Anda di halaman 1dari 12

MAKALAH

ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN


DENGUE HAEMORHAGIC FEVER
(DHF)
Disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah:
Keperawatan Anak

Disusun oleh :
Faisol
NIM : 013.032

AKADEMI KEPERAWATAN YATNA YUANA LEBAK


Jl. Jend. Sudirman Km. 2 Rangkasbitung
2015
BAB I
PENDAHULUAN

Lebak

Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit yang menjadi endemik di
berbagai negara di dunia. Penyakit DBD dapat menyebabkan kematian dalam wak
tu singkat, oleh karena itu perlu diwaspadai penyebab kematian pada pasie
n DBD.
Kematian pada pasien DBD terjadi karena pemberian cairan yang terlalu banyak. Ke
lebihan cairan merupakan komplikasi penting dalam penanganan syok. Penyebab lain
kematian DBD adalah perdarahan hebat pada saluran pencernaan yang bia
sanya terjadi setelah syok berlangsung lama dan tidak dapat diatasi.
Penanganan yang spesifik untuk pasien DBD adalah penggantian cairan yang hilang
karena kebocoran plasma (Depkes, 2005). Pemberian cairan yang tepat dapat
mencegah terjadinya kekurangan ataupun kelebihan cairan yang dapat menyeba
bkan DBD dengan syok.
Syok pada pasien DBD dikenal dengan istilah Dengue Syok Sindrom (DSS)
yaitu terjadinya kegagalan peredaran darah karena kehilangan plasma dalam
darah akibat peningkatan permeabilitas kapiler darah. Syok terjadi apabila darah
semakin mengental karena plasma darah merembes keluar dari pembuluh darah (Nade
sul, 2007). DSS terjadi pada tingkatan DBD derajat III dan DBD derajat IV. Pada
DBD derajat III telah terdapat tanda-tanda syok, nadi teraba cepat dan lemah, te
kanan darah menurun, pasien mengalami gelisah, terjadi sianosis di sekitar mulut
, kulit teraba dingin dan lembab terutama pada ujung hidung, jari tangan dan kak
i. Pada DBD derajat III terjadi hemokonsentrasi dan trombositopenia. Pada
DBD derajat IV pasien sedang mengalami syok, pasien mengalami penuruna
n tingkat kesadaran, denyut nadi tidak teraba, dan tekanan darah tidak
terukur. Pada DBD derajat IV juga sudah terjadi hemokonsentrasi dan trom
bositopenia.
Kewaspadaan terhadap tanda awal syok pada pasien DBD sangat penting, karena angk
a kematian pada DSS sepuluh kali lebih tinggi dibandingkan pasien DBD tanpa terj
adi syok.
BAB II

TINJAUAN TEORITIS
A.
1.

Konsep Dasar Medis


Pengertian
DHF (Dengue Haemorragic Fever) adalah merupakan penyakit anak yang disebabkan ol
eh virus dengue yang termasuk golongan arbovirus melalui gigitan nyamuk Aedes ae
gipty betina.(A.Aziz alimul hidayat,2005).
DHF (Dengue Haemorragic Fever) atau demam berdarah dengue (DBD) adalah penyakit
menular yang disebabkan oleh virus dengue dan ditularkan melalui gigitan nyamuk
Aedes aegipty.(Nursalam, 2005)
Demam berdarah merupakan infeksi akut yang disebabkan oleh arbo virus, ditular
kan melalui gigitan nyamuk yang ditandai oleh demam mendadak tanpa sebab disert
ai gejala lain seperti lemah dan terdapat manifestasi perdarahan. ( Ngastiyah, 2
005 ).
Dengue hemoragic fever ialah suatu penyakit yang disebabkan oleh virus dengue (
arbo virus) yang masuk kedalam tubuh melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti. (Su
riadi dan Rita Yuliani, 2006 )
Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa DHF adalah sejenis penyakit berba
haya yang disebabkan oleh virus dengue yang dibawa oleh nyamuk aedes aegypti.
2.
Klasifikasi
Klasifikasi DHF berdasarkan patokan dari WHO (1999) DBD dibagi menjadi 4 derajat
:
a.
Derajat I
Demam disertai gejala klinis lain, tanoa perdarahan spontan uji torniquet (+), t
rombositopenia dan hemokonsentrasi.
b.
Derajat II
Derajat I dan disertai perdarahan spontan pada kulit atau di tempat lain.
c.
Derajat III
Ditemukan kegagalan sirkulasi, yaitu nadi cepat dan lemah, tekanan darah rendah
(hipotensi), gelisah, sianosis sekitar mulut, hidung dan ujung jari.
d.
Derajat IV
Renjatan berat (DSS) dengan nadi tak teraba dan tekanan darah tak dapat diukur.
Dengue Shock Syndrome ( DSS )
Dengue shock syndrome ( DSS ) adalah sindroma syok yang terjadi pada penderita D
engue Hemorrhagic Fever ( DHF ) atau demam berdarah dengue.
Dengue syok sindrom bukan saja merupakan suatu permasalahan kesehatan masyarakat
yang menyebar dengan luas atau tiba
tiba, tetapi juga merupakan suatu permasala
han klinis, karena 30
50 % penderita demam berdarah dengue akan mengalami renjat
an dan berakhir dengan demam suatu kematian terutama bila tidak ditangani secara
dini dan adekuat.
3.
Anatomi Fisiologi
a.
Pengertian Darah
Darah adalah cairan berwarn merah pekat, warna merah cerah didalam arteri (sudah
dioksigenasi) dan berwarna merah ungu gelap di dalam vena (dioksigenasi), setel
ah melepaskan sebagian oksigen ke jaringan (menyebabkan perubahan warna) dan men
erima produk sisa dari jaringan. Darah bersifat sedikit alkali dan PH-nya hanya
sedikit bervariasi sepanjang kehidupan karena sel-sel badan hanya bisa hidup bil
a PH dalam batas normal. Jumlah darah sekitar 5% berat badan, sehingga volume ra
ta-rata adalah 3-4 liter.
Darah Normal
Abnormal
Gambar 2.1 : Perbandingan sel darah merah normal dan abnormal

Darah

1)
Komposisi Darah
Sel-sel darah membentuk 45% seluruh volume darah dan membentuk 55% seluruh volum
e darah.
a)
Plasma Darah

Plasma adalah bagian cairan darah dalam larutan jernih berwarna bening kekuningkuningan (straw coloured), mirip cairan luka lepuh. Air dalam plasma berfungsi m
enyuplai air segar untuk mencuci sel tubuh dan memperbarui air dalam sel-sel ter
sebut. Protein plasma. Albumin dalam keadaan normal terdapat 3-5 gram. Albumin d
alam setiap 100 ml darah. Fungsinya ada 3 yaitu :
(1)
Bertanggung jawab atas tekanan osmotik yang mempertahankan volume darah.
(2)
Banyak zat khusus yang beredar dalam gabungan lbumin.
(3)
Menyediakan protein untuk jaringan
Zat-zat yang terdapat pada plasma darah
(1)
Fibrinogen yang berguna dalam peristiwa pembekuan darah.
(2)
Garam-garam mineral (garam, Ca, K, Na) yang berguna dalam metabolisme da
n mengadakan osmotik.
(3)
Protein darah (albumin, globulin) meningkatkan viskositas darah dan meni
mbulkan tekanan osmotik, memelihara keseimbanagan cairan dalam tubuh.
(4)
Zat makanan (asam amino, glukosa, lemak, mineral, dan vitamin)
(5)
Hormon, zat yang dihasilkan kelenjar tubuh.
(6)
Antibodi / antitoksin
Trombosit (sel pembeku darah) merupakan benda-benda kecil yang mati bentuk dan u
kurannya bermacam-macam, bulat, lonjong, warna putih, jumlah normal pada orang d
ewasa sekitar 200-300 ribu/mm3. Trombosit berfungsi dalam pembekuan darah. Jika
kurang dari normal, maka ada luka darah tidak lekas beku sehingga pendarahan ter
us. Trombosit yang lebih dari 300.000 disebut trombositosis dan yang kurang dari
200.000 disebut trombositonia. Terjadinya pembekuan darah dalam plasma terdapat
zat yang membantu pembekuan darah yaitu Ca2+ dan fibronogen bekerja bila tubuh
mendapat luka.
b)
Garam-garam
Garam-garam di dalam plasma diperlukan untuk membentuk protoplasma dan berfungsi
sebagai zat buffer (dapur) yang akan menetralisir asam atau basa dalam tubuh da
n mempertahankan PH normal darah.
c)
Protein Plasma
Membuat konsistensi darah lengket yang disebut viskositas yang diperlukan untuk
mencegah cairan berlebihan menembus dinding kapiler masuk kedalam jaringan. Apab
ila terdapat defisiensi protein saperti pada penyakit ginjal, dimana terjadi keb
ocoran protein (albumin) secara terus menerus ke dalam urine. Tekanan osmotik pl
asma akan menurun dan cairan masuk ke dalam jaringan ini dikenal sebagai edema.
Viskositas darah juga berperan mempertahankan tekanan darah. Albumin dibentuk di
hati, sedangkan globulin dihasilkan oleh sejenis sel darah putih yang disebut l
imfosit. Fibrinogen dan protombin diproduksi di dalam hati dan keduanya diperluk
an untuk mekanisme pembekuan darah. Plasma tanpa fibrinogen disebut serum. Serum
bisa ditemukan sebagai cairan kuning yangkeluar dari luka setelah bekuan darah
terbentuk.
d)
Zat Nutrisi
Dalam bentuk glukosa, asam amino, asam lemak dan gliserol diabsorpsi dari salura
n cerna ke dalam darah. Meraka merupakan hasil akhir metabolisme karbohidrat, pr
otein dan lemak.
e)
Urea, Asam Urat dan Kreatinin
Merupakan produk sisa metabolisme protein. Mereka diproduksi di dalam hati dan d
ibawa darah untuk kemudian dieksresi ginjal.
f)
Antibodi dan Antitoksin
Merupakan zat protein kompleks yang berfungsi sebagai proteksi terhadap infeksi
dan menetralisir toksin bakteri beracun.
g)
Enzim
Adalah zat kimia yangdihasilkan tubuh yang menyebabkan perubahan kimiawi pada za
t-zat lain tanpa terlibat langsung dalam reaksi perubahan tersebut.
2)
Macam-macam Darah
Sel darah dapat dibedakan atas tiga jenis, yaitu: sel darah merah eritrosit), se
l darah putih (leukosit), dan keping darah (trombosit).
a)
Eritrosit (sel darah merah)
Bentuknya seperti cakram/bikonkav dan tidak berinti. Ukurannya kira-kira 7,7 uni

t (0,007 mm) diameter, tidak dapat bergerak, banyaknya kira-kira 5 juta dalam 1
mm3 (4? juta). Warna kuning kemerah-merahan karena di dalamnya mengandung zat ya
ng disebut hemoglobin, akan bertambah merah jika di dalamnya banyak mengandung O
2. Fungsinya mengikat di paru-paru untuk diedarkan ke seluruh tubuh kemudian dik
eluarkan melalui paru-paru.
Pengikatan O2 dan CO2 ini dikerjakan oleh hemoglobin yang telah bersenyawa deng
an O2 disebut oksihemoglobin (Hb + O2 ? HO2). Jadi O2 diangkat dari seluruh tubu
h sebagai oksihemoglobin yang nantinya setelah tiba di jaringan akan dilepaskan
Hb + O2 ? HO2 dan seterusnya Hb tadi akan mengikat dan bersenyawa dengan CO2 dis
ebut karbondioksida hemoglobin (Hb +CO2 ? HCO2) yang mana CO2 tersebut akan dile
paskan di paru-paru.
Pembentuka sel darah merah di dalam sumsum tulang merah, limpa dan hati dan bere
dar dalam tubuh 14-15 hari, setelah itu akan mati. Jumlah normal pada orang dewa
sa kira-kira 11,5-15 gram dalam 100cc darah. Normal Hb wanita 11,5 mg% dan Hb l
aku-laki 13,0mg%.
b)
Leukosit (sel darah putih)
Mempunyai inti sel sehingga ia dapat dibedakan menurut inti selnya. Warnanya ben
ing, banyaknya dalam 1 mm3 darah kira-kira 6.000
9.000, sel leukosit selain bera
da di dalam pembuluh darah juga terdapat di seluruh jaringan tubuh.
Granulosit atau sel polimorfonuklear merupakan hampir 75% dari seluruh jumlah se
l darah putih. Merek terbentuk talam sumsum tulang merah. Sel ini berisi sebuah
nukleus yang berbelah banyak dan protoplasmanya berbulir, karena itu disebut sel
berbulir atau granulosit.
Granulosit dan monisit mempunyai peranan penting dalam perlindungan ganda terhad
ap mikro-organisme dengan kemampuannya sebagai fagosit (fago=saya makan). Mereka
memakan bakteri-bakteri hidup yang masuk ke peredaran darah pada waktu menjalan
kan fungsi ini mereka disebut fagosit. Dengan kekuatan gerakan amubiodnya ia dap
at bergerak bebas di dalam dan dapat keluar pembuluh darah dan berjalan serta me
ngitari seluruh bagian tubuh dengan cara ini ia dapat :
(1)
Mengepung daerah yang terkena infeksi/cedera.
(2)
Menangkap organisme hidup dan menghancurkannya.
Sebagai hasil kerja fagositik dari sel darah putih peradangan dapat dihentikan s
ama sekali. Bila kegiatannya tidak dapat berhasil dengan sempurna, maka dapat be
rbentuk nanah. Nanah berisi jenazah dari kawan dan lawan fagosit yang terbunuh dal
am perjuangannya melawan kuman yang menyerbu masuk, disebut sel nanah. Demikian
juga terdapat banyak kuman yang mati dalam itu dan tumbuh lagi dengan sejumlah b
esar jaringan yang telah mencair, sambil pertempuran berlangsung, melalui sel da
rah putih dapat mengalahkan organisme penyerbu itu. Maka semua bekas kerusakan,
bakteri baru yang hidup maupun yang mati, sel nanah dan jaringan yang meleleh ak
an disingkirkan granulosit yang sehat yang bekerja sebagai fagosit.
c)
Trombosit (keping darah)
Merupakan benda-benda kecil yang mati , bentuk dan ukurannya bermacam-macam, ada
yang bulat dan lonjong, berwarna putih, banyaknya normal pada orang dewasa seki
tar 200.000 300.000/mm3.
Fungsinya memegang peranan penting dalam pembekuan darah. Jika banayaknya kurang
dari normal maka bila ada luka darah tidak keluar membeku sehingga timbul penda
rahan terus-menerus. Jumlah trombosit yang lebih dari 300.000 disebut trombosito
sis dan yang kurang dari 200.000 disebut trombositonia. Terjadinya pembekuan dar
ah di dalam plasma darah terdapat zat yang turut membantu terjadinya peristiwa p
embekuan darah, yaitu zat Ca2+ dan fibronogen. Fibrinogen mulai bekerja bila tub
uh mendapat luka.
Bila darah yang tumpah diperiksa dengan mikroskop akan terlihat benang-benang fi
brin yang tidak dapat larut. Benang-benang ini terbentuk dari fibrinogen dalam p
lasma oleh kerja trombin. Benang-benang ini menjerat sel darah dan bersama-sama
dengan Ca2+ membentuk gumpalan.
Penggumpalan darah adalah proses majemuk dan berbagai faktor yang diperlukan unt
uk melaksanakan itu. Trombin adalah alat untuk mengubah fibrinogen menjadi benan
g fibrin. Fibrin tidak terdapat pada darah normal yang berada dalam pembuluh. Te
tapi yang ada adalh pendahulunya, protombin yang kemudian diubah menjadi zat akt
if trombin oleh kerja trombokinase. Trombokinase atau tromboplastin adalah zat p

enggerak yang dilepaskan ke tempat luka.


d)
Proses Pembekuan
Proses pembekuan sangatlah kompleks dan membutuhkan beberapa faktor. Hasil akhir
proses ini adalah pembentukan bekuan fibrin (tidak larut) dan fibrinogen (tidak
larut) dan proses ini dirangsang pembentukan trombin. Pembentukan trombin diran
gsang oleh pembentukan antivator protombin dan ada dua sistem yang menghasilkan
antifator ini yaitu sistem ekstrinsik dan sistem intrinsik. Sistem ekstrinsik di
rangsang oleh kerusakan jaringan dan segera menyebabkan sejumlah kecil fibrin me
mbentuk bekuan dalam jumlah yang relatif besar. Setelah bekuan terbentuk, ia aka
n dipecah oleh suatu enzim yang disebut plastn, ini menyingkirkan bekuan untuk m
emulai proses penyembuhan luka.
e)
Fungsi Darah
Fungsi darah terdiri atas :
(1)
Sebagai alat pengangkut yaitu:
(a)
Mengambil O2 / zat pembakaran dari paru-paru untuk diedarkan ke dalam ja
ringan tubuh.
(b)
Mengangkat CO2 dari jaringan untuk dikeluarkan melalui paru-paru.
(c)
Mengeluarkan zat-zat yang tidak berguna bagi tubuh untuk dikeluarkan mel
alui kulit dan ginjal.
(2)
Sebagai pertahanan tubuh terhadap serangan bibit penyakit dan racun yang
membunuh tubuh dengan perantaraan leukosit, antibodi/anti racun.
(3)
Menyebarkan panas ke seluruh tubuh.
f)
Bagian-bagian darah
(1)
Air
: 91 %
(2)
Protein
: 3 % (albumin, globulin, protombin, fibrinogen)
(3)
Mineral
: 0,9 % (natrium klorida, natrium bikarbonat, garam
fosfat, magnesium, kalsium dan zat besi)
(4)
Bahan organik : 0,1 % (glukosa lemak, asam urat, kreatinin, kolesterol
, asam amino)
4.
Epidemiologi
Penyakit ini terdapat di daerah tropis, terutama di negara asean dan pasific ba
rat. Penyakit ini disebabkan oleh virus dengue dan ditularkan oleh nyamuk aedes,
di indonesia dikenal dua jenis nyamuk aedes yaitu :
Aedes aegypti
Aedes albopictus
Aedes aegypti
Paling sering ditemukan.
Adalah nyamuk yang hidup di daerah tropis, terutama hidup dan berkembang biak di
dalam rumah yaitu di tempat penampungan air jernih atau tempat penampungan air
di sekitar rumah.
Nyamuk ini sepintas lalu nampak berlurik, berbintik bintik putih.
Biasanya menggigit pada siang hari, terutama pada pagi dan sore hari.
Jarak terbang 100 meter
Aedes albopictus
Tempat habitatnya di tempat air jernih. Biasanya disekitar rumah atau pohon poho
n, dimana tertampung air hujan yang bersih yaitu pohon pisang, pandan, kaleng be
kas, dll.
Menggigit pada waktu siang hari.
Jarak terbang 50 meter.
Pola Epidemiologis
Interaksi Virus
Untuk memahami berbagai situasi epidemiologis yang muncul, penting untuk mengena
li beberapa aspek dasar interaksi virus. Aspek
aspek tersebut meliputi:
Infeksi dengue tidak jarang menimbulkan kasus ringan pada anak
Infeksi dengue pada orang dewasa sering menimbulkan gejala, yang infeksi tersebu
t : pada beberapa epidemi rasio kesakitan yang tampak hamir mencapai 1. Akan tet
api, beberapa strain virus mengakibatkan kasus yang sangat ringan baik pada anak
mauun orang dewasa yang sering tidak dikenali sebagai kasus dengue dan menyebar
tanpa terlihat di dalam masyarakat.

Infeksi primer maupun sekunder dengue pada orang dewasa mungkin menimbukan perda
rahan gastrointestinal yang parahbegitu juga kasus peningkatan permeabilitas pem
buluh darah. Contoh, tahun 1988 di Taiwan, banyak orang dewasa yang mengalai ped
arahan yang berat yang di hubungkan dengan DEN -1 juga mengalami penyakit ulkus
peptikum.
Siklus Penularan
Vektor : Aedes aegypti, spesies Aedes (Stegomyia) lain
Masa inkubasi ekstrinsik berlangsung selama 8
10 hari
Infeksi virus dengue pada manusia disebabkan oleh gigitan nyamuk
Masa inkubasi instrinsik sekitar 4
13 hari (rata
rata 4
7 hari )
Viraemia tampak sebelum awitan gejala dan berlangsung selama rata
rata lima hari
setelah awitan
Penularan vertikan dapat terjadi, yang mungkin penting bagi kelangsungan hidup v
irus, tetapi tidak dalam siklus epidemi.
5.
Etiologi
a.
Virus dengue sejenis arbovirus.
b.
Virus dengue tergolong dalam family Flavividae dan dikenal ada 4 serotif
, Dengue 1 dan 2 ditemukan di Irian ketika berlangsungnya perang dunia ke II, se
dangkan dengue 3 dan 4 ditemukan pada saat wabah di Filipina tahun 1953-1954. Vi
rus dengue berbentuk batang, bersifat termoragil, sensitif terhadap in aktivitas
oleh diatiter dan natrium diaksikolat, stabil pada suhu 70 oC. Keempat serotif
tersebut telah di temukan pula di Indonesia dengan serotif ke 3 merupakan seroti
f yang paling banyak.

6.

Patofisiologi
Virus akan masuk ke dalam tubuh melalui gigitan nyamuk aedes aegypty dan
kemudian akan bereaksi dengan antibody dan terbentuklah kompleks virus-antibody
. Dalam sirkulasi akan mengaktivasi system komplemen. Akibat aktivasi C3 dan C5
akan dilepas C3a dan C5a,dua peptida yang berdaya untuk melepaskan histamine dan
merupakan mediator kuat sebagai factor meningkatnya permeabilitas dinding pembu
luh darah dan menghilangkan plasma melalui endotel dinding itu.
Terjadinya trobositopenia, menurunnya fungsi trombosit dan menurunnya fa
ktor koagulasi (protombin dan fibrinogen) merupakan factor penyebab terjadinya p
erdarahan hebat , terutama perdarahan saluran gastrointestinal pada DHF.
Yang menentukan beratnya penyakit adalah meningginya permeabilitas dinding pembu
luh darah , menurunnya volume plasma , terjadinya hipotensi , trombositopenia da
n diathesis hemorrhagic , renjatan terjadi secara akut.
Nilai hematokrit meningkat bersamaan dengan hilangnya plasma melalui end
otel dinding pembuluh darah. Dan dengan hilangnya plasma klien mengalami hipovol
emik. Apabila tidak diatasi bisa terjadi anoxia jaringan, acidosis metabolic dan
kematian.

PATHWAY
7.

Tanda dan gejala

a.
b.
c.
.
d.
e.
f.
g.
h.
i.
enurun,

Demam tinggi selama 5


7 hari
Mual, muntah, tidak ada nafsu makan, diare, konstipasi.
Perdarahan terutama perdarahan bawah kulit, ptechie, echymosis, hematoma
Epistaksis, hematemisis, melena, hematuri.
Nyeri otot, tulang sendi, abdoment, dan ulu hati.
Sakit kepala.
Pembengkakan sekitar mata.
Pembesaran hati, limpa, dan kelenjar getah bening.
Tanda-tanda renjatan (sianosis, kulit lembab dan dingin, tekanan darah m
gelisah, capillary refill lebih dari dua detik, nadi cepat dan lemah).

8.
Komplikasi
Komplikasi perdarahan dapat terjadi pada DD tanpa disertai gejala syok. Oleh kar
ena itu, orang tua atau pasien dinasehati bila terasa nyeri perut hebat, buang a
ir besar hitam, atau terdapat perdarahan kulit serta mukosa seperti mimisan, per
darahan gusi, apalagi bila disertai berkeringat dingin, hal tersebut merupakan t
anda kegawatan, sehingga harus segera dibawa segera ke rumah sakit. Pada pasien
yang tidak mengalami komplikasi setelah suhu turun 2-3 hari, tidak perlu lagi di
observasi.
9.
a.
1)
2)
3)
4)
5)
6)
7)
b.
1)
2)

Pemeriksaan penunjang
Darah
Trombosit menurun.
HB meningkat lebih 20 %
HT meningkat lebih 20 %
Leukosit menurun pada hari ke 2 dan ke 3
Protein darah rendah
Ureum PH bisa meningkat
NA dan CL rendah
Serology : HI (hemaglutination inhibition test).
Rontgen thorax : Efusi pleura.
Uji test tourniket (+)

10.
Penatalaksanaan
a.
Tirah baring
b.
Pemberian makanan lunak .
c.
Pemberian cairan melalui infus.
d.
Pemberian obat-obatan : antibiotic, antipiretik,
e.
Anti konvulsi jika terjadi kejang
f.
Monitor tanda-tanda vital ( T,S,N,RR).
g.
Monitor adanya tanda-tanda renjatan
h.
Monitor tanda-tanda perdarahan lebih lanjut
i.
Periksa HB,HT, dan Trombosit setiap hari.
11.
Tumbuh kembang pada anak usia 6-12 tahun
Pertumbuhan merupakan proses bertambahnya ukuran berbagai organ fisik berkaitan
dengan masalah perubahan dalam jumlah, besar, ukuran atau dimensi tingkat sel. P
ertambahan berat badan 2 4 Kg / tahun dan pada anak wanita sudah mulai mengemban
gkan cirri sex sekundernya.
Perkembangan menitik beratkan pada aspek diferensiasi bentuk dan fungsi termasuk
perubahan sosial dan emosi.
a.
Motorik kasar
1)
Loncat tali
2)
Badminton
3)
Memukul
4)
Motorik kasar di bawah kendali kognitif dan berdasarkan secara bertahap
meningkatkan irama dan kehalusan.
b.
Motorik halus
1)
Menunjukan keseimbangan dan koordinasi mata dan tangan
2)
Dapat meningkatkan kemampuan menjahit, membuat model dan bermain alat mu

sik.
c.
Kognitif
1)
Dapat berfokus pada lebih dan satu aspek dan situasi
2)
Dapat mempertimbangkan sejumlah alternatif dalam pemecahan masalah
3)
Dapat membelikan cara kerja dan melacak urutan kejadian kembali sejak aw
al
4)
Dapat memahami konsep dahulu, sekarang dan yang akan datang
d.
Bahasa
1)
Mengerti kebanyakan kata-kata abstrak
2)
Memakai semua bagian pembicaraan termasuk kata sifat, kata keterangan, k
ata penghubung dan kata depan
3)
Menggunakan bahasa sebagai alat pertukaran verbal
4)
Dapat memakai kalimat majemuk dan gabungan

B.
Konsep Asuhan Keperawatan
1.
Pengkajian
Pengkajian merupakan tahap awal yang dilakukan perawat untuk mendapatkan data ya
ng dibutuhkan sebelum melakukan asuhan keperawatan . pengkajian pada pasien deng
an DHF dapat dilakukan dengan teknik wawancara, pengukuran, dan pemeriksaan fisik.
Adapun tahapan-tahapannya meliputi :
a.
Mengkaji data dasar, kebutuhan bio-psiko-sosial-spiritual pasien dari be
rbagai sumber (pasien, keluarga, rekam medik dan anggota tim kesehatan lainnya).
b.
Mengidentifikasi sumber-sumber yang potensial dan tersedia untuk memenuh
i kebutuhan pasien.
c.
Kaji riwayat keperawatan.
d.
Kaji adanya peningkatan suhu tubuh ,tanda-tanda perdarahan, mual, muntah
, tidak nafsu makan, nyeri ulu hati, nyeri otot dan sendi, tanda-tanda syok (den
yut nadi cepat dan lemah, hipotensi, kulit dingin dan lembab terutama pada ekstr
imitas, sianosis, gelisah, penurunan kesadaran).
2.
Diagnosa keperawatan
Penyusunan diagnosa keperawatan dilakukan setelah data didapatkan, kemudian dike
lompokkan dan difokuskan sesuai dengan masalah yang timbul sebagai contoh diagno
sa keperawatan yang mungkin muncul pada kasus DHF diantaranya :
a.
Gangguan volume cairan berhubungan dengan peningkatan permeabilitas kapi
ler, perdarahan, muntah dan demam.
b.
Hipertermi berhubungan dengan proses infeksi virus dengue.
c.
Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual, m
untah, tidak ada nafsu makan.

3.

Rencana keperawatan

Diagnosa Keperawatan
Rencana keperawatan
Tujuan dan Kriteria Hasil
Intervensi
Hipertermia
berhubungan dengan :
NOC:
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam, klien menunjukkan :
Suhu tubuh dalam batas normal dengan kreiteria hasil:
Suhu 36
37C
Nadi dan RR dalam rentang normal
Tidak ada perubahan warna kulit dan tidak ada pusing, merasa nyaman
NIC :
Monitor suhu sesering mungkin
Monitor warna dan suhu kulit

Monitor tekanan darah, nadi dan RR


Monitor penurunan tingkat kesadaran
Monitor WBC, Hb, dan Hct
Monitor intake dan output
Berikan anti piretik:
Selimuti klien
Berikan cairan intravena
Kompres klien pada lipat paha dan aksila
Tingkatkan sirkulasi udara
Tingkatkan intake cairan dan nutrisi
Monitor TD, nadi, suhu, dan RR
Catat adanya fluktuasi tekanan darah
Monitor hidrasi seperti turgor kulit, kelembaban membran mukosa)

Defisit Volume Cairan


berhubungan dengan
NOC:
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam, defisit volume cairan t
eratasi dengan kriteria hasil:
Mempertahankan urine output sesuai dengan usia dan BB, BJ urine normal,
Tekanan darah, nadi, suhu tubuh dalam batas normal
Tidak ada tanda tanda dehidrasi, Elastisitas turgor kulit baik, membran
mukosa lembab, tidak ada rasa haus yang berlebihan
Orientasi terhadap waktu dan tempat baik
Jumlah dan irama pernapasan dalam batas normal
Elektrolit, Hb, Hmt dalam batas normal
pH urin dalam batas normal
Intake oral dan intravena adekuat
NIC :
Pertahankan catatan intake dan output yang akurat
Monitor status hidrasi ( kelembaban membran mukosa, nadi adekuat, tekana
n darah ortostatik ), jika diperlukan
Monitor hasil lab yang sesuai dengan retensi cairan (BUN , Hmt , osmolal
itas urin, albumin, total protein )
1 jam
Monitor vital sign setiap 15menit
Kolaborasi pemberian cairan IV
Monitor status nutrisi
Berikan cairan oral
Berikan penggantian nasogatrik sesuai output (50 100cc/jam)
Dorong keluarga untuk membantu klien makan
Kolaborasi dokter jika tanda cairan berlebih muncul meburuk
Atur kemungkinan tranfusi
Persiapan untuk tranfusi
Pasang kateter jika perlu
Monitor intake dan urin output setiap 8 jam
Ketidakseimbangan nutrisi lebih dari kebutuhan tubuh
berhubungan dengan
NOC :
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam, Ketidak seimbangan nut
risi lebih teratasi dengan kriteria hasil:
Mengerti factor yang meningkatkan berat badan
Mengidentfifikasi tingkah laku dibawah kontrol klien
Memodifikasi diet dalam waktu yang lama untuk mengontrol berat badan
Penurunan berat badan 1-2 pounds/mgg
Menggunakan energy untuk aktivitas sehari hari
NIC :
Diskusikan bersama klien mengenai hubungan antara intake makanan, latiha
n, peningkatan BB dan penurunan BB
Diskusikan bersama klien mengani kondisi medis yang dapat mempengaruhi B
B

Diskusikan bersama klien mengenai kebiasaan, gaya hidup dan factor hered
iter yang dapat mempengaruhi BB
Diskusikan bersama klien mengenai risiko yang berhubungan dengan BB berl
ebih dan penurunan BB
Dorong klien untuk merubah kebiasaan makan
Perkirakan BB badan ideal klien
Kaji adanya alergi makanan
Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori dan nutrisi y
ang dibutuhkan klien.
Anjurkan klien untuk meningkatkan intake Fe
Anjurkan klien untuk meningkatkan protein dan vitamin C
Berikan substansi gula
Yakinkan diet yang dimakan mengandung tinggi serat untuk mencegah konsti
pasi
Berikan makanan yang terpilih ( sudah dikonsultasikan dengan ahli gizi)
Ajarkan klien bagaimana membuat catatan makanan harian.
Monitor jumlah nutrisi dan kandungan kalori
Berikan informasi tentang kebutuhan nutrisi
Kaji kemampuan klien untuk mendapatkan nutrisi yang dibutuhkan
Fasilitasi keinginan klien untuk menurunkan BB
Perkirakan bersama klien mengenai penurunan BB
Tentukan tujuan penurunan BB
Beri pujian/reward saat klien berhasil mencapai tujuan
Ajarkan pemilihan makanan

BAB III
KESIMPULAN
Dengue hemoragic fever ialah suatu penyakit yang disebabkan oleh virus dengue (
arbo virus) yang masuk kedalam tubuh melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti.
Penyebabnya adalah virus dengue sejenis arbovirus. Tanda dan gejala berupa: dema
7 hari, mual, muntah, tidak ada nafsu makan, diare, konstipasi
m tinggi selama 5
, perdarahan terutama perdarahan bawah kulit, ptechie, echymosis, hematoma, epis
taksis, hematemisis, melena, hematuri, nyeri otot, tulang sendi, abdoment, dan u
lu hati, sakit kepala, pembengkakan sekitar mata, pembesaran hati, limpa, dan ke
lenjar getah bening, tanda-tanda renjatan (sianosis, kulit lembab dan dingin, te
kanan darah menurun, gelisah, capillary refill lebih dari dua detik, nadi cepat
dan lemah).
Masalah keperawatan yang mungkin timbul adalah:
Gangguan volume cairan berhubungan dengan peningkatan permeabilitas kapi
ler, perdarahan, muntah dan demam.
Hipertermi berhubungan dengan proses infeksi virus dengue.
Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual, m
untah, tidak ada nafsu makan.

DAFTAR PUSTAKA
Carpenito, Lynda Juall. 2009. Diagnosis Keperawatan : Aplikasi Pada Praktik Klin

is. Jakarta: EGC


Hidayat, Azis Alimul. 2006. Pengantar Ilmu Keperawatan Anak. Jakarta: Salemba Me
dika
Mansjoer, A., dkk. 2007. Kapita Selekta Kedokteran Edisi Ketiga Jilid Pertama. J
akarta: Media Aesculapius FKUI.
Ngastiyah, 2005, Perawatan Anak Sakit, EGC, Jakarta
Suriadi.,S.Kep. MSN & Rita Yuliani S.Kep., M.Psi. 2006. Asuhan Keperwatan pada A
nak . Jakarta: Sagung Seto
Syaifuddin. 2006. Anatomi Fisiologi Untuk Mahasiswa Keperawatan. Edisi 3.
Jakarta: EGC

DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN.............................................................
...................
1
BAB II TINJAUAN TEORITIS :
A.
Konsep Dasar Medis .....................................................
...................... 2
1.
Pengertian .............................................................
........................
2
2.
Klasifikasi ............................................................
.........................
2
3.
Anatomi Fisiologi ......................................................
...................
2
4.
Epidemiologi ...........................................................
..................... 10
5.
Etiologi ...............................................................
...........................
11
6.
Patofisiologi ..........................................................
..........................
12
7.
Tanda dan gejala .......................................................
..................... 13
8.
Komplikasi .............................................................
...................... 14
9.
Pemeriksaan penunjang ..................................................
................
14
10.
Penatalaksanaan .......................................................
..................... 14
11.
Tumbuh kembang pada anak usia 6-12 tahun ...............................
...
14
B.
Konsep Asuhan Keperawatan ..............................................
..................
16

1.
Pengkajian .............................................................
..........................
16
2.
Diagnosa keperawatan ..................................................
.................
16
3.
Perencanaan keperawatan ...............................................
................
17
BAB III : KESIMPULAN ...........................................................
..........................
20
DAFTAR PUSTAKA..................................................................
..........................
21