Anda di halaman 1dari 24

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN COOPERATIVE LEARNING (JIGSAW VS

STAD) TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA DALAM SISTEM PENCERNAAN


I.

PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang Masalah


Belajar merupakan aktivitas manusia yang penting dan tidak dapat dipisahkan dari
kehidupan manusia. Pernyataan tersebut menjadi ungkapan bahwa manusia tidak dapat
lepas dari proses belajar itu sendiri sampai kapanpun dan dimanapun manusia itu berada
dan belajar juga menjadi kebutuhan yang terus meningkat sesuai dengan perkembangan
ilmu pengetahuan.
Perkembangan ilmu pengetahuan alam (IPA) telah melaju dengan pesatnya karena
selalu berkaitan erat dengan perkembangan teknologi yang memberikan wahana yang
memungkinkan perkembangan tersebut. Perkembangan yang pesat telah menggugah para
pendidik untuk dapat merancang dan melaksanakan pendidikan yang lebih terarah pada
penguasaan konsep IPA, yang dapat menunjang kegiatan sehari-hari dalam masyarakat.
IPA mencakup Fisika, Kimia, dan Biologi.
Oleh karena itu, untuk dapat menyesuaikan perkembangan tersebut menuntut
kreativitas dan kualitas sumber daya manusia harus ditingkatkan melalui jalur pendidikan.
Untuk meningkatkan kualitas peserta didik melalui pembelajaran IPA, guru diharapkan
tidak hanya memahami produk IPA, tetapi hendaknya juga memahami hakikat proses
pembelajaran IPA yang mencakup tiga ranah kemampuan, yaitu kognitif, afektif dan
psikomotor. Oleh karena itu, pengalaman belajar IPA harus memberikan pertumbuhan dan
perkembangan siswa pada setiap aspek kemampuan tersebut khususnya dalam Biologi.
Proses pembelajaran yang baik tidak lepas dari kerjasama antara guru dan murid.
Guru yang baik adalah guru yang mampu menguasai materi yang akan disampaikan dan
selanjutnya dapat menyajikannya dengan baik di dalam kelas. Hal ini sesuai dengan
pendapat Slavin seperti dikutip oleh Ruhadi, menyatakan bahwa guru yang efektif tidak
hanya menguasai bahan ajar yang mereka ajarkan, tetapi mereka juga dapat
mengkomunikasikan pengetahuan mereka kepada siswa. Oleh karena itu, kunci
kewibawaan dan keberhasilan guru tergantung dari penguasaan materi dan
kemampuannya menyajikan materi tersebut.
Kemampuan guru dalam menyampaikan materi kepada siswa tidak terlepas dari
strategi yang dipilih guru. Dalam memilih strategi pembelajaran diperlukan beberapa
pertimbangan antara lain keadaan siswa, keadaan sekolah, lingkungan belajar yang dapat
menunjang kemajuan IPTEK dan kemajuan kehidupan sosial di masyarakat, serta tujuan
pembelajaran yang ingin dicapai yaitu untuk meningkatkan hasil belajar yang optimal
bagi siswa.
Dengan demikian, secara umum strategi pembelajaran menduduki posisi yang
penting dalam proses pembelajaran di kelas dan merupakan keterampilan yang harus
dimiliki setiap guru. Karena strategi pembelajaran merupakan rencana tindakan atau

rangkaian kegiatan termasuk penggunaan metode dan pemanfaatan dari berbagai sumber
daya atau kekuatan dalam pembelajaran yang disusun untuk mencapai tujuan
pembelajaran.
Siswa di SMAN 5 Tambun Selatan dapat dikategorikan heterogen, maksudnya
adalah heterogen dalam hal jenis kelamin, tingkat sosial danekonomi, prestasi atau
kemampuan akademik, dan suku. Selain itu, kondisisiswa di sekolah tersebut
menunjukkan bahwa hasil belajar dalam materi Sistem Pencernaan di bawah kriteria
ketuntasan minimal (KKM < 7,0). Begitu pula hasil wawancara dengn guru mata
pelajaran Biologi, dari hasil wawancara tersebut didapat bahwa nilai rata-rata ujian siswa
dalam materi Sistem Pencernaan masih rendah atau di bawah kriteria ketuntasan minimal.
Rendahnya nilai tersebut diduga di pengaruhi oleh beberapa faktor, di antaranya sarana
dan prasarana sekolah yang belum lengkap maupun minat dan motivasi dalam belajar
Biologi yang menjadi faktor rendahnya nilai siswa di SMAN 5 Tambun Selatan tersebut.
Rendahnya minat dan motivasi siswa SMAN 5 Tambun Selatan dalam belajar ini terlihat
dari lesunya siswa pada jam pelajaran biologi dan tidak bersemangat bahkan selalu
mengambil kesempatan untuk tidur pada jam pelajaran.
Penurunan motivasi belajar ini juga kemungkinan disebabkan adanya dominasi
pengajaran dengan metode ceramah yang diterapkan oleh sebagian besar guru di SMAN 5
Tambun Selatan tersebut. Alasan masih mendominasi metode tersebut dalam
pengajarannya karena metode ceramah dianggap paling praktis yang dapat dilaksanakan.
Padahal pembelajaran seperti ini akan melahirkan pembelajaran yang pasif dan tidak
demokratis, karena peran inti dipegang guru dan bahkan guru seringkali berlaku otoriter.
Dengan demikian, kegiatan belajar serta tujuan pembelajaran tidak terwujud. Agar
kegiatan belajar dan tujuan pembelajaran dapat terwujud maka diperlukan metode yang
menarik dalam proses pembelajaran. Metode belajar harus membuat siswa aktif dalam
proses pembelajarannya, karena keaktifan siswa dapat mempengaruhi hasil belajar. Selain
itu, metode belajar harus dapat memfasilitasi siswa untuk berhasil mencapai tujuan
pembelajaran secara optimal. Karena metode belajar melibatkan siswa dalam proses
pembelajaran yang bersifat menantang dan sekaligus menyenangkan. Dengan demikian,
metode belajar dapat mengurangi atau bahkan menghilangkan bebanpsikologis siswa,
sehingga akan mengefektifkan sekaligus mengefisienkanaktivitas belajar mengajar di
kelas.
Pembelajaran yang efektif dan efisien membutuhkan kerja sama yang kompak
antara guru dan siswa. Dalam proses pembelajarannya harus terjadi interaksi yang intensif
antar berbagai komponen sistem pembelajaran (guru, siswa, materi pembelajaran, dan
lingkungan) situasi ini dapat dilakukan dengan mengembangkan dan mengaplikasikan
pembelajaran. Kriteria model belajar tersebut merupakan bagian dari pembelajaran
kooperatif (CooperativeLearning).
Pembelajaran kooperatif (Cooperative Learning) digunakan dalam pembelajaran
di kelas dengan menciptakan situasi atau kondisi bagi kelompok untuk mencapai tujuan
masing-masing anggota atau kelompok itu sendiri. Pembelajaran kooperatif membawa

maksud belajar bersama-sama dalam satu kumpulan kecil atau kelompok yang
mempunyai tujuan yang sama. Yaitu untuk meningkatkan partisipasi siswa dan
memberikan kesempatan pada siswa untuk berinteraksi dan belajar bersama dalam
kelompoknya yang mempunyai latar belakang yang berbeda. Sehingga diharapkan dari
penerapan pembelajaran kooperatif tersebut, tidak hanya dapat meningkatkan kerja sama
dan tanggung jawab siswa yang baik dalam kelompok, tetapi juga akan dapat memacu
penguasaan siswa terhadap materi ajar, sehingga dapat meningkatkan hasil belajar siswa
dalam kelompok tersebut.
Pembelajaran kooperatif berbeda dengan pembelajaran kelompok biasa.
Pembelajaran kooperatif tidak hanya menekankan kemampuan akademik, tetapi juga
kemampuan sosial. Pada pembelajaran kooperatif tersebut unsur kerjasama yang menjadi
karakteristik pembelajaran tersebut. Unsur-unsur tersebut adalah adanya saling
ketergantungan antar kelompok. Setiap anggota kelompok memiliki tanggung jawab
sesuai dengan tugas kelompoknya. Pembelajaran kooperatif juga memberikan
kesempatan yang luas bagi anggota kelompok untuk saling memberikan informasi dan
saling membelajarkan, serta pembelajaran tersebut memicu siswa berlatih berperan aktif
dan komunikatif.
Pembelajaran kooperatif memiliki banyak teknik, dua di antaranya adalah teknik
student team achievement division (STAD) dan teknik jigsaw. Dalam pembelajaran
kooperatif baik teknik STAD maupun teknik jigsaw, siswa dibagi menjadi beberapa
kelompok yang terdiri dari 4-5 siswa yang tingkat kemampuan, jenis kelamin, dan etnis
yang berbeda. Pada pembelajaran teknik STAD dicirikan oleh suatu struktur tugas, tujuan
dan penghargaan kooperatif.
Teknik STAD adalah salah satu teknik pembelajaran kooperatif yang memiliki
keistimewaan dengan teknik pembelajaran yang lain, yaitu anggota kelompok diberi
tugas, adanya interaksi langsung antar siswa, siswa dirangsang untuk belajar, guru
membantu siswa mengembangkan keterampilan seseorang dalam kelompok kecil, dan
guru berinteraksi dengan siswa bila diperlukan.
Gagasan utama dari teknik student team achievement division (STAD) adalah
untuk memotivasi siswa agar dapat saling mendukung dan membantu satu sama lain
dalam menguasai kemampuan yang diajarkan oleh guru. Jika para siswa ingin
kelompoknya mendapatkan penghargaan tim, mereka harus membantu teman satu timnya
untuk bisa melakukan yang terbaik, dan menunjukkan bahwa belajar itu penting,
berharga, dan menyenangkan.
Metode STAD sangat cocok diberikan untuk siswa SMP karena mereka memiliki
karakteritik tersendiri. Siswa tersebut senang berkelompok dengan teman sebaya dan
memiliki kebersamaan yang tinggi. Terkait dengan proses pembelajaran, siswa SMP
sudah mulai berpikir kritis dalam memahami suatu materi pelajaran. Selain itu,
pembelajaran kooperatif teknik STAD dapat membantu siswa untuk memahami konsepkonsep biologi yang sulit serta menumbuhkan kemampuan kerja sama, berpikir kritis, dan
mengembangkan sikap sosial siswa. Pembelajaran kooperatif tersebut memiliki dampak

yang positif terhadap siswa yang rendah hasil belajarnya, karena siswa yang rendah hasil
belajarnya dapat meningkatkan motivasi, hasil belajar dan penyimpanan materi pelajaran
yang lebih lama. 9 Melalui teknik STAD ini diharapkan hasil belajar siswa pada konsep
pelajaran biologi dapat mencapai nilai KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) di sekolah
SMP Attaqwa 06 tersebut. Sedangkan dalam teknik jigsaw, terdapat kelompok asal dan
kelompok ahli. Kelompok asal yaitu kelompok induk siswa yang beranggotakan siswa
dengan kemampuan, asal, dan latar belakang keluarga yang beragam.
Kelompok asal merupakan gabungan dari beberapa ahli. Kelompok ahli yaitu
kelompok siswa yang terdiri dari anggota kelompok asal yang berbeda yang ditugaskan
untuk mempelajari dan mendalami konsep tertentu dan menyelesaikan tugas-tugas yang
berhubungan dengan konsepnya itu untuk kemudian dijelaskan kepada anggota kelompok
asal. Para anggota dari tim-tim yang berbeda dengan konsep yang sama bertemu untuk
diskusi ke dalam kelompok yang disebut tim ahli, dalam tim ahli para anggota saling
membantu satu sama lain tentang konsep yang ditugaskan kepada mereka. Kemudian
siswa-siswa itu kembali pada tim asal untuk menjelaskan kepada anggota kelompok yang
lain tentang apa yang telah mereka pelajari sebelumnya pada pertemuan tim ahli.
Tujuannya adalah untuk mendorong siswa agar lebih aktif, serta meningkatkan
rasa tanggung jawab siswa terhadap pembelajarannya sendiri dan juga pembelajaran
orang lain. Karena teknik jigsaw dapat menuntut siswa untuk lebih aktif meningkatkan
rasa tanggung jawab terhadap kelompoknya itu, dan siswa tidak hanya mempelajari
materi yang diberikan, tetapi mereka juga harus siap memberikan dan mengajarkan materi
tersebut pada anggota kelompoknya yang lain. Melalui teknik jigsaw ini diharapkan hasil
belajar siswa pada konsep pelajaran biologi dapat mencapai nilai KKM (Kriteria
Ketuntasan Minimal) di SMAN 5 Tambun Selatan tersebut. Dengan demikian, semua
siswa dituntut untuk berpartisipasi dan berperan aktif dalam proses pembelajaran
kelompok di kelas.
I.2 Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah, maka peneliti dapat mengidentifikasi
masalah-masalah sebagai berikut:
1. Perilaku pasif siswa mempersulit proses penyerapan materi pelajaran.
2. Strategi pembelajaran yang diterapkan guru kurang efektif pada siswa khususnya
pelajaran biologi.
3. Pemilihan model pembelajaran kurang sesuai dengan tujuan pembelajaran.
4. Metode pembelajaran guru bersifat monoton.
5. Hasil belajar biologi siswa rendah di bawah kriteria ketuntasan minimal (KKM < 7,0).
I.3 Pembatasan Masalah

Dalam penelitian, mengingat permasalahan yang telah diidentifikasi di atas


ternyata memiliki permasalahan yang cukup luas dan kompleks, oleh karena itu masalah
dibatasi pada:
1. Penelitian dilakukan di SMAN 5 Tambun Selatan.
2. Penelitian dilakukan pada siswa kelas XI dalam materi Sistem Pencernaan.
3. Penelitian dilakukan untuk mengetahui perbedaan hasil belajar siswa yang diajarkan
melalui pembelajaran kooperatif teknik STAD dengan teknik jigsaw dalam materi Sistem
Pencernaan.
I.4 Perumusan Masalah
Berdasarkan pembatasan masalah di atas, maka dapat dirumuskan masalah
sebagai berikut: Apakah terdapat perbedaan hasil belajar biologi antara siswa yang
diajarkan melalui pembelajaran kooperatif teknik STAD dengan teknik jigsaw.
II.

LANDASAN TEORI

II.1Definisi
1. Model Pembelajaran Kooperatif (Cooperative Learning)
a. Pengertian Model Pembelajaran Kooperatif
Istilah pembelajaran kooperatif berasal dari bahasa Inggris yaitu Cooperative
Learning. Dalam sebuah kamus Inggris- Indonesia, Cooperative berarti kerjasama dan
Learning berarti pengetahuan atau pelajaran.11 Karena berhubungan dengan proses
belajar mengajar, maka istilah Cooperative Learning tersebut diartikan dengan
pembelajaran kooperatif. Pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran yang berfokus
pada penggunaan kelompok kecil siswa untuk bekerja sama dalam memaksimalkan
kondisi belajar untuk mencapai tujuan belajar.
Pembelajaran Kooperatif merupakan pembelajaran yang menekankan pada sikap
atau perilaku bersama dalam kelompok untuk membantu sesama anggota kelompok
dalam struktur kerja sama yang teratur, yang terdiri atas dua atau lebih siswa untuk
memecahklan masalah. Keberhasilan kerja sangat dipengaruhi oleh keterlibatan dari
setiap anggota kelompok itu sendiri. Jadi, belajar kooperatif maksudnya belajar secara
bersama-sama dalam kelompok untuk mencapai tujuan tertentu.
Prinsip pada pembelajaran kooperatif (cooperative learning) melihatkan
penugasan siswa pada tugas-tugas yang dibentuk secara berkelompok (dimana anggotaanggota pada kelompok membantu satu dengan yang lain untuk melengkapi tugas-tugas
individu). Selain itu, suasana positif yang timbul dari model pembelajaran kooperatif
dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk mencintai pelajaran dan sekolah.
Dalam kegiatan- kegiatan yang menyenangkan ini, siswa merasa lebih terdorong untuk

belajar dan berpikir. Pembelajaran kooperatif adalah suatu model pembelajaran yang di
dalamnya terdapat unsur-unsur yang saling terkait, unsur- unsur tersebut yaitu:
1) Saling ketergantungan positif
Dalam pembelajaran kooperatif, guru menciptakan suasana yang mendorong
agar siswa merasa saling membutuhkan. Hubungan yang saling membutuhkan inilah
yang dimaksudkan dengan saling ketergantungan positif. Saling ketergantungan dapat
dicapai melalui;
saling ketergantungan mencapai tujuan, saling ketergantungan menyelesaikan tugas,
saling ketergantungan bahan atau sumber, dan saling ketergantungan peran.
2) Interaksi tatap Muka
Interaksi tatap muka yang akan memaksa siswa saling tatap muka dalam
kelompok sehingga mereka dapat berdialog. Dialog tidak hanya dilakukan oleh guru,
interaksi semacam itu sangat penting karena siswa merasa lebih mudah belajar dengan
sesamanya.
3) Keterampilan untuk menjalin hubungan sosial
Keterampilan sosial seperti tenggang rasa, sikap sopan santun terhadap teman,
mengkritik ide (bukan mengkritik teman), berani mempertahankan pikiran yang logis,
tidak mendominasi orang lain, mandiri, dan berbagai sifat lain yang bermanfaat dalam
menjalankan hubungan pribadi tidak hanya diasumsikan tetapi secara sengaja
diajarkan.
4) Pertanggung jawaban secara individual dan kelompok
Setiap kelompok bertanggung jawab untuk mencapai tujuan dalam
pembelajaran. Setiap anggota dalam tim diharuskan memberikan kontribusi untuk
kelompoknya dan memberikan bantuan dorongan bagi siswa lain untuk menguasai
bahan ajar.
b. Tujuan Pembelajaran Kooperatif
Menurut Eggen Dan Kauchak Dalam Trianto Bahwa pembelajaran kooperatif
merupakan sebuah kelompok strategi pengajaran yang melibatkan siswa bekerja
secara berkolaborasi untuk mencapai tujuan bersama. Selain itu pembelajaran
kooperatif juga disusun dalam sebuah usaha untuk meningkatkan partisipasi siswa,
memfasilitasi siswa dengan pengalaman sikapkepemimpinan dan membuat keputusan
dalam kelompok, serta memberikan kesempatan kepada siswa untuk berinteraksi dan
belajar bersama-sama siswa yang berbeda latar belakangnya, sehingga pembelajaran
kooperatif dapat meningkatkan kinerja siswa dalam tugas-tugas akademik, unggul
dalam membantu siswa memahami konsep-konsep yang sulit, dan membantu siswa
menumbuhkan kemampuan berpikir kritis. Menurut Vygotsky dalam Heri Midiastutik
menyatakan bahwa pembelajaran kooperatif memiliki dampak yang positif terhadap

siswa yang rendah hasil belajaranya, karena siswa yang rendah hasil belajarnya dapat
meningkatkan motivasi dan hasil belajar.
1) Prestasi akademik (Academic Achievement)
Meskipun pembelajaran kooperatif mencakup bermacam-macam objek-objek
sosial, namun juga bertujuan memperbaiki prestasi siswa pada tugas-tugas akademik
yang penting. Selanjutnya pembelajaran kooperatif dapat bermanfaat baik bagi siswa
yang berprestasi tinggi maupun rendah yang bekerja bersama-sama dalam tugas-tugas
akademik. Hal ini dapat terjadi karena siswa yang prestasinya tinggi harus membantu
yang rendah, sehingga siswa yang berprestasi tinggi akan selalu berpikir untuk
menjelaskan pada temannya yang berprestasi rendah. Oleh karena itu akan terjadi
hubungan sosial diantaranya.
2) Penerimaan Perbedaan (Achievement of Diversity)
Maksudnya adalah penerimaan terhadap orang yang berbeda baik ras,
kebudayaan, kelas sosial, maupun kemampuan. Pembelajaran kooperatif memberikan
kesempatan pada siswa dengan bermacam- macam latar belakang dan keadaan untuk
mengerjakan tugas bersama-sama.
3) Pengembangan Keterampilan Sosial (Social Skill Development)
Tujuannya adalah untuk mengajar keterampilan kerjasama siswa dalam
lingkungan sosial dan lingkungan yang banyak perbedaan budaya.
c. Karakteristik pembelajaran kooperatif
Pembelajaran
kooperatif
memiliki
beberapa
karakteristik
yang
membedakannya dengan model pembelajaran lain. Perbedaan tersebut dapat dilihat
dari proses pembelajarannya yang lebih menekankan pada proses kerjasama dalam
kelompok, atau dalam mencapai tujuan pembelajaran peserta didik secara teratur
bekerja sama dengan teman kelasnya. Berdasarkan karakteristiknya, pembelajaran
kooperatif memiliki karakteristik sebagai berikut:
1) Pembelajaran secara tim
Pembelajaran kooperatif dilakukan secara tim, sesama anggota tim saling
membantu untuk mencapai tujuan pembelajaran. Atau dengan kata lain keberhasilan
pembelajaran bukan ditentukan oleh individu akan tetapi oleh tim. Anggota dalam tim
bersifat heterogen yang memiliki kemampuan akademik, jenis kelamin, dan latar
belakang yang berbeda. Hal ini dimaksudkan agar setiap anggota kelompok dapat
saling memberikan pengalaman, saling memberi dan menerima, sehingga diharapkan
setiap anggota kelompok dapat memberikan kontribusi terhadap keberhasilan
kelompok.
2) Pembelajaran dengan manajemen kooperatif

Manajemen memiliki empat pilar fungsi manajemen, yaitu: fungsi


perencanaan, fungsi organisasi, fungsi pelaksanaan, dan fungsi kontrol. Fungsi
perencanaan memiliki makna bahwa pembelajaran dilakukan secara terencana baik
tujuannya, cara mencapainya dan lain-lain. Fungsi perencanaan menunjukkan bahwa
pembelajaran kooperatif harus dilaksanakan sesuai dengan perencanaan, melalui
langkah-langkah pembelajaran yang sudah ditentukan dan disepakati bersama. Fungsi
organisasi dimaksudkan bahwa pembelajaran kooperatif adalah pekerjaan bersama
antar setiap anggota dalam kelompok, oleh karenanya perlu diatur mekanisme tugas
dan tanggung jawab setiap anggota. ini, Fungsi Kontrol sangat penting dalam kriteria
pembelajaran karenanya harus ditentukan keberhasilan baik melaluites maupun
nontes.
3) Kemauan untuk bekerja sama
Kerja sama dalam kelompok tidak akan efektif manakala setiap aggota tidak
memiliki kemauan untuk bekerja sama atau secara terpaksa, karena dalam tim bukan
hanya ada pengaturan tugas dan tanggung jawab setiap anggota tim, melainkan juga
harus ditanamkan dan ditumbuhkan kebersamaan dalam kelompok yang bisa
diwujudkan dalam bentuk saling membantu, saling mengingatkan dan sebagainya.
2. Teknik Student Team Achievement Division (STAD)
a. Pengertian Teknik Student Team Achievement Division (STAD)
STAD merupakan salah satu metode pembelajaran kooperatif yang paling
sederhana, dan merupakan model yang paling baik untuk permulaan bagi para guru
yang baru menggunakan pendekatan kooperatif. 19 Menurut Slavin, (1994) seperti
yang dikutip Marjoko, STAD dinyatakan sebagai berikut:
Teams are composed of four or five students who represent a cross-section of
the class in terms of academic performance, sex, and race or ethnicity. The major
function of the team is to make sure that all team member are learning, and, more
specifically, to prepare its member to do well on the quizzes. After the teacher
presents the material, the team meets to study worksheets or other material. Most
often, the study involves students discussing problems together, comparing answers,
and correcting any misconceptions if teammates make mistake.20 Maksudnya Tim
disusun atas 4-5 siswa yang merupakan representasi kelas yang variatif dalam
kemampuan akademik, jenis kelamin, ras atau etnis. Fungsi utama tim ini adalah
untuk meyakinkan bahwa anggota-anggota tim belajar dan secara khusus untuk
mempersiapkan anggotanya untuk mengerjakan kuis dengan baik. Setelah guru
menjelaskan materi, tim bertemu untuk mempelajari lembar kerja atau
materi
yang
lain.

Siswa
mendiskusikan
masalah
bersama,
membandingkan jawaban dan memeriksa miskonsepsi jika tim
membuat kesalahan.
Pada pembelajaran kooperatif teknik STAD siswa belajar dan
membentuk sendiri pengetahuannya berdasarkan pengalaman dan
kerjasama setiap siswa dalam kelompoknya untuk menyelesaikan
tugas yang telah diberikan kepada mereka, pada pembelajaran ini
siswa dilatih untuk bekerjasama dan saling membantu memberikan
pengetahuannya terhadap tugas mereka sedangkan guru pada metode
pembelajaran ini berfungsi sebagai fasilitator yang mengatur dan
mengawasi jalannya proses belajar.
b. Langkah-langkah Pembelajaran Kooperatif Teknik STAD
STAD terdiri dari lima komponen utama yaitu: presentasi kelas,
tim, kuis,
skor kemajuan individual, dan rekognisi tim.Lima
komponen utama dalam pembelajaran kooperatif akan dijelaskan
sebagai berikut:21
1) Presentasi kelas
Materi dalam STAD pertama-tama diperkenalkan dalam presentasi di
dalam kelas. Ini merupakan pengajaran langsung seperti yang sering
kali dilakukan atau diskusi pelajaran yang dipimpin oleh guru.
Bedanya presentasi kelas dengan pengajaran biasa hanyalah bahwa
presentasi tersebut haruslah benar-benar berfokus pada unit STAD.
Dengan cara ini, para siswa akan meyadari bahwa mereka harus benar-

benar memberi perhatian penuh selama proses pengajaran berlangsung,


karena dengan demikian akan membantu mereka mengerjakan kuiskuis, dan skor kuis mereka menentukan skor tim mereka.
21
Robert E. Slavin, Cooperative learning - teori, riset dan pendekatan,
(Bandung: Nusa Media ,2008), hal. 143

2) Tim
Tim terdiri dari kelompok yang dibuat secara heterogen, baik dalam
hal prestasi akademik, jenis kelamin, ras dan etnisitas. Fungsi utama
dari tim ini adalah memastikan bahwa semua anggota tim benar-benar
belajar, dan lebih khususnya lagi adalah untuk mempersiapkan
anggotanya untuk bisa mengerjakan kuis dengan baik. Setelah guru
menyampaikan materinya, tim berkumpul untuk mempelajari lembar
kegiatan LKS atau materi lainnya. Tim ini memberikan dukungan
kelompok bagi kinerja akademik penting dalam pembelajaran, dan itu
adalah untuk memberikan perhatian dan respect yang mutual yang
penting untuk akibat yang dihasilkan seperti hubungan antar
kelompok, rasa harga diri, dan penerimaan terhadap siswa.
3) Kuis
Setelah siswa berlatih dalam kelompok, siswa diberi tes individu atau
kuis. Pada tahap ini siswa tidak diperkenankan untuk saling memberi
tahu atau bekerja sama dengan yang lain. Setiap siswa diharapkan
berusaha untuk bertanggung jawab secara individual untuk menjawab
soal tes dan memberikan hasil yang terbaik sebagai konstribusinya
kepada kelompok.
3) Skor kemajuan individual

Pemberian skor kemajuan individual bertujuan untuk memberikan


kesempatan bagi setiap siswa agar dapat menunjukkan gambaran
kinerja pencapaian tujuan dari hasil kerja maksimal setiap individu
yang disumbangkan untuk kelompoknya. Pengelolaan hasil kinerja
kelompok adalah skor awal, skor tes, skor peningkatan individu dan
skor kelompok. Jika ada peningkatan didapat dari kaitan skor awal
dan skor tes. Jika ada peningkatan atau penurunan maka akan diberi
poin tersendiri, dan skor untuk kelompok dikumpulkan dari
peningkatan seluruh anggota kelompok, dicatat dan dijumlahkan maka
itu akan menjadi skor kelompok. Contoh pemberian skor dapat dilihat
pada tabel 2.1.

Tabel 2. 1
Kriteria pemberian skor peningkatan individu22
No
1
2
3
4
Skor tes
Lebih dari 10 poin di bawah
nilai awal
Antara 10 sampai 1 di bawah
nilai awal
Skor awal hingga 10 poin di
atasnya
Lebih dari 20 poin di atas

skor awal
Skor peningkatan
5
10
20
30
4) Rekognisi tim
Pengakuan kelompok adalah pemberian predikat kepada masingmasing kelompok. Predikat ini diperoleh dari skor kemajuan kelompok
yang diperoleh dengan melihat skor kemajuan kelompok yang
diperoleh dengan mengumpulkan kemajuan masing-masing anggota
kelompok.
Berdasarkan
kemajuan
kelompok
tersebut,
guru
memberikan hadiah (award) berupa predikat kepada kelompok yang
memenuhi kriteria tertentu. Untuk menentukan tingkat penghargaan
yang diberikan untuk prestasi kelompok. Dapat dilihat pada tabel 2. 2
Tabel 2. 2
Perolehan skor dan penghargaan tim teknik STAD 23
No
1
2
3
Perolehan skor

15 - 19
20 - 24
25 - 30
Predikat
Good team
Great team
Super team
Robert E. Slavin, Cooperative learning ,(terjemahan): teori, riset dan
pendekatan, (Bandung: Nusa Media
,2008), hal 159
Yatim, Riyanto, 2009. Paradigma baru pembelajaran: Sebagai referensi
bagi pendidik dalam implementasi
pembelajaran yang efektif dan berkualitas. Jakarta: Kencana. Hal. 27
23
22

3. Teknik Jigsaw
a. Pengertian Teknik Jigsaw
Jigsaw pertama kali dikembangkan dan diujicobakan oleh Elliot
Aronson dan teman-teman di Universitas Texas, dan kemudian
diadaptasi oleh Slavin dan teman-teman di Universitas John Hopkins.
Menurut Arends, (1997) seperti yang dikutip oleh Novi
Emildadiany, menyatakan bahwa pembelajaran kooperatif teknik
jigsaw adalah suatu model pembelajaran kooperatif yang terdiri dari
beberapa anggota dalam satu kelompok yang bertanggung jawab atas
penguasaan bagian materi belajar dan mampu mengajarkan materi
tersebut kepada anggota lain dalam kelompoknya 24
Sedangkan menurut Silberman dalam Sirih dan Muhammad,

menyatakan bahwa teknik jigsaw merupakan sebuah teknik yang


dipakai secara luas yang memiliki kesamaan dengan pertukaran dari
kelompok ke kelompok dengan suatu perbedaan penting setiap peserta
didik mengerjakan sesuatu. Setiap peserta didik mempelajari sesuatu
yang dikombinasikan dengan materi yang telah dipelajari oleh peserta
didik lain, kemudian dibuat suatu kumpulan pengetahuan. Dalam
setting jigsaw learning ini dijelaskan bahwa setiap peserta didik adalah
pengajar. Strategi ini memberikan kesempatan pada setiap peserta
didik untuk bertindak sebagai seorang pengajar terhadap peserta didik
lainnya.25
Dalam teknik ini, guru memperhatikan latar belakang pengalaman
siswa dan membantu siswa mengaktifkan latar belakang ini agar bahan
pelajaran menjadi lebih bermakna. Selain itu, siswa bekerja dengan
sesama siswa dalam suasana gotong royong dan mempunyai banyak
Novi Emildadiany, Cooperative learning teknik jigsaw, diakses dari
http: //makalahku makalahmu.
Wordpress.com/2008/09/15/cooperative learning, Jumat, 22 Januari 2010.
25Sirih, H.M. dan Muhammad Ali. Penerapan model pembelajaran tipe
jigsaw dengan tongkat estafet untuk
meningkatkan aktivitas siswa dalam proses belajar mengajar di SMP Negeri 2
Kendari. Jurnal MIPMIPA, Vol. 6, No.1,
Pebruari 2007:19-29, hal:23
24

kesempatan
untuk
mengolah
informasi

dan
meningkatkan
keterampilan berkomunikasi. 26
b. Langkah langkah Pembelajaran Kooperatif Teknik Jigsaw
Pembelajaran kooperatif teknik jigsaw adalah salah satu teknik
pembelajaan kooperatif yang mendorong siswa aktif, bertanggung
jawab dan saling membantu dalam menguasai materi untuk mencapai
prestasi yang maksimal. Dalam belajar model kooperatif teknik jigsaw
ini terdapat tahap-tahap dalam penyelenggaraannya antara lain: 27
1) Tahap pertama, siswa dikelompokkan dalam kelompok-kelompok
kecil.
Pembentukan kelompok-kelompok
siswa
tersebut
dapat
dilakukan oleh guru berdasarkan pertimbangan keheterogenannya.
Jumlah tiap kelompok yang tepat adalah sekitar 4-6 orang dengan
kondisi siswa yang heterogen baik dari segi kemampuan maupun
karakteristik lainnya.
2) Tahap kedua, setelah siswa dikelompokkan menjadi beberapa
kelompok
disesuaikan
dengan
banyaknya
materi
yang
akan

didiskusikan, maka di dalam jigsaw ini setiap anggota kelompok


ditugaskan untuk mempelajari materi tertentu. Kemudian siswa-siswa
atau perwakilan dari kelompoknya masing-masing bertemu dengan
anggota-anggota kelompok dari kelompok lain yang mempelajari
materi yang sama yang disebut dengan kelompok ahli.
3) Tahap ketiga, setelah masing-masing perwakilan tersebut dapat
menguasai
materi
yang
ditugaskan,
kemudian
masing-masing
perwakilan tersebut kembali ke kelompok asalnya. Selanjutnya
masing-masing anggota tersebut saling menjelaskan pada teman satu
kelompoknya sehingga teman satu kelompoknya dapat memahami
materi yang ditugaskan guru.
Anita Lie, Cooperative Learning, (Jakarta: PT. Gramedia, 2008), hal.
69
Tonih Feronika, 2008. Buku ajar strategi pembelajaran kimia. Fakultas
ilmu tarbiyah dan keguruan UIN
Syarif hidayatullah Jakarta.
27
26

4) Tahap keempat, siswa diberikan tes/kuis oleh guru, hal tersebut


dilakukan untuk mengetahui apakah siswa sudah memahami suatu
materi dengan metode pembelajaran kooperatif jigsaw tersebut.
5) Setelah

kuis
selesai,
maka
dilakukan
perhitungan
skor
perkembangan individu dan skor kelompok. Skor individu dalam
setiap kelompok memberikan sumbangan pada skor kelompok
berdasarkan rentang skor yang diperoleh pada kuis sebelumnya dengan
skor terakhir. Stahl memberikan petunjuk perhitungan skor kelompok
pada tabel 2. 3 dan tabel 2. 4 berikut ini.
Tabel 2. 3
Skor Perkembangan Jigsaw
Skor kuis individu
Lebih dari 10 poin dibawah skor
awal
Antara 10 poin dibawah skor awal
sampai skor awal
1 sampai 10 poin diatas skor awal
Lebih dari 10 poin diatas skor awal
Nilai sempurna
Skor perkembangan
0
10
20
30
40

Tabel 2. 4
Tingkat penghargaan kelompok Jigsaw
Rata-rata penghargaan kelompok
15 poin
20 poin
25 poin
.
Penghargaan
Good team
Great team
Super team

Berikut ini gambar pelaksanaan teknik jigsaw. 28


A = Kelompok yang dibentuk secara heterogen
B = Kelompok asal
C = kelompok ahli
Gambar 2. 1. Pelaksanaan Teknik Jigsaw
Perbedaan antara model pembelajaran kooperatif teknik STAD dan jigsaw
terdapat pada tabel 2. 5 berikut ini.
Tabel 2. 5
Perbandingan Pembelajaran Kooperatif Teknik STAD dan Teknik
jigsaw29
Aspek
Tujuan sosial
Teknik STADTeknik Jigsaw
Kerja kelompok dan Kerja kelompok dan
kerja samatanggung hawab

Timtim belajar
heterogen
beranggota 45
orang
Timtim belajar
heterogen beranggota
45 orang, dan
menggunakan tim asal
dan tim ahli
Guru
Struktur tim
Pemilihan topik
pelajaran
Guru

Aspek Tugas Utama


Teknik STAD
Siswa Menggunakan worksheet berupa LKS dan saling membantu dalam
menguasai materi dalam belajar, sedangkan pada saat kuis individu, setiap siswa
dilarang untuk bekerja sama dengan kelompok maupun dengan yang lain
Teknik Jigsaw
Siswa menyelidiki berbagai materi dikelompok ahli, membantu anggota-anggota di
kelompok asal untuk mempelajari berbagai materi, baik di LKS maupun pada saat
kuis individu
4. Hasil Belajar
a. Pengertian Hasil Belajar
Hasil adalah suatu istilah yang digunakan untuk menunjuk sesuatu yang
dicapai seseorang setelah melakukan suatu usaha. Bila dikaitkan dengan belajar
berarti hasil menunjuk sesuatu yang dicapai oleh seseorang yang belajar dalam selang
waktu tertentu. Belajar adalah kegiatan yang berproses dan merupakan unsur yang

paling fundamental dalam setiap penyelenggaraan jenis dan jenjang pendidikan. Ini
berarti bahwa berhasil dan gagalnya pencapaian tujuan pendidikan itu sangat
tergantung pada proses belajar yang dialami peserta didik, baik ketika ia berada di
sekolah maupun di lingkungan rumah atau keluarga sendiri. Sedangkan menurut
Howard Learning is the process by which behavior (in the broadersense) is
originated or changed through practice or training
Belajar adalah proses dimana tingkah laku (dalam artian luas) ditimbulkan
atau diubah melalui praktik atau latihan. Hasil belajar adalah kemampuan yang
dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya. Hasil belajar mempunyai
peranan penting dalam proses pembelajaran. Proses penilaian terhadap hasil belajar
dapat memberikan informasi kepada guru tentang kemajuan siswa dalam upaya
mencapai tujuan-tujuan belajarnya melalui kegiatan belajar. Selanjutnya dari
informasi tersebut guru dapat menyusun danmembina kegiatan-kegiatan siswa lebih
lanjut, baik untuk keseluruhan kelas maupun individu. Benjamin S. Bloom membagi
tujuan pengajaran yang menjadi acuan pada hasil belajar menjadi tiga bagian, yaitu
ranah kognitif, ranah afektif, dan psikomotorik. 32 Ranah kognitif yaitu hasil belajar
berdasarkan pemahaman konsep. Ranah afektif yaitu hasil belajar berdasarkan sikap
dan ranah psikomotorik yaitu hasil belajar berdasarkan keterampilan/skill.
Kemampuan-kemampuan yang termasuk ranah kognitif oleh Bloom dan kawankawan dikategorikan lebih rinci secara hierarkis ke dalam enam jenjang kemampuan,
yakni hafalan (ingatan) (C1), pemahaman (C2), penerapan (C3), analisis (C4), sintesis
(C5), dan evaluasi (C6).
1) Hafalan (C1)
Jenjang hafalan (ingatan) meliputi kemampuan fakta, konsep, prinsip, dan
prosedur yang telah dipelajarinya.
2) Pemahaman (C2)
Jenjang pemahaman meliputi kemampuan menangkap arti dari informasi yang
diterima, misalnya dapat menafsirkan bagan, diagram, atau grafik, menerjemahkan
suatu pernyataan verbal ke dalam Rumusan matematis atau sebaliknya.
3) Penerapan (C3)
Yang termasuk jenjang penerapan adalah kemampuan menerapkan prinsip,
aturan, metode yang dipelajarinya pada situasi baru atau pada situasi konkrit.
4) Analisis (C4)
Jenjang analisis meliputi kemampuan menguraikan suatu informasi yang
dihadapi menjadi komponen-komponennya sehingga struktur informasi serta
hubungan antar komponen informasi tersebut menjadi jelas.
5) Sintesis (C5)

Yang Termasuk jenjang sintesis ialah kemampuan untuk mengintegrasikan


bagian-bagian yang terpisah-pisah menjadi suatu keseluruhan yang terpadu. Termasuk
ke dalamnya merencanakan eksperimen, menyusun karangan (laporan praktikum,
artikel, rangkuman), menyusun cara baru untuk mengklasifikasikan obyek- obyek,
peristiwa, dan informasi lainnya.

6) Evaluasi (C6)
Kemampuan pada jenjang evaluasi adalah kemampuan untuk
mempertimbangkan nilai suatu pernyataan, uraian, pekerjanberdasarkan kriteria
tertentu yang ditetapkan.
b. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar
Faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar yaitu:
1) Faktor dari luar
Faktor dari luar terdiri dari dua bagian penting, yakni:
a. Faktor environmental input (lingkungan)
Kondisi lingkungan juga mempengaruhi proses dan hasil belajar. Lingkungan
ini berupa lingkungan fisik/alam dan lingkungan sosial. Lingkungan fisik/alami
termasuk di dalamnya adalah seperti keadaan suhu, kepengepan udara, dan
sebagainya. Belajar pada keadaan udara yang segar, akan lebih baik hasilnya dari pada
belajar dalam keadaan udara yang panas dan pengap. Di Indonesia misalnya, orang
cenderung berpendapat bahwa belajar pada pagi hari lebih baik hasilnya dari pada
belajar pada siang atau sore hari. Lingkungan sosial, baik yang berwujud manusia
maupun hal-hal lainnya, juga dapat mempengaruhi proses dan hasil belajar. Seseorang
yang sedang belajar memecahkan soal yang rumit dan membutuhkan konsentrasi
tinggi, akan terganggu, bila ada orang lain yang mondar- mandir di dekatnya, keluar
masuk kamarnya, atau bercakap-cakapyang cukup keras di dekatnya. Lingkungan
yang lain, seperti suara mesin pabrik, hiruk pikuk lalu lintas, gemuruhnya pasar, dan
sebagainya juga berpengaruh terhadap proses dan hasil belajar. Karena itulah
disarankan agar lingkungan sekolah didirikan di tempat yang jauh dari keramaian
pabrik, lalu lintas dan pasar.
b. Faktor-faktor instrumental
Faktor-faktor instrumental adalah faktor yang keberadaan dan penggunaannya
dirancangkan sesuai dengan hasil belajar yang diharapkan. Faktor-faktor ini
diharapkan dapat berfungsi sebagai sarana untuk tercapainya tujuan-tujuan belajar
yang telah direncanakan. Misalnya : Gedung perlengkapan belajar, alat-alat

praktikum, Perpustakaan, Kurikulum, Bahan/Program yang harus dipelajari, dan


pedoman-pedoman belajar lainnya.
2) Faktor dari dalam
Faktor dari dalam adalah kondisi individu atau anak yang belajar itu sendiri.
Faktor individu dapat dibagi menjadi dua bagian:

a. Kondisi fisiologi anak


Secara umum kondisi fisiologis, seperti kesehatan yang prima, tidak dalam
keadaan capai, tidak dalam keadaan cacat, dan sebagainya, akan sangat membantu
dalam proses dan hasil belajar.
b. Kondisi psikologis
Di bawah ini akan diuraikan beberapa faktor psikologis yang dianggap utama
dalam mempengaruhi proses dan hasil belajar, diantaranya:
1) Minat
Minat sangat mempengaruhi proses dan hasil belajar. Kalau seseorang tidak
berminat untuk mempelajari sesuatu, ia tidak dapat diharapkan akan berhasil dengan
baik dalam mempelajari hal tersebut. Sebaliknya, kalau seseorang mempelajari
sesuatu dengan minat, maka hasil yang diharapkan akan lebih baik.
2) Kecerdasan
Telah menjadi pengertian yang relatif umum bahwa kecerdasan memegang
peranan besar dalam menentukan berhasil tidaknya seseorang mempelajari sesuatu
atau mengikuti sesuatu program pendidikan. Orang yang lebih cerdas pada umumnya
akan lebih mampu belajar dari pada orang yang kurang cerdas. Kecerdasan seseorang
biasanya dapat diukur dengan menggunakan alat tertentu.
Hasil dari pengukuran kecerdasan biasanya dinyatakan dengan angka
perbandingan kecerdasan yang terkenal dengan sebutan Intelligence Quotient (IQ).
3) Bakat
Selain kecerdasan, bakat merupakan faktor yang besar pengaruhnya terhadap
proses dan hasil belajar seseorang. Hampir tidak ada orang yang membantah, bahwa
belajar pada bidang yang sesuai dengan bakat akan memperbesar kemungkinan
berhasilnya usaha itu.
4) Motivasi
Motivasi adalah kondisi psikologis yang mendorong seseorang untuk
melakukan sesuatu. Jadi. Motivasi untuk belajar adalah kondisi psikologis yang

mendorong seseorang untuk belajar. Oleh karena itu, meningkatkan motivasi belajar
anak didik memegang peranan penting untuk mencapai hasil belajar yang optimal.
5) Kemampuan-kemampuan kognitif
Tujuan belajar itu meliputi tiga aspek, yaitu aspek kognitif, afektif, dan
psikomotorik, namun tidak dapat diingkari bahwa sampai sekarang pengukuran
kognitif masih diutamakan untuk menentukan keberhasilan belajar seseorang.
Pelajaran biologi berkaitan dengan cara mencari tahu dan
memahami alam semesta secara sistematis, dalam pembelajaran biologi
siswa tidak hanya diharapkan mampu menguasai fakta-fakta, konsepkonsep maupun prinsip-prinsip saja melainkan merupakan suatu proses
penemuan, sehingga dalam mengembangkan pembelajaran biologi di kelas
hendaknya ada keterlibatan aktif siswa dalam pembelajaran untuk
menemukan sendiri pengetahuan melalui interaksinya dalam lingkungan.
Sehingga untuk hal itu dalam proses pembelajaran seorang guru harus
dapat mengembangkan berbagai kemampuan siswa, seperti dengan
menerapkan proses belajar bersama dengan teman sebaya dan guru hanya
berperan sebagai fasilitator dan pembimbing.
Perbedaan hasil belajar biologi antara siswa yang diajar melalui pendekatan
cooperative learning teknik jigsaw dengan teknik STAD. Pembelajaran kooperatif
(Cooperative Learning) Dalam proses pembelajaran di kelas, siswa diberi kesempatan
bersama dengan teman-teman sekelompoknya untuk saling belajar secara
berkelanjutan, mereka dibiasakan saling bekerjasama dalam proses belajar. Pada
pembelajaran kooperatif dengan teknik STAD siswa diberi kesempatan untuk
menemukan ide pokok pada suatu materi pelajaran kemudian dibahas bersama secara
berkelompok. Sedangkan peran guru pada teknik ini adalah sebagai fasilitator,
memberi penguatan dan bimbingan pada siswa dalam berdiskusi, sehingga siswa tidak
hanya berpikir sendiri dan mempertanggung jawabkannya, tetapi juga berbagi dalam
pengetahuannya. Sedangkan pada teknik jigsaw siswa diberikan kesempatan bukan
hanya sekedar belajar tetapi juga saling mengajarkan satu sama lain sehingga
diharapkan siswa tidak hanya berpikir sendiri dan mempertanggung jawabkannya,
namun juga dapat saling berbagi dalam proses transfer ilmu pengetahuan. Dengan
demikian, diduga bahwa antara hasil pembelajaran kooperatif dengan teknik STAD
dan dengan menggunakan teknik jigsaw memiliki perbedaan pengaruh terhadap hasil
belajar biologi siswa. Diharapkan Hasil belajar biologi siswa yang diajarkan dengan
menggunakan model pembelajaran kooperatif teknik jigsaw lebih tinggi dibandingkan

dengan model pembelajaran kooperatif teknik STAD, karena pada teknik jigsaw siswa
harus bertanggung jawab terhadap penguasaan konsep yang telah diberikan, agar
dapat menjelaskan dan mengajarkan dengan baik dengan teman satu anggota asalnya
yang lain. Maka dari penjelasan tersebut dapat dibuat bagan sebagai berikut: