Anda di halaman 1dari 26

BAB I

PENDAHULUAN
1.1. Latar belakang
Abses perinefrik adalah abses renal yang meluas kedalam jaringan lemak disekitar
ginjal. Ini dapat diakibatkan oleh infeksi ginjal, seperti pielonefritis atau dapat terjadi
secara hematogen ( menyebar melalui aliran darah ) yang berasal dari bagian mana saja
di tubuh. Organisme penyebab mencangkup Staphylococcus, proteus dan E.coli. kadangkadang infeksi menyebar dari area yang berdekatan, seperti divertikulatis atau
apendisitis. (Smeltzer. 2001 : 1437)
Umumnya abses disebabkan oleh flora bacterial campuran yang berkisar sekitar 2,5
spesies bakteri 1,6 diantaranya merupakanbakteri anaerob sementara 0,9 lainnya adalah
bakteri aerob atau fakultatif. Bakteri komensal dari tempat-tempat disekitarnya
merupakan penyebab abses yang biasa ditemukan sehingga spesies bakteri dalam abses
secara tipikal merupakan spesies yang ditemukan dalam flora normal (Richard
N.mitchell.2008 : 230)
Penatalaksaan abses yaitu abses diinsisi, didrainase dan kultur serta sensivitas dari
seluruh cairan darinase diperiksa. Terapi antimikrobial yang tepat diresepkan. Drain
biasaanya dimasukkan dan dibiarkan diruangan perinefrik sampai drainase signifikan
keluar seluruhnya. Karena cairan drainase biasanya banyak, maka diperlukan
penggantian balutan luar dengan sering. Seperti pada penanganan abses disetiap tempat,
pasien dipantau terhadap adanya sepsis, masukan dan haluaran cairan, dan respons
umum terhadap penanganan. (Smeltzer. 2001 : 1438)
Malpraktek yang merupakan bentuk pelanggaran terhadap kaidah-kaidah profesi
cukup menarik untuk didiskusikan khususnya yang terkait dengan malpraktek bidang
keperawatan, yang selama ini kurang mendapat perhatian. Pada masa yang akan datang
dimana kesadaran hukum masyarakat semakin meningkat dimana masyarakat akan lebih
menyadari akan haknya, dan disisi lain perawat dituntut untuk melaksanakan kewajiban
dan tugas profesinya lebih hati-hati dengan penuh tanggung jawab dan tanggung gugat.

1.2. Rumusan masalah


1. Apa yang dimaksud dengan Abses Prinefritik (Abses Intrarenal) ?
2. Bagaimana asuhan keperawatan mengenai pasien yang mengalami Abses Prinefritik?
3. Bagaimana penatalaksanaan dan tindakan yang dilakukan pada pasien dengan Abses
4.

Prinefritik ?
Bagaimana cara perawat menangani dan mencegah malpraktik keperawatan yang
berhubungan dengan issue keperawatan dalam kasus pasien dengan gangguan sistem
perkemihan di masa mendatang ?

1.3. Tujuan
Dalam menyusun makalah ini penulis memiliki tujuan :
1. Untuk mengetahui yang dimaksud dengan Abses Prinefritik (Abses Intrarenal).
2. Untuk mengetahui bagaimana asuhan keperawatan mengenai pasien yang mengalami
3.

Abses Prinefritik.
Untuk mengetahui penatalaksanaan dan tindakan yang dilakukan pada pasien dengan

4.

Abses Prinefritik.
Untuk mengetahui cara perawat menangani dan mencegah malpraktik keperawatan
dalam kasus pasien dengan gangguan sistem perkemihan yang berhubungan dengan
issue keperawatan di masa mendatang.

1.4. Manfaat
Mahasiswa keperawatan mampu memahami tentang asuhan keperawatan dan
pencegahan dalam malpraktik pada kasus pasien dengan gangguan perkemihan abses
perinefritik.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Pengertian Abses
2

Abses adalah rongga yang berisi nanah. Tanda utamanya dari suatu abses adalah
fluktuasi, meskipun tidak selalu terdeteksi. Rasa hangat yang terlokalisir, bengkak dan
nyeri tekan langsung pada rongga abses adalah tanda yang khas juga. (Eliastam,
Michael.1998 : 183)
Terapinya memerlukan insisi dan drainase cairan purulen. Antibiotik dapat sebagai
tambahan tapi bukan terapi primer. (Schwartz .2000 : 49)
Abses disebabkan oleh flora bacterial campuran yang berkisar sekitar 2,5 spesies
bakteri 1,6 diantaranya merupakanbakteri anaerob sementara 0,9 lainnya adalah bakteri
aerob atau fakultatif. Bakteri komensal dari tempat-tempat disekitarnya merupakan
penyebab abses yang biasa ditemukan sehingga spesies bakteri dalam abses secara
tipikal merupakan spesies yang ditemukan dalam flora normal. (Richard N.mitchell.2008
: 230)
2.1.1.

Abses Ginjal
Abses ginjal bisa disebabkan oleh bakteri yang berasal dari suatu
infeksi yang terbawa ke ginjal melalui aliran darah atau akibat suatu infeksi
saluran kemih yang terbawa ke ginjal dan menyebar ke dalam jaringan ginjal.
Abses di permukaan ginjal (abses perinefrik) hampir selalu disebabkan
oleh pecahnya suatu abses di dalam ginjal, yang menyebarkan infeksi ke
permukaan dan jaringan di sekitarnya. Gejala dari abses ginjal adalah:
a)
b)
c)
d)

Demam, menggigil.
Nyeri di punggung sebelah bawah.
Nyeri ketika berkemih.
Air kemih mengandung darah (kadang-kadang).

2.2. Abses Perinefrik (Abses perirenal)


2.2.1. Pengertian

Abses perinefrik adalah abses renal yang meluas kedalam jaringan


lemak disekitar ginjal. Ini dapat diakibatkan oleh infeksi ginjal, seperti
pielonefritis atau dapat terjadi secara hematogen ( menyebar melalui aliran
darah ) yang berasal dari bagian mana saja di tubuh. Organisme penyebab
mencangkup Staphylococcus, proteus dan E.coli. kadang-kadang infeksi
menyebar dari area yang berdekatan, seperti divertikulatis atau apendisitis.
(Smeltzer. 2001 : 1437)
Abses perinefrik sering terjadi akibat penyebaran hematogen atau
sekunder akibat obstruksi renal dan pada penderita diabetes lebih rentan
(Pradip R. Patel.2007 :157)
Abses perinefrik/pionefrosis memiliki karakteristik nyeri tekan akut,
timbul tanda-tanda sistemik, namun abses jarang menjadi besar. (Pierce A,
Grace & Neil R. Borley. 2006 : 35)
Abses perinefrik terdiri atas abses diluar ginjal yang biasanya
dibebabkan oleh infeksi diluar pielum. Sering disertai batu pielum. Berangsurangsur abses menjadi besar sampai dapat diraba. Pada pemeriksaan ditemukan

piuria dan pada pemeriksaan ultrasonografi dilihat ruang abses diluar ginjal.
( Sjamsuhidajat.2010 : 866)
Terapi terdiri atas penyaliran, sering ginjal sudah tidak berfungsi lagi
sehingga nefrektomi harus dianjurkan. ( Sjamsuhidajat.2010 : 866)
Pasien abses perinefrik yang harus mendapat perhatian lebih adalah
dengan nyeri sudut kostovertebra yang hebat, rigiditas otot-otot daerah
panggul, massa daerah panggul atau demam tinggi, terutama jika infeksinya
resisten terhadap terapi antibiotika. ( Eliastam, Michael.1998 : 165)
Abses perinefrik ini biasanya mengikuti perforasi dari infeksi ginjal
atau abses kedalam rongga perinefrik. Pasien datang dengan demam tinggi dan
abdomen yang keras. Pada radiografi tidak terlihat adanya bayangan psoas dan
tulang belakang mencembung kearah lesi. Terapi membutuhkan drainase dan
antibiotika jangka panjang. (Schwartz.2000: 586)
2.2.2. Etiologi
Beberapa agen bakteri penyebab abses perirenal, meliputi Esherichia
coli, Proterus, dan Staphylococcus aureus. Beberapa bakteri gram negatif lain
dapat

menyebabkan

infeksi

ini

meliputi

Klebsiella,

Enterobacter,

Pseudomonas, Serratia, dan Citrobacter spesies.


Penyebab lainnya adalah jamur, terutama Candida biasanya terjadi
pada pasien dengan diabetes. Faktor predisposisi mencakup pembedahan
(termasuk transplantasi ginjal) dan terapi antibiotik berkepanjangan.
(Musttaqin. 2012 : 122)

2.2.3. Manifestasi Klinis

Manifestasi yang terjadi sering akut awitan, disertai menggigil,


demam, lekositosis, nyeri tumpul atau teraba massa di panggul : nyeri
abdomen dan nyeri tekan sudut konstovertebral sakit berat.
Penatalaksaannya dengan insisi abses, didrainase dan kultur serta
sensivitas dari seluruh cairan darinase diperiksa. Terapi antimikrobial yang
tepat diresepkan.
Drain biasanya dimasukkan dan dibiarkan diruangan perinefrik sampai
drainase signifikan keluar seluruhnya. Karena cairan drainase biasanya
banyak, maka diperlukan penggantian balutan luar dengan sering. Seperti pada
penanganan abses disetiap tempat, pasien dipantau terhadap adanya sepsis,
masukan dan haluaran cairan, dan respons umum terhadap penanganan.
(Smeltzer. 2001 : 1438)
2.2.4. Patofisiologi
Mekanisme yang paling umum terjadi untuk abses bakteri gram-gram
negatif adalah pecahnya abses kortikomedular, sementara mekanisme yang
paling umum untuk pengembangan infeksi staphylococcal adalah pecahnya
abses kortikal ginjal. Temuan ini sering diamati dalam hubungan dengan
operasi ginjal sebelumnya seperti nephrectomy parsial atau nefrolisiasis atau
paling sering, sebagai komplikasi diabetes mellitus (Bolkier, 1991).
(Musttaqin. 2012 : 122)
Pasien dengan penyakit ginjal polikistik yang menjalani hemodialisis
mungkin sangat rentan untuk mengembangkan abses perirenal 62% dari kasus.
Faktor predisposisi untuk abses perirenal meliputi neurogenik kandung kemih,
refluks vesicoureteral, obstruksi kandung kemih, nekrosis papiler ginjal, TBC
saluran kemih, trauma ginjal, imunosupresi, dan penyalahgunaan narkoba
suntikan.
Ketika pecah, infeksi abses perirenal melalui fasia gerota ke riuang
pararenal, keadaan tersebut mengarah pada pembentukan abses pararenal.
Abses parerenal juga dapat disebabkan oleh gangguan dari pancreas, usus,
hati, kantung empedu, prostat, dan rongga pleura, dan mereka mungkin

disebabkan oleh osteomielitis tulang rusuk yang berdekatan atau tulang


belakang.
Respons terbentuknya abses pada perineal akan memberikan
manifestasi reaksi lokal yang sistemik. Reaksi lokal memberikan respons
inflamasi lokal dengan adanya keluhan nyeri kostovetebral. Respons sistemik
akan menimbulkan masalah peningkatan suhu tubuh, kelemahan fisik umum,
serta ketidakseimbangan nutrisi dan kecemasan. (Musttaqin. 2012 : 122)
2.2.5. Pengkajian Anamnesis
Keluhan utama yang sering dikeluhkan bervariasi meliputi keluhan
infeksi kulit atau infeksi saluran kemih. Infeksi bisa diikuti dalam 1-2 minggu
dengan demam dan nyeri pada pinggang atau kostovertebra.( Musttaqin.
2012 :122)
Keluhan nyeri daerah pingggang atau kostovertebra misalnya disertai
adanya peningkatan suhu tubuh, demam, sampai menggigil. Pasien mengeluh
adanya massa pada daerah pinggang disertai penurunan nafsu makan. Keluhan
lainnya adalah nyeri perut, disuria, penurunan berat badan, malaise, dan gejala
gastrointestinal seperti mual dan muntah.
Pada pengkajian riwayat penyakit dahulu penting bagi perawat untuk
mengkaji apakah ada riwayat penyakit seperti adanya penyakit bisul atau
karbunkel pada daerah tubuh lainnya, adanya riwayat demam sampai
menggigil. Kaji apakah pasien pernah menderita penyakit diabetes mellitus.
Penting untuk dikaji mengenai riwayat pemakaian obat-obatan masa lalu dan
adanya riwayat alergi terhadap jenis obat kemudian dokumentasikan.
Pada pengkajian psikososiokultural, adanya nyeri, benjolan pada
pinggang dan pemeriksaan diagnostik yang akan dilakukan akan memberikan
dampak rasa cemas pada pasien. (Musttaqin. 2012 :123)

2.2.6. Pemeriksaan Fisik


Keadaan umum pasien lemah dan terlihat sakit berat denagn tingkat
kesadran biasanya compos metis. Pada TTV sering didapatkan adanya
perubahan suhu tubuh meningkat, frekuensi denyut nadi mengalami
peningkatan, frekunsi meningkat sesuai dengan peningkatan suhu tubuh dan
denyut nadi. Tekanan darah tidak terjadi perubahan secara signifikan kecuali
adanya penyakit hipertensi renal.
(Musttaqin. 2012 :124)
2.2.6.1.

Pemeriksaan Fisik Fokus


1. Inspeksi : Terdapat pembesaran pada daerah kostovertebral. Pada
abses yang mengenai kedua ginjal sering didapatkan penurunan
urine output karena terjadi penurunan dari fungsi ginjal. Pasien
mungkin mengalami nyeri pada saat melakukan fleksi panggul
kesisi kontralateral.
2. Palpasi : Didapatkan adanya massa pembesaran ginjal pada area
konstovertebra.
3. Perkusi : perkusi pada sudut kontovertebra memberikan stimulus
nyeri lokal disertai suatu penjalaran nyeri ke pinggang dan perut.

2.2.6.2.

(Musttaqin. 2012 :124)


Pengkajian Diagnostik
1. Laboratorium : Pemerikasaan urinalisis menunjukkan adanya piuria
dan hematuria, kultur urine menunjukkan kuman penyebab infeksi,
sedangkan pada pemeriksaan darah terdapat leukositosis dan laju
endap darah yang meningkat.
2. Radiografi
:
Pemeriksaan foto polos abdomen mungkin
didapatkan kekaburan pada daerah pinggang, bayangan psoas
menjadi kabur, terdapat bayangan gas pada jaringan lunak,
skoliosis, atau bayangan opak dari suatu batu di saluran kemih.
Pemeriksaan CT scan dapat menunjukkan adanya cairan pus
didalam perirenal.
3. Radiografi : Pemerikasaan foto polos

abdomen mungkin

didapatkan kekaburan pada daerah pinggang, bayangan psoas


menjadi kabur, terdapat bayangan gas pada jaringan lunak,
skoliosis, atau bayangan opak dari suatu batu di saluran kemih.

Pemerikasaan Ct scan dapat menunjukkan adanya cairan pus


didalam parirenal.
4. Ultrasonografi :

Pemeriksaan

menunjukkan

cairan

abses.

(Musttaqin. 2012 :124)


2.2.7. Penatalaksanaan Medis
1. Drainase abses perkutan. Aspirasi drainase perkutan dengan panduan
ultrasonografi memberikan manifestasi kerusakan jaringan minimal. Hasil
drainase dilakukan kultur, serta sensitivitas dari seluruh cairan drainase.
Keuntungan drainase perkutan meliputi : menghindari anestesi umum dan
bedah, lebih diterima baik fisik maupun psikososial oleh pasien, biaya
rendah, mempermudah perawat pascaprosedur, serta memperpendek hari
rawat. Sementara itu, kerugiannya meliputi : infeksi jamur, pembentukan
kalsifikasi, drainase buntu oleh drainase purulen, terbentuk rongga
retroperitoneal, serta emfisematous dalam ginjal.
2. Terapi bedah. Pada kondsi tertentu, seperti abses fistula ginjal-enterik,
mungkin memerlukan intervensi bedah segera.
3. Pemberian antimikroba yang sesuai dengan hasil uji sensivitas yang
bersifat bakterisidal, dan berspektrum luas. Drain biasanya dimasukkan
dan dibiarkan di ruang perirenal sampai seluruh drainase signifikan keluar
seluruhnya. Seperti pada penanganan abses disetiap tempat, pasien
dipantau terhadap adanya sepsis, intake dan ouput cairan, serta respons
umum terhadap penanganan dang anti balutan sesering mungkin.
4. Simtomatik, untuk menurunkan keluhan nyeri dan demam. (Musttaqin.
2012 :125)

2.2.8. Diagnosa Keperawatan


Diagnosa keperawatan yang sering muncul adalah :
1. Nyeri berhubungan dengan pasca drainase abses, proses inflamasi,
2.

kontraksi otot efek sekunder adanya abses renal.


Hipertermi berhubungan dengan respon sistemik sekunder adanya abses

3.

renal
Ketidakseimbangan nutrisi, kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan

4.

dengan penurunan intake nutrisi


Gangguan activity daily living (ADL) berhubungan dengan kelemahan

fisik secara umum


5. Kecemasan berhubungan dengan prognosis penyakit, ancaman, kondisi
sakit, dan perubahan kesehatan (Musttaqin. 2012 :125)
9

2.2.9. WOC (Web of Caution)


Terlampir

BAB III
TINJAUAN KASUS
3.1. Asuhan Keperawatan
3.1.1. Pengkajian
10

3.1.1.1.

3.1.1.2.

Identitas Pasien
Nama

: Ny. DE

Umur

: 39 tahun

Agama

: Islam

Pekerjaan

: Swasta

Alamat

: Kacen lawa ungaran barat, Semarang

Tanggal masuk

: 24 Maret 2013

Diagnosa medis

: Abses Perinefrik

Riwayat Penyakit
a. Keluhan utama :
Nyeri punggung bawah dan disuria.
b. Riwayat penyakit sekarang:
Pasien mengeluh demam tinggi dan abdomen bawah yang keras,
punggung bawah terasa nyeri dan teraba hangat. Pasien
mengatakan tidak bisa berkemih dan ketika berkemih terasa nyeri,
warna urin keruh.
c. Riwayat penyakit dahulu:
Pasien pernah mengalami infeksi saluran kemih.
d. Riwayat penyakit keluarga:
-

3.1.1.3.

Pola Fungsi Kesehatan


1. Pola persepsi dan

pemeliharaan

kesehatan

kurangnya

pengetahuan pasien tentang pencegahan penyakitnya dan vulva


hygiene.
2. Pola istirahat dan tidur : istirahat dan tidur pasien mengalami
gangguan karena gelisah dan nyeri.
3. Pola eliminasi : pasien cenderung mengalami disuria.
4. Pola aktivitas : aktivitas pasien mengalami gangguan karena rasa
nyeri yang kadang datang.

11

3.1.1.4.

Pemeriksaan Fisik
1. Tanda-tanda vital
TD

: Normal

Nadi

: Meningkat, akibat menahan nyeri

Respirasi

: Normal

Temperatur : Meningkat (> 37,5O C), karena proses imunologi


terhadap infeksi
2. Breathing (B1)
a. Tak ada napas cuping hidung, tidak mnggunakan alat bantu

3.

4.
5.

6.

napas.
b. Pengembangan otot dada simetris (normochest)
c. Bunyi paru sonor
d. Suara napas vesikuler, tanpa suara tambahan.
Blood (B2)
a. Tidak ada pembesaran dinding dada
b. Ictus cordis tidak teraba
c. Bunyi jantung pekak
d. Bunyi jantung S1 S2 tunggal
Brain (B3)
a. Tingkat kesadaran komposmentis, klien sadar sepenuhnya.
b. GCS : 456
Bladder (B4)
a. BAK keruh, nyeri miksi
b. Frekuensi miksi tidak teratur
c. Terdapat distensi urin
Bowel (B5)
a. Mulut dan tenggorokan bersih, tidak sariawan, tak ada nyeri

telan
b. Tidak terdapat nyeri ulu hati
c. Bunyi abdomen bawah redup
d. Bising usus normal
7. Bone (B6)
a. Tidak ada fraktur
b. Kekuatan otot 5555
3.1.2. Analisa Data
NO

Data

Etiologi

Problem

12

DS : pasien mengeluh
nyeri di daerah pinggang
sebelah kanan.

DO : Pasien menyeringai
1

menahan nyeri

Proses inflamasi, pasca


drainase abses, kontraksi otot

P : Inflamasi pada ginjal

efek sekunder adanya abses

Q : Ditusuk-tusuk

Nyeri

renal

R:Perirenal (diluar pielum)


S : 7 (0-10)
T : Kadang-kadang
DS : Pasien mengatakan
tubuhnya panas dan terasa
2

hawa dingin

Respon sistemik sekunder


adanya abses renal

DO : - Pasien menggigil
-

Hipertermi

T : 38,8 O C

3.1.3. Diagnosa Keperawatan


1. Nyeri berhubungan dengan proses inflamasi, pasca drainase abses,
kontraksi otot efek sekunder adanya abses renal.
2. Hipertermi berhubungan dengan respon sistemik sekunder adanya abses
renal
3.1.4. Intervensi
Diagnosa 1 :
Nyeri berhubungan dengan proses inflamasi, pasca drainase abses, kontraksi
otot efek sekunder adanya abses renal.
Tujuan : Setelah dilakukan asuhan keperawatan dalam waktu 3x24 jam
nyeri berkurang/hilang atau teradaptasi
Kriteria Evaluasi :
-

Secara subjektif melaporkan nyeri berkurang atau dapat

diadaptasi. Skala nyeri 0-3 (0-10)


Dapat mengidentifikasi aktivitas yang meningkatkan atau
menurunkan nyeri.
Ekspresi pasien relaks.

Intervensi
Jelaskan dan bantu pasien

Rasional
Pendekatan

dengan

releksasi dan nonfarmakologi lainnya

tindakan

pereda

dengan

menggunakan

13

nyeri nonfarmakologi dan

telah menunjukkan keefektifan dalam

noninvasif.
Lakukan manajemen nyeri

mengurangi nyeri.

keperawatan
1. Istirahat

1. Istirahatkan

akan

kebutuhan

pasien

meningkatkan

O jaringan perifer

sehingga akan meningkatkan suplai


darah ke jaringan.
2. Lingkungan

2. Manajemen
lingkungan

tenang

dan

batasi

tenang

akan

menurunkan stimulus nyeri eksternal


dan menganjurkan pasien untuk
beristirahat. Pembatasan pengunjung

pengunjung.

akan

membantu

meningkatkan

kondisi O ruangan yang akan


berkurang

apabila

banyak

pengunjung yang berada diruangan

3. Lakukan

massase

sekitar nyeri
4. Ajarkan
rileksasi

teknik

pernapasan

dan menjaga privasi pasien.


3. Meningkatan kelancaran

darah untuk menurunkan iskemia.


4. Meningkatan asupan O sehingga
akan menurunkan nyeri sekunder.
5. Distraksi

dalam
5. Ajarkan

teknik

distraksi

pada

saat

nyeri.

suplai

(pengalihan

perhatian)dapat

menurunkan

stimulus internal dengan mekanisme


peningkatan produksi endorphin dan
enkefalin

yang

dapat

memblok

reseptor nyeri agar tidak dikirimkan


ke

korteks

serebri

sehingga

menurunkan persepsi nyeri.

6. Tingkatkan
pengetahuan

tentang

6. Pengetahuan yang akan dirasakan

sebab-sebab

nyeri,

membantu mengurangi nyerinya dan

hubungankan

dapat membantu mengembangkan

beberapa nyeri akan

kepatuhan pasien terhadap rencana

dan

terapeutik.
14

berlangsung.
Kolaborasi denagn dokter

Analgetik memblok lintasan nyeri

untuk pemberian analgetik

sehingga nyeri akan berkurang.

Diagnosa 2 :
Hipertermi berhubungan dengan respon sistemik sekunder adanya abses
renal
Tujuan : dalam waktu 3x24 jam perawatan suhu tubuh menurun
Kreteria evaluasi :
Suhu tubuh normal 36-37C
Intervensi
Monitor suhu tubuh pasien

Rasional
Peningkatan suhu tubuh bisa
menjadi stimulus penahan cairan
yang dapat menggangu control

Penuhi hidarasi cairan tubuh

dari sistem saraf pusat.


Pemenuhan hidrasi cairan tubuh
oleh perawat melalui via oral
atau via intra vena dengan jumlah
total pemberian cairan 2.0002500 ml/hari yang bertujan selain
sebagai pemeliharaan juga untuk
meningkatkan

produksi

urine

yang juga memberikan dampak


terhadap pengeluaran suhu tubuh
Beri kompres dingin dikepala

melalui sistem perkemihan.


Memberikan respons dingin pada

dan aksila

puasat pengaturan panas dan

Pertahankan tirah baring total

pada pembuluh darah besar


Mengurangi peningkatan proses

selama fase akut

metabolisme

umum

yang

memberikan dampak terhadap


peningkatan suhu tubuh secara
Kolaborasi
antimikroba.

pemberian

terapi

sistemik
Antimikroba dapat mengurangi
inflamasi sekunder dari toksin.

15

3.1.5. Evaluasi
Hasil yang diharapkan setelah mendapat intervensi adalah sebagi berikut :
1.
2.
3.
4.
5.

Penurunan respons nyeri.


Suhu tubuh dlam rentang normal.
Terjadi peningkatkatan asupan nutrisi.
Terpenuhinya aktivitas sehari-hari.
Terjadinya penurunan tingkat kecemasan. (Musttaqin. 2012 :128)

3.2. Malpraktek Dalam Kasus Pasien Dengan Gangguan Sistem Perkemihan


Ny. T usia 45 tahun dua hari yang lalu telah menjalani operasi abses perinefrik
(fistula ginjal enterik) di ginjal sebelah kiri. Namun setelah dilakukan pembedahan,
pasien selalu mengeluhkan nyeri yang sangat hebat di pinggang sebalah kirinya
tersebut. Perawat yang menangani Ny. T hanya memberitahukan bahwa itu mungkin
efek dari operasi, nanti juga hilang sendiri dan perawat tersebut tidak mengkaji
data/informasi secara adekuat tehadap pasien tersebut. Rawat luka operasi sudah
dilakukan sesuai jadwal, pasien juga terpasang drainase untuk memeriksa kultur cairan
yang keluar, penggantian balutan luar juga sering dilakukan, kebutuhan cairan pasien
pun terpenuhi sesuai advice

dokter, namun walaupun diberikan analgesik untuk

meredakan nyeri, pasien masih mengeluhkan nyeri. Akhirnya dokter pun menyarankan
Ny. T untuk dilakukan foto abdomen. Dari situ diketahui bahwa di tempat yang
beberapa hari lalu dioperasi terdapat lembaran kasa yang tertinggal. Dokter pun
menjadwalkan operasi pengeluaran benda asing tersebut. Ny. T pun terpaksa harus
dioperasi kembali untuk mengeluarkan kasa yang tertinggal tersebut agar tidak
membahayakan kesehatannya. Hal tersebut sudah barang tentu merupakan suatu
tindakan malpraktik yang dilakukan oleh tenaga medis.
3.3. Issue dan Malpraktik Dalam Keperawatan
Menurut Guwandi (1994) dalam buku Kelalaian Medik (medical negligence)
mendefinisikan Malpractice is the neglect of a physician or nuse to apply that degree
of skil and learning on treating and nursing a patient which is customarily applied in
treating and caring for the sick or wounded similiarly in the same community. Yang
dapat diartikan bahwa malpraktik adalah kelalaian dari seorang dokter atau perawat
untuk menterapkan tingkat ketrampilan dan pengetahuannya di dalam memberikan
pelayanan pengobatan dan perawatan terhadap seorang pasien yang lazim diterapkan

16

dalam mengobati dan merawat orang sakit atau terluka di lingkungan wilayah yang
sama.
Ellis dan Hartley (1998) mengungkapkan bahwa malpraktik merupakan batasan
yang spesifik dari kelalaian (negligence) yang ditujukan kepada seseorang yang telah
terlatih

atau

berpendidikan

yang

menunjukkan

kinerjanya

sesuai

bidang

tugas/pekejaannya. Terhadap malpraktek dalam keperawatan maka malpraktik adalah


suatu batasan yang dugunakan untuk menggambarkan kelalaian perawat dalam
melakukan kewajibannya.
Ada dua istilah yang sering dibicarakan secara bersamaan dalam kaitan malpraktik
yaitu kelalaian dan malpratik itu sendiri. Kelalaian adalah melakukan sesuatu dibawah
standar yang ditetapkan oleh aturan/hukum guna melindungi orang lain yang
bertentangan dengan tindakan-tindakan yang tidak beralasan dan berisko melakukan
kesalahan (Keeton, 1984 dalam Leahy dan Kizilay, 1998).
Menurut Hanafiah dan Amir (1999) mengatakan bahwa kelalaian adalah sikap
yang kurang hati-hati, yaitu tidak melakukan apa yang seseorang dengan sikap hati-hati
melakukannya dengan wajar, atau sebaliknya melakukan apa yang seseorang dengan
sikap hati-hati tidak akan melakukannya dalam situasi tersebut.
Dari pengertian di atas dapat diartikan bahwa kelalaian lebih bersifat
ketidaksengajaan, kurang teliti, kurang hati-hati, acuh tak acuh, sembrono, tidak peduli
terhadap kepentingan orang lain, namun akibat yang ditimbulkan memang bukanlah
menjadi tujuannya. Kelalaian bukanlah suatu pelanggaran hukum atau kejahatan, jika
kelalaian itu tidak sampai membawa kerugian atau cedera kepada orang lain dan orang
itu dapat menerimanya (Hanafiah & Amir, 1999). Tetapi jika kelalaian itu
mengakibatkan kerugian materi, mencelakakan bahkan merengut nyawa orang lain,
maka ini dklasifikasikan sebagai kelalaian berat (culpa lata), serius dan kriminal.
Malpraktek tidaklah sama dengan kelalaian. Malpraktik sangat spesifik dan
terksait dengan status profesional dari pemberi pelayanan dan standar pelayanan
profesional Malpraktik adalah kegagalan seorang profesional (misalnya dokter dan
perawat) melakukan sesuai dengan standar profesi yang berlaku bagi seseorang yang
karena memiliki ketrampilan dan pendidikan (Vestal,K.W, 1995). Hal ini bih dipertegas
17

oleh Ellis & Hartley (1998) bahwa malpraktik adalah suatu batasan spesifik dari
kelalaian. Ini ditujukan pada kelalaian yang dilakukan oleh yang telah terlatih secara
khusus atau seseorang yang berpendidikan yang ditampilkan dalam pekerjaannya. Oleh
karena itu batasan malpraktik ditujukan untuk menggambarkan kelaliaian oleh perawat
dalam melakukan kewjibannya sebagai tenaga keperawatan.
Kelalaian memang termasuk dalam arti malpraktik, tetapi didalam malpraktik
tidak

selalu

harus

ada

unsur

kelalaian.

Malpraktik

lebih

luas

daripada

negligence.Karena selain mencakup arti kelalaian, istilah malpraktik pun mencakup


tindakan-tindakan yang dilakukan dengan sengaja (criminal malpractice) dan
melanggar Undang-undang. Didalam arti kesengajaan tersirat ada motifnya (guilty
mind) sehingga tuntutannya dapat bersifat perdata atau pidana.
Dapat ditarik kesimpulan bahwa yang dimaksud dengan malpraktik adalah :
1. Melakukan suatu hal yang seharusnya tidak boleh dilakukan oleh seorang tenaga
kesehatan.
2. Tidak melakukan apa yang seharusnya dilakukan atau melalaikan kewajibannya
(negligence)
3. Melanggar suatu ketentuan menurut atau berdasarkan peraturan perundangundangan.
3.4. Problem solving
Dalam mencegah kesalahan tersebut diatas, sebagai perawat professional jangan
hanya megira-ngira dalam membuat rencana keperawatan tanpa dipertimbangkan
dengan sebaik-baiknya. Seharusnya dalam menulisan harus dengan pertimbangan yang
jelas dengan berdasarkan masalah pasien. Bila dianggap perlu, lakukan modifikasi
rencana berdasarkan data baru yang terkumpul. Rencana harus realistik, berdasarkan
standar yang telah ditetapkan termasuk pertimbangan yang diberikan oleh pasien.
Komunikasikan secara jelas baik secara lisan maupun dengan tulisan. Bekerja
berdasarkan rencana dan dilakukan secara hati-hati instruksi yang ada. Setiap
pendapatnya perlu divalidasi dengan teliti.

18

Ada

pula

Intervention

errors,

yang

termasuk

dalam

kegagalan

menginterpretasikan dan melaksanakan tindakan kolaborasi, kegagalan melakukan


asuhan keperawatan secara hati-hati, kegagalan mengikuti/mencatat order/perintah dari
dokter atau dari supervisor. Kesalahan pada tindakan keperawatan yang sering terjadi
adalah kesalahan dalam membaca perintah/order, mengidentifikasi pasien sebelum
dilakukan tindakan/prosedur, memberikan obat, dan terapi pembatasan (restrictive
therapy). Dari seluruh kegiatan ini yang paling berbahaya nampaknya pada tindakan
pemberian obat, oleh karena itu perlunya komunikasi baik diantara anggota tim
kesehatan maupun terhadap pasien dan keluarganya.
Untuk menghindari kesalahan ini, sebaiknya rumah sakit tetap melaksanakan
program pendidikan berkelanjutan (Continuing Nursing Education).
Beberapa contoh kesalahan perawat :
1.

Pada pasien usia lanjut, pasien mengalami disorientasi pada saat berada diruang
perawatan. Perawat tidak membuat rencana keperawatan guna memonitoring dan
mempertahankan keamanan pasien dengan memasang penghalang tempat tidur. Sebagai
akibat disorientasi, pasien kemudian terjatuh dari tempat tidur pada waktu malam hari
dan pasien mengalami patah tulang tungkai.

2.

Pada pasien dengan pasca bedah disarankan untuk melakukan ambulasi. Perawat
secara drastis menganjurkan pasien melakukan mobilisasi berjalan, pada hal disaat itu
pasien mengalami demam, denyut nadi cepat, dan mengeluh nyeri abdomen. Perawat
melakukan ambulasi pada pasien sesuai rencana keperawatan yang telah dibuat tanpa
mengkaji terlebih dahulu kondisi pasien. Pasien kemudian bangun dan berjalan, pasien
mengeluh pusing dan jatuh sehingga pasien mengalami trauma kepala.
Untuk mencegah hal yang bersangkutan dengan malpraktek sangat perlu bagi
seorang perawat berupaya melakukan sesuatu guna mencegah terjadinya tuntutan
malpraktik yaitu upaya mempertahankan standar pelayanan/asuhan yaqng berkualitas
tinggi. Hal ini dilakukan dalam pekerjaan sebagai perawat yaitu meningkatkan
kemampuan dalam praktik keperawatan dan menciptakan iklim yang dapat mendorong
peningkatan praktik keperawatan., yaitu :

19

1. Kesadaran diri (self-awareness):


Yaitu mengidentifikasi dan memahami pada diri sendiri tentang kekutan dan
kelamahan dalam praktik keperawatan. Bila terindentifikasi akan kelemahan yang
dimiliki maka berusahalah untuk mencari penyelesaiannya. Beberapa hal yang dapat
dilakukan yaitu melalui pendidikan, pengalaman langsung, atau berdiskusi dengan
teman sekerja/kolega. Apabila berhubungan seorang supervisor, sebaiknya bersikap
terbuka akan kelemahannnya dan jangan menerima tanggung jawab dimana perawat
yang bersangkutan belum siap untuk itu. Jangan menerima suatu jabatan atau
pekerjaan kalau menurut kriteria yang ada tidak dapat dipenuhi.
2. Beradaptasi terhadap tugas yang diemban
Tenaga keperawatan yang diberika tugas pada suatu unit perawatan dimana dia
merasa kurang berpengalaman dalam merawat pasien yang ada di unit tersebut,
maka sebaiknya perawat perlu mengikuti program orientasi/program adaptasi di unit
tersebut. Perawat perlu berkonsultasio dengan perawat senior yang aa diunit terbut
3. Mengikuti kebijakan dan prosedur yang ditetapkan
Seorangmperawat dalam melaksanakan tugasnya harus sealu mempertimbangkan
kebijakan dan prosedur yang berlaku di unit tersebut. Ikuti kebijakan dan prosedur
yang berlaku secara cermat, misalnya kebijakan/prosedur yang berhubungan dengan
pemberian obat pada pasien.
4. Mengevaluasi kebijakan dan prosedur yang berlaku
Ilmu pengetahuan dan tehnologi keperawatan bersifat dinamis artinya berkembang
secara terus menerus. Dalam perkembangannya, kemungkinan kebijakan dan
prosedur yang ada diperlukan guna menyesuaikan dengan perkembangan yang
terjadi. Oleh krena itu itu ada kebutuhan untuk menyeuaikan kebijakan dan proseudr
atau protokol tertentu. Untuk itu merupakan tanggung jawab perawat profesional
bekerja

guna

mempertahankan

mutu

pelayanan

sesuai

dengan

tuntutan

perkembangan.
5. Pendokumentasian
20

Pencatatan perawat dapat dikatakan sesuatu yang unit dalam tatanan pelayanan
kesehatan, karena kegiatan ini dilakukan selama 24 jam. Apa yang dicatat oleh
perawat merupakan faktor yang krusial guna menghindari suatu tuntutan.
Dokumentasi dalam suatu pencatatan adalah laporan tentang pengamatan yang
dilakukan, keputusan yang diambil, kegiatan yang dilakukan, dan penilaian terhadap
respon pasien.
Oleh karena setiap kasus ditentukan adanya fakta yang mednkung suatu tuntutan, maka
diperlukan pencatatan yang jelas dan relevan. Pencatatan diperlukan secara jelas, benar,
dan jelas sehingga dapat dipahami. Pedoman guna mencegah terjadinya malpraktik,
sebagai berikut :
1. Berikan kasih sayang kepada pasien sebagaimana anda mengasihi diri sendiri.
Layani pasien dan keluarganya dengan jujur dan penuh rasa hormat.
2. Gunakan pengetahuan keperawatan untuk menetapkan diagnosa keperawatan yang
tepat dan laksanakan intervensi keperawatan yang diperlukan. Perawat mempunyai
kewajiban untuk menyusun pengkajian dan melaksanakan pengkajian dengan benar.
3. Utamakan kepentingan pasien. Jika tim kesehatan lainnya ragu-ragu terhadap
tindakan yang akan dilakukan atau kurang merespon terhadap perubahan kondisi
pasien, diskusikan bersama dengan tim keperawatan guna memberikan masukan
yang diperlukan bagi tim kesehatan lainnya.
4. Tanyakan saran/order yang diberikan oleh dokter jika : Perintah tidak jelas,masalah
itu ditanyakan oleh pasien atau pasien menolak, tindakan yang meragukan atau
tidak tepat sehubungan dengan perubahan dari kondisi kesehatan pasien. Terima
perintah dengan jelas dan tertulis.
5. Tingkatkan

kemampuan

anda

secara

terus

menerus,

sehingga

pengetahuan/kemampuan yang dimiliki senantiasa up-to-date. Ikuti perkemangan


yang terbaru yang terjadi di lapangan pekerjaan dan bekerjalah berdasarkan
pedoman yang berlaku.
6. Jangan melakukan tindakan dimana tindakan itu belum anda kuasai.

21

7. Laksanakan asuhan keperawatan berdasarkan model proses keperawatan. Hindari


kekurang hati-hatian dalam memberikan asuhan keperawatan.
8. Catatlah rencana keperawatan dan respon pasien selama dalam asuhan keperawatan.
Nyatakanlah secara jelas dan lengkap. Catatlah sesegera mungkin fakta yang anda
observasi secara jelas.
9. Lakukan konsultasi dengan anggota tim lainnya. Biasakan bekerja berdasarkan
kebijakan organisasi/rumah sakit dan prosedur tindakan yang berlaku.( Vestal, K.W.
1995)
10. Pelimpahan tugas secara bijaksana, dan ketahui lingkup tugas masing-masing.
Jangan pernah menerima atau meminta orang lain menerima tanggung jawab yang
tidak dapat anda tangani.

22

BAB IV
PENUTUP
Setelah kami membahas Asuhan Keperawatan Pada Pasien Abses Perinefritis, kami
selaku penulis dapat menarik kesimpulan dan saran, yakni sebagai berikut :
4.1. Kesimpulan
Abses perinefrik adalah abses renal yang meluas kedalam jaringan lemak disekitar
ginjal. Ini dapat diakibatkan oleh infeksi ginjal, seperti pielonefritis atau dapat terjadi
secara hematogen ( menyebar melalui aliran darah ) yang berasal dari bagian mana saja
di tubuh. Organisme penyebab mencangkup Staphylococcus, proteus dan E.coli. kadangkadang infeksi menyebar dari area yang berdekatan, seperti divertikulatis atau
apendisitis. (Smeltzer. 2001 : 1437)
Beberapa agen bakteri penyebab abses perirenal, meliputi Esherichia coli, Proterus,
dan Staphylococcus aureus. Beberapa bakteri gram negatif lain dapat menyebabkan
infeksi ini meliputi Klebsiella, Enterobacter, Pseudomonas, Serratia, dan Citrobacter
spesies.
Manifestasi yang terjadi sering akut awitan, disertai menggigil, demam, lekositosis,
nyeri tumpul atau teraba massa di panggul : nyeri abdomen dan nyeri tekan sudut
konstovertebral sakit berat.
Penatalaksaannya dengan insisi abses, didrainase dan kultur serta sensivitas dari
seluruh cairan darinase diperiksa. Drain dimasukkan dan dibiarkan diruangan perinefrik
23

sampai drainase signifikan keluar seluruhnya. Karena cairan drainase biasanya banyak,
maka diperlukan penggantian balutan luar dengan sering. Seperti pada penanganan abses
disetiap tempat, pasien dipantau terhadap adanya sepsis, masukan dan haluaran cairan,
dan respons umum terhadap penanganan. (Smeltzer. 2001 : 1438)
Dalam menjalankan misi sebagai profesi di bidang profesional perawat wajib teliti
dalam menyusun rencana keperawatan dengan dasar, pemikiran dan sumber yang tepat.
Dari kasus pembedahan perawat ikut pula serta dalam menangani pasien mulai dari
praoperasi hingga pasca operasi. Maka dari itu, perawat wajib teliti atas kondisi pasien
sepenuhnya untk menghindari malpraktik di masa mendatang.
4.2. Saran
Demikianlah makalah yang telah kami buat. Semoga isi dari makalah ini dapat
bermanfaat untuk menambah wawasan teman-teman tentang penatalaksanaan asuhan
keperawatan pada pasien abses perinefritik. Saran, kritik, maupun sanggahan tetap kami
harapkan demi kesempurnaan makalah ini. Kami mohon maaf apabila terdapat kesalahan
atau kekurangan dalam penulisan makalah ini.

24

DAFTAR PUSTAKA
Sjamsuhidajat, R. 2010. Buku Ajar Ilmu Bedah Sjamsuhidajat. Jakarta : EGC.
Schwartz, Seymour I. 2000. Intisari Prinsip-Prinsip Ilmu Bedah. Jakarta : EGC.
Pierce A, Grace & Neil R. Borley. 2006. At A Glance Ilmu Bedah Edisi 3. Jakarta : Erlangga.
Pradip R. Patel.2007. Lecture Notes : Radiologi Edisi 2. Jakarta : Erlangga.
Richard N. Mitchell.2008. Buku Saku Dasar Patologis Penyakit Robbins & Contran. Jakarta :
EGC.
Baughman, Diane C. 2000. Buku Saku Keperawatan Medikal Bedah. EGC: Jakarta
Price, Sylvia A. 2006. Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit Volume 2. EGC:
Jakarta
Smeltzer, Suzanne C. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Edisi 8 Bedah Volume 2. EGC:
Jakarta
Smeltzer, Suzanne C. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medical Bedah Brunner & Suddarth
Volume 1. Jakarta : EGC.
Doenges, Marilyn E.1999. Rencana Asuhan Keperawatan: Pedoman Untuk Perencanaan Dan
Pendokumentasian Perawatan Pasien. Alih Bahasa: I Made Kariasa, Ni made Sumarwati.
Edisi: 3. Jakarta: EGC.

25

Guwandi, J. 1994., Kelalaian Medik (medical negligence), Edisi 2. Jakarta : Balai penerbit
FKUI.
Hanafiah dan Amir .1999. Etika kedokteran dan hukum kesehatan, Edisi 3. Jakarta : EGC
Musttaqin, Arif dan kumala sari. 2012. Asuhan Keperawatan Gangguan Sistem Perkemihan.
Jakarta : Salemba Medika.

WOC (Web of Caution) Abses Perinefritis

Penyebaran secara asending saluran


Penyebaran
kemih infeksi secara hematogen ke ginjal

Invasi kuman ke parenkim


Infeksi
ginjalparenkim dan pembentukan abses pada ginjal
Membentuk abses renal
Pecah abses ke fasia gerota

Abses perirenal

Reaksi sistemik

Reaksi lokal

Respons inflamasi lokal kontraksi otot pingga


Respon Inflamasi
Laju Metabolisme
sistemik
umum
Mual, muntah,
meningkat
respons psikologis

Stimulus nyeri
Demam, menggigil
Kelemahan,
keletihanintake
meningkat
Anoreksia,
nutrisi, kurang responsNyeri
cemas
Peningkatan suhu tubuh
Gangguan ADL
Hipertermi

26

Ketidak seimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan kecemasan