Anda di halaman 1dari 13

MAKALAH

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN


UROLITHIASIS

Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah:


Keperawatan Medikal Bedah

Disusun oleh :
Iing Kurniawan
Lilis D.K.N.

AKADEMI KEPERAWATAN YATNA YUANA LEBAK


Jl. Jenderal Sudirman Km. 2 Rangkasbitung Lebak - Banten
2015
BAB I
PENDAHULUAN
Ginjal terletak pada dinding posterior abdomen di belakang peritoneum pada kedua
sisi vertebra thorakalis ke 12 sampai vertebra lumbalis ke-3. Bentuk ginjal sep
erti biji kacang. Ginjal kanan sedikit lebih rendah dari ginjal kiri, karena ada
nya lobus hepatis dexter yang besar. Urolithiasis adalah suatu kedaruratan terja
dinya penumpukan oksalat, gejala rasa sakit yang berlebihan pada pinggang, nause
a, muntah, demam, hematuria. Lebih banyak terjadi pada laki-laki dibanding wanit
a dengan perbandingan 3:1 dalam usia 30-60 tahuh. Urine berwarna keruh seperti t
eh atau merah. Uraian diatas mengenai indikasi urilithiasis memberikan sedikit g
ambaran bagi penulis untuk menyusun makalah ini.
Batu ginjal merupakan batu saluran kemih (urolithiasis), sudah dikenal sejak zam
an Babilonia dan Mesir kuno dengan diketemukannya batu pada kandung kemih mummi.
Batu saluran kemih dapat diketemukan sepanjang saluran kemih mulai dari sistem
kaliks ginjal, pielum, ureter, buli-buli dan uretra. Batu ini mungkin terbentuk
di di ginjal kemudian turun ke saluran kemih bagian bawah atau memang terbentuk
di saluran kemih bagian bawah karena adanya stasis urine seperti pada batu bulibuli karena hiperplasia prostat atau batu uretra yang terbentu di dalam divertik
el uretra.
Penyakit batu saluran kemih menyebar di seluruh dunia dengan perbedaan di negara

berkembang banyak ditemukan batu buli-buli sedangkan di negara maju lebih banya
k dijumpai batu saluran kemih bagian atas (gunjal dan ureter), perbedaan ini dip
engaruhi status gizi dan mobilitas aktivitas sehari-hari. Angka prevalensi ratarata di seluruh dunia adalah 1-12 % penduduk menderita batu saluran kemih.
Penyebab terbentuknya batu saluran kemih diduga berhubungan dengan gangguan alir
an urine, gangguan metabolik, infeksi saluran kemih, dehidrasi dan keadaan-keada
an lain yang masih belum terungkap (idiopatik).
BAB II
TINJAUAN TEORITIS
A.
Konsep Medis
1.
Definisi
Urolithiasis adalah batu atau kalkuli dibentuk dalam saluran kemih mulai
dari ginjal ke kandung kemih oleh kristalisasi dari substansi ekskresi dalam ur
ine (Nursalam, 2007).
Urolithiasis adalah suatu keadaan terbentuknya batu (calculus) pada ginj
al dan saluran kemih. (Toto Suharyanto, 2009).
Urolithiasis atau nefrolithiasis adalah suatu keadaan terdapatnya batu (
kalkuli) di ginjal. (Arif Muttaqin, 2011).
Dari beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa Urolithiasis adalah suat
u kedaruratan terjadinya penumpukan oksalat, calculi (batu ginjal) pada ureter a
tau pada daerah ginjal. Gejala rasa sakit yang berlebihan pada pinggang, nausea,
muntah, demam, hematuria. Lebih banyak terjadi pada laki-laki dibanding wanita
dengan perbandingan 3:1 dalam usia 30-60 tahuh. Urine berwarna keruh seperti teh
atau merah.
2.
Anatomi Fisiologi
Ginjal terletak pada dinding posterior abdomen di belakang peritoneum pada kedua
sisi vertebra thorakalis ke 12 sampai vertebra lumbalis ke-3. Bentuk ginjal sep
erti biji kacang. Ginjal kanan sedikit lebih rendah dari ginjal kiri, karena ada
nya lobus hepatis dexter yang besar.
Saluran kemih terdiri dari ginjal yang terus menerus membentuk kemih dan berbaga
i saluran dan reservoir yang dibutuhkan untuk membawa kemih keluar tubuh.
Ginjal melakukan fungsi vital sebagai pengatur volume dan komposisi kimia darah
dengan mensekresi solut dan air secara selektif. Kalau kedua ginjal karena sesua
tu hal gagal melakukan fungsinya maka kematian akan terjadi dalam waktu 3-4 ming
gu. Fungsi vital ginjal dilakukan dengan filtrasi plasma darah melalui glomerulu
s diikuti dengan reabsorbsi sejumlah solut dan air dalam jumlah yang tepat di se
panjang tubulus ginjal. kelebihan solut dan air akan diekskresikan keluar tubuh
sebagai kemih melalui sistem pengumpul.
Ginjal merupakan organ yang berbentuk seperti kacang, terletak di kedua sisi kol
umna vertebralis. Ginjal kanan sedikit lebih rendah dibandingkan dengan ginjal k
iri karena tertekan ke bawah oleh hati. Katup atasnya terletak setinggi kosta ke
dua belas, sedangkan katup atas ginjal kiri terletak setinggi kosta sebelas.
Kedua ureter merupakan saluran yang panjangnya 10 sampai 12 inci, terbentang dar
i ginjal sampai kandung kemih. Fungsi satu-satunya akan menyalurkan kemih ke ka
ndung kemih. Kandung kemih adalah satu kantung berotot yang dapat mengempis, ter
letak di belakang simpisis pubis. Kandung kemih mempunyai tiga muara : dua muara
ureter dan satu muara uretra. Fungsi kandung kemih adalah sebagai tempat penyim
panan kemih sebelum meninggalkan tubuh dan dibantu oleh uretra. Kandung kemih be
rfungsi mendorong kemih keluar tubuh. Uretra adalah saluran kecil yang dapat men
gembang, berjalan dari kandung kemih sampai keluar tubuh. Panjangnya pada wanita
1 inci dan pada pria sekitar 8 inci. Muara uretra keluar tubuh disebut meatus ur
inarius.
Ginjal terletak di bagian belakang abdomen atas, di belakang peritoneum, di depa
n dua kosta terakhir dan tiga otot-otot besar, yaitu: transversus, abdominis, ku
adratur lumborum dan psoas mayor. Ginjal dipertahankan dalam posisi tersebut ole
h bantalan lemak yang tebal. Kelenjar adrenal terletak di atas katup masing-masi

ng ginjal.
Ginjal terlindung dengan baik dari trauma langsung : di sebelah posterior dilind
ungi oleh kosta dan otot-otot yang meliputi kosta, sedangkan di anterior dilindu
ngi oleh bantalan usus yang tebal. Kalau ginjal cedera, maka hampir selalu diaki
batkan oleh kekuatan yang mengenai kosta kedua belas, yang berputar ke dalam dan
menjepit ginjal di antara kosta sendiri dan korpus vertebrae lumbalis. Karena p
erlindungan yang sempurna terhadap cedera langsung ini, maka ginjal dengan sendi
rinya sukar untuk diraba dan juga sulit dicapai waktu pembedahan. Ginjal kiri ya
ng ukurannya normal, biasanya tidak teraba pada waktu pemeriksaan fisik karena d
ua pertiga atas permukaan anterior ginjal tertutup oleh limpa. Kedua ginjal yang
membesar secara mencolok atau tergeser dari tempatnya dapat diketahui dengan pa
lpasi.
Pada orang dewasa, ginjal panjangnya 12-13 cm, lebarnya 6 cm dan beratnya antara
120-150 gram. Ginjal mendapat darah langsung dari percabangan aorta abdominalis
yaitu arteri renalis. Satuan unit kerja ginjal adalah nefron. Masing-masing gin
jal memiliki struktur dan fungsi sama. Setiap nefron terdiri dari kapsula Bowman
, yang mengitari rumbai kapiler glomerulus, tubulus proksimal, lengkung henle da
n tubulus distal dan duktus koligentes.
Arteri renalis dicabangkan dari aorta abdominalis kira-kira setinggi vertebra lu
mbalis dua. Vena renalis menyalurkan darah ke dalam vena inferior yang terletak
di sebelah kanan garis tengah, akibatnya verenalis kiri kira-kira dua kali lebih
panjang dari vena renalis kanan.
Saat arteria renalis masuk ke dalam hilus, arteria tersebut bercabang dari arter
ia interlobaris yang berjalan diantara piramid, selanjutnya membentuk arteria ar
kuta yang melengkung melintasi basis-basis piramid arteri arkuta kemudian memben
tuk arteriola-arteriola interlobaris yang tersusun paralel dalam korteks. (lihat
gambar pembuluh darah ginjal).
Dari tiap nefron bagian pertama dari tubulus distal berasal dari medula sehingga
terletak dalam sudut yang terbentuk antara arteriol eferen dan aferen dari glom
erulus nefron yang bersangkutan. Pada lokasi ini sel-sel Jukstaglomerulus dindin
g arteriol eferen mengandung sekresi yang diduga mengeluarkan renin. Renin merup
akan enzim yang sangat penting pada pengaturan tekanan darah.
Pembentukan kemih dimulai dengan proses filtrasi dalam korteks dan berlanjut sel
ama bahan pembentukan kemih tersebut mengalir melalui tubulus dan duktus pengump
ul. Kemih yang terbentuk kemudian mengalir ke dalam duktus papilaris belini, mas
uk kaliks minor, kaliks mayor pelvis ginjal dan akhirnya meninggalkan ginjal me
lalui ureter menuju kandung kemih. Dinding kaliks, pelvis dan ureter mengandung
otot polos yang berkontraksi secara berirama dan membantu mendorong kemih melalu
i saluran kemih dengan gerakan peristaltik.
a.
Fungsi ginjal
Fungsi ginjal adalah
1)
Berperan penting dalam pengeluaran zat-zat toksis atau racun,
2)
Mempertahankan keseimbangan cairan,
3)
Mempertahankan keseimbangan kadar asam dan basa dari cairan tubuh
4)
Mengeluarkan sisa-sisa metabolisme akhir dari protein ureum, kreatinin d
an amoniak.
Fascia Renalis terdiri dari:
a)
fascia (fascia renalis),
b)
Jaringan lemak peri renal,
c)
kapsula yang sebenarnya (kapsula fibrosa), meliputi dan melekat dengan e
rat pada permukaan luar ginjal
b.
Struktur Ginjal
Setiap ginjal terbungkus oleh selaput tipis yang disebut kapsula fibrosa, terdap
at cortex renalis di bagian luar, yang berwarna cokelat gelap, dan medulla renal
is di bagian dalam yang berwarna cokelat lebih terang dibandingkan cortex. Bagia
n medulla berbentuk kerucut yang disebut pyramides renalis, puncak kerucut tadi
menghadap kaliks yang terdiri dari lubang-lubang kecil disebut papilla renalis.
Hilum adalah pinggir medial ginjal berbentuk konkaf sebagai pintu masuknya pembu
luh darah, pembuluh limfe, ureter dan nervus.. Pelvis renalis berbentuk corong y
ang menerima urin yang diproduksi ginjal. Terbagi menjadi dua atau tiga calices

renalis majores yang masing-masing akan bercabang menjadi dua atau tiga calices
renalis minores.
Struktur halus ginjal terdiri dari banyak nefron yang merupakan unit fungsional
ginjal. Diperkirakan ada 1 juta nefron dalam setiap ginjal. Nefron terdiri dari
: Glomerulus, tubulus proximal, ansa henle, tubulus distal dan tubulus urinarius
.
Bagian-Bagian Nefron
Nefron terbentuk dari tubulus renalis,merupakan gromerolus dan berhubungan denga
n pembuluh darah.Masing-masing tubulus renalis merupakan tubulus yang berbengkok
-bengkok,di selaputi oleh lapisan sel-ssel kuboid.Tubulus renalis mulai sebagai
kapsula bowmandula,lapisan terbentuk mangkuk menutupi gromerolus;saling melilitk
an diri membentuk tubulus kovolute proksimal,menjalar dan korteks sebagian medul
la dan sebagian lagi ke bagian korteks membentuk tubulus konvolute distal berakh
ir dgn memasuki tubulus pengumpul.
Gambar 1 : Struktur Ginjal

Gambar 2 : Batu Ginjal


Gambar 3 : Batu Ginjal pada tubuh manusia
3.
Etiologi
Teori pembentukan batu :
a.
Teori inti (nukleus)
Kristal dan benda asing merupakan tempat pengendapan kristal pada urin yang suda
h mengalami supersaturasi.
b.
Teori matrik
Matrik organik yang berasal dari serum atau protein-protein urin memberikan kemu
ngkinan pengendapan kristal
c.
Teori inhibitor kristalisasi
Beberapa substansi dalam urin menghambat terjadinya kritalisasi, konsentrasi yan
g atau absennya ini memungkinkan terjadinya kristalisasi. Hampir dari setengahny
a kasus batu pada perkemihan adalah idiopatik. Faktor-faktor yang mempengaruhi t
erhadap kalkuligenesis atau proses pembentukan batu di dalam vesika urinaria ada
lah:
1)
Gangguan aliran air kemih/obstruksi dan status urin
2)
Gangguan metabolisme
3)
Infeksi saluran kemih oleh mikroorganisme berdaya membaut urease (proteu
s mirabilis). Infeksi saluran kemih dapat menyebabkan nekrosis jaringan ginjal a
tau saluran kemih lain (vesika urinaria) dan akan menjadi inti pembentukan batu
saluran kemih
d.
Benda asing
e.
Jaringan mati (nekrosis papil)
f.
Jenis kelamin
Data menunjukkan bahwa batu saluran kemih lebih banyak ditemukan pada pria
g.
Keturunan
Ternyata anggota keluarga dengan batu saluran kemih lebih banyak mempunyai kesem
patan untuk menderita batu saluran kemih dari pada yang lain
h.
Air minum
Memperbanyak diuresis dengan cara banyak minum akan mengurangi kemungkinan terbe
ntuknya batu, sedangkan bila kurang air minum menyebabkan kadar semua substansi
dalam urin akan meningkat dan akan mempermudah pembentukan batu. Kejenuhan air s
esuai dengan akdar mineralnya terutama kalsium diperkirakan mempengaruhi terbent
uknya batu saluran kencing.
i.

Pekerjaan

Pekerja-pekerja keras yang banyak bergerak seperti buruh dan petani akan mengura
ngi kemungkinan terjadinya batu saluran kemih bila dibandingkan dengan pekerja y
ang hanya duduk
j.
Makanan
Masyarakat yang banyak mengkonsumsi protein hewani angka morbiditas batu saluran
kencing berkurang, sedangkan masyarakat dengan kondisi sosial ekonomi rendah le
bih sering terjadi. Penduduk vegetarian yang kurang makan putih telur sering men
derita batu saluran kemih (vesika urinaria dab uretra)
k.
Suhu
Tempat yang bersuhu panas menyebabkan banyak mengeluarkan keringat, akan mengura
ngi produksi urin dan mempermudah pembentukan batu saluran kemih.
4.
Patofisiologi
Batu dalam perkemihan berasal dari obstruksi saluran kemih, obstruksi mungkin t
erjadi hanya parsial atau lengkap. Obstruksi yang lengkap bisa menjadi hidronefr
osis yang disertai tanda-tanda dan gejala-gejalanya. Proses patofisiologisnya si
fatnya mekanis. Urolithiasis merupakan kristalisasi dari mineral dari matriks se
putar misalnya pus, darah, jaringan yang tidak vital, tumor atau urat. Peningkat
an konsentrasi larutan urin akibat intake cairan rendah dan juga peningkatan bah
an-bahan organik akibat ISK atau urin statis, mensajikan sarang untuk pembentuka
n batu. Ditambah adanya infeksi meningkatkan kebasahan urin (oleh produksi hormo
n) yang berakibat presipitasi kalsium fosfat dan magnesium amonium fosfat.
Mekanisme pembentukan batu ginjal atau saluran kemih tidak diketahui sec
ara pasti, akan tetapi beberapa buku menyebutkan proses terjadinya batu adapat d
isebabkan oleh hal-hal sebagai berikut :
a.
Adanya presipitasi garam-garam yang larut dalam air seni, di mana apabil
a air seni jenuh akan terjadi pengendapan
b.
Adanya inti (nidus), misalnya ada infeksi kemudian terjadi tukak, di man
a tukak ini menjadi inti pembentukan batu, sebagai tempat menempelnya partikel-p
artikel batu pada inti tersebut
c.
Perubahan pH atau adanya koloid lain di dalam air seni akan menetralkan
muatan dan menyebabkan terjadinya pengendapan
Kecepatan tumbuhnya batu tergantung kepada lokasi batu, misalnya batu pada bulibuli lebih cepat gumbuhnya dibanding batu pada ginjal. Selain itu juga tergantun
g reaksi air seni, yaitu batu asam akan cepat tumbuhnya dalam urin dengan pH yan
g rendah. Komposisi urin juga akan mempermudah pertumbuhan batu, karena terdapat
zat-zat penyusun air seni yang relatif tidak dapat larut. Hal lain yang akan me
mpercepat pertumbuhan batu adalah karena adanya infeksi.
Batu ginjal dalam jumlah tertentu tumbuh melekat pada puncak papil dan tetap tin
ggal dalam kaliks, yang sampai ke pyelum yang kemudian dapat berpindah ke area d
istal, tetap tinggal atau menetap di tempat di mana saja dan berkembang menjadi
batu besar.

5.

Patoflow Diagram

6.
Tanda dan Gejala
Tanda-tanda :
a.
Keluhan pertama yang dirasakan adalah rasa sakit amat tajam atau hebat p
ada punggung bagian bawah, pinggang atau perut bagian bawah, atau khusus pada la
ki-laki di pangkal alat kelamin
b.
Kadang-kadang saluran air kencing tersumbat sehingga penderita sukar bua
ng air kecil, atau tidak dapat melakukannya sama sekali. Darah menetes keluar ke
tika penderita mulai buang air kecil
c.
Infeksi saluran air kencing dapat terjadi secara bersamaan
Gejala :
Walaupun besar dan lokasi batu bervariasi, rasa sakit disebabkan oleh obstruksi
merupakan gejala utama. Batu yang besar dengan permukaan kasar yang masuk ke dal
am ureter akan menambah frekuensi dan memaksa kontraski ureter secara otomatis.
Rasa sakit dimulai dari pinggang bawah menuju ke pinggul, kemudian ke alat kelam
in luar. Intensitas rasa sakit berfluktuasi dan rasa sakit yang luar biasa merup
akan puncak dari kesakitan. Apabila batu berada di pasu ginjal dan di calix, ras
a sakit menetap dan kurang intensitasnya.
7.
Komplikasi
Jika batu dibiarkan dapat menjadi sarang kuman yang dapat menimbulkan infeksi sa
luran kemih, pylonefritis, yang pada akhirnya merusak ginjal, kemudian timbul ga
gal ginjal dengan segala akibatnya yang jauh lebih parah. Diantaranya adalah :
a.
Obstruksi ginjal
b.
Perdarahan
c.
Infeksi
d.
Hidronefrosis

8.
Tes Diagnostik
a.
Urinalisa
1)
Warna : normal kekuning-kuningan, abnormal : merah menunjukkan hematuri
(kemungkinan obstruksi urin, kalkulus urin, tumor, kegagalan ginjal)
2)
pH : normal 4,6-6,8 (rata-rata 6,0), asam (menigkatkan sistin dan batu a
sam urat), alkali (meningkatkan magnesium, fosfat amonium atau batu kalsium fosf
at)
3)
urine 24 jam : kreatinin, asam urat, kalsium, fosfat, oksalat, atau sist
in mungkin meningkat, kultur urine menunjukkan infeksi saluran kencing, BUN hasi
l normal 5-20 mg/dl tujuan untuk mempelihatkan kemampuan ginjal untuk mengeksres
i sisa yang hematogen. BUN menjelaskan secara kasar perkiraan glomerular filtrat
ion rate. BUN dapat dipengaruhi oleh diet tinggi protein, darah dalam saluran pe
ncernaan status katabolik (cedera, infeksi). Kreatinin serum hasil normal laki-l
aki 0,85-15 mg/dl perempuan 0,70-1,25 mg/dl tujuannya untuk mempelihatkan kemamp
uan ginjal untuk mengekskresikan sisa yang bermitrogen. Abnormal (tinggi pada se
rum/rendah pada urine) sekunder terhadap tingginya batu obstruktif pada ginjal m
enyebabkan iskemia/nekrosis.
b.
Darah lengkap
Hb, Ht, abnormal bila pasien dehidrasi berat atu polisitemia
c.
Hormon paratyroid mungkin meningkat bila ada gagal ginjal (PTH merangsan
g reabsorbsi kalsium dari tulang, meningkatkan sirkulasi serum dan kalsium urin)
d.
Foto rontgenn
Menunjukkan adanya calculi atau perubahan anatomik pada area ginjal dan sepanjan
g ureter
e.
IVP
Memberikan informasi cepat urolithiasis seperti penyebab nyeri abdominal atau pa
nggul. Menunjukkan abnormalitas pada struktur anatomik (distensi ureter)
f.
Sistoureteroskopi
Visualisasi kandung kemih dan ureter dapat menunjukkan batu atau efek obstruksi

g.
USG ginjal
Untuk menentukan perubahan obstruksi dan lokasi batu ginjal
9.
Penatalaksanaan Medis
a.
Tujuan dasar penatalaksanaan adalah :
1)
Menghilangkan batu.
2)
Menentukan jenis batu.
3)
Mencegah kerusakan nefron
4)
Mengendalikan infeksi.
5)
Mengurangi obstruksi yang terjadi.
b.
Penatalaksanaan medis yang diberikan pada pasien Urolithiasis, berupa :
1)
Terapi Farmakologis
a)
Morfin dan meperiden yang dapat mencegah syok dan sinkop akibat nyeri ya
ng luar biasa.
b)
Amonium klorida atau asam asetohidroksamik (Lithostat), dapat mengubah u
rin menjadi asam pada kasus urolithiasis karena batu kalsium.
c)
Allopurinol (Zyloprim) untuk mengurangi kadar asam urat serum dan ekskre
si asam urat ke dalam urine, sehingga urine menjadi basa.
2)
Terapi Nutrisi
a)
Makanan yang harus dihindari adalah :
(1)
Makanan yang kaya akan vitamin D, karena vitamin D meningkatkan reabsorb
si kalsium. Contoh makanan:
(a)
Produk susu : semua keju, susu ( > dari cangkir sehari ), krim asam (yog
hurt).
(b)
Daging, ikan, unggas : otak, jantung, hati, ginjal, sardin, sweetbread,
telur ikan, kelinci, rusa.
(c)
Sayuran : lobak, bayam, buncis, seledri, kedelai.
(d)
Buah : kismis, semua jenis beri, anggur.
(e)
Roti, sereal : roti murni, roti gandum, catmeal, beras merah, jagung gil
ing, sereal.
b)
Makanan yang harus dibatasi
(1)
Garam meja dan makanan tinggi natrium, karena Na bersaing dengan Ca dala
m reabsorbsinya di ginjal.
(2)
Minuman : teh, coklat, minuman berkarbonat, bir.
(3)
Lain
lain : kacang, sup yang dicampur susu, makanan pencuci mulut yang d
icampur susu, seperti kue basah, kue kering dan pie.
c.
Terapi Penghancuran dan Pengangkatan Batu
1)
Lithotripsi gelombang kejut ekstrakorporeal / Extracorporeal Shock Wave
Lithotripsi (ESWL)
Prosedur noninvasif yang digunakan untuk menghancurkan urolithiasis dengan cara
amplitudo tekanan berenergi tinggi dari gelombang kejut sekitar 1000
3000 gelomb
ang kejut, dan dibangkitkan melalui suatu pelepasan energi yang kemudian disalu
rkan ke air dan jaringan lunak, tekanan gelombang mengakibatkan permukaan batu
pecah, dan akhirnya menyebabkan batu tersebut menjadi bagian bagian yang lebih k
ecil.
2)
Nefrostomi perkutan dan nefrostop dimasukkan kedalam traktus perkutan ya
ng sudah dilebarkan kedalam parenkim ginjal batu dapat diangkat dengan forcep at
au jaring tergantung ukurannya, alat ultrasound dimasukkan melalui selang nefros
tomi disertai pemakaian gelombang ultrasonik untuk mengjancurkan batu serpihan d
iigrasi dan dihisap keluar dari duktus kolektivus. Batu yang besar selanjutnya d
apat dikurangi dengan disentegrasi ultrasonik dan diangkat dengan forcep atau ja
ring. Selang nefrostomi perkutan dibiarkan ditempatnya untuk menjamin bahwa uret
er tidak mengalami obstruksi oleh edema dan bekuan darah. Komplikasi perdarahan,
infeksi, dan ekstravasasi urine.
3)
Ureteroskopi, mencakup visualisasi dan akses ureter dengan memasukkan su
atu alat ureteroskop dengan menggunakan laser, lithotripsihidraulik, atau ultras
on kemudian diangkat. Suatu stent dapat dimasukkan dan dibiarkan selama 48 jam/l
ebih setelah prosedur untuk menjaga kepatenan ureter.
4)
Infus cairan kemolitik, misalnya agen pembuat basa (ankylating) dan pemb
uat asam (acidifyng) untuk melarutkan batu dapat dilakukan sebagai alternatif pe

nanganan untuk pasien kurang beresiko terhadap terapi lain dan menolak metode la
in.
5)
Pembedahan
Jika batu terletak di dalam ginjal, pembedahan dilakukan dengan nefrolitotomi (i
nsisi pada ginjal untuk mengangkat batu) atau nefrektomi , jika ginjal tidak ber
fungsi akibat infeksi atau hidronefrosis. Batu di dalam piala ginjal diangkat de
ngan pielolitotomi, sedangkan batu pada ureter diangkat dengan ureterolitotomi,
dan batu pada kandung kemih diangkat dengan sistotomi.
10.
Dampak Masalah Terhadap Kebutuhan Dasar Manusia
Menurut Wahit Iqbal Mubarak (2008), Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi p
emenuhan kebutuhan manusia. Faktor-faktor tersebut meliputi penyakit, hubungan y
ang berarti, konsep diri, tahap perkembangan dan struktur keluarga.
Adapun dampak urolithiasis terhadap pemenuhan kebutuhan dasar manusia adalah : g
angguan pemenuhan rasa nyaman, eliminasi dan pola aktivitas karena nyeri yang di
timbulkan oleh proses penyakit.

B.
Konsep Asuhan Keperawatan
1.
Pengkajian
a.
Data subjektif
Rasa nyeri (kolik renal) merupakan gejala utama pada episode akut dari calculus
renal. Lokasi nyeri tergantung pada lokasi dari batu. Bila baru berada dalam pi
ala ginjal, rasa nyeri adalah akibat dari hidronefrosis yang rasanya lebih tumpu
l dan sifatnya konstan, terutama timbul pada sudut costovertebral. Bila batu ber
jalan sepanjang ureter rasa nyeri menjadi menghebat dan sifatnya intemiten. Dise
babkan oleh spasme ureter akibat tekanan batu. Rasa nyeri menyelusuri jalur ante
rior dari ureter turun ke daerah supra pubis dan menjalar ke ekstenal genetalia.
Seringkali batu diam-diam dan tidak menimbulkan gejala-gejala selama beberapa t
ahun, dan ini sungguh-sungguh terjadi pada batu ginjal yang sangat besar. Batu y
ang sangat kecil dan halus bisa berlalu tanpa disadari oleh orangnya. Mual dan m
untah sering menyertai kolik renal.
b.
Data objektif
Urin dipantau tentang terdapatnya darah. Gross hematuria/perdarahan segar bisa t
erjadi bila batu pinggir-pinggirnya runcing dan juga bisa terjadi mikrohematuri.
Bila diduga terdapat batu, semua urin bisa disaring untuk menentukan terdapatny
a batu yang bisa keluar waktu berkemih. Pola berkemih dicatat, karena berkemih s
ering tapi sedikit-sedikit sekali. Asiditas atau kalkalisan urin diperiksa denga
n kertas pH/kertas lakmus.
Pengkajian data dasar
1)
Riwayat atau adanya faktor resiko
a)
Perubahan metabolik atau diet
b)
Imobilitas lama
c)
Masukan cairan tidak adekuat
d)
Riwayat batu atau infeksi saluran kencing sebelumnya
e)
Riwayat keluarga dengan pembentukan batu
2)
Pemeriksaan fisik berdasarkan pada survei umum dapat menunjukkan:
a)
Nyeri
Batu dalam pelvis ginjal menyebabkan nyeri pekak dan konstan. Batu ureteral meny
ebabkan nyeri jenis kolik berat dan hilang timbul yang berkurang setelah batu le
wat.
b)
Mual dan muntah serta kemungkinan diare
c)
Perubahan warna urine atau pola berkemih, sebagai contoh urine keruh dan
bau menyengat bila infeksi terjadi. Dorongan berkemih dengan nyeri dan penuruna
n haluaran urine bila masukan cairan tak adekuat atau bila terdapat obstruksi sa
luran perkemihan dan hematuri bila terdapat kerusakan jaringan ginjal

2.
Diagnosa Keperawatan
a.
Nyeri akut berhubungan dengan proses inflamasi, obstruksi traktus urinar
ius
b.
Perfusi jaringan renal tidak efektif berhubungan dengan adanya obstruksi
pada renal
c.
Retensi urin berhubungan dengan hambatan reflek
d.
Intoleransi aktivitas berhubungan dengan proses penyakit

3.
Perencanaan
Diagnosa Keperawatan/ Masalah Kolaborasi
Rencana keperawatan
Tujuan dan Kriteria Hasil
Intervensi
Nyeri akut berhubungan dengan proses inflamasi, obstruksi traktus urinarius
NOC :
Setelah dilakukan tinfakan keperawatan selama 3x24 jam, Pasien tidak mengalami n
yeri, dengan kriteria hasil:
Mampu mengontrol nyeri (tahu penyebab nyeri, mampu menggunakan tehnik no
nfarmakologi untuk mengurangi nyeri, mencari bantuan)
Melaporkan bahwa nyeri berkurang dengan menggunakan manajemen nyeri
Mampu mengenali nyeri (skala, intensitas, frekuensi dan tanda nyeri)
Menyatakan rasa nyaman setelah nyeri berkurang
Tanda vital dalam rentang normal
Tidak mengalami gangguan tidur
NIC :
Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif termasuk lokasi, karakteris
tik, durasi, frekuensi, kualitas dan faktor presipitasi
Observasi reaksi nonverbal dari ketidaknyamanan
Bantu pasien dan keluarga untuk mencari dan menemukan dukungan
Kontrol lingkungan yang dapat mempengaruhi nyeri seperti suhu ruangan, p
encahayaan dan kebisingan
Kurangi faktor presipitasi nyeri
Kaji tipe dan sumber nyeri untuk menentukan intervensi
Ajarkan tentang teknik non farmakologi: napas dala, relaksasi, distraksi
, kompres hangat/ dingin
Tingkatkan istirahat
Berikan informasi tentang nyeri seperti penyebab nyeri, berapa lama nyer
i akan berkurang dan antisipasi ketidaknyamanan dari prosedur
Perfusi jaringan renal tidak efektif berhubungan dengan adanya obstruksi pada re
nal
NOC :
Setelah dilakukan asuhan selama 3x24 jam, ketidakefektifan perfusi jaringan rena
l teratasi dengan kriteria hasil:
Tekanan systole dan diastole dalam batas normal
Tidak ada gangguan mental, orientasi kognitif dan kekuatan otot
Na, K, Cl, Ca, Mg, BUN, Creat dan Biknat dalam batas normal
Tidak ada distensi vena leher
Tidak ada bunyi paru tambahan
Intake output seimbang
Tidak ada oedem perifer dan asites
Tdak ada rasa haus yang abnormal
Membran mukosa lembab
Hematokrit dbn
Warna dan bau urin dalam batas normal NIC :
Observasi status hidrasi (kelembaban membran mukosa, TD ortostatik, dan
keadekuatan dinding nadi)
Monitor HMT, Ureum, albumin, total protein, serum osmolalitas dan urin
Observasi tanda-tanda cairan berlebih/ retensi (CVP menigkat, oedem, dis

tensi vena leher dan asites)


Pertahankan intake dan output secara akurat
Monitor TTV
Pasien Hemodialisis:
Observasi terhadap dehidrasi, kram otot dan aktivitas kejang
Observasi reaksi tranfusi
Monitor TD
Monitor BUN, Creat, HMT dan elektrolit
Timbang BB sebelum dan sesudah prosedur
Kaji status mental
Monitor CT
Kaji temperatur, TD, denyut perifer, RR dan BB
Kaji BUN, Creat pH, HMT, elektrolit selama prosedur
Monitor adanya respiratory distress
Monitor banyaknya dan penampakan cairan
Monitor tanda-tanda infeksi
Retensi urin berhubungan dengan hambatan reflek
NOC:
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam, retensi urin
pasien teratasi dengan kriteria hasil:
Kandung kemih kosong secara penuh
Tidak ada residu urine >100-200 cc
Intake cairan dalam rentang normal
Bebas dari ISK
Tidak ada spasme bladder
Balance cairan seimbang NIC :
Urinary Retention Care
Monitor intake dan output
Monitor penggunaan obat antikolinergik
Monitor derajat distensi bladder
Instruksikan pada pasien dan keluarga untuk mencatat output urine
Sediakan privacy untuk eliminasi
Stimulasi reflek bladder dengan kompres dingin pada abdomen.
Kateterisaai jika perlu
Monitor tanda dan gejala ISK (panas, hematuria, perubahan bau dan konsis
tensi urine)
Intoleransi aktivitas
berhubungan dengan proses penyakit
NOC :
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam, Pasien bertoleransi ter
hadap aktivitas dengan Kriteria Hasil :
Berpartisipasi dalam aktivitas fisik tanpa disertai peningkatan tekanan
darah, nadi dan RR
Mampu melakukan aktivitas sehari hari (ADLs) secara mandiri
Keseimbangan aktivitas dan istirahat
NIC :
Observasi adanya pembatasan klien dalam melakukan aktivitas
Kaji adanya faktor yang menyebabkan kelelahan
Monitor nutrisi dan sumber energi yang adekuat
Monitor pasien akan adanya kelelahan fisik dan emosi secara berlebihan
Monitor respon kardivaskuler terhadap aktivitas (takikardi, disritmia,
sesak nafas, diaporesis, pucat, perubahan hemodinamik)
Monitor pola tidur dan lamanya tidur/istirahat pasien
Kolaborasikan dengan Tenaga Rehabilitasi Medik dalam merencanakan progra
n terapi yang tepat.
Bantu klien untuk mengidentifikasi aktivitas yang mampu dilakukan
Bantu untuk memilih aktivitas konsisten yang sesuai dengan kemampuan fis

ik, psikologi dan sosial


Bantu untuk mengidentifikasi dan mendapatkan sumber yang diperlukan untu
k aktivitas yang diinginkan
Bantu untuk mendpatkan alat bantuan aktivitas seperti kursi roda, krek
Bantu untuk mengidentifikasi aktivitas yang disukai
Bantu klien untuk membuat jadwal latihan diwaktu luang
Bantu pasien/keluarga untuk mengidentifikasi kekurangan dalam beraktivit
as
Sediakan penguatan positif bagi yang aktif beraktivitas
Bantu pasien untuk mengembangkan motivasi diri dan penguatan
Monitor respon fisik, emosi, sosial dan spiritual

4.
Implementasi
Menurut Lynda Juall Carpenito (2009), Komponen implementasi dalam proses keperaw
atan mencakup penerapan keterampilan yang diperlukan untuk mengimplementasikan i
ntervensi keperawatan.
5.
Evaluasi
Menurut Lynda Juall Carpenito (2009), evaluasi keperawatan meliputi tiga pertimb
angan yang berbeda, yaitu:
a.
Evaluasi status klien.
b.
Evaluasi kemajuan klien untuk mencapai tujuan.
c.
Evaluasi status dan pelaksanaan rencana asuhan keperawatan.
Perawat bertanggung jawab mengevaluasi status klien secara teratur, perawat mela
kukan evaluasi yang berbeda untuk berbagai diagnosa keperawatan dan masalah kola
borasi.

BAB III
KESIMPULAN
Urolithiasis adalah suatu kedaruratan terjadinya penumpukan oksalat, calculi (ba

tu ginjal) pada ureter atau pada daerah ginjal. Gejala rasa sakit yang berlebiha
n pada pinggang, nausea, muntah, demam, hematuria. Lebih banyak terjadi pada lak
i-laki dibanding wanita dengan perbandingan 3:1 dalam usia 30-60 tahun. Urine be
rwarna keruh seperti teh atau merah.
Ginjal terletak pada dinding posterior abdomen di belakang peritoneum pada kedua
sisi vertebra thorakalis ke 12 sampai vertebra lumbalis ke-3. Bentuk ginjal sep
erti biji kacang. Ginjal kanan sedikit lebih rendah dari ginjal kiri, karena ada
nya lobus hepatis dexter yang besar.
Batu dalam perkemihan berasal dari obstruksi saluran kemih, obstruksi mungkin t
erjadi hanya parsial atau lengkap. Obstruksi yang lengkap bisa menjadi hidronefr
osis yang disertai tanda-tanda dan gejala-gejalanya. Proses patofisiologisnya si
fatnya mekanis. Urolithiasis merupakan kristalisasi dari mineral dari matriks se
putar misalnya pus, darah, jaringan yang tidak vital, tumor atau urat. Peningkat
an konsentrasi larutan urin akibat intake cairan rendah dan juga peningkatan bah
an-bahan organik akibat ISK atau urin statis, mensajikan sarang untuk pembentuka
n batu. Ditambah adanya infeksi meningkatkan kebasahan urin (oleh produksi hormo
n) yang berakibat presipitasi kalsium fosfat dan magnesium amonium fosfat.
Masalah Keperawatan:
Nyeri akut berhubungan dengan proses inflamasi, obstruksi traktus urinar
ius
Perfusi jaringan renal tidak efektif berhubungan dengan adanya obstruksi
pada renal
Retensi urin berhubungan dengan hambatan reflek
Intoleransi aktivitas berhubungan dengan proses penyakit
DAFTAR PUSTAKA
Pearce evelyn. 1979.Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis. Jakarta: Gramedia Pus
taka Utama
Smeltzer, Suzanne C, 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddart
h Jakarta : EGC
Price Sylvia Anderson.. 2005. Patofisiologi Konsep Klinis Proses Penyakit. Jaka
rta: EGC
Syaifuddin. AMK. 2006. Anatomi Fisiologi untuk Mahasiswa Keperawatan. Edisi 3 J
akarta : EGC.

DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN ............................................................


....................
1
BAB II TINJAUAN TEORITIS
A.
Konsep Medis ...........................................................
.....................
2
1.
Definisi ...............................................................
....................
2
2.
Anatomi Fisiologi ......................................................
.............
2
3.
Etiologi ...............................................................
....................
7
4.
Patofisiologi ..........................................................
.................
9
5.
Patoflow Diagram .......................................................
...........
11
6.
Tanda dan Gejala .......................................................
............
12
7.
Komplikasi .............................................................
................
12
8.
Tes Diagnostik .........................................................
..............
13
9.
Penatalaksanaan Medis ..................................................
........
14
10.
Dampak Masalah Terhadap Kebutuhan Dasar Manusia .......
16
B.
Konsep Asuhan Keperawatan ..............................................
............
17
1.
Pengkajian .............................................................
....................
17
2.
Diagnosa Keperawatan ...................................................
............
18
3.
Perencanaan.............................................................
....................
19
4.
Implementasi ...........................................................
...................
24
5.
Evaluasi ...............................................................
......................
24
BAB IV KESIMPULAN .............................................................
.........
25
DAFTAR PUSTAKA..................................................................
...................
26