Anda di halaman 1dari 10

Latar Belakang Masalah

Pendidikan merupakan modal yang sangat penting bagi manusia untuk bisa
menjalani kehidupannya. Pembangunan yang pesat, budi pekerti yang luhur, cakap,
terampil, percaya diri dan siap menghadapi masa depan hanya akan tercapai
dengan adanya pendidikan yang menunjang hal itu semua. Masyarakat
menginginkan generasi penerus mereka yang sanggup menghadapi itu semua. Oleh
karena itu, mereka menginginkan supaya anak-anak mereka bisa mendapatkan
pendidikan yang cukup sehingga kelak anak-anak mereka siap dan bisa
menghadapi masa depan mereka.
Pendidikan erat kaitannya dengan belajar, karena perubahan tingkah laku yang
merupakan hasil belajar biasanya melalui proses yang disebut dengan proses
pendidikan.
Setiap orang yang mengerjakan aktivitas belajar pasti akan berharap sukses dan
berhasil. Masyarakat dalam hal ini orang tua siswa menginginkan supaya anaknya
bisa belajar dan mendapatkan prestasi yang baik.
Prestasi belajar merupakan salah satu tujuan yang ingin dicapai ketika seorang
siswa belajar. Prestasi belajar merupakan ukuran tingkat keberhasilan seseorang
dalam mempelajari sesuatu. Prestasi belajar seseorang dapat dilihat berdasarkan
skor yang diperolehnya dalam menyelesaikan soal-soal ujian terkait dengan bahan
yang sedang dipelajarinya. Setiap kegiatan pembelajaran tentunya mengharapkan
hasil belajar yang maksimal. Prestasi belajar merupakan hal yang tidak dapat
dipisahkan dari kegiatan belajar, karena kegiatan belajar merupakan proses,
sedangkan prestasi merupakan hasil dari proses belajar.
Ketika berada di rumah, para siswa berada dalam tanggung jawab orang tua, tetapi
di sekolah tanggung jawab itu diambil oleh guru. Sementara itu, masyarakat
menaruh harapan yang besar agar anak-anak mengalami perubahan-perubahan
positif-konstruktif akibat mereka berinteraksi dengan guru.
Namun, untuk mendapatkan prestasi belajar yang baik tentu ada beberapa faktor
yang mempengaruhi prestasi belajar seorang siswa. Kompleksitas persoalan yang
terkait dengan belajar inilah yang menjadi penyebab sulitnya mendapatkan prestasi
belajar yang baik. Ada banyak faktor yang mesti dipertimbangkan dalam belajar,
baik yang bersifat internal maupun yang eksternal. Diantara sekian banyak faktor
eksternal, terdapat guru yang sangat berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa.
Sukses tidaknya para siswa dalam belajar di sekolah, salah satunya tergantung
pada guru. Mengingat keberadaan guru dalam proses kegiatan belajar mengajar
sangat berpengaruh, maka sudah semestinya kualitas guru harus diperhatikan.
Dalam dunia pendidikan, peran dan fungsi guru merupakan salah satu faktor yang

sangat signifikan. Guru merupakan bagian terpenting dalam proses belajar


mengajar, baik di jalur pendidikan formal maupun informal. Oleh sebab itu, dalam
setiap upaya peningkatan kualitas pendidikan di tanah air, tidak dapat dilepaskan
dari berbagai hal yang berkaitan dengan eksistensi guru itu sendiri.
Dalam kehidupan sosial budaya di Indonesia, masyarakat telah menempatkan
fungsi dan peran guru sedemikian rupa sehingga para guru di Indonesia tidak
jarang telah di posisikan mempunyai peran ganda bahkan multi fungsi. Mereka
dituntut tidak hanya sebagai pendidik yang harus mampu mentransformasikan
pengetahuan, nilai, dan kemampuan, tetapi sekaligus sebagai penjaga moral bagi
anak didik. Bahkan tidak jarang, para guru dianggap sebagai orang kedua, setelah
orang tua anak didik dalam proses pendidikan secara global.
Profesionalisme menjadi taruhan ketika menghadapi tuntutan-tuntutan
pembelajaran demokratis karena tuntutan tersebut merefleksikan suatu kebutuhan
yang semakin kompleks yang berasal dari siswa, tidak sekedar kemampua guru
menguasai pelajaran semata tetapi juga kemampuan lainnya yang bersifat psikis,
strategis dan produktif. Tuntutan demikian ini hanya bisa dijawab oleh guru yang
profesional.
Namun, minimnya tenaga pengajar dalam suatu lembaga pendidikan memberikan
celah seorang guru untuk mengajar yang tidak sesuai dengan keahliannya.
Sehingga hal ini berdampak pada prestasi siswa yang tidak maksimal. Padahal
siswa adalah sasaran pendidikan yang dibentuk melalui bimbingan, keteladanan,
bantuan, latihan, pengetahuan yang maksimal, kecakapan, keterampilan, nilai,
sikap yang baik dari seorang guru.
Maka, hanya dengan seorang guru yang profesional prestasi belajar seorang siswa
dapat tercapai secara maksimal karena apa yang disampaikan seorang guru akan
berpengaruh terhadap hasil belajar siswa. Keterbatasan pengetahuan guru dalam
penyampaian materi baik dalam hal metode maupun penunjang pokok
pembelajaran lainnya akan berpengaruh terhadap pembelajaran.
Dalam pendidikan, guru adalah seorang pendidik, pembimbing, pelatih, dan
pemimpin yang dapat menciptakan suasana belajar yang menarik, memberi rasa
aman, nyaman dan kondusif dalam kelas. Kondisi seperti itu tentu memerlukan
keterampilan dari seorang guru, dan tidak semua guru mampu melakukannya.
Oleh karena itu, penulis menganggap bahwa keberadaan guru yang profesional
sangat diperlukan. Guru yang profesional merupakan faktor penentu proses
pendidikan dan tercapainya prestasi bagi seorang siswa.

Profesionalisme Guru
1.Pengertian Profesional, Profesi, dan Guru Profesional

Istilah profesional berasal dari profession, yang mengandung arti sama dengan
occupation atau pekerjaan yang memerlukan keahlian yang diperoleh melalui
pendidikan atau latihan khusus. Maka para profesional adalah para ahli di dalam
bidangnya yang telah memperoleh pendidikan atau pelatihan yang khusus untuk
pekerjaan itu.
Profesional adalah pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan oleh seseorang dan
menjadi sumber penghasilan kehidupan yang memerlukan keahlian, kemahiran
atau kecakapan yang memenuhi standar mutu atau norma tertentu serta
memerlukan pendidikan profesi. Profesi juga diartikan sebagai suatu jabatan atau
pekerjaan tertentu yang mensyaratkan pengetahuan dan keterampilan khusus
yyang diperoleh dari pendidikan akademis yang intensif (Webstar, 1989).
Istilah profesional pada umumnya adalah orang yang mendapat upah atau gaji dari
apa yang dikerjakan, baik dikerjakan secara sempurna maupun tidak. (Martinis
Yamin, 2007). Dalam konteks ini bahwa yang dimaksud dengan profesional adalah
guru. Pekerjaan profesional ditunjang oleh suatu ilmu tertentu secara mendalam
yang hanya mungkin diperoleh dari lembaga-lembaga pendidikan yang sesuai
sehingga kinerjanya didasarkan kepada keilmuan yang dimilikinya yang dapat
dipertanggungjawabkan secara ilmiah (Wina Sanjaya, 2008). Dengan demikian
seorang guru perlu memiliki kemampuan khusus, kemampuan yang tidak mungkin
dimiliki oleh orang yang bukan guru. a teacher is person sharged with the
responbility of helping orthers to learn and to behave in new different ways
(Cooper, 1990).
Pada hakikatnya, pekerjaan guru dianggap sebagai pekerjaan yang mulia, yang
sangat berperan dalam pengembangan sumber daya manusia. Sejalan dengan
pemikiran tersebut, maka perlu ditekankan bahwa yang layak menjadi guru adalah
orang-orang pilihan yang mampu menjadi panutan bagi anak didiknya. Hal ini
sesuai dengan hakikat pekerjaan guru sebagai pekerjaan profesional, yang menurut
Darling-Hamond & Goodwin (1993) paling tidak mempunyai tiga ciri utama. Ketiga
ciri tersebut adalah: (1) penerapan ilmu dalam pelaksanaan pekerjaan didasarkan
pada kepentingan individu pada setiap kasus, (2) mempunyai mekanisme internal
yang terstruktur, yang mengatur rekrutmen, pelatihan, pemberian lisensi (ijin
kerja), dan ukuran standar untuk praktik yang ethis dan memadai; serta (3)
mengemban tanggung jawab utama terhadap kebutuhan kliennya.
Berdasarkan definisi di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa profesi adalah suatu
keahlian (skill) dan kewenangan dalam suatu jabatan tertentu yang mensyaratkan
kompetensi (pengetahuan, sikap dan keterampilan) tertentu secara khusus yang
diperoleh dari pendidikan akademis yang intensif. Profesi biasanya berkaitan
dengan mata pencaharian seseorang dalam memenuhi kebutuhan hidup. Dengan
demikian, profesi guru adalah keahlian dan kewenangan khusus dalam bidang

pendidikan, pengajaran, dan pelatihan yang ditekuni untuk menjadi mata


pencaharian dalam memenuhi kebutuhan hidup yang bersangkutan.
Dalam pengertian yang sederhana, guru adalah orang yang memberikan ilmu
pengetahuan kepada anak didik. Guru dalam pandangan masyarakat adalah orang
yang melaksanakan pendidikan di tempat-tempat tertentu, tidak mesti di lembaga
pendidikan formal, tetapi bisa juga di mesjid, di surau/musala, di rumah, dan
sebagainya.
Pengertian guru menurut Undang-Undang No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan
Dosen, yakni sebagaimana tercantum dalam Bab I Ketentuan Umum pasal 1 ayat
(1) sebagai berikut: guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama
mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan
mengevaluasi peserta didik pada pendidikan dasar dan menengah.
Sebagai pendidik, guru harus profesional sebagaimana ditetapkan dalam UndangUndang Sitem Pendidikan Nasional bab IX pasal 39 ayat 2:
Pendidik merupakan tenaga profesional yang bertugas merencanakan dan
melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan
pembimbingan dan pelatihan, serta melakukan penelitian dan pengabidaian kepada
mayarakat, terutama bagi pendidikan pada pergurua tinggi.
Seorang guru yang profesional harus memenuhi empat kompetensi guru yang telah
ditetapkan dalam Undang-undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005
Tentang Guru dan Dosen yaitu :
1.Kompetensi pedagogik, yaitu kemampuan penguasaan materi pembelajaran
secara luas dan mendalam yang meliputi:
a)konsep, struktur, dan metoda keilmuan/teknologi/seni yang menaungi/koheren
dengan materi ajar;
b)materi ajar yang ada dalam kurikulum sekolah;
c)hubungan konsep antar mata pelajaran terkait;
d)penerapan konsep-konsep keilmuan dalam kehidupan sehari-hari; dan
e)kompetisi secara profesional dalam konteks global dengan tetap melestarikan
nilai dan budaya nasional.
2.Kompetensi kepribadian, yaitu merupakan kemampuan kepribadian yang:
a)mantap;
b)stabil;
c)dewasa;
d)arif dan bijaksana;
e)berwibawa;
f)berakhlak mulia;
g)menjadi teladan bagi peserta didik dan masyarakat;
h)mengevaluasi kinerja sendiri; dan

i)mengembangkan diri secara berkelanjutan.


3.Kompetensi profesional, yaitu merupakan kemampuan penguasaan materi
pembelajaran secara luas dan mendalam yang meliputi:
a)konsep, struktur, dan metoda keilmuan/teknologi/seni yang menaungi/koheren
dengan materi ajar;
b)materi ajar yang ada dalam kurikulum sekolah;
c)hubungan konsep antar mata pelajaran terkait;
d)penerapan konsep-konsep keilmuan dalam kehidupan sehari-hari; dan
e)kompetisi secara profesional dalam konteks global dengan tetap melestarikan
nilai dan budaya nasional.
4.Kompetensi sosial yaitu merupakan kemampuan pendidik sebagai bagian dari
masyarakat untuk :
a)berkomunikasi lisan dan tulisan;
b)menggunakan teknologi komunikasi dan informasi secara fungsional;
c)bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesame pendidik, tenaga
kependidikan, orangtua/wali peserta didik; dan
d)bergaul secara santun dengan masyarakat sekitar.
Dengan mengacu kepada ciri-ciri pekerjaan profesional yang digambarkan di atas,
maka dapat dipahami bahwa. seorang guru yang profesional bukanlah seorang
tehnisi atau seorang tukang yang hanya menunggu perintah dari mandorya.
Seorang guru yang profesional seyogyanya mampu mengambil keputusan serta
membuat rencana yang disesuaikan dengan kondisi siswa, situasi, wawasannya
sendiri, nilai, serta komitmennya (Zumwalt, 1989).
Dengan perkataan lain, seorang guru yang profesional harus mampu mengambil
keputusan situasional dan transaksional (Raka. Joni, 1989). Keputusan situasional
diambil oleh guru ketika merencanakan pembelajaran, sedangkan keputusan
transaksional diambil guru ketika melaksanakan pembelajaran. Dengan demikian,
seorang guru yang profesional tidak akan pernah menganggap bahwa rencana
pembelajaran yang disusunnya dapat digunakan seumur hidup. Ia selalu harus
mampu membaca situasi (seperti karakteristik siswa, ruang, waktu, sarana/fasilitas,
perkembangan dalam dunia pembelajaran) dan kemudian menyesuaikan
rencananya dengan situasi yang akan dihadapi. Ia harus mampu memutuskan
sumber dan media belajar apa yang akan digunakan, demikian pula strategi
pembelajaran serta evaluasi yang akan dia terapkan.
Ketika pembelajaran atau transaksi sedang berlangsung, kembali ia harus mampu
membaca situasi dan melakukan penyesuaian-penyesuaian yang diperlukan.
Selanjutnya, setelah pembelajaran berlangsung, guru harus mampu melakukan
refleksi/analisis terhadap apa yang telah terjadi di dalam kelas dan apa yang telah
dicapai oleh siswa. Akhirnya, guru harus mampu memanfaatkan hasil

refleksi/analisis ini untuk memperbaiki perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran


berikutnya.
Menurut Surya (2005), guru yang profesional akan tercermin dalam pelaksanaan
pengabdian tugas-tugas yang ditandai dengan keahlian baik dalam materi maupun
metode. Selain itu, juga ditunjukkan melalui tanggung jawabnya dalam
melaksanakan seluruh pengabdiannya.
Guru profesional adalah guru yang mengenal tentang dirinya. Yaitu, dirinya adalah
pribadi yang dipanggil untuk mendampingi peserta didik untuk/dalam belajar.
2.Profil Kemampuan Dasar Guru
Ada kemungkinan bahwa pekerjaan guru terutama dalam menghadapi anak-anak
banyak menimbulkan ketegangan dan frustasi. Ada pula kemungkinan bahwa
orang-orang yang mempunyai sifat-sifat tertentu memilih jabatan sebagai guru.
Menjadi guru menurut Prof. Dr. Zakiah Daradjat dkk (1992: 41) tidak sembarangan,
tetapi harus memenuhi beberapa persyaratan seperti di bawah ini:
1.Takwa kepada Allah swt, guru sesuai dengan tujuan ilmu pendidikan Islam tidak
mungkin mendidik anak agar bertakwa kepada Allah, jika ia sendiri tidak bertakwa
kepada-Nya. Ia adalah teladan bagi anak didiknya.
2.Berilmu, ijazah bukan semata-mata secarik kertas, tetapi suatu bukti, bahwa
pemiliknya telah mempunyai ilmu pengetahuan dan kesanggupan tertentu yang
diperlukannya untuk suatu jabatan.
3.Sehat jasmani, kesehatan badan sangat mempengaruhi semangat bekerja. Guru
yang sakit-sakitan kerapkali terpaksa absen dan tentunya merugikan anak didik.
4.Berkelakuan baik, budi pekerti guru penting dalam pendidikan watak anak didik.
Guru harus menjadi teladan, karena anak-anak bersifat suka meniru.
Guru harus mempunyai kemampuan dasar. Kemampuan itu antara lain meliputi
yang berikut ini.
a.kemampuan menguasai bahan
b.kemampuan mengelola program belajar mengajar
c.kemampuan mengelola kelas dengan pengalaman belajar
d.kemampuan menggunakan media/sumber dengan pengalaman belajar
e.kemampuan menguasai landasan-landasan kependidikan dengan pengalaman
belajar
f.kemampuan mengelola interaksi belajar mengajar dengan pengalaman belajar
g.kemampuan menilai prestasi siswa dengan pengalaman belajar
h.kemampuan mengenal fungsi dan program pelayanan bimbingan dan penyuluhan
dengan pengalaman belajar
i.kemampuan mengenal dan menyelenggarakan administrasi sekolah dengan
pengalaman belajar

j.kemampuan memahami prinsip-prinsip dan menafsirkan hasil-hasil penelitian


pendidikan guna keperluan pengajaran
3.Kriteria Guru Profesional
Seorang guru yang profesional diharapkan dapat memiliki kemampuan untuk:
1.memanfaatkan sumber belajar di lingkungannya secara optimal dalam proses
pembelajaran
2.berkreasi mengembangkan gagasan baru
3.mengurangi kesenjangan pengetahuan yang diperoleh siswa dari sekolah dengan
pengetahuan yang diperoleh dari masyarakat
4.mempelajari relevansi dan keterkaitan mata pelajaran bidang ilmu dengan
kebutuhan sehari-hari dalam masyarakat
5.mengembangkan pengetahuan, keterampilan, dan perilaku siswa secara bertahap
dan utuh
6.memberi kesempatan pada siswa untuk dapat berkembang secara optimal sesuai
dengan kemampuannya
7.menerapkan prinsip-prinsip belajar aktif
B.Prestasi Belajar
1.Pengertian Prestasi Belajar
Secara terminologis, prestasi adalah hasil yang telah dicapai, dilakukan, dikerjakan,
dan sebagainya (W.S. Winkel, 1995: 67). Sedangkan belajar adalah suatu proses
usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh perubahan tingkah laku yang
baru secara keseluruhan. Jadi, Belajar pada dasarnya merupakan suatu bentuk
pertumbuhan atau perubahan dalam diri seseorang yang dinyatakan dalam cara
bertingkah laku yang berkat pengalaman dan latihan (M. Surya, 1982: 7).
Adapun belajar menurut pengertian secara psikologis adalah merupakan suatu
proses perubahan tingkah laku sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungannya
dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Perubahan tersebut akan nyata dalam
seluruh aspek tingkah laku.
Salah satu definisi belajar yang cukup sederhana dan mudah diingat adalah yang
dikemukakan oleh Gagne, Belajar adalah suatu perubahan tingkah laku yang relatif
menetap yang dihasilkan dari pengalaman masa lalu ataupun dari pembelajaran
yang bertujuan/direncanakan. Adanya perubahan hasil belajar inilah yang sering
kita kenal dengan prestasi. Kita dapat mengamati terjadinya perubahan tingkah
laku setelah dilakukan penilaian.
2.Teori Prestasi Belajar

Pengertian prestasi belajar sebagaimana yang tercantum dalam Kamus Besar


Bahasa Indonesia adalah: penguasaan pengetahuan atau keterampilan yang
dikembangkan oleh mata pelajaran, lazimnya ditunjukkan dengan nilai tes atau
angka nilai yang diberikan oleh guru.
Teori Prestasi Kelompok (Theory of Group Achievement)
Stogdill (1959) menganggap bahwa teori-teori tentang kelompok pada umumnya
didasarkan pada konsep tentang interaksi yang memiliki kelemahan teoritis
tertentu. Maka dari itu, Stogdill mengajukan teori prestasi kelompok. Teori ini
menyertakan masukan (input), variabel media, dan prestasi (output) dari suatu
kelompok. Teori ini merupakan hasil pengembangan dari teori-teori sebelumnya
yang tergolong dalam tiga orientasi yang berbeda, seperti : orientasi penguat (teoriteori belajar), orientasi lapangan (teori-teori tentang interaksi), dan orientasi
kognitif (teori-teori tentang harapan). Kelompok adalah suatu sistem interaksi yang
terbuka. Struktur dan kelangsungan sistem sangat bergantung pada tindakantindakan anggota dan hubungan antara anggota.
Seorang guru yang profesional harus bisa memimpin kelompok siswa dalam
kegiatan pembelajaran sehingga menimbulkan output yang baik (prestasi).
Prestasi belajar akan terukur melalui ketercapaian siswa dalam penguasaan ranah
kognitif, afektif, dan psikomotorik seperti yang terdapat dalam teori Bloom berikut:
Kawasan Kognitif
a. knowledge
b. comprehension
c. applications
d. analysis
e. syithesis
f. evaluation
Kawasan Afektif
a.receiving
b.responding
c.berkeyakinan
d.penerapan karya
e.ketekunan dan ketelitian
Kawasan Psikomotor
a.persepsi
b.kesiapan
c.mekanisme
d.respon terbimbing
e.kemahiran

f.adaptasi
g.originasi
Menurut Ausubel siswa akan belajar dengan baik jika isi pelajaran (instructional
content) sebelumnya didefinisikan dan kemudian dipresentasikan dengan baik dan
tepat kepada siswa (advance organizers), dengan demikian akan mempengaruhi
pengaturan kemajuan belajar siswa.
Sementara, Bruner mengusulkan teori yang disebutnya free discovery learning,
teori ini menjelaskan bahwa proses belajar akan berjalan dengan baik dan kreatif
jika guru memberi kesempatan kepada siswa untuk menemukan suatu aturan
(termasuk konsep, teori, definisi, dsb) melalui contoh-contoh yang menggambarkan
aturan yang menjadi sumbernya.
Pada perspektif yang lain, seperti dalam pandangan Habermas, belajar sangat
dipengaruhi oleh interaksi, baik dengan lingkungan maupun dengan sesama
manusia.
C.Kerangka Berfikir
Profesionalisme berasal dari kata profesion yang mengandung arti pekerjaan yang
memerlukan keahlian yang dapat diperoleh melalui jenjang pendidikan atau latihan
tertentu. Berbicara mengenai profesionalisme, guru adalah termasuk suatu profesi
yang memerlukan keahlian tertentu dan memiliki tanggung jawab yang harus
dikerjakan secara profesional. Karena guru adalah individu yang memiliki tanggung
jawab moral terhadap kesuksesan anak didik yang berada dibawah
pengawasannya, maka keberhasilan siswa akan sangat dipengaruhi oleh kinerja
yang dimiliki seorang guru. Oleh karena itu, guru profesional diharapkan akan
memberikan sesuatu yang positif yang berkenaan dengan keberhasilan prestasi
belajar siswa. Dalam pelaksanaannya, tanggung jawab guru tidak hanya terbatas
kepada proses dalam pentransferan ilmu pengetahuan. Banyak hal yang menjadi
tanggung jawab guru, yang salah satunya adalah memiliki kompetensi idealnya
sebagaimana guru profesional.
Kompetensi di sini meliputi pengetahuan, sikap, dan keterampilan profesional, baik
yang bersifat pribadi, sosial, maupun akademis. Dengan kata lain, guru yang
profesional ini memiliki keahlian khusus dalam bidang keguruan sehingga dia
mampu melaksanakan tugasnya secara maksimal dan terarah.
Dalam pelaksanaan kegiatan belajar, seorang guru profesional harus terlebih dahulu
mampu merencanakan program pengajaran. Kemudian melaksanakan program
pengajaran dengan baik dan mengevaluasi hasil pembelajaran sehingga mampu
mencapai tujuan pembelajaran. Selain itu, seorang guru profesional akan
menghasilkan anak didik yang mampu menguasai pengetahuan baik dalam aspek

kognitif, afektif serta psikomotorik.


Dengan demikian, seorang guru dikatakan profesional apabila mampu menciptakan
proses belajar mengajar yang berkualitas dan mendatangkan prestasi belajar yang
baik. Demikian pula dengan siswa, mereka baru dikatakan memiliki prestasi belajar
yang maksimal apabila telah menguasai materi pelajaran dengan baik dan mampu
mengaktualisasikannya. Prestasi itu akan terlihat berupa pengetahuan, sikap dan
perbuatan. Untuk mendapatkan prestasi yang baik, maka seorang guru dituntut
mengajar secara profesional, sistematis, dan berdasarkan prinsip-prinsip
pembelajaran yang efektif dan efisien.