satisfaction (kepuasan perusahaan perekrut lulusan PTS). Paradigma baru diperlukan untuk mengatasi perubahan yang terjadi dalam lingkungan eksternal dan bagaimana mengelola perubahan tersebut. Managerial paradigm menunjukkan cara orang berpikir dan bertindak dalam mengelola perguruan tinggi. Apabila dalam mengelola PTS, pengurus PTS menghadapi kenyataan-kenyataan yang dapat mengancam kelangsungan hidup dan prospek PTS di masa depan, maka pengurus PTS perlu untuk segera mengubah paradigmanya dengan paradigma baru (Bounds, Greg, et al., 1994, hal. 28). Pergeseran paradigma tersebut ditujukan untuk menyediakan superior customer value melalui customer value strategy, organizational systems, dan continuous improvement. Customer value strategy adalah strategi bisnis yang berupa penawaran nilai kepada customer yang di dalamnya tidak hanya berupa produk, tetapi juga berupa karakte-

Rudy Badrudin – Analisis Dampak Otonomi Daerah ristik produk, pendistribusian produk, dan sebagainya (Bounds, Greg, et al., 1994, hal. 29). Customer value adalah kombinasi manfaat yang berasal dari suatu produk dan pengorbanan yang diperlukan customer dalam memenuhi kebutuhannya atau selisih antara manfaat yang diperoleh customer dari penggunaan produk dengan pengorbanan yang dilakukan customer untuk memperoleh manfaat tersebut. Salah satu pergeseran paradigma dari paradigma lama ke paradigma baru dalam customer value strategy adalah tentang topik tentang kualitas. Dalam paradigma lama, manajemen mendefinisikan kualitas dengan pencapaian yang telah ditentukan. Kualitas dijamin dengan seleksi produk sebelum dikirim ke customer. Manajemen membuat tradeoff antara kualitas, biaya, dan skedul. Dalam paradigma baru manajemen mendefinisikan bahwa kualitas produk hanya merupakan salah satu bagian dari customer value. Manajemen mencari sinergi antara kualitas, biaya, dan skedul. Untuk memiliki kemampuan bertahan, berkembang, dan memenangkan persaingan yang ketat dalam era bisnis global, organisasi bisnis harus mengarahkan semua kegiatannya untuk menghasilkan customer value. Organizational systems adalah sarana yang menyediakan customer value. Termasuk dalam sistem ini adalah input material dan sumberdaya manusia, teknologi proses, metode operasi dan praktik kerja, aliran aktivitas kerja, aliran informasi, dan proses pengambilan keputusan. Dalam organizational systems, ada pergeseran paradigma dalam memandang cross functional approach, tehnologi, pelibatan karyawan, manajemen sumberdaya manusia,definisi peraturan, kultur, dan struktur. Misalnya, paradigma baru dalam memandang teknologi adalah

205

teknologi digunakan untuk mengurangi kompleksitas masalah terlebih dengan menggunakan teknologi yang otomatis dan serba komputer dan manajemen menggunakan teknologi hanya untuk mengotimalkan sistem yang menghasilkan customer value. Paradigma baru dalam memandang pelibatan karyawan adalah karyawan dilibatkan dalam kegiatan PTS yang berfokus pada strategi untuk memuasi customer. Pelibatan karyawan dilakukan dengan cara memperdayakan mereka melalui continuous improvement, agar mampu memberikan kontribusi bagi PTS dan menghasilkan kepuasan customer. Continuous improvement digunakan untuk mengelola perubahan dalam lingkungan eksternal agar PTS dapat membuat keadaan menjadi lebih baik. Improvement dalam paradigma lama dilakukan yang utama pada pengembangan produk baru dan reaksi terhadap masalah yang muncul. Improvement dalam paradigma baru dilakukan pada setiap waktu dan di manapun. Manajemen secara proaktif mengadakan perbaikan pada setiap ada kesempatan meskipun tidak ada masalah yang muncul. PTS menggunakan continuous improvement secara berkelanjutan terhadap proses dan sistem yang digunakan untuk menghasilkan customer value dengan tingkat improvement yang lebih pesat dibandingkan improvement yang dilakukan PTS pesaing. Intensitas superior customer value melalui customer value strategy, organizational systems, dan continuous improvement ditentukan oleh keunggulan masing-masing PTS yang dapat dianalisis menggunakan matriks pertumbuhan-pangsa pasar (growthshare matrix – GS Matrix). GS Matrix atau Boston Consultant Group Matrix/BCG Matrix memiliki empat kuadran yang dipisahkan oleh dua sumbu, yaitu sumbu

206

Jurnal Ekonomi Pembangunan, Vol. 9, No. 2, Desember 2008 UK Petra dan Ubaya sebaiknya melaksanakan strategi integrasi horizontal. Strategi tersebut dapat dijadikan acuan penyusunan strategi jangka panjang dalam rangka pengembangan masing-masing PTS, sehingga diharapkan pengembangannya akan semakin terarah, terfokus, efektif, dan efisien dalam mencapai visi dan misi organisasi. Algifari dan Rudy Badrudin (2003: 203213), melakukan penelitian untuk menguraikan strategi yang dapat digunakan pemerintah daerah dalam memanfaatkan keterbatasan sumberdaya untuk memperoleh hasil pembangunan yang optimal. Strategi tersebut berkaitan dengan pengidentifikasian karakteristik lokasi (dalam hal ini kecamatan), kemudian memasukkan kecamatan tersebut ke dalam suatu kelompok tertentu. Tujuannya adalah untuk menentukan strategi pembangunan yang cocok bagi masing-masing kelompok kecamatan. Pengelompokan kecamatan dilakukan dengan menggunakan model Growth-Share BCG Matrix. Setiap kecamatan diidentifikasi pertumbuhan ekonomi (growth) dan kontribusi (share) PDRB kecamatan terhadap PDRB kabupaten. Hasil identifikasi menunjukkan bahwa tidak satu pun kecamatan di Kabupaten Sleman yang memiliki pertumbuhan tinggi dan kontribusi tinggi. Kecamatan Cangkringan, Ngemplak, Pakem, Prambanan, dan Turi memiliki kontribusi yang tinggi bagi PDRB kabupaten, namun pertumbuhan ekonominya rendah. Kecamatan Depok, Gamping, Malti, Ngaglik, dan Sleman memiliki pertumbuhan ekonomi tinggi, namun kontribusi bagi PDRB kabupaten rendah. Sedangkan kecamatan Berbah, Godean, Kalasan, Minggi, Moyudan, Seyegan, dan Tempel termasuk ke dalam kelompok yang memberikan kontribusi rendah bagi

vertikal dan sumbu horisontal. Sumbu vertikal menunjukkan kontribusi PTS terhadap PTS keseluruhan di Kabupaten Sleman dan sumbu horisontal menunjukkan laju pertumbuhan PTS. Kontribusi suatu PTS diukur dari kontribusi persentase jumlah mahasiswa PTS tersebut terhadap jumlah mahasiswa PTS keseluruhan di Kabupaten Sleman. Sedangkan laju pertumbuhan PTS diukur dari persentase perubahan jumlah mahasiswa PTS tersebut dari tahun ke tahun. Andriani, Lis HR (2001), menggunakan BCG Matrix untuk meneliti 9 (sembilan) PTS di Kota Surabaya yang mempunyai Fakultas Ekonomi Jurusan Manajemen dengan status terakreditasi B berdasarkan data Direktori Kopertis Wilayah VII, Tahun 1999. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan posisi keunggulan kompetitif masingmasing PTS berdasarkan faktor-faktor keberhasilan kritis internal maupun eksternal yang dimilikinya, serta menentukan strategi apa yang paling sesuai untuk diterapkan berdasarkan posisi tersebut. Penelitian ini menggunakan metode analisis kualitatif, yaitu analisis BCG Matrix. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertama, Unika Widya Mandala, UK Petra, dan Ubaya berada pada posisi yang sangat menguntungkan yaitu terletak di kuadran 1, sementara keenam PTS lainnya berada pada kuadran 2, yang berarti memiliki posisi cukup menguntungkan. Kedua, alternatif strategi yang dapat diterapkan untuk masing-masing PTS adalah sebagai berikut: Unika Widya Mandala sebaiknya melakukan strategi pengembangan pasar; Untag, UPB, UPN "Veteran" Surabaya, dan Ubhara dianjurkan untuk menerapkan strategi pengembangan produk; Unitomo dengan strategi integrasi ke belakang; Unipra menggunakan strategi penetrasi pasar; dan

Rudy Badrudin – Analisis Dampak Otonomi Daerah PDRB kabupaten dan juga memiliki pertumbuhan ekonomi yang rendah. Prasetiyo, Yudo Agus (2004), melakukan penelitian tentang Analisis Penetapan Strategi Perusahaan Guna Meningkatkan Daya Saing Pada PT Cipta Niaga Dengan Analisis SWOT, BCG Matrix, dan analisis lainnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam kondisi persaingan bisnis yang sangat ketat seperti saat ini dibutuhkan informasi yang cepat dan metode analisis yang akurat. Pada persaingan yang semakin ketat karena keadaan pasar yang terbuka dan kondisi ekonomi yang belum stabil diperlukan strategi yang tepat untuk melanjutkan kelangsungan perusahaan untuk meningkatkan daya saing perusahaan PT Cipta Niaga Palembang yang bergerak pada bidang distribusi barang-barang kebutuhan rumah tangga (customer good).Sebagai kompetitor, PT A bergerak dalam bidang yang sama. Tujuan yang ingin dicapai pada penelitian ini adalah untuk menganalisis tingkat pemasaran dan menentukan strategi yang tepat untuk meningkatkan daya saing terhadap perusahaan yang sejenis yang ada pada pasar domestik. Perumusan strategi perusahaan dilakukan dengan menggunakan analisis SWOT, BCG Matrix, dan analsis lainnya. Penerapan metode tersebut dilakukan dengan evaluasi dan analisis terhadap keadaan intern dan ekstern perusahaan yang meliputi peluang, ancaman, kekuatan, kelemahan, kekuatan bisnis, daya tarik industri, dan faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan kedua perusahaan. Berdasarkan hasil evaluasi diperoleh alternatif strategi untuk masing-masing perusahaan, yaitu untuk PT Cipta Niaga adalah strategi market growth dan untuk PT A adalah strategi market development.

207

Dalam rangka merangsang pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat, Pemerintah Kabupaten Sleman menerapkan pemasaran wilayah (marketing place) bagi fokus potensi ETI (Education, Tourism dan Investment). Strategi ini diperlukan sebagai value indicator yang akan memberikan pesan yang kuat kepada stakeholder. Kabupaten Sleman sebagai daerah tujuan pendidikan mempunyai atmosfer intelektual yang sangat kuat. Di Kabupaten Sleman terdapat 37 perguruan tinggi yang terdiri dari 5 Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan 32 Perguruan Tinggi Swasta (PTS), dengan mahasiswa lebih dari 150.000 orang, terkonsentrasi di Kecamatan Depok (4 PTN dan 19 PTS). Perguruan tinggi tersebut tumbuh dengan mahasiswa berasal dari berbagai benua untuk mempelajari berbagai disiplin ilmu dalam berbagai tingkatan strata. Sebagai barometer pendidikan, Kabupaten Sleman mempunyai fasilitas dan infrastruktur yang lengkap dan modern. Sistem pendidikan dikembangkan dengan konsep link and match yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan pasar kerja. Secara umum, perguruan tinggi di Kabupatan Sleman berorientasi pada pembentukan intellectual skill, communications skill, dan interpersonal skill untuk menghasilkan sumber daya manusia (SDM) yang memiliki etos kerja profesional yang dibutuhkan di era bisnis global. Untuk itu, Kabupaten Sleman menyediakan zona dan fasilitas pembangunan kampus yang dapat mendukung proses belajar mengajar seperti student housing, auditorium, fasilitas olah raga indoor/outdoor, jaringan infrastuktur, dan utilitas. Sistem informasi juga diciptakan untuk membangun networking antara kampus dengan customer.

208

Jurnal Ekonomi Pembangunan, Vol. 9, No. 2, Desember 2008 melakukan spesialisasi diharapkan penggunaan sumberdaya yang dimiliki PTS tidak mubajir. Salah satu cara untuk mengetahui suatu PTS memiliki keunggulan di antara PTS-PTS yang lain adalah dengan menggunakan matriks pertumbuhan-pangsa pasar (growthshare matrix – GS Matrix). GS Matrix atau Boston Consultant Group Matrix /BCG Matrix memiliki empat kuadran yang dipisahkan oleh dua sumbu, yaitu sumbu vertikal dan sumbu horisontal. Sumbu vertikal menunjukkan kontribusi PTS terhadap PTS keseluruhan di Kabupaten Sleman dan sumbu horisontal menunjukkan laju pertumbuhan PTS. Kontribusi suatu PTS diukur dari kontribusi persentase jumlah mahasiswa PTS tersebut terhadap jumlah mahasiswa PTS keseluruhan di Kabupaten Sleman. Sedangkan laju pertumbuhan PTS diukur dari persentase perubahan jumlah mahasiswa PTS tersebut dari tahun ke tahun. Lingkaran-lingkaran pada GS Matrix menunjukkan kontribusi dan laju pertumbu-

PTS di Kabupaten Sleman memiliki karakteristik berbeda satu sama lain. Perbedaan karakteristik ini disebabkan perbedaan sumberdaya yang dimiliki, baik sumberdaya fisik, sumber daya non fisik (sumberdaya manusia), ataupun sumber modal. Sumberdaya yang dimiliki oleh suatu PTS menentukan jenis produk/kegiatan yang difokuskan untuk dikembangkan. Pemilihan jenis produk/kegiatan PTS yang akan dikembangkan didasarkan pada keunggulan yang dimiliki oleh PTS tersebut. Keunggulan dapat diperoleh dari sumberdaya spesifik yang dimiliki. Jika suatu PTS memiliki sumberdaya yang spesifik dan tidak dimiliki oleh PTS lain, baik jenis, mutu, maupun jumlahnya menunjukkan bahwa PTS tersebut memiliki keunggulan memproduksi produk yang menggunakan input utama sumberdaya tersebut. Pemilihan terhadap produk yang memiliki keunggulan untuk dikembangkan oleh PTS, berarti PTS tersebut melakukan spesialisasi. Spesialisasi dalam kegiatan sektor sangat penting, mengingat sumberdaya yang dimiliki oleh PTS sangat terbatas. Dengan

Kontribusi PTS Tinggi (di atas rerata kontribusi PTS) Tinggi (di atas rerata pertumbuhan PTS) Rendah (di bawah rerata kontribusi PTS)

?
Laju Pertumbuhan PTS

Rendah (di bawah rerata pertumbuhan PTS)

Gambar 1. Matriks BCG PTS di Kabupaten Sleman

Rudy Badrudin – Analisis Dampak Otonomi Daerah han PTS. Masing-masing PTS dikelompokkan berdasarkan tinggi rendahnya kontribusi dan pertumbuhan masing-masing PTS. PTS yang memiliki kontribusi jumlah mahasiswa di atas kontribusi jumlah mahasiswa rerata dikelompokkan ke dalam PTS yang memiliki kontribusi tinggi, dan sebaliknya. Demikian juga dengan pengelompokkan PTS berdasarkan pertumbuhan jumlah mahasiswa. PTS yang memiliki pertumbuhan jumlah mahasiswa di atas rerata pertumbuhan jumah mahasiswa semua PTS dikelompokkan ke dalam kelompok PTS yang memiliki pertumbuhan tinggi, dan sebaliknya. PTS yang dipilih sebagai sampel dalam penelitian ini adakah empat PTS besar berdasarkan jumlah mahasiswa dan berlokasi yang saling berdekatan di Kecamatan Depok, yaitu Universitas Islam Indonesia (UII), Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY), Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta (UPNVY), dan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Yayasan Keluarga Pahlawan Negara Yogyakarta (STIE YKPN). Oleh karena keempat PTS tersebut memiliki Pro-

209

gram Strata 1 (S-1) Fakultas Ekonomi dengan program studi Akuntansi, Manajemen, dan Ekonomi Pembangunan sehingga dapat dibandingkan antara keempat PTS tersebut, maka sebagai obyek penelitian adalah jumlah mahasiswa baru S-1 program studi Akuntansi, Manajemen, dan Ekonomi Pembangunan. Berdasarkan data yang diakses dari Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi diperoleh data yang tersaji dalam Tabel 6. Berdasarkan Tabel 6, nampak masingmasing program studi di PTS tersebut memiliki perkembangan jumlah mahasiswa baru selama tahun 2002-2007 yang berbeda. Perbedaan ini disebabkan masing-masing program studi (PS) di PTS tersebut memiliki karakteristik yang berbeda satu sama lain karena perbedaan sumberdaya yang dimiliki, baik sumberdaya fisik, sumber daya non fisik (sumberdaya manusia), ataupun sumber modal. Berdasarkan uraian tersebut, peneliti menyimpulkan bahwa:

Tabel 6. Jumlah Mahasiswa Baru Empat PTS di Kabupaten Sleman, Tahun 2002-2007
Program Studi (PS) S-1 Akuntansi S-1 Manajemen S-1 Ekonomi Pemb. S-1 Akuntansi S-1 Manajemen S-1 Ekonomi Pemb. S-1 Akuntansi S-1 Manajemen S-1 Ekonomi Pemb. S-1 Akuntansi S-1 Manajemen S-1 Ekonomi Pemb.
Sumber: http://www.evaluasi.or.id.

2002 UII 444 502 122

2003 413 509 125

2004 452 486 105 272 296 52 320 541 57 566 337 22

2005 447 487 77 276 272 27 320 386 47 500 275 6

2006 524 399 39 283 274 30 278 371 69 295 127 5

2007 497 368 71 231 238 31 379 168 11

UAJY 314 283 306 300 57 142 UPNVY 363 413 845 769 239 139 STIEYKPN 594 509 579 418 23 15

210

Jurnal Ekonomi Pembangunan, Vol. 9, No. 2, Desember 2008 studi Ekonomi Pembangunan di UII, UAJY, UPNVY, dan STIE YKPN. Pengujian hipotesis dilakukan menggunakan model anova satu arah. Model arah ini digunakan untuk pengujian perbedaan antara k rata-rata sampel apabila subyek-subyek penelitian ditentukan secara random pada setiap grup atau kelompok perlakuan yang ditentukan (Subiyakto, 2004: 41). Dalam penelitian ini α ditetapkan sebesar 5 persen. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Berdasarkan data jumlah mahasiswa baru selama tahun 2002-2007 pada masingmasing program studi di PTS tersebut (Tabel 6), maka dapat dihitung kontribusi jumlah mahasiswa baru selama tahun 2002-2007 pada masing-masing program studi di PTS tersebut yang hasilnya ditunjukkan pada Tabel 7. Berdasarkan data jumlah mahasiswa baru selama tahun 2002-2007 pada masing-

H1: ada perbedaan rata-rata kontribusi jumlah mahasiswa baru pada program studi Akuntansi di UII, UAJY, UPNVY, dan STIE YKPN. H2: ada perbedaan rata-rata kontribusi jumlah mahasiswa baru pada program studi Manajemen di UII, UAJY, UPNVY, dan STIE YKPN. H3: ada perbedaan rata-rata kontribusi jumlah mahasiswa baru pada program studi Ekonomi Pembangunan di UII, UAJY, UPNVY, dan STIE YKPN. H4: ada perbedaan rata-rata pertumbuhan jumlah mahasiswa baru pada program studi Akuntansi di UII, UAJY, UPNVY, dan STIE YKPN. H5: ada perbedaan rata-rata pertumbuhan jumlah mahasiswa baru pada program studi Manajemen di UII, UAJY, UPNVY, dan STIE YKPN. H6: ada perbedaan rata-rata pertumbuhan jumlah mahasiswa baru pada program

Tabel 7. Kontribusi Jumlah Mahasiswa Baru Empat PTS di Kabupaten Sleman, Tahun 2002-2007
Program Studi (PS) S-1 Akuntansi S-1 Manajemen S-1 Ekonomi Pemb. S-1 Akuntansi S-1 Manajemen S-1 Ekonomi Pemb. S-1 Akuntansi S-1 Manajemen S-1 Ekonomi Pemb. S-1 Akuntansi S-1 Manajemen S-1 Ekonomi Pemb.
Sumber: Diolah dari Tabel 6.

2002 25.89% 22.49% 27.66% 18.31% 13.71% 12.93% 21.17% 37.86% 54.20% 34.64% 25.94% 5.22%

2003 25.53% 25.50% 29.69% 17.49% 15.03% 33.73% 25.53% 38.53% 33.02% 31.46% 20.94% 3.56%

2004 UII 28.07% 29.28% 44.49% UAJY 16.89% 17.83% 22.03% UPNVY 19.88% 32.59% 24.15% STIE YKPN 35.16% 20.30% 9.32%

2005 28.97% 34.30% 49.04% 17.89% 19.15% 17.20% 20.74% 27.18% 29.94% 32.40% 19.37% 3.82%

2006 37.97% 34.07% 27.27% 20.51% 23.40% 20.98% 20.14% 31.68% 48.25% 21.38% 10.85% 3.50%

2007 44.90% 47.55% 62.83% 20.87% 30.75% 27.43% 0.00% 0.00% 0.00% 34.24% 21.71% 9.73%

rata-rata 31.89% 32.20% 40.17% 18.66% 19.98% 22.38% 17.91% 27.97% 31.59% 31.54% 19.85% 5.86%

Rudy Badrudin – Analisis Dampak Otonomi Daerah masing program studi di PTS tersebut (Tabel 6), maka dapat dihitung pertumbuhan jumlah mahasiswa baru selama tahun 2002-2007 pada masing-masing program studi di PTS tersebut yang hasilnya ditunjukkan pada Tabel 8.

211

Berdasarkan data pada Tabel 7 dan Tabel 8, maka dapat disarikan nilai kualitatif kontribusi dan pertumbuhan jumlah mahasiswa empat PTS di Kabupaten Sleman seperti yang nampak pada Tabel 9. Berdasarkan Tabel 9, maka dapat di-

Tabel 8. Pertumbuhan Jumlah Mahasiswa Baru Empat PTS di Kabupaten Sleman, Tahun 2002-2007
Program Studi (PS) S-1 Akuntansi S-1 Manajemen S-1 Ekonomi Pemb. S-1 Akuntansi S-1 Manajemen S-1 Ekonomi Pemb. S-1 Akuntansi S-1 Manajemen S-1 Ekonomi Pemb. S-1 Akuntansi S-1 Manajemen S-1 Ekonomi Pemb. 2003 -6.98% 1.39% 2.46% -9.87% -1.96% 149.12% 13.77% -8.99% -41.84% -14.31% -27.81% -34.78% 2004 UII 9.44% -1.11% -4.52% 0.21% -16.00% -26.67% UAJY -3.89% 1.47% -1.33% -8.11% -63.38% -48.08% UPNVY -22.52% 0.00% -29.65% -28.65% -58.99% -17.54% STIE YKPN 11.20% -11.66% -19.38% -18.40% 46.67% -72.73% 17.23% -18.07% -49.35% 2.54% 0.74% 11.11% -13.13% -3.89% 46.81% -41.00% -53.82% -16.67% -5.15% -7.77% 82.05% -18.37% -13.14% 3.33% 28.47% 32.28% 120.00% 2.69% -5.75% -1.50% -5.63% -4.76% 10.42% -5.47% -17.79% -17.89% -5.46% -17.42% 8.50% 2005 2006 2007 rata-rata

Sumber: Diolah dari Tabel 6.

Tabel 9. Pertumbuhan dan Kontribusi Empat PTS di Kabupaten Sleman, 2002-2007
Program Studi S-1 Akuntansi S-1 Manajemen S-1 Ekonomi Pemb. S-1 Akuntansi S-1 Manajemen S-1 Ekonomi Pemb. S-1 Akuntansi S-1 Manajemen S-1 Ekonomi Pemb. S-1 Akuntansi S-1 Manajemen S-1 Ekonomi Pemb.
Sumber: Diolah dari Tabel 7 dan Tabel 8.

Pertumbuhan UII tinggi tinggi rendah UAJY rendah tinggi tinggi UPNVY rendah rendah rendah STIE YKPN rendah rendah tinggi

Kontribusi Tinggi Tinggi Tinggi Rendah Rendah Rendah Rendah Tinggi Tinggi Tinggi rendah Rendah

212

Jurnal Ekonomi Pembangunan, Vol. 9, No. 2, Desember 2008 berarti signifikan pada α = 0,05. Ini berarti hipotesis yang menyatakan bahwa ada perbedaan rata-rata kontribusi jumlah mahasiswa baru pada program studi Ekonomi Pembangunan di UII, UAJY, UPNVY, dan STIE YKPN diterima. Nilai F test H4 adalah 0,29 dengan nilai P value = 0,8313 yang berarti tidak signifikan pada α = 0,05. Ini berarti hipotesis yang menyatakan bahwa ada perbedaan rata-rata pertumbuhan jumlah mahasiswa baru pada program studi Akuntansi di UII, UAJY, UPNVY, dan STIE YKPN ditolak. Nilai F test H5 adalah 0,62 dengan nilai P value = 0,6135 yang berarti tidak signifikan pada α = 0,05. Ini berarti hipotesis yang menyatakan bahwa ada perbedaan rata-rata pertumbuhan jumlah mahasiswa baru pada program studi Manajemen di UII, UAJY, UPNVY, dan STIE YKPN ditolak. Nilai F test H6 adalah 0,15 dengan nilai P value = 0,9274 yang berarti tidak signifikan pada α = 0,05. Ini berarti hipotesis yang menyatakan bahwa ada perbedaan rata-rata pertumbuhan jumlah mahasiswa baru pada program studi Ekonomi Pembangunan di UII, UAJY, UPNVY, dan STIE YKPN ditolak Berdasarkan Gambar 2, PTS yang terletak pada kuadran satu (bergambar ?) menunjukkan bahwa PTS tersebut mempunyai

gambarkan posisi masing-masing Program Studi Akuntansi, Manajemen, dan Ekonomi Pembangunan di UII, UAJY, UPNVY, dan STIE YKPN dalam Matriks BCG seperti yang nampak pada Gambar 2. Hasil pengujian hipotesis untuk mengetahui signifikan tidaknya perbedaan rata-rata kontribusi dan pertumbuhan jumlah mahasiswa baru pada masing-masing program studi Akuntansi, Manajemen, dan Ekonomi Pembangunan di UII, UAJY, UPNVY, dan STIE YKPN dengan Anova satu arah pada tingkat signifikansi sebesar 0,05 . (Tabel 9) Berdasarkan Tabel 10 nampak nilai F test H1 adalah 8,41 dengan nilai P value = 0,0008 yang berarti signifikan pada α = 0,05. Ini berarti hipotesis yang menyatakan bahwa ada perbedaan rata-rata kontribusi jumlah mahasiswa baru pada program studi Akuntansi di UII, UAJY, UPNVY, dan STIE YKPN diterima. Nilai F test H2 adalah 2,59 dengan nilai P value = 0,0816 yang berarti tidak signifikan pada α = 0,05. Ini berarti hipotesis yang menyatakan bahwa ada perbedaan rata-rata kontribusi jumlah mahasiswa baru pada program studi Manajemen di UII, UAJY, UPNVY, dan STIE YKPN ditolak. Nilai F test H3 adalah 8,07 dengan nilai P value = 0,0010 yang

Tabel 10. Hasil Pengujian Hipotesis dengan Anova
Hipotesis H1 H2 H3 H4 H5 H6 F test 8,41 2,59 8,07 0,29 0,62 0,15 P value 0,0008 0,0816 0,0010 0,8313 0,6135 0,9274 Pengujian signifikan tidak signifikan signifikan tidak signifikan tidak signifikan tidak signifikan

Sumber: Tabel 7 dan 8. Data diolah.

Rudy Badrudin – Analisis Dampak Otonomi Daerah kontribusi rendah, tetapi laju pertumbuhan tinggi. PTS yang terletak pada kuadran satu ini memiliki peluang pasar yang besar. Hal ini ditunjukkan oleh pertumbuhan yang tinggi di PTS ini. Dengan demikian, PS Manajemen dan PS Ekonomi Pembangunan UAJY, serta PS Ekonomi Pembangunan STIE YKPN yang terletak pada kuadran satu ini berpotensi untuk dikembangkan. Strategi pengembangan PTS ini adalah dengan menambah modal. PTS yang terletak pada kuadran dua (bergambar ) menunjukkan bahwa PTS tersebut memiliki laju pertumbuhan tinggi dan kontribusi tinggi. Dengan demikian, PTS tersebut merupakan PTS yang memiliki potensi berkembang, karena PTS tersebut berada pada pasar yang memiliki laju pertumbuhan tinggi. Selain itu, PTS itu juga memberikan kontribusi tinggi. Strategi pengembangan PS Akuntansi dan PS Manajemen UII yang berada pada kuadran dua adalah memperbesar permodalan untuk melayani permintaan dari laju pertumbuhan pasar yang tinggi dan berusaha mempertahankan kontribusi yang telah dimiliki. PTS yang terletak pada kuadran tiga (bergambar ) merupakan PTS yang berhasil, karena PTS tersebut memiliki kontribusi yang tinggi, walaupun laju pertumbuhan relatif rendah. PTS yang terletak pada kuadran tiga tidak memerlukan investasi besar. Hal ini disebabkan laju pertumbuhan pasar juga relatif rendah. Jika diinginkan memperbesar investasi PTS tersebut, pengelola PS Ekonomi Pembangunan UII, PS Manajemen dan PS Ekonomi Pembangunan UPNVY, serta PS Akuntansi STIE YKPN harus berusaha menciptakan pasar atau mencari pasar baru bagi produk-produk PTS tersebut.

213

PTS yang terletak pada kuadran empat (bergambar ) dapat diartikan bahwa PTS tersebut memiliki potensi yang rendah, karena PTS tersebut memiliki pertumbuhan pasar rendah dan memberikan kontribusi yang rendah pula. PTS tersebut memiliki tingkat keunggulan yang relatif rendah, sehingga PTS tersebut hanya mampu menyerap sebagian kecil permintaan pasar. Investasi pada PTS tersebut tidak dapat memberikan prospek yang baik, karena laju pertumbuhan PTS tersebut juga rendah. Strategi pengembangan PS Akuntansi UAJY, PS Akuntansi UPNVY, dan PS Manajemen STIE YKPN yang berada pada kuadran empat adalah dengan melakukan diversifikasi produk untuk menciptakan pasar baru atau mencari pasar di luar pasar yang sudah ada. Berdasarkan Tabel 10, nampak H1 dan H3 diterima sedang H2 ditolak secara signifikan pada α = 5% . Perbedaan rata-rata kontribusi jumlah mahasiswa baru pada program studi Akuntansi di UII, UAJY, UPNVY, dan STIE YKPN terjadi karena perbedaan sumberdaya yang dimiliki, baik sumberdaya fisik, sumber daya non fisik (sumberdaya manusia), ataupun sumber modal. Sumberdaya yang dimiliki oleh suatu PS menentukan jenis produk/kegiatan yang difokuskan untuk dikembangkan. Sebagai contoh, perbedaan pada aspek kuantitas dan kualitas dosen PS Akuntansi di antara keempat PTS tersebut mengakibatkan perbedaan dalam penawaran jenis produk pengembangan, yaitu Program Magister Akuntansi (MAKSI) dan Program Pendidikan Profesi Akuntansi (PPA) yang hanya ditawarkan oleh PS Akuntansi STIE YKPN. Demikian juga dengan perbedaan rata-rata kontribusi jumlah mahasiswa baru pada program studi Ekonomi Pembangunan di UII, UAJY, UPNVY, dan STIE YKPN

214

Jurnal Ekonomi Pembangunan, Vol. 9, No. 2, Desember 2008 KESIMPULAN Dampak otonomi daerah telah menimbulkan penurunan terhadap minat calon mahasiswa untuk melanjutkan kuliah di DIY pada umumnya dan Kabupaten Sleman pada khususnya karena di berbagai kota/kabupaten di luar Propinsi DIY telah tumbuh dan berkembang berbagai PT. Oleh karena itu, agar PTS di Kabupaten Sleman mampu tumbuh dan berkembang maka masing-masing PTS harus memilih strategi pengembangan PTS yang spesifik berbeda bahkan untuk masing-masing PS di masing-masing PTS. Perbedaan rata-rata kontribusi jumlah mahasiswa baru pada PS Akuntansi dan Ekonomi Pembangunan di UII, UAJY, UPNVY, dan STIE YKPN terjadi karena perbedaan sumberdaya yang dimiliki, baik sumberdaya fisik, sumber daya non fisik (sumberdaya manusia), ataupun sumber modal. Sumberdaya yang dimiliki oleh suatu PS menentukan jenis produk/kegiatan yang difokuskan untuk dikembangkan. Tidak adanya perbedaan rata-rata pertumbuhan jumlah mahasiswa baru pada PS Akuntansi, Manajemen, dan Ekonomi Pembangunan di UII, UAJY, UPNVY, dan STIE YKPN karena sebagai PTS yang besar di Kabupaten Sleman, keempat PTS tersebut memiliki keterbatasan dalam memperoleh input (calon mahasiswa) yang relatif sebagian besar berasal dari luar Propinsi DIY. Saran-saran yang diajukan dari hasil penelitian ini sebagai berikut: Penelitian ini menggunakan sampel PS Akuntansi, Manajemen, dan Ekonomi Pembangunan 4 PTS di Kabupaten Sleman, Propinsi DIY. Mempertimbangkan di Kabupaten Sleman terdapat 37 perguruan tinggi yang terdiri dari 5 Perguruan Tinggi Negeri

terjadi karena perbedaan sumberdaya yang dimiliki. Sebagai contoh, perbedaan dalam penawaran jenis produk pengembangan, yaitu Program Magister Ekonomi Pembangunan (MEP) yang hanya ditawarkan oleh PS Ekonomi Pembangunan UPNVY dan Program Doktor Ilmu Ekonomi yang hanya ditawarkan oleh PS Ekonomi Pembangunan UII. Tidak adanya perbedaan rata-rata kontribusi jumlah mahasiswa baru pada program studi Manajemen di UII, UAJY, UPNVY, dan STIE YKPN terjadi karena keempat PTS tersebut tidak memiliki perbedaan dalam penawaran jenis produk pengembangan, yaitu Program Magister Manajemen (MM) karena keempat PTS semuanya menawarkan Program MM. Berdasarkan Tabel 10, nampak H4, H5, dan H6 ditolak secara signifikan pada α = 5%. Tidak adanya perbedaan rata-rata pertumbuhan jumlah mahasiswa baru pada program studi Akuntansi, Manajemen, dan Ekonomi Pembangunan di UII, UAJY, UPNVY, dan STIE YKPN karena sebagai PTS yang besar di Kabupaten Sleman, keempat PTS tersebut memiliki keterbatasan dalam memperoleh input (calon mahasiswa) yang relatif sebagian besar berasal dari luar Propinsi DIY. Dampak otonomi daerah, telah menimbulkan penurunan terhadap minat calon mahasiswa untuk melanjutkan kuliah di DIY pada umumnya dan Kabupaten Sleman pada khususnya karena di berbagai kota/kabupaten di luar Propinsi DIY telah tumbuh dan berkembang berbagai PT. Oleh karena itu, agar PTS di Kabupaten Sleman mampu tumbuh dan berkembang maka masing-masing PTS harus memilih strategi pengembangan PTS yang spesifik berbeda bahkan untuk masing-masing PS di masingmasing PTS.

Rudy Badrudin – Analisis Dampak Otonomi Daerah (PTN) dan 32 Perguruan Tinggi Swasta (PTS), dengan mahasiswa lebih dari 150.000 orang, terkonsentrasi di Kecamatan Depok sebanyak 4 PTN dan 19 PTS, maka dalam penelitian berikutnya hendaknya memperbanyak jumlah PTS dengan memasukkan PTS yang dianggap kecil dalam jumlah mahasiswanya. Penambahan obyek penelitian sangat penting untuk mengetahui dampak otonomi daerah terhadap strategi pengembangan PTS besar dan kecil di Kabupaten Sleman.

215

Kate, Ashcroft. (1995). The Lecturer’s Guide to Quality and Standards in Colleges and Universities. London: The Falmer Press. Kedaulatan Rakyat, 2004, 27-29 April. Seleksi terhadap Mahasiswa Baru Berkaitan dengan Tes Narkoba. Kompas, 2004, 12 April. Biaya Pendidikan di Yogyakarta: Laporan Hasil Penelitian Bank Indonesia (BI) Yogyakarta, Tahun 2000-2002. Hlm. A Kompas, 2003, 22 Juni. Survei Biaya Pendidikan di Perguruan Tinggi di Berbagai Kota. hlm 32. Kopertis Wilayah V. Laporan Jumlah Mahasiswa Tahun 2001-2003. Yogyakarta: Kopertis. M. Zainuddin dan Susy Puspitasari (2001). Strategi Peningkatan Kualitas Pendidikan Tinggi. Bahan Pelatihan Pekerti – PAU. Jakarta: Dirjen Dikti. Maisyaroh, Arifa dan Debora Anggraini (2005). Kompetisi dan Strategi dalam Membangun Perguruan Tinggi pada era Globalisasi. Jurnal Manajemen STIEMCE. Prasetiyo, Yudo Agus (2004). Analisis Penetapan Strategi Perusahaan Guna Meningkatkan Daya Saing Pada PT Cipta Niaga dengan Analisis SWOT. Jurnal Kompilasi. STT Musi Palembang. Diakses dari http//:www.musi.ac.id Supriyono, RA. (1998). Manajemen Strategi dan Kebijaksanaan Bisnis. Ed. 2. Yogyakarta: BPFE UGM.

DAFTAR PUSTAKA Algifari dan Rudy Badrudin. Desember 2003, Strategi Pengembangan Kecamatan Menggunakan Growth-Share Boston Consulting Group (Bcg) Matrix (Studi Kasus di Kabupaten Sleman, DIY. Jurnal Akuntansi & Manajemen (JAM). Vol. XVII, No. 3: 203-213. Andriani, Lis, HR. Januari 2001. Analisis Strategi Perguruan Tinggi: Telaah Faktor Eksternal dan Internal Sebagai Dasar Penentuan Posisi Keunggulan Kompetitif dan Pemilihan Strategi: Kasus FE Jurusan Manajemen pada 9 Perguruan Tinggi Swasta di Kota Surabaya. Jurnal Ekonomi. Fakultas Ekonomi Universitas Airlangga. Diakses dari http://www.unair.ac.id. Bounds, Greg, et. al. 1994. Beyond Total Quality Management: Toward the Emerging Paradigm. Singapore: McGraw-Hill. Badan Pusat Statistik. 2002. Sleman dalam Angka. Sleman: BPS. http://web.ugm.ac.id/um-ugm/um-ugm-php. http://www.evaluasi.or.id.

Jurnal Ekonomi Pembangunan Vol. 9, No. 2, Desember 2008, hal. 216 - 227 PERAN AKTIF WANITA DALAM PENINGKATAN PENDAPATAN RUMAH TANGGA MISKIN: STUDI KASUS PADA WANITA PEMECAH BATU DI PUCANGANAK KECAMATAN TUGU TRENGGALEK * Sugeng Haryanto Program D3 Keuangan dan Perbankan Universitas Merdeka Malang E mail: p3et@yahoo.com

ABSTRACT This research explain how women share actively in the effort increasing earnings of the household. This research done with taking sample at the stone crusher women in Kecamatan Tugu Kabupaten Trenggalek. Women have potency in giving contribution of earnings of household, especially impecunious household. In impecunious household, women household member plunge to job market for adding earnings household felt insufficient. Women contribution can be told as safety valve or supporter for impecunious household to fulfill everyday basic need. This research aim 1) for analyzing contribution of earnings of stone crusher worker women to earnings of family, 2) to know usage of earnings of stone crusher worker women, 3) to know in working which poured by stone crusher worker women. Research finding indicate that women who work as stone crusher have enough significant earnings contribution to earnings of family. Keywords: stone crusher women, earning contribution, outpouring time PENDAHULUAN Fenomena yang menarik pada rumah tangga miskin dalam mempertahankan hidup dengan tingkat kehidupan yang layak, yaitu pertama pada sisi pengeluaran melakukan penghematan pada pengeluaran yang dirasakan dapat ditunda, pengeluaran-pengeluaran yang berkaitan dengan transportasi sedapat mungkin dihindari atau dikurangi. Kedua, pada sisi pendapatan rumah tangga pada rumah tangga miskin telah memaksa mereka untuk melakukan pengoptimalan pendapatan melalui pengerahan sumber daya ekonomi yang dimiliki. Upaya ini dilakukan dalam upaya untuk tetap dapat mempertahankan tingkat kesejahteraan atau kehidupan yang layak. Namun demikan upaya ini tidak semuanya mampu untuk dapat mempertahankan pada tingkat kehidupan yang layak. Dalam keluarga miskin, pada umumnya seluruh sumber daya manusia dikerahkan untuk memperoleh penghasilan, sebagai upaya pemenuhan pokok sehari-hari. Oleh sebab itu dalam keluarga miskin menganggur merupakan sesuatu yang mahal, karena anggota keluarga lain yang bekerja atau menjadi beban tanggungan anggota rumah tangga lain. Mereka tidak sempat menganggur dan

* Penelitian ini merupakan penelitian SKW yang dibiayai oleh DIKTI tahun 2007

Sugeng Haryanto - Peran Aktif Wanita dalam Peningkatan Pendapatan mereka bersedia melakukan pekerjaan apapun, terutama sektor informal yang tidak membutuhkan keahlian tertentu, mudah untuk dimasuki, luwes, dan tidak membutuhkan modal yang besar. Berkaitan dengan pengerahan sumber daya ekonomi yang dimiliki rumah tangga miskin, maka telah menuntut wanita sebagai istri untuk dapat menopang ketahanan ekonomi keluarga. Kondisi demikian merupakan dorongan yang kuat bagi wanita untuk bekerja di luar rumah. Dalam beberapa tahun terakhir ini keterlibatan wanita pada sektor publik menunjukkan angka yang terus meningkat. Hal ini menunjukkan bahwa motivasi wanita untuk bekerja di sektor publik semakin tinggi. Wanita pada rumah tangga miskin, ratarata mempunyai tingkat pendidikan yang relatif rendah karena kondisi ekonomi yang melatarbelakanginya. Wanita ini masuk ke pasar kerja dengan tingkat pendidikan rendah dan ketrampilan rendah. Wanita dengan tingkat pendidikan dan ketrampilan yang rendah inilah yang justru banyak masuk ke lapangan kerja, terutama pada sektor informal dengan motivasi menambah pendapatan keluarga. Di daerah Pucanganak Kecamatan Tugu Trenggalek banyak dijumpai keluarga yang bekerja sebagai pemecah batu, selain sebagai petani. Dengan kondisi tanah yang berbukit mengakibatkan areal pertanian menjadi terbatas, mereka banyak bekerja sebagai pemecah batu yang berada di sekitar sungai di daerah tersebut. Pekerjaan sebagai pemecah batu menjadi dominan karena tingkat keterampilan yang dimiliki sangat terbatas dan pendidikan yang rata-rata memang rendah. Penelitian ini bertujuan untuk: 1) untuk mengetahui kontribusi pendapatan pekerja

217

wanita pemecah batu terhadap pendapatan keluarga, 2) Untuk mengetahui penggunaan pendapatan pekerja wanita pemecah batu, 3) Untuk mengetahui curahan waktu kerja pekerja wanita pemecah batu. Tinjauan pustaka dalam penelitian ini sebagai berikut: 1. Gender Inequality Gender diartikan merupakan konstruksi sosial-kultural yang membedakan karakteristik maskulin dan feminin. Gender membagi atribut dan pekerjaan menjadi maskulin dan feminin. Secara realitas sosial menunjukkan bahwa pembagian peran berdasarkan gender melahirkan keadaan yang tidak seimbang, di mana wanita menjadi tersubordinasi oleh laki-laki yang disebut sebagai ketimpangan gender. Analisis gender dalam kegiatan ekonomi todak dapat dipisahkan dari analisis tentang keluarga. Ekonomi dan keluarga merupakan dua lembaga yang saling berhubungan sekalipun tampak keduanya terpisah satu sama yang lainnya. Ketidakseimbangan berdasarkan gender (Gender Inequality) mengacu pada ketidakseimbangan pada akses ke sumber-sumber yang langka dalam masyarakat. Sunmber yang penting yang ada di masyarakat ini antara lain meliputi kekuasaan atasmaterial, jasa, prestise, peran dalam masyarakat, kesempatan memperoleh pendidikan, kesempatan memperoleh pekerjaan dan sebagainya. Pendapat tentang ketimpangan gender ini tampaknya kurang memperhatikan aspek sosial budaya yang mengkonstruksi terjadinya ketimpangan tersebut.

218

Jurnal Ekonomi Pembangunan, Vol. 9, No. 2, Desember 2008 kan terhadap peningkatan pendapatan keluarga. Kontribusi perempuan dapat dikatakan sebagai katup pengaman (savety valve) atau penopang bagi rumah tangga miskin untuk memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari. Wanita Indonesia terutama di pedesaan sebagai sumber daya manusia cukup nyata partisipasinya khususnya dalam memenuhi fungsi keluarga dan rumah tangga bersama pria. Beberapa hasil penelitian menunjukkan peran serta wanita dalam berbagai industri di beberapa daerah cukup besar dan menentukan, dengan pengelolaan usaha yang bersifat mandiri (Lestari, dkk: 1997). Potensi yang dimiliki wanita untuk menopang ekonomi keluarga memang cukup besar. Namun demikian wanita tidak menonjolkan diri atau mengklaim bahwa mereka menjadi penyangga utama ekonomi keluarga. Temuan penelitian yang dilakukan oleh Wibowo (2002) pada pedagang tradisional di Semarang menunjukkan bahwa kaum wanita pedagang tetap tidak ingin menonjolkan diri atau mengklaim bahwa aktivitasnya sebagai pedagang adalah utama (pokok), melainkan hanya sekedar mendukung kegiatan suami, waluapun tidak menutup kemungkinan penghasilan mereka jauh lebih besar daripada apa yang diperoleh oleh suami mereka. Gambaran mengenai pembagian kerja rumah tangga berdasarkan jenis kelamin tersebut merupakan sebagian kecil bukti yang mencerminkan ketidak seimbangan peran produktif dan peran reproduktif antara wanita dan pria. Gambaran seperti ini banyak terdapat di berbagai masyarakat, dan keadaan seperti ini tampak kurang menguntungkan wanita dalam meraih kesempatan melakukan kegiatan-kegiatan produktifnya.

2. Pekerja Wanita dan Motivasi Kerja Wanita mempunyai potensi dalam memberikan kontribusi pendapatan rumah tangga, khususnya rumah tangga miskin. Dalam rumah tangga miskin anggota rumah tangga wanita terjun ke pasar kerja untuk menambah pendapatan rumah tangga yang dirasakan tidak cukup. Peningkatan partisipasi wanita dalam kegiatan ekonomi karena: pertama, adanya perubahan pandangan dan sikap masyarakat tentang sama pentingnya pendidikan bagi kaum wanita dan pria, serta makin disadarinya perlunya kaum wanita ikut berpartisipasi dalam pembangunan, kedua, adanya kemauan wanita untuk bermandiri dalam bidang ekonomi yaitu berusaha membiayai kebutuhan hidupnya dan mungkin juga kebutuhan hidup dari orang-orang yang menjadi tanggungannya dengan penghasilan sendiri. Kemungkinan lain yang menyebabkan peningkatan partisipasi wanita dalam angkatan kerja adalah makin luasnya kesempatan kerja yang bisa menyerap pekerja wanita, misalnya munculnya kerajinan tangan dan industri ringan. Wanita mempunyai potensi dalam memberikan kontribusi pendapatan rumah tangga, khususnya rumah tangga miskin. Dalam rumah tangga miskin anggota rumah tangga wanita terjun ke pasar kerja untuk menambah pendapatan rumah tangga yang dirasakan tidak cukup. Hasil penelitian yang dilakukan Mariun (2004) menunjukkan dari 53,44 persen perempuan yang bekerja, 72,79 persen adalah pekerja tetap, artinya perempuan mempunyai kepastian dalam memperoleh pendapatan. Yuniarti dan Haryanto (2005) pendapatan para pekerja wanita pada industri sandang mempunyai kontribusi yang signifi-

Sugeng Haryanto - Peran Aktif Wanita dalam Peningkatan Pendapatan 3. Wanita dan Kegiatan Sosial Dalam kehidupan bermasyarakat interaksi antara keluarga merupakan bagian yang sangat penting. Hubungan antaranggota keluarga dalam kehidupan bermasyakat dalam bentuk seperti pertemuan rukun tetangga (RT), Dasa wisma, pertemuan yang bersifat kegamaan seperti tahlilan merupakan hal dipandang sangat penting dalam kehidupan bermasyarakat. Pertemuan-pertemuan dalam rangka kehidupan sosial bermasyarakat tentunya akan merupakan suatu bentuk penyisihan tersendiri bagi seseorang yang harus mencari nafkah jauh dari tempat tinggalnya. Bagi keluarga yang relatif miskin, seringkali wanita sebagai seorang ibu dituntut untuk juga bekerja. Bagi wanita yang bekerja seperti ini tentunya pengaturan waktu akan sangat penting sekali antara bekerja dengan kegiatan sosial kemasyarakatan. Ketika seseorang tidak mengikuti kegiatan sosial kemasyarakatan, maka seringkali seseorang akan merasa diasingkan dari lingkungannya. Hal ini tentunya bagi masyarakat yang miskin yang rata-rata tinggal di suatu perkampungan merupakan beban yang sangat berat. 4. Pendapatan keluarga wanita Sumber utama pendapatan bagi pekerja wanita adalah upah dan tunjangan-tunjangan kesejahteraan lain yang diperoleh oleh pekerja. Sebagaimana diketahui regulasi pemerintah untuk mengatur UMR tetapi kondisi demikian tentunya akan sangat sulit diterapkan pada industri-industri kecil atau menengah dimana jam kerja dalam sehari masih jauh di bawah standar jam kerja. Upah dalam industri kecil dan menengah semata-

219

mata mengandalkan mekanisme harga. Pekerja wanita di industri kecil dan menengah di kota akan membandingkan dengan upah yang diterimanya sebagai pekerja pada sektor lain pada wilayah opportunity-nya. Maksudnya adalah level-level jabatan pekerjaan yang tingkat kemudahan memperolehnya. Beberapa penelitian seperti Ardjani (2003) di IRT sandang merupakan persepsi pekerja terhadap upah pada wilayah opportunity pekerjaaan itu sendiri. Upah yang diperoleh pekerja IRT pada IRT sandang menunjukkan lebih tinggi dibandingkan dengan upah yang diperoleh pada IRT bidang lain. Temuan ini, walaupun belum sangat meyakinkan tetapi merupakan suatu surprise. Ardjani (2003) menemukan bahwa 20,7 persen menyatakan IRT lebih tinggi, 63 persen menyatakan sama saja dan hanya 16 persen yang menyatakan lebih kecil upah yang mereka terima dari IRT dibandingkan dengan upah buruh industri yang sama yang diintervensi pemerintah. UMR pada tahun penelitian Rp1.350,- per hari. Rata-rata penerimaan IRT sandang di Baliu ntuk bordir, konveksi dan tenun adalah Rp8.786,- Rp11.180,- dan Rp10.175,- perminggu.Harga beras Rp500,perkilogram pada saat penelitian. Penelitian di IRT yang dilakukan oleh Ken (1994) di Sulawesi menunjukkan pendapatan buruh lebih rendah dibandingkan dengan umur dan juga upah industrial. Keadaan ini diterima dengan dikonversi dengan kombinasi berbagai pendapatan, juga karena dapat dilakukan di desa/dekat rumah serta pendapatan non uang. 5. Sektor Informal Sektor informal merupakan unit usaha yang berskala kecil yang menghasilkan dan

220

Jurnal Ekonomi Pembangunan, Vol. 9, No. 2, Desember 2008 Usaha sektor informal adalah uasaha mikro dan juga usaha kecil (Binaswadaya, 2002). Subarsono (1996) mengemukakan karakteristik sektor informal adalah: a) sektor informal ini mudah dimasuki, b) tidak memerlukan ijin untuk beroperasi, c) menggunakan tehnologi sederhana dan padat tenaga kerja d) tidak ada akses keinstitut keuangan formal, e) beroperasi dalam skala kecil dan biasanya milik keluarga, f) unit usahanya tidak terorganisir, g) kesempatan kerja di sektor ini tidak terproteksi sebab tidak diatur oleh peraturan pemerintah. Mengapa seseorang memasuki sektor informal? Ada faktor yang menyebabkan sektor informal muncul, misalnya karena proses memperoleh kesempatan untuk memasuki sektor formal ternyata memerlukan biaya transaksi yang terlalu tinggi bagi sebagian besar masyarakat urban dan rural. Motif usaha seseorang masuk sektor informal adalah alasan ekonomi (Winarno, 1996). Sektor informal saat ini semakin berkembang, sebagian akibat dari keterpurukan sektor formal, banyak angkatan kerja yaang terpental dari sektor formal (Wahyudi, 2001). Sektor informal telah mampu menjadi katup pengaman bagi perkembangan angkatan kerja yang setiap tahun terus mengalami peningkatan (Haryanto, 2000) . Keberadaan sektor informal saat ini menjadi sangat penting karena beberapa faktor. Sektor informal selain sebagai penyedia lapangan kerja, juga keberadaan dan kemampuan sektor informal ini bertahan di perkotaan tanpa bantuan dari pemerintah adalah karena kebutuhan akan berbagai macam pruduk dan jasa yang dihasilkan oleh sektor informal ini. Selain itu sektor formalpun membutuhkan keberadaan sektor informal ini dan sektor informal dan formal saling

mendistribusikan barang dan jasa dengan tujuan menciptakan kesempatan kerja bagi dirinya sendiri Sektor informal ini sering disebut juga dengan aktivitas informal, kesempatan kerja yang diciptakan (self employment), ekonomi di bawah tanah (underground economy), causal work, shadow economy (Subarsono, 1998). Menurut Tobing (2002) umumnya yang terlibat dalam sektor informal adalah berpendidikan rendah, miskin tidak terampil dan kebanyakan para migran, kurang mampu mengartikulasikan dan menetapkan kebutuhannya. Karena itu cakrawala mereka terbatas untuk memberi kesempatan kerja dan menghasilkan pendapatan langsung bagi dirinya sendiri, tidak memaksimasi profit. Berkaitan dengan memaksimasi profit tidak selamanya benar, sebab sebagian besar sektor informal ternyata mempunyai falsafah profit motive (Effendi, 1997). Aktivitas sektor informal ditandai dengan: a) mudah untuk memasukinya, b) bersumber pada sumber daya lokal, c) usaha milik sendiri d) operasinya dalam skala kecil, e) padat karya dan teknologinya bersifat adaptif, f) ketrampilan diperoleh dari luar sistem sekolah, g) tidak tersentuh langsung oleh regulasi pemerintah, h) pasarnya bersifat kompetitif (Gilbert dan Glugler: 1996: 96). Perspektif pelaku ekonomi dapat dibedakan kedalam dua kelompok besar, yaitu sektor usaha formal dan sektor informal. Sektor formal diasosiasikan dengan usaha baik kecil, menengah maupun besar yang memiliki badan hukum dan menjadi bagian dari sistem ekonomi formal. Sektor informal adalah sektor ekonomi yang ditandai dengan ketiadaan badan hukum serta ruang gerak yang di luar kerangka aturan yang legal.

Sugeng Haryanto - Peran Aktif Wanita dalam Peningkatan Pendapatan berkaitan dan melengkapi. Peran sektor informal sebagai basis ekonomi kerakyatan di beberapa kawasan kota besar memegang fungsi strategis sebagai sector resccue dan penyangga yang menyelamatkan subsistensi sebagian besar penduduk yang hidup di bawah urban stress (Wahyudi, 2001). METODE PENELITIAN Definisi Operasional Variabel 1. Pendapatan rumah tangga, yang dimaksud dengan pendapatan rumah tangga dalam penelitian ini adalah jumlah rupiah yang diperoleh oleh istri dan suami dari bekerja, yang diukur dengan rupiah ratarata perminggunya. 2. Pekerja wanita, yang dimaksud dengan pekerja wanita dalam penelitian ini adalah wanita yang bekerja sebagai pemecah batu kali di daerah Pucanganak Kecamatan Tugu Trenggalek. 3. Peran aktif wanita, yang dimaksud engan peran aktif wanita dalam penelitian ini adalah curahan waktu rata-rata perhari yang diberikan wanita untuk bekerja sebagai pemecah batu untuk memperoleh pendapatan dalam bentuk rupiah. 4. Rumah tangga miskin, yang dimaksud dengan rumah tangga miskin dalam penelitian diguna indikator rumah tangga penerima Bantuan Tunai Langsung (BLT). Jenis data Jenis data dalam penelitian ini adalah data primer, yang berupa data pekerja wanita sebagai pemecah batu di Desa Pucang anak Kecamatan Tugu Trenggalek, Waktu bekerja, kegiatan sosial kemasyarakatan, pendapatan dari hasil penjualan batu pecahan, penda-

221

patan seluruh keluarga, jumlah anak dan data lainnya. Populasi dan sampel Populasi dalam penelitian ini adalah wanita pemecah batu di Desa Pucanganak Kecamatan Tugu Trenggalek. Sampel diambil secara diambil dengan menggunakan metode purposive random sampling, yaitu sebagai berikut: Menentukan pekerja wanita sebaga pemecah batu yang yang berada di beberapa perdukuhan berada di Daerah Pucanganak, kemudian menentukan pekerja waniat sebagai pemecah batu yang menjadi sampel secara random. Lokasi Penelitian Lokasi penelitian dilakukan di Desa Pucanganak Kecamatan Tugu Trenggalek. Penentuan lokasi ini didasari bahwa daerah ini tanahnya relatif kurang subur dengan topografi yang berbukit-bukit serta tanah pertaniannya relatif sempit. Sehingga meraka banyak memfaatkan potensui alam berupa batuan di sungai untuk dijual sebagai bahan bangunan. Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data dilakukan melalui: • Kuesioner terbimbing, yaitu penyebaran kuesioner dengan memberikan bimbingan secara langsung kepada responden. Hal ini dilakukan karena mayoritas responden yang kemampuan membaca dan menulisnya yang rendah. • Wawancara mendalam (in-depth interviewing, wawancara ini dilakukan untuk memperdalam informasi dari para responden

222 •

Jurnal Ekonomi Pembangunan, Vol. 9, No. 2, Desember 2008 Observasi langsung, dua metode ini (wawancara secara mendalam dan observasi langsung) sejalan dengan teknik observasi pasif. para wanita ini rata-rata rendah dan bahkan tidak pernah mengenyam dunia pendidikan formal. Hampir 97 persen hanya maksimum berpendidikan SD, dimana 33.33 persen tidak pernah sekolah dan 30 persen pernah sekolah di SD dan 33.33 lulus SD. Sedangkan yang pernah dekolah sampai SMP hanya 3.33 persen.

Teknik Analisis Data Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan analisis deskriptif kuantitatif, yaitu dengan melakukan penalaran logis. Data temuan lapangan disusun secara sistematis yang menunjukkan bagaimana peran aktif wanita dalam peningkatan ekonomi rumah tangga. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Lulus SD, 33.33%

Tidak Lulus SMP, 3.33%

Tidak sekolah, 33.33%

Tidak lulus SD, 30.00%
Tidak sekolah Tidak lulus SD Lulus SD Tidak Lulus SMP

Usia para wanita pemecah batu ini di atas 25 tahun, bahkan ada yang usianya sudah lanjut di atas 60 tahun. Wanita pemecah batu yang usianya antara 26-40 tahun sebanyak 20 persen, 41 tahun sampai dengan 50 tahun 30 persen dan 51 tahun sampai dengan 60 tahun 30 persen serta 10 persen telah berusia di atas 60 tahun.
50.00% 40.00% 30.00% 20.00% 10.00% 0.00% 0.00% Kurang 26 s/d 40 41 s/d 50 51 tahun lebih dari dari 25 tahun tahun s/d 60 60 tahun tahun Tahun 20.00% 10.00% 40.00% 30.00%

Sumber: Data primer

Gambar 2. Pendidikan Wanita Pemecah Batu Pekerjaan suami para pemecah batu cukup bervariasi, yaitu sebagai petani atau buruh tani sebanyak 33,3 persen, sebagai tukang atau kuli bangunan 33,3 persen dan sebagai pemecah batu juga sebanyak 20 persen sedangkan sisanya adalah lainnya. Sebagai petani dan buruh tani mereka biasanya pada saat tidak ada pekerjaan di sawah akan bekerja juga sebagai pemecah batu demikian juga halnya untuk pekerjaan sebagai kuli bangunan. Pekerjaan suami menunjukkan bahwa rata-rata pekerjaan mereka merupakan petani dan atau pekerjaan-pekerjaan yang tidak menuntut keahlian atau tingkat pendidikan tertentu. Hal ini tidak terlepas dari kondisi keluarga mereka yang rata-rata berasal dari petani yang kurang mampu, sehingga berdampak pada tingkat pendidikan dan keahlian yang mereka miliki. Hal ini selanjutnya

Sumber: Data primer

Gambar 1. Usia Wanita Pemecah Batu Dari pekerjaan yang mereka lakukan, dimana pekerjaan ini relatif tidak mengandalkan keterampilan dan sering orang menganggap merupakan pekerjaan kasar dan berat, dan usia responden maka pendidikana

Sugeng Haryanto - Peran Aktif Wanita dalam Peningkatan Pendapatan akan berpengaruh pada pekerjaan yang mereka lakukan atau mereka peroleh.
40.00% 30.00% 21.43% 20.00% 10.00% 0.00% Petani dan buruh tani Tukang Bangunan Pemecah Batu Lainnya 7.14% 35.71% 35.71%

223

Tabel 1. Rata-rata Pendapatan Suami perminggu
Pendapatan Kurang dari 40.000 Rp 40.000-≤60.000 Rp 61.000-≤80.000 Rp 81.000-≤100.000 Lebih dari 100.000 Jumlah 12 13 3 0 0

Sumber: Data primer

Gambar 3. Pekerjaan Suami Wanita Pemecah Batu Kontribusi Pendapatan Pekerja Wanita Pemecah Batu terhadap Pendapatan Keluarga Pendapatan merupakan uang yang diterima seseorang karena seseorang bekerja. Pendapatan keluarga terdiri dari pendapatan yang diperoleh oleh suami yang bekerja ditambah dengan pendapatan yang diperoleh karena istri yang bekerja. Besarnya pendapatan suami para pekerja wanita ini disajikan pada tabel 1. Pendapatan ini dihitung selama satu minggu. Pendapatan suami yang besarnya kurang dari Rp40.000 sebanyak 12 orang dan antara Rp40.000 sampai dengan Rp60.000 sebanyak 13 orang. Banyak pendapatan yang berkisar diangka tersebut dikarenakan pekerjaan yang sifatnya dipertanian dan bangunan relatif tidak dapat dipastikan sepanjang waktu. Sehingga responden membuat pendapatan tersebut adalah rata-ratanya.

Pendapatan suami yang relatif tinggi, yaitu lebih dari Rp 61.000 karena mereka merasakan suami mereka bekerja relatif kontinue. Jam kerja suami para pekerja wanita rata-rata perminggu berkisar antara 3 sampai dengan 5 jam sebanyak 5 orang sedangkan yang bekerja antara 5 sampai dengan 8 sebanyak 20 orang dan lebih dari 8 jam sebanyak 5 orang. Rendahnya jumlah jam kerja ini mereka rasakan karena untuk yang bekerja di sektor pertanian pekerjaannya tidak rutin sepanjang waktu. Sedangkan yang bekerja di sektor bangunan juga merasa tidak kontinyu. Rendahnya jumlah jam kerja ini berpengaruh pada tingkat pendapatan yang mereka peroleh. Selain sumber pendapatan yang berasal dari suami dan istri ada juga sumber pendapatan yang berasal dari anak. 67 persen menyatakan ada sumber pendapatan yang berasal dari anak, sedangkan 33 persen tidak ada sumber pendapatan selain dari suami dan istri. Besarnya pendapatan yang diperoleh oleh wanita yang bekerja sebagai pemecah batu rata-rata perminggu rata-rata sebesar 53,57 persen berkisar Rp40.000 Rp60.000. Tingkat pendapatan pekerja wanita pemecah batu secara keseluruhan disajikan pada Gambar 4.

224
60

Jurnal Ekonomi Pembangunan, Vol. 9, No. 2, Desember 2008
53.57

Jumlah Responden

50 40 30 20 10 0
0 Lebih dari 100.000 0 Rp 81.000≤100.00 Rp 61.000≤80.00 Rp 40.000≤60.00 Kurang dari 40.000 17.86 35.71

desa yang mempunyai rasa nrima, selain kebutuhan mereka yang tidak begitu besar. Kebutuhan yang tidak begitu besar tersebut karena anak-anak mereka yang sudah bekerja atau anak mereka masih kecil, sehingga kebutuhannya juga belum begitu besar. Tabel 2. Pendapatan yang Diperoleh Wanita Pekerja
Keterangan Jumlah 5 22 3 30 Prosentase 16.67% 73.33% 10.00% 100%

Pendapatan

Gambar 4. Tingkat Pendapatan Wanita Pemecah Batu Perminggu Dilihat dari tingkat pendapatan yang diperoleh oleh istri yang bekerja sebagai pemecah batu menunjukkan relatif cukup tinggi dengan untuk ukuran didesa. Hal ini mengingat pekerjaan tersebut berada di dekat rumah, sehingga sang istri tidak harus meninggalkan pekerjaan-pekerjaan rumah. Artinya pekerjaan rumah masih dapat dilakukan sambil bekerja untuk menambah pendapatan kelaurga. Para wanita ini menganggap pekerjaan sebagai pemecah batu sebagai bentuk ketimbang ganggur neng omah. Tanggapan suami terhadap istri yang bekerja di luar rumah ini dianggap sebagai suatu yang wajar bagi mereka. Hal ini mengingat pekerjaan di luar rumah tersebut lokasi tidak jauh dari rumah, bahkan ada yang hanya terletak dihalaman rumahnya. Sehingga sang suami juga tidak takut jika sang istri meninggalkan pekerjaan-pekerjaan domestiknya. Pendapatan yang diperoleh oleh pekerja wanita tersebut menurut mereka dirasakan sudah cukup. Responden yang menyatakan pendapatan tersebut cukup sebesar 73,33 persen dan 16 persen memadai, hanya 10 persen menyatakan masih kurang. Pendapatan yang dirasakan sudah memadai atau cukup tersebut mereka orang

Sudah memadai Cukup Kurang
Sumber Data Primer

Dalam masyarakat bawah atau miskin anggota keluarga merupakan suatu sumber daya yang harus dimanfaatkan untuk dapat bekerja, baik itu untuk menyelesaikan pekerjaaan rumah tangga maupun pekerjaan yang mempunyai potensi untuk menambah ekonomi atau pendapatan keluarga. Walaupun pekerjaan-pekerjaan yang hanya menghasilkan upah atau pendapatan yang rendah. Hal ini bagi keluarga miskin dianggap sebagai suatu yang sudah menguntungkan. Karena adanya anggapan ketimbang nganggur ono ngomah. Pada keluarga yang miskin biasanya pekerjaan-pekerjaan domestik cenderung hanya terbatas pada memasak untuk keluarga dan mencuci pakaian serta membersihkan rumah, hal itu dapat dilakukan pagi hari atau bahkan anak-anak mereka sudah dapat membantu untuk menyelesaikan pekerjaan domestik tersebut.

Sugeng Haryanto - Peran Aktif Wanita dalam Peningkatan Pendapatan Penggunaan Pendapatan Pekerja Wanita Pemecah Batu Pendapatan yang diterima oleh suami dan istri tidak ada pemisahan, dimana pendapatan suami selalu diberikan kepada istri. Pendapatan yang mereka peroleh mereka anggap sebagai pendapatan keluarga. Sehingga penggunaan pendapatan juga merupakan penggunaan atau belanja untuk kebutuhan keluarga. Penggunaan untuk kebutuhan keluarga tersebut, antara lain untuk mencukupi kebutuhan pokok sehari-hari, untuk kebutuhan sekolah dan juga untuk kebutuhan yang sifatnya sosial, seperti arisan, bowo (menyumbang orang yang punya hajatan).

225

pribadi. Penghasilan mereka digunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarga secara bersama. Hal ini sangat terkait dengan kebiasaan yang ada di masyarakat terutama pedesaan bahwa tanggung jawab untuk mengatur rumah tangga merupakan tanggungjawab wanita atau istri. Curahan Waktu Kerja Pekerja Wanita Pemecah Batu Para wanita pemecah batu ini rata-rata bekerja sebagai pemecah batu sehari selama 5 sampai dengan 8 jam (73,33 persen). Namun demikian waktu yang dialokasikan tersebut relatif flrksibel. Hal ini karena pekerjaan tersebut tidak menuntut jam yanbg pasti, selain merupakan pekerjaannya sendiri. (Lihat gambar 5)
Jumlah 80 70 73.33

Tabel 3. Penggunaan Pendapatan Keluarga
Keterangan Penggunaan Penggunaan Pendapatan Kebutuhan rumah tangga Biaya sekolah anak Arisan dan sosial lainnya Jumlah 30 20 30

60 50 40 30 20 10 0 10 0 1 s/d 3 jam 3-< 5 jam 5-< 8jam 8 jam atau lebih 16.67

Penggunaan pendapatan yang terbesar rata-rata untuk mencukupi kebutuhan rumah tangga sehari-hari. Sedangkan biaya sekolah hanya temporer, yaitu setiap bulan untuk membayar SPP, sedangkan uang saku anak juga tidak begitu besar. Selain itu juga digunakan untuk kebutuhan arisan di lingkungannya masing-masing, untuk menyelenggarakan kegiatan kendurian juga biasanya mereka lakukan. Dilihat dari distribusi penggunaan pendapatan istri atau wanita menunjukkan bahwa belum ada atau tidak banyak wanita yang menggunakan penghasilannya untuk memenuhi kebutuhannya sendiri secara

Gambar 5. Curahan Waktu Wanita Pemecah Batu

Jam kerja yang lebih dari 8 jam berjumlah 16,67 persen, hal ini biasanya mereka sudah bekerja pagi-pagi sekali, karena ada pesanan batu pecahan. Namun demikian jumlah jam kerja yang panjang ini tidak dilakukan setiap hari, hanya kadang-kadang saja. Curahan waktu yang relatif banyak tersebut, sebenarnya juga tidak mengganggu kegiatan keluarga, seperti mengasuh anak atau kegiatan keluarga yang lainnya.

226

Jurnal Ekonomi Pembangunan, Vol. 9, No. 2, Desember 2008 Hal ini karena pekerjaan pemecahan batu tersebut jangka panjang akan merusak lingkungan. DAFTAR PUSTAKA Arjani, Ni Luh. 2002. Gender dan Permasalahannya. Pusat Studi Wanita Universitas Udayana. Arjani, Ni Luh. 2003. Ketimpangan Gender di Beberapa Bidang Pembangunan di Bali. Jurnal Studi Jender Vol. III No. 2 Tahun 2003 Binaswadaya. 2002. Masalah UKM dan Peran LSM. Buletin 19 Februari 2002. Effendi, Abbas. 1997. Transformasi Struktural dan Kesejahteraan Masyarakat Pedesaan. Jurnal Populasi. Vol. 8 No. 2 Gilbert, allen dan Gugler, Josef. 1996. Property and Development: Urbanization in the Third World. Terjemahan Anshori. Tiara Wacana Yogyakarta. Haryono, Suyono.1997. Saatnya Wanita (desa) Terjun ke Dunia Usaha. Warta Demografi Th 27 No. 4. Indaryani, Mamik. 1997. Peran Wanita dalam Menunjang Ekonomi dalam Rumah Tangga Miskin: Studi Kasus di Kecamatan Selogiri Kabupaten Wonogiri Jawa Tengah. Warta Demografi Th 27. No. 4. Jenskin, M. 1993. Extending Social Security Protection to the Entire Population: Problem and Issues. International Social Security Review. Ken, Suratyah dkk. 1994. Marginalisasi Pekerja Wanita di Pedesaan: Studi Kasus pada IRT Pangan di Sulsel. Yogyakarta: PPK UGM.

Hal ini karena lokasi pekerjaan untuk memecah batu tersebut berada dekat dengan rumahnya. Selain itu pekerjaan tersebut tidak ada sifat pemaksaan waktunya. Mereka dapat bekerja sesuai dengan keinginannya sendiri. Sehingga jika dirasakan ada pekerjaan di rumah atau keperluan lainnya, maka pekerjaan pemecah batu tersebut dapat ditinggal. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut: 1. Pendapatan yang diperoleh oleh pekerja wanita tersebut menurut mereka dirasakan sudah cukup. Kontribusi pendapatan pekerja wanita terhadap pendapatan suami cukup signifikan. 2. Pendapatan wanita pemecah batu juga merupakan pendapatan keluarga. Penggunaan pendapatan merupakan penggunaan atau belanja untuk kebutuhan keluarga. Penggunaan untuk kebutuhan keluarga tersebut, antara lain untuk mencukupi kebutuhan pokok sehari-hari, untuk kebutuhan sekolah dan juga untuk kebutuhan yang sifatnya sosial, seperti arisan, bowo (menyumbang orang yang punya hajatan). 3. Para wanita pemecah batu ini rata-rata bekerja sebagai pemecah batu sehari selama 5 sampai dengan 8 jam (73,33 persen). Namun demikian waktu yang dialokasikan tersebut relatif fleksibel. Berdasarkan temuan penelitian saran yang dapat disampaikan yaitu adanya pembinaan kemampuan dan keterampilan bagi pekerja wanita, sehingga dapat mengembangkan keterampilan yang lain.

Sugeng Haryanto - Peran Aktif Wanita dalam Peningkatan Pendapatan Kusdiati,Veronica. 2002. Peran Wanita Konsep Mitra Setara. Sebuah Kajian Teoritik dan Empirik Wanita Pedagang Pasar Tradisional di kota Semarang. Seri Kajian Ilmiah Vol. 11 No. 3. Lestari, Rahayu Endah. Santoso, Imam. Sulastri, Dwi Rina. 1997. Kontribusi Wanita dalam Agribisnis Gula Semut di Kabupaten Blitar Propinsi Jawa Timur. Jurnal Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial Vol. 9 No. 1 Februari. Mariun, N. Badrun. 2004. Kontribusi Perempuan pada Peningkatan Pendapatan Rumah Tangga Miskin: Studi Kasus di 4 Kabupaten/ Kota. Warta Demografi Tahun 34 No. 3 Setiaji, Bambang. 1996. Wanita Pekerja IRT: Kesejahtaraan dan Perlindungan Hak. Akademika No. 01. Th. XIV Solo: UMS. Setiawati, Rike dan Amin, Sophia. 2001. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Produktivitas Tenaga Kerja Wanita pada Industri Kecil di kota Jambi. Jurnal Pemberdayaan Perempuan Vol. 1 No. 2 Desember. Setyowati, Yuningtyas. 1996. Pengaruh Tingkat Sosial Ekonomi (SES) Keluarga Terhadap Tingkat Peranan Pencarian Nafkah Karya Penelitian Atmajaya Yogyakarta Edisi 6 tahun VI September. Sriyuningsih, Niniek. Sekartdji, Kartini. Jadmiko. Dwi Sriyanto. 1998. Diskriminasi terhadap Pekerja Perempuan dalam Kebijakan Manajemen Perusahaan Garmen dan Tekstil di Kotamadya Se-

227

marang. Majalah Penelitian Lembaga Penelitian UNDIP Th X No. 37, Maret. Subarsono. 1996. Toward Managing the Informal Sector for Urban Economic Development: Government Policy and the Informal Sector. Thesis, the Flinder University of South Australia, Adelaide. Suprapti, Redjeki, Sri dan Hatatiati. 2001. Pemberdayaan Ibu Rumah Tangga Keluarga Miskin di Pedesaan Kecamatan Mranggen, Kabupaten Demak. Jurnal Pemberdayaan Perempuan Vol. 1. No. 2 Desember. Tobing, Erwin. 2002. Reorientasi Pembenahan Sektor Informal. Wibowo, B Junianto. 2002. Profil Wanita Pedagang Kecil di Tinjau dari Aspek Ekonomi (Studi kasus pada Tiga Pasar Tradisional di kota Semarang, yaitu Pasar Gayam, pasar Damar dan pasar Mangkang). Seri Kajian Ilmiah Vol. 11 No. 3 Winarno, Agung. 1996. Profil Usaha Sektor Informal di Jombang. Trisula Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Teknologi dan Agama No. 1 Pebruari Universitas Darul Ulum Jombang. www.theindonesiainstitute.org. Diakses 3 Pebruari 2003. Yuniarti, Sari dan Haryanto, Sugeng. 2005. Pekerja Wanita pada Industri Rumah Tangga Sandang dan Kontribusinya Terhadap pendapatan Rumah tangga di Kecamatan Sukun Malang. Jurnal Penelitian Universitas Merdeka Malang Vol. XVII Nomor 2 Tahun 2005.

Jurnal Ekonomi Pembangunan Vol. 9, No. 2, Desember 2008, hal. 228 - 247

THE COMPETITIVENESS OF SOYBEAN PRODUCTION IN BLITAR-EAST JAVA, INDONESIA
Moh. Azis Arisudi 1 Salfarina Abdul Gapor 1 1 School of Social Sciences USM, Malaysia E-mail: moh_azis@yahoo.com

ABSTRACT In East Java Province, the government still provides subsidy to soybean production in the form of soft credit to production inputs. Since the government budget and subsidy have been limited, efficiency in production, marketing and trade become crucial issues. The conducted research will try to achieve some research objectives as follows: Analyzing soybean farmer income in the Blitar District at the different cropping system; Obtaining analysis on comparative advantage and competitiveness of soybean by different cropping system; analyzing influences of social price changes to farmers income due to public investment; and analyzing government policy impact on farmers income due to market/actual price development. The research uses Policy Analysis Matrix to obtain competitiveness rate, efficiency and impact of government policy on soybean production under multi-cropping system and different ecological zones in the Blitar district. Keywords: competitiveness, Policy Analysis Matrix INTRODUCTION In Indonesia, soybean has an important role in providing national food supply. It is not only a protein source, but also sources of mineral, vitamin and fat. In 100 gram of soybean consists of 33.3 g protein, 15 g fat, 213 mg calcium, 0.65 vitamin B1, 0.23 mg vitamin B2 and vitamin C (Hermana, 1998). So, the high stock of soybean in a country will increase the nutrient of society through high consumption of soybean and its processed products such as tofu, tempe, and soy sauce. Demand for soybean increases gradually, since industrial sector based on soybean product has been growing significantly. As input for processing industry, demand for soybean in the country tends to increase progressively in the form of bean and processed ones. Table 1 shows the consumption rate for soybean and its kinds in kg per capita in urban and rural from 1990 to 2004. Urban people consume more soybean than rural people on the average especially for processing products, e.g. tempe, tofu. The trend of tempe and tofu consumption increased both in rural and in urban areas in that period. In 1990, tofu consumption was 3.43 kg/capita and in 1996 became 3.92 kg/capita and this increased continually 5.36 kg/capita in 2000. Compared to other foods, soybean is consumed more by both rural and urban people. Rice consumption decreased from 112.9 kg/capita in 2000 to 105.7 kg/capita in

M. Azis and Salfarina - The Competitiveness of Soybean Production Table 1. Soybean Consumption by Kinds in Indonesia 1990-2004 (kg, capita, year)
Year
1990

229

Kind of Product
Bean Tofu Tempe Others Bean Tofu Tempe Others Bean Tofu Tempe Others Bean Tofu Tempe Others

Rural
0.16 2.60 3.48 0.05 0.18 3.23 3.73 0.04 0.10 4.63 5.41 0.10 0.11 5.03 6.20 0.12

Urban
0.05 6.19 5.36 0.10 0.07 5.97 5.60 0.09 0.10 6.66 6.81 0.16 0.12 7.02 7.51 0.19

Urban+Rural
0.10 3.43 3.90 0.05 0.15 3.92 4.22 0.05 0.10 5.36 5.88 0.13 0.53 6.03 6.86 0.15

1996

2000

2004

Sources: Central Bureau of Statistic (1990, 2000, 2004)

2004. However, fresh fish consumed in urban area increased from 15.1 kg/capita to 18.2 kg/capita in the period. In rural areas the situation was not so different, fish consumption increased from 10 kg/capita to 13.5 kg/capita (Central Bureau of Statistic 2004). In general, we can say that people will take protein not only from meat but also from other sources as long as the price of meat and other main foods still can be covered. In other words, the consumption pattern will be determined by their income. In 2004, soybean consumption of three different income groups was different significantly, i.e., 13.3 kg, 21.1 kg, 29.3 kg per capita (Central Bureau of Statistic 2004). This reality shows us that the high-income group consumed more soybeans than less income group. So, we can expect that the soybean market can be extended when economy and income per capita are improved.

Soybean import is used as food material for veterinary and industry. The volume of soybean import in 2001 was 800,000 ton and in 2002 increased 807,000 ton and increased 746,000 ton in 2003. In the period 20012003, the import volume of soybean increased continually. The average national production was 1,211 kg /ha in 2003 and this is below laboratorial production of 2,0003,000 kg/ha 2002 (Department of agricultural, 2004). This indicates that government efforts in increasing soybean production are still far from successful. The low productivity were caused by low technical practice, low technology transformation, agricultural management that has less orientation to business. These all lead to low domestic production and increased import of soybean periodically. The efforts for increasing efficiency should take consideration optimal resource use. Not only optimal resource use can lead

230

Jurnal Ekonomi Pembangunan, Vol. 9, No. 2, Desember 2008 increasing domestic production, namely: 1. Land extension is limited due to different land acidity in the country, 2. Most of the newly extended land are hilly and wavy, so it leads to easy erosion, 3. Low adoption and assessment of technology at the farmer level and fluctuation of prices. Therefore government intervention is still needed in soybean production and trade. Theoretically, there is still debate on necessity of government intervention and market mechanism. There are some reasons why market mechanism in agricultural product cannot work properly, namely: 1. Asymmetry of information, especially in less developing countries the current price cannot characterize level of efficiency of the product and the producers do not react to current prices; 2. Agricultural products depend highly on climate, season and areas. So, the producers can respond to the market prices as long as climate and season can be changed and transferred. As we all know, since 2001 the government of Indonesia has introduced a new policy the so called “decentralization policy”. This policy has influenced structure of the

to increase production costs, other factors include uncertainty factors such as weather and disease. Low production consequently can cause low income. Price is also a significant factor that can influence farmer’s income. Price and production fluctuation lead to farmer’s irrational decision in risk (risk averter) especially among small farmers (Monke and Pearson 1994, Timmer 1988). Other factors such as socio and economic factors can also influence farmer’s habit from making rational choice. Table 2 below explains the development of soybean according to average production, and import from 2000 to 2004. Table 2 shows that soybean production tends to decrease about 0.81 percent annually. A reduction of land under soybean cultivation at a rate of 52% annually also caused the decrease. Meanwhile, the productivity is relative stagnant or decreases about 0.29% annually. In Java, soybean production area decreases continuously due to demand for land use as a result of population stress while in outer islands are relatively stabile. Moreover, total demand for soybean either for food and veterinary increased about 2.21% per year. Due to progressive increasing demand compared to domestic supply. Some constraints are still taking place in

Table 2. Area, Production, Productivity, Supply, and Demand for Soybean from 2000-2004
Year 2000 2001 2002 2003 2004 Area (ha) 1,272 1,265 1,258 1,252 1,245 Productivity (kg/ha) 1,184 1,180 1,177 1,173 1,170 Production (000 ton) 1,506 1,493 1,481 1,469 1,457 Supply (000 ton) 1,355 1,344 1,333 1,322 1,311 Demand (000 ton) 2,255 2,312 2,369 2,428 2,488 Gap (000 ton) -900 -968 -1,036 -1,106 -1,177

Source: Central Bureau of Statistic, 2004

M. Azis and Salfarina - The Competitiveness of Soybean Production Indonesian economy. This policy also provides opportunity for a province to determine the main agricultural products that can support their regional economic development. Since East Java province is been famous as food supplier for national production, some agendas in developing agricultural sector have been set up. There the provincial government has established an integrated development between agricultural and industrial sector. It is expected that agricultural product can support industrial development program or in other words, it should be a linkage between both sectors closely. From this point of view, agricultural product mapping is really needed to ensure an efficient industrial development program. Other aspects that can be very important in developing regional economy are increasing competitiveness of agricultural and industrial product. Increasing competitiveness depends strongly on production process, marketing, and trade. An efficient production process, marketing and trade can stimulate and determine competitiveness of products. Provincial government of Blitar has determined that soybean can be selected as main product of the local. The province has also high production of soybean and the soybean processing industries such as soy sauce, tofu and tempe. For tofu and tempe, most of industries are small-scale enterprises and the number of these industries is enormous throughout the region. We can see that the demand for soybean in the province is still higher than provincial production of soybean. Policies issues from this researchs are as follows; They expect that soybean production will stimulate significant economic growth in East Java Province. East Java’s

231

provincial needs for soybean cannot be fulfilled by local soybean production and substantial amounts of beans and meal are imported to fulfill this gap. Government still provide subsidy to soybean production in the form of soft credit to production inputs. Since government budget and subsidy have been limited, efficiency in production, marketing and trade become crucial issues. A high efficiency will increase farmer income. It means new (appropriate) technology should reduce production costs and increase efficiency. The new technology applied is seed “WILIS 2000” and irrigation land (Lodagung Irrigation). The proposed research will develop farm budgets for soybeans with different applied technology that will show the profitability of soybean production. With these results in hand, conclusions can be drawn about the likelihood that the proposed policies will meet the government’s objective of reducing dependency on imported soybeans. The research will try to achieve some research objectives as follows: 1. Analyzing soybean farmer income in Blitar District at the different cropping system; 2. Obtaining analysis on comparative advantage and competitiveness of soybean by different cropping system; 3. Analyzing influences of social price changes to farmer’s income due to public investment; 4. Analyzing government policy impact on farmer’s income due to market/actual price development; Whereas research implications as follows:

232

Jurnal Ekonomi Pembangunan, Vol. 9, No. 2, Desember 2008 critical in policy analysis. What is meant by the term, “framework for agricultural policy analysis?” A framework is an organized and consistent approach for clear thinking. Without it, policy debate can quickly reduce to misunderstanding and emotionalism. A framework is designed to permit the study of linkages in economic systems. Good economic analysis is fascinating for economists, frustrating for non-economists, and relevant for everyone because it focuses on linkages within an economy – on why one group’s actions influence others in the system. Agricultural refers to the production and consumption of commodities that are produced by cultivating crops or raising livestock. Policies are government actions intended to change behavior of producers and consumers. Analysis consists of the evaluation of government decisions to change economic behavior. A framework for agricultural policy analysis, therefore, is a logical system for analyzing public policies affecting producers, marketers, and consumers of crops and livestock products. 2. Four Components of a Policy Framework The four central components in the framework for agricultural policy analysis proposed in this book are objectives, constraints, policies, and strategies (Pearson, 2003). Objectives are the desired goals of economic policy as defined by the policy makers. Government officials wish to achieve certain ends when they intervene in economies. Constraints are the economic realities that limit what can be accomplished. If land is used to grow rice, it is not available to produce an alternative crop in that production season. Policies are the instruments that governments can use to change economic out-

1. The result of the research will provide information to the provincial and district government. The expanded data with new technology of different kinds of investments could be used as alternative policy to increase the soybean production. 2. Technical change resulting from support of soybeans would improve the efficiency of the system and increase the soybean farmer’s income. Theoretical concepts in this research as follows: 1. A Framework for Agricultural Policy Analysis Everyone involved in agricultural policy and project analysis should have a clear way of thinking about evaluating decisions. On what grounds can one alternative be judged better than another? How much policy is enough? Is economic efficiency the only thing that matters? For rational decision-making to take place, each of us needs a clear and logical way to evaluate policy options. In an ideal setting, everyone would have a similar way of approaching policy decisions. Then disagreements would be limited to genuine differences of opinion rather than including also misunderstandings about approaches to problem solving. This chapter sets out a general logical approach for carrying out agricultural policy analysis. The specifics of the Policy Analysis Matrix (PAM) then are introduced in succeeding chapters. A well-understood framework for agricultural policy analysis is needed for decision-makers and interest groups to understand the consequences of policy actions (Pearson, 2003). The clarity of definitions is

M. Azis and Salfarina - The Competitiveness of Soybean Production comes. Effective policies change the behavior of producers, marketers, and consumers and create new economic outcomes. Strategies are the sets of policy instruments that government officials can use to achieve their objectives. Each strategy is enacted through the introduction of a coordinated set of policies. The strategies of policy makers consist of sets of policies that are intended to improve economic outcomes (as judged by the policy makers). The selected policies work through the constraints set by economic parameters. The constraints set by supply, demand, and world price conditions, either further or impede the attainment of objectives. An assessment of the impact on objectives permits an evaluation of the appropriateness of given strategies. Governments thus form agricultural strategies by choosing a set of policies to further their objectives subject to the constraints on the agricultural economy. With this logical picture in mind, it is important to review each of the four components in more detail. 3. Fundamental Objectives of Policy Analysis Most goals of government policy fall under one of three fundamental objectives – efficiency, equity, or security. Efficiency is achieved when the allocation of scarce resources in an economy produces the maximum amount of income and the allocation of goods and services brings highest consumer satisfaction. Equity refers to the distribution of income among groups or regions that are targeted by policy makers. Typically, greater equity is achieved by more even distribution of income. However, because policy refers to

233

government actions, the policy makers (and indirectly voters in a democracy) define equity. Security is furthered when political and economic stability allows producers and consumers to minimize adjustment costs. Food security refers to the availability of food supplies at affordable and stable prices. In this framework, any goal that a policymaker is hoping achieve through government intervention will be incorporated within one of the three fundamental objectives – efficiency, equity, and security. Trade-offs arise when one objective can be furthered only if another is impeded – that is, when gains for one goal result in losses for another. When trade-offs exist, policymakers have to place weights on the conflicted objectives – by determining how much they value gains from one objective versus losses associated with a second objective. Policy makers – not economic analysts – have the responsibility to make these value judgments and assign weights to objectives. These government officials have the ultimate responsibility to be accountable for their policy actions. In the rare instances when trade-offs do not arise, policy analysis and policy making are easy. The desired result is to move forward to the extent that resources permit. Typically, however, trade-offs do exist. Then economic analysts need to evaluate policies, and policy makers need to make decisions by placing weights on objectives. The weights have to add to one (e.g., an individual policy maker might place weights of 0.6 on efficiency, 0.3 on equity, and 0.1 on security). 4. Constraints that Limit Agricultural Policy The scope for agricultural policy is defined by three basic constraints – supply, demand,

234

Jurnal Ekonomi Pembangunan, Vol. 9, No. 2, Desember 2008 budget. They can affect various agricultural groups – producers, traders, and consumers – differently because they are specific to the areas where the investment occurs. 6. Agricultural Price Policy Instruments All agricultural price policy instruments create transfers either to or from the producers or consumers of the affected commodity and the government budget. Some price policies affect only two of these three groups, whereas other instruments affect all three groups. In all instances, at least one group loses and at least one other group benefits. Policy analysts need to consider three categories of agricultural rice policy instruments – taxes and subsidies, international trade restrictions, and direct controls. Taxes and subsidies on agricultural commodities result in transfers between the public budget and producers and consumers. Taxes transfer resources to the government, whereas subsidies transfer resources away from the government. For example, a direct production subsidy transfers resources from the government budget to agricultural producers. International trade restrictions are taxes or quotas that limit either imports or exports. By restricting trade, these price policy instruments change domestic price levels. Import restrictions raise domestic prices above comparable world prices, whereas export restrictions lower domestic prices beneath comparable world prices. Direct controls are government regulations of prices, marketing margins, or cropping choices. Typically, direct controls must be accompanied by trade restrictions or taxes/subsidies to be effective. Otherwise,

and world prices. Supply, national production, is limited by the availability of resources (land, labor, and capital), technologies, relative input prices, and management capabilities. These parameters are the components of production functions and thus limit the ability of the economy to produce agricultural commodities. Demand, national consumption, is limited by population, income, tastes, and relative output prices. These parameters are the components of demand functions and thus limit the ability of the economy to consume agricultural products. World prices, for internationally tradable outputs and inputs, define and limit the opportunities to import to increase domestic supply and to export to increase markets for domestic production. These three economic parameters define the market for an agricultural commodity and are the fundamental forces that influence price formation and the allocation of resources. The economic constraints lead to trade-offs in policy making. 5. Categories of Polices Affecting Agriculture Policies influencing the agricultural sector fall into one of three categories – agricultural price policies, macro-economic policies, or public investment policies (National Planning Development Board, 2001). Agricultural price policies are commodity specific. Each price policy targets only one commodity (e.g., rice) at a time. Price policies also can influence agricultural inputs. Macro-economic policies are nation-wide in coverage. Macro policies thus affect all commodities simultaneously. Public investment policies allocate capital expenditures from the public

M. Azis and Salfarina - The Competitiveness of Soybean Production “black markets” of illegal trade render the direct controls ineffective. Occasionally, some governments have sufficient police power to enforce direct controls in the absence of accompanying trade regulations. Direct controls of cropping choices can be enforced, for example, if the government allocates irrigation water or purchased inputs. 7. Macro-economic Agriculture. Policies Affecting

235

ment covers the deficit by expanding the money supply. Foreign exchange rate policies directly affect agricultural prices and costs. The foreign exchange rate is the conversion ratio at which domestic currency exchanges for foreign currency. Most agricultural commodities are traded internationally, and most countries either import or export a portion of their agricultural demand or supply. For internationally tradable commodities, the world price sets the domestic price in the absence of trade restrictions. The exchange rate thus directly influences the price of an agricultural commodity because the domestic price (in local currency) of a tradable commodity is equal to the world price (in foreign currency) times the exchange rate (the ratio of domestic to foreign currency). Factor price policies directly affect agricultural costs of production. The primary factors of production are land, labor, and capital. Land and labor costs typically make up a substantial portion of the costs of producing most agricultural commodities in developing countries. Governments often enact macro policies that affect land rental rates, wage rates, or interest rates throughout the economy. Other factor price policies, such as minimum wage floors or interest rate ceilings, influence some sectors more than others. Some governments introduce special policies to attempt to control land uses or to govern the exploitation of natural resources, such as minerals or water. These macro policies can also influence the costs of agricultural production.

Agricultural producers and consumers are heavily influenced by macro-economic polices even though they often have little influence over the setting of these nation-wide policies. Three categories of macro-economic policies – monetary and fiscal policies, foreign exchange rate policies, and factor price, natural resource, and land use policies – affect agriculture (Timmer, Falcon, and Pearson, 1983). Monetary and fiscal policies are the core of macro-economic policy because together they influence the level of economic activity and the rate of price inflation in the national economy, as measured by increases in indexes of consumer or producer prices. Monetary policies refer to controls over the rate of increase in the country’s supply of money and hence the aggregate demand in the economy. If the supply of money is increased faster than the growth of aggregate goods and services, inflationary pressure ensues. Fiscal policies refer to the balance between the government taxing policies that raise government revenue and the public expenditure policies that use that revenue. When government spending exceeds revenue, the government runs a fiscal deficit. That result creates inflation if the govern-

236

Jurnal Ekonomi Pembangunan, Vol. 9, No. 2, Desember 2008 cash crops developed in international research centers abroad. These “miracle seeds” often require new agricultural production technologies, utilizing better water control and more intensive application of purchased inputs. For some commodities, the technological breakthroughs, funded by public investment, are in agricultural processing rather than in farming.

8. Public Investment Policies Influencing Agriculture. The third category of policies affecting agriculture includes public investments from the country’s capital budget – in infrastructure, human capital, and research and technology. Public investments in infrastructure can raise returns to agricultural producers or lower agricultural costs of production. Infrastructure refers to essential capital assets, such as roads, ports, and irrigation networks, which would be underprovided by the private sector. These assets are known as “public goods,” and they require public spending from the government’s capital budget. Investments in infrastructure are by nature particular to specific regions and benefit mostly the producers and consumers who live in those regions. Public investment policy is complicated by the fact that infrastructure must be maintained and renewed. Public investments in human capital include a wide range of spending from the government’s capital budget to improve the skill levels and health of agricultural producers and consumers. Investments in formal schools, training and extension centers, public health facilities, human nutrition education, and clinics and hospitals are examples of public capital spending that could raise the level of human capital in the agricultural sector. These investments are critical for long-term development, but they often take many years to show dividends in agriculture. Public investments in research and technology are another example of “public goods” that directly benefit agricultural producers and consumers. Countries that enjoy rapid agricultural growth typically invest heavily in agricultural research to breed or adapt high-yielding varieties of food and

RESEARCH METHOD The research will be based on different kinds of empirical analytical studies that focus on the: 1. Evaluation of influences of the macro economic performance and policy on soybean development at the local government level; 2. Evaluation of soybean market and local regulation on domestic trade as impact of national policy on soybean development. This will illustrate the problems and challenges on increasing soybean production and lastly how the farmer increases their income. In general, the stratified sample survey method is applied at the micro level to obtain primary data, while secondary data could be collected from government agencies and central bureau of statistics at various levels. The survey was carried out in the Blitar district of East Java because the reason the region is a center of food production (especially soybean) in East Java province. In the district, we have selected 4 sub-districts, namely: Binangun, Panggung Rejo, Kademangan, Wonotirto, and Bakung. Using a questionnaire with structured or open interview of a number of sample res-

M. Azis and Salfarina - The Competitiveness of Soybean Production pondents, i.e., soybean farmers, traders, and government officials have been collected as primary data. The place of interview was basically at the fields and the efforts were made to obtain ‘a comfortable’ or neutral type of interview, to establish a relation of confidence and also to allow questions to be posed on delicate problem fields, individual experiences and personal opinions. Apart from the respondents, several other key-informants who are particularly knowledgeable about the matters and socioeconomic situation of such regions, were also interviewed to collect valuable information. In addition, individual in-depth interviews were also needed to obtain more detailed information. The person interviewed was free to voice his/her own concerns in an unstructured interview. The interviewer relied on open questions to introduce topics of interest, without the interviewer imposing his or her ideas. Data and information gained from field observation and by interviewing some keyinformants turned out to be valuable for this study. Secondary data are, to a limited extent, also very important to support this study. The kind of secondary data such as Gross Domestic Regional Product, population density, infrastructure, land areas, production rate of soybean and productivity are issued by the Department of Agriculture, the Central Bureau of Statistics or the Regional Planning Development Board. According to previous experiences, we should be careful with these different sources of data. For example, data published by a source could have a different value when published by other ones. To overcome this problem, we should be consistent in selecting and collecting the data.

237

The survey was designed to generate data in relation to the following aspects: 1. Production, intermediate input and production input aspect; 2. Post-harvest activities including marketing, transportation cost and other costs that influenced the end price such as police tariff (illegally); and 3. External factors such as government policy (subsidies), CIF price and other charges in port (non-formal). Research Area District Blitar consists broadly 1,628.58 km2 of 267.58 km2 settlement area (kampong), 336.12 km2 rice field, 490.29 km2 dry land, 143.93 km2 plantation, 325.18 km2 forest area, 13.20 km2 desert and 52,50 km2 which consist of other types of land. District Blitar lay in coordinate 111° 40 - 112° 10' Longitude East and 7° 09' Transversal South. Topography of district Blitar have highest position 800 meter and the lowest 40 meter of sea surface (Central Bureau of Statistic of Blitar District, 2004). Regional boundary of district Blitar is as follows: • North boundary is district Kediri and Malang district; • Southern is Indonesian ocean; • Eastern is Malang district; and • Western is Tulungagung and Kediri Economic Structure of Research Area District Blitar is one of the 38 Sub-Province existing in East Java Province that have been deemed particularly suitable for intensive agriculture. They have special potential for such sectors as livestock production, fishery,

238

Jurnal Ekonomi Pembangunan, Vol. 9, No. 2, Desember 2008 Table 4. Soybean Prices in Blitar District, November 2004
No Sub-District Price at Producer level (Rp) 3,500 Price at Consumer level (Rp) 3,600 3,450 4,000 3,000 4,500 3,225 3,200 3,250 3,400 3,800 4,200 2,900 2,925 3,050 3,200 3,900 3,100 3,500 3,300 3,300

plantation, and food crops. Approximately 67 percent of the District is farm land growing rice and dry land crops. The remaining 33 percent consists of plantations, forests, and mining operations. Soybean Prices in Blitar District Empirically the national price of soybean since 1990 to 1996 has been increasing moderately, on the average 3.7% annually. Therefore, it can be concluded that over this period, the price of soybean was relative stable. Four months after the financial crisis (mid of 1997), the prices of all goods exhibited uncontrolled increases. This multidimensional crisis changed consumption behavior throughout the country. Soybean products also increased in price. In August 1998, the domestic soybean price was 2,300 Rp per kg. The imported soybean price was 3,500 Rp per kg. At these prices, domestic soybeans had a competitive advantage. Table 3. Domestic and Import Prices of Soybean from 1990 to 2008
Year 1990 1991 1992 1993 1994 1995 1996 2007 2008 Domestic Soybean (Rp/kg) 847 905 833 1,010 1,087 995 1,092 5,450 7,500 Import Soybean (Rp/kg) 489.63 518.39 536.46 482.72 646.60 663.93 803.17 6,200 8,400

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21

Udanawu Nlegok Sanan Kulon Wates Kanigoro Wonotirto Gandusari Selopuro Srengat Kesamben Kademangan Wonodadi Binangun Sutojayan Panggung Rejo Bakung Ponggok Selorejo Wlingi Talun Doko

2,950 4,300 3,050 3,300 3,300 2,800 2,800 2,800 2,900 2,900 3,500 2,900

Source: Survey

Soybean Cropping System in District Blitar Several cropping systems exists in Blitar District: 1. Irrigated Paddy Field
SeptemberDecember Paddy
Source: Survey

JanuaryMay Paddy

JuneAugust Soybean

Source: Central Bureau of Statistic (1990, 1995, 2007), Statistic of Agr 2008

The first paddy season is started early in the rainy season. It lasts from September to December, the so called as “Musim Padi Raja”. The second Paddy Season can be

M. Azis and Salfarina - The Competitiveness of Soybean Production started in January to May when the dry season starts. This season is called as “Musim Padi Gadu”. Empirically, gadu season often results a better harvest than Musim Padi Raja. 2. Wet Paddy Field
SeptemberNovember Soybean + Corn
Source: Survey Note: Another alternative crop is sugarcane, especially as a substitute for peanuts, corn and chili.

239

The Study Areas In this part, the characteristics of study areas within the District of Blitar will be described. Irrigated and non-irrigated-land were used to determinate sample design. Moreover, the dividing line of these areas is the market distance from the central market and infrastructure. The study areas are structured from the specific region to the region situated at the longest distance from the central market. Graphically, these study areas are showed by Figure 1.
Central Market Areas near or influenced by central market growth Areas far from the central market Areas far from the central market and having rural characteristics predominantly

DecemberApril Paddy

May-August

Soybean+Corn+ Chili or Peanut+ Corn+ Chili

3. Dry Land
DecemberMarch Soybean + Corn + Chili or Soybean + Corn + paddy
Source: Survey

AprilAugust Soybean + Corn + Chili Or Soybean + Corn + Maize

SeptemberNovember Maize or off

Figure 1. The Four Study Areas and Their Distance from the Central Market Method of Analysis The method of analysis that is used in this research is Policy Analysis Matrix (PAM). This is to obtain competitiveness rate, efficiency and impact of government policy on soybean production under multi-cropping system and different ecological zones in the Blitar district. The various cropping systems can be depicted in Figure 2. Based on the real condition, soybeancropping system can be divided into seven kinds: 1. Soybean production by traditional system 2. Soybean production by using technology

The survey showed that, at the peak of the dry season in September and November, many dry lands were not used productively. The only work on them was in preparation for the next plantation. The research sample contained all of the cropping patterns described above. For the purpose of the study, cropping systems were divided into four groups. These groups made it possible to compare the following categories: 1. Traditional technology vs. improved technology 2. Irrigated land vs. non-irrigated (dry land) 3. Multi-cropping vs. monoculture

240

Jurnal Ekonomi Pembangunan, Vol. 9, No. 2, Desember 2008
1. Soybean production by traditional system

2. Soybean production by using technology

3. Soybean production by using technology at irrigated land

4. Soybean production by using technology at non irrigated land

5. Soybean production by using technology at irrigated land with monoculture

6. Soybean production by using technology at irrigated land with multi cropping

7. Soybean production by using technology at non irrigated land with multi cropping

Source: Survey

Figure 2. Various Soybean Cropping System at Blitar District

3. Soybean production by using technology at irrigated land 4. Soybean production by using technology at non irrigated land 5. Soybean production by using technology toward monoculture system at irrigated land 6. Soybean production by using technology toward multi-cropping system at irrigated land 7. Soybean production by using technology toward multi-cropping system at nonirrigated land Sample is selected from population proportionally. The total number of sample is 70 where by 10 samples are from each cropping systems as mentioned. Table 4 Policy Analysis Matrix (PAM) and its components will be explained properly.

Table 4. Policy Analysis Matrix
Costs Revenue Tradable input B F J Domestic Input C G K Profit

Private Price Social Price Policy Impact

A E I

D H L

Note: I= A – E; J= B – F; K= C – G; L= D-H DRCR: G/(E-F); NPCO= A/E; NPCI= B/F; EPC= (A-B)/(E-F)

Private Profit (D) Private profit is used to show how much profit that can be obtained by soybean farmer per area (e.g. ha) based on private price

M. Azis and Salfarina - The Competitiveness of Soybean Production Social Profit (H) Social profit can be seen through difference between output produced and input tradable and non-tradable based on social price. Output Transfer (I) Output transfer is transfer receipt by producers through output price. The output price is influenced by government policy. The more output transfer value, the higher the support of the government policy. Input Transfer (J) Input transfer shows the number of transfer receipt by soybean producers through input price. The higher input transfer, the cheaper input price paid by producers. Factor Transfer (K) Factor transfer is transfer receipt by producers through domestic input factor. The higher factor transfer, the lower factor price paid by producer Net Transfer (L) Net transfer is used to show whether the government policies have positive or negative transfer on production system of soybean. A positive net transfer mean supporting of government on the soybean production system, a negative is opposite one. DISCUSSION

241

Because of the various cropping systems and different ecological zones in Blitar district, a number of PAM models have been developed. The traditional system is one in which soybean farmers use traditional seed that is of low quality. These seeds are bought at the local market. Most of them are unbranded and are only for household consumption. Traditional soybean farmers rarely use composite fertilizer, and they harvest only once per year. Improved technology systems use high quality seed (WILIS 2000). This seed has already proved that it can increase productivity significantly. Improved technology can be found on both irrigated and non-irrigated land. It can also be used in both monoculture and multi-culture cropping systems. The results of Policy Analysis Matrix (PAM) calculation of soybean by using traditional technology is depicted as follows: Based on Table 5, it can be seen that obtained private revenue was Rp.3,162,431, and social revenues in amount of Rp.3,286,766. There is a divergence and it can be seen from lower private revenue than social revenue. It is especially caused by trading system, where the soybean farmers sell not directly to the market but the buyers come and determine the soybean price

Table 5. PAM Calculation by Using Traditional System
Cost Revenues
Private prices Social prices Effect of divergences and efficient policy
Sources: own calculation

Profit

Tradable input
844,480 786,501 57,979

Domestic factor
1,829,366 1,921,335 -91,969 488,585 578,910 -90,325

3,162,431 3,286,766 -124,335

242

Jurnal Ekonomi Pembangunan, Vol. 9, No. 2, Desember 2008 ment through credit system from kiosks and also implicit tax (leakages) of tradable input subsidy. Factor transfer is of Rp.-91,969.- is meant input factor costs (working capital, rent of land, and wages) paid by the farmers lower than it should be. This is caused by implicit subsidy and transfer of resources in soybean production. Based on field observation, as we all know in year 2000-2001 government provided cheap credit program the so-called Kredit Usaha Tani (KUT). Unfortunately, many of farmers mentioned that they had never received any credit from the government. So, the low factor costs are mostly caused by land rent paid by the farmer cheaper than the social price. This is caused by low motivation of the people to become a farmer. Many of them move to the city (urban area) to get more opportunity in economic activities. The results of Policy Analysis Matrix (PAM) of cultivating soybean using technology can be seen in Table 6. In this case, technology means an application of high yield seed quality and appropriate fertilizer composition. The land with this characteristic is normally located in flat areas, while traditional technology is mostly applied in rough areas that can be planted only once a year. Based on the research PAM analysis, soybean production by using technology has a better private profit and output. This information can be seen in Table 6. From table, it can be seen that private profit is Rp.1,816,034 shows actual profit obtained by farmers in the cropping system by using technology. Meanwhile, social profit in amount Rp.1,925,282 means the real profit

directly at the location (farm or farmer house). It causes farmer revenue to become less than social revenue. This is due to long market distance and most of the farmers have no transportation tools such as motor cycle or even a car to sell their products directly to the market. Private profit in the amount of Rp.488,585 shows an actual profit that will be receipted by the farmers with cropping system no technology application. This number is smaller than profit obtained in the cropping system with technology. This is caused by lack of knowledge of the farmers in how to plant properly and time and number of fertilizer needed. They just plant without any technical consideration. The social profit Rp.-578,910 shows that the system has very strong efficiency or comparative advantage (shown by high social profits, 18 percents of social revenue). This results also shows that soybean production, even with traditional technology, does not require any protection or subsidy to obtain high excess profit. This is a very important result in according with false claims of farmer organizations that soybeans farmer cannot compete with import soybean if they do not receive protection. Output transfer shows a negative value at the amount of Rp.-124,335. It means that the output value receipted by the farmers in hectare is lower than the social value or divergence. This is caused by the farmers who prefer selling to a small trader with lower price, rather than to the market or soybean trader. Input transfer is Rp.-57,979 which is higher payment of tradable input from social input prices. This is caused by farmer pay-

M. Azis and Salfarina - The Competitiveness of Soybean Production Table 6. PAM Calculation Cropping System by Using Technology
Cost Revenues Tradable input Private prices Social prices Effect of divergences and efficient policy
# Based on researcher calculation

243

Profit Domestic factor 2,102,660 2,041,431 61,229 1,816,034 1,925,282 - 109,248 1,433,113 1,496,532 -63,419

5,351,807 5,463,245 - 111,438

that should be obtained by the farmers (based on social price) in amount Rp.1,925,282. Value of social profit is higher than private one. This means a policy distortion and market failure. The form of market failure is factor market imperfection (inadequate development of institutions to provide competitive services and full information) and negative externality where there are many local labors work at overseas as TKI (Indonesian labor in overseas) and TKW (Woman labor in overseas). It causes the farmers to pay the higher wage rate than social wage rate. Output transfer obtained from cropping system by using technology shows a negative value Rp.111,438. It means revenue obtained by the farmers in one ha lower than social revenue. It is caused by price received lower than market price. This is mostly caused by trading system (oligopsony). Input transfer in amount Rp.-63,419 shows that farmers have to pay tradable input less than social input prices. This number is different with the value of transfer input that has a positive value. This is caused especially by government subsidy on input, namely high yield seed input WILIS 2000 (high variety) and some extensions for increasing production.

Factor transfer in amount Rp.-61,229 shows input factor costs (involve cost of working capital, rent of land, wages) expensed by the farmers higher than it should be (social price). Negative value of factor transfer shows imperfect market mechanism due to negative externality such as abundant of labors who work at overseas. This leads to increase local wage rate (due to labor scarcity). Another factor is the lack of rural financial intermediary. There is no financial institution that cannot provide a cheap credit for the farmers. Consequently, the farmers have to pay high interest rate. Negative net transfer Rp.109,248 means that cropping system by using technology is still disincentive as effect of policy distortion and market failure.
3.000.000 2.500.000 2.000.000 1.500.000 1.000.000 500.000 0 1 Private profits 2 3 4 5 6 7

Social profits

Figure 3. The Private and Social Profit from the Seven Systems

244

Jurnal Ekonomi Pembangunan, Vol. 9, No. 2, Desember 2008 ported or needed by the local farmers, traders and consumers. 2. Based on PAM calculation, using technology (applied seed WILIS 2000) can provide a higher profit both private and social. 3. The farmer still sees possibilities to get a high profit for the soybean business based on PAM analysis, especially through multi cropping and imposing technology. It can be seen at PAM 4 (technology and non-irrigated land) and PAM 7 (technology, multi-cropping and non-irrigated land) the highest profit can be achieved. So, the more multi cropping and technology implementation, the more efficient the cropping system or higher profit can be achieved easily. 4. Based on the analysis, the seven PAM systems provide a high social profit. It means that government subsidy and protection to soybean production is not so important. In other words, the domestic soybean production is still competitive against imported soybean. 5. Low private revenue is caused by lower price received. 6. A high cost of tradable input is also caused by trading system which farmers take tradable input before harvest time in kiosks and will pay after harvest time with higher price consequently. 7. In general, domestic factor paid by the farmers is lower than social price. It is caused by a cheaper land rent than social price. From this research result, policy recommendation given by writer is as follows:

From the Figure 3, we can see that soybean with using technology (PAM 2, 3, 4, 5, 6, 7) have a better private and social profit than cropping system 1 (traditional one). The both cropping system 3 and 4 are using technology, but cropping system 4 has private and social profit higher than system 3. This is due to location of land. System 3 locates in irrigated land, while system 4 at non-irrigated ones. So, it can be concluded that soybean is more appropriate in non-irrigated land (dry land). Cropping system 5 and 6 are using technology, system 5 located in irrigated land and system 6 in non-irrigated land. But, system 6 has private and social profit higher. This is due to a different cropping culture, system 5 applies monoculture, while system 6 multicropping. So, it can be said that multi-cropping is more profitable than monoculture system. System 4 and 7 has the same social and private profit. This is caused by the both have similar characteristics. They use technology and implemented at non-irrigated land.

CONCLUSION The explanation above has showed some findings that can be mentioned as follows: 1. In general, soybean market is still in efficient or imperfect mechanism. This is due to lack of information, weakness of institution, regulation and policy distortion. In other words, the government policy is still disincentive to the market. So, it needs government policy to provide a perfect market mechanism such as making the information fluently and transparent, developing institution sup-

M. Azis and Salfarina - The Competitiveness of Soybean Production 1. The government should provide a policy that can promote all stakeholders in the soybean production system such as farmers, wholesalers, and government. The government should play an “equity” role in enhancing and distributing welfare among stakeholders. We can see that government policy only concerns on input market but less on output market. So, as input of further industries (tempe, tofu, soy sauce) a higher soybean price will influence the industries negatively. 2. As answer for globalization, efficiency or higher profit (with the same land area) will be an important factor to realize it. Multi cropping system is a good way to achieve this objective, but the farmer should have a good combination among crops (soybean and corn). 3. Reducing illegal levies and making information fluently among stakeholders will absolutely influence positively soybean business. The coordination of each “dinas” in the government plays a key role in obtaining a positive condition in realizing competitive market. 4. Application of technology in form of imposing high seed quality (WILIS 2000) in soybean production provides a better yield. It means that government should disseminate using of this seed and its positive effect to soybean production. 5. Moreover, government should develop a financial institution that can fulfill farmer needs for competitive credit since many non formal credit institutions have existed to provide credit with high interest rate. So, government should provide

245

more opportunities to the farmers accessing credit. REFERENCES Central Bureau of Statistic, Blitar District. 2004. Blitar in Figure 2003/2004. Blitar: Statistic of Blitar District. Central Bureau of Statistic. 2000. Indonesia in Figure 1999/2000. Jakarta: Statistic of Indonesia. Central Bureau of Statistic. 2004. Indonesia in Figure 2003/2004. Jakarta: Statistic of Indonesia. Central Bureau of Statistic.1990. Indonesia in Figure 1989/1990. Jakarta: Statistic of Indonesia. Department of Agricultural. 2004. Agricultural data base. Jakarta: Pusdatin. Hermana. 1998. Commodity Price Instability in Developing Countries. Monke. E.A and Pearson S.R, 1994. The Policy Analysis Matrix for Agricultural Development. Cornell University Press. National Planning Development Board. 2001. An Approach to Macro Food Policy. Working Paper No. 6, March 2002. Jakarta Pearson, S. 2003. Applications of the Policy Analysis Matrix in Indonesian Agricultural. Working paper Timmer, Falcon, and Pearson, 1983. Food Policy Analysis (hereafter FPA), New York. Timmer. C. Peter. 1988, The Agricultural Transformation, Handbook of Development Economics, Volume 1. Cornell University Press.

246

Jurnal Ekonomi Pembangunan, Vol. 9, No. 2, Desember 2008 ATTACHMENTS Table 7. Cropping System by Using Technology at Irrigated Land (PAM 3)
Cost Revenues Tradable input
Private prices Social prices Effect of divergences and efficient policy 3,524,255 4,050,747 -526,492 1,102,447 760,719 251,728

Profit Domestic factor
1,785,543 1,955,141 -169,598 726,265 1,334,887 -608,622

Table 8. Cropping System by Using Technology at Non-Irrigated Land (PAM 4)
Cost Revenues
Private prices Social prices Effect of divergences and efficient policy 6,381,802 6,875,742 -493,940

Tradable input
1,930,778 2,232,344 -301,566

Domestic factor
2,419,778 2,127,721 292,057

Profit
2,031,246 2,515,677 -484,431

Table 9. Cropping System by Using Technology at Irrigated Land on Monoculture System (PAM 5)
Cost Revenues Tradable input
Private prices Social prices Effect of divergences and efficient policy 3,545,952 4,011,530 -465,578 892,126 775,712 116,414

Profit Domestic factor
1,953,654 2,175,856 -222,202 700,172 1,059,962 -359,790

Table 10. Cropping System by Using Technology at Irrigated Land on Multi-Cropping System (PAM 6)
Cost Revenues Tradable input
Private prices Social prices Effect of divergences and efficient policy 3,278,054 4,089,963 -811,909 1,034,064 745,725 288,339

Profit Domestic factor
1,617,432 1,734,426 -116,994 626,558 1,609,812 -983,254

M. Azis and Salfarina - The Competitiveness of Soybean Production Table 11. Cropping System by Using Technology at Non-Irrigated Land on Multi-Cropping System (PAM 7)
Revenues Tradable input Private prices Social prices Effect of divergences and efficient policy 6,381,802 6,875,742 -493,940 1,930,778 2,232,344 -301,566

247

Cost
Domestic factor 2,419,778 2,127,721 292,057

Profit

2,031,246 2,515,677 -484,431

Table 12. Recapitalization of Ratio Indicators of Policy Analysis Matrix (PAM)
Indicators ratio Private profits Social profits Output transfers Input transfers Factor transfer Net transfers PCR DRC NPCO NPCI EPC PC SRP PAM 1 488,585 578,910 -124,335 57,979 -91,969 -90,325 0.7661 0.7685 0.8875 1.0741 0.8289 0.8375 -0.0286 PAM 2 1,816,034 1,925,282 -111,438 -63,419 61,229 -109,248 0.6602 0.5146 0.8453 0.9576 0.8028 0.5620 -0.1543 PAM 3 726,265 1,334,887 -526,492 251728 -169,598 -608,622 0.7109 0.5943 0.8700 1.3310 0.7635 0.5441 -0.1502 PAM 4 2,031,246 2,515,677 -493,940 -301,566 292,057 -484,431 0.6400 0.4852 0.8307 0.8649 0.8142 0.5410 -0.1679 PAM 5 700,172 1,059,962 -465,578 116,414 -222,202 -359,790 0.7362 0.6724 0.8839 1.1501 0.8201 0.6606 -0.0897 PAM 6 626,558 1,609,812 -811,909 288,339 -116,994 -983,254 0.7208 0.5186 0.8015 1.3867 0.6710 0.3892 -0.2404 PAM 7 2,031,246 2,515,677 -493,940 -301,566 292,054 -484,431 0.6400 0.4852 0.8307 0.8649 0.8142 0.5410 -0.1679

Jurnal Ekonomi Pembangunan, Vol. 9, No. 2, Desember 2008

INDEKS
Ketahanan Pangan: Situasi, Permasalahan, Kebijakan, dan Pemberdayaan Masyarakat Yunastiti Purwaningsih 1 - 27 Konstelasi Institusi Pemerintah dan Lembaga Swadaya Masyarakat dalam Program PIDRA Muhammad Iqbal 28 - 45 Relevansi dan Aplikasi Aliran Ekonomi Kelembagaan Purbayu Budi Santosa 46 - 60 Pola Penyebaran Spasial Investasi di Indonesia: Sebuah Pelajaran dari Masa Lalu J. J. Sarungu 61 - 71 Pendekatan QSPM sebagai Dasar Perumusan Strategi Peningkatan Pendapatan Asli Daerah Kabupaten Batang, Jawa Tengah Siti Nurhayati 72 - 82 Penguatan Kapasitas Klaster Usaha Kecil dan Menengah: Kasus di Serenan, Klaten Fereshti, N.D., Edy Purwo Saputro, dan Didit Purnomo 83 - 95 Pola Distribusi Komoditas Kentang di Kabupaten Bandung, Jawa Barat Adang Agustian, Henny Mayrowani 96 - 106 Foreign Direct Investment (FDI), Kebijakan Industri, dan Masalah Pengangguran: Studi Empirik di Indonesia Syamsudin, Anton A. Setyawan 107 - 119

Jurnal Ekonomi Pembangunan, Vol. 9, No. 2, Desember 2008

INDEKS
Dampak Ketidakstabilan Nilai Tukar Rupiah terhadap Permintaan Uang M2 di Indonesia Etty Puji Lestari 121 - 136 Analisis Peranan Sektor Industri terhadap Perekonomian Jawa Tengah Tahun 2000 dan Tahun 2004 (Analisis Input Output) Didit Purnomo dan Devi Istiqomah 137 - 155 Analisis Perubahan Kurs Rupiah terhadap Dollar Amerika Triyono 156 - 167 Produktivitas Lahan dan Biaya Usahatani Tanaman Pangan di Kabupaten Gunung Kidul Suwarto 168 - 183 Analisis Kompetensi Produk Unggulan Daerah pada Batik Tulis dan Cap Solo di Dati II Kota Surakarta Daryono Soebagiyo dan M. Wahyudi 184 - 197 Analisis Dampak Otonomi Daerah terhadap Strategi Pengembangan Perguruan Tinggi Swasta (PTS) di Kabupaten Sleman Rudy Badrudin 198 - 215 Peran Aktif Wanita dalam Peningkatan Pendapatan Rumah Tangga Miskin: Studi Kasus pada Wanita Pemecah Batu di Pucanganak Kecamatan Tugu Trenggalek Sugeng Haryanto 216 - 227 The Competitiveness of Soybean Production in Blitar-East Java, Indonesia Moh. Azis Arisudi dan Salfarina Abdul Gapor 228 - 247

Jurnal Ekonomi Pembangunan, Vol. 9, No. 2, Desember 2008

INDEKS SUBYEK A
ADF, 128 agricultural price policy instruments, 234 analytical hierarchy process, 184, 187

K
key sector, 137

M
M2 money, 121 managed floating exchange rate, 123, 158 model input-output, 140 multiplier, 140

B
backward linkage, 139

C
customer value strategy, 204, 205

N
net transfer, 241

D
depromotion, 202

P
policy analysis matrix, 228, 232, 239, 240, 247

E
ECM, 121, 126, 133, 135, 156, 162, 167 error correction term, 134

R
random walk, 124, 125

F
final demand, 143 forward exchange, 157, 158 forward linkage, 137, 139 free floating exchange rate, 123

S
supply chain management, 193, 195, 197

U
unit root test, 125

G
Gender Inequality, 217 GS Matrix, 205, 208

V
vector autoregression, 121

I
indeks keterkaitan ke belakang, 147 indeks keterkaitan ke depan, 146, 150, 151, 153 indeks total keterkaitan, 143, 145, 146 instability of exchange rate, 121

Jurnal Ekonomi Pembangunan, Vol. 9, No. 2,Desember 2008

INDEKS PENGARANG A
Arifin, 159, 166 Arsyad, 139, 155

K
Kamaluddin, 138, 155 Khalawaty, 157

B
Baba, 135, 136 Brusch, 129, 136

L
Lestari, 218, 227 Levi, 156, 166

C
Cobb-Douglas, 169, 170, 171

M
Mariun, 218, 227 Mizao, 123 Moh. Azis Arisudi, 228

D
Dany Artanto, 139 Daryono Soebagiyo, 184 Didit Purnomo, 137

N
Nicholson, 168, 183 Nopirin, 158, 159, 167

E
El Badawi, 129 Etty Puji Lestari, 121

R
Ropingi, 139 Rudy Badrudin, 198, 206, 215

F
Falcon, 235, 245

S
Salfarina Abdul Gapor, 228 Sugeng Haryanto, 216 Suwarto, 168

G
Gilbert, 220, 226 Granger, 122, 167 Gujarati, 125, 126, 136, 161, 166, 174

T
Tobing, 220, 227 Triyono, 156

H
Herlambang, 159, 166 Hirschman, 139

W
Wahyudi, 167, 184, 220, 221 Wibowo, 218, 227

I
Insukindro, 123, 136 Iwamoto, 169, 183

Y
Yuniarti, 218, 227

J
Jhingan, 140, 155

Z
Zhao, 123, 126, 135, 136

Jurnal Ekonomi Pembangunan, Vol. 9, No. 2, Desember 2008

UCAPAN TERIMA KASIH
Ucapan terima kasih dan penghargaan diberikan kepada mitra bestari Yth. 1. 2. 3. 4. 5. Prof. Indah Susilowati, Ph.D. (Fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro Semarang) Dra. Yunastiti Purwaningsih, M.S. (Fakultas Ekonomi Universitas Sebelas Maret Surakarta) Dr. Imammudin Yuliadi (Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta) H. Masyhudi Muqorobin, M.Ec. Ph.D. (Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta) Dr. P. Eko Prasetyo, M.Si. (Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Semarang)

yang telah diundang Redaksi Jurnal Ekonomi Pembangunan sebagai pereview artikel Jurnal Ekonomi dan Pembangunan Volume 9 tahun 2008.

Jurnal Ekonomi Pembangunan, Vol. 9, No. 2,Desember 2008

PEDOMAN PENULISAN
1. Artikel, belum pernah dimuat dalam media cetak lain, diketik pada kertas kwarto berkualitas baik. Dibuat sesingkat mungkin sesuai dengan subyek dan metode penelitian (bila naskah tersebut ringkasan penelitian), biasanya 20-25 halaman dengan spasi satu, untuk kutipan paragraf langsung diindent. Substansi artikel yang diharapkan adalah sesuai Panduan Akreditasi Berkala Ilmiah 2006, yang diterbitkan Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DP2M) Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Republik Indonesia. Sistematika Naskah, Sistematika artikel hasil pemikiran adalah: judul; nama penulis (tanpa gelar akademik); abstrak (maksimum 150 kata); kata kunci; pendahuluan yang berisi latar belakang dan tujuan atau ruang lingkup tulisan; bahasan utama (dapat dibagi ke dalam beberapa sub-bagian); penutup atau kesimpulan; daftar rujukan (hanya memuat sumber-sumber yang dirujuk). Sistematika artikel hasil penelitian adalah: judul; nama penulis (tanpa gelar akademik); abstrak (maksimum 150 kata) yang berisi tujuan, metode, dan hasil penelitian; kata kunci; pendahuluan yang berisi latar belakang, sedikit tinjauan pustaka, dan tujuan penelitian; metode; hasil; pembahasan; kesimpulan; daftar rujukan (hanya memuat sumber-sumber yang dirujuk). Marjin atas, bawah dan samping harus dibuat paling tidak satu inci. Halaman sampul memuat judul naskah yang spesifik dan efektif, nama penulis, gelar dan jabatan serta institusinya, alamat surat, nomor telepon dan faksimili, alamat e-mail, ucapan terima kasih dan catatan kaki yang menunjukkan kesediaan penulis untuk memberikan data. Halaman, semua halaman termasuk tabel, lampiran dan acuan/ referensi bacaan, harus diberi nomor urut. Angka, dilafalkan dari satu sampai dengan sepuluh dan seterusnya, kecuali jika digunakan dalam tabel, daftar atau digunakan dalam unit, kuantitas matematis, statistik, keilmuan atau teknis seperti jarak, bobot dan ukuran. Semua naskah harus disertai dengan disket/file yang berisi ketikan naskah dengan menyebutkan jenis pengolah kata yang digunakan dan versinya. Persentase dan Pecahan Desimal, untuk penulisan yang bukan teknis menggunakan kata persen dalam teks, sedangkan untuk pemakaian teknis menggunakan simbol %. Nama penulis disertai nama lembaga atau institusi kerja dan alamat E-mailnya untuk memudahkan komunikasi. Bila penulis lebih dari satu, ditulis ke bawah.

2.

3. 4.

5. 6.

7. 8. 9.

10. Abstrak, ditulis satu paragraf sebelum isi naskah. Untuk artikel berbahasa Indonesia abstraknya mutlak bahasa Inggris, artikel berbahasa Inggris abstraknya berbahasa Inggris atau bahasa Indonesia. Abstrak tidak boleh matematis, dan mencakup esensi utuh pertanyaan penelitian, metode dan pentingnya temuan dan saran atau kontribusi penelitian. 11. Kata kunci, setelah abstrak dicantumkan kata kunci untuk kepentingan pembuatan indeks.

Jurnal Ekonomi Pembangunan, Vol. 9, No. 2, Desember 2008 12. Tabel dan gambar, untuk tabel dan gambar (grafik) sebagai lampiran dicantumkan pada halaman dan terletak sesudah teks. Sedangkan tabel atau gambar baik di dalam naskah maupun bukan harus diberi nomor urut tabel. Tabel atau gambar juga disertai judul lengkap mengenai isi tabel atau gambar. Sumber acuan tabel atau gambar dicantumkan di bawah tabel atau gambar. Tabel dan grafik mudah dipahami tanpa harus melihat teks penjelasan. Tabel dibuat dengan rapi sedangkan gambar harus dalam bentuk siap cetak. 13. Daftar acuan (rujukan), setiap naskah harus mencantumkan daftar acuan yang isinya hanya karya yang diacu, sedapat mungkin pustaka-pustaka 10 tahun terakhir. Format penulisan: Gunakan inisial nama depan pengarang. Tahun terbit harus ditempatkan setelah nama pengarang. Judul jurnal tidak boleh disingkat. Kalau lebih dari satu karya oleh penulis yang sama urutkan secara kronologis waktu terbitan. Dua karya atau lebih dalam satu tahun oleh penulis yang sama dibedakan dengan huruf setelah penyebutan tahun terbit.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->