Anda di halaman 1dari 8

Pelaporan Korporat

Amerina Sitompul

(14/375266/EE/06829)

Nasta Aulia Listi

(14/375349/EE/06911)

Dosen : Singgih Wijayana, S.E., M.Si., Ph.D

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI


AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMIKA DAN BISNIS
UNIVERSITAS GAJAH MADA
2015

Transformasi PT Jamsostek ke BPJS Ketenagakerjaan

Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS)


Menurut Undang-undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial
Nasional dan Undang-undang Nomor 24 Tahun 2011 tentang Badan Penyelenggara Jaminan
Sosial maka BPJS merupakan sebuah lembaga hukum nirlaba untuk perlindungan sosial
dalam menjamin seluruh rakyat agar dapat memenuhi kebutuhan dasar hidup yang layak
sekaligus dibentuk untuk menyelenggarakan program jaminan sosial di Indonesia. BPJS
sendiri terdiri dari dua bentuk yaitu BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan.
Berdasarkan Undang-undang Nomor 24 Tahun 2011 tentang Badan Penyelenggara
Jaminan Sosial, BPJS akan menggantikan sejumlah lembaga jaminan sosial yang ada di
Indonesia yaitu lembaga asuransi jaminan kesehatan PT ASKES, dana tabungan dan asuransi
pegawai negeri PT TASPEN, Asuransi Sosial Angkatan Bersenjata Republik Indonesia PT
ASABRI dan lembaga jaminan sosial ketenagakerjaan PT JAMSOSTEK. Transformasi PT
Askes serta PT JAMSOSTEK menjadi BPJS yang akan dilakukan secara bertahap. Pada
tanggal 01 Januari 2014, PT Askes akan menjadi BPJS Kesehatan, selanjutnya pada tahun
2015 giliran PT Jamsostek menjadi BPJS Ketenagakerjaan.

Tahapan Transformasi BPJS

Transformasi PT JAMSOSTEK (Persero) Menjadi BPJS Ketenagakerjaan


Transformasi PT Jamsostek dilakukan dalam dua tahap yaitu :
1) Tahap pertama adalah masa peralihan PT JAMSOSTEK (Persero) menjadi BPJS
Ketenagakerjaan berlangsung selama 2 tahun, dimulai 25 November 2011 sampai
dengan 31 Desember 2013. Tahap pertama diakhiri dengan pendirian BPJS
Ketenagakerjaan pada 1 Januari 2014.
2) Tahap kedua, adalah tahap penyiapan operasionalisasi BPJS Ketenagakerjaan untuk
penyelenggaraan program jaminan kecelakaan kerja, jaminan hari tua, jaminan
pensiun dan jaminan kematian sesuai dengan ketentuan UU SJSN. Persiapan tahap
kedua berlangsung selambat-lambatnya hingga 30 Juni 2015 dan diakhiri dengan
beroperasinya BPJS Ketenagakerjaan untuk penyelenggaraan keempat program
tersebut sesuai dengan ketentuan UU SJSN selambatnya pada 1 Juli 2015.

Selama masa persiapan, Dewan Komisaris dan Direksi PT Jamsostek (Persero)


ditugasi untuk menyiapkan:
1) Pengalihan program jaminan kesehatan Jamsostek kepada BPJS Kesehatan
2) Pengalihan asset dan liabilitas, serta hak dan kewajiban program jaminan
pemeliharaan kesehatan PT Jamsostek (Persero) ke BPJS Kesehatan.
3) Penyiapan beroperasinya BPJS Ketenagakerjaan berupa pembangunan sistem dan
prosedur bagi penyelenggaraan program jaminan kecelakaan kerja, jaminan hari tua,
jaminan pensiun dan jaminan kematian, serta sosialisasi program kepada publik.
4) Pengalihan asset dan liabilitas, pegawai serta hak dan kewajiban PT Jamsostek
(Persero) ke BPJS Ketenagakerjaan.

Pada 1 Januari 2014 PT Jamsostek (Persero) dinyatakan bubar tanpa likuidasi dan PT
Jamsostek (Persero) berubah menjadi BPJS Ketenagakerjaan. Peraturan Pemerintah No. 36
Tahun 1995 tentang Penetapan Badan Penyelenggara Program Jaminan Sosial Tenaga Kerja
(JAMSOSTEK) dicabut dan dinyatakan tidak berlaku lagi. Semua asset dan liabilitas serta
hak dan kewajiban hukum PT Jamsostek (Persero) menjadi asset dan liabilitas serta hak dan
kewajiban hukum BPJS Ketenagakerjaan. Semua pegawai PT Jamsostek (Persero) menjadi
pegawai BPJS Ketenagakerjaan.

Pada saat pembubaran, Menteri BUMN selaku RUPS mengesahkan laporan posisi
keuangan penutup PT Jamsostek (Persero) setelah dilakukan audit oleh kantor akuntan
publik. Menteri Keuangan mengesahkan posissi laporan keuangan pembukaan BPJS
Ketenagakerjaan dan laporan posisi keuangan pembukaan dana jaminan ketenagakerjaan.
Sejak

Januari

2014

hingga

selambat-lambatnya

30

Juni

2015,

BPJS

Ketenagakerjaan melanjutkan penyelenggaraan tiga program yang selama ini diselenggarakan


oleh PT Jamsostek (Persero), yaitu program jaminan kecelakaan kerja, jaminan hari tua dan
jaminan kematian, termasuk menerima peserta baru. Penyelenggaraan ketiga program
tersebut oleh BPJS Ketenagakerjaan masih berpedoman pada ketentuan Pasal 8 sampai
dengan Pasal 15 UU No. 3 Tahun 1992 tentang Jamsostek.
Selambat-lambatnya pada 1 Juli 2015, BPJS Ketenagakerjaan beroperasi sesuai
dengan ketentuan UU SJSN. Seluruh pasal UU Jamsostek dicabut dan dinyatakan tidak
berlaku. BPJS Ketenagakerjaan menyelenggarakan program jaminan kecelakaan kerja,
jaminan hari tua, jaminan pensiun dan jaminan kematian sesuai dengan ketentuan UU SJSN
untuk seluruh pekerja kecuali Pegawai Negeri Sipil, Anggota TNI dan POLRI.
Untuk pertama kali, Presiden mengangkat Dewan Komisaris dan Direksi PT
Jamsostek (Persero) menjadi aggota Dewan Pengawas dan anggota Direksi BPJS
Ketenagakerjaan untuk jangka waktu paling lama 2 tahun sejak BPJS Ketenagakerjaan mulai
beroperasi. Ketentuan ini berpotensi menimbulkan kekosongan pimpinan dan pengawas
BPJS Ketenagakerjaan di masa transisi, mulai saat pembubaran PT JAMSOSTEK pada 1
Januari 2014 hingga beroperasinya BPJS Ketenagakerjaan pada 1 Juli 2015.

Pelaporan Keuangan Rumah Sakit Badan Layanan Umum

Badan Layanan Umum (BLU) adalah instansi di lingkungan pemerintah yang


dibentuk untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat berupa penyediaan barang dan
atau jasa yang dijual tanpa mengutamakan mencari keuntungan dan dalam melakukan
kegiatannya didasarkan pada prinsip efisiensi dan produktivitas. Peraturan Pemerintah (PP)
No. 23 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum (BLU) adalah
sebagaimana yang diamanatkan dalam Pasal 69 ayat (7) UU No. 1 Tahun 2004 tentang
Perbendaharaan Negara diterbitkan bertujuan untuk meningkatkan pelayanan publik oleh
Pemerintah.
Rumah sakit sebagai salah satu jenis BLU merupakan ujung tombak dalam
pembangunan kesehatan masyarakat. Perkembangan pengelolaan rumah sakit, baik dari
aspek manajemen maupun operasional sangat dipengaruhi oleh berbagai tuntutan dari
lingkungan, yaitu antara lain bahwa rumah sakit dituntut untuk memberikan pelayanan
kesehatan yang bermutu, dan biaya pelayanan kesehatan terkendali sehingga akan berujung
pada kepuasan pasien. Tuntutan lainnya adalah pengendalian biaya.
Standar Pelayanan dan Tarif Layanan Rumah Sakit Pemerintah Daerah yang telah
menjadi BLU/BLUD menggunakan standar pelayanan minimum yang ditetapkan oleh
menteri/pimpinan lembaga /gubernur /bupati /walikota sesuai dengan kewenangannya, harus
mempertimbangkan kualitas layanan, pemerataan dan kesetaraan layanan, biaya serta
kemudahan untuk mendapatkan layanan.

Pelaporan Keuangan Dan Pertanggungjawaban


Sistem Akuntansi Keuangan menghasilkan laporan keuangan pokok berupa Laporan
Realisasi Anggaran/Laporan Operasional, Laporan Posisi Keuangan, Laporan Arus Kas, dan
Catatan atas Laporan Keuangan sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan (SAK) yang
ditetapkan oleh asosiasi profesi akuntansi Indonesia/standar akuntansi industri spesifik dan
Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP).
Laporan keuangan sesuai dengan SAK digunakan untuk kepentingan pelaporan
kepada pengguna umum laporan keuangan BLU dalam hal ini adalah stakeholders, yaitu
pihak-pihak yang berhubungan dan memiliki kepentingan dengan BLU. Sedangkan laporan
keuangan yang sesuai dengan SAP digunakan untuk kepentingan konsolidasi laporan

keuangan BLU dengan laporan keuangan kementrian Negara/lembaga (PMK No.


76/PMK.05/2008).
Laporan keuangan berdasarkan SAK menggunakan PSAK no 45 yaitu standar
akuntansi keuangan untuk organisasi nirlaba.
1. Mengukur jasa atau manfaat entitas nirlaba.
2. Pertanggungjawaban manajemen entitas rumah sakit, (disajikan dalam bentuk laporan
aktivtias dan laporan arus kas).
3. Mengetahui kontinuitas pemberian jasa, (disajikan dalam bentuk laporan posisi
keuangan).
4. Mengetahui perubahan aktiva bersih, (disajikan dalam bentuk laporan aktivitas).

Dengan demikian laporan keuangan rumah sakit pemerintahan akan mencakup:


1. Laporan posisi keuangan (aktiva, utang dan aktiva bersih, tidak disebut neraca).
Klasifikasi aktiva dan kewajiban sesuai dengan perusahaan pada umumnya.
Sedangkan aktiva bersih diklasifikasikan aktiva bersih tidak terikat, terikat
kontemporer dan terikat permanen. Yang dimaksud pembatasan permanen adalah
pembatasan penggunaan sumber daya yang ditetapkan oleh penyumbang. Sedangkan
pembatasan temporer adalah pembatasan penggunaan sumber daya oleh penyumbang
yang menetapkan agar sumber daya tersebut dipertahankan sampai pada periode
tertentu atau sampai dengan terpenuhinya keadaan terntentu.
2. Laporan aktivitas, (yaitu penghasilan, beban dan kerugian dan perubahan dalan aktiva
bersih).
3. Laporan arus kas yang mencakup arus kas dari aktivtitas operasi, aktivtais investasi
dan aktivtias pendanaan.
4. Catatan atas laporan keuangan, antara lain sifat dan jumlah pembatasan permanen
atau temporer dan perubahan klasifikasi aktiva bersih.

Laporan keuangan rumah sakit diaudit oleh auditor independen. Adapun Laporan
Keuangan rumah sakit pemerintah daerah sebagai BLU yang disusun harus menyediakan
informasi untuk:
1. Mengukur jasa atau manfaat bagi entitas yang bersangkutan.

2. Pertanggungjawaban manajemen rumah sakit (disajikan dalam bentuk laporan


aktivitas dan laporan arus kas).
3. Mengetahui kontinuitas pemberian jasa (disajikan dalam bentuk laporan posisi
keuangan).
4. Mengetahui perubahan aktiva bersih (disajikan dalam bentuk laporan aktivitas).

Dalam hal konsolidasi laporan keuangan rumah sakit pemerintah daerah dengan
laporan keuangan kementerian negara/lembaga, maupun laporan keuangan pemerintah
daerah, maka rumah sakit pemerintah daerah sebagai BLU/BLUD mengembangkan sub
sistem akuntansi keuangan yang menghasilkan Laporan Keuangan sesuai dengan SAP.
Laporan Keuangan rumah sakit pemerintah daerah sebelum disampaikan kepada
entitas pelaporan direview oleh satuan pemeriksaan intern, namun dalam hal tidak terdapat
satuan pemeriksaan intern, review dilakukan oleh aparat pengawasan intern kementerian
negara/ lembaga. Review ini dilaksanakan secara bersamaan dengan pelaksanaan anggaran
dan penyusunan Laporan Keuangan BLU. Sedangkan Laporan Keuangan tahunan BLU
diaudit oleh auditor eksternal.
BLU sebagai Instansi Satuan Kerja Perangkat Daerah Dipimpin oleh Pejabat
Pengguna Anggaran yang berwenang/bertugas :
1. Menyusun RKA
2. Menyusun DPA
3. Melaksanakan anggaran belanja satker
4. Melakukan pengujian atas tagihan dan memerintahkan pembayaran
5. Melaksanakan pemungutan penerimaan bukan pajak
6. Mengelola utang dan piutang
7. Menggunakan barang milik Daerah
8. Mengawasi pelaksanaan anggaran
9. Menyusun dan menyampaikan laporan keuangan

Sumber :
http://www.jamsosindonesia.com
http://www.diskes.jabarprov.go.id
PMK RI No. 76 Tahun 2008 Tentang Pedoman Akuntansi dan Pelaporan Keuangan Badan
Layanan Umum
Rhyerhiathy,2012.

Rumah

Sakit

Sebagai

Badan

(https://rhyerhiathy.wordpress.com/2012/12/25/rssebagaibl/)

Layanan

Umum.