Anda di halaman 1dari 15

TOPIK METABOLIK DAN ENDOKRIN

1.

Hormone dan pengaturannya oleh hipotalamos.


Hormon adalah bahan kimia organik yang dikeluarkan oleh sel endokrin
ke dalam cairan jaringan atau vaskuler.
CNS input
Hypothalamus
Releasing hormone
Pituitary
Tropic hormone
Peripheral gland
Hormone
Target
Effect
Hipotalamus menerima rangsangan dari hamper semua sumber dalam

system saraf kemudian hipotalamus mensintesis dan menyekresi releasing hormone


untuk merangsang hipofisis ( piutitari ) untuk mengeluarkan hormone-hormone untuk
merangsang target organ untuk menimbulkan efek pengaturan fisiologis pada sel-sel
tubuh.
2.

hormone metabolic tiroid.

Pengaturan sekresi hormone tiroid


Hipotalamus
TRH
Hipofisis
TSH
Tyroid

Tiroksin

kalsitonin

triyodotironin

Hormone-hormone tiroid mempunyai efek utama pada tubuh yaitu


meningkatkan kecepatan metabolisme secara keseluruhan dan pada anakanak, merangsang pertumbuhan.
-

Hormone tiroid meningkatkan aktivitas metabolisme hingga 60 sampai


100% diatas normal, bila sekresi hormone dalam jumlah besar.
Kecepatan penggunaan makanan untuk energi sangat dipercepat.
Kecepatan sintesis protein kadang-kadang meningkat, sementara pada
saat yang sama kecepatan katabolisme juga meningkat, sehingga
pertumbuhan orang muda dipercepat.

Kalsitonin fungsinya menurunkan konsentrasi ion kalsium dalam


darah. Efek yang berlangsung dengan segera adalah pengurangan kerja
absorpsi osteuklas dari membran osteositik yaitu meningkatkan
pengendapan kalsium dengan cara mengabsorpsi kalsium dari plasma
kedalam tulang. Untuk pembentukan matriks tulang.

3.

hormone paratiroid dan efeknya terhadap konsentrasi kalsium dan posfat.


-

hormon paratiroid (PTH) dihasilkan oleh kelenjar paratiroid. Fungsi


hormon paratiroid adalah merangsang absorpsi kalsium dari tulang ke
darah. Regulator terpenting dari sintesis dan sekresi PTH adalah kadar
kalsium plasma, dimana kalsium yang meningkat akan menurunkan
produksi dan sekresi PTH dan sebaliknya penurunan kalsium plasma
akan meningkatkan produksi dan sekresi PTH. Sehingga konsentrasi
kalsium dalam darah meningkat.

Pada posfat, fungsi PTH merangsang absorpsi posfat dari tulang ke


darah efek PTH terhadap pengurangan konsentrasi posfat terjadi kuat
pada ginjal yaitu pengurangan reabsorpsi ion posfat oleh tubulus ginjal
untuk meningkatkan kecepatan ekskresi posfat secara berlebihan ke
urin, sehingga konsetrasi posfat dalam darah menurun.

4.

Absorpsi dan Ekskresi kalsium dan pospat

A. Absorpsi Kalsium dan pospat


Absorpsi kalsium dan pospat dilakukan oleh usus. Biasanya kationkation bivalen seperti ion kalsium di absorpsi sangat buruk dalam usus.
Vitamin D nantinya membantu meningkatkan system transport kalsium aktif,
sehingga absorpsi kalsium yang di butuhkan dapat terjadi.
Nantinya pada proses pengaktivan vitamin D, saat Vitamin D dalam bentuk
aktif (1,25dihidroksi kalsiferol) Menigkatkan pembentukan protein
pengikat kalsium pada sel epitel usus protein ini berfungsi pada brush
border epitel usus yang berfungsi mengangkut kalsium dalam sel.
Absorbsi pospat terjadi sangat mudah. Ada beberapa teori yang
mengatakan adanya kalsium dalam sel nantinya membantu mengankut pospat.
B. Ekskresi kalsium dan pospat
Sembilan per sepuluh kalsium diekskresikan dalam feses, dan satu
persepuluhnya dalam urine.

90% kalsium yang ada dalam filtrate glomerulus direabsorbsi kembali dalam
tubulus proksimal, ansa henle dan awal tubulus distal. 10% sisanya diakhir
tubulus distal dan awal duktus koligentes reabsorbsi terjadi secara selektif,
tergantung konsentrasi kalsium didalam darah.jika kalsium didalam darah
menurun, maka reabsorpsi meningkat sehingga hampir tidak ada kalsium yang
dikeluarkan, namun jika kalsium dalam darah meningkat, maka reabsorpsi
kalsium menurun sehingga ekskresi kalsium meningkat.
Untuk ekskresi pospat, kecepatan pospat yang diekskresikan dalam
feses dalam bentuk ikatan dengan kalsium yang tidak di absorpsi sedangkan
fosfat yang diabsorpsi masuk dalam darah dan diekskresikan dalam urine.
Fosfat merupakan substansi nilai ambang ginjal. Yaitu bila konsentrasi
fosfat dalam plasma dibawah nilai kritis, maka tidak ada fosfat yang hilang
dalam urine karena direabsorpsi. Tapi bila konsentrasinya diatas konsentrasi
kritis, maka kecepatan hilang pospat ini berbanding langsung dengan
peningkatan tambahan konsentrasi tadi.

5.

Tulang dan hubungannya dengan kalsium dan posfat.


Tulang adalah oragan vital yang berfungsi untuk alat gerak pasif,
proteksi alat-alat didalam tubuh, pembentukan tubuh, metabolisme
kalsium dan mineral, dan organ hemopoetik.
Tulang terdiri dari matriks keras yang diperkuat oleh endapan garamgaram kalsium, yaitu mempunyai daya kompersi yang besar. Matriks
tulang kira-kira 95% merupakan kolagen dan sisanya 5% merupakan zat
dasar ( kontroitin sulfat dan asam hialuronat ). Garam-garam tulang yang
di endapkan pada matriks tulang terutama terdiri dari kalsium dan posfat
dan rumus dari kristal garam utama dikenal sebagai hidroksiapatit.
Hidroksiapatit akan mengisi lubang-lubang didalam serat kolagen dan
menyebar sehingga membentuk tulang yang terkalsifikasi secara
sempurna.

6. KALSITONIN
A.

pengertian kalsitonin
kalsitonin adalah sebuah hormon yang yang mempunyai efek lemah terhadap
kalsium darah tetapi berlawanan dengan efek hormon paratiroid karena
kalsitonin mengurangi konsentrasi ion kalsium dalam darah. Kalsitonin
ditemukan pada awal tahun 1960an dan disekresikan oleh kelenjar tiroid.

B.

efek kalsitonin
kalsitonin mengurangi konsentrasi kalsium plasma paling sedikit melalui dua
cara yaitu :

efek yang berlangsung dengan segera adalah


pengurangan kerja absorpsi osteoklas dan mungkin efek osteolitik dari
dari membran osteositik di seluruh tulang, jadi menggeser
keseimbangan pengendapan kalsium sesuai dengan cepatnya
pertukaran garam-garam kalsium tulang.

Efek kalsitonin yang kedua dan lebih lama adalah


penurunan pembentukan osteoklas yang baru. Akibatnya tidak ada
efek pemanjangan ion kalsium yang bermakna. Artinya, efek terhadap
kalsium plasma terutama bersifat sementara, paling lama bertahan
untuk beberapa jam sampai beberapa hari.

7. PENYAKIT METABOLIK DAN ENDOKRIN TULANG


A.

Hipoparatoidisme
Ablasi bedah, ketiadaan kongenital, autoimun.

hipoparatiroidisme

Kadar kalsium dalam darah

konsentrasi fosfat

dibawah nilai normal < 9-10 mg/dl

dalam darah

hipokalsemi dan

iritabilitas neuromusculus

tetani
B.

Hiperparatoidisme
Hiperparatoidisme

Primer

sekunder

Adenoma paratiroid, hiperpalasia


primer kelenjar, karsinomi paratiroid

Hiperparatoidisme Primer
(biasa pada orang dewasa laki <wanita)

Resorpsi tulang , penyakit ginjal (batu ginjal), hiperkalesemia.

Semua penyakit yang menyebabkan penekanan kronis kadar


kalsium serum (hipokalemia) misanya gagal ginjal
kompensatorikaktivitas paratiroid.

Hiperparatiroid sekunder

Kelainan tulang, kadang-kadang kerusakan iskemik signifikan


di kulit dan organ lain (klasifilaksis), hiperkalsemia. ( lebih
ringan daripada hiperparatiroid primer)

C.

Penyakit rickets
Anak-anak yang tidak terpapar sinar matahari

7-dehidrokolesterol tidak dapat diubah menjadi vitamin D3


Defisiensi vitamin D

Absorbsi kalsium dari usus tidak dapat terjadi

Defisiensi kalsium dalam cairan ekstraseluler

Kerja kelenjar paratiroid

defisiensi kalsium hanya sedikit.

Ekskresi fosfat didalam urine

Konsentrasi fosfat

Penyakit rickets

aktivitas osteoblastik yang cepat


berkalsifikasi

osteoid yang tidak

Tulang lemah.

Jika kalsiumnya < 7 mg/dl

tetani.

D.

Osteomalaise
Osteomalaise sebenarnya sama dengan penyakit Ricket, namun
osteomalaise merupakan penyakit Rickets dewasa. Pada orang dewasa
jarang sekali menderita defisiensi vitamin D. Namun defisiensi vitamin D
disebabkan oleh adanya kegagalan mengabsorbsi lemak (steatore) karena
vitamin D bersifat larut lemak.

E.

osteoporosis
osteopororosis adalah gangguan tulang yang ditandai dengan
penurunan massa tulang dan kemerosotan mikro-arsitektur yang
menyebabkan tulang menjadi rapuh dan mudah patah .
osteoporosis dapat dibagi dua yaitu :

osteoporosis primer : akibat pascamenopause ( estrogen


berkurang), senillis (usia tua) dan idiopatik (terjadi sendiri, tanpa
penyebab)

Osteoporosis sekunder :

akibat gangguan endokrin (hiperparatiroidisme,


hipertiroidisme, hipotiroidisme, dll.)

neoplasia (penyakit sel mast, mieloma multipel,


karsinomatosis)

saluran cerna (malnutrisi, malabsorbsi,


gastrektomi subtotal, infusiensi sel hati, defisiensi
vitamin C dan D)

obat (antikoagulan, kemoterapi, antikejang,


litium, alkohol, kortikosteroid)

lain-lain (imobilisasi, penyakit paru, anemia,

dll)

patofisiologi osteoporosis primer


menopause
estrogen

bone marrow

absorbsi kalsium

reabsorbsi kalsium

stromal sel + sel

diginjal

mononuklear

HIL-1, TNF-, IL-6, M-CSF

diferensiasi dan

hipokalasemia

PTH

muturasi osteoklas

resorpsi tulang
osteoporosis
patofisiologi osteoporosis sekunder
defisiensi vitamin D

10

absorbsi Ca dalam usus

Hiperparatiroid sekunder

turnover tulang

osteoporosis
Skenario
Ny M, 52 Tahun, mengeluh sering merasa kesemutan pada tungkai bawah sampai ke
punggung disertai dengan rasa lemah pada tungkai bawah bila berjalan lama. Dari
anamnesa didapatkan bahwa Ny M pernah menderita penyakit gondok dan dilakukan
tindakan operatif kurang lebih lima tahun yang lalu. Ny M juga mempunyai
kebiasaan mengkonsumsi obat-obatan sejenis bodrex dan jamu-jamuan yang dibeli di
warung. Saat ini Ny M sudah tidak mestruasi sejak 3 tahun yang lalu.
1. Consep Mapping Kasus.
Identifikasi:
Ny M, 52 tahun
Anamnesa
- Keluhan utama: Kesemutan pada tungkai bawah sampai punggung
- RPS: Rasa lemah pada tungkai bawah bila berjalan lama
- RPD: Gondok (dilakukan tindak operatif), menopaus
- RPK: - Riwayat pemakaian obat: Obat-obat sejenis Bodrex dan jamu

jamuan
Pemeriksaan Fisik: -

11

Pemeriksaan Penunjang: Deferensial Diagnosa:


1. Osteoporosis secunder
2. Osteoporosis primer
3. Hiperparatiroidisme Primer
Planning
- Pemeriksaan penunjang:
Pemeriksaan Biokimia Tulang
Pemeriksaan biokomia tulang terdiri dari kalsium total
dalam serum, ion kalsium, kadar fosfor didalam serum,
kalsium urine, fosfat urine, osteokalsin serum, hormone
paratiroid dan vitamin D
Pemeriksaan Radiologik
Skintigrafi Tulang
Pemeriksaan Densitas massa Tulang (Densitometri)
Densitas massa tulang berhubungan dengan kekuatan
tulang dan resiko fraktur. Dapat digunakan untuk menilai
fraktor prognosis, prediksi fraktur dan bahkan diagnosis
osteoporosis.
Biopsi Tulang dan Histomorfometri
Biopsi tulang dan histomorfologi merupakan pemeriksaan
yang sangat penting untuk menilai kelainan metabolism
-

tulang.
Terapi: pemberian Vitamin D, Estrogen, Kalsitonon
Monitoring:
Vital Sign
Keluhan-keluhan lain
Edukasi:
Kepatuhan minum obat
Control secara teratur
Makan makanan bergizi
Olahraga secara teratur

2. Peranan Estrogen terhadap tulang

12

Estrogen menyebabkan meningkatnya aktivitas osteoblastik yang


membantu mengendapkan kalsium dan fosfat dan nantinya
membentuk matriks-matriks tulang.
Estrogen mempunyai efek poten terhadap pertumbuhan tulang rangka,
estrogen menyebabkan terjadinya penggabungan awal dari epifisis
dengan batang dari tulang panjang.
Kekurangan Estrogen menyebabkan:
1. Berkurangnya aktivitas osteoblastik pada tulang
2. Berkurangnya matriks tulang
3. Berkurangnya deposit kalsium dan fosfat tulang.
3. Faktor-faktor yang mempengaruhi masa tulang
Factor yang mempengruhi masa tulang adalah
Kalsium dan Fosfat yang nantinya mengendap dalam tulang
membentuk matriks dan garam-garam tulang.
Pengendapan-pengendapan itu dipengaruhi oleh beberapa factor
1. Hormonal:
a. PTH
Berperan merangsang formasi dan resorpsi tulang.
b. Calsitonin
Merupakan inhibitor yang poten terhadp efek resorpsi tulang
dari osteoklas
c. 1,25-Dihydroxyvitamin-D3
Memiliki fungsi yang sama dengan PTH, yaitu merangsang
resorpsi tulang.
d. Insulin
Mempunyai peran dalam merangsang sintesis matriks tulang
dan pembentukan tulang rawan. Selain itu, insulin juga sangat
penting pada mineralisasi tulang.
e. GH
Tidak mempunyai efek langsung terhadap remodeling tulang.
GH dapat mengatur formasi tulang.
f. Glucocortikoid
Mempunyai efek merangsang resorpsi tulang, mungkin melalui
penurunan absorbs kalsium yang kemudian akan diikuti oleh
peningkatan PTH.

13

g. Estrogen dan Androgen


Memegang peranan yang sangat penting pada maturasi tulang
yang sedang tumbuh dan mencegah kehilangan massa tulang.
h. Hormon Tiroid
Berperan merangsang resorpsi tulang.Hormon Tiroid (T3 dan
T4) merupakan regulator pertumbuhan tulang yang penting.
2. Obat-obatan:
a. Biophosphonate
Efeknya:

memperlambat pembentukan dan penghancuran Kristal


hidroksiapatit (Kristal penyusuntulang)
menghambat produksi 1,25 (OH)2 D3
Menghambat transport kalsium di usus
Perubahan metabolism dalam sel-sel tulang

b. plicamysin
c. Tiazid
Efeknya:
Menurunkan ekskresi kalsium di ginjal

Meningkatkan efek PTH dalam reabsorbsi oleh ginjal

Di tubulus distal menyekat reabsorbsi Na pada permukaan

luminal
Menurunkan hiperkalsiuria dan insiden pembentukan batu.

d. Flouride
Efeknya : menstabilkan Kristal hidroksiapatit dalam tulang
(mempertahankan matriks tulang)

14

15