Anda di halaman 1dari 37

Pada saat ini, dalam realitas pendidikan di lapangan, banyak guru yang masih banyak

digunakan setiap sekolah berupa LKS Konvensional atau LKS yang monoton, yaitu LKS
yang tinggal pakai, tinggal beli, instan, serta tanpa upaya merencanakan, menyiapkan,
dan menyusun sendiri (Prastowo, 2012: 18). Padahal guru tahu dan sadar bahwa LKS
yang mereka gunakan sering kali tidak sesuai dengan kompetensi dasar dan indikatornya.
Pembelajaran dengan menggunakan LKS konvensional memiliki keterbatasan dalam
meningkatkan kompetensi dan karakteristik siswa.
Materi, pertanyaan-pertanyaan bimbingan dan tugas-tugas dalam LKS konvensional tidak
sesuai dengan kebutuhan siswa dan tidak kontekstual (Prastowo, 2012; 18), sehingga
kurang meningkatkan kompetensi siswa yang seharusnya dapat ditingkatkan seoptimal
mungkin. LKS konvensional siswa tidak menemukan arahan yang terstruktur untuk
memahami materi yang diberikan. Padahal telah diketahui LKS disusun untuk membantu
meningkatkan kemampuan siswa dalam menafsirkan dan menjelaskan objek dan
peristiwa yang dipelajari khususnya pada mata pelajaran IPA. Hal ini terjadi karena
dampak dari kemiskinan pengembangan diri dari guru adalah guru tidak mampu
menyelenggarakan pembelajaran yang efektif dan efisien. Keaadan ini salah satu tidak
lepas dari kurang mengembangkan kreativitas guru untuk merencakan, menyiapkan LKS
yang inovatif, dan mampu mengeksplorasi ide-ide siswa (Prastowo, 2012; 14). Oleh
karena itu, orientasi pembelajaran yang masih di dominasi oleh guru (teacher centered)
yang tidak memberikan kesempatan kepada siswa untuk membangun pengetahuannya
sendiri. Tentu saja hal tersebut cenderung membuat siswa terbiasa menggunakan
sebagian kecil saja dari potensi dan kemampuan berpikirnya dan menjadikan siswa malas
untuk berpikir serta terbiasa malas berpikir mandiri.
Prastowo, A. (2012). Panduan Kreatif Membuat Bahan Ajar Inovatif YogyakartaI
Diva Press.
2. Lembar Kegiatan Siswa (LKS)
Lembar kegiatan siswa adalah lembaran-lembaran yang berisi tugas yang biasanya
berupa petunjuk atau langkah untuk menyelesaikan tugas yang harus dikerjakan siswa
dan merupakan salah satu sarana yang dapat digunakan guru untuk meningkatkan
keterlibatan siswa atau aktivitas dalam proses belajar mengajar (Depdiknas, 2005: 4
;Darmodjo dan Kaligis,1993:40) yang dapat membantu guru dalam memudahkan proses
belajar mengajar dan mengarahkan siswanya untuk dapat menemukan konsep- konsep
melalui aktivitasnya sendiri dalam kelompok kerja.
Selain itu, LKS dapat diartikan sebagai materi ajar yang sudah dikemas sedemikaan rupa,
sehingga siswa diharapkan mempelajari materi ajar tersebut secara mandiri (Prastowo,
2012: 204). Hal ini dipertegas juga oleh Arsyad bahwa LKS sebagai sumber belajar
mempunyai banyak manfaat. Arsyad (2012: 38-39) beberapa mengemukakan
kelebihannya, antara lain:
a. Siswa dapat belajar dan maju sesuai dengan kecepatan masing-masing sehingga siswa
diharapkan dapat menguasai materi pelajaran tersebut.
b. Di samping dapat mengulangi materi dalam media cetakan, siswa akan mengikuti
urutan pikiran secara logis.
c. Memungkinkan adanya perpaduan antara teks dan gambar yang dapat menambah
daya tarik, serta dapat memperlancar pemahaman informasi yang disajikan.
d. Khusus pada teks terprogram, siswa akan berpartisipasi dengan aktif karena harus
memberi respon terhadap pertanyaan dan latihan.
e. Materi dapat direproduksi dengan ekonomis dan didistribusikan dengan mudah.

Oleh karena itu, Darmodjo dan Kaligis (1993: 41-46) menjelaskan dalam penyusunan
LKS harus memenuhi berbagai persyaratan, yaitu syarat didaktik, syarat kontruksi dan
syarat teknis.
a. Syarat didaktik
Syarat didaktik berarti LKS harus mengikuti asas-asas pembelajaran efektif, yaitu:
(1) Memperhatikan adanya perbedaan individu sehingga dapat digunakan oleh
seluruh siswa yang memiliki kemampuan yang berbeda. LKS dapat digunakan
oleh siswa lamban, sedang maupun pandai. Kekeliruan yang umum adalah kelas
yang dianggap homogen.
(2) Menekankan pada proses untuk menemukan konsep-konsep sehingga berfungsi
sebagai penunjuk bagi siswa untuk mencari informasi bukan alat pemberitahu
informasi.
(3) Memiliki variasi stimulus melalui berbagai media dan kegiatan siswa sehingga
dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk menulis, bereksperimen,
praktikum, dan lain sebagainya.
(4) Mengembangkan kemampuan komunikasi sosial, emosional, moral, dan
estetika pada diri anak, sehingga tidak hanya ditunjukkan untuk mengenal faktafakta dan konsep-konsep akademis maupun juga kemampuan sosial dan
psikologis.
(5) Menentukan pengalaman belajar dengan tujuan pengembangan pribadi siswa
bukan materi pelajaran.
b. Syarat konstruksi
Syarat konstruksi adalah syarat- syarat yang berkenan dengan penggunaan bahasa,
susunan kalimat, kosakata, tingkat kesukaran, dan kejelasan dalam LKS. Adapun
syarat-syarat konstruksi tersebut, yaitu:
(1) LKS menggunakan bahasa yang sesuai tingkat kedewasaan anak.
(2) LKS menggunakan struktur kalimat yang jelas.
(3) LKS Memiliki tata urutan pelajaran yang sesuai dengan tingkat kemampuan
siswa, artinya dalam hal-hal yang sederhana menuju hal yang lebih kompleks.
(4) LKS menghindari pertanyaan yang terlalu terbuka.
(5) LKS mengacu pada buku standar dalam kemampuan keterbatasan siswa.
(6) LKS menyediakan ruang yang cukup untuk memberi keluasan pada siswa untuk
menulis maupun menggambarkan hal-hal yang siswa ingin sampaikan.
(7) LKS menggunakan kalimat yang sederhana dan pendek.
(8) LKS menggunakan lebih banyak ilustrasi daripada kata-kata.
(9) LKS dapat digunakan untuk anak-anak baik yang lamban maupun yang cepat.
(10)
LKS memiliki tujuan belajar yang jelas serta manfaat dari itu sebagai
sumber motivasi.
(11)
LKS mempunyai identitas untuk memudahkan administrasinya.
c. Syarat teknik
(1) Tulisan
Tulisan dalam LKS diharapkan memperhatikan hal-hal berikut:
(a) LKS menggunakan huruf cetak dan tidak menggunakan huruf latin/romawi.
(b) LKS menggunakan huruf tebal yang agak besar untuk topik.
(c) LKS menggunakan minimal 10 kata dalam 10 baris.
(d) LKS menggunakan bingkai untuk membedakan kalimat perintah dengan
jawaban siswa
(e) LKS menggunakan memperbandingkan antara huruf dan
(2) Gambar
Gambar yang baik adalah yang menyampaikan pesan secara efektif pada
pengguna LKS.

(3) Penampilan
Penampilan dibuat menarik
Dengan demikian LKS merupakan suatu media yang berupa lembar kegiatan yang
membuat petunjuk, materi ajar dalam melaksanakan proses pembelajaran fisika untuk
menemukan suatu fakta, ataupun konsep. LKS mengubah pembelajaran dari teacher
centered menjadi student centered sehingga pembelajaran menjadi efektif dan konsep
materi pun dapat tersampaikan.
Anonim. (2005). Pedoman Penyusunan LKS SMA. Jakarta: Depdiknas.
Darmodjo, H dan Kaligis, J. (1993). Pendidikan IPA II. Jakarta: Dirjen Dikti.
Arsyad, A. (2012). Media Pembelajaran. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Selama ini pembelajaran fisika masih berorientasi pada telling science, belum
bergeser ke orientasi doing science. Hal ini mengakibatkan kurang kreatifitas guru dan
peserta didik selama proses pembelajaran berlangsung, sehingga sering ditemukan
pembelajaran yang berpusat pada guru. Situasi pembelajaran seperti ini mengakibatkan
pembelajaran fisika cenderung hanya menekankan pada aspek produk seperti menghapal
konsep-konsep dan rumus, tidak memberikan kesempatan siswa terlibat aktif dalam
proses pembelajaran fisika serta tidak dapat menumbuhkan sikap ilmiah siswa.
Menurut Ndraka dalam Wirtha dan Ni Ketut (2008:18) bahwa;
pembelajaran fisika disekolah hendaknya tidak diarahkan semata-mata
menyiapkan anak didik untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih
tinggi, namun yang lebih penting dan tepat adalah menyiapkan anak didik untuk
(1) mampu memecahkan masalah yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari
dengan menggunakan konsep-konsep sains yang telah mereka pelajari, (2)
mampu mengambil keputusan yang tepat dengan menggunakan konsep-konsep
ilmiah,dan (3) mempunyai sikap ilmiah dalam memecahkan masalah yang
dihadapi sehingga memungkinkan mereka untuk perpikir dan bertindak secara
ilmiah.

Kemampuan bekerja ilmiah penting dikembangkan karena memungkinkan orang


yang belajar dan membelajarkannya, mengembangkan dan menggunakan berpikir tingkat
tinggi dalam pemecahan masalah, mengembangkan berpikir kritis yang tertanam dalam
berbagai proses dan berbagai ilmu.

Magno dalam Wirtha dan Ni Ketut (2008:19) menyatakan:


salah satu cara untuk mengembangkan sikap ilmiah adalah dengan
memperlakukan siswa seperti ilmuwan muda sewaktu mengikuti pembelajaran
sains. Keterlibatan siswa secara aktif baik fisik maupun mental dalam kegiatan
praktikum akan membawa pengaruh terhadap pola tindakan siswa yang selalu
didasarkan pada hal-hal yang bersifat ilmiah.

Hal yang sama disampaikan Burner dalam Supriyati dan Sri (2007:1.6), siswa
memiliki pengetahuan apabila menemukan sendiri dan bertanggung jawab atas kegiatan
belajarnya sendiri, yang memotivasinya untuk belajar.
Sesuai uraian di atas, dibutuhkan suatu metode yang memberikan siswa peluang
untuk mengkonstruksi pengetahuannya sendiri dan menumbuh kembangkan sikap ilmiah.
Salah satu metode itu adalah dengan metode inkuiri terbimbing.

Amri (2010:89)

menyatakan bahwa inkuiri terbimbing merupakan kegiatan inkuiri dimana masalah


dikemukakan oleh guru atau bersumber dari buku teks kemudian siswa bekerja untuk
menemukan jawaban terhadap masalah tersebut dibawah bimbingan intensif guru. Lebih
lanjut Amri (2010: 95) menyatakan bahwa pada prinsipnya, keseluruhan proses
pembelajaran selama menggunakan metode inkuiri membantu siswa menjadi mandiri,
percaya diri dan yakin pada kemampuan intelektualnya sendiri untuk terlibat secara aktif.
A. Metode Inkuiri Terbimbing
1. Pengertian Metode Inkuiri Terbimbing
Inkuiri yang dalam bahasa inggris inquiry, berarti pertanyaan, pemeriksaan atau
penyelidikan. Sund dalam Suryosubroto (2009: 179) menyatakan bahwa inquiry
merupakan perluasan proses discovery yang digunakan lebih mendalam. Artinya proses
inquiry mengandung proses-proses mental yang lebih tinggi tingkatannya. Hanafiah dan
Cucu (2009:77) mengungkapkan:
inkuiri merupakan suatu rangkaian kegiatan pembelajaran yang melibatkan
secara maksimal seluruh kemampuan peserta didik untuk mencari dan
menyelidiki secara sistematis, kritis, dan logis sehingga mereka dapat

menemukan sendiri pengetahuan, sikap dan keterampilan sebagai wujud adanya


perubahan perilaku.
Menurut Depdikbud dalam Putri (2009: 10):
metode inkuiri merupakan proses pembelajaran yang bervariasi dan meliputi
kegiatan-kegiatan yang berdasarkan metode ilmiah, seperti mengobservasi,
merumuskan pertanyaan yang relevan, merencanakan penyelidikan atau
investigasi, mereview apa yang telah diketahui, melaksanakan percobaan atau
eksperimen dengan menggunakan alat untuk memperoleh data, menganalisis dan
menginterpretasi data serta membuat prediksi dan mengkomunikasikan
hasilnya

Menurut Trianto (2007: 135):


sasaran utama kegiatan pembelajaran inkuiri adalah (1) keterlibatan siswa
secara maksimal dalam proses kegiatan belajar; (2) keterarahan kegiatan secara
logis dan sistematis pada tujuan pembelajaran; dan (3) mengembangkan sikap
percaya pada diri siswa tentang apa yang ditemukan dalam proses inkuiri.

Trianto (2007:136) lebih lanjut menyatakan bahwa untuk menciptakan suasana


inkuiri, peranan guru adalah sebagai berikut: 1) motivator, yang memberikan rangsangan
supaya siswa aktif dan gairah berpikir. 2) Fasilitator, yang menunjukkan jalan keluar jika
ada hambatan dalam proses berpikir siswa. 3) Penanya, untuk menyadarkan siswa dari
kekeliruan yang mereka perbuat dan memberikan keyakinan pada diri sendiri. 4)
Administrator, yang bertanggungjawab terhadap seluruh kegiatan di dalam kelas. 5)
Pengarah, yang memimpin arus kegiatan berpikir siswa pada tujuan yang diharapkan. 6)
Manajer, yang mengelola sumber belajar, waktu, dan organisasi kelas. 7) Rewarder, yang
memberi penghargaan pada prestasi yang dicapai dalam rangka peningkatan semangat
heuristik pada siswa.
Pembelajaran inkuiri dirancang untuk mengajak siswa secara langsung ke dalam
proses ilmiah ke dalam waktu yang relatif singkat. Hasil penelitian schlenker dalam
Trianto (2007: 136), menunjukkan bahwa latihan inkuiri dapat meningkatkan pemahaman

sains, produktif dalam berpikir kreatif, dan siswa menjadi terampil dalam memperoleh
dan menganalisis informasi.
Menurut Hanafiah dan Cucu (2009:77), metode inquiry terbagi atas 3 macam antara
lain: (a) Inkuiri terbimbing atau terpimpin, yaitu pelaksanaan inquiry dilakukan atas
petunjuk guru. Dimulai dari pertanyaan inti, guru mengajukan berbagai pertanyaan yang
melacak, dengan tujuan untuk mengarahkan peserta didik ke titik kesimpulan yang
diharapkan. Selanjutnya, siswa melakukan percobaan untuk membuktikan pendapat yang
dikemukakannya. (b) Inkuiri bebas, yaitu peserta didik melakukan penyelidikan bebas
sebagaimana seorang ilmuwan, antara lain masalah dirumuskan sendiri, penyelidikan
dilakukan sendiri, dan kesimpulan diperoleh sendiri. (c) Inkuiri bebas dimodifikasi, yaitu
masalah diajukan guru didasarkan teori yang sudah dipahami peserta didik. Tujuan untuk
melakukan penyelidikan dalam rangka membuktikan kebenaran.
Amri (2010:89) menyatakan bahwa:
inkuiri terbimbing merupakan kegiatan inkuiri dimana masalah dikemukakan
guru atau bersumber dari buku teks kemudian siswa bekerja untuk menemukan
jawaban terhadap masalah tersebut dibawah bimbingan intensif guru.
Orlich dalam Amri (2010: 89) menyatakan beberapa karakteristik inkuiri terbimbing
yang perlu diperhatikan, yaitu: 1) mengembangkan kemampuan berpikir siswa melalui
observasi spesifik hingga mampu membuat inferensi atau generalisasi, 2) sasarannya
adalah mempelajari proses pengamatan kejadian atau obyek dan menyusun generalisasi
yang sesuai, 3) guru mengontrol bagian tertentu dari pembelajaran, 4) setiap siswa
berusaha membangun pola yang bermakna berdasarkan hasil observasi didalam kelas, 5)
kelas diharapkan berfungsi sebagai laboratorium pembelajaran, 6) biasanya sejumlah
generalisasi akan diperoleh siswa, 7) guru memotivasi semua siswa untuk
mengkomunikaskan hasil generalisasinya sehingga dapat dimanfaatkan seluruh siswa
dikelas.

2. Langkah-langkah Pelaksanaan Metode Inkuiri terbimbing


Gulo (2002) dalam Trianto (2007:137) menyatakan bahwa:
inkuiri tidak hanya mengembangkan kemampuan intelektual tetapi seluruh
potensi yang ada, termasuk pengembangkan emosional dan keterampilan inkuiri
merupakan suatu proses yang bermula dari merumuskan masalah, merumuskan
hipotesis, mengumpulkan data, meganalisis data, dan membuat kesimpulan.
Eggen dan Kauchak dalam Trianto (2007:141), lebih lanjut menjelaskan tahapan
pembelajaran inkuiri terbimbing pada tabel 2.1

Tabel 2.1 Tahap Pembelajaran Inkuiri


Langkah-langkah
1. Merumuskan
masalah

2. Merumuskan
hipotesis

3. Merancang
Percobaan

4. Melakukan
percobaan
5. Mengumpulkan
dan menganalisis
data
6. Membuat

Perilaku Guru
Guru
membimbing
siswa
mengidentifikasi
masalah.
Guru
membagi siswa dalam kelompok
Guru memberikan kesempatan pada
siswa untuk curah pendapat dalam
membentuk
hipotesis.
Guru
membimbing siswa dalam menentukan
hipotesis
yang
relevan
dengan
permasalahan dan memprioritaskan
hipotesis mana yang menjadi prioritas
penyelidikan
Guru membimbing siswa mengurutkan
langkah-langkah
percobaan
yang
sesuai dengan hipotesis yang akan
dilakukan
Guru membimbing siswa mendapatkan
informasi melalui percobaan
Guru memberikan kesempatan pada
tiap kelompok untuk menyampaikan
hasil pengolahan data yang terkumpul.
Guru
membimbing
siswa
dalam
membuat kesimpulan.

kesimpulan

3. Keunggulan Metode Inkuiri Terbimbing


Suryosubroto (2009:185) mengemukakan bahwa inkuiri memiliki keunggulan yaitu :
(a) membantu siswa mengembangkan atau memperbanyak persediaan dan penguasaan
keterampilan dan proses kognitif siswa, (b) Pengetahuan yang diperoleh bersifat sangat
kukuh; dalam arti pendalaman dari pengertian; referensi, dan transfer, (c) membangkitkan
gairah pada siswa, (d) memberi kesempatan pada siswa untuk bergerak maju sesuai
dengan kemampuannya sendiri (e) menyebabkan siswa mengarahkan sendiri cara
belajarnya, sehingga ia lebih merasa terlibat dan bermotivasi sendiri untuk belajar, (f)
membantu memperkuat pribadi siswa dengan bertambahnya kepercayaan diri siswa, (g)
metode ini berpusat pada siswa sehingga guru hanya menjadi teman belajar.

4. Kelemahan Metode Inkuiri Terbimbing


Suryosubroto (2009:186) lebih lanjut menyatakan bahwa metode inkuiri memiliki
kelemahan antara lain: (a) dipersyaratkan keharusan persiapan mental untuk cara belajar
ini, (b) metode ini kurang berhasil untuk mengajar kelas besar, (c) Harapan yang
ditumpahkan mungkin mengecewakan bagi guru dan siswa yang sudah biasa dengan
perencanaan dan pengajaran secara tradisional.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa metode inkuiri terbimbing adalah


kegiatan inkuiri dimana masalah dikemukakan guru kemudian siswa bekerja untuk
menemukan jawaban terhadap masalah tersebut dibawah bimbingan intensif guru, dengan
langkah-langkah (1) merumuskan masalah; (2) merumuskan hipotesis; (3) merancang
percobaan; (4) melakukan percobaan; (5) mengumpulkan dan menganalisis data; (6)
membuat kesimpulan.

B. Alat Peraga Sederhana


Menurut Agus (2007:91) bahwa alat peraga merupakan hasil rancangan dan buatan
sendiri. Alat peraga sederhana relatif mudah dibuat oleh guru bahkan siswa dengan
kreatifitas dan biaya pembuatan yang relatif sangat murah. Suryosubroto (2009:40)
menyatakan alat peraga merupakan alat bantu untuk menciptakan proses belajar
mengajar yang efektif
Lebih lanjut Agus (2007:91) menyatakan bahwa:
guru hendaknya mampu membuat alat peraga sederhana meskipun dengan
mencontoh karya cipta orang lain dan tidak harus membeli. Pembuatan alat
peraga sederhana dapat ditempuh dengan biaya rendah misalnya dengan
memanfaatkan barang-barang bekas. Sehingga alat peraga yang dibutuhkan
tidak selamanya hanya dipenuhi dengan biaya tinggi.
Sementara itu Zulaikha (1997:130) menyatakan bahwa dalam penggunaan alat
peraga diperlukan keterampilan guru dalam merakit dan menggunakan alat peraga
tersebut, tanpa adanya keterampilan tersebut, usaha guru menggunakan alat peraga tidak
mencapai hasil yang diinginkan. Selain itu diperlukan pemahaman guru terhadap konsep
sehingga dapat menentukan alat peraga yang relevan dengan konsep.
Selanjutnya Agus (2007:93)

menyatakan bahwa penyajian materi pelajaran

menggunakan alat peraga sederhana memiliki keunggulan antara lain: (a) Memberikan
daya tarik tersendiri dan hampir semua siswa melibatkan diri dalam pembuatan, peraga
alat, ataupun pengamatan. (b) Suasana belajar didalam kelas akan hidup. (c) Siswa akan
memperoleh tambahan informasi atau pengetahuan dari apa yang didengar, dibaca,
dikerjakan, diamati, dan didiskusikan. Proses tersebut memungkinkan seluruh potensi
siswa dapat berperan secara optimal dalam memahami dan bahkan menemukan informasi
baru. Siswa dituntun untuk mengerti apa yang dipelajarinya dan tidak sekedar
mengingatnya saja. (d) Informasi atau pengetahuan yang diperoleh siswa akan tersimpan

lama dalam ingatan siswa karena aktivitas belajar yang dilakukan merupakan pengalaman
yang unik (contohnya membuat dan memakai alat peraga buatan sendiri). (e) Mengurangi
kesenjangan yang mencolok dalam penguasaan materi pelajaran antara siswa cerdas dan
siswa yang kurang cerdas karena siswa memperoleh pengalaman dan informasi dengan
proses pembelajaran yang sama. (f) Dapat meringankan tugas guru dalam menyajikan
materi. Guru cukup bertindak sebagai fasilitator dan rekan berdiskusi bagi siswa.
Sehingga tidak perlu mendominasi kegiatan pembelajaran.
Dengan demikian yang dimaksud dengan alat peraga sederhana dalam penelitian ini
adalah

seperangkat alat atau benda yang

dirancang oleh guru untuk menunjang

pembelajaran yang efektif.


Agus, M. 2007. Alat Peraga Sederhana Multifungsi untuk Pembelajaran Geografi.
Jakarta : Jurnal Pendidikan inovatif Vol.2/No.2/Maret/2007 , (online),
(http://jurnaljpi.wordpress.com, diakses 30 oktober 2010).

Amri, S. 2010. Proses Pembelajaran kreatif dan inovatif dalam kelas. Jakarta :
Prestasi Pustaka.

Hanafiah dan Cucu S. 2009. Konsep Strategi Pembelajaran. Bandung : PT. Refika
Aditama.
Putri, D.H. 2009. Penerapan Metode Inkuiri Terbimbing Tipe A Menggunakan Media
Powerpoint Pada Mata Kuliah Fisika Dasar I Konsep Dinamika Partikel
Mahasiswa Semester I T.A ganjil 2008/2009 Podi P. Fisika. Bengkulu : Jurnal
Exacta. Vol VII/No.2/ Desember/2009

Supriyati, Y. dan Sri AW. 2007. Strategi Pembelajaran Fisika. Jakarta : Universitas
Terbuka.

Suryosubroto, B. 2009. Proses Belajar Mengajar di Sekolah. Jakarta : PT. Rineka


Cipta.

Trianto. 2007. Model-Model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik.


Jakarta : Prestasi Pustaka.

Wirtha, I.M. dan Ni Ketut R. 2008. Pengaruh Model Pembelajaran dan Penalaran
Formal Terhadap Penguasaan Konsep Fisika dan Sikap Ilmiah Siswa SMA
Negeri 4 Singaraja. Denpasar : Jurnal penelitian dan pengembangan
pendidikan
UNDIKSHA,
(online)
,
(http://www.freewebs.com/santyasa/Lemlit/
PDF_Files/PENDIDIKAN/APRIL_2008/I_Made_Wirtha.pdf, diakses 30
oktober 2010).

Zulaikha, S. 1997. Survey Tentang Kendala yang Dihadapi Guru Dalam


menggunakan Alat peraga dan Merakit Alat-alat Sederhana Dalam
pembelajaran IPA di Sekolah Dasar Se-Kecamatan Denpasar Selatan.
Denpasar:
Jurnal
Aneka
Widya
STKIP
Singaraja,
No.
6/TH.XXX/Oktober/1997,
(online),
(http://jurnal.pdii.lipi.go.id/admin/jurnal/30697128138.pdf,
diakses
30
oktober 2010).

A. Penelitian dan Pengembangan (Reseach and Development)


Penelitian dan pengembangan (Reseach and Development) dibidang pembelajaran
menurut Borg dan Gall dalam Anik Ghufron (2005: 6), Educational research and
development (R & D) is a process used to develop and validate educational
production. Pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa setiap langkah dalam
proses pengembangan mengacu pada langkah sebelumnya hingga diperoleh produk
yang diinginkan dalam bidang pendidikan. Produk yang akan dibuat selalu
mengalami perubahan dikarenakan adanya perbaikan produk disetiap langkahnya.
Penelitian pengembangan tidak hanya berorientasi pada implementasi pemakaian
produk, namun juga harus disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan di sekolah. Hal
ini menyebabkan validasi terakhir dari sebuah pengembangan produk di bidang

pendidikan adalah validasi produk dalam bentuk penggunaan produk dalam kegiatan
pembelajaran.
Banyak prosedur yang dapat digunakan di dalam metode penelitian dan
pengembangan.

Prosedur penelitian pengembangan menurut Suyanto dan Sartinem (2009: 16)


sebagai berikut:

Tujuh prosedur pengembangan produk dan uji produk, yaitu (1)


Analisis kebutuhan, (2) Identifikasi sumberdaya untuk memenuhi
kebutuhan, (3) Identifikasi spesifikasi produk yang diinginkan
pengguna, (4) Pengembangan produk, (5) Uji internal: Uji spesifikasi
dan Uji operasionalisasi produk, (6) Uji eksternal: Uji kemanfaatan
produk oleh pengguna. (7) Produksi.
Borg dan Gall dalam Potter (2010: 1), mengungkapkan ada sepuluh prosedur
penelitian pengembangan. Sepuluh prosedur penelitian pengembangan tersebut
sebagai berikut:
1) Research and information collecting (penelitian dan pengumpulan data
yang meliputi pengukuran kebutuhan, kaji pustakaan, pengamatan kelas).
2) Planning (perencanaan) yaitu merumuskan tujuan, penentuan urutan
pembelajaran, dan langkah-langkah pembelajaran.
3) Develop preliminary form of product (pengembangan draf produk awal)
yakni perumusan butir-butir materi, menganalisis indikator, dan
perumusan alat ukur keberhasilan.
4) Preliminary field testing (Melakukan uji coba awal).
5) Main product revision (Melakukan revisi terhadap produk utama).
6) Min field testing (Melakukan uji lapangan utama).
7) Operational product revision (Melakukan revisi terhadap produk
operasional).
8) Operational field testing (Melakukan uji lapangan operasional).
9) Final product revision (Melakukan revisi terhadap produk akhir).
10) Disemination and implementation (Mendesiminasikan dan
mengimplementasikan produk).

Secara umum, penjelasan dan tujuan tahapan dalam prosedur penelitian


pengembangan menurut Suyanto dan Sartinem sama dengan prosedur penelitian
pengembangan Borg dan Gall. Prosedur penelitian pengembangan menurut Suyanto
dan Sartinem yang banyak digunakan dalam penelitian pengembangan beberapa
mahasiswa yang ada di Universitas Lampung, membuat prosedur ini mudah
dipahami dalam setiap langkah yang digunakan. Oleh karena itu, penulis memilih
prosedur penelitian pengembangan menurut Suyanto dan Sartinem dalam penelitian
pengembangan ini.

B. Lembar Kerja Siswa (LKS)


LKS merupakan salah satu sumber belajar yang digunakan di dalam proses
pembelajaran. LKS digunakan untuk membantu siswa dalam mencapai kompetensi
dasar siswa. Trianto (2010: 222) mengungkapkan,
Lembar Kerja Siswa (LKS) memuat sekumpulan kegiatan mendasar yang
harus dilakukan oleh siswa untuk memaksimalkan pemahaman dalam upaya
pembentukan kemampuan dasar sesuai indikator pencapaian yang ditempuh.
Pengetahuan awal dari pengetahuan dan pemahaman siswa diberdayakan
melalui penyediaan media belajar pada setiap kegiatan eksperimen sehingga
situasi belajar menjadi lebih bermakna, dan dapat berkesan dengan baik pada
pemahaman siswa. Karena nuansa keterpaduan konsep merupakan salah satu
dampak pada kegiatan pembelajaran, maka muatan materi setiap lembar
kerja siswa pada setiap kegiatannya diupayakan dapat mencerminkan hal itu.

Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa format LKS disesuaikan


dengan kegiatan pembelajaran yang dilakukan agar siswa dapat mencapai tujuan
pembelajaran yang hendak dicapai. Hal ini mengakibatkan LKS harus dibuat oleh
guru bidang studi yang bersangkutan agar kegiatan pembelajaran menjadi bermakna.
Selain itu, jika LKS disusun oleh guru maka format LKS dapat disesuaikan dengan
situasi dan kondisi pembelajaran sehingga keberadaan LKS membuat siswa dapat

memaksimalkan pemahaman dalam upaya pembentukan kemampuan dasar sesuai


indikator pencapaian yang ditempuh. Guru yang mengetahui sejauh mana
pengetahuan dan pemahaman siswa, membuat pemanfaatan LKS yang disusun oleh
guru dapat membuat siswa memberdayakan pengetahuan dan pemahaman yang
diperoleh dan membuat siswa dapat mengaitkan konsep yang satu dengan yang lain.
Indrianto dalam Ahliswiwite (2007: 6) menyatakan bahwa ada dua macam LKS yang
dikembangkan dalam pembelajaran di sekolah, yaitu:
1. LKS Tak Berstruktur.
LKS tak berstruktur adalah lembaran yang berisi sarana untuk materi
pelajaran, sebagai alat bantu kegiatan peserta didik yang dipakai untuk
menyampaikan pelajaran. LKS merupakan alat bantu menga-jar yang dapat
dipakai untuk mempercepat pembelajaran, memberi dorongan belajar pada
tiap individu, berisi sedikit petunjuk, tertulis atau lisan untuk mengarahkan
kerja pada peserta didik.
2. LKS Berstruktur.
LKS berstruktur memuat informasi, contoh dan tugas-tugas. LKS ini
dirancang untuk membimbing peserta didik dalam satu program kerja atau
mata pelajaran, dengan sedikit atau sama sekali tanpa bantuan pembimbing
untuk mencapai sasaran pembelajaran. Pada LKS telah disusun petunjuk
dan pengarahannya, LKS ini tidak dapat menggantikan peran guru dalam
kelas. Guru tetap mengawasi kelas, memberi semangat dan dorongan
belajar dan memberi bimbingan pada setiap siswa.

Dari kedua jenis LKS ini, peneliti memilih jenis LKS yang berstruktur di dalam
pengembangan LKS pada penelitian dan pengembangan ini. Pertimbangan ini dipilih
karena setiap siswa memiliki karakteristik yang berbeda-beda dan membutuhkan
penanganan belajar yang berbeda pula. Saat siswa sama sekali tidak dibimbing atau
sedikit dibimbing, guru dapat dengan mudah mengawasi kelas dan memberikan
penilaian pada tujuan pembelajaran yang hendak dicapai. Selain itu, guru dapat
memberikan semangat, dorongan belajar, dan bimbingan secara individual kepada
siswa yang benar-benar membutuhkan bimbingan dalam belajar.

Pendapat DepDikNas dalam Rusdi (2008: 1) mengungkapkan bahwa langkahlangkah dalam persiapan LKS dijelaskan sebagai berikut:
1. Analisis kurikulum. Analisis ini dilakukan dengan memperhatikan
materi pokok, pengalaman belajar siswa, dan kompetensi yang harus
dicapai siswa.
2. Menyusun peta kebutuhan LKS. Peta kebutuhan LKS berguna
untuk mengetahui jumlah kebutuhan LKS dan urutan LKS.
3. Menentukan judul-judul LKS. Judul LKS harus sesuai dengan KD,
materi pokok dan pengalaman belajar.
4. Penulisan LKS.
Berdasarkan pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa serangkaian kegiatan
prapersiapan LKS seperti analisis kurikulum, analisis kebutuhan, dan menentukan
judul LKS yang sesuai dengan SK dan KD perlu dilakukan sebelum pembuatan LKS
yang akan dikembangkan.
Menurut Ibrahim dalam Trianto (2011: 213) penyusunan LKS harus memenuhi
beberapa persyaratan, yaitu persyaratan pedagogik, persyaratan konstruksi, dan
persyaratan teknik. Hal ini dapat dilihat pada Tabel 2.1.
Tabel 2.1 Syarat-syarat lembar kerja siswa yang baik
No
1.

Syarat-syarat LKS yang baik


Syarat Pedagogik

Aspek-aspek LKS yang baik


a. Memberi tekanan pada proses penemuan
konsep atau petunjuk mencari tahu.
b. Mempertimbangkan perbedaan individu.

No
2.

Syarat-syarat LKS yang baik


Syarat Konstruksi

3.

Syarat Teknis

Aspek-aspek LKS yang baik


a. Menggunakan bahasa yang sesuai
tingkat perkembangan siswa.
b. Menggunakan struktur kalimat yang
sederhana, pendek, dan jelas (tidak
berbelit-belit).
c. Memiliki tata urutan yang sistematik,
memiliki tujuan belajar yang jelas.
d. Memiliki identitas untuk memudahkan
pengadministrasian.
a. Menggunakan huruf tebal yang agak
besar untuk topik.
b. Jumlah kata di dalam satu baris lebih
dari 10 kata.
c. Gambar harus dapat menyampaikan
pesan secara efektif.
d. Gambar harus cukup besar dan jelas
detailnya.
e. Tampilan
harus
menarik
dan
menyenangkan.
f. Tampilan disusun sedemikian rupa
sehingga ada harmonisasi antara gambar
dan tulisan.

Kelebihan LKS diungkapkan oleh Trianto (2011: 212), Lembar kerja siswa untuk
mengaktifkan siswa dalam kegiatan pembelajaran, membantu siswa menemukan dan
mengembangkan konsep, melatih siswa menemukan konsep, menjadi alternatif cara
penyajian materi pelajaran yang menekankan keaktifan siswa, serta dapat memotivasi
siswa. Dilihat dari kelebihannya, lembar kerja siswa merupakan salah satu sumber
belajar siswa yang dapat membantu siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran yang
telah ditentukan. Selain itu, lembar kerja siswa membuat pembelajaran yang dilakukan
menjadi terstruktur karena LKS yang disusun disesuaikan dengan kegiatan
pembelajaran yang dilakukan sebagaimana yang telah dijelaskan pada paragraf
sebelumnya.
Menurut Suyanto dan Sartinem (2009: 20) uji isi materi, uji desain media, dan uji
efektivitas media. harus dilakukan agar media pembelajaran dikatakan baik atau
efektif. Berlandaskan dengan pendapat di atas, maka dalam penelitian dan
pengembangan inipun akan dilakukan ketiga uji tersebut.

Penilaian nontes dilakukan dalam uji isi materi dan uji ahli desain. Instrumen
penilaian dalam uji isi materi dan uji desain menyesuaikan dengan kriteria yang telah
ditetapkan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). Kriteria penilaian LKS
diadaptasi dari standar penilaian buku teks oleh BSNP (2006: 1). Secara garis besar,
kriteria tersebut meliputi:
1.
2.
3.
4.

Standar kelayakan isi


Standar kelayakan penyajian
Standar kelayakan bahasa
Standar kelayakan kegrafikan

Berdasarkan keempat kriteria di atas, kriteria standar kelayakan isi akan digunakan
sebagai instrumen penilaian LKS dalam uji isi materi. Sedangkan kriteria standar
kelayakan penyajian, bahasa, dan kegrafikan uji digunakan sebagai instrumen
penilaian LKS dalam uji desain media.
Penilaian tes dilakukan di dalam uji keefektivan media. Menurut Uno (2007: 32),
Hasil evaluasi efektivitas media hasil pengembangan selanjutnya dijadikan
dasar untuk memberikan penilaian terhadap keberhasilan pencapaian tujuan
yang telah ditetapkan, yang diperlihatkan oleh unjuk kerja siswa. Apabila
semua tujuan sudah dapat dicapai, efektivitas pelaksanaan kegiatan
pembelajaran dalam mata pelajaran tersebut dianggap berhasil dengan baik.

Keefektivan LKS dapat diukur dengan memberikan posttest setelah diberikan


perlakuan kepada siswa, yaitu setelah kegiatan pembelajaran dengan menggunakan
LKS yang dikembangkan. Menurut Nugroho (2001: 16), apabila 75 % siswa dapat
mencapai tujuan pembelajarannya maka media dikatakan efektif.

C. Laboratorium Virtual (Virtual Laboratory)


Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) (2008: 851), laboratorium adalah
ruangan yang dilengkapi dengan peralatan khusus untuk melakukan percobaan;
penyelidikan dan sebagainya. Menurut KBBI (2008: 1801), virtual adalah maya.
Dari kedua pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa laboratorium virtual adalah
ruangan yang dilengkapi dengan peralatan khusus untuk melakukan percobaan
maya. Peralatan tersebut software dan hardware yang mendukung percobaan maya.
Software dapat berupa suatu multimedia interaktif dan hardware dapat berupa
seperangkat komputer, LCD, dan sebagainya yang dapat mendukung dilakukannya
percobaan maya. Peneliti memilih software multimedia PhET sebagai multimedia
interaktif dalam laboratorium virtual dalam penelitian pengembangan ini.
Daryanto (2010: 54) mengungkapkan format sajian multimedia pembelajaran
interaktif dapat dikategorikan ke dalam lima kelompok sebagai berikut: (a) tutorial,
(b) drill dan practise, (c) simulasi, (d) percobaan atau eksperimen, dan (e)
permainan.
Kelima format sajian multimedia di atas dapat dijabarkan sebagai berikut:
a. Tutorial
Sajian multimedia tutorial adalah program yang didesain sebagai tutor untuk
siswa dalam yang menyampaikan materi sebagaimana pelaksanaan tutorial oleh
seorang guru untuk siswanya. Informasi yang disajikan dikemas sedemikian rupa
sehingga menyerupai situasi tutorial yang dilakukan seorang guru kepada
siswanya. Program ini bertujuan untuk memberikan bantuan kepada siswa dalam
mengoptimalkan pencapaian hasil belajar secara mandiri. Siswa dapat memilih
materi yang hendak dipelajari. Format sajian multimedia secara tutorial berisi:
(1) Materi; yang ditampilkan berisi suatu konsep yang disajikan dalam bentuk
teks, gambar (diam atau bergerak), dan grafik.

(2) Pertanyaan atau tugas; pertanyaan atau tugas yang ditampilkan dalam sajian
ini dimaksudkan untuk mengukur tingkat pemahaman terhadap materi yang
disajikan. Jika jawaban pengguna benar maka akan dilanjutkan dengan
materi berikutnya. Jika jawaban pengguna salah maka pengguna harus
mengulang memahami konsep secara keseluruhan dan dilakukan remedial
kembali dengan menggunakan pertanyaan atau tugas yang sama.
(3) Tes; tes yang ditampilkan dalam sajian ini dimaksudkan untuk mengukur
tingkat pemahaman pengguna atas konsep atau materi yang disampaikan.
Salah satu contoh sajian multimedia dengan cara tutorial adalah CD zat dan
kalor yang kembangkan oleh AKAL interaktif. Saat program ini dibuka, siswa
dihadapkan beberapa pilihan materi hendak dibelajarkan yang dilengkapi
seorang narator yang akan memberikan instruksi. Setelah siswa memilih materi
yang diinginkan, narator tersebut akan memberikan instruksi kegiatan
selanjutnya, yaitu penyampaian materi melalui tulisan, suara, maupun video.
Siswa disajikan latihan yang diserati instruksi dari narator dan pada bagian akhir
akan diberikan tes berupa serangkaian pertanyaan setelah menerima materi yang
ditutorialkan dalam program.
b. Drill dan Practise
Penggunaan format sajian ini dimaksudkan memunculkan suatu keterampilan
atau memperkuat penguasaan suatu konsep pada materi yang telah disampaikan
sebelumnya. Bentuk dari sajian drill dan practice berupa latihan. Format sajian
ini berisi:
(1) Pertanyaan; pertanyaan yang ditampilkan dilakukan secara acak sehingga
setiap kali format ini digunakan akan menampilkan format pertanyaan yang
selalu berbeda atau paling tidak dalam kombinasi yang berbeda.
(2) Jawaban dari pertanyaan yang ditampilkan; Setelah pertanyaan yang
ditampilkan dijawab oleh pengguna, pengguna dapat melihat jawaban yang

benar, lengkap dengan penjelasannya sehingga pengguna dapat memahami


suatu konsep.
(3) Skor; pertanyaan yang telah dijawab oleh pengguna akan diberi skor
sehingga pada bagian akhir akan ditampilkan skor akhir yang dicapai.
Tampilan skor ini digunakan sebagai indikator untuk mengukur tingkat
keberhasilan dalam memecahkan soal-soal yang diajukan.
Salah satu contohnya adalah format sajian di mana siswa dihadapkan
serangkaian latihan setelah mendapatkan suatu materi. Siswa diharapkan dapat
mengingat kembali materi yang telah disampaikan. Sajian multimedia drill dan
practice ini menyediakan serangkaian pertanyaan yang harus dijawab oleh siswa
yang dilengkapi petunjuk menjawab pertanyaan. Pertanyaan ditampilkan secara
acak bila program ini diulang. Setiap pertanyaan dilengkapi dengan tombol
perintah memeriksa jawaban, tombol perintah untuk melihat jawaban yang
sebenarnya beserta penjelasannya, dan tombol perintah untuk membuka
pertanyaan selanjutnya. Setelah siswa menjawab seluruh pertanyaan yang telah
disediakan, siswa dapat melihat skor akhir yang dicapai sebagai pengukur
keberhasilan tujuan pembelajaran materi yang dibelajarkan. Halaman skor akhir
biasanya ditampilkan tombol perintah untuk kembali ke pertanyaan awal dan
tombol perintah keluar dari program. Saat siswa memilih tombol perintah ke
pertanyaan awal, pertanyaan yang disuguhkan berbeda dengan pertanyaan
sebelumnya.
c. Simulasi
Sajian multimedia berbentuk simulasi adalah bentuk sajian multimedia di mana
siswa melakukan suatu kegiatan yang dihadapkan dalam kondisi dan situasi
yang sesungguhnya tanpa harus menghadapi resiko. Simulasi dilengkapi dengan
petunjuk cara penggunaan kegiatan yang akan disimulasikan sehingga pengguna
menguasai keterampilan dari kegiatan yang disimulasikan. Tujuan penggunaan

format sajian simulasi untuk memberikan pengalaman belajar mengenai masalah


dunia nyata. Salah satu contohnya adalah format sajian di mana siswa
dihadapkan pada suatu masalah pesawat yang akan jatuh atau menabrak. Siswa
diberi petunjuk mengenai informasi dan kegunaan peralatan diruang pilot serta
cara

penggunaan pesawat

mulai

dari

menerbangkan pesawat

sampai

melandaskan pesawat. Setelah siswa memahami pentunjuk yang telah diberikan,


siswa melakukan aktivitas simulasi yang ditampilkan di mana siswa mulai
mensimulasikan

menerbangkan

pesawat

terbang,

melakukan

aktivitas

menerbangkan pesawat terbang, sampai siswa dihadapkan dalam suatu masalah


bahwa pesawat akan menabrak. Siswa diharapkan dapat mencari solusi agar
pesawat tidak menabrak atau meminimalisir kemungkinan yang akan terjadi bila
tabrakan tidak dapat dihindari. Bila masalah ini terjadi dalam dunia nyata maka
siswa akan menghadapi resiko kematian, pesawat hancur, dan lain sebagainya.
Sedangkan bila masalah ini disimulasikan, siswa mendapatkan pengalaman
tanpa harus menghadapi resiko tersebut.
d. Percobaan atau eksperimen
Sajian multimedia percobaan atau eksperimen adalah program yang didesain
dalam bentuk kegiatan eksperimen yang dilakukan dalam laboratorium sains.
Tujuan format sajian percobaan atau eksperimen adalah pengguna diharapkan
dapat menjelaskan suatu konsep atau fenomena tertentu berdasarkan eksperimen
yang dilakukan secara maya. Format sajian ini mirip dengan format simulasi
karena siswa seolah-olah menghadapi situasi dan kondisi dalam dunia nyata
tanpa akibat kegiatan yang dilakukan siswa dalam situasi tersebut. Perbedaan
sajian multimedia percobaan dengan simulasi lebih ditujukan kepada kegiatankegiatan yang bersifat eksperimen, seperti kegiatan praktikum dalam
laboratorium fisika. Sajian ini menyediakan serangkaian alat dan bahan yang

akan dieksperimenkan, tempat untuk berkesperimen, serta respon dari percobaan


yang tidak sesuai dengan instruksi (misalnya adanya suara ledakan dan tabung
pecah akibat pencampuran bahan kimia yang salah dalam gelas kimia). Jika
siswa melakukan kegiatan percobaan dengan menggunakan sajian multimedia
percobaan maka siswa tidak harus menghadapi resiko dari percobaan yang
kemungkinan dapat mengancam keselamatan siswa, kerusakan alat akibat
penggunaan alat yang salah, atau kekurangan jumlah bahan akibat penggunaan
bahan yang boros.
Saat ini banyak percobaan yang tidak dapat dilakukan secara nyata karena harga
alat yang mahal atau objek yang diamati bersifat abstrak. Salah satu solusinya
adalah dengan menampilkan sajian multimedia percobaan atau eksperimen
dalam pembelajaran. Contoh sajian multimedia yang menampilkan cara
eksperimen adalah berbagai eksperimen maya yang dikembangkan Universitas
Colorado dalam bentuk program PhET. Siswa seolah-olah melakukan
serangkaian kegiatan eksperimen (mulai dari menyiapkan dan merangkai alat
dan bahan sampai melakukan percobaan) dalam sajian multimedia percobaan.
e. Permainan
Sajian multimedia permainan adalah sajian multimedia yang didesain dalam
bentuk permainan yang dilengkapi aturan dalam bermain sampai instruksi dalam
melakukan permainan. Penggunaan format sajian ini diharapkan dapat terjadinya
aktifitas belajar sambil bermain. Format permainan dikemas sedemikian rupa
sehingga permainan yang dibuat mengacu pada proses pembelajaran. Format
sajian ini menyediakan berbagai macam permainan sehingga pengguna tidak
merasa bahwa mereka sesungguhnya sedang melakukan pembelajaran.
Selanjutnya diakhir pembelajaran akan ada pemberian umpan balik dalam
bentuk skor setelah melakukan serangkaian permainan. Keseluruhan sajian ini

memiliki landasan untuk membangkitkan motivasi dengan cara menampilkan


konsep kompetisi untuk meraih sesuatu (skor tertinggi).
Salah satu contohnya adalah program yang disajikan berbentuk permainan yang
dilengkapi serangkaian aturan sebelum permainan dimulai sampai permainan
berakhir. Penentuan pemenang dalam permainan ini ditentukan dalam bentuk
skor. Skor ini dapat dijadikan tolak ukur tujuan pembelajaran yang hendak
dicapai.
Berdasarkan kelima format sajian multimedia pembelajaran menurut pendapat di
atas, dipilih format sajian percobaan atau eksperimen dengan menggunakan software
PhET . Software PhET menyediakan serangkaian alat dan bahan yang akan
digunakan dalam kegiatan praktikum. Selain itu, penggunaan software PhET dalam
pembelajaran dapat membuat pembelajaran menjadi suatu proses penemuan
sehingga mencirikan karakteristik fisika.

Alat yang paling penting dalam penyelenggaraan praktikum virtual


laboratory adalah laptop atau seperangkat komputer sehingga sekolah
setidaknya mempunyai laboratorium komputer untuk penyelenggaraan
praktikum ini. Berdasarkan penelitian pendahuluan yang dilakukan penulis di
SMPN 1 Bandar Lampung, didapatkan bahwa sekolah ini telah memiliki satu
LCD di setiap kelas, laboratorium multimedia, setiap siswa yang telah
memiliki laptop, dan jaringan hotspot sehingga mendukung diadakannya
praktikum virtual laboratory.
Berdasarkan penelitian pengembangan Susanti (2009: 356) diperoleh suatu
kesimpulan bahwa

Penggunaan laboratorium virtual dalam kegiatan praktikum optik


secara inkuiri dapat lebih meningkatkan pemahaman konsep optik
mahasiswa calon guru disetiap jenis kelompok pemahaman (translasi,
interpretasi, dan ekstrapolasi) maupun disetiap subkonsep optik
dibanding mahasiswa calon guru yang menggunakan laboratorium
real. Penggunaan laboratorium virtual dalam kegiatan praktikum optik
secara inkuiri memiliki keunggulan antara lain: meningkatkan
pemahaman konsep, pembelajaran dapat bersifat mandiri, perhatian
belajar terpusat pada mahasiswa, menambah pengalaman baru dalam
bereksperimen, simulasi komputer dapat meningkatkan kreativitas
mahasiswa, minimnya resiko kerusakan pada alat praktikum serta
efisien dari segi waktu. Sedangkan kelemahannya antara lain: biaya
pengadaan yang cukup mahal, dan sulit dalam mengoperasikan
program simulasi.

Beberapa keunggulan dari kegiatan eksperimen yang dilakukan secara inkuiri


pada virtual laboratory yang telah diungkapkan di atas, membuat virtual
laboratory lebih unggul dibandingkan dengan laboratorium nyata walaupun
penggunaan praktikum virtual laboratory tidak lepas dari kelemahan akibat
penggunaaannya. Berdasarkan kelemahan yang telah dipaparkan di atas,
penggunaan eksperimen virtual laboratory di dalam pembelajaran harus
memperhatikan aspek-aspek kelemahannya.
Berdasarkan penelitian pengembangan Susanti juga dapat disimpulkan
penggunaan model inkuiri dan metode eksperimen dalam virtual laboratory
dapat meningkatkan pemahaman konsep sehingga model dan metode yang
cocok digunakan dalam virtual laboratory adalah model inkuiri dan metode
eksperimen. Oleh karena itu, pengembangan LKS merujuk pada model
inkuiri dan metode eksperimen agar dapat mengoptimalkan pembelajaran
praktikum dengan menggunakan virtual laboratory.
D. Model Inkuiri

Model inkuiri merupakan model pembelajaran yang tepat digunakan dalam


praktikum virtual laboratory. Model inkuiri juga merupakan salah satu model
pembelajaran yang berorientasi pada pembelajaran berpusat pada siswa (Student
Center Learning). Selain itu, pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) khususnya
pembelajaran fisika merupakan pembelajaran yang tidak hanya menekankan pada
penguasaan kumpulan pengetahuan alam yang berupa fakta-fakta, konsep-konsep,
prinsip-prinsip, dan hukum-hukum saja tetapi juga pada suatu proses penemuan
membuat model inkuiri sangat cocok digunakan dalam kegiatan pembelajaran.
Suyanto (2006: 11) berpendapat,
Esensi dari model pembelajaran inkuiri adalah untuk melibatkan siswa
dalam masalah yang sesungguhnya dengan cara memberikan tantangan
kepada suatu area (lingkup) penyelidikan, membantu mereka untuk mengidentifikasi suatu masalah secara konseptual atau bersifat metodologis, dan
merekayasa mereka untuk merancang cara pemecahan masalah tersebut.

Berdasarkan pendapat di atas, model pembelajaran inkuiri menekankan pada proses


mencari dan menemukan sehingga materi pelajaran tidak diberikan secara langsung
dalam kegiatan pembelajaran dengan menggunakan model tersebut. Dalam hal ini,
siswa dituntut untuk mencari dan menemukan sendiri materi pelajaran dan guru
hanya berperan sebagai fasilitator dan pembimbing.
Model pembelajaran inkuiri terbagi menjadi beberapa macam. Beberapa macam
model pembelajaran inkuiri yang dikemukakan oleh Sund dan Trowbridge dalam
Sahrul (2009: 1) adalah:
(1) Guided Inquiry, (2) Modified Inquiry, (3) Free Inquiry, (4) Inquiry role
Approach, (5) Invitation Into Inquiry, (6) Pictorial Riddle, (7) Synectics
Lesson, (8) Value Clarification.

Penjabaran macam-macam model inkuiri menurut Sund dan Trowbridge yang telah
dipaparkan di atas adalah sebagai berikut:
1. Guide

Inquiry

Pembelajaran inkuiri terbimbing yaitu suatu model pembelajaran inkuiri di mana


guru harus memberikan pengarahan dan bimbingan kepada siswa dalam
melakukan kegiatan-kegiatan pembelajaran. Inkuiri terbimbing biasanya
digunakan terutama bagi siswa-siswa yang belum berpengalaman belajar dengan
pendekatan inkuiri.
2. Inkuiri
yang

dimodifikasi

(Modified

Inquiry)

Pembelajaran modified Inquiry yaitu suatu model pembelajaran inkuiri di mana


guru merupakan nara sumber yang tugasnya hanya memberikan bantuan yang
diperlukan untuk menghindari kegagalan dalam memecahkan masalah. Dalam
kegiatan pembelajaran dengan menggunakan model ini, guru hanya memberikan
permasalahan melalui pengamatan dan siswa melakukan percobaan untuk
memperoleh jawaban dari permasalahan tersebut.
3. Inkuiri
bebas
(Free

Inquiry)

Model inkuiri bebas adalah suatu model pembelajaran inkuiri di mana siswa
bebas menentukan cara mencari dan menemukan materi yang dipelajari. Siswa
harus mengidentifikasikan dan merumuskan macam problema yang dipelajari
dan dipecahkan.
4. Inquiry

role

Approach

Model pembelajaran inkuiri ini menekankan kerja sama dalam pembelajaran


inkuiri. Siswa dikelompokkan menjadi empat orang untuk memecahkan masalah
yang diberikan. Masing-masing anggota memegang peranan yang berbeda, yaitu
sebagai koordinator tim, penasihat teknis, pencatat data, dan evaluator proses.
5. Invitation
Into
Inquiry
Model inkuiri jenis ini menekankan siswa menjadi seorang ilmuwan sehingga
cara-cara yang ditempuh dalam proses pemecahan masalah menggunakan cara-

cara yang tempuh oleh para ilmuwan. Cara-cara yang ditempuh oleh seorang
ilmuwan adalah sebagai berikut: a) Merancang eksperimen, b) Merumuskan
Hipotesis , c) Menentukan sebab akibat, d) menginterpretasikan data, e)
Membuat grafik, f) Menentukan peranan diskusi dan kesimpulan dalam
merencanakan peneitian ,g) Mengenal bagaimana kesalahan eksperimental
mungkin dapat dikurangi atau diperkecil.
6. Teka-teki
bergambar

(Pictorial

Riddle)

Model ini dapat mengembangkan motivasi dan minat siswa dalam diskusi
kelompok kecil atau besar. Suatu riddle dapat berupa gambar dipapan tulis,
poster, atau diproyeksikan dari suatu transparansi, kemudian guru mengajukan
pertanyaan yang berkaitan dengan riddle tersebut.
7. Synectics

Lesson

Model ini memusatkan keterlibatan siswa untuk membuat berbagai macam


bentuk kiasan supaya dapat membuka intelegensinya dan mengembangkan
kreativitasnya. Hal ini dapat dilaksanakan karena kiasan dapat membantu siswa
dalam berfikir untuk memandang suatu problema sehingga menunjang
timbulnya ide-ide kreatif.
8. Value

Clarification

Pada model pembelajaran inkuiri jenis ini siswa lebih difokuskan pada
pemberian kejelasan tentang suatu tata aturan atau nilai-nilai pada suatu proses
pembelajaran.
Berdasarkan hasil wawancara tak langsung dengan guru yang mengajar di kelas IX
SMPN 1 Bandar Lampung mengungkapkan bahwa guru belum pernah menggunakan
model pembelajaran inkuiri. Model inkuiri yang belum pernah digunakan dalam
proses pembelajaran di kelas IX SMPN 1 Bandar Lampung mengakibatkan siswa
belum berpengalaman belajar dengan model inkuiri sehingga guru perlu
menyediakan bimbingan dan petunjuk dalam kegiatan pembelajaran. Oleh karena

itu, model yang cocok digunakan dalam penelitian pengembangan yang


dilaksanakan di IX SMPN 1 Bandar Lampung adalah model pembelajaran inkuiri
terbimbing (guided inquiry).
Secara umum prosedur model inkuiri menurut Sanjaya (2006: 201), (1) orientasi, (2)
merumuskan masalah, (3) mengajukan hipotesis, (4) mengumpulkan data, (5)
menguji hipotesis, dan (6) merumuskan kesimpulan.
Keenam tahapan tersebut jika diimplementasikan ke dalam model pembelajaran
inkuiri terbimbing maka secara garis besar guru merencanakan suatu kegiatan
pembelajaran. Hal ini dapat terlihat pada peran guru dari setiap tahap inkuiri pada
Tabel 2.2.
Tabel 2.2 Tahapan-tahapan Model Pembelajaran Inkuiri Terbimbing
Fase ke1.

Indikator
Menyajikan
masalah

2.

Membuat hipotesis

3.

Merancang percobaan

4.

Melakukan
percobaan
memperoleh data
Mengumpulkan dan
menganalisis data

5.

6.

pertanyaan

Membuat Kesimpulan

Sumber: http://www.Frepository.upi.edu

atau

untuk

Peran guru
Guru membagi siswa dalam beberapa
kelompok.
Guru
membimbing
siswa
mengidentifikasi masalah dan di
tuliskan di papan tulis.
Guru membimbing siswa dalam
menentukan hipotesis yang relevan
dengan
permasalahan
dan
memprioritaskan hipotesis yang akan
digunakan untuk dijadikan prioritas
penyelidikan.
Guru membimbing siswa dalam
menentukan
langkah-langkah
percobaan.
Guru membimbing siswa mendapatkan
data melalui percobaan.
Guru memberikan kesempatan
kepada
tiap
kelompok
untuk
menyampaikan hasil pengolahan data
yang terkumpul.
Guru membimbing siswa dalam
membuat kesimpulan berdasarkan data
yang telah diperoleh.

Peran guru dalam membimbing siswa di setiap tahap pembelajaran inkuiri dapat
dilakukan secara optimal jika guru membuat LKS. LKS yang dibuat dapat
membimbing siswa di semua tahapnya sampai tahap menarik kesimpulan.
E. Metode Eksperimen
Sanjaya (2006: 147) berpendapat metode adalah cara yang digunakan untuk
mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam kegiatan nyata agar tujuan
yang telah disusun tercapai secara optimal. Kusumah (2009: 1) berpendapat metode
adalah cara yang digunakan oleh guru dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar
di kelas sebagai upaya untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan.
Dari dua pendapat di atas, metode adalah cara yang digunakan oleh guru untuk
mengimplementasikan rencana yang sudah disusun pada kegiatan pembelajaran di
kelas untuk mencapai tujuan pembelajaran. Hal ini mengakibatkan, penggunaan
metode merupakan salah satu penentu berhasil tidaknya tujuan yang ingin dicapai.
Dengan demikian, metode berperan penting di dalam kegiatan pembelajaran.
Metode pembelajaran banyak sekali. Setiap metode memiliki karakteristik tertentu
sehingga antara karakteristik metode satu dengan lainnya tidaklah sama. Pemilihan
metode yang sesuai dengan karakteristik setiap mata pelajaran menjadi salah satu
faktor keberhasilan di dalam mencapai tujuan pembelajaran sebagaimana yang telah
dipaparkan pada paragraf sebelumnya. IPA khususnya fisika yang berkaitan dengan
proses penemuan

sangat sesuai menggunakan metode eksperimen. Metode

eksperimen menyajikan pengalaman langsung melalui sebuah percobaan agar siswa


dapat membuktikan sendiri pengetahuan yang diperoleh. Hal ini sejalan dengan
pengertian dari metode eksperimen menurut Djamarah dan Zain (2010: 84),
Metode eksperimen (percobaan) adalah cara penyajian pelajaran, dimana
siswa melakukan percobaan dengan mengalami dan membuktikan sendiri
sesuatu yang dipelajari. Siswa diberi kesempatan untuk melakukan sendiri,

mengikuti suatu proses, mengamati suatu obyek, menganalisis,


membuktikan dan menarik kesimpulan sendiri mengenai suatu obyek,
keadaan atau proses sesuatu.

Sejumlah kegiatan yang mengekspesikan pengalaman langsung didalam metode


eksperimen , yaitu siswa diberi kesempatan untuk melakukan eksperimen sendiri
berdasarkan langkah-langkah yang telah ditentukan, yaitu mengamati suatu objek,
menganalisis, membuktikan, dan menarik kesimpulan. Beberapa kelebihan dari
metode eksperimen juga membuat metode eksperimen sangat tepat digunakan pada
pembelajaran fisika. Hal ini dapat dilihat dari pendapat Trianto (2011: 138),
Kelebihan metode eksperimen:
a) Membuat siswa lebih percaya atas kebenaran atau kesimpulan
berdasarkan percobaannya.
b) Dalam membina siswa untuk membuat terobosan-terobosan baru
dengan penemuan dari hasil percobaannya dan bermanfaat bagi
kehidupan manusia.
c) Hasil-hasil percobaan yang berharga dapat dimanfaatkan untuk
kemakmuran umat manusia.
Berdasarkan kelebihan metode eksperimen menurut pendapat di atas, dapat
disimpulkan bahwa penggunaan metode eksperimen dalam pembelajaran fisika
membuat siswa menemukan sendiri sebuah kebenaran berdasarkan hasil percobaan
yang dilakukannya sehingga adanya sebuah kepercayaan atas sebuah kebenaran.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penyelenggaraan pelaksanaan
praktikum. Hal ini diungkapkan oleh Trianto (2011: 137),
(a) Jumlah alat dan bahan atau materi percobaan harus cukup bagi tiap
siswa.
(b) Kondisi alat dan mutu bahan percobaan yang digunakan harus baik dan
bersih.
(c) Perlu waktu yang cukup lama sehingga mereka menemukan
pembuktian pembenaran dari teori.
(d) Perlu diberi petunjuk yang jelas sebab mereka di samping memperoleh
pengetahuan, pengalaman, serta keterampilan, juga kematangan jiwa
dan sikap.

Secara garis besar, hal yang perlu diperhatikan dalam penggunaan metode
eksperimen adalah pengadaan alat dan bahan dan ketersediaan waktu. Dari segi alat
dan bahan, jumlah alat dan bahan di dalam melakukan sebuah percobaan harus
cukup untuk tiap siswa sehingga siswa dapat merasakan sendiri pengalaman dari
kegiatan percobaan yang dilakukan. Selain itu, kondisi alat dan bahan yang akan
digunakan harus baik dan bersih sehingga sebelum melakukan praktikum atau
percobaan diperlukan persiapan untuk mengecek masing-masing alat dan bahan.
Dari kedua kedua faktor ini, metode eksperimen cocok digunakan dalam kegiatan
praktikum virtual laboratory, dengan pertimbangan: (1) Laptop sebagai alat untuk
melaksanakan praktikum telah cukup untuk tiap siswa, (2) Software PhET yang telah
menyediakan alat dan bahan dalam bentuk maya, membuat kondisi alat dan bahan
untuk percobaan tidak perlu dihawatirkan.
F. Keterampilan Proses Sains (KPS)
Sains (science) diambil dari kata latin scientia yang arti harfiahnya adalah
pengetahuan. Sund dan Trowbribge merumuskan bahwa sains merupakan kumpulan
pengetahuan dan proses. Sedangkan Kuslan Stone menyebutkan bahwa sains adalah
kumpulan pengetahuan dan cara-cara untuk mendapatkan dan mempergunakan
pengetahuan itu. Sains merupakan produk dan proses yang tidak dapat dipisahkan.
(Wikipedia, 2011: 1).
Secara garis besar, dapat ditarik kesimpulan bahwa sains merupakan kumpulan
produk dan proses di mana keduanya tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Sains
sebagai produk merupakan kumpulan pengetahuan yang berupa fakta, konsep,
prinsip, dan hukum. Sedangkan sains sebagai proses merupakan cara-cara untuk
mendapatkan dan mempergunakan pengetahuan tersebut. Hal ini mengakibatkan
pembelajaran sains khususnya fisika tidak hanya menekankan pada penguasaan

kumpulan pengetahuan (produk), tetapi juga proses mendapatkan dan menggunakan


pengetahuan tersebut.
Menurut Blosser dalam Ramli (2011: 1),
Proses pembelajaran sains cenderung menekankan pada pemberian
pengalaman langsung untuk mengembangkan kompetensi dan
menumbuhkan kemampuan berpikir. Pembentukan sikap ilmiah seperti
ditunjukkan oleh para ilmuawan sains dapat dikembangkan melalui
keterampilan-keterampilan proses sains. Keterampilan proses sains dapat
digunakan sebagai pendekatan dalam pembelajaran.
Hal ini menunjukkan bahwa proses penyampaian informasi dalam pembelajaran sains
khususnya fisika ditekankan pada pemberian pengalaman langsung. Pengalaman
langsung diperoleh dengan cara melakukan pembelajaran yang berpusat pada siswa
dan guru berperan sebagai fasilitator agar siswa dapat berpikir, memahami, dan
menghayati pesan yang disampaikan. Pemberian pengalaman langsung, siswa
diharapkan dapat membentuk sikap ilmiah seperti ditunjukkan oleh para ilmuwan
sains, mengembangkan kompetensi, dan menumbuhkan kemampuan berpikir.
Pencapaian tujuan dari pengalaman langsung tersebut, memerlukan keterampilanketerampilan untuk mendapatkan dan mempergunakan pengetahuan. Keterampilanketerampilan ini terangkum dalam KPS.
KPS di dalam sebuah pembelajaran merupakan sebuah pendekatan. Hal ini
dikarenakan siswa tidak berinisiatif sendiri untuk menggunakan KPS di dalam
mendapatkan dan menggunakan pengetahuan. Melainkan keterampilan-keterampilan
yang terdapat di dalam KPS telah dirancang sedemikian rupa agar dapat muncul di
dalam sebuah kegiatan pembelajaran.
Jenis-jenis KPS dan karakteristiknya menurut Rustaman dalam Sidharta (2006: 24),
dapat dilihat dalam Tabel 2.3.

Tabel 2.3 Jenis-jenis Keterampilan Proses Sains


No.
1.

Keterampilan Proses Sains


Kemampuan
Mengamati
(Observasi)

2.

Menafsirkan
(Interpretasi)

3.

Mengelompokkan (Klasifikasi)

4.

Meramalkan (Prediksi)

5.

Berkomunikasi

6.

Berhipotesis

7.

Merencanakan Percobaan atau


Penyelidikan

8.

Menerapkan
Prinsip

Pengamatan

Konsep

atau

Karakteristik
a. Menggunakan indera pengelihat, pembau,
pendengar, pengecap dan peraba.
b. Menggunakan fakta yang relevan dan
memadai.
a. Mencatat setiap hasil pengamatan.
b. Menghubung-hubungkan hasil pengamatan.
c. Menemukan pola atau keteraturan dari suatu
seri pengamatan.
d. Menyimpulkan.
a. Mencari perbedaan.
b. Mengontraskan ciri-ciri.
c. Mencari kesamaan.
d. Membandingkan.
e. Mencari dasar penggolongan atau pola yang
sudah ada.
a. Mengajukan pemikiran tentang sesuatu yang
belum
terjadi
bedasarkan
suatu
kecenderungan.
a. Membaca grafik, tabel, atau diagram.
b. Menjelaskan hasil percobaan.
c. Menyusun dan menyampaikan laporan
secara sistematis dan jelas.
a. Menyatakan hubungan antara dua variabel
atau memperkirakan penyebab sesuatu
terjadi.
a. Menentukan alat dan bahan.
b. Menentukan variabel atau peubah.
c. Menentukan variabel kontrol dan variabel
bebas.
d. Menentukan apa yang diamati, diukur, atau
ditulis.
e. Menentukan cara dan langkah kerja.
f. Menentukan cara mengolah data.
a.
b.

9.

Mengajukan Pertanyaan

a.

Menjelaskan sesuatu peristiwa dengan


menggunakan konsep yang telah dimiliki.
Menerapkan konsep yang telah dipelajari
dalam situasi baru.
Mengajukan pertanyaan meminta penjelasan
tentang apa, mengapa, bagaimana ataupun
menanyakan latar belakang hipotesis.

Berdasarkan tabel di atas, beberapa keterampilan yang dimunculkan dalam


penelitian pengembangan ini adalah keterampilan memprediksi, keterampilan
berhipotesis, keterampilan merencanakan percobaan, keterampilan melakukan

percobaan (observasi), keterampilan menafsirkan pengamatan, dan keterampilan


berkomunikasi.
Menurut Ramli (2011: 1) keterampilan proses dapat diukur dengan tes penampilan.
Tes penampilan (performance assesment) dapat diobservasi, jawabannya secara
tertulis atau lisan. Penilaian KPS dalam penelitian dan pengembangan ini, penulis
memilih penilaian KPS secara lisan (observasi). KPS siswa yang diukur berdasarkan
pengamatan berpadu pada instrumen penilaian yang dibuat. Indikator-indikator KPS
yang dimunculkan dalam instrumen penilaian disesuaikan dengan model yang
digunakan dalam penelitian pengembangan ini (model pembelajaran inkuiri
terbimbing). Indikator-indikator KPS yang disesuaikan dengan model pembelajaran
inkuiri terbimbing dapat dilihat dalam Tabel 2.4.
Tabel 2.4

Fase ke-

1.
2.
3.
4.
5.

6.

Kesesuian Prosedur Model Pembelajaran Inkuiri Terbimbing dengan


Indikator-Indikator Keterampilan Proses Sains (KPS) yang dimunculkan
siswa
Prosedur
Model
Pembelajaran
Inkuiri
Terbimbing
Menyajikan pertanyaan
atau masalah
Membuat hipotesis

Indikator Keterampilan Proses Sains (KPS) yang


dimunculkan siswa

Merancang percobaan
Melakukan
percobaan
untuk memperoleh data
Mengumpulkan dan
menganalisis data

Keterampilan merencanakan percobaan


Keterampilan melakukan percobaan

Membuat Kesimpulan

Keterampilan berkomunikasi

Keterampilan memprediksi
Keterampilan berhipotesis

Keterampilan berkomunikasi dan keterampilan


menafsirkan pengamatan

Ahliswiwite. 2007. LKS Berbasis Web. Diakses November 18, 2011, dari
www.wordpress.com: http://ahliswiwite .files.wordpress.com.

Badan Standar Nasional Pendidkan. 2006. Panduan Penyusunan Kurikulum


Tingkat Satuan Pendidikan Jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah.
BSNP. Jakarta.
Daryanto. 2010. Media Pembelajaran(Peranannya sangat penting dalam
tujuan pembelajaran). Gava Media. Yogyakarta.
Djamarah, Syaiful Bahri dan Aswan Zain. 2010. Strategi Belajar mengajar.
Rineka Cipta. Jakarta.
http://www.Frepository.upi.edu. Diakses April 2, 2012.
http://www.Wikipedia.com. Diakses April 2, 2012.
Nugroho. 2001. Landasan Filosofis Penelitian Pengembangan. Universitas
Negeri Semarang. Semarang.
Ramli, Kamrianti (2011, 21 Maret). Keterampilan Proses Sains (KPS). Diakses
Februari
27,
2012,
dari
www.wordpress.com:
http://kamriantiramli.wordpress.com.
Rusdi, Andi. 2008. Perangkat Pembelajaran. Diakses April 2, 2012, dari www.
Wordpress.com: http://anrusmath.wordpress.com.
Suyanto, Eko. 2006. Penguasaan Teori dan Praktik Membuat Skenario
Pembelajaran Mikro. Makalah Mata Kuliah Strategi Pembelajaran
Fisika. Universitas Lampung. Bandarlampung.
Sahrul. 2009. Macam-macam Model Pembelajaran Inkuiri. Artikel. Diakses
17 Desember 2011 dari http://sahrulgmail.blogspot.com.
Sanjaya, Wina. 2010. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses
Pendidikan Edisi Pertama Cetakan ke-7. Kencana. Jakarta.
Sidharta, Arief. 2006. Model Pembelajaran Asam Basa Berbasis Inkuiri
Laboratorium Sebagai Wahana Pendidikan Sains Siswa SMP. Skripsi
Diakses
Desember
18,
2011,
dari
www.org.com:
http://www.p4tkipa.org/data/A_SIDHARTA.pdf .
Susanti, Dwi. 2009. Virtual Laboratory Use in Optical Activity in Practicum
Inkuiri to Enhance Understanding the Concept of Student Teacher
Candidate. Proceeding of the Third International Seminar on Science
Education (Challenging Science Education in The Digital Era), 356-357.
Susiwi. 2009. Analisis Keterampilan Proses Sains Siswa SMA Pada Model
Pembelajaran Praktikum D-E-H. Pengajaran MIPA Volume 14 Nomor
2, 89-91.

Suyanto, Eko. 2006. Penguasaan Teori dan Praktik Membuat Skenario


Pembelajaran Mikro. Makalah Mata Kuliah Strategi Pembelajaran
Fisika. Universitas Lampung. Bandarlampung.
Suyanto, Eko dan Sartinem. 2009. Pengembangan Contoh Lembar Kerja
Fisika Siswa dengan Latar Penuntasan Bekal Awal Ajar Tugas Studi
Pustaka dan Keterampilan Proses Untuk SMA Negeri 3 Bandarlampung.
Prosiding Seminar Nasional Pendidikan 2009, 322.
Trianto. 2010. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif (Konsep,
Landasan, dan implementasinya pada Kurikulum Tingkat Satuan
Pendidikan (KTSP)). Kencana. Jakarta.
_____. 2010. Pembelajaran IPA Terpadu. Kencana. Jakarta.
_____. 2011. Mengembangkan Model Pembelajaran Tematik Cetakan ke-2.
Prestasi Pustaka. Jakarta.
Uno, Hamzah B. 2006. Perencanaan Pembelajaran. PT. Bumi Aksara.
Jakarta.

1. Prastowo, A. (2012). Panduan Kreatif Membuat Bahan Ajar Inovatif


YogyakartaI Diva Press.
2. Arsyad, A. (2012). Media Pembelajaran. Jakarta: PT Raja Grafindo
Persada.
3. Amri, S. 2010. Proses Pembelajaran kreatif dan inovatif dalam kelas.
Jakarta : Prestasi Pustaka.
4. Trianto. 2007. Model-Model Pembelajaran Inovatif Berorientasi
Konstruktivistik. Jakarta : Prestasi Pustaka.
5. Djamarah, Syaiful Bahri dan Aswan Zain. 2010. Strategi Belajar
mengajar. Rineka Cipta. Jakarta.
6. Trianto. 2010. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif
(Konsep, Landasan, dan implementasinya pada Kurikulum Tingkat
Satuan Pendidikan (KTSP)). Kencana. Jakarta.

7. Trianto. 2011. Mengembangkan Model


Cetakan ke-2. Prestasi Pustaka. Jakarta.

Pembelajaran

Tematik

8. Dimyati dan Mujiono, 2010. Belajar dan Pembelajaran. Rineka Cipta


Jakarta.
9. Suyanto, Eko dan Sartinem, 2009. Pengembangan Contoh LKS
Fisika dengan Latar Penuntasan Bekal Awal Ajar Tugas Studi
Pustaka dan Keterampilan Proses Untuk SMAN3 BL. Prosiding
Seminar Nasional Pendidikan 2009.
10.Wena, Made. 2009. Strategi Pembelajaran Inovatif Kontemporer.
Bumi Aksara Jakarta.
11.Slameto. 2003. Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya.
Rineka Cipta, Jakarta.
12.Indrawati, 1999. Keterampilan Proses Sains: Tinjaun Kritis dari Teori
Ke Praktris. Bandung: Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah.