Anda di halaman 1dari 13

3

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Biodiesel sebagai Energi Alternatif
Energi alternatif adalah semua energi yang dapat digunakan yang bertujuan
untuk menggantikan bahan bakar konvensional. Pada umumnya, istilah energi
alternatif digunakan untuk mengurangi penggunaan bahan bakar hidrokarbon
yang mengakibatkan kerusakan lingkungan akibat emisi karbon dioksida yang
tinggi, yang berkontribusi besar terhadap pemanasan global berdasarkan
Intergovernmental Panel on Climate Change. Selama beberapa tahun, energi
alternatif telah berubah akibat banyaknya energi yang dipilih karena bermacammacam dalam penggunaannya.
Istilah alternatif merujuk kepada suatu teknologi selain teknologi yang
digunakan pada bahan bakar fosil untuk menghasilkan energi. Teknologi alternatif
yang digunakan untuk menghasilkan energi dengan mengatasi masalah dan tidak
menghasilkan masalah seperti penggunaan bahan bakar fosil. Oxford Dictionary
mendefinisikan energi alternatif sebagai energi yang digunakan bertujuan untuk
menghentikan penggunaan sumber daya alam atau perusakan lingkungan.
Sebagian besar pendukung menunjukkan bahwa limbah minyak nabati
adalah sumber terbaik untuk menghasilkan minyak biodiesel. Namun, pasokan
yang tersedia secara drastis kurang dari jumlah bahan bakar berbasis minyak bumi
yang dibakar untuk transportasi dan pemanasan rumah di dunia. Bahan bakar
transportasi diperkirakan dan rumah menggunakan minyak pemanas sekitar
230.000 juta galon, limbah minyak nabati dan lemak hewan tidak akan cukup
untuk memenuhi permintaan. Oleh karena itu, diperkirakan produksi minyak
nabati untuk semua penggunaan adalah sekitar 33.000 juta pound (15.000.000
ton) atau 4.500 juta US galon (17.000.000 m), dan produksi diperkirakan lemak
hewan adalah 12.000 juta pound (5.000.000 ton). Untuk sumber minyak
terbarukan, tanaman atau sumber cultivatable serupa harus dipertimbangkan.
Sebagaimana telah kita ketahui bahwa, tanaman berfotosintesis untuk
mengubah energi matahari menjadi energi kimia. Dalam hal ini energi kimia yang

menyimpan biodiesel akan dilepaskan ketika dibakar. Oleh karena itu tanaman
dapat menawarkan sumber minyak yang berkelanjutan untuk produksi biodiesel.
tanaman yang berbeda menghasilkan minyak yang dapat digunakan pada tingkat
yang berbeda. Beberapa studi telah menunjukkan produksi tahunan sebagai
berikut:
1)
2)
3)
4)
5)

Kedelai: 40 sampai 50 US gal/acre (40 sampai 50 m/km)


Mustard: 140 US gal/acre (130 m/km)
Kelapa sawit: 650 US gal/acre (610 m/km)
Alga: 10.000 hingga 20.000 US gal/ha (10.000 hingga 20.000 m/km)
Brassica napus: 110-145 US gal/acre (100-140 m/ km)
Produksi minyak panen ganggang untuk biodiesel belum dilakukan pada

skala komersial, tetapi studi kelayakan kerja telah dilakukan untuk sampai pada
nomor di atas. Khusus dibesarkan varietas sawit dapat menghasilkan minyak yang
tinggi, dan memiliki manfaat tambahan bahwa sisa makanan setelah minyak telah
ditekan keluar dapat bertindak sebagai pestisida efektif dan biodegradable.
Penelitian-penelitian

yang

sedang

berlangsung

dalam

tujuannya

untuk

menemukan tanaman yang lebih cocok dan meningkatkan produksi minyak.


Menggunakan hasil saat ini, sejumlah besar tanah harus dimasukkan ke dalam
produksi untuk menghasilkan minyak yang cukup untuk menggantikan
penggunaan bahan bakar fosil.
Biodiesel terdiri dari campuran mono-alkyl ester dari rantai panjang asam
lemak, yang dipakai sebagai alternatif bagi bahan bakar dari mesin diesel dan
terbuat dari sumber terbaharui seperti minyak sayur atau lemak hewan. Biodiesel
adalah salah satu ester metil atau etil berasal dari minyak nabati, limbah minyak
goreng atau lemak hewan melalui proses yang disebut transesterifikasi.
Di Amerika Serikat, minyak kedelai adalah minyak nabati utama yang
digunakan dalam memproduksi biodiesel, tetapi minyak dari tanaman seperti
kanola, bunga matahari, safflowers dan lain-lain dapat juga digunakan dalam
pembuatan biodiesel. Minyak ini mengandung berbagai proporsi asam lemak yang
mempengaruhi karakteristik mereka, terutama kemampuan untuk mengalir di
daerah beriklim dingin.

Biodiesel dapat digunakan dalam mesin diesel dengan sedikit modifikasi.


Biodiesel merupakan solusi yang paling tepat untuk menggantikan bahan bakar
fosil sebagai sumber energi transportasi utama dunia, karena biodiesel merupakan
bahan bakar terbaharui yang dapat menggantikan diesel petrol pada mesin dan
dapat diangkut serta dijual dengan menggunakan infrastruktur sekarang ini.
Biodiesel terdiri dari metil ester asam lemak nabati, sedangkan petroleum diesel
adalah hidrokarbon. Biodiesel mempunyai sifat kimia dan fisika yang serupa
dengan petroleum diesel sehingga dapat digunakan langsung untuk mesin diesel
atau dicampur dengan petroleum diesel. Pencampuran 20% biodiesel ke dalam
petroleum diesel menghasilkan produk bahan bakar tanpa mengubah sifat fisik
secara nyata. Produk ini di Amerika dikenal sebagai Diesel B-20 yang banyak
digunakan untuk bahan bakar bus.
Biodiesel adalah senyawa mono alkil ester yang diproduksi melalui reaksi
transesterifikasi antara trigliserida (minyak nabati, seperti minyak sawit, minyak
jarak, dan lain-lain) dengan metanol menjadi metil ester dan gliserol dengan
bantuan katalis basa. Biodiesel mempunyai rantai karbon antara 12 sampai 20
serta mengandung oksigen. Adanya oksigen pada biodiesel membedakannya
dengan petroleum diesel (solar) yang komponen utamanya hanya terdiri dari hidro
karbon. Jadi komposisi biodiesel dan petroleum diesel sangat berbeda.
Energi yang dihasilkan oleh biodiesel relatif tidak berbeda dengan
petroleum diesel masingmasing yaitu 128.000 BTU dan 130.000 BTU, sehingga
engine torque dan tenaga kuda yang dihasilkan juga sama. Kandungan kalori
biodiesel hampir serupa dengan petroleum diesel.

Namun, karena biodiesel

mengandung oksigen, maka flash pointnya lebih tinggi sehingga tidak mudah
terbakar. Biodiesel juga tidak menghasilkan uap yang membahayakan pada suhu
kamar, maka biodiesel lebih aman daripada petroleum diesel dalam penyimpanan
dan penggunaannya. Di samping itu, biodiesel tidak mengandung sulfur dan
senyawa benzen yang karsinogenik, sehingga biodiesel merupakan bahan bakar
yang lebih bersih dan lebih mudah ditangani dibandingkan dengan minyak diesel.
Penggunaan biodiesel juga dapat mengurangi emisi karbon monoksida,
hidrokarbon total, partikel, dan sulfur dioksida.

Kelebihan lain dapat kita pertimbangkan dari segi lingkungannya yaitu,


biodiesel memiliki tingkat toksisitasnya yang 10 kali lebih rendah dibandingkan
dengan garam dapur dan juga memiliki tingkat biodegradabilitas yang sama
dengan glukosa, sehingga sangat cocok digunakan di perairan untuk bahan bakar
kapal/motor. Biodiesel tidak menambah efek rumah kaca seperti halnya petroleum
diesel atau bahan bakar fosil karena karbon yang dihasilkan masih dalam siklus
karbon. Untuk penggunaan biodiesel pada dasarnya tidak perlu modifikasi pada
mesin diesel, bahkan biodiesel mempunyai efek pembersihan terhadap tangki
bahan bakar, injektor dan selang.
Biodiesel mempunyai beberapa keunggulan diantaranya adalah mudah
digunakan, limbahnya bersifat ramah lingkungan (biodegradable), tidak beracun,
bebas dari logam berat sulfur dan senyawa aromatik serta mempunyai nilai flash
point (titik nyala) yang lebih tinggi dari petroleum diesel sehingga lebih aman jika
disimpan dan digunakan.Secara teknis biodiesel yang berasal dari minyak nabati
dikenal sebagai VOME (Vegetable Oil Metil Ester) dan merupakan sumberdaya
yang dapat diperbaharui karena umumnya dapat diekstrak dari berbagai hasil
produk pertanian seperti minyak kacang kedelai, minyak kelapa, minyak bunga
matahari maupun minyak sawit.
Biodiesel tidak mudah terbakar, dan berbeda dengan diesel minyak bumi
dengan sifatnya adalah non-ledakan, dengan titik nyala 150C.

Angka yang

cukup jauh jika biodiesel dibandingkan dengan solar yang memiliki titik nyala
sebesar 64C. Tidak seperti solar, biodiesel adalah biodegradable dan tidak
beracun, dan secara signifikan mengurangi emisi beracun dan lainnya ketika
dibakar sebagai bahan bakar. Secara kimia, itu adalah bahan bakar terdiri dari
campuran mono-alkil ester asam lemak rantai panjang. Bentuk yang paling umum
menggunakan metanol untuk menghasilkan ester metil, meskipun etanol dapat
digunakan untuk menghasilkan biodiesel etil ester. Sebuah proses produksi
transesterifikasi lipid digunakan untuk mengubah minyak dasar untuk ester yang
diinginkan dan membuang asam lemak bebas.
Untuk saat ini, biaya untuk memproduksi biodiesel lebih mahal jika
dibandingkan dengan diesel minyak bumi, yang tampaknya menjadi faktor utama

yang menghambat penggunaan

biodiesel untuk digunakan lebih luas lagi.

Produksi di seluruh dunia minyak nabati dan lemak hewan tidak cukup untuk
menggantikan penggunaan bahan bakar fosil cair. Beberapa kelompok
lingkungan, terutama NRDC (Natural Resources Defense Council), objek dengan
jumlah besar pertanian dan di atas hasil-pemupukan, penggunaan pestisida, dan
konversi lahan yang akan dibutuhkan untuk menghasilkan minyak nabati
tambahan.
2.2. Proses Pembuatan Metil Ester
Metil ester mempunyai beberapa kelebihan dibandingkan dengan asam
lemak, diantaranya yaitu:
a. Pemakaian energi sedikit karena membutuhkan suhu dan tekanan lebih
rendah dibandingkan dengan asam lemak.
b. Peralatan yang digunakan murah. Metil ester bersifat non korosif dan metil
ester dihasilkan pada suhu dan tekanan lebih rendah. Oleh karena itu proses
pembuatan metil ester menggunakan peralatan yang terbuat dari karbon steel,
sedangkan asam lemak bersifat korosif sehingga untuk bahan konstruksinya
membutuhkan peralatan stainless steel yang kuat.
c. Lebih banyak menghasilkan hasil samping gliserin yaitu konsentrat gliserin.
Melalui reaksi transesterifikasi kering sehingga menghasilkan konsentrat
gliserin, sedangkan asam lemak, proses pemecahan lemak menghasilkan
gliserin yang masih mengandung air lebih dari 80%, sehingga membutuhkan
energi yang lebih banyak.
d. Metil ester lebih mudah didistilasi karena titik didihnya lebih rendah dan
lebih stabil terhadap panas.
e. Dalam memproduksi alkanolamida, ester dapat menghasilkan superamida
dengan kemurnian lebih dari 90% dibandingkan dengan asam lemak yang
menghasilkan amida dengan kemurnian hanya 65-70%.
f. Metil ester mudah dipindahkan dibandingkan asam lemak karena sifat
kimianya lebih stabil dan non korosif.
Metil ester dapat dihasilkan melalui reaksi kimia esterifikasi dan reaksi
transesterifikasi.

2.2.1. Esterifikasi
Esterifikasi adalah tahap konversi dari asam lemak bebas menjadi ester.
Esterifikasi mereaksikan minyak lemak dengan alkohol.

Katalis-katalis yang

cocok adalah zat berkarakter asam kuat, dan karena ini, asam sulfat, asam sulfonat
organik atau resin penukar kation asam kuat merupakan katalis-katalis yang biasa
terpilih dalam praktek industrial (Soerawidjaja,2006). Untuk mendorong agar
reaksi bisa berlangsung ke konversi yang sempurna pada temperatur rendah
(misalnya paling tinggi 120 C), reaktan metanol ditambahkan dalam jumlah
yang sangat berlebih (biasanya lebih besar dari 10 kali nisbah stoikhiometrik) dan
air produk ikutan reaksi harus disingkirkan dari fasa reaksi, yaitu fasa minyak.
Melalui kombinasi-kombinasi yang tepat dari kondisi-kondisi reaksi dan
metode penyingkiran air, konversi sempurna asam-asam lemak ke ester metilnya
dapat dituntaskan dalam waktu 1 sampai beberapa jam. Reaksi esterifikasi dari
asam lemak menjadi metil ester adalah :
RCOOH

Asam Lemak

CH3OH
Metanol

RCOOH3
Metil Ester

H2O

(1)

Air

Esterifikasi biasa dilakukan untuk membuat biodiesel dari minyak berkadar


asam lemak bebas tinggi (berangka-asam P 5 mg-KOH/g). Pada tahap ini, asam
lemak bebas akan dikonversikan menjadi metil ester. Tahap esterifikasi biasa
diikuti dengan tahap transesterfikasi. Namun sebelum produk esterifikasi
diumpankan ke tahap transesterifikasi, air dan bagian terbesar katalis asam yang
dikandungnya harus disingkirkan terlebih dahulu. Faktor yang mempengaruhi
reaksi esterifikasi, yaitu :
1.

Waktu Reaksi.
Semakin lama waktu reaksi maka kemungkinan kontak antar zat semakin

besar sehingga akan menghasilkan konversi yang besar atau dengan kata lain
waktu reaksi yang besar juga akan menyebabkan waktu tinggal (resident time)
reaktan akan semakin lama. Hal ini menyebabkan kemungkinan reaktan untuk
bereaksi satu sama lain menjadi besar. Jika kesetimbangan reaksi sudah tercapai
maka dengan bertambahnya waktu reaksi tidak akan menguntungkan karena tidak
memperbesar hasil.

2.

Pengadukan.
Pengadukan akan menambah frekuensi tumbukan antara molekul zat pereaksi

dengan zat yang bereaksi sehingga mempercepat reaksi dan reaksi terjadi
sempurna. Sesuai dengan persamaan Archenius :
k = A e(-Ea/RT)

(2)

dimana :
T = Suhu absolut ( C)
R = Konstanta gas umum (cal/gmol K)
E = Tenaga aktivasi (cal/gmol)
A = Faktor tumbukan (t-1)
k = Konstanta kecepatan reaksi (t-1)
Semakin besar tumbukan maka semakin besar pula harga konstanta
kecepatan reaksi. Sehingga dalam hal ini pengadukan sangat penting mengingat
larutan minyak katalis metanol merupakan larutan yang immiscible.
3.

Katalisator
Katalisator berfungsi untuk mengurangi tenaga aktivasi pada suatu reaksi

sehingga pada suhu tertentu harga konstanta kecepatan reaksi semakin besar. Pada
reaksi esterifikasi yang sudah dilakukan biasanya menggunakan konsentrasi
katalis antara 1 - 4 % berat sampai 10 % berat campuran pereaksi.
4.

Suhu Reaksi
Semakin tinggi suhu yang dioperasikan maka semakin banyak konversi yang

dihasilkan, hal ini sesuai dengan persamaan Archenius. Bila suhu naik maka harga
k makin besar sehingga reaksi berjalan cepat dan hasil konversi makin besar.
Esterifikasi adalah proses yang mereaksikan asam lemak bebas (FFA) dengan
alkohol rantai pendek (metanol atau etanol) menghasilkan metil ester asam lemak
(FAME) dan air. Katalis yang digunakan untuk reaksi esterifikasi adalah asam,
biasanya asam sulfat (H2SO4) atau asam fosfat (H2PO4). Berdasarkan kandungan
FFA dalam minyak nabati maka proses pembuatan biodiesel secara komersial
dibedakan menjadi 2 yaitu transesterifikasi dengan katalis basa (sebagian besar
menggunakan kalium hidroksida) untuk bahan baku refined oil atau minyak nabati

10

dengan kandungan FFA rendah dan esterifikasi dengan katalis asam (umumnya
menggunakan asam sulfat) untuk minyak nabati dengan kandungan FFA tinggi
dilanjutkan dengan transesterifikasi dengan katalis basa.
Proses pembuatan biodiesel dari minyak dengan kandungan FFA rendah
secara keseluruhan terdiri dari reaksi transesterifikasi, pemisahan gliserol dari
metil ester, pemurnian metil ester (netralisasi, pemisahan methanol, pencucian dan
pengeringan/dehidrasi), pengambilan gliserol sebagai produk samping (asidulasi
dan pemisahan metanol) dan pemurnian metanol yang tidak bereaksi secara
destilasi/rectification.
Proses esterifikasi dengan katalis asam diperlukan jika minyak nabati
mengandung FFA di atas 5%. Jika minyak berkadar FFA tinggi (>5%) langsung
ditransesterifikasi dengan katalis basa maka FFA akan bereaksi dengan katalis
membentuk sabun. Terbentuknya sabun dalam jumlah yang cukup besar dapat
menghambat pemisahan gliserol dari metil ester dan berakibat terbentuknya
emulsi selama proses pencucian. Jadi esterifikasi digunakan sebagai proses
pendahuluan untuk mengkonversikan FFA menjadi metil ester sehingga
mengurangi kadar FFA dalam minyak nabati dan selanjutnya ditransesterifikasi
dengan katalis basa untuk mengkonversikan trigliserida menjadi metil ester.
2.2.2. Transesterifikasi
Transesterifikasi adalah proses yang mereaksikan trigliserida dalam minyak
nabati atau lemak hewani dengan alkohol rantai pendek seperti metanol atau
etanol (pada saat ini sebagian besar produksi biodiesel menggunakan metanol)
menghasilkan metal ester asam lemak (Fatty Acids Methyl Esters / FAME) atau
biodiesel dan gliserol (gliserin) sebagai produk samping. Katalis yang digunakan
pada proses transeterifikasi adalah basa atau alkali, biasanya digunakan natrium
hidroksida (NaOH) atau kalium hidroksida (KOH).
Transesterifikasi (biasa disebut dengan alkoholisis) adalah tahap konversi
dari trigliserida (minyak nabati) menjadi alkil ester, melalui reaksi dengan
alkohol, dan menghasilkan produk samping yaitu gliserol. Di antara alkoholalkohol monohidrik yang menjadi kandidat sumber/pemasok gugus alkil, metanol
adalah yang paling umum digunakan, karena harganya murah dan reaktifitasnya

11

paling tinggi (sehingga reaksi disebut metanolisis). Jadi, di hampir sebagian besar
di dunia, biodiesel praktis identik dengan metil ester asam-asam lemak (Fatty
Acids Metil Ester, FAME).
RCOOCH2

CH2OH

RCOOCH + 3 CH3O

3 RCOOCH2 + CHOH

RCOOCH2
trigliserida

(3)

CH2OH
metanol

metil ester

gliserol

Transesterifikasi juga menggunakan katalis dalam reaksinya. Tanpa adanya


katalis, konversi yang dihasilkan maksimum namun reaksi berjalan dengan lambat
(Mittlebatch,2004). Katalis yang biasa digunakan pada reaksi transesterifikasi
adalah katalis basa, karena katalis ini dapat mempercepat reaksi. Produksi
biodiesel dari tumbuhan yang umum dilaksanakan yaitu melalui proses yang
disebut dengan transesterifikasi. Transesterifikasi yaitu proses kimiawi yang
mempertukarkan grup alkoksi pada senyawa ester dengan alkohol. Untuk
mempercepat reaksi ini diperlukan bantuan katalisator berupa asam atau basa.
Pada tanaman penghasil minyak, cukup banyak terkandung asam lemak.
Secara kimiawi, asam lemak ini merupakan senyawa gliserida. Pada proses
transesterifikasi senyawa gliserida ini dipecah menjadi monomer senyawa ester
dan gliserol, dengan penambahan alkohol dalam jumlah yang banyak dan bantuan
katalisator. Senyawa ester, pada tingkat (grade) tertentu inilah yang menjadi
biodiesel. Dalam proses transesterifikasi untuk produksi biodiesel dari tumbuhan,
biasanya digunakan asam sulfat (H2SO4) sebagai katalisator reaksi kimianya.
Produk yang diinginkan dari reaksi transesterifikasi adalah ester metil
asam-asam lemak. Terdapat beberapa cara agar kesetimbangan lebih ke arah
produk, yaitu menambahkan metanol berlebih ke dalam reaksi, memisahkan
gliserol,

menurunkan temperatur reaksi (transesterifikasi merupakan reaksi

eksoterm).Transesterifikasi pada dasarnya terdiri atas 4 tahapan, yakni:


1. Pencampuran katalis alkali (umumnya sodium hidroksida atau potassium
hidroksida) dengan alkohol (umumnya metanol). Konsentrasi alkalin yang

12

digunakan bervariasi antara 0.5-1 wt% terhadap massa minyak. Sedangkan


alkohol diset pada rasio molar antara alkohol terhadap minyak sebesar 9:1.
2. Pencampuran alkohol+alkalin dengan minyak di dalam wadah yang dijaga
pada temperatur tertentu (sekitar 40-60oC) dan dilengkapi dengan pengaduk
(baik magnetik ataupun motor elektrik) dengan kecepatan konstan (umumnya
pada 600 rpm - putaran per-menit). Keberadaan pengaduk sangat penting
untuk memastikan terjadinya reaksi methanolisis secara menyeluruh di dalam
campuran. Reaksi metanolisis ini dilakukan sekitar 1-2 jam.
3. Setelah reaksi methanolisis berhenti, campuran didiamkan dan perbedaan
densitas senyawa di dalam campuran akan mengakibatkan separasi antara
metil ester dan gliserol. Metil ester dipisahkan dari gliserol dengan teknik
separasi gravitasi.
4. Metil ester yang notabene biodiesel tersebut kemudian dibersihkan
menggunakan air distilat untuk memisahkan zat-zat pengotor seperti methanol,
sisa katalis alkalin, gliserol, dan sabun-sabun (soaps). Lebih tingginya densitas
air dibandingkan dengan metil ester menyebabkan prinsip separasi gravitasi
berlaku: air berposisi di bagian bawah sedangkan metil ester di bagian atas.
Sehingga akan tampak dua buah lapisan yang berbeda satu sama lain.
Transesterifikasi tanpa katalis yaitu proses transesterifikasi pada minyak
kedelai (soybean oil) dengan menggunakan methanol superkritik dan co-solvent
CO2. Tidak adanya katalis ,memberikan keuntungan tidak diperlukannya proses
purifikasi metil ester terhadap katalis yang biasanya terikut pada produk proses
transesterifikasi konvensional menggunakan katalis asam/basa.
Perbaikan pada proses transesterifikasi menggunakan methanol superkritik
dengan menambahkan co-solvent CO2 yang berfungsi untuk menurunkan tekanan
dan temperatur operasi proses transesterifikasi. Hal ini berkorelasi langsung pada
lebih rendahnya

energi yang diperlukan dalam proses transesterifikasi

menggunakan methanol

superkritik. Namun, temperatur yang terlibat dalam

proses yang dilakukan masih cukup tinggi, yakni sekitar 280 oC. Namun, suhu
yang cukup tinggi ini masih jauh lebih rendah dari kondisi operasi normal pada
pembuatan biodiesel tanpa menggunakan katalis.

13

2.2.3. Alkoholisis
Alkoholisis trigliserida dengan alkohol fraksi ringan seperti methanol
merupakan reaksi seimbang dan kalor reaksinya seimbang dan kalor reaksinya
kecil. Untuk menggeser reaksi ke kanan biasanya menggunakan alkohol
berlebihan. Dalam penelitian ini, methanol diberikan berlebihan dibanding
gliserida maka reaksi yang terjadi bisa dianggap reaksi searah. Trigliserida
terdapat dalam minyak, setelah dialkoholisis akan diperoleh gliserol dan ester.
Untuk mempercepat reaksi dapat digunakan katalisator berupa asam, basa, atau
penukar ion. (Swern,1964)
Mekanisme reaksinya sebagai berikut :
RCOOCH2

CH2OH

RCOOCH + 3 CH3O

3 RCOOCH2 + CHOH

RCOOCH2
trigliserida

(4)

CH2OH
metanol

metil ester

gliserol

Proses alkoholisis dapat dijalankan secara batch maupun sinambung,


dimana pada proses batch menggunakan labu leher tiga atau autoclave. Selain itu
dalam autoclave proses dapat berjalan pada suhu tinggi dalam fase cair, sehingga
akan bisa berlangsung lebih cepat. Proses sinambung dilaksanakan dalam reaktor
kolom tegak dengan alat pencampur yang berupa pengaduk atau gas inert. Proses
ini lebih sulit dikarenakan perlu bahan baku yang lebih banyak dan waktu yang
lebih panjang.
2.3. Karakteristik Bahan Bakar Minyak
Karakteristik bahan bakar minyak yang akan dipakai pada suatu penggunaan
tertentu untuk mesin atau peralatan lainnya perlu diketahui terlebih dahulu, agar
hasil pembakaran dapat tercapai secara optimal. Secara umum, karakteristik bahan
baker minyak khususnya minyak solar yang perlu diketahui sebagai berikut:
1)

Berat Jenis (Specific Gravity


Berat jenis adalah suatu angka yang menyatakan perbandingan berat bahan

bakar minyak pada temperatur tertentu terhadap air pada volume dan temperatur

14

yang sama. Bahan bakar minyak umumnya mempunyai specific gravity antara
0,74 0,96, dengan kata lain bahan baker minyak lebih ringan dari pada air.
2) Viskositas
Viskositas adalah suatu angka yang menyatakan besarnya hambatan dari suatu
bahan cair untuk mengalir, atau ukuran besarnya tahanan geser dari bahan cair.
Makin tinggi viskositas minyak, akan makin kental dan makin sulit mengalir,
begitu juga sebaliknya. Viskositas bahan bakar minyak sangat penting artinya,
terutama bagi mesin mesin diesel maupun ketel uap, karena viskositas minyak
sangat bekaitan dengan supplay konsumsi bahan bakar kedalam ruang bakar dan
juga sangat berpengaruh terhadap kesempurnaan proses pengkabutan bahan bakar
malalui injektor.
3)

Titik Tuang
Titik tuang adalah suatu angka yang menyatakan suhu terendah dari bahan

bakar minyak sehingga minyak tersebut masih dapat mengalir karena gaya
gravitasi. Titik tuang ini diperlukan sehubungan dengan adanya persyaratan
praktis dari prosedur penimbunan dan pemakaian dari bahan bakar minyak. Hal
ini dikarenakan bahan baker minyak seringkali sulit untuk dipompa apabila
suhunya telah dibawah titik tuangnya.
4)

Titik nyala
Titik nyala adalah suatu angka yang menyatakan suhu terendah dari bahan

bakar minyak dimana akan timbul penyalaan api sesaat, apabila pada permukaan
minyak tersebut didekatkan pada nyala api. Titik nyala diperlukan sehubungan
dengan pertimbangan pertimbangan mengenai keamanan dari penimbunan
minyak dan pengangkutan bahan baker minyak terhadap bahaya kebakaran.
Biodiesel mempunyai kelebihan kurang mudah menyala dibanding solar,
lebih mudah dalam penyimpanannya, dan dapat dicampur dengan solar.
Penggunaan minyak goreng langsung mempunyai kelebihan lebih murah namun
mempunyai kekurangan kekentalan, dan mengganggu ketersediaan untuk
konsumsi masyarakat. Penggunaan biodiesel yang maksimal hanya dapat
diperoleh jika mempergunakan 100% biodiesel tanpa mencampur dengan minyak
solar. Kelebihan biodiesel dibanding minyak diesel atau solar adalah :

15

1)

Cetane number lebih tinggi sehingga pembakaran lebih sempurna.

2)

Memiliki sifat pelumasan terhadap piston mesin.

3)

Merupakan bahan bakar yang ramah lingkungan karena menghasilkan emisi


yang jauh lebih baik (free sulphur, smoke number rendah), sesuai dengan isuisu global.

4)

Biodegradable (dapat terurai dengan cepat)

5)

Merupakan renewable energy karena terbuat dari bahan alam yang dapat
diperbarui

6)

Bahan bakunya tersedia di daerah

7)

Biodiesel dapat dipergunakan keperluan lain seperti : pelindung kayu


termasuk interior rumah yang terbuat dari kayu. Sebagai pelumas dan
pelindung korosi pada peralatan rumah tangga, pertanian yang terbuat dari
logam. Biodiesel dapat pula dicampur dengan bensin untuk mesin 2 langkah
sebagai bahan bakar dan pelumasan. Biodiesel tidak dapat menggantikan
minyak tanah untuk keperluan kompor dan lampu minyak karena sifat tidak
bisa merambat keatas. Untuk keperluan lampu petromax dengan terang yang
sama, biodiesel dapat dipergunakan hingga 8 jam dan kurang memerlukan
pemompaan. Biodiesel juga dipergunakan untuk membersihkan noda
crayon pada baju dengan lebih baik dibanding deterjen.