Anda di halaman 1dari 71

BIAYA VARIABEL

(VARIABLE COSTING)
Akuntansi Biaya Variabel
Metode penentuan harga pokok produksi (dan pengaruhnya pada
penyajian laporan laba rugi), dimana biaya produksi variabel saja
yang dibebankan sebagai bagian kos produk.
Penentuan Harga Pokok:

No
1
2
3
4

Keterangan
Bahan baku
Tenaga kerja langsung
BOP (variabel)
BOP (tetap)
Total kos produk (per unit)

Full
costing
5.000
3.000
2.000
2.500
12.500

Variable
costing
5.000
3.000
2.000
10.000

Contoh: PT.WIRATA memiliki Data operasi salama tahun 2008 Sbb:


Jumlah yg diproduksi
: 50.000 unit
Jumlah yg terjual
: 45.000 unit
Persediaan akhir
:
5.000 unit
Harga jual
: Rp 100/unit
Biaya Bahan baku
: Rp 20/unit
Biaya tenaga kerja langsung
: Rp 15/unit
Biaya overhead (variabel)
: Rp 15/unit
Biaya operasi (variabel)
: Rp 10/unit
1

Biaya operasi (tetap)


Biaya overhead (tetap)

: Rp 1.000.000
: Rp 500.000

PT.WIRATA
Laporan Kos Produk & HP. Penjualan
Periode Tahun 2008 (dlm jutaan rupiah)
(Pendekatan Full Costing)
Keterangan
Bahan baku
Tenaga kerja langsung
BOP (variabel)
BOP (tetap)
Kos barang yg diproduksi
Persediaan akhir
Kos barang yg terjual

Produksi

Tarif

50.000
50.000
50.000
50.000
50.000
5.000
45.000

20
15
15
10
60
60
60

Biaya
1.000.000
750.000
750.000
500.000
3.000.000
300.000
2.700.000

PT.WIRATA
Laporan Laba/Rugi
Periode Tahun 2008 (dlm jutaan rupiah)
(Pendekatan Full Costing)
Keterangan

Produksi

Tarif

Penjualan
Kos barang yg terjual
Profit margin

45.000
45.000
-

100
60
-

4.500.000
2.700.000
1.800.000

Biaya Operasi:
Biaya operasi (variabel)
Biaya operasi (tetap)
Total biaya operasi

45.000
-

10
-

450.000
1.000.000
1.450.000

350.000

Laba bersih
Catatan:
Produk terjual
Persediaan

Biaya

BOP (T) sbg kos produk yang terjual


BOP (T) melekat pada produk
2

PT.WIRATA
Laporan Kos Produk & HP. Penjualan
Periode Tahun 2008 (dlm jutaan rupiah)
(Pendekatan Variable Costing)
Keterangan
Bahan baku
Tenaga kerja langsung
BOP (variabel)
BOP (tetap)
Kos barang yg diproduksi
Persediaan akhir
Kos barang yg terjual

Produksi

Tarif

50.000
50.000
50.000
50.000
5.000
45.000

20
15
15
50
50
50

Biaya
1.000.000
750.000
750.000
2.500.000
250.000
2.250.000

PT.WIRATA
Laporan Laba/Rugi
Periode Tahun 2008 (dlm jutaan rupiah)
(Pendekatan Variable Costing)
Keterangan

Produksi

Tarif

Biaya

Penjualan

45.000

100

4.500.000

Kos barang yg terjual (V)


Biaya operasi (V)
Total biaya variabel

45.000
45.000
45.000

50
10
50

2.250.000
450.000
2.700.000

Contribution margin

1.800.000

Biaya Periodik:
Biaya overhead (tetap)
Biaya operasi (tetap)
Total biaya Periodik

500.000
1.000.000
1.500.000

Laba bersih

300.000

PT. WIRATA
Laporan Kos Produk & HP. Penjualan
Periode Tahun 2008
Full costing

Keterangan

Direct costing

1.000.000
750.000
750.000
500.000
3.000.000

Bahan baku
Tenaga kerja langsung
BOP (variabel)
BOP (tetap)
Kos barang yg diproduksi

1.000.000
750.000
750.000
2.500.000

- 300.000

Persediaan akhir

- 250.000

2.700.000

Kos barang yg terjual

2.250.000

PT. WIRATA
Laporan Laba Rugi
Periode Tahun 2008
Full
costing

Keterangan

Direct costing

4.500.000

Penjualan

4.500.000

2.700.000
0
2.700.000
1.800.000

Kos barang yg terjual


Biaya operasi (V)
Total biaya
Profit/Contribution margin
Biaya Operasi/Periodik:
Biaya Operasi (V)
Biaya operasi (T)
Biaya oeverhead (T)
Total biaya operasi/periodik

2.250.000
450.000
2.700.000
1.800.000

450.000
1.000.000
0
1.450.000

0
1.000.000
500.000
1.500.000

350.000

Laba bersih

300.000

Rp 50.000

BIAYA RELEVAN UNTUK


PENGAMBILAN KEPUTUSAN
Informasi akuntansi diferensial merupakan informasi akuntansi yang
terkait dengan pemilihan alternatif. Informasi akuntansi ini merupa
kan taksiran perbedaan aktiva, pendapatan dan biaya dlm alternatif
tindakan tertentu.
Ciri informasi akuntansi diferensial:
1. Informasi masa yang akan datang
2. Adanya unsur yang berbeda diantara alternatif yang tersedia
3. Mengambil keputusan mengenai alternatif tindakan terbaik
Biaya diferensial:
Pemahaman biaya diferensial seringkali rancu dgn konsep biaya yang
dikembangkan dlm akuntansi biaya seperti: relevant cost, future cost,
out of pocket cost, sunk cost, opportunity cost, incremental cost.
1. Biaya diferensial versus biaya relevan
Biaya relevan merupakan biaya yang akan terjadi karena sebuah
keputusan, sedangkan biaya diferensial menyangkut informasi yg
akan datang dan berbeda diantara alternatif yang akan dipilih dan
bersifat unik.
2. Biaya diferensial versus biaya masa akan datang
Biaya masa akan datang merupakan biaya yang diharapkan akan
terjadi dimasa mendatang dan jumlahnya harus diestimasikan.
5

Pertimbangan:
Biaya yang dapat dikendalikan oleh manajemen
Biaya ini harus direncanakan (budget cost)
Biaya ini untuk mendukung aktivitas tertentu/diharapkan

3. Biaya diferensial versus biaya variabel


Biaya variabel merupakan biaya yang berubah secara proporsional
dengan tingkat kegiatan, sedang biaya diferensial selalu terkait dgn
alternatif tertentu yang sedang dipertimbangkan untuk dipilih.
4. Biaya diferensial versus biaya tetap
Biaya tetap merupakan biaya yang jumlah totalnya tidak berubah
dgn adanya perubahan volume aktivitas. Dalam pengambilan kepu
tusan jk pendek biaya tetap mungkin merupakan biaya diferensial
atau mungkin tidak, hal ini tergantung apakah biaya tsb dapat dite
lusuri ke obyeknya.
5. Biaya diferensial versus biaya depresiasi
Depresiasi merupakan alokasi biaya secara periodik atas kos aktiva
tetap yang diperoleh diwaktu yg lampau. Depresiasi muncul karena
keputusan investasi modal jangka panjang, oleh karena itu dalam
pengambilan keputusan jk pendek biaya depresiasi dpt diabaikan.
6. Biaya diferensial versus biaya tambahan
Biaya tambahan suatu alternatif adalah tambahan biaya yang akan
terjadi jika suatu alternatif yang berkaitan dgn perubahan volume
aktivitas dipilih.
7. Biaya diferensial versus biaya kesempatan
Biaya kesempatan adalah pendapatan atau penghematan biaya yg
dikorbankan sebagai akibat dipilihnya alternatif tertentu.
8. Biaya diferensial versus biaya tunai

Out of pocket cost adalah jenis biaya yang memerlukan pengeluaran


kas saat sekarang atau dalam jk pendek sebagai akibat keputusan
manajemen.
Kesimpulan:
Biaya diferensial merupakan biaya masa yang akan datang
Dipengaruhi oleh pengambilan suatu keputusan manajemen
Selalu relevan dengan alternatif pilihan keputusan
Memberi manfaat lebih baik

MANFAAT INFORMASI AKUNTANSI DIFERENSIAL

INFORMASI AKUNTASI DIFERENSIAL UNTUK


PENGAMBILAN KEPUTUSAN JANGKA PENDEK

Model Pengambilan Keputusan:


1.
2.
3.
4.

Komposisi Produk
Membeli atau membuat sendiri suatu produk
Menjual atau Memproses Lebih Lanjut suatu produk
Menghentikan atau Melanjutkan produk/aktivitas
tertentu
5.
Menerima atau menolak pesanan khusus
6.
Perencanaan Laba

1.

Komposisi Produk
Perbandingan produk yang sedemikian rupa, untuk diproduksi &
dijual, yang mana komposisi tersebut memberikan total laba yang
paling besar sesuai dgn informasi yang tersedia.

1)

ALTERNATIF DUA PRODUK


7

Keterangan

Produk A

Produk B

Harga Jual Produk


Biaya Variabel

Rp 5.000
Rp 2.500

Rp 4.000
Rp 3.000

Contribution Margin/unit
Biaya tetap Rp 25.000.000

Rp 2.500

Rp 1.000

2)

KAPASITAS MESIN DAN WAKTU


PEMBUATAN PRODUK

Kapasitas Mesin
Produk A membutuhkan waktu
Produk B membutuhkan waktu
Keterangan

Produk A

Unit yang dapat diproduksi


Contribution margin/unit
Total Contribution Margin

3)

: 400.000 jam
: 20 jam/unit
:
4 jam/unit
Produk B

20.000
Rp 2.500

100.000
Rp 1.000

50.000.000

100.000.000

DAYA SERAP PASAR

Daya Serap Pasar Produk A


Daya Serap Pasar Produk B
Keterangan

: tak terbatas
: 80.000 unit

Produk A

Produk B
8

Unit yang dapat diproduksi


Contribution margin/unit
Total Contribution Margin
Komposisi Produk:
Produk A : 2.000 unit
Produk B : 80.000 unit

Keterangan
Unit yang dapat diproduksi
Contribution margin/unit
Total Contribution Margin
Komposisi Produk:
Produk A : 6.000 unit
Produk B : 70.000 unit

Keterangan
Unit yang dapat diproduksi
Contribution margin/unit
Total Contribution Margin
Komposisi Produk:
Produk A : 8.000 unit
Produk B : 60.000 unit

4.000
Rp 2.500

80.000
Rp 1.000

10.000.000

80.000.000

Rp 90.000.000

Produk A

Produk B

6.000
Rp 2.500

70.000
Rp 1.000

15.000.000

70.000.000

Rp 85.000.000

Produk A

Produk B

8.000
Rp 2.500

60.000
Rp 1.000

20.000.000

60.000.000

Rp 80.000.000

Keterangan

Produk A

Unit yang dapat diproduksi


Contribution margin/unit
Total Contribution Margin

Membeli

10.000
Rp 2.500

50.000
Rp 1.000

25.000.000

50.000.000

Rp 75.000.000

Komposisi Produk:
Produk A : 10.000 unit
Produk B : 50.000 unit

2.

Produk B

atau

Membuat

Sendiri

suatu

Produk
Proses pengambilan keputusan terhadap alternatif membeli atau
membuat sendiri suatu produk, dengan pertimbangan:

Terdapat kapasitas yang masih nganggur


Memiliki kemampuan untuk membuat produk sendiri
Biaya tetap masih belum terserap secara penuh
Ada tawaran produk yang sama di pasar
Contoh 1:
Perusahaan ingin membuat suku cadang sesuai kebutu
han sebanyak 100.000 unit, harga yang ditawarkan oleh
pasar sebesar Rp 250/unit. Data biaya produksi Sbb:
Keterangan
Komponen Biaya:
Bahan baku
Tenaga kerja (v)
Biaya overhead pabrik (v)
Biaya overhead (tetap) dihindari
Biaya overhead (tetap) bersama

Tarif
50
100
30
40
50

Total Biaya
5.000.000
10.000.000
3.000.000
4.000.000
5.000.000
10

Total Biaya Produksi

270

27.000.000

INFORMASI AKUNTANSI UNTUK KEPUTUSAN

Keterangan
Komponen Biaya:
Bahan baku
Tenaga kerja (v)
Biaya overhead pabrik (v)
Biaya overhead (tetap) dihindari
Total Biaya Produksi
Harga jika membeli produk
Selisih Biaya yang terjadi

Tarif

Total Biaya

50
100
30
40

5.000.000
10.000.000
3.000.000
4.000.000

220
250
30

22.000.000
25.000.000
3.000.000

Jika membeli produk, maka terdapat biaya overhead tetap bersama


yang tidak dapat dihindarkan, sehingga terdapat selisih biaya sebesar
Rp 30 per unit (Rp 3.000.000) sebagai kerugian (beban lebih tinggi).

Contoh 2:
Perusahaan ingin membuat suku cadang sesuai kebutu
han sebanyak 100.000 unit, harga yang ditawarkan oleh
pasar sebesar Rp 350/unit. Data biaya produksi Sbb:
Keterangan
Komponen Biaya:
Bahan baku
Tenaga kerja (v)
Biaya overhead pabrik (v)
Biaya overhead (tetap) dihindari
Total Biaya Produksi

Tarif

Total Biaya

50
100
30
90

5.000.000
10.000.000
3.000.000
9.000.000

270

27.000.000

11

INFORMASI AKUNTANSI UNTUK KEPUTUSAN


Keterangan

Tarif

Total Biaya

Manfaat:
Harga beli

350

35.000.000

Pengorbanan:
Taksiran biaya produksi

270

27.000.000

120

12.000.000

Penghematan Biaya yang terjadi

Jika suku cadang dibuat sendiri, akan terjadi penghematan sebesar


Rp 12.000.000 setiap tahun.

Bagaimana jika membuat sendiri produk diperlukan suatu investasi


sebesar Rp 25.000.000 dgn taksiran ekonomis 3 tahun, serta tingkat
pengembalian investasi (ROI) sebesar 20%
INFORMASI AKUNTANSI UNTUK KEPUTUSAN
Keterangan
Penghematan biaya
Discount factor : 20%
Present value

Investasi Fasilitas:
Rp 25.000.000

Tahun 1

Tahun 2

Tahun 3

12.000.000

12.000.000

12.000.000

0,833

0,694

0,579

9.996.000

8.328.000

6.948.000

25.272.000
25.000.000
272.000

12

Nilai tunai penghematan selama umur ekonomis Rp 25.272.000 lebih


besar dibanding dgn investasinya Rp 25.000.000.
Kesimpulan: Memproduksi sendiri dibenarkan

Contoh 3:
Perusahaan ingin membuat suku cadang sesuai kebutu
han sebanyak 100.000 unit, harga yang ditawarkan oleh
pasar sebesar Rp 475/unit. Data biaya produksi Sbb:

Keterangan
Bahan baku
Tenaga kerja (v)
Biaya overhead pabrik (v)
Biaya tetap langsung:
Biaya supervisi
Biaya sewa ekuipmen
Biaya tetap tidak langsung

Tarif
50
200
80

Total Biaya
5.000.000
20.000.000
8.000.000

50
70
300

5.000.000
7.000.000
30.000.000

750

75.000.000

Total Biaya Produksi

INFORMASI AKUNTANSI UNTUK KEPUTUSAN

Keterangan
Bahan baku
Tenaga kerja (v)
Biaya overhead pabrik (v)
Biaya tetap langsung:
Biaya supervisi
Biaya sewa ekuipmen
Biaya Membeli
Biaya Differensial

Membuat
5.000.000
20.000.000
8.000.000

Membeli
-

5.000.000
7.000.000
-

47.500.000

45.000.000

47.500.000

Kesimpulan: Membeli tidak menguntungkan

13

3.

Menjual atau Memproses lebih lanjut


suatu Produk
Proses pengambilan keputusan terhadap alternatif menjual atau
memproses lebih lanjut suatu produk, dengan pertimbangan:
Ada pendapatan differensial dan biaya differensial
Memiliki kemampuan untuk memproses lebih lanjut
Ada peluang pasar yang lebih baik atas produk yg dibuat
Contoh 1:
Informasi biaya differensial produk A

Keterangan
Bahan baku
Tenaga kerja (v)
Biaya overhead pabrik (v)
Biaya overhead pabrik (T)
Biaya administrasi & umum (T)
Biaya pemasaran (T)
Total Biaya Penuh Produk A

Tarif
2.000
1.000
1.500
1.300
500
750

Total Biaya
20.000.000
10.000.000
15.000.000
13.000.000
5.000.000
7.500.000

7.050

70.500.000

Data tambahan saat ini:


Unit yang terjual 10.000, dgn harga Rp 10.000/unit
Total kos yang diperhitungkan Rp 70.500.000
Laba bersih yang diperhitungkan Rp 29.500.000
Diproses menjadi Produk A-1 tidak memerlukan investasi baru,
tambahan biaya Rp 5.000/umit dgn harga jual baru Rp 18.500
INFORMASI AKUNTANSI UNTUK KEPUTUSAN
Keterangan
Pendapatan Differensial
(Rp 18.500 Rp 10.000) x 10.000 unit

Jumlah
85.000.000
14

Biaya Differensial
(Rp 5.000 x 10.000 unit)

50.000.000

Laba Differensia ( dari produk A menjadi A-1

35.000.000

Kesimpulan: Memproses lebih lanjut lebih menguntungkan

Contoh 2 (lanjutan):
Untuk memproses lebih lanjut produk A menjadi A-1diperlukan
tambahan investasi Rp 100.000.000 & manfaat ekonomis tiga tahun
tingkat return on invesment 20%.
INFORMASI AKUNTANSI UNTUK KEPUTUSAN
Keterangan
Pendapatan Differensial
(Rp 18.500 Rp 10.000) x 10.000 unit
Biaya Differensial
(Rp 5.000 x 10.000 unit)

Jumlah
85.000.000

Laba Differensia ( dari produk A menjadi A-1

35.000.000

50.000.000

INFORMASI AKUNTANSI UNTUK KEPUTUSAN


Keterangan
Present Value Laba Differensial:
tahun 1 : 0,833 x Rp 35.000.000
tahun 2 : 0,694 x Rp 35.000.000
tahun 3 : 0,579 x Rp 35.000.000
Total nilai tunai laba differensial
Tambahan investasi
Nilai tunai bersih

Jumlah
29.155.000
24.290.000
20.265.000
73.710.000
100.000.000
26.290.000

15

Kesimpulan: Memproses lebih lanjut dgn tambahan investasi sebesar


Rp 100.000.000 tidak menguntungkan, lebih baik dijual
dalam keadaan saat ini.

4.

Menghentikan atau Melanjutkan Produk

Tertentu
Proses pengambilan keputusan terhadap alternatif menghentikan
atau melanjutkan produk atau kegiatan tertentu dapat terjadi, jika
perusahaan memiliki lini produk, memiliki divisi yang berpotensial
menyumbangkan kerugian, dgn pertimbangan:
Pendapatan differensial dan biaya differensial yang hilang
Manfaat biaya terhindar yg diperoleh
Jika lini produk hendak ditutup, maka harus dipertimbangkan berbagai
kemungkinan yang terjadi:
Kontribusi pendapatan yang dikorbankan
Manfaat biaya yang dapat dihindarkan
Biaya yang tidak dapat dihindarkan
Total manfaat yang diperoleh

Contoh 1:
PT. WIRAYUDA
Laporan Laba-rugi Per Lini Produk
Periode Triwulan I Tahun 2008
Keterangan

Produk A

Produk B

Produk C

Penjualan
Biaya Variabel

500.000.000 250.000.000 250.000.000


260.000.000 105.000.000 115.000.000

Laba Kontribusi

240.000.000 145.000.000 135.000.000


16

Biaya tetap terhindarkan


Biaya tetap tak terhindar
Total biaya tetap
Laba bersih

120.000.000 80.000.000 110.000.000


30.000.000 30.000.000 30.000.000
150.000.000 110.000.000 140.000.000
90.000.000

Total Laba bersih

- 5.000.000

35.000.000
120.000.000

INFORMASI AKUNTANSI UNTUK PRODUK C


Keterangan

Jumlah

Manfaat Biaya:
Biaya variabel
Biaya tetap yang terhindarkan
Total manfaat

115.000.000
110.000.000
225.000.000

Pengorbanan (pendapatan yg hilang)

250.000.000

Manfaat bersih

- 25.000.000

Kesimpulan: Produk C tidak perlu dihentikan, karena berpotensi


menambah kerugian.

Contoh 2 Alternatif:
PT. WIRAYUDA
Laporan Laba-rugi Per Lini Produk
Periode Triwulan I Tahun 2008
Keterangan
Penjualan
Biaya Variabel

Produk A

Produk B

Produk C

500.000.000 250.000.000 250.000.000


260.000.000 105.000.000 115.000.000

17

Laba Kontribusi

240.000.000 145.000.000 135.000.000

Biaya tetap terhindarkan 120.000.000 80.000.000 110.000.000


Biaya tetap tak terhindar* 41.538.000 25.096.000 23.366.000
Total biaya tetap
161.538.000 105.096.000 133.366.000
Laba bersih

78.462.000
Total Laba bersih

39.904.000

1.634.000

120.000.000

* Biaya tetap tak terhindar dibebankan atas dasar perbandingan


laba kontribusi

5.

Menerima atau Menolak Pesanan Khusus


Proses pengambilan keputusan terhadap alternatif menerima atau
menolak pesanan khusus, atas dasar pertimbangan:

Adanya kapasitas nganggur


Tidak merusak harga pasar
Penggunaan pesanan dapat diawasi
Berfokus pada kegiatan sosial dan keagamaan
Contoh 1:
PT. Wirayuda memiliki kapasitas produksi sebesar 200.000 unit, kapa
sitas yang telah dimanfaat sebesar 150.000 unit (75%), dgn harga jual
Rp 1.250/unit

Anggaran tahun 2008 untuk 150.000 unit Sbb:


Keterangan
Biaya Variabel:
Biaya produksi (v)
Biaya komersial (v)

Tarif
400
120

Total Biaya
60.000.000
18.000.000

Biaya Tetap:
18

Biaya overhead (T)


Biaya komersial (T)
Total Biaya Penuh Produk A

300
150

45.000.000
22.500.000

970

145.500.000

*) Terdapat pesanan khusus sebanyak 30.000 unit dengan harga


pesanan Rp 750 per unit

INFORMASI AKUNTANSI UNTUK KEPUTUSAN


Keterangan
Pendapatan Differensial:
30.000 unit x Rp 750
Biaya Differensial:
Biaya produksi (v)
Biaya komersial (v)

Jumlah
22.500.000
12.000.000
3.600.000
15.600.000

Laba Differensial

6.900.000

Kesimpulan: Pesanan khusus diterima, karena memberi kontribusi


margin sebesar Rp 6.900.000 (tambahan laba)

PERENCANAAN
LABA
Faktor yang Mempengaruhi Laba:
19

1. Biaya (biaya variabel & biaya tetap)


2. Volume produk yang terjual
3. Harga jual produk

PT. WIRAYUDA
Laporan Laba-Rugi (Proyeksi)
Tahun Anggaran 2008
Keterangan

Jumlah

Penjualan
Biaya Variabel
Laba Kontribusi

500.000.000
300.000.000
200.000.000

100
60
40

Biaya tetap

150.000.000

30

Laba bersih

50.000.000

10

Informasi yang dapat Dikembangkan:

1. Impas (break-even)
2. Margin of safety
3. Shut-down point
4. Degree of operating leverage
5. Laba kontribusi per unit

1. Impas (break-even)
Pendapatan minimum yg harus dicapai dalam periode thn
anggaran tertentu, agar perusahaan tidak menderita rugi.
20

Impas sebesar Rp 375.000 (Rp 150.000.000 : 40%)


PT. WIRAYUDA
Laporan Break-even
Tahun Anggaran 2008
Keterangan

Jumlah

Penjualan
Biaya Variabel
Laba Kontribusi

375.000.000
225.000.000
150.000.000

100
60
40

Biaya tetap

150.000.000

40

Laba bersih

2. Margin of Safety
Informasi yg menggambarkan batas maksimum penurunan
target penjualan boleh terjadi, semakin besar margin of
safety memberi peluang lebih besar dlm meraih laba.
Margin of safety sebesar 25% (500.000.000 375.000.000)
3. Shut-down Point
Informasi yang menggambarkan usaha perusahaan secara
ekonomis tidak pantas dipertahankan, karena beban tunai
yang tidak dapat ditutup dari kegiatan operasinya. Biaya
tetap tunai sebesar Rp 100.000.000
Shut-down point Rp 250.000.000 (100.000.000 : 40%)

PT. WIRAYUDA
Laporan Shut-down Point
21

Tahun Anggaran 2008


Keterangan

Jumlah

Penjualan
Biaya Variabel
Laba Kontribusi

250.000.000
150.000.000
100.000.000

100
60
40

Biaya tetap tunai

100.000.000

40

Laba bersih

4. Degree of Operating Leverage


Informasi ini menunjukkan prosentase perubahan laba
bersih sebagai dampak terjadinya prosentase perubahan
penjualan.
Degree of operating leverage: 4 kali (CM : Laba bersih), arti
nya setiap kenaikan penjualan sebesar 1%, maka laba
bersih akan naik sebesar 4%
5. Laba Kontribusi Per Unit
Informasi ini menunjukkan kelebihan pendapatan diatas
biaya variabelnya. Informasi ini menggambarkan jumlah yg
tersedia untuk menutup biaya tetap dan membentuk laba.
Perubahan:

P,V

Perubahan:
Pendapatan

Usulan
Kegiatan

Perubahan:

Laba
Perubahan:

Perubahan:

BV, BT

Biaya

22

PT. WIRAYUDA
Laporan Laba Per Unit
Tahun Anggaran 2008
Keterangan

Volume Penjualan

Total

500

300

200

1.000

700.000
300.000
400.000

800.000
500.000
300.000

1.000.000
600.000
400.000

2.500.000
1.400.000
1.100.000

Biaya tetap

800.000

Laba bersih

300.000

1.000

2.000

Penjualan
Biaya variabel
Laba kontribusi

Laba kontribusi/unit

800

1.100

Kesimpulan : Produk C yang berpotensi paling tinggi dalam


menyumbang laba

PT. WIRAYUDA
Laporan Laba Per Unit Sumber Daya
Tahun Anggaran 2008
Jenis
Produk
A
B
C

Konsumsi
Sb. Daya
5 jam
10 jam
25 jam

CM
Per unit
800
1.000
2.000

CM Per
Jam Mesin
160
100
80

Pering
kat
1
2
3

23

Kesimpulan : Produk A yang berpotensi paling tinggi


dalam menyumbang laba

Perhitungan Break-even Pendekatan Persamaan


Laba adalah sama dengan total penjualan minus dgn total
biaya (biaya variabel dan biaya tetap), jika dinyatakan dlm
persamaan sebagai berikut:

y = cx - bx a
Keteranga:
y
: laba
a
: biaya tetap
b
: biaya veriaber per unit
c
: harga jual per unit
x
: jumlah unit yang terjual
Jika dikembangkan persamaan tersebut diatas, dapat digu
nakan untuk menyerdehanakan perhitungan break-even
sebagai berikut:
y = cx - bx a, break-even laba yang di
peroleh sebesar 0, maka persamaan dapat
diubah:

a = cx bx
a = x (c - b)

a
x=

(c - b)

24

Contribution margin = Penjualan - Biaya variabel


= cx - bx

CMR =

Laba kontribusi
Penjualan

cx - bx
cx

= 1 (bx/cx)

CMR

Formula Break-even

1. Dalam Unit

Biaya tetap
Break-even =

Harga jual Biaya variabel


25

2. Dalam Rupiah

Fixed cost
Break-even =

Contribution margin ratio

PT. WIRAYUDA
Laporan Laba-Rugi (Proyeksi)
Tahun Anggaran 2008
Keterangan
Penjualan
Biaya variabel:
Sediaan awal
Biaya produksi (v)
Brg siap dijual
Sedian akhir
Biaya produksi (v)
Non produksi (v)
Biaya pemasaran
Biaya adm/umum
Total biaya variabel
Laba kontribusi

Unit

Tarif

Rupiah

Total

1.000

172.000

172.000.000

100

100
1.100
1.200
200
1.000

25.000
25.000
25.000
25.000
25.000

2.500.000
27.500.000
30.000.000
5.000.000
25.000.000

1.000
1.000
-

8.000
10.000
-

8.000.000
10.000.000
-

43.000.000

25

129.000.000

75

Biaya tetap:
26

Overhead pabrik
Biaya pemasaran
Biaya adm/umum
Total biaya tetap

37.400.000
15.000.000
25.000.000
-

77.400.000

45

Laba bersih

51.600.000

30

Biaya variabel standar per unit:


Bahan baku
Rp 10.000
Tenaga kerja
Rp 7.000
Biaya overhead
Rp 8.000
Total biaya variabel
Rp 25.000
Biaya tetap:
Bahan overhead
Biaya pemasaran
Biaya adm/umum
Total biaya variabel

Rp
Rp
Rp
Rp

37.400.000
15.000.000
25.000.000
77.400.000

Biaya tetap:
Sediaan awal
Produksi
Penjualan
Sediaan akhir

: 100 unit
: 1.100 unit
: 1.000 unit
: 200 unit

Harga jual/unit

Rp 172.000

77.400.000
Break-even =

= 600 unit
172.000 43.000

Jika laba diinginkan sebesar Rp 90.000.000, maka


penjualan yang harus dicapai
77.400.000 + 90.000.000
Sales =

= 1.297 unit
172.000 43.000

Atau:
77.400.000 + 90.000.000
Sales =

= Rp 223.200.000
1 - 0,25

Pendapatan/biaya
27

180

Garis Penjualan
Break-even
Total biaya

100
80

Grs tetap

600

1.000

Volume Penjualan

Pendapatan/biaya
180

Garis Penjualan
Break-even
Total biaya
Profit area

100
BT

Loss area
BV

28

600

1.000

Volume Penjualan

Grafik Impas & Struktur Biaya


Pendapatan/biaya
Titik Impas

volume

Struktur Biaya, Sebagian Besar Biaya Tetap

Pendapatan/biaya

Titik Impas

29

volume

Struktur Biaya, Sebagian Besar Biaya Variabel

Perusahaan yang beroperasi dgn struktur biaya sebagian


besar berupa biaya tetap, break even berada pada tingkat
yg tinggi seperti: hotel, jasa telekomunikasi, jasa hiburan,
strategi yg dapat dikembangkan adalah memaksimumkan
pendapatan.
Perusahaan yang beroperasi dgn struktur biaya sebagian
besar berupa biaya variabel, break even terjadi pada
tingkat yang rendah seperti: perusahaan manufaktur pada
umumnya, strategi yang dikembangkan adalah efesiensi
biaya atau penurunan biaya.
Lingkungan Manufaktur Maju
Biaya produksi dalam lingkungan manufaktur maju ditandai
oleh berkurangnya unsur tenaga kerja langsung dan semakin
bertambah besar proporsi biaya overhead pabrik.
Diversifikasi produk menyebabkan proporsi biaya overhead
yang tdk berkaitan dgn unit produk semakin besar, dengan
konsumsi sumberdaya yg semakin berbeda beda.

Facility-sustaining
activity costs
30

Product-sustaining
activity costs

Non-unit realated
costs

Batch-related
activity costs

Unit-Level
activity costs

Unit Related
costs

Unsur Unit-related & Non-unit-related Cost


Dalam Kos Produk

Konsep Biaya Variabel Dalam Perhitungan Impas


Pendekatan konvensional biaya variabel didasarkan pada
perilaku biaya dalam hubungannya dgn perubahan unit
level-activities saja.
Pendekatan Activity based costing biaya variabel tdk hanya
dihubungkan dgn unit-level-activities saja, tetapi juga hrs
mengacu pada batct-related-activities, product-sustaining
activities & facility-sustaining activities.

k = a + b1x1 + b2x2 + b3x3


Total Biaya Berdasarkan
Activity-Based Costing
31

Keterangan:
k
: total biaya
a
: facility sustaining activity costs
b1
: biaya variabel per satuan unit-level activity
b2
: biaya variabel per satuan batch-level activity
b3
: biaya variabel per satuan product-sustaining activity
x1
: unit-level activity
x2
: batch-level activity
x3
: product-sustaining activity

y = cx1 - a - b1x1 - b2x2 - b3x3


Persamaan Laba Berdasarkan
Activity-Based Costing

a + b2x2 + b3x3
x =
c - b1
Rumus Impas Berdasarkan
Activity-Based Costing
32

x
c
a
b1
b2
b3
x1
x2
x3

:
:
:
:
:
:
:
:
:

volume penjualan pada kondisi impas


harga jual produk
facility sustaining activity costs
biaya variabel per satuan unit-level activity
biaya variabel per satuan batch-level activity
biaya variabel per satuan product-sustaining activity
unit-level activity
batch-level activity
product-sustaining activity

Struktur Biaya Produksi:


Biaya variabel
Harga jual produk
Biaya tetap per tahun

Rp 12.000/unit
Rp 20.000/unit
Rp 100.000.000

Pendekatan100.000.000
Activity Based Costing
Impas =
Unit-level activity cost: 20.000 12.000
= 12.500 unit ( Rp 250.000.000)
Biaya bahan baku
Rp 6.000
Biaya tenaga kerja langsung
Rp 5.000
Biaya overhead pabrik (v)
Rp
500
Biaya Pemasaran (v)
Rp
500
Total biaya per unit
Rp 12.000
Batch-related act cost : 20 jam setup
Product-sustaining ac : 1.000 jam rekayasa
Facility-sustaining ac :
Biaya tetap yang diperhitungkan:
Batch-related activity cost
Product-sustaining activity cost
Facility-sustaining activity cost
Total biaya tetap

Rp 1.000.000
Rp
30.000
Rp 50.000.000

Rp 20.000.000
Rp 30.000.000
Rp 50.000.000
Rp 100.000.000

100.000.000
Impas =
20.000 12.000
= 12.500 unit ( Rp 250.000.000)

33

Jika dilakukan perekayasaan:


Biaya tenaga kerja langsung per unit turun
Rp
2.000
Biaya batch-related activity cost (setup) naik
Rp 600.000
Aktivitas rekayasa (product-sustaining activities) naik 50%
1. Impas Konvensional
100.000.000
Impas =
20.000 10.000
= 10.000 unit ( Rp 200.000.000)
2. Impas Activity Based Costing
127.000.000
Impas =
20.000 10.000
= 12.700 unit ( Rp 254.000.000)

34

PERHITUNGAN LABA-RUGI PER UNIT


(dalam ribuan Rupiah)

Keterangan

1.000

Biaya variabel/unit
Biaya tetap/unit

800

600

400

200

43,00
77,40

43,00
96,75

43,00
129.00

43,00
193,50

43,00
387,00

Total biaya/unit

120,40

139,75

172,00

236,50

430,00

Harga jual/unit

172,00

172,00

172,00

172,00

172,00

51,6

32,25

Laba (rugi) per unit

450

- 64,50 - 258,00

A
Total biaya per unit

35

Loss area

B
.

Profit area
D

Break even

Harga Jual

200

400

600

800

1.000

Shut-Down Point
Struktur Biaya Tetap:
Biaya tetap (total)
Biaya tetap (sunk cost)
Biaya tetap (tunai)

Rp 77.400.000
Rp 12.900.000
Rp 64.500.000

64.500.000
Shut-Down Point =
172.000 43.000
= 500 unit ( Rp 86.000.000)

Shut-Down Point lebih rendah dari titik impas

36

180
172

Break-even
43

D
77,4

64,5

C
Shut-Down Point

200

400

500

600

800

1.000

Break-even & Shut-Down Point

Perencanaan Laba & Pajak Penghasilan


Dalam perencanaan laba harus diperhitungkan komponen
Pajak Penghasilan, karena pajak penghasilan akan mengu
rangi besarnya laba yang dapat dinikmati oleh perusahaan
Tarif Pajak Penghasilan:
Tarif Tunggal (berlaku untuk semua tingkat laba)
Tarif proporsional (berlaku secara berjenjang)
Di Indonesia pajak penghasilan dikenakan berdasarkan
tarif proporsional yaitu:
Lapisan Penghasilan

Tarif
37

1
2
3

1 - 50.000.000
50.000.001 100.000.000
Diatas - 100.000.000

10 %
15 %
30 %

Perusahaan memiliki data yang terkait dgn perencanaan


laba tahun mendatang sbb:
Biaya tetap
Rp 77.400.000
Biaya variabel
Rp 43.000.000
Harga jual produk
Rp 172.000/unit
Laba (EAT) yang diharapkan Rp 70.000.000
Tarif pajak tunggal sebesar
30%
Fixed costs +(EAT/1-tax)
Sales =
CMR
77.400.000 + (70.000.000/0,7)
Sales =
0,75
= Rp 236.533.333 (1.375,2 unit)

Keterangan
Penjualan
Biaya variabel (25%)
Contribution margin

Jumlah
236.533.333
59.133.333
177.400.000

Biaya tetap
Laba sebelum pajak
Pajak Penghasilan (30%)
Laba setelah pajak

77.400.000
100.000.000
30.000.000
70.000.000

38

Laba setelah pajak (EAT) harus dilakukan penyesuaian dgn


mempertimbangkan unsur pajak penghasilan, dengan cara
membagi EAT dengan (1-Tax) sehingga ditemukan besarnya
laba sebelum pajak.
Rumus diatas hanya dilakukan penyesuaian, agar kembali
pada format laba sebelum pajak

Perusahaan memiliki data yang terkait dgn perencanaan


laba tahun mendatang sbb:
Biaya tetap
Rp 77.400.000
Biaya variabel
Rp 43.000.000
Harga jual produk
Rp 172.000/unit
Laba (EAT) yang diharapkan Rp 36.000.000
Tarif pajak menggunakan tarif proporsional
Fixed costs +(EAT/1-tax)
Sales =
CMR
77.400.000 + (36.000.000/0,9)
Sales =
0,75
= Rp 156.533.333 (910,1 unit)
Keterangan
Penjualan
Biaya variabel (25%)
Contribution margin
Biaya tetap
Laba sebelum pajak
Pajak Penghasilan (10%)
Laba setelah pajak

Jumlah
156.533.333
39.133.333
117.400.000
77.400.000
40.000.000
4.000.000
36.000.000

Laba setelah pajak (EAT) harus dilakukan penyesuaian dgn


tarif pajak lapis pertama yaitu sebesar 10%, karena lapis
pertama menggunakan batas maksimum Rp 50.000.000

39

EBT
50.000.000
50.000.000
60.000.000

tarif
10%
15%
30%

tax

EAT

5.000.000
7.500.000
18.000.000

Cum EAT

45.000.000
42.500.000
32.000.000

45.000.000
87.500.000
119.500.000

Perusahaan memiliki data yang terkait dgn perencanaan


laba tahun mendatang sbb:
Biaya tetap
Rp 77.400.000
Biaya variabel
Rp 43.000.000
Harga jual produk
Rp 172.000/unit
Laba (EAT) yang diharapkan Rp 79.000.000
Tarif pajak menggunakan tarif proporsional

Fixed costs +(EAT/1-tax)


Sales =
CMR
77.400.000 + (90.000.000)
Sales =
0,75
= Rp 223.200.000 (1.297,7 unit)
Keterangan
Penjualan
Biaya variabel (25%)
Contribution margin
Biaya tetap
Laba sebelum pajak
Pajak Penghasilan:
50.000.000 x 10% : 5.000.000
40.000.000 x 15% : 6.000.000

Jumlah
223.200.000
55.800.000
167.400.000
77.400.000
90.000.000
11.000.000
40

Laba setelah pajak

79.000.000

Laba setelah pajak (EAT) harus dilakukan penyesuaian dgn


tarif pajak lapis pertama yaitu sebesar (45.000.000/0,9), tarif
pajak lapis kedua yaitu sebesar (36.000.000/0,85).
Jadi laba setelah pajak sebesar Rp 79.000.000 equivalen dgn
laba sebelum pajak sebesar Rp 90.000.000

Perusahaan memiliki data yang terkait dgn perencanaan


laba tahun mendatang sbb:
Biaya tetap
Rp 77.400.000
Biaya variabel
Rp 43.000.000
Harga jual produk
Rp 172.000/unit
Laba (EAT) yang diharapkan Rp 143.500.000
Tarif pajak menggunakan tarif proporsional
Fixed costs +(EAT/1-tax)
Sales =
CMR
77.400.000 + (180.000.000)
Sales =
0,75
= Rp 343.200.000 (1.995,4 unit)
Keterangan
Penjualan
Biaya variabel (25%)
Contribution margin
Biaya tetap
Laba sebelum pajak
Pajak Penghasilan:
50.000.000 x 10% : 5.000.000
50.000.000 x 15% : 7.500.000
80.000.000 x 30% : 24.000.000

Jumlah
343.200.000
85.800.000
257.400.000
77.400.000
180.000.000

36.500.000
41

Laba setelah pajak

143.500.000

Laba setelah pajak (EAT) harus dilakukan penyesuaian dgn


tarif pajak lapis pertama yaitu sebesar (45.000.000/0,9), tarif
pajak lapis kedua yaitu sebesar (42.500.000/0,85), tarif pajak
lapis ketiga yaitu sebesar (56.000.000/0,7)
Jadi laba setelah pajak sebesar Rp 143.500.000 equivalen dgn
laba sebelum pajak sebesar Rp 180.000.000

Analisa Sensitivitas
Analisa yang dilakukan terhadap faktor yang mempenga
ruhi terhadap perencanaan laba yang meliputi:
1. Harga jual
2. Volume penjualan
3. Komposisi produk yang dijual
4. Biaya variabel per unit
5. Total biaya tetap
A. Harga jual naik 25%,volume penjualan turun 30%
B. Harga jual turun 10% dan volume penjualan naik 30%
Keterangan
Penjualan
Biaya variabel
Contribution margin
Biaya tetap
Laba bersih
Impas (rupiah)
Impas (unit)

Awal

172.000.000 150.500.000 201.240.000


43.000.000 30.100.000 55.900.000
129.000.000 120.400.000 145.340.000
77.400.000 77.400.000 77.400.000
51.600.000 43.000.000 67.940.000
103.200.000 96.750.000 107.276.400
600 unit
450 unit
693 unit
A

70

42

0
50

100

150

200

70

Komposisi Produk
Keterangan

Harga jual
Biaya variabel per unit
Laba kontribusi per unit

Rp 25
Rp 15
Rp 10

Rp 30
Rp 12
Rp 18

Rp 50
Rp 15
Rp 35

Total biaya Tetap

Keterangan
Komposisi:
Produk A
Produk B
Produk C
Penjualan
Biaya Variabel
Laba kontribusi
Biaya tetap
Laba bersih
Impas

Rp 500.000

II

III

20.000
10.000
5.000

10.000
15.000
10.000

5.000
7.000
15.000

1.050.000
495.000
555.000
500.000
55.000
945.946

1.200.000
480.000
720.000
500.000
220.000
833.333

1.085.000
384.000
701.000
500.000
201.000
773.895

KOMPOSISI I

Produk

Penjualan

Variabel

CM

BVR

CMR
43

A
B
C

500.000
300.000
300.000
120.000
250.000
75.000
1.050.000
495.000
Total biaya tetap
Laba bersih

200.000
180.000
175.000
555.000
500.000
55.000

60%
40%
30%
47%

40%
60%
70%
53%

Impas = (500.000/0,53) = Rp 945.946

KOMPOSISI II

Produk

Penjualan Variabel

CM

A
B
C

250.000 150.000
450.000 180.000
500.000 150.000
1.200.000 480.000
Total biaya tetap
Laba bersih

100.000
270.000
350.000
720.000
500.000
220.000

BVR CMR
60%
40%
30%
40%

40%
60%
70%
60%

Impas = (500.000/0,6) = Rp 833.333

KOMPOSISI III

Produk

Penjualan Variabel

CM

A
B
C

125.000
75.000
210.000
84.000
750.000 225.000
1.085.000 384.000
Total biaya tetap
Laba bersih

50.000
126.000
525.000
701.000
500.000
201.000

BVR CMR
60%
40%
30%
36%

40%
60%
70%
64%

Impas = (500.000/0,64) = Rp 773.895


44

Kesimpulan:
Komposisi produk mempengaruhi total laba dan titik impas
Produk yg memiliki CMR tertinggi, berpotensi untuk menutup
biaya tetap yang lebih baik, dibanding produk yang memiliki
CMR lebih rendah
Semakin banyak produk terjual dengan CMR tertinggi, tentu
menjadikan perusahaan pada posisi yang lebih aman, karena
titik impas tercapai pada penjualan yang lebih rendah

PENENTUAN HARGA
TRANSFER

LATAR BELAKANG HARGA TRANSFER


Masalah penentuan harga transfer akan dijumpai jika suatu
organisasi perusahaan disusun menurut pusat laba dan antar
pusat laba terjadi transfer barang atau jasa.
Munculnya masalah harga transfer dapat dihubungkan dgn
proses diferensiasi, diversifikasi bisnis serta integrasi dalam
organisasi yg telah melakukan proses tersebut.

DIVISI BENGKEL

DIVISI PEMASARAN

PENGHASIL JASA

PENERIMA JASA

BIAYA

BEBAN
45

HARGA
TRANSFER
Jika pihak yg satu menghasilkan jasa dan pihak lain menerima jasa,
maka biaya yang terjadi harus dialihkan menjadi beban pihak yang
menikmati jasa, proses ini disebut HARGA TRANSFER.

PROSES HARGA TRANSFER

1. DEFERENSIASI
Adalah proses membedakan dan membagi tugas pekerjaan
menurut bidangnya untuk menjadikan efektif & efisien dlm
mencapai sasaran organisasi. Diferensiasi vertikal ditandai
dgn jumlah jenjang yg berada diantara direksi dan karyawan
operasional, sedangkan diferensiasi harisontal ditandai oleh
banyaknya bagian yg dibentuk dlm organisasi.
2. DIVERSIFIKASI
Adalah upaya melakukan aneka ragam bisnis yang jenis
usahanya berbeda antara satu dgn yang lain, baik yg berdiri
sendiri atau yang masih saling terkait. Adapun pertimbangan
diversifikasi adalah:
Semakin konfliknya masalah yang harus ditangani oleh
pihak yang menguasai bidangnya, sehingga perlu mendele
gasikan wewenang kepada pihak pengambil keputusan yg
lebih berkompeten
Memberi otonomi pada manajer tingkat bawah
Diversifikasi dilakukan melalui proses divisionalisasi
(pembentukan divisi divisi sbg pusat laba)

3. INTEGRASI

46

Adalah proses melakukan koordinasi atau penyatuan bisnis


melalui mekanisme agar aktivitas bisnisnya dapat dikontrol
secara efektif & efisien. Adapun mekanisme integrasi adalah:
Peraturan, standarisasi, sistem & prosedur
Hirarkhi organisasi
Perencanaan
Kontak langsung
Pembentukan komite khusus
Organisasi matrik
Diversifikasi menuntut adanya kemandiri divisi pusat laba,
agar dapat menghasilkan kinerja yang tinggi.
4. DESENTRALISASI & SENTRALISASI
Adalah pendelegasian kebebasan utk mengambil keputusan
yg lebih berperan pada manajer tingkat bawahan, sebaliknya
organisasi yang memberi peran lebih besar kepada manajer
puncak dalam mengambil keputusan disebut sentralisasi.

SENTRALISASI

WEWENANG PENGAMBILAN
KEPUTUSAN TERPUSAT PADA
MANAJER PUNCAK

MODEL WEWENANG DLM


PENGAMBILAN KEPUTUSAN

DESENTRALISAS

WEWENANG PENGAMBILAN
KEPUTUSAN
DIDELEGASIKAN PADA

47

TIGA BENTUK DESENTRALISASI


1. Desentralisasi berdasar fungsi (functional decentralization)
2. Desentralisasi berdasar daerah (geographical decentralization)
3. Desentralisasi berdasar laba (frofit decentralization)
DIREKSI

DEPART
PRODUKSI

DEPART
PEMASARAN

DEPART
KEUANGAN

DESENTRALISASI BERDASAR FUNGSI

DIREKSI

DIVISI
PRODUKSI

DIVISI
PEMASARAN

DIVISI
KEUANGAN

DAERAH
JABAR

DAERAH
JATEG

DAERAH
JATIM

DESENTRALISASI BERDASAR DAERAH PEMASARAN

DIREKSI

DIVISI
OTOMOTIF

DIVISI
PERBANKAN
48

BAGIAN
PRODUKSI

BAGIAN
PEMASARAN

BAGIAN
KEUANGAN

BAGIAN
PEMASARAN

BAGIAN
KEUANGAN

DESENTRALISASI BERDASAR PUSAT LABA

MANFAAT DESENTRALISASI
1. Manajer tingkat bawah lebih memahami bidanygnya
2. Memberi kesempatan manajer tingkat bawah untuk mempersiapkan
diri pada jabatan yang lebih tinggi
3. Memberi kebebasan manajer tingkat bawah dalam pengambilan kepu
tusan, sehingga dapat menjadi sarana motivasi baginya

KELEMAHAN DESENTRALISASI
1. Menjadi lebih ego pada divisi yang menjadi tanggungjawabnya
2. Para manajer cenderung ingin memiliki unit organisasi sendiri, dalam
rangka mengembangkan lebih baik bagi divisinya
3. Biaya yang digunakan untuk memperoleh & mengumpulkan informasi
menjadi lebih mahal

KONSEP HARGA TRANSFER


Dalam arti luas harga transfer meliputi harga produk atau
jasa yang ditransfer antar pusat pertanggungjawaban dalam
perusahaan. Harga transfer meliputi semua bentuk alokasi
biaya dari departemen pembantu & departemen produksi &
harga jual produk atau jasa yang ditransfer antar pusat laba
KARAKTERISTIK HARGA TRANSFER
Keputusan yang harus dibuat oleh antar Pusat Laba:
1. Keputusan pemilihan sumber, penentuan dimana produk
harus diproduksi (diproduksi sendiri atau dipasok)
2. Keputusan penentuan harga transfer, berapa nilai harga
transfer yg harus dibebankan dari divisi penjual ke divisi
pembeli (transfer pricing decision)
49

Karakteristik Harga Transfer:


1. Divisi yg terkait diukur kinerjanya berdasarkan pusat laba
yang diperolehnya & harga transfer merupakan unsur yg
signifikan dalam membentuk biaya penuh produk yang
diproduksi oleh divisi pembeli.
2. Harga transfer selalu mengandung unsur laba didalamnya
3. Harga transfer merupakan alat untuk mempertegas diver
sifikasi & sekaligus mengintegrasikan divisi yg dibentuk
Perundingan antara Divisi Penjual & Pembeli:
1. Dasar yang digunakan sebagai landasan penentuan harga
transfer
2. Laba yang diperhitungkan dalam harga transfer

DASAR
PENENTUAN

BERDASARKAN
BIAYA

BERDASARKAN
HARGA PASAR

BIAYA PENUH

BIAYA PENUH

STANDAR

ACTUAL

FULL
COSTING

VARIABLE
COSTING

ABC
COSTING

FULL
COSTING

VARIABLE
COSTING

ABC
COSTING

DASAR PENENTUAN HARGA TRANSFER

50

LABA YANG DIGUNAKAN SEBAGAI DASAR HARGA


TRANSFER:
1. Prosentase tertentu dari biaya penuh
2. Aktiva penuh yg digunakan untuk memproduksi produk
Jenis aktiva yg diperhitungkan sebagai dasar
Cara penilaian aktiva yang digunakan sebagai dasar
Cara penilaian aktiva tetap
Cara penilaian aktiva lancar
Nilai bersih aktiva lancar yg dapat direalisasi awal
tahun
Nilai bersih aktiva lancar yg dapat direalisasi rata
rata dalam tahun berlakunya harga transfer
PENENTUAN LABA SEBAGAI DASAR
HARGA TRASFER

Jika biaya diperguanakan sebagai dasar penentuan harga


transfer, manajemen harus mempertimbangkan:
1. Mendorong divisi penjual untuk melakukan perbaikan dan
produktivitasnya
2. Memisahkan tanggung jawab masing masing divisi terkait
3. Diperlukan atauran yang baik & bersifat adil
PT. Pratama memiliki dua divisi yaitu divisi A & Divisi B
dimana produk divisi A sebanyak 10% dijual dipasar bebas,
sedangkan sisanya 90% digunakan oleh divisi B.
Anggaran biaya divisi A pada kapasitas normal 1.000 unit:
Biaya produksi
Biaya administrasi & umu
Biaya pemasaran
Total biaya penuh divisi A

200.000.000
50.000.000
20.000.000
270.000.000

51

Total aktiva awal tahun diperkirakan


Rate of return on invesment

1.000.000.000
20%

HARGA TRANSFER = BIAYA PENUH + LABA

y% x Aktiva penuh

BIAYA PRODUKSI:
Bahan baku
Biaya tenaga kerja
Biaya overhead pabrik
BIAYA NON PRODUKSI:
Biaya adm & umum
Biaya pemasaran

AKTIVA PENUH:
Aktiva tetap
Aktiva lancar

PERHITUNGAN MARKUP:

Biaya administrasi & umum


Biaya pemasaran
Laba (20% x Rp 1.000.000.000)
Total
BIAYA PRODUKSI
PROSENTASE MARKUP (270/200) juta

50.000.000
20.000.000
200.000.000
270.000.000
200.000.000
135 %

PERHITUNGAN HARGA TRANSFER:

Biaya produksi
Markup: (135% x Rp 200.000.000)
Total harga transfer
Unit yang diproduksi
Harga transfer per unit

200.000.000
270.000.000
470.000.000
1.000 unit
Rp 4.700

52

HARGA TRANSFER = BIAYA PENUH + LABA

BIAYA VARIABEL:
Bahan baku
Biaya tenaga kerja
Biaya overhead pabrik
Biaya adm & umum
Biaya pemasaran
BIAYA TETAP:
Biaya overhead pabrik
Biaya adm & umum
Biaya pemasaran

y% x Aktiva penuh

AKTIVA PENUH:
Aktiva tetap
Aktiva lancar

PENENTUAN HARGA TRASFER ATAS DASAR BIAYA DGN


PENDEKATAN VARIABLE COSTING

Informasi sama dengan PT.Pratama:


BIAYA VARIABEL:
Biaya produksi
Biaya administrasi & umu
Biaya pemasaran
Total biaya variabel
BIAYA TETAP:
Biaya overhead
Biaya adm & umum
Biaya pemasaran
Total biaya tetap
Total biaya penuh

150.000.000
10.000.000
5.000.000
165.000.000
50.000.000
40.000.000
15.000.000
95.000.000
270.000.000

53

Total aktiva awal tahun diperkirakan


Rate of return on invesment

1.000.000.000
20%

PERHITUNGAN MARKUP:

Biaya tetap
Laba (20% x Rp 1.000.000.000)
Total
BIAYA VARIABEL
PROSENTASE MARKUP (295/165) juta

95.000.000
200.000.000
295.000.000
165.000.000
178,79 %

PERHITUNGAN HARGA TRANSFER:

Biaya variabel
Markup: (178,79% x Rp 165.000.000)
Total harga transfer
Unit yang diproduksi
Harga transfer per unit

165.000.000
295.000.000
470.000.000
1.000 unit
Rp 4.700

Jika realisasi produksi sesuai dgn perencanaan, maka pendekatan full


costing & pendekatan variable costing akan terjadi harga transfer yg
sama besar.

HARGA TRANSFER = BIAYA PENUH + LABA

y% x Aktiva penuh
Unit level activity costs
Batchrelated activity costs
Product sustaining activity costs
Facility sustaining activity costs

AKTIVA PENUH:
Aktiva tetap
Aktiva lancar
54

PENENTUAN HARGA TRASFER ATAS DASAR BIAYA DGN


PENDEKATAN ACTIVITY BASED COSTING

Keterangan
Unit level activity costs
Biaya standar per unit
Batchrelated activity costs
Biaya standar per unit
Product sustaining activity costs
Biaya per unit
Facility sustaining activity costs
Biaya per tahun

Spare part-A

Spare part-B

1.500

2.000

200.000

150.000

500

300

200.000.000

400.000.000

Divisi X menghasilkan spare part-A sebanyak 1.000.000 unit dan


spare B sebanyak 2.000.000. Pada bulan Jan 2007 direncanakan
ada permintaan spare part dari Divisi Y sebanyak 100.000 unit
unit yang di proses dalam dua production run (batch). Total aktiva
Divisi X awal tahun Rp 1.000.000.000 & rate of return on
invesment ditetapkan 22%.
Bagaimana menentukan besarnya harga transfer..?

PERHITUNGAN MARKUP:

Laba (22% x Rp 1.000.000.000)


Unit Level Activity Cost:
Sparepart A (1.000.000 x Rp 1.500)
Sparepart B (2.000.000 x Rp 2.000)
Total
PROSENTASE MARKUP (220/5.500) juta

220.000.000
1.500.000.000
4.000.000.000
5.500.000.000
4,00 %

55

PERHITUNGAN HARGA TRANSFER:

Unit level activity costs


100.000 unit x Rp 1.500
Batchrelated activity costs
2 batch x Rp 200.000
Product sustaining activity costs
100.000 unit x Rp 500
Facility sustaining activity costs
100.000 unit x Rp 200 *)
Biaya penuh sparepart A
Markup (4% x Rp 150.000.000)
Harga transfer sparepart A 100.000 unit

150.000.000
400.000
50.000.000
20.000.000
220.400.000
6.000.000
226.400.000

Catatan: *)
Facility sustaining activity cost Spare part Aper tahun:
Rp 200.000.000. Unit sparepart A sebanyak 1.000.000 unit
Tarif per unit = (Rp 200.000.000/1.000.000 unit)= Rp 200/unit

KELEMAHAN HARGA TRASFER ATAS DASAR BIAYA


1. Harus dicapai kesepakatan lebih dahulu antara divisi penjual
dan divisi pembeli mengenai jenis biaya yang dipergunakan
sebagai dasar harga transfer
2. Sangat sulit untuk menentukan tingkat return on invesment
yang wajar bagi divisi penjual khususnya jika produk divisi
penjual sebagian besar dijual keluar

56

3. Divisi penjual telah dijamin memperoleh return on invesment


sesuai yang telah disepakati berdua, padahal justru ini yang
dipergunakan sebagai tolok ukur pengukuran kinerja.

HARGA TRANSFER ATAS DASAR HARGA PASAR


Harga transfer atas dasar harga pasar seringkali terdapat
komponen biaya yg dapat dikompensasikan, sehingga harga
transfer atas dasar harga pasar ddapat diadjusted menjadi
harga pasar minus (market price minus)
MARKET PRICE MINUS
1. Kuantitas produk yg ditransfer kedivisi pembeli biasanya cukup
besar, sehingga seringkali diberikan pengurangan harga
2. Divisi penjual tidak perlu mengeluarkan biaya ilkan, promosi
penjualan, komisi penjualan dan biaya penagihan, sehingga
dapat dikurangkan pada harga transfer
3. Transfer yang dilakukan secara langsung dari divisi penjual,
biaya pergudangannya dapat dikompensasi untuk mengurangi
harga transfer
Harga pasar merupakan biaya kesempatan, baik bagi divisi
penjual maupun divisi pembeli, sehingga harga transfer yg
didasarkan pada harga pasar merupakan tolok ukur yang
baik bagi kinerja divisi yang terkait

Keterangan
Harga Pasar
Pengurangan Biaya:
Potongan volume
Biaya penjualan
Komisi penjualan
Biaya penagihan
Biaya Penggudangan

%
100,0
1,5
11,5
2,0
0,5
5,5
57

Jumlah pengurangan biaya

21,0

Adjusted-market price (%)

79,0

ADJUSTED MARKET-PRICE METHOD

DIVISI PENJUAL SEBAGAI PUSAT BIAYA


Divisi penjual yang mentransfer semua produknya ke divisi
lain dalam perusahaan yang sama, hakekatnya merupakan
pseudo profit center. Manajer divisi penjual tidak memiliki
wewenang yg menyangkut pemasaran produknya, sehingga
kinerja divisinya sangat tergantung pada divisi lain. Harga
transfer alternatif dapat dipilih dengan cara: beban tetap
bulanan, profit sharing dan dua macam harga
1. BEBAN TETAP BULANAN
Dengan menggunakan beban tetap bulanan, divisi penjual
sebagap captive supplier tetap diperlakukan sebagai pusat
laba yang kinerjanya tidak dipengaruhi oleh divisi lain
dalam satu organisasi. Harga transfer produk divisi penjual
ditentukan dgn cara berikut:
Produk yang ditransfer dibebani sebesar biaya varibel
yang terjadi di divisi penjual
Setiap bulan divisi pembeli dibebani:
Biaya tetap yang dikeluarkan divisi penjual
Return on invesment yg dibebankan oleh divisi penjual

Divisi A menghasilkan produk yang seluruhnya ditransfer


ke divisi B adapun data divisi B adalah Sbb:
Biaya variabel per unit
Biaya tetap per tahun
Investasi modal & fasilitas produksi

800.000
600.000.000
2.400.000.000
58

Rate of return on invesment

10 %

HARGA TRANSFER PRODUK A


Biaya variabel per unit
Biaya tetap per bulan (600 juta/12)
Laba per bulan (10% x 2.400 juta)/12

800.000
50.000.000
20.000.000

Jika bulan Juni 2007 Divisi A mentransfer produk ke divisi


B sebanyak 2.000 unit, maka harga transfer yang dapat di
tentukan Sbb:
HARGA TRANSFER PRODUK A
Biaya variabel (10.000 x Rp 800.000)
Biaya tetap bulan Juni 2007
Laba bulan Juni 2007
Harga transfer bulan Juni 2007

1.600.000.000
50.000.000
20.000.000
1.670.000.000

2. PROFIT SHARING
Divisi pembeli akan dibebani sebesar biaya variabel standar
untuk setiap unit produk yg ditransfer oleh divisi penjual.
Biaya variabel divisi penjual dan divisi pembeli akan diper
gunakan secara akumulatif untuk mengitung biaya produk
yang dijual di pasar luar. Selanjutnya laba kontribusi yang
diperoleh akan dibagi secara adil kepada divisi penjual dan
divisi pembeli berdasarkan perbandingan biaya variabel
masing masing divisi.
Keterangan
Biaya variabel per unit
Harga jual

Divisi A
8.000
0

Divisi B
5.000
20.000

Jika Bulan Juni 2007 Divisi A mentransfer produknya


ke divisi B sebanyak 1.000 unit, maka perhitungan
Laba sbb:
59

PENJUALAN PRODUK DIVISI B

20.000.000

Biaya variabel A (1.000 x Rp 8.000)


Biaya variabel B (1.000 x Rp 5.000)
Biaya variabel kumulatif
Laba kontribusi

8.000.000
5.000.000
13.000.000
7.000.000

PROFIT SHARING:
Laba hak Divisi A (8/13) x Rp 7.000.000
Laba hak Divisi B (5/13) x Rp 7.000.000

4.307.692
2.692.308

3. TWO SETS OF PRICE


Divisi penjual maupun divisi pembeli akan menggunakan
harga masing masing, sehingga diperlukan adjustment atas
laba kontribusi divisi penjual terhadap divisi pembeli.

Keterangan
Biaya variabel per unit
Harga jual produk diluar
Keterangan
Penjualan
Biaya variabel
Laba kontribusi
Adjusment
CM after adjusted

Divisi A
8.000
11.000

Divisi B
5.000
18.000

Divisi A

Divisi B

Firm

11.000.000
8.000.000
3.000.000

18.000.000
13.000.000
5.000.000

29.000.000
21.000.000
8.000.000

3.000.000
5.000.000

Adjuement sebesar Rp 3.000.000 merupakan eliminasi atas


Laba yang diperoleh divisi A

60

PENENTUAN HARGA
JUAL PRODUK
MANFAAT INFORMASI BIAYA PENUH
1. Mengurangi ketidakpastian yg dihadapi decision maker
2. Dasar yang memberi perlindungan bagi perusahaan dari
kemungkinan kerugian
3. Memungkinkan manajer penentu harga jual menengoh
struktur biaya perusahaan pesaing
4. Dasar untuk pengambilan keputusan memasuki pasar

METODE PENENTUAAN HARGA JUAL


1. Harga Jual Normal (normal pricing)

Harga Jual

Taksiran Biaya
Penuh

Laba yang
diharapka

Unsur Harga Jual:


1. Taksiran biaya penuh
2. Laba yang diharapkan

61

2. Cost-Plus Pricing

Harga Jual

Taksiran Biaya
Penuh

Laba yang
diharapka

Unsur Harga Jual:


1. Taksiran biaya penuh
2. Laba yang diharapkan
Cost of capital
Risk of business
Capital employed rate

Biaya produksi
Biaya administrasi & umum
Biaya pemasaran
Total biaya penuh
Total aktiva
Rate of return on invesment

3.000.000.000
200.000.000
300.000.000
3.500.000.000
4.000.000.000
25%

Biaya administrasi & umum


Biaya pemasaran
Laba diharapkan: 25% x 4.000.000.000
Total biaya penuh
Biaya produksi
Prosentase markup (1.500/3.000) juta

200.000.000
300.000.000
1.000.000.000
1.500.000.000
3.000.000.000
50%

Biaya produksi
Markup (50% x Rp 3.000.000.000)
Total harga yg dibebankan
Jumlah unit yang diproduksi (volume)
Harga jual per satuan

3.000.000.000
1.500.000.000
4.500.000.000
1.000.000
Rp 4.500/unit
62

Harga Jual

Biaya yg dipengaruhi
oleh volume
yang

BIAYA PRODUKSI:
Bahan Baku
Tenaga Kerja
Biaya Overhead

Prosentase
markup

(% x Biaya non produksi)

PROSENTASE MARKUP:
y% + biaya non produksi
Biaya produksi

PENENTUAN HARGA JUAL BERDASARKAN


PENDEKATAN FULL COSTING

Laba yg diharapkan:
y% x Aktiva penuh

Biaya Non produksi:


Biaya Adm & umum
Biaya Pemasaran

Prosentase Markup:
Y% + Biaya non produksi
Biaya produksi

63

Biaya Produksi:
Bahan Baku
Tenaga Kerja L
Biaya Overhead

PENENTUAN PROSENTASE MARKUP

Harga Jual

Biaya yg dipengaruhi
oleh volume
yang

BIAYA VARIABEL:
Bahan Baku
Tenaga Kerja, BOP
Adm,pemasaran

Prosentase
markup
(% x Biaya non produksi)

PROSENTASE MARKUP:
y% + biaya tetap
Biaya variabel

PENENTUAN HARGA JUAL BERDASARKAN


PENDEKATAN VARIABLE COSTING

Laba yg diharapkan:
y% x Aktiva penuh

Biaya tetap:
Biaya Adm & umum
Biaya Pemasaran
Biaya overhead
64

Prosentase Markup:
Y% + Biaya tetap
Biaya variabel

Biaya variabel:
Bahan Baku
Tenaga Kerja L
Biaya Overhead
Adm & umum

PENENTUAN PROSENTASE MARKUP

BIAYA VARIABEL:
Biaya produksi
Biaya administrasi & Umum
Biaya pemasaran
Total biaya variabel

2.000.000.000
50.000.000
50.000.000
2.100.000.000

BIAYA TETAP:
Biaya overhead
Biaya administrasi & umum
Biaya pemasaran
Total total biaya tetap

1.000.000.000
150.000.000
250.000.000
1.400.000.000

Total total penuh


Perhitungan Prosentase Markup:
Biaya tetap
Laba diharapkan:25% x 4.000.000.000
Sub total
Biaya variabel
Prosentase markup (2.400/2.100) juta

3.500.000.000
1.400.000.000
1.000.000.000
2.400.000.000
2.100.000.000
114,29%
65

Perhitungan Harga Jual:


Biaya variabel
Markup (114,29% x Rp 2.100.000.000)
Total harga yg dibebankan
Jumlah unit yang diproduksi (volume)
Harga jual per satuan

2.100.000.000
2.400.000.000
4.500.000.000
1.000.000
Rp 4.500/unit

3. Penentuan Harga Jual Waktu


Perusahaan yg menjual tenaga kerja dlm rangka memberi
pelayanan pada pelanggan seperti: perusahaan bengkel,
usaha reparasi dan jasa lainnya

Harga Jual Waktu = Biaya TKL + Markup

BIAYA TENAGA KERJA LANGSUNG:

Upah TKL (21.000 jam x Rp 1.500/jam)


Biaya kesehatan (10x12x Rp 50.000)
Biaya kesejahteraan (10x12x Rp 25.000)
Total biaya tenaga kerja langsung
Jam TKL (10 orang x 300 hr x 7 jam)
Biaya tenaga kerja per jam

31.500.000
6.000.000
3.000.000
40.500.000
21.000 jam
Rp 1.928,57

BIAYA TIDAK LANGSUNG BENGKEL:

Gaji pengawas
Biaya depresiasi
Biaya asuransi
Biaya listrik
Biaya air
Biaya pemeliharaan
Biaya umum
Total biaya tak langsung bengkel

11.600.000
2.200.000
650.000
800.000
400.000
350.000
500.000
16.500.000

66

Perhitungan Prosentase Markup:


Biaya tak langsung bengkel
Laba diharapkan: (25% x 60.000.000)
Sub total
Biaya tenaga kerja langsung
Prosentase markup (31,5/40,5) juta
Perhitungan Harga Jual:
Biaya tenaga kerja langsung
Markup (77,78% x Rp 160.000)
Total harga yg dibebankan

16.500.000
15.000.000
31.500.000
40.500.000
77,78 %

160.000
124.448
184.448

4. Harga Jual Suku Cadang


Perusahaan menjual suku cadang utk melengkapi layanan
jasa yang diberikan pada pelanggan.

Harga Jual Bahan = Harga Bahan + Markup

BIAYA TAK LANGSUNG TOKO:

Gaji tenaga toko


Biaya listrik
Biaya kantor
Total biaya tak langsung toko
Laba yg diharap (25% x Rp 28.000.000)
Total biaya
TAKSIRAN SUKU CADANG YG DIBELI
PROSENTASE MARKUP (17/23,8) juta

Perhitungan Harga Jual:


Biaya suku cadang
Markaup: (71,43% x 500.000)
Harga jual suku cadang

9.000.000
700.000
300.000
10.000.000
7.000.000
17.000.000
23.800.000
71,43 %

500.000
357.150
857.150
67

5. Harga Jual Cost-Type Contract


Penentuan harga jual berdasarkan biaya yang dikeluarkan
oleh produsen plus tingkat keuntungan yg disepakati dgn
pembeli atau berdasarkan perjanjian.

Harga Jual = Biaya Penuh + y% ditentukan

Biaya langsung proyek


Biaya tdk langsung proyek
Total biaya proyek
Laba yg diharap (10%xRp 600.000.000)

450.000.000
150.000.000
600.000.000
60.000.000

Harga jual proyek yang dibebankan

660.000.000

HARGA JUAL PROYEK

6. Harga Jual Khusus (special order pricing)


Penentuan harga jual diluar harga jual reguler yang biasa
ditetapkan oleh perusahaan. Umumnya harga ini lebih
rendah dari harga jual normal, adapun pertimbangannya:
Biaya tetap telah ditutup melalui penjualan reguler
Harga jual khusus harus diatas biaya variabelnya
Harga jual khusus (200 x Rp 5.000)
Biaya variabel (200 x Rp 3.000)
Laba kontribusi

1.000.000
600.000
400.000

6. Harga Jual yang Diatur Pemerintah


68

Harga Jual = Biaya Produksi + Markup

PERHITUNGAN MARKUP:

Estimasi biaya administrasi & umum


Estimasi biaya pemasaran
Laba (25% x Rp 3.200.000.000)
Total
TAKSIRAN BIAYA PRODUKSI
PROSENTASE MARKUP (3/15) milyar

700.000.000
1.500.000.000
800.000.000
3.000.000.000
15.000.000.000
20 %

Perhitungan Harga Jual Per Kwh:


Biaya bahan baku
Biaya tenaga kerja langsung
Biaya overhead (V+T)
Sub total
Markup (20% x Rp 15.000.000.000)
Total harga yang dibebankan
Volume Kwh
Harga Per Kwh

4.000.000.000
3.000.000.000
8.000.000.000
15.000.000.000
3.000.000.000
18.000.000.000
100.000.000
Rp 180/Kwh

Kajian terhadap Penentuan Harga Jual Air:


Perusahaan PDAM Kodya Surabaya memiliki rencana produksi di
tahun 2008 digunakan untuk menetapkan harga jual baru:
Nilai Investasi bersih (aktiva tetap) 31.12.07
Biaya Variabel:
Bahan baku
Tenaga kerja langsung
Biaya overhead
Biaya administrasi & umum
Biaya pemasaran
Sub total biaya variabel

800.000.000.000
80.000.000.000
20.000.000.000
25.000.000.000
10.000.000.000
15.000.000.000
150.000.000.000

Biaya Tetap:
69

Biaya overhead
Biaya administrasi & umum
Biaya pemasaran
Sub total biaya tetap
Jumlah Pelanggan:
Pelanggan industri
Pelanggan rumah tangga
Pelanggan sosial
Jumlah pelanggan
Air yang terjual/diproduksi untuk Pelanggan:
Pelanggan industri (M3)
Pelanggan rumah tangga (M3)
Pelanggan sosial (M3)
Jumlah air yang dijual
Return on invesment ditetapkan

60.000.000.000
5.000.000.000
10.000.000.000
75.000.000.000
5.000
25.000
1.000
31.000
100.000.000
250.000.000
500.000
350.500.000
10%/th

Kebijakan harga tidak diperkenankan untuk memberi subsidi pada


pelanggan, minimum setiap kelompok pelanggan harus memberikan
kontribusi laba pada perusahaan.
Tugas Saudara mengkaji harga jual per M3 air pada masing masing
kelompok pelanggan.?

70

Selamat

71

Anda mungkin juga menyukai