Anda di halaman 1dari 8

Pendahuluan

Pada bulan September terjadi kembali

Demam berdarah dengue merupakan

peningkatan kasus demam berdarah di

masalah utama penyakit menular di berbagai

Kelurahan Lempake RT 37 sebanyak 9

belahan dunia. Pada tahun 2007, dalam

kasus. Adanya peningkatan kasus pada RT.

angka Case Fatality Rate (CFR) untuk kasus

37 Kelurahan Lempake membuat peneliti

DBD di Indonesia menempati urutan ke

tertarik

empat di ASEAN dengan CFR 1.01 setelah

mengenai demam berdarah dan status jentik

Bhutan, India, dan Myanmnar berurutan dan

pada warga daerah tersebut dibandingkan

tertinggi.1 Menurut data Dinas Kesehatan

dengan warga RT 20 kelurahan Lempake

Kota Samarinda Tahun 2014, tercatat 1.511

yang saat ini sudah diintervensi dengan

kasus

berbagai program puskesmas.

DBD

diantaranya

di

Samarinda

mengakibatkan

dan

14

untuk

meneliti

pengetahuan

penderita

meninggal dunia. Di lingkup wilayah kerja

Metode Penelitian

puskesmas Lempake dimana terdapat dua

Metode penelitian adalah penelitian

kelurahan yakni Kelurahan Lempake sendiri

analitik desain kuantitatif. Lokasi penelitian

terjadi 58 kasus, dimana 2 orang penderita

di RT 20 dan 37 Kelurahan Lempake pada

meninggal dunia dan di Kelurahan Tanah

bulan Januari 2015. Populasi penelitian

Merah terjadi 13 kasus selama periode

seluruh unit keluarga di RT 20 dan RT 37

Januari - November 2014.2

Kelurahan Lempake, sedangkan sampel

Pada

bulan

November-Desember

sebagian dari seluruh unit keluarga di RT 20

2014 telah dilakukan intervensi untuk

dan RT 37 Kelurahan Lempake yang

mengurangi angka kejadian DBD pada

diambil dengan teknik Simple Random

wilayah tersebut yang dilakukan oleh pihak

Sampling dan di dapati sampel sejumlah 20

puskesmas dan dokter internship di wilayah

responden

tersebut. Intervensi yang dilakukan meliputi

Instrumen yang digunakan adalah kuesioner

pemasangan spanduk sesuai dengan topik

yang berisi pertanyaan tentang umur, status

DBD, pengaktifan dasawisma, pembentukan

keluarga, pekerjaan, Pendidikan terakhir dan

desa siaga, penyuluhan tentang DBD pada

pengetahuan tentang demam berdarah.

masing-masing

kelompok.

masyarakat melalui kader jumantik serta


pengaktifan

kartu

bebas

jentik

yang

dilaporkan secara berkala ke puskesmas.


1

Hasil Penelitian
a. Karakteristik Responden Berdasarkan
Umur

c. Karakteristik Responden Berdasarkan


Pekerjaan

Tabel 1 Distribusi Frekuensi Responden


Berdasarkan Umur

Tabel 3 Distribusi Frekuensi Responden


Berdasarkan Pekerjaan

No
1
2
3
4
5
6
7

Umur
21-30
31-40
41-50
51-60
61-70
71-80
81-90
Total

Dari

Frekuensi

Persentase %
17,5
45
20
12,5
2,5
0
2,5
100

7
18
8
5
1
0
1
40

tabel

menunjukkan

No

Pekerjaan

Frekuensi

Pensentase (%)

Petani

20

IRT

22

55

Wiraswasta

22,5

Guru

2,5

Total

40

100

bahwa

frekuensi umur responden terbanyak adalah


31-40 tahun sebanyak 18 orang (45 %) dan
paling sedikit 71-80 tahun sebanyak 0 orang
(0 %).

Tabel

menunjukkan

bahwa

Frekuensi pekerjaan responden terbanyak


adalah IRT sebanyak 22 orang ( 55 %) dan

b. Karakteristik Responden Berdasarkan


Status Keluarga

paling sedikit adalah guru sebanyak 1 orang


( 2,5 %).

Tabel 2 Distribusi Frekuensi Responden


Berdasarkan status keluarga
Status

Frekuensi

Persentase

10
30
40

25
75
100

Keluarg
a
Suami
Istri
total

Tabel 2 menunjukkan bahwa Frekuensi


Status Keluarga responden terbanyak adalah
Istri (pasangan kepala keluarga) sebanyak
30 orang (75 %) dan paling sedikit Suami
(kepala keluarga) sebanyak 10 orang (25 %).

d. Karakteristik Responden Berdasarkan


Pendidikan Terakhir
Tabel 4 Distribusi Frekuensi Responden
Berdasarkan Pendidikan Terakhir
N
o

Pendidikan
Terakhir

Frekuensi

Persentase
(%)

1
2
3
4
5
6

Tidak
Sekolah
SD
SMP
SMA
D3
S1
Total

10

9
10
12
1
4
40

22,5
25
30
10
10
100

RT 37 adalah 61-70 sebanyak 7 orang (35


%).
Tabel 6 Distribusi Frekuensi
Pengetahuan Responden
Penget
ahuan

Frek
uensi

Tabel 4 menunjukkan bahwa Frekuensi


Pendidikan Terakhir responden terbanyak
adalah SMA sebanyak 12 orang (30 %) dan
paling sedikit adalah D3 sebanyak 1 orang
( 2,5 %).

Tabel 5 Distribusi Frekuensi Responden


Berdasarkan Pengetahuan

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

Skor
Pengetahu
an RT 20
0-10
11-20
21-30
31-40
41-50
51-60
61-70
71-80
81-90
91-100
Total

Tabel

Kurang
Sedang
Baik
Total

0
12
8
20

Tabel

RT 37

Perse
ntase
(%)
0
60
40
100

diatas

Frek
uensi
1
16
3
20

Total

Perse
ntase
(%)
5
80
15
100

menunjukkan

Frek
uensi
1
28
11
40

bahwa

tingkat pengetahuan terbanyak di RT 20

e. Perbedaan Pengetahuan Kelompok


Masyarakat
yang
Dilakukan
Kegiatan Promotif Penyakit Demam
Berdarah Dengue dan Yang Tidak
Dilakukan
Kegiatan
Promotif
Penyakit Demam Berdarah Denguee
di Kelurahan Lempake

N
o

RT 20

Tingkat

RT 20
Frekue Persenta
nsi
se (%)
0
0
0
0
0
0
0
0
1
0,5
5
25
5
25
2
10
7
35
0
0
20
100

diatas

RT 30
Frekue Persenta
nsi
se (%)
1
5
0
0
0
0
1
5
2
10
4
20
7
35
8
40
0
0
0
0
20
100

menunjukkan

bahwa

kelompok skor terbanyak pada RT 20 adalah


81-90 yaitu sebanyak 7 orang (35 %)
sedangkan kelompok skor terbanyak pada

adalah tingkat sedang dengan jumlah 12


orang (60 %) sedangkan pada RT 37 juga
tingkat sedang yaitu 16 orang (80 %).
Tabel 7 Rata-rata Skor Pengetahuan
RT
RT 20
RT 37

Rata-rata
70,20
60,40

Tabel diatas dapat dilihat bahwa ratarata skor pengetahuan pada RT 20 adalah
70,20 dan RT 37 adalah 60,40. Setelah
didapatkan skor rata-rata maka dilakukan uji
beda dengan independent T-test dengan hasil
nilai P adalah 0,054. Dengan demikian
bahwa tidak ada perbedaan yang bermakna
pada kedua RT tersebut.
f. Perbedaan Status JentikKelompok
Masyarakat
yang
Dilakukan
Kegiatan Promotif Penyakit Demam
Berdarah Dengue dan Yang Tidak
Dilakukan
Kegiatan
Promotif
3

Penyakit Demam Berdarah Denguee


di Kelurahan Lempake
Tabel 8 Angka Jentik
RT
RT 20
RT 30

Jentik
Frek
uensi
8
11

Persenta
se (%)
40
55

melakukan sosialisasi informasi tentang


tentang DBD dan pencegahannya yang
berupa penyuluhan baik melalui kader

Tidak ada jentik


Frekuen Persenta
si
se (%)
12
60
9
45

Tota
l

maupun melalui tenaga kesehatan serta

20
20
40

puskesmas

pemasangan

media
tersebut

spanduk.
membuat

Upaya
keluarga

mendapatkan informasi mengenai DBD dan

Dari tabel diatas memperlihatkan bahwa

Pencegahnnya dan secara langsung akan

jumlah angka jentik pada RT 20 adalah 40 %

meningkatkan tingkat pengetahuan keluarga

sedangkan pada RT 30 adalah 55 %. hasil

mengenai DBD.

analisis menggunakan Chi-Square nilai P

Berdasarkan uji analitik Independent

adalah kurang dari 0,05. Dengan demikian

T-test didapatkan nilai signifikansi yang

perbedaan angka jentik pada RT 20 dan 37

didapat ialah p=0,054 (p>0,05) yang berarti

tidak bermakna.

secara statistik tidak terdapat perbedaan


yang bermakna antara RT. yang diberikan

Pembahasan

intervensi

dan

yang

tidak

diberikan

hasil penelitian didapatkan

intervensi. Hal ini dapat disebabkan adanya

terdapat perbedaan tingkat pengetahuan

faktor lain yang mempengaruhi tingkat

antara RT yang telah dilakukan intervensi

pengetahuan. Seperti yang dikemukakan

dan yang tidak dilakukan intervensi. Dimana

Notoatmodjo (2003), pengetahuan dapat

nilai rata-rata yang didapat dari hasil

dipengaruhi

kuesioner menunjukkan bahwa RT. 20

1.Pendidikan; Pendidikan mempengaruhi

(mean=70.2) memiliki hasil lebih baik

proses belajar, makin tinggi pendidikan

dibandingkan RT. 37 (mean=60.4).

seseorang makin mudah orang tersebut

Dari

beberapa

faktor

yaitu;

Lebih tingginya tingkat pengetahuan

untuk menerima informasi. Pengetahuan

keluarga mengenai DBD pada RT yang telah

sangat erat kaitannya dengan pendidikan

dilakukan intervensi ini sesuai dengan

dimana

diharapkan

seseorang

dengan

Peneliti

pendidikan tinggi, maka orang tersebut

berpendapat bahwa lebih tingginya tingkat

semakin luas pula pengetahuannya. 2.

pengetahuan pada RT 20 disebabkan kerena

Informasi;

Seseorang

pihak puskesmas Lempake yang telah

informasi

yang

penelitian

Hidayah

(2009).3

lebih

dengan
banyak

sumber
akan
4

mempunya pengetahuan yang lebih luas. 3.

nyamuk

Budaya;

pendukung pemberantasan sarang nyamuk.5

Tingkah

laku

kelompok

manusia

kebutuhan

yang

manusia

dalam

atau

memenuhi

Secara

pnegadaan

analitik

uji

sarana

chi-square,

perbedaan keberadaan jentik tersebut tidak

kepercayaan. 4, Pengalaman; Sesuatu yang

memiliki nilai signifikansi. Hal ini dapat

pernah dialami seseorang akan menambah

disebabkan karena terdapat faktor-faktor lain

pengetahuan tentang sesuatu yang bersifat

yang mempengaruhi keberadaan jentik, di

informal. 5, Sosial ekonomi; Semakin tinggi

antaranya

adalah

tingkat sosial ekonomi akan semakin tinggi

kondisi

tempat

tingkat pengetahuan yang dimiliki karena

keberadaan

dengan

tinggi

(breeding

untuk

(resting

memungkinkan

social

sikap

(3)

dan

tingkat

meliputi

dan

yang

seseorang

mendapatkan informasi lebih banyak.4


Pemaparan
bahwa

diatas

terdapat

mempengaruhi

tingkat

penampungan

air,

berkembang

biak

tempat
place)

masyarakat,

dan

place)

tempat

hinggap

bagi

nyamuk.

(Setyobudi,2011).6

menunjukkan

faktor-faktor

perilaku

lain

pengetahuan

Menurut

Warsito

(2005),

pada

penelitiannya mengenai hubungan perilaku


masyarakat

dengan

keberadaan

jentik,

seseoang dan proses menangkap informasi

disimpulkan bahwa dari ketiga domain

itu sendiri. Sehingga hasil intervensi yang

perilaku,

diberikan belum memberikan hasil yang

hubungan

signifikan.

sedangkan domain sikap dan tindakan

Pada

pemeriksaan

status

jentik,

ditemukan lebih banyak rumah yang bebas

pengetahuan
terhadap

tidak

memiliki

keberadaan

jentik,

memiliki hubungan yang bermakna terhadap


keberadan jentik nyamuk.7

jentik pada RT 20 (12 rumah) dibandingkan

Kondisi tempat penampungan air

dengan RT 47 (9 rumah). Perbedaan ini

juga

sesuai dengan Rosidi (2006), yang pada

Penelitian

penelitiannya menemukan bahwa kegiatan

menemukan bahwa tempat penampungan air

promosi puskesmas memiliki hubungan

yang dominan menjadi tempat berkembang

terhadap

nyamuk adalah bak mandi yang berbahan

keberadaan

jentik.

Kegiatan

mempengaruhi
oleh

Pada

keberadaan

jentik.

Suprijianto

penelitian

(2004)

tersebut adalah (1) penyuluhan tentang

semen.

demam berdarah, (2) pemantauan jentik

menyatakan

secara berkala, (3) pemberantasan sarang

pencahayaan, bahan, tutup, letak, kondisi

bahwa

tersebut

jumlah,

juga

volume,

air, pemakaian abate dan pemeliharaan ikan

promotif lebih baik dibandingkan dengan

pada penampungan air memiliki hubungan

kelompok

terhadap keberadaan jentik nyamuk.8

mendapatkan tindakan promotif (RT 37).

Keberadaan

breeding

place

dan

masyarakat

Menurut

rata-rata

yang

skor

tidak

pengetahuan

resting place juga berpengaruh terhadap ada

mengenai demam berdarah dengue RT 20

tidaknya

jentik

pada

suatu

lebih unggul dibandingkan RT 37. Hal

(2007)

pada

serupa terjadi pada pengamatan status jentik

penelitiannya, mengungkapkan pada musim

di kedua RT. Rumah yang terdapat jentik di

hujan populasi nyamuk Aedes aegypti

dalam mau pun di luar rumah lebih banyak

meningkat karena bertambahnya breeding

ditemukan di RT 37. Walau pun demikian

place bagi nyamuk diluar rumah, sedangkan

secara uji statistik tidak terdapat perbedaan

pada musim kemarau Ae. aegypti bersarang

bermakna pengetahuan mengenai demam

di bejana-bejana yang selalu terisi air seperti

berdarah dengue dan status jentik pada

bak

kedua RT tersebut.

lingkungan.

sesuai

Widiyanto

mandi,

penampungan

tempayan,
air.

dan

menggigit,

Oleh sebab itu, peneliti menyarankan

nyamuk selama menunggu pematangan telur

agar dilakukan pengawasan dan evaluasi

hinggap di tempat-tempat resting place,

program yang telah dilakukan puskesmas

setelah itu nyamuk akan bertelur dan

secara berkala untuk memantau perubahan

menghisap darah lagi. Tempat-tempat yang

perilaku dan kemandirian masyarakat dalam

disenangi nyamuk untuk hinggap/istirahat

pencegahan

adalah tempat-tempat yang gelap, lembab,

dengue. Diperlukan juga komitmen dan

sedikit

promosi

dingin,

Setelah

drum

dan

pada

kain

yang

bergantungan.9

penyakit

kesehatan

menyangkut

penyakit

demam
yang

berdarah

berkelanjutan

demam

berdarah

dengue.

Kesimpulan dan Saran


Gambaran

pengetahuan

Terima kasih kepada Dekan Fakultas

kelompok

Kedokteran UNMUL (dr. Emil Bachtiar

masyarakat (RT 20) yang diberikan tindakan

Moerad, Sp.P) dan Pimpinan Puskesmas

penyakit

demam

tingkat

Ucapan Terima Kasih

berdarah

Lempake (dr. Solihin Wijaya) yang telah


memberikan kesempatan kepada peneliti
untuk memiliki pengalaman penelitian ini.
Kami juga sampaikan terima kasih kepada
Dosen Pembimbing Klinik Utama (dr. Evi
Fitriany, M.Kes) dan Dokter Pembimbing
Puskesmas (dr. Zulhijran Noor) serta seluruh
Staf

Dosen

Pembimbing

Klinik

Ilmu

Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran


UNMUL yang telah menyediakan waktu dan
bersedia bekerja sama dalam hal ide, saran,
dan kritik bagi penelitian ini. Terima kasih
yang begitu besar peneliti sampaikan kepada
seluruh petugas kesehatan dan Dokter
Internship di Puskesmas Lempake yang
turut mendukung penelitian ini melalui saran
dan kritik yang diberikan. Terima kasih
kepada keluarga dan sahabt-sahabat peneliti
yang selalu memberi motivasi dan dukungan
untuk menyelesaikan penelitian.

Daftar Pustaka
1. Lela, Asmara. 2008. Hubungan
Angka Bebas Jentik dan Insidens
Rate Kasus DBD di Jakarta Timur

Tahun 2005-2007. Jakarta: Fakultas


Kedokteran Universtas Indonesia
diakses
20
Januari
2015,
(http://lib.ui.ac.id/file?
file=digital/122836-S-5428Hubungan%20angkaPendahuluan.pdf)
2. Dinas Kesehatan Kota Samarinda.
2014.
Laporan Angka Kejadian
Demam Berdarah di Samarinda.
Samarinda: DinKes
3. Hidayah, AN. 2009. Tingkat
Pengetahuan, Sikap Dan Praktek
Keluarga Tengang DBD Di Rt. 09
Kelurahan Kramatpela Kecamatan
Kebayoran Baru Jakarta Selatan
Tahun 2009. Jakarta: Fakultas
Kedokteran dan Ilmu Kesehatan
Universitas Islam Negri Syarif
Hidayatullah
4. Notoatmodjo,
Soekidjo.
2007.
Promosi Kesehatan dan Ilmu
Perilaku. Jakarta : Rineka Cipta.
5. Rosidi, Abd. Rachman dan Wiku
Adi Sasmito. 2009. Hubungan
Faktor
Penggerakan
Pemberantasan Sarang Nyamuk
Demam Berdarah Dengue (PSN
DBD) dengan Angka Bebas Jentik
di
Kecamatan
Sumberjaya
Kabupaten Majalengka. Jawa Barat,
diakses
20
Januari
2015,
(http://isjd.pdii.lipi.go.id/admin/jurna
l/412098086.pdf).
6. Setyobudi, Agus. 2011. FaktorFaktor Yang Berhubungan Dengan
Keberadaan Jentik Nyamuk Di
Daerah
Endemik
DBD
di
Kelurahan Sananwetan Kecamatan
Sananwetan Kota Blitar, diakses
7

20
Januari
2015,
(http://journal.unsil.ac.id/jurnal/prosi
ding/9/930-agus_30.pdf.pdf).
7. Warsito, Hadi. 2005. Hubungan
Perilaku
Masyarakat
Tentang
Penyakit Demam Berdarah Dengue
(DBD) Dengan Keberadaan Jentik
Nyamuk Aedes aegypti di Kelurahan
Sejati Kota Bandung, diakses 20
Januari
2015,
(http://eprints.undip.ac.id/4831/1/259
4.pdf).
8. Suprijanto, Djoko. 2004. FaktorFaktor yang Berhubungan dengan
Keberadaan Jentik
Nyamuk

Demam Berdarah Dengue di


Kelurahan Purwodadi Kabupaten
Grobogan,
diakses
20 Januari
2015,
(http://eprints.undip.ac.id/5348/1/230
1.pdf).
9. Suprijanto, Djoko. 2004. FaktorFaktor yang Berhubungan dengan
Keberadaan Jentik
Nyamuk
Demam Berdarah Dengue di
Kelurahan Purwodadi Kabupaten
Grobogan,
diakses
20 Januari
2015,
(http://eprints.undip.ac.id/5348/1/230
1.pdf).