Anda di halaman 1dari 5

SOSIAL & BUDAYA

SEARCH

Nasional

Sosial & Budaya

Kekerasan atas nama agama harus dihentikan

Kekerasan atas nama agama harus dihentikan


Andika Prabowo

Selasa, 1 Oktober 2013 21:39 WIB

Ilustrasi (Dok. SINDOphoto).


Sindonews.com Konflik antar umat beragama di Indonesia tidak mungkin dapat dihindarkan.
Sebab, para penganut agama di Indonesia yang sampai saat ini dirasa masih belum mendalam
memahami inti dari ajaran agamanya masing-masing.
Hal tersebut diungkapkan Guru Besar Ilmu Antropologi Budaya Fakultas Ilmu Budaya Universitas
Diponegoro, Mudjahirin Thohir, dalam Seminar memperingati Hari Kesaktian Pancasila yang
diselenggarakan Balai Litbang Agama Semarang, di Semarang, Jawa Tengah, Selasa
(1/10/2013).
Banyaknya konflik yang berakibat pada kekerasan atas nama agama di Indonesia dikarenakan
para penganut agama di negeri ini salah dalam memahami agama itu sendiri, kata dia kepada
SINDO di sela seminar.
Kesalahan itu, imbuh dia, muncul karena disebabkan dua faktor. Pertama faktor internal sebagai
umat beragama dan faktor eksternal. Sebagai umat beragama, mereka dituntut untuk
menyebarkan kebaikan dan melawan kemungkaran. Namun sayang, prespektif kebaikan dan
kemungkaran itu dirasa sangat subjektif, sehingga menganggap agamanya benar yang harus
dibela dan agama orang lain salah dan harus dilawan.

Mereka menganggap hal itu sebagai jihad, padahal tentu secara kacamata itu merupakan
tindakan radikal yang dapat merugikan agamanya sendiri. Karena esensi agama apapun di
dunia ini selalu mengajarkan kasih sayang, imbuhnya.
Sementara faktor eksternal imbuh dia, berasal dari kondisi di Indonesia yang saat ini karut marut
baik segi hukum, politik, ekonomi, sosial dan budaya. Faktor eksternal itulah menurut Mudjahirin
yang selalu berada di belakang konflik dan kekerasan umat beragama di Indonesia.
Untuk itulah, sudah saatnya para tokoh agama menyadarkan para penganut agamanya untuk
lebih dewasa dalam memahami agama dalam konteks Indonesia yang beragam ini, selain itu,
pemerintah Indonesia melalui penegak hukumnya harus tegas menindak penganut agama yang
selalu melakukan kekerasan atas nama agama itu, pungkasnya.
Ketua Pusat Kerukunan Umat Beragama Kementerian Agama (Kemenag) RI, Mubarok,
mengatakan, kekerasan atas nama agama di Indonesia memang banyak sekali terjadi. Ia juga
mengaku bahwa sebagian besar konflik atau kekerasan itu bukan atas dasar agama, melainkan
faktor lain seperti ekonomi, sosial, politik, budaya, dan factor lainnya.
Untuk itu, selama ini kami selalu melakukan berbagai upaya pencegahan atas kerusuhan itu,
bukan hanya menangani kerusuhan atau konflik. Kita sering berdialog dan diskusi antartokoh
agama mengenai perbedaan yang terjadi agar tercipta kondisi yang damai, kata dia.
Hal itu dibenarkan oleh Kepala Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Semarang, Arifuddin
Ismail. Ia mengatakan, banyak kasus konflik dan kekerasan atas nama agama yang sering
terjadi di Indonesia khususnya Jateng seperti di Temanggung, Solo dan sekitarnya ternyata
setelah diteliti bukan berasal dari faktor agama, melainkan berasal dari factor luar agama.
Karena isu agama itu sangat sensitif, ketika disentuh maka akan timbul gejolak. Untuk itu kami
menggelar seminar ini untuk mencoba mengajak semua umat beragama lebih dewasa dalam
memahami agama yang dianut, kata dia.
Baca juga berita Ahok ogah pindahkan pejabat karena agama.

http://nasional.sindonews.com/read/789660/15/kekerasan-atas-nama-agamaharus-dihentikan-1380638348]

Upaya Penuntasan Kasus Tanah Pertamina, Robert Minta


Satu Persepsi
BY
NOIRE
POSTED ON THURSDAY, 13 FEBRUARY 2014, 21:02POSTED IN: BITUNG - MINUT

inShare
Terkait masalah ganti rugi lahan Depot Pertamina di Bitung, K Yunus dari tim advokasi Robert Sitompul
mengatakan perlu ada persamaan persepsi antar-ahli waris.

Kiranya para ahli waris tidak saling marah satu sama lain agar permasalahan ini tidak berlarut-larut, jelasnya
menjawab Kawanua PosT Rabu (12/2) kemarin.
Terkait kasus ini diketahui, putusan yang berkekuatan hukum tetap baik dari Pengadilan Negeri Bitung, Manado
bahkan Mahkamah Agung telah ditentukan terhadap status lahan Pertamina di Bitung. Faktanya lahan SHM 342
seluas 32.540 M2 dan SHM 1 dengan luas 45.595 M2 yang dimasalahkan, sejak 1967 hingga kini masih
dikuasai Kementerian BUMN. Dinyatakan belum diberi ganti rugi kepada para ahli waris.
Berdasarkan hal tersebut, para ahli waris lewat kuasa hukumnya Robert Sitompul SH MH, Fahri SH bersama tim
advokasi, bersama tim dari Pertamina Pusat yang diwakili oleh Johan Sumampow, Aldrian serta SM Harahap,
mengadakan pertemuan dengan seluruh perwakilan dari ahli-ahli waris pada Senin (10/2) di Lion Hotel Plaza.
Adapun inti pertemuan adalah diadakannya kesepakatan antara para ahli waris serta pihak Pertamina. Dengan
tercapainya kesepakatan ini maka impian para ahli waris selama ini bisa tercapai.
Semenjak 2008 Pertamina telah siap menyelesaikan permasalahan ini (membayar), namun kesepakatan belum
pernah tercapai, papar Sumampow.
Dalam sengketa ini, PT Pertamina telah menempati lahan seluas 32.540 meter persegi itu selama 42 tahun.
Tanah itu menjadi objek gugatan lantaran terdapat warga yang membawa surat ukur pada 26 Februari 1999
Nomor 04/Bitung Barat/1999, lalu memperlihatkan Sertifikat Hak Milik (SHM) Nomor 342/Bitung Barat atas nama
Helena Pontoh.(AJI)

http://www.hariankawanuapost.com/wp/2014/02/13/upaya-penuntasan-kasustanah-pertamina-robert-minta-satu-persepsi/

Kasus Sengketa Tanah Jadi Perhatian


Pemkab
SHARE THIS

TAGS

Kasus sengketa tanah yang terjadi belakangan


ini menjadi perhatian utama Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kendal dan TNI dan kepolisian.
Persamaan persepsi untuk mengatasi masalah agar tidak menimbulkan konflik berkepanjangan
perlu dilakukan. Dalam Rapat Koordinasi Cipta Kondisi dan Lintas Sektoral, Senin (06/10) pagi
jajaran pemerintahan dan aparat keamanan mulai Camat, Danramil, Kapolsek, Babinsa dan
Kanit Intel bisa menyamakan visi bersama.
Ferinando Rad Bonai, Kepala Kantor Kesbangpol dikatakan bahwa, acara tersebut bertujuan
untuk menyamakan visi dan persepsi dalam menyikapi potensi konflik yang akhir-akhir ini
terjadi di wilayah Kabupaten Kendal. Ferinando mencontohkan, yang terbaru adalah masalah
pertanahan di Desa Banyuringin dan Desa Kaliputih Kecamatan Singorojo yang menimbulkan
konflik antara PTPN IX Merbuh dengan petani. Melalui Rakor Cipta Kondisi diharapkan segala
permasalahan yang terjadi bisa terdeteksi secara dini, sehingga konflik terbuka dapat dicegah
dan dihindari, katanya.
Sementara Bupati Kendal Widya Kandi Susanti MM dalam sambutannya, selain mengapresiasi
diselenggarakannya Rakor, dia juga berharap melalui Rakor dapat membangun komitmen
bersama untuk menyelenggarakan tertib administrasi penguasaan tanah, dan memfasilitasi
penanganan sengketa-sengketa penguasaan tanah.
Akhir-akhir ini memang sedang terjadi konflik tentang masalah kepemilikan tanah di
Kabupaten Kendal khususnya yang terjadi di Kecamatan Singorojo. Terkait dengan upaya

penyelesaian konflik, yang terpenting adalah mencarikan solusi terbaik, tegasnya.


Dijelaskan tentang status kepemilikan tanah jangan sampai menimbulkan konflik sosial.
Kebijakan yang dirasa cukup relevan dan adil adalah masing-masing pihak harus saling
menghormati.
Bupati juga mengatakan bahwa musim tanam massal di Desa Banyuringin dan Desa Kaliputih
rawan menimbulkkan konflik antara petani dengan pihak PTPN IX. Untuk itu pihaknya meminta
kepada Muspika Singorojo agar mengetahui dengan pasti kapan musim tanam itu tiba dan juga
proaktif. Ditengarai munculnya konflik sosial tersebut sebagai akibat dari status tanah yang tidak
jelas.
Selain status tanah yang tidak jelas, konflik juga bisa diakibatkan oleh adanya distribusi
kepemilikan tanah yang tidak merata. Disamping itu juga akibat dari legalitas kepemilikan tanah
yang semata-mata didasarkan pada bukti formal (sertifikat) tanpa memperhatikan produktifitas
tanah.
Dijelaskan Bupati secara legal boleh jadi banyak tanah bersertifikat dimiliki oleh perusahaan
atau para pemodal besar, karena mereka telah membelinya dari para petani/pemilik tanah,
tetapi tanah tersebut lama ditelantarkan begitu saja. Kemudian oleh warga tanah tersebut
kemudian ditanami dan diakui menjadi miliknya.
Widya Kandi Susanti kepada Aparat Keamanan dan SKPD terkait meminta untuk memberikan
perhatian serius pada permasalahan tanah ini. Dia minta untuk bersikap arif dan bijaksana
dalam menyelesaikan masalah sengketa tanah, agar penyelesaianya bisa benar-benar adil tanpa
ada pihak yang merasa dirugikan sehingga konflik bisa dicegah. (03)
http://www.beritakendal.com/2014/10/06/kasus-sengket-tanah-jadi-perhatianpemkab/