Anda di halaman 1dari 2

KURANGNYA KESADARAN PESERTA DIDIK DALAM PROSES

PENDIDIKAN
Manajemen Peserta Didik
Pendidikan adalah hal sangat penting dalam kehidupan manusia. Hal paling penting yang
seharusnya di capai dalam pendidikan adalah perubahan pola berpikir peserta didik menuju pola
pikir yang sestematis, dan efektif dalam mencapai apa yang menjadi tujuan peserta didik itu
sendiri.
Peserta didik saat ini cenderung menggantungkan informasi pembelajaran kepada pendidik
mereka, tidak lagi mandiri, aktif dan berinisiatif untuk mencari bahan atau informasi untuk
mendukung pendidikannya. Kalaupun ada yang sibuk mencari buku atau info di internet/ media
lainnya itupun sebagian besar karena hanya ingin menyelesaikan tugas yang diberikan oleh
pendidiknya. Para peserta didik seakan tidak menyadari bahwa pendidikan itu adalah untuk
dirinya, membentuk pola pikirnya tetapi mereka hanya menganggap hal itu hanyalah sebagai
syarat yang harus dilalui untuk mendapatkan selembar kertas ijazah/gelar.
Anggapan ini sangat berpengaruh terhadap proses pembelajaran dan pendidikan mereka.
Pendidik tidak bisa menerapkan cara mengajar yang aktif dan konstruktif terhadap peserta
didiknya. Mereka hanya melakukan cara mengajar dengan pola konvensional yang hanya
memungkinkan transfer ilmu yang mereka miliki kepada peserta didik yang seakan akan tanpa
melibatkan pesertanya dalam proses belajar tersebut. Kenapa?
Ya...memang karena mereka cenderung hanya menerima apa yang diberikan pendidiknya,
peserta seakan tidak siap untuk diajak berdiskusi dan bertukar pikiran karena mereka tidak mau
belajar tentang apa yang seharusnya mereka pelajari dan hanya menunggu diberi ilmu oleh
pendidiknya, mereka tidak menyadari bahwa pendidiknya juga manusia biasa yang memiliki
keterbatasan-keterbatasan tentang ilmu yang ia pelajari, sedangkan ilmu dan teknologi terus
berkembang. Tanpa melakukan kajian yang lebih dari apa yang telah dipelajari dan dialami oleh
para pendidiknya maka peserta didik dipastikan akan ketinggalan ilmu dan teknologi yang
berkembang sekarang ini.
Dengan ilmu dan pengalaman yang diberikan oleh pendidiknya, seharusnya peserta didik bisa
mengembangkan informasi yang diberikan sehingga dalam kegiatan belajar pendidik tidak lagi
menerapkan cara-cara pendidikan konvensional tetapi lebih melibatkan peserta didik melalui
pertukaran pendapat/diskusi. Pada akhirnya apa yang menjadi tujuan pendidikan dapat dicapai.

Paradigma Belajar Perguruan Tinggi


OPINI | 10 March 2012 | 14:16

Dibaca: 166

Komentar: 0

Nihil

Tujuan mahasiswa menempuh pendidikan di perguruan tinggi pada umumnya


adalah untuk menigkatkan kualitas diri dari sisi pengetahuan dan cara berfikir.
Pengetahuan yang didapatkan mahasiswa dari proses belajar semestinya berasal

dari proses penalaran kritis terhadap materi yang didapatkan baik melalui
pembelajaran mandiri maupun tutorial dari pengajar atau dosen. Untuk memiliki
penalaran kritis tentunya mahasiswa harus memiliki wawasan yang luas dan
pemahaman dari literatur yang memadai sebagai dasar pembanding atau acuan
dalam menyaring informasi dan mencari kesenjangan antara materi yang dia
pahami dengan informasi baru yang dia terima, hal ini akan membuat rasa ingin
tahu berkembang dan memberi motivasi untuk mengkaji lebih dalam tentang hal
yang menjadi perdebatan. Namun, harus diakui kebanyakan mahasiswa kurang
bahkan sama sekali tidak memiliki pemahaman dasar sebelum mengikuti kuliah
sehingga hanya mengandalkan informasi yang diberikan oleh pengajar atau dosen
tanpa mengkritisi informasi tersebut. Kecenderungan untuk tidak melakukan
penalaran kritis juga menyebabkan mahasiswa hanya menghafal informasi yang
diterimanya tetapi tidak benar-benar memahami materi tersebut secara
menyeluruh dan mendalam, hal ini seolah-olah dibenarkan ketika pengajar
melakukan pengujian berdasarkan kemampuan mahasiswa menjelaskan materi
sesuai dengan buku yang menjadi acuan dalam perkuliahan. Kurangnya kesadaran
mahasiswa dalam mencari materi pembelajaran secara mandiri mungkin
disebabkan karena kurangnya kesadaran individu terhadap status sebagai
mahasiswa, hal ini dapat terjadi karena kebiasaan cara belajar pada sekolah
menengah yang lebih bersifat tutorial atau satu arah masih terbawa oleh individu
yang menempuh pendidikan di perguruan tinggi.
Melihat kecenderungan belakangan ini perguruan tinggi hanya dijadikan sebagai
tempat untuk memperoleh gelar akademik yang akan digunakan sebagai syarat
untuk mendapatkan pekerjaan yang layak, hal ini menyebabkan golongan
masyarakat tertentu melihat pendidikan pada perguruan tinggi lebih kepada
kewajiban untuk mendapatkan pekerjaan daripada sebagai kebutuhan untuk
mengembangkan ilmu pengetahuan. Cara pikir masyarakat tersebut menyebabkan
citra peguruan tinggi sebagai tempat mengembangkan dan mengkaji ilmu
pengetahuan mengalami pergeseran menjadi pabrik tenaga kerja yang
menghasilkan tenaga kerja bergelar sarjana. Pendidikan dan pasar kerja perlu lebih
disesuaikan dengan merubah paradigma pemberi dan pencari kerja yang
sebelumnya menganggap gelar kesarjanaan sebagai syarat untuk kerja kearah
pendidikan yang sifatnya kepraktikan atau diploma sehingga dapat lebih produktif.
Pendidikan kesarjanaan seharusnya ditempuh oleh orang yang benar-benar ingin
mengembangkan pengetahuannya.