Anda di halaman 1dari 8

Tugas Agama Islam

EKSISTENSI MARTABAT MANUSIA

Alwan Muhammad Naufal


41114010056

Segala puji hanya milik Allah SWT. Shalawat dan salam selalu tercurahkan kepada
Rasulullah SAW. Berkat limpahan dan rahmat-Nya penyusun mampu menyelesaikan tugas
makalah ini guna memenuhi tugas mata kuliah Agama Islam.
Agama sebagai sistem kepercayaan dalam kehidupan umat manusia dapat dikaji melalui
berbagai sudut pandang. Islam sebagai agama yang telah berkembang selama empat belas
abad lebih menyimpan banyak masalah yang perlu diteliti, baik itu menyangkut ajaran dan
pemikiran keagamaan maupun realitas sosial, politik, ekonomi dan budaya.
Dalam penyusunan tugas atau materi ini, tidak sedikit hambatan yang penulis hadapi. Namun
penulis menyadari bahwa kelancaran dalam penyusunan materi ini tidak lain berkat bantuan,
dorongan, dan bimbingan orang tua, sehingga kendala-kendala yang penulis hadapi teratasi.
Makalah ini disusun agar pembaca dapat memperluas ilmu tentang kaitan Eksistensi Martabat
Manusia, yang kami sajikan berdasarkan pengamatan dari berbagai sumber informasi, referensi,
dan berita. Makalah ini di susun oleh penyusun dengan berbagai rintangan. Baik itu yang datang
dari diri penyusun maupun yang datang dari luar. Namun dengan penuh kesabaran dan terutama
pertolongan dari Allah akhirnya makalah ini dapat terselesaikan.
Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas dan menjadi sumbangan pemikiran
kepada pembaca khususnya para mahasiswa Universitas Mercu Buana. Saya sadar bahwa makalah
ini masih banyak kekurangan dan jauh dari sempurna. Untuk itu, kepada dosen pembimbing
saya meminta masukannya demi perbaikan pembuatan makalah saya di masa yang akan
datang dan mengharapkan kritik dan saran dari para pembaca.

Jakarta, 16 Oktober 2014

Alwan Muhammad Naufal

Tujuan Penciptaan Manusia


Dan aku tidak ciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka mengabdi kepadaku
(Q.S. Adz-Dzariyaat : 56)
Ayat diatas tersebut merupakan dalil yang berkenaan tentang keberadaan manusia di dunia.
Manusia di dunia untuk mengabdi kepada Allah SWT. Bentuk pengabdiannya tersebut berupa
pengakuan atas keberadaan Allah SWT, melaksanakan perintahNya serta menjauhi laranganNya.
Sebagai bentuk mengakui keberadaan Allah adalah dengan mengikuti Rukun Iman dan Rukun
Islam. Rukun Iman terdiri dari enam perkara, yakni percaya kepada Allah SWT, Malaikat, Nabinabi Allah, Kitab-kitab Allah, percaya kepada Hari Kiamat dan percaya terhadap Takdir (Qadha
dan Qadar) Allah SWT. Sebagai wujud keimanan terhadap Allah SWT, Allah SWT menyatakan
bahwa manusia tidak cukup hanya meyakini didalam hati dan diucapkan oleh mulut, tetapi manusia
harus melaksanakannya dalam kehidupan sehari-hari.
Sebagai bagian dari mengabdi kepada Allah SWT adalah menunaikan Rukun Islam, yaitu
mengucapkan dua kalimat syahadat sebagai karcis masuk Islam, melakukan shalat, membayar
zakat, melakukan puasa serta menunaikan ibadah haji. Dengan demikian dapat disimpulkan
keberadaan manusia diciptakan Allah untuk menjadi manusia yang Islami (Islam yang benar).
Menjadi Islam yang benar adalah dengan mengerti, memahami dan melaksanakan dalam kehidupan
apa yang telah dilarangNya, dengan kata lain secara konsisten melaksanakan Rukun Iman dan
Rukun Islam.
Eksistensi manusia di dunia adalah sebagai tanda kekuasaan Allah SWT terhadap hambahambaNya, bahwa dialah yang menciptakan, menghidupkan dan menjaga kehidupan manusia.
Dengan demikian, tujuan diciptakannya manusia dalam konteks hubungan manusia dengan Allah
SWT adalah dengan mengimani Allah SWT dan memikirkan ciptaanNya untuk menambah keimanan
dan ketakwaan kepada Allah SWT. Sedangkan dalam konteks hubungan manusia dengan manusia
serta manusia dengan alam adalah untuk berbuat amal, yaitu perbuatan baik dan tidak melakukan
kejahatan terhadap sesama manusia, serta tidak merusak alam. Terkait dengan tujuan hidup
manusia dengan manusia lain dapat dijelaskan sebagai berikut :

1.

Tujuan Umum Adanya Manusia di Dunia


Dalam al-quran Q.S. Al-Anbiya ayat 107 yang artinya :
Dan tiadalah kami mengutus kamu, melainkan untuk Rahmat bagi semesta alam
Ayat ini menerangkan tujuan manusia diciptakan oleh Allah SWT dan berada didunia
ini adalah untuk menjadi rahmat bagi alam semesta. Arti kata rahmat adalah karunia,
kasih sayang dan belas kasih. Jadi manusia sebagai rahmah adalah manusia diciptakan
oleh Allah SWT untuk menebar dan memberikan kasih saying kepada alam semesta.

2.

Tujuan Khusus Adanya Manusia di Dunia


Tujuan khusus adanya manusia di dunia adalah sukses di dunia dan di akhirat dengan
cara melaksanakan amal shaleh yang merupakan investasi pribadi manusia sebagai
individu. Allah berfirman dalam Q.S. An-Nahl ayat 97 yang artinya : Barang siapa
mengerjakan amal shaleh baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman,
maka sesungguhnya Allah SWT akan memberikan kepadanya kehidupan yang baik dan
akan diberi balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dengan apa yang
telah mereka kerjakan.

3.

Tujuan Individu Dalam Keluarga


Manusia di dunia tidak hidup sendirian. Manusia merupakan makhluk sosial yang
mempunyai ifat hidup berkelompok dan saling membutuhkan satu sama lain.. Hampir
semua manusia, pada awalnya merupkan bgian dari anggota kelompok sosial yang
dinamakan keluarga. dalam Ilmu komunukasi dan sosiologi kelurga merupakan bagian
dari klasifikasi kelompak sosial dan termasuk dalam small group atau kelompok terkecil
di karnakan paling sedikit anggotanya terdiri dari dua orang. Nanun keberadaan
keluraga penting karena merupakan bentuk khusus dalm kerangka sistem sosial secara
keseluruhan. Small group seolah-olah merupakan miniatur masyarakat yang juga
memiliki pembagian kerja, kodo etik pemerintahan, prestige, ideologi dan sebagainya.
Dalam kaitannya dengan tujuan individu daln keluarga adalah agar individu tersebut
menemukan ketentraman, kebahagian dan membentuk keluarga sakinah, mawaddah dan
rahmah. Manusia diciptakan berpasang-pasangan. Oleh sebab utu, sudah wajar manusia
baik laki-laki dan perempuan membentuk keluarga. Tujuan manusia berkelurga menurut
Q.S. Al-Ruum ayat 21 yang artinya:
"Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri
dari jenismu sendiri, supaya kamu merasa tentram, dan dijadikan-Nya diantara kamu
rasa kasih sayang . Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tandatanda bagi kaaum yang mau berfikir."
Tujuan hidup berkeluarga dari setiap manusia adalh supaya tentram. Untuk menjadi
keluarga yang tentram, Allah SWT memberikan rasa kasih sayang. Oleh sebab itu,
dalam kelurga harus dibangun rasa kasih sayang satu sama lain.

4.

Tujuan Individu Dalam Masyarakat


Setelah hidup berkeluarga, maka manusia mempunyai kebutuhan untuk
bermasyarakat. Tujuan hidup bermasyarakat adalah keberkahan dalam hidup yang
melimpah. Kecukupan kebutuhan hidup ini menyangkut kebutuhan fisik seperti
perumahan, makan, pakaian, kebutuhan sosial (bertetangga), kebutuhan rasa aman, dan
kebutuhan aktualisasi diri. Kebutuhan-kebutuhan tersebut dapat mudah diperoleh
apabila masyarakat beriman dan bertakwa. Apabila masyarakat tidak beriman dan
bertakwa, maka Allah akan memberikan siksa dan jauh dari keberkahan. Oleh sebab
itu, apabila dalam suatu masyarakat ingin hidup damai dan serba kecukupan, maka kita
harus mengajak setiap anggota masyarakat untuk memelihara iman dan takwa. Allah
berfirman :
Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan
melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan
itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya (QS Al-Araaf : 96)
Pada dasarnya manusia memiliki dua hasrat atau keinginan pokok, yaitu:
a.
Keinginan untuk menjadi satu dengan manusia lain di sekelilingnya yaitu
masyarakat
b.
Keinginan untuk menjadi satu dengan suasan alam di sekelilingnya
Istilah masyarakat dalam Ilmu sosiologi adalah kumpulan individu yang bertempat
tinggal di suatu wilayah dengan batas-batastertntu, dimana factor utama yang
menjadi dasarnya adalh interaksi yang lebih besar diantara anggotanggotanya .

5.

Tujuan Individu Dalam Bernegara


Sebagai makhluk hidup yang selalu ingin berkembang menemukan jati diri sebagai
pribadi yang utuh, maka manusia harus hidup bermasyarakat/bersentuhan dengan
dunia sosial. Lebih dari itu manusia sebagai individu dari masyarakat memiliki
jangkauan yang lebih luas lagi yakni dalam kehidupan bernegara. Maka, tujuan individu
dalam bernegara adalah menjadi warganegara yang baik di dalam lingkungan negara
yang baik yaitu negara yang aman, nyaman serta makmur.

6.

Tujuan Individu Dalam Pergaulan Internasional


Setelah kehidupan bernegara, tidak dapat terlepas dari kehidupan internasional /
dunia luar. Dengan era globalisasi kita sebagai makhluk hidup yang ingin tetap eksis,
maka kita harus bersaing dengan ketat untuk menemukan jati diri serta pengembangan
kepribadian. Jadi tujuan individu dalam pergaulan internasional adalah menjadi individu
yang saling membantu dalam kebaikan dan individu yang dapat membedakan mana yang
baik dan buruk dalam dunia globalisasi agar tidak kalah dan tersesat dalam percaturan
dunia.

Fungsi dan Peran Manusia


Allah SWT berfirman bahwa fungsi dan peran manusia adalah sebagai khalifah atau
pemimpin di muka bumi. Allah berfirman dalam Q.S. 2 : 30 yang artinya :
Ingatlah ketika tuhanmu berfirman kepada para malaikat : Sesungguhnya aku hendak
menjadikanmu sebagai khalifah di muka bumi, mereka berkata : Mengapa engkau hendak
menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan
menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji engkau dan
mensucikan engkau?. Allah berfirman : Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak
kamu ketahui.
Dalam kamus Bahasa Indonesia, khalifah berarti pimpinan umat. Menjadi pemimpin adalah fitrah
setiap manusia. Namun karena satu dan lain hal, fitrah ini tersembunyi, tercemar bahkan mungkin
telah lama hilang. Akibatnya, banyak orang yang merasa dirinya bukan pemimpin. Mereka telah
lama menyerahkan kendali hidupnya pada orang lain dan lingkungan sekitarnya. Mereka perlu
dibangunkan dan disadarkan akan besarnya potensi yang mereka miliki.
Kepemimpinan adalah suatu amanah yang diberikan Allah yang suatu ketika nanti harus kita
pertanggungjawabkan. Karena itu siapa pun anda, di mana pun anda berada, anda adalah seorang
pemimpin, minimal memimpin diri sendiri. Kepemimpinan adalah mengenai diri sendiri.
Kepemimpinan adalah perilaku kita sehari-hari. Kepemimpinan berkaitan dengan hal-hal sederhana
seperti berbakti kepada orang tua, tidak berbohong, mengunjungi kawan yang sakit,
bersilahturahmi dengan tetangga, mendengar keluh kesah sahabat, dan sebagainya.
Kepemimpinan (Leadership) adalah kemampuan dari seseorang (yaitu pemimpin atau leader) untuk
mempengaruhi orang lain (yaitu yang dipimpin atau pengikut-pengikutnya), sehingga orang lain
tersebut bertingkah laku sebagaimana dikehendaki oleh pemimpin tersebut. Kadangkala
dibedakan antara kepemimpinan sebagai kedudukan dan kepemimpinan sebagai suatu proses
sosial. Sebagai kedudukan, kepemimpinan merupakan suatu kompleks dari hak-hak dan kewajibankewajiban yang dapat dimiliki oleh seseorang atau suatu badan. Sebagai suatu proses sosial,
kepemimpinan meliputi segala tindakan yang dilakukan seseorang atau suatu badan, yang
menyebabkan gerak dari warga masyarakat.
Allah SWT berfirman dalam Surat An-Nisa ayat 58-59 yang artinya :

Sesungguhnya Allah SWT menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak
menerimanya, dan menyuruh kamu apabila menetapkan suatu hukum diantara manusia
supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha
Melihat. Hai orang-orang yang beriman taatlah Allah dan RasulNya, dan orang-orang yang
memegang kekuasaan diantara kamu, kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang
sesuatu maka kembalilah kepada Al-Quran dan Hadits. Jika kamu benar-benar beriman
kepada Allah dan hari kemudian, yang demikian itu lebih utama dan lebih baik akibatnya
bagimu.

Di dalam Surat An-Nisa ayat 58-59 tersebut dijelaskan kriteria pemerintahan (kepemimpinan)
yang baik, yaitu :
a. Pemerintah yang pemimpinnya menyampaikan amanat kepada yang berhak dan berlaku
adil.
b. Musyawarah pada setiap persoalan dan apabila terjadi perselisihan maka hendaklah
kembali kepada sumber hukum Islam.
c. Pemerintahan yang memiliki sifat kooperatif antara rakyat dan pemerintah, rakyat
harus patuh dan taat pada peraturan yang dibuat oleh pemerintah dalam hal ini baik
dan benar dan pemerintah harus benar-benar menjalankan pemerintahan untuk
kepentingan rakyat.

Setiap orang sebenarnya pemimpin. Setiap orang dapt mengatur dirinya sendiri. Sayangnya,
banyak yang tidak sadar akan kemampuannya tersebut. Maka untuk menjadi sadar ada tiga hal
yang perlu dilakukan agar kita semua sadar akan kemampuan kita sebagai pemimpin, yaitu :
a. Memahami diri sendiri (Self Understanding)
Proses ini kita harus memahami dan mengenal diri kita. Untuk menjadi pemimpin
kita harus sadar siapakah kita sebenarnya. Nabi Muhammad SAW bersabda :
"Siapa yang mengenal dirinya maka akan mengenal Tuhannya"
tanpa mengenali diri kita dengan benar ,maka sulit untuk menemukan makna kehidupan
hidup adalah sebuah perjalanan melingkar, kita harus tahu siapa kita dan bagaimana kita
seharusnya?
b. Kesadaran diri (Self Awareness)
Kesadran diri berarti sadar akan perasaan kita . Untuk menjadi pemompim kita
harus melek emosi dan kita harus mampu mengenali dan mengindentifikasi-kan perasaan
apapun yang sedang kita rasakan.
c. Pengendaalian diri (self Control)
Pengendalian diri berarti sadar sepenuhnya akan apa yang akak kita lakukan Ini
adalh hasil dari kecerdasan emosi yang tinggi. Pengendalian diri baru dapat terlihat
ketika situsi yang sulit dan melibatkan emosi, sebagai pemimpin kita harus bisa
mengendalikannya. Pemimpin yang mampu mengendalikan diri tidak akan tergoda untuk
melakukan dan memgambil sesuatu yang bukan haknya. Pengendalian duru juga
ditunjukkan oleh keberanian seseorang untuk membuat komotmen dan melaksanakan
komitmen tersebut.

Keunggulan dan potensi manusia


Potensi diri adalah kekuatan dari individu yang masih terpendam di dalam, yang dapat di
wujudkan menjadi suatu kekuatan nyata dalam kehidupan manusia. Apabila pengrtian potensi diri
dikaitkan dengan penciptaan manusias oleh Allah SWT, maka potensi diri manusia adalah:
kekuatan manusia yang di berikan oleh Alah SWT sejak dalm kandungan ibunya sampai akhir
hayatnya yang masih terpendam dalam dirinya , menunggu untuk diwujudkan menjadi sesuatu yang
bermanfaat dalam kehidupan diri manusia di dunia dan di akhirat sesuai dengan tujuan
diciptakannya manusia oleh Allah SWT untuk mengabdi kepadanya.
Potensi diri manusia terdiri dari potensi fisik yaitu tubuh manusia sebagai sebuah sistem
yang paling sempurna bila dibandingkan dengan makhlik Allah lainnya seperti: binatang, jin,
malaikat. Sedangkan potensi non fisik adalah hati, ruh, indera dan akal pikiran. Potensi apapun
yang dimiliki manusia masing-masing memiliki fungsi dan perannya, oleh karenanya harus
dimanfaatkan dngan sebaik-baiknya agar dapat berguna bagi diri dan lingkungannya.
Secara umum manisia yang dilahirkan normal kedunia ini telah dilengkapi dengan otak. Para
ahli Psikologi sepakat bahwa otak manusia adalah sumber kekuatan yang luar biasa. Tugas otak
selain mengendalikan aktifitas fisik bagian bagian didalam tubuh seperti ; paru-paru , jantung dan
sebagainya. Juga berfungsi sebagai untuk menghafal. Kegiatan-kegiatan yang memerlukan logika
seperti : berhitunh, menganalisa, bahasa. Aktivitas imajinasi, intuisi kreativitas, inovasi dan
sebagainya.
Tugas otak melahirkan kegiatan berfikir yang pada gilirannya dapat menghasilkan karya nyata.
Jadi otak adalah sumber kekuatan manusia untuk menghasilkan karya melalui proses berfikir.
Bagaimana merealisasikan harapan-harapan agar menjadi kenyataan. Ada beberapa proses
sebagai berikut:
a.
Gunakan potensi yang kita miliki, yaitu kita mengerahkan kemampuan-kemampuan yang
bisa diandalkan dan memang kita memilikinya dan menguasainya.
b.
Persaan takut gagal. Perasaan itu pasti ada, namun kita harus yakin pada diri kita
sendiri bahwa kita mampu untuk melakukannya, perasaan tersebut harus kita buang
jauh-jauh dan kita yakin prosentase keberhasilan kita adalah 50:50. walaupun gagal .
tetapi pada dasarnya kita tidak rugi karena kita telah melakukan dan mencoba yang
terbaik daripada todak sama sekali.
c.
Melawan kemungkinan-kemungkinan. Hindri diri kita dari fikiran-fikiran negative dan
cobalah selalu positif thinking dalam menghadapi Sesutu karena itu adalah salah satu
motivasi buat kita sendiri.
d.
Sikap hidup biasa-biasa saja. Sikap ini bukianlh sikap yang baik, kalu kita hanya
mengandalkan dan pasrah dengan kehidupan apa adanya, kita harus bersaing dan
menjadi yang lebuh baik dari yang terbaik.
e.
Kurang antusias. Kalau kita tidak memiliki antusias dan obsesi dalam hidup bagaimana
kita kita bisa maju dan berkembang mebgembangkan sayap kehidupan dan
merealisasikan keinginan-keinginan.
f.
Menolak perubahan.Perubahan harus selallu dillakukan kalau kita ingin menjadi yang
lebih baik.. Karena Allah SWT berfirman : Sesungguhnya aku tidak akan merubah
suaru kaum sebelum mereka merubah keadaan mereka sendiri .

Sumber:
http://deniz.ucoz.com/news/eksistensi_martabat_manusia_pelajaran_agama
/2009-10-29-26