Anda di halaman 1dari 9

WATER TREATMENT

Pengolahan Air (Water Treatment Plant), meliputi :


o
o
o
o

Clarification System : Coagulation, Flocculation, Sedimentation, Flotation


Filtering System : Gravity Filter, Pressure Filter, Membrane Filtration (Ultra Filtration,
Nanofiltration, Reverse Osmosis)
Disinfection System : chlorination System, Ozone, UV System
Water Conditioning : Iron Removal, Softener, Demin Plant, dll
Pengolahan Air Limbah (Wastewater Treatment Plant), meliputi :

Biological Treatment :
Aerobic : RBC (Rotating Biological Contactor), Activated Sludge/Extended aeration, Bionet,
Trickling Filter dll.
Anaerobic Treatment
Physical-Chemical Treatment : Oil-Water Separator, Dissolved Air Flotation (DAF) System,
Neutralization, Precipitation, Sludge Dewatering System dll.

Sistem pengelolaan air dikenal dengan istilah Water Treatment. Ada beberapa tahap
pengelolaan air yang harus dilakukan sehingga air tersebut bisa dikatakan layak untuk
dipakai. Namun, tidak semua tahap ini diterapkan oleh masing-masing pengelola air,
tergantung dari qualitas sumber airnya.
Sebagai contoh, jika sumber airnya berasal dari dalam tanah (ground water), sistem
pengelolaan airnya akan lebih sederhana dari pada yang sumber airnya berasal dari sumber
air permukaan, seperti air sungai, danau atau laut. Karena air yang berasal dari dalam tanah
telah melalui penyaringan secara alami oleh struktur tanah itu sendiri dan tidak terkontak
langsung dengan udara bebas yang mengandung banyak zat-zat pencemaran air.
Berbeda halnya dengan sumber air permukaan yang mudah sekali tercemar. Namun demikian
air yang berasal dari dalam tanahpun akan jadi tercemar juga jika sistem penampungan dan
penyalurannya tidak bagus.
Secara umum proses pengolahan air dibagi dalam 3 unit, yaitu:
1. Unit Penampungan Awal (Intake)
Unit ini dikenal dengan istilah unit Sadap Air (Intake). Unit ini berfungsi sebagai tempat
penampungan air dari sumber airnya. Selain itu unit ini dilengkapi dengan Bar Sceen yang
berfungsi sebagai penyaring awal dari benda-benda yang ikut tergenang dalam air seperti
sampah daun, kayu dan benda2 lainnya.
2. Unit Pengolahan (Water Treatment)

Pada unit ini, air dari unit penampungan awal diproses melalui beberapa tahapan:
a. Tahap Koagulasi (Coagulation)
Pada tahap ini, air yang berasal dari penampungan awal diproses dengan menambahkan zat
kimiaTawas (alum) atau zat sejenis seperti zat garam besi (Salts Iron) atau dengan
menggunakan sistem pengadukan cepat (Rapid Mixing). Air yang kotor atau keruh umumnya
karena mengandung berbagai partikel koloid yang tidak terpengaruh gaya gravitasi sehingga
tidak bisa mengendap dengan sendirinya. Tujuan dari tahap ini adalah untuk menghancurkan
partikel koloid (yang menyebabkan air keruh) tadi sehingga terbentuk partikel-partikel kecil
namun masih sulit untuk mengendap dengan sendirinya.
b. Tahap Flokulasi (Flocculation)
Proses Flokulasi adalah proses penyisihan kekeruhan air dengan cara penggumpalan partikel
untuk dijadikan partikel yang lebih besar (partikel Flok). Pada tahap ini, partikel-partikel
kecil yang terkandung dalam air digumpalkan menjadi partikel-partikel yang berukuran lebih
besar (Flok) sehingga dapat mengendap dengan sendirinya (karena gravitasi) pada proses
berikutnya. Di proses Flokulasi ini dilakukan dengan cara pengadukan lambat (Slow Mixing).
c. Tahap Pengendapan (Sedimentation)
Pada tahap ini partikel-patikel flok tersebut mengendap secara alami di dasar penampungan
karena massa jenisnya lebih besar dari unsur air. Kemudian air di alirkan masuk ke tahap
penyaringan di Unit Filtrasi.
d. Tahap Penyaringan (Filtration)
Pada tahap ini air disaring melewati media penyaring yang disusun dari bahan-bahan
biasanya berupa pasir dan kerikil silica. Proses ini ditujukan untuk menghilangkan bahanbahan terlarut dan tak terlarut.
Secara umum setelah melalui proses penyaringan ini air langsung masuk ke unit
Penampungan Akhir. Namun untuk meningkatkan qualitas air kadang diperlukan proses
tambahan, seperti:
- Proses Pertukaran Ion (Ion Exchange)
Proses pertukaran ion bertujuan untuk menghilangkan zat pencemar anorganik yang tidak
dapat dihilangkan oleh proses filtrasi atau sedimentasi. Proses pertukaran ion juga digunakan
untuk menghilangkan arsenik, kromium, kelebihan fluorida, nitrat, radium, dan uranium.
- Proses Penyerapan (Absorption)
Proses ini bertujuan untuk menyerap / menghilangkan zar pencemar organik, senyawa
penyebab rasa, bau dan warna. Biasanya dengan membubuhkan bubuk karbon aktif ke dalam
air tersebut.
- Proses Disinfeksi (Disinfection)
Sebelum masuk ke unit Penampungan Akhir, air melalui Proses Disinfeksi dahulu. Yaitu

proses pembubuhan bahan kimia Chlorine yang bertujuan untuk membunuh bakteri atau
mikroorganisme berbahaya yang terkandung di dalam air tersebut.
3. Unit Penampung Akhir (Reservoir)
Setelah masuk ke tahap ini berarti air sudah siap untuk didistribusikan ke masyarakat.

Pengelolaan Air Limbah


Air limbah industri mengandung bahan pencemaran yang dapat berupa bahan pencemaran
umum dan bahan beracun. Bahan pencemaran umum adalah bahan-bahan yang secara tidak
langsung membahayakan kesehatan manusia, yaitu bahan organik, lumpur, minyak, asam dan
alkali, garam nutrien (garam N dan P), warna, bau, panas, dan bahan anorganik. Air limbah
yang mengandung bahan-bahan pencemaran tersebut apabila tingkat konsentrasinya cukup
tinggi akan mengganggu pengguna air, membuat kehidupan manusia pengguna air menjadi
tidak nyaman, atau merusak ekosistem . Bahan beracun adalah bahan-bahan yang dapat
memberikan pengaruh langsung terhadap manusia meskipun diberikan dalam jumlah sedikit.
Manusia akan keracunan bahan tersebut apabila bahan-bahan tersebut terkandung dalam air
yang diminum, atau dalam produk laut dan produk pertanian yang dimakan. Menurut
jenisnya bahan beracun dari industri manufaktur dapat digolongkan dalam 3 kelompok, yaitu:

Logam berat.
Bahan-bahan hasil sintesa kimia, seperti bahan farmasi, sianida, pestisida, PCB,
deterjen, katalis, dan lain-lain.
Bahan hasil samping (by product) dari suatu proses kimia yang bersifat racun,
contohnya dioxin dari pembakaran bahan organik.
Apabila air limbah yang mengandung bahan pencemaran tersebut langsung dialirkan ke
sungai atau danau akan mengakibatkan terjadinya pencemaran pada badan air tersebut.
Pemerintah telah menetapkan baku mutu efluen dan baku mutu beberapa badan air sesuai
dengan peruntukannya. Baku mutu efluen bagi industri diatur dalam Keputusan Menteri
Negara Lingkungan Hidup Nomor KEP-51/MENLH/10/1995. Baku mutu menetapkan
kualitas dan jumlah (debit) maksimal yang diizinkan (harus dipenuhi). Kualitas efluen dalam
baku mutu ditetapkan dengan memberikan batasan kadar maksimal beberapa parameter
bahan pencemar yang terdapat dalam efluen suatu jenis industri. Pengelolaan air limbah
ditujukan agar efluen dapat memenuhi baku mutu yang dipersyaratkan.
Baku mutu air limbah juga menetapkan debit maksimal efluen, sehingga pengambilan air
juga akan terkendali dan dapat menjaga ketersediaan sumber air baik air permukaan maupun
air tanah dalam. Akan tetapi karena kurangnya pengawasan dan tingkat kesadaran dari pelaku
usaha, sering terjadi penurunan muka air tanah dangkal/dalam sehingga kekurangan air bersih
di beberapa tempat yang merupakan area industri dan padat penduduk. Fenomena ini sudah
terasa di beberapa kota besar di Indonesia, dan hal ini tidak bisa dibiarkan berlanjut karena
akan menimbulkan dampak negatif yang lebih luas lagi bagi kelangsungan hidup masyarakat.

Tahapan Pengelolaan Air Limbah


Kualitas air limbah keluaran dapat dikendalikan dengan upaya preventif yaitu mengurangi
jumlah dan tingkat pencemaran bahan yang terbawa di air limbah dari proses produksi (waste
minimization), serta mengolah air limbah dari proses produksi tersebut untuk menghancurkan
atau mengurangi kadar bahan pencemar di dalamnya (waste water treatment).
Tahapan pengelolaan air limbah sebaiknya mengikuti hirarki atau prioritas yaitu;
1.
2.
3.
4.

Pengurangan limbah di sumber (Source Reduction)


Daur ulang, pengambilan dan penggunaan kembali (3R Recycle, Reuse, & Recovery)
Pra pengolahan / Pengolahan (Pre treatment / Treatment)
Pembuangan dan Pengolahan limbah lumpur (Disposal & Sludge Treatment)

Ditinjau dari biaya pelaksanaannya, upaya pengurangan limbah pada sumbernya dan daur
ulang memerlukan biaya yang relatif lebih rendah daripada upaya pengolahan.
Identifikasi Sumber Air Limbah
Air dalam industri biasanya digunakan sebagai:

Bahan baku, menjadi bagian dari produk, misalnya pada industri minuman
Air umpan ketel uap
Air pendingin
Air proses, yaitu sebagai media dalam proses produksi

Air permukaan atau air tanah dalam sebagai sumber air mengandung pengotor, seperti
berbagai macam zat kimia dan mikroba. Air yang digunakan mempunyai persyaratan tertentu
yaitu pembatasan kandungan zat-zat dalam air, sebagai contoh :

Sebagai bahan baku, air akan menjadi bagian produk sehingga kandungan zat-zat
dalam air dibatasi agar produk memenuhi persyaratan.
Sebagai umpan ketel uap, kandungan zat-zat dalam air dibatasi agar tidak
menyebabkan terjadinya kerak, korosi ketel, dan gangguan lain dalam pengoperasian
boiler.
Sebagai pendingin, kandungan zat-zat dalam air dibatasi agar tidak menyebabkan kerak
dan lapisan lendir yang mengganggu kelancaran dan efisiensi proses perpindahan
panas, serta mencegah korosi.
Sebagai media dalam proses produksi, kandungan zat-zat dalam air dibatasi agar tidak
mengganggu proses produksi atau menyebabkan terjadinya kegagalan/kerusakan
produk, misalnya terbentuk noda dan sebagainya.

Apabila kualitas sumber air yang digunakan belum memenuhi persyaratan, harus diolah
terlebih dahulu. Pengolahan air ini dilakukan dengan cara fisika-kimia, diantaranya
penyaringan, pengendapan dengan bantuan koagulan, penukar ion, dan lain-lain. Pengolahan
air cara fisika-kimia menghasilkan lumpur yang umumnya tidak mengandung B3 .
Air pendingin setelah digunakan, hanya mengalami sedikit perubahan kandungan zat-zat
kimia, demikian pula air kondensat boiler, sehingga air pendingin dan kondensat dari steam

trap mutlak harus dimanfaatkan kembali, dan merupakan suatu pemborosan apabila langsung
dibuang .
Sumber air limbah yang utama berasal dari air yang digunakan sebagai media dalam proses
produksi. Kualitas dan kuantitas air limbah dari proses produksi tersebut dipengaruhi oleh
jenis proses, peralatan/mesin yang digunakan, bahan kimia yang dibubuhkan serta jenis
produk yang akan dihasilkan.
Dalam rangkaian proses produksi harus dilakukan identifikasi tahapan produksi penghasil air
limbah, analisa debit, dan kualitas limbah. Dengan mengetahui debit dan kualitas air limbah
dari setiap tahapan produksi, dapat diketahui peluang melakukan daur ulang, misalnya air
limbah dengan kadar pencemaran rendah dapat didaur ulang untuk digunakan pada unit
produksi yang tidak memerlukan air yang sangat bersih.
Sistem Penampungan dan Penyaluran Air Limbah
Sistem penyaluran dan penampungan air limbah dari berbagai proses produksi sangat
mempengaruhi beban pengolahan unit pengolahan air limbah. Hal-hal yang perlu
diperhatikan dalam sistem pengaliran dan pengumpulan adalah :

Apabila air limbah dari proses tertentu mempunyai sifat yang spesifik atau mempunyai
beban pencemaran yang sangat tinggi, atau bersifat racun (toksik), sehingga apabila
digabungkan akan memberatkan atau menyulitkan proses pengolahan, sebaiknya
dilakukan segregasi yaitu pemisahan aliran dan pengolahan tersendiri.
Hindari / minimalkan pemasukan air hujan ke dalam saluran.
Hindari pemasukan kotoran / sampah ke dalam saluran.
Perhitungkan dengan baik bentuk, ukuran dan kemiringan saluran bila air limbah
mengalir secara gravitasi.
Perhitungkan dengan baik ukuran pipa yang diperlukan untuk saluran tertutup.
Teknik Minimisasi Air Limbah
Minimisasi air limbah bertujuan untuk mendapatkan air limbah dengan debit dan konsentrasi
yang lebih rendah dibandingkan sebelumnya, sehingga diperoleh beban pencemaran yang
minimal. Untuk mendapatkan efektifitas yang optimal dalam pelaksanaan minimisasi air
limbah perlu dilakukan pula pengelolaan internal yang baik (good housekeeping) dan disertai
dengan melakukan audit (pemeriksaan) peluang minimisasi air limbah.
Good housekeeping (pengelolaan internal yang baik) berkaitan dengan sejumlah langkah
praktis, yang dapat segera dilakukan atas inisiatif sendiri untuk meningkatkan efisiensi
operasional, menyempurnakan prosedur, dan keselamatan kerja. Contoh good
housekeepingadalah; pemisahan aliran-aliran, peningkatan cara kerja dan perawatan
peralatan, pengendalian inventaris, pencegahan kebocoran, dan usaha-usaha lain yang
ditujukan untuk mengurangi limbah, tetapi tidak memerlukan penggantian atau perubahan
proses yang signifikan. Good housekeeping merupakan langkah awal dalam upaya
minimisasi limbah. Good housekeeping merupakan sarana manajemen untuk pengelolaan
biaya, pengelolaan lingkungan dan perubahan organisasional. Pelaksanaan good
housekeeping memerlukan komunikasi internal, memotivasi karyawan, dan menetapkan

tanggung jawab yang jelas. Good housekeeping diarahkan untuk melakukan tindakan sebagai
berikut:
Rasionalisasi penggunaan bahan baku, bahan penolong, air dan energi,
Mengurangi volume dan atau toksisitas limbah padat, cair dan emisi gas
Menggunakan kembali dan atau mendaur ulang bahan kemasan secara maksimal
Memperbaiki kondisi kerja dan keselamatan kerja
Mengadakan perbaikan organisasional
Enam bidang yang berkaitan dengan pelaksanaan good housekeeping, yait :
Efisiensi penggunaan bahan baku dan penolong disertai pengkajian potensi dampak
lingkungan yang ditimbulkan bahan.
Pengurangan, pemakaian kembali, daur ulang dan pengolahan air limbah.
Penyimpanan, penanganan dan pengangkutan bahan yang sesuai dengan prosedur.
Pengurangan pemakaian air bersih.
Pengurangan konsumsi energi dan pemanfaatan limbah panas serta sumber energi yang
ramah lingkungan.
Proteksi keselamatan dan kesehatan tempat kerja proteksi terhadap kecelakaan, zat
berbahaya, bau, kebisingan dan cedera.
Pelaksanaan minimisasi air limbah meliputi :

Pengurangan debit air limbah


Penurunan kadar pencemaran air limbah
Penurunan temperatur air limbah

Industri yang menerapkan praktek good housekeeping akan mendapatkan keuntungan antara
lain:

Efisiensi produksi melalui penghematan pemakaian bahan baku, utilitas, energi


mengurangi biaya pengolahan air limbah
Mengurangi potensi dampak lingkungan dari pembuangan air limbah
Memperbaiki citra sebagai industri yang ramah lingkungan (environmental friendly)
Teknik Minimsasi Debit Air Limbah
Teknik minimisasi debit air limbah dapat dilakukan untuk mengurangi debit air limbah yang
harus diolah di unit pengolah air limbah dengan menerapkan sejumlah langkah operasional.
Potensi penghematan bisa dilakukan di Air Pencucian (Washing Water), Air Boiler, dan Air
Pendingin (Cooling Water). Berikut beberapa contoh teknik minimisasi debit air limbah yang
bisa diterapkan.
Teknik Minimisasi Kadar Air Limbah
Dalam perencanaan proses, limbah yang akan dihasilkan proses produksi harus menjadi satu
parameter dalam pertimbangan optimalisasi proses, karena limbah tersebut akan memerlukan
biaya pengolahan. Penentuan jenis bahan kimia serta metode/teknologi yang akan digunakan
perlu memperhitungkan aspek pencemaran yang akan ditimbulkan. Beberapa hal yang dapat
dilakukan dalam upaya meminimalkan kadar pencemar air limbah adalah sebagai berikut:
a) Pemilihan Bahan Kimia Pembantu (Auxiliaries)

Penggunaan bahan kimia pembantu sedapat mungkin yang mempunyai beban pencemaran
dan sifat toksik rendah. Dalam hal ini setiap bahan kimia selain dilengkapi nama dagang dan
bidang penggunaannya, harus dilengkapi juga dengan nama kimia (struktur kimia komponen
utamanya) dan sifat ekologinya. Untuk meminimalkan kadar pencemar air limbah, maka
dalam memilih bahan kimia yang digunakan di unit proses jangan hanya memperhatikan
keandalan bahan kimia untuk keberhasilan proses yang dikehendaki serta biaya prosesnya,
akan tetapi harus diperhatikan pula dampak penggunaan bahan kimia tersebut terhadap
karakteristik limbah serta cara dan biaya pengolahan limbah yang dikeluarkan dari proses
tersebut karena adanya sisa bahan kimia yang digunakan. Pemilihan bahan kimia pembantu
harus pula memperhatikan instalasi pengolahan air limbah (IPAL) yang tersedia, bahan kimia
yang dipilih harus mampu diolah di IPAL yang tersedia .
Pengusaha industri sebagai pembeli harus meminta penjelasan mengenai toksisitas,
kandungan B3 misalnya logam berat, sifat biodegradasi, dan lain-lain dari bahan kimia yang
akan dibeli kepada pemasok bahan kimia. Hal ini diperkuat dengan adanya ketentuan
Ekolabel yang diperkirakan akan diberlakukan dalam waktu yang tidak terlalu lama lagi
terhadap produk industri yang akan memasuki negara-negara maju. Perlu dipertimbangkan
apabila produk harus ekolabel maka bahan baku juga harus ekolabel, hal ini berarti bahan
kimia terutama yang berupa bahan impor harus ramah lingkungan.
b) Melakukan perencanaan proses dengan cermat dengan didasari pengalaman, pengamatan
dan percobaan.
c) Mengurangi limbah dari sumbernya, dengan melakukan optimasi/ penghematan pemakaian
zat kimia, modifikasi proses dan menjaga kebersihan.
d) Reuse, recycle dan recovery bahan kimia
Reuse merupakan upaya pemanfaatan limbah untuk digunakan kembali tanpa mengalami
pengolahan atau perubahan bentuk. Reuse dapat dilakukan di dalam atau di luar daerah
proses produksi yang bersangkutan. Sebagai contoh adalah reuse sisa pasta printing dalam
proses printing tekstil.
Recycle merupakan upaya pemanfaatan limbah dengan cara proses daur ulang melalui
pengolahan fisik atau kimia, baik untuk menghasilkan produk yang sama maupun produk
yang berlainan. Daur ulang dapat dilakukan di dalam atau di luar daerah proses produksi
yang bersangkutan.
Recovery merupakan upaya pemanfaatan limbah dengan jalan memproses untuk memperoleh
kembali materi / energi yang terkandung di dalamnya. Sebagai contoh adalah recovery NaOH
dari proses mercerisasi kain kapas dan recovery PVA dari proses desizing kain.
Teknik Recovery Panas
Air limbah dengan suhu tinggi bisa dimanfaatkan dengan cara mengambil energi panasnya
untuk digunakan di proses lain yang memerlukan pemanasan. Hal ini selain akan menghemat
pemakaian energi juga mengurangi gangguan IPAL dari limbah bersuhu tinggi.

Audit Identifikasi Peluang Minimisasi Air Limbah


Untuk merencanakan dan mengimplementasikan program minimisasi air limbah dengan
tepat, perlu dilakukan pemeriksaan/audit minimisasi air limbah. Audit menekankan
pemeriksaan input, proses dan output dengan tujuan mendapatkan peluang, metode dan
pelaksanaan minimisasi limbah pada sumbernya dan mengurangi pemakaian bahan baku, jadi
lebih banyak ditekankan terhadap evaluasi proses produksi. Pelaksanaan audit dilakukan oleh
pelaksana produksi sendiri bila perlu dibantu oleh tim dari luar.
Menurut rekomendasi UNEP (United Nation Environmental Programme), langkah-langkah
audit minimisasi limbah atau audit produksi bersih dapat dikelompokkan menjadi dua
tahapan.
Tahap pertama merupakan tahap awal untuk melakukan audit yang difokuskan pada masalah
yang mudah diidentifikasi disertai dengan implementasi yang segera, yaitu meliputi langkahlangkah berikut :
1. Pengenalan elemen-elemen audit dan adanya persetujuan dan komitmen direksi.
2. Pembentukan tim audit, tim terdiri dari wakil departemen yang akan memberi
kontribusi utama dan yang berkepentingan terhadap hasil audit. Ditunjuk ketua tim dan
setiap anggota tim diberi beberapa tugas khusus untuk memperoleh keluaran yang
maksimal.
3. Pembahasan dalam tim audit untuk menyusun keputusan, mengidentifikasi tujuan dan
target.
4. Kunjungan ke pabrik.
5. Menyusun pilihan-pilihan minimisasi yang mudah untuk dilaksanakan berdasarkan
kunjungan ke pabrik dan tujuan yang ditetapkan.
6. Menentukan rintangan atau pembatasan untuk mendapatkan cara-cara mengatasinya.
7. Menyelenggarakan diskusi untuk menilai kesiapan pelaksanaan program minimisasi.
Mengkomunikasikan temuan-temuan kepada direksi dan mengembangkan rencana
implementasi.
Tahap kedua, dimulai dari hasil pemeriksaan tahap pertama, dilanjutkan dengan analisis
mendalam untuk identifikasi masalah yang lebih kompleks yang dapat memakan waktu
cukup panjang, meliputi langkah-langkah berikut:
1. Menyiapkan diagram alir proses produksi yang memperlihatkan setiap tahapan poses
untuk suatu siklus proses produksi, menyangkut semua operasi/kegiatan termasuk
utilitas.
2. Melakukan identifikasi (karakterisasi) dan kuantifikasi semua masukan (input) dan
keluaran (output) dari proses tersebut.
3. Menentukan daerah proses dan parameter kunci yang tepat untuk dilakukan
perhitungan neraca massa.
4. Merencanakan dan mengimplementasikan program monitoring yang sesuai untuk
menunjang perhitungan neraca massa.
5. Membuat neraca massa untuk suatu siklus proses produksi.
6. Berdasarkan perhitungan neraca massa tentukan tindakan/langkah objek minimisasi air
limbah yang akan dilakukan, dengan memperhitungkan perkiraan keuntungan yang
diperoleh, seperti kemungkinan untuk melakukan optimasi proses, konservasi bahan
baku, peningkatan kualitas produk.

7. Melakukan evaluasi efektifitas biaya untuk tindakan/langkah yang akan dilakukan dan
pertimbangkan parameter-parameternya yaitu kebutuhan investasi, biaya operasi,
waktu pengembalian investasi, keuntungan lingkungan yang terukur dan tak terukur,
dan sebagainya.
8. Menyampaikan masalah-masalahnya kepada manajer.
9. Memeriksa kondisi awal yang diperlukan untuk melaksanakan tindakan/langkah yang
akan dilakukan dan persiapkan rencana pelaksanaan untuk waktu tertentu misalnya
selama 5 tahun. Berikan peran kepada staf perusahaan untuk mengembangkan rencana
kerja. Siapkan kondisi awal yang diperlukan sebelum pelaksanaan setiap langkah
gagasan minimisasi.
10. Mengembangkan rencana cara pengawasan, pemeriksaan dan pelaporan agar dapat
memberikan laporan secara periodik tentang pelaksanaannya kepada manajer.
11. Agar audit minimisasi menjadi program yang kontinu, masukkan prosedur minimisasi
ke dalam sistem audit dan manajemen lingkungan.
Evaluasi efektifitas penerapan minimisasi air limbah
Penilaian efektifitas penerapan minimisasi dilakukan dengan membuat perhitungan ekonomi
dan evaluasi kinerja lingkungan terhadap program yang dilakukan.
Evaluasi dapat mencakup hal-hal sebagai berikut:

Lakukan perhitungan pengurangan konsumsi air.


Lakukan perhitungan pengurangan/penghematan biaya yang dicapai dengan melakukan
perubahan konsumsi bahan kimia.
Peningkatan harga jual produk.
Penurunan beban pencemaran air limbah yang masuk unit pengolahan.