Anda di halaman 1dari 18

1

Hubungan Lama Paparan Arsen Pada Pestisida Dengan Gangguan Kepekaan

Kulit Pada Petani Hortikultura di Kecamatan Ngablak Kabupaten Magelang

3
4
5

Dhita Septiananda1),Nurjazuli2), Onny Setiani2), Dewi Mulyaningsih3)


1)

Mahasiswa Peminatan Kesehatan Lingkungan FKM UNDIP 2011


2)

6
7
8
9
10

Dosen Bagian Kesehatan Lingkungan FKM UNDIP

3)

Mahasiswa Peminatan Kesehatan Lingkungan FKM UNDIP 2014


ABSTRAK

Kandungan bahan kimia pada pestisida yang mengandung arsen dalam jangka

11panjang dapat menimbulkan efek kronik yakni berkurangnya kepekaan kulit yang dapat
12menjadi awal timbulnya penyakit yang lebih serius. Tujuan umum dari penelitian ini
13yakni adakah hubungan antara lama paparan arsen pada pestisida dengan gangguan
14kepekaan kulit pada petani hortikultura di Kec. Ngablak Kab. Magelang. Penelitian ini
15menggunakan jenis penelitian observasional dengan desain cross sectional. Populasi
16dalam penelitian ini adalah seluruh petani hortikultura aktif di Kec. Ngablak dengan
17sampel 30 orang yang diambil dengan metode porposive sampling. Analisis data
18menggunakan uji Point Biserial dan chi-square. Berdasarkan pemeriksaan gangguan
19kepekaan kulit, diketahui 15 dari 30 responden atau 50% nya mengalami gangguan
20kepekaan kulit. Sedangkan dari hasil analisis diketahui tidak ada hubungan antara
21variabel bebas dengan gangguan kepekaan kulit. Dari penelitian ini dapat disimpulkan
22bahwa 50% responden mengalami gangguan kepekaan kulit dan tidak ada hubungan
23antara lama paparan arsen pada pestisida (p-value 0,469), masa kerja (p-value 0,197),
24kelengkapan pemakaian APD (p-value 0,483) dan arah penyemprotan (p-value 0,121)
25dengan gangguan kepekaan kulit pada petani hortikultura di Kec. Ngablak.
26Kata Kunci: gangguan kepekaan kulit, efek paparan pestisida, arsen

3
4
27

ABSTRACT

28The chemicals in pesticides containing arsenic in the long term can lead to chronic
29effects of the reduced sensitivity of the skin that can be the beginning of a more serious
30disease. The general objective of this research is there a relationship between long
31exposure to arsenic in pesticides with skin sensitivity disorders in horticultural farmers
32in the district. Ngablak Kab. Magelang. This research uses an observational study with
33cross sectional design. The population in this study are all active horticultural farmers in
34the district. Ngablak with 30 samples taken with purposive sampling method. Data
35analysis using Point biserial test and chi-square. Based on examination of skin
36sensitivity disorders, known to 15 of 30 respondents or 50% of its impaired skin
37sensitization. While the results of the analysis found no relationship between the
38independent variables with skin sensitivity disorders. From this study it can be
39concluded that 50% of respondents experienced a skin sensitivity disorders and there is
40no relationship between long exposure to arsenic in pesticides (p-value 0.469), tenure
41(p-value 0.197), the completeness of the use of PPE (p-value 0.483) and direction
42spraying (p-value 0.121) with a sensitivity of skin disorders in horticultural farmers in
43the district. Ngablak.
44Keywords: skin sensitivity disorders, the effects of exposure to pesticides, arsenic
45
46
47
48
49
50
51

5
6

52
53

PENDAHULUAN
Salah satu penggunaan pestisida yang banyak di temui yakni di bidang

54pertanian. Pestisida yang digunakan di bidang pertanian secara spesifik sering disebut
55produk perlindungan tanaman (crop protection products) untuk membedakannya dengan
56produk- produk yang digunakan di bidang lain. Pestisida pertanian dan pestisida pada
57umumnya adalah bahan kimia atau campuran bahan kimia serta bahan-bahan lain
58seperti ekstrak tumbuhan dan mikrooganisme yang digunakan untuk mengendalikan
59organisme pengganggu tanaman.1
60

Di daerah Ngablak, hampir seluruh petani menggunakan pestisida dalam bertani

61dengan maksud untuk meningkatkan hasil pertanian dan membuat hasil pertanian
62tersebut lebih awet saat dibawa keluar kota. Kegiatan pertanian yang terjadi di daerah
63ini meliputi proses penyiapan benih, menanam sayuran hingga melakukan
64penyemprotan pestisida.2 Namun, senyawa pestisida juga bersifat bioaktif, yakni
65pestisida dengan satu atau beberapa cara dapat mempengaruhi kehidupan, misalnya
66menghentikan pertumbuhan, membunuh hama atau penyakit, menekan gulma,
67merontokkan daun, dan membunuh atau menekan gulma. 1 Sehingga penggunaan
68pestisida juga harus sesuai dengan aturan dan dosis yang telah ditentukan karena
69pestisida juga dapat menjadi racun yang dapat membunuh organisme berguna bahkan
70nyawa pengguna apabila penggunaannya tidak sesuai prosedur yang telah ditetapkan. 3
71Selain dosis, dalam penggunaan pestisida juga harus memperhatikan waktu dan cara
72dalam penggunaan pestisida.1
73

Bahaya penggunaan pestisida yang tidak sesuai aturan yang telah ditetapkan

74dapat mengancam keselamatan banyak pihak. Pestisida yang digunakan secara


75berlebihan dan tidak menggunakan cara yang tepat dapat menimbulkan resiko baik

7
8

76jangka pendek maupun jangka panjang bagi keselamatan pengguna atau petani
77hortikultura yang bersangkutan, konsumen yang akan mengkonsumsi sayuran nantinya
78maupun lingkungan petanian.1
79

Pemakaian pestisida dalam jangka panjang dapat menyebabkan petani

80mengalami keracunan kronis. Keracunan kronis dapat terjadi apabila seseorang terpapar
81pestisda dalam dosis kecil, namun terjadi dalam jangka waktu yang terus menerus. Pada
82kasus keracunan kronis, korban dapat mengalami gangguan kepekaan ambang rasa pada
83kulitnya. Kaki dan tangannya dapat mengalami kesemutan dan rasa kebas atau
84mengalami kelemahan motorik. Pada awalnya gangguan yang terjadi tidak tampak,
85namun efek toksik yang terjadi semakin lama semakin menumpuk seiring dengan
86penggunaan pestisida yang mengandung arsen setiap harinya sehingga akhirnya timbul
87gangguan pada kepekaan kulit petani. Salah satu kandungan dalam pestisida yang
88berbahaya baik jangka panjang maupun pendek adalah arsen.
89

Pemajanan Arsen ke dalam tubuh manusia umumnya melalui oral, dari makanan

90dan minuman atau dapat pula melalui paparan yang tidak disadari petani ketika mereka
91menyemprot tanamannya tanpa alat pelindung diri seperti pada petani di daerah
92Ngablak yang mengenakan pakaian sedaanya ketika menyemprot.
93

Arsen yang tertelan secara cepat akan diserap lambung dan usus halus kemudian

94masuk ke peredaran darah.4 Arsen juga masuk ke dalam tubuh melalui paparan yang
95terjadi ketika petani menyemprot dan tidak memakai alat pelindung diri. Arsen yang
96terkandung dalam butiranbutiran pestisida kemudian akan menempel pada kulit dan
97masuk ke dalam tubuh melalui pori-pori kulit kemudian bercampur dengan aliran darah.
98Masuknya arsen ke dalam tubuh akan semakin mudah apabila terdapat bagian kulit
99terbuka yang tergores atau luka.

9
10

100

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui adanya hubungan antara

101lama paparan arsen pada pestisida dengan gangguan kepekaan kulit pada petani
102hortikultura di Kec. Ngablak Kab. Magelang.
103
104
105

METODE PENELITIAN
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasional

106analitik untuk menganalisa hubungan antara variabel-variabel yang ada dengan metode
107survey dengan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh
108petani penyemprot di wilayah Kec. Ngablak Kab. Magelang, baik laki-laki maupun
109perempuan dan merupakan petani aktif. Sampel dalam penelitian ini sebanyak 30
110responden yang diambil menggunakan metode Purposive Sampling. Variabel penelitian
111meliputi variabel bebas lama paparan pestisida yang mengandung arsen, masa kerja
112sebagai petani, kelengkapan pemakaian APD dan arah penyemprotan, sedangkan
113variabel terikat yakni gangguan kepekaan kulit. Analisis data menggunakan uji Point
114Biserial dan Chi-Square.
115

Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah alat tulis untuk membantu

116mencatat hasil wawancara, kuisoner sebagai panduan dalam wawancara untuk


117memperoleh data atau informasi, dan komputer untuk membantu mengolah data hasil
118penelitian. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah dengan cara sebagai
119berikut :
120

1. Wawancara

121

Wawancara dilakukan kepada responden dengan mengajukan pertanyaan sesuai

122

kuisoner sebagai panduan untuk mendapatkan data dari variabel bebas.

123

2. Observasi

11
12

124

Observasi dilakukan untuk mengamati secara langsung perilaku responden,

125

yakni petani hortikultura dalam melakukan penyemprotan tanaman meliputi

126

cara penyampuran, cara penyemprotan maupun kelengkapan pemakaian alat

127

pelindung diri ketika menyemprot.

128

3. Pemerikasaan langsung

129

Pemeriksaan langsung dilakukan pada responden untuk mengetahui apakah

130

responden mengalami gangguan kepekaan kulit atau tidak. Pemeriksaan

131

dilakukan dengan dibantu oleh petugas Puskesmas Ngablak dengan cara

132

mengusap-usapkan kapas yang telah dibasahi dengan alkohol ke bagian yang

133

akan diperiksa, yakni punggung kaki, punggung tangan serta pinggiran wajah.

134

Setelah itu, bagian-bagian tersebut kemudian diberikan tekanan dengan benda

135

berujung tajam untuk mengetahui apakah responden masih merasakan

136

rangsangan yang mengenainya.

137
138
139

HASIL
Rekapitulasi hasil uji statistik faktor-faktor yang berhubungan dengan gangguan

140kepekaan kulit pada petani hortikultura di Kecamatan Ngablak Kabupaten Magelang.


141

Tabel 1. Rekapitulasi Hasil Uji Statistik Faktor - Faktor Hubungan Gangguan

142

Kepekaan Kulit Pada Petani Hortikultura


No
1.

2.
3.
143
144
145

Variabel
(p) Value
Lama paparan Arsen pada
penggunaan
pestisida
per
0,469
minggu
Masa kerja
0,469
Kelengkapan Pemakaian APD
0,483

Keterangan
Tidak ada hubungan
Tidak ada hubungan
Tidak ada hubungan

A. Hubungan Lama paparan Arsen pada Pestisida Per Minggu dengan Gangguan
Kepekaan Kulit.

13
14

146

Dilihat dari nilai signifikannya sebesar 0,469 berarti Ho diterima, Ha

147

ditolak (p>0,05). Dari nilai tersebut dapat dinyatakan bahwa tidak ada hubungan

148

antara lama paparan arsen per minggu dengan gangguan kepekaan kulit pada

149
150
151

petani hortikultura di Kec. Ngablak Kab. Magelang.


B. Hubungan Masa Kerja dengan Gangguan Kepekaan Kulit
Dilihat dari nilai signifikannya sebesar 0,469 berarti Ho diterima, Ha

152

ditolak (p>0,05). Dari nilai tersebut dapat dinyatakan bahwa tidak ada hubungan

153

antara masa kerja dengan gangguan kepekaan kulit pada petani hortikultura di

154
155
156

Kec. Ngablak Kab. Magelang.


C. Hubungan Kelengkapan Pemakaian APD dengan Gangguan Kepekaan Kulit
Tabel 2. Hubungan Kelengkapan Pemakaian APD Pada Petani Hortikultura

157

dengan Gangguan Kepekaan Kulit


Kelengkapan

Kurang peka
F
%

pemakaian APD
Tidak lengkap
15
Lengkap
0

53,6
0

Normal
F
%
13
2

46,4
100

Total
F
28
2

p-value
%

100
100

0,483

158
159

Dari hasil tabel diatas diketahui 15 orang responden (53,6%) mengalami

160

gangguan kepekaan kulit dengan kebiasaan tidak memakai alat pelindung diri

161

secara lengkap. Sedangkan 13 respinden laninnya (46,4%) tidak mengalami

162

gangguan kepekaan kulit atau masih memiliki kepekaan kulit yang normal

163

dengan kebiasaan tidak memakai alat pelindung diri (APD) secara lengkap dan 2

164

rang responden memakai alat peindung dir (APD) secara lengkap dan tidak

165

mengalami gangguan kepekaan kulit atau kepekaan kulitnya masih normal,

166

sedangkan dar hasil uji Chi-square didapatkan nilai p-value 0,483 (p>005) yang

167

berarti Ho diterima atau tidak ada hubungan antara kelengkapan pemakaian alt

168

pelindung diri (APD) dengan gangguan kepekaan kulit pada petani hortikultura

169
170
171

di Kec. Ngablak Kab. Magelang.


D. Gangguan kepekaan kulit

15
16

172

Gangguan kepekaan kulit dapat diartikan dengan gangguan pada kulit

173

responden untuk merasakan rangsangan yang mengenai kulitnya, apakah

174

responden masih peka atau kepekaan kulitnya sudah terganggu dalam merasakan

175

rangsangan tersebut. Pemeriksaan dilakukan dengan cara mengusap-usapkan

176

kapas yang telah dibasahi dengan alkohol ke bagian yang akan diperiksa.

177

Selanjutnya bagian tersebut diberi tekanan dengan menggunakan benda berujung

178

tajam. Hasil pemeriksaan gangguan kepekaan kulit dibagi menjadi 2 kategori,

179
180

yakni :
a. Kurang peka, apabila ketika pemeriksaan dari 3 bagian tubuh yang

181

diperiksa yakni punggung kaki, punggung tangan dan pinggiran wajah

182

diketahui 2 bagian tubuh yang diperiksa mengalami gangguan berupa

183
184
185

berkurangnya atau hilangnya kepekaan pada bagian tubuh tersebut.


b. Normal.
Tabel 3. Distribusi Frekuensi Responden Menurut Gangguan Kepekaan Kulit

186

di Kec. Ngablak Kab. Magelang, Jawa Tengah.


Gangguan Kepekaan kulit
Kurang peka
Normal
Total

Frekuensi (orang)

Persentase (%)

15
15
30

50
50
100

187
188

Dari tabel diatas diketahui bahwa setengah dari responden yang diperiksa atau

189

sebanyak 15 orang atau 50% mengalami gangguan kepekaan kulit berupa

190

berkurangnya kepekaan kulit pada beberapa bagian tubuh yang diperiksa dan 15

191
192
193

responden lainnya masih memiliki kepekaan yang baik pada kulitnya.

194

Tabel 4. Hasil Pemeriksaan Gangguan Kepekaan Kulit Pada Tiap Bagian Yang
Diperiksa
Wajah
(orang)
Mengalami

gangguan 17

Tangan
(orang)
10

Kaki
(orang)
14

17
18

kepekaan kulit (kurang peka)


Tidak mengalami gangguan 13
kepekaan kulit (normal)
Total
30

20

16

30

30

195
196

Dari tabel diatas diketahui dari pemeriksaan yang telah dilakukan 17 orang

197

responden mengalami gangguan kepekaan kulit di bagian pinggiran wajah dan

198

10 responden di punggung tangan. Sedangkan pada bagian punggung kaki, 14

199

responden mengalami gangguan kepekaan kulit. Dari tabel tersebut juga dapat

200

diketahui bahwa bagian tubuh yang diperiksa yang paling banyak mengalami

201

gangguan kepekaan kulit yakni di bagian wajah. Hal tersebut dapat terjadi

202

dikkarenakan kebiasaan dari petani responden yang tidak mau menggunakan

203

masker ketika melakukan penyemprotan, sehingga wajah yang tidak terlindungi

204

alat pelindung diri (APD) rawan terkena paparan arsen yang terdapat pada

205
206

pestisida yang dipakai.

207

PEMBAHASAN

208

Pertanian merupakan salah satu bidang pekerjaan yang banyak digeluti oleh

209

penduduk di negeri Indonesia. Untuk mendapatkan hasil dan keuntungan yang

210

berlipat, petani tidak segan untuk melakukan banyak cara pada proses bertani,

211

termasuk dengan menggunakan bahan kimia seperti pestisida untuk mencegah dan

212

memberantas hama dan tanamanya. Hal tersebut juga dilakukan oleh patani

213

hortikultura di wilayah Kec. Ngablak. Para petani juga menggunakan bermacam-

214

macam jenis pestisida dan dengan dosis yang terkadang melebihi aturan yang tertulis

215

dikemasan dengan harapan dapat membunuh hama yang menyerang tanamannya

216

dengan lebih cepat sehingga hasil panen diharapkan dapat lebih melimpah.

19
20

10

217

Penggunaan pestisida yang tidak sesuai aturan dapat menimbulkan

218

dampak buruk bagi kesehatan petani, anggota keluarganya, maupun lingkungan

219

disekitarnya. Hal tersebut dikarenakan pestisida mengandung zat kimia yang

220

berbahaya karena selain dapat membunuh hama sasaran juga dapat merugikan petani

221

apabila terkena paparannya saat mencampur maupun melakukan penyemprotan

222

pestisida pada tanamannya. Salah satu kandungan pestisida yang berbahaya yakni

223

adanya arsen. Arsen merupakan bahan metalloid yang beracun dan dapat

224

menimbulkan kematian baik bagi hama sasaran maupun petani karena daya

225

bunuhnya yang efektif. Pemajanan arsen ke dalam tubuh salah satunya melalui kulit

226

yang terpapar arsen yang terkandung dalam pestisida. Paparan yang terjadi dapat

227

menimbulkan efek bagi kesehatan petani baik secara jangka pendek maupun jangka

228

panjang.

229

Berdasarkan dengan tujuan umum penelitian ini yakni adalah hubungan

230

antara lama paparan arsen pada pestisida dengan gangguan kepekaan kulit pada

231

petani hortikultura di Kec. Ngablak Kab. Magelang diperoleh data primer berupa

232

data mengenai gangguan kepekaan kulit yang mungkin untuk diderita responden.

233

Selain data tentang gangguan kepekaan kulit pada responden, sebagai data primer

234

juga diperoleh data tentang variabel bebas pada penelitian ini dari hasil wawancara

235

dan observasi langsung pada petani hortikultura.

236

Dalam penelitian ini yang menjadi responden atau sampel adalah petani

237

yang telah menjadi petani selama minimal 5 tahun serta bersedia untuk diwawancarai

238

dan diperiksa. Selain itu yang menjadi syarat untuk menjadi sampel yakni petani

239

yang sebelumnya telah diketahui mengandung arsen positif pada urinnya yang dapat

240

dilihat melalui pemeriksaan arsen pada urin dari penelitian sebelumnya. Penelitian

21
22

11

241

ini menggunakan metode cross sectional dengan pengambilan data melaui tiga tahap.

242

Untuk data gangguan kepekaan kulit diperoleh dengan cara pemeriksaan langsung

243

pada reponden. Pemeriksaan dilakukan dengan meminta bantuan pada petugas

244

kesehatan di Puskesmas Ngablak. Pemeriksaan dilakukan pada kulit dibeberapa

245

bagian tubuh responden, sperti di punggung kaki, punggung tangan, dan pinggiran

246

wajah. Pemilihan lokasi kulit yang akan diperiksa pada responden berdasarkan

247

pertimbangan tentang bagian-bagian tubuh yang rawan terkena papran pestisida

248

ketika mencampur maupun melakukan penyemprotan. Hal tersebut dikarenakan

249

responden enggan untuk memkai masker maupun sarung tangan ketika mencampur

250

maupun melakukan penyemprotan pestisida.

251

Gangguan kepekaan kulit yang diderita oleh responden dapat

252

dipengaruhi oleh beberapa hal, salah satunya yakni lama paparan arsen pada

253

pestisida yang diterima responden. Selain lama paparan yang diterima responden,

254

gangguan kepekaan kulit juga dapat dipengaruhi oleh hal-hal lainnya, seperti masa

255

kerja, kelengkapan dalam pemakaian alat pelinung diri (APD), dan metode

256

penyemprotan oleh petani. Masa kerja sebagai petani yang digeluti selama belasan

257

bahkan puluhan tahun, menyebabkan petani juga dapat terpapar arsen yang

258

terkandung dalam pestisida dalam jangka waktu yang lebih lama. Hal tersebut tentu

259

dapat membahayakan kesehatan petani apalagi jika didukung dengan perilaku tidak

260

memakai alat pelindung diri (APD) secara lengkap dikarenakan kandungan arsen

261

yang terdapat dalam tubuh responden akan meningkat. Alat pelindung diri yang

262

dapat digunakan oleh petani berupa pakaian atau kaos lengan panjang, celana

263

panjang, topi atau penutup kepala, masker atau penutup hidung, kacamata, sarung

264

tangan, dan sepatu.

23
24

12

265

Dalam kenyataannya, hanya sedikit petani di lapangan yang mau

266

memakai alat pelindung diri (APD) secara lengkap. Sebagian petani hanya memakai

267

beberapa alat pelindung diri (APD) dengan kondisi yang seadanya dikarenakan

268

mereka beralasan pemakaian alat pelindung diri justru menyulitkan gerak mereka

269

ketika melakukan penyemprotan, seperti dalam pemakaian masker. Petani merasa

270

sulit bernafas apabila mereka memakai masker. Mereka lebih senang untuk tidak

271

menggunakan masker meskipun hal tersebut dapat membahayakan kesehatan bahkan

272

nyawa mereka. Hal tersebut dapat semakin berbahaya jika petani tidak

273

memperhatikan arah datangnya angin ketika mereka melakukan penyemprotan

274

karena jika arah penyemprotan tidak searah dengan datangnya angin, pestisida yang

275

disemprotkan dapat berbalik arah dan mengenai wajah atau anggota badan petani

276

yang tidak terlindungi alat pelindung diri (APD).

277

Pemeriksaan gangguan kepekaan kulit dilakukan dengan cara mengusap-

278

usapkan kapas yang telah dibasahi dengan alkohol ke permukaan kulit yang akan

279

diperiksa, selanjutnya tes kepekaan dilakukan dengan cara menyentuhkan dan

280

memberikan tekanan ke permukaan kulit yang akan diperiksa dengan benda berujung

281

tajam untuk mengetahui apakah kulit responden dibagian tersebut masih peka atau

282

tidak terhadap rangsang yang mengenainya. Dari pemeriksaan tersebut, diketahui

283

bahwa 15 orang responden atau 50% dari sampel yang diperiksa mengalami

284

gangguan kepekaan pada kulitnya sedangkan sisanya masih memiliki kepekaan kulit

285

yang baik atau masih normal.

286

Gangguan kepekaan kulit yang diderita oleh responden dapat

287

dipengaruhi oleh beberapa hal, salah satunya yakni lama paparan arsen pada

288

pestisida yang diterima responden. Selain lama paparan yang diterima responden,

25
26

13

289

gangguan kepekaan kulit juga dapat dipengaruhi oleh hal-hal lainnya, seperti masa

290

kerja, kelengkapan dalam pemakaian alat pelinung diri (APD), dan metode

291

penyemprotan oleh petani. Masa kerja sebagai petani yang digeluti selama belasan

292

bahkan puluhan tahun, menyebabkan petani juga dapat terpapar arsen yang

293

terkandung dalam pestisida dalam jangka waktu yang lebih lama. Hal tersebut tentu

294

dapat membahayakan kesehatan petani apalagi jika didukung dengan perilaku tidak

295

memakai alat pelindung diri (APD) secara lengkap dikarenakan kandungan arsen

296

yang terdapat dalam tubuh responden akan meningkat. Alat pelindung diri yang

297

dapat digunakan oleh petani berupa pakaian atau kaos lengan panjang, celana

298

panjang, topi atau penutup kepala, masker atau penutup hidung, kacamata, sarung

299

tangan, dan sepatu.

300

Dalam kenyataannya, hanya sedikit petani di lapangan yang mau

301

memakai alat pelindung diri (APD) secara lengkap. Sebagian petani hanya memakai

302

beberapa alat pelindung diri (APD) dengan kondisi yang seadanya dikarenakan

303

mereka beralasan pemakaian alat pelindung diri justru menyulitkan gerak mereka

304

ketika melakukan penyemprotan, seperti dalam pemakaian masker. Petani merasa

305

sulit bernafas apabila mereka memakai masker. Mereka lebih senang untuk tidak

306

menggunakan masker meskipun hal tersebut dapat membahayakan kesehatan bahkan

307

nyawa mereka. Hal tersebut dapat semakin berbahaya jika petani tidak

308

memperhatikan arah datangnya angin ketika mereka melakukan penyemprotan

309

karena jika arah penyemprotan tidak searah dengan datangnya angin, pestisida yang

310

disemprotkan dapat berbalik arah dan mengenai wajah atau anggota badan petani

311

yang tidak terlindungi alat pelindung diri (APD). Penggunaan alat pelindung diri

312

(APD) oleh responden ketika menyemprot dapat melindungi responden dari paparan

27
28

14

313

arsen pada pestisida serta mengurangi jumlah paparan yang mengenai responden,

314

sehingga arsen pada pestisida yang terkandung di dalam tubuh responden dapat

315

terhindar dari gangguan kesehatan akibat paparan jangka panjang dari arsen pada

316

pestisida. Meskipun hanya dua responden yang memakai alat pelindung (APD)

317

secara lengkap namun seluruh responden telah menggunakan APD di beberapa

318

bagian tubuhnya, misalnya memakai pakaian lengan panjang dan celana atau rok

319

panjang.

320

Dalam penelitian yang telah dilakukan, setelah didapatkan data hasil

321

wawancara dan pemeriksaan terhadap gangguan kepekaan kulit yang mungkin untuk

322

dialami oleh responden kemudian data-data tersebut dianalisa dengan bantuan

323

program SPSS di komputer. Dari analisa yang dilakukan didapatkan hasil bahwa

324

dalam penelitian ini tidak ada hubungan antara variabel bebas dan variabel terikat

325

yang diteliti. Hal tersebut dapat terjadi karena beberapa hal.

326

Dari hasil analisis hubungan antara lama paparan arsen dalam pestisida yang

327

dialami responden per minggu dengan gangguan kepekaan kulit yang mungkin untuk

328

dialami oleh responden per minggu dengan gangguan kepekaan kulit, diperoleh

329

angka signifikan 0,469 (p>0,05) hal tersebut menunjukkan bahwa Ho diterima atau

330

hipotesis ditolak yang berarti tidak ada hubungan antara lama paparan arsen pada

331

pestisida per minggu pada responden dengan gangguan kepekaan kulit. Penelitian

332

sebelumnya yang menyatakan bahwa ada hubungan antara lama paparan arsen pada

333

pestisida dengan gangguan kepekaan kulit berdasarkan asumsi bahwa dari hasil

334

penelitian tentang kadar arsen akut pada urin petani di Kec. Ngablak ditemukan

335

kandungan arsen positif pada seluruh urin petani.5 Dari penelitian tersebut,

336

dasumsikan bahwa semakin lama petani terpapar arsen yang terkandung pada

29
30

15

337

pestisida maka kandungan arsen dalam tubuh petani semakin tinggi sehingga dapat

338

menimbulkan gangguan pada kepekaan kulitnya. Hal tersebut juga sejalan dengan

339

yang tercantum dalam junal Arsenic Toxicity yang menyatakan bahwa paparan

340

kronis atau jangka panjang dari arsen dalam pestisida dapat menyebabkan peripheral

341

neurophaty yang ditandai dengan adanya gangguan kepekaan kulit pada penderita.6

342

Tidak adanya hubungan antara variabel bebas dan variabel terikat yang

343

diteliti mungkin disebabkan karena dari hasil wawancara dan analisis data yang telah

344

dilakukan diketahui bahwa rata-rata responden mengalami lama paparan arsen pada

345

pestisida tiap minggunya selama 3,183 jam atau selama 3 jam. Lama paparan

346

tersebut belum terlalu tinggi dikarenakan penyemprotan yang sesuai aturan dilakukan

347

setiap 5 hari sekali dengan sekali penyemprotan selam 2 jam. Hal tersebut berati rata-

348

rata responden masih melakukan penyemprotan secara normal. Hal tersebut juga

349

didukung dengan data pemeriksaan arsen pada urin responden secara akut yang

350

menunjukkan kandungan arsen pada seluruh urin responden masih dalam kategori

351

normal.5

352

Gangguan kepekaan kulit yang semakin parah atau tetap terkena paparan

353

pestisida dalam jangka panjang dapat menyebabkan penderita terkena penyakit lain

354

yang lebih berbahaya dan sulit dalam penanganan maupun pengobatannya. Apabila

355

gangguan yang ada sudah berkembang menjadi penyakit lain yang lebih parah,

356

misalnya pheripheral neuropathy yang dapat berujung pada kanker kulit dan

357

ditambah dengan adanya penyakit lain, maka pengobatan yang dilakukan semakin

358

sulit dan dapat menyebabkan kematian pada penderitanya.7

359

Umumnya, gejala gangguan kepekaan kulit seperti panas dan gatal-gatal

360

setelah terpapar racun pestisida lebih rentan diderita oleh kaum muda. Hal tersebut

31
32

16

361

dikarenakan kulit pada kaum muda masih lebih peka terhadap zat-zat asing yang

362

mengenainya sebagai akibat dari perkembangan organ dan fungsinya yang belum

363

sempurna.8

364

Meskipun dalam penelitian ini tidak ditemukan hubungan antara variabel

365

bebas yang diteliti dengan gangguan kepekaan kulit, namun adanya responden yang

366

menderita gangguan kepekaan kulit dapat menjadi gejala awal gangguan ataupun

367

munculnya penyakit lebih serius. Hal tersebut juga didukung dengan kondisi di

368

lapangan dimana responden yang menderita gangguan kepekaan merupakan petani

369

yang rajin melakukan penyemprotan dengan pestisida yang mengandung arsen.

370

Arsen yang terkandung dalam pestisida rentan untuk masuk ke dalam tubuh melalui

371

kulit yang terluka. Setelah masuk dan terakumulasi dalam tubuh, arsen akan

372

bercampur dengan darah dan mengikuti aliran darah pada tingkat seluler dan dibawa

373

oleh sel darah merah, sel darah putih dan sel lainnya yang dapat mengubah arsenal

374

menjadi arsenit yang lebih berbahaya. Hati kemudian akan mengubah absorbsi arsen

375

ke dalam bentuk yang tidak terlalu berbahaya kemudian ginjal akan membuangnya

376

melalui urin. Sebagian besar arsen akan hilang dalam beberapa hari setelah paparan,

377

namun jika jumlahnya sangan besar maka arsen akan didectoksifikasi dan dieliminasi

378

oleh tubuh. Jika paparan terjadi terus menerus, hal tersebut patut diwaspadai

379

dikarenakan tidak semua arsen dalam tubuh akan dikeluarkan melalui urin.

380

Kandungan arsen yang masih tertinggal di dalam tubuh lama kelamaan akan

381

meningkat seiring dengan paparan arsen pada pestisida yang terus terjadi melalui

382

kulit yang dapat berujung pada kanker kulit. Oleh karena itu, meskipun dari hasil

383

analisis diketahui tidak ada hubungan antara variabel variabel yang diteliti dengan

384

kejadian gangguan kepekaan kulit pada petani, namun dengan adanya penelitian

33
34

17

385

yang menunjukkan bahwa urin responden positif mengandung arsen dan ditemukan

386

15 orang responden yang mengalami gangguan kepekaan kulit dari hasil

387

pemeriksaan.

388
389

KESIMPULAN

390

1. Dari hasil penelitian terhadap responden diketahui bahwa 15 orang responden

391

atau 50% dari sampel penelitian mengalami gangguan kepekaan kulit,

392

sedangkan 15 orang responden lainnya masih memiliki kepekaan kulit yang baik

393
394

atau masih normal.


2. Tidak ada hubungan antara lama paparan arsen pada pestisida per minggu

395

dengan gangguan kepekaan kulit pada petani hortikultura di Kec. Ngablak Kab.

396
397

Magelang (p-value=0,469).
3. Tidak ada hubungan antara masa kerja sebagai petani dengan gangguan

398

kepekaan kulit pada petani hortikultura di Kec. Ngablak Kab. Magelang (p-

399
400

value=0,197).
4. Tidak ada hubungan antara kelengkapan pemakaian alat pelindung diri (APD)

401

dengan gangguan kepekaan kulit pada petani hortikultura di Kec. Ngablak Kab.

402
403

Magelang (p-value=0,483).
5. Tidak ada hubungan antara arah penyemprotan dengan gangguan kepekaan kulit

404

pada petani hortikultura di Kec. Ngablak Kab. Magelang (p-value=1,121) dan

405

metode penyemprotan yang buruk bukan merupakan faktor resiko bagi petani

406

untuk mengalami gangguan kepekaan kulit (RP=3,5 dan 95% CI 0,692-17,714).

407
408

SARAN

409

Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai hubungan lama paparan

410

arsen pada pestisida dengan gangguan kepekaan kulit pada petani hortikultura di

411
412

lokasi penelitian.

35
36

18

413

DAFTAR PUSTAKA

414

1. Djojosumarto, Panut. Teknik Aplikasi Pestisida. Yogyakarta : Penerbit Kanisius.

415
416
417

2000.
2. BPPK Kecamatan Ngablak. Data Kelompok Tani Hasil Revitalisasi. 2007.
3. Direktorat Jendral Prasarana dan Sarana Pertanian, Direktorat Pupuk dan

418

Pestisida. Pedoman Pembinaan Penggunaan Pestisida. Jakarta : Kementrian

419
420
421

Pertanian 2011.
4. Anonim. Pencegahan Keracunan Arsenik Dalam Air Minum. 2005.
5. Isni. Khoiriyah. Kadar Arsen dalam Urin sebagai Indikator Paparan Akut

422

Terhadap Pestisida Pada Petani Sayur di Kec. Ngablak Kab. Magelang, Tabel

423
424

Hasil Pemeriksaan Kadar Arsen Dalam Urin. Semarang. 2012.


6. ATSDR. Case Studies in Environmental Medicine Arsenic Toxicity. U.S

425
426

Departement of Health and Human Service. 2000.


7. Laboratorium Kesehatan Masyarakat Kkabupaten Magelang. Hasil Pemeriksaan

427
428

Sampel Cholinesterase di Kabupaten Magelang. 2006.


8. Koeman, JH. Pengantar Umum Toksikologi. Yogyakarta: Gadjah Mada

429

University Press. 1987.