Anda di halaman 1dari 42

1

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Sistem utilitas merupakan sarana atau unit penunjang yang diperlukan untuk
operasi suatu proses. Sarana atau unit penunjuang disini maksudnya adalah
sebuah unit yang berfungsi sebagai penyedia bahan-bahan penunjang
kegiatan pabrik. Sarana ini meliputi: unit pengolahan air, unit pembangkit
steam, unit pembangkit listrik, udara tekan dan lain-lain. Unit utilitas penting
dalam proses di dalam suatu industri. Contohnya, pada pabrik pupuk yang
memerlukan air, baik sebagai pelarut maupun keperluan pabrik lainnya,
mereka membutuhkan listrik untuk menjalankan alat-alat prosesnya dan
mereka juga membutuhkan bahan bakar untuk pengoperasian sebagai alat
yang berbahan bakar. Yang melatarbelakangi dibuatnya unit utilitas dalam
pabrik yaitu:
1. Kapasitas
Kapasitas atau daya tampung merupakan faktor pertama yang menjadi
pertimbangan ada tidaknya unit utilitas disuatu pabrik.
2. Continuitas
Hal yang tak boleh dilupakan dalam pertimbangan pengadaan unit utilitas
adalah kekontinuitasan proses pabrik yang menggunakan bahan2
penunjang tadi. Pada beberapa jenis pabrik terdapat kebutuhan yang
berbeda-beda terhadap bahan penunjang. Jika pemenuhan kebutuhan akan
bahan penunjang terjadi setiap hari. Maka alangkah lebih baiknya kalau
kita mempunyai unit utilitas. Tujuannya agar tidak kesulitan lagi
menyediakan bahan penunjang tersebut untuk kebutuhan harian.
B. Tujuan

Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk memberikan


referensi dalam menambah pengetahuan mengenai unit utilitas.

II. ISI

A. Alat-Alat Pemisah dalam Utilitas suatu Industri


Menurut artinya, utilitas adalah bahan yang diperlukan untuk menujang
terlaksananya suatu proses. Yang termasuk dalam utilitas adalah: air, uap air,
udara dan listrik.
a.

Air dalam industri kimia mempunyai beberapa fungsi, yaitu:


sebagai air keperluan rumah tangga industri, air proses, air pencuci dan
air pembangkit tenaga uap (air umpan boiler). Masing- masing jenis air
mempunyai persyaratan yang berbeda. Kebutuhan total air untuk industri
dihitung dengan cara menghitung kebutuhan air pada tiap- tiap alat. Alat
produksi yang memerlukan air adalah: alat pencuci, alat pendingin
(cooler) dan ketel pembangkit uap air. Dengan menggunakan konsep
neraca massa dan neraca panas dan pada tiap alat, maka kebutuhan air
dapat diketahui.

b.

Uap air dalam industri kimia berfungsi sebagai sumber panas.


Alat- alat proses industri yang memerlukan uap air sebagai pemanas
misalnya adalah: alat penguap (evaporator), alat pendidih kembali
(reboiler), alat pemanas (heater). Seperti halnya pada penenetuan
kebutuhan air, kebutuhan akan uap air ditentukan dengan bantuan neraca
massa dan neraca panas.

c.

Udara tekan dan udara panas banyak digunakan dalam industri


kimia pada proses pengeringan dan proses pembakaran bahan bakar yang
berlangsung dalam suatu dapur pembakaran. Banyaknya udara tekan
dapat diketahui dengan cara merancang alat- alat yang membutuhkan
udara tekan.

d.

Dalam industri kimia, listrik digunakan

untuk keperluan

penerangan, pemompaan dan alat-alat angkut lainnya seperti conveyor

dan elevator. Prediksi kebutuhan listrik dihitung berdasarkan perancangan


terhadap alat- alat yang memerlukan listrik.
(Widyatmiko, Endang Dwi Siswani; 2005)

Gambar 1. Diagram Overall Pabrik PT Pusri

Kebutuhan sistem utilitas dan kinerjanya tergantung pada seberapa baik sistem
utilitas tersebut mampu melayani kebutuhan sistem proses utama dan tergantung
pada efisiensi penggunaan bahan baku dan bahan bakar.

Pabrik tidak harus mempunyai sistem pemroses utilitas sendiri.Listrik misalnya,


pabrik bisa membelinya dari PLN jika kapasitas PLN setempat mencukupi atau
membeli dari pabrik tetangga. Demikian pula untuk unit pengolahan limbah, unit
penyedia uap air & air pendingin dan unit penyedia udara bertekanan.

Unit Utilitas merupakan unit penunjang bagi unit-unit yang lain dalam suatu
pabrik atau sarana penunjang untuk menjalankan suatu pabrik dari tahap awal
sampai produk akhir. Unit Utilitas meliputi :
1.

Unit water intake.

2.

Unit pengolahan air.

3.

Unit pembangkit uap (steam).

4.

Unit pembangkit listrik.

5.

Unit udara instrumen dan udara pabrik.

6.

Unit pemisahan udara (ASP).

7.

Unit pengukuran gas (gas metering station).

8.

Unit pengolahan air buangan.

Berikut diberikan penjelasan tentang unit-unit tersebut diatas dan alat-alatnya,


termasuk juga alat pemisahan pada unit utilitas yang dipakai pada beberapa
industri. Pada makalah ini, kami mengambil contoh unit utilitas pada PT. Pupuk
Iskandar Muda dan industri dikawasan KIIC.
1. Unit Water Intake

Gambar 2. Water Intake

Intake merupakan bangunan yang berfungsi untuk menangkap air dari sungai
sesuai dengan debit yang di perlukan. Pada umumnya sumber air untuk pabrik
diambil dari sungai yang jaraknya dekat dari lokasi pabrik. Pada fasilitas water
intake terdapat unit pompa, dan dilengkapi dengan :

Water Intake Channel, merupakan suatu kolam yang disekat sehingga


berbentuk saluran (channel), serta dilengkapi dengan bar screen yang
berfungsi untuk menyaring benda-benda kasar terapung yang mungkin ada di
tempat penyadapan terutama di bangunan sadap sungai, agar tidak
mengganggu proses pengolahan air berikutnya.

Intake Pond, merupakan suatu kolam dengan yang berfungsi untuk


menampung air yang telah disadap dari sumber dan digunakan sebagai bahan
baku. Air tersebut dialirkan ke Settling Basin (bak pengendapan) dengan
menggunakan pompa.

Settling Basin, berfungsi untuk mengendapkan partikel-partikel kasar


secara gravitasi dan mengatur aliran yang akan ditransmisikan, basin dibagi
menjadi lima channel dan secara bergantian sebuah channel dibersihkan dan
diambil lumpurnya. Air yang telah diterima di basin akan disuntikkan dengan
PAC yang berguna untuk mengendapkan Phosphorus yang akan menjadi flock
serta NaClO untuk menurunkan kadar Fe dalam air dan mematikan bakteri.

Air yang berasal dari fasilitas Water Intake kemudian dialirkan ke dalam instalasi
pengolahan air dengan laju alir tertentu.
2. Unit Pengolahan Air
Kebutuhan air di pabrik dapat digunakan untuk bahan baku dan pembantu
proses yaitu dalam bentuk Filter Water dan Demin Water atau Polish Water,
disamping itu diproduksi pula Potable Water sebagai air minum.

Gambar 3. Pengolahan Air


Pada unit pengolahan air atau water treatment, terdapat alat-alat sebagai
berikut:
2.1 Clarifier atau Clearator

Gambar 4. Clarifier

Clarifier atau Clearator berfungsi sebagai tempat pengolahan air tahap


pertama yaitu proses penjernihan air untuk menghilangkan zat padat dalam
bentuk suspensi dengan jalan:
1. Netralisasi
Proses netralisasi bertujuan untuk melakukan perubahan derajat
keasaman (pH) air. Proses ini dilakukan pada awal proses
(pengkondisian) air sebelum dilakukan proses lanjutan atau pada akhir
proses pada air limbah sebelum air limbah dibuang kelingkungan
dalam rangka memenuhi standar baku mutu air limbah yaitu pH 6-9.
(Anonim; 2012)
Ketika asam dan basa bereaksi satu sama lain, maka akan terbentuk
spesies garam yang biasanya diikuti dengan pembentukan molekul air.
Reaksi ini disebut sebagai reaksi netralisasi, yang secara umum
mengikuti persamaan kimia berikut ini:
HA + BOH BA + H2O
2. Sedimentasi
Pengendapan dilakukan secara gravitasi dengan memakai settling pit
untuk mengendapkan partikel-partikel yang tersuspensi dalam air.
Faktor yang mempengaruhi proses ini antara lain adalah laju alir dan
waktu tinggal.
3. Koagulasi dan filtrasi
Tahap ini bertujuan untuk mengendapkan suspensi partikel koloid
yang tidak terendapkan karena ukurannya sangat kecil dan muatan
listrik pada permukaan partikel yang menimbulkan gaya tolak
menolak antara partikel koloid. Untuk mengatasi masalah tersebut
dilakukan pebambahan koagulan yang dapat memecahkan kestabilan
yang ditimbulkan oleh muatan listrik tersebut. Partikel-partikel koloid
yang tidak stabil tersebut akan saling berikatan sehingga terbentuk
flok dengan ukuran besar dan mudah terendapkan.
Pada inlet clarifier diinjeksikan bahan-bahan kimia seperti: alum sulfat,
klorin, soda kaustik, sedangkan coagulant aid ditambahkan ke dalam
clarifier.

Fungsi dari bahan-bahan kimia tersebut adalah :


a. Alum Sulfat (Al2(SO4)3)
Berfungsi untuk membentuk gumpalan dari partikel yang tersuspensi
dalam air. Bila alum dikontakkan dengan air maka akan terjadi hidrolisa
yang menghasilkan alumunium hidroksida (Al 2(SO4)3) dan asam sulfat.
Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut :
Al2(SO4)3 . 18 H2O + 6 H2O -----> 2 Al(OH)3 + 3H2SO4 + 18 H2O
Gumpalan Al(OH)3 yang berupa koloid akan mengendap bersama
kotoran lain yang terikut ke dalam air dan H2SO4 akan mengakibatkan
air bersifat asam. Penambahan alum tergantung pada turbiditi
(kekeruhan) dan laju alir air umpan baku.
b. Soda Kaustik (NaOH)
Berfungsi untuk menetralkan air akibat penambahan alum sehingga
Phnya berkisar antara 6 sampai 8. Reaksi yang terjadi adalah sebagai
berikut :
H2SO4 + NaOH -----> Na2SO4 + 3 H2O
c. Klorin (Cl2)
Tujuan utama penambahan zat klorin adalah untuk mematikan
mikroorganisme dalam air, disamping itu juga untuk mencegah
tumbuhnya lumut pada dinding clarifier dan akan mengganggu proses
selanjutnya.
d. Coagulant Aid (Polymer)
Berfungsi untuk mempercepat proses pengendapan, karena dengan
penambahan bahan ini akan membentuk flok-flok yang lebih besar
sehingga akan lebih mudah dan cepat mengendap.
e. Polymer Ferric-Cloride
Merupakan polimer untuk mengikat flok menjadi sludge.
Clarifier dilengkapi dengan agitator dan rake yang berfungsi sebagai
pengaduk, keduanya bekerja secara kontinyu. Agitator berfungsi untuk

10

mempercepat terjadinya flok-flok . Sedangkan rake berfungsi mencegah


agar flok-flok (gumpalan lumpur) tidak pekat di dasar clarifier. Kotorankotoran yang mengendap bersama lumpur (sludge) dikeluarkan dari bawah
clarifier ke sludge pit

sebagai blow down, sedangkan air jernih dari

clarifier keluar ke gravity sand filter sebagai over flow.


2.2 Saringan Pasir (Gravity Sand Filter)
Yaitu tempat filtrasi untuk menyaring partikel-partikel dalam air yang
belum tersaring. Air yang jernih dari Clarifier dialirkan ke Gravity Sand
Filter secara gravitasi. Komponen utama dari saringan pasir adalah pasir
yang ukurannya berbeda-beda. Ada juga industri yang komponen saringan
pasirnya adalah pasir kuarsa. Saringan pasir bekerja kontinyu, jika
kotoran-kotoran menggumpal atau lumpur yang sudah terlalu tebal di
saringan, maka akan dilakukan back wash secara berkala.

Ga
mbar 4: Saringan Pasir
2.3.
Cell Pit
Cell pit merupakan tempat pencampuran air yang sudah bersih dengan
NaClO lagi untuk mematikan bakteri. Air kemudian dialirkan secara
gravitasi menuju reservoir dimana air akan disimpan untuk sementara
sampai saatnya digunakan. (Anonim; 2010)
2.4.

Reservoir dan Filter Water Reservoir

Reservoir adalah tempat penyimpanan air sementara sebelum air yang


sudah diproses dipompa menuju water tank

melalui pump pit. Air

dialirkan menuju pump pit dengan pengaruh gravitasi. Air yang akan
dipompa oleh pump pit akan memompa air menuju water tank untuk
digunakan oleh pabrik, sementara pump pit juga akan memompa air ke

11

saringan pasir untuk proses backwash. Proses backwash adalah proses


pencucian saringan pasir untuk menghilangkan endapan lumpur di
saringan pasir.
Ada juga industri yang melakukan pendistribusian air lanjutan ke tangkitangki sebagai berikut:

Potable Water Tank digunakan untuk mendistribusikan air yang telah


memenuhi persyaratan air minum ke perumahan, kantor, kapal, dan
emergency shower.

Filter Water Tank digunakan sebagai fire water, make up Cooling


Water dan back wash.

Recycle Water Tank digunakan sebagai air umpan demin. Air ini
diproses lagi untuk menghasilkan air yang bebas mineral dan akan
digunakan sebagai air umpan Boiler.

2.5.

Saringan

Karbon

Aktif

(Activated

Carbon

Filter)

Air dari Recycle Water Tank dialirkan ke dalamActivated Carbon Filter


untuk menyerap CO2 terlarut dalam air dan zat-zat organik yang ada
dalamfilter water, serta residual klorin dari air sebelum masuk ke sistem
Deionisasi (Demineralizer).
2.6.
Demineralizer
Unit ini berfungsi untuk membebaskan air dari unsur-unsur silika, sulfat,
klorida dan karbonat dengan menggunakan resin, unit ini terdiri dari :
a. Cation Tower
Proses ini bertujuan untuk menghilangkan unsur-unsur logam yang
berupa ion- ion positif yang terdapat dalam filter water dengan
menggunakan resin kation R- SO3H Proses ini dilakukan dengan
melewatkan air melalui bagian bawah, dimana akan terjadi pengikatan
logam- logam tersebut oleh resin. Resin R-SO3H ini bersifat asam kuat,
karena

itu

disebut

asam

kuat

cation

exchanger

resin

12

Reaksi yang terjadi adalah :


CaCl2+ 2R SO3H -----> (R SO3)2Ca + 2 HCl
MgCl2+ 2R SO3H -----> (R SO3)2Mg + 2 HCl
NaCl2+ 2R SO3H -----> (R SO3)2Na + 2 HCl
CaSO4+ 2R SO3H -----> (R SO3)2Ca + 2 HSO4
MgSO4+ 2R SO3H -----> (R SO3)2Mg + 2 HSO4
NaSO4+ 2R SO3H -----> (R SO3)2Na + 2 HSO4
Na2SiO4+ 2R SO3H -----> (R SO3)2Na + 2 HSiO4
CaCO3+ 2R SO3H -----> (R SO3)2Ca + 2 HCO3
b. Degasifier
Degasifier berfungsi untuk menghilangkan gas CO2 yang terbentuk dari
asam karbonat pada proses sebelumnya, dengan reaksi sebagai berikut :
H2CO3 -----> H2O + CO2
Proses Degasifier ini berlangsung pada tekanan vakum dengan
menggunakan steam ejektor, di dalam tangki ini terdapat netting ring
untuk memperluas bidang kontak antara air yang masuk dengan steam
bertekanan rendah yang diinjeksikan. Sedangkan outletsteam ejektor
dikondensasikan dengan injeksi air dari bagian atas dan selanjutnya
ditampung dalam seal pot sebagai umpan Recovery Tank.
c. Anion Tower
Berfungsi untuk menyerap atau mengikat ion-ion negatif yang terdapat
dalam air yang keluar dariD egas ifier. Resin pada anion exchanger
adalah R=NOH (Tipe Dowex Upcore Mono C-600). Reaksi yang terjadi
adalah :
H2SO4 + 2 R = N OH -----> (R = N)2SO4 + 2 H2O
HCl + R = N OH -----> R = N Cl + H2O
H2SiO3+ 2 R = N OH -----> (R = N)2SiO3 + 2 H2O
H2CO3 + R = N OH -----> R = N CO3 + H2O
HNO3 + R = N OH -----> R = N NO3 + H2O

13

Reaksi ini menghasilkan H2O, oleh karena itu air demin selalu bersifat
netral. Air keluar tangki ini memiliki pH 7,5 sampai 8,5 konduktifitas
kurang dari 3
d. Mix Bed Polisher
Berfungsi untuk menghilangkan sisa-sisa logam atau asam dari proses
sebelumnya, sehingga diharapkan air yang keluar dari mix bed polisher
telah bersih dari kation dan anion. Di dalam mix bed polisher
digunakan dua macam resin yaitu resin kation dan resin anion yang
sekaligus keduanya berfungsi untuk menghilangkan sisa kation dan
anion, terutama natrium dan sisa asam sebagai senyawa silika dengan
reaksi sebagai berikut :
Reaksi Kation :
Na2SiO3 + 2 R SO3H -----> 2 RSO3Na + H2SiO3
Reaksi Anion :
Na2SiO3 + 2 R = N - OH -----> 2 RSO3Na + H2SiO3
Air yang telah bebas mineral tersebut dimasukkan ke Polish Water Tank
dan digunakan untuk air umpan boiler.
3. Unit Pembangkit Uap
Pada Unit Utilitas, sumber pembangkit uap yang digunakan untuk kebutuhan
operasi adalah Package Boiler. Air dari Polish Water Tank dimasukkan ke
dalam Deaerator untuk menghilangkan gas CO 2 dan O2 terlarut yang
menyebabkan korosi. Di deaerator juga diinjeksikan hydrazine (N 2H4) untuk
mengikat gas O2 yang terdapat dalam air. Reaksinya adalah sebagai berikut :
N2 H4 + O2 -----> 2H2O + N2
Pada outlet Deaerator juga diinjeksikan ammonia yang berfungsi untuk
mengatur pH dari boiler feed water. Package boiler menggunakan panas yang
berasal dari pembakaran fuel gas. Sistem operasinya adalah air yang dari
Deaerator masuk ke Economizer lalu dialirkan ke steam drum, dalam steam
drum diinjeksikan Na3PO4 untuk mengikat komponen hardness serta untuk
menaikkan pH airboiler. Sirkulasi antara steam drumdan coil-coil pemanas
berlangsung secara alami karena perbedaan berat jenis air dalam pipa.

14

4. Unit Pembangkit Listrik


Untuk memenuhi kebutuhan listrik, sebagai sumber tenaga pembangkit listrik
yang dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
a. Main Generator
Generator ini merupakan generator utama sumber tenaga listrik di utilitas
pada pabrik yang digerakkan dengan turbin berbahan bakar gas alam,
fungsinya adalah untuk menyalurkan listrik ke seluruh pabrik dan
perumahan.
b. Main Generator
Generator ini merupakan generator utama sumber tenaga listrik di utilitas
pada pabrik yang digerakkan dengan turbin berbahan bakar gas alam,
fungsinya sama dengan main generator dan hanya salah satu main generator
saja yang beroperasi.
c. Standby Generator
Merupakan generator pendamping, dioperasikan apabila terjadi gangguan
pada main generator. Bahan bakarnya bisa solar atau gas alam.
d. Emergency Generator
Merupakan generator cadangan, yang dipakai dalam keadaan mendadak
apabila terjadinya gangguan pada main generator dan pada saat peralihan ke
standby generator.
5. Unit Udara Instrumen dan Udara Pabrik
Kebutuhan udara pabrik saat awal pabrik dioperasikan serta pada saat
emergensi, yaitu dengan kompresor. Udara ini masih belum kering atau murni
maka dikeringkan pada dryer untuk menghilangkan kandungan air dengan
menggunakan Silika Alumina Gel (silicagel).
Fungsi dari udara instrument antara lain:
Menggerakkan Pneumatic Control Valve
Purging diBoiler
Flushing di Turbin
Fungsi dari udara pabrik antara lain :
Flushing jaringan pipa
Mixing tangki kimia pengantongan urea
Pembakaran di Burning pit.

15

6. Unit Pemisahan Udara


Dalam sebuah industri, baik itu industri minyak dan gas atau pun industri
manufacture lainnya, dibutuhkan sebuah sistem utilitas untuk menunjang
operasi pabrik tersebut. Salah satunya adalah kebutuhan gas inert. Gas inert ini
biasanya adalah nitrogen. Nitrogen biasa diambil dari udara bebas. Alasan
mengapa mengambil dari udara bebas adalah karena kandungan Nitrogen
dalam udara sangat besar, nitrogen adalah komponen yang paling besar
diantara komponen lainnya. Nitrogen dalam udara kering bisa mencapai 78%.
Nitrogen ini, biasa digunakan untuk packaging di industri makanan, sebagai
pengisi didalam bungkus makanan, agar makanan terhindar dari perkembang
biakan mikroorganisme. Gas inert juga digunakan untuk melakukan
pengosongan di pipa atau vessel di industri kimia, petrochemical, refinery atau
minyak dan gas. Gas inert ini gunakan untuk menghindari terjadinya api atau
kebakaran. Selain itu gas inert juga di gunakan untuk breathing di tanki agar
tidak terjadi vakum ataun overpressure.
Di industri yang lekat sekali dengan bahan yang mudah terbakar, nitrogen
menjadi sebuah kebutuhan yang mutlak ada. Tentu karena alasan keselamatan.
Karena kebutuhannya yang cukup besar, maka banyak industri kimia yang
memiliki system penghasil nitrogen dengan bahan mentah udara. Ada juga
pabrik yang produknya adalah nitrogen, oksigen dan sebagainya.
Secara umum pemisahan udara terdiri dari beberapa unit proses, yaitu:
a. Proses kompresi
Dengan meningkatnya tekanan maka temperatur didih dari material akan
meningkat juga. Peningkatan tekanan terbatas oleh kondisi dari fluida dan
alat (kompressor). Fluida memiliki titik kritis. Apabila kondisi kritis dari
fluida itu telah melewati maka sifat dari fluida tersebut akan berubah sama
sekali. Misalkan fluida tersebut adalah nitrogen, nitrogen memiliki titik
kritis pada temperatur 147oC dan tekanan 33.999 bar. diatas kondisi
tersebut nitrogen akan memiliki sifat yang berbeda.
Peningkatan tekanan ini akan meningkatkan temperatur, peningkatan
temperatur yang terlalu tinggi tidak diharapkan karena ada bahaya

16

kebakaran atau ada bahaya kegagalan dalam operasi. Kegagalan operasi


ini disebabkan karena adanya keterbatasan dari peralatan, misalnya
kompressor salah satu titik lemah di kompresor adalah sistem pelumasan.
Sistem pelumasan pada kompresor tekanan tinggi bisanya menggunakan
fluida bertekanan. Fluida yang digunakan bisanya adalah dari jenis
hidrokarbon, hidrokarbon ini tidak bisa bekerja dalam temperatur tinggi.
b. Proses pendinginan
Saat tekanan tinggi maka pada temperatur yang tidak terlalu rendah atau
lebih tinggi dari titik didih normalnya udara telah mencair. Sehingga lebih
mudah untuk memisahkan komponen yang diinginkan.
c. Proses pemisahan
Banyak dari pabrik pemisahan udara mendasarkan kepada lindes double
distillation collumn process. Proses ini memiliki dua kolom distilasi untuk
memisahkan gas-gas yang diingikan seperti nitrogen, oksigen, argon, dan
sebagainya.
Proses linde ini terdiri dari dua unit pemisahan, unit pemisahan pertama
dipergunakan untuk mendapatkan produk-produk ringan seperti oksigen
dan nitrogen. Udara yang telah di tekan dan di didinginkan dimasukan ke
dalam kolom distilasi pertama. Kompresi yang dilakukan hingga 9-10 bar.
Sedangkan temperatur diturunkan hingga -166oC. Kemudian udara tekan
di throtlle, sehingga tekanan turun sampai 5 bar. Baru kemudian udara
tekan tersebut diumpankan kedalam kolom distilasi. Kolom distilasi yang
pertama ini hanya melakukan enriching produk. Produk atas akan
diumpankan ke kolom distilasi kedua di unit pertama di bagaian atas
kolom, sedangkan produk bawah akan diumpankan ditengah kolom.
Kolom distilasi kedua ini juga mendapatkan umpan dari recylce unit dua
yang masuk di bagian bawah kolom dan yang di campurkan di kolom
bagian atas. Baru di kolom kedua ini produk akhir didapatkan. Produk atas
adalah nitrogen dengan kemurnian 99.5% dan produk bawah adalah
oksigen dengan kemurnian 99.5%. Kolom kedua ini memiliki side draw
yang produknya di kirim ke unit pemisahan kedua sebagai umpan.

17

Di unit kedua, terdapat tiga kolom distilasi disertai adanya reaktor


pembakaran. Kolom pertama akan memisahkan nitrogen yang terbawa ke
unit kedua untuk di recycle ke unit pertama. Produk yang di kirim ke unit
pertama adalah produk atas dari kolom pertama tersebut. Sedangkan
produk bawahnya dikirim ke kolom ke dua. Produk atas akan dikirim ke
reaktor sedangkan produk bawah dikirim ke unit pertama.
Produk atas akan dicampur dengan hidrogen dan dikirim ke reaktor
pembakaran. Reaktor ini berfungsi untuk menghilangkan hidrogen. Reaksi
pembakaran hidrogen akan menghasilkan air. Air yang dihasilkan akan
dipisahkan dikolom reflux yang kemudian di buang ke waste water
treatment. Sedangkan gas yang komponen utamanya adalah nitrogen dan
argon akan menjadi umpan kolom ketiga.
Kolom ketiga ini akan memisahkan argon dan gas ringan yang masih
bercampur. Produk utama dari kolom ketiga adalah argon dan trace gas
yang dibuang ke udara. Argon akan dihasilkan sebagai produk bawah
sedangkan trace gas lainnya akan dihasilkan sebagai produk atas kolom
disitilasi.
Proses yang dijelaskan diatas adalah pabrik yang memproduksi gas
(nitrogen, oksigen, argon). Untuk pabrik yang menggunakan nitrogen
sebagai bahan pendukung produksi dan hanya untuk kebutuhan
keselatanan saja, biasanya proses lebih sederhana. Proses pemisahan hanya
terdiri dari unit kompresi, dan unit pendinginan tanpa adanya unit
pemisahan. Pemisahan dilakukan dengan mencairkan sebagian udara tekan
tersebut. Sehingga yang didapat adalah produk dengan kemurnian yang
tidak terlalu baik. ( Radiman; 2008 )
Ada juga industri yang prinsip unit pemisahan udaranya (N2 dan O2)
berdasarkan titik cairnya.
Prosesnya sebagai berikut:
Udara baku disaring melalui filter kemudian dimampatkan dengan
kompresor udara sampai tekanan 41oC untuk memisahkan moisture
(kandungan air) dari udara, pendinginan dilanjutkan dalam Precooler Unit

18

sampai temperatur 5oC. Udara yang telah mengembun dikeluarkan lewat


drain separator dan dialirkan ke Adsorben untuk menyerap CO 2 dan H2O,
kemudian udara ini dialirkan ke dalam cool box.
7. Unit Pengukur Gas
Berfungsi untuk mengukur banyaknya gas alam yang dikonsumsi oleh pabrik,
yaitu dipakai oleh pabrik utilitas (untuk menghasilkan steam dan sebagai bahan
bakar generator), serta banyaknya gas alam yang dipakai oleh pabrik ammonia
(untuk proses dan bahan bakar). Indikasi pengukur laju alir gas alam terdapat
di lapangan dan diruang kontrol yang mengukur laju alir, tekanan, temperatur,
dan densitas.
8. Unit Pengolahan Air Buangan
Untuk menghindari pencemaran terhadap lingkungan, maka buangan dari
proses produksi diolah terlebih dahulu sebelum dibuang. Zat-zat pencemar
(contaminants) dalam air buangan industri dikurangi kadarnya (diolah) melalui
proses fisik, kimia dan biologis. (Metcalf and Eddy, 1979).
Sebelum air buangan diolah oleh reaktor biologis, air buangan tersebut harus
mengalami pengolahan pendahuluan (pretreatment) agar kondisi air buangan
tersebut dapat diolah dengan mudah oleh mikroorganisma dalam reactor
biologis.
Unit proses fisik yang diperlukan dalam prosespendahuluan itu antara lain
screening dan communition,get removal dan primary sedimentation. Kadang
kadang diperlukan suatu proses untuk mengurangi beban minyak atau grease
oleh suatu unit skimming tank atau oil dan grease removal apabila air buangan
tersebut banyak mengandung zat-zat tersebut di atas.
1. Screening
Screening atau penyaringan (bukan filtrasi) adalah proses fisik pertama
dalam pengolahan air buangan industri. Screening bertujuan untuk
menahan padatan kasar seperti sampah-sampah dalam ukuran besar yang
akan mengganggu proses atau merusakkan instrument instalasi seperti
pompa dan katup-katup dalam instalasi.

19

Bentuk screen bermacam-macam, dapat berupa batangan besi paralel, baik


berbentuk bulat (rod) ataupun segi empat,palat baja berlubang dan saringan
(screen). Dalam instalasinya ada yang fixed dan ada yang berputar (rotary).
a. Rack
Rack adalah alat penyaring yang terbuat dari batangan besi parallel. Alat
ini hanya untuk menahan sampah dan benda-benda kasar untuk
melindungi kerusakan alat-alat dalam instalasi, terutama pompadan
katup-katup. Untuk pengolahan buangan industry, alat ini mungkin tidak
diperlukan, tergantung dari kualitas air buangannya. Sampah yang
tertahan oleh rack ini kemudian diambil untuk dibuang/diproses setelah
dihancurkan oloeh comminutor. Apabila volume sampah tersebut sedikit,
sampah yang telah dihancurkan tersebut mungkin juga dimasukkan ke
dalam aliran proses. Dari segi operasi, pertimbangan utama adalah
metode

pembersihan

sampah

yang

menyumbat

rack

tersebut.

Pembersihan secara mekanis untuk rack yang menangkap sampah


dalam jumlah besar akan lebih efisien.
b. Fine Screen
Kalau rack merupakan penyaring yang menggunakan batang besi yang
paralel, fine screen biuasanya menggunakan wire-mesh ( jalinan logam
membentuk ayakan ) yang mempunyai bukaan yang sempit. Fungsi fine
screen ini untuk menahan sampah atau padatan yang lebih halus. Faktor
lain yang harus dipertimbangkan dalam pemilihan screen adalah bahan
dari screen tersebut.untuk buangan industry yang bersifat korosif, bahan
yang tahan karet seperti stainless screen atau logam campuran yang
tahan karat (mis: monel) dapat digunakan.

2. Comminuting

20

Prosess communiting ini bertujuan untuk menghancurkan padatan/sampah


yang tidak tersaring dalam proses screening. Penghancuran ini membuat
ukuran

padatan

tersebut

lebih

homogen,sehingga

mempremudah

prosesselanjutnya. Kadang-kadang apabila sampah yang tersaring dalam


proses screening jumlahnya sedikit,sampah tersebut juga dihancurkan
dalam comminutor, untuk kemudian diolah.
Banyak tipe dari comminutor, tetapi pada umumnya metoda penghancuran
material/sampah sama yaitu dengan menggunakan semacam grinder yang
digerakkan oleh motor listrik.informasi teknis dari produser tentunya
merupakan petunjuk yang paling baik dalam pemilihan dan pengoperasian
alat ini. Faktor yang harus dipertimbangkan dalam pemasangan alat ini
adalah pentingnya dibuat suatu sistem by-pass aliran untuk menghindari
gangguan operasi pada saat terjadi pada alat ini (yang sering terjadi).
Perletakan alat ini dalam bagan alir proses pengolahan buangan industri
juga fleksibel. Biasanya dipasang setelah unit screening dan sebelum
pompa. Perlu diperhatikan bahwa alat ini juga sering mendapat problem
akibat adanya pasir yang mengikis pisau pemotong pada grinder.

3. Grif Removal
Penyisihan grit atau pasir dan benda-benda padat yang relatif berat
dilakukan dalam unit yang disebut grit chambers. Tujuan utama dari unit
ini adalah untuk melindungi alat-alat instalasi dari keausan akibat gesekan
(mechanical abrasion) dengan pasir atau padatan keras yang mempunyai
berat jenis yang tinggi lainnya serta menghindari adanya pengendapan
pasir/padatan berat lainnya dalam unit-unit pengolah lumpur seperti sludgethickener dan sludge digester. Bilamana mungkin, unit ini diletakkan pada
awal pengolahan.

21

Di dalam grit chamber ini, prinsip penyisihan pasir dan benda-benda padat
lainnya menggunakan teknik sedimentasi (pengendapan) secra gravitasi.
Theory tentang sedimentasi ini akan dijelaskan dalam bagian sedimentasi.
Dari segi operasinya, ada dua jenis grit chamber yaitu: Horizontal flow grit
chamber dan aerated grit chamber.

4. Skimming Tank dan Penangkap Lemak


Skimming tank berfungsi untuk menjebak sampah dan material lainnya
yang terapung, sedangkan penangkap lemak (grase trap) digunakan untuk
menangkap lemak. Prinsip kerja kedua unit pengolah ini sama, yaitu
dengan mengalirkan air ke dalam bak yang bersekat. Aliran inflow
dipermukaan, tetapi outlet untuk aliran keluar haruslah selalu terendam air,
sehingga material yang terapung tetap tinggal di dalam bak atau trap
tersebut. Secara periodik material yang terjebak itu dibersihkan. Tidak
semua pengolahan air buangan industri memerlukan skimming tank
ataupun grase trap. Apabila kehadiran material yang mengapung seperti oil
ataupun minyak yang diperkirakan akan mengganggu proses biologis
dengan cara menghalangi kontak dengan udara karena permukaannya
tertutup oli/minyak, unit ini sebaiknya digunakan.

Untuk skimming tank, parameter perencanaan adalah waktu detensi. Pada


umumnya waktu detensi bervariasi dari 1 sd 15 menit. Makin lama waktu
detensi akan lebih baik. Untuk grease trap,waktu detensi akan lebih
panjang,10 sd 30 menit. Pada umumnya grease trap ini diperlukan dalam
industri makanan, rumah sakit, bengkel dan hotel.

5. Sedimentasi Primer

22

Unit pengolah sedimentasi primer yang diletakkan sebelum reaktor biologis


bertujuan untuk mengurangi beban pencemar (organik). Zat pencemar yang
dapat dikurangi atau disisihkan oleh unit ini dalam bentuk settleable solid
(zat padat yang dapat diendapkan) termasuk di dalamnya zat organik.
Tergantung dari karakter air buangannya, unit ini dapat mengurangi kadar
zat padat tersuspensi hingga 50 70%, dan mengurangi kadar zat organic
hingga 40 %.
Ditinjau dari arah alirannya, ada 2 jenis bak sedimentasi yaitu bak dengan
arah aliran horisontal dan bak dengan arah aliran vertikal. Jenis yang
pertama lebih banyak digunakan karena lebih efisien. Ditinjau dari
bentuknya, ada dua bentuk yang umum, yaitu bentuk segiempat
memanjang dan bentuk lingkaran. Apabila suatu cairan mengandung zat
padat yang tersuspensi (bukan koloid), ditaruh dalam kondisi yang relatif
tenang, dan zat padat tersebut mempunyai berat jenis yang lebih besar
dibandingkan cairan tersebut, maka zat padat itu cenderung untuk
mengendap. Prinsip ini yang disebut pengendapan secara gravitasi
digunakan dalam proses pengendapan didalam bak pengendap primer.
(Rahardi, J.B. 2011)

B. Ion Exchange
1. Pengertian
Teknologi penukaran ion sebetulnya sudah digunakan selama bertahun-tahun
dalam industri. Dalam perkembangannya, sekarang ini ada berbagai macam
resin yang terdapat di pasaran untuk berbagai kebutuhan dan sistem
regenerasi. Dengan demikian, memungkinkan adanya penghematan dalam
investasi dan biaya operasional. Peralatan penukaran ion yang paling
sederhana digunakan di dalam softener dan yang lain adalah Double Bed
Demineralizer serta Mix Bed Demineralizer.
Double Bed Deminerlizer

23

Mix Bed Demineralizer


Untuk menghilangkan kadar ion-ion lain dari dalam air, selain ion Ca dan
Mg, maka peralatan yang dapat digunakan adalah Double Bed Demineralizer
atau Mix Bed Demineralizer. Resin penukar ion positif dan ion negatif
dimasukkan ke dalam dua tangki yang berbeda di dalam Double Bed
Demineralizer. Sementara pada Mix Bed Demineralizer, kedua jenis resin
penukar ion tersebut dimasukkan di dalam satu tangki yang sama.
Prosesnya menggunakan resin yang dapat menukar ion negatif (anion) dan
ion positif (kation) dari dalam air. Dengan cara ini, akan diperolah air dengan
kemurnian yang jauh lebih tinggi daripada air baku. Proses regenerasi pada
Double Bed Demineralizer dan Mix Bed Demineralizer dapat dilakukan
dengan manual atau automatis berdasarkan waktu atau kadar zat padat
terlarut dalam air produk).
Resin penukar ion adalah suatu bahan padat yang memiliki bagian (ion
positif atau negatif) tertentu yang bisa dilepas dan ditukar dengan bahan
kimia lain dari luar.
Berdasarkan jenis ion / muatan yang dipertukarkan, resin dapat dibagi
menjadi 2 :
1.Resin Penukar Kation adalah Ion positif yang dipertukarkan
2.Resin Penukar Anion adalah Ion negatif yang dipertukarkan
Ion Exchange adalah proses penyerapan ion ion oleh resin dengan cara Ionion dalam fasa cair (biasanya dengan pelarut air) diserap lewat ikatan
kimiawi karena bereaksi dengan padatan resin. Resin sendiri melepaskan ion
lain sebagai ganti ion yang diserap. Selama operasi berlangsung setiap ion
akan dipertukarkan dengan ion penggantinya hingga seluruh resin
jenuh dengan ion yang diserap.

24

Resin penukar ion sering digunakan untuk menghilangkan kesadahan dalam


air. Air yang banyak mengandung mineral kalsium dan magnesium dikenal
sebagai air sadah . Kesadahan air dapat dibedakan atas dua macam, yaitu :
Kesadahan sementara , disebabkan oleh garam-garam karbonat (CO3-) dan
bikarbonat (HCO3-) dari kalsium (Ca) dan magnesium (Mg).
Kesadahan tetap, disebabkan oleh adanya garam-garam khlorida (Cl-) dan
sulfat (SO42-) dari kalsium (Ca) dan magnesium (Mg).

2. Jenis-Jenis
Resin penukar ion merupakan suatu polimer yang terbuat dari polystyrene
dengan divinil benzene sebagi cross link. Resin penukar ion terbagi menjadi 2
jenis yaitu kation dan anion.
1. Resin kation melepaskan ion positif pada resin ( misalnya mobile H+atau

Na+) untuk ditukar dengan kandungan unsur kation pada air . Resin
kation mempunyai immobile berupa SO3- atau COO2. Resin anion melepaskan ion negative ( misal OH-atau Cl-) untuk di tukar
dengan kandungan unsur anion pada air. Resin anion mempunyai
immobile NH2+.
Jenis Media Ion Exchange
1. Resin Cation
Melepaskan ion Hydrogen (H+) untuk di tukar dengan kandungan unsur
kation pada air.
2. Anion Resin
Melepaskan ion Hydroxyl (OH-) untuk di tukar dengan kandungan unsur
anion pada air.
3. Prinsip Kerja
Air masuk pada bagian atas tangki melalui pipa, kemudian didistribusikan di
atas permukaan bed exchanger.
Air yang telah didemineralisasi dikeluarkan oleh pipa kolektor pada bagian
bawah.

25

Regenerasi dilakukan bila resin sudah jenuh (konduktivitas tinggi dan


kandungan SiO2 besar). Cara regenerasi resin :
Cocurrent
Countercurrent

Syarat resin :

Stabil pada temperatur setinggi-tingginya 300 Of


Terdapat pada range pH yang besar
Densitas besar

4. Mekanisme
Proses penghilangan ion-ion yang terlarut dalam air dapat melibatkan
penukar kation (cation exchanger) yang berupa resin Na (R-Na). Prosespertukaran-ion natrium merupakan proses yang paling banyak digunakan
untuk melunakkan air. Dalam proses pelunakan ini, ion-ion kalsium dan
magnesium disingkirkan dari air berkesadahan tinggi dengan jalan pertukaran
kation dengan natrium. Bila resin penukar itu sudah selesai menyingkirkan
346 sebagian besar ion kalsium dan magnesium sampai batas kapasitasnya,
resin itu di kemudian diregenerasi kembali ke dalam bentuk natriumnya
dengan menggunakan larutan garam dengan pH antara 6 sampai 8. Kapasitas
pertukaran resin polistirena besarnya 650 kg/m3 bila diregenerasikan dengan
250 g garam per kilogram kesadahan yang dibuang.

26

Untuk penukar kation siklus natirum atau hidrogen biasanya digunakan resin
sintetik jenis sulfonat stirena -divinilbenzena. Resin ini sangat stabil pada
suhu tinggi (sampai 150 oC) dan dalam pH antara 0 sampai 14. Di samping
itu, bahan ini sangat tahan terhadap oksidasi. Kapasitas total penukar kation
bisa mencapai 925 kg CaCO3 per meter kubik penukar ion dengan siklus
hidrogen dan sampai 810 kg CaCO3 per meter kubik dengan siklus
natrium.Namun dalam praktiknya kapasitas operasi tidak setinggi itu.
Dalam reaksi pelunakan air di bawah ini, lambang R menunjukkan radikal
penukar kation. Resin tersebut menghilangkan ion Ca 2+ dan Mg 2+ penyebab
kesadahan. Reaksinya sebagai berikut:
CaCO3

R-Na

->

R2-Ca

Na2C03

MgCO3 + 2 R-Na-> R2-Mg + Na2C03


Bila tanur penukar kation sudah habis kemampuannya untuk menghasilkan
air lunak, unit pelunak itu dihentikan; lalu dicuci balik (backwash) untuk
membersihkannya dan mengklasifikasikan partikel resin di dalam tanur itu
kembali:kemudian diregenerasi dengan larutan garam biasa (natrium klorida)
yang menyingkirkan kalsium dan magnesium dalam bentuk klorida yang

27

dapat larut dan sekaligus mengembalikan penukar kation itu ke dalam bentuk
natriumnya.
Tanur itu dicuci lagi untuk membersihkannya dari hasil samping yang dapat
larut dan dari kelebihan garam; kemudian dikembalikan ke operasi untuk
selanjutnya melunakkan air. Reaksi regenerasi menggunakan air gararn
(NaCI) dapat dilukiskan sebagai berikut:
R2-Ca

NaCI

->

R-Na

CaCl2

R2-Mg + 2 NaCI -> R-Na + MgCl2


Sedangkan kandungan anion tidak dihilangkan lewat penukar anion (anion
exchanger). Jika kandungan anion sudah tinggi, biasanya dilakukan
blowdown yaitu membuang sebagian besar air dan diganti dengan air
kondensat.Selain pengotor-pengotor diatas, terdapat pula berbagai macam gas
yang terlarut dalam air (C02, CF4, 02, H2S). Gas tersebut dihilangkan
dengan deaerator sebelum memasuki ketel. Deaerator bekerja dengan cara
memanaskan air ketel sehingga gas-gas tersebut dapat keluar.
5. Kelebihan dan Kekurangan
Kelebihan Ion Exchange
Mengurangi / menghilangkan unsur inorganik dengan baik
Bisa diregenerasi kembali
Dapat digunakan untuk flowrate atau debit yang berfluktasi
Jenis resin yang bervariasi, setiap jenis resin dapat digunakan untuk
menghilangkan unsur/kontaminan tertentu
Untuk kualitas air baku dengan TDS < 500 ppm merupakan pilihan
investasi dan operasi lebih murah .
Kekurangan Ion Exchange
Penanganan limbah buangan perlu hati-hati, dapat merusak lingkungan.
Semakin tinggi TDS semakin besar biaya operasional
Tidak menghilangkan partikel, bakteri pyrogen
Diperlukan pretreatment untuk hampir semua air baku.
Sensitive terhadap fluktuasi kualitas air
Media resin berpotensi menjadi media berkembang biak bakteri

28

C. Koagulator
1. Pengertian
Koagulasi merupakan salah satu sifat dari koloid. Partikel-partikel suatu
koloid dapat mengalami penggumpalan membentuk zat semi-padat. Partikelpartikel koloid tersebut bersifat stabil karena memiliki muatan listrik sejenis.
Apabila muatan listrik itu hilang, maka partikel koloid tersebut akan
bergabung membentuk gumpalan. Proses penggumpalan partikel koloid dan
pengendapannya disebut Koagulasi. Dalam hal ini, koagulasi koloid
merupakan proses bergabungnya partikel-partikel koloid secara bersama
membentuk zat dengan massa yang lebih besar
2. Sifat-Sifat
Faktor - faktor yang mempengaruhi koagulasi :
1. Pemilihan bahan kimia.
Untuk melaksanakan pemilihan bahan kimia, perlu pemeriksaan terhadap
karakteristik air baku yang akan diolah yaitu:
a. Suhu
b. pH
c. Alkalinitas
d. Kekeruhan
e. Warna
Efek karakteristik tersebut terhadap koagulan adalah:
a. Suhu berpengaruh terhadap daya koagulasi dan memerlukan
pemakaian bahan kimia berlebih,untuk mempertahankan hasil yang
dapat diterima.
b. pH Nilai ekstrim baik tinggi maupun rendah, dapat berpengaruh
terhadap koagulasi. pH optimumbervariasi tergantung jenis koagulan
yang digunakan.
c. Alkalinitas yang rendah membatasi reaksi ini dan menghasilkan
koagulasi

yang

memerlukan

kurang baik,

penambahan

padakasus

alkalinitas

ke

demikian, mungkin
dalam

air,

melalui

penambahanbahan kimia alkali/basa ( kapur atau soda abu).


d. Makin rendah kekeruhan, makin sukar pembentukkan flok.Makin
sedikit partikel, makin jarang terjadi tumbukan antar partikel/flok,
oleh sebab itu makin sedikit kesempatan flok berakumulasi.

29

e. Warna berindikasi kepada senyawa organik, dimana zat organik


bereaksi dengan koagulan, menyebabkan proses koagulasi terganggu
selama zat organik tersebut berada di dalam airbaku dan proses
koagulasi semakin sukar tercapai.
2. Penentuan dosis optimum koagulan
Untuk memperoleh koagulasi yang baik, dosis optimum koagulan harus
ditentukan.

Dosis

optimum

mungkin

bervariasi

sesuai

dengan

karakteristik dan seluruh komposisi kimiawi di dalam air baku,tetapi


biasanya dalam hal ini fluktuasi tidak besar, hanya pada saat-saat tertentu
dimana terjadiperubahan kekeruhan yang drastis (waktu musim
hujan/banjir) perlu penentuan dosis optimumberulang-ulang.
3. Penentuan pH optimum
Penambahan garam aluminium atau garam besi, akan menurunkan pH air,
disebabkan oleh reaksihidrolisa garam tersebut, seperti yang telah
diterangkan di atas. Koagulasi optimum bagaimanapun juga akan
berlangsung pada nilai pH tertentu.
Apabila muatan koloid dihilangkan, maka kestabilan koloid akan
berkurang dan dapat menyebabkankoagulasi atau penggumpalan.
Penghilangan muatan koloid dapat terjadi pada sel elektroforesisatau jika
elektrolit ditambahkan ke dalam sistem koloid. Apabila arus listrik
dialirkan cukup lama kedalam sel elektroforesis maka partikel koloid
akan digumpalkan ketika mencapai elektrode.
Jadi, koloid yang bermuatan negatif akan digumpalkan di anode,
sedangkan

koloid

yang

bermuatanpositif

digumpalkan

di

katode.Koagulan yang paling banyak digunakan dalam praktek di


lapangan adalah alumunium sulfat[Al2(SO4)3], karena mudah diperoleh
dan harganya relatif lebih murah dibandingkan dengan jeniskoagulan lain.
3. Prinsip Kerja

30

Koagulasi dan flokulasi merupakan awal dari suatu proses pengolahan


lengkap sekaligus merupakan aspek yang paling penting dari suatu proses
pengolahan air. Suatu pengolahan akan dikatakan berhasil apabilapemisahan
zat padat secara kimiawi berhasil, yang ditandai dengan terbentuknya flokflok dengan baik.
Pada prinsipnya ada dua aspek yang penting dalam proses koagulasi
flokulasiyaitu :
1. Pembubuhan bahan kimia koagulan.
2. Pengadukan bahan kimia tersebut dengan air baku.
3. Aplikasi dari koagulasi dan flokulasi ini dilakukan dalam dua reaktor
yangberbeda yaitu koagulator dan flokulator.
Pada proses koagulasi, zat kimia koagulan dicampur dengan air baku
selamabeberapa saat hingga merata dalam suatu reaktor koagulator. Dari
pencampuran ini akan terjadi destabilisasi koloid zat padat yang ada di air
baku. Keadaan ini menyebabkan menggumpalnya koloid-koloid tersebut
menjadi koloid dengan ukuran yang lebih besar. Proses koagulasi ini
dilaksanakan dalam satu tahap dan dalam waktu yang relatif cepat yaitu
kurang dari satu menit, sehingga koagulator disebut juga sebagai pengaduk
cepat.
Dalam proses ini, koloid-koloid yang sudah kehilangan muatannya atau
terdestabilisasi,

saling

tarik

menarik

sehingga

cenderung

untuk

membentukgumpalan yang lebih besar. Karena itu, air yang sudah mengalami
proses koagulasi ini kemudian dialirkan ke reaktor kedua untuk
prosespenggumpalan/flokulasi.
4. Mekanisme
1. Secara fisika
Koagulasi dapat terjadi secara fisik seperti :
a. Pemanasan
Kenaikan suhu sistem koloid menyebabkan tumbukan antar partikelpartikel soldengan molekul-molekul air bertambah banyak. Hal ini
melepaskan elektrolit yang teradsorpsi padapermukaan koloid.
Akibatnya partikel tidak bermuatan. contoh: darah.

31

b. Pengadukan, contoh: tepung kanji.


c. Pendinginan, contoh: agar-agar
2. Secara kimia
Sedangkan secara kimia seperti penambahan elektrolit (asam, basa, atau
garam).
Contoh:
susu + sirup masam > menggumpal
lumpur + tawas > menggumpal
3. Pencampuran koloid yang berbeda muatan,dan penambahan zat kimia
koagulan.
Contoh:
Fe(OH)3 yang bermuatan positif akan menggumpal jika dicampur As2S3
yang bermuatan negatif.
Ada beberapa hal yang dapat menyebabkan koloid bersifat netral, yaitu:
a. Menggunakan Prinsip Elektroforesis.
Proses elektroforesis adalah pergerakan partikel-partikelkoloid yang
bermuatan ke elektrode dengan muatan yang berlawanan. Ketika
partikel ini mencapaielektrode, maka sistem koloid akan kehilangan
muatannya dan bersifat netral.
b. Penambahan koloid dengan muatan berlawanan.
Dapat terjadi sebagai berikut: Koloid yang bermuatan negatif akan
menarik ion positif (kation), sedangkan koloid yang bermuatan positif
akan menarik ion negatif (anion). Ion-ion tersebut akan membentuk
selubung lapisan kedua. Apabila selubung lapisan kedua itu terlalu
dekat maka selubung itu akan menetralkan muatan koloid sehingga
terjadi koagulasi. Makin besar muatan ion makin kuat daya tariknya
dengan partikel koloid,sehingga makin cepat terjadi koagulasi.
(Sudarmo,2004)
c. Penambahan Elektrolit.
Jika suatu elektrolit ditambahkan pada sistem koloid, maka partikel
koloid yang bermuatan negatif akan mengadsorpsi koloid dengan
muatan positif (kation) dari elektrolit. Begitu juga sebaliknya, partikel
positif akan mengadsorpsi partikel negatif (anion) dari elektrolit. Dari
adsorpsi diatas, maka terjadi koagulasi.
d. Pendidihan
Kenaikan suhu sistem koloid menyebabkan jumlah tumbukan antara
partikel-partikel sol dengan molekul-molekul air bertambah banyak.

32

Menyebabkan lepasnya elekrolit yang teradsorpsi pada permukaan


koloid.
Dalam proses koagulasi, stabilitas koloid sangat berpengaruh.stabilitas
merupakan daya tolak koloid karena partikel-partikel mempunyai muatan
permukaan sejenis (negatif). Beberapa gaya yang menyebabkan stabilitas
partikel, yaitu:
a. Gaya elektrostatik yaitu gaya tolak menolak terjadi jika partikelpartikel mempunyai muatan yangsejenis.
b. Bergabung dengan molekul air (reaksi hidrasi)
c. Stabilisasi yang disebabkan oleh molekul besar yang diadsorpsi pada
permukaan.
Suspensi atau koloid bisa dikatakan stabil jika semua gaya tolak menolak
antar partikel lebih besardari ada gaya tarik massa, sehingga dalam waktu
tertentu tidak terjadi agregasi.Untuk menghilangkan kondisi stabil, harus
merubah gaya interaksi antara partikel denganpembubuhan zat kimia
supaya gaya tarik menarik lebih besar.Untuk destabilisasi ada beberapa
mekanisme yang berbeda:
1. Kompresi lapisan ganda listrik dengan muatan yang berlawanan.
2. Mengurangi potensial permukaan yang disebabkan oleh adsorpsi
molekul yang spesifik denganmuatan elektrostatik berlawanan.
3. Adsorpsi molekul organik diatas permukaan partikel bisa membentuk
jembatan molekul diantara partikel.
4. Penggabungan partikel koloid kedalam senyawa presipitasi yang
terbentuk dari koagulan.
Secara garis besar (bedasarkan uraian diatas), mekanisme koagulasi
adalah:
1. Destabilisasi muatan negatif partikel oleh muatan positip dari koagulan
2. Tumbukan antar partikel
3. Adsorpsi
D. Deaerator
1. Pengertian

33

Deaerator adalah alat yang bekerja untuk membuang gas-gas yang


terkandung dalam air umpan boiler, setelah melalui proses pemurnian air
(water treatment). Selain itu juga deaerator berfungsi sebagai pemanas awal
air pengisi ketel sebelum disalurkan ke dalam boiler.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam proses deaerator adalah :
a. Jumlah aliran air kondensat
b. Jumlah aliran bahan air ketel
c. Tekanan dalam deaerator
d. Level air dalam deaerator
Kelima faktor diatas adalah berhubungan erat satu sama lainnya. Jika salah
satu tidak bekerja dengan baik dapat berpengaruh jelek terhadap sistem air
umpan, sistem kondensat dan juga menaikan pemakaian bahan kimia yang
lebih tinggi.
Deaerator adalah salah satu jenis alat pemanas yang digunakan oleh banyak
pembangkit listrik didunia. Deaerator berfungsi untuk menghilangkan
oksigen dan gas-gas lainnya yang terkandung dalam feedwater ( air boiler ).
Deaerator biasanya terletak pada bagian atas dari ruangan turbin. Sebenarnya
fungsi utama dearator adalah bukan untuk menghilangkan oksigen melainkan
mengurangi kadar/konsentrasi oksigen sehingga berada pada level yang
sangat rendah seolah-olah tidak ada lagi oksigen pada air tersebut. Padahal
kita tahu bahwa air itu komposisi kimianya terdiri dari unsur Hidrogen dan
Oksigen.
(Anonim, 2011)
Deaerator adalah peralatan yang digunakan untuk mengurangi kandungan gas
terutama untuk membatasi kandungan oksigen dalam air selama proses
pembuatan uap dan pembangkitan listrik. Hal ini dilakukan agar tidak
menyebabkan terjadinya proses karat (korosi) dalam pipa-pipa baik pada heat
exchanger maupun boiler. Selain itu deaerator juga berfungsi sebagai
pemanas yang pada umumnya dengan cara kontak langsung dan fungsi
penyimpanan air umpan boiler. Tangki penyimpanan air umpan berbentuk
silinder dengan ujung-ujungnya berbentuk hemispherical.

34

Gambar Deareator
2. Jenis-Jenis
Deaerator modern terdiri dari 2 bagian, yaitu bagian de-aerating dan tangki
penyimpan air besar. Konstruksi dan operasi bagian de-aerating adalah sama
dengan pemanas hubung langsung, dimana air dikabutkan dengan
perantaraan nozzle-nozzle menjadi bentuk butir yang halus dan kemudian
bercampur secara langsung dengan uap. Gas-gas yang tidak terkondensasi
dikeluarkan dari sisi atas unit deaerating dan setelah melalui suatu kondensor
ventilasi (vent kondensor), kemudian dialirkan kembali kekondensor utama
untuk dikeluarkan dari sistem oleh pompa (udara) vakum.
Tangki penyimpan adalah cadangan untuk kebutuhan seluruh sistem dan
memasok untuk perubahan kebutuhan air dan menyediakan cadangan untuk
keadaan darurat (sebagai contoh turbin trip).
(Anonim, 2012))
Salah satu jenis Deaerator adalah jenis steamjet. Deaerator jenis ini
diletakkan diatas tangki penyimpanan air umpan (feedwater storage tank)
yang dihubungkan dengan pipa. Air yang harus dideaerasi dimasukkan ke
deaerator melalui header yang terletak di bagian atas vessel. Bagian atas
deaerator adalah tray region. Air mengalir berlawana arah dengan arah uap
setelah melewati tray dengan susunan tertentu. Aliran air yang jatuh
meninggalkan tray berlubang (perforated tray) mempunyai rasio permukaan

35

dengan volume besar, untuk membantu heat transfer dan menurunkan difusi
non condensable gas.
Bagian bawah deaerator adalah daerah steamjet. Uap diekspansi pada
orifice dan air disemprotkan untuk dikumpulkan pada suatu tempat. Disinilah
bagian deaerasi yang mempunyai koefisien heat transfer yang paling efisien
karena kondisi aliran yang turbulen.
Adapun jenis deaerator yang sering dijumpai adalah :
1. Deaerator Tipe spray
Deaerator ini dipergunakan apabila air umpan perlu dipanaskan terlebih
dahulu dengan menggunakan uap sebagai pemanas. Uap yang masuk ke
dalam deaerator, memecah aliran air menjadi serpihan-serpihan kecil yang
mengakibatkan gas-gas yang larut didalam air dipaksa keluar sehingga
konsentrasi oksigen dalam air turun.
Mekanisme proses deaerasi pada deaerator spray dapat diterangkan secara
garis besar yaitu sebagai berikut. Apabila uap masuk ke dalam deaerator
maka kontak antara uap dengan air yang masuk akan terjadi di zona
deaerasi pertama. Uap tersebut akan memecah air dan sekaligus
menghilangkan oksigen yang terkandung di dalam air dan uap yang masuk
ke dalam zona deaerasi kedua akan menghilangkan sisa-sisa oksigen.
(Anonim, 2011)

Gambar b. Deareator

36

(Sumber : http://www.taylorboiler.com/images/deaerator.jpg)
2. Deaerator Vakum
Mekanisme kerja deaerator vakum dapat dijelaskan karena gas-gas yang
terlarut dalam air dihilangkan dengan menggunakan ejaktor uap atau
dengan pompa vakum, untuk memperoleh vakum yang diperlukan.
Besarnya vakum tergantung pada suhu air, akan tetapi biasanya 730 mm
Hg.
Sistem deaerasi dengan menggunakan deaerator vakum dapat dikatakan
tidak seefesien deaerator uap, dan konsentrasi oksigen dalam air hanya
dapat diturunkan sampai kira-kira 0,2 ppm dan karbon dioksida berkisar
antara 2-10 ppm. Tergantung konsentrasi sebelum deaerasi.

Gambar c. Deareator
Vakum
(Gambar : Deaerator vakum)
3. Deaerator Tipe Tray
Pada deaerator tipe tray lebih memaksimalkan sekat-sekat (tray) sebagai
media untuk memperbesar ruang jatuh air sehingga molkul-molekul air
saling berpisah secara paksa satu dengan yang lainya, jadi tray pada

37

deaerator tipe ini adalah untuk memaksa molekul air untuk menyebar
sehingga mempermudah pelepasan udara.

Gambar: Deareator Tray

3. Sifat-Sifat
Deaerator ini bekerja berdasarkan sifat dari oksigen yang kelarutanya pada
air akan berkurang dengan adanya kenaikan suhu.
Deaerator berfungsi sebagai pemanas yang pada umumnya dengan cara
kontak langsung dan fungsi penyimpanan air umpan boiler. Tangki
penyimpanan air umpan berbentuk silinder dengan ujung-ujungnya berbentuk
hemispherical. Tangki penyimpanan ini biasanya didesain dengan kapasitas
setara dengan lima menit maksimum feed water flow. Kapasitas ini
berdasarkan pada level normal pada tangki tersebut. Air umpan dari
Deaerator dikumpulkan pada sprouts dan dialirkan pada kedua sisi vessel.
Kemudian air mengalir ke bagian suction feed water pump. Konstruksi
deaerator terdiri dari deaerator-dome dan Feedwater tank yang secara
detail konstruksinya

tergantung dari desain masing-masing fabrikator.

Penempatan Deaerator berada pada elevasi diatas pompa umpan boiler


(Boiler Feed Pump).
(Anonim, 2012).

38

Untuk menunjang operasi dari deaerator, maka pada dearator tersebut perlu
diperlengkapi dengan:
a. Vent Condensor
Condensor

ini

berfungsi

untuk

mengkondensasi

gas-gas

serta

mengumpulkan gas-gas tersebut sebelum di keluarkan ke atmosfir.


Bagian dari vent kondensor terbuat dari bahan stainles steel. Gas-gas
yang sudah terpisahkan dari air akan keluar ke atmosfir melalui jalur
vent. Katup di dalam jalur ini harus dibuka sedikit sehingga pengeluaran
gas dapat dilakukan secara kontinyu. Tanda-tanda pengeluaran gas
tersebut dapat dilihat dengan keluarnya asap dari jalur vent.
b. Tray (sekat-sekat)
Tray yang terdapat pada deaerator berfungsi sebagai media pemanas,
tempat saringan, dan juga tempat memperluas ruangan untuk kondensasi
uap.
c. Liquid Level Gauge (gelas penduga)
Gelas penduga digunakan untuk mengetahui tinggi rendahnya permukaan
air yang ada di dalam tangki deaerator. Prinsip kerja alat ini adalah
dengan bejana berhubungan. Garis tengah kira-kira 20 mm dan
panjangnya 300 mm. Kedua gagang dan peralatan terbuat dari tembaga
serta dilengkapi dengan katup (pada kedua ujungnya). Gelas penduga ini
juga dilengkapi dengan kran dan bola pemeriksa.
d. Termometer
Termometer ditempatkan pada storage tank dari deaerator. Temperatur
pada storage tangk tersebut akan bersesuaian dengan tekanan operasi dari
uap. Jika dibutuhkan termometer juga dapat ditambahkan pada jalur
pemasukan uap. Di dalam keadaan ini, pada kedua termometer ini akan
terbaca temperatur dengan perbandingan yang tetap.
(Anonim, 2011 )
4. Prinsip Kerja
Deaerator terdiri dari dua drum dimana drum yang lebih kecil merupakan
tempat pemanasan pendahuluan yang berfungsi membuang gas-gas dari

39

bahan air ketel sedangkan drum yang lebih besar merupakan tempat
penampungan bahan air ketel yang jatuh dalam drum yang lebih kecil di
atasnya. Pada drum yang lebih kecil terdapat spray nozle yang berfungsi
untuk menyemprotkan bahan air ketel menjadi butiran-butiran halus agar
proses pemanasan dan pembuangan gas-gas dari bahan air ketel lebih
sempurna. Selain itu pada drum yang lebih kecil disediakan satu saluran vent
agar gas-gas dapat terbuang (bersama steam) ke atmosfir.
Unsur utama dalam menentukan keberhasilan dari proses ini adalah kontak
fisik antara bahan air ketel dengan panas yang diberikan oleh uap.
Deaerator pada prinsipnya hampir sama dengan heater yang lainnya yakni
juga berfungsi untuk pemanasan temperatur feedwater, akan tetapi berbeda
dalam hal prosesnya. Proses perpindahan panas yang terjadi didalam heater
adalah perpindahan panas secara tidak langsung. Air dipanaskan oleh steam
yang mengalir pada tube-tube yang ada didalam heater. Sedangkan pada
deaerator, perpindahan panas terjadi akibat dari kontak langsung antara steam
dan feedwater.
(Anionim, 2011)

40

III.

KESIMPULAN

1. Unit Utilitas merupakan unit penunjang bagi unit-unit yang lain dalam suatu
pabrik atau sarana penunjang untuk menjalankan suatu pabrik dari tahap awal
sampai produk akhir.
2. Terdapat bermacam-macam alat terutama alat pemisah pada unit utilitas untuk
menghasilkan bahan baku yang diingikan.
3. Resin penukar ion adalah suatu bahan padat yang memiliki bagian (ion positif
atau negatif) tertentu yang bisa dilepas dan ditukar dengan bahan kimia lain
dari luar.
4. Koagulasi merupakan salah satu sifat dari koloid. Partikel-partikel suatu
koloid dapat mengalami penggumpalan membentuk zat semi-padat.
5. Deaerator adalah peralatan yang digunakan untuk mengurangi kandungan gas
terutama untuk membatasi kandungan oksigen dalam air selama proses
pembuatan uap dan pembangkitan listrik.
6. Jenis-jenis Deaerator yang sering dijumpai : deaerator tipe spray , deaerator
vakum dan deaerator tipe tray .

41

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2011. Utilitas/ Utility. http://cahayacinta7.blogspot.com/2011/02/utilitasutility.html diakses pada tanggal 1 Maret 2013 pukul 13.24 WIB.
Metcalf dan Eddy. 1979. Wastewater Engineering Treatment, Disposa, and Reuse.
(2 nd. Edition). New York ; McGraw-Hill Book Company, Inc.
Radiman. 2008. Pemisahan Udara. http://radiman.wordpress.com/2008/08/13/
pemisahan-udara/ diakses pada tanggal 1 Maret 2013 pukul 13.20 WIB.
Rahardi, J.B. 2011. Pengolahan Limbah. Bahan Kuliah TSAL.
Sumada,

Ketut.

2012.

Pengolahan

Air

Limbah

Secara

Kimia.

http://ketutsumada.blogspot.com/2012/04/pengolahan-air-limbah-secarakimia.html diakses pada tanggal 1 Maret 2013 pukul 13.16 WIB.


Wilda Prima Puspita. 2013. Belajar Merancang Pabrik Kimia (Bagian II):
Menghitung Kapasitas Produksi serta Memilih Sistem Proses dan
Sistem Pemroses.

https://mizzpurple20.wordpress.com/2013/02/14/

belajar-merancang-pabrik-kimia-bagian-ii-menghitung-kapasitasproduksi-serta-memilih-sistem-proses-dan-sistem-pemroses/

diakses

pada tanggal 1 Maret 2013 pukul 13.26 WIB.


Anonim. 2011. Pengolahan Air. http://pengolahanairbaku.blogspot.com/2011/06/
proses-pengolahan-air-baku-menjadi-air.html

diakses

pada

tanggal

1Maret 2013 pukul 13.33 WIB.


Anonim. 2011. Water Treatment. http://healthvermont.gov/enviro/water/water_
treatment.aspx diakses pada tanggal 1 Maret 2013 pukul 13.34 WIB.

42

PT Pusri. 2010.

Diagram Overall Pabrik PT Pusri

http://www.pusri.co.id/

indexB0301.php diakses pada tanggal 1 Maret 2013 pukul 13.30 WIB.


Anonim. 2012. http://infokelistrikan.blogspot.com/2012/09/fungsi-dan-klasifikasi
-boiler.html diakses pada tanggal 1 Maret 2013 pukul 15.46 WIB