Anda di halaman 1dari 12

BAB II

KAJIAN TEORI

2.1 Perkembangan Keperawatan dalam Agama Buddha


Agama budha mengajarkan kepada semua umatnya untuk menghargai
makhluk hidup tanpa terkecuali dari sudut pandang itulah pemberian askep harus
sesuai ajaran agama budha. Karena apabila tidak terpenuhi maka klien merasa
tidak puas atas pelayanan perawat.
Buddha Dhamma berperan besar dalam memecahkan kesulitan para ahli
tentang kesehatan mental, Buddha menunjukkan bahwa setiap orang secara terusmenerus mendengarkan suatu suara dalam dirinya dan menafsirkan apa yang
sedang dirasakannya.
Keseluruhan terapi Buddhis menjadi suatu pedoman yang disebut dengan
jalan utama beruas delapan, yang merupakan terapi penolong dan terapi yang
sebenarnya, terapi ini mencakup prilaku setiap hari dari disiplin mental serta
pengenalan terhadap teori filsafat Buddha Dharma, terapi yang sebenarnya adalah
adalah Meditasi (Dhyana) dalam terapi Buddhis dalam melenyapkan kekacuaan
mental memiliki beberapa kesamaan seperti test wawancara dan diskusi, meditasi
mirip dengan teknik terapi perilaku karena bagaimanapun terdapat beberapa aspek
meditasi yang merupakan keunggulan dalam terapi Buddhis, hal yang penting
dalam meditasi adalah perhatian, sempurna dalam perilaku, suci dalam cara hidup,
sempurna dalam sila, terjaga pintu indriya, memiliki perhatian murni dan
pengertian yang jelas. Terapi Buddhis mengatakan bahwa penyebab tubuh ini
menjadi sakit dan sehat adalah karena adanya melalui perasaan jasmani (rasa
sakit) dan keadaan pikiran (emosi-emosi) yang mempengaruhinya.
Dengan begitu apabila tubuh ini ingin tetap sehat hendaknya menyadari
segala bentuk-bentuk pikiran emosi-emosi yang timbul dalam diri. Yang dimaksud
dengan bentuk pikiran yang menyebabkan penderitaan karena mempunyai
beberapa hal yaitu : (1). Keserakahan, (2). Harga diri yang terluka, (3). Iri hati,
(4). Kebencian, (5). Kekuatiran (Ruth Walshe, alih bahasa Upi. Ksantidewi).
Tri Ratna adalah obyek penghormatan tertinggi dalam agama Buddha yang
merujuk pada Buddha (sebagai pendiri agama Buddha), Dhamma (ajaran-ajaran

Buddha), dan Sangha (siswa Buddha yang telah memahami dan mendapatkan
manfaat dari ajaran Buddha).
Permulaan perkembangan keperawatan berawal dari ajaran Sang Buddha
terdahulu yang menasehati murid-muridNya tentang pentingnya pelayanan kepada
orang sakit. Beliau bersabda :Seseorang yang merawat orang sakit, berarti ia
telah merawat Saya. Pernyataan terkenal ini dibuat oleh Yang Terberkati saat
Beliau menemukan seorang bhikkhu yang sedang berbaring dalam jubah
kotornya. Bhikkhu tersebut dalam keadaan sakit parah karena serangan disentri.
Dengan bantuan Ananda, Sang Buddha mencuci dan membersihkan bhikkhu sakit
itu dengan air hangat. Dalam kesempatan ini, Beliau mengingatkan para bhikkhu
bahwa mereka tidak mempunyai orang tua maupun sanak keluarga yang menjaga
mereka, maka mereka harus menjaga satu sama lain. Jika guru sedang sakit, murid
mempunyai kewajiban untuk menjaganya, dan jika murid sakit, guru
berkewajiban menjaga murid yang sakit. Jika tidak ada guru atau murid, maka
masyarakat berkewajiban menjaga orang sakit.
Di sisi lain, Sang Buddha menyebutkan sifat-sifat yang harus dimiliki oleh
seorang perawat baik. Ia harus mampu memberikan obat, ia harus mengetahui apa
yang bermanfaat untuk pasien dan apa yang tidak bermanfaat. Ia harus
menjauhkan apa yang tidak bermanfaat dan hanya memberikan apa yang
bermanfaat bagi pasien. Ia harus mempunyai cinta kasih dan murah hati, ia harus
melakukan kewajibannya atas kesadaran untuk melayani dan bukan hanya untuk
imbalan (mettacitto gilanam upatthati no amisantaro). Ia tidak boleh merasa jijik
terhadap air liur, lendir, air kencing, tahi, luka, dll. Ia harus mampu menasehati
dan mendorong pasien dengan ide-ide mulia, dengan pembicaraan Dhamma.
Patut diperhatikan di sini bahwa perawat tidak hanya diharapkan cakap
dalam merawat badan dengan memberi makanan dan obat yang tepat, tetapi ia
juga diharapkan untuk merawat kondisi batin pasien. Diketahui bahwa kebaikan
para perawat dan dokter adalah obat yang hampir sama efektifnya untuk semangat
juang dan kesembuhan seorang pasien. Saat seseorang sedang sakit parah dan
merasa tidak berdaya, suatu kata ramah atau suatu tindakan baik menjadi sumber
kesenangan dan harapan. Itulah sebabnya cinta kasih (metta) dan belas kasihan
(karuna), yang juga merupakan perasaan-perasaan mulia (brahmavihara),
dianggap sebagai sifat-sifat yang patut dipuji dalam seorang perawat. Sutta-sutta

menambahkan dimensi lain bagi profesi perawatan dengan memasukkan elemen


spiritual dalam pembicaraan perawat. Keadaan sakit adalah saat seseorang sedang
menghadapi kenyataan-kenyataan hidup dan kondisi ini adalah suatu kesempatan
baik untuk menanamkan suatu kesadaran spiritual yang mendesak, bahkan dalam
batin yang paling materialistis sekalipun. Lebih lanjut lagi, seseorang yang sedang
sakit tentunya mempunyai perasaan takut pada kematian yang lebih besar
daripada saat ia sedang sehat. Cara-cara yang paling bagus untuk menenangkan
perasaan takut ini adalah dengan mengalihkan perhatian kepada Dhamma. Dalam
pengawasannya, perawat diharapkan memberikan bimbingan spiritual kepada
pasien sebagai suatu bagian dan paket dari kewajiban seorang perawat.
Dalam Anguttara Nikaya, Sang Buddha menyebutkan tiga jenis pasien .
Terdapat pasien yang tidak akan sembuh apakah mereka mendapatkan atau tidak
mendapatkan pelayanan pengobatan dan perawatan yang tepat; terdapat pasien
yang akan sembuh tidak peduli apakah mereka mendapatkan atau tidak
mendapatkan pelayanan pengobatan dan perawatan yang tepat; terdapat pasien
yang akan sembuh hanya dengan pengobatan dan perawatan yang tepat. Karena
adanya jenis pasien ke tiga inilah, maka semua yang sakit harus diberi pengobatan
tersedia yang terbaik, makanan yang bermanfaat dan perawatan yang tepat.
Selama pasien masih hidup, segala yang dapat dilakukan harus diusahakan untuk
kesembuhannya.
Menurut sutta lainnya, penyakit adalah salah satu yang tidak dapat
dihindari dalam kehidupan. Saat menghadapinya, semua sumber yang tersedia
bagi seseorang, bahkan mantra-mantra gaibpun, seharusnya dimanfaatkan dengan
harapan untuk mengembalikan kesehatan. Di sini tidak akan dibahas masalah
perbuatan-perbuatan seperti itu bermanfaat atau tidak. Nampaknya inti
permasalahan adalah dalam keadaan kritis tidak ada buruknya untuk mencoba,
bahkan metode yang secara tradisi dipercaya akan membawa hasil, walaupun
orang yang bersangkutan tidak harus mempunyai keyakinan atau kepercayaan
pada metode tersebut. Tentunya, metode-metode demikian seharusnya tidak
bertentangan dengan hati nurani seseorang. Walaupun dengan upaya-upaya ini,
jika kematian tetap datang, maka seseorang harus menerimanya sebagai hasil dari
kamma dengan ketenangan hati dan kebijaksanaan.

Sang Buddha juga mengajarkan bahwa agar sembuh, pasien juga harus
bekerja sama dengan dokter dan perawat. Seorang pasien baik seharusnya hanya
menerima dan melakukan apa yang bermanfaat baginya. Bahkan dalam memakan
makanan yang bermanfaat sekalipun, ia harus mengetahui jumlah yang tepat. Ia
harus meminum resep obat tanpa merepotkan. Ia harus dengan jujur memberitahu
penyakit-penyakitnya kepada perawatnya yang sadar atas kewajiban. Ia harus
dengan sabar menahan rasa sakit jasmani bahkan saat rasa sakit tersebut sangat
nyeri dan menyiksa.
2.2 Kematian
Dalam agama Buddha, kondisi sakit dapat disembuhkan baik secara
spiritual maupun fisiologis dengan bantuan dari tim medis. Namun, seorang yang
sakit dapat mengalami kematian di mana kondisi fisis orang tersebut tidak lagi
hidup dan berfungsi kembali. Secara teoretis, kematian merupakan suatu keadaan
alamiah yang pasti akan dialami seorang individu. Pada umumnya, setiap manusia
berkembang dari bayi, anak-anak, remaja, dewasa, lansia dan akhirnya mati.
Kematian (death) merupakan kondisi terhentinya pernapasan, nadi, dan
tekanan darah, serta hilangnya respon terhadap stimulus eksternal, ditandai
dengan terhentinya aktivitas listrik otak, atau dapat juga dikatakan terhentinya
fungsi jantung dan paru secara menetap atau terhentinya kerja otak secara
menetap. Terdapat beberapa perubahan tubuh setelah kematian, diantaranya :
1. Algor mortis (Penurunan suhu jenazah)
Algor mortis merupakan salah satu tanda kematian yaitu terhentinya produksi
panas, sedangkan pengeluaran berlangsung terus menerus, akibat adanya
perbedaan panas antara mayat dan lingkungan. Faktor yang mempengaruhi
Algor mortis yaitu :
a. Faktor lingkungan
b. Suhu tubuh saat kematian
c. Keadaan fisik tubuh serta pakaian yang menutupinya
d. Aliran udara, kelembaban udara
e. Aktivitas sebelum meninggal, konstitusi tubuh
f. Sebab kematian, posisi tubuh
2. Livor mortis (Lebam mayat)
Livor mortis (lebam mayat) terjadi akibat peredaran darah terhenti
mengakibatkan stagnasi maka darah menempati daerah terbawah sehingaa
tampak bintik merah kebiruan.
3. Rigor mortis (Kaku mayat)
Rigor mortis adalah kekakuan pada otot tanpa atau disertai pemendekan
7

serabut otot.
4. Dekomposisi ( Pembusukan)
Hal ini merupakan suatu keadaan dimana bahan-bahan organik tubuh
mengalami dekomposisi baik yang disebabkan karena adanya aktifitas bakteri,
maupun

karena

autolisis.

Skala

waktu

terjadinya

pembusukan

mulai terjadi setelah kematian seluler. Lebih dari 24 jam mulai tampak warna
kehijauan di perut kanan bawah (caecum). Mekanisme dekomposisi:
Degradasi jaringan oleh bakteri H2S, HCN, AA, asam lemak
H2S + Hb HbS (hijau kehitaman).
Faktor yang mempengaruhi pembusukan:
1. Mikroorganisme
2. Suhu optimal (21 370C)
3. Kelembaban tinggi cepat
4. Sifat mediumnya udara = air = tanah = (1:2:8)
5. Umur bayi, anak, ortu lambat
6. Kostitusi tubuh : gemuk (cepat)
7. Keadaan waktu mati kematian : edema(cepat), dehidrasi (lambat)
8. Penyebab kematian : radang (cepat)
Berikut ini terdapat beberapa definisi mengenai kematian sebagai berikut :
1) Mati klinis adalah henti nafas (tidak ada gerak nafas spontan) ditambah henti
sirkulasi (jantung) total dengan semua aktivitas otak terhenti, tetapi tidak
ireversibel. Pada masa dini kematian inilah, pemulaian resusitasi dapat diikuti
dengan pemulihan semua fungsi sistem organ vital termasuk fungsi otak
normal, asalkan diberi terapi optimal.
2) Mati biologis (kematian semua organ) selalu mengikuti mati klinis bila tidak
dilakukan resusitasi jantung paru (RJP) atau bila upaya resusitasi dihentikan.
Mati biologis merupakan proses nekrotisasi semua jaringan, dimulai dengan
neuron otak yang menjadi nekrotik setelah kira-kira 1 jam tanpa sirkulasi,
diikuti oleh jantung, ginjal, paru dan hati yang menjadi nekrotik selama
beberapa jam atau hari. Pada kematian, seperti yang biasa terjadi pada penyakit
akut atau kronik yang berat, denyut jantung dan nadi berhenti pertama kali
pada suatu saat, ketika tidak hanya jantung, tetapi organisme secara
keseluruhan begitu terpengaruh oleh penyakit tersebut sehingga tidak mungkin

untuk tetap hidup lebih lama lagi. Upaya resusitasi pada kematian normal
seperti ini tidak bertujuan dan tidak berarti. Henti jantung (cardiac arrest)
berarti penghentian tiba-tiba kerja pompa jantung pada organisme yang utuh
atau hampir utuh. Henti jantung yang terus berlangsung sesudah jantung
pertama kali berhenti mengakibatkan kematian dalam beberapa menit. Dengan
perkataan lain, hasil akhir henti jantung yang berlangsung lebih lama adalah
mati mendadak (sudden death). Diagnosis mati jantung (henti jantung
ireversibel) ditegakkan bila telah ada asistol listrik membandel (intractable,
garis datar pada EKG) selama paling sedikit 30 menit, walaupun telah
dilakukan RJP dan terapi obat yang optimal.
3) Mati serebral (kematian korteks) adalah kerusakan ireversibel (nekrosis)
serebrum, terutama neokorteks. Mati otak (MO,kematian otak total) adalah
mati serebral ditambah dengan nekrosis sisa otak lainnya, termasuk serebelum,
otak tengah dan batang otak.
Penyebab kematian menurut ilmu kedokteran tidak berhubungan dengan
masalah spiritual tentang dosa manusia, melainkan diakibatkan tidak berfungsinya
organ tertentu dari tubuh manusia. Menurut beberapa ahli, kematian disebabkan
oleh :
a.
b.
c.
d.

berhentinya pernafasan
matinya jaringan otak
tidak berdenyutnya jantung
adanya pembusukan pada jaringan tertentu oleh bakteri-bakteri
Seseorang

dinyatakan

mati

menurut

para

ahli

bilamana

fungsi

pernafasan/paru-paru dan jantung telah berhenti secara pasti atau telah terbukti
terjadi kematian batang otak. Dengan demikian, kematian berarti berhentinya
bekerja secara total paru-paru dan jantung atau otak pada suatu makhluk. Dalam
ilmu kedokteran, jiwa dan tubuh tidak dapat dipisahkan. Belum dapat dibuktikan
bahwa tubuh dapat dipisahkan dari jiwa dan jiwa itu baka.
2.3 Konsep Kematian Menurut Agama Buddha
Kematian menurut definisi yang terdapat dalam kitab suci agama Buddha
adalah hancurnya Khanda. Khanda adalah lima kelompok yang terdiri dari
pencerapan, perasaan, bentuk-bentuk pikiran, kesadaran dan tubuh jasmani atau
materi. Keempat kelompok yang pertama adalah kelompok batin atau Nama yang

membentuk suatu kesatuan kesadaran. Kelompok kelima adalah Rupa, yakni


kelompok fisik atau materi. Gabungan batin dan jasmani ini secara umum
dinamakan individu, pribadi atau ego. Sebenarnya apa yang ada bukanlah
merupakan suatu individu yang berwujud seperti itu. Namun dua unsur
pembentuk utama, yakni Nama dan Rupa hanya merupakan fenomena belaka.
Kita tidak melihat bahwa kelima kelompok ini sebagai fenomena, namun
menganggapnya sebagai pribadi karena kebodohan pikiran kita, juga karena
keinginan terpendam untuk memperlakukannya sebagai pribadi serta untuk
melayani kepentingan kita.
Kita akan mampu melihat segala sesuatu sebagaimana adanya, bilamana
memiliki kesadaran dan keinginan untuk melakukannya, yakni bila kita ingin
melihat ke dalam pikiran sendiri dan mencatat dengan penuh perhatian (Sati).
Mencatat secara objektif tanpa memproyeksikan suatu ego ke dalam proses ini
dan kemudian mengembangkan latihan tersebut untuk waktu yang cukup lama,
sebagaimana telah diajarkan oleh Sang Buddha dalam Satipathana Sutta. Maka
kita akan melihat bahwa kelima kelompok ini bukan sebagai suatu pribadi lagi,
melainkan sebagai suatu serial dari proses fisik dan mental. Dengan demikian kita
tidak akan menyalah-artikan kepalsuan sebagai kebenaran. Lalu kita akan dapat
melihat bahwa kelompok-kelompok tersebut muncul dan lenyap secara berturutturut hanya dalam sekejap, tak pernah sama untuk dua saat yang berbeda; tak
pernah diam namun selalu dalam keadaan mengalir; tak pernah dalam keadaan
yang sedang berlangsung namun selalu dalam keadaan terbentuk. Kelompok
materi atau jasmani berlangsung sedikit lebih lama, yakni kira-kira tujuh belas
kali dari saat berpikir tersebut. Karena itu setiap saat sepanjang kehidupan kita,
bentuk-bentuk pikiran muncul dan lenyap. Lenyapnya yang dalam waktu sekejap
mata ini merupakan suatu bentuk dari kematian.
Lenyapnya elemen-elemen dalam waktu sekejap ini tidaklah jelas, karena
kelompok-kelompok yang berturutan akan muncul dengan segera untuk
menggantikan yang lenyap, dan mereka inipun muncul dan lenyap sebagaimana
terjadi dengan hal-hal terdahulu. Inilah yang kita katakan sebagai Terus
berlangsungnya kehidupan. Namun dengan berjalannya waktu, maka kelompok
materi atau jasmani kehilangan kekuatannya dan mulai terjadi kelapukan. Saatnya
akan tiba di mana kelompok-kelompok ini tidak dapat berfungsi lebih lanjut, dan

10

istilah yang biasa dipakai inilah akhir dari suatu kehidupan yang kita sebut
sebagai terjadinya kematian.
Menurut agama Budha, kematian dapat terjadi disebabkan oleh hal-hal
sebagai berikut:
1. Kematian dapat disebabkan oleh habisnya masa hidup sesuatu makhluk
tertentu.Kematian semacam ini disebut Ayu-Khaya.
2. Kematian yang disebabkan oleh habisnya tenaga karma yang telah membuat
terjadinya kelahiran dari makhluk yang meninggal tersebut. Hal ini disebut
Kamma-Khaya.
3. Kematian yang disebabkan oleh berakhirnya kedua sebab tersebut di atas, yang
terjadi secara berturut-turut. Disebut Ubhayakkhaya.
4. Kematian yang disebabkan oleh keadaan luar, yaitu: kecelakaan, kejadiankejadian yang tidak pada waktunya, atau bekerjanya gejala alam dari suatu
karma akibat kelahiran terdahulu (Upachedakka).
Ada suatu perumpamaan yang tepat sekali untuk menjelaskan keempat
macam kematian ini, yaitu perumpamaan dari sebuah lampu minyak yang
cahayanya diibaratkan sebagai kehidupan. Cahaya dari lampu minyak dapat
padam akibat salah satu sebab berikut ini:
a) Sumbu dalam lampu telah habis terbakar. Hal ini serupa dengan kematian
akibat berakhirnya masa hidup suatu makhluk.
b) Habisnya minyak dalam lampu seperti halnya dengan kematian akibat
berakhirnya tenaga karma.
c) Habisnya minyak dalam lampu dan terbakar habisnya sumbu lampu pada saat
bersamaan, sama halnya seperti kematian akibat kombinasi dari sebab-sebab
yang diuraikan pada kedua hal di atas.
d) Pengaruh dari faktor luar, misalnya ada angin yang meniup padam api lampu.
Sama halnya seperti yang disebabkan oleh faktor-faktor dari luar.
Oleh karena itu karma bukan merupakan satu-satunya sebab dari kematian.
Dalam Anguttara Nikaya dan kitab-kitab lainnya, Sang Buddha menyatakan
dengan pasti bahwa karma bukan merupakan penyebab dari segala hal.
Selain kematian jasmani, dalam Budha terdapat kematian batin yang tidak
berbeda dengan jasmani yang tetap berproses, proses perubahan batin dari suatu

11

keadaan di keadaan yang lain berlangsung terus dengan cepat sehingga bagi orang
yang tak mengerti menganggap batin ini adalah tetap kekal, kematian tidak
menghentikan proses batin.
Proses pikiran tidak berhenti pada saat kematian sebab saat terakhir
sebelum saat kematian yang disebut Maranasanna Javana Citta baru, namun
memiliki suatu potensi besar untuk mengetahui atau melihat salah satu tiga objek
pikiran dari orang yang akan meninggal. Objek pikiran yang muncul ini tak dapat
ditolak. Munculnya salah satu dari tiga objek pikiran ini yang menyebabkan
sebuah pikiran baru muncul. Pemunculan dari salah satu dari tiga objek sebagai
tanda kematian ini dihasilkan kekuatan dari luar, tetapi hal ini terjadi berdasarkan
pada perbuatan (kamma) orang tersebut selama hidupnya. Kamma yang bekerja
pada saat seperti ini disebut Janaka Kamma. Kematian ini merupakan refleksi dari
perbuatan sendiri.
2.4 Asuhan Keperawatan pada Masalah Menjelang Kematian dan Kematian
Secara umum, terdapat langkah-langkah dalam keperawatan untuk
memberikan asuhan keperawatan yang benar pada pasien yang akan atau telah
mengalami kematian. Kronologis langkah-langkah tersebut yakni sebagai berikut.
a. Pengkajian Keperawatan
Pengkajian masalah ini antara lain adanya tanda klinis saat menghadapi
kematian (sekarat), seperti perlu dikaji adanya hilangnya tonus otot, relaksasi
wajah, kesulitan untuk berbicara, kesulitan menelan, penurunan aktivitas
gastrointestinal, melemahnya tanda sirkulasi, melemahnya sensasi, terjadinya
sianosis pada ekstremitas, kulit teraba dingin, terdapat perubahan tanda vital
seperti nadi melambat dan melemah, penurunan tekanan darah, pernapasan
tidak teratur melalui mulut, adanya kegagalan sensori seperti pandangan kabur
dan menurunnya tingkat kecerdasan. Pasien yang mendekati kematian ditandai
dengan dilatasi pupil, tidak mampu bergerak, refleks hilang, nadi naik
kemudian turun, respirasi cheyne stokes (napas terdengar kasar), dan tekanan
darah menurun. Kematian ditandai dengan terhentinya pernapasan, nadi, dan
tekanan darah, hilangnya respons terhadap stimulus eksternal, hilangnya
pergerakan otot, dan terhentinya aktivitas otak.
b. Diagnosa Keperawatan
1) Ketakutan berhubungan dengan ancaman kematian (proses sekarat).
2) Keputusan berhubungan dengan penyakit terminal.
12

c. Perencanaan dan Tindakan Keperawatan


Hal yang dapat dilakukan dalam perencanaan tujuan keperawatan adalah
membantu mengurangi depresi, mempertahankan harapan, membantu pasien
dan keluarga menerima kenyataan. Rencana yang dapat dilakukan untuk
mencapai tujuan tersebut, antara lain:
1. Memberikan dukungan dan mengembalikan kontrol diri pasien dengan
cara mengatur tempat perawata, mengatur kunjungan, jadwal aktivitas, dan
2.
3.
4.
5.
6.
7.

penggunaan sumber pelayanan kesehatan.


Membantu pasien mengatasi kesepian, depresi, dan rasa takut.
Membantu pasien mempertahankan rasa aman, percaya diri, dan harga diri.
Membantu pasien mempertahankan harapan yang dimiliki.
Membantu pasien menerima kenyataan.
Memenuhi kebutuhan fisiologis.
Memberikan dukungan spiritual dengan memfasilitasi kegiatan spiritual

pasien.
d. Tindakan Perawat dalam Menangani Jenazah
Dalam menangani jenazah perawat harus melakukannya dengan hormat
dan sebaik-baiknya. Rasa hormat ini dapat dijadikan prinsip, dengan kata lain,
seseorang telah diperlakukan secara manusiawi dan sama seperti orang lain.
Seorang perawat harus memperlakukan tubuh jenazah dengan hormat. Sebelum
kematian terjadi, anggota tubuh harus diikat dan kepala dinaikkan ke atas
bantal. Tubuh harus dibersihkan dengan membasuhnya dengan air hangat
secara perlahan. Segala sesuatu yang keluar dari tubuh pasien harus dicuci dan
dibersihkan rawatan posmortem.
Perawatan tubuh setelah kematian disebut perawatan postmortem. Hal ini
dapat menjadi tanggung jawab perawat. Perawat akan lebih mudah
melakukannya apabila bekerja sama dengan staf kesehatan lainnya. Adapun hal
yang harus diperhatikan :
1) Perlakukan tubuh dengan rasa hormat yang sama perawat lakukan
terhadap orang yang masih hidup.
2) Beberapa fasilitas memilih untuk meninggalkan pasien sendiri sampai
petugas kamar jenazah tiba.
3) Periksa prosedur manual rumah sakit sebelum melanjutkan perawatan
postmortem.
a) Perawatan Jenazah
1. Tempatkan dan atur jenazah pada posisi anatomis.
2. Singkirkan pakaian atau alat tenun.
3. Lepaskan semua alat kesehatan
4. Bersihkan tubuh dari kotoran dan noda
13

5. Tempatkan

kedua

tangan

jenazah

di

atas

abdomen

dan

ikat

pergelangannya (tergantung dari kepercayaan atau agama)


6. Tempatkan satu bantal di bawah kepala.
7. Tutup kelopak mata, jika tidak bisa tertutup bisa menggunakan kapas
basah.
8. Katupkan rahang atau mulut, kemudian ikat dan letakkan gulungan
handuk di bawah dagu.
9. Letakkan alas di bawah glutea
10. Tutup tubuh jenazah sampai sebatas bahu
11. Kepala ditutup dengan kain tipis
12. Catat semua milik pasien dan berikan kepada keluarga
13. Beri kartu atau tanda pengenal
14. Bungkus jenazah dengan kain panjang
b) Perawatan Jenazah yang akan Diotopsi
1. Ikuti prosedur rumah sakit dan jangan lepas alat kesehatan
2. Beri label pada pembungkus jenazah
3. Beri label pada alat protesa yang digunakan
4. Tempatkan jenazah pada lemari pendingin
c) Perawatan jenazah yang meninggal akibat kasus penyakit menular
1. Tindakan di ruangan
a. Luruskan tubuh, tutup mata, telinga dan mulut dengan kapas
b. Lepaskan alat kesehatan yang terpasang
c. Setiap luka harus diplester rapat
d. Tutup semua lubang tubuh dengan plester kedap air
Dalam membersihkan jenazah, perlu diperhatikan beberapa hal :
a. Sebaiknya menggunakan masker penutup mulut.
b. Harus menggunakan sarung tangan karet.
c. Sebaiknya menggunakan apron / untuk melindungi tubuh dalam
keadaan tertentu.
d. Menggunakan air pencuci yang telah dibubuhi bahan desinfektan
e. Mencuci tangan dengan sabun setelah membersihkan jenazah
(sebelum sarung tangan dilepaskan dan sesudah sarung tangan
dilepaskan).
f. Pasang label identitas jenazah pada kaki.
g. Keluarga/teman diberi kesempatan untuk melihat jenazah
h. Memberitahukan kepada petugas kamar jenazah bahwa jenazah
adalah penderita penyakit menular
i. Jenazah dikirimkan ke kamar jenazah
2. Tindakan di Kamar Jenazah
a. Jenazah dimandikan oleh petugas kamar jenazah yang telah
mengetahui cara memandikan jenazah yang infeksius.
b. Petugas sebaiknya menggunakan pelindung :
masker penutup mulut

14

kaca mata pelindung mata


sarung tangan karet
apron/baju khusus untuk melindungi tubuh dalam keadaan

tertentu
sepatu lars sampai lutut (sepatu boot)
c. Menggunakan air pencuci yang telah dibubuhi desinfektan, antara
lain kaporit.
d. Mencuci tangan dengan sabun setelah membersihkan jenazah
(sebelum dan sesudah sarung tangan dilepaskan)
e. Jenazah dibungkus dengan kain kafan atau kain pembungkus lain
sesuai dengan kepercayaan/agamanya.
f. Setelah pembungkusan jenazah, hal-hal yang perlu dilakukan :
a) Segera mencuci kulit dan permukaan lain dengan air bila terkena
darah atau cairan tubuh lain.
b) Dilarang menutup atau memanipulasi jarum suntik, buang dalam
wadah khusus alat tajam
c) Sampah dan bahan terkontaminasi lainnya ditempatkan dalam
tas plastik
d) Pembuangan sampah dan bahan terkontaminasi dilakukan sesuai
dengan tujuan mencegah infeksi
e) Setiap percikan atau tumpahan darah di permukaan segera
dibersihkan dengan larutan desinfektans, misalnya klorin 0.5 %
f) Peralatan yang akan digunakan kembali harus diproses dengan
urutan: dekontaminasi, pembersihan, disinfeksi dan sterilisasi
g) Jenazah yang sudah dibungkus tidak boleh dibuka
h) Jenazah tidak boleh dibalsam, disuntik untuk pengawetan dan
diautopsi kecuali oleh petugas khusus.
i) Dalam hal tertentu, autopsi hanya dapat dilakukan setelah
mendapatkan persetujuan dari pimpinan RS
e. Evaluasi Keperawatan
Evaluasi terhadap masalah sekarat dan kematian secara umum dapat
dinilai dari kemampuan individu untuk menerima makna kematian, reaksi
terhadap kematian, dan perubahan perilaku, yaitu menerima arti kematian.

15