Anda di halaman 1dari 10

Laboratorium Ilmu Kulit dan Kelamin

Refleksi Kasus

Fakultas Kedokteran
Universitas Mulawarman
Pitiriasis Versikolor

Oleh :
Inbar Surya Seru
0708015029

Pembimbing :
dr. Agnes Kartini, Sp. KK

Dibawakan Dalam Rangka Tugas Kepaniteraan Klinik


Laboratorium Ilmu Kulit dan Kelamin
Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman
Samarinda
2015

BAB I
BAB I
1

REFLEKSI KASUS

Anamnesis
Identitas Pasien:
Nama

: An. D

Umur

: 7 tahun

Pekerjaan

: Pelajar

Pendidikan

: SD

Alamat

: Jl. Padat Karya

Kunjungan rawat jalan : 6 Maret 2015


Tanggal pemeriksaan : 6 Maret 2015
Keluhan Utama:
Bercak putih pada wajah
Riwayat Penyakit Sekarang:
Penderita datang ke poli kulit kelamin dengan keluhan ada bercak putih pada wajah.
Terasa gatal jika berkeringat. Keluhan gatal dirasakan tidak begitu berat sehingga tidak
sampai mengganggu aktivitas.
Bercak putih ini timbul sejak pasien berusia 5 tahun, tetapi tidak gatal dan selama ini
pasien belem pernah berobat. Tetapi selama 1 tahun ini bercak putih ini bertambah luas dan
terasa sedikit gatal hanya saat pasien berkeringat.
Riwayat Penyakit Dahulu:
-

Pasien tidak pernah menderita penyakit lain seperti asma, diabetes dan penyakit
lainnya.

Pasien tidak memiliki riwayat gatal-gatal setelah makan makanan tertentu.

Riwayat Penyakit Keluarga:


-

Tidak ada keluarga yang memiliki keluhan yang serupa

Pemeriksaan Fisik:
Status Generalis
2

Keadaan Umum
: Sakit ringan
Kesadaran
: Komposmentis
Tanda vital
:
- Nadi
: 84 x/menit
- Frekuensi napas: 24 x/menit
Kepala-Leher :
-

Konjungtiva anemis (-/-), ikterik (-/-), bibir sianosis (-), faring hiperemis (-), tonsil
hiperemis (-), pembesaran KGB (-).

Thorax

Paru

nafas vesikuler, rhonki (-/-), wheezing (-/-).


Jantung: S1 dan S2 tunggal reguler, murmur (-), gallop (-)

Abdomen

: pergerakan simetris, retraksi (-), fremitus raba dekstra = sinistra, sonor, suara

: flat, soefl, timpani, bising usus (+) kesan normal.

Ekstremitas:
-

Akral hangat, oedem (-)

Status Dermatologis
Lokalisasi:
- Facialis
Effloresensi:
Didapatkan makula-makula berwarna putih berbentuk makuler dan folikuler, bahkan
ada yang saling menyatu, berbatas tegas, dengan berbagai ukuran yang diliputi oleh
adanya skuama halus, kulit sekitarnya normal.

Gambar 1. Foto Klinis Pasien pada Regio Facialis


Diagnosis Banding:
1. Pitiriasis Versikolor
2. Pitiriasis Alba
3. Vitiligo
Diagnosis Kerja:
Pitiriasis Versikolor
Usulan Pemeriksaan Penunjang:
1. Pemeriksaan KOH 10% pada kerokan kulit pada lesi akut
2. Lampu Wood
Penatalaksanaan:
1. Topikal:
Ketokonazole 2% krim dua kali sehari setelah mandi
4

2. Oral:
Ketokonazole tab 200 mg 1x tab
Loratadine tab 10 mg 1x1 tab (jika gatal)
3. Edukasi:
Memberikan edukasi kepada pasien dan keluarga pasien untuk menjaga

kebersihan diri.
Minum dan menggunakan obat yang telah diberikan secara tepat dan teratur, serta
kontrol kembali dalam 2 minggu setelah pengobatan atau bila gejala dirasa
memburuk.

Prognosa:
o Quo ad vitam

: bonam

o Quo ad sanasionam

: dubia et bonam

o Quo ad cosmeticam

: dubia et bonam

BAB II
PEMBAHASAN

Refleksi kasus dilakukan pada pasien An. D usia 7 tahun, dengan keluhan utama
bercak putih pada wajah dan makin membesar 1 tahun ini sebelum pasien memeriksakan diri
ke Poliklinik Kulit dan Kelamin RSU AWS. Diagnosis Pitiriasis Versikolor pada pasien ini
didasarkan pada anamnesis dan pemeriksaan fisik.
Pada anamnesis pasien mengeluhkan bercak putih pada wajah, terasa gatal jika
berkeringat. Keluhan gatal dirasakan tidak begitu berat sehingga tidak sampai mengganggu
aktivitas. Bercak putih ini timbul sejak pasien berusia 5 tahun, tetapi tidak gatal dan selama
ini pasien belem pernah berobat. Tetapi selama 1 tahun ini bercak putih ini bertambah luas
dan terasa sedikit gatal hanya saat pasien berkeringat.
Berdasarkan tinjauan pustaka, penderita pada umumnya hanya mengeluhkan adanya
bercak/macula berwarna putih (hipopigmentasi) atau kecoklatan (hiperpigmentasi) dengan
rasa gatal yang akan muncul saat berkeringat, yang merupakan alasan berobat. 1
Pada pemeriksaan fisik didapatkan makula-makula berwarna putih berbentuk bulat,
oval, bahkan ada yang saling menyatu, berbatas tegas, dengan berbagai ukuran yang diliputi
oleh adanya skuama halus, kulit sekitarnya normal. Predileksi pityriasis vesikolor yaitu pada
tubuh bagian atas, lengan atas, leher, abdomen, aksila, inguinal, paha, genitalia. Bentuk lesi
tidak teratur, berbatas tegas sampai difus dengan ukuran lesi dapat milier, lentikuler, numuler
sampai plakat. 2,7
Pada kulit terdapat flora normal yang berhubungan dengan timbulnya pitiriasis
versicolor ialah Pityrosporum orbiculare yang berbentuk bulat atau Pityrosporum ovale yang
berbentuk oval. Malassezia furfur merupakan fase spora dan miselium. Malassezia berubah
dari bentuk blastospore ke bentuk mycelial. Hal ini dipengaruhi oleh faktor predisposisi.
Malassezia memiliki enzim oksidasi yang dapat merubah asam lemak pada lipid yang
terdapat pada permukaan kulit menjadi asam dikarboksilat. Asam dikarboksilik ini
menghambat tyrosinase pada melanosit epidermis dan dapat mengakibatkan hipomelanosit.
Ada dua bentuk yang sering dijumpai:2
1. Bentuk makuler: berupa bercak yang agak lebar, dengan squama halus diatasnya,
dan tepi tidak meninggi.
2. Bentuk folikuler: seperti tetesan air, sering timbul disekitar rambut.
Diagnosis pasti pada pasien ini dapat ditegakkan dengan usulan pemeriksaan
penunjang larutan KOH 10% pada kulit dengan lesi aktif untuk menemukan adanya
gambaran sel ragibulat berdinding tebal dengan miselium kasar, sering terputus-putus
(pendek-pendek), yang akan lebih mudah dilihat dengan penambahan zat warna tinta parker
6

blue-black atau biru laktofenol. Gambaran ragi dan miselium tersebut sering dilukiskan
sebagai meat ball and spageti. Pemeriksaan dengan sinar wood, dapat memberikan
perubahan warna seluruh daerah lesi sehingga batas lesi lebih mudah dilihat. Daerah yang
terkena infeksi akan memperlihatkan flouresensi warna kuning keemasan sampai orange.
Diagnosis banding lain untuk pasien ini adalah Pitiriasis Alba dan Vitiligo. Pitiriasis
Alba merupakan bentuk dermatitis yang tidak spesifik dan belum diketahui penyebabnya.
Ditandai dengan adanya bercak kemerahan dan skuama halus yang akan menghilang serta
meninggalkan area yang depigmentasi. Vitiligo Merupakan hipomelanosis idiopatik dapat
ditandai dengan adanya macula putih yang dapat meluas. Dapat mengenai seluruh bagian
tubuh yang mengandung sel melanosit, misalnya rambut dan mata.
Penatalaksanaan pasien diberikan berupa antijamur oral dan topikal, yaitu
ketokonazole. Ketokonazole merupakan antijamur broad-spektrum golongan imidazole yang
menghambat pertumbuhan dermatofita, yang bekerja menghambat enzim sitokrom P450
sehingga menghambat sintesis ergosterol yang merupakan komponen dari membran sel
jamur. Dosis ketokonazole oral untuk dewasa adalah 200 mg/hari maksimal 400 mg/hari
selama 4 minggu, dosis anak-anak untuk berat badan kurang dari 15 kg yaitu 20 mg tablet
3x1 hari, berat badan 15-30 kg yaitu 100 mg tablet 1x1 hari, berat badan lebih dari 30 kg
sama dengan dosis dewasa. Ketokonazole topikal dapat diberikan pada lesi 2 kali perhari
setiap setelah mandi. 3,5,6
Terapi simptomatik pada pasien ini yaitu untuk mengurangi keluhan gatal-gatal yang
kadang terjadi pada wajah, diberikan terapi oral cetirizine tablet. Cetirizine adalah
antihistamin dengan efek sedative yang rendah pada dosis aktif farmakologi dan mempunyai
sifat tambahan sebagai anti alergi. Merupakan antagonis selektif reseptor H1, efeknya
terhadap reseptor lain dapat diabaikan sehingga cetirizine hampir bebas dari efek anti
kolinergik dan anti serotonin. Cetirizine menghambat pelepasan histamin pada fase awal dari
reaksi alergi, mengurangi migrasi dari sel inflamasi dan melepaskan mediator yang
berhubungan dengan late allergic response. Dosis penggunaan cetirizine untuk anak 12
tahun : 10 mg per hari, anak 6 11 tahun : 5-10 mg per hari, anak 2-5 tahun : 2,5 mg-5 mg
per hari.
Memberikan edukasi kepada pasien dan keluarga pasien untuk menjaga kebersihan
tubuh pasien. Minum dan menggunakan obat yang telah diberikan secara tepat dan teratur.
Prognosis untuk pasien ini adalah baik jika pasien menjalankan terapi sesuai petunjuk.4

BAB III
RINGKASAN
Dilaporkan pasien perempuan berusia 7 tahun datang ke poli kulit dan kelamin
dengan keluhan bercak putih pada wajah Terasa gatal jika berkeringat. Keluhan gatal
dirasakan tidak begitu berat sehingga tidak sampai mengganggu aktivitas. Bercak putih ini
timbul sejak pasien berusia 5 tahun, tetapi tidak gatal dan selama ini pasien belem pernah
8

berobat. Tetapi selama 1 tahun ini bercak putih ini bertambah luas dan terasa sedikit gatal
hanya saat pasien berkeringat.
Dari hasil pemeriksaan fisik didapatkan makula-makula berwarna putih berbentuk
bulat, oval, bahkan ada yang saling menyatu, berbatas tegas, dengan berbagai ukuran yang
diliputi oleh adanya skuama halus, kulit sekitarnya normal.
Berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik, maka ditegakkan diagnosis Pitiriasis
Versikolor. Penatalaksanaan pada pasien ini berupa pengobatan antijamur ketokonazole dan
pemberian antihistamin cetirizine. Dosis cetirizine oral untuk anak adalah 12 tahun : 10 mg
per hari, anak 6 11 tahun : 5-10 mg per hari, anak 2-5 tahun : 2,5 mg-5 mg per hari.
Diberikan pula bentuk topikal, ketokonazole topikal dapat diberikan pada lesi 2 kali perhari
setiap setelah mandi.
Diberikan edukasi kepada pasien dan keluarga pasien untuk menjaga kebersihan
tubuh pasien dan minum obat yang teratur dan kontrol kembali dalam 2 minggu setelah
pengobatan atau bila gejala dirasa memburuk. Prognosis untuk pasien ini adalah baik jika
pasien menjalankan terapi sesuai petunjuk.

DAFTAR PUSTAKA
1. Radiono S. pityriasis versicolor. In :Budimulja U, Kuswadji, Bramono K, Menaldi
SL, Dwihastuti P, Widaty S, editors. Dermatomikosis superfisialis : Pedoman untuk
dokter dan mahasiswa kedokteran. Jakarta : balai Penerbit FK UI; 2001
2. Johnson. R.A, Suurmond. D . 2007. Fitzpatricks, The Color Atlas and Synopsis of
Clinical Dermatology, fifth edition. E-book : The McGraw-Hill Companies.
3. Budimulja U. Mikosis. In Djuanda A, editor. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin.
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2005. p. 89-105.

4. Cohan J, Opal S, Powderly W. Superficial Fungal Infections. In Copal J, editor.


Infectious Diseases. Philadelphia: Elsevier; 2010. p. 148-154.
5. Eirini M, Fuller C. Tinea Pedis and Skin Dermatophytosis. In Fuller C. Treatment of
the Skin Diseases. Philadelphia: ELsevier; 2014. p. 756-758.
6. National Institute of Health. Medline. [Online].; 2010 [cited 2014 9 14. Available
from: www.nlm.nih.gov/medlineplus/druginfo/meds/a697038.html.
7. Burkhart,

Craig

G.

and

Lorie

G.

2010.

Tinea

Versicolor.

http://emedicine.medscape.com/article/1091575. Diakses tanggal 24 September 2013.

10