Anda di halaman 1dari 14

1

LAHAN KERING DI NTB "HARTA KARUN" YANG BELUM DIGALI1


Oleh : M. Rozi 2
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dewasa ini kita melihat cuaca alam yang sering tidak menentu, dan
seperti yang kita ketahui bahwa di Indonesia pada umumnya terdiri dari
pulau-pulau yang terbagi menjadi beberapa bagian musim. Seperti di
daerah bagian tengan dan timur Indonesia, kita ketahui bahwa cuaca yang
terjadi sangat panas, dan curah hujannya juga sangat kecil. Hal inilah yang
menyebabkan banyak sekali lahan-lahan kosong yang tidak di manpaatkan
karena dalam keadaan kering, atau lahan seperti ini di sebut lahan kering.
Seperti pada khususnya di daerah NTB banyak sekali daerah yang
terdapat lahan kering yang tidak termanfaatkan oleh petani. Hal ini terjadi
karena seperti penjelasan awal tadi, yaitu curah hujan yang kecil sehingga
menyebabkan ada daerah yang hanya mendapatkan hujan hanya beberapa
kali saja dalam setahun. Walaupun pada dasarnya banyak juga daerah
yang subur, tetapi dalam pembahasan karya tulis ini, penulis tidak
membahas maslah tersebut.
Seperti yang tercatat di dalam data statistic, yaitu Nusa Tenggara
Barat (NTB) yang luas wilayahnya mencapai 2,01 juta hektare, sekitar 84
persen atau sekitar 1,8 juta hektare merupakan lahan kering marginal yang
hingga kini belum dimanfaatkan secara optimal. Angka ini cukup besar
yang perlu mendapatkan perhatian kita bersama, karena itu penulis
berharap bisa dihasilkan inovasi-inovasi teknologi tepat guna di lahan
marginal sebagai sumbangsih kita kepada pemerintah baik di dalam
maupun di luar NTB yang sesuai ekosistemnya.
Persoalan lain berkaitan dengan lahan kering adalah topografi
tanah yang tidak datar, lapisan olah tanah yang dangkal dan kurang subur,
infrastruktur ekonomi yang terbatas, kondisi kelembagaan pertanian yang
1
Disampaikan pada Persentasi Tugas Akhir Bahasa Indonesia
2
Mahasiswa Akademei Teknik Industri Makassar (ATIM)
2

lemah, partisipasi pengusaha swasta yang masih rendah dan belum


memadainya penerapan teknologi.
Dengan melihat keadaan seperti yang penulis terangkan di atas,
maka penulis ingin mencoba mengungkapkan dan menggali bagaimana
solusi agar lahan kering di dawerah NTB dapat di manfaatkan dengan
oftimal. Sehingga dengan itu penulis mencoba menggalinya melalui karya
tulis yang penulis beri judul” Lahan Kering Di NTB "Harta Karun"
Yang Belum Digali”

1.2 Rumusan Masalah


Adapum yang menjadi rumusan masalah dalam penulisan karya
tulis ini adalah :
1. Bagaimana keadaan geografis NTB dan seberapa besar lahan
kering yang belum di manfaatkan
2. Bagaimana permasalahan lahan kering di NTB
3. Bagaimana solusi yang dapat kita lakukan agar lahan kering
dapat di manfaatkan maxsimal

1.3 Tujuan dan Manfaat


1.3.1 Tujuan penelitian
Adapun tujuan yang ingin di capai oleh penulis dalam karya tulis
ini adalah :
1. Untuk mengetahui keadaan lahan kering di daerah NTB
2. Untuk mencari solusi agar daerah lahan kering dapat kita
manfaatkan secara maksimal

1.3.2 Manfaat dari penlitian


3

Adapun manfaat yang ingin di capai oleh penulis adalah :


1. Agar kita memahami cara mengatasi lahan kering di daerah
kita semua
2. Agar kita bisa memanfaatkan lahan kering yang kita miliki di
daerah kita masing-masing

1.4 Hipotesis
Dari latar belakang yang penulis sudah paparkan, penulis
beranggapan sementara bahwa, lahan kering di NTB masih bisa di
kembangkan dengan maksimal, karena melihat teknologi yang semakin
canggih.

1.5 Metodologi
Metode yang penulis gunakan dalam penulisan karya tulis ini
adalah metode kepustakaan, yaitu penulis mencari landasan baik dari
buku, majalah, Koran, maupun dari internet.

BAB II
4

PEMBAHASAN

2.1 Batasan dan Pengertian

Wilayah secara umum adalah unit geografis (ruang) yang dibatasi


oleh ciri-ciri tertentu yang bagian-bagiannya tergantung secara internal,
serta sekaligus menjadi media bagi segala sesuatu untuk berlokasi dan
berinteraksi. Menurut UU No 24/1992 tentang “Penataan Ruang”, wilayah
adalah ruang yang merupakan kesatuan geografis beserta unsur terkait
padanya yang batas dan sistimnya ditentukan berdasarkan aspek
administratif dan aspek fungsional.
Pengembangan wilayah adalah segala upaya perbaikan suatu atau
beberapa jenis wilayah agar semua komponen yang ada di wilayah
tersebut dapat berfungsi dan menjalankan kehidupan secara normal.
Pembangunan wilayah ditopang oleh empat pilar yaitu (1) sumberdaya
alam/fisik-lingkungan (2) sumberdaya buatan/ekonomi (3) sumberdaya
manusia, dan (4) sumberdaya sosial-kelembagaan.
Lahan kering adalah hamparan lahan yang didayagunakan tanpa
penggenangan air dalam kurun waktu tertentu, baik secara permanen
maupun musiman dengan sumber air berupa hujan atau air irigasi.
Menurut hasil rumusan Seminar Nasional Pengembangan Wilayah
Lahan Kering di Mataram bulan Mei 2002, wilayah lahan kering
mencakup : sawah tadah hujan, tegalan, ladang, kebun campuran,
perkebunan, hutan,semak, padang rumput, dan padang penggembalaan.

2.2 Kondisi Umum Wilayah Nusa Tenggara Barat

Letak geografis Propinsi NTB sangat strategis karena berada pada lintas
perhubungan Banda Aceh Atambua dan jalur segitiga pengembangan pariwisata
Bali-Komodo-Tanah Toraja. Kondisi letak geografis ini merupakan peluang besar
untuk pengembangan pertanian dan pariwisata serta sektor lain di daerah ini.
5

Kondisi iklim yang ada di Propinsi NTB sangat beragam dari iklim tropika
basah (C3) yang ada di sekitar daerah pegunungan Rinjani Pulau Lombok dan
Puncak Ngengas, Uthan Pulau Sumbawa dengan ciri vegetasi hutan tropika basah,
sampai ke kondisi iklim semi ringkai tropika (tropical semi arid) tipe iklim D3,
D4, E3 dan E4 (Oldeman dkk., 1977) dengan vegetasi hutan iklim kering sampai
stepa dan savana serta padang rumput yang merupakan penciri khas untuk iklim
kering semiringkai tropika.

Kondisi geologi wialayah NTB merupakan formasi tersier terdiri atas


formasi batuan volkan tua, batuan intrusi (granodiorit), dan batuan sedimen
(napal, batualiat dan batukapur). Volkan tua terdiri atas augit andesit, porfirit dan
augit-hornblende-andesit. Formasi ini umumnya dijumpai di bagian selatan Pulau
Lombok dan Pulau Sumbawa memanjang dari barat ke timur.

Kondisi fisiografi dan bentuk wilayah NTB dibedakan dalam (a) daerah
dataran, (b) volkan, (c) lipatan dan patahan, dan (d) angkatan. Daerah dataran
terdiri atas dataran aluvial, aluvial-koluvial, aluvial-marin dan marin. Bentuk
wilayah umumnya datar. Daerah volkan terdiri atas kerucut volkan yang masih
utuh dan volkan yang sebagian telah tererosi. Daerah lipatan dan patahan
penyebarannya paling luas di bagian selatan dari Pulau Lombok dan Pulau
Sumbawa. Daerah ini dibedakan dalam perbukitan lipatan dan pegunungan
lipatan. Daerah angkatan berupa batukapur/karang yang terangkat membentuk
perbukitan, dijumpai di sebelah utara Pulau Sumbawa bagian barat (Dessaunetes,
1977). Jika dirinci lebih mendalam sebagian besar wilayah NTB mempunyai
topografi berbukit-bukit hingga bergunung. Berdasarkan bentuk wilayah dan
lereng, daerah ini dapat dibedakan dalam 6 satuan yaitu (1) datar (7,2%), (2)
datar-berombak (10,8%), berombak-bergelombang ((17,6%), dan bergelombang
sampai berbukit dan gunung (63,4%) (Bappeda, 2002).

Kondisi geologi, fisiografi dan iklim menghasilkan tanah-tanah di propinsi


NTB dapat diklasifikasikan menjadi 6 ordo dan diturunkan menjadi sekitar 10
sub-ordo dan 17 gret-group yaitu: Entisols (Ustifluvents. Ustipsamments,
Tropopsamments, Ustorhents, Troporthents), Inceptisols (Ustropepts,
6

Tropaquepts, Halaquepts), Mollisols (Haplustolls), Vertisols (Haplusterts),


Andisols (Hapludands dan Haplustands), dan Alfisols (Haplustalfs, dan
Rhodustlafs) (Suwardji dan Priyono, 2004).

Dengan melihat ciri khas dan keragaman iklim,fisiografi, tanah dan


vegetasi yang ada, serta kondisi sosial ekonomi masyrakakat yang cukup beragam
di Propinsi NTB tidaklah berlebihan jika daerah ini merupakan pewakil yang
reprensentatif untuk lokasi pengkajian dan pengembangan budidaya pertanian
lahan kering semiringkai di Indonesia.

2.3 Potensi Dan Permasalahan Dalam Pengembangan Pertanian Lahan


Kering Di Propinsi Nusa Tenggara Barat

Propinsi NTB mempunyai keunggulan komparatif berupa potensi wilayah


lahan kering yang cukup luas (sekitar 1, 6 juta hektar) dan berpeluang besar
dikembangkan untuk sektor kehutanan dan pertanian dalam airti luas guna
meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Potensi pengembangan pertanian lahan
kering di propinsi NTB yang cukup besar tersebut dibandingkan dengan
pengembangan lahan sawah karena (1) sangat dimungkinkan pengembangan
berbagai macam komoditas pertanian untuk keperluan eksport dengan luas dan
kondisi agroekosistem yang cukup beragam, (2) dimungkinkan pengembangan
pertanian terpadu antara ternak dan taman perkebunan/kehutanan serta tanaman
pangan, (3) membuka peluang kerja yang lebih besar dengan investasi yang relatif
lebih kecil dibandingkan membangun fasilitas irigasi untuk lahan sawah, dan (4)
mengentaskan kemiskinan dan keterbelakangan sebagian besar penduduk yang
saat ini tinggal di lahan kering (Suwardji dkk, 2002).

Walaupun potensi lahan kering NTB yang cukup besar, lahan kering yang
ada memiliki ekosistem yang rapuh (fragile) dan mudah terdegradasi apabila
pengelolaannya tidak dilakukan dengan cara-cara yang tepat, topografi umumnya
berbukit dan bergunung, ketersediaan air tanah yang terbatas, lapisan olah tanah
dangkal, mudah tererosi, teknologi diadopsi dari teknologi lahan basah yang tidak
7

sesuai untuk lahan kering, infrastruktur tidak memadai, sumberdaya manusia


rendah, kelembagaan sosial ekonomi lemah, perhatian pemerintah sangat kurang
dan partisipasi berbagai pihak dalam pengembangan lahan kering terutama pihak
swasta sangat kurang (Suwardji dan Tejowulan, 2003).
Sumberdaya air merupakan merupakan faktor pembatas utama dalam
pengelolahan wilayah lahan kering. Jumlah sungai di wilayah lahan kering
Propinsi NTB tahun 2001 sebanyak 155 buah. Kapasitas sungai tersebut dalam
menyediakan air dari tahun ke tahun semakin menurun, terutama pada musim
kemarau yang disebabkan oleh semakin berkurangnya hutan diwilayah tangkapan
hujan di daerah hulu. (Anonim, 2003). Untuk Pulau Lombok Ketersediaan debit
andalan hampir di semua daerah irigasi menurun Sumber mata air dari 711 titik
menjadi 217 (tahun 2000) , Sudah meningkat sekarang 278 titik (2007).

Telah cukup banyak bukti bahwa sumber air untuk pengairan pertanian di
beberapa kabupaten/ kota yang tercakup dalam wilayah lahan kering Propinsi
NTB semakin berkurang . Prasarana irigasi, baik diam, embung maupun sumur
pompa yang telah ada, masih diorientasikan penggunaannya untuk tanaman padi
pada lahan sawah yang secara ekonomi kurang mampu meningkatkan
kesejahteraan masyarakat, sedang pengairan untuk lahan kering sangat terbatas .
Beberapa fasilitas sumur pompa yang jumlahnya mencapai 400 unit yang secara
nyata mempunyai kemampuan cukup besar untuk menyediakan air bagi
pengembangan pertanian lahan kering, belum dapat dikelola dan dimanfaatkan
secara baik .

Wilayah lahan kering Propinsi NTB merupakan wilayah beriklim semi-


arid tropik yang dipengaruhi oleh musim penghujan dan musim kemarau . Curah
hujan tahunan biasanya relatif tinggi dari 1000 – 2500 mm/tahun , namun
hujannya berlang-sung pada beberapa bulan saja yaitu bulan Desember – Maret (4
bulan), sedang musim kemarau dari bulan April – Nopember (8 bulan) . Curah
hujan tahunan biasanya relatif tinggi dari 1000 – 2500 mm/tahun , sehingga upaya
konservasi air untuk menjamin keberhasilan pertanian di lahan kering merupakan
suatu keharusan.
8

Namun di balik potensi tersebut, terdapat permasalahan yang masih belum


terpecahkan. Yaitu di antaranya walaupun potensi lahan kering NTB yang cukup
besar, lahan kering yang ada memiliki ekosistem yang rapuh (fragile) dan mudah
terdegradasi apabila pengelolaannya tidak dilakukan dengan cara-cara yang tepat,
topografi umumnya berbukit dan bergunung, ketersediaan air tanah yang terbatas,
lapisan olah tanah dangkal, mudah tererosi, teknologi diadopsi dari teknologi
lahan basah yang tidak sesuai untuk lahan kering, infrastruktur tidak memadai,
sumberdaya manusia rendah, kelembagaan sosial ekonomi lemah, perhatian
pemerintah sangat kurang dan partisipasi berbagai pihak dalam pengembangan
lahan kering terutama pihak swasta sangat kurang (Suwardji dan Tejowulan,
2003).

2.4 Pengaruh Teknologi Dalam Pengolahan Lahan Kering

Setelah kita membahas bagaimana keadaan dan permasalahan-


permasalahn lahan kering di atas, maka selanjutnya penulis akan mencoba untuk
membuka pikiran bagaimana olusi-solui yang bisa penulis ungkapkan agar
permasalan tersebut dapat terselesaikan. Akan tetapi sebelum penulis membahas
lebih lanjut, terlebih dahulu penulis akan melihat bagaimana pengaruh teknologi
dalam pengolahan lahan kering itu.

Teknologi dalam pengolahn lahan kering, pada dasarnya sangat perperan


penting dan dapat memberikan dampak perubahan yang baik, namun para petani
pada umumnya lebih banyak menggunakan cara bertani yang tradisional dan
masih primitif, yaitu bagaimana tata cara yang di ajarkan oleh nenek moyang
mereka. Hal inilah yang bisa membuat pertanian di daerah NTB masih jauh dari
keberhasilan, walaupun apabila kita melihat ada beberapa petani yang sudah
memanfaatkan teknologi yang canggih, akan tetapi itu hanya sebagian kecilnya
saja.

Teknologi dalam hal ini adalah mesin traktor yang di gunakan untuk
membajak lahan subur maupun lahan kering. Dalam hal ini, hanya sebagian kecil
9

saja petani yang sudah menggunakan mesin traktor ini, dan yang sebagian besar
yang lainnya tidak mau menggunakan mesin traktor karena mereka beranggapan
bahwa manggunakan traktor lebih banyak menghabisakan biaya, selain itu petani
juga sebenarnya berfikir logis, yaitu petani ada yang berfikir bahwa karena mesin
traktor ini bisa menyebabkan lahan menjadi tidak terlalu subur, hal ini di
karenakan bahwa pada saat pembajakan ada bahan kimia seperti bensin atau solar
yang di gunakan dalam traktor terjatuh ke dalam lahan, sehingga bisa membuat
lahan menjadi kurang subur. Sehingga dengan hal ini para petani beranggapan
bahwa mereka akan merugi, padahal menurut hasil yang di dapatkan, mereka akan
mendapatkan hasil yang lebih besar, namun krena para petani sudah terdoktrin
untuk tidak menggunakan teknologi ini.

Akan tetapi ada sebuah teknologi yang sangat berguna bagi para petani
dalam pengolahan lahan kering, yaitu mesinpenyedot air dari suangai yang akan
di alirkan ke sawah-sawah dan ini sudah banyak petani yang mengunakannya.
Mesin ini dinamakan mesin ”desel”. Dengan teknologi seperti ini, maka petani
sudah biosa lebih ringan dalam mengolah lahan pertanian mereka.

2.5 Pengaruh Pemupukan Dalam Pertanian

Selanjutnya penulis akan membahas bagaimana pengaruh pemupukan


dalam pertanian?

Usaha meningkatkan produksi pertanian terutama tanaman padi tidak


terlepas dari penggunaan pupuk anorganik sebagai salah satu faktor produksi yang
sangat penting (Reijntjes et al., 1992). Pemerintah sejak periode 1969-1997 telah
banyak menerapkan serangkaian kebijakan untuk mendorong penggunaan pupuk
pada usahatani padi. Usaha tersebut menghantarkan Indonesia mampu mencapai
swasembada pangan (beras) pada tahun 1984 (Sri Rochayati dan Sri Adiningsih,
2002). Namun demikian, penggunaan pupuk anorganik masih banyak dilakukan
secara kurang tepat, baik dalam penentuan jenis, dosis, waktu, dan cara pemberian
10

pupuk. Hal ini jelas memberikan dampak yang kurang menguntungkan terhadap
keadaan fisik, kimia dan biologi tanah serta lingkungan secara keseluruhan.

Peningkatan produksi dengan hanya mengandalkan pemberian pupuk


anorganik dengan pola tanam padi-padi-palawija yang terus menerus dan
mengabaikan unsur-unsur hara yang terangkut oleh hasil panen dapat
mengakibatkan menurunnya keseimbangan hara dalam tanah dan mempercepat
pemerosotan kesuburan tanah. Jika keadaan tersebut berlangsung dalam waktu
yang cukup lama, maka akan terbentuk tanah kritis. Untuk mengatasi keadaan
tersebut maka pengelolaan tanah yang tepat menjadi sangat penting agar
kesuburan tanah dapat dilestarikan.

Namun pemupukan ini hanya bisa di lakukan pada tanah yang subur dan
lahan basah, sedangkan di pulau Lombok sendiri sangat banyak lahan yang kering
dan sangat membutuhkan pengolahan dan hal inilah yang akan poenulis bahas di
dalam solusi pada pembahasan selanjutnya.

Adapun jenis pupuk yang di gunakan dalam pertania ini di bagi dua yaitu
pupuk organik dan an organik.

1. Pupuk organik

Pupuk organik merupakan pupuk yang berasal dari tumbuh


tumbuhan, hewan, atau makhluk hidup laonnya. Yang pada
pemakainya biasanya di sebut pupuk kompos.

2. Pupuk anorganik

pupuk anorganik merupakan pupuk yang berasal dari bukan


makhluk hidup seperti bahan-bahan kimia.
11

2.6 Solusi Untuk Mengatasi Lahan Kering

Adapun setelah penulis memberikan permasalahan-permasalan yang


berkaitan dengan lahanm kering, maka pada pembahsan ini, penulis akan
memberikan solusi yang tepat untuk mengatasi lahan kering ini. Salah satu
metode yang paling utama adalah dengan melakukan pertanian sistem ” Gogo
Rancah”.

Gogo rancah merupakan suatu sistem pertanian yang di lakukan pada


lahan kering dan hanya membutuhkan sedikit air dan tanaman yang di
kembangkan adalah padi dan jagung. Adapun sistem gogo rancah yang di singkat
GORA ini di kelola melalui beberapa tahap yaitu :

Pertama, Pembajakan lahan kering tanpa air yang di lakukan oleh petani
untuk mempermudah penyebaran benih padi pada saat penanaman.

Kedua, Benih padi langsung di tanam tanpa adanya penyiapan benih di


daerah lain. Benih padi ini di masukkan ke dalam lubang-lubang yang sudah di
siapkan sesuai jumlah biji ynag sudah di tentukan.

Ketiga, pemberian sejumlah air untuk penyiraman dan biasanya menunggu


air hujan yang datang, sehingga penanaman ini hanya akan berlangsung pada
musim hujan saja.

Keempat, setelah padi tumbuh di beri pupuk yang dilakukan dengan cara
penyiraman dengan air maupun langsung di taburi pada tanaman.

Kelima, melakukan pembersihan tanaman pengganggu seperti rumput-


rumput. Setelah itu petani menunggu padi untuk di panen.

Keenam, petani memanen hasil padi, meskipun hasil yang di dapat tidak
lebih banyak hasil penanaman pada lahan subur.

Usaha untuk meningkatkan produksi pertanian dan pendapatan masyarakat


tani pada lahan kering ditentukan oleh tingkat pengelolaan faktor biofisik, sosio-
ekonomi, teknologi dan komoditi yang dipilih. Pengendalian dan pengelolaan
yang baik terhadap faktor-faktor tersebut di atas akan membawa kita pada suatu
12

kesempatan unntuk memperbaiki usahatani yang ada pada saat ini (Squires dan
Tow, 1991).

Selain dari sistem di atas, penulis juga memberikan paradigma yang lebih
kongkrit untuk pertanian lahan kering yang berkelanjutan yaitu sebagai berikut.

• Diperlukan pendekatan terpadu dalam pengembangan pertanian lahan kering


• Diperlukan sekenario model pengembangan pertanian lahan kering yang
spesifik lokasi terintegrasi dengan berbagai sektor
• Diperlukan pendekatan agribisnis
• Perlunya perubahan kebijakan subsisten menjadi komersial
• Orientasi produk primer menjadi sekunder
• Peran masyarakat menjadi lebih besar
• Meningkatkan daya saing produk pertanian lahan kering
• Meningkatkan kesempatan kerja
• Peningkatan peluang usaha di desa
• Peningkatan pendapatan petani
• Peningkatan PAD dan devisa negara
13

BAB III

PENUTUP

1. Kesimpulan

Dari beberapa solusi diatas, maka sebuah wacana yang mengatakan bahwa
” Lahan Kering Di NTB Harta Karun Yang Belum Digali” akan dapat
terwujud dan akan memberikan sebuah mimpi menjadi kenyataan.

Walaupun lahan kering mempunyai berbagai permasalahan baik biofisik


maupun sosial ekonomi, namun atas dasar potensi wilayah dan kesiapan
teknologinya, dan dalam rangka menyongsong pelaksanaan otonomi daerah,
wilayah ini tampaknya dapat menjadi unggulan pembangunan propinsi NTB
untuk dapat mempercepat peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Untuk memberdayakan lahan kering secara berkelanjutan, diperlukan


perubahan paradigma kebijakan pemerintah dari tingkat nasional sampai ke
daerah, teknologi berkelnjutan berbasis agribisnis, pemberdayaan masyarakat
lokal, dan kemauan serta kebersamaan setiap stakeholder untuk menjadikan lahan
kering lebih kompetitif. Disini diperlukan komitmen dari berbagai stakeholder
baik pemerintah maupun dunia usaha secara luas untuk dapat mengembangkan
pertanian lahan kering yang berbasis agribisnis dan berkelanjutan.

2. Saran

Petani, kepada para petani agar selalu berusaha menjadi yang terbaik dan
dapat mengembangkan hasil pertanian yang lebih baik.

Pemerintah, penulis menyarankan kepada pemerintah untuk memberikan


dorongan motivasi kepada para petani dengan cara melakukan penyuluhan-
penyuluhan kepada para petani.

Pembaca, penulis menyarankan kepada para pembaca agar memperhatikan


daerah kita masing-masing agar lingkungan kita tetap terjaga sehingga tidak
terjadinya lahan kering.
14

DAFTAR PUSTAKA

Badan Pusat Statistik NTB. 1999. Nusa Tenggara Barat Dalam Angka. Badan Pusat
Statistik NTB.

Rahardjo, Sudarmadji ., 2007. Aquasorb / Hydrogel . Mataram

e-mail: dryland-unram@plasa.com, suwardji03@telkom.net

Suwardji dan Tejowulan. 2003. Lahan Kritis dan Permasalahan Linkungan


Hidup. Makalah yang disampaikan dalam Seminar Nasional Pengelolaan
Lahan Kritis Melalui Pemberdayaan Masyarakat. Lembaga Penelitian
Universitas Muhammadiyah Mataram. 17 Desember 2003

http//www.google.com 15-12-2008 09:00 pm

http//www.google.com 20-12-2008 08:30 pm