Anda di halaman 1dari 4

VIVAnews- Di saat Mandala Airlines harus berhenti beroperasi untuk sementara,

maskapai Garuda Indonesia tengah sibuk untuk menawarkan saham perdananya


(initial public offering/IPO) yang dijual Rp750-1.100 per lembar saham.
Manajemen Mandala kini sedang sibuk merestrukturisasi perusahaan yang terjerat
utang. "Kami harus merestrukturisasi keuangan perusahaan, guna memberi ruang bagi
investor baru masuk menyuntikan dana," ujar Presiden Direktur Mandala, Diono
Nurjadin.
Bagaimana dengan Garuda?
Seperti halnya Mandala, Garuda pernah ambruk. Namun, setelah melalui serangkaian
restrukturisasi, Garuda sudah siap go public. Garuda kini sudah lebih sehat
dibandingkan lebih dari 10 tahun silam, saat krisis finansial merontokkan sendi-sendiri
perekonomian Indonesia.
Pada saat itu, tahun 1998, Garuda sudah berada di ujung tanduk. Nyaris bangkrut,
modalnya minus, utang menumpuk, karyawan resah, pilot hengkang dan tak ada cerita
beli pesawat baru. Kontroversi merebak, apakah Garuda dilikuidasi, dijual ke asing atau
diselamatkan lewat restrukturisasi.
Pemerintah akhirnya memilih restrukturisasi karena Garuda dianggap sebagai
maskapai kebanggaan nasional. Robby Djohan, mantan bankir kawakan diterjunkan
membenahi Garuda pada 1998. Bertahun-tahun, Robby kewalahan membenahi
perusahaan milik negara yang sudah sekarat karena beban utang selangit. Garuda
tetap saja menderita kerugian.
Total utang Garuda pada saat itu mencapai US$740 juta diantaranya utang kepada
Export Credit Agency US$400 juta, PT Bank Mandiri Tbk US$100 juta berupa obligasi
konversi dan sisanya US$130 juta dalam bentuk promisionary notes. Belum lagi utang
kepada PT Angkasa Pura I, dan Angkasa Pura II.

Lantas, pada 2005, restrukturisasi dilanjutkan oleh Emirsyah Satar yang menggantikan
posisi Robby sebagai Presiden Direktur Garuda. Emir masih terus bergulat dengan
restrukturisasi utang besar yang belum kelar.
"Pada saat kami masuk, kami harus survive. Sama seperti orang mau tenggelam, kami
harus berenang cepat dan agak capek. Saat itu, benar-benar kerja keras, kami harus
lari dan dipecut, yang penting kami tahu ujungnya kemana. Yang paling susah adalah
mengubah pola pikir," kata Dirut Garuda dalam wawancara khusus dengan VIVAnews.
Beruntung Emir tak jalan sendiri. Sebagai maskapai pelat merah, Garuda banyak
dibantu oleh pemerintah selaku pemegang saham utama. Pemerintah menyetujui utang
Garuda kepada PT Angkasa Pura I dan II sebesar US$36 juta dikonversi penyertaan
modal pada 2006. Selain itu, pemerintah juga memberikan suntikan penyertaan modal
negara kepada Garuda sebesar Rp1 triliun. Tak hanya itu, pelaksanaan Mandatory
Convertible Bondsdengan PT Bank Mandiri juga akhirnya berhasil dilakukan.
Garuda juga memindahkan gedungnya di Medan Merdeka Selatan ke kawasan
Bandara Soekarno Hatta. Gedung baru Garuda senilai Rp112 miliar atau nilainya
seperempat dari penjualan gedung lama Garuda. Dalam peresmian gedung barunya
itu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meminta agar Garuda Indonesia berhenti
menjadi

perusahaan

merugi.

"Garuda jangan menjadi PT Sukar Maju atau PT Rugi Abadi," kata Yudhoyono
menyindir.
Puncaknya, pada Januari 2010 Garuda berhasil menyelesaikan restrukturisasi floating
rates notes (surat berharga), senilai US$305,279 juta (Dollar Notes) dan Rp366.286
miliar (Rupiah Notes). Sekitar 99,2 persen noteholders yang hadir dalam pertemuan di
Singapura memberikan persetujuan (extraordinary resolution) terhadap program
restrukturisasi
Kesepakatan

yang
perjanjian

baru

itu

antara

dilaksanakan.
lain

mencakup

perpanjangan

waktu

restrukturisasi surat berharga hingga Januari 2018 dan perubahan interest rates dollar
notes menjadi LIBOR (enam bulan) plus 1,75 persen per tahun, serta Rupiah Notes
berdasarkan

deposit

rates

(enam

bulan)

plus

1,75

persen

per

tahun.

Pada 2008, restrukturisasi besar-besaran mulai menampakkan hasil. Keuangan Garuda


tak lagi bopeng-bopeng. Jika pada 2004, perusahaan masih menderita rugi Rp811
miliar,

namun

empat

tahun

kemudian

mampu

meraup

laba

Rp669

miliar.

Garuda terus melaju. Kini, manajemen menyiapkan konsep pengembangan hingga


2018 dengan nama Quantum Lead. Rencana ini menyiapkan Garuda Indonesia
sebagai flag carrier nasional dan angkutan penerbangan di masa datang. Quantum
Lead merumuskan adanya revitalisasi armada.
Manajemen akan menambah armada menjadi 116 pesawat pada 2012. Saat ini jumlah
armada Garuda mencapai 62 pesawat. Hingga 2012 Garuda akan menambah rute
domestik dan internasional menjadi 62 destinasi.

KODAK
Kebangkrutan yang selama ini membayangi perusahaan Eastman Kodak akhirnya
sirna. Perusahaan legendaris pembuat kamera itu berhasil selamat dari bangkrut.
Dalam keterangan resminya Kodak mengumumkan bahwa mereka telah benar-benar
selamat dari kebangkrutan Chapter 11. Kodak mengajukan perlindungan kebangkrutan
Chapter 11 pada Januari 2012, dengan kewajiban $ 6,75 milyar dan aset $ 5,1 milyar.
Kodak telah merampungkan restrukturisasi. Perusahaan mengaku tidak akan lagi
menjual film dan kamera. Kodak sekarang akan fokus pada bisnis digital imaging dan
penjualan

peralatan printing dan

jasa

untuk

bisnis.

"Kami lahir sebagai perusahaan teknologi serving imaging untuk pasar bisnis termasukpackaging, printing, graphic communication dan jasa profesional," kata CEO
Kodak

Antonio

Perez

sebagaimana

dilansir BBC,

Rabu

(4/9/2013).

"Kami telah melakukan revitalisasi dengan cara transformasi dan restrukturisasi untuk
menjadi pesaing yang tangguh - lebih ramping, dengan struktur modal yang kuat,
neraca keuangan yang sehat, dan teknologi industri terbaik," jelasnya lagi.
Kodak telah menyelesaikan penjualan aset ke Kodak Pension Plan Inggris, dengan
jaminan

pembiayaan

695

juta dan

modal

406

juta.

Pada bulan Januari 2013 lalu, Kodak telah menjual sekitar 1.100 paten imaging kepada
beberapa perusahaan teknologi termasuk Apple, Google, Microsoft, Amazon.com,
Facebook, BlackBerry, dan Samsung Electronics. Dengan penjualan paten itu Kodak
mendapat

pemasukan

sebesar

527

juta

dolar

AS.

Bisnis film Kodak, yang mencakup 105.000 kios foto di seluruh dunia, foto souvenir di
taman hiburan dan kertas foto, kini telah dijual. Kodak sendiri didirikan pada tahun
1892. Perusahaan ini dulu sangat terkenal dengan bisnis fotografinya, namun akhirnya
model bisnisnya gagal beradaptasi seiring berkembangnya fotografi digital.