Anda di halaman 1dari 9

MAKALAH REVIEW BUKU ANATOMI

DEPENDENSI (BAB 1-3)


OLEH TAKEO DOI

RUS HARMINANTI
11/318614/SA/16133

FAKULTAS ILMU BUDAYA


UNIVERSITAS GADJAHMADA

2013
PEMBUKAAN
Makalah ini berisi tentang review buku ANATOMI DEPENDENSI karya Takeo
Doi yang terbit di tahun .. Buku ini membahas tentang keadaan jiwa,
psikologis orang Jepang, dan paham Amae yang dianggap sebagai salah
satu kondisi psikologis yang sangat erat kaitannya dengan masyarakat
Jepang. Makalah ini mereview dari Bab 1 Timbulnya Paham Amae sampai
Bab 3
A. BAB 1 : TIMBULNYA PAHAM AMAE
Penulis tertarik untuk meneliti tentang Amae diawali saat dia mengalami culture
shock ketika pertama kali datang ke Amerika. Penulis mendapati bahwa
masyarakat

Amerika

memiliki

karakteristik

masyarakat

Jepang.

Masyarakat

Amerika

yang

berbeda

cenderung

jauh

blak-blakkan

dengan
dalam

mengungkapkan pendapatnya. Sedangkan masyarakat Jepang sangat suka


berbasa-basi. Salah satu contohnya adalah etika bertamu dalam kehidupan
masyarakat Amerika dan Jepang yang sangat berbeda. Dalam kehidupan
masyarakat Jepang seorang tuan rumah haruslah akrab betuk dengan tamunya
sebelum dia menanyakan apakah dia suka dengan apa yang ditawarkan.
Mereka juga akan cenderung merendahkan diri. Sedangkan dalam kehidupan
orang Amerika mereka cenderung blak-blakkan menanyakan keinginan dari
tamunya.
Studi kasus :
Amerika

Jepang

Saat bertamu, tuan rumah akan bertanya

Di jepang tuan rumah tidak akan

anda lapar ? kami ada es krim kalo anda

menanyakan secara begitu terus

suka penulis agak lapar, tapi karena

terang, apakah tamunya lapar

ditanya terus menerus oleh orang yang

atau tidak , tetapi akan mencari

baru dia kenal dia tidak mau menjawab

cara

terus terang sehingga dia menjawab tidak

sesuatu tanpa bertanya kepada

lapar. Dia berharap tuan rumah akan

tamunya.

mengulangi pertanyaannya tapi ternyata


tuan rumah hanya menjawab oh ! saya
mengerti

untuk

menyuguhkan

Kemudian penulis merasa sedikit kecewa


dengan jawaban tuan rumah.

Dari contoh kasus tersebut terlihatlah sifat Amae yang ingin diperlihatkan oleh
si penulis tapi tidak mendapat jawaban seperti yang diinginkan. Sifat Amae
sebenarnya dimiliki oleh hampir setiap orang namun sifat ini terlihat lebih
menonjol

dalam

kehidupan

masyarakat

Jepang.

Mereka

hidup

dengan

menjunjung tinggi paham Amae dalam kehidupan mereka.

B. BAB 2 : DUNIA AMAE


Istilah Amae adalah suatu kosa kata khas bahasa Jepang yang sebenarnya
mengungkapkan suatu gejala psikologis yang pada dasarnya umum didapatkan
dalam kalangan umat manusia secara keseluruhan. Amae merupakan suatu
konsep kunci untuk memahami tidak hanya struktur psikologis orang Jepang
sebagai perorangan tapi juga dalam tatanan masyarakat Jepang itu sendiri
secara keseluruhan.
1. KOSA KATA AMAE
Selain Amae masih ada sejumlah besar kata lain yang mengandung arti
yang sama dengan ekspresi jiwa yang disebut amaeru. Amae berhubungan
dengan kata amai, amaeru dan amanzuru. Amai selain diartikan manis di
lidah bisa juga bermakna lain. Misal A bersikap amai terhadap B, A
membiarkan

berlaku

amaeru

(manja)

terhadap

A,

yaitu

bersikap

mengandalkan diri dan mengharapkan sesuatu dari tali perhubungan antara


kedua orang itu. Juga dapat dikatakan bahwa pandangan orang terhadap
suasana amai yang mempunyai arti sangat optimistis tanpa mempunyai
suatu pengertian yang cukup tentang seluk beluk realita yang dihadapi.
Kemudian amanzuru dapat diartikan sebagai sikap puas terhadap sesuatu,
menerima keadaan karena tidak ada kemungkinan timbulnya suatu suasana
yang lebih menguntungkan. Harapan terbesar pada hakikatnya adalah untuk

memenuhi hasrat amaeru, tetapi kalau suasana tidak memungkinkan


cukuplah suatu sikap amanzuru.
Selain itu adapula istilah yang mempunyai hubungan dengan bermacam
keadaan jiwa seseorang yang tidak dapat memenuhi hasratnya untuk
amaeru, yaitu :
- Suneru : menggambarkan suatu sikap seseorang yang tidak memperoleh
kesempatan untuk memanjakan diri secara terus terang. Namun sikap itu
-

sendiri mengandung sifat manja.


Higamu : sikap curiga yang mengandung anggapakn dirinya tidak
diperlakukan adil, timbul dari suatu suasana dimana hasrat untuk amaeru

tidak memperoleh jawaban yang diharapkan.


Hinekureru : memperlihatkan sikap yang sebenar-benarnya bertentangan
dengan

hasrat

sendiri,

mencakup

sikap

pura-pura

seakan2

tidak

mempunyai hasrat apapun untuk amaeru.


Uramu : memperlihatkan sikap membenci yang mengandung sikap
bermusuhan, muncul karena hasrat amae tidak diacuhkan.

Kemudian ada pula istilah-istilah lain :


-

Tanomu : intinya tidak lain mengatakan saya harap diizinkan amaeru


Torriru : mengambil muka untuk seseorang dengan maksud untuk

mencapai suatu tujuan tertentu.


Kodawaru/jual mahal : dalam hubungannya dengan orang lain tidak
membiarkan dirinya meminta , mengandalkan diri atau mengambil muka.
Sebenarnya dia ingin amaeru tapi khawatir akan ditolak sehingga dia

menekan hasrat untuk berterus terangnya.


Kigane : sikap membatasi diri, atau berbasa basi karena khawatir kalau
dia berterus terang dia tidak akan mendapat jawaban seperti yang dia

inginkan.
Wadakamari : suatu sikap tak acuh yang mencolok menyelubungi suatu

sikap benci kepada seseorang.


Tereru/kikuk : juga menyerupai seseorang yang kodawaru yaitu ketidak
mampuan untuk menyatakan secara terus terang hasratnya untuk
amaeru.

Kemudian ada konsep sumanai, istilah ini agak khusus karena dipakai baik
untuk mengungkapkan perasaan terimakasih maupun permhonan maaf; dua
suasana yang sangat berbeda satu dengan lainnya. Mengapa orang Jepang
tidak cukup hanya memperlihatkan rasa terimakasih terhadap suatu

tindakan baik hati, dan harus memohon maaf bagi kesusahan yang dia
bayangkan telah dialami orang yang bersangkutan. Sebabnya ialah karena
orang Jepang khawatir kalau tidak memohon maaf orang yang bersangkutan
akan menganggapnya tidak sopan dan sebagai akibatnya kehilangan
kemauan baik dari orang yang bersangkutan.
2. GIRI & NINJO
Giri maupun ninjo masing-masing memiliki akar yang amat mendalam dalam
wadah amae. Jika menekankan ninjo berarti menegaskan amae, yaitu untuk
mendorong kepekaan seseorang terhadap amae. Sementara itu, dengan
menekankan giri ditegaskan hubungan manusia yang timbul melalui amae.
Sehingga

dapat

dikatakan

bahwa

ninjo

menyambut

baik

sikap

menggantungkan atau mempercayakan diri sedangkan giri mengikat orangorang dalam suatu hubungan ketergantungan.
3. TANIN & ENRYO
Makna yang penting dalam istilah tanin terletak pada tidak adanya
hubungan darah. Tanin ditafsirkan sebagai seseorang yang tidak mempunyai
hubungan dengan diri sendiri. Ada istilah tanin dimulai dari saudara sendiri
sedangkan hubungan orang tua dan anak tidak bisa dikatakan sebagai tanin,
namun orang tua dianggap sebagai akar tanin. Istilah ini mempunyai suatu
nada yang dingin dan tidak acuh.
Enryo secara kasar berarti menahan diri. Enryo mempunyai makna yang
hampir sama dengan kigane dan kodawari.
menahan

diri

dengan

pertimbangan

tidak

Singkatnya seseorang harus


wajar

terlampau

banyak

berperilaku amae terhadap orang lain atau terlampau menggantungkan diri


pada kemauan baik orang itu. Enryo merupakan suatu sikap mental yang
mengekang dan oleh sebab itu tidak begitu disukai, tetapi ada juga
beberapa keadaan tertentu dimana sikap demikian dinilai baik.
4. DALAM & LUAR
Adanya sikap enryo atau tidak dipakai oleh orang Jepang sebagai ukuran
dalam membeda-bedakan hubungan antar-manusia yang di satu pihak
disebut luar dan dipihak lain dalam. Anggota keluarga (tidak perlu
enryo) dianggap sebagai orang dalam, sedangkan enryo dipakai untuk
orang luar. Implikasi dari konsep ini adalah wajar sekali kalau seseorang
membeda-bedakan sikapnya tergantung pada apakah dia berhubungan

dengan lingkungan dalam atau dengan orang lain, dan tidak ada yang
menganggapnya

bermuka

dua

atau

bertentangan

kalau

dia

berlaku

seenaknya di lingkungannya dan menahan diri di luar.


5. IDENTIFIKASI & ASIMILASI
Sebagaimana disebutkan diatas proses toriiru (mengambil hati) dianggap
sama dengan apa yang dikenal dalam psikoanalisis sebagai identifikasi atau
asimilasi. Sehingga dapat dikatakan identifikasi dan asimilasi merupakan
mekanisme psikologis yang paling banyak dikenal oleh para pemeluk paham
amae. Menariknya hal ini di Jepang tidak hanya berlaku secara perorangan
tapi berlaku bagi orang Jepang secara keseluruhan. Kenyataan ini terutama
diketemukan pada masa silam pada waktu Jepang untuk pertama kalinya
memulai hubungan dengan kebudayaan asing. Reaksinya pada waktu itu
dapat disimpulkan ke dalam identifikasi dan asimilasi.
Jepang biasanya tidak acuh terhadap dunia luar, tetapi ini samasekali tidak
berarti tidak mempunyai perhatian. Mereka tidak mengacuhkan dunia luar
sepanjang ini dimungkinkan, tetapi walaupun tidak acuh, mereka tetap
mengikuti perkembangan sekeliling mereka dengan seksama. Dan sekali
mereka menyadari bahwa sesuatu tidak mungkin diabaikan, mereka dengan
cepatnya berusaha untuk mengidentifikasikan diri dan menerapkannya.
6. DOSA & RASA MALU
Orang Barat menganggap bahwa rasa berdosa orang Jepang adalah samarsamar, hal ini karena perbedaan konsep rasa berdosa yang ada pada
mereka.
Barat

Jepang

Rasa berdosa adalah sebagai suatu

Rasa berdosa merupakan suatu

persoalan rohaniah bagi perorangan.

fungsi hubungan antar manusia.

Bagi orang Jepang rasa bersalah sangat kuat terasa saat seseorang
mengkhianati kepercayaan yang telah diberikan kepadanya oleh kelompok
dimana dia menjadi anggotanya. Sebagaimana pengkhianatan terhadap
kelompok menimbulkan dosa, begitu pula pengasingan oleh kelompok itu
menimbulkan perasaan malu yang terbesar atau hilangnya harga diri.
Kalau rasa bersalah adalah sesuatu yang timbul dari dalam diri sendiri tetapi
disalurkan ke luar berupa permohonan maaf, rasa malu timbul dari

kesadaran terhadap pandangan dari dunia luar yang diarahkan ke dalam diri
sendiri.
Menariknya di Jepang rasa malu sangat diutamakan dibandingkan dengan di
Barat, yang mengaku sangat menghayati kebudayaan merasa bersalah atau
berdosa. Hal ini sangat erat kaitannya dengan konsep sumanai.
7. IDEOLOGI AMAE
Pada masa Meiji, orang Jepang menjunjung tinggi paham amae dan
menganggap dunia yang dikendalikan oleh amae sebagai suatu masyarakat
yang paling ideal, sedangkan system kakaisaran dapat dianggap sebagai
pengejawantahan dari paham demikian. Orang Jepang mempertahankan
paham ini dalam rangka menghadapi tekanan-tekanan dari luar. Sejalan
dengan pemikiran itu, dapat diakatakan bahwa Perang Pasifik telah
dilancarkan pula dalam usaha untuk menyebarluaskan pandangan hidup ini
ke daerah-daerah lain.
Medetai pada mulanya mungkin mengungkapkan perasaan kagum terhadap
sesuatu yang dirayakan, tetapi akhir-akhir ini lebih mempunyai makna
bahagia. Pada masa lampau, orang Jepang mampu mengalami perasaan
medetai, dalam suasana yang biasa maupun sederhana. Tetapi sekarang ini
apa yang dianggap sebagai medetai, kurang dirasakan demikian. Ini
mungkin ada hubungannya dengan kenyataan bahwa ideologi amae yang
terdahulu telah hancur dan dengan sendirinya telah mengurangi nilai amae,
sehingga seseorang dengan cukup bahagia meneruskan amaeru (yaitu
mengandalkan diri pada kemauan baik orang lain) disebut sebagai medetai.
C. BAB 3
1. BAHASA & PSIKOLOGI
Penulis meyakini bahwa makna yang berkisar di sekitar konsep amae jelas
sekali mencerminakan intisari sebenarnya dari kejiwaan orang Jepang.
Kesimpulan ini diambil berdasarkan premis bahwa kepribadian nasional
mesti tercermin dalam bahasa nasional. Bahasa yang berbeda-beda
nampaknya mengungkapkan kesadaran yang berbeda pula terhadap realita,
dan sehubungan dengan ini suatu bahasa dapat dikatakan bahwa sampai
tingkat tertentu bahasa menentukan pemikiran pemakainya. Dalam keadaan
manapun, yang perlu dicatat ialah bahwa bahasa tidak saja merupakan alat
bagi manusia untuk mengungkapkan perasaannya, tetapi dalam bentukbentuknya membawa ciri-ciri psikologis manusia itu.

2. ASAL-USUL VERBAL ISTILAH AMAE


Prototype amae adalah hasrat bayi untuk mendekatkan diri kepada ibunya.
Perilaku seorang kanak-kanak terhadap ibunya. Namun kebanyakan kamus
jepang tidak menyebutkan hal ini, misal kamus daigenkai mengartikan amae
adalah untuk bersandar kepada kehendak baik seseorang.
Penulis meneliti dan menyimpulkan bahwa Amae berasal dari kata ama yang
berhubungan dengan kata uma ama yaitu hasrat untuk menyusu atau
mendapatkan makan. Dapat dikatakan bahwa hakikat dari kata amae adalah
hasrat untuk memperoleh sesuatu, seperti hendak menyusu.
Orang-orang dulu, tentu saja hampir pasti tidak mengalami perasaan itu
hanya sebagai hasrat untuk menyusu, tetapi tetap merasakan suatu hasrat
terhadap sesuatu yang akan memberikan kepuasan kepadanya.
3. PROTOTIPE PSIKOLOGIS DARI AMAE
Prototype psikologis amae terletak pada psikologis kanak-kanak dalam
hubungannya dengan ibunya. Namun seorang bayi tidak disebut berlaku
amaeru sampai enam bulan kelahirannya, ketika dia mulai sadar akan
lingkungannya dan mencari-cari ibunya. Sehingga dapat dikatakan, amae
menunjuk perilaku mendekatkan diri pada si ibu, dan ini terjadi pada waktu
daya pikir si bayi telah tumbuh sampai tingkat tertentu, maupun telah mulai
sadar bahwa ibunya adalah entitas yang berdiri lepas dari dirinya sendiri.
Hasrat kuat untuk mengikat suatu hubungan yang erat itulah yang kita
sebutkan amaeru.
Sehingga dapat ditafsirkan amae sebagai suatu usaha untuk menentang
kenyataan identitas yang terpisah, yang sebenarnya merupakan kenyatan
yang tidak dapat dipungkiri dalam kehidupan manusia. Amae memainkan
peranan yang mutlak dalam perkembangan kehidupan spiritual yang sehat.
Kalau sikap menutup mata sama sekali terhadap kenyataan perpisahan
dapat dikatakan tidak realistik, sama tidak realistiknya jika terlampau
dipengaruhi oleh sikap demikian itu dan kemudian menutup diri dalam
kekecewaan terhadap berbagai kemungkinan hubungan manusia.

KESIMPULAN