Anda di halaman 1dari 14

Keberadaan pohon kina (sebagai obat malaria) di negeri ini memiliki riwayat yang cukup

panjang. Tanaman kina yang pertama kali di Pulau Jawa berasal dari kiriman kebun
percobaan di Leiden, Belanda. Pada tahun 1852, bibit pohon kina tersebut dibawa ke Pulau
Jawa. Namun karena lama di perjalanan, bibit tersebut tiba dalam keadaan sudah layu.
Seorang hortulanus (pengawas) Kebun Raya bernama Teysman berhasil mengambil steknya
dan akhirnya berhasil tumbuh. Pohon itu merupakan pohon kina pertama yang tumbuh di luar
Amerika Latin.(sebelumnya Inggris dan Perancis telah mencoba di negeri jajahan Afrika,
namun karena iklimnya tidak cocok, maka tak sebatangpun bibit kina yang tumbuh).
Konon, pohon kina berasal dari sebuah negara di Amerika Latin bernama Peru. Alkisah, di
suatu daerah, tinggallah seorang bangsawan kaya dan terpandang yang memiliki seorang
anak gadis nan cantik jelita. Gadis itu bernama Comtessa Del Cinchon.
Suatu waktu, tanpa diketahui apa penyebabnya gadis berwajah cantik itu jatuh sakit, suhu
badannya tinggi, namun ia menggigil kedinginan, sesekali mengigau dan mengeluarkan katakata yang tak jelas (ngeromet). Tentu saja orang tuanya bingung, lantas memutuskan
memanggil dukun. Namun, dari beberapa dukun yang dipanggil, menyatakan bahwa Cinchon
mengalami gangguan roh jahat, dan untuk mengusir roh tersebut diperlukan berbagai upaya
melalui upacara ritual.Tapi upaya tersebut tidak mendatangkan hasil, bahkan keadaan
semakin parah, badannya makin kurus, nafsu makan merosot, sehingga orang tuanya makin
kuatir. Untunglah dalam keadaan kritis itu, didatangkanlah seorang dukun dari suku Indian.
Oleh dukun tersebut dibacakan mantra-mantra dan diberi minuman yang terbuat dari kulit
pohon tertentu.
Apa yang terjadi? Keadaan gadis Cinchon berangsur-angsur membaik, tapi ternyata bukan
karena mantra-mantra sang dukun penyebabnya, melainkan berkat kulit pohon yang direbus
menjadi minuman yang sangat pahit rasanya yang diminumkan ke gadis tersebut sehingga
sembuh. Oleh karena itu, pohon yang kulitnya digunakan untuk mengobati demam tersebut
kemudian dinamakan Cinchona.
Kina di Nusantara
Sejarah penanaman kina di Nusantara (Dataran Tinggi Bandung) tidak terlepas dari sejarah
kedatangan orang-orang Eropa ke Nusantara. Kina memiliki peran amat penting bagi mereka
yang bekerja di daerah baru beriklim tropis, dimana banyak di antara mereka terserang

penyakit malaria akibat hutan-hutan dibabat untuk dijadikan perkebunan, sehingga nyamuknyamuk kehilangan habitatnya.
Di Nusantara budi daya tanaman kina dirintis oleh Frans Wilhem Junghuhn, seorang dokter
dan peneliti berkebangsaan Jerman yang bertugas di Hindia Belanda. Kulit kina yang
dijadikan bahan baku obat malaria, pertama kali didatangkan ke Eropa pada tahun 1632.
Dalam kurun waktu setengah abad kemudian, perannya sebagai obat menjadi sangat penting.
Didorong oleh keuntungan dan manfaat yang akan diperoleh, Belanda bernafsu untuk
membudidayakan tanaman tersebut di Nusantara, yang lantas menugaskan Justus Karl
Hasskarl, mantan Direktur Kebun Raya Bogor dan sekaligus teman dekat Junghuhn untuk
mendapatkannya. Hasskarl ditugaskan mencuri bibit tanaman tersebut dari negeri asalnya,
dan rupanya ia berhasil menjalankan tugas dengan baik. Bibit dan 121 peti berisi bibit pohon
kina jenis Caliyasa berhasil diselundupkan di bawah kawalan kapal perang Belanda.
Karena waktu tempuh yang lama, tidak semua bibit berhasil diselamatkan. Dari sebanyak 70
bibit yang masih hidup, kemudian ditanam di Cibodas, Puncak (Jawa Barat). Tugas
membudidayakan tanaman tersebut diserahkan kepada Junghuhn pada tahun 1855.
Tetapi, karena lokasinya kurang tepat, Junghuhn kemudian memilih lereng-lereng barat
Gunung Malabar di daerah Pangalengan, Bandung Selatan. pilihan tersebut terbukti sangat
tepat karena suhu dan curah hujan di saerah tersebut sangat cocok untuk tanaman kina.
Pada tahun 1865, setahun setelah Junghuhn meninggal, budi daya tanaman kina berlangsung
secara besar-besaran di daerah Bandung Utara. Ketika itu pemerintah Hindia Belanda
mendatangkan sebanyak 500 gram benih kina dari jernis Ledgerianayang diperoleh dari
Bolivia. Satu gram berisi 2.800 biji.
*****
Budi daya tanama kina di Nusantara dengan berbagai tantangan, merupakan pengalaman
tersendiri. Sebagai tanaman bukan asli Nusantara, budi daya kina membutuhkan perlakuan
khusus, di samping iklim yang cocok dengan negeri asalnya. Setelah dilakukan beberapa kali
eksperimen, kina dapat tumbuh dengan baik di Dataran Tinggi bandung, sehingga
didirikanlah pabrik kina di kota Bandung, yang bernama Bandoengsche Kinine Fabriek
N.V, dimana pabrik kina merupakan industri paling tua di kota ini.

Pabrik kina tersebut yang kini menjadi PT (Pesero) Kimia Farma, didirikan tahun 1896,
merupakan tonggak sejarah Dataran Tinggi Bandung di dunia Internasional sebagai pemasok
kina paling besar di dunia. Pabrik hasil rancangan arsitek Gnelig Mijling A.W, dengan gaya
arsitektur art deco itu, bertugas mengolah kulit kina yang didatangkan dari dareah pusat
produksi di Pangalengan dan Lembang.
Bandoengsche Kimia Fabriek N.V., mencapai masa jayanya sampai menjelang Perang Dunia
Kedua. Saat itu, Belanda betul-betul menikmati keuntungan besar dari perdagangan kina. Jika
tahun 1875 produksi kina baru mencapai 22 ton, maka pada tahun 1895 sudah meningkat
menjadi 1.000 ton. Produksi kulit kina terus meningkat sejalan dengan makin luasnya area
perkebunan tersebut. Menjelang Perang Dunia Kedua, di Indonesia tercatat tidak kurang dari
107 unit kebun kina dengan luas sekitar 18.000 hektar, dengan produksi sekitar 11.00012.000 ton kulit kering. Namun dari jumlah itu, yang diolah Bandoengsche Kinine Fabriek
N.V. hanya sekitar 4.000 ton, sisanya sebesar 7.000-8.000 ton dikirim ke luar negeri.
Sehingga pada abad ke 20, Pulau Jawa menjadi terkenal karena menghasilkan lebih dari 90
persen produksi kina dunia.
Namun, seiring dengan pecahnya PD II, kondisi perkebunan kina tidak bisa dipertahankan.
Perang telah mengakibatkan kina Indonesia kehilangan pasar. Akibatnya, perkebunan kina
menjadi terlantar, bahkan banyak diantaranya yang diganti dengan komoditi lain. Ketika pada
tahun 1957-1958 terjadi pengambil-alihan perkebunan Belanda, luas areal tanaman kina
hanya sekitar 50% dengan produksi kulit kina sekitar 36 % dibanding sebelum PD II.
Nasib perkebunan kina makin parah, ketika tahun 1965 terjadi penjarahan besar-besaran.
Tanaman kina dibabat secara membabi buta, dikuliti lalu dijemur kemudian hasilnya dijual
kepada penadah yang siap menampung. Sampai tahun 2005, areal perkebunan kina di Jawa
barat tinggal 4.400 hektar, produksinya hanya sekitar 1.000 ton, jauh dibanding sebelum PD
II yang mencapai 12.000 ton kulit kering. Sehingga Indonesia yang semula dikenal sebagai
pengekspor kina terbesar, kini harus mengimpor kulit kina yang setiap tahunnya mencapai
3.000-3.500 ton.
Di Jawa barat, daerah perkebunan kina di Pangalengan terletak di Cikembang, Purbasari, dan
Malabar. Di daerah Ciwidey, terdapat di Rancabolang dan Rancabali. Sebagian lagi terdapat
di dareah Lembang dan Subang. Sebagian besar (90%), tanaman kina milik perkebunan
negara, sisanya dikelola oleh rakyat dan perkebunan swasta.

Data terakhir (Dinas Perkebunan Jabar) menunjukkan bahwa produksi kina makin menurun.
Sejak tahun 2003-2005, produksi kina Jawa barat terus merosot rata-rata 13,8%/tahun. Tahun
2003, tercatat 1.116,60 ton, tahun 2004 sebesar 1.066,03 ton, dan tahun 2005 hanya 819,67
ton
http://sejarah.kompasiana.com/2011/10/26/kina-riwayatmu-dulu-dan-kini-404356.html
bembeng je susilo

Angin yang kencang dan lama menyebabkan banyak kerusakan karena patahnya cabang dan
gugurnya daun. Curah hujan tahunan untuk lokasi budidaya kina yang ideal adalah 2.0003.000mm/tahun dan merata sepanjang tahun. Tanaman ini memerlukan penyinaran matahari
yang tidak terlalu terik. Tanaman tumbuh baik pada temperatur antara 13,5-21 derajat
C.Tanaman menghendaki daerah beriklim lembab dengan kelembaban relatif harian
minimum dalam satu tahun 68 % dan 97 %

PAHITNYA KINA DULU TAK SEPAHIT KINA KINI


22 November 2014 Dibaca: 445x

Anda pasti masih mengingat peribahasa Habis manis sepah dibuang yang bermakna
sesuatu itu dimanfaatkan apabila ada perlunya dan setelah tidak berguna akan dicampakkan
atau ditinggalkan begitu saja. Rasanya nasib tanaman kina hampir mirip dengan arti
peribahasa tersebut karena kina saat ini mulai dilupakan dan tersingkirkan keberadaannya
oleh komoditi lain yang dianggap lebih komersial, padahal zaman dahulu disaat mata pasar
dunia tertuju pada kina Indonesia, tanaman ini menjadi primadona para pengusaha
perkebunan serta menjadi andalan pemerintah kolonial masa itu.
Kina rasanya memang pahit, dan karena rasa pahitnya itu maka kina diburu banyak orang.
Kandungan zat kimia pada tanaman kina dianggap mujarab untuk menyembuhkan penyakit
malaria yang pada awal abad ke-20 penyakit itu sangat mewabah di berbagai belahan dunia
termasuk di wilayah Hindia Belanda (Indonesia). Sehingga pada masa itu agribisnis kina
berkembang cukup pesat serta membuahkan keuntungan yang sangat manis.
Jaman terus berubah, perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan semakin maju,
termasuk teknologi pengobatan malaria yang dulu sangat tergantung pada kina maka kini
lambat laun peran kina tersebut semakin berkurang, sehingga akhirnya rasa pahit kina
semakin terasa pahit karena mulai ditinggalkan jaman. Itulah sebabnya Pahit Kina Dulu Tak
Sepahit Kina Kini.
Mengenal Tanaman Kina

Sepintas melihat pohonnya tak disangka tanaman ini merupakan tanaman obat, beberapa
penyakit ternyata dapat diatasi dengan alkaloid kinine yang terkandung dalam kulit kina.
Tanaman Kina (Cinchona sp.) merupakan tanaman yang berasal dari Amerika Selatan,
habitatnya terhampar di sepanjang pegunungan Andes yang meliputi wilayah Venezuela,
Colombia, Equador, Peru sampai ke Bolivia.
Banyak pendapat tentang asal muasal kata kina atau Chinchona, antara lain ada yang
mengatakan berasal dari bahasa Inca yaitu quina atau china yang berarti kulit penghindar
penyakit demam, ada juga yang menyebutkan bahwa sebutan Cinchona itu konon berasal
dari nama seorang permaisuri Raja Muda Peru, ada juga yang berpendapat
kata Chinchona berasal dari nama seorang gadis yang menderita penyakit malaria dengan
minum rebusan kulit batang pohon kina si gadis yang bernama Comtessa Del Cinchon itu
berangsur-angsur sembuh dari sakitnya. Pendapat lainnya juga mengatakan bahwa kata
kina berasal dari seorang warga Spanyol bernama gravin Del Chincon yang mengenalkan
khasiat kulit kina ke Eropa. Apapun yang menjadi asal usul kata Chinchona, yang pasti pohon
tersebut kini nama kina (Chinchona) telah melekat dalam ingatan warga Jawa Barat sebagai
tempat dimana pohon itu dulu pernah dibudidayakan dengan baik. Kina rasanya memang
sangat pahit dan telah menghantarkan para pebisnis tanaman kina zaman dulu merasakan
manisnya profit yang didapatkan dari agribisnis kina. Konon khabarnya puncak kejayaan kina
di Indonesia dialami hingga pecah Perang Dunia II, dimana lebih dari 90 persen kebutuhan
bubuk kina dunia dihasilkan dari perkebunan kina di wilayah Priangan seluas 17.000 ha
dengan volume sekitar 11.000-12.400 ton kulit kina kering per tahun.
Menurut catatan sejarah, tanaman kina pertama kali dibawa ke Pulau Jawa berasal dari
kiriman kebun percobaan di Leiden, Belanda. Pada tahun 1852 bibit pohon kina tersebut
dibawa ke Pulau Jawa, namun konon karena lama di perjalanan bibit tersebut tiba dalam
keadaan sudah layu. Seorang hortulanus (pengawas) Kebun Raya bernama Teysman berhasil
mengambil steknya dan akhirnya berhasil tumbuh. Pohon tersebut merupakan pohon kina
pertama yang tumbuh di luar Amerika Latin (sebelumnya Inggris dan Perancis telah mencoba
di negeri jajahan Afrika, namun karena iklimnya tidak cocok, maka tak sebatangpun bibit
kina yang tumbuh). Kemudian pada tahun 1854 sebanyak 500 bibit kina didatangkan dari
Bolivia dan ditanam di Cibodas hingga tumbuh sebanyak 75 pohon yang terdiri atas 10 klon.

Menurut deskripsinya tanaman kina dibagi dalam 3 species yaitu Chinchona succirubra,
Chinchona calisaya dan Chinchona ledgeriana. Namun demikian di Indonesia, hanya 2
spesies yang dianggap penting yaitu C. succirubra Pavon (kina succi) yang biasa dipakai
sebagai batang bawah dan C. ledgriana (kina ledger) sebagai bahan tanaman batang atas.

Kulit kina banyak mengandung alkaloid-alkaloid yang berguna untuk obat. Di antara alkaloid
tersebut ada dua alkaloid yang sangat penting yaitu kinine untuk penyakit malaria
dan kinidine untuk penyakit jantung. Manfaat lain dari kulit kina ini antara lain adalah untuk
depuratif, influenza, disentri, diare, dan tonik. Kulit kina kering jemur dari batang utama di
perkebunan kina Indonesia mempunyai standar mutu yang memenuhi persyaratan
Internasional yaitu memiliki kadar kinin sulfat pada kelas SQ7 (garam kina yang
mengandung quinine sulphate, quinine bisulphate, dan kandungan lain). Kelas kualitas ini
bahkan lebih besar daripada yang dihasilkan di Afrika.

Perkembangan Agribisnis Kina di Jawa Barat


Tanaman kina (Chincona sp.) pernah melambungkan nama tanah priangan ke seantero jagat
raya, hal ini dikarenakan lebih dari 90 persen kebutuhan bubuk kina dunia dipasok dari
berbagai perkebunan kina yang terdapat di dataran tinggi Bandung, yaitu di daerah
pangalengan dan di bukit tunggul lembang, yang ditanam di perkebunan milik PTPN VIII.
Meskipun jumlah populasi tanaman kina saat ini jauh menurun dibandingkan dengan puluhan
tahun lalu, namun Jawa Barat hingga kini masih menjadi produsen utama kina nasional.
Disamping Jawa Barat memang kina dibudidayakan juga di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan
Sumatera Barat. Tak dipungkiri, karena pilihan pertimbangan aspek bisnis maka komoditas
kina saat ini mulai dibatasi, bahkan pada beberapa kebun keberadaannya sudah diganti
dengan jenis komoditas lainnya. Tentu saja saat ini tumbuhan penghasil kinine ini tersebut
semakin diabaikan keberadaannya dengan hadirnya berbagai tanaman perkebunan lainnya
yang dianggap lebih bernilai ekonomis

Di Jawa Barat, daerah perkebunan kina di Pangalengan terletak di Cikembang, Purbasari, dan
Malabar. Di daerah Ciwidey, terdapat di Rancabolang dan Rancabali. Sebagian lagi terdapat
di daerah Lembang dan Subang. Sebagian besar (90%), tanaman kina milik perkebunan
negara, sisanya dikelola oleh rakyat dan perkebunan swasta.
Data terakhir (statistik Dinas Perkebunan Jawa Barat tahun 2013) menunjukkan bahwa luas
lahan pertanaman kina dan produksi kina makin menurun. Sejak tahun 2003-2005, produksi
kina Jawa Barat terus merosot rata-rata 13,8%/tahun. Tahun 2003, tercatat 1.116,60 ton, tahun
2004 sebesar 1.066,03 ton, dan tahun 2005 hanya 819,67 ton. Dan ironisnya luas lahan
pertanaman kina di Jawa Barat pada tahun 2013 hanya tersisa 1.147 Ha dengan produksi 285
ton dan produktivitas 448 kg/Ha. Dari luasan tersebut terdapat perkebunan rakyat seluas 320
Ha (Kab. Bandung, Cianjur, Garut, dan Majalengka), perkebunan besar swasta seluas 211 Ha
(Kab. Cianjur), perkebunan negara seluas 635 Ha (Kab. Bandung Barat). Dengan
perbandingan tersebut jelas terlihat bahwa perkebunan besar negara masih mendominasi
luasan pertanaman kina di Jawa Barat.
Salah satu perusahaan negara yang saat ini masih mengembangkan tanaman kina adalah
PTPN VIII yang terdapat di kebun Bukit Unggul, dimana Core bussines kebun bukit unggul
adalah kina dan teh. Kebun bukit unggul terdiri dari 5 afdeling (bagian) yaitu afdeling bukit
unggul (ex afdeling kebun pangheotan), afdeling puncak gedeh (ex afdeling kebun
kertamanah), afdeling cikembang (ex afdeling kebun talun santosa), afdeling bungamelur (ex
afdeling kebun goalpara) dan afdeling cibitu (ex afdeling kebun rancabali), namun saat ini ke
5 afdeling tersebut dirubah menjadi 2 afdeling yaitu bukit unggul dengan tanaman utamanya
kina dan afdeling sukawana (kebun buna) dengan tanaman teh.
Kebun bukit tunggul memiliki topografi berbukit dengan ketinggian tempat 1.200 1.650
meter di atas permukaan laut, mayoritas jenis tanah tergolong andosol. Luas areal konsesi
kebun bukit unggul tahun 2014 tercatat seluas 1.026,59 Ha yang tersebar di dua kabupaten
yaitu Kabupaten Bandung dan Kabupaten Bandung Barat dengan komoditi tanaman teh
seluas 250,26 Ha dan tanamankina seluas 776,33 Ha. Luas pertanaman teh terdiri dari
Tanaman Menghasilkan (TM) seluas 195,40 Ha, Tanaman Belum Menghasilkan (TBM)
seluas 13,62 Ha, cadangan murni seluas 46,39 Ha, emplasemen seluas 4,89 Ha, lain lain 2
Ha. Sedangkan luas pertanaman kina terdiri dari Tanaman Menghasilkan (TM) seluas 468,76
Ha, Tanaman Belum Menghasilkan (TBM) seluas 214,49 Ha (TBM I = 46,5 Ha; TBM II =

69,99 Ha; TBM III = 50 Ha; TBM IV = 48 Ha), TBM Jeruk 15,22 Ha, pesemaian 10,10 Ha,
emplasemen 31,19 Ha, areal lainnya 10,91 Ha, cadangan 26,43 Ha intercroping KKE 447,20
Ha
Tujuan awal penanaman kina di Jawa Barat sangat berbeda dengan tujuan penanaman kopi
dan teh yang pada saat itu harganya sangat tinggi. Penanaman kina hanya sekedar menjaga
agar tanaman kina tidak punah karena terbukti mampu mengobati penyakit malaria,
sementara pengembangan tanaman kopi dan teh semata-mata karena keperluan bisnis dimana
harga produk kopi dan teh sangat tinggi, lebih tinggi dibanding harga kina.
Dilihat dari aspek ekologis, keberadaan tanaman kina sebenarnya mempunyai keunggulan,
dimana tanaman tersebut mempunyai perakaran yang kuat, sehingga dapat diandalkan untuk
mencegah erosi tanah maupun menyimpan cadangan air tanah. Dulu sebanyak 6.000 pohon
kina yang pernah tertanam di Hulu Citarum diakui mampu menjadi areal tangkapan resapan
air yang mencegah banjir dan erosi. Namun kini, ketika memandangi hulu Sungai Citarum,
ternyata sudah tak tampak satu pun pohon kina yang tersisa. Semuanya gundul, rata dan telah
berganti fungsi menjadi kebun sayuran.
Informasi yang diperoleh dari pengelola Kebun Bukit Tunggul, bahwa sejak beberapa puluh
tahun yang lalu jumlah perkebunan kina di Jawa Barat semakin menurun, penyebabnya
antara lain bahwa tanaman kina banyak yang rusak karena perang, disamping itu hubungan
Indonesia dengan negara pengimpor kina terputus sehingga industri kina indonesia
kehilangan pasar. Penyebab lainnya adalah industri produk turunan kina dalam negeri
perkembangannya tidak mengembirakan, oleh karena itu sebagai konsekwensi pertimbangan
bisnis maka pihak perusahaan perkebunan banyak mengonversi tanaman kina ke jenis
tanaman perkebunan lainnya yang dinilai lebih menguntungkan.
Pada saat ini kebun Bukit Tunggul memiliki dua buah pabrik yaitu pabrik pengolahan kulit
kina dan teh. Untuk pengolahan kulit kina sendiri memiliki kapasitas olah sebesar 3 ton kulit
kina kering tepung (K3T) per hari sedangkan untuk pengolahan teh CTC bisa mencapai
kapasitas olah 8-12 ton/hari. Hasil akhir pabrik pengolah kulit kina kebun bukit tunggul saat
ini hanya sampai tepung kulit kina, sedangkan untuk pengolahan selanjutnya sampai menjadi
produk akhir (garam kina) dilakukan oleh PT. Sinkona Indonesia Lestari (PT.SIL) sebagai
anak perusahaan PTPN VIII. Selanjutnya produk akhir dari perusahaan ini diekspor ke benua
Eropa, Kanada dan Amerika.

Peluang dan Tantangan Pengembangan Agribisnis Kina


Pahitnya agribisnis kina pada saat ini kiranya bisa kembali dirubah menjadi manis, dalam arti
agribisnis kina bisa kembali menggeliat menghasilkan pundi-pundi keuntungan bagi bangsa
dan negara. Terlebih lagi konon katanya produk turunan kina sekarang bukan hanya sekedar
untuk obat malaria saja, tetapi juga untuk bahan asupan bagi industri minuman atau jenis
obat-obatan lainnya.
Untuk tujuan pengembangan agribisnis kina selanjutnya, sebaiknya perlu difahami dulu
kondisi peluang dan tantangannya. Berdasarkan kajian pengamatan lapangan dan berbagai
literatur, maka diperoleh rangkuman kondisi peluang dan tantangan sebagaimana yang
disajikan dalam bentuk analisis swot berikut ini:

FAKTOR INTERNAL
Kekuatan/Strength (S)

Kelemahan/Weakness (W)

Ketersediaan potensi sumber daya lahan

Kurangnya minat pelaku usaha

Ketersediaan industri pengolahan hasil perkebunan

Rendahnya penggunaan teknologi

yang memadai

pengolahan hasil perkebunan

Mempunyai standar mutu yang memenuhi

Memiliki puncak pemasaran yang

persyaratan Internasional yaitu memiliki kadar

terbatas

kinin sulfat pada kelas SQ7


FAKTOR EKSTERNAL
Peluang/Opportunity (O)

Tantangan/Threat (T)

Potensi pasar masih tinggi

Tingkat persaingan semakin ketat

Penelitian tentang manfaat kina makin

Manfaat kina semakin beragam

berkembang
Produksi kina di negara negara penghasil mulai

Produksi harus ditingkatkan

menurun

Berdasarkan analisis SWOT diatas, kiranya dapat kita jabarkan kedalam beberapa strategis
berikut ini:
Pemanfaatankan kekuatan yang dimiliki untuk menangkap peluang yang tersedia yaitu:
1.Potensi sumber daya lahan yang tersedia dapat mendukung pengembangan kina untuk
memenuhi produksi kina dunia
2.Keunggulan kadar kinin sulfat pada kelas SQ7 (garam kina yang mengandung quinine
sulphate, quinine bisulphate, dan kandungan lain) menjadi peluang besar untuk
menguasai pasar dunia yang masih tinggi potensinya
3.Industri pengolahan hasil kina yang tersedia dapat ditingkatkan kemampuannya untuk
menghasilkan berbagai macam bahan obat, bahan baku kosmetika, minuman penyegar
dan industri penyamakan.
Menjadikan peluang yang ada untuk memperbaiki kelemahan yaitu:
1.Untuk mengatasi tingkat persaingan yang semakin ketat dilakukan dengan pemanfaatan
potensi pasar seoptimal mungkin
2.Manfaat kina yang semakin beragam dapat diketahui melalui penelitian dan kajian yang
semakin berkembang.
3.Menurunnya produksi kina dari negara negara penghasil dapat dimanfaatkan untuk
meningkatkan produksi kina Indonesia
Kekuatan yang dimiliki dapat dimanfaatkan untuk menangkis tantangan yang akan datang
yaitu:

1.Dengan ketersediaan potensi sumber daya lahan yang besar, dapat meningkatkan
produksi
2.Dengan adanya industri pengolahan hasil kina yang memadai, dapat mendukung
pemenuhan kebutuhan kina yang semakin beragam manfaatnya
3.Dengan mempunyai standar mutu yang memenuhi persyaratan internasional (kadar
kinin sulfat pada kelas SQ7), dapat meningkatkan daya saing dalam tingkat persaingan
yang semakin ketat.
Menjadikan tantangan yang ada untuk mengurangi kelemahan yang dimiliki yaitu:
1.Dengan persaingan yang semakin ketat, diupayakan tetap mampu bertahan pada puncak
pemasaran yang terbatas.
2.Dengan semakin beragamnya manfaat kina, diupayakan agar teknologi pengolahan
hasil kina dapat mengikutinya.
3.Dengan peningkatan produksi, diharapkan minat pelaku usaha untuk mengembangkan
kina semakin bertambah
Kesimpulan
Berdasarkan 12 strategi yang diuraikan di atas maka dapat memberikan gambaran bahwa:
1.Saat ini merupakan saat yang dianggap tepat untuk melakukan intensifikasi dan
ekstensifikasi perkebunan kina.
2.Prospek agribisnis kulit kina sebenarnya sangat cerah, karena permintaan pasar
internasional semakin meningkat, sementara kebutuhan pasar tersebut belum terpenuhi
oleh negara negara penghasil kina.
3.Mutu kina Indonesia yang sangat prima (SQ7), mejadi salah satu modal besar untuk
menghantarkan produk kina Indonesia menjadi produk yang diperhitungkan pasar dunia.
4.Kulit kina merupakan bahan baku obat penyakit malaria, penyakit jantung, kosmetika,
minuman penyegar dan industri penyamakan, yang banyak dibutuhkan oleh manusia.

1.Data Statistik Perkebunan Provinsi Jawa Barat, 2014.


2.Profil Kebun Bukit Tunggul PTPN VIII, 2014

3.Sultoni, A. 1995. Petunjuk Kultur Teknis Tanaman Kina. Asosiasi Penelitian dan
Pengembangan Perkebunan Indonesia. Pusat Penelitian Teh dan Kina Gambung.
Jakarta, Februari 2000 Sumber : Sistim Informasi Manajemen Pembangunan di
Perdesaan, BAPPENAS Editor : Kemal Prihatman

Sumber : Dinas Perkebunan


Penulis : Siti Purnama
http://disbun.jabarprov.go.id/index.php/artikel/detailartikel/62

belakangan ini tantangan produk kina asal Indonesia pun mengalami tantangan, di
antaranya akibat ketidakpastian harga pada pasar internasional yang dialami sejak
beberapa tahun terakhir. Kondisi ini disebabkan oleh masih gelap-nya kejelasan harga
dan produksi di pasar internasional selama beberapa tahun terakhir. Direktur Utama PT
Sinkona Indonesia Lestari (SIL), Imam Wahyudi, pernah menyebutkan, harga pasaran
kina dunia menjadi cenderung terdikte oleh pembeli. Parahnya, berbagai produsen kina
setengah jadi kemudian menjadi saling menawarkan harga yang rendah, sekadar
berharap memperoleh pasaran secara cepat.
Menurutnya, produsen utama produk kina setengah jadi di dunia sampai kini terutama
Indonesia (PT SIL dan PT Kimia Farma), Jerman (Buchler), disusul Belanda,
Bangladesh, dan dikabarkan India membangun pabrik pengolahan. Namun, di antara
mereka, saingan Indonesia hanya Buchler Jerman karena memiliki peralatan lebih
modern.
Produk kina setengah jadi dari PT SIL sendiri, dikatakan Imam Wahyudi, umumnya dijual
dalam bentuk garam kina, dengan pasar utama ke AS, Eropa, dan beberapa negara
Asia, untuk bahan farmasi dan bahan minuman. Sedangkan produksi kina untuk obat,
selama ini dilakukan PT. Kimia Farma. Namun menurut sejumlah sumber di PT. Kimia
Farma Bandung, karena pasokan kina nasional sendiri kurang mencukupi, membuat
produksi pil kina pun menjadi harus disesuaikan dengan suplai kina yang ada.
Harian Umum Pikiran Rakyat 7 April 2006