Anda di halaman 1dari 17

FORMULASI PEMBUATAN TABLET ALLUPURINOL

I.

ZAT AKTIF

: Allupurinol

BENTUK ZAT AKTIF

: Serbuk halus putih hingga hampir putih,


berbau lemah.

JUMLAH PRODUKSI
II.

: 55.000 tablet

MONOGRAFI ZAT AKTIF


Allopurinolum
Alopurinol

1 H-Pirazolo[3,4-d] pirimidin-4-ol [315-30-0]


C5H4N4O

BM 136,11

Pemerian

: Serbuk halus putih hingga hampir putih;

berbau lemah.

Kelarutan
dalam

: Sangat sukar larut dalam air dan etanol; larut

larutan kalium dan natrium hidroksida; praktis tidak

larut dalam kloroform dan eter.

Susut Pengeringan : Tidak lebih dari 0,5 %; lakukan


pengeringan dalam hampa udara pada suhu 105 selama 5
jam. (Farmakope Indonesia Ed.IV, hal.73)

III.

FORMULA DAN METODE


a. Formula
R/

Allopurinolum

100 mg

Zat tambahan yang cocok

secukupnya

( Formularium Nasional Ed. III, hal 17)

Usulan Formula

R/

Allopurinol

100 mg

PVP

10 %

Laktosa

qs

Mg-stearat

1%

Amilum kering
Talk

5%
2%

b. Metode
Metode yang digunakan dalam pembuatan tablet Allupurrinol100
mg adalah Garanulasi Kering.
IV.

MONOGRAFI ZAT TAMBAHAN


1. PVP

Pemerian : Serbuk, berwarna krim-putih, tidak berbau atau


hampir tak berbau, bersifat higroskopis.

Kelarutan : Mudah larut dalam asam, kloroform, etanol (95%),


keton, methanol dan air.

pH : 3.0-7.0 (5% b/vlarutan air)

Titik leleh : 150 C

Stabilitas : Menjadi gelap dalam pemanasan suhu tinggi


(1500 C), simpan dalam wadah yang tertutup rapat karena
sifatnya yang higroskopis.

Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat dan kering.


(Handbook of Pharmaceutical Excipient edisi 6: 581)

2. Laktosa monohidrat
C12H22O11H2O, BM = 360.31

Pemerian

: Kristal putih,rasa manis

Kegunaan

Aplikasi dalam Teknologi atau Formulasi Farmaseutikal :

: Pengisi

digunakan sebagai pengisi atau pengencer di tablet dan


kapsul.

Kelarutan

: Pada suhu 25C praktis tidak larut

dalam kloroform, etanol dan eter, larut dalam 4,63 bagian air
(40C)

Densitas

: 1.545 g/cm3

Titik leleh

: 201-202C

Kelembaban

: Laktosa monohidrat mengandung air hampir

5% b/b.

Stabilitas

Pada

penyimpanan,

laktosa

dapat

berubah warna menjadi coklat.

Inkompatibilitas

Reaksi

kondensasi

antara

laktosa

dengan gugus amin primer dapat menghasilkan produk


berwarna coklat. Reaksi ini terjadi lebih cepat dengan bentuk
amorf dibandingkan laktosa kristal.

Penyimpanan : Disimpan pada wadah sejuk dan kering,


tertutup. (Handbook of Pharmaceutical Excipient, 5nd ed,
2006, hal.389)

3. Amilum

Pemerian

Serbuk

berbau, tidak berasa, lembut.

putih

sampai

pucat,

tidak

Kelarutan

: Praktis tidak larut dalam air dingin dan

dalam etanol (95%) P.

pH

: 4-8

Higroskopisitas

: Semua amilum bersifat higroskopis dan

menyerap

kelembaban

lingkungan

untuk

mencapai

kesetimbangan.
4. Stabilitas

Amilum

stabil

jika

dilindungi

dari

kelembaban tinggi. Amilum ini bersifat inert pada kondisi


penyimpanan normal. Larutan atau pasta amilum secara fisik
tidak stabil dan mudah di metabolisme oleh mikroba.
(Handbook of pharmaceutical excipient edisi 5: 691-694).
5. Magnesium stearat
C36H70MgO4, BM = 591,27

Pemerian

: Hablur sangat halus, putih, berbau khas

dan berasa.

Kegunaan

Aplikasi dalam Teknologi atau Formulasi Farmaseutikal :

: Lubrikan untuk tablet dan kapsul

Digunakan untuk kosmetik, makanan, dan formulasi obat.


Biasanya digunakan sebagai lubrikan pada pembuatan kapsul
dan tablet dengan jumlah antara 0,25 5,0 %.

Kelarutan

: Praktis tidak larut dalam etanol, etanol

(95%), eter, dan air, sedikit larut dalam benzen hangat dan
etanol (95%) hangat.

Densitas

Sifat aliran

: 1,03 1,08 g/cm3.


: Sulit mengalir, bubuk kohesif.

Polimorfisme : Trihidrat, bentuk asikular dan dihidrat, bentuk


lamellar.

Titik leleh

: 88,5 C.

Stabilitas

: Stabil.

Inkompatibilitas

: Dengan asam kuat,alkali, dan garam

besi.

Penyimpanan : Disimpan pada wadah sejuk, kering, tertutup.


(Handbook of Pharmaceutical Excipient, 5nd ed, 2006, hal.430)

6. Talcum

Pemerian

: Serbuk sangat halus, putih sampai putih

keabuan, tidak berbau, berkilat, mudah melekat pada kulit


dan bebas dari butiran.

Kelarutan

Tidak

larut

dalam

hampir

semua

pelarut.

pH

Penyimpanan

: 6.5
: Dalam wadah sejuk, kering dan tertutup.

(Handbook of Pharmaceutical Excipient edisi 4: 641-642)

V.

ALASAN PEMILIHAN METODE


Metode yang dipilih dalam pembuatan tablet Allupurinol adalah
metode granulasi kering. Metode ini dipilih karena sifat karakteristik
dari zat aktif yang sulit mengalir dan dosis yang diperlukan cukup
besar yaitu 100 mg. Selain itu Allupurinol memiliki sifat sangat
mudah larut dalam air dan etanol, sehingga tidak memungkinkan
pembuatan tablet Allupurinol dengan metode granulasi basah.

VI.

ALASAN PEMILIHAN ZAT TAMBAHAN

Laktosa digunakan sebagai pengisi supaya tablet yang dihasilkan


memiliki rasa yang manis sehingga akan lebih diterima oleh pasien.
Konsentrasi laktosa sebagai pengisi adalah 65-85%.

PVP digunakan sebagai pengikat

karena PVP berfungsi sebagai

bahan pengikat untuk membentuk granul. Selain itu, dalam


formulasi

granulasi

kering

PVP

dapat

meningkatkan

gaya

kohesivitas serbuk.
Magnesium Stearat (Mg-Stearat) berfungsi sebagai lubrikan yang
berfungsi

untuk

mengurangi

gesekan

yang

terjadi

antara

permukaan tablet dengan dinding die selama proses pengempaan


dan penarikan tablet.
Talcum pada formulasi ini berfungsi sebagai glidan untuk
meningkatkan aliran serbuk pada cetakan dan juga sebagai
penghancur luar ketika nanti tablet kontak dengan cairan saluran
cerna.
Amilum

kering

digunakan

sebagai

disintegran

luar

dan

disintegran dalam. Karena amilum merupakan disintegran yang


paling umum digunakan, dengan konsentrasi antara 3-15%.
VII.

PERHITUNGAN DAN PENIMBANGAN


Formula yang akan dibuat :
Tiap tablet mengandung adalah Allupurinol 100 mg.
Bobot yang akan dibuat adalah 300 mg (Formularium Nasional
Ed. III, hal. 17-18)
Jumlah tablet yang akan dibuat adalah 500.000 tablet
Untuk Tiap Tablet
Fasa Dalam

: 92%

: 0,92 x 300 mg = 276 mg


Allupurinol

= 100 mg

PVP

: 0,1 300 mg

Laktosa

: (276 100 30) = 146 mg

Fasa Luar

= 30 mg

: 8%
: 0,08 300 mg = 24 mg

Mg-Stearat

x 24 mg = 3 mg

Talk

: x 24 mg = 6 mg

Amilum kering : x 24 mg = 15 mg

Penimbangan untuk 55.000 tablet


Bobot Granul Teoritis
Fase dalam total: 92% + 1,5% = 93,5%
Fase dalam:
Allupurinol : 100 mg x 55.000

= 5500 g

PVP

: 30 mg x 55.000 = 1650 g

Laktosa

: 146 mg x 55.000

= 8030 g

Fase luar (1,5%) :


Mg-Stearat 0,5% : 1,5 mg x 55.000 = 82,5 g
Talk 1%

: 3 mg x 55.000 = 165 g

VIII. PROSEDUR
1. Allupurinol dan bahan tambahan ditimbang sesuai dengan
formula yang dibuat.
2. Semua bahan yang termasuk kedalam fase dalam yaitu
Allupurinol, laktosa amprotab, PVP dicampur dengan sejumlah
fase luar 0,5% mg-stearat dan 1% talk.
3. Setelah itu, campuran di slug sampai terbentuk bongkahanbongkahan.
4. Bongkahan tersebut dihancurkan dalam mortir lalu diayak
5.
6.
7.
8.
9.

dengan ayakan nomor 16.


Kemudian granul yang dihasilkan dievaluasi.
Kemudian ditambahkan sisa fase luar.
Setelah itu dicampur selama 5 menit.
Selanjutnya campuran akhir dicetak menjadi tablet.
Kemudian setelah menjadi tablet dilakukan evaluasi terhadap
tablet yang telah dicetak.

IX.

EVALUASI
A. Granul
1. Penetapan bobot jenis nyata, bobot jenis mampat, kadar
pemampatan dan porositas

Sebanyak X gram granul dimasukkan kedalam gelas ukur dan


dicatat volumenya (V0). Selanjutnya dilakukan pengetukan pada
gelas ukur. Volume pada ketukan ke 10, 50, dan 500 diukur, lalu
dilakukan perhitungan sebagai berikut,

BJ nyata

g/ml

BJ mampat

Kadar pemampatan

Porositas

g/ml

100%

100%

2. Kecepatan Aliran

Beaker glass kosong ditimbang (W0)

Skala diset pada posis 0

Granul dimasukkan ke corong

Kemudian alat dihidupkan

Waktu alir dicatat (t)

Beaker glss berisi granul di timbang (Wt)

Aliran granul dihitung

3. Sudut Istirahat

Prosedur no.2 dilakukan kembali

Tinggi puncak granul diukur (h)

Diameter lingkaran yang terbentuk dari taburan granul


diukur (d=2r)

Sudut yang terbentuk dari taburan granul antara bidang


datar dengan tinggi granul di hitung : tan a

B. Tablet
1. Penampilan
Tablet diamati secara visual, apakah terjadi ketidak homogenan
zat warna atau tidak, bentuk tablet, permukaan cacat atau tidak
dan bebas dari noda atau bintik-bintik. Bau tablet tidak boleh
berubah.
2. Keseragaman ukuran
Sebanyak 20 tablet diambil secara acak, kemudian diukur
diameter dan tebalnya menggunakan jangka sorong.
3. Keseragaman bobot
Sebanyak 20 tablet diambil secara acak kemudian ditimbang
masing-masing. Bobot rata-rata dihitung dan penyimpangan
terhadap bobot rata-rata dihitung.
4. Kekerasan tablet
Sebanyak

20

tablet

yang

diambil

secara

acak

diukur

kekerasannya menggunakan hardness tester. Kemudian dihitung


kekerasan rata-rata tablet dan standar deviasinya. Satuannya
adalah kg/cm2.

Bobot tablet sampai 300 mg : 4-7 kg/cm3

Bobot tablet 400-700 mg

: 5-12 kg/cm3

5. Friabilitas

Sebayak 20 tablet diambil secara acak.

Tablet dibersihakan dari debu kemudian ditimbang (W0).

Tablet dimasukkan kedalam alat friabilator.

Alat dinyalakan selama 4 menit.

Tablet kemudian dibersihkan dan ditimbang.

Tablet yang baik memiliki friabilitas kurang dari 1%.


100%

6. Friksibilitas

Tablet diambil secara acak sebanyak 20 tablet.

Tablet dibersihakan dari debu kemudian ditimbang (W0).

Tablet dimasukkan kedalam alat friabilator.

Alat dinyalakan selama 4 menit.

Tablet kemudian dibersihkan dan ditimbang.

Tablet yang baik memiliki friksibilitas kurang dari 1%.


100%

7. Uji waktu hancur


Sebanyak 6 tablet yang diambil secara acak dimasukkan
kedalam

masing-masing

tabung

dari

keranjang

alat

Disintegrasion Tester. Cakram dimasukkan pada setiap tabung.


Alat dijalankan dengan menggunakan air bersuhu 372 sebagai
media kecuali dinyatakan menggunakan cairan lain dalam
masing-masing monografi. Pada akhir batas waktu seperti yang
tertera pada monografi, keranjang diangkat dan di amati semua
tablet. Waktu tablet petama dan terakhir hancur dicatat dan
dihitung selisihnya.
X.

ASPEK FARMAKOLOGI
Allupurinol
o Mekanisme kerja:
Alopurinol adalah obat penyakit pirai (gout) yang dapat
menurunkan kadar asam urat dalam darah. Alopurinol bekerja
dengan menghambat xantin oksidase yaitu enzim yang dapat
mengubah hipoxantin menjadi xantin, selanjutnya mengubah
xantin menjadi asam urat. Dalam tubuh Alopurinol mengalami
metabolisme
bekerja

menjadi

sebagai

oksipurinol

penghambat

(alozantin)

enzim

yang

xantin

juga

oksidase.

Mekanisme kerja senyawa ini berdasarkan katabolisme purin


dan mengurangi produksi asam urat, tanpa mengganggu
biosintesa purin.
o Data farmakokinetik:
-

Absorpsi:

Alopurinol

hampir

80%

diabsorpsi

setelah

pemberian peroral.
-

Distribusi: Volume distribusinya 1,6 L/Kg.

Metabolisme:

Alupurinol

dimetabolisme

sendiri

oleh

xantin oksidase menjadi metabolit aktif oxypurinol ( 75%).

Ekskresi: Ekskresi alopurinol dalam urin sebesar 76%


dalam bentuk oxypurinol dan 12% dalam bentuk utuh.

o Indikasi:
Pirai

primer

dan

sekunder

Hyperuricemia

karena

penggunaan chemoterapi "Recurrent Renal Calculi". Lain-lain :


Menurunkan

hiperuricemia

sekunder

akibat

glucose-6-phosphatedehydrogenase,

ke-kurangan
"Lesch-Nyhan

syndrome", "Polycythemia vera", "Sarcoidosis", pemakaian


thiazid dan ethambutol.
o Kontraindikasi:
Alergi terhadap Alopurinol. Penderita dengan penyakit hati
dan "bone marrow suppression.
o Peringatan:
Hati-hati pemberian pada penderita yang hipersensitif dan
wanita hamil. Hindari penggunaan pada penderita dengan
gagal

ginjal

atau

penderita

dengan

hiperurisemia

asimptomatik.
Hentikan

pengobatan

dengan

Alopurinol

bila

timbul

kemerahan kulit atau demam. Penggunaan jangka panjang


dapat menyebabkan katarak. Selama pengobatan dianjurkan
melakukan pemeriksaan mata secara
penggunaan

bila

Penggunaan

terjadi

pada

berkala, hentikan

gejala kerusakan lensa mata.

wanita

hamil,

hanya

bila

ada

pertimbangan manfaat dibandingkan resikonya. Alopurinol


dapat meningkatkan frekuensi serangan artritis gout akut
sehingga

sebaiknya

obat

anti inflamasi

atau

kolkisin

diberikan bersama pada awal terapi. Hati-hati bila diberikan


bersama dengan vidarabin.
o Efek samping:

Reaksi hipersensitivitas : ruam makulopapular didahului


pruritus, urtikaria, eksfoliatif dan lesi purpura, dermatitis,
nefritis,

faskulitis

dan

sindrome

poliartritis.

Demam,

eosinofilia, kegagalan hati dan ginjal, mual, muntah, diare,


rasa mengantuk, sakit kepala dan rasa logam.
o Dosis:

Dewasa:
Dosis awal 100 mg sehari dan ditingkatkan setiap minggu
sebesar 100 mg sampai dicapai dosis optimal.

Dosis maksimal yang dianjurkan 800 mg sehari. Pasien


dengan gangguan ginjal 100 - 200 mg sehari.

Anak 6 - 10 tahun: Bila disertai penyakit kanker, dosis


maksimal 300 mg sehari.

Anak di bawah 6 tahun: Dosis maksimal 150 mg sehari.


Dosis tergantung individu sebaiknya diminum sesudah
makan. Pemeriksaan kadar asam urat serum dan fungsi
ginjal membantu penetapan dosis efektif minimum, untuk
memelihara kadar asam urat serum < 7 mg/dl pada pria
dan < 6 mg/dl pada wanita.

o Interaksi Obat :
Pemberian

Alopurinol

bersama

dengan

azatioprin,

merkaptopurin atau siklotosfamid, dapat meningkatkan efek


toksik dari obat tersebut. Jangan diberikan bersama-sama
dengan garam besi dan obat diuretik golongan tiazida.
Dengan warfarin dapat menghambat metabolisme obat di
hati.

XI.

ETIKET DAN KEMASAN

CAUSANOL

Komposisi :
Tiap tablet mengandung :
Allupurinol 100 mg
Mekanisme Kerja :
Alopurinol adalah obat penyakit pirai (gout) yang
dapat menurunkan kadar asam urat dalam darah.
Alopurinol bekerja dengan menghambat xantin
oksidase yaitu enzim yang dapat mengubah
hipoxantin menjadi xantin, selanjutnya mengubah
xantin menjadi asam urat.
Dosis :
Dewasa:
Dosis awal 100 mg sehari.
Dosis maksimal yang dianjurkan 800 mg sehari.
Pasien dengan gangguan ginjal 100 - 200 mg sehari.
Anak 6 - 10 tahun:
Bila disertai penyakit kanker, dosis maksimal 300 mg
sehari.
Anak di bawah 6 tahun:
Dosis maksimal 150 mg sehari.
Indikasi :
Gout dan hiperurisemia.
Kontra Indikasi :
Alergi terhadap Alupurinol. Penderita dengan penyakit
hati dan "bone marrow suppression.
Efek Samping :
Reaksi hipersensitivitas, ruam makulopapular
didahului pruritus, urtikaria, eksfoliatif dan lesi
purpura, dermatitis, nefritis, faskulitis dan sindrome
poliartritis. Demam, eosinofilia, kegagalan hati dan
ginjal, mual, muntah, diare, rasa mengantuk, sakit
kepala dan rasa logam.
Interaksi Obat :
Pemberian Alopurinol bersama dengan azatioprin,
merkaptopurin atau siklotosfamid, dapat
meningkatkan efek toksik dari obat tersebut. Jangan
diberikan bersama-sama dengan garam besi dan obat
diuretik golongan tiazida. Dengan warfarin dapat
menghambat metabolisme obat di hati.
Perhatian :
Hati-hati pada penderita hipersensitif dan wanita
hamil.
Hindari pada penderita gagal ginjal atau penderita
hiperurisemia asimptomatik.
Hentikan pengobatan dengan Alopurinol bila timbul
kemerahan kulit atau demam.
Allupurinol dapat meningkatkan frekuensi serangan
artritis gout akut, sebaiknya obat anti inflamasi
atau kolkisin diberikan bersama pada awal terapi.
Hati-hati bila diberikan bersama dengan vidarabin.
Simpan di tempat sejuk dan kering.
No. Reg. DKL8920905510A1
HARUS DENGAN RESEP DOKTER
PT. Causa Farma