Anda di halaman 1dari 8

LAPORAN PENDAHULUAN

TERAPI ELECTROCONVULSIVE THERAPY (ECT)


PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI NERS (P3N)
STASE KEPERAWATAN JIWA KLINIK

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Program Pendidikan Profesi Ners


(P3N) Stase Keperawatan Jiwa Klinik

oleh
Yosyita Rahmah, S. Kep.
NIM 102311101004

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


UNIVERSITAS JEMBER
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
Alamat: Jl. Kalimantan No.37 Kampus Bumi Tegal Boto Jember
Telp./Fax (0331) 323450 Jember

LAPORAN PENDAHULUAN
TERAPI ELECTROCONVULSIVE THERAPY (ECT)
1. PENGERTIAN
ECT (Electro Confulsive Terapy) adalah tindakan dengan menggunakan
aliran listrik dan menimbulkan kejang pada penderita baik tonik maupun
klonik (Sujono, 2009). Terapi elektrokonvulsif menginduksi kejang grand
mal secara buatan dengan mengalirkan arus listrik melalui elektroda yang
dipasang pada satu atau kedua pelipis (Stuart, 2007).

Dan menurut

Townsend (1998) Terapi elektrokonvulsif (ECT) merupakan suatu jenis


pengobatan somatik dimana arus listrik digunakan pada otak melalui
elektroda yang ditempatkan pada pelipis. Arus tersebut

cukup untuk

menimbulkan kejang gran mal, yang darinya diharapkan efek yang


terapeutik

tercapai.

ECT

adalah

suatu

tindakan

terapi

dengan

menggunakan aliran listrik dan menimbulkan kejang pada penderita baik


tonik maupun klonik yaitu bentuk terapi pada klien dengan mengalirkan
arus listrik melalui elektroda yang ditempelkan pada pelipis klien untuk
membangkitkan kejang grandmall (Riyadi, 2009).
Terapi Kejang Listrik adalah suatu terapi dalam ilmu psikiatri yang
dilakukan dengan cara mengalirkan listrik melalui suatu elekktroda yang
ditempelkan di kepala penerita sehingga menimbulkan serangan kejang
umum (Mursalin, 2009).Terapi elektrokonvulsif (ECT) merupakan suatu
jenis pengobatan somatik dimana arus listrik digunakan pada otak melalui
elektroda

yang

ditempatkan

pada

pelipis. Arus

tersebut

cukup

menimbulkan kejang grand mal, yang darinya diharapkan efek yang


terapeutik tercapai (Taufik, 2010). Terapi kejang listrik merupakan alat
elektrokonvulsi yang mengeluarkan listrik sinusoid dan ada yang
meniadakan satu fase dari aliran sinusoid itu sehingga pasien menerima
aliran listrik (Maramis, 2004).
2. MEKANISME KERJA

Mekanisme kerja terapeutik ECT masih belum banyak diketahui. Salah


satu teori yang brkaitan dengan hal ini adalah teori neurofisiologi.Teori ini
mempelajari aliran darh serebral, suplai glukosa dan oksigen, serta permea
bilitas sawar otak akan meningkat. Setelah kejang, aliran darah dan
metabolisme glukosa menurun. Hal ini paling jelas dilihat pada lobus
frontalis. Beberapa penelitian mengatakan bahwa derajat penurunan
metabolisme serebral berhubungan dengan respon terapeutik.
Teori lain adalah teori neurokimiawi yang memusatkan perhatian pad
perubahan neurotrasmiter dan second messenger .Hampir semua pada
sistem neurotrasmiter dipengaruhi oleh ECT.Ahir ahir ini mulai
berkembang neuroplastisitas yang berhubungan dengan stimulasi kejang
listrik.Pada

percobaan

hewan,di

jumpai

plastisitas

sinaps,

dihipotalamus,yakni pertumbuhan serabut saraf, peningkatan konektifitas


jaras saraf, dan terjadinya neurogenesis
3. JENIS
Jenis ECT ada 2 macam :
a. ECT konvensional
ECT konvensional ini menyebabkan timbulnya kejang pada pasien
sehingga tampak tidak manusiawi.Terapi konvensional ini di lakukan
tanpa

menggunakan

obat-obatan

anastesi

seperti

pada

ECT

premedikasi.
b. ECT pre-medikasi
Terapi ini lebih manusiawi dari pada ECT konvensional,karena pada
terapi ini di berikan obat-obatan anastesi yang bisa menekan
timbulnya kejang yang terjadi pada pasien.
4. FREKUENSI
Frekuensi pemberian ECT tergantung pada keadaan pemberita yang dapat
di perlakukan dengan cara sebagai berikut :
a. Pemberian ECT secara blok 2-4 hari berturut-turut 1-2 kali sehari.
b. Dua sampai tiga kali seminggu.
c. ECT maintanance sekali tiap 2-4 minggu.
b. Pasien dengan gangguan depresi berat di berikan antara 5-10 kali.

c. Untuk pasien yang mengalami gangguan di polar,mania,dengan


gangguan skijo frenia,pasien baru mendapat respon yang maksimum
setelah 20-25 kali tindakan ECT.
5. INDIKASI
a. Pasien dengan penyakit depresif mayor yang tidak berespon terhadap
antidepresan atau yang tidak dapat meminum obat (Stuard, 2007).
Menurut Tomb (2004) gangguan afek yang berat: pasien dengan
gangguan bipolar, atau depresi menunjukkan respons yang baik dengan
ECT. Pasien dengan gejala vegetatif yang jelas cukup berespon. ECT
lebih efektif dari antidepresan untuk pasien depresi dengan gejala
psikotik. Mania juja memberikan respon yang baik pada ECT, terutama
jika litium karbonat gagal untuk mengontrol fase akut.
b. Pasien dengan bunuh diri akut yang cukup lama tidak menerima
pengobatan untuk mencapai efek terapeutik (Stuard, 2007). Menurut
Tomb (2004), pasien unuh dibri yang aktif dan tidak mungkin
menunggu antidepresan bekerja. Ketika efek samping Electro
Convulsive Therapy yang diantisipasi kurang dari efek samping yang
berhubungan dengan blok jantung, dan selama kehamilan (Stuard,
2007).
c. Gangguan skizofrenia: skizofrenia katatonik tipe stupor atau tipe
excited memberikan respons yang baik dengan ECT. Cobalah
antipsikotik terlebih dahulu, tetapi jika kondisinya mengancam
kehidupan (delyrium hyperexcited), segera lakukan ECT. Pasien
psikotik akut (terutama tipe skizoaktif) yang tidak berespons pada
medikasi saja mungkin akan membaik jika ditambahkan ECT, tetapi
pada sebagian besar skizofrenia (kronis), ECT tidak terlalu berguna
(Tomb, 2004).
6. KONTRAINDIKASI
Tidak ada kontraindikasi yang mutlak. Pertimbangkan resiko prosedur
dengan bahaya yang akan terjadi jika pasien tidak diterapi. Penyakit
neurologik bukan suatu kontraindikasi
a. Resiko sangat tinggi:

1) Peningkatan tekanan intrakranial (karena tumor otak, infeksi sistem


saraf pusat), ECT dengan singkat meningkatkan tekanan SSP dan
resiko herniasi tentorium.
2) Infark miokard.: ECT sering menyebabkan aritmia berakibat fatal
jika terdapat kerusakan otot jantung, tunggu hingga enzim dan EKG
stabil.
b. Resiko sedang:
1) Osteoatritis berat, osteoporosis, atau fraktur yang baru, siapkan
selama terapi (pelemas otot) dan ablasio retina.
2) Penyakit kardiovaskuler (misalnya hipertensi, angina, aneurisma,
aritmia), berikan premedikasi dengan hati-hati, dokter spesialis
jantung hendaknya ada disana.
3) Infeksi berat, cedera serebrovaskular, kesulitan bernafas yang kronis,
ulkus peptik akut, feokromasitoma (Tomb, 2004).
7. EFEK SAMPING
a. Kematian, angka kematian yang disebabkan ECT adalah bervariasi
antara 1-1.000 dan 1-10.000 pasien. Resiko ini sama dengan resiko
karena pemberian anastesi umum. Kematian biasanya karena
b.

komplikasi kardiovaskuler.
Efek sistemik, pada pasien dengan gangguan jantung, dapat terjadi
arritmia jantung sementara. Arritmia ini terjadi karena bradikardia
post ictal yang sementara dan dapat dicegah dengan peningkatan
dosis premedikasi anti kolinerjik. Arritmia dapat juga terjadi karena
hiperaktifitas simpathetiksewaktu kejang atau saat pasien sadar
kembali. Dilaporkan pula adanya reaksi toksis dan allergi terhadap
obat yang digunakan untuk prosedur ECT premedikasi, tetapi

c.

frekwensinya sangat jarang.


Efek cerebral,pada pemberian ECT bilateral dapat terjadi amnesia dan
acute confusion. Fungsi memori akan membaik kembali 1-6 bulan
setelah ECT, tetapi ada pasien yang melaporkan tetap mengalami
gangguan memori (Tomb, 2004).

8. PERAN PERAWAT DALAM PELAKSANAAN ECT


a. Peran perawat dalam persiapan klien sebelum tindakan ECT

1) Anjurkan pasien dan keluarga untuk tenang dan beritahu prosedur


tindakan yang akan dilakukan.
2) Lakukan
pemeriksaan
fisik

dan

laboratorium

untuk

mengidentifikasi adanya kelainan yang merupakan kontraindikasi


ECT.
3) Siapkan surat persetujuan tindakan.
4) Klien dipuasakan 4-6 jam sebelum tindakan.
5) Lepas gigi palsu, lensa kontak, perhiasan atau jepit rambut yang
mungkin dipakai klien.
6) Klien diminta untuk mengosongkan kandung kemih dan defekasi.
7) Klien jika ada tanda ansietas, berikan 5 mg diazepam IM 1-2 jam
sebelum ECT.
8) Jika klien menggunakan obat antidepresan, antipsikotik, sedatif
hipnotik, dan antikonvulsan, harus dihentikan sehari sebelumnya.
Litium biasanya dihentikan beberapa hari sebelumnya karena
beresiko organik.
9) Premedikasi dengan injeksi SA (sulfatatropin) 0,6-1,2 mg setengah
jam sebelum ECT. Pemberian antikolinergik ini mengendalikan
aritmia vagal dan menurunkan sekresi gastrointestinal (Riyadi,
2009).
b. Persiapan alat
1) Perlengkapan dan peralatan terapi, termasuk pasta dan gel elektroda,
bantalan kasa, alkohol, saling,elektroda elektroensefalogram (EEG),
dan kertas grafik.
2) Peralatan untuk memantau, termasuk elektrokardiogram (EKG) dan
elektroda EKG.
3) Manset tekanan darah, stimulator saraf perifer, dan oksimeter denyut
4)
5)
6)
7)
8)

nadi.
Stetoskop.
Palu reflex.
Peralatan intravena.
Penahan gigitan dengan wadah individu.
Pelbet dengan kasur yang keras dan bersisi pengaman serta dapat

meninggikan bagian kepala dan kaki.


9) Peralatan penghisap lender.
10) Peralatan ventilasi, termasuk slang, masker, ambu bag, peralatan
jalan nafas oral, dan peralatan intubasi dengan sistem pemberian

oksigen yang dapat memberikan tekanan oksigen positif. Obat untuk


keadaan darurat dan obat lain sesuai rekomendasi staf anastesi
(Stuart, 2007).
c. Prosedur pelaksanaan
Menurut pendapat Stuart (2007) berikut prosedur pelaksanaan terapi
kejang listrik:
1) Berikan penyuluhan kepada pasien dan keluarga tentang prosedur.
2) Dapatkan persetujan tindakan.
3) Pastikan status puasa pasien setelah tengah malam.
4) Minta pasien melepaskan perhiasan, jepit rambut, kaca mata, dan
alat bantu pendengaran. Semua gigi palsu dilepaskan, tambahan gigi
5)
6)
7)
8)

parsial dipertahankan.
Pakaikan baju yang longgar dan nyaman.
Kosongkan kandung kemih pasien.
Berikan obat praterapi.
Pastikan obat dan peralatan yang diperlakukan tersedia dan siap

pakai.
9) Bantu pelaksanaan ECT.
a) Tenangkan pasien.
b) Dokter atau ahli anastesi memberikan oksigen untuk menyiapkan
pasien bila terjadi apnea karena relaksan otot.
c) Berikan obat.
d) Pasang spatel lidah yang diberi bantalan untuk melindungi gigi
pasien.
e) Pasang elektroda. Kemudian berikan syok.
f) Pantau pasien selama masa pemulihan
d. Peran perawat setelah ECT
Berikut adalah hal-hal yang harus dilakukan perawat untuk membantu
klien dalam masa pemulihan setelah tindakan ECT dilakukan yang telah
dimodifikasi dari pendapat Stuart (2007) dan Townsen (1998). Menurut
pendapat Stuart (2007) memantau klien dalam masa pemulihan yaitu
dengan cara sebagai berikut:
1) Bantu pemberian oksigen dan pengisapan lendir sesuai kebutuhan.
2) Pantau tanda-tanda vital.
3) Setelah pernapasan pulih kembali, atur posisi miring pada pasien
sampai sadar. Pertahankan jalan napas paten.
4) Jika pasien berespon, orientasikan pasien.
5) Ambulasikan pasien dengan bantuan, setelah memeriksa adanya
hipotensi postural.

6) Izinkan pasien tidur sebentar jika diinginkannya.


7) Berikan makanan ringan.
8) Libatkan dalam aktivitas sehari-hari seperti biasa, orientasikan
pasien sesuai kebutuhan.
9) Tawarkan analgesik untuk sakit kepala jika diperlukan.
Menurut Townsend (1998), jika terjadi kehilangan memori dan
kekacauan mental sementara yang merupakan efek samping ECT
yang paling umum hal ini penting untuk perawat hadir saat pasien
sadar supaya dapat mengurangi ketakutanketakutan yang disertai
dengan kehilangan memori. Implementasi keperawatan yang harus
dilakukan adalah sebagai berikut:
a) Berikan ketenangan dengan mengatakan bahwa kehilangan
memori tersebut hanya sementara.
b) Jelaskan kepada pasien apa yang telah terjadi.
c) Reorientasikan pasien terhadap waktu dan tempat.
d) Biarkan pasien mengatakan ketakutan dan kecemasannya yang
berhubungan dengan pelaksanaan ECT terhadap dirinya.
e) Berikan sesuatu struktur perjanjian yang lebih baik pada aktivitasaktivitas rutin pasien untuk meminimalkan kebingungan.
DAFTAR PUSTAKA
Maramis. W.F. 1995, Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa. Jakarta: EGC
Stuart GW, Sundeen.2007. Buku Saku Keperawatan Jiwa. Jakarta : EGC.
Tomb, David. 2004, Buku Saku Psikiatri, edisi 6. Jakarta: EGC
Townsend, M.C. 1998. Buku Saku Diagnosa Keperawatan Pada Keperawatan
Psikitari (terjemahan), Edisi 3. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.\