Anda di halaman 1dari 7

1.

5 GINGIVITIS
2.5.1 Pengertian Gingivitis
Gingivitis adalah peradangan pada gingiva yang disebabkan bakteri dengan tanda-tanda
klinis perubahan warna lebih merah dari normal, gingiva bengkak dan berdarah pada tekanan
ringan. Penderita biasanya tidak merasa sakit pada gingiva. Gingivitis bersifat reversible yaitu
jaringan gingiva dapat kembali normal apabila dilakukan pembersihan plak dengan sikat gigi
secara teratur.17
2.5.2 Macam-macam gingivitis18
2.5.2.1 Menurut durasinya
a. Gingivitis Akut
Merupakan radang yang terjadi secara tiba-tiba dengan durasi yang pendek dan biasanya
terasa sakit. Fase gingivitis yang kurang parah namun dengan kondisi yang akut bisa disebut
dengan subakut.18
b. Gingivitis Rekuren
Merupakan gingivitis yang muncul kembali setelah dihilangkan dengan suatu
perawatan, atau menghilang dengan tiba-tiba.18
c. Gingivitis Kronis
Merupakan radang yang lambat dan dengan durasi yang lama, biasanya tanpa rasa
sakit. Kecuali jika disertai dengan keadaan akut atau akut eksaserbasi. Gingivitis kronis
merupakan tipe yang paling sering ditemui. Gingivitis kronis merupakan penyakit yang
berubah-ubah dimana inflamasinya tetap ada atau hilang dan area gingiva yang normal
menjadi terinflamasi. 18

Gambar 2.6 Gingivtis Kronis

Distribusi dari penyakit gingiva pada beberapa kasus dapat digambarkan dengan
mengombinasikan beberapa jenis seperti : 18
a. Localized marginal gingivitis
Peradangan terbatas pada satu atau beberapa area dari marginal gingiva.

Gambar 2.7 Localized Marginalis kronis

b. Localized diffuse gingivitis


Peradangan meluas dari margin gingiva sampai ke mukobukal fold tetapi terbatas pada
area tersebut.
c. Localized pappilary gingivitis
Peradangan terbatas pada satu atau beberapa ruang interdental.
d. Generalized marginal gingivitis

Peradangan meliputi semua margin gingiva pada seluruh gigi. Papilla interdental
selalu mempengaruhi pada generalized marginalis gingivitis.

Gambar 2.8 Generalized marginalis gingivitis pada rahang atas

2.5.2.2 Menurut distribusinya


a. Localized gingivitis
Peradangan yang terjadi pada satu atau beberapa area gingiva gigi.
b. Generalized gingivitis
Peradangan yang terjadi meliputi seluruh area gingiva.
c. Marginal gingivitis
Peradangan yang meiputi margin gingiva dan bisa meliputi bagian yang berbatasan
dengan attached gingiva.
d. Pappilary gingivitis
Peradangan yang meliputi daerah papila interdental dan biasanya meluas hingga ke
bagian yang berdekatan dengan margin gingiva. Papilla biasanya terlibat lebih sering
dibandingkan dengan margin gingiva, dan merupakan tanda paling awal terjadinya
gingivitis pada papilla.18
e. Diffuse gingivitis
Peradangan yang mempengaruhi margin gingiva, attached gingiva dan interdental
gingiva. 18
2.5.3

Penyebab Gingivitis
Kelainan yang terjadi dalam rongga mulut disebabkan oleh ketidakseimbangan faktor-faktor

yaitu : host, agent, environment, dan psikoneuroimunologi. Penyebab gingivitis sangat

bervariasi, mikroorganisme dan produknya berperan sebagai pencetus awal gingivitis. Gingivitis
sering dijumpai karena akumulasi plak supra gingiva dan tepi gingiva, terdapat hubungan
bermakna skor plak dan skor gingivitis.18
Lapisan plak pada gingiva menyebabkan gingivitis atau peradangan pada gingiva, umur plak
menentukan jenis mikroorganisme dalam plak, sedangkan jenis mikroorganisme dalam plak
menentukan penyakit yang ditimbulkan oleh plak. Plak yang sudah matang atau sudah
mengalami maturasi adalah plak yang umurnya tujuh hari yang mengandung mikroorganisme
jenis coccus, filament, spiral dan spirochaeta. Plak yang sudah matang ini menyebabkan
gingivitis.18
Plak gigi terbukti dapat memicu dan memperparah inflamasi gingiva. Secara histologis,
beberapa tahapan gingivitis menjadi karakteristik sebelum lesi berkembang menjadi
periodontitis. Secara klinis, gingivitis dapat dikenali.
Faktor-faktor yang dapat menyebabkan terjadinya gingivitis adalah sebagai berikut :17
2.5.3.1. Faktor internal
Faktor internal yang bertanggung jawab atas terjadinya penyakit gingiva
1.

Lapisan karang gigi dan noda atau zat-zat pada gigi

2.

Bahan makanan yang terkumpul pada pinggiran gingiva tidak dibersihkan oleh air
liur dan tidak dikeluarkan oleh sikat.

3.

Gigi berjejal secara abnormal sehingga makanan yang tertinggal tidak teridentifikasi,
kadang-kadang terbentuk ruangan dikarenakan pembuangan gigi.

4.

Kebiasaan seperti menempatkan peniti, kancing, buah pinang dan kawat dalam
mulut. Bahan ini melukai gusi dan menyebabkan infeksi.
2.5.3.2. Faktor external
Makanan yang salah dan malnutrisi. Pada umumnya seseorang yang kurang gizi
memiliki kelemahan, gejala yang tidak diharap tersebut dikarenakan faktor sosial ekonomi
yang berperan sangat penting. Faktor-faktor yang berperan adalah latar belakang pendidikan,
pendapatan dan budaya. Golongan masyarakat berpendapatan rendah tidak biasa melakukan
pemeriksaan kesehatan yang bersifat umum. Diet dengan hanya makan sayuran tanpa unsur
serat di dalamnya juga biasa menjadi faktor penambah.
DAFTAR PUSTAKA

1. Tampubolon, Nurmala Situmorang. Dampak karies gigi dan penyakit periodontal


terhadap kualitas hidup. 2010. Available from: http://library.usu.ac.id.html Diakses 16
November, 2012.
2. Newman MG, Takei HH, Carranza FA. Carranzas Clinical Periodontology 9th ed.
Philadelphia: W.B.Saunders Company; 2002. pp 62-7, 132
3. Harty F.J, Ogston R. Kamus kedokteran gigi (terj.Narlan sumawinata). Jakarta: Penerbit
Buku Kedokteran EGC; 1995. Hal 272
4. Bulkacz Jaime, Carranza AF. Defense mechanism of the gingiva. In: John M Novak,
editor. Carranzas Clinical Periodontology 11th ed. Philadelphia: W.B.Saunders Company;
2008. P 69-70.
5. Sasmita inne suherma, Pertiwi arlette SP, Halim muttaqin. Gambaran efek pasta gigi yang
mengandung herbal terhadap penurunan indeks plak. Bandung: FKG Unpad.

6. Hidayaningtyas prima. Perbandingan efek antibakteri air seduhan daun sirih (piper betle
linn) terhadap streptococcus mutans pada waktu kontak dan konsistensi yang berbeda.
Artikel KTI FK UNDIP; 2008 hal 10.
7. Putri MH, Herijulianti eliza, Nurjannah neneng. Ilmu pencegahan penyakit jaringan keras
dan jaringan pendukung gigi. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2010. hal 110-2
8. Rateitschak Edth M, Wolf Herbert M, Hassell Thomas M. Color atlas of periodontology.
1985. p 118.
9. Yudiarti turrini, Rizqiati heni. Upaya peningkatan ikan segar terhadap mikroba dengan
pemberian berbagai bentukan daun sirih. Laporan penelitian lembaga penelitian
Universitas Diponegoro. 2002. Hal 3-4
10. Januwati M, Rosita S.M. Faktor-faktor ekologi yang mempengaruhi pertumbuhan
tanaman sirih (piper betle l.). Warta Tumbuhan Obat Indonesia. 1992
11. Andarwulan dan Nuri. Phenolic synthesis in selected root cultures, and seeds. Food
Science Study Program. Post Graduated Program. Bogor Agricultural University: Bogor.
2000.
12. Almeida PDVd, Gregio AM, Machado MA, Lima AASd, Azevedo LR. Saliva
Composition and Functions: A Comprehensive Review. The Journal of Contemporary
Dental Practice. 2008;9(3):2-8.
13. Bailey R. Salivary glands and saliva. 2008 [cited 2013 Jan 5]; Available from:
www.springer.com/cda/content/document/cda.../9783540470700-c1.pdf.html
14. Amerongen AVN. Ludah dan Kelenjar Ludah : Arti bagi Kesehatan Gigi.Yogyakarta:
Gadjah Mada University Press; 1991. Hal. 1-39
15. Soejoto, Faradz SMH, Witjahyo RB, Susilaningsih N, Purwati RD, et al. Lecture Notes
Histologi II. Semarang: Bagian Histologi Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro;
2009. Hal 28-35.
16. Soesilo Diana, Santoso rinna E, Diyatri indeswati. Peranan sorbitol dalam
mempertahankan kestabilan ph saliva pada proses pencegahan karies. Dent J. Vol.38 No.1
Januari 2005: hal 25-8

17. Novak M John. Classification of disease and conditions affecting the periodontium. In:
John M Novak, editor. Carranzas Clinical Periodontology 9th ed. Philadelphia:
W.B.Saunders Company; 2002. P 64-7.
18. Carranza FA, Rapley johnW. Clinical features of gingival. In: John M Novak, editor.
Carranzas Clinical Periodontology 9th ed. Philadelphia: W.B.Saunders Company; 2002. P
269-70.
19. Sriyono, Widayanti N. Pengantar ilmu kedokteran gigi pencegahan cetakan ke 1.
Jogjakarta Medika:FKG UGM. 2005. Hal. 34.
20. Reveny, Julia. Daya antimikroba ekstraksi dan fraksi daun sirih merah (piper betle linn).
Jurnal Ilmu Dasar. Vol.12 No.1. 2011. hal 6-12
21. Peter F, Arthur R, John L. The periodontic syllabus. In: Amaliya, editor. 4 th ed. Jakarta:
Penerbit buku kedokteran EGC: 2005.p.13-29
22. Nirmaladewi alphiana, Handajani juni, Tandelilin regina TC. Status saliva dan gingivitis
pada penderita gingivitis setelah kumur epigalocatechingallate (EGCG) dari ekstrak teh
hijau (camellia sinensis). Jogjakarta: FKG UGM. 2006. Hal 2-6.
23. Pannuti, Matos. Clinical effect of a herbal dentrifice in the control of plaque and
gingivitis. Brazilia : Pesqui Odontal Bras. Hal 323-33