Anda di halaman 1dari 21

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
II.1

Apotek

II.1.1 Definisi Apotek


Defenisi Apotek menurut Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 35 Tahun
2014 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek adalah sarana pelayanan
kefarmasian tempat dilakukan praktik kefarmasian oleh Apoteker. Dalam praktik
kefarmasian terdapat standar pelayanan kefarmasian yang merupakan tolak ukur
yang

dipergunakan

sebagai

pedoman

bagi

tenaga

kefarmasian

dalam

menyelenggarakan pelayanan kefarmasian, dimana pelayanan kefarmasian adalah


suatu pelayanan langsung dan bertanggung jawab kepada pasien yang berkaitan
dengan sediaan farmasi dengan maksud mencapai hasil yang pasti untuk
meningkatkan mutu kehidupan pasien. Sediaan farmasi menurut Peraturan
Menteri Kesehatan Nomor 35 tahun 2014 adalah obat, bahan obat, obat tradisional
atau kosmetika (3).
II.1.2 Tugas dan Fungsi Apotek (2)
Seorang apoteker dapat melaksanakan praktik kefarmasian pada sebuah
apotek. Berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 51 Tahun
2009 tentang Pekerjaan Kefarmasian, tugas dan fungsi apotek adalah :
1. Tempat pengabdian profesi seorang Apoteker yang telah mengucapkan
sumpah jabatan.
2. Sarana yang digunakan untuk melakukan pekerjaan kefarmasian.
3. Sarana yang digunakan untuk memproduksi dan distribusi sediaan
farmasi, antara lain obat, bahan obat, obat tradisional, dan kosmetika.
4. Sarana

pembuatan

dan

pengendalian

mutu

sediaaan

farmasi,

pengamanan, pengadaan, penyimpanan, pendistribusian atau penyaluran


obat, pengelolaan obat, pelayanan obat atas resep dokter, pelayanan
informasi obat, bahan obat, dan obat tradiosional.

II.1.3Persyaratan Apotek (6)


Suatu apotek baru dapat beroperasi setelah mendapatkan Surat Izin Apotek
(SIA). SIA adalah surat izin yang diberikan oleh Menteri Kesehatan Republik
Indonesia kepada Apoteker atau Apoteker yang bekerjasama dengan pemilik
sarana apotek untuk menyelenggarakan pelayanan apotek disuatu tempat tertentu.
Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor.
1332/MENKES/SK/X/2002 tentang perubahan atas Peraturan Menteri Kesehatan
RI No. 922/MENKES/PER/X/1993 tentang Ketentuan dan Tata Cara Pemberian
Izin Apotek, maka tata cara pemberian izin apotek yakni sebagai berikut :
1. Permohonan Izin Apotek diajukan kepada Kepala Dinas Kesehatan
Kabupaten/Kota.
2. Setelah menerima permohonan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota
dapat meminta bantuan teknis kepada Kepala Balai POM selambatlambatnya 6 hari kerja untuk melakukan pemeriksaan setempat terhadap
kesiapan apotek untuk melakukan kegiatan.
3. Setelah

permintaan

bantuan

teknis

dari

Kepala

Dinas

Kesehatan

Kabupaten/Kota, Tim Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota atau Kepala Balai


POM melaporkan hasil pemeriksaan setempat selambat-lambatnya 6 hari
kerja.
4. Apabila kegiatan pemeriksaan pada poin 2 dan 3 tidak dilaksanakan,
Apoteker Pemohon dapat membuat surat pernyataan siap melakukan
kegiatan kepada Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota setempat dengan
tembusan kepada Kepala Dinas Propinsi.
5. Dalam jangka waktu 12 hari kerja setelah laporan hasil pemeriksaan diterima
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota setempat mengeluarkan Surat Izin
Apotek.
6. Apabila hasil pemeriksaan Tim Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota atau
Kepala Balai POM masih belum memenuhi syarat, maka Kepala Dinas
Kesehatan

Kabupaten/Kota

setempat

dalam

mengeluarkan Surat Penundaan izin apotek.

waktu

12

hari

kerja

7. Setelah menerima Surat Penundaan maka Apoteker diberi kesempatan untuk


melengkapi persyaratan yang belum dipenuhi selambat-lambatnya dalam
jangka waktu 1 bulan.
Apoteker juga diwajibkan untuk memenuhi setiap persyaratan yang telah
ditetapkan sesuai perundang-undangan. Persyaratan yang telah dipenuhi dapat
diajukan kepada Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota untuk diproses dan
dipertimbangkan kelayakannya sehingga dapat diperoleh keputusan bahwa apotek
mendapatkan izin atau tidak.
Persyaratan lain yang harus diperhatikan untuk mendirikan suatu apotek
antara lain :
1. Surat Izin Praktek Apoteker (SIPA) Untuk memperoleh SIPA sesuai dengan
PP RI No. 51 tahun 2009 tentang Pekerjaan Kefarmasian, seorang Apoteker
harus memiliki Surat Tanda Registrasi Apoteker (STRA). STRA dikeluarkan
oleh Menteri Kesehatan. STRA ini dapat diperoleh jika seorang Apoteker
memenuhi persyaratan sebagai berikut :
a.

Memiliki ijazah Apoteker.

b.

Memiliki sertifikat kompetensi profesi.

c.

Mempunyai surat pernyataan telah mengucapkan sumpah/janji Apoteker.

d.

Mempunyai surat keterangan sehat fisik dan mental dari dokter yang
mempunyai surat izin praktek,

e.

Membuat pernyataan akan mematuhi dan melaksanakan ketentuan etika


profesi.

Persyaratan lain yang harus diperhatikan untuk mendirikan suatu apotek


antara lain :
a. Lokasi dan Tempat
Jarak minimum antara apotek tidak lagi dipersyaratkan, tetapi tetap
mempertimbangkan segi penyebaran dan pemerataan pelayanan kesehatan,
jumlah penduduk, jumlah dokter, sarana pelayanan kesehatan dan hygiene
lingkungan. Selain itu apotek dapat didirikan di lokasi yang sama dengan kegiatan
pelayanan komoditi lainnya diluar sediaan farmasi. Apotek harus dapat dengan

mudah di akses oleh masyarakat. Pada halaman terdapat papan petunjuk yang
dengan jelas tertulis kata Apotek.
b. Bangunan dan Kelengkapannya
Bangunan apotek harus mempunyai luas yang memadai sehingga dapat
menjamin kelancaran pelaksanaan tugas dan fungsi apotek. Persyaratan teknis
bangunan apotek setidaknya terdiri dari:
1. Ruang tunggu pasien.
2. Ruang peracikan dan penyerahan obat.
3. Ruang administrasi.
4. Ruang penyimpanan obat.
5. Ruang tempat pencucian alat.
6. Kamar kecil (WC).
Selain itu bangunan apotek harus dilengkapi dengan:
1. Sumber air yang memenuhi persyaratan kesehatan.
2. Penerangan yang cukup sehingga dapat menjamin pelaksanaan tugas dan
fungsi apotek.
3. Alat pemadam kebakaran minimal dua buah yang masih berfungsi dengan
baik.
4. Ventilasi dan sistem sanitasi yang memenuhi persyaratan hygiene lainnya.
5. Papan nama apotek, yang memuat nama apotek, nama APA, nomor Surat
Izin Apotek (SIA), alamat apotek dan nomor telpon apotek (bila ada).
c. Perlengkapan apotek
Perlengkapan yang harus tersedia di apotek adalah:
1.

Alat pembuatan, pengolahan, dan peracikan, seperti timbangan, mortar,


dan gelas ukur.

2. Perlengkapan dan alat penyimpanan perbekalan farmasi seperti lemari obat


dan lemari pendingin.
3. Wadah pengemas dan pembungkus seperti plastik pengemas dan kertas
perkamen.
4. Tempat penyimpanan khusus narkotika, psikotropik, dan bahan beracun.

5. Alat administrasi seperti blanko pesanan obat, faktur, kuitansi, kartu stok,
dan salinan resep.
6. Buku standar yang diwajibkan antara lain Farmakope Indonesia.
d. Tenaga Kerja atau Personalia Apotek
Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 tahun 2014
tentang tenaga kesehatan, dalam undang-undang tersebut tercantum bahwa Jenis
Tenaga Kesehatan yang termasuk dalam kelompok tenaga kefarmasian
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf e tentang tenaga kefarmasian terdiri
atas apoteker dan tenaga teknis kefarmasian. Berdasarkan Peraturan Menteri
Kesehatan Nomor 35 Tahun 2014 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian,
apoteker adalah sarjana farmasi yang telah lulus sebagai Apoteker dan telah
mengucapkan sumpah jabatan Apoteker. Tenaga teknis kefarmasian adalah tenaga
yang membantu apoteker dalam menjalankan pekerjaan kefarmasian, yang terdiri
atas Sarjana Farmasi, Ahli Madya Farmasi, Analis Farmasi, dan Tenaga menengah
Farmasi atau Asisten Apoteker (3,7).
II.1.4 Pelayanan Apotek (6)
Pelayanan kefarmasian di apotek menurut keputusan Menkes RI No.
1332/Menkes/SK/X/2002 tentang Ketentuan dan Tata Cara Pemberian Izin
Apotek, meliputi :
1. Apotek wajib melayani resep dokter, dokter spesialis, dokter gigi, dan
dokter hewan. Pelayanan resep ini sepenuhnya atas dasar tanggung jawab
Apoteker Pengelola Apotek, sesuai dengan keahlian profesinya yang
dilandasi pada kepentingan masyarakat.
2. Apotek wajib menyediakan, menyimpan, dan menyerahkan perbekalan
farmasi yang bermutu baik dan absah.
3. Apotek tidak diizinkan mengganti obat generik yang ditulis dalam resep
dengan obat bermerek dagang. Namun resep dengan obat bermerek
dagang atau obat paten dapat diganti dengan obat generik.
4. Apotek wajib memusnahkan perbekalan farmasi yang tidak memenuhi
syarat mengikuti ketentuan yang berlaku, dengan membuat berita acara.

Pemusnahan ini dilakukan dengan cara dibakar atau ditanam atau dengan
cara lain yang ditetapkan oleh Badan POM.
5. Dalam hal pasien tidak mampu menebus obat yang diresepkan, apoteker
wajib berkonsultasi dengan dokter penulis resep untuk pemilihan obat
yang lebih tepat.
6. Apoteker wajib memberikan informasi yang berkaitan dengan penggunaan
obat secara tepat, aman, dan rasional atas permintaan masyarakat.
7. Apabila apoteker menganggap bahwa dalam resep terdapat kekeliruan atau
penulisan resep yang tidak tepat, apoteker harus memberitahukan kepada
dokter penulis resep. Apabila atas pertimbangan tertentu dokter penulis
resep tetap pada pendiriannya, dokter wajib secara tertulis atau
membubuhkan tanda tangan yang lazim di atas resep.
8. Salinan resep harus ditandatangani oleh apoteker.
9. Resep harus dirahasiakan dan disimpan diapotek dengan baik dalam
jangka waktu 3 tahun.
10. Resep dan salinan resep hanya boleh diperlihatkan kepada dokter penulis
resep atau yang merawat penderita, penderita yang bersangkutan, petugas
kesehatan, atau petugas lain yang berwenang menurut perundangundangan yang berlaku.
11. Apoteker diperbolehkan menjual obat keras tanpa resep yang dinyatakan
sebagai Daftar Obat Wajib Apotek.
II.1.5 Pelayanan Resep (3)
Defenisi Resep Menurut Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 35
Tahun 2014, Resep adalah permintaan tertulis dari dokter atau dokter gigi, kepada
apoteker, baik dalam bentuk paper maupun electronik untuk menyediakan dan
menyerahkan obat bagi pasien sesuai peraturan yang berlaku. Resep yang baik
merupakan resep yang ditulis dengan jelas dan dapat dibaca. Tulisan yang sukar
dibaca sangat rawan terhadap kesalahan yang berbahaya. Secara etika kertas resep
warna putih dengan ukuran minimal 11 x 17 cm.

10

Sebagai apoteker sebelum meracik, menyiapkan, membungkus, dan


menempatkan obat dalam wadah atau bungkus yang cocok dan memeriksa serta
memberi etiket dengan teliti maka harus melakukan skrining resep.
Skrining Resep (3)
Apoteker melakukan skrining resep meliputi :
1. Persyaratan Administratif :
a.

nama pasien, umur, jenis kelamin dan berat


badan;

b.

nama dokter, nomor Surat Izin Praktik (SIP),


alamat, nomor telepon dan paraf; dan

c.

tanggal penulisan Resep.

2. Kesesuaian farmasetik :
a.
bentuk dan kekuatan sediaan;
b.
stabilitas; dan
c.kompatibilitas (ketercampuran obat).
3. Pertimbangan klinis :
a. ketepatan indikasi dan dosis obat;
b. aturan, cara dan lama penggunaan obat;
c. duplikasi dan/atau polifarmasi;
d. reaksi obat yang tidak diinginkan (alergi, efek samping obat, manifestasi
klinis lain);
e. kontra indikasi; dan
f. interaksi.
Jika ditemukan adanya ketidaksesuaian dari hasil pengkajian maka
Apoteker harus menghubungi dokter penulis Resep.
II.1.6 Dispensing obat (3)
Dispensing terdiri dari penyiapan, penyerahan dan pemberian informasi
Obat. Setelah melakukan pengkajian Resep dilakukan hal sebagai berikut:
1. Menyiapkan Obat sesuai dengan permintaan Resep:
a. menghitung kebutuhan jumlah Obat sesuai dengan Resep;
b. mengambil Obat yang dibutuhkan pada rak penyimpanan dengan
memperhatikan nama Obat, tanggal kadaluwarsa dan keadaan fisik Obat.
2. Melakukan peracikan obat bila diperlukan
3. Memberikan etiket sekurang kurangnya meliputi :
a. warna putih untuk Obat dalam/oral;

11

b. warna biru untuk Obat luar dan suntik;


c. menempelkan label kocok dahulu pada sediaan bentuk suspense atau
emulsi.
4. Memasukkan Obat ke dalam wadah yang tepat dan terpisah, untuk obat yang
berbeda untuk menjaga mutu obat dan menghindari penggunaan yang salah.
Setelah penyiapan Obat dilakukan hal sebagai berikut:
a.Sebelum Obat diserahkan kepada pasien harus dilakukan pemeriksaan
kembali mengenai penulisan nama pasien pada etiket, cara penggunaan serta
jenis dan jumlah Obat (kesesuaian antara penulisan etiket dengan Resep);
b. Memanggil nama dan nomor tunggu pasien;
c.Memeriksa ulang identitas dan alamat pasien;
d. Menyerahkan Obat yang disertai pemberian informasi Obat;
e.Memberikan informasi cara penggunaan Obat dan hal-hal yang terkait
dengan Obat antara lain manfaat Obat, makanan dan minuman yang harus
dihindari, kemungkinan efek samping, cara penyimpanan Obat dan lain-lain;
f. Penyerahan Obat kepada pasien hendaklah dilakukan dengan cara yang baik,
mengingat pasien dalam kondisi tidak sehat mungkin emosinya tidak stabil;
g. Memastikan bahwa yang menerima Obat adalah pasien atau keluarganya;
h. Membuat salinan Resep sesuai dengan Resep asli dan diparaf oleh
Apoteker (apabila diperlukan);
i. Menyimpan Resep pada tempatnya;
j. Apoteker membuat catatan pengobatan pasien dengan menggunakan
formulir 5 sebagaimana terlampir.
Apoteker di Apotek juga dapat melayani Obat non Resep atau pelayanan
swamedikasi. Apoteker harus memberikan edukasi kepada pasien yang
memerlukan Obat non Resep untuk penyakit ringan dengan memilihkan obat
bebas atau bebas terbatas yang sesuai.
II.1.7 Pelayanan Informasi Obat (PIO) (3)
Pelayanan Informasi Obat merupakan kegiatan yang dilakukan oleh
Apoteker dalam pemberian informasi mengenai obat yang tidak memihak,
dievaluasi dengan kritis dan dengan bukti terbaik dalam segala aspek penggunaan
obat kepada profesi kesehatan lain, pasien atau masyarakat. Informasi mengenai
obat termasuk obat resep, obat bebas dan herbal.

12

Informasi meliputi dosis, bentuk sediaan, formulasi khusus, rute dan


metoda pemberian, farmakokinetik, farmakologi, terapeutik dan alternatif, efikasi,
keamanan penggunaan pada ibu hamil dan menyusui, efek samping, interaksi,
stabilitas, ketersediaan, harga, sifat fisika atau kimia dari obat dan lain-lain.
II.1.8 Konseling (3)
Konseling merupakan proses interaktif antara Apoteker dengan
pasien/keluarga untuk meningkatkan pengetahuan, pemahaman, kesadaran dan
kepatuhan sehingga terjadi perubahan perilaku dalam penggunaan Obat dan
menyelesaikan masalah yang dihadapi pasien. Untuk mengawali konseling,
Apoteker menggunakan three prime questions. Apabila tingkat kepatuhan pasien
dinilai rendah, perlu dilanjutkan dengan metode Health Belief Model. Apoteker
harus melakukan verifikasi bahwa pasien atau keluarga pasien sudah memahami
Obat yang digunakan.
II.1.9 Pencabutan Izin Apotek (6)
Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.
1332/MENKES/SK/X/2002 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Kesehatan
Republik Indonesia No. 922/MENKES/PER/X/1993 tentang Ketentuan dan Tata
Cara Pemberian Izin Apotek, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dapat
mencabut surat izin apotek apabila :
1. Apoteker sudah tidak lagi memenuhi ketentuan persyaratan Apoteker
Penanggung Jawab.
2. Apoteker tidak memenuhi kewajiban dalam hal menyediakan, menyimpan
dan menyerahkan sediaan farmasi yang bermutu baik dan yang keabsahannya
terjamin dan mengganti obat generik yang ditulis didalam resep dengan obat
paten.
3. Apoteker Penanggung Jawab berhalangan melakukan tugasnya lebih dari 2
(dua) tahun secara terus menerus.
4. Terjadi pelanggaran terhadap ketentuan peraturan perundang-undangan yang
berlaku.
5. Surat izin kerja Apoteker Penanggung Jawab dicabut.

13

6. Pemilik sarana apotek terbukti terlibat dalam pelanggaran perundangundangan di bidang obat.
7. Apotek tidak lagi memenuhi persyaratan mengenai tempat, perlengkapan
termasuk sediaan farmasi dan perbekalan lainnya yang merupakan milik
sendiri atau milik pihak lain, sarana dan kegiatan pelayanan apotek.
Kepala Dinas Kesehatan Kota/Kabupaten sebelum melakukan pencabutan,
berkoordinasi dengan Kepala Balai POM setempat.
II.2 Penggolongan Obat
Obat adalah bahan atau paduan bahan, termasuk produk biologi yang
digunakan untuk mempengaruhi atau menyelidiki sistem fisiologi atau keadaan
patologi dalam rangka penetapan diagnosis, pencegahan, penyembuhan,
pemulihan, peningkatan kesehatan dan kontrasepsi untuk manusia (8).
Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Rl Nomor 917/Menkes/Per/X/1993
yang kini telah diperbaiki dengan Peraturan Menteri Kesehatan Rl Nomor
949/Menkes/Per/VI/2000, penggolongan obat ini terdiri dari (9):
a. Obat Bebas (10)
Obat bebas adalah obat yang dapat dijual bebas kepada umum tanpa resep
dokter, tidak termasuk narkotika, psikotropika, obat keras,obat bebas terbatas dan
sudah terdaftar di Depkes RI.
Penandaan untuk obat bebas diatur berdasarkan Surat Keputusan Menkes
RI Nomor 2380/A/SK/VI/1983. Tanda khusus untuk obat bebas yaitu lingkaran
bulat berwarna hijau dengan garis tepi warna hitam, seperti terlihat pada gambar
berikut :

Gambar 2.1 Logo Obat Bebas


Contoh : Parasetamol, Vitamin C, Asetosal (aspirin), dll.

14

b. Obat Bebas Terbatas (10)


Obat bebas terbatas atau obat yang masuk dalam daftar W, menurut
bahasa Belanda W singkatan dari Waarschuwing artinya peringatan. Jadi
maksudnya obat yang pada penjualannya di sertai dengan peringatan. Contohnya :
CTM, Mebendazol, dll. Menurut keputusan Menteri Kesehatan yang menetapkan
obat-obatan ke dalam daftar W memberikan pengertian obat bebas terbatas
adalah Obat Keras yang dapat diserahkan kepada pemakainya tanpa resep dokter,
bila penyerahannya memenuhi persyaratan sebagai berikut :
1) Obat tersebut hanya dijual dalam lingkungan asli dari pabriknya atau
pembuatannya.
2) Pada penyerahannya oleh pembuat atau penjual harus mencantumkan
tanda peringatan yang tercetak sesuai contoh. Tanda peringatan tersebut
berwarna hitam, berukuran panjang 5 cm, lebar 2 cm dan membuat
pemberitahuan berwarna putih sebagai berikut :

Gambar 2.2 Tanda Peringatan

15

3) Penandaan untuk obat bebas terbatas berdasarkan Keputusan Menteri


Kesehatan RI No. 2380/A/SK/VI/83 berupa lingkaran berwarna biru
dengan garis tepi berwarna hitam, seperti terlihat pada gambar berikut :

Gambar 2.3 Logo Obat Bebas Terbatas


Beberapa contoh obat bebas terbatas berdasarkan Keputusan Menteri
Kesehatan RI yaitu :
P No. 1
1. Anti Histamin
Sediaan anti histamin yang nyata-nyata dipergunakan untuk obat tetes
hidung/semprot hidung.
2. Choroquinum
Sediaan Cholroquinum atau garamnya yang dihitung sebagai basa tidak
lebih dari 160 mg setiap takaran dalam 60 ml tiap botol.
3. Sulfaguanidium,Phtalylsulfathiazolum dan Succinylsulfa Thazolum
Tablet yang mengandung tidak lebih dari 600 zat berkhasiat tiap tabletnya
dan tidak lebih dari 20 tablet tiap bungkus atau wadah.
P No. 2
1. Kalii chloras dalam larutan
2. Zincum, obat kumur yang mengandung persenyawaan zincum
P No. 3
1. Air Burowi
2. Merchurochromum dalam larutan
P No. 4

16

Rokok dan serbuk untuk penyakit bengek digunakan dengan cara dibakar
yang mengandung scopolamin
P No. 5
1. Amonia 10 % ke bawah
2. Sulfanilamidum steril dalam bugkusan tidak lebih dari 5 mg bungkusnya
P No. 6
Suppositoria.
c. Obat Keras (11)
Obat keras atau obat daftar G menurut bahasa Belanda G singkatan dari
Gevaarlijk artinya berbahaya maksudnya obat dalam golongan ini berbahaya
jika pemakaiannya tidak berdasarkan resep dokter. Contohnya : amoksisilin, dan
asam mefenamat.
Untuk penandaan obat keras mengacu kepada Keputusan Menteri
Kesehatan Republik Indonesia No. 2396/A/SK/VIII/1986 tentang tanda khusus
Obat Keras daftar G adalah Lingkaran bulat berwarna merah dengan garis tepi
berwarna hitam dengan huruf K yang menyentuh garis tepi, seperti
yang terlihat pada gambar berikut :

Gambar 2.4 Logo Obat Keras


d. Obat Wajib Apotek (OWA) (12)

17

Peraturan tentang Obat Wajib Apotek berdasarkan Keputusan Menteri


Kesehatan No. 347/Menkes/SK/VII/1990 yang telah diperbaharui dengan
Keputusan Menteri Kesehatan No. 924/Menkes/Per/X/1993, dikeluarkan dengan
pertimbangan sebagai berikut :
a. Pertimbangan yang utama untuk obat wajib apotek ini sama dengan
pertimbangan obat yang diserahkan tanpa resep dokter, yaitu meningkatnya
kemampuan masyarakat dalam menolong dirinya sendiri guna mengatasi
masalah kesehatan, dengan meningkatkan pengobatan sendiri secara cepat,
aman dan rasional.
b. Pertimbangan yang kedua untuk peningkatan peran apoteker di apotek dalam
pelayanan komunikasi,informasi dan edukasi serta pelayanan obat kepada
masyarakat.
c. Pertimbangan ketiga untuk peningkatan penyediaan obat yang dibutuhkan
untuk pengobatan sendiri.
Sampai saat ini sudah ada 3 daftar obat yang diperbolehkan diserahkan
tanpa resep dokter. Peraturan mengenai Daftar Obat Wajib Apotek tercantum
dalam :
1. Keputusan Menteri Kesehatan nomor 925/MENKES/PER/X/1993 tentang
Daftar Perubahan Golongan Obat No. 1
Contoh obat wajib apotek No.1
a. Aminophylline
b. Bromhexin
c. Hexetidine

18

2. Keputusan Menteri Kesehatan nomor 924/MENKES/PER/X/1993 tentang


Daftar Obat Wajib Apotek No. 2
Contoh :
a. Diclofenac
b. Ibuprofen
c. Ketokenazol, dll
3. Keputusan Menteri Kesehatan nomor 1176/Menkes/PER/X/1999 tentang
Daftar Obat Wajib Apotek No. 3
Contoh :
1. Famotidin
2. Asam Azeleat
3. Kloramfenikol, dll
e.

Psikotropika (OKT) (13)


Menurut UU No.5 Tahun 1997, psikotropika adalah zat atau obat baik

alamiah atau sintesis bukan narkotika yang bersifat psikoaktif melalui pengaruh
selektif pada susunan saraf pusat yang menyebabkan perubahan aktivitas mental
dan perilaku.

19

Gambar 2.5 Logo Obat Golongan Psikotropika


Adapun penggolongan psikotropika yang dimaksud yaitu :
1. Psikotropika golongan I adalah psikotropika yang hanya dapat digunakan
untuk tujuan ilmu pengetahuan dan tidak digunakan dalam terapi, serta
mempunyai potensi amat kuat mengakibatkan sindroma ketergantungan.
Contoh psikotropika golongan I adalah brolamfetamina, etisiklidina,
etriptamina,

mekationa,

psilosibina,

rolisiklidina,

tenamfetamina

dan

tenoksilidina.
2. Psikotropika golongan II adalah psikotropika yang berkhasiat pengobatan dan
dapat digunakan dalam terapi dan/atau untuk tujuan ilmu pengetahuan serta
mempunyai potensi kuat mengakibatkan sindroma ketergantungan. Contoh
psikotropika golongan II adalah amfetamina, deksafetamina, fenetilina,
fenmetrazina, metamfetamina, metakualon, sekobarbital, zipepprol.
3. Psikotropika golongan III adalah psikotropika yang berkhasiat pengobatan
dan banyak digunakan dalam terapi dan/atau untuk tujuan ilmu pengetahuan
serta mempunyai potensi sedang mengakibatkan sindroma ketergantungan.
Contoh psikotropika golongan III adalah amobarbital, buprenofrina,
butalbital, flunitrazepam, pentazosina, pentobarbital dan siklobarbital.
4. Psikotropika golongan IV adalah psikotropika yang berkhasiat pengobatan
dan banyak digunakan dalam terapi dan/atau untuk tujuan ilmu pengetahuan
serta mempunyai potensi ringan mengakibatkan sindroma ketergantungan.
Contoh

psikotropika

golongan

IV

adalah

allobarbita,

alprazolam,

amfepramona, aminorex, barbital, bromazepam, diazepam, etil amfetamina,


fenobarbital, fentermina, fludiazepam, flurazepam, kamazepam, ketazolam,
lorazepam, klordiazeoksida, klotiazepam, viniltibaltriazolam dan klobazam.
i. Obat Golongan Narkotika (14)
Pengertian Narkotika menurut Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009
Tentang Narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan
tanaman, baik sintetis maupun semisintetis, yang dapat menyebabkan penurunan

20

atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan


rasa nyeri, dan dapat menimbulkan ketergantungan, yang dibedakan ke dalam
golongan-golongan sebagaimana terlampir dalam Undang-Undang ini.

Gambar 2.6 Logo Obat Golongan Narkotika


Menurut Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009, narkotika dibedakan
dalam 3 golongan yaitu :
1. Narkotika golongan I adalah narkotika yang hanya dapat digunakan untuk
tujuan pengembangan ilmu pengetahuan dan tidak digunakan untuk terapi
serta mempunyai potensi yang sangat tinggi menimbulkan ketergantungan.
Contoh: kokain, opium, heroin, desomorfina.
2. Narkotika golongan II adalah narkotika yang berkhasiat pengobatan dan
digunakan sebagai pilihan terakhir dalam terapi/untuk pengembangan ilmu
pengetahuan serta mempunyai potensi tinggi menimbulkan ketergantungan.
Contoh: alfasetilmetadol, betametadol, diampromida.
3. Narkotika golongan III adalah narkotika yang berkhasiat pengobatan dan
banyak digunakan dalam terapi dan atau untuk tujuan pengembangan ilmu
pengetahuan serta mempunyai potensi ringan menimbulkan ketergantungan.
Contoh: kodein, asetildihidrokodeina, polkadina, propiram.
II.3 Pengelolaan Resep
Resep yang telah dilayani harus disimpan selama tiga tahun. Resep yang
disimpan diberi penandaan mengenai tanggal, bulan dan tahun pelayanan.
Kemudian resep disusun rapih agar mampu ditelusuri bila sewaktu-waktu
diperlukan. Tanggal terdekat dengan bulan layanan ditempatkan yang lebih mudah
dijangkau agar mampu ditelusuri dengan cepat. Untuk pengelolaan resep narkotik
dan psikotropika. Pada saat pelayanan resep narkotika diberi tanda garis warna
merah. Resep narkotika dan psikotropika harus terarsip dengan baik dan dicatat

21

dalam buku penggunaan obat narkotika dan psikotropika. Resep narkotika


diarsipkan dan disimpan selama tiga tahun berdasarkan tanggal dan nomor urut
resep.
II.3.1 Pengelolaan Narkotik
a.

Pemesanan narkotika
Undang-Undang Nomor 9 tahun 1976 menyatakan bahwa Menteri

Kesehatan

memberikan

izin

kepada

apotek

untuk

membeli,

meracik,

menyediakan, memiliki atau menyimpan untuk persediaan, menguasai, menjual,


menyalurkan, menyerahkan, mengirimkan, membawa atau mengangkut narkotika
untuk kepentingan pengobatan. Pengadaan narkotika di apotek dilakukan dengan
pesanan tertulis melalui Surat Pesanan Narkotika kepada Pedagang Besar Farmasi
(PBF) PT. Kimia Farma. Surat Pesanan Narkotika harus ditandatangani oleh APA
dengan mencantumkan nama jelas, nomor SIK, SIA dan stempel apotek. Satu
surat pesanan terdiri dari rangkap empat dan hanya dapat untuk memesan satu
jenis obat narkotika (15).
b. Penyimpanan narkotika
Apotek harus mempunyai tempat khusus untuk menyimpan narkotika dan
harus dikunci dengan baik. Tempat penyimpanan narkotika di apotek harus
memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:
1. Harus dibuat seluruhnya dari kayu atau bahan lain yang kuat.
2. Harus mempunyai kunci ganda yang kuat.
3. Dibagi menjadi dua bagian masing-masing bagian dengan kunci yang
berlainan. Bagian pertama dipergunakan untuk menyimpan morfin, petidin
dan garam-garamnya serta persediaan narkotika sedangkan bagian kedua
dipergunakan untuk menyimpan narkotika yang dipakai sehari-hari.
4. Apabila tempat khusus tersebut berupa lemari berukuran kurang dari
4080100 cm, maka lemari tersebut harus dibuat melekat pada tembok atau
lantai.
5. Lemari khusus tidak boleh digunakan untuk menyimpan barang lain selain
narkotika, kecuali ditentukan oleh Menteri Kesehatan.
6. Anak kunci lemari khusus harus dipegang oleh pegawai yang dikuasakan.
7. Lemari khusus harus ditempatkan di tempat yang aman dan tidak terlihat oleh
umum.
c. Pelayanan resep yang mengandung narkotika

22

Apotek hanya melayani pembelian narkotika berdasarkan resep dokter


sesuai dengan ketentuan Surat Edaran Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan
Makanan No. 336/E/SE/77 antara lain dinyatakan :
a. Sesuai dengan bunyi pasal 7 ayat (2) UU No. 9 tahun 1976 tentang
Narkotika, apotek dilarang melayani salinan resep yang mengandung
narkotika, walaupun resep tersebut baru dilayani sebagian atau belum
dilayani sama sekali.
b. Untuk resep narkotika yang baru dilayani sebagian atau belum dilayani sama
sekali, apotek boleh membuat salinan resep tetapi salinan resep tersebut
hanya boleh dilayani oleh apotek yang menyimpan resep aslinya.
c. Salinan resep dari resep narkotika dengan tulisan iter tidak boleh dilayani
sama sekali. Oleh karena itu dokter tidak boleh menambah tulisan iter pada
resep-resep yang mengandung narkotika.
d. Pelaporan narkotika
Berdasarkan UU No. 35 tahun 2009 pasal 14 ayat (2) dinyatakan bahwa
industri farmasi, pedagang besar farmasi, sarana penyimpanan sediaan farmasi
pemerintah, apotek, rumah sakit, pusat kesehatan masyarakat, balai pengobatan,
dokter, dan lembaga ilmu pengetahuan wajib membuat, menyampaikan, dan
menyimpan laporan berkala mengenai pemasukan dan/atau pengeluaran narkotika
yang berada dibawah penguasaannya. Laporan tersebut meliputi laporan
pemakaian narkotika dan laporan pemakaian morfin dan petidin. Laporan harus di
tandatangani oleh apoteker pengelola apotek dengan mencantumkan SIK, SIA,
nama jelas dan stempel apotek, kemudian dikirimkan kepada Kepala Dinas
Kesehatan dengan tembusan kepada :
1. Kepala Dinas Kesehatan Propinsi setempat.
2. Kepala Balai POM setempat.
3. Penanggung jawab narkotika PT. Kimia Farma (Persero) Tbk. (khusus
Apotek Kimia Farma).
4. Arsip.
Laporan penggunaan narkotika tersebut terdiri dari:
1. Laporan penggunaan sediaan jadi narkotika
2. Laporan penggunaan bahan baku narkotika

23

3. Laporan khusus penggunaan morfin dan petidin


4. Laporan narkotika tersebut dibuat setiap bulannya dan harus dikirim
selambat-lambatnya tanggal 10 bulan berikutnya.
II.3.2 Pengelolaan psikotropika
Ruang lingkup pengaturan psikotropika adalah segala hal yang
berhubungan dengan psikotropika yang dapat mengakibatkan ketergantungan.
Tujuan pengaturan psikotropika yaitu :
1. Menjamin ketersediaan psikotropika guna kepentingan pelayanan kesehatan
dan ilmu pengetahuan.
2. Mencegah terjadinya penyalahgunaan psikotropika.
3. Memberantas peredaran gelap psikotropika.
Secara garis besar pengelolaan psikotropika meliputi :
a. Pemesanan Psikotropika
Obat golongan psikotropika dipesan dengan menggunakan Surat Pesanan
Psikotropika yang ditandatangani oleh APA dengan mencantumkan nomor SIK.
Surat pesanan tersebut dibuat rangkap dua dan setiap surat dapat digunakan untuk
memesan beberapa jenis psikotropika.
b. Penyimpanan Psikotropika
Kegiatan ini belum diatur oleh perundang-undangan. Namun karena
kecenderungan penyalahgunaan psikotropika, maka disarankan untuk obat
golongan psikotropika diletakkan tersendiri dalam suatu rak atau lemari khusus
dan membuat kartu stok psikotropika.
c.

Penyerahan Psikotropika
Obat golongan psikotropika diserahkan oleh apotek, hanya dapat

dilakukan kepada apotek lainnya, rumah sakit, puskesmas, balai pengobatan dan
dokter kepada pengguna/pasien berdasarkan resep dokter
d. Pelaporan Psikotropika
Apotek wajib membuat dan menyimpan catatan mengenai kegiatan yang
berhubungan dengan psikotropika dan melaporkan pemakaiannya setiap bulan
kepada Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dengan tembusan kepada Kepala Balai
Besar POM setempat dan 1 salinan untuk arsip apotek.

24