Anda di halaman 1dari 11

MAKALAH

ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN PERDARAHAN PADA KEHAMILAN:


SOLUSIO PLASENTA
DAN
PLASENTA PREVIA

Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah:


Keperawatan Maternitas

Disusun oleh :
Faisol
Iing Kurniawan

AKADEMI KEPERAWATAN YATNA YUANA LEBAK


Jl. Jenderal Sudirman Km. 2 Rangkasbitung Lebak - Banten
2015
BAB I
PENDAHULUAN
Perdarahan pada kehamilan harus selalu dianggap sebagai kelainan yang berbahaya.
Perdarahan pada kehamilan muda disebut keguguran atau abortus, sedangkan pada k
ehamilan tua disebut perdarahan antepartum Perdarahan antepartum biasanya dibata
si pada perdarahan jalan lahir setelah kehamilan 22 minggu, walaupun patologi ya
ng sama dapat pula terjadi pada kehamilan sebelum 22 minggu.
Perdarahan antepartum yang berbahaya umumnya bersumber pada kelainan plasenta, s
edangkan perdarahan yang tidak bersumber pada kelainan plasenta seperti kelainan
serviks biasanya tidak terlalu berbahaya. Pada setiap perdarahan anteparum yang
harus dipikirkan pertama kali adalah bahwa perdarahan itu bersumber pada kelain
an plasenta. Perdarahan antepartum yang bersumber pada kelainan plasenta, yang s
ecara klinis biasanya tidak terlalu sulit untuk menentukannya, ialah plasenta pr
evia, dan solusio plasenta (atau abrupsio plasenta).
Perdarahan antepartum yang belum jelas sumbernya itu mungkin disebabkan oleh rup
tura sinus marginalis yang biasanya tanda dan gejalanya tidak seberapa khas. Mug
kin juga karena plasenta letak rendah atau vasa previa. Plasenta letak rendah ba
ru menimbulkan perdarahan antepartum pada akhir kehamilan atau pada permulaan pe
rsalinan. Vasa previa baru menimbulkan perdarahan anteprtum setelah pemecahan se
laput ketuban. Perdarahan yang bersumber pada kelainan serviks dan vagina biasan
ya dapat diketahui apabila dilakukan pemeriksaan dengan spekulum yang seksama.
Perdarahan antepartum tanpa rasa nyeri merupakan tanda khas plasenta previa, apa
lagi kalau disertai tanda-tanda lainnya, seperti bagian terbawah janin belum mas
uk ke dalam pintu atas panggul, atau kelainan letak janin. Lain halnya dengan so
lusio plasenta. Kejadiannya tidak segera ditandai oleh perdarahan pervaginam. Ge
jala pertamanya ialah rasa nyeri pada kandungan yang makin lama makin hebat, dan
berlangsung terusmenerus.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
A.
Konsep Media
1.
Solusio Plasenta
a.
Definisi
Terlepasnya sebagian atau seluruh permukaan maternal plasenta dari tempat implan
tasinya yang normal pada sebelum waktunya yakni antara minggu 20 dan lahirnya an
ak. Plasenta secara normal terlepas setelah bayi lahir Nama lain yang sering dip
ergunakan, yaitu abruptio placentae, ablatio placentae, accidental haemorrhage,
premature separation of the normally implanted placenta.
Gambar 2.1 Solusio Plasenta
b.
Klasifikasi
Plasenta dapat terlepas hanya pada pinggirnya saja (ruptura sinus marginalis), d
apat pula terlepas lebih luas (solusio plasenta parsialis), atau bisa seluruh pe
rmukaan maternal plasenta terlepas (solusio plasenta totalis). Perdarahan yang t
erjadi akan merembes antara plasenta dan miometrium untuk seterusnya menyelinap
di bawah selaput ketuban dan akhirnya memperoleh jalan ke kanalis servikalis dan
keluar melalui vagina, menyebabkan perdarahan eksternal (revealed hemorrhage)
Secara klinis solusio plasenta dibagi ke dalam berat ringannya gambaran klinik s
esuai dengan luasnya permukaan plasneta yang terlepas, yaitu solusio plasenta ri
ngan, sedang, dan berat.
1)
Solusio plasenta ringan
Luas plasenta yang terlepas tidak sampai 25% atau ada yang menyebutkan kurang da
ri 1/6 bagian. Jumlah darah yang keluar biasanya kurang dari 250 ml. Gejala-geja
la sukar dibedakan dari plasenta previa kecuali warna darah yang kehitamam. Komp
likasi terhadap ibu dan janin belum ada.
Solusio plasenta ringan jarang ditemukan di RS. Pada umumnya didiagnosis secara
kebetulan pada pemeriksaaan USG oleh karena tidak memberikan gejala klinik yang
khas. Apabila kehamilannya kurang dari 36 minggu dan perdarahan kemudian berhent
i, perut tidak menjadi nyeri, dna uterus tidak tegang, maka penderita harus diob
servasi dengan ketat. Apabila perdarahan berlangsung terus dan gejala solusio pl
asenta bertambah jelas atau dengan pemeriksaan USG daerah solusio plasenta berta
mbah luas maka dilakukan terminasi kehamilan
2)
Solusio Plasenta Sedang
Luas plasenta yang terlepas telah melebihi 25%, namun belum mencapai separuhnya
(50%). Jumlah darah yang keluar lebih banyak dari 250 ml tetapi belum mencapai 1
000 ml. Gejala-gejala dan tanda-tanda sudah jelas seperti nyeri pada perut yang
terus-menerus, denyut janin menjadi cepat, hipotensi, dan takikardi.
3)
Solusio Plasenta Berat
Luas plasenta yang terlepas sudah melebihi 50%, dan jumlah darah yang keluar mel
ebihi 1000 ml. Gejala dan tanda klinik jelas, keadaan umum disertai syok, dan ha
mpir semua janinnya telah meninggal. Komplikasi koagulopati dan gagal ginjal yan
g ditandai pada oligouri biasanya telah ada.
c.
Etiologi
Sebab primer dari solusio plasenta tidak diketahui , tetapi terdapat beberapa ke
adaan patologik yang terlihat lebih sering bersama dengan atau menyertai solusio
plasenta dan dianggap sebagai faktor risiko, seperti hipertensi, riwayat trauma
, kebiasaan merokok, usia ibu, dan paritas yang tinggi.
d.
Patofisiologi
Solusio plasenta merupakan hasil akhir dari suatu proses yang bermula dari suatu
keadaan yang mampu memisahkan vili-vili korialis plasenta dari tempat implantas
inya pada desidua basalis sehingga terjadi perdarahan. Oleh karena itu patofisio
loginya bergantung pada etiologi. Pada trauma abdomen etiologinya jelas karena r
obeknya pembuluh darah desidua.
Dalam banyak kejadian perdarahan berasal dari kematian sel (apoptosis) yang dise
babkan oleh iskemia dan hipoksia. Semua penyakit ibu yang dapat menyebabkan pemb

entukan trombosis dalam pembuluh darah desidua atau dalam vaskular vili dapat be
rujung kepada iskemia dan hipoksia setempat yang menyebabkan kematian sejumlah s
el dan mengakibatkan perdarahan sebagai hasil akhir. Perdarahan tersebut menyeba
bkan desidua basalis terlepas kecuali selapisan tipis yang tetap melekat pada mi
ometrium. Dengan demikian, pada tingkat permulaan sekali dari proses terdiri ata
s pembentukan hematom yang bisa menyebabkan pelepasan yang lebih luas, kompresi
dan kerusakan pada bagian plasenta yang berdekatan. Pada awalnya mungkin belum a
da gejala kecuali terdapat hematom pada bagian belakang plasenta yang baru lahir
. Dalam beberapa kejadian pembentukan hematom retroplasenta disebabkan oleh putu
snya arteria spiralis dalam desidua. Hematoma retroplasenta mempengaruhi penyamp
aian nutrisi dan oksigen dari sirkulasi maternal/plasenta ke sirkulasi janin. He
matoma yang terbentuk dengan cepat meluas dan melepaskan plasenta lebih luas/ban
yak sampai ke pinggirnya sehingga darah yang keluar merembes antara selaput ketu
ban dan miometrium dan selanjutnya keluar melalui serviks ke vagina (revealed he
morrhage). Perdarahan tidak bisa berhenti karena uterus yang lagi mengandung tid
ak mampu berkontraksi untuk menjepit pembuluh arteria spiralis yang terputus. Wa
laupun jarang terdapat perdarahan tinggal terperangkap di dalam uterus (conceale
d hemorrhage).
e.
Gejala Klinik
Gejala dan tanda klinis yang klasik dari solusio plasenta adalah terjadinya perd
arahan yang berwarna tua keluar melalui vagina (80% kasus), nyeri perut dan uter
us tegang terus-menerus mirip his partus prematurus2.
Gejala dan tanda pada solusio plasenta sedang seperti rasa nyeri pada perut yang
terus-menerus, denyut jantung janin biasanya telah menunjukkan gawat janin, per
darahan yang keluar tampak lebih banyak, takikardia, hipotensi, kulit dingin, ol
iguria mulai ada, kadar fibrinogen berkurang antara 150-250 mg/100 ml, dan mungk
in kelainan pembekuan darah dan gangguan fungsi ginjal sudah mulai ada. Rasa nye
ri bersifat menetap, tidak hilang timbul seperti pada his yang normal. Perdaraha
n pervaginam jelas dan berwarna kehitaman. Pada pemantauan keadaan janin dengan
kardiotokografi bisa jadi telah ada deselerasi lambat. Perlu dilakukan tes gangg
uan pembekuan darah.
Pada solusio plasenta berat perut sangat nyeri dan tegang serta keras seperti p
apan (defence musculare) disertai perdarahan berwarna hitam. Oleh karena itu, pa
lpasi bagian-bagian janin tidak mungkin dilakukan. Fundus uteri lebih tinggi dar
ipada yang seharusnya karena telah terjadi penumpukan darah di dalam uterus pada
kategori concealed hemorrhage. Jika dalam masa observasi tinggi fundus bertamba
h lagi berarti perdarahan baru masih berlangsung. Pada inspeksi rahim terlihat m
embulat dan kulit di atasnya kencang. Pada auskultasi denyut jantung janin tidak
terdengar lagi akibat gangguan anatomik dan fungsi plasenta. Keadaan umum menja
di buruk disertai syok. Adakalanya keadaan umum ibu jauh lebih buruk dibandingka
n perdarahan yang tidak seberapa keluar dari vagina. Kadar fibrinogen darah rend
ah yaitu kurang dari 150 mg% dan telah ada tromobositopenia.
f.
Diagnosis Klinik
Dalam banyak hal diagnosis bisa ditegakkan berdasarkan gejala dan tanda klinik y
aitu perdarahan melalui vagina, nyeri pada uterus, dan pada solusio plasenta yan
g berat terdapat kelainan denyut jantung janin pada pemeriksaan dengan KTG. Namu
n kadang pasien datang dengan gejala perdarahan tidak banyak dengan perut tegang
an tetapi janin telah meninggal. Diagnosis pasti hanya bisa ditegakkan dengan me
lihat adanya perdarahan retroplasenta setelah partus.
Pada kasus solusio plasenta yang parah, diagnosis biasanya jelas. Bentuk-bentuk
solusio yang lebih ringan dan lebih sering terjadi sulit diketahui dengan pasti
dan diagnosis sering ditegakkan berdasarkan eksklusi. Karena itu, pada kehamilan
variabel dengan penyulit perdarahan pervaginam, perlu menyingkirkan plasenta pr
evia dan penyebab lain perdarahan dengan pemeriksaan klinis dan evaluasi USG. Te
lah lama diajarkan, mungkin dengan beberapa pembenaran, bahwa perdarahan uterus
yang nyeri adalah solusio plasenta sementara perdarahan uterus yang tidak nyeri
mengindikasikan plasenta previa.

g.
Komplikasi
Komplikasi solusio plasenta berasal dari perdarahan retroplasenta yang terus ber
langsung sehingga menimbulkan berbagai akibat pada ibu seperti anemia, syok hipo
volemik, insufisiensi fungsi plasenta, gangguan pembekuan darah, gagal ginjal. S
indroma Sheehan terdapat pada beberapa penderita yang terhindar dari kematian se
telah menderita syok yang berlangsung lama yang menyebabkan iskemia dan nekrosis
adenohipofisis sebagai akibat solusio plasenta.
Kematian janin, kelahiran prematur dan kematian perinatal merupakan komplikasi y
ang paling sering terjadi pada solusio plasenta. Solusio plasenta berulang dilap
orkan juga bisa terjadi pada 25% perempuan yang pernah menderita solusio plasent
a sebelumnya. Solusio plasenta kronik dilaporkan juga sering terjadi di mana pro
ses pembentukan hematom retroplasenta berhenti tanpa dijelang oleh persalinan. K
omplikasi koagulopati dijelaskan sebagai berikut. Hematoma retroplasenta yang te
rbentuk mengakibatkan pelepasan retroplasenta berhenti ke dalam peredaran darah.
Tromboplastin bekerja mempercepat perombakan protrombin menjadi trombin. Trombi
n yang terbentuk dipakai untuk mengubah fibrinogen menjadi fibrin untuk membentu
k lebih banyak bekuan utama pada solusio plasenta berat. Melalui mekanisme ini a
pabila pelepasan tromboplastin cukup banyak dapat menyebabkan terjadi pembekuan
darah intravaskular yang luas (disseminated intravascular coagulation) yang sema
kin menguras persediaan fibrinogen dan faktor-faktor pembekuan lain.
Curah jantung yang menurun dan kekakuan pembuluh darah ginjal akibat tekanan int
rauterina yang meninggi menyebabkan perfusi ginjal sangat menurun dan menyebabka
n anoksia. Keadaan umum yang terjadi adalah nekrosis tubulus-tubulus ginjal seca
ra akut menyebabkan kegagalan fungsi ginjal.
Mungkin terjadi ekstravasasi luas darah ke dalam otot uterus dan di bawah lapisa
n serosa uterus yang disebut sebagai apopleksio uteroplasental ini, yang pertama
kalinya dilaporkan oleh Couvelaire pada awal tahun 1900-an, sekarang sering dis
ebut sebagai uterus couvelaire. Pada keadaan ini perdarahan retroplasenta menyeb
abkan darah menerobos melalui sela-sela serabut miometrium dan bahkan bisa sampa
i ke bawah perimetrium dan ke dalam jaringan pengikat ligamentum latum, ke dalam
ovarium bahkan bisa mengalir sampai ke rongga pernitonei. Perdarahan miometrium
ini jarang sampai mengganggu kontraksi uterus sehingga terjadi perdarahan postp
artum berat dan bukan merupakan indikasi untuk histerektomi.
h.
Penanganan
Terapi solusio plasenta akan berbeda-beda tergantung pada usia kehamilan serta s
tatus ibu dan janin. Pada janin yang hidup dan matur, dan apabila persalinan per
vaginam tidak terjadi dalam waktu dekat, sebagian besar akan memilih seksio sesa
ria darurat.
2.
Plasenta Previa
a
Definisi
Plasenta previa adalah posisi plasenta yang berada di segmen bawah uterus, baik
posterior maupun anterior, sehingga perkembangan plasenta yang sempurna menutupi
os serviks (Varney, Helen, 2006).
Plasenta previa adalah plasenta yang berimplantasi pada segmen bawah rahim sedem
ikian rupa sehingga menutupi seluruh atau sebagian dari ostium uteri internum.
Gambar 2.2 : Perbandinag Janin Normal dengan Placenta Previa
b
Klasifikasi
1)
Plasenta previa totalis. Adalah plasenta yang menutupi seluruh osteum ut
eri internum pada pembukaan 4 cm. Disebut plasenta previa sentralis apabila pusa
t plasenta bersamaan dengan sentral kanalis servikalis.
2)
Plasenta previa parsialis. Adalah plasenta yang menutupi sebagian osteum
uteri internum.
3)
Plasenta previa marginalis. Apabila tepi plasenta berada sekitar pingir
osteum uteri internum.

c
Patofisiologi
Pada usia kehamilan yang lanjut, umumnya pada trimester ketiga dan mungkin juga
lebih awal, oleh karena telah mulai terbentuknya segmen bawah rahim, tapak plase
nta akan mengalami pelepasan. Sebagaimana diketahui tapak plasenta terbentuk dar
i jaringan maternal yaitu bagian desidua basalis yang bertumbuh tinggi menjadi b
agian dari uri. Dengan melebarnya isthmus uteri menjadi segmen bawah rahim, maka
plasenta yang berimplantasi disitu sedikit banyak akan mengalami laserasi akiba
t pelepasan pada desidua sebagai tapak plasenta. Demikian pula pada waktu servik
s mendatar (effacement) dan membuka (dilatation) ada bagian tapak plasenta yang
terlepas. Pada tempat laserasi itu akan terjadi perdarahan yang berasal dari sir
kulasi maternal yaitu dari ruangan intervillus dari plasenta. Oleh karena fenome
na pembentukan segmen bawah rahim itu perdarahan pada plasenta previa pasti akan
terjadi (unavoidable bleeding). Perdarahan di tempat itu relatif dipermudah dan
diperbanyak oleh karena segmen bawah rahim dan serviks tidak mampu berkontraksi
dengan kuat karena elemen otot yang dimilikinya sangat minimal, dengan akibat p
embuluh darah pada tempat itu tidak akan tertutup dengan sempurna. Perdarahan ak
an berhenti karena terjadi pembekuan kecuali jika ada laserasi mengenai sinus ya
ng besar dari plasenta pada mana perdarahan akan akan berlangsung lebih banyak d
an lebih lama. Oleh karena pembentukan segmen bawah rahim itu akan berlangsung p
rogresif dan bertahap, maka laserasi baru akan mengulang kejadian perdarahan. De
mikianlah perdarahan akan berulang tanpa sesuatu sebab lain (causeless). Darah y
ang keluar berwarna merah segar tanpa rasa nyeri (painless). Pada plasenta yang
menutupi seluruh ostium uteri internum perdarahan terjadi lebih awal dalam keham
ilan oleh karena segmen bawah rahim terbentuk lebih dahulu pada bagian terbawah
yaitu ostium uteri internum. Sebaliknya, pada plasenta previa parsialis atau let
ak rendah, perdarahan baru terjadi pada waktu mendekati atau mulai persalinan. P
erdarahan pertama biasanya sedikit tetapi cenderung lebih banyak pada perdarahan
berikutnya. Untuk berjaga-jaga mencegah syok hal tersebut perlu dipertimbangkan
. Perdarahan pertama sudah bisa terjadi pada kehamilan di bawah 30 minggu tetapi
lebih separuh kejadiannya pada umur kehamilan 34 minggu keatas. Berhubung tempa
t perdarahan terletak dekat ostium uteri internum, maka perdarahan lebih mudah m
engalir keluar rahim dan tidak membentuk hematoma retroplasenta yang mampu merus
ak jaringan lebih luas dan melepaskan tromboplastin kedalam sirkulasi maternal.
Dengan demikian, sangat jarang terjadi koagulopati pada plasenta previa.
Hal lain yang perlu diperhatikan adalah dinding segmen bawah rahim yang tipis mu
dah diinvasi oleh pertumbuhan vili dari trofoblas, akibatnya plasenta melekat le
bih kuat pada dinding uterus. Lebih sering terjadi pada plasenta akreta dan plse
nta inkreta, bahkan plasenta perkreta yang pertumbuhan vilinya bisa menembus ke
buli-buli dan ke rektum bersama plasenta previa. Plasenta akreta dan inkreta leb
ih sering terjadi pada uterus yang sebelumnya pernah bedah sesar. Segmen bawah r
ahim dan serviks yang rapuh mudah robek oleh sebab kurangnya elemen otot yang te
rjadi disana. Kedua kondisi ini berpotensi meningkatkan kejadian perdarahan pasc
apersalinan pada plasenta previa, misalnya dalam kala tiga karena plasenta sukar
melepas dengan sempurna (retentio placentae), atau setelah uri lepas karena seg
men bawah rahim tidak mampu berkontraksi dengan baik.
Plasenta previa adalah implantasi plasenta di segmen bawah rahim sehingga menutu
pi kanalis servikalis dan mengganggu proses persalinan dengan terjadinya perdara
han.
Implantasi plasenta di segmen bawah rahim dapat disebabkan:
1)
Endometrium di fundus uteri belum siap menerima implantasi.
2)
Endometrium yang tipis sehingga diperlukan perluasan plasenta untuk mamp
u memberikan nutrisi janin.
3)
Vili korealis pada korion leave yang persisten.
d
Tanda dan gejala
Gejala perdarahan awal plasenta previa, pada umumnya hanya berupa perdarahan ber
cak atau ringan dan pada umumnya berhenti secara spontan. Gejala tersebut, kadan
g-kadang terjadi pada waktu bangun tidur. Tidak jarang, perdarahan pervaginam ba
ru terjadi pada saat inpartu. Jumlah perdarahan yang terjadi, sangat tergantung
dari jenis plasenta previa.

Perdarahan tanpa rasa sakit, saat plasenta menjauh dari jangkauan bagian bawah r
ahim terkadang sebelum minggu ke 28 namun paling sering antara minggu ke 34 dan
38, merupakan tanda yang paling sering ditemui pada plasenta previa, dengan perk
iraan 7% sampai 30% wanita dengan posisi plasenta letak rendah sama sekali tidak
mengalami perdarahan sebelum melahirkan.
Perdarahan biasanya berwarna merah cerah, tidak ada rasa sakit atau perih pada d
aerah abdominal dan muncul tiba-tiba, tapi juga dipicu oleh batuk, rasa tegang,
atau hubungan seksual. Perdarahan bisa terasa ringan atau berat, dan terkadang d
atang dan pergi. Pada wanita yang tidak memiliki gejala, kondisi dapat ditemukan
melalui pemeriksaan rutin ultrasound atau tidak terdeteksi sampai menjelang per
salinan. Jika terjadi perdarahan dan diduga adanya plasenta previa, diagnosa bia
sanya dilakukan melalui ultasound.
e
Gambaran klinik
Perdarahan pada plasenta previa terjadi tanpa rasa sakit pada saat tidur atau se
dang melakukan aktifitas. Mekanisme perdarahan karena pembentukan segmen bawah r
ahim menjelang kehamilan aterm sehingga plasenta lepas dari implantasi dan menim
bulkan perdarahan. Bentuk perdarahan dapat sedikit atau banyak dan menimbulkan p
enyulit pada janin maupun ibu. Penyulit pada ibu dapat menimbulkan anemia sampai
syok. Sedangkan untuk janin dapat menimbulkan asfiksia sampai kematian janin da
lam rahim.
Implantasi plasenta di segmen bawah rahim menyebabakan bagian terendah tidak mun
gkin masuk pintu atas panggul atau menimbulkan kelainan letak janin dalam rahim.
f
Etiologi
Penyebab blastokista berimplantasi pada segmen bawah rahim belumlah diketahui de
ngan pasti. Mungkin secara kebetulan saja blastokista menimpa desidua di daerah
segmen bawah rahim tanpa latar belakang lain yang mungkin. Teori lain mengemukak
an sebagai salah satu penyebabnya adalah vaskularisasi desidua yang tidak memada
i, mungkin sebagai akibat dari proses radang atau atrofi. Paritas tinggi, usia l
anjut, cacat rahim misalnya bekas bedah sesar, kerokan, miomektomi, dan sebagain
ya berperan dalam proses peradangan dan kejadian atrofi di endometrium yang semu
anya dapat dipandang sebagai faktor risiko bagi terjadinya plasenta previa. Caca
t bekas bedah sesar berperan menaikkan
insiden dua sampai tiga kali. Pada perempuan perokok dijummpai insidensi plasent
a previa lebih tinggi 2 kali lipat. Hipoksemia akibat karbon monoksida hasil pem
bakaran rokok menyebabkan plasenta menjadi hipertrofi sebagai upaya kompensasi.
Plasenta yang terlalu besar seperti pada kehamilan ganda dan eristoblasis fetali
s bisa menyebabkan pertumbuhan plasenta melebar ke segmen bawah rahim sehingga m
enutupi sebagian atau seluruh ostium uteri internum.
g
Diagnosis
Pada setiap perdarahan antepartum, pertama kali harus dicurigai bahwa penyebabny
a ialah plasenta previa sampai kemudian ternyata dugaan itu salah.
Diagnosis plasenta previa ditegakkan berdasarkankan pada
gajala klinik, pemeriksaan khusus, dan pemeriksaan penunjang.
1)
Anamnesa plasenta previa
a)
Terjadi perdarahan pada kahamilan sekitar 28 minggu.
b)
Sifat perdarahan:
c)
Tanpa rasa sakit terjadi secara tiba-tiba.
d)
Tanpa sebab yang jelas.
e)
Dapat berulang.
f)
Perdarahan menimbulkan penyulit pada ibu maupun janin dalam rahim.
2)
Pada inspeksi dijumpai:
a)
Perdarahan pervaginam encer sampai bergumpal.
b)
Pada perdarahan banyak ibu tampak anemis.
3)
Pemeriksaan fisik ibu
a)
Dijumpai keadaan bervariasi dari keadaan normal sampai syok.
b)
Kesadaran penderita bervariasi dari kesadaran baik sampai koma.

c)
Pada pemeriksaan dapat dijumpai:
(1)
Tekanan darah, nadi, dan pernapasan dalam batas normal.
(2)
Tekanan darah turun, nadi dan pernapasan meningkat.
(3)
Daerah ujung (akral) menjadi dingin.
(4)
Tampak anemis.
4)
Pemeriksaan khusus kebidanan
a)
Pemeriksaan palpasi abdomen
(1)
Janin belum cukup bulan, tinggi fundus uteri sesuai dengan umur hamil.
(2)
Karena plasenta di segmen bawah rahim, maka dapat dijumpai kelainan leta
k janin dalam rahim dan bagian terendah masih tinggi.
b)
Pemeriksaan denyut jantung janin. Bervariasi dari normal sampai asfiksia
dan kematian dalam rahim.
c)
Pemeriksaan dalam. Pemeriksaan dalam dilakukan diatas meja operasi dan s
iap
untuk segera mengambil tindakan. Tujuan pemeriksaan dalam untuk:
(1)
Menegakkan diagnosis.
(2)
Mempersiapkan tindakan untuk melakukan operasi persalinan atau hanya mem
ecahkan ketuban.
d)
Pemeriksaan penunjang
(1)
Pemeriksaan ultasonografi.
(2)
Mengurangi pemeriksaan dalam.
(3)
Menegakkan diagnosis.
h
Penanganan.
Setiap ibu dengan perdarahan antepartum harus segara dikirim ke rumah sakit yang
memiliki fasilitas melakukan transfusi darah dan operasi. Perdarahan yang terja
di pertama kali jarang sekali, atau boleh dikatakan tidak pernah menyebabkan kem
atian, asal sebelumnya tidak diperiksa dalam. Biasanya masih terdapat cukup wakt
u untuk mengirimkan penderita ke rumah sakit, sebelum terjadi perdarahan berikut
nya yang hampir selalu akan lebih banyak daripada sebelumnya. Jangan sekali-seka
li melakukan pemeriksaan dalam kecuali dalam keadaan siap operasi. Pada tahun 19
45 Johnson dan Macafee mengumumkan cara baru penanganan pasif beberapa kasus pla
senta previa yang janinnya masih prematur dan perdarahannya tidak berbahaya, seh
ingga tidak diperlukan tindakan pengakhiran kehamilan segera. Pengalamannya memb
uktikan bahwa perdarahan pertama pada plasenta previa jarang sekali fatal apabil
a sebelumnya tidak dilakukan pemeriksaan dalam; dan perdarahan berikutnya pun ja
rang sekali fatal apabila sebelumnya ibu tidak menderita anemia dan tidak pernah
dilakukan pemeriksaan dalam. Atas dasar pengalaman itu, tindakan pengakhiran ke
hamilan untuk beberapa kasus tertentu dapat ditunda, sehingga janin dapat hidup
dalam kandungan lebih lama, dan dengan demikian, kemungkinan janin hidup di luar
kandungan lebih besar lagi.
Plasenta previa dengan perdarahan merupakan keadaan darurat kebidanan yang memer
lukan penanganan yang baik. Bentuk pertolongan plasenta previa adalah:
1)
Segera melakukan operasi persalinan untuk dapat menyelamatkan ibu dan an
ak atau untuk mengurangi kesakitan dan kematian.
2)
Memecahkan ketuban di atas meja operasi selanjutnya pengawasan untuk dap
at melakukan pertolongan lebih lanjut.
3)
Bidan yang menghadapi perdarahan plasenta previa dapat mengambil sikap m
elakukan rujukan ke tempat pertolongan yang mempunyai fasilitas cukup.
Dalam melakukan rujukan penderita plasenta previa sebaiknya dilengkapi dengan:
Pemasangan infus untuk mengimbangi perdarahan.
1)
Sedapat mungkin diantar oleh petugas.
2)
Dilengkapi dengan keterangan secukupnya.
3)
Dipersiapkan donor darah untuk transfusi darah.
Pertolongan persalinan seksio sesarea merupakan bentuk pertolongan yang paling b
anyak dilakukan.
B.
1.

Konsep Asuhan Keperawatan


Pengkajian

a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
1)
2)
3)
4)
i.
j.

Identitas
Keluhan Utama
Riwayat Haid
Riwayat Kehamilan
Riwayat Perkawinan
Riwayat Penyakit
Pola Kebiasaan sehari-hari
Pemeriksaan Maternal
Inspeksi
Palpasi
Auskultasi
Perkusi
Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan Penunjang

2.
Diagnosa
a.
Resiko anemia berhubungan dengan pendarahan pervaginam
b.
Kelelahan berhubungan dengan status penyakit perdarahan
c.
Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
penurunan nafsu makan dampak dari pendarahan
d.
Kecemasan berhubungan dengan status kehamilan karena pendarahan pervagin
am.

3.
Rencana Keperawatan
Diagnosa Keperawatan
Rencana keperawatan
Tujuan dan Kriteria Hasil
Intervensi
Resiko anemia berhubungan dengan pendarahan pervaginam NOC:
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam, tidak terdapat adanya ya
nda dan gejala anemia. dengan kriteria :
Tidak adanya letargi
Tidak adanya kelemahan
Tidak adanya keletihan
Tidak adanya peningkatan pucat
Tidak adanya dyspneu saat melakukan aktiitas
kadar Hb normal NIC :
Pantau tanda dan gejala anemia
Adanya letargi
Adanya kelemahan
Keletihan
Peningkatan pucat
Dyspneu saat melakukan aktiitas
Monitor kadar Hb
Kolaborasi perlunya pemberian transfusi
Kelelahan berhubungan dengan
status penyakit perdarahan
NOC:
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam kelelahan pasien teratasi

dengan
elahan
-

kriteria hasil:
Kemampuan aktivitas adekuat
Mempertahankan nutrisi adekuat
Keseimbangan aktivitas dan istirahat
Menggunakan tehnik energi konservasi
Mempertahankan interaksi sosial
Mengidentifikasi faktor-faktor fisik dan psikologis yang menyebabkan kel

Mempertahankan kemampuan untuk konsentrasi


NIC :
Monitor respon kardiorespirasi terhadap aktivitas (takikardi, disritmia,
dispneu, diaphoresis, pucat, tekanan hemodinamik dan jumlah respirasi)
Monitor dan catat pola dan jumlah tidur pasien
Monitor lokasi ketidaknyamanan atau nyeri selama bergerak dan aktivitas
Monitor intake nutrisi
Monitor pemberian dan efek samping obat depresi
Instruksikan pada pasien untuk mencatat tanda-tanda dan gejala kelelahan
Ajarkan tehnik dan manajemen aktivitas untuk mencegah kelelahan
NIC :
Jelaskan pada pasien hubungan kelelahan dengan proses penyakit
Kolaborasi dengan ahli gizi tentang cara meningkatkan intake makanan tin
ggi energi
Dorong pasien dan keluarga mengekspresikan perasaannya
Catat aktivitas yang dapat meningkatkan kelelahan
Anjurkan pasien melakukan yang meningkatkan relaksasi (membaca, mendenga
rkan musik)
Tingkatkan pembatasan bedrest dan aktivitas
Batasi stimulasi lingkungan untuk memfasilitasi relaksasi
Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan penurun
an nafsu makan dampak dari pendarahan NOC:
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama3x 24 jam, nutrisi kurang teratasi
dengan indikator:
Albumin serum
Pre albumin serum
Hematokrit
Hemoglobin
Total iron binding capacity
Jumlah limfosit
Kaji adanya alergi makanan
Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori dan nutrisi y
ang dibutuhkan pasien
Yakinkan diet yang dimakan mengandung tinggi serat untuk mencegah konsti
pasi
Ajarkan pasien bagaimana membuat catatan makanan harian.
Monitor adanya penurunan BB dan gula darah
Monitor lingkungan selama makan
Jadwalkan pengobatan dan tindakan tidak selama jam makan
Monitor turgor kulit
Monitor kekeringan, rambut kusam, total protein, Hb dan kadar Ht
Monitor mual dan muntah
Monitor pucat, kemerahan, dan kekeringan jaringan konjungtiva
Monitor intake nuntrisi
Informasikan pada klien dan keluarga tentang manfaat nutrisi
Kolaborasi dengan dokter tentang kebutuhan suplemen makanan seperti NGT/
TPN sehingga intake cairan yang adekuat dapat dipertahankan.
Atur posisi semi fowler atau fowler tinggi selama makan
Kelola pemberan anti emetik:.....
Anjurkan banyak minum
Pertahankan terapi IV line

Catat adanya edema, hiperemik, hipertonik papila lidah dan cavitas oval

Kecemasan berhubungan dengan status kehamilan karena pendarahan pervaginam.


NOC :
Setelah dilakukan asuhan selama 3x24 jam kecemasan klien teratasi dgn kriteria h
asil:
Klien mampu mengidentifikasi dan mengungkapkan gejala cemas
Mengidentifikasi, mengungkapkan dan menunjukkan tehnik untuk mengontol c
emas
Vital sign dalam batas normal
Postur tubuh, ekspresi wajah, bahasa tubuh dan tingkat aktivitas menunju
kkan berkurangnya kecemasan
NIC :
Gunakan pendekatan yang menenangkan
Nyatakan dengan jelas harapan terhadap pelaku pasien
Jelaskan semua prosedur dan apa yang dirasakan selama prosedur
Temani pasien untuk memberikan keamanan dan mengurangi takut
Berikan informasi faktual mengenai diagnosis, tindakan prognosis
Libatkan keluarga untuk mendampingi klien
Instruksikan pada pasien untuk menggunakan tehnik relaksasi
Dengarkan dengan penuh perhatian
Identifikasi tingkat kecemasan
Bantu pasien mengenal situasi yang menimbulkan kecemasan
Dorong pasien untuk mengungkapkan perasaan, ketakutan, persepsi

BAB III
KESIMPULAN
Perdarahan akibat solusio plasenta berhubungan erat dengan angka kematian bayi d
an mempunyai risiko lebih tinggi untuk terjadinya prematuritas dan pertumbuhan j
anin terhambat. Penanganan dan prognosis solusio plasenta tergantung dari deraja
t solusio plasenta.
Solusio plasenta adalah terlepasnya sebagian atau seluruh permukaan maternal pla
senta dari tempat implantasinya yang normal pada sebelum waktunya yakni antara m
inggu 20 dan lahirnya anak. Plasenta secara normal terlepas setelah bayi lahir N
ama lain yang sering dipergunakan, yaitu abruptio placentae, ablatio placentae,
accidental haemorrhage, premature separation of the normally implanted placenta.
Plasenta previa adalah posisi plasenta yang berada di segmen bawah uterus, baik
posterior maupun anterior, sehingga perkembangan plasenta yang sempurna menutupi
os serviks.
Masalah keperawatan yang mungkin ditemukan adalah:
Resiko anemia berhubungan dengan pendarahan pervaginam
Kelelahan berhubungan dengan status penyakit perdarahan
Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
penurunan nafsu makan dampak dari pendarahan
Kecemasan berhubungan dengan status kehamilan karena pendarahan pervagin
am.

DAFTAR PUSTAKA
Prawirohardjo, Sarwono. 2008. Ilmu Kebidanan, edisi ke-4. Jakarta: Penerbit P.T.
Bina Pustaka.
Bobak, Irene M.(2005). Keperawatan Maternitas. Edisi 4. Bandung : yayasan YIA-PK
P.
Cuningham.F.Gary.M.D. 2005, Obstetri Williams, EGC, Jakarta
Manuaba. IBG. 2009. Memahami Kesehatan Reproduksi. Jakarta: Arcan.
Saifuddin, AB. 2007. Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal.Jakarta :YBP-SP
Saleha, S. 2009. Asuhan kebidanan pada masa nifas. Salemba medika. Jakarta.
Syaifudin. 2006. Anatomi Fisiologi Untuk Mahasiswa Keperawatan (Edisi 3). Jakart
a : EGC
Wiknjosastro, Hanifa.,( 2005). Ilmu kebidanan, Edisi Ketiga, Yayasan Bina Pustak
a Sarwono Prawirohardjo, Jakarta

DAFTAR ISI
Kata pengantar
Daftar isi
Bab I

: Pendahuluan

................

Bab II : Tinjauan Teoritis


....
A.
Konsep media
..
1.
Solusio plasenta
.
2.
Plasenta previa
...
B.
Konsep asuhan keperawatan
1.
Pengkajian
..
2.
Diagnosa
.. ..
3.
Rencana keperawatan
Bab III : Kesimpulan
Daftar pustaka

..

..

.... ....

..
.

.
.
.

2
2
2
8

.
15
16
17

.
.
.
.
.

19
20

15