Anda di halaman 1dari 10

TINJAUAN PUSTAKA

A.OVEN
Dekontaminasi adalah proses menghilangkan atau membunuh mikroorganisme
sehingga objek aman untuk ditangani, tujuannya untuk melindungi praktikan yang melakukan
percobaan menggunakan bakteri atau semacamnya. Tiga metode umum dalam proses
dekontaminasi yaitu sterilisasi, desinfeksi dan sanitasi. Sterilisasi yaitu proses atau kegiatan
membebaskan suatu bahan atau benda dari semua bentuk kehidupan. Pada prinsipnya
sterilisasi dapat dilakukan dengan 3 cara yaitu secara mekanik, fisik dan kimiawi. Sterilisai
secara mekanik (filtrasi) menggunakan suatu saringan yang berpori sangat kecil (0,22 mikron
atau 0,45 mikrob) sehingga mikroba tertahan pada saringan tersebut. Proses ini ditujukan
untuk sterilisasi bahan yang peka panas, misalnya larutan enzim dan antibiotik. Sterilisasi
secara fisik dilakukan dengan cara pemanasan atau penyinaran. Pemanasan dapat dilakukan
dengan cara pemijaran, pemanasan kering, menggunakan uap air panas, dan menggunakan
uap air panas bertekanan (Agalloco, 2008).
Salah satu teknik sterilisasi yang umum digunakan adalah metode sterilisasi
menggunakan uap air panas bertekanan atau menggunakan prinsip kerja autoclav. Suhu dan
tekanan tinggi yang diberikan kepada alat dan media yang disterilisasi memberikan kekuatan
yang lebih besar untuk membunuh sel dibanding dengan udara panas. Biasanya untuk
mesterilkan media digunakan suhu 121oC dan tekanan 15 lb/in2 (SI = 103,4 Kpa) selama 15
menit. Alasan digunakan suhu 121oC atau 249,8 oF adalah karena air mendidih pada suhu
tersebut jika digunakan tekanan 15 psi. Untuk tekanan 0 psi pada ketinggian di permukaan
laut (sea level) air mendidih pada suhu 100oC, sedangkan untuk autoklaf yang diletakkan di
ketinggian sama, menggunakan tekanan 15 psi maka air akan memdididh pada suhu 121oC.
Ingat kejadian ini hanya berlaku untuk sea level, jika dilaboratorium terletak pada ketinggian
tertentu, maka pengaturan tekanan perlu disetting ulang. Misalnya autoklaf diletakkan pada
ketinggian 2700 kaki dpl, maka tekanan dinaikkan menjadi 20 psi supaya tercapai suhu
121oC untuk mendidihkan air. Semua bentuk kehidupan akan mati jika dididihkan pada suhu
121oC dan tekanan 15 psi selama 15 menit (anonim, 2011).
Pemijaran langsung digunakan untuk mensterilkan spatula logam, batang gelas,
filter logam bekerfield dan filter bakteri lainnya. Mulut botol, vial, dan labu ukur, gunting,
jarum logam dan kawat, dan alat-alat lain yang tidak hancur dengan pemijaran langsung.
Dalam semua kasus bagian yang paling kuat 20 detik. Dalam keadaan darurat ampul dapat
disterilisasi dengan memposisikan bagian leher ampul kearah bawah lubang kawat keranjang

dan dipijarkan langsung dengan api dengan hati-hati. Setelah pendinginan, ampul harus
segera diisi dan disegel (anonim, 2011).
Pengeringan didefinisikan sebagai proses pengambilan air yang relatif kecil dari suatu zat
padat atau dari campuran gas. Pengeringan meliputi proses perbindahan panas, massa dan
momentum. Bahan yang akan dikeringkan dikontakkan dengan panas dari udara (gas)
sehingga panas akan dipindahkan dari udara panas ke bahan basah tersebut, dimana panas ini
akan menyebabkan air menguap ke dalam udara. Dalam pengeringan ini, dapat mendapatkan
produk dengan satu atau lebih tujuan produk yang diinginkan, misalnya diinginkan bentuk
fisiknya (bubuk, pipih, atau butiran), diinginkan warna, rasa dan strukturnya, mereduksi
volume, serta memproduksi produk baru. Adapun dasar dari tipe pengering yaitu panas yang
masuk dengan cara konveksi, konduksi, radiasi, pemanas elektrik, atau kombinasi antara tipe
cara-cara tersebut (Mujumdar, 2004).
Mekanisme pengeringan dapat diterangkan dengan teori perpindahan massa dimana
peristiwa lepasnya molekul air dari permukaan tergantung dari bentuk dan luas permukaan.
Bila suatu bahan sangat basah/lapisan air yang menyelimuti bahan itu tebal, maka akan
menarik molekul-molekul air dari permukaan datar. Bila pengeringan diteruskan, kecepatan
penguapan air yang lepas dari molekul akan tetap sama. Setelah molekul-molekul air yang
membentuk lapisan pada permukaan datar habis, luas permukaan akan naik karena titik-titik
dari permukaan butir jadi rata yang akan memperluas permukaannya sehingga dalam
pengeringan ada 2 macam mekanisme yaitu mekanisme penguapan dengan kecepatan tetap
(constant rate period) dan mekanisme penguapan dengan kecepatan tidak tetap (falling rate
period).
Kecepatan pengeringan dapat didefinisikan :
Ms
dx
N =
. dt
A
(Alan S. Foust dkk, 1960).
Pengeringan juga didefinisikan sebagai proses pengeluaran air dari bahan sehingga
tercipta kondisi dimana kapang, jamur, dan bakteri yang menyebabkan pembusukan tidak
dapat tumbuh. Pengeringan adalah proses pengeluaran kadar air untuk memperoleh kadar air
yang aman untuk penyimpanan. Tujuan Pengeringan adalah mengurangi kadar air bahan
sampai batas dimana perkembangan mikroorganisme dan kegiatan enzim yang dapat
menyebabkan pembusukan terhambat atau terhenti. Proses pengeringan yang umumnya
digunakan pada bahan pangan ada dua cara yaitu pengeringan dengan penjemuran dan
pengeringan dengan alat pengering. Kelemahan dari penjemuran adalah waktu pengeringan

lebih lama dan lebih mudah terkontaminasi oleh kotoran atau debu sehingga dapat
mengurangi mutu akhir produk yang dikeringkan. Di sisi lain, pengeringan yang dilakukan
dengan menggunakan alat pengering biayanya lebih mahal, tetapi mempunyai kelebihan yaitu
kondisi sanitasi lebih terkontrol sehingga kontaminasi dari debu, serangga, burung dan tikus
dapat dihindar. Pengeringan oven (Oven Drying) untuk produk pangan membutuhkan sedikit
biaya investasi, dapat melindungi pangan dari serangan serangga dan debu, dan tidak
tergantung pada cuaca (Winarno et al.,1980).
Sterilisasi ada dua jenis yaitu:
1. Sterilisasi dengan cara fisik
A. Pemanasan
Air dan uap adalah media panas yang baik. Dalam waktu relatif singkat, alat yang
akan disterilkan akan mencapai suhu yang diinginkan. Udara adalah penyalur panas yang
kurang baik. Oleh karena itu, untuk mecapai suhu yang diinginkan akan membutuhkan waktu
yang cukup lama.
1. Panas kering
Cara ini untuk membunuh mikroba hanya memakai udara panas kering yang tinggi.
Sterilisasi panas kering dibedakan atas :
a.

Panas membara
Dengan jalan menaruh benda yang akan di sterilkan dalam nyala api bunsen sampai

merah membara. Alat yang disterilkan yaitu sengkelit, jarum, ujung pinset dan ujung gunting.
b.

Melidah - apikan
Dengan melewatkan benda dalam api bunsen, namun tidak sampai menyala

terbakar. Alat yang disterilkan yaitu scalpel, kaca benda, mulut tabung dan mulut botol.
c.

Udara kering
Oven merupakan ciri umum yang dimaksud. Alat ini terbuat dari kotak logam, udara

yang terddapat di dalamnya mendapat udara panas melalui panas dari nyala listrik. Alat yang
disterilkan yaitu tabung reaksi, cawan petri, pipet, scalpel dari logam, gunting dan botol.
Pemanasan satu jam dengann temperatur 160 oC dianggap cukup.
2.

Panas Basah
Yang dimaksud panas basah adalah pemansan menggunakan air atau uap air. Uap air

adalah media penyalur panas yang terbaik dan terkuat daya penetrasinya. Panas basah
mematikan mikroba. Oleh karena koagulasi dan denaturasi enzim dan protein protoplasma
mikroba. Untuk mematikan spora diperlukan panas basah selama 15 menit pada suhu 121 oC.
Sterilisasi panas basah dapat dibedakan atas tiga golongan yaitu:
a.

Panas basah <100 oC (Pasteurisasi)

Pasteurisasi yaitu pemanasan pada suhu 60 oC selama 30 menit. Pasteurisasi tidak


dapat membunuh spora atau dipanaskan pada suhu 71,6 80 oC selama 15 30 detik
kemudian cepat cepat didinginkan.
b.

Panas basah pada suhu 100 oC


Di sini menggunakan air mendidih (suhu 100 oC) selama 10 menit. Untuk

mematikan bentuk spora dilakukan pemansan 3 hari berturut turut selama 15 45 menit
sehingga spora yang tidak mati pada pemanasan pertama akan beruah menjadi bentuk
vegetatif pada hari kedua steleh inkubasi pada shu 37 oC begituu pula spora yang tidak mati
pada hari kedua, akan berubah menjadi bentuk vegetatif pada hari ketiga.
c.

Panas basah >100 oC


Sterilisasi dengan cara ini hasilnya mutlak steril, sehingga biasa dipergunakan di

rumah sakit dan laboratorium besar. Cara ini menggunakan tangki yang diisi dengan uap air
yang disebut autoclave. Alat yang disterilkan adalah alat dari kaca, kain kasa, media
pembenihan, cairan injeksi, dan bahan makanan.
B. Filtrasi / Penyaringan
Penyaringan dilakukan dengan mengalirka larutan melalui suatu alat penyaringan
yang memiliki pori pori cukup kecil. Untuk menahan mikroorganisme dengan ukuran
tertentu. Saringan yang umum digunakan tidak dapat menyaring virus. Penyaringan
dilakukan dengan untuk mensterilkan cairan yang tidak tahan terhadap pemanasan dengan
suhu tinggi seperti : serum, larutan yang mengandung enzim, toksin kuman, ekstrak sel,
antibiotik dan asam amino.
C. Radiasi / Penyinaran
Mikroorganisme dapat dibunuh dengan penyinaran yang memakai sinar ultrraviolet
yang panjang gelombangnya antara 220 290 nm. Radiasi paling efektif adalah 253,7 nm.
Sinar matahari langsung mengandung sinar ultraviolet 290 nm, sehingga sinar matahari
adalah sinar yang bersifat bakterida yang baik.
2.

Sterilisasi Dengan Cara Kimia


Zat kimia yang dapat digunakan untuk sterilisasi dapat berwujud :

a. Gas : Ozon, formaldehyde, ethylene oxide gas


b. Larutan : deterjen, yodium, alcohol, peroksida fenol, formalin, AgNO3 dan
merkuroklorid
Sterilisasi dengan cara kimia antara lain dengan disenfektan. Daya kerja antimikroba
disenfektan ditentukan oleh konsenntrasi, waktu dan suhu. Beberapa contoh desinfektan yang
digunakan antara lain : Desinfektan lingkungan misalnya :
1. Untuk permukaan meja : lisol 5%, formalin 4% dan alcohol.

2.
3.

Untuk di udara : natrium hipoklorit 1%, lisol 5% atau senyawa fenol lain
Desinfektan kulit atau luka : dicuci denngan air sabun, providon yodium dan etil

alkohol 70%.
Oven (Hot Air Sterilizer), digunakan untuk mensterilisasi alat yang terbuat dari kaca dan
kertas yang tahan terhadap suhu tinggi. Oven terbuat dari kotak logam, udara yang
didalamnya mandapat udara yang panas melalui panas daya listrik. Sebelum dimasukkan alatalat seperti erlenmeyer, cawan petri, labu ukur, batang pengaduk, pipet tetes, gelas ukur,
tabung reaksi atau- alat yang terbuat dari kaca dibungkus dengan kertas terlebih dahulu untuk
mencegah terjadinya keretakan dan kontaminasi pada saat alat dikeluarkan dari dalam oven.
Alat-alat yang akan disterilisasi dicuci dan dikeringkan, alat yang mempunyai mulut ditutup
dengan kapas seperti labu ukur pipet tetes, tabung reaksi, Erlenmeyer, gelas ukur, cawan petri
dan labu ukur setelah ditutup dengan kapas, dibungkus lagi dengan kertas sedangkan untuk
batang pengaduk dibungkus seperti biasa. Tujuan dari pembungkusan yaitu agar alat-alat
tidak terkontaminasi dengan bakteri luar dan alat tidak pecah karena pada umumnya alat
terbuat dari karca. Alat-alat yang sudah dibungkus dimasukkan kedalam oven dengan
temperature 170-180 oC selama 1-2 jam. Setelah pemanasan slesai oven dimatikan sampai
mencapai suhu kamar. Hal ini bertujuan untuk menghindari keretakan alat atau masuknya
udara yang mengandung partikel debu. Setelah dilakukan sterilisasi alat siap digunakan untuk
melakukan percobaan. Suhu yang digunakan 170 oC-180 oC Karena panas kering kurang
efektif untuk membunuh mikroba dibandingkan dengan uap air panas maka metode ini
memerlukan temperature yang lebih tinggi dan waktu yang lebih panjang.
Oven adalah alat untuk memanaskan memanggang dan mengeringkan. Oven dapat
digunakan sebagai pengering apabila dengan kombinasi pemanas dengan humidity rendah
dan sirkulasi udara yang cukup. Kecepatan pengeringan tergantung dari tebal bahan yang
dikeringkan. Penggunaan oven biasanya digunakan untuk skala kecil. Oven yang kita
gunakan adalah elektrik oven yaitu oven yang terdiri dari beberapa tray didalamnya, serta
memiliki sirkulasi udara didalamnya. Kelebihan dari oven adalah dapat dipertahankan dan
diatur suhunya. Bahan yang akan dikeringkan diletakkan pada tray-traynya ( Horrison, 2000).
Faktor-faktor yang mempengaruhi pengeringan ada 2 golongan, yaitu :
1. Faktor yang berhubungan dengan udara pengering
Yang termasuk golongan ini adalah: Suhu (Makin tinggi suhu udara maka pengeringan
akan semakin cepat), Kecepatan aliran udara pengering (Semakin cepat udara maka
pengeringan akan semakin cepat), Kelembaban udara (Makin lembab udara, proses
pengeringan akan semakin lambat), Arah aliran udara (Makin kecil sudut arah udara
terhadap posisi bahan, maka bahan semakin cepat kering)
2. Faktor yang berhubungan dengan sifat bahan

Yang termasuk golongan ini adalah: Ukuran bahan (Makin kecil ukuran benda,
pengeringan akan makin cepat), Kadar air (Makin sedikit air yang dikandung, pengeringan
akan makin cepat).
B.ALAT PELINDUNG DIRI
a) PENGERTIAN ALAT PELINDUNG DIRI (APD)
Alat pelindung diri adalah peralatan yang ahrus disediakan oleh instansi, pengusaha untuk
setiap pekerjanya (karyawan). Alat pelindung diri merupakan peralatan keselamatan yang
harus digunakan oleh tenaga kerja apabila berada dalam lingkungan kerja yang berbahaya.
(Cahyono,2004)
Tujuan dari penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) adalah untuk melindungi tenaga kerja
dan resiko cedera dengan menciptakan penghalang dari bahaya ditempat kerja, alat pelindung
diri (APD), tidak untuk menukar Good Engineering atau administrasi atau praktek kerja yang
baik berdasarkan biosafety information / safety manuals / oasis home.
Alat Pelindung Diri (APD) dapat menyebabkan rasa ketidaknyamanan membatasi gerakan
presepsi sensoris pemakaiannya. Oleh karena itu pengendalian pada lingkungan kerja yang
berbahaya harus selalu diusahakan untuk menanggulangi bahaya-bahaya dilingkungan kerja.
Untuk itu pengendalian secara teknik teknologi pada sumber bahaya itu sendiri dinilai paling
efektif. Misalnya pemasangan Car Muff pada sumber kebisingan atau Local xhauter pada
sumber debu, pagar pengaman pada mesin-mesin yang berputar dan lainnya. Namun
mengingat berbagai berbagai keterbatasan sehingga tidak dapat diketahui sejauh mana
pengendalian tersebut dapat dicapai. Karena hal tersebut diatas maka penggunaan /
pemakaian alat pelindung diri (APD) menjadi pilihan terakhir. (Siswanto, 1983).
b) JENIS-JENIS ALAT PELINDUNG DIRI
a. Alat perlindungan kepala
Berdasarkan fungsinya ada 3 bagian yaitu:
Topi pengamana (safety helmet), untuk melindungi kepala dari benturan atau pukulan bendabenda.
Topi / tudung untuk melindungi kepala dari api, uap-uap korosif, debu, kondisi iklim yang
buruk.
Tutup kepala, untuk menjaga kebersihan kepala dan rambut atau mencegah lilitan rambut dari
mesin.
Alat perlindungan kepala dapat dilengkapi dengan alat pelindungan diri yang lain, yaitu :
Kacamata / goggles
Penutup muka
Penutup telinga

Respirator / dan lain-lain


b. Alat pelindung telinga ada dua jenis :
Sumbat telinga ( ear plug )
Sumbat telinga yang baik adalah menahan frekuensi tertentu saja, sedangkan frekuensi
untuk bicara biasanya tak terganggu. Kemampuan attenuasi (daya lindung) : 25-30 DB.
Sumbat telinga yang terbuat dari kapas mempunyai daya attenuasi paling kecilantara 2-12
DB.
Tutup telinga ( ear muff )
Jenisnya sangat beragam. Tutup telinga mempunyai daya lindung (attenuasi)
bersikaran antara 25-30 DB. Untuk keadaan khusus dapat dikombinasikan antara tutup
telinga dengan sumbat telinga dengan sumbat telinga, sehingga dapat mempunyai daya
lindung ( attenuasi ) yang lebih besar.
c. Alat pelindung muka dan mata ( face Shield)
Perlindungan muka dan mata merupakan persyaratan mutlakyang harus dikenakkan
pemakaian saat bekerja di laboratorium terutama saat bekerja dengan bahan kimia untuk
melindungi mata dan wajah dari tumpahan bahan kimia, uap kimia dan radiasi. Secara umum
pelindungan mata dan wajah terdiri atas kaca mata pelindung, goggle, pelindung wajah dan
pelindung mata khusus yaitu goggle yang menyatu dengan masker khusus untuk melindungi
matah dan wajah dari radiasi dan bahaya mata laser.
Secera umum fungsi alat pelindungan muka dan mata ( face shield ) yaitu melindungi
muka dan mata dari :

Lemparan benda-benda kecil


Lemparan benda-benda panas
Pengaruh cahaya
Pengaruh radiasi tertentu
Perlindungan mata dan muka
Ada pun syarat-syarat alat pelindung muka dan mata

a.
b.
c.
d.
d.

Tahan terhadap api


Tahan terhadap lemparan benda-benda
Syarat optis tertentu
Alat pelindung mata terhadap radiasi
Alat Pelindung Pernapasan
Kontaminasai bahan kimia yang paling sering kedalam tubuh manusia lewat
pernafasan seperti partikel udara, debu, uap dan gas yang dapat membahayakan pernafasan.
Ada 3 jenis alat perlindungan pernapasan
a.

Respirator yang sifatnya memurnikan udara

Respirator yang mengadung bahan kimia


Respirator dengan filter mekanik
Respirator yang mempunyai filter mekanik dan bahan kimia
b.

Respirator yang di hubungkan dengan supply udara bersih

c.

Respirator dengan supply oksigen

e. Pakain kerja
Baju yang dikenakka selama bekerja di laboratoium atau yang disebut jas laboratorium
pada umumnya terbuat dari kain katun dan bahan sintetik. Selain jas laboratorium,
perlindungan bahan lainnya dapat berupa apron yang berfungsi untuk melindungi diri dari
cairan korosif dan irirtan dan jumpsuits yang direkomendasikan untuk keadaaan berisiko
tinggi seperti penanganan bahan karsinogenik dalam jumlah banyak. Bahan perlindungan
badan harus dapat melindungi pekerja laboratorium dari percikan bahan kimia, panas ,uap,
lembab dan radiasi.
Pakaian kerja khusus untuk perkerjaan denagn sumber-sumber bahay tertentu seperti :
Tahan terhadap radiasi panas
Pakaian kerja untuk radiasi panas, harus dilapisi bahan yang bias merefleksikan panas,
biasanya aluminium dan berlkilau. Bahan-bahan pakaian lain yang bersifat isolasi terhadap
panas adalah : wool, katu, asbes ( tahan sampai 500 derajat celcius ), keca tahan sampai 450
derjat celcius, Terhadap radiasi mengion.
Tahan terhadap cairan dan bahan-bahan kimia
Biasanya terbuat dari bahan pelastik atau karet.
f. Sarung tangan
Fungsi melindingi tangan dan jari-jari api, panas, dingin, radiasi elktromagnetik dan
radiasi mengion, listrik, bahan kimia, benturan dan pukulan, luka, lecet dan infeksi. Bahan
pelindung tangan yang dipilih harus sesuai dengan bahan kimia yang ditangani karena sifat
sarung tangan yang mudah rusak.
Bahan-Bahan yang di guanakan dapat berupa :

Asbes, Katun, wool, untuk panas dan api


Kulit untuk panas, listrik, luka, lecet
Karet Clam atau Sintetik, untuk kelebaban air, bahan kimia, dan lain-lain
Poli viniyl chloride ( PVC ), untuk zat kimia, asam kuat, oksidator dan lain-lain

g. Tali / Sabuk Pengaman


Ada 3 jenis yang berbeda :
1). Jaring Angkat

Digunakan pada pekerjaaan dalam wadah sempit yang terbuka seperti sumur. Pada saat
kerja dilaksanakan tali harus kuat di ikatkan setiap saat denagn pengalaman. Jaringan angkat
terdiri dari sabuk yang melingkari pinggang dan badan dibungkus oleh jaring.
2). Sabuk Penunjang
Digunakan pada pekerjaan diatas tiang kayu dan kemudian di kombinasikan dengan
penggunaan tiang penyangga. Sabuk penunjang terdiri dari sabuk untuk pinggang dengan
penunjang belakang dan dua alat untuk pengikat tali.
3). Sabuk Pengikat
Digunakan dalam kaitannya dengan kerja di tempat dimana ada resiko jatuh seperti
Konstruksi perancah, didalam tambang dan di penggalian batu.
Ada 2 macam yaitu :
Sabuk pengikat dengantali penahan yang terbukti dari serat sintetis yang berentang jika
dibentangkan.
Sabuk ikat pengamanan, sabuk ini di rancang untuk mencegah pemakaiannya jatuh atau
mengikat dia dalam keadaan mau jatuh.
h. Pelindung Kaki
Fungsinya untuk melindungi kaki dari tertima benda-benda berat, terbakar karena
logam cair, bahan kimia Korosif, dermatitis karena bahan-bahan kimia, kemungkinan
tersandung atau tergelincir.
Adapun syarat-syarat dari Alat Pelindung Diri ( APD )

c)

Enak dipakai
Tidak mengganggu kerja
Memberikan perlindungan yang efektif sesuai dengan jenis bahaya di tempat
PENYAKIT AKIBAT KERJA
Penyakit akibat kerja adalah setiap penyakit yang disebabkan oleh pekerjaan atau
lingkungan kerja. Beberapa kemungkinan penyakit yang dapat terjadi dapat digolongkan
menjadi 5 golongan yaitu :

a. Fisik : Kerusakan indera pendengaran, angioneorosis, heat rash,panas,


radang dingin,kejang-kejang, gangguan penglihatan,kanker.
b. Kimia : pneumoconiosis, keracunan akibat zat kimia tersebut
c. Biologis
: antraksis, kulit
d. Fisiologis
: luka, Flaktur/trauma
e. Psikologis
: Stress
DAFTAR PUSTAKA
http://noberanagbio.blogspot.com/2011/11/bab-i-pendahuluan_13.html
Anonim, 2011, Metode Sterilisasi, http://rgmaisyah.wordpress.com/
metode-sterilisasi/.html

http://fheeyraredzqiiy.wordpress.com/2009/12/08/laporan-praktikumsterilisasi/

http://www.academia.edu/5442353/3._LAPORAN_HASIL_PRAKTIKUM_mikrobiol
ogi_isolasi_bakteri_.html
http://medhythedoctor.blogspot.com/2013/02/laporan-praktikum-sterlisasi.html
Lay, B., 1994, Analisis Mikroba di Laboratorium, Raja Grafindo Persada, Jakarta.
Suriawiria, Unus. 1995. Pengantar Mikrobiologi Umum. Bandung: Angkasa