Anda di halaman 1dari 11

MAKALAH

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN


MENINGITIS
Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah:
Keperawatan Anak

Disusun oleh:
Iing Kurniawan
NIM : 013.043

AKADEMI KEPERAWATAN YATNA YUANA LEBAK


Jl. Jend. Sudirman Km. 2 Rangkasbitung Lebak - Banten
2015
BAB I
PENDAHULUAN
Terdapat hampir 90% dari kasus gejala umum meningitis pada orang dewasa
adalah meningitis virus dan bakteri, dimana yang diikuti oleh kaku kuduk (ketid
akmampuan untuk flex leher maju secara pasif karena meningkatnya leher otot dan
kekakuan). Tiga serangkai yang klasik diagnostik terdiri dari tanda-tanda kaku k
uduk, demam tinggi mendadak, dan status mental berubah, namun, semua tiga fitur
yang hadir hanya 44-46% dari semua kasus meningitis virus dan bakteri.
Jika tidak ada tiga tanda hadir, meningitis sangat tidak mungkin. Tanda-tanda la
in umumnya terkait dengan meningitis termasuk phonophobia (intoleransi terhadap
suara keras).
Meningitis adalah peradangan pada membran (meninges) disekitar otak dan tula
ng belakang, biasanya infeksi penyakit ini menyebar. Pembengkakan yang terkait d
engan meningitis sering memicu tanda dan gejala dari kondisi ini, antara lain sa
kit kepala, demam dan leher kaku pada siapapun.
Pada orang dewasa, sakit kepala parah adalah gejala yang paling umum meningitis
- terjadi di hampir 90% dari kasus meningitis bakteri, diikuti oleh kaku kuduk (
ketidakmampuan untuk flex leher maju secara pasif karena meningkatnya leher otot
dan kekakuan). Tiga serangkai yang klasik diagnostik terdiri dari tanda- tanda
kaku kuduk, demam tinggi mendadak, dan status mental berubah, namun, semua tiga
fitur yang hadir hanya 44-46% dari semua kasus meningitis bakteri.
Jika tidak ada tiga tanda hadir, meningitis sangat tidak mungkin. Tanda-tanda la
in umumnya terkait dengan meningitis termasuk fotofobia (intoleransi ter
hadap cahaya terang) dan phonophobia (intoleransi terhadap suara keras). Anak ke
cil sering tidak menunjukkan gejala-gejala tersebut, dan hanya dap
at mudah tersinggung dan tampak sehat. Pada bayi hingga usia 6 bulan, menggemb
ung dari Fontanelle (titik lembut di atas kepala bayi) dapat hadir. Fitur lain y
ang mungkin membedakan meningitis dari penyakit parah yang kurang pada anak-anak
muda kaki sakit, ekstremitas dingin, dan warna kulit tidak normalSistem Pakar
untuk diagnosis radang selaput otak ini menggunakan metode certainty fac
tor.
BAB II
TINJAUAN TEORITIS
A.
Konsep Tumbuh Kembang
Istilah tumbuh kembang sebenarnya mencakup 2 peristiwa yang sifatnya berbeda, te

tapi saling berkaitan dan sulit dipisahkan yaitu pertembuhan dan perkembangan. P
ertumbuhan berkaitan dengan masalah perubahan dalam ukuran baik besar, jumlah, a
tau dimensi tingkat sel, organ maupun individu. Perkembangan lebih menitikberatk
an pada aspek perubahan bentuk atau fungsi pematangan organ ataupun individu, te
rmasuk pula perubahan pada aspek sosial atau emosional akibat pengaruh lingkunga
n. Dengan demikian proses pertumbuhan mempunyai dampak terhadap aspek fisis seda
ngkan proses perkembangan berkaitan dengan fungsi pematangan intelektual dan emo
sional organ atau individu. Perkembangan adalah bertambahnya struktur dan fungsi
tubuh yang lebih kompleks dalam kemampuan gerak kasar, gerak halus, bicara dan
bahasa serta sosialisasi dan kemandirian (Depkes RI, 2005).
Perkembangan adalah bertambahnya kemampuan (skill) dalam struktur dan fungsi tub
uh yang lebih kompleks dalam pola yang teratur dan dapat diramalkan, sebagai has
il proses pematangan. Menyangkut adanya proses deferensiasi dari sel-sel tubuh,
jaringan tubuh, organ-organ dan sistem organ yang berkembang sedemikian rupa seh
ingga masingmasing dapat memenuhi fingsinya, termasuk perkembangan emosi,intelek
tual dan tingkah laku sebagai hasil interaksi dengan lingkungannya (Soetjiningsi
h,2002}.
Perkembangan adalah perubahan psikologis sebagai hasil proses pemotongan fungsi
psikis dan fisik pada diri anak yang ditunjang oleh faktor lingkungan dan proses
belajar dalam kurun waktu tertentu menuju kedewasaan (Suherman, 2002).Menurut H
arlimsyah (2007) perkembangan anak adalah segala perubahan yang terjadi pada dir
i anak dilihat dari aspek antara lain aspek fisik (motorik), emosi, kognitif dan
personal sosial (bagaimana anak berinteraksi dengan lingkungan ). Aspek yang di
ketahui oleh orang tua yaitu: perkembangan fisik, perkembangan emosi, perkembang
an kognitif dan perkembangan personal sosial.
B.
Konsep Medis
1.
Definisi
Meningitis adalah suatu inflamasi di arachnoid dan piamater pada otak dan spinal
cord, yang disebabkan oleh infeksi pada cairan serebrospinal (Lewis, 2005).
Meningitis adalah inflamasi meningen yang juga dapat menyerang arakhonoid dan su
barakhonoid, infeksi menyebar sampai subarakhonoid melalui cairan serebrospinal
sekitar otak dan spinal cord (Joyce M Black, 2005).
Meningitis adalah suatu inflamasi di piameter , arakhnoid dan subararakhnoid inf
eksi biasanya menyebabkan meningitis dan chemical meningitis juga dapat menjad
i meningitis bisa akut atau kronik yang disebabkan karena bakteri,virus, jamur a
tau parasit. (Lemone. 2004).
Meningitis adalah suatu infeksi atau peradangan dari meningens dan jaringan sara
f dalam tulang punggung disebabkan oleh bakteri, Virus, riketsia atau protozoa,
yang terjadi secara akut dan kronis. (Harsono, 2003)
Pengertian lain meningitis adalah radang pada meningen (membrane yang mengelilin
gi otak dan medulla spinalis) dan disebabkan oleh virus, bakteri, atau organ-org
an jamur (Brunner & Suddath, 2002)
Berdasarkan pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa meningitis adalah suatu in
flamasi meningen yang juga dapat menyebar ke arakhonoid dan subarakhonoid pada o
tak dan spinal cord, yang disebabkan oleh bakteri , virus jamur atau protozoa.
Adapun klasifikasi meningitis menurut Brunner & Suddath. 2002 yaitu: asepsis, se
psis dan tuberkulosa.
a.
Meningitis asepsis mengacu pada salah satu meningitits virus atau menyeb
abkan iritasi meningen yang disebabkan oleh abses otak, ensefalitis, limfoma, le
ukemia, atau darah diruang sub arachnoid.
b.
Meningitis sepsis menunjukan meningitis yang disebabkan oleh organisme b
akteri seperti meningokokus, stafilokokus atau basilus influenza.
c.
Meningitis tuberkulosa disebabkan oleh basillus tuberkel.
Menurut Ronny Yoes dalam buku Kapita Selekta Neurologi meningitis terbagi menjad
i dua yaitu :
a.
Meningitis Tuberkulosa, merupakan komplikasi infeksi primer dengan atau
tanpa penyebaran milier.
b.
Meningitis Purulenta, infeksi akut selaput otak yang disebabkan oleh bak
teri dan menimbulkan reaksi purulen pada cairan otak.

2.
Anatomi Fisiologi
Otak manusia adalah struktur pusat pengaturan yang memiliki volume sekitar 1.350
cc dan terdiri atas 100 juta sel saraf atau neuron. Otak manusia bertanggung jaw
ab terhadap pengaturan seluruh badan dan pemikiran manusia. Oleh karena itu terd
apat kaitan erat antara otak dan pemikiran. Otak dan sel saraf didalamnya diperc
ayai dapat mempengaruhi kognisi manusia. Pengetahuan mengenai otak mempengaruhi
perkembangan psikologi kognitif.
Gambar 2.1 : Struktur Meninges
Gambar 2.2 : Struktur meningen dari luar
Bagian - bagian otak manusia :
Bagian Otak depan
Diensefalon
Talamus
Epitalamus
Hipotalamus
Subtalamus
Telensefalon (Hemisfer serebrum)
Korteks serebrum
Bulbus olfaktori
Amigdala
Septal region
Forniks
Basal ganglia
Otak tengah
Tektum
Cerebral
Otak belakang
Medula oblongata
Vestibular nuclei
Cochlear nuclei
Medullary RF
Raphe nuclei
Solitary nucleus
Olivary complex
Metensefalon
Pons
Serebelum/otak kecil
Keterangan :
1)
Otak depan menjadi hemisfer serebri, korpus striatum, talamus serta hipo
talamus
2)
Meningen (selaput otak)
Selaput yang membungkus otak dan sumsum tulang belakang, melindungi struktur sar
af halus yang membawa pembuluhd arah dan cairan sekresi (cairan serebro spinalis
), memperkecil benturan atau getaran yang terdiri dari 3 lapisan
3)
Serebrum (otak besar)
Merupakan bagian yang terluas dan terbesar dari otak, berbentuk telur, mengisi p
enuh bagian depan atas rongga tengkorak. Masing-masing disebut fosa kranialis an
terior atas dan fosa kranialis media.
4)
Diensefalon
Bagian batang otak paling atas terdapat diantara serebelum dengan mesensepalon
Pembagian susunan saraf
1)
Susunan saraf sentral
a.
Medula spinalis
b.
Otak
Otak besar
Otak kecil

Batang otak
2)
Susunan saraf perifer
a.
Susunan saraf somatik
Susunan saraf yang mempunyai peranan spesifik untuk mengatur aktivitas otot sada
r dan saraf lintang.
b.
Susunan saraf otonom
Susunan saraf yang mempunyai peran penting mempengaruhi pekerjaan otot tak sadar
(otot polos) seperti jantung, hati, pankreas, jalan pencernaan, kelenjar dan la
in-lain.
c.
Sel saraf dan serabut saraf
Pusat sel saraf (neuron) terdiri dari sebuah badan sel yang disebut perikarion b
erisi nukleus. Di dalam sitoplasma perikarion terdapat badan-badan yang disebut
substansia nissel. Dari perikarion keluar prosesus-prosesus yang menghantarkan r
angsangan perikarion yang disebut dendrit, jumlahnya lebihbanyak (lebih dari sat
u).
3.
Etiologi
Meningitis disebabkan oleh berbagai macam organisme, tetapi kebanyakan pasien de
ngan meningitis mempunyai faktor predisposisi seperti fraktur tulang tengkorak,
infeksi, operasi otak atau sum-sum tulang belakang. Seperti disebutkan diatas ba
hwa meningitis itu disebabkan oleh virus dan bakteri, maka meningitis dibagi men
jadi dua bagian besar yaitu: meningitis purulenta dan meningitis serosa.
a.
Meningitis Bakteri
Bakteri yang paling sering menyebabkan meningitis adalah haemofilus influenza, N
ersseria,Diplokokus pnemonia, Sterptokokus group A, Stapilokokus Aurens, Escheri
cia colli, Klebsiela dan Pseudomonas. Tubuh akan berespon terhadap bakteri sebag
ai benda asing dan berespon dengan terjadinya peradangan dengan adanya neutrofil
, monosit dan limfosit. Cairan eksudat yang terdiri dari bakteri, fibrin dan lek
osit terbentuk di ruangan subarahcnoid ini akan terkumpul di dalam cairan otak s
ehingga dapat menyebabkan lapisan yang tadinya tipis menjadi tebal. Dan pengumpu
lan cairan ini akan menyebabkan peningkatan intrakranial. Hal ini akan menyebabk
an jaringan otak akan mengalami infark.
b.
Meningitis Virus
Tipe dari meningitis ini sering disebut aseptik meningitis. Ini biasanya disebab
kan oleh berbagai jenis penyakit yang disebabkan oleh virus, seperti; gondok, he
rpez simplek dan herpez zoster. Eksudat yang biasanya terjadi pada meningitis ba
kteri tidak terjadi pada meningitis virus dan tidak ditemukan organisme pada kul
tur cairan otak. Peradangan terjadi pada seluruh koteks cerebri dan lapisan otak
. Mekanisme atau respon dari jaringan otak terhadap virus bervariasi tergantung
pada jenis sel yang terlibat.
4.
Patofisiologi
Otak dilapisi oleh tiga lapisan, yaitu : duramater, arachnoid, dan piamater. Cai
ran otak dihasilkan di dalam pleksus choroid ventrikel bergerak / mengalir melal
ui sub arachnoid dalam sistem ventrikuler dan seluruh otak dan sumsum tulang bel
akang, direabsorbsi melalui villi arachnoid yang berstruktur seperti jari-jari d
i dalam lapisan subarachnoid.
Organisme (virus / bakteri) yang dapat menyebabkan meningitis, memasuki cairan o
tak melaui aliran darah di dalam pembuluh darah otak. Cairan hidung (sekret hidu
ng) atau sekret telinga yang disebabkan oleh fraktur tulang tengkorak dapat meny
ebabkan meningitis karena hubungan langsung antara cairan otak dengan lingkungan
(dunia luar), mikroorganisme yang masuk dapat berjalan ke cairan otak melalui r
uangan subarachnoid. Adanya mikroorganisme yang patologis merupakan penyebab per
adangan pada piamater, arachnoid, cairan otak dan ventrikel.

5.

Patoflow Diagram

6.

Tanda dan Gejala


Pada awal penyakit, kelelahan, perubahan daya mengingat, perubahan tingkah laku.
Sesuai dengan cepatnya perjalanan penyakit pasien menjadi stupor.
Sakit kepala
Sakit-sakit pada otot-otot
Reaksi pupil terhadap cahaya. Photofobia apabila cahaya diarahkan pada mata pasi

en
Adanya disfungsi pada saraf III, IV, dan VI
Pergerakan motorik pada masa awal penyakit biasanya normal dan pada tahap lanjut
an bisa terjadi hemiparese, hemiplegia, dan penurunan tonus otot.
Refleks Brudzinski dan refleks Kernig (+) pada bakterial meningitis dan tidak te
rdapat pada virus meningitis.
Nausea
Vomiting
Demam
Takikardia
Kejang yang bisa disebabkan oleh iritasi dari korteks cerebri atau hiponatremia
Pasien merasa takut dan cemas.
7.

Komplikasi
Peningkatan tekanan intracranial
Hidrosefalus
Infark serebral
Syndrome waterhouse Friederichsen : hipotensi, perdarahan kulit dan kelenjar adr
enal yang diakibatkan oleh KID
Defisit saraf kranial
Ensefalitis
SIADH (syndrome of inappropriate secretion of antidiuretic hormone )
Abses otak
Kerusakan visual
Deficit intelektual
Kejang
Endokarditis
Pneumonia
Gangguan pembekuan darah
Syok septic
Efusi subdural
Demam yang memanjang
8.
Tes Diagnostik
a.
Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan laboratorium yang khas pada meningitis adalah analisa cairan otak. L
umbal punksi tidak bisa dikerjakan pada pasien dengan peningkatan tekanan tintra
kranial. Analisa cairan otak diperiksa untuk jumlah sel, protein, dan konsentra
si glukosa. Pemeriksaan darah ini terutama jumlah sel darah merah yang biasanya
meningkat diatas nilai normal. Serum elektrolit dan serum glukosa dinilai untuk
mengidentifikasi adanya ketidakseimbangan elektrolit terutama hiponatremi.Kadar
glukosa darah dibandingkan dengan kadar glukosa cairan otak. Normalnya kadar glu
kosa cairan otak adalah 2/3 dari nilai serum glukosa dan pada pasien meningitis
kadar glukosa cairan otaknya menurun dari nilai normal.
b.
Pemeriksaan Radiografi
CT-Scan dilakukan untuk menentukan adanya edema cerebral atau penyakit saraf lai
nnya. Hasilnya biasanya normal, kecuali pada penyakit yang sudah sangat parah.
9.
Penatalaksanaan Medis
Keefektifan pengobatan tergantung pada pemberian dini antibiotik yang mampu mene

mbus barier blood


brain ke dalam lapisan subarakhnoid. Antibiotik penicillin (am
pisillin, piperasillin) atau salah satu chepalosporin (ceftriaxone sodium, cefot
axim sodium) dapat digunakan. Vacomyan hydrocloride tunggal atau kombinasi deng
an rifampisin juga dapat digunakan jika bakteri telah teridentifikasi. Antibioti
k dosis tinggi diberikan secara intravena.
Dexametason dapat diberikan sebagai terapi tambahan pada meningitis akut dan men
ingitis pneumococcus. Dexametasone dapat diberikan bersamaan dengan antibiotik u
ntuk mensupresi inflamasi dan mengefektifkan pengobatan pada orang dewasa serta
tidak meningkatkan resiko perdarahan gastrointestinal.
Dehidrasi dan syok dapat diatasi dengan penambahan volume cairan. Seizure yang t
erjadi pada tahap awal penyakit dapat dikontrol dengan phenitoin/dilantin (Lewis
, 2005).
Penatalaksanaan secara medis pada meningitis dapat dilakukan dengan cara diberik
an
a.
Koreksi gangguan asam basa elektrolit, apabilla terdapat ketidak seimban
gan asm basa dan elektrolit dapt diberikan Cairan intravena MARTOS-10 Dosis: 0,
3 gr/kg BB/jam Mengandung 400 kcal/L
b.
Atasi kejang dapat diatasi dengan, Kortikosteroid.golongan deksametason
0,6 mg/kgBB/hari selama 4 hari, 15-20 menit sebelum pemberian antibiotic
c.
Antibiotik. Terdiri 2 fase yaitu empiric dan setelah hasil biakan dan uj
i resistensi. Pengobatan empiric pada neonates adalah kombinasi ampisilin dan am
inoglikosida atau ampisilin dan sefotaksin. Pada umur 3 bulan
10 tahun kombinsas
i ampisilin dan kloramfenikol atau sefuroksim/sefotaksim/sefriakson. Pada usia l
ebih dari 10 tahun digunakan penislin. Pada neonatus pengobatan selama 21 hari,
pada bayi dan anak 10 14 hari.
d.
Streptomisin, PAS dan INH. Dapat diberikan diberikan dengan dosis 30-50
mg/kg BB/ hari selama 3 bulan atau jika perlu diteruskan 2 kali seminggu selama
2-3 bulan lagi, sampai likuor serebrospinalis menjadi normal. PAS dan INH diteru
skan paling sedikit samapi 2 tahun. Umtuk mengatasi dehidrasi akibat masukan mak
anan yang kurang atau muntah.
C.
Konsep Asuhan Keperawatan
1.
Pengkajian
Riwayat penyakit dan pengobatan
Faktor riwayat penyakit sangat penting diketahui karena untuk mengetahui jenis k
uman penyebab. Disini harus ditanya dengan jelas tentang gejala yang timbul sepe
rti kapan mulai serangan, sembuh atau bertambah buruk. Setelah itu yang perlu di
ketahui adalah status kesehatan masa lalu untuk mengetahui adanya faktor presdip
osisi seperti infeksi saluran napas, atau fraktur tulang tengkorak, dll.
a.
Anamnesa :
Riwayat penyakit sekarang :
Gambaran gejala yang dialami saat ini, kapan mulai, gejala menurun/menin
gkat, bagaimana mengatasinya
Riwayat penyakit masa lalu:
Pasien pernah mengalami Penyakit pernafasan, trauma kepala/fraktur, infe
ksi sinus, hidung,telinga, penyakit jantung, DM,Ca, pembedahan, bedah syaraf/tel
ingga
b.
Pengkajian fisik
Manifestasi klinis
Tingkat kesadaran, Orientasi
Reaksi pupil dan pergerakan mata
Respon motorik
Tanda awal : Lethargi, perubahan memori, gangguan perhatian, perubahan t
ingkah laku (kepribadian)
Tanda penyakit lanjut: Stupor, nyeri kepala berat, nyeri otot, pupil rea
ktif terhadap
cahaya (photo phobia), Nistagmus, Disfungsi syaraf III,IV,VI,VII,VIII
Hemiparesis, hemaplegia, tonus otot menurun
Kaku kuduk, kernig s, Bruzinski, nyeri kepala
Nausea, muntah, panas, Tachicardia

2.
Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan yang mungkin timbul adalah :
a.
Perfusi jaringan cerebral tidak efektif berhubungan dengan peningkatan t
ekanan intrakranial
b.
Hipertermia berhubungan dengan penyakit.
c.
Resiko terjadinya injuri berhubungan dengan perubahan status mental dan
penurunan tingkat kesadaran
d.
Kurang Pengetahuan berhubungan dengan keterbatasan informasi.

3.

Perencanaan

Diagnosa Keperawatan/ Masalah Kolaborasi


Rencana keperawatan
Tujuan dan Kriteria Hasil
Intervensi
Perfusi jaringan cerebral tidak efektif berhubungan dengan peningkatan tekanan i
ntrakranial
NOC :
Setelah dilakukan asuhan selama 3x24 jam. ketidakefektifan perfusi jaringan cere
bral teratasi dengan kriteria hasil:
Tekanan systole dan diastole dalam rentang yang diharapkan
Tidak ada ortostatikhipertensi
Komunikasi jelas
Menunjukkan konsentrasi dan orientasi
Pupil seimbang dan reaktif
Bebas dari aktivitas kejang
Tidak mengalami nyeri kepala
NIC :
Monitor TTV
Monitor AGD, ukuran pupil, ketajaman, kesimetrisan dan reaksi
Monitor adanya diplopia, pandangan kabur, nyeri kepala
Monitor level kebingungan dan orientasi
Monitor tonus otot pergerakan
Monitor tekanan intrkranial dan respon nerologis
Catat perubahan pasien dalam merespon stimulus
Monitor status cairan
Pertahankan parameter hemodinamik
Tinggikan kepala 0-45o tergantung pada konsisi pasien dan order medis
Hipertermia berhubungan dengan penyakit
NOC:
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam. pasien menunjukkan :
Suhu tubuh dalam batas normal dengan kreiteria hasil:
Suhu 36
37C
Nadi dan RR dalam rentang normal
Tidak ada perubahan warna kulit dan tidak ada pusing, merasa nyaman
NIC :

Monitor suhu sesering mungkin


Monitor warna dan suhu kulit
Monitor tekanan darah, nadi dan RR
Monitor penurunan tingkat kesadaran
Monitor WBC, Hb, dan Hct
Monitor intake dan output
Berikan anti piretik:
Selimuti pasien
Berikan cairan intravena
Kompres pasien pada lipat paha dan aksila
Tingkatkan sirkulasi udara
Tingkatkan intake cairan dan nutrisi
Monitor TD, nadi, suhu, dan RR
Catat adanya fluktuasi tekanan darah
Monitor hidrasi seperti turgor kulit, kelembaban membran mukosa)

Resiko injuri berhubungan dengan perubahan status mental dan penurunan tingkat k
esadaran
NOC :
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam. Klien tidak mengalami in
jury dengan kriterian hasil:
Klien terbebas dari cedera
Klien mampu menjelaskan cara/metode untukmencegah injury/cedera
Klien mampu menjelaskan factor risiko dari lingkungan/perilaku personal
Mampumemodifikasi gaya hidup untukmencegah injury
Menggunakan fasilitas kesehatan yang ada
Mampu mengenali perubahan status kesehatan
NIC :
Sediakan lingkungan yang aman untuk pasien
Identifikasi kebutuhan keamanan pasien, sesuai dengan kondisi fisik dan
fungsi kognitif pasien dan riwayat penyakit terdahulu pasien
Menghindarkan lingkungan yang berbahaya (misalnya memindahkan perabotan)
Memasang side rail tempat tidur
Menyediakan tempat tidur yang nyaman dan bersih
Menempatkan saklar lampu ditempat yang mudah dijangkau pasien.
Membatasi pengunjung
Memberikan penerangan yang cukup
Menganjurkan keluarga untuk menemani pasien.
Mengontrol lingkungan dari kebisingan
Memindahkan barang-barang yang dapat membahayakan
Berikan penjelasan pada pasien dan keluarga atau pengunjung adanya perub
ahan status kesehatan dan penyebab penyakit.
Kurang Pengetahuan berhubungan dengan keterbatasan informasi.
NOC:
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam. pasien menunjukkan penge
tahuan tentang proses penyakit dengan kriteria hasil:
Pasien dan keluarga menyatakan pemahaman tentang penyakit, kondisi, prog
nosis dan program pengobatan
Pasien dan keluarga mampu melaksanakan prosedur yang dijelaskan secara b
enar
Pasien dan keluarga mampu menjelaskan kembali apa yang dijelaskan perawa
t/tim kesehatan lainnya NIC :
Kaji tingkat pengetahuan pasien dan keluarga
Jelaskan patofisiologi dari penyakit dan bagaimana hal ini berhubungan d
engan anatomi dan fisiologi, dengan cara yang tepat.
Gambarkan tanda dan gejala yang biasa muncul pada penyakit, dengan cara
yang tepat
Gambarkan proses penyakit, dengan cara yang tepat
Identifikasi kemungkinan penyebab, dengan cara yang tepat

Sediakan informasi pada pasien tentang kondisi, dengan cara yang tepat
Sediakan bagi keluarga informasi tentang kemajuan pasien dengan cara yan
g tepat
Diskusikan pilihan terapi atau penanganan

4.
Implementasi
Implementasi merupakan tindakan yang akan dilakukan berdasarkan perencanaan yang
telah ditentukan secara umum. Intervensi yang dapat dilakukan pada klien mening
itis adalah: kaji status neurology, monitor tanda-tanda vital, mengkaji adanya k
omplikasi, hindari fleksi leher, kaji kepatenan dan fungsi jalan nafas, peningka
tan kesehatan, pencegahan infeksi pernafasan melalui vaksinasi pneumococcal pneu
monia dan influenza dengan dibantu oleh perawat, monitor intake dan out put, kol
aborasi dengan medis, membantu memenuhi kebutuhan klien, memberi support kepada
klien dan keluarga.
5.
Evaluasi
Evaluasi merupakan tahap akhir dari proses keperawatan yang dipakai sebagai alat
ukur keberhasilan dari rencana keperawatan didalam memenuhi kebutuhan klien.
Pada perawatan klien dengan meningitis hasil yang diharapkan adalah: perfusi jar
ingan serebral adekuat, meningkatnya tingkat kesadaran, tubuh dipertahankan norm
37,2C), nyeri berkurang/hilang, melaksanakan program terapi, terhindari d
al (36
ari komplikasi meningitis tersebut.

BAB III
KESIMPULAN
Meningitis adalah suatu inflamasi meningen yang juga dapat menyebar ke arakhonoi
d dan subarakhonoid pada otak dan spinal cord, yang disebabkan oleh bakteri, vir
us jamur atau protozoa.
Meningitis disebabkan oleh berbagai macam organisme, tetapi kebanyakan pasien de
ngan meningitis mempunyai faktor predisposisi seperti fraktur tulang tengkorak,
infeksi, operasi otak atau sum-sum tulang belakang. Seperti disebutkan diatas ba
hwa meningitis itu disebabkan oleh virus dan bakteri, maka meningitis dibagi men
jadi dua bagian besar yaitu: meningitis purulenta dan meningitis serosa.
Tanda dan gejala pada awal penyakit, kelelahan, perubahan daya mengingat, peruba
han tingkah laku, sesuai dengan cepatnya perjalanan penyakit pasien menjadi stup
or, sakit kepala, sakit-sakit pada otot-otot, reaksi pupil terhadap cahaya, phot
ofobia apabila cahaya diarahkan pada mata pasien, adanya disfungsi pada saraf ii
i, iv, dan vi, pergerakan motorik pada masa awal penyakit biasanya normal dan ad
a tahap lanjutan bisa terjadi hemiparese, hemiplegia, dan penurunan tonus otot,
refleks brudzinski dan refleks kernig (+) pada bakterial meningitis dan tidak te
rdapat pada virus meningitis.
Diagnosa keperawatan yang mungkin timbul adalah :
Perfusi jaringan cerebral tidak efektif berhubungan dengan peningkatan t
ekanan intrakranial
Hipertermia berhubungan dengan penyakit.

Resiko terjadinya injuri berhubungan dengan perubahan status mental dan


penurunan tingkat kesadaran
Kurang Pengetahuan berhubungan dengan keterbatasan informasi.

DAFTAR PUSTAKA
Doengoes. M.E. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta : EGC.
Harsono., 2003. Kapita Selekta Neurologi, Edisi Kedua. Gadjah Mada University Pr
ess, Yogyakarta.
Mansjoer, Arif. 2000. Kapita Selekta Edisi 3 Jilid 2. Jakarta : Media Aesculapiu
s.
Mesranti, M., 2009. Karakteristik Penderita Meningitis Yang Di Rawat Inap Di RSU
P H. Adam Malik Medan pada tahun 2005
2008. Skripsi FKM USU. Medan.
Muttaqin, A., 2003. Asuhan Keperawatan Meningitis. FK Universitas Airlangga. Sur
abaya.
Syaifuddin. 2006. Anatomi Fisiologi Untuk Mahasiswa Keperawatan. Edisi 3.
Jakarta: EGC
Efrida, Desiekawati,2012, Kriptokokal meningitis: Aspek klinis dan diagnosis lab
oratorium urnal Kesehatan Andalas. http://jurnal.fk.unand.ac.id

DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN.............................................................
...................
1
BAB II TINJAUAN TEORITIS
A.
Konsep Tumbuh embang ...................................................
............
2
B.
Konsep Medis ...........................................................
..................... 3
1.
Definisi ...............................................................
....................
3
2.
Anatomi Fisiologi ......................................................
............. 4
3.
Etiologi ...............................................................
....................
7
4.
Patofisiologi ..........................................................
.................
8
5.
Patoflow Diagram .......................................................
...........
9

6.
Tanda dan Gejala .......................................................
............
10
7.
Komplikasi .............................................................
................
10
8.
Tes Diagnostik .........................................................
.............. 11
9.
Penatalaksanaan Medis ..................................................
........
11
C.
Konsep Asuhan Keperawatan ..............................................
............
13
1.
Pengkajian .............................................................
....................
13
2.
Diagnosa Keperawatan ...................................................
............
14
3.
Perencanaan.............................................................
....................
15
4.
Implementasi ...........................................................
...................
18
5.
Evaluasi ...............................................................
...................... 18
BAB IV KESIMPULAN .............................................................
........................
19
DAFTAR PUSTAKA..................................................................
............................
20