Anda di halaman 1dari 1

Apakah PT.

Pertamina dalam proyek perubahan logo telah mendiskriminasikan pelaku


usaha lain dengan memperlakukan LANDOR secara istimewa?
Dalam rangka memperbaiki citra dan menyesuaikan visi dan misi perusahaan maka Direksi PT. Pertamina
mengeluarkan kebijakan mengubah logo perusahaan. Hal ini sesuai dengan wewenang Direksi yang diatur dalam
pasal 11 anggaran dasar Pertamina. Untuk itu direncanakan untuk me-launching logo baru pada tanggal 10
Desember 2004 pada saat ulang tahun PT. Pertamina. Struktur pasar penyedia jasa pembuatan logo di Indonesia
dapat dilakukan oleh semua pelaku usaha yang mempunyai keahlian di bidang desain graphis. Di antara pelaku
tersebut , perusahaan yang menfokuskan kegiatan usahanya dalam bidang perancangan logo dan strategi
pengembangannya adalah perusahaan branding consultant yang memiliki kompetensi untuk melakukan brand
audit dan strategi pengembangannya, explorasi atau penggalian konsep untuk logo baru, pengembangan logo baru
yang telah dipilih dan desain aplikasinya serta membuat buku panduan yang dapat digunakan sebagai
petunjuk/pedoman dalam implementasi logo baru. LANDOR adalah perusahaan konsultan merek dan desain
terkemuka di dunia. Penunjukan langsung LANDOR sebagai desain logo pertamina tidak sesuai dengan ketentuan
SK Direksi Pertamina tentang pengadaan barang dan jasa karena:
a)Tidak dibenarkan, karena alasan mendesak saat peluncuran atau launcing logo baru PT. Pertamina ternyata
dilakukan pada 10 Desember 2005. Dengan demikian ada waktu kurang lebih 13 bulan sejak Direksi menunjuk
LANDOR.
b) Tidak benar alasan bahwa pengadaan barang dan jasa khusus karena LANDOR bukanlah konsultan komunikasi
dan

ruang

lingkup

pekerjaan

LANDOR

tidak

termasuk

penyediaan

jasa

konsultan

komunikasi.

c)Tidak benar LANDOR tidak bersedia ikut beauty contest karena dalam pembuatan logo Indosat dan bank BNI
yang

dimenangkan LANDOR melalui proses tender.


PT. Pertamina tidak berusaha mencari perusahaan pembuat logo pembanding. Bahkan sebenarnya PT.

Interbrand Indonesia yang pernah mengajukan penawaran logo kepada PT. Pertamina seharga Rp. 2 Milyar, pada
tahun 2000 yang lebih murah dibanding tawaran LANDOR telah mengerjakan logo produk PT. Pertamina yaitu
Pertamax, Pertamax Plus dan Pelumas Prima XP.
Dalam Pasal 19 huruf d UU No.5 tahun 1999 menjelaskan bahwa Pelaku usaha dilarang melakukan satu atau
beberapa kegiatan baik sendiri maupun dengan pelaku usaha lain yang dapat mengakibatkan terjadinya praktek
monopoli dan atau persaingan tidak sehat berupa: Melakukan praktek diskriminasi terhadap pelaku usaha tertentu.
Dampak penunjukan langsung LANDOR adalah Menghilangkan kesempatan kepada perusahaan lain pembuat logo
untuk menambah klien dan meningkatkan reputasi. Pihak KPPU(Komisi Pengawas Persaingan Usaha) hanya
mengenakan sanksi kepada PT. Pertamina, dan menyatakan PT PERTAMINA (Persero) secara sah dan meyakinkan
melanggar Pasal 19 huruf d Undang-undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan
Usaha Tidak Sehat karena menunjuk secara langsung LANDOR untuk pembuatan logo PT PERTAMINA (Persero)
tanpa alasan yang Sah dan Menghukum PT PERTAMINA (Persero) untuk membayar denda sebesar Rp.
1.000.000.000,- (satu milyar rupiah) yang harus disetorkan ke kas negara sebagai setoran penerimaan negara bukan
pajak Departemen Keuangan Direktorat Jenderal Perbendaharaan Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara.