Anda di halaman 1dari 22

TUGAS REFERAT RADIOLOGI

FOTO THORAX

DAFTAR ISI

Halaman Judul ..........................................................................................................1


Kata Pengantar ........................................................................................................ 2
Daftar isi ...................................................................................................................3
BAB I PENDAHULUAN .................................................................................... 4
BAB II PEMBAHASAN
A.
B.
C.
D.
E.
F.

Macam Macam Cara Pemeriksaan................................................4


Indikasi Foto Thorax....................................................................... 5
Posisi Foto Thorax...........................................................................6
Kriteria kelayakan foto...................................................................12
Intepretasi foto thorax.....................................................................13
Kelainan Foto Thorax..................................................................... 14

Daftar Pustaka ....................................................................................................... 24

FOTO THORAX
I. Pendahuluan
Pemeriksaan radiologik toraks merupakan pemeriksaan yang sangat penting.
Kemajuan yang sangat pesat selama dasawarsa terakhir dalam teknik pemeriksaan
radiologik toraks dan pengetahuan untuk menilai suatu roentgenogram toraks
menyebabkan pemeriksaan toraks dengan sinar roentgen ini suatu keharusan rutin.
Pemeriksaan paru tanpa pemeriksaan roentgen saat ini dapat dianggap tidak
lengkap. Suatu penyakit paru belum dapat disingkirkan dengan pasti sebelum dilakukan
pemeriksaan radiologik. Selain itu,berbagai kelainan dini dalam paru juga sudah dapat
dilihat dengan jelas pada foto roentgen sebelum timbul gejala-gejala klinis. Foto
roentgen yang dibuat pada suatu saat tertentu dapat merupakan dokumen yang abadi
dari penyakit seorang penderita, dan setiap waktu dapat dipergunakan dan
diperbandingkan dengan foto yang dibuat pada saat- saat lain.

II. Macam Macam Cara Pemeriksaan

FLUOROSCOPY THORAX
2

Adalah cara pemeriksaan yang mempergunakan sifat tembus sinar


roentgen dan suatu tabir yang bersifat fluoresensi bila terkena sinar tersebut.
Umumnya cara ini tidak dipakai lagi,hanya pada keadaan tertentu,yaitu bila kita
ingin menyelidiki pergerakan suatu organ/sistem tubuh seperti dinamika alatalat peredaran darah, misalnya jantung dan pembuluh darah besar; serta
pernapasan berupa pergerakan diafragma dan aerasi paru- paru.

ROENTGENOGRAPHY
Adalah pembuatan foto roentgen toraks. Agar distorsi dan magnifikasi
yng diperoleh menjadi sekecil mungkin, maka jarak antara tabung dan film
harus 1,80 meter dan foto dibuat sewaktu penderita sedang bernapas dalam
(inspirasi).

TOMOGRAPHY
Istilah lainnya : Planigrafi , Laminagrafi , atau Stratigrafi.Pemeriksaan
lapis demi lapis dari rongga dada, biasanya untuk evaluasi adanya tumor atau
atelektase yang bersifat padat
.

COMPUTERIZED TOMOGRAPHY (CT SCAN)


Yaitu Tomography transversal, dengan X-ray
Pemeriksaan ini terutama untuk daerah mediastinum.

dan

komputer.

BRONCHOGRAPHY
Ialah pemeriksaan percabangan bronkus, dengan cara mengisi saluran
bronkial dengan suatu bahan kontras yang bersifat opaque (menghasilkan
bayangan putih pada foto). Bahan kontras tersebut biasanya mengandung
jodium (lipiodol, dionosil, dsb).
Indikasi pemeriksaan ini misalnya pada Bronkiektasis untuk meneliti
letak, luas, dan sifat bagian-bagian bronkus yang melebar; dan pada tumortumor yang terletak dalam lumen bronkus (space occupying lesions), yang
mungkin mempersempit bahkan menyumbat sama sekali bronkus bersangkutan.

ARTERIOGRAPHY
Mengisi kontras pada pembuluh darah pulmonale, sehingga dapat
diketahui vaskularisasi pada mediastinum atau pada paru.

ANGIOCARDIOGRAPHY
Adalah pemeriksaan untuk melihat ruang-ruang jantung dan pembuluhpembuluh darah besar dengan sinar roentgen (fluoroskopi atau roentgenografi),
3

dengan menggunakan suatu bahan kontras radioopaque, misalnya Hypaque


50%, dimasukkan kedalam salah satu ruang jantung melalui kateter secara
intravena.

III. Indikasi Dilakukan Foto Thorax


Indikasi dilakukannya foto toraks antara lain :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Infeksi traktus respiratorius bawah ( TBC Paru, bronkitis, Pneumonia )


Batuk kronis/ berdarah
Trauma dada
Tumor
Nyeri dada
Metastase neoplasma
Penyakit paru akibat kerja
Aspirasi benda asing

IV. Posisi Pada Foto Thorax


Posisi PA (Postero Anterior)

Pada posisi ini film diletakkan di depan dada, siku ditarik kedepan
supaya scapula tidak menutupi parenkim paru.
Posisi AP (Antero Posterior)
Dilakukan pada anak-anak atau pada apsien yang tidak kooperatif. Film
diletakkan dibawah punggung, biasanya scapula menutupi parenkim paru.
Jantung juga terlihat lebih besar dari posisi PA.
Posisi Lateral Dextra & Sinistra

Posisi ini hendaknya dibuat setelah posisi PA diperiksa. Buatlah proyeksi


lateral kiri kecuali semua tanda dan gejala klinis terdapat di sebelah kanan,
maka dibuat proyeksi lateral kanan,berarti sebelah kanan terletak pada film.
Foto juga dibuat dalam posisi berdiri.

Posisi Lateral Dekubitus

Foto ini hanya dibuat pada keadaan tertentu,yaitu bila klinis diduga ada
cairan bebas dalam cavum pleura tetapi tidak terlihat pada foto PA atau lateral.
Penderita berbaring pada satu sisi (kiri atau kanan). Film diletakkan di muka
dada penderita dan diberikan sinar dari belakang arah horizontal.

Posisi Apikal (Lordotik)

Hanya dibuat bila pada foto PA menunjukkan kemungkinan adanya


kelainan pada daerah apex kedua paru. Proyeksi tambahan ini hendaknya hanya
dibuat setelah foto rutin diperiksa dan bila ada kesulitan menginterpretasikan
suatu lesi di apex.

Posisi Oblique Iga

RAO

LAO
Hanya dibuat untuk kelainan-kelainan pada iga (misal pembengkakan
lokal) atau bila terdapat nyeri lokal pada dada yang tidak bisa diterangkan
sebabnya, dan hanya dibuat setelah foto rutin diperiksa. Bahkan dengan foto
oblique yang bagus pun, fraktur iga bisa tidak terlihat.
9

Posisi Ekspirasi
Adalah foto toraks PA atau AP yang diambil pada waktu penderita dalam
keadaan ekspirasi penuh. Hanya dibuat bila foto rutin gagal menunjukkan
adanya pneumothorax yang diduga secara klinis atau suatu benda asing yang
terinhalasi.

V. Kriteria Kelayakan Foto


Foto thorax harus memenuhi beberapa criteria tertentu sebelum di nyatakan
layak baca. Kriteria tersebut adalah:
1. Factor Kondisi
Yaitu factor yang menentukan kualitas sinar X selama di kamar rontgen
(tempat expose) factor kondisi meliputi hal hal berikut yang biasa di
nyatakan dengan menyebut satuannya
Waktu/lama exposure millisecond (ms)
Arus listrik tabung mili Ampere (mA)
Tegangan tabung kilovolt (kV)
Ketiga hal di atas akan menentukan kondisi foto apakah

Cukup/ normal
Kurang bila foto thorax terlihat putih (samar samar)
Lebih : bila foto thorax terlihat sangat hitam

Dalam membuat foto thorax ada dua kondisi yang dapat sengaja di buat,
tergantung bagian mana yang ingin di perikasa. Yaitu:
a. Kondisi pulmo (kondisi cukup) foto dengan kV rendah
Inilah kondisi yang standar pada foto thorax, sehingga gambaran
parenkim dan corakan paru dapat terlihat. Cara mengetahui apakah suatu
foto rontgen pulmo kondisinya cukup atau tidak:
1. Melihat lusensi udara (hitam) yang terdapat di luar tubuh
2. Memperhatikan vertebra thorakalis:
Pada proyeksi PA kondisi cukup: tampak Vth I-IV
Pada proyeksi PA kondisi kurang : hanya tampak VThI
b. Kondisi kosta (kondisi keras/tulang) foto dengan kV tinggi
Cara mengetahui apakah suatu pulmo kondisinya keras atau tidak:
1. Pada foto kondisi keras, infiltrate pada paru tak terlihat lagi. Cara
mengetahuinya adalah dengan membandingkan densitas paru dengan
jaringan lunak. Pada kondisi keras densitas keduanya tampak sama
2. Memperhatikan vertebra thorakalis
Proyeksi PA kondisi keras: tampak Vth V-VI
Proyeksi PA kondisi keras: yang tampak VTh I-XII selain itu
densita jaringan lunak dan kosta terlihat mirip
2. Inspirasi Cukup
Foto thorax harus di buat dalam keadaan inspirasi cukup.
10

Cara mengetahui cukup tidaknya inspirasi adalah:


a. Foto dengan inspirasi cukup:
Diagfrma setinggi Vth X (dalam keadaan expirasi diagframa setinggi
Vth VII-VIII)
Kosta VI anterior memotong dome diagframa
b. Foto dengan inspirasi kurang
Ukuran jantung dan mediastinum meningkat sehingga dapat
menyebabkan salah interpretasi
Corakan bronkovesikuler meningkat sehingga dapat terjadi salah
interpretasi
3. Posisi sesuai
Seperti telah di terangkan di atas, posisi standar yang paling banyak di
pakai adalah PA dan lateral. Foto thorax biasanya juga diambil dalam posisi
erek
Cara membedakan foto thorax posisi PA dan AP adalah sebagai berikut:
1. Pada foto AP scapula terletak dalam bayangan thorax sementara
pada foto PA scapula terletak di luar bayangan thorax
2. Pada foto AP klavikula terlihat lebih tegak di bandingkan foto PA
3. Pada foto PA jantung biasanya terlihat lebih jelas
4. Pada foto AP gambaran vertebra biasanya terlihat lebih jelas
5. Untuk foto PA label terletak sebelah kiri foto sementara pada foto PA
label biasanya terletak di sebelah kanan foto
Cara membedakan foto posisi erek dengan supine:
1. Erect
a. Di bawah hemidiagframa sinistra terdapat gambaran udara dalam fundus
gaster akibat aerofagia. Udara ini samar samar karena bercampur dengan
makanan. Jarak antara udara gaster dengan permukaan diagframa adalah
1cm atau kurang. Udara di fundus gaster ini di namakan magenblase
b. Terdapat gas di flexura lienalis akibat bakteri komensal yang hidup di
situ. Warna lebih lusen (gelap)
2. Supine
a. Udara magenblase bergerak ke bawah (corpus gaster) sehingga jarak
udara magenblase dengan diagframa 3cm. jadi biasanya pada posisi
supine udara magenblase tidak terlihat
4. Simetris
Cara mengetahui kesimetrisan foto:
Jarak antara sendi sternoklavikularis dekstra dan sinistra terhadap garis median
adalah sama. Jika jarak antara kanan dan kiri berbeda berarti foto tidak simetris
5. foto thorax tidak boleh terpotong

11

V. INTERPRETASI FOTO THORAX


Cara sistematis untuk membaca foto thorax, sebagai berikut :
1.

2.

3.
4.

5.

6.
7.
8.

9.

Cek apakah sentrasi foto sudah benar dan foto dibuat pada waktu inspirasi
penuh. Foto yang dibuat pada waktu ekspirasi bisa menimbulkan keraguan
karena bisa menyerupai suatu penyakit misal kongesti paru, kardiomegali
atau mediastinum yang lebar. Kesampingkan bayangan-bayangan yang
terjadi karena rambut, pakaian atau lesi kulit.
Cek apakah Exposure sudah benar ( bila sudah diperoleh densitas yang
benar, maka jari yang diletakkan di belakang daerah yang hitam pada foto
tepat dapat terlihat). Foto yang pucat karena underexposed harus
diinterpretasikan dengan hati-hati, gambaran paru bisa memberi kesan
adanya edema paru atau konsolidasi. Foto yang hitam karena
overexposed bisa memberi kesan adanya emfisema.
Cek apakah tulang-tulang (iga, clavicula, scapula,dll) Normal.
Cek jaringan lunaknya, yaitu kulit, subcutan fat, musculus-musculus seperti
pectoralis mayor, trapezius dan sternocleidomastoideus. Pada wanita dapat
terlihat mammae serta nipplenya.
Cek apakah posisi diafragma normal ; diafragma kanan biasanya 2,5 cm
lebih tinggi daripada kiri. Normalnya pertengahan costae 6 depan
memotong pada pertengahan hemidiafragma kanan.
Cek sinus costophrenicus baik pada foto PA maupun lateral.
Cek mediastinum superior apakah melebar, atau adakah massa abnormal,
dan carilah trachea.
Cek adakah kelainan pada jantung dan pembuluh darah besar. Diameter
jantung pada orang dewasa (posisi berdiri) harus kurang dari separuh lebar
dada. Atau dapat menentukan CTR (Cardio Thoracalis Ratio).
Cek hilus dan bronkovaskular pattern. Hilus adalah bagian tengah pada paru
dimana tempat masuknya pembuluh darah, bronkus, syaraf dan pembuluh
limfe. Hilus kiri normal lebih tinggi daripada hilus kanan.

VI. SYARAT FOTO THORAX PA


Syarat- syarat foto thorax PA bila memungkinkan :
1. Posisi penderita simetris. Hal ini dapat dievaluasi dengan melihat apakah
proyeksi tulang corpus vertebra thoracal terletak di tengah sendi
sternoclavikuler kanan dan kiri.
2. Kondisi sinar X sesuai. mAs (jumlah sinar) cukup dan
kV (kualitas sinar) cukup.
3. Film meliputi seluruh cavum thorax. Mulai dari puncak cavum thorax
sampai sinus-sinus phrenicocostalis kanan kiri dapat terlihat pada film
tersebut.

VII. KELAINAN RADIOLOGI THORAX


Berikut ini adalah kelainan kelainan radiologi toraks :
12

1. Kesalahan teknis saat pengambilan foto sehingga mirip suatu penyakit,


misal : - sendi sternoclavicula sama jauhnya dari
garis tengah
- Diafragma letak tinggi
- Corakan meningkat pada kedua lobus bawah
- Diameter jantung bertambah
2. Pada Jantung : Cardiomegali

Setelah dibuat garis-garis seperti di atas pada foto thorax, selanjutnya


kita hitung dengan menggunakan rumus perbandingan sebagai berikut :

Ketentuan :

13

Jika nilai perbandingan di atas nilainya 50% (lebih dari/sama dengan


50% maka dapat dikatakan telah terjadi pembesaran jantung
(Cardiomegally)
-

3.

4.

Apex cordis tergeser kebawah kiri pada pembesaran


Ventrikel kiri
- Apex cordis terangkat lepas dari diafragma pada pembesaran
ventrikel kanan
Pada Mediastinum : Massa mediastinum

Pada Pulmo
a) Oedema paru

- Bayangan dengan garis tidak tegas


- Terdapat suatu bronkogram udara
- Tanda silhouette yaitu hilangnya
diafragma atau mediastinum berdekatan

visualisasi

b) Pemadatan paru, seperti : TBC paru, Pneumonia

14

bentuk

TB Paru

pneumonia
- Terlihat pemadatan berbercak bercak dengan bayangan
berbatas tidak jelas
- Terlihat kavitasi (pembentukan abses)
c) Kolaps paru / ateletaksis

15

Tampak perselubungan homogen pada lapangan paru sebelah kiri


yang menutupi batas kiri jantung, diafragma,dan sinus disertai
dengan shift midline ke kiri.
- Terdapat bayangan lobus yang kolaps
- Ditemukan tanda silhouette
- Pergeseran struktur untuk mengisi ruangan yang normalnya
ditempati lobus yang kolaps
- Pada kolaps keseluruhan paru : keseluruhan hemithorax
tampak opaque dan ada pergeseran hebat pada mediastinum
dan trachea

d) Massa paru, misal : abses paru, kista hydatid

16

Abses Paru
- Ditemukan lesi uang logam (coin lesion) / nodulus
- Terdapat bayangan sferis
e) Bayangan kecil tersebar luas
- Bayangan cincin 1 cm bersifat diagnostic bagi bronkiektasis
- Kalsifikasi paru yang kecil tersebar luas dapat timbul setelah
infeksi paru oleh TB
- Area pemadatan kecil berbatas tidak jelas menunjukkan
adanya bronkiolitis
f) Bayangan garis
- Biasanya tidak lebih tebal dari garis pensil, yang terpenting
adalah garis septal, dapat terlihat pada limfangitis Ca
g) Sarkoidosis
- Terlihat limfadenopati hilus dan paratrachealis
- Bayangan retikulonodularis pada paru

h) Fibrosis paru
17

- Bayangan kabur pada basis paru yang menyebabkan kurang


jelasnya garis bentuk pembuluh darah,kemudian terlihat
nodulus berbatas tak jelas dengan garis penghubung.
- Volume paru menurun, sering jelas, dan translusensi sirkular
terlihat memberikan pola yang dikenal sebagai paru sarang
tawon, kemudian jantung dan arteria pulmonalis membesar
karena semakin parahnya hipertensi pulmonalis.
i) Neoplasma

- Bayangan bulat dengan tepi tak teratur berlobulasi dan tepi


terinfiltrasi
- Terdapat kavitasi dengan massa
5.

Pada Pleura
18

a)

Efusi Pleura

- Terlihat cairan mengelilingi paru, lebih tinggi di lateral


daripada medial, juga dapat berjalan ke dalam fissura terutama
ke ujung bawah fissura obliqua
b) Fibrosis Pleura
- Penampilannya serupa dengan cairan pleura, tetapi selalu lebih
kecil daripada bayangan asli. Sudut costophrenicus tetap
terobliterasi.
c)

Kalsifikasi Pleura
- Plak kalsium tak teratur, dapat terlihat dengan atau tanpa
disertai penebalan pleura

d) Pneumothorax

- Garis pleura yang membentuk tepi paru yang terpisah dari


dinding dada, mediastinum atau diafragma oeh udara
- Tak adanya bayangan pembuluh darah diluar garis ini.
6.

Pada Diafragma
19

a)

Paralisis Diafragma
- Akibat kelainan nervus phrenicus, misal invasi oleh karsinoma
bronchus
- Ditandai oleh elevasi 1 hemidiaphragma

b) Eventrasi Diafragma

20

- Merupakan keadaan kongenital, yang diafragmanya tanpa otot


dan menjadi lembaran membranosa tipis.

DAFTAR PUSTAKA

21

1.
2.

3.

Rasad Sjahriar. Radiologi Diagnostik. Edisi ke-2. Balai Penerbit FKUI.


Jakarta,2005.
Palmer P.E.S, Cockshott W.P, Hegedus V, Samuel E. Manual of Radiographic
Interpretation for General Practitioners (Petunjuk Membaca Foto Untuk Dokter
Umum). Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta : EGC,1995.
Armstrong Peter, L.Wastie Martin. Pembuatan Gambar Diagnostik. Jakarta :
EGC,1989

22