Anda di halaman 1dari 65

Modul Kompetensi 17 MEMERIKSA NORMA K3 BAHAN BERBAHAYA

DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI
BAB

ii
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
B. Tujuan Pembelajaran

BAB

II

1.

Tujuan Pembelajaran Umum (TPU)

2.

Tujuan Pembelajaran Khusus (TPK)

KEGIATAN PEMBELAJARAN
PENGAWASAN NORMA K3 BAHAN BERBAHAYA

A. URAIAN DAN CONTOH


1. Dasar Hukum
2. Pengertian
3. Ruang Lingkup
4. Pengetahuan
a.

Bahan Kimia Berbahaya

b.

Asbes

c.

Pestisida

d.

Limbah Industri

e.

Rencana Tanggap Darurat

5. Syarat-syarat Penerapan
6. Tata cara pemeriksaan
7. Tata Laksana Teknis
a.

Pengajuan

perijinan/rekomendasi/

pengesahan
b.

Pelaporan hasil pemeriksaan syarat-

syarat penerapan
B. RANGKUMAN
C. TEST FORMATIF
DAFTAR PUSTAKA
1

Modul Kompetensi 17 MEMERIKSA NORMA K3 BAHAN BERBAHAYA

LAMPIRAN
1. Cheklist Pemeriksaan Lingkungan Kerja
2. Contoh ijin kerja ruang terbatas dan ijin bekerja pada ketinggian
3. Contoh laporan pemantauan lingkungan kerja
4. Contoh formulir penilaian risiko
5. Contoh ventilasi
6. Gambar alat ukur pemantaun lingkungan
7. Contoh formulir laporan bahan kimia berbahaya
8. Contoh LDKB dan Label
9. Contoh perijinan / rekomendasi pestisida
10. Contoh sertifikat dan buku kerja Ahli K3, Petugas K3 Kimia, Teknisi Bekerja
Pada ruang Terbatas, Teknisi Akses Tali.

ii

Modul Kompetensi 17 MEMERIKSA NORMA K3 BAHAN BERBAHAYA

BAB III
KEGIATAN PEMBELAJARAN - 2
PENGAWASAN NORMA K3 BAHAN BERBAHAYA
A.

URAIAN DAN CONTOH


1. Dasar Hukum
Undang Undang No.1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja
Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1973 tentang Pengawasan Atas
Peredaran, Penyimpanan dan Penggunaan Pestisida
Peraturan Pemerintah No. 74 Tahun 2001 tentang Pengelolaan B3
Keputusan Menteri Tenaga kerja RI No. Kep. 187/MEN/1999 tentang
Pengendalian Bahan Kimia Berbahaya di tempat kerja
Peraturan Menteri Tenaga Kerja RI No. Per.03/MEN/1985 Tentang
Keselamatan dan Kesehatan Kerja Pemakaian Asbes
Peraturan Menteri Tenaga Kerja RI. No. Per 03/MEN/1986 Tentang
Syarat-syarat Keselamatan dan Kesehatan Di Tempat Kerja yang
mengelola Pestisida.
Surat Edaran Menakertrans No. SE. 140/Men/PPK-KK/II/2004 tentang
Pemenuhan Kewajiban Syarat-syarat Keselamatan dan Kesehatan
kerja di Industri Kimia Dengan Potensi Bahaya Besar (Major Hazard
Instalation)
Surat Keputusan Dirjen Binwasnaker No. Kep. 113/DJPPK/IX/2006
tentang Pedoman dan Pembinaan Teknis Petugas K3 Ruang Terbatas;
Surat Keputusan Dirjen Binwasnaker No. Kep.104/DJPPK/IX/2006
tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan K3 Pemakaian Bahan yang
Mengandung Asbes di Tempat Kerja;
Surat Edaran Dirjen Binwasnaker No. Kep. 01/DJPPK/I/2011 tentang
Petunjuk Teknis Pelaksanaan Pembinaan Terhadap Ahli, Teknisi dan
Petugas Lingkungan Kerja dan Bahan Berbahaya

Modul Kompetensi 17 MEMERIKSA NORMA K3 BAHAN BERBAHAYA

2. Pengertian
Bahan kimia berbahaya adalah bahan kimia dalam bentuk tunggal atau
campuran yang berdasarkan sifat kimia dan atau fisika dan atau
toksikologi berbahaya terhadap tenaga kerja, instalasi dan lingkungan.
Nilai Ambang Kuantitas (NAK) adalah standar kuantitas bahan kimia
berbahaya untuk menetapkan potensi bahaya bahan kimia di tempat
kerja.
Lethal Dose 50 (LD 50) adalah dosis yang menyebabkan kematian pada
50% binatang percobaan.
Lethal Concentration 50 (LC 50) adalah konsentrasi yang menyebabkan
kematian pada 50% binatang percobaan.
Label adalah pemberian tanda berupa gambar/simbol, huruf/tulisan,
kombinasi keduanya atau bentuk pernyataan lain yang disertakan pada
bahan berbahaya, dimasukkan ke dalam, ditempelkan, atau merupakan
bagian kemasan bahan berbahaya, sebagai keterangan atau penjelasan
yang berisi nama sediaan atau nama dagang, nama bahan aktif, isi/berat
netto, kalimat peringatan dan tanda atau simbol bahaya, petunjuk
pertolongan pertama pada kecelakaan.
Lembar Data Keselamatan Bahan (LDKB) adalah lembar petunjuk yang
berisi informasi tentang sifat fisika, kimia dari bahan berbahaya, jenis
bahaya yang dapat ditimbulkan, cara penanganan dan tindakan khusus
yang berhubungan dengan keadaan darurat dalam penanganan bahan
berbahaya.
Pengendalian bahan kimia berbahaya adalah upaya dan atau kegiatan
yang dilakukan untuk mencegah dan atau mengurangi risiko akibat
penggunaan bahan kimia berbahaya di tempat kerja terhadap tenaga
kerja, alat-alat kerja dan lingkungan.

Modul Kompetensi 17 MEMERIKSA NORMA K3 BAHAN BERBAHAYA

Asbes adalah serat yang belum terikat oleh semen atau bahan lain.
Asbes adalah serat mineral alami yang memiliki sifat-sifat ketangguhan
dalam kelenturan, ketahanan terhadap bahan kimia, suhu panas, dan lain
sebagainya
Pestisida adalah semua zat kimia dan bahan lain serta jasad renik dan
virus yang digunakan untuk :
1)

Memberantas atau mencegah hama-hama dan penyakit yang


merusak tanaman, bagian-bagian tanaman atau hasil-hasil pertanian

2)

Memberantas rerumputan

3)

Mematikan daun dan mencegah pertumbuhan yang tidak diinginkan

4)

Mengatur atau merangsang pertumbuhan tanaman atau bagianbagian tanaman tidak termasuk pupuk

5)

Memberantas atau mencegah hama-hama luar pada hewan-hewan


piaraan dan ternak

6)

Memberantas atau mencegah hama-hama air,

7)

Memberantas atau mencegah binatang-binatang dan jasad renik


dalam rumah tangga, bangunan dan dalam alat-alat pengangkutan

8)

Memberantas

atau

mencegah

binatang-binatang

yang

dapat

menyebabkan penyakit pada manusia atau binatang yang perlu


dilindungi dengan penggunaan pada tanaman, tanah atau air.
Limbah adalah bahan sisa pada suatu kegiatan dan/atau proses
produksi.
Limbah bahan berbahaya dan beracun, disingkat limbah B3, adalah
sisa suatu usaha dan atau kegiatan yang mengandung bahan berbahaya
dan/atau beracun yang karena sifat dan/atau konsentrasinya dan/atau
jumlahnya, baik secara langsung maupun tidak langsung dapat
mencemarkan dan/atau merusak lingkungan hidup dan/atau dapat
membahayakan lingkungan hidup, kesehatan, kelangsungan hidup
manusia serta mahkluk hidup lain.

Modul Kompetensi 17 MEMERIKSA NORMA K3 BAHAN BERBAHAYA

Pengelolaan limbah B3 adalah rangkaian kegiatan yang mencakup


penyimpanan, pengumpulan, pengangkutan, pengelolaan limbah B3 serta
penimbunan hasil pengolahan tersebut.
Pengolahan limbah B3 adalah proses untuk mengubah karakteristik dan
komposisi limbah B3 menjadi tidak berbahaya dan/atau tidak beracun,
atau memungkinkan agar limbah B3 dimurnikan dan/atau didaur ulang.
Kondisi darurat bahaya besar (major emergency) dalam pekerjaan
adalah suatu keadaan yang menimbulkan potensi untuk menyebabkan
luka berat atau hilangnya nyawa manusia.
3. Ruang lingkup obyek pengawasan
Ruang lingkup obyek pengawasan bahan berbahaya mencakup :
a. Bahan kimia berbahaya
b. Asbes
c. Pestisida
d. Limbah industri
e. Rencana Tanggap Darurat
4. Pengetahuan
A. Bahan Kimia Berbahaya
Klasifikasi

atau

penggolongan

bahan-bahan

kimia

berbahaya

diperlukan untuk memudahkan pengenalan serta cara penanganan


dan transportasi. Secara umum, bahan-bahan kimia berbahaya
diklasifikasikan menjadi beberapa kriteria :
bahan beracun;
bahan sangat beracun;
cairan mudah terbakar;
cairan sangat mudah terbakar;
gas mudah terbakar;
bahan mudah meledak;
bahan reaktif;
6

Modul Kompetensi 17 MEMERIKSA NORMA K3 BAHAN BERBAHAYA

bahan oksidator;
Bahan kimia beracun dan sangat beracun
a. Bahan kimia yang termasuk kriteria bahan beracun atau sangat
beracun

sebagaimana

dimaksud,

ditetapkan

dengan

memperhatikan sifat kimia, fisika dan toksik.


b. Sifat kimia, fisika dan toksik, bahan kimia ditetapkan sebagai
berikut:

bahan beracun dalam hal pemajanan melalui Mulut : LD 50 >


25 atau < 200 mg/kg berat badan, atau Kulit :LD 50 > 25 atau
< 400 mg/kg berat badan, atau Pernafasan : LC 50 > 0,5 mg/l
dan < 2 mg/l;

bahan sangat beracun dalam hal pemajanan melalui Mulut :


LD 50 < 25 mg/kg berat badan, atau Kulit : LD 50 < 50 mg/kg
berat badan, atau pernafasan : LC 50 < 0,5 mg/l.
Bahan-bahan beracun dalam industri dapat dibagi dalam
beberapa kelompok :
i. Senyawa logam dan metaloid : Pb, Hg, kadmium, krom arsen
dan fosfor
ii. Bahan pelarut organik : kloroform, etanol, metanol
iii. Gas-gas beracun : N2, CO2, HCN, H2s
iv. Bahan karsinogenik : Benzena, asbes, benzidin, vinil klorida
v. Pestisida : organoklorin, organo fosfat
Cairan mudah terbakar, sangat mudah terbakar dan gas mudah
terbakar
a. Bahan kimia yang termasuk kriteria cairan mudah terbakar,
cairan sangat mudah terbakar dan gas mudah terbakar,
sebagaimana dimaksud ditetapkan dengan memperhatikan
sifat kimia dan fisika.
b. Sifat fisika dan kimia ditetapkan sebagai berikut :

Modul Kompetensi 17 MEMERIKSA NORMA K3 BAHAN BERBAHAYA

cairan mudah terbakar dalam hal titik nyala > 21C dan
< 55 C pada tekanan 1 (satu) atmosfir;
cairan sangat mudah terbakar dalam hal titik nyala < 21 C
dan titik didih > 20 C pada tekanan 1 (satu) atmosfir;
gas mudah terbakar dalam hal titik didih < 20 C pada
tekanan 1 (satu) atmosfir.
Bahan Mudah terbakar dapat dibagi dalam 3 kelompok :
i. Zat padat mudah terbakar : Belerang, fosfor, kertas/rayon,
kapas
ii. Zat cair mudah terbakar : eter, alkohol, aseton, benzena
iii. Gas mudah terbakar : hidrogen, asetilen, etilen oksida
Bahan Kimia mudah meledak, reaktif dan oksidator
a. Bahan kimia ditetapkan termasuk kriteria mudah meledak
sebagaimana dimaksud apabila reaksi kimia bahan tersebut
menghasilkan gas dalam jumlah dan tekanan yang besar
serta suhu yang tinggi, sehingga menimbulkan kerusakan
disekelilingnya.
Beberapa contoh bahan mudah meledak :
i. Bahan kimia eksplosif : Trinitoluen (TNT), nitrogliserin
ii. Debu

eksplosif

debu

karbon,

zat

warna

diazo,

magnesium
iii. Campuran eksplosif : Campuran bahan oksidator dan
reduktor ( as.nitrat + etanol)
b. Bahan kimia ditetapkan termasuk kriteria reaktif sebagaimana
dimaksud dalam huruf g apabila bahan tersebut :
bereaksi dengan air mengeluarkan panas dan gas yang
mudah terbakar
contoh seperti : Alkali,alkalitana,logam halida,oksida
anhidrat, oksida non logam halida
bereaksi dengan asam mengeluarkan panas dan gas yang
mudah terbakar atau beracun atau korosif.
Seperti : kalium klorat, kalium permanganat, asam kromat

Modul Kompetensi 17 MEMERIKSA NORMA K3 BAHAN BERBAHAYA

c. Bahan

kimia

ditetapkan

termasuk

kriteria

oksidator,

sebagaimana dimaksud dalam huruf h apabila reaksi kimia


atau penguraiannya menghasilkan oksigen yang dapat
menyebabkan kebakaran.
Terdiri dari : i. Oksidator anorganik : permanganat, perklorat
dikromat,
ii. Peroksida organik : bensil peroksida, eter
oksida, asam perasetat
Bentuk Pengendalian Bahan Kimia Berbahaya
Sejalan dengan meningkatnya kegiatan industri yang mengolah,
menyimpan, mengedarkan, mengangkut dan mempergunakan
bahan kimia berbahaya, berpotensi untuk menimbulkan bahaya
besar

bagi

industri,

tenaga

kerja,

lingkungan

maupun

sumberdaya lainnya. Usaha pengendalian tersebut meliputi:


a.

penyediaan Lembar Data Keselamatan Bahan (LDKB) dan


Label serta;

b.

penunjukan petugas K3 Kimia dan Ahli K3 Kimia di tempat


kerja.

Label dan Lembar Data Keselamatan Bahan


Label atau Etiket
Label atau etiket diperlukan sebagai informasi yang cepat
dapat dikenal untuk pekerja apalagi yang berpendidikan
rendah, sehingga dengan cepat dapat bersikap hati-hati
dalam penanganan bahan kimia berbahaya. Setiap bahan
kimia di tempat kerja harus dikenal dan disertai dengan label
yang benar dan mutakhir.
Cara pemberian label atau etiket dapat juga berbeda dari satu
negara ke negara lain atau dari satu petunjuk ke yang lainnya.
Label atau etiket memuat antara lain :
a. Nama produk
b. Identifikasi bahaya
9

Modul Kompetensi 17 MEMERIKSA NORMA K3 BAHAN BERBAHAYA

c. Tanda bahaya dan artinya


d. Uraian resiko dan penanggulangannya
e. Tindakan pencegahan
f. Instruksi dalam hal terkena atau terpapar
g. Instruksi kebakaran
h. Instruksi tumpahan atau kebocoran
i. Instruksi pengisian dan penyimpanan
j. Referensi
k. Nama, alamat dan no. telepon pabrik dan atau distributor

Beberapa contoh label dan pemasangan label :

Lembar Data Keselamatan Bahan (LDKB)


Lembar data keselamatan bahan harus tersedia untuk semua
bahan kimia yang berada diperusahaan. Lembar data
memberikan informasi dasar mengenai bahan kimia tersebut
dan keselamatan pemakaiannya. Juga menunjukkan tindakan
kesiagaan, termasuk alat pelindung diri dan prosedur
daruratnya.
Lembar data keselamatan bahan secara garis besar harus

10

Modul Kompetensi 17 MEMERIKSA NORMA K3 BAHAN BERBAHAYA

memuat penjelasan-penjelasan antara lain:


a. Identitas bahan dan perusahaan
b. Komposisi bahan
c. Identifikasi bahaya
d. Tindakan pertolongan pertama pada kecelakaan ( P3K)
e. Tindakan penanggulangan kebakaran
f. Tindakan mengatasi kebocoran dan tumpahan
g. Penyimpanan dan penanganan bahan
h. Pengendalian pemajanan dan alat pelindung diri
i. Sifat fisika dan kimia
j. Stabilitas dan reaktifitas bahan
k. Informasi toksikologi
l. Informasi ekologi
m. Pembuangan limbah
n. Pengangkutan bahan
o. Informasi peraturan perundang-undangan yang berlaku
p. Informasi lain yang diperlukan
Berikut dibawah ini bentuk lembar data keselamatan bahan
sesuai dengan lampiran I Keputusan Menteri Tenaga Kerja
No.187 tahun 1999 :

11

Modul Kompetensi 17 MEMERIKSA NORMA K3 BAHAN BERBAHAYA

Lampiran I

Keputusan Menteri Tenaga Kerja Republik


Indonesia

Nomor
Tanggal

:
:

Kep. 187/Men/1999
29-9-1999

LEMBAR DATA KESELAMATAN BAHAN


1. Identitas Bahan dan Perusahaan
Nama bahan
:
Rumus kimia
:
Code produksi
:
Synonim
:
Nama perusahaan (pembuat) atau distributor atau importir:
a. Nama perusahaan (pembuat)
Alamat
:
Phone
:
b. Nama distributor
Alamat
:
Phone
:
c. Nama importir
Alamat
:
Phone
:
2. Komposisi Bahan
Bahan
% berat
CAS No.
Batas pemajanan
3. Identifikasi Bahaya
- Ringkasan bahaya yang penting :
- Akibatnya terhadap kesehatan :
Mata
Kulit
Tertelan
Terhirup
Karsinogenik
Teratogenik
Reproduksi
4. Tindakan Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (P3K)
Terkena pada :
Mata
Kulit
Tertelan
Terhirup
5. Tindakan Penanggulangan Kebakaran
a. Sifat-sifat bahan mudah terbakar
Titik nyala
: .. C ( . F)
b. Suhu nyala sendiri
: . C
c. Daerah mudah terbakar
Batas terendah mudah terbakar
: %
Batas tertinggi mudah terbakar : %
d. Media pemadaman api
:
e. Bahaya khusus
:
f. Instruksi pemadaman api
:
6. Tindakan Terhadap Tumpahan dan Kebocoran
a. Tumpahan dan kebocoran kecil
b. Tumpahan dan kebocoran besar
c. Alat pelindung diri yang digunakan
12

Modul Kompetensi 17 MEMERIKSA NORMA K3 BAHAN BERBAHAYA


7. Penyimpanan dan Penanganan Bahan
a. Penanganan bahan
b. Pencegahan terhadap pemajanan
c. Tindakan pencegahan terhadap kebakaran danpeledakan
d. Penyimpanan
e. Syarat khusus penyimpanan bahan
8. Pengendalian Pemajanan dan Alat Pelindung Diri
a. Pengendalian teknis
b. Alat pelindung diri
- Pelindung pemajanan, mata, kulit, tangan, dll
9. Sifat-sifat Fisika dan Kimia
a. Bentuk
: padat/cair/gas
b. Bau
:
c. Warna
:
d. Masa jenis
:
e. Titik didih
:
f. Titik lebur
:
g. Tekanan uap
:
h. Kelarutan dalam air
:
i. P H
:
10. Reaktifitas dan Stabilitas
a. Sifat reaktifitas
:
b. Sifat stabilitas
:
c. Kondisi yang harus dihindari
:
d. Bahan yang harus dihindari
:
(incompatibility)
e. Bahan dekomposisi
:
f. Bahaya polimerisasi
:
11. Informasi Toksikologi
a. Nilai Ambang Batas (NAB)
: ppm
b. Terkena mata
c. Tertelan
LD 50 (mulut)
: ...
d. Terkena kulit
:
e. Terhirup
LC 50 (pernafasan)
:
f. Efek lokal
:
g. Pemaparan jangka pendek (akut) :
h. Pemaparan jangka panjang (kronik) :
Karsinogen
Teratogen
Reproduksi
Mutagen
12. Informasi Ekologi
a.
Kemungkinan dampaknya terhadap lingkungan
b.
Degradasi lingkungan
c.
Bio akumulasi
13. Pembuangan Limbah
14. Pengangkutan
a. Peraturan internasional
b. Pengangkutan darat
c. Pengangkutan laut
d. Pengangkutan udara
15. Peraturan Perundang-undangan
16. Informasi lain yang diperlukan

13

Modul Kompetensi 17 MEMERIKSA NORMA K3 BAHAN BERBAHAYA

Penunjukan Petugas K3 Kimia dan Ahli K3 Kimia


Petugas K3 Kimia
Tatacara penunjukan petugas K3 Kimia dan Ahli K3 Kimia itu
sendiri diatur dalam peraturan perundangan ini sebagai berikut :

Petugas K3 Kimia mempunyai kewajiban :


a. melakukan identifikasi bahaya;
b. melaksanakan prosedur kerja aman;
c. memberikan petunjuk dalam prosedur

penanggulangan

keadaan darurat;
d. mengembangkan pengetahuan K3 bidang kimia.

Untuk dapat ditunjuk sebagai Petugas K3 kimia ditetapkan :


a. bekerja pada perusahaan yang bersangkutan;
b. tidak dalam masa percobaan;
c. hubungan kerja tidak didasarkan pada Perjanjian Kerja
Waktu Tertentu (PKWT);
d. telah mengikuti kursus tehnis K3 kimia.
e. Kursus tehnis Petugas K3 Kimia sebagaimana dimaksud
dilaksanakan oleh perusahaan sendiri, pada ayat (2) huruf
d, atau perusahaan jasa K3, atau instansi yang berwenang
dengan kurikulum seperti yang tercantum dalam lampiran
IV Keputusan Menteri ini.

Penunjukan Petugas K3 Kimia ditetapkan berdasarkan


permohonan tertulis dari Pengusaha atau Pengurus kepada
Menteri atau Pejabat yang ditunjuk.

Permohonan penunjukan Petugas K3 Kimia sebagaimana


dimaksud harus melampirkan :
a. daftar riwayat hidup;
b. surat keterangan berbadan sehat dari dokter;
c. surat

keterangan

pernyataan

bekerja

penuh

dari

perusahaan yang bersangkutan;


14

Modul Kompetensi 17 MEMERIKSA NORMA K3 BAHAN BERBAHAYA

d. fotocopy

ijasah

atau

surat

tanda

tamat

belajar

terakhir;sertifikat kursus teknis petugas K3 Kimia.


Ahli K3 Kimia
Ahli K3 Kimia mempunyai kewajiban :
a.

membantu mengawasi pelaksanaan peraturan perundangundangan k3 bahan kimia berbahaya;

b.

memberikan laporan kepada Menteri atau

pejabat yang

ditunjuk mengenai hasil pelaksanaan tugasnya;


c.

merahasiakan segala keterangan yang berkaitan dengan


rahasia perusahaan atau instansi yang didapat karena
jabatannya;

d.

menyusun

program

kerja

pengendalian

bahan

kimia

berbahaya di tempat kerja;


e.

melakukan identifikasi bahaya, penilaian dan pengendalian


resiko; mengusulkan pembuatan prosedur kerja aman dan
penanggulangan keadaan darurat kepada pengusaha atau
pengurus;

f.

Penunjukan Ahli K3 Kimia dilakukan sesuai dengan


peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Perusahaan dengan Potensi Instalasi Bahaya Besar


Pengusaha atau pengurus suatu perusahaan yang dikategorikan
mempunyai potensi bahaya besar wajib:
Mempekerjakan petugas K3 Kimia dengan ketentuan apabila
dipekerjakan dengan sistem kerja non shift sekurangkurangnya 2 (dua) orang dan apabila dipekerjakan dengan
sistem kerja shift sekurang-kurangnya 5 (lima) orang.
Mempekerjakan ahli K3 Kimia sekurang-kurangnya 1 (satu)
orang;
Perusahaan dengan Potensi Instalasi Bahaya Menengah
Perusahaan yang dikategorikan mempunyai potensi bahaya
menengah wajib mempunyai petugas K3 Kimia dengan ketentuan
15

Modul Kompetensi 17 MEMERIKSA NORMA K3 BAHAN BERBAHAYA

apabila dipekerjakan dengan sistem kerja non shift sekurangkurangnya 1 (satu) orang, dan apabila dipekerjakan dengan
mempergunakan shift sekurang-kurangnya 3 (tiga) orang;
B. Asbes
B.1. Dasar-dasar K3 Asbestos
Berdasarkan sifat-sifat dalam pengertiannya, ASBESTOS dan
SMS (Serat Mineral Sintetis) banyak digunakan di sektor industri.
Nilai Ambang Batas Asbes adalah angka yang menunjukkan
konsentrasi serat asbes di udara tempat kerja, dimana dengan
konsentrasi di bawah angka ini orang yang terpapar dalam waktu
8 jam sehari dan 40 jam seminggu tidak akan mengalami
gangguan kesehatan dan kenyamanan kerja.
Disamping

sifat

ketahanannya,

asbes

juga

mengandung

resiko/bahaya yang cukup besar terutama bagi penggarap bahan


baku, pengolah, pengangkut, pemakai, dan pekerja lainnya yang
berhubungan dengan asbestos. Pencegahan dan pengendalian
terhadap dampak tersebut harus sesuai dengan peraturanperundangan, standard dan guideline yang berlaku. Prosedur
kerja harus benar-benar ditaati, agar aman.

B.2. Kewajiban-kewajiban
Kewajiban Pengurus
Pengurus/Pengusaha suatu perusahaan yang menggunakan
atau memakai asbes atau bahan yang mengandung asbes wajib
untuk :
a. Menyediakan alat-alat pelindung diri bagi pekerja
b. Memberikan penerangan kepada pekerja mengenai
1. bahaya yang mungkin terjadi karena pemaparan.
2. cara-cara kerja yang aman,
3. pemakaian alat pelindung diri yang benar.
c. Memberitahukan

secara

tertulis

kepada

Menteri

dan

menjelaskan proses produksi, jenis asbes yang dipakai atau


16

Modul Kompetensi 17 MEMERIKSA NORMA K3 BAHAN BERBAHAYA

ditambang, barang jadi dan lokasi kegiatan selambatlambatnya dalam waktu 14 hari sebelum proses dimulai.
d. Memasang

tanda

atau

rambu-rambu

di

tempat-tempat

tertentu di lingkungan kerja sedemikian rupa sehingga mudah


dilihat atau dibaca, bahwa setiap orang yang berada dilokasi
tersebut harus menggunakan alat pelindung diri sesuai
dengan tanda atau rambu-rambu yang ada.
e. Melakukan

pengendalian

terhadap

debu

asbes

yang

terkandung diudara lingkungan kerja dengan mengambil


sampel pada beberapa tempat yang diperkirakan konsentrasi
debu asbesnya tinggi dalam setiap 3 bulan atau frekwensi
tertentu.
f. Memberikan kepada pekerja yang bekerja dalam tambang
atau setiap proses yang memakai asbes sebuah buku
petunjuk yang secara terperinci menjelaskan mengenai
bahaya-bahaya yang berhubungan dengan asbes dan cara
pencegahannya.
g. Memberikan penerangan atau informasi yang diperlukan oleh
pegawai pengawas yang mengadakan inspeksi di tempat
kerja.
Kewajiban tenaga kerja
Setiap tenaga kerja yang bekerja pada tempat kerja yang
menggunakan

atau

memakai

asbes

atau

bahan

yang

mengandung asbes wajib :


a. selama melakukan tugas pekerjaannya menggunakan alat
pelindung diri yang diperlukan.
b. Melepas dan menyimpan alat pelindung diri dan pakaian kerja
di tempat yang telah ditentukan.
c. Melapor pada pengurus bila :
1. kerusakan alat kerja
2. kerusakan alat pelindung diri
3. kerusakan alat ventilasi di ruang kerja atau alat pengaman
lainnya.
17

Modul Kompetensi 17 MEMERIKSA NORMA K3 BAHAN BERBAHAYA

d. Menggunakan respirator khusus dan alat pelindung khusus


lainnya bila berada di tempat-tempat yang kadar asbesnya
melampaui nlai ambang batas yang telah ditentukan dalam
peraturan yang berlaku.
B.3. Bentuk Pengendalian K3 Asbes
1. Alat Pelindung Diri
Kewajiban pemakaian alat pelindung diri pada setiap tenaga
kerja yang terlibat dalam proses penggunaan/pemakaian
bahan

asbes

atau

bahan

mengandung

bahan

asbes

merupakan suatu keharusan. Khususnya alat pelindung diri


dan pakaian kerja yang telah dipakai tidak boleh dipakai
pekerja lain kecuali bila alat pelindung diri dan pakaian kerja
sudah dibersihkan dimana :

pembersihan alat pelindung diri harus dilakukan dalam


pabrik

pakaian kerja dibersihkan di tempat kerja.

Bila dibersihkan diluar pabrik maka cara distribusi pakaian


diatur sedemikian rupa agar aman dan diberi label.

Pakaian kerja sesudah dipakai harus dibersihkan dan


disimpan di tempat yang telah ditentukan.

2. Kebersihan Lingkungan Kerja


i. Ventilasi

Setiap ruang kerja wajib dipasang alat ventilasi yang


sesuai agar serat asbes yang terkandung diudara
tempat kerja berada dibawah nilai ambang batas.

Pada waktu
dihidupkan,

proses industri alat ventilasi


dirawat,

dan

diperbaiki

bila

wajib
terjadi

kerusakan.

Alat ventilasi harus diperiksa secara teratur setiap 3


bulan dan hasil pemeriksaan dicatat dan disimpan
dalam waktu 3 bulan.

18

Modul Kompetensi 17 MEMERIKSA NORMA K3 BAHAN BERBAHAYA

Alat ventilasi dan alat pelindung diri serta hasil


pemeriksaan tersebut diperiksa dan diawasi oleh
pegawai pengawas.

Kantong-kantong filter alat ventilasi yang telah penuh


debu asbes ditempatkan pada tempat yang tertutup
untuk menghindari penyebaran debu asbes.

ii. Penanganan Debu Asbes

Tempat kerja termasuk mesin, alat-alat bengkel,


peralatan tambang atau pabrik yang digunakan dalam
proses produksi harus diusahakan tetap bersih dan
bebas dari akumulasi debu asbes.

Untuk

membersihkan

debu

asbes

dilarang

menggunakan hembusan udara tekan tetapi harus


dengan peralatan pembersih hampa udara/penghisap
debu atau pembersih basah.

Pembungkus/kantong yang digunakan untuk tempat


asbes harus tidak dapat ditembus oleh debu asbes,
tertutup sempurna, diberi tanda dengan tulisan dan
dibuang ke tempat yang ditentukan.

iii. Pemeriksaan kesehatan tenaga kerja

Pemeriksaan kesehatan bagi pekerja yang memakai


asbes

wajib

dilakukan

oleh

dokter

pemeriksa

kesehatan kerja.

Pemeriksaan kesehatan harus dilaksanakan secara


rutin setahun sekali meliputi foto rontgen paru, riwayat
pekerjaan, riwayat merokok, pengujian kimia dan tes
fungsi paru.

Hasil-hasil pemeriksaan kesehatan tersebut wajib


dilaporkan oleh dokter pemeriksa.
i. Pengurus wajib membiayai semua pemeriksaan
kesehatan tersebut dan menyimpan semua hasil
dalam air
19

Modul Kompetensi 17 MEMERIKSA NORMA K3 BAHAN BERBAHAYA

ii. Pellet
iii. Tablet
iv. Butiran
Kristal pemeriksaan serta mentaati keterangan dokter
pemeriksa sesuai hasil pemeriksaan.

C. Pestisida
C.1. Jenis dan Klasifikasi Pestisida
a. Berdasarkan sasaran penggunaan
Insektisida
Akarisida
Nematisida
Moluscisida
Herbisida
Fungisida
Bakterisida
Rodentisida
Antibiotika

Sasaran
Serangga
Tungau
Nematoda
Siput
Tanaman pengganggu
Cendawan
Bakteri
Binatang pengerat
Kuman-kuman, dsb

b. Berdasarkan jalan masuk


i. Kulit
ii. Mulut, dan
iii. Paru-paru
c. Bentuknya
v.
vi.
vii.
viii.
ix.
x.
xi.
xii.

Cairan yang dapat diemulsikan (EC)


Cairan yang larut dalam air (WSC)
Larutan
Debu
Bubuk yang dapat disuspensikan
Bubuk yang dapat larut
Aerosol
Gas cair

d. Struktur kimia
i.
ii.
iii.
iv.

Organo chlor
Organo phospat
Penguat
Dan lain-lain

Daya racun (toksisitas) atau Tingkat toksisitas berdasarkan


LD 50 dan LC 50
e. Berdasarkan tingkat bahaya

20

Modul Kompetensi 17 MEMERIKSA NORMA K3 BAHAN BERBAHAYA

Berdasarkan sifat fisik dan kimia pestisida dan tingkat bahaya


pestisida, pestisida dapat diklasifikasikan menjadi 2 (dua)
kelompok yaitu:
1. Pestisida yang dapat didaftarkan; dan
2. Pestisida yang dilarang
Kriteria pestisida yang dilarang sesuai ketentuan internasional
adalah pestisida yang termasuk ke dalam ketegori:
1. Formulasi pestisida termasuk kelas la, artinya sangat
berbahaya sekali dan Ib artinya berbahaya sekali
menurut klasifikasi WHO;
2. Mempunyai LC50 inhalasi formulasi lebih kecil dari 0,05
mg/l selama 4 jam periode pemaparan;
3. Mempunyai

indikasi

karsinogenik,

onkogenik,

teratogenik, dan mutagenik.


f. Berdasarkan cara penggunaan
Berdasarkan

cara

penggunaannya,

pestisida

dapat

diklasifikasikan ke dalam 2 (dua) kelompok yaitu:


1. Pestisida untuk penggunaan umum; dan
2. Pestisida untuk penggunaan terbatas
C.2. Jenis perijinan Pestisida
Sesuai dengan ketentuan yang berlaku, izin pestisida dapat
dibedakan menjadi 3 (tiga) jenis, yaitu:
A. Izin Percobaan
Izin Percobaan diberikan dengan maksud agar pemohon
dapat membuktikan kebenaran atas klaim produk yang akan
didaftarkannya, yaitu klaim yang berkaitan dengan mutu,
efikasi dan toksisitas pestisida.
Izin Percobaan diberikan untuk jangka waktu 1 (satu) tahun
dan dapat diperpanjang 2 (dua) kali masing-masing untuk
jangka waktu satu tahun.
B. Izin Sementara
Izin Sementara pestisida diberikan dengan maksud agar
pemohon pendaftaran dapat melengkapi data dan informasi
21

Modul Kompetensi 17 MEMERIKSA NORMA K3 BAHAN BERBAHAYA

sesuai dengan persyaratan teknis dan administrasi yang telah


ditetapkan.
Pestisida yang telah memperoleh Izin Sementara dapat
diproduksi/diedarkan atau digunakan dalam jumlah yang
terbatas dan ditetapkan dengan Keputusan Menteri Pertanian.
Izin Sementara berlaku selama 1 (satu) tahun dan dapat
diperpanjang 3 (tiga) kali, masing-masing untuk jangka waktu
satu tahun.
C. Izin Tetap
Izin Tetap pestisida diberikan kepada pemohon yang telah
memenuhi

seluruh

persyaratan

baik

teknis

maupun

administrasi.
Pestisida

yang

telah

memperoleh

Izin

Tetap

dapat

digunakan/diedarkan secara komersial dengan jumlah yang


tidak terbatas dan ditetapkan dengan Keputusan Menteri
Pertanian.
Izin Tetap berlaku selama 5 (lima) tahun.
Pestisida yang telah memperoleh Izin Sementara maupun Izin
Tetap namun apabila diketahui menimbulkan dampak negatif
terhadap kesehatan manusia dan lingkungan

hidup, maka

Menteri Pertanian dapat mencabut status izin pestisida


tersebut.
Berdasarkan dengan Peraturan Pemerintah Nomor 7
Tahun 1973, maka sebelum ijin dari Menteri Pertanian
dikeluarkan,

harus

terlebih

dahulu

mendapatkan

rekomendasi keselamatan dan kesehatan kerja dari


Menteri Tenaga Kerja.

C.3. Syarat-syarat K3 Pestisida

22

Modul Kompetensi 17 MEMERIKSA NORMA K3 BAHAN BERBAHAYA

Pestisida adalah racun berbahaya. Bahaya itu akan dapat


dihindari apabila pada waktu bekerja dengan pestisida, normanorma K3 mendapat perhatian sebaik-baiknya oleh pengusaha
dan tenaga kerja. Syarat-syarat K3 di tempat kerja tentang
pengelolaan pestisida menurut Permenaker No. 03/MEN/1986
adalah sebagai berikut :
C.3.1. Syarat-syarat tenaga kerja yang mengelola Pestisida
Setiap tenaga kerja yang dipekerjakan mengelola pestisida
harus memenuhi syarat antara lain :

Berumur lebih dari 18 tahun.

Indonesia telah meratifikasi Konvensi ILO No. 138


dengan Undang-undang No. 20 tahun 1999 mengenai
Usia Minimum Untuk Diperbolehkan Bekerja, dan
Konvensi No. 182 mengenai Pelarangan dan Tindakan
Segera Untuk Penghapusan Bentuk-bentuk Pekerjaan
Terburuk Untuk Anak dengan Undang-undang No. 1
Tahun 2000, namun keberadaan pekerja anak

di

Indonesia tidak mungkin di hilangkan begitu saja dalam


waktu singkat. Prioritas yang dapat di lakukan saat ini
adalah mengeliminir bahaya yang timbul bagi anakanak yang bekerja.

Yang dimaksudkan dengan anak dalam konvensi ini


adalah semua orang yang berusia dibawah 18 tahun
(pasal 2)

Bentuk-bentuk terburuk pekerjaan anak sebagaimana


diatur dalam pasal 3 konvensi mengandung pengertian
antara lain : Pekerjaan yang sifat dan keadaan dalam
pelaksanaannya

membahayakan

kesehatan,

keselamatan atau moral anak

Telah menjalani pemeriksaan kesehatan

Pemeriksaan
Permenakertrans

kesehatan
No.

sesuai
02/Men/1980

dengan
meliputi

pemeriksaan awal, berkala dan khusus.


23

Modul Kompetensi 17 MEMERIKSA NORMA K3 BAHAN BERBAHAYA

Telah mendapat penjelasan tentang cara pengelolaan


pestisida serta latihan P3K .

Tidak boleh mengalami paparan lebih dari 5 jam sehari


dan 30 jam seminggu.

Memakai alat pelindung diri yang sesuai.

Menjaga kebersihan badan, pakaian, alat pelindung


diri, perlengkapan kerja, tempat kerja .

Dalam

penyemprotan

tidak

boleh

menggunakan

pestisida dalam bentuk debu.

Tenaga kerja tidak boleh dalam keadaan mabuk atau


kekurangan lain baik fisik maupun mental yang
mungkin dapat membahayakan.

Tenaga kerja yang luka atau mempunyai penyakit kulit


dilarang bekerja, kecuali bila dilakukan tindakan
perlindungan.

Dilarang bekerja bagi wanita hamil atau menyusui.

C.3.2. Syarat syarat penyimpanan

Lokasi gudang harus terpisah dari aktivitas umum dan


tidak terkena banjir dan lantai gudang harus miring.
Oleh karena itu, drainase di dalam dan diluar gudang
harus baik dan terawat.

Dinding dan lantai gudang harus kuat dan mudah di


bersihkan. Hal ini mencegah kemungkinan runtuhan
dan tergulingnya kontainer akibat lantai yang tidak
stabil.

Pintu ditutup rapat dan di beri tanda peringatan atau


dengan tulisan atau gambar.

Selalu di kunci apabila tidak ada kegiatan.

Tidak boleh disimpan bersama-sama dengan bahanbahan

lain.

Hal

ini

untuk

mencegah

terjadinya

24

Modul Kompetensi 17 MEMERIKSA NORMA K3 BAHAN BERBAHAYA

kontaminasi atau pencampuran dengan bahan lain


tersebut.

Mempunyai ventilasi, penerangan yang cukup dan


suhu memenuhi ketentuan yang berlaku.

Dilengkapi dengan alat pemadam kebakaran sesuai


kebutuhan yang berlaku. APAR (Alat pemadam api
ringan) harus tersedia pada jarak 15 meter.

Cara

penyimpanan

persyaratan

yang

pestisida

berlaku

harus

terhadap

memenuhi
kemungkinan

bahaya peledakan. Perhatikan dan patuhi ketentuan


yang tertulis dalam Lembar Data Keselamatan Bahan
(MSDS).

C.3.3. Syarat-syarat pengangkutan

Harus dicegah agar tidak terjadi tumpahan atau


percikan dan di awasi seorang petugas sesuai dengan
Peraturan Perundang-undangan yang berlaku. Dalam
Kepmenaker No. 187/Men/1999 menyatakan bahwa
perusahaan yang mempunyai potensi bahaya kimia
wajib mempekerjakan petugas K3 Kimia dan Ahli K3
Kimia.

C.3.4. Syarat-syarat Pencampuran dan penggunaan dalam ruang


tertutup

Peralatan untuk mengolah pestisida tidak boleh di


gunakan untuk keperluan lain dan diberi tanda yang
jelas.

Persiapan

dan

pencampuran

harus

dilakukan

sedemikian sehingga mencegah terjadinya kontaminasi


dengan tenaga kerja.

Petugas atau pengawas tidak boleh meninggalkan


tempat selama kegiatan persiapan dan pencampuran.

25

Modul Kompetensi 17 MEMERIKSA NORMA K3 BAHAN BERBAHAYA

Jika pestisida digunakan di ruang tertutup, maka


setelah selesai penyemprotan, ruang harus diberi
tanda dilarang masuk tanpa alat pelindung diri untuk
jangka waktu tertentu.

C.3.5. Tanda-tanda peringatan

Pada tempat kerja harus di pasang tanda peringatan,


seperti AWAS BAHAN MUDAH MELEDAK ; AWAS
BAHAN BERACUN dan sebagainya.

Pada tempat kerja harus di pasang gambar alat


pelindung diri yang wajib dipakai.

C.3.6. Sanitasi dan kebersihan

Tempat kerja harus di jaga kebersihannya dan bebas


dari ceceran bahan pestisida atau bahan kimia lain.

C.3.7. Nilai Ambang Batas, dan Pengendalian Bahaya

Kadar pestisida di tempat kerja tidak boleh melebihi


nilai ambang batas yang di tentukan. NAB faktor kimia
dapat di lihat di SE-01/MENAKER/1997.

Tempat yang mengelola pestisida harus di pasang alat


pengendali bahaya dan alat deteksi, ventilasi dan
instalasi pemadam kebakaran.

Setiap bahan harus di beri kode secara jelas sehingga


mudah di bedakan dengan bahan-bahan yang lain.

C.3.8. Peralatan dan Alat Pelindung Diri

Semua peralatan harus sesuai dengan syarat-syarat


K3.

Sebelum menggunakan peralatan sebaiknya

periksa dahulu alat-alat pengaman, apakah berfungsi


dengan baik. Contoh : periksa apakah tabung sprayer
tidak bocor.

26

Modul Kompetensi 17 MEMERIKSA NORMA K3 BAHAN BERBAHAYA

Semua

peralatan

yang

akan

di

perbaiki

harus

dibersihkan pada tempat khusus.

Tenaga kerja harus menggunakan alat pelindung diri.

C.3.9. Fasilitas Pelayanan Kesehatan Kerja

Tempat dimana dikelola pestisida harus menyediakan


fasilitas pelayanan kesehatan.

Penyelenggaraan
perusahaan

pelayanan

merupakan

perlindungan

tenaga

kesehatan

upaya

kerja

kerja

dalam

terhadap

di

rangka
gangguan

kesehatan yang timbul dari pekerjaan atau lingkungan


kerja, meningkatkan kesehatan badan, kondisi mental
(rohani) dan kemampuan fisik.

Pelayanan

kesehatan

kerja

yang

baik

akan

meningkatkan derajat kesehatan tenaga kerja yang


merupakan salah satu faktor untuk meningkatkan
produktivitas kerja melalui upaya-upaya kesehatan
promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif.

Untuk mengendalikan dan menangani hal tersebut


diatas maka telah dikeluarkan Peraturan Menteri
Tenaga Kerja No. Per. 03/Men/1982 tentang Pelayanan
Kesehatan Kerja yang menyatakan bahwa perusahaan
wajib melaksanakan pelayanan kesehatan kerja dan
melaporkan hasilnya.

C.3.10. Pemeriksaan Kesehatan Tenaga Kerja

Tenaga

kerja

kesehatan

harus

berkala

mendapatkan
kali

dalam

pemeriksaan
setahun

dan

pemeriksaan khusus sekurang-kurangnya satu kali


dalam enam bulan. Jenis pemeriksaan mengacu pada
Permenaker RI. No. 02/Men/1980 berupa pemeriksaan
fisik lengkap, kesegaran jasmani, rontgen paru-paru

27

Modul Kompetensi 17 MEMERIKSA NORMA K3 BAHAN BERBAHAYA

(bilamana mungkin) dan laboratorium rutin, serta


pemeriksaan lain yang di anggap perlu.

Pemeriksaan khusus dilakukan sesuai dengan jenis


pestisida yang di gunakan.

Pemeriksaan khusus ini

antara lain dengan metode biological monitoring,


pemeriksaan darah, urine dan lain-lain.
C.3.11. Limbah dan Pemusnahan

Air limbah yang akan di buang harus memenuhi nilai


baku mutu lingkungan

Dilakukan

pengawasan

terus

menerus

untuk

mengetahui mutui air buangan.

Pemusnahan pestisida atau wadah harus dengan


cara yang tidak membahayakan tenaga kerja dan
lingkungan.

C.3.12. Kewajiban pengurus

Menyediakan fasilitas perawatan, pencucian dan


penyimpanan untuk pakaian dan alat pelindung diri.

Menyediakan air, sabun, handuk dan tempat mandi

Menyediakan fasilitas makan dan minum

Membuat

prosedur

dan

unit

penanggulangan

keadaan darurat.
C.3.13. Sangsi

Sesuai dengan UU No. 1 tahun 1970, kurungan 3


bulan atau denda seratus ribu rupiah.

C.4. Bentuk Pengendalian K3 Pestisida


Ditinjau dari aspek tahapan, yaitu dari tidak ada menjadi ada dan
kemudian menjadi tidak ada, maka ruang pengendalian pestisida
dapat dikelompokkan menjadi beberapa aspek, yaitu:
1.

Pengendalian melalui peraturan perundangan, antara lain


dalam sistem pendaftaran dan perizinan pestisida;
28

Modul Kompetensi 17 MEMERIKSA NORMA K3 BAHAN BERBAHAYA

2.

Pembinaan kepada masyarakat;

3.

Pemantauan dan penanggulangan dampak negatif;

4.

Pengawasan;

5.

Penelitian.

Mengingat luasnya ruang lingkup pengelolaan pestisida, maka


dalam proses pengambilan keputusan tentang pestisida, Menteri
Pertanian dibantu oleh suatu lembaga non struktural yaitu
Komisi Pestisida. Komisi Pestisida beranggotakan wakil dari
berbagai instansi terkait serta perguruan tinggi, yaitu wakil dari
Departemen Pertanian, Departemen Kesehatan, Departemen
Perindustrian

dan

Perdagangan,

Departemen

Kehutanan,

Departemen Kelautan dan Perikanan, Departemen Tenaga Kerja,


Menteri Negara Lingkungan Hidup, Badan paM, Institut Pertanian
Bogor dan Universitas Gadjah Mada.

D.

Limbah Industri
D.1. Karakteristik limbah:
1. Berukuran mikro
2. Dinamis
3. Berdampak luas (penyebarannya)
4. Berdampak jangka panjang (antar generasi)
Faktor yang mempengaruhi kualitas limbah adalah:
1. Volume limbah
2. Kandungan bahan pencemar
3. Frekuensi pembuangan limbah
Berdasarkan karakteristiknya, limbah industri dapat digolongkan
menjadi 4 bagian:
1. Limbah cair
2. Limbah padat
29

Modul Kompetensi 17 MEMERIKSA NORMA K3 BAHAN BERBAHAYA

3. Limbah gas dan partikel


4. Limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun)
Untuk

mengatasi

limbah

ini

diperlukan

pengolahan

dan

penanganan limbah. Pada dasarnya pengolahan limbah ini dapat


dibedakan menjadi:
1. pengolahan menurut tingkatan perlakuan
2. pengolahan menurut karakteristik limbah
D.2. Indikasi Pencemaran Air
Indikasi pencemaran air dapat kita ketahui baik secara visual
maupun pengujian.
1. Perubahan pH (tingkat keasaman / konsentrasi ion hidrogen)
Air normal yang memenuhi syarat untuk suatu kehidupan
memiliki pH netral dengan kisaran nilai 6.5 7.5. Air limbah
industri yang belum terolah dan memiliki pH diluar nilai pH
netral, akan mengubah pH air sungai dan dapat mengganggu
kehidupan organisme didalamnya. Hal ini akan semakin parah
jika daya dukung lingkungan rendah serta debit air sungai
rendah. Limbah dengan pH asam / rendah bersifat korosif
terhadap logam.
2. Perubahan warna, bau dan rasa
Air normal dan air bersih tidak akan berwarna, sehingga
tampak bening / jernih. Bila kondisi air warnanya berubah
maka hal tersebut merupakan salah satu indikasi bahwa air
telah

tercemar.

Timbulnya

bau

pada

air

lingkungan

merupakan indikasi kuat bahwa air telah tercemar. Air yang


bau dapat berasal dari limbha industri atau dari hasil
degradasi oleh mikroba. Mikroba yang hidup dalam air akan

30

Modul Kompetensi 17 MEMERIKSA NORMA K3 BAHAN BERBAHAYA

mengubah organik menjadi bahan yang mudah menguap dan


berbau sehingga mengubah rasa.
3. Timbulnya endapan, koloid dan bahan terlarut
Endapan, koloid dan bahan terlarut berasal dari adanya
limbah industri yang berbentuk padat. Limbah industri yang
berbentuk padat, bila tidak larut sempurna akan mengendap
di dasar sungai, dan yang larut sebagian akan menjadi koloid
dan akan menghalangi bahan-bahan organik yang sulit diukur
melalui uji BOD karena sulit didegradasi melalui reaksi
biokimia, namun dapat diukur menjadi uji COD. Adapun
komponen pencemaran air pada umumnya terdiri dari :

Bahan buangan padat

Bahan buangan organik

Bahan buangan anorganik

D.3. Limbah B3
Pengelolaan limbah B3 bertujuan untuk menghilangkan atau
mengurangi sifat bahaya dan beracun limbah B3 agar tidak
membahayakan kesehatan manusia dan untuk mencegah
terjadinya pencemaran dan kerusakan lingkungan.
Suatu limbah digolongkan sebagai limbah B3 bila mengandung
bahan berbahaya atau beracun yang sifat dan konsentrasinya,
baik langsung maupun tidak langsung, dapat merusak atau
mencemarkan lingkungan hidup atau membahayakan kesehatan
manusia.Yang termasuk limbah B3 antara lain adalah bahan
baku yang berbahaya dan beracun yang tidak digunakan lagi
karena rusak, sisa kemasan, tumpahan, sisa proses, dan oli
bekas kapal yang memerlukan penanganan dan pengolahan
khusus. Bahan-bahan ini termasuk limbah B3 bila memiliki salah
satu atau lebih karakteristik berikut: mudah meledak, mudah
terbakar, bersifat reaktif, beracun, menyebabkan infeksi, bersifat

31

Modul Kompetensi 17 MEMERIKSA NORMA K3 BAHAN BERBAHAYA

korosif, dan lain-lain, yang bila diuji dengan toksikologi dapat


diketahui termasuk limbah B3.
Limbah yang termasuk limbah B3 adalah limbah yang memenuhi
salah satu atau lebih karakteristik antara lain:
a. mudah meledak;
Limbah mudah meledak adalah limbah yang melalui reaksi
kimia dapat menghasilkan gas dengan suhu dan tekanan
tinggi yang dengan cepat dapat merusak lingkungan.
b. mudah terbakar;
Limbah mudah terbakar adalah limbah yang bila berdekatan
dengan api, percikan api, gesekan atau sumber nyala lain
akan mudah menyala atau terbakar dan bila telah menyala
akan terus terbakar hebat dalam waktu lama.
c. bersifat reaktif;
Limbah reaktif adalah limbah yang menyebabkan kebakaran
karena melepaskan atau menerima oksigen atau limbah
organik peroksida yang tidak stabil dalam suhu tinggi
d. beracun;
Limbah beracun adalah limbah yang mengandung racun yang
berbahaya bagi manusia dan lingkungan. Limbah B3 dapat
menimbulkan kematian atau sakit bila masuk ke dalam tubuh
melalui pernapasan, kulit atau mulut.
e. menyebabkan infeksi;
Limbah

yang

menyebabkan

infeksi

adalah

limbah

laboratorium yang terinfeksi penyakit atau limbah yang


mengandung kuman penyakit, seperti bagian tubuh manusia

32

Modul Kompetensi 17 MEMERIKSA NORMA K3 BAHAN BERBAHAYA

yang diamputasi dan cairan tubuh manusia yang terkena


infeksi.
f. bersifat korosif;
Limbah

yang

bersifat

korosif

adalah

limbah

yang

menyebabkan iritasi pada kulit atau mengkorosikan baja, yaitu


memiliki pH sama atau kurang dari 2,0 untuk limbah yang
bersifat asam dan lebih besar dari 12,5 untuk yang bersifat
basa.
g. limbah lain yang apabila diuji dengan metode toksikologi
dapat diketahui termasuk dalam jenis limbah B3.
Sedangkan jenis limbah B3 berdasarkan sumbernya meliputi:
a. Limbah B3 dari sumber tidak spesifik;
b. Limbah B3 dari sumber spesifik;
c. Limbah B3 dari bahan kimia kadaluwarsa, tumpahan, sisa
kemasan, dan buangan produk yang tidak memenuhi
spesifikasi.
D.4. Sistim pembuangan limbah terdiri dari :

Inceneration

Sanitary landfill

Composting

Discharge to sewers

Dumping

Dumping in water

Landfill

Individual incineration

Recycling

Salwaging
33

Modul Kompetensi 17 MEMERIKSA NORMA K3 BAHAN BERBAHAYA

E.

Rencana Tanggap Darurat


Prosedur dan keadaan darurat atau prosedur tanggap darurat
dilakukan untuk mengatasi resiko yang masih ada setelah semua
tindakan pencegahan yang sesuai dilakukan. Tindakan tersebut harus
sesuai dengan bahaya dan harus praktis dan realistis agar efektif.
Rencana tanggap darurat tersebut dapat dibagi dalam rencana darurat
di dalam perusahaan sendiri dan rencana darurat di luar lingkungan
perusahaan.
o

Rencana Darurat di dalam Perusahaan


Rencana darurat di dalam perusahaan menyangkut soal tindakan
yang

harus

dilakukan

oleh

personil

perusahaan

didalam

perusahaannya sewaktu terjadi suatu keadaan darurat Rencana


tersebut harus memuat uraian tindakan yang harus dilakukan
dalam keadaan darurat. Tujuan utama rencana darurat adalah
untuk mengusahakan agar akibat dari keadaan darurat dapat
ditekan sekecil mungkin. Oleh karena itu usaha dipusatkan
kearah penampungan kebocoran
o

Rencana Keadaan Darurat di luar Perusahaan


Apabila bantuan dari luar untuk mengontrol kecelakaan atau jika
akibat kecelakaan dapat membahayakan keselamatan dari
orang-orang diluar perusahaan, maka harus disusun suatu
rencana keadaan darurat di luar perusahaan.

Tujuan dari rencana tersebut adalah :


Untuk memberi informasi kepada orang-orang yang akan dimintai
bantuan.
Jika pemadam kebakaran atau regu penolong dari luar perusahaan
akan diminta bantuan, maka sudah semestinya mereka harus
mendapat informasi yang berhubungan dengan perusahaan yang
bersangkutan

34

Modul Kompetensi 17 MEMERIKSA NORMA K3 BAHAN BERBAHAYA

E.1. DasarDasar Kesiapan Tanggap Darurat di Tempat Kerja


Prosedur dan keadaan darurat atau prosedur tanggap darurat
dilakukan untuk mengatasi resiko yang masih ada setelah semua
tindakan pencegahan yang sesuai dilakukan. Tindakan tersebut
harus sesuai dengan bahaya dan harus praktis dan realistis agar
efektif.
Rencana tanggap darurat tersebut dapat dibagi dalam rencana
darurat di dalam perusahaan sendiri dan rencana darurat di luar
lingkungan perusahaan.
(a) Rencana Darurat di dalam Perusahaan
Rencana darurat di dalam perusahaan menyangkut soal
tindakan yang harus dilakukan oleh personil perusahaan
didalam perusahaannya sewaktu terjadi suatu keadaan
darurat Rencana tersebut harus memuat uraian tindakan yang
harus dilakukan dalam keadaan darurat. Tujuan utama
rencana darurat adalah untuk mengusahakan agar akibat dari
keadaan darurat dapat ditekan sekecil mungkin. Oleh karena
itu usaha dipusatkan kearah penampungan kebocoran dan
pemadaman kebakaran.
-

Peringatan Kepada yang Bersangkutan


Mereka yang harus melakukan suatu peranan di dalam
rencana darurat harus diberi tahu jika terjadi suatu
keadaan

darurat

Pemberitahuan

ini

termasuk

penempatan personil untuk pos-pos darurat harus


dilatih secara teratur.
-

Tindakan yang harus dilakukan


Tindakan

pertama

ditujukan

untuk

menghentikan

yang

harus dilakukan

mengatasi

keadaan

kebocoran-kebocoran.

adalah
darurat,

memadamkan

api, mencegah bagian lain dari perusahaan terlibat


dalam keadaan darurat. Orang-orang yang terancam
bahaya

harus

diusahakan

segera

meninggalkan

daerah berbahaya.
35

Modul Kompetensi 17 MEMERIKSA NORMA K3 BAHAN BERBAHAYA

(b) Rencana Keadaan Darurat di luar Perusahaan


Apabila bantuan dari luar untuk mengontrol kecelakaan atau
jika akibat kecelakaan dapat membahayakan keselamatan
dari orang-orang diluar perusahaan, maka harus disusun
suatu rencana keadaan darurat di luar perusahaan.
Tujuan dari rencana tersebut adalah :
-

Untuk memberi informasi kepada orang-orang yang akan


dimintai bantuan

Jika pemadam kebakaran atau regu penolong dari luar


perusahaan

akan

diminta

bantuan,

maka

sudah

semestinya mereka harus mendapat informasi yang


berhubungan dengan perusahaan yang bersangkutan
Pengendalian bahaya besar berarti mencegah terjadinya
kecelakaan besar.
Kecelakaan besar dapat dicegah dengan :
- Design pengolahan
- Tata letak perusahaan
- Design instalasi
- Konstruksi
- Operasi
- Perawatan dan Manajemen yang baik

E.2. On Site Emergency Plan


E.2.1. Merumuskan rencana dan pelayanan darurat
On site emergency plan harus berkorelasi dengan
assessment terakhir yang dilakukan dan pembuatan
rencana tersebut merupakan tanggungjawab pengurus
peusahaan. Rencana yang dibuat tersebut harus spesifik
untuk suatu tempat kerja tertentu. Pada tempat kerja yang
sangat kecil / sederhana, suatu rencana tanggap darurat
mungkin

hanya

berisi

nama

personil

yang

bertanggungjawab dan pihak-pihak yang harus dihubungi.


36

Modul Kompetensi 17 MEMERIKSA NORMA K3 BAHAN BERBAHAYA

Pada perusahaan dengan instalasi yang lebih kompleks


(multi process), suatu rencana sebaiknya merupakan
dokumen yang mencakup elemen-elemen berikut :
a.

assessment ukuran dan kondisi kejadian yang


mungkin timbul dan kemungkinannya terjadi.\;

b.

Perumusan
otoritas

rencana

di

luar

dan

pabrik,

penghubung
termasuk

dengan

pelayanan

emergency
c.

Prosedur :
1)

menghidupkan alarm;

2)

komunikasi baik di dalam maupun di luar tempat


kerja;

d.

Menunjuk

personil

kunci

berikut

tugas

dan

tanggungjawabnya;
1)

kontroler insiden

2)

kontroler pekerjaan utama;

e.

pusat pengendalian keadaan darurat;

f.

aksi di on-site;

g.

aksi di off site.

Elemen

dasar

dari

rencana

harus

tersedia

untuk

memungkinkan terjaminnya kondisi aman di unit yang


mengalami kegagalan, contohnya untuk melaksanakan
shutting down. Pada tempat kerja yang komplek, suatu
rencana harus mengandung urutan penuh (full sequence)
dari personil kunci yang dapat dipanggil dari seksi lain atau
dari luar pabrik.
E.2.2 Mekanisme komunikasi dan alarm
Komunikasi adalah hal yang krusial dalam situasi keadaan
darurat. Dalam praktek dimungkinkan untuk setiap tenaga

37

Modul Kompetensi 17 MEMERIKSA NORMA K3 BAHAN BERBAHAYA

kerja menghidupkan alarm pada kesempatan pertama


untuk memungkinkan pengendalian segera.
Sistem alarm bervariasi jenisnya tergantung dari ukuran
tempat kerja. Harus ada titik-titik untuk menghidupkan
alarm secara langsung dalam jumlah yang memadai,
untuk mengaktifkan alarm audible atau secara tidak
langsung

melalui

sinyal

atau

pesan.

Alarm

akan

mengingatkan incident kontroler untuk segera menilai


situasi dan mengambil langkah-langkah penanganan
keadaan darurat yang sesuai.

Di lokasi dengan tingkat

kebisingan yang tinggi, sebaiknya dipasang beberapa


transmitter

alarm

audible

atau

lampu

flash. Alarm

automatic dapat juga disediakan di beberapa tempat.


Harus ada system yang handal untuk menginformasikan
segera kepada pelayanan keadaan darurat sesegera
mungkin segera setelah alarm tanda bahaya diaktifkan.

i.

Penunjukan personil dan definisi tugas


Rencana tanggap darurat yang efektif mensyaratkan,
individu-individu terpilih yang diberi tanggungjawab yang
spesifik, yang berbeda dari tanggungjawab kesehariannya.
Dua orang yang memegang kendali utama adalah site
incident controller dan site main controller.
Site incident controller akan mengambil tanggungjawab
dalam penanganan insiden. Dia akan bertugas pada saat
terjadinya kecelakaan dan harus siap selama 24 jam jika
pabrik tersebut beroperasi dalam 3 shift.
Site incident controller jika perlu harus mengambil
keputusan untuk melibatkan pabrik-pabrik disekitar lokasi
penanganan keadaan darurat.
Tanggungjawab Site incident controller antara lain :

38

Modul Kompetensi 17 MEMERIKSA NORMA K3 BAHAN BERBAHAYA

a. melakukan penilaian skala insiden ;


b. mengambil inisiatif tindakan darurat untuk menjamin
keselamatan pekerja, meminimalkan kerusakan pabrik
dan harta benda dan meminimalkan kerugian material.
c. langsung melakukan pertolongan dan pemadaman
kebakaran

hingga

petugas

pemadam

kebakaran

datang.
d. mencari penyebab insiden;
e. mengatur evakuasi pekerja ke tempat berkumpul yang
aman;
f. membuat

titik-titik

komunikasi

dengan

pusat

pengendalian keadaan darurat.


g. mengasumsikan

bertindak

atas

nama

site

main

controller tergantung hingga kedatangannya.


h. memberikan nasehat dan informasi kepada pelayanan
keadaan darurat.
Site incident controller harus memakai helm dan jaket
yang berwarna kontras dan berbeda dengan tim keadaan
darurat lainnya, sehingga dapat dikenali dengan mudah
pada saat kejadian.
Site main controller umumnya dipilih dari pengurus
perusahaan senior dan mempunyai tanggungjawab umum
untuk mengarahkan operasi
keadaan

darurat

sesudah

dari pusat pengendali


menerima

seluruh

tanggungjawab pengendalian dari Site incident controller.


Tanggungjawab khusus dari site main controller adalah :
a. untuk memutuskan ( jika belum diputuskan) apakah
kejadian tersebut tergolong major emergency atau
bukan, meminta dijalankannya pelayanan keadaan
darurat dan off site emergency plan.

39

Modul Kompetensi 17 MEMERIKSA NORMA K3 BAHAN BERBAHAYA

b. menguji secara langsung pengendalian oparasi atas


daerah kerja di luar lokasi kejadian bencana;
c. secara terus menerus melakukan review dan menilai
kemungkinan

pengembangan

untuk

menentukan

tindakan yang peru dilakukan untuk menghadapinya;


d. langsung
evakuasi,

melakukan
dengan

shutting

down

berkonsultasi

pabrik

dengan

dan

incident

controller dan personil-personil kunci.


e. meyakinkan bahwa sebab-sebab kejadian mendapat
penanganan yang memadai;
f. Berhubungan dengan kepala pemadam kebakaran,
kepala polisi dan pengawas ketenagakerjaan;
g. mengendalikan pergerakan lalulintas dalam lokasi
kerja;
h. mengatur bahwa emergency log dipelihara dengan
baik;
i. menerbitkan keterangan pers resmi kepada media;
j. mengendalikan kegiatan rehabilitasi pada daerahdaerah yang mengalami kerusakan setelah kejadian
darurat berakhir.
Personil-personil kunci yang lain yang perlu dilibatkan
adalah senior manager yang tidak langsung terlibat,
petugas P3K, staff monitoring udara, staff reception dan
staff humas. Personil-personil kunci ini harus dilibatkan
sejak penyusunan rencana agar mereka tahu persis
peranan yang harus dijalankan pada saat terjadi keadaan
darurat.
ii.

Pusat pengendali keadaan darurat ( Crisis center)


Pusat pengendali keadaan darurat (crisis center) adalah
tempat

dilakukannya

pengendalian

operasi

dan

koordinasi . Site main controller, personil-personil kunci,


40

Modul Kompetensi 17 MEMERIKSA NORMA K3 BAHAN BERBAHAYA

termasuk senior officer dari kepolisian dan pemadam


kebakaran berkumpul di Crisis center.
Untuk tempat kerja yang kecil, lokasi krisis center dapat
menempati salah satu unit yang ada, yang dapat segera di
rubah pada saat terjadinya keadaan darurat. Pada tempat
kerja

yang besar, sebuah ruangan tersendiri dengan

perlengkapan yang memadai sangat di sarankan untuk di


bangun. Sebuah crisis center harus dilengkapi dengan
system komunikasi yang handal yang dapat menghubungi
dan dihubungi dari semua unit tempat kerja maupun dari
luar tempat kerja.
Crisis

center

harus

memiliki

perlengkapan

sebagai

berikut :
1) jumlah telephone yang cukup; jika mungkin, salah
satunya merupakan nomor langsung untuk menerima
telepon masuk dari luar, hal ini untuk menghindari
terjadinya jammed switchboards selama keadaan
darurat terjadi;
2) jumlah telepon internal yang memadai.
3) Radio komunikasi;
4) maket / peta tempat kerja , yang menggambarkan :
a)

daerah

tempat

penyimpanan

bahan-bahan

berbahaya dalam jumlah besar;


b)

sumber-sumber peralatan safety;

c)

system

penanggulangan

kebakaran

dan

tambahan sumber air;


d)

tempat keluar dan masuk dan jalan raya,


termasuk informasi terbaru jalan kerja;

e)

tempat-tempat berkumpul untuk evakuasi;

41

Modul Kompetensi 17 MEMERIKSA NORMA K3 BAHAN BERBAHAYA

f)

lokasi

kerja

yang

berhubungan

dengan

masyarakat sekitar;
g)

tempat parkir, dll. Tambahan rencana kerja


harus tersedia untuk menunjukkan.

5) buku catatan dan alat tulis;


6) sejumlah petugas piket;
7) daftar personil kunci, yang dilengkapi dengan alamat,
nomor telepon, nomor HP, dll.
Crisis center harus berlokasi ditempat yang paling
beresiko minimum. Untuk tempat kerja yang luas, atau
dimana ada kemungkinan penyebaran gas-gas beracun
yang harus diantisipasi, perlu dipertimbangkan untuk
membuat 2 lokasi crisis center untuk meyakinkan bahwa
jika salah satu tidak dapat berfungsi maka yang lain dapat
tetap berfungsi.
iii.

Tindakan on-site
Tujuan utama dari setiap rencana keadaan darurat di
dalam lokasi ( on-site) adalah mengendalikan insiden dan
mencegah agar tidak meluas keluar lokasi pabrik. Tidak
mungkin untuk menangani semua kejadian di dalam pabrik
dan kesuksesan penanganan keadaan daruarat sangat
tergantung pada ketepatan keputusan dan tindakan yang
diambil di lokasi. Aspek penting lain yang dibutuhkan untik
dilakukan adalah :
(1) Evakuasi
Orang-orang yang tidak terlibat secara langsung dalam
penanganan bahaya harus segera di evakuasi ke titik
berkumpul yang aman yang sudah ditentukan. Untuk
instalasi yang mungkin mengeluarkan gas beracun,
sebaiknya di buat beberapa alternative titik berkumpul
dengan

mempertimbangkan

arah

angin.

Titik
42

Modul Kompetensi 17 MEMERIKSA NORMA K3 BAHAN BERBAHAYA

berkumpul

ini

harus

diberi

tanda

yang

jelas.

Management harus menunjuk seorang yang bertugas


mencatat semua orang yang ada di tempat berkumpul
ini dan melaporkannya ke crisis center.
(2) Penghitungan personil
Melakukan pendataan personil/karyawan dalam situasi
darurat sangat penting dilakukan, biarpun hal ini bisa
jadi sulit untuk dilakukan karena ada berbagai pihak
yang keluar masuk lokasi seperti tamu, kontraktor, saat
pergantian shift kerja, adanya karyawan yang absen
karena sakit dan lain-lain. Akses data terbaru mengenai
personil kunci menjadi hal penting yang harus ada di
crisis center untuk mempermudah arus informasi. Data
nama, alamat, nomor telepon harus dijaga dan
dipelihara.
(3) Hubungan masyarakat
Kecelakaan kerja, khususnya yang berskala besar,
sangat menarik minat media massa untuk meliput.
Seringkali untuk kecelakaan/bencana industri akan
diliput secara langsung oleh televisi maupun radio. Bila
tidak ada pengaturan yang baik, kadangkala liputan ini
mengalihkan perhatian personil yang sedang bertugas.
Oleh karenanya , perlu ada pengaturan liputan media
pada saat terjadinya kecelakaan merupakan hal yang
mendasar.

Manajemen

dapat

menentukan

salah

seorang senior managernya untuk menjadi satusatunya source person untuk mencegah terjadinya
kesimpangsiuran pemberitaan.
(4) Rehabilitasi
Keadaan darurat akan terus berlanjut hingga semua
api dapat dipadamkan tanpa adanya resiko penyalaan
kembali atau untuk lepasnya gas beracun telah benar43

Modul Kompetensi 17 MEMERIKSA NORMA K3 BAHAN BERBAHAYA

benar terhenti, dan semua gas telah terurai ke udara


bebas.

Bahkan,

ketenagakerjaan

jika

perlu

setempat

pegawai
dapat

pengawas

memerintahkan

penutupan/garis larangan masuk untuk ke lokasi,


hingga semua proses pengumpulan barang bukti
selesai dilakukan.
iv.

Rencana Prosedur Shut-down


Untuk instalasi tunggal, proses shut down relative
sederhana karena tidak menimbulkan dampak pada
kegiatan lain. Pada instalasi yang kompleks seperti pada
industri petrokimia atau penyulingan minyak, opaerasi
suatu instalasi seringkali berhubungan (interlinked) dengan
instalasi lainnya dan proses shut down suatu instalasi
akan memberikan efek yang berarti bagi instalasi lainnya.
Dalam rencana darurat (emergency plans) yang dibuat,
maka tahapan prosedur shutdown harus dibuat dengan
mempertimbangkan besarnya kecelakaan dan implikasi
yang mungkin terjadi.

v.

Ujicoba Prosedur keadaan darurat


Emergency

plan

harus

diinformasikan

dengan

baik

kesemua pihak yang terkait, sehingga setiap personil


memahami dan mengerti peranan yang harus mereka
mainkan

pada

saat

terjadinya

keadaan

darurat.

Merupakan hal yang sangat penting bahwa rencana yang


sudah dibuat harus diujicobakan secara teratur karena
hanya dengan melakukan praktek, segala kekurangan dari
rencana yang sudah di buata dapat dievaluasi dan
diperbaiki. Rencana dapat diuji dalam beberapa aspek.
Komunikasi memerang peranana vital dalam penanganan
keadaan darurat. Pengujian komunikasi menjadi perlu
dilakukan termasuk contingency action bila salah satu dari
system tidak berjalan dengan baik. Pengujian / ujicoba
evakuasi perlu dilakukan secara berkala dan gangguan
44

Modul Kompetensi 17 MEMERIKSA NORMA K3 BAHAN BERBAHAYA

terhadap aktivitas normal harus dihindari seminal mungkin.


Selanjutnya ujicoba dengan melibatkan beberapa pihak
yang terkait diluar pabrik yang juga termasuk didalam
rencana yang dibuat juga perlu untuk dilakukan.
Banyak organisasi menggunakan table-top exercise untuk
menguji rencana darurat mereka. Metode ini sangat efektif
bila dilihat dari sisi biaya, karena tidak menimbulkan
gangguan pada produksi. Namun demikian, full scale
exercise tetap harus dilakukan karena memberikan
suasana yang lebih realistic, dan asilnya akan melengkapi
table-top exercise.
vi.

Penilaian rencana dan pemutahiran


Ujiicoba emergency planning maupun latihan-latihan yang
dibuat harus dimonitor dan disaksikan oleh pengamat yang
tidak terlibat langsung dengan kegiatan tersebut antara
lain

pegawai

Review

pengawas

pelaksanaan

ketenagakerjaan

latihan

harus

setempat,

dilakukan

untuk

melakukan tindakan perbaikan. Sebaiknya emergency


plan ditinjau ulang secara terus menerus, khususnya bila
digunakan bahan-bahan baru.

E.3. Off-site Emergency Plan


i.

Pendahuluan
Off-site emergency planning merupakan bagian yang tidak
terpisahkan
besar.

dalam setiap system pengendalian bahaya

Rencana

ini

didasarkan

pada

penilaian

pihak

manajemen atas kemungkinan terjadinya kecelakaan yang


mungkin berefek pada masyarakat dan lingkungan disekitar
pabrik. Rencana harus mengidentifikasi seorang emergency
co-ordinating officer yang akan mengambil komando aktivitas
di luar pabrik. Sebagaimana di on site plan, crisis center juga

45

Modul Kompetensi 17 MEMERIKSA NORMA K3 BAHAN BERBAHAYA

disyaratkan tersedia sebagai tempat emergency co-ordinating


officer melaksanakan tugasnya.
ii.

Aspek yang harus masuk dalam Off-site emergency plan


Berdasarkan pedoman dari United Kinsdom Health and Safety
Executive ada beberapa aspek yang harus masuk dalam off
site plan, yaitu :

Organisasi

Perincian struktur komando, system peringatan dini,


prosedur implementasi, emergeny control centres.

Nama dan penunjukan incident controller, site main


controller, wakil-wakilnya dan personil kunci lainnya.

Komunikasi

Identifikasi personil yang terlibat, pusat komunikasi,


jaringan (network), call sign, daftar nomor telepon penting.

Specialised emergency equipment

Perincian kesediaan dan lokasi peralatan berat seperti


bulldozer, pemadam kebakaran , perahu penyelamat dsb.

Specialised knowledge

Badan/ institusi yang memiliki pakar-pakar di bidang kimia,


laboratorium dll.

Organisasi sukarela

Perincian organisasi, nomor telepon dll. seperti orari, PMI


dll.

chemical information

Perincian trempat penyimpanan bahan kimia berbahaya


atau proses setiap plant dan ringkasan resiko yang
berkaitan dengan hal-hal tersebut.

Informasi cuaca
46

Modul Kompetensi 17 MEMERIKSA NORMA K3 BAHAN BERBAHAYA

Informasi

dari

badan

meteorology

dan

geofisika

merupakan informasi pendukung yang penting.

Humanitarian arrangements

transportasi, pusat evakuasi, dapur darurat, penanganan


korban, P3K, ambulans dll.

Public information

Pengaturan untuk : kantor berita / media massa

dan

informasi masyarakat.

Assessment

Pengaturan untuk : mengumpulkan informasi penyebab


keadaaan darurat, review segala aspek efisiensi dan
efektifitas rencana darurat.

iii.

Peran Petugas Koordinasi Keadaan darurat


Semua

kegiatan

penanganan

keadaan

darurat

dikoordinasikan oleh emergency coordinating officer (ECO)


yang biasanya dijabat oleh kepala kepolisian setempat atau
ditunjuk oleh pemerintah daerah.
iv.

Peran Manajemen Perusahaan


Manajemen semestinya memberikan informasi yang memadai
kepada pihak-pihak di luar perusahaan yang terlibat dalam
penanganan off-site emergency khususnya mengenai aspek
teknis/ karakteristik

dari bahan berbahaya seperti kepada

petugas ambulans, pemadam kebakaran dan lain-lain, al.


apakah bahan kimia tidak bereaksi bila di siram air dan
sebagainya.
v.

Peran pemerintah daerah


Dibanyak negara, off-site emergency plan di buat oleh
pemerintah

daerah.

Termasuk

menunjuk

(ECO)

dan

menentukan tugas dan kewajibannya. Termasuk kewajiban

47

Modul Kompetensi 17 MEMERIKSA NORMA K3 BAHAN BERBAHAYA

ECO adalah menjamin bahwa semua organisasi yang


dilibatkan benar-benar memahami tugas dan perannya dan
mampu menyediakan cukup staff dan peralatan.
vi.

Peran polisi
Semua pengendalian keadaan darurat umumnya dikendalikan
oleh kepala polisi sebagai coordinating officer.

vii.

Peran Pemadam kebakaran


Pengendalian

kebakaran

di

lokasi

umumnya

menjadi

tanggungjawab dinas kebakaran. Mereka harus familiar


dengan situasi setempat dan karakteristik bahan kimia yang
ada, sehingga penanganannya dapat tepat.
viii.

Peran Pelayanan Kesehatan ( RS)


Pelayanan kesehatan memegang peranan penting dan vital,
termasuk dokter, ahli bedah, rumah sakit, ambulan dan
sebagainya

memainkan

peranan

penting

dalam

major

accident dan mereka harus merupakan bagian integral dalam


setiap emergency plan.
Untuk kebakaran besar, luka akibat efek radiasi termal
bervariasi dalam berbagai tingkatan, dan dengan demikian
pengetahuan dan pengalaman dalam penanganannya harus
dimilki oleh setiap rumah sakit.
Untuk kasus lepasnya gas beracun, efek

bervariasi dan

tergantung dari jenis sifat bahan kimia. Oleh karenanya


petugas medis harus cukup familiar dengan sifat bahan bahan
kimia dan cara penanganannya.
ix.

Peran

Pengawas

Ketenagakerjaan

(Government

safety

Authority)
Pegawai pengawas ketenagakerjaan khususnya dengan
spesialisasi dibidang K3 harus segera di hubungi sesaat
setelah terjadinya kecelakaan. Peran pegawai pengawas
sangat luas mulai dari memberikan saran penanganan hingga
48

Modul Kompetensi 17 MEMERIKSA NORMA K3 BAHAN BERBAHAYA

melakukan tes-tes tertentu, khususnya bila ada pelepasan


gas beracun. Pada pasca kecelakaan, pengawas harus
memeriksa

dan

menjamin

bahwa

lokasi

yang

rusak

direhabilitasi dengan aman. Seta melakukan investigasi


termasuk mewawancarai para saksi
5.

Syarat Penerapan dan Tata Cara pemeriksaan


5.1. Penetapan Potensi Instalasi Bahaya
5.1.1.

Perhitungan Nilai Ambang Kuantitas (NAK)

Nilai Ambang Kuantitas (NAK) bahan kimia selain yang


dimaksud dalam pasal 13 ditetapkan sebagai berikut :
a. bahan kimia kriteria beracun

: 10 ton;

b. bahan kimia kriteria sangat beracun :


c. bahan kimia kriteria reaktif

5 ton;

: 50 ton;

d. bahan kimia kriteria mudah meledak : 10 ton;


e. bahan kimia kriteria oksidator

: 10 ton;

f. bahan kimia kriteria cairan mudah terbakar :200 ton;


g. bahan kimia kriteria cairan sangat mudah terbakar :
100 ton;
h. bahan kimia kriteria gas mudah terbakar : 50 ton.

Perusahaan atau industri yang mempergunakan bahan


kimia berbahaya dengan kuantitas melebihi Nilai
Ambang Kuantitas (NAK) sebagaimana dimaksud
dalam pasal 13 dan 14 Kepmen No. 187 thn 1999
dikategorikan sebagai perusahaan yang mempunyai
potensi bahaya besar.

Perusahaan atau industri yang mempergunakan bahan


kimia berbahaya dengan kuantitas sama atau lebih
kecil dari Nilai Ambang Kuantitas (NAK) sebagaimana
dimaksud dalam pasal 13 dan 14 Kepmen No. 187 thn
1999

dikategorikan

sebagai

perusahaan

yang

mempunyai potensi bahaya menengah.

49

Modul Kompetensi 17 MEMERIKSA NORMA K3 BAHAN BERBAHAYA

5.1.2. Surat Penetapan Potensi Bahaya Besar


Berdasarkan hasil penelitian Kantor Departemen/Dinas
Tenaga Kerja setempat menetapkan kategori potensi
bahaya perusahaan atau industri yang bersangkutan;
Potensi bahaya terdiri dari :
a.

bahaya besar;

b.

bahaya menengah.

Kategori

potensi

bahaya

sebagaimana

dimaksud

berdasarkan Nama, Kriteria serta Nilai Ambang Kuantitas


(NAK) Bahan Kimia Berbahaya di tempat kerja.

5.1.3. Pemeriksaan dan Pengujian Potensi Instalasi


Perusahaan yang dikategorikan mempunyai potensi bahaya
besar sebagaimana dimaksud wajib :

melakukan pemeriksaan dan pengujian faktor kimia


yang ada di tempat kerja sekurang-kurangnya 6 (enam)
bulan sekali;

melakukan pemeriksaan dan pengujian instalasi yang


ada di tempat kerja sekurang-kurangnya 2 (dua) tahun
sekali;

melakukan

pemeriksaan

kesehatan

tenaga

kerja

sekurang-kurangnya 1 (satu) tahun sekali.


Perusahaan yang dikategorikan mempunyai potensi bahaya
menengah sebagaimana dimaksud wajib :

melakukan pemeriksaan dan pengujian faktor kimia yang


ada di tempat kerja sekurang-kurangnya 1 (satu) tahun
sekali;

melakukan pemeriksaan dan pengujian instalasi yang


ada di tempat kerja sekurang-kurangnya 3 (tiga) tahun
sekali;

50

Modul Kompetensi 17 MEMERIKSA NORMA K3 BAHAN BERBAHAYA

melakukan

pemeriksaan

kesehatan

tenaga

kerja

dilakukan

oleh

sekurang-kurangnya 1 (satu) tahun sekali.


Pengujian

faktor

kimia

dan

instalasi

perusahaan jasa K3 atau instansi yang berwenang.

5.1.4. Pembuatan Laporan Pengendalian Bahan Kimia Berbahaya


5.1.4.1. Formulir Daftar nama, sifat dan kuantitas bahan
kimia berbahaya

Pengusaha atau Pengurus wajib menyampaikan


Daftar Nama, Sifat dan Kuantitas Bahan Kimia
Berbahaya di tempat kerja dengan mengisi
formulir sesuai contoh seperti tercantum dalam
Lampiran II Keputusan Menteri ini kepada
Kantor

Departemen

/Dinas

Tenaga

Kerja

setempat dengan tembusannya disampaikan


kepada

Kantor

Departemen/Dinas

Provinsi

Tenaga Kerja setempat.

Kantor

Departemen/Dinas

Tenaga

Kerja

setempat selambat-lambatnya 14 (empat belas)


hari

kerja

setelah

menerima

daftar

harus

melaporkan

setiap

meneliti kebenaran data tersebut.

Pengusaha

juga

wajib

perubahan nama bahan kimia dan kuantitas


bahan kimia, proses dan modifikasi instalasi
yang digunakan.

5.1.4.2. Dokumen pengendalian potensi bahaya

Perusahaan yang

dikategorikan mempunyai

potensi bahaya besar sebagaimana dimaksud


wajib membuat dokumen pengendalian potensi
bahaya besar yang memuat :
51

Modul Kompetensi 17 MEMERIKSA NORMA K3 BAHAN BERBAHAYA

a. identifikasi

bahaya,

penilaian

dan

pengendalian resiko;
b. kegiatan tehnis, rancang bangun, konstruksi,
pemilihan bahan kimia, serta pengoperasian
dan pemeliharaan instalasi;
c. kegiatan pembinaan tenaga kerja di tempat
kerja;
d. rencana dan prosedur

penanggulangan

keadaan darurat;
e. prosedur kerja aman.

Perusahaan yang

dikategorikan mempunyai

potensi

menengah

bahaya

dimaksud
pengendalian

wajib

sebagaimana

membuat

potensi

bahaya

dokumen
menengah

memuat :
a. identifikasi

bahaya,

penilaian

dan

pengendalian resiko;
b. kegiatan tehnis, rancang bangun, konstruksi,
pemilihan bahan kimia serta pengoperasian
dan pemeliharaan instalasi;
c. kegiatan pembinaan tenaga kerja di tempat
kerja;
d. prosedur kerja aman.

Dokumen pengendalian potensi bahaya besar


dan menengah kemudian disampaikan kepada
Kantor Dinas Tenaga Kerja Provinsi dengan
tembusan kepada Kantor Departemen /Dinas
Tenaga Kerja setempat.

Kantor Wilayah Departemen Tenaga Kerja dan


Kantor

Departemen/

Dinas

Tenaga

Kerja

setempat selambat-lambatnya 30 (tiga puluh)


hari

kerja

setelah

menerima

dokumen

52

Modul Kompetensi 17 MEMERIKSA NORMA K3 BAHAN BERBAHAYA

melakukan penelitian kebenaran isi dokumen


tersebut.

Kebenaran isi dokumen sebagaimana tersebut


harus

dinyatakan

secara

tertulis

dengan

membubuhkan tanda persetujuan.

Dokumen pengendalian yang telah dinyatakan


kebenarannya

dipergunakan

sebagai

acuan

pengawasan pelaksanaan K3 di tempat kerja.

5.2. Asbes
5.2.1. Pengujian asbes di tempat kerja

Pengurus wajib melakukan pengendalian terhadap


debu asbes yang terkandung diudara lingkungan kerja
dengan mengambil sampel pada beberapa tempat
yang diperkirakan konsentrasi debu asbesnya tinggi
dalam setiap 3 bulan atau pada frekwensi tertentu.

Analisa debu asbes dilakukan oleh Pusat K3 / Balai


Besar K3 / Balai Hiperkes dan KK atau pihak ketiga
yang ditunjuk oleh Menteri Tenaga Kerja atau pejabat
yang berwenang.

Pengurus

atau

pekerja

yang

ditunjuk

harus

memberikan penerangan atau informasi yang diminta


oleh

Pegawai

Pengawas

Ketenagakerjaan

yang

mengadakan inspeksi di tempat kerja.

Apabila pegawai pengawas menemukan bahwa kadar


serat asbes di tempat kerja melampaui Nilai Ambang
Batas yang
mewajibkan

berlaku,

pegawai

pengusaha

pengawas

melakukan

berhak
tindakan

pengendalian dengan menggunakan teknologi yang


sesuai, menyediakan alat respirator dan pakaian
pelindung khusus lainnya.

53

Modul Kompetensi 17 MEMERIKSA NORMA K3 BAHAN BERBAHAYA

Apabila pengusaha setelah diperintahkan tetap/tidak


mau

melakukan

pengawas

tindakan

melalui

Menteri

kearah

itu,

pegawai

menyampaikan

dan

meminta kepada instansi yang berwenang untuk


menutup perusahaan tersebut.
5.2.2. Pelaporan

Pengurus wajib membuat laporan dan menyampaikan


kepada Menteri melalui kantor dinas setempat.

5.2.3. Kasus Penyakit Akibat Kerja (PAK)


Apabila dari hasil laporan pelaksanaan pemeriksaan
kesehatan

tenaga

kerja

dan

atau

laporan

penyelenggaraan pelayanan kesehatan kerja terdapat


kasus atau didiagnosa penyakit akibat kerja, maka ini
merupakan kasus yang perlu dilakukan pemeriksaan
secara khusus. Dalam pemeriksaan kasus penyakit akibat
kerja ini harus dibuktikan apakah penyakit yang diderita
tersebut berhubung dengan pekerjaan. Untuk itu perlu
dilakukan pemeriksaan sebagai berikut :
a. Memeriksa data umum perusahaan yang meliputi;
i. Identitas perusahaan
ii. Informasi PAK (tempat, tanggal, sumber laporan,
tanggal pemeriksaan),
iii. Lain-lain (P2K3, program Jamsostek)
b. Memeriksa data korban;
i. Identitas korban (Nama, NIP, jenis kelamin,
jabatan, unit kerja, lama kerja)
ii. Riwayat pekerjaan
iii. Riwayat penyakit
iv. Pemeriksaan kesehatan kerja sebelumnya
v. Pemeriksaan kesehatan sekarang
54

Modul Kompetensi 17 MEMERIKSA NORMA K3 BAHAN BERBAHAYA

vi. Pemeriksaan tambahan (monitoring biologi, MRI


dll)
c. Memeriksa hasil pemeriksaan lingkungan dan cara
kerja
i. Faktor lingkungan kerja (fisika, kimia, biologi,
psikologi)
ii. Cara kerja (peralatan, ergonomi, proses produksi)
iii. Upaya pengendalian (ventilasi, APD dll)
d. Memeriksa

dokumen

laporan

penyelenggaraan

pelayanan kesehatan kerja yang berkaitan dengan


upaya pencegahan PAK.
e. Kesimpulan
f. Laporan pemeriksaan
Setelah semua dokumen telah dilakukan pemeriksaan dan
ternyata mendukung kemungkinan adanya kasus PAK
tersebut

maka

pegawai

pengawas

ketenagakerjaan

memberikan rekomendasi kepada pengurus/pengusaha


agar menindaklanjuti kasus tersebut, antara lain;
1. Melakukan atau memberikan jaminan pengobatan
terhadap pekerja yang mengalami sakit
2. Memberikan dan atau mengajukan klaim asuransi
Jamsostek apabila terdapat kecacatan.
3. Melakukan upaya-upaya pencegahan agar kasus PAK
tersebut tidak terulang lagi.
Dalam

pelaksanaan

pengawas

tindak

lanjut

tersebut

ketenagakerjaan

harus

selalu

pegawai
memantau

pelaksanaannya.

5.3. Pestisida
5.3.1. Pengawasan Pestisida
55

Modul Kompetensi 17 MEMERIKSA NORMA K3 BAHAN BERBAHAYA

Setiap

orang

menyimpan

atau
atau

pengusaha

yang

menggunakan

mengedarkan,

pestisida

wajib

memberikan kesempatan kepada pengawas K3 yang


ditunjuk Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi sesuai
dengan UU No. 1 Tahun 1970 untuk pemeriksaan.
Disamping pengawas dari Departemen Tenaga dan
Transmigrasi, ada juga pengawas lain yang diberi
wewenang oleh Menteri Pertanian berdasarkan PP No. 7
tahun 1973. Kerjasama antara pengawas-pengawas yang
terdiri dari beberapa departemen sangatlah diperlukan
agar mendapat hasil yang sebaik-baiknya sehingga
pengaruh sampingan pestisida dapat dicegah.

56

Modul Kompetensi 17 MEMERIKSA NORMA K3 BAHAN BERBAHAYA

Berita Acara Pemeriksaan


Dalam Rangka Permohonan Rekomendasi Pestisida
Data Pemohon :
Nama Perusahaan
Alamat

:
:

Telp./ Faks.
Penanggungjawab

:
:

Data Pemeriksa
Nama
NIP
Unit Kerja
Kabupaten /Kota
Propinsi

:
:
:
:
:

Checklist pemeriksaan perusahaan pengelola Pestisida


No.

I.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
II
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
III
1.

Item pemeriksaan

Ketersediaan
ada
Tidak

Keterangan

Tenaga Kerja
Berumur lebih dari 18 tahun
Hasil pemeriksaan kesehatan yang
dikeluarkan oleh dokter pemeriksa sesuai
dengan Permenaker 02/Men/1980
Mendapat latihan teknis pengelolaan /
pemakaian pestisida
Mendapat pelatihan P3K
Bekerja kurang dari 5 jam sehari dan 30
jam seminggu
Untuk tenaga kerja wanita, tidak sedang
dalam keadaan hamil atau sedang
menyusui
Alat Pelindung Diri
Pakaian kerja
Sepatu karet lars tinggi
Sarung tangan
Kacamata pelindung
Pelindung muka
Pelindung pernapasan ( masker ) yang
sesuai
Apakah APD dipelihara dan dalam kondisi
bersih dan baik ?
Tempat Kerja
Tempat kerja bersih, bebas dari ceceran
57

Modul Kompetensi 17 MEMERIKSA NORMA K3 BAHAN BERBAHAYA

2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
III.
1.
2.
3.

4.
IV.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

pestisida atau bahan kimia lainnya


Terdapat tanda-tanda peringatan bahaya
Pada tempat kerja tertentu terdapat
gambar alat pelindung diri yang wajib di
pakai
Kadar pestisida di udara tidak melebihi
NAB, berdasarkan hasil pemeriksaan Balai
hiperkes
Alat pengendali bahaya berupa alat deteksi
dan alarm
Ventilasi yang memadai
Instalasi pemadam kebakaran
Fasilitas pelayanan kesehatan
Fasilitas perawatan dan pencucian baju
kerja & APD
Fasilitas loker penyimpanan baju kerja
Tersedia air, sabun dan tempat mandi
Pengendalian
Tersedia label dan LDKB ( MSDS ) untuk
setiap bahan
Terdapat Petugas K3 Kimia dan Ahli K3
Kimia
Tersedia dokumen prosedur standart
operasi (SOP) Penyimpanan, pemakaian,
Pengangkutan dan pemusnahan /
pembuangan limbah
Tersedia dokumen prosedur tanggap
darurat
Gedung
Gudang terpisah dari aktivitas umum dan
tidak terkena banjir
Lantai gudang harus miring
Dinding dan lantai cukup kuat dan mudah
dibersihkan
Pintu dapat ditutup rapat dan terdapat tanda
peringatan ( gambar atau tulisan)
Terkunci bila tidak terdapat kegiatan
Penyimpanan pestisida terpisah dengan
bahan-bahan lain
Memiliki ventilasi, suhu dan penerangan
yang cukup .
Penataan bahan sesuai dengan
persyaratan
Wadah pestisida kuat dan tidak bocor dan
selalu tertutup rapat

Diperiksa pada hari tanggal...


Pengurus perusahaan,

Pemeriksa,
Pegawai Pengawasa Ketenagakerjaan,

( N a m a J e l a s ).

(Nama Jelas)
NIP.
58

Modul Kompetensi 17 MEMERIKSA NORMA K3 BAHAN BERBAHAYA

5.4. Limbah Industri


Nama Perusahaan
Alamat

:
:

Telp./ Faks.
Penanggungjawab

:
:

No.
1.
2.

Rincian
Jenis dan jumlah limbah industri yang ada.

Keterangan

Apa perlakuan industri terhadap limbah


tersebut ? Dibuang, diolah atau di buang ke

3.

PPLI.
Apakah ada data analis terhadap limbah
berbahaya yang dibuang ke lingkungan? (Data
yang perlu : analisa air limbah, analisa udara

4.

emisi dari cerobong)


Mengingat penerapan waste minimization
terkait dengan proses industri, periksa apakah
unit penanganan limbah di bawah direktur

5.

produksi atau berdiri di luarnya.


Pertanyakan pada fihak industri sejauh mana
usahanya

6.

untuk

menerapkan

konsep

minimisasi limbah.
Apakah ada usaha pabrik untuk menghemat
penggunaan air dan atau mendaur ulang

7.

industri ?
Apakah ada komplain masyarakat terhadap

8.

pembuangan dari pabrik yang di periksa ?


Periksa apakah mempunyai IPAL (instalasi
pengolahan air limbah) ? dan bagaimana data
analisa air hasil olahan dibandingkan dengan

9.

air sebelum diolah


Amati warna, bau dan kekeruhan air limbah

10.

yang dibuang oleh pabrik ?


Perhatikan keberadaan unit IPAL (instalasi
pengolah air limbah) dan perhatikan secara
fisik ada perbedaaan atau tidak air limbah

11.

sebelum dan sesudah masuk IPAL


Peroleh data analisa air masuk dan keluar dari

59

Modul Kompetensi 17 MEMERIKSA NORMA K3 BAHAN BERBAHAYA


No.

12.

Rincian
IPAL dan apakah sesuai dengan pengamatan
fisik diatas.
Amati
apakah

pabrik

Keterangan

mempunyai

laboratorium yang dapat mendukung analisa


13.

air limbah
Periksa parameter apa yang diukur untuk
mengetahui kadar zat organik dalam air

14.

limbah (BOD, COD, PV atau TOC)


Pertanyakan apakah ada komplain

15.

masyarakat terhadap pembuangan limbah cair


Perhatikan cerobong emisi apakah asap atau
debu

16.

tebal

masih

terlihat.

dari

Perhatikan

ketinggian cerobong
Periksa hasil data analisa gas dan debu emisi
dan bandingkan data analisa tersebut dengan

17.

standar / baku mutu emisi


Periksa apakah debu-debu cerobong telah
diserap

18.

(scrubbing),

metoda

apa

yang

dipakai ? Bagaimana dengan hasil scrubbing


Bila lab atau unit kerja tertentu dipabrik
menggunakan almari asam? Periksa apakah di

19.

pasang Scrubber untuk menyerap polutan.


Periksalah exhauster pembuang debu atau
uap, apakah posisi exhauster telah sesuai

20.

dengan berat jenis cemaran


Identifikasi unit unit produksi yang
menghasilkan limbah berbahaya cair maupun

21.

padat
Tanyakan

bagaimana

tempattempat

penyimpanan limbah dalam kawasan industri.


Apakah tempat penyimpanan aman dan
22.

bersih?
Bagaimana kondisi kerja para pekerja yang
menangani limbah B3. APD apa saja yang

23.

dipakai oleh tenaga kerja ?


Apakah dilakukan pemeriksaan kesehatan
terhadap

tenaga

kerja

yang

menangani

24.

limbah?
Apa saja yang diberikan kepada pekerja yang

25.

menangani limbah B3
Amati, apakah industri mengirim limbah B3
ke PPLI ! Bila tidak, periksa bagaimana
industri

memusnahkan

atau

membuang

limbah B3

60

Modul Kompetensi 17 MEMERIKSA NORMA K3 BAHAN BERBAHAYA


No.
26.

Rincian
Periksa, apakah industri meng-subkontrakkan

Keterangan

kegiatan produksi yang menghasilkan B3


pada perusahaan kecil yang kurang konsen
pada lingkungan. Bila ya, industri harus
27.

mensupervisi dalam pengelolaan limbah B3


Periksa apakah industri menggunakan label

28.

atau simbol bahaya untuk limbah B3 ?


Periksa dokumen metoda pembuangan /
pemusnahan

limbah

B3

yang

bersifat

eksplosif seperti bahan mesiu atau bahan


peledak.
Diperiksa pada hari tanggal...

Pengurus perusahaan,

Pemeriksa,
Pegawai Pengawasa Ketenagakerjaan,

( N a m a J e l a s ).

(Nama Jelas)
NIP.

6. Tata Laksana Teknis


a. Pengajuan perijinan/rekomendasi/ pengesahan

Perhitungan Nilai Ambang

Kuantitas (NAK)

Surat Penetapan Potensi

Bahaya Besar
61

Modul Kompetensi 17 MEMERIKSA NORMA K3 BAHAN BERBAHAYA

Rekomendasi Pestisida

b. Pelaporan hasil pemeriksaan syarat-syarat penerapan


o

Laporan

hasil

pemeriksaan

harus

diketahui

dan

ditandatangani oleh pajabat Dinas Tenaga Kerja dan


Transmigrasi Setempat
o

Membuat akte hasil pemeriksaan yang ditanda tangani oleh


pegawai pemeriksa dan pejabat dinas Tenaga Kerja dan
Transmigrasi setempat.

B. RANGKUMAN
o Lembar data memberikan informasi dasar mengenai bahan kimia
tersebut dan keselamatan pemakaiannya.
o Disamping

sifat

ketahanannya,

asbes

juga

mengandung

resiko/bahaya yang cukup besar terutama bagi penggarap bahan


baku, pengolah, pengangkut, pemakai, dan pekerja lainnya yang
berhubungan dengan asbestos.
o Berdasarkan dengan Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun
1973, maka sebelum ijin dari Menteri Pertanian dikeluarkan,
harus terlebih dahulu mendapatkan rekomendasi keselamatan
dan kesehatan kerja dari Menteri Tenaga Kerja.
o Rencana tanggap darurat tersebut dapat dibagi dalam rencana
darurat di dalam perusahaan sendiri dan rencana darurat di luar
lingkungan perusahaan

C. TEST FORMATIF
i. Sebutkan dan jelaskan isi peraturan perundangan yang berkaitan
dengan pengawasan

62

Modul Kompetensi 17 MEMERIKSA NORMA K3 BAHAN BERBAHAYA

i. Bahan kimia berbahaya


ii. K3 Asbes
iii. K3 Pestisida
iv. Kesiapan tanggap darurat.
ii. Jelaskan mekanisme :
i. Penetapan instalasi bahaya besar dan menengah

dan

pengujiannya
ii. Rekomendasi pestisida
iii. Laporan penggunaan asbes dan pemberian rekomendasi

63

Modul Kompetensi 17 MEMERIKSA NORMA K3 BAHAN BERBAHAYA

DAFTAR PUSTAKA
Himpunan Peraturan Perundangan Kesehatan Kerja TA 2003; Dep. Tenaga Kerja
dan Transmigrasi RI, TA 2003
Pedoman-pedoman Keselamatan Kesehatan Kerja TA 2004, Dep. Tenaga Kerja
dan Transmigrasi RI, TA 2004
Manuals of Food Quality Control, diterjemahkan oleh Ditjen. PPM dan PLP,
Depkes ;1998. Jakarta
Pedoman Pelatihan Keselamatan dan Kesehatan pada Penggunaan Bahan-bahan
Kimia di Tempat Kerja,
Dasar-dasar Keselamatan Kerja Bidang Kimia dan Pengendalian Bahaya Besar,
Dr. Milos Nedved dan Dr. Soemanto Imamkhasani
Training Material K3 Bidang Kesehatan Kerja, Depnaker R.I Ditjen Binawas.
Himpunan Peraturan Perundangan Kesehatan Kerja, Editor; Dr. Zulmiar Yanri,
PhD, Ir. Sri Harjani, M. Yusuf, ST (1999)
Ambient Factors in the Workplace, Code of practice, ILO
Basic of Industrial Hygiene, Debra nims
Pedoman Keselamatan Kerja Bidang Kimia, Depnaker RI
Sumamur PK, MSc.DR (1993) Higiene Perusahaan dan Kesehatan Kerja edisi ke
IX, Jakarta PT Gunung Agung
Pedoman Teknis Pendaftaran Pestisida untuk Penggunaan Terbatas, Direktorat
Jenderal Bina Sarana Pertanian, 2002
The Who Recommended Classification of Pesticides by Hazards and Guidelines to
Classification 1996-1997, IPCS
John Buccini (2004), The Global Pursuit of The Sound Management of Chemical,
The International Bank for Reconstruction and Development/THE WORLD
BANK. USA

64

Modul Kompetensi 17 MEMERIKSA NORMA K3 BAHAN BERBAHAYA

Lampiran

65