Anda di halaman 1dari 18

MAKALAH KEBUTUHAN MANUSIA TERHADAP AGAMA

DAFTAR ISI
COVER.............................................................................................................. i
KATA PENGANTAR..................................................................................... ii
DAFTAR ISI..................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang...................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah................................................................................. 1
C. Tujuan Pembahasan.............................................................................. 1
BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian Agama................................................................................. 2
B. Latar Belakang Kebutuhan Manusia Terhadap Agama........................ 3
C. Fungsi Agama dalam Kehidupan......................................................... 5
D. Doktrin Kepercayaan Agama............................................................... 7
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan........................................................................................... 10
B. Saran..................................................................................................... 10
DAFTAR RUJUKAN...................................................................................... 11

BAB I
PENDAHULUAN

A.

Latar Belakang

Seperti makhluk-makhluk lainnya, manusia adalah ciptaan Allah. Manusia mempunyai


dua fungsi yaitu individu dan sosial. Dalam fungsinya sebagai makhluk individu, manusia
mempunyai hak untuk memenuhi kebutuhan pribadinya, misalnya pendidikan, kesehatan,
kebahagiaan dan sebagainya, sedangkan secara social manusia memerankan fungsinya sebagai
makhluk sosial yang hidup dan berinteraksi dengan masyarakat.
Manusia mempunyai kecenderungan untuk mencari sesuatu yang mampu menjawab
segala pertanyaan yang ada dalam benaknya. Segala keingintahuan itu akan menjadikan manusia
gelisah dan kemudian mencari pelampiasan dengan timbulnya tindakan irrasionaltas. Munculnya
pemujaan terhadap benda-benda merupakan bukti adanya keingintahuan manusia yang diliputi
oleh rasa takut terhadap sesuatu yang tidak diketahuinya. Rasa takut terhadap sesuatu itu
menjadikan manusia beragama
B.

Rumusan Masalah

1.

Apa Pengertian Agama?

2.

Bagaimana Latar Belakang Kebutuhan Manusia terhadap Agama?

3.

Apa Fungsi Agama dalam Kehidupan

4.

Doktrin-doktrin apa sajakah yang Menjadi Kepercayaan Agama?


C.

Tujuan Pembahasan

1.

Mengetahui Arti dari Agama.

2.

Mengetahui Latar Belakang Kebutuhan Manusia Terhadap Agama.

3.

Mengetahui Fungsi-fungsi Agama dalam Kehidupan

4.

Mengetahui Doktrin-doktrin Kepercayaan Agama.

BAB II
PEMBAHASAN

A.

Pengertian Agama
Agama pada umumnya ialah:[1]

Tata keimanan atau keyakinan atas adanya sesuatu yang Mutlak di luar manusia.

Tata peribadahan manusia kepada yang dianggapnya mutlak.

Tata kaidah yang mengatur hubungan manusia dengan manusia dan alam lainya, sesuai dan
sejalan dengan tata keimanan dan tata peribadatan termaksud di atas.
Agama dalam bahasa Arab berarti Addin yang artinya kepatuhan, kekuasaan, atau
kecenderungan. Agama bias juga berasal dari gabungan a yang artinya tidak dan gama
artinya kacau, jadi agama artinya tidak kacau. Agama juga merupakam terjemahan dari bahasa
Inggris, religion atau religi yang artinya kepercayaan dan penyembahan Tuhan.[2]
Agama berkaitan dengan usaha-usaha manusia untuk mengukur dalamnya makna dari
keberadaanya sendiri dan keberadaan alam semesta.
H. Moenawar Chalil, mendefinisikan agama adalah cara atau adat kebiasaan, peraturan,
undang-undang, taat atau patuh, menunggalkan ketuhanan, pembalasan, perhitungan, hari
kiamat, nasihat, sedangkan Prof. Dr. M. Driyarkarsa S.J mendifinisikan agama dengan
mengganti istilah agama dengan religi, religi adalah ikatan atau pengikatan diri.[3]
Dilihat dari aspek duniawinya, atau lebih tepat dalam kehidupan masyarakat, agama
merupakan sumber nilai dan kekuatan mobilisasi yang sering menimbulkan konflik dalam
sejarah umat manusia.
Selanjutnya, karena banyaknya definisi tentang agama yang dikemukakan oleh para Ahli,
Harun Nasution mengatakan bahwa agama dapat diberi definisi sebagai berikut:[4]

Pengakuan terhadap adanya hubungan manusia dengan kekuatan gaib yang harus dipatuhi.

Pengakuan terhadap adanya kekuatan gaib yang menguasai manusia.

Mengikatkan diri pada suatu bentuk hidup yang mengandung pengakuan pada suatu sumber
yang berada di luar diri manusia yang mempengaruhi perbuatan-perbuatan manusia.

Kepercayaan pada suatu kekuatan gaib yang menimbulkan cara hidup tertentu.

Suatu sistem tingkah laku yang berasal dari kekuatan gaib.

Pengakuan terhadap adanya kewajiban-kewajiban yang diyakini bersumber pada suatu kekuatan
gaib.

Pemujaan kekuatan gaib yang timbul dari perasaan lemah dan perasaan takut terhadap kekuatan
misterius yang terdapat dalam alam sekitar manusia.

Ajaran yang diwahyukan Tuhan kepada manusia melalui seorang rosul.


Jadi, agama adalah suatu kepercayaan, keyakinan kepada yang mutlak, yang dimana
keyakinan tersebut dianggap yang paling benar
B.

Latar Belakang Kebutuhan Manusia Terhadap Agama


Secara alamiah, manusia mengakui kekuatan dalam kehidupan ini di luar dirinya. Ini dapat

dilihat ketika manusia mengalami kesulitan hidup, musibah, dan berbagai bencana. Ia mengeluh
dan meminta pertolongan kepada sesuatu yang serba maha, yang dapat membebaskannya dari
keadaan itu. Naluriah ini membuktikan bahwa manusia perlu beragama dan membutuhkan Sang
Khaliknya. Adapun latar belakang manusia membutuhkan agama:[5]
1.

Latar belakang fitrah manusia


Kenyataan bahwa manusia memiliki fitrah keagamaan ditegaskan dalam ajaran islam,
yakni bahwa agama adalah kebutuhan fitri manusia.
Setiap anak yang dilahirkan memiliki potensi beragama, maka kedua orang tuanyalah yang
menjadikan anak tersebut menjadi Islam, Kristen, Hindu, maupun Budha.
Bukti bahwa manusia sebagai makhluk yang memiliki potensi agama yaitu pada manusia
primitif yang tidak pernah mendapat informasi mengenai Tuhan, ternyata mereka mempercayai
adanya Tuhan, meskipun yang mereka percayai itu terbatas pada khayalan.
Dalam diri manusia sudah terdapat potensi beragama, potensi beragama ini memerlukan
pembinaan, pengarahan, dan pengembangan dengan cara mengenalkan agama kepadanya.

2.

Kelemahan dan kekurangan manusia


Disamping manusia memiliki berbagai kesempurnaan manusia juga memiliki kekurangan.
Dalam pandangan al-Quran, manusia diciptakan oleh Allah dalam keadaan sempurna, namun
diperoleh pula manusia berpotensi positif dan negatif, sedangkan daya tarik keburukan lebih kuat
dari pada kebaikan.
Sifat-sifat keburukan yang ada pada manusia antara lain sombong, inkar, iri, dan lain
sebagainya, Karena itu manusia dituntut untuk menjaga kesuciaannya, hal yang dapat dilakukan
untuk menjaga kesuciannya dengan cara mendekatkan diri pada Tuhan dengan bimbingan agama
dan disinilah letak kebutuhan manusia terhadap agama.

3.

Tantangan Manusia
Manusia dalam kehidupannya senantiasa menghadapi berbagai tantangan, baik yang dating
dari dalam maupun dari luar. Tantangan dari dalam berupa dorongan hawa nafsu dan bisikan
setan, sedangkan tantangan dari luar berupa rekayasa dan upaya-upaya yang dilakukan manusia
dengan sengaja ingin memalingkan manusia dari Tuhan.
Upaya mengatasi dan membentengi manusia adalah dengan mengajar mereka agar taat
menjalankan agama. Jadi upaya mengagamakan masyarakat menjadi sangat penting, agar
masyarakat mampu menghadapi tantangan baik dari luar maupun dari dalam.
C.

Fungsi Agama dalam Kehidupan


Manusia adalah mahluk yang memiliki rasa keagamaan, kemampuan untuk memahami

dan mengamalkan nilai agama. Tugas manusia didunia yaitu ibadah dan mengabdi kepadanya.
Fungsi agama yaitu sebagai pustaka kebenaran, dimana agama diibaratkan sebagai suatu
gedung perpustakaan kebenaran.[6] Agama dapat dijadikan suatu pedoman dalam mengambil
suatu keputusan antara yang benar dan yang salah.
Peranan sosial agama bagi masyarakat berarti peran agama dalam menciptakan suatu
ikatan bersama, baik diantara anggota-anggota beberapa masyarakat maupun dalam kewajibankewajiban sosial yang membantu mempersatukan mereka. Hal ini dikarenakan nilai-nilai yang
mendasari sistem-sistem kewajiban sosial didukung bersama oleh kelompok-kelompok
keagamaan sehingga agama menjamin adanya konsensus dalam masyarakat.[7]
Manusia menyelesaikan tantangan-tantangan hidup dengan menggunakan agama, karena
manusia percaya dengan keyakinan yang kuat bahwa agama memiliki kesanggupan dalam
menolong manusia.
Fungsi agama dalam kehidupan antara lain:[8]

Fungsi Edukatif
Agama memberikan bimbingan dan pengajaaran tentang boleh tidaknya suatu perbuatan, cara
beribah, dll dengan perantara petugas-petugasnya (fungsionaris).

Fungsi Penyelamatan

Agama membantu manusia untuk mengenal sesuatu yang sakral dan makhluk teringgi atau
Tuhan dan berkomunikasi dengan-Nya. Sehingga dalam yang hubungan ini manusia percaya
dapat memperoleh apa yang ia inginkan.

Fungsi Pengawasan Sosial


Agama mengamankan dan melestarikan kaidah-kaidah moral (yang dianggap baik) dari serbuan
destruktif dari agama baru dan dari system hokum Negara modern.

Fungsi Memupuk Persaudaraan


Kesatuan persaudaraan atas dasar se-iman, merupakan kesatuan tertinggi karena dalam persatuan
ini manusia bukan hanya melibatkan sebagian dari dirinya saja melainkan seluruh pribadinya
dilibatkan.

Fungsi Transformatif
Mengubah bentuk kehidupan baru atau mengganti nilai-nilai lama dengan menanamkan nilainilai baru yang lebih bermanfaat.
Selain fungsi diatas, agama juga memiliki fungsi antara lain:[9]

Sumber pedoman hidup bagi individu maupun kelompok

Mengatur tata cara hubungan manusia dengan Tuhan dan manusia dengan manusia.

Merupakan tuntutan tentang prinsip benar atau salah

Pedoman mengungkapkan rasa kebersamaan

Pedoman perasaan keyakinan

Pedoman keberadaan

Pengungkapan estetika (keindahan)

Pedoman rekreasi dan hiburan

Memberikan identitas kepada manusia sebagai umat dari suatu agama.


D.

Doktrin Kepercayaan Agama


Doktrin adalah ajaran tentang asas-asas suatu aliran politik, keagamaan, pendirian

segolongan ahli ilmu pengetahuan, keagamaan, pendirian segolongan ahli ilmu pengetahuan.[10]
Istilah Doktrin berkaitan dengan suatu kebenaran dan ajaran. Keduanya tidak dapat dipisahkan
sebab menegaskan tentang kebenaran melalui ajaran, sedangkan yang diajarkan biasanya dengan
kebenaran. Dengan demikian, doktrin berisi tentang ajaran kebenaran yang sudah tentu memiliki

balutan filosofis.[11] Doktrin banyak ditemukan dalam banyak agama seperti Kristen dan
Islam, di mana doktrin dianggap sebagai prinsip utama yang harus dijunjung oleh semua umat
agama tersebut.
Dalam konteks doktrin, agama selalu menjadi akidah, yakni sebagai suatu kepercayaan
kepada Tuhan, suatu ikatan, kesadaran, dan penyembahan secara spiritual kepada-Nya. Sebagai
suatu akidah, agama memiliki prinsip - prinsip kebenaran yang dituangkan dalam bentuk doktrin.
Adapun doktrin didalam agama antara lain:
Doktrin utama dalam agama Yahudi:[12]

Percaya kepada Allah pencipta langit bumi dan seluruh alam semesta, dan dia adalah Allah yang
kekal.

Percaya bahwa Musa adalah nabi yang menerima hokum Allah dan diutus untuk melayani umat
Allah, bangsa Israel, yang disebut kaum Yahudi.

Percaya dan menantikan datangnya Mesias yang akan menyatakan kerajaan Allah, dan bahwa
Dia pasti akan dating pada waktunya.

Doktrin utama dalam agama Budha:[13]

Tentang realita penderitaan, bahwa di dalam hidup manusia tidak dapat menghindari realita
penderitaan.

Tentang penyebab adanya penderitaan.

Tentang cara manusia dapat mengakhiri penderitaan hidup di dunia ini adalah meniadakan,
membebaskan diri dari semua keinginan, hasrat dan perasaan yang ada dalam diri manusia.

Tentang jalan kelepasan dari penderitaan setelah memadamkan hasrat diri dan keinginan
tersebut, manusia melangkah ke dalam perjalanan menuju nirwana.

Doktrin utama dalam agama Khonghucu:[14]

Pemujaan terhadap arwah para leluhur.

Kesalehan seorang anak terhadap orang tuanya.

Doktrin utama dalam agama Islam:[15]

Iman dan kewajiban


Menjadi pemeluk Islam, haruslah sungguh-sungguh tunduk dan menyerahkan diri kepada Allah
dengan menyatakan imannya hanya kepada Allah yang Maha Esa dan melakukan hokumhukumNya.

Sharia
Hukum Islam berasal dari Allah, yang merupakan bagian utama dalam kehidupan umat Islam,
dimana didalamnya mengatur hubungan manusia baik dengan sesame manusia maupun Tuhan.

Rukun Iman
Iman kepada Allah, Malaikat, Kitab-kitab Allah, Rosul, Hari akhir, Takdir Allah

Rukun Islam
Shahadat, Sholat, Zakat, Puasa, dan Haji

[1] Endang Saifuddin Anshari, Ilmu, Filsafat Dan Agama, (Surabaya: PT. Bina Ilmu,
1982), hal.172
[2] Aminuddin, dkk, Pendidikan Agama Islam, (Bogor: Ghalia Indonesia, 2005), hal. 12
[3] Ibid., hal. 39
[4] Abuddin Nata, Metodologi Studi Islam, (Yogyakarta: Gama Media, 2005), hal.13
[5] Ibid., hal.16
[6] Endang Saifuddin Anshari, Ilmu, Filsafat .........., hal. 142
[7] http://abdain.wordpress.com/2010/04/11/fungsi-agama-bagi-kehidupan/, diakses 23
September 2012

http://abdain.wordpress.com/2010/01/03/kebutuhanmanusia-terhadap-agama/

Mengapa manusia butuh agama ?


03/01/2010 Tinggalkan Komentar Go to comments
Adalah suatu pertanyaan yang tidak mudah untuk dijawab. Namun, kita melihat potensi-potensi
yang dimiliki manusia, maka kita akan menemukan beberapa jawaban terhadap pertanyaan
tersebut, antara lain adalah sebagai berikut :
1. Manusia sebagai makhluk Allah memiliki banyak kelebihan dibanding dengan makhluk yang
yang lain; tetapi dibalik kelebihan yang banyak itu, manusia juga tidak luput dari banyak
kekurangan, kelemahan dan kemampuan yang terbatas. Manusia terbatas pada alam sekitarnya,
warisan keturunan dan latar belakang kebudayannya/hidupnya,; yang menyebabkan adanya
perbedaan pandangan dalam menghadapi suatu masalah, bahkan seringkali bertentangan antara
satu dengan yang lainnya.
Pandangan yang simpang siur tersebut (subyektif) tidak akan dapat menimbulkan keyakinan atas
kebenaran, tetapi senantiasa diliputi oleh kabut keragu-raguan (dzanny), sehingga manusia
senantiasa gagal dalam menentukan kebenaran secara mutlak, ia tidak sanggup menentukan
kebaikan dan keburukan (haq dan batil), ia tidak dapat menentukan nilai-nilai semua hal yang
demikian itu adalah di luar bidang ilmu pengetahuan manusia.
Untuk mengatasi ataupun memberikan solusi terhadap kegagalan manusia sebagai akibat dari
kelemahannya, itu maka diperlukan agama/wahyu yang berasal dari luar manusia, yakni Allah
swt. melalui para Nabi dan Rasul-Nya. Hal ini dapat terjadi karena Allah swt. adalah Maha
Sempurna, sehingga wahyu yang diturunkan-Nya merupakan kebenaran mutlak dan bersifat
universal yang tak perlu diragukan lagi, sebagaimana firman Allah dalam Q.S. al-Baqarah (2) :
147,


Kebenaran itu adalah berasal dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu
meragukannya
2. Dalam diri manusia terhadap hawa nafsu, yang senantiasa mengajak manusia kepada
kejahatan, apalagi kalau hawa nafsu tersebut sudah dipengaruhi oleh syaitan/iblis yang
senantiasa menyesatkan manusia dari jalan yang benar. Jika manusia dapat mengalahkan
pengaruh hawa nafsu dan syaitan tersebut, maka ia akan lebih tinggi derajatnya daripada
malaikat; tetapi, jika ia mengikuti ajakan hawa nafsunya dan syaitan tersebut, maka ia akan turun
derajatnya lebih rendah daripada binatang.
Untuk mengatasi pengaruh hawa nafsu dan syaitan itu, manusia harus memakai senjata agama
(iman), karena hanya agama (imanlah) yang dapat mengatasi dan mengendalikan hawa nafsu dan
syaitan/iblis itu; sebab agama merupakan sumber moral dan akhlak dalam Islam. Itulah

sebabnya, missi utama manusia, sebagaimana hadits beliau yang menyatakan: Hanya saja aku
diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.
Melawan hawa nafsu dan syaitan adalah jihad akbar, sebagaimana dikatakan oleh Nabi saw.
sewaktu kembali dari perang Badar: Kita kembali dari jihad (perang) yang paling kecil menuju
jihad yang paling besar, para sahabat bertanya: adakah perang yang lebih besar dari perang ini ya
Rasulullah? Nabi menjawaab : ada, yakni melawan hawa nafsu.
Di samping itu, ada hadits lain yang mengatakan: Tidak sempurna iman seseorang di antara
kamu sehingga hawa nafsunya semata-mata mengikuti agama Islam yang kaubawa.
3. Manusia dengan akalnya semata, tidak mampu mengetahui alam metafisika, alam akhirat
yang merupakan alam gaib, dan berada di luar jangkauan akal manusia, sebagaimana firmana
Allah dalam Q.S. al-Nahl (27) : 65,



Dan Allah menurunkan air (hujan) dari langit dan dengan air itu dihidupkan-Nya bumi yang
tadinya sudah mati. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda
(kebesaran Allah) bagi orang-orang yang mendengarkan (pelajaran)
Akal manusia mempunyai batas-batas kemampuan tertentu, sehingga tidak boleh melampaui
batas dan wewenangnya. Oleh karena itu, banyak masalah yang tidak mampu dipecahkan oleh
akal manusia, terutama masalah alam gaib; dan di sinilah perlunya agama/wahyu untuk
meberikan jawaban terhadap segala masalah gaib yang berada di luar jangkauan akal manusia.
Di sinilah letak kebutuhan manusia untuk mendapat bimbingan agama/wahyu, sehingga mampu
mengatasi segala persoalan hidupnya dengan baik dan menyakinkan.
4. Para sainstis yang terlalu mendewakan ilmu pengetahuan banyak yang kehilangan idealisme
sebagai tujuan hidupnya. Mereka dihinggapi penyakit risau gelisah, hidupnya hambar dan
hampa, karena dengan pengetahuan semata, mereka tidak mampu memenuhi hajat hidupnya;
sebab dengan bekal ilmu pengetahuannya itu, tempat berpijaknya makin kabur, karena
kebenaran yang diperolehnya relatif dan temporer, sehingga rohaninya makin gersang,
sebagaimana bumi ditimpa kemarau, sehingga membutuhkan siraman yang dapat menyejukkan.
Di sinilah perlunya agama untuk memenuhi hajat rohani manusia, agar ia tidak risau dan gelisah
dalam menghadapi segala persoalan hidup ini.
5. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi telah banyak memberikan kebahagiaan dan
kesejahteraan bagi umat manusia. Namun, dibalik semuanya itu, kemajuan ilmu pengetahuann
dan tehnologi pula yang banyak menimbulkan kecemasan dan ancaman keselamatan bagi umat
manusia. Berbagai konflik yang maha dahsyat terjadi diberbagai belahan dunia dewasa ini
merupakan dampak negatif dari pada kemajuan ilmu pengetahuan dan tehnologi itu, dengan ilmu
dan tehnologi, manusia memproduksi senjata, namun dengan senjata itu pula manusia banyak
menjadi korban. Di sinilah perlunya agama, karena hanya agama (iman) lah yang dapat
mencegah agar ilmu dan tekhnologi tersebut tidak berubah menjadi senjata makan tuan/pagar

makan tanaman. Agamalah yang mampu menjinakkan hati manusia yang sesat, untuk berbuat
baik kepada diri sendiri dan kepada orang lain.
About these ads

http://ms.wikipedia.org/wiki/Agama

Agama
Daripada Wikipedia, ensiklopedia bebas.
Lompat ke: pandu arah, cari
Untuk genus, sila lihat Agama (genus).

Pelbagai Simbol untuk agama


Agama pada lazimnya bermakna kepercayaan kepada Tuhan, atau sesuatu kuasa yang ghaib dan
sakti seperti Dewa, dan juga amalan dan institusi yang berkait dengan kepercayaan tersebut.
Agama dan kepercayaan merupakan dua pekara yang sangat berkaitan. Tetapi Agama
mempunyai makna yang lebih luas, yakni merujuk kepada satu sistem kepercayaan yang
kohensif, dan kepercayaan ini adalah mengenai aspek ketuhanan.
Kepercayaan yang hanya melibatkan seorang individu lazimnya tidak dianggap sebagai sebuah
agama. Sebaliknya, agama haruslah melibatkan sebuah komuniti manusia. Daripada itu, Agama
adalah fenomena masyarakat boleh dikesan melalui fenomena seperti yang berikut:

Perlakuan
seperti sembahyang, membuat sajian, perayaan dan upacara.

Sikap
seperti sikap hormat, kasih ataupun takut kepada kuasa luar biasa dan anggapan suci dan
bersih terhadap agama.

Pernyataan
seperti jambi,mantera dan kalimat suci.

Benda-benda material
yang zahir seperti bangunan.Contohnya masjid, gereja, azimat dan tangkal.

Salah satu lagi ciri agama ialah ia berkaitan dengan tatasusila masyarakat. Ini bermakna agama
bukan sahaja merupakan soal perhubungan antara manusia dengan tuhan, malah merupakan soal
hubungan manusia dengan manusia. Ciri-ciri ini lebih menonjol di dalam agama universal,
daripada agama folk. (sila lihat dibawah)
Manusia yang tidak tidak mempercayai adanya tuhan dan menolak semua kepercayaan beragama
pula dipanggil ateisme.

Isi kandungan

1 Jenis-jenis Agama
o 1.1 Dari segi penyebaran
o 1.2 Dari segi sumber rujukan
o 1.3 Dari segi tanggapan ketuhanan

2 Fungsi Agama Kepada Manusia

3 Senarai agama

4 Lihat juga

Jenis-jenis Agama
Agama boleh dibahagi kepada beberapa jenis menurut kriteria tertentu. Orang ramai biasanya
menjeniskan agama kepada agama yang sahih dan agama sesat. Penjenisan mudah ini adalah
subjektif, malah boleh mendatangkan perasaan tidak puas hati dalam masayrakat yang berbilang
kaum dan agama. Dengan itu, agama haruslah dijeniskan berdasarkan kriteria yang zahir.

Dari segi penyebaran


Dari segi penyebarannya,sesuatu agama boleh dibahagi kepada dua jenis iaitu:

Agama Universal
merupakan agama-agama yang "besar" dan mempunyai minat untuk menyebarkan ajaran
untuk keseluruhan umat Manusia. Sasaran agama jenis ini adalah kesemua manusia tanpa
mengira kaum dan bangsa. Contohnya: Agama Islam, Kristian dan Buddha.

Agama Folk
merupakan agama yang kecil dan tidak mempunyai sifat dakwah seperti agama universal.
Amalannya hanya terhad kepada etnik tertentu. Contohnya: Agama Rakyat
China/Taoismedan agama Sikh

Dari segi sumber rujukan


Semua agama menganggap ajarannya kudus. Kekudusan itu berpunca daripada satu sumber yang
kudus juga. Dari segi sumber, agama-agama di dunia boleh dibahagi kepada dua jenis:

Agama Bersumberkan wahyu.


Merujukkan agama yang menuntut dirinya sebagai agama yang diturunkan daripada
Tuhan sendiri. Penurunan ini biasanya melalui seorang Rasul. Daripada itu, agama yang
berkenaan menganggap ajarannya adalah kebenaran yang muktamad. Contohnya: agama
Yahudi, Kristian, Islam.

Agama Budaya.
merujuk kepada agama yang tidak menuntut kepada sumber wahyu. Agama ini
mengabsahkan dirinya dengan merujuk kepada pelbagai sumber seperti pembuktian,
tradisi, falsafah dan sebagainya. Contohnya: agama Buddha, Hindu.

Dari segi tanggapan ketuhanan


Agama-agama yang berbeza mempunyai pandangan yang berbeza mengenai Tuhan. Perbezaan
ini mungkin dari segi nama Tuhan dan sifat Tuhan. Secara amnya, agama menurut penjenisan ini
dapat dibahagi kepada 2 jenis.

Agama Monoteisme
merupakan agama yang menganggap Tuhan hanya satu, yakni mendukung konsep
kewahidan Tuhan. Contohnya, agama Islam.

Agama Politeisme
merupakan agama yang menganggap bahawa Tuhan wujud secara berbilangan, yakni ada
banyak Tuhan atau Tuhan boleh berpecah kepada banyak bentuk. Contohnya, agama
Hindu, Agama Rakyat China.

Fungsi Agama Kepada Manusia


Dari segi pragmatisme, seseorang itu menganut sesuatu agama adalah disebabkan oleh
fungsinya. Bagi kebanyakan orang, agama itu berfungsi untuk menjaga kebahagiaan hidup.
Tetapi dari segi sains sosial, fungsi agama mempunyai dimensi yang lain seperti apa yang
dihuraikan di bawah:

Memberi pandangan dunia kepada satu-satu budaya manusia.


Agama dikatankan memberi pandangan dunia kepada manusia kerana ia sentiasanya
memberi penerangan mengenai dunia(sebagai satu keseluruhan), dan juga kedudukan
manusia di dalam dunia. Penerangan bagi pekara ini sebenarnya sukar dicapai melalui
inderia manusia, melainkan sedikit penerangan daripada falsafah. Contohnya, agama
Islam menerangkan kepada umatnya bahawa dunia adalah ciptaan Allah(s.w.t) dan setiap
manusia harus menaati Allah(s.w.t).

Menjawab pelbagai soalan yang tidak mampu dijawab oleh manusia.


Sesetangah soalan yang sentiasa ditanya oleh manusia merupakan soalan yang tidak
terjawab oleh akal manusia sendiri. Contohnya soalan kehidupan selepas mati, matlamat
hidup, soal nasib dan sebagainya. Bagi kebanyakan manusia, soalan-soalan ini adalah
menarik dan untuk menjawabnya adalah perlu. Maka, agama itulah berfungsi untuk
menjawab soalan-soalan ini.

Memberi rasa kekitaan kepada sesuatu kelompok manusia.


Agama merupakan satu faktor dalam pembentukkan kelompok manusia. Ini adalah
kerana sistem agama menimbulkan keseragaman bukan sahaja kepercayaan yang sama,
malah tingkah laku, pandangan dunia dan nilai yang sama.

Memainkan fungsi kawalan sosial.


Kebanyakan agama di dunia adalah menyaran kepada kebaikan. Dalam ajaran agama
sendiri sebenarnya telah menggariskan kod etika yang wajib dilakukan oleh penganutnya.
Maka ini dikatakan agama memainkan fungsi kawalan sosial

Agama Dan Jenis Nya

Pengertian Agama
Agama adalah sebuah realitas yang senantiasa melingkup manusia. Agama muncul dalam
kehidupan manusia dalam berbagai dimensi dan sejarahnya. Maka memang tidak mudah
mendefinisikan agama. Termasuk mengelompokkan seseorang apakah ia terlibat dalam suatu
agama atau tidak. Menurut Oxford Student Dictionary (1978) mendefinisikan agama (religion)
dengan suatu kepercayaan akan keberadaan suatu kekuatan pengatur supranatural yang
menciptakan dan mengendalikan alam semesta. Agama (religion) dalam pengertiannya yang luas
dapat diartikan sebagai sistem orientasi dan obyek pengabdian. Dalam pengertian ini semua
orang adalah makhluk religius, karena tak seorang pun dapat hidup tanpa suatu sistem yang
mengaturnya dan tetap dalam kondisi sehat. Kebudayaan yang berkembang di tengah manusia
adalah produk dari tingkah laku keberagamaan manusia.
Dalam bahasa Alquran din diartikan sebagai agama. Kata din yang berasal dari akar bahasa
Arab dyn mempunyai banyak arti pokok, yaitu:

Keberhutangan,

Kepatuhan,

Kekuasaan bijaksana, dan

Kecenderungan alami atau tendensi.


Dalam keadaan seseorang mendapatkan dirinya berhutang kesimpulannya ialah bahwa orang itu
menundukkan dirinya dalam arti menyerah dan patuh kepada hukum dan peraturan yang
mengatur hutang. Demikian juga dalam artian yang terbatas kepada yang berpiutang.
Sebuah agama biasanya melingkupi tiga persoalan pokok, yaitu:
1. Keyakinan (credial), yaitu keyakinan akan adanya sesuatu kekuatan supranatural yang diyakini
mengatur dan menciptakan alam.
2.
Peribadatan (ritual), yaitu tingkah laku manusia dalam berhubungan dengan kekuatan
supranatural tersebut sebagai konsekuensi atau pengakuan dan ketundukannya.
3. Sistem nilai yang mengatur hubungan manusia dengan manusia lainnya atau alam semesta yang
dikaitkan dengan keyakinannya tersebut.
Unsur-unsur yang ada dalam sebuah agama :

1.
2.
3.
4.

Adanya keyakinan pada yang gaib


Adanya kitab suci sebagai pedoman
Adanya Rasul pembawanya
Adanya ajaran yang bisa dipatuhi
Jenis-Jenis Agama
Dikaitkan dengan arti agama di atas maka sesungguhnya pengertian agama menjadi sangat luas.
Tiada seorang pun yang tidak menganut suatu ajaran agama. Boleh jadi seseorang mengatakan
dirinya tidak beragama namun pada hakikatnya ia telah membuat suatu ajaran tertentu menjadi
agamanya.

a.

b.

a)
b)
c)
d)
e)
f)
g)
h)

Ditinjau dari sumbernya agama dibagi menjadi dua jenis, yaitu :


Agama Samawi (Agama Wahyu)
Agama samawi (agama wahyu) adalah agama yang diterima oleh manusia dari Allah Sang
Pencipta melalui Malaikat Jibril dan disampaikan serta disebarkan oleh Rasul-Nya kepada umat
manusia seperti Majusi, Yahudi, Nasrani dam Islam.
Agama Ardhi (Agama Bukan Wahyu)
Agama ardhi (agama bukan wahyu) Adalah agama yang diciptakan oleh manusia seperti
budha, hindu, konghuchu.
Perbedaan kedua jenis agama ini dikemukakan Al Masdoosi dalam Living Religious of the
World sebagai berikut :
Agama wahyu berpokok pada konsep keesaan Tuhan sedangkan agama bukan wahyu tidak
demikian.
Agama wahyu beriman kepada Nabi, sedangkan agama bukan wahyu tidak.
Dalam agama wahyu sumber utama tuntunan baik dan buruk adalah kitab suci yang
diwahyukan, sedangkan agama bukan wahyu kitab suci tidak penting.
Semua agama wahyu lahir di Timur Tengah, sedangkan agama bukan wahyu lahir di luar itu.
Agama wahyu lahir di daerah-daerah yang berada di bawah pengaruh ras semetik.
Agama wahyu sesuai dengan ajarannya adalah agama misionari, sedangkan agama bukan
wahyu agama misionari.
Ajaran agama wahyu jelas dan tegas, sedangkan agama bukan wahyu kabur dan elastis.
Agama wahyu memberikan arah yang jelas dan lengkap baik aspek spritual maupun material,
sedangkan agama bukan wahyu lebih menitik beratkan kepada aspek spritual saja, seperti pada
Taoisme, atau pada aspek material saja seperti pada Confusianisme.

Agama menurut penjenisan ini dapat dibagi kepada dua jenis :


a) Agama Monoteisme merupakan agama yang menganggap Tuhan hanya satu, yakni mendukung
konsep kewahidan Tuhan. Contohnya, agama Islam.
b) Agama Politeisme merupakan agama yang menganggap bahawa Tuhan berwujud secara
berbilangan, yakni ada banyak Tuhan atau Tuhan boleh berpecah kepada banyak bentuk.
Contohnya, agama Hindu, agama Rakyat China.
Adapun ciri-ciri Agama Wahyu (langit), ialah :

a) Secara pasti dapat ditentukan lahirnya, dan bukan tumbuh dari masyarakat,melainkan diturunkan
kepada masyarakat.
b) Disampaikan oleh manusia yang dipilih Allah sebagai utusan-Nya. Utusan itu bukan
menciptakan agama, melainkan menyampaikannya.
c) Memiliki kitab suci yang bersih dari campur tangan manusia.
d) Ajarannya serba tetap, walaupun tafsirnya dapat berubah sesuai dengan kecerdasan dan
kepekaan manusia.Konsep ketuhanannya adalah : monotheisme mutlak ( tauhid)
e) Kebenarannya adalah universal yaitu berlaku bagi setiap manusia , masa dan keadaan.
a)
b)
c)
d)
e)
f)

Adapun ciri-ciri agama budaya (ardhi), ialah :


Tumbuh secara komulatif dalam masyarakat penganutnya.
Tidak disampaikan oleh utusan Tuhan ( Rasul).
Umumnya tidak memiliki kitab suci, walaupun ada akan mengalami perubahan-perubahan
dalam perjalanan sejarahnya.
Ajarannya dapat berubah-ubah, sesuai dengan perubahan akal pikiranmasyarakatnya
( penganutnya).
Konsep ketuhanannya : dinamisme, animisme, politheisme, dan paling tinggi adalah
monotheisme nisbi.
Kebenaran ajarannya tidak universal , yaitu tidak berlaku bagi setiap manusia, masa, dan
keadaan