Anda di halaman 1dari 13

SISTEM MINYAK DAN GAS BUMI

PADA CEKUNGAN SALAWATI (PAPUA)


A. Pendahuluan
Daerah Indonesia Timur merupakan daerah yang kompleks secara geologi, hingga
saat ini penelitan yang dilakukan di daerah Indonesia Timur dan sekitarnya masih belum
komprehensif sehinga studi dan penelitan lebih lanjut terus dilakukan. Eksplorasi yang
dilakukan di daerah Indonesia Timur semakin intensif seiring dengan berkembangnya
tuntutan pengetahuan geologi di daerah ini. Bertambahnya informasi mengenai daerah baru
yang memilki prospek juga semakin menambah pengetahuan geologi di daerah Indonesia
Timur ini. Data baru yang menjadi panduan untuk eksplorasi lebih mendalam di daerah
Indonesia Timur diharapkan dapat memberikan jawaban atas berbagai pertanyan yang sering
muncul akibat belum komprehensifnya penelitan-penelitan di daerah Indonesia Timur
(Riadini, 209). Penelitan-penelitan yang terus dilakukan di daerah Indonesia Timur,
khususnya di daerah Kepala Burung, memberikan berbagai hipotesis mengenai struktur dan
tektonik yang berkembang di daerah tersebut.
Hipotesis bahwa Kepala Burung mengalami rotasi atau merupakan suatu microcontinent masih terus dikembangkan. Charlton (200), menyatakan adanya rotasi berlawanan
arah jarum jam dari Kepala Burung yang terjadi sekitar 5 juta tahun lalu (jtl). Hal tersebut
memberikan asumsi bahwa terdapat struktur aktif pada umur 5 jtl dan menjelaskan bahwa
fenomena pergerakan Lempeng Pasifik terhadap Lempeng Baratlaut Australia masih terus
aktif hinga sat ini, mengingat relatif mudanya struktur yang mempengaruhi rotasi Kepala
Burung tersebut. Zona Sesar Sorong (SFZ) merupakan struktur muda yang berkembang di
bagian utara Papua, memanjang hinga 100 km dari bagian timur hinga barat Kepala Burung.
Umur pembentukanya yang relatif muda (Miosen Akhir) mengasumsikan bahwa SFZ ini
merupakan struktur yang berpengaruh pada pembentukan Cekungan Salawati, yang juga
berkaitan dengan rotasi Kepala Burung serta rotasi Pulau Salawati dari Kepala Burung,
sehinga diasumsikan bahwa rotasi yang terjadi di Kepala Burung tersebut berkaitan dengan
aktifnya SFZ (Riadini, 209).
Migas (minyak dan gas) atau secara umum disebut juga petroleum merupakan hasil
pelapukan fosil fosil tumbuhan dan hewan pada zaman purba jutaan tahun yang silam.
Organisme-organisme tersebut kemudian dibusukan oleh mikroorganisme dan kemudian
terkubur dan terpendam dalam lapisan kulit bumi. Dengan tekanan dan suhu yang tinggi,
maka setelah jutaan tahun lamanya material tersebut berubah menjadi minyak yang

terkumpul dalam pori pori batu kapur atau batu pasir. Oleh karena pori pori batu kapur
bersifat kapiler maka dengan prinsip kapilaritas minyak bumi yang terbentuk perlahan lahan
bergerak ke atas . ketika gerakan tersebut terhalang oleh batuan yang tidak berpori maka
terjadilah penumpukan minyak bumi dalam batuan tersebut.
Minyak pertama kali ditemukan di Cekungan Salawati pada tahun 1936 melalui
penemuan Lapangan Klamono. Saat itu, lapangan ini ditemukan melalui rembesan minyak
pada antiklin permukaan. Penelitian2 selanjutnya menampakkan bahwa Lapangan Klamono
sesungguhnya merupakan struktur terumbu karbonat yang menyebabkan draping membentuk
antiklin pada lapisan silisiklastik di atasnya. Sejak itu, play type terumbu karbonat menjadi
primadona di cekungan ini, dan ini terus berlanjut sampai sekarang, setelah lebih dari 70
tahun. Karbonat penyusun terumbu ini terkenal sebagai Formasi Kais berumur Miosen
Tengah-Miosen Akhir.
B. Geologi Regional
Cekungan Salawati terletak di wilayah Papua Barat, yang sudah dikenal sebagai
cekungan Tersier penghasil minyak yang besar di kawasan Indonesia Bagian Timur.
Cekungan ini berarah timur-barat terletak di batas utara Lempeng Benua Australia yang
bergerak ke arah utara sebagai pasive margin yang berbatasan dengan Lempeng Samudera
Pasifik yang bergerak relatif ke arah barat dan dibatasi oleh adanya sesar mendatar regional
yaitu Sesar Sorong. Cekungan Salawati berkembang di sebelah selatan Sesar Sorong dan
perkembangan cekunganya dikontrol oleh
pergerakan sesar besar mendatar ini (Hamilton, 1979).
Cekungan Salawati suatu cekungan sedimentasi yang relatif muda karena mulai
terbentuknya baru pada kala Miosen Tengah dan cekunganya mengalami penurunan yang
sangat intensif pada Kala Pliosen hinga Pleistosen yang diasumsikan sebagai akibat dari
aktifnya pergerakan sesar mendatar Sorong. Adanya kenampakan beberapa ketidakselarasan
pada kala Pliosen dan Plio- Pleistosen di garis seismik ini diduga sebagai akibat dari adanya
pergerakan sesar yang periodik atau yang tidak bergerak secara terus menerus (Pireno, 208).
Geologi Papua dipengaruhi dua elemen tektonik besar yang saling bertumbukan dan
serentak aktif. Pada saat ini, Lempeng Samudera Pasifik-Caroline bergerak ke barat daya
dengan kecepatan 7,5 cm/th, sedangkan Lempeng Benua Indo-Australia bergerak ke utara
dengan kecepatan 10,5 cm/th. Tumbukan yang sudah aktif sejak Eosen ini membentuk suatu
tatanan struktur kompleks terhadap Papua Barat (Papua), yang sebagia besar dilandasi kerak
Benua Indo-Australia.

Gambar 1. Elemen tektonik Indonesia dan


pergerakan lempeng-lempeng tektonik (Hamilton, 1979).

Gambar 2. Geologi regional papua


( Darman & Sidi, 2000 ).

C. Tatanan Tektonik Cekungan Salawati Papua


Secara regional, tektonik Indonesia Timur dikontrol oleh adanya interaksi antara
Lempeng Indo-Australia, Eurasia dan Pasifik yang mengakibatkan telah terjadinya deformasi
tektonik di daerah Kepala Burung, Papua. Lempeng Benua Indo-Australia yang bergerak ke
utara sebagai pasive margin bertemu dengan Lempeng Samudera Pasifik yang bergerak
relatif ke arah barat sejak kala Miosen Tengah yang diasumsikan telah mengakibatkan
berkembangnya sesar mendatar sinistral Sorong (Hamilton, 1979). Adanya interaksi antara
pergerakan Lempeng Australia dan Lempeng Samudera Pasifik ini yang menyebabkan
terjadinya pergerakan mendatar Sesar Sorong, yang diduga juga sebagai penyebab
terbentuknya Cekungan Salawati.

Beberapa sumur pemboran eksplorasi di Cekungan Salawati telah menembus batuan


dasar yang jenisnya bervariasi yaitu terdiri dari batuan beku granit yang berumur Kapur,
batuan meta-sedimen atau metamorf yang berumur Perm juga berumur Silur yang
mengidentifikasikan bahwa Cekungan Salawati masih merupakan bagian dari Lempeng IndoAustralia. Pada Gambar 1 dapat ditunjukan bahwa Lempeng Indo-Australia berada di sebelah
selatan dari zona Sesar Sorong sedangkan Lempeng Samudera Pasifik berada di sebelah utara
zona Sesar Sorong yang ditunjukan adanya singkapan batuan ultra-mafic di Pulau Waigeo
(Redmond dan Koesoemadinata, 1976; Vincelete dan Soeparyadi, 1976) Adanya interaksi
antara pergerakan Lempeng Australia dan Lempeng Samudera Pasifik ini yang menyebabkan
terjadinya pergerakan mendatar Sesar Sorong, yang diduga juga sebagai penyebab
terbentuknya Cekungan Salawati. Ada beberapa periode patahan teridentifikasi dalam
cekungan Salawati, tetapi yang paling ekstensif berkembang adalah patahan-patahan yang
terjadi pada kala Pliosen hinga Pleistosen (Harper et al., 1978). Dinterpretasikan bahwa
patahan patahan yang sifatnya tensional ini bisa bertindak sebagai jalur-jalur migrasi vertikal
bagi hidrokarbon dari dapur hidrokarbon ke struktur perangkap yang mempunyai reservoar
berkualitas baik, seperti batu pasir Sirga, batu gamping terumbu Kais bawah dan batu
gamping terumbu Kais bagian atas, batu pasir dan batu gamping terumbu Formasi Klasaman
yang berumur Pliosen.

Gambar 3. Peta struktur daerah papua


( Darman & Sidi, 2000 ).

D. Stratigrafi Cekungan Salawati


1. Batuan Dasar (Devon, 406.5 262.5 juta tahun)

Di daerah kepala burung atau cekungan salawati bintuni, batuan dasar yang berumur
pra-tersier terutama tersingkap di sebelah timur kepala burung yang dikenal sebagai tinggian
kemum, serta di sekitar gunung bijih mining access (gbma) yaitu disebelah barat daya
pegunungan tengah. batuan dasar tersebut disebut formasi kemumyang tersusun oleh
batusabak, filik dan kuarsit. formasi ini di sekitar kepala burung diintrusioleh granit yang
berumur karbon disebut sebagai anggi granit pada trias. oleh sebab ituformasi kemum
ditafsirkan terbentuk pada sekitar devon sampai awal karbon.
2. Formasi Aifam (Perm, 290 - 250 juta tahun)
Selanjutnya Formasi Kemum ditindih secara tidak selaras oleh Group Aifam.
Disekitar Kepala Burung group ini dibagi menjadi 3 Formasi yaitu Formasi Aimau, Aifat
danAinim. Group ini terdiri dari suatu seri batuan sedimen yang taktermalihkan dan terbentuk
dilingkungan laut dangkal sampai fluvio-delataik. Satuan ini di daerah Bintuni ditutupi
secaratidak selaras oleh Formasi Tipuma yang berumur Trias (Bintoro & Luthfi, 1999).
3. Formasi Kembelengan (Jura Akhir Kapur Akhir, 152 66.5 juta tahun)
Formasi Kembelengan, pada bagian bawah merupakan endapan paralis-laut
dangkalyang terdiri dari batupasir, batulempung, mudstone dan batubara berumur Jurasik
Tengah sedangkan pada bagian atas merupakan endapan laut dangkal-dalam terdiri dari
mudstone dan serpih berumur Kapur. Endapan dengan umur Mesozoikum berkembang di
bagian selatanCekungan Salawati, karena pada saat pengendapan sedimen tersebut cekungan
terbuka kearah selatan.
4. Formasi Waripi (Paleosen, 66.5 54 juta tahun)
Formasi Waripi terutama tersusun oleh karbonat dolomitik, dan batupsir kuarsa
diendapkan di lingkungan laut dangkal yang berumur Paleosen sampai Eosen. Di atas
formasiini diendapkan Formasi Faumai secara selaras dan terdiri dari batugamping berlapis
tebal (sampai 15 meter) yang kaya fosil foraminifera, batugamping lanauan dan
perlapisanbatupasir kuarasa dengan ketebalan sampai 5 meter, tebal seluruh formasi ini
sekitar 500 meter.
5. Formasi Faumai (Eosen, 54 36 juta tahun)
Formasi Faumai terletak secara selaras di atas Formasi Waripi yang juga merupakan
sedimen yang diendapkan di lingkungan laut dangkal. Formasi ini terdiri dari batuan karbonat
berbutir halus atau kalsilutit dan kaya akan fosil foraminifera (miliolid) yang menunjukkan
umur Eosen.
6. Formasi Sirga (Oligosen, 36 25.2 juta tahun)

Kemudian secara selaras di atas Formasi Faumai diendapkan Formasi Sirga.


Formasiini berumur Oligosen, formasi ini dipengaruhi oleh regresif pada Oligosen Tengah
menyebabkan terbentuknya daratan yang luas, Transgresi yang terjadi pada kala Oligosen
Akhir telah berperan dalam proses pengendapan batuan sedimen klastik berupa batupasir,
lanau, serpih gampingan serta sedikit batugamping yang berasal dari Tinggian Kemum di
sebelah utara.
7. Formasi Kais (Miosen Awal Miosen Tengah, 25.2 10.2 juta tahun)
Formasi Kais didominasi oleh litologi batugamping, secara umum Formasi Kais
terdiri atas dua tipe karbonat utama, yaitu batugamping terumbu dan batugamping paparan.
Batugamping paparan Formasi Kais diendapkan pada Miosen Awal Miosen Tengah
dandiatas paparan karbonat Formasi Kais berkembang batugamping terumbu Formasi Kais,
semakin ke arah Tinggian Kemum batuan karbonat Formasi Kais berubah fasies menjadi
sedimen klastik pembentuk Formasi Klasafet. Fasies batugamping terumbu hanya
berkembang setempat-setempat di daerah tinggian, sedangkan fasies batugamping klastik
berkembang hingga daerah dalaman.Umumnya batugamping terumbu ini berkembang selama
fase muka air laut naik atau selamamuka air laut tertinggi. Formasi Kais merupakan reservoar
yang berkembang baik diCekungan Salawati.
8. Formasi Klasafet (Miosen Akhir, 10.2 5.2 juta tahun)
Formasi Klasafet yang berumur Miosen Akhir dan terdiri dari sedimen klastik, yaitu
berupa batulempung gampingan dan batugamping serpihan. Formasi Klasafet merupakan
beda fasies dengan batugamping terumbu Formasi Kais.
9. Formasi Klasaman (Pliosen, 5.2 1.65 juta tahun )
Pengangkatan dalam periode Mio Pliosen sepanjang zona sesar Sorong di utara dan
Dataran Tinggi Ayamaru di timur, membagi Cekungan Salawati di barat dan Cekungan
Bintuni di timur. Peristiwa pengangkatan ini mengakibatkan pengendapan sedimen
klastikyang terdiri dari batulempung dengan sisipan tipis batulanau dan batugamping.
Formasi Klasaman berumur Pliosen.
10. Formasi Sele (Pleistosen, 1.65 juta tahun)
Lalu pada kala Pliosen Pleistosen setelah pengangkatan regional cekungan,
diendapkan sedimen fluvial Formasi Sele yang berumur Pleistosen berupa batupasir dan
konglomerat diendapkan secara tidak selaras diatas formasi formasi yang lebih tua.

Gambar 4. Stratigrafi Regional Cekungan Salawati


(Tamuloi & Salqenst, 2001)

E. Kerangka Struktur Cekungan Salawati Papua


Elemen struktur utama Cekungan Salawati adalah Sesar Sorong, yang membatasi
cekungan di sebelah utara. Sesar ini merupakan sesar mendatar-kanan yang aktif sejak
Pliosen Awal. Kondisi struktur cekungan pada masa sekarang didominasi oleh sesar-sesar
normal yang berarah NNE-SSW sebagai konjugasi dari Sesar Sorong. Pergerakan sepanjang
Sesar Sorong telah menghasilkan lipatan-lipatan dan sear mendatar-kanan dengan
kecenderungan pergerakan normal melalui Pulau Sawalati. Pergerakan ini telah mengaktifkan
kembali sesar normal purba yang terbentuk akibat rifting pada Paleozoik Akhir-Mesozoik,
seperti Sesar Cendrawasih, menjadi sesar mendatar-kanan antitetik (Satyana,2003).
F. Sejarah Sedimentasi Cekungan Salawati
Sejarah sedimentasi yang teramati dimulai dari umur 35-32,5 juta tahun (Oligosen
Bawah) dengan terbentuknya endapan karbonat New Guinea Limestone (NGL) di lingkungan
Neritik Dalam-Tengah (20-60 meter) dan proses pengendapannya berlangsung dalam fasa
trangresi seperti yang terlihat dari hubungan antara eustatik dengan paleobatometri.
Kemudian mulai dari umur 32,5 30 juta tahun (Oligosin Bawah-Atas) pengendapan
endapan karbonat NGL masih terus berlangsung dalam fasa regresi (yang diperlihatkan
dengan adanya sea level drop dan pendangkalan paleobatimetri) dan kemudian kelompok
batu gamping ini terangkat ke permukaan pada umur 30 juta tahun yang mana pengangkatan
(uplift) ini diperlihatkan dengan bertambah kecilnya laju penurunan tektonik (tectonic
subsidence)

Terjadinya pengangkatan (uplift) , ini ada hubungannya dengan terjadinya oblique collision
antara lempeng Australia dengan sepic arc. Dengan demikian akibat adari tumbukan ini
selain mengakibatkan pengangkatan (Visser dan Hermes, 1982 ; Froidavaux, 1977 ; Brash
1991) juga mengakibatkan terjadinya sea level drop (Lunt dan Djaafar , 1991). Proses
tumbukan ini terus berlangsung hingga umur 15 juta tahun dan mulai dari 30 juta tahun
hingga 15 juta tahun (Oligosen Bawah/Atas-Miosen Tengah bagian bawah) seluruh kelompok
Batugamping New Guinea tersingkap dipermukaan dan tererosi. Selama masa ini muka air
laut purba naik kembali.
Mulai dari umur 15-10 juta tahun (Miosen tengah bagian rumbu bawah-Miosen atas
bagian bawah) terbentuk Formasi Kais tipe terumbu (Robinson & Soedirja , 1986)
dilingkungan Neritik Dalam-Tengah (10-35 meter) dan formasi Klasafet serta formasi
Klasaman bagian dilingkungan Neritik tengah (35-60 meter), selama ini muka air laut
menurun, kedalaman paleobatimetri bertambah dan laju penurunan tektonik meningkat dan
peningkatan ini berhubungan dengan terjadinya oblique subduction antara lempeng
Australia dengan Lempeng Pasific. Dari umur 10-2,5 juta tahun (miosen atas bagian bawahliosen) pertumbuhan formasi Kais tipe terumbu (Robinson dan Soedirdja, 1986) disumur
PY001 dan pembentukan formasi Klassafet berakhir yaitu masing-masing pada umur 8,9 juta
tahun (miosen atas) dan 7,6 juta tahun (miosen atas) dan digantikan dengan terbentuknya
Formasi Klasaman yang tebal. Selama masa ini muka air laut purba naik umur 5 juta tahun
dan menurun kembali hingga umur 2,5, juta tahun dengan kedalaman paleobatimetri yang
relatif bertambah besar dan terjadinya peningkatan laju penurunan tektonik.
Dari adanya peningkatan laju penurunan tektonik disimpulkan bahwa awal
pembentukan Cekungan Salawati dan juga aktivitas Sesar Sorong dimulai dari umur 10 juta
tahun hingga 2,5 juta tahun, selama berlangsungnya proses :oblique subduction antara
Lempeng Australia dengan Lempeng Pasifik. Selama masa ini muka air laut purba meningkat
kembali, kedalaman paleobatimetri berkurang dan laju penurunan tektonik juga berkurang.
Hal ini menandakan bahwa aktivitas Sesar Sorong masih terus berlangsung yang mana akibat
dari aktivitas tersebut menimbulkan pengangkatan dan penurunan. Aktivitas Sesar Sorong ini
diduga ada hubungannya dengan terjadinya oblique collision antara Lempeng Australia
dengan bagian dari Sunda trench dan Banda Fore arc yang berlangsung hingga sekarang.

G. Evolusi dan perkembangan Tahapan Karbonat Kais


Satyana (2003) membagi perkembangan Formasi Kais menjadi 3 tahapan. Tahapan
pertama meliputi paparan karbonat, build-up dalam paparan (intra-Kais), dan terumbu Kais
dengan relief rendah dengan ketebalan tutupan Klasafet 1.400 kaki seperti yang di tunjukan
gambar 5. Tahapan kedua meliputi build-up karbonat dengan relief tinggi moderat dengan
tebal tutupan Klasafet kira-kira 1.400-1.800 kaki. Tahapan ketiga meliputi build-up karbonat
yang berelief tinggi dengan tebal tutupan Kalsafet kurang dari 800 kaki
H. Fasies Karbonat Kais
Satyana (2003) melakukan identifikasi fasies karbonat Kais berdasarkan kehadiran
fosil dan ukuran cangkang (mikrofasies). Sekurang-kurangnya didapatkan lima pembagian
fasies yaitu patch reef sepanjang Tinggian Arar, lagoon mud atau reef mound, Terumbu
sepanjang punggungan Salawati, dan patch reef sepanjang Walio Bank.

Gambar 5. Ilustrasi perkembangan Karbonat Kais terhadap formasi-formasi


di sekitarnya (Satyana, 2003).

I. Petroleum System Cekungan Salawati Papua


Beberapa syarat petroleum system antara lain adanya batuan induk (source rock),
batuan reservoar (reservoir), migrasi (migration ), jebakan (trap), batuan penutup (seal) dan
batuan overburden. Selain syarat di atas, terdapat juga kriteria lain seperti temperatur, berat
jenis minyak, porositas, dan permeabilitas reservoar dan parameter lainnya (Sitorus, S.L.,
2008). Batuan sumber daerah Cekungan Salawati berasal dari batu lempung dan serpih
Formasi Klasafet, batu gamping pada Formasi Kais dan batu lempung dan serpih pada
Formasi Klasaman awal. Formasi yang diperhitungkan akan menghasilkan hidrokarbon
adalah Formasi Kais. Hidrokarbon yang terakumulasi di Formasi Kais juga selain dari
Formasi Kais itu sendiri, juga berasal dari Formasi Klasafet dan Formasi Klasaman. Batuan

reservoar lainnya adalah Klasafet yang berumur Miosen akhir. Jebakan hidrokarbon di
Cekungan Salawati terdapat di Formasi Kais berupa kompleks terumbu karbonat dan
karbonat paparan yang tersesarkan. Jebakan dalam jumlah yang lebih kecil ada di Formasi
Klasafet dan Klasaman. Batuan penutup (seal rock) berupa serpih karbonat dari formasi
Klasafet dan batu gamping kristalin Formasi Kais. Batuan yang menjadi overburden adalah
batuan gamping (limestone) pada Formasi Kais, dan clay pada Formasi Klasafet, Klasaman
dan Sele. petroleum system Cekungan Salawati dapat dilihat pada Gambar 4 sebagai berikut :

Gambar 6. Petroleum System Cekungan Salawati


(Satyana, dkk, 2000).

J. Reservoir
Lapangan X dan sekitarnya termasuk dalam Lagoonal Deeper Carbonates Facies,
secara umum terdiri dari lime-mudstone berwarna abu-abu kecoklatan yang berbutir halus
dan wackestone pada beberapa tempat terdapat argillaceous dengan material skeletal berkisar
8-25% yang terdiri dari foraminifera plankton dan sedikit foraminifera benthonik.
Berdasarkan peta facies, batugamping terumbu di Lapangan X diperkirakan sebagai suatu
atoll atau finger reef yang berkembang pada suatu lagonal. Analisis paleontologi dan
komposisi litologi menunjukkan bahwa Formasi ini diendapkan pada lingkungan laut dalam
pada open marine dengan kondisi low energy. Di Lapangan X, dari 114 sumur yang telah
dibor, formasi Kais ini memiliki 18 porositas berkisar 20-28% dengan permeabilitas berkisar
248-1722 md (data core). Pada plot antara harga porositas dan permebilitas dapat ditarik

suatu trend (garis). Hasil evaluasi petrofisika menunjukkan bahwa harga saturasi air berkisar
17-26% dengan gross column 13-143 m, dan perbandingan net-to-gross ratio rata-rata 0,78.
Di sekitar lapangan X diperkirakan tidak berkembang Intra-Kais reef, hal ini disebabkan
pada saat pengendapan batugamping Kais relatif lebih dalam. Blok X terletak di onshore
cekungan Salawati Irian Jaya, di mana terdapat lapangan X yang telah diproduksi sejak
tahun 1939-an. Pada penampang yang ditarik dari pulau Misool hingga Klamumuk dapat
dilihat bahwa reservoir X merupakan sebuah self margin dengan pinneacle reef ( Gambar 5
).

Gambar 7. Penampang melintang antara pulau misol dan klaumumuk


(darman dan sidi, 2000)

Gambar 8. Tabel Data Produksi Cekungan Salawati 2012 (pertamina, 2012)

K. Kesimpulan
Bedasarkan dari uraian data-data yang ada di atas dapat di simpulkan bahwa cekungan
salawati yang berada di daerah papua barat masih sangat potensial untuk di lakukan

eksploitasi minyak dan gas bumi atau petroleum, dan bedasarkan syarat-syarat dari petrloeum
system itu sendiri telah di penuhi atau sesuai dengan kriteria cekungan salawati yang dimana
syarat tersebut berupa adanya batuan induk (source rock), batuan reservoar (reservoir),
migrasi (migration ), jebakan (trap), batuan penutup (sea atau cap rockl) dan batuan
overburden. Selain syarat di atas, terdapat juga kriteria lain seperti temperatur, berat jenis
minyak, porositas, dan permeabilitas reservoar dan parameter lainnya dan semua syarat yang
di telah di jelaskan telah terpenuhi oleh cekungan salawati itu sendiri, selain itu juga
cekungan salawati juga di dukung oleh tatanan stratigrafinya sendiri yang diman adanya
batugamping yang berfungsi untuk menampung atau menyerap endapan minyak bumi pada
pori-pori batuan tersebut. Namun cekungan salawati juga terdapat suatu masalah yaitu adanya
eksploitasi besar-besaran dan menggunakan metode yang dapat mengganggu keseimbangan
cekungan itu sendiri oleh karna itu sebaiknya kita dapat lebih bijak untuk mengeksploitasi
cekungan tersebut dan lebih baik lagi jika eksploitasi hanya di lakukan oleh orang-orang
dalam negeri kita sendiri.

DAFTAR PUSTAKA

Ridjvandra ranjani, Adhe maulana, Wahyu cahyo r, sekolah tinggi teknologi minyak dan gas
bumi balikpapan (2012)
Satyana Awang (2003)
http://lib.ui.ac.id/file?file=digital/20289719-S1237-Achmad%20Yoshi%20S.pdf
http://ensiklopediseismik.blogspot.com/2008/11/petroleum-system-sistem-minyak-dangas.html
http://awangsatyana.com/geology/238-petroleum-geology-petroleum-systems-ofindonesia.html