Anda di halaman 1dari 28

PAJAK PENGHASILAN (PPh)

PPh Pasal 4 Ayat 2

Pemberi penghasilan berupa bunga deposito dan tabungan-tabungan lainnya, Pemberi penghasilan dari transaksi
saham dan sekuritas lainnya di bursa efek, Penghasilan dari pengalihan harta berupa tanah dan/atau bangunan serta
penghasilan tertentu lainnya,dll

PPh Pasal 15 ( 1 items )


Ketentuan ini mengatur tentang Norma Penghitungan Khusus untuk golongan Wajib Pajak
tertentu, antara lain perusahaan pelayaran atau penerbangan internasional, perusahaan asuransi
luar negeri, perusahaan pengeboran minyak, gas dan panas bumi, perusahaan dagang asing,
perusahaan yang melakukan investasi dalam bentuk bangun-guna-serah ("build, operate, and
transfer").

PPh Pasal 21 ( 1 items )


a. Pemberi kerja yang membayar gaji, upah, honorarium, tunjangan, dan pembayaran lain
sebagai imbalan sehubungan dengan pekerjaan yang dilakukan oleh pegawai atau bukan
pegawai;
b. Bendaharawan pemerintah yang membayar gaji, upah, honorarium, tunjangan dan
pembayaran lain, sehubungan dengan pekerjaan, jasa, atau kegiatan;
c. Dana pensiun atau badan lain yang membayarkan uang pensiun dan pembayaran lain
dengan nama apapun dalam rangka pensiun;
d. Badan yang membayar honorarium atau pembayaran lain sebagai imbalan sehubungan
dengan jasa termasuk jasa tenaga ahli yang melakukan pekerjaan bebas;
e. Perusahaan, badan, dan penyelenggara kegiatan yang melakukan pembayaran sehubungan
dengan pelaksanaan suatu kegiatan.

PPh Pasal 22 ( 1 items )


Bea Cukai, Bank, Bendaharawan Pemerintah Pusat/Daerah, BUMN, Industri Semen, Industri
Rokok Kretek, Industri Rokok Putih, Industri Baja, Industri Otomotif, Pertamina, Bulog

PPh Pasal 23 ( 1 items )


Badan pemerintah, Subjek Pajak Badan Dalam Negeri, Penyelenggara Kegiatan, Bentuk Usaha Tetap
(BUT), dan Perwakilan Perusahaan Luar Negeri kepada Wajib Pajak dalam negeri atau bentuk usaha tetap
(BUT).

PPh Pasal 26 ( 1 items )


Badan Pemerintah, Subjek Pajak Dalam Negeri, Penyelenggara Kegiatan, Bentuk Usaha Tetap
(BUT), dan perwakilan perusahaan luar negeri lainnya kepada Wajib Pajak luar negeri selain
bentuk usaha tetap di Indonesia.

DAFTAR OBJEK DAN TARIF PAJAK PENGHASILAN


N
o.

Obyek

I PPh Pasal 4 ayat (2)


1. Bunga deposito dan tabungan
serta diskonto SBI
Dasar Hukum : PP No. 131
Tahun 2000
Pengecualian:
a Bunga deposito dan
. tabungan serta diskonto SBI
sepanjang jumlah deposito
dan tabungan serta SBI
tersebut tidak melebihi Rp
7.500.000,00 dan bukan
merupakan jumlah yang
dipecah-pecah.
b Bunga dan diskonto yang
. diterima atau diperoleh bank
yang didirikan di Indonesia
atau cabang bank luar negeri
di Indonesia.
c Bunga deposito dan
. tabungan serta diskonto SBI
yang diterima atau diperoleh
Dana Pensiun yang telah
disahkan Menteri Keuangan,
sepanjang dananya
diperoleh dari sumber
pendapatan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 29
Undang-Undang Nomor 11
Tahun 1992 Tentang Dana
Pensiun.
d Bunga tabungan pada bank
. yang ditunjuk Pemerintah
dalam rangka pemilikan
rumah sederhana dan
sangat sederhada, kapling
siap bangun untuk rumah

Tarif
20% (untuk
WPDN & BUT)
20% atau Tarif
P3B (untuk
WPLN)

Dasar
Perhitun
gan

Sifat

Jumlah
Bruto
Bunga

Final

sederhana dan sangat


sederhana, atau rumah
susun sederhana sepanjang
untuk dihuni sendiri.
2. Transaksi Saham Di Bursa Efek
Dasar
PP No. 41 Tahun
Hukum :
1994 jo.
PP No. 14 Tahun
1997
a. Bukan Saham Pendiri
b. Saham Pendiri

0,1% X Nilai Transaksi


(0,1% X Nilai Transaksi) +
(0,5% X nilai saham pasar
saat Penawaran Umum
Perdana (IPO))

3. Bunga atau Diskonto Obligasi


yang Diperdagangkan di Bursa
Efek
Dasar Hukum : PP No. 16 TAHUN
2009
a. Bunga Obligasi dengan
kupon (interest bearing
bond)
1 WP DN & BUT
.
2 WP LN selain BUT
.

b. Diskonto Obligasi dengan


kupon
1 WP DN & BUT
.
2 WP LN selain BUT
.

Final

Final

Jumlah
bruto
bunga
sesuai
20 % atau Tarif
dengan
berdasarkan
masa
P3B
kepemilika
n obligasi
15 %

Selisih
lebih
20 % atau Tarif harga jual
berdasarkan
atau nilai
P3B
nominal di
atas harga
perolehan
15 %

obligasi,
tidak
termasuk
c. Diskonto Obligasi tanpa
bunga (zero coupon bond)
1 WP DN & BUT
.
2 WP LN selain BUT
.

Selisih
lebih
20 % atau Tarif harga jual
berdasarkan
atau nilai
P3B
nominal di
atas harga
perolehan
obligasi
20 %

d.
bunga dan/atau diskonto dari
Obligasi yang diterima
dan/atau diperoleh Wajib
Pajak reksadana yang
terdaftar pada Badan
Pengawas Pasar Modal dan
Lembaga Keuangan
1
.
2
.
3
.

untuk tahun 2009 sampai


dengan tahun 2010
untuk tahun 2011 sampai
dengan tahun 2013
untuk tahun 2014 dan
seterusnya

Pengecualian :

0%
5%
15 %

Jumlah
bruto
bunga
sesuai
dengan
masa
kepemilika
n
obligasi /
Selisih
lebih
harga jual
atau nilai
nominal di
atas harga
perolehan
obligasi

a
. Wajib Pajak dana pensiun
yang
pendirian
atau
pembentukannya
telah
disahkan
oleh
Menteri
Keuangan dan memenuhi
persyaratan
sebagaimana
diatur dalam Pasal 4 ayat (3)
huruf
h
Undang-Undang
Nomor 7 Tahun 1983 tentang
Pajak
Penghasilan
sebagaimana telah beberapa
kali diubah terakhir dengan
Undang-Undang Nomor 36
Tahun
2008
tentang
Perubahan Keempat atas
Undang-Undang Nomor 7
Tahun 1983 tentang Pajak
Penghasilan
b Wajib Pajak bank yang
. didirikan di Indonesia atau
cabang bank luar negeri di
Indonesia
4. Hadiah Undian
Dasar
PP No. 132 Tahun
Hukum :
2000
KEP-395/PJ./2001
5. Persewaan Tanah dan/atau
Bangunan
Dasar
PP No. 29 Tahun
Hukum :
1996 jo.
PP No. 5 Tahun
2002
6. Penghasilan dari Pengalihan
Hak atas Tanah dan/atau
Bangunan
Dasar
PP No. 48 Tahun
Hukum :
1994 jo.
PP No. 27 Tahun
1996 jo.

25%

Jumlah
Bruto
Hadiah
Undian

Final

10%

Jumlah
Bruto

Final

PP No. 79 Tahun
1999 jo.
PP No. 71 Tahun
2008
a.
Wajib Pajak yang melakukan
transaksi pengalihan hak
atas tanah dan/atau
bangunan
b. Wajib Pajak Orang Pribadi
yang mengalihkan Hak atas
Tanah dan/atau Bangunan
yang jumlah bruto nilai
pengalihannya kurang dari
Rp. 60 jt namun penghasilan
lainnya dalam 1 tahun
melebihi PTKP.
c.
pengalihan hak atas Rumah
Sederhana dan Rumah Susun
Sederhana yang dilakukan
oleh Wajib Pajak yang usaha
pokoknya melakukan
pengalihan hak atas tanah
dan/atau bangunan

5%

Jumlah
Bruto Nilai
Pengaliha
n

5%

Jumlah
Bruto Nilai
Pengaliha
n

1%

Final

Jumlah
Bruto Nilai
Pengaliha
n

7. Usaha Jasa Konstruksi


Dasar
PP No. 51 Tahun
Hukum :
2008 jo.
PP No. 40 Tahun
2009
a.
Jasa Pelaksanaan Konstruksi
yang dilakukan oleh
Penyedia Jasa yang memiliki
kualifikasi usaha kecil
b.

Final
2%

4%
Jasa Pelaksanaan Konstruksi

Penghasila
n bruto
Penghasila
n bruto

yang dilakukan oleh


Penyedia Jasa yang tidak
memiliki kualifikasi usaha
c.

3%

Penghasila
n bruto

4%

Penghasila
n bruto

6%

Penghasila
n bruto

Jasa Pelaksanaan Konstruksi


yang dilakukan oleh
Penyedia Jasa selain
Penyedia Jasa sebagaimana
dimaksud dalam huruf a dan
huruf b
d.
Jasa Perencanaan Konstruksi
atau Pengawasan Konstruksi
yang dilakukan oleh
Penyedia Jasa yang memiliki
kualifikasi usaha
e. Jasa Perencanaan Konstruksi
atau Pengawasan Konstruksi
yang dilakukan oleh
Penyedia Jasa yang tidak
memiliki kualifikasi usaha
8. Penghasilan perusahaan modal
ventura dari transaksi penjualan
saham atau pengalihan
penyertaan modal pada
perusahaan pasangan usahanya
Dasar Hukum : PP No. 4 Tahun
1995
Syarat :
a merupakan perusahaan
. kecil, menengah, atau yang
melakukan kegiatan dalam
sektor-sektor usaha yang
ditetapkan oleh Menteri
Keuangan; dan
b sahamnya tidak
. diperdagangkan di bursa
efek di Indonesia.

0,1 %

Jumlah
Bruto Nilai
Transaksi
Penjualan/
Pengaliha
n
Penyertaa
n Modal

Final

II PPh Pasal 15
Dasar
248/KMK.04/1
Hukum :
995
416/KMK.04/1
996
417/KMK.04/1
996
475/KMK.04/1
996
KEP667/PJ./2001
1. Pelayaran Dalam Negeri
1,2%

Peredaran
Bruto

1,8%

Peredaran
Bruto

3. Pelayaran dan atau


Penerbangan Luar Negeri

2,64%

Peredaran
Bruto

4. WP LN yang mempunyai Kantor


Perwakilan Dagang di Indonesia

0,44%

2. Penerbangan Dalam Negeri

5. Pihak-pihak yang melakukan


kerjasama dalam bentuk
Perjanjian Bangunan Guna
Serah (Built Operate and
Transfer)
5%

III PPh Pasal 21


Dasar
UU Nomor 36 Tahun
Hukum :
2008
252/PMK.03/2008
Per-31/PJ/2009 jo.
Per-57/PJ/2009

Final

Final

Nilai
Ekspor
Final
Bruto
Jumlah
Bruto dari
Nilai
Tertinggi
antara
Nilai Pasar Final b
dengan
agi
NJOP
WPOP
Bagian
Bangunan
yang
Diserahka
n

1.
penghasilan yang diterima atau
diperoleh Pegawai tetap

Pasal 17 UU
PPh

PKP = PB (BJ + IP)


PTKP

penghasilan yang diterima atau


diperoleh Penerima pensiun
secara teratur (Penerima
pensiun berkala) berupa uang
pensiun atau penghasilan
sejenisnya

Pasal 17 UU
PPh

PKP = (PB
BP) PTKP

Pasal 17 UU
PPh

PKP = PB PTKP

5%

jumlah
penghasil
an yang
melebihi
Rp
150.000,0
0 (seratus
lima puluh
ribu)
sehari

2.

3.
penghasilan pegawai tidak
tetap atau tenaga kerja lepas
kecuali tenaga ahli, berupa
upah harian, upah mingguan,
upah satuan, upah borongan
atau upah yang
a. dibayarkan secara bulanan

b. tidak dibayar secara bulanan


- Apabila penghasilan sehari
atau rata-rata penghasilan
sehari telah melebihi Rp
150.000 sehari sepanjang
penghasilan kumulatif
yang diterima dalam 1
(satu) bulan kalender
belum melebihi Rp
1.320.000,00
- Apabila telah memperoleh
penghasilan kumulatif
dalam 1 (satu) bulan
kalender melebihi Rp
1.320.000,00 tetapi tidak
melebihi Rp 6.000.000

5%

PKP = (PB
IP)
PTKP
untuk
jumlah
hari kerja
yang

sebenarny
a
(PTKP
sehari
ditetapkan
sebesar
PTKP
setahun
sesuai
dengan
statusnya
dibagi
dengan
360))
- Apabila telah memperoleh
penghasilan kumulatif
dalam 1 (satu) bulan
kalender melebihi Rp
6.000.000

Pasal 17 UU
PPh

PKP = (PB
IP)
PTKP

Pasal 17 UU
PPh

50% dari
jumlah
Kumula
penghasil
tif
an bruto

- Memenuhi Ketentuan

Pasal 17 UU
PPh

PKP =
Kumula
(50% x
tif
PB) PTKP

- Tidak Memenuhi Ketentuan

Pasal 17 UU

50% dari
jumlah
Kumula
penghasil

4.
imbalan kepada bukan pegawai,
antara lain berupa honorarium,
komisi, fee, dan imbalan
sejenisnya dengan nama dan
dalam bentuk apapun sebagai
imbalan sehubungan dengan
pekerjaan, jasa, dan kegiatan
yang dilakukan
a. imbalan yang tidak bersifat
berkesinambungan
b. imbalan yang bersifat
berkesinambungan

PPh

an bruto

tif

Pasal 17 UU
PPh

50% dari
jumlah
penghasil
an bruto

imbalan kepada peserta


kegiatan, antara lain berupa
uang saku, uang representasi,
uang rapat, honorarium, hadiah
atau penghargaan dengan
nama dan dalam bentuk
apapun, dan imbalan sejenis
dengan nama apapun

Pasal 17 UU
PPh

PB

Kumula
tif

honorarium atau imbalan yang


bersifat tidak teratur yang
diterima atau diperoleh anggota
dewan komisaris atau dewan
pengawas yang tidak
merangkap sebagai pegawai
tetap pada perusahaan yang
sama

Pasal 17 UU
PPh

PB

Kumula
tif

jasa produksi , tantiem,


gratifikasi, bonus atau imbalan
lain yang bersifat tidak teratur
yang diterima atau diperoleh
mantan pegawai

Pasal 17 UU
PPh

PB

Kumula
tif

Ketentuan PER - 31/PJ/2009


Pasal 13 ayat (1):
yang bersangkutan telah
mempunyai Nomor Pokok
Wajib Pajak dan hanya
memperoleh penghasilan
dari hubungan kerja dengan
Pemotong PPh Pasal 21
dan/atau PPh Pasal 26 serta
tidak memperoleh
penghasilan lainnya
5.
tenaga ahli yang melakukan
pekerjaan bebas dan bertindak
untuk dan atas namanya sendiri
6.

7.

8.

9.
penarikan dana pensiun oleh
peserta program pensiun yang
masih berstatus sebagai
pegawai, dari dana pensiun
yang pendiriannya telah
disahkan oleh Menteri
Keuangan

Pasal 17 UU
PPh

PB

Kumula
tif

15%

PB

Final

5%

PB

Final

b. > Rp. 50 juta s.d. Rp. 100


juta

10%

PB

Final

c. > Rp. 100 juta s.d. Rp. 200


juta

15%

PB

Final

25%

PB

Final

Pasal 17 UU
PPh

PKP= (PB (BJ + BP) PTKP

1 Honorarium yang dananya dari


0. keuangan negara/ daerah yang
diterima oleh Pejabat Negara,
PNS, Anggota TNI/ POLRI kecuali
PNS Gol. II/d kebawah atau
Anggota POLRI dengan Pangkat
Pembantu Letnan Satu atau
Ajun Inspektur Tingkat Satu ke
bawah
1
1. Uang Tebusan Pensiun, Uang
THT atau JHT, Uang Pesangon
yang diterima Pegawai atau
Mantan Pegawai, kecuali tidak
lebih dari Rp. 25 juta
a. Rp. 25 juta s.d. Rp. 50 juta

d. > Rp. 200 juta


1 Penghasilan dari pekerjaan,
2. jasa, dan kegiatan yang
diterima oleh Tenaga Asing
(Expatriate) yang telah
berstatus sebagai WPDN
1 Penghasilan dari pekerjaan
3. yang diterima oleh Tenaga
Asing (Expatriate) yang bekerja
pada Perusahaan Pengeboran

Migas :
a. General Manager
Pasal 17 UU
PPh

US$
11.275
per bulan

Pasal 17 UU
PPh

US$ 9.350
per bulan

Pasal 17 UU
PPh

US$ 5.830
per bulan

Pasal 17 UU
PPh

US$ 4.510
per bulan

b. Manager

c. Supervisor/ Tool Pusher

d. Assisten Supervisor/ Tool


Pusher
e. Crew Lainnya

Pasal 17 UU
PPh

Catatan :
Bagi Penerima Penghasilan yang
Dipotong PPh Pasal 21 yang tidak
memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak,
dikenakan pemotongan PPh Pasal
21 dengan tarif lebih tinggi 20%
(dua puluh persen) daripada tarif
yang diterapkan terhadap Wajib
Pajak yang memiliki Nomor Pokok
Wajib Pajak
Ket :
PKP
PB
BJ
IP
BP

: Penghasilan Kena Pajak


: Penghasilan Bruto
: Biaya Jabatan
: Iuran Pensiun
: Biaya Pensiun

IV PPh Pasal 22
Dasar
UU Nomor 36 Tahun
Hukum :
2008
254/KMK.03/2001 Jo

US$ 3.245
per bulan

392/KMK.03/2001 Jo
236/KMK.03/2003 Jo
154/PMK.03/2007 Jo
08/PMK.03/2008 Jo
210/PMK.03/2008
1. Pembelian Barang oleh
Bendaharawan dan
BUMN/BUMD
2. Impor Barang :

1,5%

Harga
Pembelian

2,5%

Nilai
Impor

7,5%

Nilai
Impor

7,5%

Harga Jual
Lelang

0,5%

Nilai
Impor

0,25%

DPP PPN

Pasal 17 UU
PPh

Harga
Bandrol

0,1%

DPP PPN

0,3%

DPP PPN

0,45%

DPP PPN

a. Importir mempunyai API


b. Importir tidak mempunyai
API
c. Yang tidak Dikuasai
3.
impor kedelai, gandum, dan
tepung terigu oleh importir
yang menggunakan API
4. Industri Semen
5. Industri Rokok (SE 7/PJ.03/2008)
6. Industri Kertas
7. Industri Baja
8. Industri Otomotif
9. Bahan Bakar Minyak dan Gas

SPBU
Swastan Pertam
isasi
ina

a. Premium

0,3%

0,25%
Penjualan

b. Solar

0,3%

Swas
tanis
asi=

0,25%
Penjualan

c. Premix/Super TT

0,3%

0,25%
Penjualan

d. Minyak Tanah

0,3%
Penjualan

e. Gas/LPG

0,3%
Penjualan

f. Pelumas

0,3%
Penjualan

9. Pembelian bahan-bahan berupa


hasil perhutanan, perkebunan,
pertanian, dan perikanan untuk
keperluan industri dan ekspor
dari pedagang pengumpul

Final

0,5%

Harga
Pembelian
(tidak
termasuk
PPN)

15%

Jumlah
Bruto

15%

Jumlah
Bruto

V PPh Pasal 23
Dasar
UU Nomor 36 Tahun
Hukum :
2008
244/PMK.03/2008
1. Dividen

2. Bunga

Perta
mina
=
Tidak
Final

3. Royalti

4. hadiah, penghargaan, bonus,


dan sejenisnya selain yang
telah dipotong PPh Pasal 21
5. Sewa dan penghasilan lain
sehubungan dengan
penggunaan harta, kecuali sewa
dan penghasilan lain
sehubungan dengan
penggunaan harta yang telah
dikenai PPh Final pasal 4 (2)
6.
Imbalan sehubungan dengan
jasa teknik, jasa manajemen,
jasa konstruksi, jasa konsultan,
dan jasa lain selain jasa yang
telah dipotong PPh Pasal 21

15%

Jumlah
Bruto

15%

Jumlah
Bruto

2%

Jumlah
Bruto
tidak
termasuk
PPN

2%

Jumlah
Bruto
tidak
termasuk
PPN

2%

Jumlah
Bruto
tidak
termasuk
PPN

7.
Jasa lain selain jasa yang telah
dipotong PPh Pasal 21, yang
terdiri dari :
a. Jasa penilai (appraisal)
b. Jasa aktuaris
c. Jasa akuntansi, pembukuan,
dan atestasi laporan
keuangan
d. Jasa perancang (design)
e. Jasa pengeboran (drilling) di
bidang penambangan
minyak dan gas bumi
(migas), kecuali yang
dilakukan oleh bentuk usaha
tetap
f.
Jasa penunjang di bidang
penambangan migas,
berupa :
1) jasa penyemenan dasar
(primary cementing)

yaitu penempatan
bubur semen secara
tepat diantara pipa
selubung dan lubung
sumur
2)
jasa penyemenan
perbaikan (remedial
cementing), yaitu
penempatan bubur
semen untuk maksudmaksud :
a) penyumbatan
kembali formasi yang
sudah kosong;
b) penyumbatan
kembali zona yang
berproduksi air;
c) perbaikan dari
penyemenan dasar
yang gagal;
d) penutupan sumur;
3)
jasa pengontrolan pasir
(sand control), yaitu
jasa yang menjamin
bahwa bagian-bagian
formasi yang tidak
terkonsolidasi tidak
akan ikut terproduksi ke
dalam rangkaian pipa
produksi dan
menghilangkan
kemungkinan
tersumbatnya pipa
4)
jasa pengasaman
(matrix acidizing), yaitu
pekerjaan untuk
memperbesar daya
tembus formasi yang

menaikan produktivitas
dengan jalan
menghilangkan
material penyumbat
yang tidak diinginkan
5)
jasa peretakan hidrolika
(hydraulic), yaitu
pekerjaan yang
dilakukan dalam hal
cara pengasaman tidak
cocok, misalnya
perawatan pada
formasi yang
mempunyai daya
tembus sangat kecil
6)
jasa nitrogen dan
gulungan pipa (nitrogen
dan coil tubing), yaitu
jasa yang dikerjakan
untuk menghilangkan
cairan buatan yang
berada dalam sumur
baru yang telah selesai,
sehingga aliran yang
terjadi sesuai dengan
tekanan asli formasi
dan kemudian menjadi
besar sebagai akibat
dari gas nitrogen yang
telah dipompakan ke
dalam cairan buatan
dalam sumur
7)
jasa uji kandung lapisan
(drill stem testing),
penyelesaian
sementara suatu sumur
baru agar dapat
mengevaluasi
kemampuan

berproduksi
8)
jasa reparasi pompa
reda (reda repair)
9)
jasa pemasangan
instalasi dan perawatan
10
) jasa penggantian
peralatan/material
11
) jasa mud logging, yaitu
memasukkan lumpur ke
dalam sumur
12
) jasa mud engineering
13
) jasa well logging &
perforating
14
) jasa stimulasi dan
secondary decovery
15
) jasa well testing & wire
line service
16
) jasa alat kontrol
navigasi lepas pantai
yang berkaitan dengan
drilling
17
) jasa pemeliharaan
untuk pekerjaan drilling

18
) jasa mobilisasi dan
demobilisasi anjungan
drilling
19
) jasa lainnya yang
sejenisnya di bidang
pengeboran migas

g.
Jasa penambangan dan jasa
penunjang di bidang
penambangan selain
migas :
1 jasa pengeboran
)
2 jasa penebasan
)
3
) jasa pengupasan dan
pengeboran
4
) jasa penambangan
5
) jasa pengangkutan/
sistem transportasi,
kecuali jasa angkutan
umum
6
) jasa pengolahan bahan
galian
7
) jasa reklamasi tambang
8
) jasa pelaksanaan
mekanikal, elektrikal,

manufaktur, fabrikasi
dan
penggalian/pemindahan
tanah
9
) jasa lainnya yang sejenis
di bidang pertambangan
umum

h.
Jasa penunjang di bidang
penerbangan dan bandar
udara:
1
) bidang aeronautika,
termasuk :
a)

jasa pendaratan,
penempatan,
penyimpanan
pesawat udara dan
jasa lain sehubungan
dengan pendaratan
pesawat udara

b)

jasa penggunaan
jembatan pintu
(avio bridge)

c)

jasa pelayanan
penerbangan

d)

jasa ground handling,


yaitu pengurusan
seluruh atau sebagian
dari proses pelayanan

penumpang dan
bagasinya serta
kargo, yang diangkut
dengan pesawat,
udara baik yang
berangkat maupun
yang datang, selama
pesawat udara di
darat
e)

jasa penunjang lain di


bidang aeronautika

2
) bidang non-aeronatika,
termasuk :
a)

jasa catering di
pesawat dan jasa
pembersihan
pantry pesawat;

b)

jasa penunjang lain di


bidang nonaeronautika

i. Jasa penebangan hutan


j. Jasa pengolahan limbah
k. Jasa penyedia tenaga kerja
(outsourcing services)
l. Jasa perantara dan/atau
keagenan
m Jasa di bidang perdagangan
. surat-surat berharga,
kecuali yang dilakukan oleh
Bursa Efek, KSEI dan KPEI
n. Jasa
custodian/penyimpanan/pen
itipan, kecuali yang

dilakukan oleh KSEI


o. Jasa pengisian suara
(dubbing) dan/atau sulih
suara
p. Jasa mixing film
q. Jasa sehubungan dengan
software komputer,
termasuk perawatan,
pemeliharaan dan
perbaikan
r.
Jasa instalasi/pemasangan
mesin, peralatan, listrik,
telepon, air, gas, AC,
dan/atau TV kabel, selain
yang dilakukan oleh Wajib
Pajak yang ruang
lingkupnya di bidang
konstruksi dan mempunyai
izin dan/atau sertifikasi
sebagai pengusaha
konstruksi
s.
Jasa
perawatan/perbaikan/pemeli
haraan mesin, perawatan,
listrik, telepon, air, gas, AC,
TV Kable, alat
transportasi/kendaraan
dan/atau bangunan selain
yang dilakukan oleh Wajib
Pajak yang ruang
lingkupnya di bidang
konstruksi dan mempunyai
izin dan/atau sertifikasi
sebagai pengusaha
konstruksi
t. Jasa maklon; yaitu jasa
pemberian jasa dalam
rangka proses penyelesaian
suatu barang tertentu yang
proses pengerjaannya
dilakukan oleh pihak

pemberi jasa
(disubkontrakkan), yang
spesifikasi, bahan baku dan
atau barang setengah jadi
dan atau bahan
penolong/pembantu yang
akan diproses sebagian
atau seluruhnya disediakan
oleh pengguna jasa, dan
kepemilikan atas barang
jadi berada pada pengguna
jasa
u. Jasa penyelidikan dan
keamanan
v. Jasa penyelenggara
kegiatan atau event
organizer; yaitu kegiatan
usaha yang dilakukan oleh
pengusaha jasa
penyelenggara kegiatan
meliputi antara lain
penyelenggaraan pameran,
konvensi, pagelaran musik,
pesta, seminar, peluncuran
produk, konferensi pers,
dan kegiatan lain yang
memanfaatkan jasa
penyelenggara kegiatan
w. Jasa pengepakan
x. Jasa penyediaan tempat dan
/ atau waktu dalam media
masa, media luar ruang
atau media lain untuk
penyampaian informasi
y. Jasa pembasmian hama

z. Jasa kebersihan atau


cleaning service
a Jasa catering atau tata boga
a.

Catatan :
Dalam hal penerima imbalan
sehubungan dengan jasa
sebagaimana dimaksud di atas
tidak memiliki Nomor Pokok Wajib
Pajak, besarnya tarif pemotongan
adalah lebih tinggi 100% (seratus
persen) daripada tarif
sebagaimana dimaksud di atas
VI PPh Pasal 26
Dasar
UU Nomor 36 Tahun
Hukum :
2008
624/KMK.04/1994
SE - 25/PJ.4/1995
1. Dividen
20% atau Tarif
P3B

Jumlah
Bruto

Final

20% atau Tarif


P3B

Jumlah
Bruto

Final

20% atau Tarif


P3B

Jumlah

Final

2.
Bunga termasuk premium,
diskonto, dan imbalan
sehubungan dengan jaminan
pengembalian utang
3. Royalti, Sewa, dan Penghasilan
lain sehubungan dengan

penggunaan harta
Bruto
4. Imbalan sehubungan dengan
jasa, pekerjaan, dan kegiatan

20% atau Tarif


P3B

Jumlah
Bruto

Final

20% atau Tarif


P3B

Jumlah
Bruto

Final

20% atau Tarif


P3B

Jumlah
Bruto

Final

20% atau Tarif


P3B

Jumlah
Bruto

Final

20% atau Tarif


P3B

Jumlah
Bruto

Final

5. Hadiah dan Penghargaan

6. Pensiunan dan Pembayaran


berkala lainnya
7. premi swap dan transaksi
lindung nilai lainnya
8. keuntungan karena
pembebasan utang
9. Penghasilan dari penjualan atau
pengalihan harta di Indonesia,
kecuali yang diatur dalam Pasal
4 ayat (2) UU PPh yang diterima
WP LN selain BUT di Indonesia

20% x
Perkiraan Phs
Harga Jual
Neto atau Tarif
P3B

Final

1 Premi asuransi, termasuk Premi


0. Reasuransi
a. Dibayarkan tertanggung
kepada Perusahaan Asuransi
di LN, baik secara langsung
maupun melalui pialang

20% x 50%
atau 10% atau
Tarif P3B

Premi
yang
Dibayar

Final

b. Dibayarkan Perusahaan
Asuransi di Indonesia kepada
Perusahaan Asuransi di LN,
baik secara langsung
maupun melalui pialang

20% x 10%
atau 2% atau
Tarif P3B

Premi
yang
Dibayar

Final

c. Dibayarkan Perusahaan
Reasuransi di Indonesia
kepada Perusahaan Asuransi
di LN, baik secara langsung
maupun melalui pialang

20% x 5% atau
1% atau Tarif
P3B

Premi
yang
Dibayar

20% x
1 Penghasilan dari penjualan atau Perkiraan Phs Harga Jual
1. pengalihan saham sebagaimana Neto atau Tarif
dimaksud dalam Pasal 18 ayat
P3B
(3c) UU PPh
1 Penghasilan BUT, kecuali
2. ditanamkan kembali di
Indonesia

20% atau Tarif Penghasila


P3B
n Kena
Pajak
PPh BUT
di
Indonesia

Final

Final

Final