Anda di halaman 1dari 23

PENGOLAHAN LIMBAH

Agroindustri atau industri pengolahan hasil pertanian merupakan salah industri yang
menghasilkan air limbah yang dapat mencemari lingkungan. Bagi industri-industri besar,
seperti industri pengolahan kelapa sawit, teknologi pengolahan limbah cair yang
digunakan mungkin sudah memadai, namun tidak demikian bagi industri kecil atau
sedang. Namun demikian, mengingat tingginya potensi pencemaran yang ditimbulkan
oleh air limbah yang tidak dikelola dengan baik maka diperlukan pemahaman dan
informasi mengenai pengelolaan air limbah secara benar.

Pengelolaan limbah adalah kegiatan terpadu yang meliputi kegiatan pengurangan


(minimization), segregasi (segregation), penanganan (handling), pemanfaatan dan
pengolahan limbah. Dengan demikian untuk mencapai hasil yang optimal, kegiatankegiatan yang melingkupi pengelolaan limbah perlu dilakukan dan bukan hanya
mengandalkan kegiatan pengolahan limbah saja. Bila pengelolaan limbah hanya
diarahkan pada kegiatan pengolahan limbah maka beban kegiatan di Instalasi
Pengolahan Air Limbah akan sangat berat, membutuhkan lahan yang lebih luas,
peralatan lebih banyak, teknologi dan biaya yang tinggi. Kegiatan pendahuluan pada
pengelolaan limbah (pengurangan, segregasi dan penanganan limbah) akan sangat
membantu mengurangi beban pengolahan limbah di IPAL.

Tren pengelolaan limbah di industri adalah menjalankan secara terintergrasi kegiatan


pengurangan, segregasi dan handling limbah sehingga menekan biaya dan
menghasilkan output limbah yang lebih sedikit serta minim tingkat pencemarnya.
Integrasi dalam pengelolaan limbah tersebut kemudian dibuat menjadi berbagai konsep
seperti: produksi bersih (cleaner production), atau minimasi limbah (waste
minimization).
Secara prinsip, konsep produksi bersih dan minimasi limbah mengupayakan
dihasilkannya jumlah limbah yang sedikit dan tingkat cemaran yang minimum. Namun,
terdapat beberapa penekanan yang berbeda dari kedua konsep tersebut yaitu: produksi
bersih memulai implementasi dari optimasi proses produksi, sedangkan minimasi
limbah memulai implementasi dari upaya pengurangan dan pemanfaatan limbah yang
dihasilkan.

Produksi Bersih menekankan pada tata cara produksi yang minim bahan pencemar,
limbah, minim air dan energi. Bahan pencemar atau bahan berbahaya diminimalkan
dengan pemilihan bahan baku yang baik, tingkat kemurnian yang tinggi, atau bersih.
Selain itu diupayakan menggunakan peralatan yang hemat air dan hemat energi.
Dengan kombinasi seperti itu maka limbah yang dihasilkan akan lebih sedikit dan
tingkat cemarannya juga lebih rendah. Selanjutnya limbah tersebut diolah agar
memenuhi baku mutu limbah yang ditetapkan.

Strategi produksi bersih yang telah diterapkan di berbagai negara menunjukkan hasil
yang lebih efektif dalam mengatasi dampak lingkungan dan juga memberikan beberapa
keuntungan, antara lain
a). Penggunaan sumberdaya alam menjadi lebih efektif dan efisien;
b). Mengurangi atau mencegah terbentuknya bahan pencemar;
c). Mencegah berpindahnya pencemaran dari satu media ke media yang lain;
d). Mengurangi terjadinya risiko terhadap kesehatan manusia dan lingkungan;
e). Mengurangi biaya penaatan hukum;
f). Terhindar dari biaya pembersihan lingkungan (clean up);
g). Produk yang dihasilkan dapat bersaing di pasar internasional;
h). Pendekatan pengaturan yang bersifat fleksibel dan sukarela.

Minimasi limbah merupakan implementasi untuk mengurangi jumlah dan tingkat


cemaran limbah yang dihasilkan dari suatu proses produksi dengan cara pengurangan,
pemanfaatan dan pengolahan limbah.
Pengurangan limbah dilakukan melalui peningkatan atau optimasi efisiensi alat
pengolahan, optimasi sarana dan prasarana pengolahan seperti sistem perpipaan,
meniadakan kebocoran, ceceran, dan terbuangnya bahan serta limbah.

Pemanfaatan ditujukan pada bahan atau air yang telah digunakan dalam proses untuk
digunakan kembali dalam proses yang sama atau proses lainnya. Pemanfaatan perlu

dilakukan dengan pertimbangan yang cermat dan hati-hati agar tidak menimbulkan
gangguan pada proses produksi atau menimbulkan pencemaran pada lingkungan.
Setelah dilakukan pengurangan dan pemanfaatan limbah, maka limbah yang dihasilkan
akan sangat minimal untuk selanjutnya diolah dalam instalasi pengolahan limbah.

Pada kegiatan pra produksi dapat dilakukan pemilihan bahan baku yang baik,
berkualitas dan tingkat kemunian bahannya tinggi. Saat produksi dilakukan, fungsi alat
proses menjadi penting untuk menghasilkan produk dengan konsumsi air dan energi
yang minimum, selain itu diupayakan mencegah adanya bahan yang tercecer dan
keluar dari sistem produksi.
Dari tiap tahapan proses dimungkinkan dihasilkan limbah. Untuk mempermudah
pemanfaatan dan pengolahan maka limbah yang memiliki karakteristik yang berbeda
dan akan menimbulkan pertambahan tingkat cemaran harus dipisahkan. Sedangkan
limbah yang memiliki kesamaan karekteristik dapat digabungkan dalam satu aliran
limbah. Pemanfaatan limbah dapat dilakukan pada proses produksi yang sama atau
digunakan untuk proses produksi yang lain.
Limbah yang tidak dapat dimanfaatkan selanjutnya diolah pada unit pengolahan limbah
untuk menurunkan tingkat cemarannya sehingga sesuai dengan baku mutu yang
ditetapkan. Limbah yang telah memenuhi baku mutu tersebut dapat dibuang ke
lingkungan. Bila memungkinkan, keluaran (output) dari instalasi pengolahan limbah
dapat pula dimanfaatkan langsung atau melalui pengolahan lanjutan.

Pengolahan limbah adalah upaya terakhir dalam sistem pengelolaan limbah setelah
sebelumnya dilakukan optimasi proses produksi dan pengurangan serta pemanfaatan
limbah. Pengolahan limbah dimaksudkan untuk menurunkan tingkat cemaran yang
terdapat dalam limbah sehingga aman untuk dibuang ke lingkungan.
Limbah yang dikeluarkan dari setiap kegiatan akan memiliki karakteristik yang
berlainan. Hal ini karena bahan baku, teknologi proses, dan peralatan yang digunakan
juga berbeda. Namun akan tetap ada kemiripan karakteristik diantara limbah yang
dihasilkan dari proses untuk menghasilkan produk yang sama.
Karakteristik utama limbah didasarkan pada jumlah atau volume limbah dan kandungan
bahan pencemarnya yang terdiri dari unsur fisik, biologi, kimia dan radioaktif.
Karakteristik ini akan menjadi dasar untuk menentukan proses dan alat yang digunakan
untuk mengolah air limbah.

Pengolahan air limbah biasanya menerapkan 3 tahapan proses yaitu pengolahan


pendahuluan (pre-treatment), pengolahan utama (primary treatment), dan pengolahan
akhir (post treatment). Pengolahan pendahuluan ditujukan untuk mengkondisikan alitan,
beban limbah dan karakter lainnya agar sesuai untuk masuk ke pengolahan utama.
Pengolahan utama adalah proses yang dipilih untuk menurunkan pencemar utama
dalam air limbah. Selanjutnya pada pengolahan akhir dilakukan proses lanjutan untuk
mengolah limbah agar sesuai dengan baku mutu yang ditetapkan.

Terdapat 3 (tiga) jenis proses yang dapat dilakukan untuk mengolah air limbah yaitu:
proses secara fisik, biologi dan kimia. Proses fisik dilakukan dengan cara memberikan
perlakuan fisik pada air limbah seperti menyaring, mengendapkan, atau mengatur suhu
proses dengan menggunakan alat screening, grit chamber, settling tank/settling pond,
dll.
Proses biologi deilakukan dengan cara memberikan perlakuan atau proses biologi
terhadap air limbah seperti penguraian atau penggabungan substansi biologi dengan
lumpur aktif (activated sludge), attached growth filtration, aerobic process dan anaerobic process. Proses kimia dilakukan dengan cara membubuhkan bahan kimia atau
larutan kimia pada air limbah agar dihasilkan reaksi tertentu.
Untuk suatu jenis air limbah tertentu, ketiga jenis proses dan alat pengolahan tersebut
dapat diaplikasikan secara sendiri-sendiri atau dikombinasikan.
Pilihan mengenai teknologi pengolahan dan alat yang digunakan seharusnya dapat
mempertimbangkan aspek teknis, ekonomi dan pengelolaannya.

PENGELOLAAN LIMBAH INDUSTRI RUMAH TANGGA


I.

PENDAHULUAN
Limbah rumah tangga adalah limbah yang berasal dari dapur, kamar mandi,
cucian, limbah bekas industri rumah tangga dan kotoranmanusia. Limbah
merupakan buangan/bekas yang berbentuk cair, gas dan padat. Dalam air
limbah terdapat bahan kimia sukar untuk dihilangkan dan berbahaya. Bahan
kimia tersebut dapat memberi kehidupan bagi kuman-kuman penyebab penyakit
disentri, tipus, kolera dsb. Air limbah tersebut harus diolah agar tidak mencemari
dan tidak membahayakan kesehatan lingkungan. Air limbah harus dikelola untuk
mengurangi pencemaran.
Pengelolaan air limbah dapat dilakukan dengan membuat saluran air kotor dan
bak peresapan dengan memperhatikan ketentuan sebagai berikut ;
1.

Tidak mencemari sumber air minum yang ada di daerah sekitarnya baik
air dipermukaan tanah maupun air di bawah permukaan tanah.

2.

Tidak mengotori permukaan tanah.

3.

Menghindari tersebarnya cacing tambang pada permukaan tanah.

4.

Mencegah berkembang biaknya lalat dan serangga lain.

5.

Tidak menimbulkan bau yang mengganggu.

6.

Konstruksi agar dibuat secara sederhana dengan bahan yang mudah


didapat dan murah.

7.

Jarak minimal antara sumber air dengan bak resapan 10 m.

Pengelolaan yang paling sederhana ialah pengelolaan dengan menggunakan


pasir dan benda-benda terapung melalui bak penangkap pasir dan saringan.
Benda yang melayang dapat dihilangkan oleh bak pengendap yang dibuat
khusus untuk menghilangkan minyak dan lemak. Lumpur dari bak pengendap
pertama dibuat stabil dalam bak pembusukan lumpur, di mana lumpur menjadi
semakin pekat dan stabil, kemudian dikeringkan dan dibuang. Pengelolaan
sekunder dibuat untuk menghilangkan zat organik melalui oksidasi dengan
menggunakan saringan khusus. Pengelolaan secara tersier hanya untuk
membersihkan saja. Cara pengelolaan yang digunakan tergantung keadaan
setempat, seperti sinar matahari, suhu yang tinggi di daerah tropis yang dapat
dimanfaatkan.
Berikut ini adalah pengelolaan limbah rumah tangga untuk limbah cair, padat dan
gas.
8.

Pengelolaan air limbah kakus I.

9.

Pengelolaan air limbah kakus II.

10.

Pengelolaan air limbah cucian.

11.

Pembuatan saluran bekas mandi dan cuci

12.

Pengelolaan sampah

13.

Pengelolaan limbah industri rumah tangga.

14.

Pengelolaan air limbah rumah tangga I

15.

Pengelolaan air limbah rumah tangga II

16.

Pengelolaan air limbah

II.

URAIAN SINGKAT
Industri rumah tangga seperti industri tempe, tahu, rumah makan, dan lain-lain
perlu dikelola. Limbah dari industri rumah tangga tersebut menimbulkan bau
yang tidak enak dan mengganggu lingkungan sekitarnya. Salah satu cara
mengelola limbah rumah tangga adalah dengan membuat 3 bak. Ketiga bak
tersebut digunakan sebagai tempat pengendapan limbah secara bertahap.
Dengan demikian air limbah yang keluar dari bak terakhir sudah tidak
membahayakan lagi.

III.

BAHAN

IV.

1.

Batu bata

2.

Semen

3.

Pipa pralon

4.

Lem

5.

Pasir

6.

Lempengan besi

PERALATAN
1.

Gergaji

2.

Cetok

3.

Cangkul

4.

Parang

5.

Besi runcing

6.

Ember

7.

Skop

8.
V.

Meteran

PEMBUATAN
Buat bak sebanyak 3 buah dari batu bata dengan campuran pasir dan semen.
Kemiringan saluran harus diperhitungkan. Usahakan jangan sampai ada benda
pada air limbah, sebab apabila ada akan menempel dan menyumbat saluran.
Antara bak satu dengan lainnya dihubungkan pipa pralon, antara satu dengan
yang lain letaknya lebih rendah. Susunan dan sifat air limbah yang berasal dari
limbah industri rumah tangga tergantung pada macam dan jenisnya, industri. Air
limbah dapat berupa limbah dari pabrik susu, rumah makan, pemotongan hewan,
pabrik tahu, pabrik tempe, dsb. Kotoran air limbah yang masuk ke bak I, akan
mengapung. Pada bagian bawah limbah melalui pipa akan terus mengalir ke bak
II. Lemak akan tertinggal dan akan menempel pad dinding. Untuk mengambil
lemak perlu diserok. Dalam Bak II limbah akan mengalami pengendapan, terus
ke bak III begitu juga. Dari pipa pralon pada bak III air limbah akan keluar dan
sudah tidak membahayakan lagi. Untuk membawa lumpur diperlukan kecepatan
0.1m/detik dan untuk membawa pasir kasar perlu kecepatan 0,2m/detik. Cara
pembuatannya dapat dilihat Gambar di bawah ini.

Gambar 1. Denah bak pengendap ideal berbentuk persegi panjang

Gambar 2. Bak limbah industri


VI.

VII.

VIII.

IX.

PENGGUNAAN
1.

Untuk membuang limbah industri rumah tangga.

2.

Untuk membuang kotoran-kotoran yang bersifat cair.

PEMELIHARAAN
1.

Bak hendaknya sering dibersihkan agar kotorannya tidak mengganggu


saluran

2.

Perlu di kontrol saluran-salurannya untuk menghindari kemacetan.

3.

Jangan membuang limbah berupa padat seperti : kain, kertas, daun-daun,


plastik, kerikil, dsb.

KEUNTUNGAN
Membuatnya lebih sederhana, bahan-bahannya mudah didapat.
KERUGIAN
Apabila kurang dikontrol akan sering macet, sehingga air akan keluar ke atas
dan mengganggu lingkungan sekitarnya.
Catatan lain-lain :
Periksalah secara berkala apakah lemaknya yang menempel sudah banyak dan
perlu dibersihkan atau apakah ada yang rusak.

X.

DAFTAR PUSTAKA
Sugiharto. Dasar-dasar pengelolaan air limbah.. Jakarta : UI press, 1987.

XI.

INFORMASI LEBIH LANJUT


1.

Pusat Penelitian dan Pengembangan Fisika Terapan LIPI; Jl. Cisitu


Sangkuriang No. 1 Bandung 40134 - INDONESIA; Tel.+62 22 250 3052,
250 4826, 250 4832, 250 4833; Fax. +62 22 250 3050

2.

Pusat Informasi Wanita dalam Pembangunan PDII-LIPI; Sasana Widya


Sarwono, Jl. Jend. Gatot Subroto 10 Jakarta 12710, INDONESIA.

Sumber : Buku Panduan Air dan Sanitasi, Pusat Informasi Wanita dalam Pembangunan
PDII-LIPI bekerjasama dengan Swiss Development Cooperation, Jakarta, 1991.

PENGOLAHAN LIMBAH
Pertanian Menulis

ari Pertanian Oleh Petani Untuk Pertanian

Agroindustri atau industri pengolahan hasil pertanian merupakan salah industri yang
menghasilkan air limbah yang dapat mencemari lingkungan. Bagi industri-industri besar,
seperti industri pengolahan kelapa sawit, teknologi pengolahan limbah cair yang
digunakan mungkin sudah memadai, namun tidak demikian bagi industri kecil atau
sedang. Namun demikian, mengingat tingginya potensi pencemaran yang ditimbulkan
oleh air limbah yang tidak dikelola dengan baik maka diperlukan pemahaman dan
informasi mengenai pengelolaan air limbah secara benar.

Sumber : http://petanitangguh.blogspot.com/2010/03/pengolahan-limbah.html
Pengelolaan limbah adalah kegiatan terpadu yang meliputi kegiatan pengurangan
(minimization), segregasi (segregation), penanganan (handling), pemanfaatan dan
pengolahan limbah. Dengan demikian untuk mencapai hasil yang optimal, kegiatankegiatan yang melingkupi pengelolaan limbah perlu dilakukan dan bukan hanya
mengandalkan kegiatan pengolahan limbah saja. Bila pengelolaan limbah hanya
diarahkan pada kegiatan pengolahan limbah maka beban kegiatan di Instalasi
Pengolahan Air Limbah akan sangat berat, membutuhkan lahan yang lebih luas,
peralatan lebih banyak, teknologi dan biaya yang tinggi. Kegiatan pendahuluan pada
pengelolaan limbah (pengurangan, segregasi dan penanganan limbah) akan sangat
membantu mengurangi beban pengolahan limbah di IPAL.
Tren pengelolaan limbah di industri adalah menjalankan secara terintergrasi kegiatan
pengurangan, segregasi dan handling limbah sehingga menekan biaya dan
menghasilkan output limbah yang lebih sedikit serta minim tingkat pencemarnya.
Integrasi dalam pengelolaan limbah tersebut kemudian dibuat menjadi berbagai konsep
seperti: produksi bersih (cleaner production), atau minimasi limbah (waste
minimization).
Secara prinsip, konsep produksi bersih dan minimasi limbah mengupayakan
dihasilkannya jumlah limbah yang sedikit dan tingkat cemaran yang minimum. Namun,
terdapat beberapa penekanan yang berbeda dari kedua konsep tersebut yaitu: produksi
bersih memulai implementasi dari optimasi proses produksi, sedangkan minimasi

limbah memulai implementasi dari upaya pengurangan dan pemanfaatan limbah yang
dihasilkan.
Produksi Bersih menekankan pada tata cara produksi yang minim bahan pencemar,
limbah, minim air dan energi. Bahan pencemar atau bahan berbahaya diminimalkan
dengan pemilihan bahan baku yang baik, tingkat kemurnian yang tinggi, atau bersih.
Selain itu diupayakan menggunakan peralatan yang hemat air dan hemat energi.
Dengan kombinasi seperti itu maka limbah yang dihasilkan akan lebih sedikit dan
tingkat cemarannya juga lebih rendah. Selanjutnya limbah tersebut diolah agar
memenuhi baku mutu limbah yang ditetapkan.
Strategi produksi bersih yang telah diterapkan di berbagai negara menunjukkan hasil
yang lebih efektif dalam mengatasi dampak lingkungan dan juga memberikan beberapa
keuntungan, antara lain
a). Penggunaan sumberdaya alam menjadi lebih efektif dan efisien;
b). Mengurangi atau mencegah terbentuknya bahan pencemar;
c). Mencegah berpindahnya pencemaran dari satu media ke media yang lain;
d). Mengurangi terjadinya risiko terhadap kesehatan manusia dan lingkungan;
e). Mengurangi biaya penaatan hukum;
f). Terhindar dari biaya pembersihan lingkungan (clean up);
g). Produk yang dihasilkan dapat bersaing di pasar internasional;
h). Pendekatan pengaturan yang bersifat fleksibel dan sukarela.
Minimasi limbah merupakan implementasi untuk mengurangi jumlah dan tingkat
cemaran limbah yang dihasilkan dari suatu proses produksi dengan cara pengurangan,
pemanfaatan dan pengolahan limbah.
Pengurangan limbah dilakukan melalui peningkatan atau optimasi efisiensi alat
pengolahan, optimasi sarana dan prasarana pengolahan seperti sistem perpipaan,
meniadakan kebocoran, ceceran, dan terbuangnya bahan serta limbah.
Pemanfaatan ditujukan pada bahan atau air yang telah digunakan dalam proses untuk
digunakan kembali dalam proses yang sama atau proses lainnya. Pemanfaatan perlu

dilakukan dengan pertimbangan yang cermat dan hati-hati agar tidak menimbulkan
gangguan pada proses produksi atau menimbulkan pencemaran pada lingkungan.
Setelah dilakukan pengurangan dan pemanfaatan limbah, maka limbah yang dihasilkan
akan sangat minimal untuk selanjutnya diolah dalam instalasi pengolahan limbah.
Pada kegiatan pra produksi dapat dilakukan pemilihan bahan baku yang baik,
berkualitas dan tingkat kemunian bahannya tinggi. Saat produksi dilakukan, fungsi alat
proses menjadi penting untuk menghasilkan produk dengan konsumsi air dan energi
yang minimum, selain itu diupayakan mencegah adanya bahan yang tercecer dan
keluar dari sistem produksi.
Dari tiap tahapan proses dimungkinkan dihasilkan limbah. Untuk mempermudah
pemanfaatan dan pengolahan maka limbah yang memiliki karakteristik yang berbeda
dan akan menimbulkan pertambahan tingkat cemaran harus dipisahkan. Sedangkan
limbah yang memiliki kesamaan karekteristik dapat digabungkan dalam satu aliran
limbah. Pemanfaatan limbah dapat dilakukan pada proses produksi yang sama atau
digunakan untuk proses produksi yang lain.
Limbah yang tidak dapat dimanfaatkan selanjutnya diolah pada unit pengolahan limbah
untuk menurunkan tingkat cemarannya sehingga sesuai dengan baku mutu yang
ditetapkan. Limbah yang telah memenuhi baku mutu tersebut dapat dibuang ke
lingkungan. Bila memungkinkan, keluaran (output) dari instalasi pengolahan limbah
dapat pula dimanfaatkan langsung atau melalui pengolahan lanjutan.
Pengolahan limbah adalah upaya terakhir dalam sistem pengelolaan limbah setelah
sebelumnya dilakukan optimasi proses produksi dan pengurangan serta pemanfaatan
limbah. Pengolahan limbah dimaksudkan untuk menurunkan tingkat cemaran yang
terdapat dalam limbah sehingga aman untuk dibuang ke lingkungan.
Limbah yang dikeluarkan dari setiap kegiatan akan memiliki karakteristik yang
berlainan. Hal ini karena bahan baku, teknologi proses, dan peralatan yang digunakan
juga berbeda. Namun akan tetap ada kemiripan karakteristik diantara limbah yang
dihasilkan dari proses untuk menghasilkan produk yang sama.
Karakteristik utama limbah didasarkan pada jumlah atau volume limbah dan kandungan
bahan pencemarnya yang terdiri dari unsur fisik, biologi, kimia dan radioaktif.
Karakteristik ini akan menjadi dasar untuk menentukan proses dan alat yang digunakan
untuk mengolah air limbah.

Pengolahan air limbah biasanya menerapkan 3 tahapan proses yaitu pengolahan


pendahuluan (pre-treatment), pengolahan utama (primary treatment), dan pengolahan
akhir (post treatment). Pengolahan pendahuluan ditujukan untuk mengkondisikan alitan,
beban limbah dan karakter lainnya agar sesuai untuk masuk ke pengolahan utama.
Pengolahan utama adalah proses yang dipilih untuk menurunkan pencemar utama
dalam air limbah. Selanjutnya pada pengolahan akhir dilakukan proses lanjutan untuk
mengolah limbah agar sesuai dengan baku mutu yang ditetapkan.
Terdapat 3 (tiga) jenis proses yang dapat dilakukan untuk mengolah air limbah yaitu:
proses secara fisik, biologi dan kimia. Proses fisik dilakukan dengan cara memberikan
perlakuan fisik pada air limbah seperti menyaring, mengendapkan, atau mengatur suhu
proses dengan menggunakan alat screening, grit chamber, settling tank/settling pond,
dll.
Proses biologi deilakukan dengan cara memberikan perlakuan atau proses biologi
terhadap air limbah seperti penguraian atau penggabungan substansi biologi dengan
lumpur aktif (activated sludge), attached growth filtration, aerobic process dan anaerobic process. Proses kimia dilakukan dengan cara membubuhkan bahan kimia atau
larutan kimia pada air limbah agar dihasilkan reaksi tertentu.
Untuk suatu jenis air limbah tertentu, ketiga jenis proses dan alat pengolahan tersebut
dapat diaplikasikan secara sendiri-sendiri atau dikombinasikan.
Pilihan mengenai teknologi pengolahan dan alat yang digunakan seharusnya dapat
mempertimbangkan aspek teknis, ekonomi dan pengelolaannya.
Pertanian Oleh Petani Untuk Pertanian

http://kroyolor.blogspot.com/2010/12/makalah-limbah.html
Makalah Limbah

MAKALAH DAMPAK LIMBAH TERHADAP LINGKUNGAN


SERTA PENANGGULANGANYA
Disusun Oleh : Agus Rahmat A. Kelas 2TKJ1 Tahun Ajaran 2009/2010
BAB I PENDAHULUAN
Latar Belakang Dimulai dengan makin maraknya industri besar yang berdiri serta
kehidupan masyarakat yang tidak peduli terhadap lingkungan sekitarnya. Mulailah
timbuh tumpukan limbah atau pun sampah yang tidak di buang sebagaimana mestinya.
Hal ini berakibat pada kehidupan manusia di bumi yang menjadi tidak sehat sehingga
menurunkan kualitas kehidupan terutama pada lingkungan sekitar. Maka dari itu karya
tulis ini akan dilengkapi dengan faktor faktor yang timbul dan upaya upaya yang
dapat dilakukan mengenai masalah limbah. Oleh karena itu, kami telah susun karya
tulis ini dengan rinci. Dengan maksud supaya makalah tentang Dampak Limbah serta
Penanggulangannya ini dapat dijadikan masukan untuk membenahi kualitas kehidupan
karena adanya limbah ataupun sampah yang tidak di buang sebagaimana mestinya.
Pada makalah ini terdapat beberapa cara yang dapat ditempuh guna meminimalisir
dampak dari limbah ataupun sampah dan akhirnya kita dapat bersama mengurangi
dampak dari adanya limbah ataupun sampah. Karena sampah sebenarnya ada juga
yang masih dapat dimanfaatkan terutama limbah hewan yang dapt dijadiak pupuk atau
limbah plastic dengan cara mendaur ulang serta limbah lain yang bias dimanfaatkan.
BAB II PEMBAHASAN A.Pengertian Limbah Limbah adalah buangan yang dihasilkan
dari suatu proses produksi baik industri maupun domestik (rumah tangga, yang lebih
dikenal sebagai sampah) atau juga dapat dihasilkan oleh alam yang kehadirannya pada
suatu saat dan tempat tertentu tidak dikehendaki lingkungan karena tidak memiliki nilai
ekonomis. Bila ditinjau secara kimiawi, limbah ini terdiri dari bahan kimia organik dan
anorganik. Dengan konsentrasi dan kuantitas tertentu, kehadiran limbah dapat
berdampak negatif terhadap lingkungan terutama bagi kesehatan manusia, sehingga
perlu dilakukan penanganan terhadap limbah.penanganan limbah ini tentunya tidak
hanya sekedar mengolahnya/ mendaur ulangnya langsung tanpa memperhatikan jenis
limbah dan cara penangannanya klarena dari setiap limbah yang ada mempunyai cirri
berbeda terhadap dampak yang ditimbulkanya. B.Karakteristik limbah : Pada umumnya
sesuatu yang ada di bumi ini memiliki suatu karakteristik yang berbeda. Termasuk juga
limbah yang mempunyai karakteristik sebagai berikut : 1. Berukuran mikro Karekteristik
ini merupakan karakterisik pada besar kecilnya limbah/ volumenya. Contoh dari limbah
yang berukuran mikro atau kecil atau bahkan tidak bias terlihat adalah limbah industri
berupa bahan kimia yang tidak terpakai yang di buang tidak sesuai dengan prosedur
pembuangan yang dianjurkan. 1. Dinamis Mungkin yang dimaksud dinamis disini
adalah tentang cara pencemarannya yang tidak dalam waktu singkat menyebar dan
mengakibatkan pencermaran. Biasanya limbah dalam menyerbar di perlukan waktu
yang cukup lama dan tidak diketahui dengan hanya melihat saja. Hal ini dikarenakan
ukuran limbah yang tidak dapat dilihat 1. Berdampak luas (penyebarannya) Luasnya
dampak yang di timbulkan oleh limbah ini merupakan efek dari karakteristik limbah yang

berukuran mikro yang tak dapat dilihat dengan mata tellanjang. Contoh dari besarnya
dampak yang ditimbulkan yaitu adanya istilah Minamata disease atau keracunan
raksa (Hg) di Jepang yang mengakibatkan nelayan-nelayan mengidap paralis
(hilangnya kemampuan untuk bergerak karena kerusakan pada saraf). Kejadian ini
terajadi di Teluk Minamata dan Sungai Jintsu karena pencemaran oleh raksa (Hg). 1.
Berdampak jangka panjang (antar generasi) Dampak yang ditimbulkan limbah terutama
limbah kimia biasanya tidak sekedar berdampak pada orang yang terkena tetapi dapat
mengakibatkan turunannya mengalami hal serupa. Dari karakteristik limbah di atas
pencemaran limbah juga didukung oleh adanya faktor-faktor yang mempengaruhi
pencemaran limbah terhadap lingkungan diantaranya : 1.Volume Limbah Tentunya
semakin banyak limbah yang dihasilkan oleh manusia dampak yang akan ditimbulkan
semakin besar pula terasa. 2.Kandungan Bahan Pencemar Kandunngan yang terdapat
di limbah ini mengakibatkan pencemaran lingkungan apabila kandunganya berbahaya
dapat mengakibatkan pencemaran yang fatal bahkan dapat membunuh manusia serta
mahluk hidup sekitar. 3.Frekuensi Pembuangan Limbah Pada saat sekarang ini
pembuangan limbah semakin naik frekuensinya di karenakan banyaknya industry yang
berdiri. Dengan semakin banyak frekuensi limbah tentunya pembuanganlimbah menjadi
tidak terkandali dan usaha untuk mengolahnya tidak dapat maksimal dikarenakan
pengolahan limbah yang masih jauh dari harapan kita semua. C.Sumber dan Jenis
Limbah 1.Sumber Utama imbah Sumber adanya limbah sebenarnya banyak sekali
tetapi pada pengelompokannya sumber limbah terdiri dari : Aktivitas manusia Saat
manusia melakukan aktivitas untuk menghasikan sesuatu barang produksi maka akan
timbul suatu limbah karena tidak mampunya pengolahan yang dilakukan oleh manusia
menggunkan mesin dan juga sulitnya untuk mengolah barang yang tidak berguna
menjadi barang yang bias dimanfaatkan untuk keperluan manusia. Berikut adalah
limbah yang dihasilkan oleh aktivitas manusia misalnya : a)Hasil pembakaran bahan
bakar pada industry dan juga kendaran bermotor b)Pengolahan bahan tambang dan
minyak bumi c)Pembakaran hutan untuk membuka lahan pertanian ataupun perumahan
Aktivitas alam Selaindari aktivitas diatas pencemaran limbah di bumi juga di timbulkan
oleh aktivitas alam walaupun jumlahnya sangat sedikit pengaruhnya terhadap
lingkungan karena lokasinya yang biasanya bersifat lokal.berikut ini contoh dari aktivitas
alam yang menghasilkan limbah yaitu : a)Pembusukan bahan organik alami b)Adanya
aktifitas gunung berapi c)Banjir, longsor serta d)Aktivitas alam yang lain Karena kedua
aktivitas ini menimbulkan limbah yang mencemari lingkungan, manusia di bumi terus
mengembangkan teknologi untuk mencegah dampak pencemaran lingkungan.
Walaupun dilain pihak limbah terus meningkat terutamadiakibatkan oleh aktivitas
manusia hal ini didorong oleh beberapa factor sebagai berikut : Perkembangan
industri Perkembangan industri yang sangat cepat baik pertambangan, transportasi dan
manufakur atau pabrik yang mengahsilkan limbah dalam jumlah yang relative besar
sehingga terjadi pembuangan limbah yang kurang terkontrol karena kurannya teknologi
untuk membuat limbah menjadi barang yang terurai atau ramah lingkungan

Modernisasi Pada saat sekarang perkembangan teknologi untuk menghasilkan


barang semakin marak digunakan dikalangan orang yang mengeluti bidang industry.
Hal ini bertujuan untuk menghasilkan barang dengan cepat tetapi di lain hal
perkembangan teknologi berakibat pada semakin banyaknya limbah yang dihasilkan
oleh teknologi itu sendiri. Pertambahan penduduk Semakin banyaknya penduduk di
bumi ini mengakibatkan bertambah meningkatnya kebutuhan akan tempat tinggal serta
meingkatnya jumlah kebutuhan akan barang. Hal ini dapat menimbulkan berberpa
macam masal seperti : a)Pembukaan lahan untuk pemukiman dan saran transportasi
Pembukaan lahan untuk pemukiman dan saran transportasi berdampak terhadap
semakin berkurangnya hutan untuk mengurangi kadar pencemaran lingkungan.
b)Penimbunan sampah Semakin hari kita melihat banyaknya sampah yang menumpuk
karena pembuangannya yang sembarangan dan mungkin juga karena kurang
mampunya tempat pembuangan sampah untuk menampung sampah atau yang biasa
disebut TPA (Tempat Pembuangan Akhir) dalam menampung sampah sehingga
sampah menumpuk di suatu tempat yang berdampak menurunnya kualitas lingkungan
sekitar 2.Jenis Limbah Bermacam-macam limbah mungkin akan kita temui di sekitar
kita. Pernahkah anda melihat sampah plastic, kaleng,pecahan kaca, kotoran hewan dan
lain sebagainya. Dari sekian banyaknya limbah ini dapat dikelompokan berdasar
sumber dari limbah ini berasal seperti penjelasan di bawah ini : Garbage yaitu sisa
pengelolaan atau sisa makanan yang mudah membusuk. Misal limbah yang dihasilkan
oleh rumah tangga, restoran dan hotel. Rubbish yaitu bahan atau limbah yang tidak
mudah membusuk yang terdiri dari bahan yang mudah terbakar seperti kayu dan
kertas bahan yang tidak mudah terbakar seperti klaeng dan kaca Ashes yaitu sejenis
abu hasil dari proses pembakaran seperti pembakaran kayu, batubara maupun abu dari
hasil industry. Dead animal yaitu segala jenis bangkai yang membusuk seperti
bangkai kuda, sapi, kucing tikus dan lain-lain. Street sweeping yaitu segala jenis
sampah atau kotoran yang berserakan di jalan karena perbuatan orang yang tidak
bertanggungjawab. Industrial waste yaitu benda-benda padat sisa dari industry yang
tidak tepakai atau dibuang. Missal industry kaleng dengan potongan kaleng-kaleng
yang tidak terolah. D.Contoh Dari Pencemaran Limbah dan Upaya Pengolahannya.
Dampak Negatif Limbah Sampah Terhadap Lingkungan dan Pemanfaatannya
Kawasan wisata alam merupakan tempat yang menarik untuk dikunjungi, baik oleh
wisatawan lokal maupun wisatawan mancanegara yang menyenangi nuansa alami.
Selain itu kawasan wisata alam adalah sarana tempat terjadinya interaksi sosial dan
aktivitas ekonomi. Untuk menjaring masyarakat dan wisatawan sebanyak mungkin,
setiap kawasan wisata alam harus menjaga keunikan, kelestarian, dan keindahannya.
Semakin banyak kunjungan wisatawan, maka aktivitas dikawasan tersebut akan
meningkat, baik aktivitas sosial maupun ekonomi. Setiap aktivitas yang dilakukan, akan
menghasilkan manfaat ekonomi bagi kawasan tersebut. Namun yang harus diingat
adalah bahwa limbah atau sampah yang ditimbulkan dari kegiatan tersebut dapat
mengancam kawasan wisata alam. Sampah apabila dibiarkan tidak dikelola dapat

menjadi ancaman yang serius bagi kelangsungan dan kelestarian kawasan wisata
alam. Sebaliknya, apabila dikelola dengan baik, sampah memiliki nilai potensial, seperti
penyediaan lapangan pekerjaan, peningkatan kualitas dan estetika lingkungan, dan
pemanfaatan lain sebagai bahan pembuatan kompos yang dapat digunakan untuk
memperbaiki lahan kritis di berbagai daerah di Indonesia, dan dapat juga
mempengaruhi penerimaan devisa negara. Komposisi Sampah Berdasarkan
komposisinya, sampah dibedakan menjadi dua, yaitu: 1. Sampah Organik, yaitu
sampah yang mudah membusuk seperti sisa makanan, sayuran, daun-daun kering, dan
sebagainya. Sampah ini dapat diolah lebih lanjut menjadi kompos; 2. Sampah
Anorganik, yaitu sampah yang tidak mudah membusuk, seperti plastik wadah
pembungkus makanan, kertas, plastik mainan, botol dan gelas minuman, kaleng, kayu,
dan sebagainya. Sampah ini dapat dijadikan sampah komersil atau sampah yang laku
dijual untuk dijadikan produk lainnya. Beberapa sampah anorganik yang dapat dijual
adalah plastik wadah pembungkus makanan, botol dan gelas bekas minuman, kaleng,
kaca, dan kertas, baik kertas koran, HVS, maupun karton; Di negara-negara
berkembang komposisi sampah terbanyak adalah sampah organik, sebesar 60 70%,
dan sampah anorganik sebesar 30%. Ancaman Bagi Kawasan Wisata Alam Dampak
negatif yang ditimbulkan dari sampah yang tidak dikelola dengan baik adalah sebagai
berikut: a. Gangguan Kesehatan: Timbulan sampah dapat menjadi tempat pembiakan
lalat yang dapat mendorong penularan infeksi; Timbulan sampah dapat menimbulkan
penyakit yang terkait dengan tikus; b. Menurunnya kualitas lingkungan c. Menurunnya
estetika lingkungan Timbulan sampah yang bau, kotor dan berserakan akan menjadikan
lingkungan tidak indah untuk dipandang mata; d. Terhambatnya pembangunan negara
Dengan menurunnya kualitas dan estetika lingkungan, mengakibatkan pengunjung atau
wisatawan enggan untuk mengunjungi daerah wisata tersebut karena merasa tidak
nyaman, dan daerah wisata tersebut menjadi tidak menarik untuk dikunjungi. Akibatnya
jumlah kunjungan wisatawan menurun, yang berarti devisa negara juga menurun.
Pengelolaan Sampah Agar pengelolaan sampah berlangsung dengan baik dan
mencapai tujuan yang diinginkan, maka setiap kegiatan pengelolaan sampah harus
mengikuti filosofi pengelolaan sampah. Filosofi pengelolaan sampah adalah bahwa
semakin sedikit dan semakin dekat sampah dikelola dari sumbernya, maka
pengelolaannya akan menjadi lebih mudah dan baik, serta lingkungan yang terkena
dampak juga semakin sedikit. Tahapan Pengelolaan sampah yang dapat dilakukan di
kawasan wisata alam adalah: a. Pencegahan dan Pengurangan Sampah dari
Sumbernya Kegiatan ini dimulai dengan kegiatan pemilahan atau pemisahan sampah
organik dan anorganik dengan menyediakan tempat sampah organik dan anorganik
disetiap kawasan yang sering dikunjungi wisatawan. b. Pemanfaatan Kembali Kegiatan
pemanfaatan sampah kembali, terdiri atas: 1). Pemanfaatan sampah organik, seperti
composting (pengomposan). Sampah yang mudah membusuk dapat diubah menjadi
pupuk kompos yang ramah lingkungan untuk melestarikan fungsi kawasan wisata.
Berdasarkan hasil, penelitian diketahui bahwa dengan melakukan kegiatan composting

sampah organik yang komposisinya mencapai 70%, dapat direduksi hingga mencapai
25%. Gb.1. Proses Pemilahan Sampah Gb.2. Proses Pembuatan Kompos 2).
Pemanfaatan sampah anorganik, baik secara langsung maupun tidak langsung.
Pemanfaatan kembali secara langsung, misalnya pembuatan kerajinan yang berbahan
baku dari barang bekas, atau kertas daur ulang. Sedangkan pemanfaatan kembali
secara tidak langsung, misalnya menjual barang bekas seperti kertas, plastik, kaleng,
koran bekas, botol, gelas dan botol air minum dalam kemasan. c. Tempat Pembuangan
Sampah Akhir Sisa sampah yang tidak dapat dimanfaatkan secara ekonomis baik dari
kegiatan composting maupun pemanfaatan sampah anorganik, jumlahnya mencapai
10%, harus dibuang ke Tempat Pembuangan Sampah Akhir (TPA). Di Indonesia,
pengelolaan TPA menjadi tanggung jawab masing-masing Pemda. Dengan pengelolaan
sampah yang baik, sisa sampah akhir yang benar-benar tidak dapat dimanfaatkan lagi
hanya sebesar 10%. Kegiatan ini tentu saja akan menurunkan biaya pengangkutan
sampah bagi pengelola kawasan wisata alam, mengurangi luasan kebutuhan tempat
untuk lokasi TPS, serta memperkecil permasalahan sampah yang saat ini dihadapi oleh
banyak pemerintah daerah. Pengelolaan sampah yang dilakukan di kawasan wisata
alam, akan memberikan banyak manfaat, diantaranya adalah: a. Menjaga keindahan,
kebersihan dan estetika lingkungan kawasan sehingga menarik wisatawan untuk
berkunjung; b. Tidak memerlukan TPS yang luas, sehingga pengelola wisata dapat
mengoptimalkan penggunaan pemanfaatan kawasan; c. Mengurangi biaya angkut
sampah ke TPS; d. Mengurangi beban Pemda dalam mengelola sampah. B. Limbah
Plastik Nama plastik mewakili ribuan bahan yang berbeda sifat fisis, mekanis, dan
kimia. Secara garis besar plastik dapat digolongkan menjadi dua golongan besar, yakni
plastik yang bersifat thermoplastic dan yang bersifat thermoset. Thermoplastic dapat
dibentuk kembali dengan mudah dan diproses menjadi bentuk lain, sedangkan jenis
thermoset bila telah mengeras tidak dapat dilunakkan kembali. Plastik yang paling
umum digunakan dalam kehidupan sehari-hari adalah dalam bentuk thermoplastic.
Seiring dengan perkembangan teknologi, kebutuhan akan plastik terus meningkat. Data
BPS tahun 1999 menunjukkan bahwa volume perdagangan plastik impor Indonesia,
terutama polipropilena (PP) pada tahun 1995 sebesar 136.122,7 ton sedangkan pada
tahun 1999 sebesar 182.523,6 ton, sehingga dalam kurun waktu tersebut terjadi
peningkatan sebesar 34,15%. Jumlah tersebut diperkirakan akan terus meningkat pada
tahun-tahun selanjutnya. Sebagai konsekuensinya, peningkatan limbah plastikpun tidak
terelakkan. Menurut Hartono (1998) komposisi sampah atau limbah plastik yang
dibuang oleh setiap rumah tangga adalah 9,3% dari total sampah rumah tangga. Di
Jabotabek rata-rata setiap pabrik menghasilkan satu ton limbah plastik setiap
minggunya. Jumlah tersebut akan terus bertambah, disebabkan sifat-sifat yang dimiliki
plastik, antara lain tidak dapat membusuk, tidak terurai secara alami, tidak dapat
menyerap air, maupun tidak dapat berkarat, dan pada akhirnya akhirnya menjadi
masalah bagi lingkungan. (YBP, 1986). Plastik juga merupakan bahan anorganik buatan
yang tersusun dari bahan-bahan kimia yang cukup berahaya bagi lingkungan. Limbah

daripada plastik ini sangatlah sulit untuk diuraikan secara alami. Untuk menguraikan
sampah plastik itu sendiri membutuhkan kurang lebih 80 tahun agar dapat terdegradasi
secara sempurna. Oleh karena itu penggunaan bahan plastik dapat dikatakan tidak
bersahabat ataupun konservatif bagi lingkungan apabila digunakan tanpa
menggunakan batasan tertentu. Sedangkan di dalam kehidupan sehari-hari, khususnya
kita yang berada di Indonesia,penggunaan bahan plastik bisa kita temukan di hampir
seluruh aktivitas hidup kita. Padahal apabila kita sadar, kita mampu berbuat lebih untuk
hal ini yaitu dengan menggunakan kembali (reuse) kantung plastik yang disimpan di
rumah. Dengan demikian secara tidak langsung kita telah mengurangi limbah plastik
yang dapat terbuang percuma setelah digunakan (reduce). Atau bahkan lebih bagus
lagi jika kita dapat mendaur ulang plastik menjadi sesuatu yang lebih berguna (recycle).
Bayangkan saja jika kita berbelanja makanan di warung tiga kali sehari berarti dalam
satu bulan satu orang dapat menggunakan 90 kantung plastik yang seringkali dibuang
begitu saja. Jika setengah penduduk Indonesia melakukan hal itu maka akan terkumpul
90125 juta=11250 juta kantung plastik yang mencemari lingkungan. Berbeda jika
kondisi berjalan sebaliknya yaitu dengan penghematan kita dapat menekan hingga
nyaris 90% dari total sampah yang terbuang percuma. Namun fenomena yang terjadi
adalah penduduk Indonesia yang masih malu jika membawa kantung plastik kemanamana. Untuk informasi saja bahwa di supermarket negara China, setiap pengunjung
diwajibkan membawa kantung plastik sendiri dan apabila tidak membawa maka akan
dikenakan biaya tambahan atas plastik yang dikeluarkan pihak supermarket.
Pengelolaan Limbah Plastik Dengan Metode Recycle (Daur Ulang) Pemanfaatan
limbah plastik merupakan upaya menekan pembuangan plastik seminimal mungkin dan
dalam batas tertentu menghemat sumber daya dan mengurangi ketergantungan bahan
baku impor. Pemanfaatan limbah plastik dapat dilakukan dengan pemakaian kembali
(reuse) maupun daur ulang (recycle). Di Indonesia, pemanfaatan limbah plastik dalam
skala rumah tangga umumnya adalah dengan pemakaian kembali dengan keperluan
yang berbeda, misalnya tempat cat yang terbuat dari plastik digunakan untuk pot atau
ember. Sisi jelek pemakaian kembali, terutama dalam bentuk kemasan adalah sering
digunakan untuk pemalsuan produk seperti yang seringkali terjadi di kota-kota besar
(Syafitrie, 2001). Pemanfaatan limbah plastik dengan cara daur ulang umumnya
dilakukan oleh industri. Secara umum terdapat empat persyaratan agar suatu limbah
plastik dapat diproses oleh suatu industri, antara lain limbah harus dalam bentuk
tertentu sesuai kebutuhan (biji, pellet, serbuk, pecahan), limbah harus homogen, tidak
terkontaminasi, serta diupayakan tidak teroksidasi. Untuk mengatasi masalah tersebut,
sebelum digunakan limbah plastik diproses melalui tahapan sederhana, yaitu
pemisahan, pemotongan, pencucian, dan penghilangan zat-zat seperti besi dan
sebagainya (Sasse et al.,1995). Terdapat hal yang menguntungkan dalam pemanfaatan
limbah plastik di Indonesia dibandingkan negara maju. Hal ini dimungkinkan karena
pemisahan secara manual yang dianggap tidak mungkin dilakukan di negara maju,
dapat dilakukan di Indonesia yang mempunyai tenaga kerja melimpah sehingga

pemisahan tidak perlu dilakukan dengan peralatan canggih yang memerlukan biaya
tinggi. Kondisi ini memungkinkan berkembangnya industri daur ulang plastik di
Indonesia (Syafitrie, 2001). Pemanfaatan plastik daur ulang dalam pembuatan kembali
barang-barang plastik telah berkembang pesat. Hampir seluruh jenis limbah plastik
(80%) dapat diproses kembali menjadi barang semula walaupun harus dilakukan
pencampuran dengan bahan baku baru dan additive untuk meningkatkan kualitas
(Syafitrie, 2001). Menurut Hartono (1998) empat jenis limbah plastik yang populer dan
laku di pasaran yaitu polietilena (PE), High Density Polyethylene (HDPE), polipropilena
(PP), dan asoi. Plastik Daur Ulang Sebagai Matriks Di Indonesia, plastik daur ulang
sebagian besar dimanfaatkan kembali sebagai produk semula dengan kualitas yang
lebih rendah. Pemanfaatan plastik daur ulang sebagai bahan konstruksi masih sangat
jarang ditemui. Pada tahun 1980 an, di Inggris dan Italia plastik daur ulang telah
digunakan untuk membuat tiang telepon sebagai pengganti tiang-tiang kayu atau besi.
Di Swedia plastik daur ulang dimanfaatkan sebagai bata plastik untuk pembuatan
bangunan bertingkat, karena ringan serta lebih kuat dibandingkan bata yang umum
dipakai (YBP, 1986). Pemanfaatan plastik daur ulang dalam bidang komposit kayu di
Indonesia masih terbatas pada tahap penelitian. Ada dua strategi dalam pembuatan
komposit kayu dengan memanfaatkan plastik, pertama plastik dijadikan sebagai binder
sedangkan kayu sebagai komponen utama; kedua kayu dijadikan bahan pengisi/filler
dan plastik sebagai matriksnya. Penelitian mengenai pemanfaatan plastik polipropilena
daur ulang sebagai substitusi perekat termoset dalam pembuatan papan partikel telah
dilakukan oleh Febrianto dkk (2001). Produk papan partikel yang dihasilkan memiliki
stabilitas dimensi dan kekuatan mekanis yang tinggi dibandingkan dengan papan
partikel konvensional. Penelitian plastik daur ulang sebagai matriks komposit kayu
plastik dilakukan Setyawati (2003) dan Sulaeman (2003) dengan menggunakan plastik
polipropilena daur ulang. Dalam pembuatan komposit kayu plastik daur ulang, beberapa
polimer termoplastik dapat digunakan sebagai matriks, tetapi dibatasi oleh rendahnya
temperatur permulaan dan pemanasan dekomposisi kayu (lebih kurang 200C).
Penanganan dan Pengolahan Limbah Rumah Sakit Kegiatan rumah sakit
menghasilkan berbagai macam limbah yang berupa benda cair, padat dan
gas.Pengelolaan limbah rumah sakit adalah bagian dari kegiatan penyehatan
lingkungan di rumah sakit yang bertujuan untuk melindungi masyarakat dari bahaya
pencemaran lingkungan yang bersumber dari limbah rumah sakit. Sebagaimana
termaktub dalam Undang-undang No. 9 tahun 1990 tentang Pokok-pokok Kesehatan,
bahwa setiap warga berhak memperoleh derajat kesehatan yang setinggi-tingginya.
Ketentuan tersebut menjadi dasar bagi pemerintah untuk menyelenggarakan kegiatan
yang berupa pencegahan dan pemberantasan penyakit, pencegahan dan
penanggulangan pencemaran, pemulihan kesehatan, penerangan dan pendidikan
kesehatan kepada masyarakat (Siregar, 2001). Upaya perbaikan kesehatan masyarakat
dapat dilakukan melalui berbagai macam cara, yaitu pencegahan dan pemberantasan
penyakit menular, penyehatan lingkungan, perbaikan gizi, penyediaan air bersih,

penyuluhan kesehatan serta pelayanan kesehatan ibu dan anak. Selain itu,
perlindungan terhadap bahaya pencemaran lingkungan juga perlu diberi perhatian
khusus (Said dan Ineza, 2002). Rumah sakit merupakan sarana upaya perbaikan
kesehatan yang melaksanakan pelayanan kesehatan dan dapat dimanfaatkan pula
sebagai lembaga pendidikan tenaga kesehatan dan penelitian. Pelayanan kesehatan
yang dilakukan rumah sakit berupa kegiatan penyembuhan penderita dan pemulihan
keadaan cacat badan serta jiwa (Said dan Ineza, 2002). Kegiatan rumah sakit
menghasilkan berbagai macam limbah yang berupa benda cair, padat dan gas.
Pengelolaan limbah rumah sakit adalah bagian dari kegiatan penyehatan lingkungan di
rumah sakit yang bertujuan untuk melindungi masyarakat dari bahaya pencemaran
lingkungan yang bersumber dari limbah rumah sakit. Unsur-unsur yang terkait dengan
penyelenggaraan kegiatan pelayanan rumah sakit (termasuk pengelolaan limbahnya),
yaitu (Giyatmi. 2003) : * Pemrakarsa atau penanggung jawab rumah sakit. * Pengguna
jasa pelayanan rumah sakit. * Para ahli, pakar dan lembaga yang dapat memberikan
saran-saran. * Para pengusaha dan swasta yang dapat menyediakan sarana dan
fasilitas yang diperlukan. Upaya pengelolaan limbah rumah sakit telah dilaksanakan
dengan menyiapkan perangkat lunaknya yang berupa peraturan-peraturan, pedomanpedoman dan kebijakan-kebijakan yang mengatur pengelolaan dan peningkatan
kesehatan di lingkungan rumah sakit. Di samping itu secara bertahap dan
berkesinambungan Departemen Kesehatan mengupayakan instalasi pengelolaan
limbah rumah sakit. Sehingga sampai saat ini sebagian rumah sakit pemerintah telah
dilengkapi dengan fasilitas pengelolaan limbah, meskipun perlu untuk disempurnakan.
Namun harus disadari bahwa pengelolaan limbah rumah sakit masih perlu ditingkatkan
lagi (Barlin, 1995). Peranan Rumah Sakit Dalam Pengelolaan Limbah Rumah sakit
adalah sarana upaya kesehatan yang menyelenggarakan upaya pelayanan kesehatan
yang meliputi pelayanan rawat jalan, rawat nginap, pelayanan gawat darurat, pelayanan
medik dan non medik yang dalam melakukan proses kegiatan hasilnya dapat
mempengaruhi lingkungan sosial, budaya dan dalam menyelenggarakan upaya
dimaksud dapat mempergunakan teknologi yang diperkirakan mempunyai potensi
besar terhadap lingkungan (Agustiani dkk, 1998). Limbah yang dihasilkan rumah sakit
dapat membahayakan kesehatan masyarakat, yaitu limbah berupa virus dan kuman
yang berasal dan Laboratorium Virologi dan Mikrobiologi yang sampai saat ini belum
ada alat penangkalnya sehingga sulit untuk dideteksi. Limbah cair dan Iimbah padat
yang berasal dan rumah sakit dapat berfungsi sebagai media penyebaran gangguan
atau penyakit bagi para petugas, penderita maupun masyarakat. Gangguan tersebut
dapat berupa pencemaran udara, pencemaran air, tanah, pencemaran makanan dan
minunian. Pencemaran tersebut merupakan agen agen kesehatan lingkungan yang
dapat mempunyai dampak besar terhadap manusia (Agustiani dkk, 1998). Undangundang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Pokok-Pokok Kesehatan menyebutkan bahwa
setiap warga negara Indonesia berhak memperoleh derajat kesehatan yang setinggitingginya. Oleh karena itu Pemerintah menyelenggarakan usaha-usaha dalam lapangan

pencegahan dan pemberantasan penyakitpencegahan dan penanggulangan


pencemaran, pemulihan kesehatan, penerangan dan pendidikan kesehatan pada rakyat
dan lain sebagainya (Karmana dkk, 2003). Usaha peningkatan dan pemeliharaan
kesehatan harus dilakukan secara terus menerus, sesuai dengan perkembangan ilmu
pengetahuan di bidang kesehatan, maka usaha pencegahan dan penanggulangan
pencemaran diharapkan mengalami kemajuan. Adapun cara-cara pencegahan dan
penanggulangan pencemaran limbah rumah sakit antara lain adalah melalui (Karmana
dkk, 2003) : * Proses pengelolaan limbah padat rumah sakit. * Proses mencegah
pencemaran makanan di rumah sakit. Sarana pengolahan/pembuangan limbah cair
rumah sakit pada dasarnya berfungsi menerima limbah cair yang berasal dari berbagai
alat sanitair, menyalurkan melalui instalasi saluran pembuangan dalam gedung
selanjutnya melalui instalasi saluran pembuangan di luar gedung menuju instalasi
pengolahan buangan cair. Dari instalasi limbah, cairan yang sudah diolah mengalir
saluran pembuangan ke perembesan tanah atau ke saluran pembuangan kota
(Sabayang dkk, 1996). Limbah padat yang berasal dari bangsal-bangsal, dapur, kamar
operasi dan lain sebagainya baik yang medis maupun non medis perlu
dikelola..............................................................................................