Anda di halaman 1dari 6

1.

Nano komposit
Ukurannya: 1-5m
Ukurannya yang kecil sehingga dapat masuk diantara beberapa rantai
polimer yang disebut very high filler loading levels in composites.
Beberapa komposit berbahan pengisi partikel kecil menggunakan quartz
sebagai

bahan

pengisi,

tetapi

kebanyakan

memakai

kaca

yang

mengandung logam berat.


Volumenya dari inorganic filler 78,5%.
Kategori komposit ini menunjukan sifat fisik dan mekanis yang paling
unggul. Dengan ditingkatkannya kandungan bahan pengisi, terdapat
peningkatan dalam hamper semua sifat yang relevan.
Penggunaan pada kelas I, II, III, IV, V
Pertimbangan Klinis Penggunaan :
Karena kekuatan komposit tersebut meningkat dan tingginya muatan bahan
pengisi, bahan tersebut diindikasikan untuk aplikasi pada daerah dengan tekanan
dan abrasi tinggi seperti kelas I dan II. Ukuran partikel dari beberapa komposit
berbahan pengisi partikel kecil memungkinkan diperolehnya permukaan halus
untuk pemakaian pada gigi anterior, tetapi bahan ini tidak sebaik komposit
berbahan pengisi mikro.

KLASIFIKASI RESIN

TUMPATAN KELAS

KOMPOSIT
INDIKASI
Macrofillers

II, IV

Microfillers

III, V

Hybrid

I, II, III, IV, V, VI

Nano komposit

I, II, III, IV, V, VI

KONTRAINDIKASI
I, II, IV,VI

KompositNanofiller
Merupakan bahan restorasi universal yang diaktifasi oleh visible light yang dirancang untuk

keperluan merestorasi gigi anterior maupun posterior. Memiliki sifat kekuatan dan ketahanan hasil
poles yang sangat baik. Dikembangkan dengan konsep nanotechnology, yang biasanya digunakan
untuk membentuk suatu produk yang dimensi komponen kritisnya adalah sekitar 0.1 hingga 100
nanomer. Secara teori, nanotechnology digunakan untuk membuat suatu produk baru yang lebih
ringan, lebih kuat, lebih murah, dan lebih tepat. Jika produk dengan konsep nanotechnology ini
digunakan

untuk

untukmembuatbadanpesawatudarasebagaipengganti

metal,

makaberatbadanpesawatudarainiakan 50 kali lebihringan, tetapimemilikikekuatan yang samadengan


yang dibuatdari metal. Salahsatutujuanutamadariteknologiiniadalahmenciptakannilaitambahsuatu
produk.1
Karenabersifat

universal,

posterior.Indikasikompositinicukupluas,

kompositbisadigunakanuntukgigi

anterior

meliputirestorasidirekgigi

maupun

anterior

maupun
posterior,

sandwich technique bersamadenganbahan resin glass ionomer, cusp buildup, core buildup,splinting,
restorasiindirekgigi anterior maupun posterior termasuk inlay, onlay and veneer. 1
Komposisibahankompositiniterdiridarisistem resin yang bersifatdapatmengurangipenyusutan,
yaitu

BIS-GMA,

BIS-EMA,

TEGDMA.Sedangkanfillernyaberisikombinasiantara
tidakberkelompok,dannanocluster

UDMA
filler

(Gambar

dansejumlahkecil

nanosilica
1)

20

nm

yang

zirconia/silica

yangmudahberikatanmembentukkelompok, dimanakelompoktersebutterdiridaripartikelzirconia/silica
denganukuran 5-20 nm. Ukuranpartikelsatu cluster adalahberkisarantara 0.6 -1.4 mikron. Muatan
filler kompositiniadalah78.5% berat.Ukuransuatunanomersetaradengan 1/1,000,000,000 meter atau
1/1000mikron.Iniadalahsekitar

10

kali

garistengahsuatu

atom

hidrogenatau

1/80,000

tebalrambutmanusia.1

Definisi Komposit
Kata komposit memiliki pengertian luas dan berbeda-beda, mengikut situasi dan
perkembangan bahan itu sendiri. Gabungan dua atau lebih bahan merupakan suatu konsep
yang diperkenalkan untuk menerangkan definisi komposit.
Meski demikian, defenisi ini terlalu umum. Pasalnya komposit merangkum semua bahan
termasuk plastik yang diperkuat dengan serat, logam alloy, keramik, kopolimer, plastik
berpengisi, atau apa saja campuran dua bahan atau lebih untuk mendapatkan bahan baru.
Sedangkan nanokomposit dapat dianggap struktur padat dengan dimensi berskala
nanometer yang berulang pada jarak antarbentuk penyusun struktur yang berbeda.
Material-material dengan jenis seperti itu terdiri atas padatan inorganik yang tersusun atas
komponen organik.
Selain itu, material nanokomposit dapat pula terdiri atas dua atau lebih molekul

anorganik/organik, dalam beberapa bentuk kombinasi dengan pembatas antarkeduanya


minimal satu molekul atau memiliki ciri berukuran nano.
Contoh nanokomposit yang ekstrem adalah media berporos, koloid, gel, dan kopolimer.
Ikatan antarpartikel yang terjadi pada material nanokomposit memainkan peran penting
dalam peningkatan dan pembatasan sifat material.
Partikel-partikel yang berukukuran nano itu mempunyai luas permuka
an interaksi yang tinggi. Makin banyak partikel yang berinteraksi, kian kuat pula material.
Inilah yang membuat ikatan antarpartikel makin kuat, sehingga sifat mekanik materialnya
bertambah.
Namun penambahan partikel-partikel nano tidak selamanya akan meningkatkan sifat
mekaniknya. Ada batas tertentu yang mana saat dilakukan penambahan, kekuatan
material justru makin berkurang.

Nanokomposit merupakan material padat multi fase, dimana setiap fase memiliki satu, dua, atau tiga
dimensi yang kurang dari 100 nanometer (nm), atau struktur padat dengan dimensi berskala
nanometer yang berulang pada jarak antar bentuk penyusun struktur yang berbeda. Material-material
dengan jenis seperti itu terdiri atas padatan anorganik yang tersusun atas komponen organik. Contoh
nanokomposit yang ekstrem adalah media berporos, koloid, gel, dan kopolimer. Nanokomposit dapat
ditemukan di alam, contohnya adalah kulit tiram dan tulang (Anonim, 2009).
Ikatan antar partikel yang terjadi pada material nanokomposit memainkan peran penting dalam
peningkatan dan pembatasan sifat material. Partikel-partikel yang berukukuran nano itu mempunyai
luas permukaan interaksi yang tinggi. Makin banyak partikel yang berinteraksi, kian kuat pula
material. Inilah yang membuat ikatan antarpartikel makin kuat, sehingga sifat mekanik materialnya
bertambah. Namun penambahan partikel-partikel nano tidak selamanya akan meningkatkan sifat
mekaniknya. Ada batas tertentu yang mana saat dilakukan penambahan, kekuatan material justru
makin berkurang. Namun pada umumnya, material nanokomposit menunjukkan perbedaan sifat
mekanik, listrik, optik, elektrokimia, katalis, dan struktur dibandingkan dengan material penyusunnya
(Hadiyawarman,dkk, 2008).
Pembuatan Nanokomposit
Pembuatan material nanokomposit dapat dilakukan dengan melakukan pendekatan-pendekatan yang
mudah dan kompleks. Salah satunya adalah menggunakan pendekatan simple mixing.
Dalam metode ini, peningkatan kekuatan mekanik material terjadi akibat penambahan nanopartikel
SiO2 pada epoxy resin. Permukaan nanopartikel yang sangat luas berinteraksi dengan rantai polimer,
sehingga mereduksi mobilitas rantai polimer. Interaksi ini meningkatkan kekuatan mekanik komposisit
tersebut jauh di atas kekuatan polimer itu sendiri. Hasil yang diperoleh adalah material yang ringan
dengan kekuatan tinggi. Makin banyak jumlah SiO2 yang dimasukkan, kekuatan material
nanokomposit juga bertambah sampai titik kritisnya (Nano, 2009).
Kelebihan Nanokomposit
Bahan komposit mempunyai beberapa kelebihan dibandingkan dengan bahan konvensional seperti
logam. Misalnya memiliki densiti yang jauh lebih rendah daripada bahan konvensional. Hal ini jelas
memberi implikasi yang penting dalam konteks penggunaan. Pasalnya, komposit akan mempunyai
kekuatan dan kekakuan spesifik yang lebih tinggi dari bahan konvensional.
Komposit juga memiliki kekuatan yang dapat diatur (tailorability), tahanan lelah (fatigue resistance)

yang baik, tahan korosi, dan memiliki kekuatan jenis (rasio kekuatan terhadap berat jenis) yang tinggi
(Hadiyawarman,dkk, 2008).
Kegunaan Nanokomposit
Dalam industri angkasa luar, ada kecenderungan untuk mengganti komponen yang dibuat dari logam
dengan komposit karena terbukti komposit mempunyai rintangan terhadap fatigue yang baik,
terutama komposit yang menggunakan serat karbon.
Penggunaan bahan komposit pun sangat luas, yaitu untuk komponen kapal terbang, helikopter,
satelit, industri pertahanan, jembatan, terowongan, kaki palsu, dan yang terpopular adalah
penggunaan bahan baku mobil Formula One (F1).
Manfaat utama penggunaan komposit adalah mendapatkan kombinasi sifat kekuatan serta kekakuan
tinggi dan berat jenis yang ringan. Dengan memilih kombinasi material serat dan matriks yang tepat,
kita dapat membuat material komposit dengan sifat yang tepat sama dengan kebutuhan sifat untuk
struktur dan tujuan tertentu (Hadiyawarman,dkk, 2008).

Anonim. 2009. Nanokomposit Material Superkuat dan Ringan. www.wikipedia.org/nanokomposit.


Diakses pada 12 Maret 2010.
Hadyawarman, dkk. 2008. Fabrikasi Material Nanokomposit Superkuat, Ringan dan Transparan
Menggunakan Metode Simple Mixing. Jurnal Nanosains & Nanoteknologi. Vol 1, No 1, Februari 2008:
14-21.
Muller, Ulrich. 2006. Inorganic Strctural Chemistry. USA: Jhon Willey & Sons
Nano. 2009. Nanokomposit Material Superkuat dan Ringan. http://www.pustakadeptan.go.id/agritek/ppua0158. Diakses pada 12 Maret 2010.

2.1. Keuntungan dan Kerugian dari Polimer Nanokomposit


Polimer nanokomposit memiliki banyak keuntungan dibanding material
lainnya. Beberapa keuntungan yang dimiliki material polimer nanokomposit
antara lain:
1. Peningkatan yang signifikan pada sifat fisik dan sifat mekanik
Suatu nanokomposit dapat memiliki sifat fisik dan mekanik yang lebih baik
dibandingkan material penyusunnya karena adanya ikatan/interaksi baru yang
terbentuk pada struktur nanokomposit. Misalnya, terbentuknya ikatan kovalen
baru antara polimer dengan nanopartikel anorganik, atau adanya interaksi ikatan
hidrogen antara keduanya. Adanya interaksi baru tersebut menyebabkan
interaksi polimer-nanopartikel menjadi lebih kuat sehingga terjadi peningkatan
sifat fisik dan mekanik pada nanokomposit. Sebagai contoh, nilon 6 mengalami
peningkatan kekuatan tarik, modulus tensil, modulus fleksural, dan temperatur
distorsi panas setelah dibuat menjadi nanokomposit dengan organoclay.
Nanokomposit ini dikenal sebagai Cloisite.

Tabel 5 Perbandingan sifat mekanik nilon 6 dengan Cloisite.

2. Munculnya sifat baru pada polimer


Penambahan nanopartikel ke dalam matriks polimer dapat menghasilkan
karakteristik yang sebelumnya tidak dimiliki oleh polimer tersebut. Sebagai
contoh, polikaprolakton menjadi memiliki aktivitas biologis setelah dibuat
komposit dengan nanopartikel hidroksiapatite. Contoh lainnya adalah
nanokomposit poliglisin-MMT menghasilkan nanokomposit yang dapat memiliki
konformasi sekunder seperti halnya protein, ciri yang sebelumnya tidak dimiliki
oleh MMT.
3. Pengurangan limbah
Salah satu penyebab dihasilkannya limbah adalah kesulitan dari produk
tertentu untuk didaur ulang. Beberapa kemasan untuk makanan, misalnya,
menggunakan struktur film berlapis untuk meningkatkan sifat mekaniknya
sehingga sulit untuk didaur ulang. Dengan menggunakan polimer nanokomposit ,
maka akan diperoleh kemasan makanan yang memiliki sifat fisik dan mekanik
yang mirip dengan material sebelumnya tanpa harus memakai struktur berlapis.
Dengan demikian, maka kemasan akan lebih mudah didaur ulang dan limbah
yang dihasilkan dapat dikurangi. Sebagai contoh, nanokomposit termoplasnanofiller yang dapat menggantikan foil multilayer pada kemasan makanan.
Selain kelebihan, polimer nanokomposit
kekurangan yang perlu diperhatikan, diantaranya:

juga

memiliki

beberapa

1. Peningkatan viskositas
Viskositas merupakan faktor penting yang menentukan kemudahan suatu
polimer dalam pemrosesan di pabrik. Polimer yang terlalu kental (viskositas
tinggi) akan lebih sulit dialirkan sehingga menyulitkan proses pengolahan
polimer menjadi produk. Dengan penambahan nanopartikel, viskositas polimer
nanokomposit akan meningkat sehingga lebih sulit untuk diproses dibandingkan
polimernya.
2. Kesulitan dalam proses dispersi dan distribusi nanopartikel
Untuk membuat polimer nanokomposit dengan kualitas tinggi, maka
dibutuhkan dispersi nanopartikel yang homogen dan distribusi yang merata pada
matriks polimer. Untuk itu, dibutuhkan interaksi yang baik antara nanopartikel
dengan polimer. Beberapa nanopartikel harus dipreparasi terlebih dahulu
sebelum dibuat menjadi nanokomposit. Apabila dispersi atau distribusi kurang
baik, maka akan terjadi agregasi sehingga nanokomposit yang terbentuk kurang
baik atau bahkan tidak terbentuk sama sekali

3. Penurunan sifat-sifat tertentu

Pembuatan polimer nanokomposit, selain meningkatkan sifat-sifat polimer


dan nanopartikel, ternyata juga dapat menyebabkan penurunan pada sifat-sifat
tertentu. Misalnya, penurunan kekuatan impak dan kekerasan pada poliamida
setelah dimodifikasi menjadi nanokomposit.