Anda di halaman 1dari 14

Pedoman Pengamanan Pantai

(Ringkasan Peraturan Menteri


PU No.09/2010)
Posted on May 17, 2011 by keriput
Tulisan ini adalah ringkasan dari Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 09/PRT/M/2010 tentang
Pedoman Pengamanan Pantai yang terbit pada 25 Agustus 2010. Semoga tulisan ini dapat membantu
pembaca dalam memahami secara cepat isi dari pedoman tersebut.

Pasal 1 :

Pantai adalah daerah yang merupakan pertemuan antara laut dan daratan diukur pada saat

pasang tertinggi dan surut terendah


Daerah Pantai adalah suatu daratan beserta perairannya dimana pada daerah tersebut masih

saling dipengaruhi baik oleh aktivitas darat maupun laut (marine)


Wilayah pesisir adalah daerah peralihan antara ekosistem darat dan laut yang dipengaruhi

perubahan di darat dan di laut.


Pengamanan pantai adalah upaya untuk melindungi dan mengamankan daerah pantai dan

muara sungai dari kerusakan akibat erosi, abrasi, dan akresi.


Zona pengamanan pantai adalah satuan wilayah pengamanan pantai yang dibatasi oleh tanjung
dan tanjung, tempat berlangsungnya proses erosi, abrasi, dan akresi yang terlepas dari pengaruh

satuan wilayah pengamanan pantai lainnya. (Coastal Cell)


Sempadan pantai adalah daratan sepanjang tepian pantai yang lebarnya proporsional dengan
bentuk dan kondisi fisik pantai, minimal 100 (seratus) meter dari titik pasang tertinggi ke arah
darat.

Pasal 2

Pengamanan pantai diselenggarakan berdasarkan ZONA PENGAMANAN PANTAI (coastal cell) dan
mempertimbangkan wilayah sungai, pola serta rencana pengelolaan sumber daya air pada
wilayah sungai.

Pasal 5

Tujuan pengamanan pantai adalah untuk melindungi :


1.

Masyarakat yang tinggal di sepanjang pantai dari ancaman gelombang dan genangan
pasang tinggi (rob), erosi serta abrasi

2.

Fasilitas umum, fasilitas sosial, kawasan yang mempunyai nilai ekonomis tinggi, nilai
sejarah, serta nilai strategis nasional yang berada di sepanjang pantai.

3.

Perairan pantai dari pencemaran dan kerusakan lingkungan oleh limbah perkotaan,
industri dan limbah lainnya.

4.

Pendangkalan muara sungai.

Pasal 6

Aspek-aspek pengamanan pantai terdiri dari :


1.

Aspek umum

studi kelayakan pengamanan pantai

2.

penyusunan program pengamanan pantai

Aspek teknis

perencanaan detail

pelaksanaan

operasi dan pemeliharaan

pengelolaan BMN (barang milik negara)

pembiayaan

peran masyarakat

Pasal 7

Studi kelayakan pengamanan pantai meliputi :

1.

kelayakan ekonomi, sosial dan lingkungan

2.

kesiapan masyarakat untuk menerima rencana kegiatan

3.

keterpaduan antar sektor

4.

kesiapan pembiayaan

5.
kesiapan kelembagaan
Penyusunan program pengamanan pantai mengacu pada studi kelayakan pengaman pantai

sesuai dengan :
1.

rencana pengelolaan sumber daya air

2.

rencana zonasi wilayah pesisir

Jika poin 1 dan 2 belum disusun, maka pelaksanaan pengamanan pantai dilakukan berdasarkan
zona pengaman pantai (coastal cell)
Pasal 8

Perencanaan detail melalui tahapan :

1.

Inventarisasi, meliputi

pengumpulan data
A.

2.

data primer
survey pemetaan

survey hidro-oseanografi

survey mekanika tanah dan geoteknik

survey sosial ekonomi

survey lingkungan

B.
data sekunder
identifikasi masalah

Penyusunan rencana detail, meliputi :

pengolahan data

pra desain

pemilihan alternatif

detail desain pengamanan pantai

Perencanaan detail mempertimbangkan :

kelestarian sumber daya pantai

dampak lingkungan

kondisi sosial ekonomi masyarakat

peraturan perundangan

kondisi politik dan kelembagaan

estetika

Pasal 17

Operasi dan Pemeliharaan bangunan pengaman pantai dimaksudkan agar bangunan pengaman

pantai dapat berfungsi optimal


Pasal 18

Kegiatan operasi, meliputi :

1.

pemantauan, yaitu pengamatan dan pengukuran bangunan pengaman pantai pada


zona pengamanan pantai untuk mendapatkan informasi tentang kondisi fisik pantai,
meliputi :

2.

3.

kerusakan pantai dan kerugian yang ditimbulkan

perubahan bentuk fisik pantai

perubahan pola arus dan angkutan sedimen

bangunan pantai dan fungsinya

pengaruh bangunan terhadap lingkungan

pemanfaatan sempadan pantai dan perubahan garis pantai

kegiatan masyarakat yang merusak ekosistem pantai

jumlah penduduk yang mengalami dampak kerusakan

sosialisasi kebijakan

larangan penebangan hutan/tanaman mangrove

larangaman penambangan di sempadan pantai

tatacara pemanfaatan sempadan pantai

peraturan perundangan yang terkait

pengoperasian pompa dan pintu air

operasi pintu pengendali banjir

operasi pintu sistem polder

Pasal 19

Kegiatan pemeliharaan, meliputi :

1.

bangunan pengaman pantai

2.

alur muara sungai

3.

lingkungan pantai

Pasal 22

o
o

Pembiyaan pengaman pantai ditetapkan berdasarkan angka kebutuhan nyata pengamanan


pantai.
Pembiayaan meliputi :
1.

sistem informasi

2.

perencanaan

3.

konstruksi

4.

operasi dan pemeliharaan

5.

rehabilitasi

Definisi rawa
Posted on August 31, 2009 by keriput
Tahukah anda definisi tentang rawa?

Definisi rawa secara yuridis terdapat di dalam Peraturan Pemerintah No. 27 Tahun 1991 tentang Rawa.

Menurut PP Rawa No. 27/1991, Rawa adalah lahan genangan air secara alamiah yang terjadi terus
menerus atau musiman akibat drainase alamiah yang terhambat serta mempunyai ciri khusus secara
fisik, kimia dan biologis.
PP Rawa No. 27 tahun 1991 adalah turunan dari UU No. 11 Tahun 1974 tentang Pengairan yang telah
digantikan dengan UU No. 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air. Oleh karena itu saat ini sedang
disusun PP Rawa yang baru, yang saat ini masih dalam pembahasan internal Direktorat Rawa dan Pantai,
Ditjen Sumber Daya Air, Departemen PU.

Menurut Rancangan PP Rawa yang baru, draft versi Mei 2009, Rawa adalah sumber daya air berupa
genangan air terus menerus atau musiman yang terbentuk secara alamiah di atas lahan yang pada
umumnya mempunyai kondisi topografi relatif datar dan/atau cekung, tanahnya berupa mineral mentah
dan/atau tanah organik/gambut, mempunyai derajat keasaman air yang tinggi, dan/atau terdapat flora
dan fauna yang spesifik.

Klasifikasi Rawa
Posted on May 5, 2011 by keriput
Secara umum rawa diklasifikasikan menjadi 2 (dua) macam yaitu :

1.

Rawa Pasang Surut adalah rawa yang terletak di pantai atau dekat pantai, di muara atau
dekat muara sungai sehingga dipengaruhi oleh pasang surut.

2.

Rawa Lebak (rawa pedalaman) adalah rawa yang terletak di lahan yang tidak terkena
pengaruh pasang surut.

Berdasarkan hidro-topografi nya, rawa pasang surut dibagi menjadi 4 kategori :


1.

Kategori A : Merupakan areal lahan rawa yang dapat terluapi air pasang, baik di musim hujan
maupun di musim kemarau. Lahan dapat diluapi oleh air pasang paling sedikit 4 atau 5 kali
selama 14 hari siklus pasang purnama, baik musim hujan maupun musim kemarau. Permukaan
lahan umumnya masih lebih rendah jika dibandingkan elevasi air pasang tinggi rata-rata.
Umumnya areal ini terletak di lahan cekungan atau dekat dengan muara sungai. Lahan ini
potensial untuk ditanami dua kali padi sawah setahun, karena ada jaminan suplai air pada setiap
musim.

2.

Kategori B : Merupakan areal lahan rawa yang hanya dapat terluapi air pasang di musim
hujan. Permukaan lahan umumnya masih lebih tinggi dari elevasi air pasang tinggi rata-rata di
musim kemarau, namun masih lebih rendah jika dibandingkan elevasi air pasang tinggi rata-rata

di musim hujan. Lahan dapat diluapi oleh air pasang paling sedikit 4 atau 5 kali selama 14 hari
siklus pasang purnama hanya pada musim hujan saja. Lahan ini potensial ditanami padi sawah di
musim hujan, sedangkan di musim kemarau ditanami palawija.
3.

Kategori C : Merupakan lahan rawa yang tidak dapat terluapi oleh air pasang sepanjang waktu
(atau hanya kadang-kadang saja). Permukaan lahan umumnya relatif lebih tinggi jika
dibandingkan kategori A dan B, sehingga air pasang hanya berpengaruh pada muka air tanah
dengan kedalaman kurang dari 50 cm dari permukaan lahan. Karena lahan tidak dapat terluapi
air pasang secara reguler, akan tetapi air pasang masih mempengaruhi muka air tanah. Elevasi
lahan yang relatip tinggi dapat mengakibatkan banyaknya kehilangan air lewat rembesan. Lahan
ini cocok untuk sawah tadah hujan/tegalan, dan ditanami padi tadah hujan atau palawija.

4.

Kategori D : Merupakan lahan rawa yang cukup tinggi sehingga sama sekali tidak dapat
terjangkau oleh luapan air pasang (lebih menyerupai lahan kering). Permukaan air tanah
umumnya lebih dalam dari 50 cm dari permukaan lahan. Variasi kapasitas drainase tergantung
perbedaan antara muka tanah di lahan dan muka air di sungai terdekat dengan lahan. Lahan
cocok diusahakan untuk lahan kering/tegalan, ditanami padi gogo/palawija dan tanaman keras.

Adapun pembagian rawa lebak berdasarkan hidro-topografi, dibagi menjadi 4 kategori :


1.

Lebak pematang, yaitu rawa lebak dengan genangan relatif agak dangkal dengan priode
waktu genangan pendek;

2.

Lebak tengahan, yaitu lahan dengan genangan relatif agak dalam dengan periode waktu
genangan agak lama;

3.

Lebak dalam, yaitu rawa lebak dengan genangan relatif dalam dengan periode waktu
genangan lama atau terus menerus sepanjang tahun.

Pengembangan rawa harus


ditangani intensif
Posted on August 19, 2009 by keriput
Dalam mengembangkan lahan rawa, harus betul-betul dikelola secara intensif, karena banyaknya unsur
kimiawi yang dikeluarkan saat pertama kali lahan tersebut di buka yang perlu mendapat perhatian.
Demikian dikatakan Dirjen Sumber Daya Air (SDA) Departemen Pekerjaan Umum, Iwan Nursyirwan
ketika ditemui ANTV di ruang kerjanya Rabu lalu (14/11).

Persoalan yang muncul ke depan dalam pembukaan lahan rawa, adalah tidak bisa dilakukan secara
besar-besaran seperti dulu. Karena terkait dengan masalah lingkungan di sekitarnya, tambah Iwan.
Sebagaimana diketahui bahwa pengembangan lahan rawa selama ini sering menjadi issue yang mencuat
kepermukaan. Pasalnya, lahan rawa itu menyimpan oksigen dimana jika lahan itu dibuka, akan menjadi
gas karbon yang akan mempengaruhi iklim global.

Oleh karenanya menurut Iwan, dalam pengembangan lahan rawa tidak dilakukan secara sekaligus
dengan luas lahan rawa lebih dari 300 ribu Ha. Ada beberapa tahapan yang harus dilakukan dalam
pengembangan lahan rawa ini. Pertama kali dibuka tanah gambutnya yang airnya asam. Kemudian
dibuat drainasi untuk pencucian keasamannya, agar kadarnya tidak terlalu tinggi untuk tanaman
pangan, seperti padi.

Memang pada mulanya, produksinya tidak begitu besar. Tetapi lama-kelamaan setelah diberi pupuk
yang baik, baru produksi akan naik bisa 5-7 ton Gabah Kering Panen (GKP). Contohnya, di Kab. Musi
Banyuasin Sumatera Selatan, dua puluh tahun kurang bagus, tetapi saat ini produksi meningkat, kata
Iwan.

Berdasarkan catatan, luas potensi lahan rawa di Indonesia yang bisa dikembangkan sekitar 33 juta Ha.
Dari luas tersebut sekitar 1,8 juta Ha telah dikembangkan. Namun hingga saat ini yang fungsional sekitar
1,1 juta Ha. Bila hasil produksi lahan rawa cukup baik, katakanlah sekitar 7 ton GKP per hektarnya saja,
maka dari luas 1,1 juta Ha akan di dapat sekitar 7,7 juta ton GKP. Ini kalau dikalkulasikan demikian.
Sehingga akan membantu ketahan pangan nasional, jelas Iwan.

Dirjen SDA juga mengatakan, bahwa lahan rawa yang umumnya berada di Pulau Sumatera, Kalimantan,
Sulawesi dan Pula Papua memang merupakan tanah marjinal yang perlu dikembangkan lebih lanjut.
Untuk pengembangannya kemudian Pemerintah belajar dari suku Bugis dan Banjar. Sehingga dalam
kurun waktu 20-30 tahun terakhir ini Pemerintah mengembangkan lahan rawa tersebut secara besarbesaran, ungkap Iwan.

Membangun dan mengembangkan lahan rawa tersebut, menurut Iwan, memang berbeda dengan Irigasi
Teknis yang berada di lahan kering. Pada saat dibuka daerah tersebut untuk irigasi, maka langsung bisa
ditanam padi. Sedangkan lahan rawa, begitu di buka maka harus dikeringkan terlebih dahulu lahannya
dan membutuhkan waktu yang cukup lama. Setelah itu baru kemudian petani akan bisa mengolah
lahannya menjadi areal pertanian.

Namun demikian, pada saat ini Pemerintah perlu melihat potensi lahan rawa yang ada di Indonesia,
Pasalnya, lahan beririgasi teknis yang selama ini menjadi andalan memasok ketahanan pangan nasional
banyak yang telah beralih fungsi.

Rata-rata lahan beririgasi teknis yang beralih fungsi sekitar 40 ribu Ha per tahun terutama di Pualu Jawa.
Alih fungsi lahan tersebut sebagai akibat pertumbuhan ekonomi untuk perumahan dan industri. (Humas
SDA).

Pemerintah akan optimalkan lahan


pertanian rawa
Posted on August 23, 2009 by keriput
Direktur Jenderal Sumber Daya Air (Dirjen SDA) Iwan Nursyirwan meminta Direktorat Rawa dan Pantai
meningkatkan kinerjanya dalam rangka pemenuhan kebutuhan pangan nasional. Krisis pangan global
yang terjadi merupakan momen tepat untuk mengembangkan daerah rawa dalam menunjang produksi
pangan.

Seperti kita ketahui bersama saat ini sudah terjadi global climate change yang berdampak terhadap
terjadinya global food crisis, sebut Iwan Nursyirwan pada rapat koordinasi internal di Direktorat Rawa
dan Pantai di Jakarta, Senin (21/4).
Saat ini harga beras dunia mengalami kenaikan 73 persen. Hal tersebut disebabkan, hampir semua
negara tidak dapat lagi memenuhi kebutuhan beras melalui produksi dalam negerinya masing-masing.
Menurut Dirjen SDA, kondisi serupa juga dialami Republik Rakyat Tiongkok , padahal dalam beberapa
tahun yang lalu negara tirai bambu tersebut selalu surplus beras.

Negara yang over produksi hanya Vietnam. Produksi beras Cina juga devisit sehingga perlu impor beras.
Ini artinya beras dunia akan naik harganya dan menjadi rebutan, terang Iwan Nursyirwan.
Menyadari kondisi tersebut, pemerintah perlu lebih mengoptimalkan daerah rawa sebagai lahan
pertanian alternatif. Iwan Nursyirwan menuturkan saat ini Indonesia mempunyai lahan pertanian rawa
1,8 juta hektar, namun pengelolaannya belum maksimal.

Kita masih mempunyai lahan alternatif seperti daerah rawa, karena untuk pengembangan dengan
irigasi membutuhkan biaya yang lebih mahal dan sangat sulit untuk menambah lahan terutama di pulau
Jawa, ujar Dirjen SDA.

Iwan Nursyirwan mengakui saat ini pemerintah belum mempunyai project digest (lingkup proyek) lahan
pertanian rawa. Kalimantan dan Merauke adalah lahan potensial yang dapat kita usulkan untuk proyek
tersebut. Namun, untuk membuat usulan proyek tersebut dibutuhkan informasi kondisi rawa saat ini.

Dengan strategic plan yang baik dalam membuat program ke depan, potensi rawa sangat baik. Dimulai
dengan inventarisasi kondisi sumber daya di bidang rawa dan perkiraan produksi yang akan
dicapai,jelas Iwan Nursyirwan.
Dalam rapat koordinasi tersebut, Dirjen SDA juga meminta percepatan pekerjaan pengamanan Pantai
Nipah, pengamanan pantai Bali, pengelolaan lahan gambut (PLG) dan Merauke Integrated Rice
Estate (MIRC).
Berdasarkan data Direktorat Rawa dan Pantai, pekerjaan pengamanan pantai Nipah yang belum selesai
diantaranya pembangunan pos TNI AL, perataan tanah seluas 33.000 m3 dan tambahan pekerjaan untuk
dermaga, jembatan dan jalan.

Sementara untuk kegiatan pengamanan pantai Bali juga terdapat permasalahan pelaksanaan terkait
dengan pengadaan kapal penyedot pasir disebabkan kesulitan dalam pengadaan kapal keruk (dredger).

Pelaksanaan pekerjaan reklamasi di pantai Kuta diusahakan sesuai tepat waktu, karena jika terjadi
kekosongan pekerjaan maka konsultan tetap dibayar tanpa melakukan fungsi pengawasan. Diharapkan
dalam waktu 2-3 minggu ke depan permasalahan sudah terselesaikan, tegas Iwan Nursirwan.

Sedangkan untuk MIRC, merupakan kegiatan pertanian yang dilakukan oleh pemerintah daerah. Desain
MIRC meliputi desain dari Belanda yang dibuat pada 1960 untuk paddy rice. Departemen PU telah
membangun saluran Topeko untuk mengairi areal irigasi seluas 600 Ha diantaranya daerah irigasi
Semangga dan Tanah Miring.
Dirjen SDA mengatakan, saluran Topeko selama 30 tahun dibangun hingga kini belum berfungsi. Saluran
Topeko merupakan long storage dan tidak dengan sistem gravitasi, sehingga diperlukan pompa-pompa
kecil untuk mengangkat air. (lin/rdr/rnd)

Pemerintah dorong swasta investasi


di lahan rawa
Posted on August 16, 2009 by keriput
Pemerintah secara aktif mendorong swasta untuk berinvestasi ke lahan rawa. Pasalnya, kegiatan ini
dapat menyerap cukup banyak tenaga kerja dan meningkatkan hasil produksi yang dapat berorientasi
ekspor. Namun upaya tersebut masih membutuhkan payung hukum, karena lokasi yang diperuntukkan
bagi swasta untuk pengembangan tanaman keras, sebelumnya dipergunakan untuk tanaman padi.

Direktur Bina Program Direktorat Jenderal Sumber Daya Air (Ditjen SDA) Hartoyo Supriyanto saat
membuka workshop yang bertajuk Penguatan Pengembangan Lahan Pasang Surut di Indonesia, di
Jakarta, Kamis (15/5) mengatakan, dalam pengembangan lahan rawa perlu adanya kesinambungan
antara pendayagunaan sumber daya lahan dan air di satu sisi dengan perhatian terhadap fungsi ekologis
di sisi lainnya.

Sehingga proses pemanfaatan lahan rawa dapat dilaksanakan tanpa mengganggu proses kegiatan
konservasi alam. Selain lahan rawa dapat dimanfaatkan dengan baik, kerusakan lingkungan juga dapat
terhindari, jelas Hartoyo.

Dalam pengembangan lahan rawa di Indonesia, menurut Hartoyo, ada tiga pihak yang mempunyai peran
cukup penting, yaitu masyarakat khususnya pemukim asli atau pendatang, pemerintah dan swasta.

Masing-masing pihak memiliki tujuan dan sumber daya yang berbeda serta menggunakan metode
reklamasi di lahan rawa yang berbeda-beda pula. Investor swasta merupakan kelompok baru yang
terlibat dalam reklamasi rawa, kata Hartoyo.

Pengembangan lahan rawa untuk daerah pertanian di Indonesia telah dimulai sekitar tahun 1930-an.
Pengembangan lahan rawa ini dilakukan oleh penduduk asli dan pendatang di sepanjang pantai timur
Sumatera dan pantai Kalimantan. Fokus pengembangan lahan rawa di kawasan saat itu terutama
ditujukan untuk tanaman padi dan kelapa.

Kemudian dalam skala besar, Pemerintah mulai mengembangkan lahan rawa pada sekitar tahun 1970an. Sampai saat ini lahan rawa yang telah diusahakan dan dikembangkan Pemerintah sekitar 1,8 juta Ha.

Dalam sambutan pembukaan workshop tersebut, Hartoyo juga mengungkapkan masalah rawa selalu
harus terkait pula dengan green house effect, pelepasan emisi CO2 dan kenaikkan muka air laut.
Beberapa institusi terkait dengan lingkungan telah mengingatkan, bahwa penurunan muka air di rawa
bergambuit cukup besar sumbangannya terhadap pelepasan emisi CO2, kata Hartoyo.

Untuk menunjang kegiatan pengembangan lahan rawa tersebut, Pemerintah melalui Ditjen SDA sedang
menyiapkan Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) tentang Rawa yang merupakan salah satu amanat
UU No. 7 tahun 2004 tentang SDA.

Semua pengaturan untuk pengembangan potensi rawa tersebut, diharapkan telah dikaji dalam RPP
dimaksud. Karena sifatnya majemuk, maka perlu keterpaduan antar sector dalam pengelolaan rawa,
tutur Hartoyo.

Direktur Bina Program juga menjelaskan, jika tiga pilar yang mendasari kegiatan yang berkaitan dengan
SDA yaitu konservasi SDA, pendayagunaan SDA dan pengendalian daya rusak air disajikan untuk
pengembangan rawa, maka dalam pengelolaan rawa adalah melindungi dan melestarikan rawa
mendayagunakannya untuk kesejahtraan rakyat dan mendukung pembangunan regional yang seimbang.

Selain itu pengelolaan lahan rawa diharapkan dapat mengurangi masalah lingkungan yang mungkin
timbul dengan mempertahankan keseimbangan ekosistem, juga untuk pertahanan dan keamanan bagi
daerah terpencil dan pulau-pulau kecil yang terpencil, papar Hartoyo.

Hartoyo mengingatkan, banyak aturan tentang rawa yang terkait dengan RPP ini yang harus segera pula
diselesaikan. Diantaranya adalah pedoman Operasi dan Pemeliharaan (O&P), Tata Cara Reklamasi Rawa,
Status Daerah Rawa, Pembentukkan Komisi Rawa dan seterusnya. (mah/arl/ad/rnd)

Kebijakan pembukaan lahan rawa


perlu dikaji ulang
Posted on August 15, 2009 by keriput
Direktorat Jenderal Sumber Daya Air (Ditjen SDA) Departemen Pekerjaan Umum (PU) mengusulkan agar
kebijakan pembukaan lahan pertanian rawa perlu dikaji ulang. Direktur Rawa dan Pantai Djayamurni
Warga Dalam menjelaskan hal tersebut disebabkan lahan rawa seluas 1,8 juta ha yang ada saat ini
belum dimanfaatkan secara optimal.

Djajamurni dalam diskusi Streghtening Tidal Lowland Development di Hotel Grand Kemang, Jakarta,
Kamis (15/5) mengatakan, sebagian besar lahan rawa yang telah dibuka berada dalam kondisi yang tak
efektif. Hal tersebut dapat dilihat berupa saluran tak terpelihara dengan baik sehingga tak bisa
berproduksi lebih banyak.

Dari total lahan rawa yang ada saat ini, pemerintah baru mampu mengoperasikan dan memelihara 1,1
juta ha. Khusus untuk tahun ini pemerintah hanya bisa mengoperasikan dan memelihara 650 ribu ha.
Sementara untuk 2009 pemerintah menargetkan dapat menambah 100 ribu ha lahan rawa.

Direktur Rawa dan Pantai mengatakan, kondisi tersebut memang belum sesuai dengan target rencana
strategis (renstra) 2004-2009. Belum optimalnya pengelolaan lahan rawa disebabkan antara lain karena

aspek pendanaan. Setiap tahuannya, pemerintah menganggarkan biaya operasi dan pemeliharaan
sebesar Rp 200 ribu per hektare lahan rawa.

Pengolahan lahan rawa memang memerlukan waktu relatif panjang. Pengolahan lahan rawa baru dapat
menuai hasil setelah dibuka selama 20 tahun. Menurut Djajamurni, menyadari kondisi tersebut kebijakan
pemerintah untuk membuka lahan rawa baru perlu dikaji ulang. Pemerintah diminta untuk lebih
memprioritaskan perbaikan lahan yang ada dalam rangka untuk meningkatkna produksi beras.

Jika lahan rawa seluas 1,1 juta hektare itu bisa dioptimalkan maka pemerintah bisa meningkatkan
produksi beras mencapai 2 ton per hektare, sebut Djajamurni, dengan upaya tersebut produksi dapat
ditingkatkan setidaknya 25-30 persen, imbuhnya.

Produksi lahan rawa secara normal, maksimal dapat menghasilkan 2,5 ton untuk setiap ha per sekali
tanam. Padahal berdasarkan penelitian, produksi beras di lahan rawa bisa mencapai 5-7 ton, bahkan di
Belanda bisa 7-8 ton per tahunnya.

Departemen PU bekerjasama dengan Kementerian Pengairan Belanda telah melakukan penelitian di


Kabupaten Sambas, Kalimatan Barat untuk meningkatkan produksinya sebesar 1 ton per ha sehingga
menjadi 4,5 ton setiap ha dengan cara mengatur tata air.

Bupati Sambas Burhanudin mengungkapkan, daerahnya berhasil meningkatkan produksinya mencapai


30 ton dalam dua tahun. Hal tersebut berdampak langsung terhadap peningkatan pendapatan per kapita
Sambas dari US$ 437,07 di 2001 menjadi US$ 900,28 pada tahun ini. Menurut Burhanudin, kontribusi
terbesar peningkatan berasal dari pertanian rawa.

Namun tingkat produksi beras di Sambas masih rendah yaitu 1,6-2,4 ton per hektare akibat jeleknya
kondisi tanah, ujar Bupati Sambas.

Perwakilan Kementerian Pengairan Belanda Bartz Schultz mengatakan dari penelitian yang dilakukan di
tiga daerah percobaan yaitu dua lokasi di Tellang dan Saleh panen musim pertama mencapai 8 ton.
Menurut Schultz dengan kondisi pangan saat ini maka beras merupakan salah satu komoditi yang
menguntungkan.

Harga beras pada tahun 1998 hanya US$ 400 per ton dan saat ini mencapai US$ 1.000 per ton, kata
Schultz.

Shultz menyarankan kepada pemerintah untuk melindungi lahan yang bernilai secara ekologi serta tak
membuka lahan di mana penurunan muka tanah dapat menyebabkan masalah jangka pendek. Jumlah
lahan rawa pasang surut juga perlu ditingkatkan seluas 4 juta ha dalam 20-25 tahun mendatang. (rnd)

Ferosemen dapat tingkatkan


performa sistem konstruksi irigasi
Posted on August 30, 2009 by keriput

Penerapan teknologi ferosemen pada pembangunan irigasi dan rawa telah membuktikan mampu
meningkatkan performa sistem konstruksi. Ferosemen merupakan teknologi konstruksi alternatif yang
telah digunakan dalam penyediaan suplai air dan pembangunan irigasi.
Hal tersebut diutarakan oleh Direktur Bina Program Direktorat Jenderal Sumber Daya Air Departemen
Pekerjaan Umum (Ditjen SDA DPU) Sugiyanto yang mewakili Direktur Jenderal SDA Iwan Nursyirwan
dalam pembukaan simposium bertemakan Green Technology for Housing and Infrastructure
Construction.
International Symposium on Ferrocement and Thin Reinforced Cement Composites yang ke-9 digelar di
Bali, pada 17-20 Mei 2009, yang dihadiri oleh sekitar 200 peserta dari 15 negara, antara lain India,
Pakistan, Malaysia, Singapura, Inggris Raya, Amerika Serikat, Jerman, Brasil, dan Jepang, yang masingmasing akan membahas sekitar 40 topik sebagai kontribusi pemikiran untuk dibahas dalam simposium
kali ini.
Acara ini diselenggarakan oleh International Ferrocement Society Indonesia bekerja sama dengan
Universitas Lampung dan Departemen Pekerjaan Umum Direktorat Jenderal Sumber Daya Air (Ditjen
SDA).
Dirjen SDA juga menyatakan, teknologi ferosemen mudah untuk diterapkan, hasilnya tahan lama, dan
lebih ekonomis. Teknologi ferosemen mudah untuk diadaptasi baik ke dalam prinsip-prinsip maupun teori
hidraulika yang tepat.

Beberapa keunggulan lainnya yaitu penggunaan material-material lokal dalam pembangunan


menjadikan teknologi ini ekonomis dari segi biaya. Metode yang digunakan juga amat sederhana dan
bisa diadaptasi di berbagai lokasi, serta mampu dioperasikan oleh para petani.

Ferosemen bukanlah ide baru, teknologi ini sebenarnya ada di sekeliling kita dan sering digunakan dalam
kehidupan sehari-hari. Teknologi yang menggunakan teknik konstruksi kawat dan plester ini sudah mulai
diterapkan sejak masa Michaelangelo dan Leonardo Da Vinci.

Struktur ferosemen yang mudah dikerjaan dan ramah lingkungan sangat cocok untuk diterapkan di
berbagai bentuk konstruksi. Bentuk penulangan yang tersebar merata hampir di seluruh bagian
memungkinkan untuk dibuat struktur tipis dengan berbagai bentuk struktur sesuai dengan kreasi
perencananya.

Di Indonesia penerapan teknologi ferosemen ini sudah banyak digunakan antara lain untuk
pembangunan infrastruktur irigasi dan sudah diterapkan melalui beberapa bangunan monumental,
seperti Menara Siger Lampung dan Gerbang Ragunan Jakarta, serta digunakan hampir untuk semua
kubah Masjid, bahkan di Bali penerapan ferosemen telah diaplikasikan di beberapa lokasi.

Terdapat beberapa organisasi internasional yang fokus dalam pengembangan ferosemen,


yakniInternatinal Ferrocement Information Center yang didirikan tahun 1976 di AIT-Bangkok, Committee
549 di American Concrete Institute tahun 1975, dan International Ferrocement Societyyang didirikan
tahun 1991 dan berpusat di AIT-Bangkok.
Suatu definisi yang dikemukakan Committee 549, yakni bahwa ferosemen adalah suatu tipe dinding tipis
beton bertulang yang dibuat dari mortar semen hidrolis diberi tulangan dengan kawat anyam/kawat jala
(wiremesh) yang menerus dan lapisan yang rapat serta ukuran kawat relatif kecil. Anyaman ini bisa
berasal dari logam atau material lain yang tersedia. Kehalusan dan komposisi matriks mortar
seharusnya sesuai dengan sistem anyaman dan selimut (pembungkusnya). Mortar yang digunakan
dapat juga diberi serat/fiber.
Perbedaan ferosemen dengan beton bertulang terletak pada sifat fisiknya, yaitu lebih tipis dan memiliki
tulangan yang terdistribusi pada setiap ketebalannya. Untuk sifat mekaniknya, antara lain kedap air

tinggi dan lemah terhadap temperatur tinggi. Hal lainnya yang juga dimiliki ferosemen adalah memiliki
tarikan kuat dan kelenturan yang tinggi.

Dari sisi pemeliharaan, ferosemen sangat mudah untuk perawatan dan perbaikan serta biaya konstruksi
untuk aplikasi di laut lebih murah dibandingkan kayu, beton bertulang atau material komposit.
(ket/nan/rnd)

Notes Pelatihan Bendungan April 2011


Posted on April 7, 2011 by keriput
Tulisan ini hanya catatan-catatan kecil saya yang belum sempat diolah. Mohon masukan kalau ada
kesalahan.
o
Batuan yang tererosi dan terbawa ke laut akan tersortasi dengan baik, sehingga material yang
lebih besar akan terendapkan lebih ke tepi sedangkan yang material yang lebih halus akan
o

terendapkan lebih ke tengah laut.


Batuan sedimen terbentuk akibat terjadinya proses sementasi (pengikatan oleh kalsit CaCO3,

silika SiO2, oksidasi besi (Fe2O3) dan proses litifikasi (proses pemampatan dan pemadatan).
Pada kumpulan data yang terdistribusi normal, nilai mean akan sama dengan nilai median.

o
o

PP Das harus disingkronkan dengan UUD 7 SDA.


Konsep Integrated Water Source Management belum tersosialisasi dengan baik, bahkan di
forum FHO konsep IWRM belum dikenal. Hal ini disebabkan karena para aktivis IWRM belum

banyak muncul ke permukaan.


Untuk menghitung curah hujan DAS yang memiliki beberapa stasiun hidrologi, dapat
menggunakan beberapa metode yang lazim yaitu metode rata kawasan, metode Thiessen,

metode Isohyet
Efektifitas grouting 50-70%

Timbunan yang sudutnya > 45% rentan retakan akibat penurunan yang tidak merata

sebelum dilakukan grouting, dilakukan grouting test untuk mengetahui efektifitasnya

modulus young (elastisitas) beton plastis untuk cutoff wall dibuat 10-15 x modulus young
tanahnya, untuk menghindari terjadinya konsentrasi tegangan yang akan menyebabkan retak-

retak pada bendungan.


Tekanan yang diberikan saat Grouting pada pondasi tidak boleh lebih besar dari beban
overburden agar tidak terjadi hidrolic fracture yang akan memicu terjadinya piping. Grouting juga

tidak boleh dilakukan di tubuh bendungan, karena sangat berpotensi menyebabkan retakan.
Ketika tubuh urugan bendungan mengalami konsolidasi, akan terjadi gesekan dengan bangunan
masif seperti spillway. GEsekan akan menghambat settlement urugan di bidang kontak dengan
beton spillway sehingga akan terjadi retak yang disebut Arching. Retakan akibat arching sangat

berbahaya karena air bertekanan akan merembes dan menyebabkan piping.


Ada 3 teknik yang lazim untuk mencegah terjadinya arching :
1.

Kemiringan beton spillway dibuat landai, agar berat sendiri tanah dapat mendesak ke
arah bidang kontak

2.

Dinding beton spillway dibuat rata/licin

3.
Memberi lapisan contact-clay pada dinding spillway
Garis muka air freatis adalah titik-titik dimana tekanan air sama dengan tekanan atmosfer

Instrumentasi bendungan digunakan untuk verifikasi desain, apakah asumsi desain sama

dengan yang terjadi di lapangan.


Dam Break Analysis disimulasikan dengan 2 kondisi :
1.

Overtopping

2.
Piping
Instrumentasi bendungan perlu dipasang di area weakzone.

Instrumentasi piezometer standpipe (pipa tegak) memberi respon yang lambat dibanding
piezometer elektrik sehingga tidak dapat memberikan informasi tekanan air pori saat terjadi

o
o
o

beban gempa.
Disipasi air pori adalah turunnya tegangan air pori
Consolidasi sekunder terjadi karena terjadi reposisi butiran-butiran tanah
Tanah expansif adalah tanah yang memiliki kembang susut besar, yaitu memiliki nilai IP indeks
plastisitas > 50%, sehingga tidak cocok untuk tanah timbunan pada bendungan. Untuk
mengurangi sifat ekpansif tanah, dapat dilakukan dengan mencampur kapur atau seme.

o
o
o
o

Bentonite termasuk jenis tanah yang sangat expansive.


Batu lempung = shales = berbentuk serpih2 dengan gaya geser rendah
Membangun bendungan pada daerah yang terdapat gua dengan formasi KARST didalamnya,
sangat rentan kebocoran.
Fresh rock tidak sama dengan soundrock
Harga pasaran untuk pengeboran inti per 1 titik :

lapisan tanah = 150 200 rb/m

lapisan batu keras = 1 jt/m dengan kecepatan 10-20 cm/hari

Uji SPT cocok untuk tanah non-kohesif (pasiran)

Uji CPT cocok untuk tanah kohesif (lempungan)


Piezocone digunakan untuk menghitung cepat rambat air arah horizontal agar dapat

menghitung kecepatan konsolidasi lebih tepat.


Aliran air dalam tanah sangat lambat sehingga dapat dianggap aliran laminer dan berlaku

hukum Darcy : Q = k . i . A
Transient Vs Steady

Kondisi transient adalah kondisi dimana flownet rembesan belum steady


Untuk timbunan bendungan urugan, Kh umumny berkisar 4 9 Kv. Untuk menghasilkan tanah

yang isotropis dimana Kh = Kv, digunakan sheepfoot roller.


Tanah kohesif jika dipadatkan dengan vibrator akan menyebabkan kenaikan air pori sehingga
akan mengurangi kuat geser. Kepadatan lapangan yang diinginkan adalah 95%, diuji dengan uji

proctor.
Tanah non-kohesif harus dengan vibrator. Kepadatan yang diinginkan adalah 70-80%, diuji

dengan uji getar.


Karet bisa menyerap air dan lama-lama akan mengeras dan tidak elastis

Baja bisa mengalami erosi karena peristiwa elktromekanikal

Agar tidak terjadi korosi pada pintu bendungan, dapat dilakukan dengan :

2.

Pemilihan bahan tidak korosif

Lobang dan celah dilas

Pelapisan dengan cat

Dibuat lubang drainase untuk menghindari genangan

Pengecatan pintu bendungan yang belum dibersihkan malah akan mempercepat proses korosi.
Metode pembersihan dengan sandblasting (penyemprotan dengan pasir kuarsa atau pasir baja).
Setelah selesai sandblasting, dalam waktu < 24 jam, sudah harus diberi lapisan cat dasar.

3.

Pengecatan dapat dilakukan dengan udara (menggunakan kompresor) atau tanpa udara.

4.

Perbedaan baja vs besi :

Besi mengandung karbon lebih banyak sehingga lebih keras tapi getas

Baja mengandung karbon lebih sedikit sehingga lebih elastis


Katup pengaman pada saluran bottom outlet harus dilengkapi dengan saluran by pass

agar tekanan di depan dan belakang katup menjadi seimbang.


Pipa bottom outlet harus memiliki ventilasi udara ke permukaan agar tidak terjadi

tekanan negatif dan menghindari terjadinya kavitasi.


PMF = probable maximum flood
BMB = banjir maksimum boleh jadi

Model test untuk bendungan digunakan hanya untuk mensimulasikan daya tahan
hidrolisnya, bukan untuk mensimulasikan kuat struktur karena tidak bisa di-skala-kan.
Kolam olak = stilling basin, digunakan untuk meredam energi air sebelum di lepas ke
sungai. Kolam olak di desain dengan Q100, sedangkan dinding kolam olak dihitung dengan

Q1000 untuk menghindari limpasan.


Bangunan spillway = bangunan pelimpah

Bangunan intake = bangunan pengeluaran

Bendungan Cipanunjan Jawa Barat sangat unik karena tubuh bendungan urugan dari
tanah Allusite yang sangat ekspansif, IP 80-100
Tanah :

berbutir kasar = < 50% lolos saringan no.200

kerikil = < 50% lolos saringan no.4

pasir = > 50% lolos saringan no.4

berbutir halus = > 50% lolos saringan no.200

Untuk mengetahui C dan tanah kohesif dilakukan dengan uji triaksial, sedangkan untuk tanah

non-kohesif dan batu serpih dengan uji direct shear.


Parameter tanah residual adalah parameter tanah saat ini yang ada di lapangan pasca-

konstruksi.
Cv = koefesien konsolidasi
Cc = koefesien kompresi